Radar TNI AD

Radar TNI AL

Radar TNI AU

Radar Terbaru

China Luncurkan Kapal Perang Nirawak Bernama JARI


China menjadi pelopor pengembangan kapal perang nirawak di dunia setelah meluncurkan kapal semacam itu, Rabu lalu. Pengembangnya mengklaim kapal yang diluncurkan tersebut sudah siap tempur.
Kapal perang tanpa awak militer Beijing ini dikenal dengan nama "JARI". Moda tempur canggih tersebut dikembangkan oleh No. 716 dan No. 702 Research Institute, lembaga di bawah naungan China Shipbuilding Industry Corporation (CSIC) perusahaan milik negara.
Kapal Perang Nirawak Bernama JARI
Kapal Perang Nirawak Bernama JARI 
Upacara peluncuran kapal perang tak berawak multifungsi itu dilakukan pada hari Rabu di lokasi yang dirahasiakan. No. 716 Research Institute, dalam sebuah pernyataan yang dirilis di akun WeChat, mengonfirmasi peluncuran moda tempur canggih itu.
"Peluncuran ini mengindikasikan kapal drone tempur terkemuka dunia telah memperoleh kemampuan tempur awal," bunyi pernyataan tersebut, seperti dikutip dari Global Times, Jumat (23/8/2019).
Seorang pakar militer yang meminta tak disebutkan namanya mengatakan kepada Global Times bahwa pengumuman kesiapan tempur JARI setelah peluncurannya itu menunjukkan indikasi seberapa matang teknologi yang digunakan pada kapal tersebut.
Biasanya kapal perang membutuhkan beberapa uji coba laut sebelum ditetapkan berstatus operasional.
Menurut pernyataan No. 716 Research Institute, tes lebih lanjut terhadap JARI diperlukan untuk berpotensi secara penuh menjadi kapal drone tempur yang sepenuhnya otonom.
Moda tempur ini memiliki panjang sekitar 15 meter dan bobot 20 ton, namun mampu melakukan misi pertahanan udara, anti-kapal dan anti-kapal selam. Menurut laporan China Central Television (CCTV), kemampuan beragam itu berkat sistem radar susun bertahap, rudal dan torpedo yang diluncurkan secara vertikal.
Beberapa pengamat militer menyebut kapal itu merupakan kapal perusak kelas Aegis mini tanpa awak karena jenis radar dan misilnya.
JARI dapat dikendalikan dari jarak jauh. Namun, kapal itu juga menggunakan teknologi kecerdasan buatan untuk menavigasi dan melakukan kegiatan tempur secara otonom setelah menerima perintah.
Menurut para analis yang dikutip CCTV, kapal drone tempur dapat bekerja sendiri secara diam-diam atau membentuk segerombolan kapal untuk menjadi kekuatan yang tangguh.
Perwakilan CSIC mengatakan kepada CCTV bahwa kapal perang nirawak itu telah mengumpulkan banyak perhatian dari perwakilan militer banyak negara saat dipajang di International Defense Exhibition and Conference (IDEX) ke-14 di Abu Dhabi, Februari lalu.
China menjadi pelopor dalam pengembangan kapal perang nirawak ketika Amerika Serikat (AS) masih dalam tahap rencana pengembangan. Pentagon berencana membangun armada sepuluh kapal perang nirawak selama lima tahun ke depan. (Muhaimin)
Sumber :  sindonews.com

