Radar TNI AD

Radar TNI AL

Radar TNI AU

Radar Terbaru

AS Dilaporkan Bakal Lakukan Serangan Besar-besaran terhadap Iran


Amerika Serikat (AS) berencana melakukan serangan taktis besar-besaran terhadap sejumlah sasaran di Iran. Hal itu diungkapkan seorang diplomat Barat di markas PBB di New York kepada surat kabar Israel, Maariv.
"Pemboman akan sangat besar tetapi akan terbatas pada target tertentu," kata sumber anonim itu, tanpa menyebutkan secara spesifik apa jenis targetnya seperti dilansir dari Sputnik, Rabu (19/6/2019).
Amerika Serikat - Iran
Amerika Serikat - Iran 
Sementara itu media Israel lainnya, The Jerusalem Post, menyatakan bahwa serangan itu mungkin menargetkan fasilitas yang terkait dengan program nuklir Iran.
Menurut sumber-sumber Maariv, Gedung Putih telah membahas opsi aksi militer terhadap Iran secara panjang lebar. Presiden Trump sendiri tidak antusias tentang prospek serangan, tetapi "kehilangan kesabaran" dan membiarkan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, yang telah membuat lebih banyak pernyataan hawkish tentang masalah ini, untuk mendorong maju dengan kebijakan pilihannya.
"Diskusi tingkat tinggi tentang kemungkinan opsi militer melibatkan komandan senior, pejabat Pentagon dan penasihat presiden," menurut para pejabat anonim tersebut.
Pekan lalu, menyusul serangan sabotase terhadap dua tanker "terkait" Jepang di Teluk Oman, Menteri Luar Negeri Pompeo segera menyalahkan Iran atas serangan itu. Teheran dengan tegas menolak tuduhan Pompeo. Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan AS membuat klaimnya tanpa sedikit pun bukti faktual. Ia balik menuduh pejabat pemerintah Trump dan sekutu Teluk mereka terlibat dalam diplomasi sabotase untuk menutupi terorisme ekonomi mereka melawan Iran. "
Jumat lalu, presiden perusahaan Jepang yang mengoperasikan salah satu kapal tanker yang dihantam serangan pada Kamis menentang peristiwa itu versi AS. Ia mengatakan kru kapal melihat benda terbang ke arah mereka sebelum ledakan. Pernyataan pejabat itu bertentangan dengan tuduhan AS tentang pasukan militer Iran menggunakan ranjau yang melekat pada kapal untuk melakukan serangan.
Beberapa sekutu utama AS, termasuk Jerman, Prancis, dan Jepang, telah menyatakan keraguan yang sama tentang klaim AS mengenai serangan kapal tanker itu, meskipun Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt mengatakan bahwa penilaian intelijen independen oleh London telah menunjukkan bahwa Iran "hampir pasti" berada di belakang sabotase.
Pada hari Selasa, Menteri Luar Negeri China Wang Yi memperingatkan bahwa keputusan AS untuk mengerahkan 1.000 tentara lagi ke Timur Tengah melawan Iran mengancam akan membuka Kotak Pandora. Sementara itu Moskow mengatakan bahwa kebijakan tekanan politik, psikologis, ekonomi dan militer AS terhadap Iran cukup provokatif dan sama dengan upaya memprovokasi perang.
Ketegangan antara Iran dan AS mulai meningkat pada Mei 2018, ketika AS secara sepihak menarik diri dari perjanjian nuklir Iran 2015 dan menerapkan kembali sanksi keras terhadap Teheran. Bulan lalu, Iran mengumumkan akan menarik diri dari beberapa komitmen di bawah kesepakatan nuklir. Meski begitu, Teheran menyatakan bahwa mereka tidak ingin mengejar senjata nuklir.(Berlianto)