Bavar-373, Sistem Rudal Pertahanan Udara Buatan Iran Pesaing S-300 Rusia


Stasiun televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa negara para Mullah itu akan memamerkan sistem pertahanan rudal udara buatan sendiri, Bavar-373, Kamis (22/8/2019) hari ini. Senjata pertahanan ini diklaim menjadi pesaing sistem rudal S-300 Rusia.
Bavar-373
Bavar-373 
Laporan televisi pada hari Rabu tersebut mengatakan Bavar-373 adalah sistem rudal darat-ke-udara (surface-to-air) jarak jauh yang mampu membidik hingga 100 target pada saat bersamaan dan menghadapi target-target itu dengan enam senjata berbeda. "Itu akan disingkap Kamis," bunyi siaran stasiun televisi tersebut, dikutip AP.
Sejak 1992, Iran telah mengembangkan industri pertahanan dalam negeri yang telah menghasilkan senjata ringan dan berat mulai dari mortir dan torpedo hingga tank dan kapal selam.
Amerika Serikat (AS) telah menjatuhkan sanksi terhadap Iran setelah Presiden Donald Trump menarik Washington keluar diri dari kesepakatan nuklir antara Iran dan enam kekuatan dunia (AS, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan China). Trump beralasan perjanjian itu tidak membatasi program rudal balistik Iran.
Jauh hari sebelum televisi pemerintah mengumumkan hal tersebut, Menteri Pertahanan Brigadir Jenderal Amir Hatami telah mengumumkannya, yakni pada 7 Agustus lalu.
"Akan ada berita yang sangat bagus di bidang pertahanan udara pada 22 Agustus. Saya berharap kemampuan pertahanan negara kita akan meningkat secara signifikan dengan demonstrasi dan transfer sistem Bavar-373, yang akan terjadi pada Hari Industri Pertahanan," bunyi pernyataan Hatami yang dirilis Kementerian Pertahanan setempat kala itu.
Sistem rudal yang dirancang dan dikembangkan di Iran itu sudah diuji coba pada 2017. Militer Iran menganggap Bavar-373 sebagai pesaing sistem rudal S-300 buatan Rusia.
Bavar-373 adalah sistem pertahanan udara mobile jarak jauh yang diresmikan pada Agustus 2016. Iran telah meluncurkan proyek pembuatan senjata pertahanan itu pada 2010 setelah Rusia menangguhkan kesepakatan pembelian S-300 senilai USD900 juta yang ditandatangani pada tahun 2007.
Rusia menangguhkan kesepakatan tersebut karena mengadopsi sanksi Dewan Keamanan PBB terhadap Iran pada pertengahan 2010.
Namun, pada April 2015, Rusia memulai kembali pembicaraan tentang pengiriman S-300 yang sudah lama ditangguhkan menyusul tercapainya kesepakatan nuklir Iran dengan enam kekuatan dunia. Setahun kemudian, Rusia mengirimkan sistem rudal tersebut berdasarkan kontrak yang telah diselesaikan. (Muhaimin)

Jepang Bersiap Kembangkan Jet Tempur Kawin Silang Teknologi F-22 dan F-35


Jepang sedang bersiap untuk meluncurkan pengembangan jet tempur canggih generasi masa depan untuk menggantikan armada F-2 yang akan pensiun tahun 2030-an. Jet tempur yang akan dikembangkan ini diduga merupakan "perkawinan" F-22 Raptor dan F-35 Lightning II.
F-22 dan F-35 adalah pesawat jet tempur siluman generasi kelima Amerika Serikat (AS) yang diproduksi Lockheed Martin. Jepang sendiri merupakan salah satu pembeli F-35 Lightning II.
F-22 dan F-35
F-22 dan F-35 

Proyek pengembangan pesawat tempur untuk Angkatan Udara Pasukan Bela Diri (ASDF) Jepang akan dimulai pada tahun fiskal 2020. Sumber-sumber pemerintah setempat, pada hari Rabu (22/8/2019), mengungkap persiapan pengembangan tersebut.
Kementerian Pertahanan mengatakan bahwa di bawah Program Pertahanan Jangka Menengah lima tahun terakhir, sebuah proyek pembangunan yang dipimpin oleh Jepang dengan kemungkinan membawa kolaborator internasional akan diluncurkan sesegera mungkin.
Kementerian akan menentukan jumlah anggaran sebelum Kabinet menyetujui rancangan anggaran tahun fiskal 2020 pada akhir tahun ini.
Salah satu sumber pemerintah mengatakan, Jepang telah mempertimbangkan untuk mengembangkan bersama jet tempur masa depan dengan AS atau perusahaan-perusahaan Inggris. Raksasa kontraktor pertahanan AS, Lockheed Martin Corporation, kemungkinan menjadi pilihan utama sebagai mitra.
Sumber lainnya di internal pemerintah mengatakan Jepang menghendaki jet tempur yang dikembangkan adalah "hibrida" antara F-22 dan F-35. Namun ada kekhawatiran di pihak Amerika Serikat tentang kemungkinan kebocoran teknologi canggih sehingga membuat proyek bersama itu menjadi sulit terwujud.
"Kementerian akan meluncurkan proyek pembangunan yang dipimpin Jepang pada waktu yang lebih awal dengan kemungkinan membawa kolaborator internasional," kata Kementerian Pertahanan yang dikutip Japan Times, ketika menjawab pertanyaan tentang teka-teki jet tempur penerus F-2. (Muhaimin)