Kementrian Pertahanan Dapat Tambahan Anggaran Rp.17,5 Triliun


Kementerian Pertahanan (Kemhan) bakal mendapatkan tambahan anggaran sekitar Rp.17,5 triliun. Kepastian itu didapatkan dalam rapat bersama Komisi I soal anggaran kerja tahun 2020 di Ruang Komisi I DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (19/6/2019).
Martadinata Class
Martadinata Class 
Sekjen Kemhan Laksamana Muda TNI Agus Setiadji mengatakan, pagu indikatif 2020 sekitar Rp.126,5 triliun. Naik sekitar Rp.17,5 triliun dari 2019 sebesar Rp108 triliun. ”Anggaran yang kita ajukan Rp.126,5 triliun untuk 2020, dan alhamdulillah disetujui oleh Komisi I,” ujar Agus Setiadji kepada wartawan usai rapat tertutup.
Agus mengatakan bahwa anggaran tersebut dialokasikan untuk Mabes TNI, Kemhan, dan tiga matra AD, AL dan AU. Salah satunya untuk pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista), serta untuk kebutuhan bela negara. ”Kenaikan utama adalah untuk sumber daya manusia. Dalam hal ini juga untuk pendidikan latihan, kemudian alutsista, dan untuk di Kemhan otomatis sesuai prioritas kita adalah untuk bela negara,”paparnya.
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menambahkan, dari kenaikan anggaran sekitar Rp.17,5 triliun itu, sebesar Rp1,9 triliun untuk pengembangan organisasi baru yaitu Koopsus TNI sebesar Rp.1,9 triliun. Sekitar Rp.3,4 triliun akan digunakan untuk modernisasi alutsista, nonalusista, sarana dan prasarana matra darat. Sedangkan untuk Angkatan Laut mendapatkan jatah Rp.2,8 triliun. ”Ini juga hal yang sama untuk modernisasi alutsista, nonalusista dan sarpras matra laut,” katanya.
Sementara untuk Angkatan Udara mendapatkan jatah Rp3,9 triliun untuk merealisasikan alusista, nonalusista dan sarpras Matra Udara.
”Jadi total Rp.17 triliun mudah-mudahan akan dibahas sesuai pagu indikatif nanti keluarnya untuk pembangunan khususnya adalah wilayah bagian timur,”katanya. (Abdul Rochim)

AS Bersiap Beri TIga Sanksi Tegas kepada Turki Bila Tetap Mendatangkan Rudal Pertahanan Udara SA-21 Growler


Pemerintah Amerika Serikat ( AS) dilaporkan bersiap menjatuhkan tiga paket sanksi kepada Turki buntut pembelian S-400 dari Rusia.
Menurut tiga sumber dikutip Bloomberg via Straits Times Rabu (19/6/2019), paket sanksi itu tengah dibahas antara pejabat di Dewan Keamanan Nasional dan Kementerian Keuangan.
SA-21 Growler Alias S-400 Triumph
SA-21 Growler Alias S-400 Triumph 
Salah satu paket sanksi paling parah yang tengah dibahas diyakini bakal melumpuhkan ekonomi Turki yang sudah bermasalah. Menurut penuturan sumber itu.
Segala opsi sanksi lain bakal dibahas jelang momen uktimatum AS yang bakal mengeluarkan Turki dari program jet tempur F-35 jika masih kukuh meneruskan pembelian S-400.
Salah satu usulan yang paling banyak didukung adalah menyasar industri pertahanan utama Turki berdasarkan UU Menang Musuh AS lewat Sanksi (CAATSA).
Sanksi itu secara efektif bakal melumpuhkan perusahaan itu dari sistem finansial AS. Membuat mereka tidak bisa membeli komponen atau menjual produknya ke AS.
Saat dikonfirmasi, Kementerian Keuangan langsung melemparkannya kepada Kementerian Luar Negeri yang belum memberi komentar. Namun, mata uang Turki lira dilaporkan turun 1,5 persen Rabu ini.
Hubungan kedua negara memanas setelah Presiden Recep Tayyip mengumumkan mereka bakal membeli sistem rudal dengan kode NATO SA-21 Growler tersebut.
Perdebatan itu kemudian mengerucut kepada ancaman AS untuk mengeluarkan Turki dari F-35 karena S-400 tidak bisa bersanding dengan jet tempur itu.
Turki ambil bagian dalam program senjata termahal AS itu dengan memproduksi komponen F-35, dan berniat memesan jet tempur yang diproduksi Lockheed Martin itu.
Berdasarkan sumber tersebut, Washington bakal menjatuhkan sanksi itu pada Juli mendatang. Atau ketika Turki mulai menerima sistem rudal tersebut.
Presiden Donald Trump dilaporkan belum mengambil sikap sebelum KTT G20 di Osaka, Jepang, akhir Juni ini di mana dia berkesempatan bertemu Erdogan.
Menurut tiga pejabat Turki, sejauh ini pemerintahan Erdogan menentang sanksi itu dan beralasan kepercayaan mereka terhadap Gedung Putih telah hancur.
Trump saat ini tengah menerima tekanan bipartisan dari Kongres yang menghendaki pemerintahannya untuk tegas dalam bersikap terhadap Ankara.
Menurut para pemimpin Kongres, pemberian sanksi melalui CAATSA adalah wajib dan tidak mungkin Turki bakal menghindarinya jika mereka tetap membeli S-400.
Sumber itu melanjutkan, S-400 dianggap sebagai wadah bagi Rusia dalam mengumpulkan informasi intelijen, dan terus merayu supaya membeli sistem rudal Patriot.
Meski Trump terkesan menahan diri, dia pernah menggandakan tarif untuk produk baja Turki setelah Ankara menolak melepaskan pendeta Andrew Brunson Agustus lalu.
Meski begitu, Turki masih kukuh untuk membeli S-400 dengan Erdogan yakin, dia bisa membujuk Turki bahwa pembelian rudal itu bukanlah masalah besar. (Ardi Priyatno Utomo)
Sumber : kompas.com