TNI AL Luncurkan Tiga Kapal Angkut Tank untuk Perkuat Operasi Amfibi


TNI AL meluncurkan sekaligus melaksanakan shipnaming atau penamaan terhadap tiga Kapal Angkut Tank (AT) yakni, AT-5, 6 dan 7 di Galangan PT Daya Radar Utama, Lampung pada Senin, 19 Agustus, 2019.
Seluruh kapal tersebut masing-masing diberi nama, Teluk Youtefa untuk Kapal AT-5, Teluk Palu untuk Kapal AT-6 dan Teluk Calang Kapal AT-7. Ketiga kapal yang memiliki panjang keseluruhan 120 meter, dengan panjang garis air 111, 89 mm dan lebar 18 m serta tinggi 7,8 meter ini mempunyai kecepatan maksimum 16 knot, dengan kecepatan jelajah 15 knot dan kecepatan ekonomis (patroli) 14 knot.
 Kapal Angkut Tank (AT)
 Kapal Angkut Tank (AT) 
Selain itu, ketiga kapal tersebut juga memiliki kapasitas angkut sebanyak 10 unit tank Leopard atau 14 unit BMP-3F dan 1 unit helikopter serta dapat mengangkut sebanyak 478 personel.
Asisten Logistik Kepala Staf Angkatan Laut (Aslog KSAL) Laksamana Muda TNI Moelyanto menjelaskan, pada 15 Mei dan 1 Juni 2019 Kapal AT 5 dan 6 telah sukses di luncurkan dalam keadaan aman dan lancar.
Menurut dia, secara teknis pelaksanaan launching ditujukan untuk mengetahui stabilitas kapal dan kekedapan badan kapal terhadap kemungkinan risiko bahaya kebocoran mengingat kapal tersebut disiapkan untuk pelaksanaan tugas operasi amfibi yang disertai dengan pergeseran pasukan menggunakan kendaraan tempur amfibi.
”Pembangunan tiga unit Kapal Angkut Tank memiliki makna yang sangat strategis terhadap profesionalisme TNI AL, dan keberadaan kapal-kapal tersebut dapat dijadikan sebagai momentum bagi prajurit dalam mendalami ilmu operasi amfibi, pergeseran pasukan menggunakan kendaraan dan material tempur serta kegiatan sosial yakni pengiriman bantuan pulau-pulau yang tertimpa bencana,” katanya, Rabu (21/8/2019).
Pembangunan ketiga kapal ini, kata dia, merupakan manifestasi dari kebijakan pembangunan TNI AL menuju Minimum Essential Force (MEF). Dengan kehadiran ketiga kapal angkut tank ini, diharapkan menjadi sarana penghubung dan pemersatu kemaritiman Indonesia sehingga menjadi inspirasi bagi komandan beserta seluruh Anak Buah Kapal (ABK) dalam mendukung tugas pokok TNI AL menjaga kedaulatan wilayah perairan Indonesia.
”Atas nama TNI AL saya sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Direktur Utama PT Daya Radar Utama atas terwujudnya pembangunan tiga unit kapal ini serta kepada Kadisadal, Dansatgas Proyek Pengadaan Dalam Negeri Kapal AT 5,6 dan 7 serta pihak-pihak yang telah berkontribusi dalam penyelesaian “Scope of Work” proyek pengadaan Alutsista hingga ke tahap launching,” ungkapnya.
Pada kesempatan itu, TNI AL juga melaunching Kapal AT-7 Teluk Calang. Diharapkan kapal beserta calon Komandan dan ABK yang mengawaki diberikan keselamatan dan keamanan dalam melaksanakan tugas dan pengabdian kepada negara dan bangsa Indonesia.
Penamanaan dan peluncuran ketiga Kapal Angkut Tank tersebut ditandai dengan penekanan tombol sirine oleh Aslog KSAL. Selanjutnya Kapal AT-7 Teluk Calang turun menggunakan airbag balloons yang kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara oleh Kadisadal dan Direktur Utama PT Daya Radar Utama disaksikan Aslog KSAL. (Sucipto)