Soal Rencana Kunjungan Putin, Kemlu: Masih Dibahas


Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Arrmanantha Nassir menuturkan, saat ini Indonesia dan Rusia masih terus melakukan pembicaraan mengenai rencana kunjungan Presiden Rusia, Vladimir Putin ke Jakarta.
Rencana Kunjungan Putin
Rencana Kunjungan Putin 
Arrmanantha menuturkan, Putin sejatinya dijadwalkan berkunjung ke Indonesia dan melakukan pertemuan dengan Presiden Indonesia, Joko Widodo pada tahun lalu. Namun, sayangnya rencana itu tertunda.
"Itu satu kunjungan yang direncanakan tahun lalu, namun tertunda. Kini, kita masih membahasnya dengan Rusia dan mencari kemungkinan apakah bisa terlaksana tahun ini," kata Arrmanantha pada Rabu (19/6).
Dia lalu mengatakan, saat ini Jakarta dan Moskow masih mencocokan jadwal kedua kepala negra. "Tentunya, mencocokan jadwal kedua kepala negara itu sulit. Kita juga sedang mencoba apakah bisa melakukan pertemuan di sela-sela G-20," sambungnya.
Pria yang kerap disapa Tata itu menambahkan, setiap menghadiri pertemuan internasional, Jokowi akan melakukan pertemuan dengan kepala negara lain. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan pertemuan dengan Putin akan dilangsungkan di sela-sela G-20.(Victor Maulana)

Rostec Hadirkan Ranpur Amfibi BT-3F APC di ARMY 2019


Salah satu kendaraan tempur (ranpur) yang akan dihadirkan Korporasi Negara Rusia, Rostec, dalam penyelenggaraan Forum Teknik Militer Internasional ARMY-2019 pekan depan di Kubinka, luar kota Moskow, adalah BT-3F.
Ranpur amfibi jenis pengangkut pasukan (armored personnel carrier/APC) berkapasitas angkut 17 personel termasuk kru ini dilengkapi sistem stasiun senjata (weapon station/WS) kendali jauh terbaru dengan senapan mesin berat Kord kaliber 12,7 mm.
 Ranpur Amfibi BT-3F APC
 Ranpur Amfibi BT-3F APC  
WS memiliki sistem giroskopik untuk mengarahkan penglihatan dan juga stabilisasi senjata saat digunakan dalam keadaan ranpur bergerak maupun mengapung di perairan.
Ada pula laser rangefinder untuk mengukur jarak terhadap sasaran dan sistem diagnostik kartrid untuk mengetahui jumlah munisi yang masih tersedia.
Sudut elevasi senjata telah diperlebar hingga -10 derajat agar dapat digunakan untuk menembak sasaran di lereng bukit atau tempat yang lebih bawah.
BT-3F dibuat oleh sejumlah industri dalam naungan Rostec. Untuk kendaraan dibuat oleh Kurganmashzavod, sementara WS dibuat oleh Elektromashina, anak perusahaan Uralvagonzavod.
Ditektur Industri Rostec Sergey Abramov menyatakan, BT-3F merupakan ranpur berkualitas tinggi.
“Ini adalah mesin perang berkualitas tinggi, elegan, andal, dan memiliki potensi ekspor yang tinggi,” ujar Abramov seperti dikutip dalam siaran pers Rostec yang diterima Airspace Review, Rabu (19/6).
BT-3F dibuat menggunakan sasis BMP-3. Ranpur APC dua alam ini dirancang sebagai kendaraan pengangkut marinir, penjaga laut, hingga pasukan darat. Selain untuk fungsi bawa pasukan, BT-3F ini juga dapat digunakan untuk dukungan tembakan.
Sebagai tambahan informasi, Indonesia merupakan pembeli pertama ranpur BT-3F di luar Rusia dengan memesan 21 unit senilai 67,2 juta dolar AS.
Bersama dengan pembelian 21 BT-3F, Indonesia juga membeli 22 kendaraan tempur infanteri (infantry fighting vehicle/IFV) BMP-3F senilai 108 juta dolar AS. Pengadaan BMP-3F ini merupakan pengadaan yang ketiga kalinya.
Kontrak pembelian dilaksanakan di Jakarta pada 22 April 2019. Kedua ranpur dibeli untuk memperkuat alutsista Korps Marinir TNI AL. (Roni Sontani)

Story: Kiprah dan Pengembangan F-117 Night Hawk, Pesawat Siluman Pertama di Dunia


Dunia aviasi semakin berkembang karena para insinyur penerbangan terus berinovasi membuat pesawat mutakhir.
Mereka menjawab tantangan zaman untuk bisa menghadirkan pesawat yang berguna untuk membantu militer menjaga kedaulatan negara.
Tak hanya dengan persenjataan saja, kecanggihan penerbangan juga dilakukan untuk mendapatkan kecepatan dan daya jelajah optimal. Ketika ketegangan Perang Dingin dengan Uni Soviet semakin memuncak, Amerika Serikat menginginkan pesawat yang berbeda dari yang pernah ada.
 F-117 Night Hawk
 F-117 Night Hawk 
Pada 1970-an, Badan Proyek Penelitian Pertahanan Tingkat Lanjut (DARPA) dari Departemen Pertahanan AS meminta perusahaan penerbangan membuat pesawat yang tak bisa terdeteksi radar atau pesawat siluman (stealth).
Mereka membuat "perlombaan" kepada beberapa perusahaan penerbangan untuk membangun pesawat pengebom siluman yang tidak terdeteksi oleh radar musuh.
Salah satu perusahaan kenamaan, yaitu Lockheed Corporation akhirnya berhasil mengembangkan pesawat siluman secara rahasia.
Pesawat jenis ini memiliki kelebihan kecepatan dengan didukung teknologi agar terbebas dari jangkauan radar serta sensor musuh. Jika pesawat ini melintas, tak ada pihak yang mengetahui dan bahkan melihat kedatangannya.
Perusahaan Lockheed Corporation memberikan nama pesawat ini F-117 atau Nighthawk. Pengembangan pesawat secara khusus didedikasikan untuk kebutuhan militer Angkatan Udara AS (USAF).
Setelah menjalani penelitian dan pengembangan, akhirnya pada 18 Juni 1981 pesawat ini memulai debutnya di angkasa. Mereka berhasil terbang dan membuat para perwira militer merasa kagum dengan proyek rahasia ini.
Setelah penerbangan perdananya, pesawat ini didaulat sebagai pesawat anti radar pertama dunia. Tak lama setelah itu pesawat operasional pertama secara rahasia dikirim ke Angkatan Udara pada 1982 untuk segera menjalankan misi.
Anti-radar pertama
Perang Dingin tak diwarnai dengan pertempuran, namun negara yang terlibat di dalamnya saling mengancam dengan persenjataan. Mereka berlomba membuat senjata yang paling canggih, ancaman nuklir merupakan hal yang tak dapat dipisahkan dari era Perang Dingin.
Pembuatan pesawat siluman oleh Amerika Serikat bertujuan untuk menunjukkan bahwa persenjatan mereka satu langkah lebih canggih daripada Uni Soviet sebagai pesaingnya.
Misi rahasia yang dikenal dengan "Skunk Works" ini berhasil menunjukkan kepada dunia bahwa pesawat Nighthawk bisa memancarkan atau memantulkan sedikit radio, inframerah dan energi cahaya.
Pesawat ini juga dilengkapi dengan pelapis permukaan yang bisa "menyerap" pantauan radar. Tenaga pesawat ini menggunakan dua mesin jet General Electric turbofan yang bisa terbang dengan kecepatan 1.100 kilometer per jam
Selain itu, pesawat ini hanya bisa dikendalikan oleh satu orang saja. Panjang pesawat ini 20 meter dengan rentang sayap 13,21 meter.
Nighthawk dilengkapi dengan senjata bom dan rudal pencari radar atau pencari inframerah.
Dengan menggunakan panduan inersia, sensor inframerah, peta digital, dan perintah radio dari satelit atau pesawat lain, F-117 dapat bernavigasi tanpa memancarkan sinyal radar sendiri.
Karena kerahasiaan dari program F-117, informasi mengenai keberadaan pesawat ini sangat minim pada era 1980-an. Pesawat ini juga diketahui pernah digunakan ketika Perang Teluk pada 1990-an.
Dua pesawat ini secara diam-diam digunakan sebagai bagian dari invasi Panama pada 1989. Saat itu, pesawat menyerang 1.600 target. Sekembalinya dari misi tesebut, pesawat ini juga dipindahkan ke Pangkalan Angkatan Udara Holloman di New Mexico dan menjadi bagian dari 49 Fighter Wing.
Pada tahun 1999, F-117 digunakan dalam Perang Balkan di Kosovo sebagai bagian dari Operasi Pasukan Sekutu. F-117 juga tercatat dalam misi tempur untuk mendukung operasi di Irak di era Presdien George W Bush.
Meskipun pesawat sangat sukses, teknologi F-117 menjadi ketinggalan zaman pada 2005 dan biaya perawatan tergolong besar.
Dengan diperkenalkannya F-22 Raptor dan pengembangan F-35 Lightning II, pesawat ini dipensiunkan pada 2008. Pesawat ini akhirnya dibawa ke pangkalan aslinya di Tonopah, Nevada. Pada hari yang sama upacara pengunduran diri resmi diadakan. (Aswab Nanda Prattama)
Sumber : kompas.com