Jet Tempur F-16 Viper Block 70/72 AS yang Dijual ke Taiwan Mampu Bertempur hingga 2070


Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat ( AS) menyetujui menjual 66 unit jet tempur F-16 Viper kepada Taiwan seharga 8 miliar dollar, atau Rp 114 triliun.
Dalam keterangan resminya, Kementerian Luar Negeri AS mengatakan pemerintahan Presiden Tsai Ing-wen bakal mendapat varian terbaru, yakni F-16 Viper Block 70.
Jet Tempur F-16 Viper
Jet Tempur F-16 Viper  
Menteri Luar Negeri Mike Pompeo menuturkan, dia mendapat lampu hijau dari Presiden Donald Trump setelah Kongres AS menerima pemberitahuan pekan lalu.
Pompeo dalam rilis resmi menerangkan, jet tempur F-16 begitu konsisten dengan pengaturan maupun relasi bersejarah antara Washington dengan Taiwan.
"Aksi kami sangat konsisten dengan kebijakan terdahulu. Sederhananya, kami mengikuti komitmen yang dibuat dengan semua pihak," ujar Pompeo.
Dilansir AFP Rabu (21/8/2019), Taiwan berencana untuk memperkuat pertahanan udaranya setelah China disebut melakukan pelanggaran kedaulatan.
Juru bicara kantor kepresidenan merilis pernyataan tanggapan bahwa penjualan pesawat itu bakal membantu mempertahankan kemerdekaan rakyatnya.
Pembelian itu bakal memainkan peranan penting di Selat Taiwan, apalagi di tengah meningkatnya aksi militer Beijing dalam beberapa tahun terakhir.
China masih menganggap Taipei sebagai bagian dari wilayah mereka yang harus segera disatukan. Namun pulau yang memerintah secara mandiri itu bersekutu dengan AS.
Badan Kerja Sama Keamanan Pertahanan yang mengawasi penjualan senjata luar negeri berujar, pembelian F-16 tak akan mengubah keseimbangan militer dasar kawasan.
"Penawaran penjualan ini bakal menyediakan pertahanan baik di wilayah udara, keamanan regional, maupun kerja sama dengan AS," ujar badan itu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang menyebut penjualan tersebut merupakan pelanggaran tak hanya relasi dua negara, namun juga masalah domestik mereka.
"Amerika seharusnya secepatnya menghentikan rencana penjualan senjata, dan berhenti berhubungan secara militer dengan Taiwan," ucap Geng.
Geng pun mengancam Washington bakal menanggung konsekuensinya jika mereka meneruskan pembelian. Taiwan sebelumnya membeli model 1992 yang melalui serangkaian pembaruan.
Lockheed Martin selaku pabrikan menyebut jet tempur F-16 Viper Block 70/72 mencakup sistem avionik, senjata, hingga radar yang begitu canggih.
Lockheed menyebut jet tempur tersebut mempunyai struktur bodi yang kuat, sehingga bisa dipakai untuk bertempur hingga 2070 mendatang.
Rencana itu terjadi di tengah perang dagang antara China dan AS dengan ekonom menyatakan tak hanya merugikan mereka, namun juga dunia. (Ardi Priyatno Utomo)
Sumber : kompas.com