Rusia Bantah Tuduhan Tembak Jatuh Pesawat MH-17


Kementerian Luar Negeri Rusia membantah tuduhan keterlibatan militernya dalam insiden pesawat penumpang Malaysia Airlines MH-17. Pesawat Malaysia Airlines MH-17 ditembak jatuh di Ukraina timur pada tahun 2014.
Sisa Sisa Pesawat MH-17
Sisa Sisa Pesawat MH-17 

Kementerian Luar Negeri Rusia menyesalkan tuduhan keterlibatan terhadap militer negaranya dalam peristiwa tersebut.
"Sekali lagi, pihak Rusia menjadi sasaran tuduhan yang sama sekali tidak berdasar yang bertujuan mendiskreditkan Federasi Rusia di mata masyarakat internasional," kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan di situsnya seperti disitir dari Anadolu, Kamis (20/6/2019).
"Tim investigasi gabungan (JIT) yang dibentuk untuk menyelidiki tragedi itu menggunakan sumber informasi yang meragukan dan tidak menggunakan data yang disediakan oleh Rusia," sambung pernyataan itu.
JIT mengumumkan pada hari Rabu tiga orang Rusia dan seorang tersangka asal Ukraina akan menghadapi persidangan karena menembak jatuh Malaysia Airlines MH-17.
Pesawat itu terbang pada 17 Juli 2014, dari Bandara Schiphol, Amsterdam ke Kuala Lumpur tetapi ditembak jatuh sebelum jatuh di dekat Torez di Oblast Donetsk, Ukraina, 40 kilometer dari perbatasan Rusia. Sebanyak 298 orang, termasuk 15 kru, tewas dalam kecelakaan itu.
Belanda, Australia, Belgia, Malaysia, dan Ukraina adalah bagian dari tim investigasi gabungan.
Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan Moskow telah meminta untuk bergabung dalam penyelidikan tetapi ditolak, memberi Ukraina cukup waktu untuk memalsukan bukti kedokteran.
"Para penyelidik internasional menghapus Moskow dari partisipasi penuh dalam JIT, memberikan upaya Rusia hanya peran sekunder. Pada saat yang sama mereka menjadikan Ukraina anggota penuh JIT, memberikannya kesempatan untuk memalsukan bukti, serta membatalkan tanggung jawab atas tidak tertutupnya wilayah udaranya," kata kementerian itu.
Ukraina bagian timur telah dilanda konflik setelah aneksasi Rusia atas semenanjung itu pada tahun 2014. Separatis pro-Rusia yang tinggal di wilayah Donetsk dan Luhansk menyatakan kemerdekaan dalam langkah yang tidak diakui oleh komunitas internasional, termasuk Turki.
JIT sebelumnya mengklaim rudal jenis BUK TELAR digunakan untuk menembak jatuh pesawat Malaysia yang nahas itu.
Menurut laporan JIT, rudal itu berasal dari brigade rudal anti-pesawat ke-53 sebuah unit tentara Rusia di dekat perbatasan Ukraina di Federasi Rusia.(Berlianto)

Viking Air Menangkan Pesanan Perdana Pembom Air CL-515


Viking Air Kanada telah mendapatkan pesanan perdana untuk pembom air CL-515 generasi baru dari Indonesia, dengan kesepakatan sebanyak tujuh unit yang terdiri dari enam pesawat CL-515 dan satu CL-415EAF (Enhanced Aerial Firefighter).
Pembom Air CL-515
Pembom Air CL-515 
CL-515 adalah pesawat pemadam kebakaran udara multi-misi canggih yang baru dikembangkan - merupakan generasi berikutnya dari Canadair CL-415, pesawat amfibi benchmark industri penerbangan dan tulang punggung misi pemadam kebakaran di seluruh dunia. Dengan kapabilitas pemadam kebakaran yang ditingkatkan, dan fleksibilitas untuk mendukung berbagai operasi misi kritis, CL-515 akan menjadi aset strategis yang sangat penting bagi armada di seluruh dunia.
Kementerian Pertahanan Republik Indonesia telah setuju untuk membeli enam pesawat CL-515 baru, empat di antaranya akan dikirim dalam konfigurasi multi-misi "first responder", dan dua dikirimkan dalam konfigurasi pemadam kebakaran udara yang dioptimalkan. Perjanjian pembelian juga mencakup satu pesawat Canadair CL-415EAF "Enhanced Aerial Firefighter" yang dikonversi dari Canadair CL-215 ke standar EAF oleh anak perusahaan Longview Aviation Capital, Longview Aviation Services.
Penyerahan ditetapkan pada 2024. Nilai transaksinya belum diungkapkan.
Meskipun perjanjian dengan Indonesia melibatkan satu perusahaan, perusahaan itu masih bergantung pada perusahaan induk Longview Aviation Capital untuk menyetujui peluncuran produksi.
Program CL-series diakuisisi oleh Longview dari Bombardier pada tahun 2016.
"Kami sangat senang menyambut Indonesia sebagai pelanggan pertama untuk pesawat luar biasa ini," kata David Curtis, kepala eksekutif Longview Aviation Capital, menggambarkan kontrak sebagai "tonggak utama" dalam membawa pesawat turboprop kembar tersebut ke pasar.
"Kepercayaan suatu pemerintah yang berdaulat dalam program kami cocok dengan keyakinan kami sendiri pada kemampuan kami untuk mengirimkan platform pesawat baru ini ke dunia."
Curtis mengatakan pihaknya mendekati keputusan pembuatan dan lokasi perakitan akhir untuk CL-515 dan berharap untuk "menyelesaikan tonggak program yang tersisa dalam waktu dekat". (Angga Saja - TSM)

Paris Air Show 2019: Embraer dan ELTA akan Kembangkan Pesawat AEW Baru


Embraer Brasil dan ELTA Systems, anak perusahaan Israel Aerospace Industries (IAI), telah menandatangani Perjanjian Kerjasama Strategis (Strategic Cooperation Agreement) untuk mengembangkan pesawat AEW (Airborne Early Warning - Peringatan Dini Udara) next generation P600, yang dibuat berdasarkan pesawat jet bisnis Embraer Praetor 600 yang canggih, pada acarapameran internasional Paris Air Show ke-53.
Ilustrasi
Ilustrasi 
Sensor utama pesawat P600 AEW adalah radar IAI/ELTA generasi ke-4 Digital Active Electronically Scaned Array (AESA) dengan kemampuan IFF terintegrasi.
Dalam kerja sama ini, Embraer akan menyediakan platform udara, dukungan darat, sistem komunikasi, dan integrasi pesawat sementara ELTA akan menyediakan radar AEW, SIGINT (Signals Intelligence) dan sistem elektronik lainnya dan integrasi sistem, kata Embraer dalam sebuah pernyataan hari Selasa (18/06).
Menurut perusahaan, P600 AEW dapat memberikan Gambaran Situasional Udara (Air Situational Picture) yang diperluas dengan memantau aktivitas udara di area di luar jangkauan radar darat. Pesawat ini dapat melakukan berbagai misi seperti Pertahanan Udara, Peringatan Dini, Komando dan Pengendalian, Efisiensi Armada Tempur, Pertahanan Wilayah, dan Pengawasan Maritim. 
Selain itu, P600 AEW dapat dikonfigurasi dengan berbagai sensor dan sistem kontrol AEW & C, termasuk; Radar AEW AESA Digital generasi ke-4, IFF sipil dan militer, ESM/ELINT dengan kemampuan Radar Warning Receiver, Command & Control, rangkaian komunikasi komprehensif termasuk Jaringan Data dan Link Satelit, dan Self Protection Suite (SPS) yang kuat.
Rangkaian komunikasi yang komprehensif memungkinkan kemampuan data link serta komunikasi satelit untuk operasi data link di luar garis pandang (beyond line of sight). Pesawat ini juga mempertahankan interoperabilitas dengan pasukan sekutu. Kemampuan Network Centric Warfare (NCW) mengubah P600 AEW menjadi anggota dalam sebuah jaringan taktis. Sementara Sistem Perlindungan Diri (Self Protection System - SPS) yang canggih mampu melakukan deteksi potensi ancaman yang akan mengaktifkan electronic support measures (ESM) yang diperlukan. (Angga Saja - TSM)

Filipina Buka Proyek Pengadaan Kapal Landing Dock


Departemen Pertahanan Nasional Filipina (DND) telah mengeluarkan undangan untuk mengajukan penawaran dua unit kapal landing dock (LD) bagi Angkatan Laut Filipina dengan anggaran yang disetujui untuk kontrak tersebut senilai PHP5.560.000.000,00.
SSV Filipina Buatan PT PAL
SSV Filipina Buatan PT PAL 
Angkatan Laut Filipina saat ini mengoperasikan dua kapal landing platform dock kelas-Tarlac yang diperoleh di bawah Program Modernisasi Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) First Horizon. Proyek pengadaan kapal landing dock baru ini berada di bawah Program Modernisasi Second Horizon AFP.
“DND/AFP, telah membuka penawaran untuk pengadaan Dua (2) unit Landing Docks Vessel baru dengan Empat (4) unit Landing Craft Utility (LCU) dan Empat (4) unit Rigid Hull Boat Inflatable (RHIB) dengan Dukungan Logistik Terintegrasi (Integrated Logistics Support - ILS) untuk Angkatan Laut Filipina. 
Penyerahan barang atau durasi kontrak tidak boleh lebih dari 1.095 hari kalender sesuai Dokumen Penawaran. Kontrak serupa akan merujuk pada pembangunan dan pengiriman Kapal Militer dengan tonase bruto minimum 7.000 ton,” kata pihak DND dalam undangannya untuk mengajukan penawaran.
"Angkatan Laut Filipina mensyaratkan adanya ikatan dengan perusahaan atau galangan kapal lokal sehingga minimal satu (1) unit LD akan dibangun di dalam negeri," tambahnya.
Konferensi pra-penawaran ditetapkan pada tanggal 20 Juni 2019. Pembukaan penawaran dijadwalkan pada 04 Juli 2019. (Angga Saja - TSM)
Sumber : mintfo.com

Radar Acak