TNI AL Pilih Meriam 57mm BAE Systems untuk KCR-60


TNI Angkatan Laut telah memilih sistem meriam laut Bofors 57 Mk3 dari BAE Systems untuk program kapal serang cepat KCR-60.
Kontrak awal dengan pembuat kapal milik pemerintah Indonesia, PT PAL Indonesia mencakup pembelian empat sistem meriam 57 Mk3.
Bofors 57 Mk3
Bofors 57 Mk3 
Meriam kapal Bofors 57mm dirancang untuk mengatasi ancaman permukaan, udara, dan darat di lingkungan pesisir, dan sudah beroperasi pada banyak angkatan laut dan kesatuan penjaga pantai, termasuk dari Amerika Serikat, Kanada, Swedia, Finlandia, dan Meksiko.
"Kontrak terbaru dengan PT PAL Indonesia ini menandakan kepercayaan Indonesia yang berkelanjutan bahwa meriam kapal BAE Systems secara konsisten memenuhi persyaratan kualitas dan kebutuhan kemampuan," kata Ulf Einefors, direktur Weapon Systems Sweden di BAE Systems.
Dengan panjang 60 meter, KCR-60 dirancang untuk dengan cepat mengerahkan rudal anti-kapal melawan kapal kombatan permukaan dan kemudian dengan cepat dan aman menarik diri ke kepulauan di kawasan itu. Tiga kapal KCR-60 saat ini dalam kedinasan Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Laut, atau TNI-AL, dimana kapal keempat dijadwalkan akan beroperasi pada 2021.
Dua dari sistem 57 Mk3 baru akan digunakan pada dua kapal KCR-60 yang saat ini sedang dibangun, sementara dua meriam lainnya akan diintegrasikan pada kedua kapal KCR-60 yang ada. Sistem senjata akan diproduksi di fasilitas BAE Systems di Karlskoga, Swedia. Unit pertama dijadwalkan akan dikirim pada tahun 2020 dan unit terakhir pada tahun 2021.(Angga Saja-TSM

Kepolisian Nasional Peru Pilih Pesawat An-178


Pesawat angkut An-178 produk Ukroboronprom (dibuat oleh Antonov State Enterprise, Kiev) telah memenangkan tender yang diadakan oleh Kementerian Dalam Negeri Peru untuk menggantikan pesawat Kepolisian Nasional Peru.
Pesawat angkut An-178 buatan Ukraina itu akan menggantikan pesawat An-32B milik Kepolisian Nasional Peru, menurut sebuah posting di situs web Antonov Enterprise.
Pesawat An-178
Pesawat An-178 
Pesawat angkut Ukraina An-178 akan menggantikan pesawat An-32B dari Kepolisian Nasional Peru, kata posting di situs web Antonov Enterprise.
Pesawat Antonov An-178 tersebut mengalahkan pesawat Leonardo C27J yang ditawarkan oleh Departemen Persenjataan Nasional Italia dan Airbus C295M yang ditawarkan oleh Direktorat Jenderal Persenjataan dan Material (DGAM) Spanyol.
"Menurut penilaian komparatif dari karakteristik pesawat, perpanjangan jaminan atas posisi tender lainnya, pesawat An-178, yang ditawarkan oleh Spetstechnoexport Ukraina unggul dengan 80,02 poin dan harga sekitar $ 65 juta, dinyatakan sebagai pemenang," kata Antonov dalam sebuah pernyataan.
Menurut undang-undang Peru, hasil tender harus disetujui oleh presiden negara tersebut.
Pesawat angkut multiguna An-178 dikembangkan di Antonov State Enterprise, yang merupakan bagian dari Grup Perusahaan Ukroboronprom. Sekitar 200 perusahaan dari 15 negara terlibat dalam kerja sama produksi di bawah program An-178 tersebut.(Angga Saja-TSM)

Boeing Upgrade Helikopter Little Bird USSOCOM


Boeing sedang melakukan upgrade armada helikopter unik yang digunakan untuk operasi khusus Angkatan Darat Amerika Serikat di bawah program Mission Enhanced Little Bird (MELB). 47 helikopter saat ini dalam kedinasan harus tetap beroperasi sampai setidaknya tahun 2035.
Helikopter Little Bird
Helikopter Little Bird  
A/MH-6 Little Bird adalah helikopter serang/intai bersenjata yang berkemampuan tinggi yang secara khusus dirancang dengan karakteristik kinerja yang unggul dan peralatan misi yang fleksibel dan mudah dikonfigurasi, ideal untuk serangan ringan, serangan presisi, Anti-ranpur lapis baja, Close Combat Attack, Intai, Keamanan & Pengawalan, penyusupan/penjemputan pasukan, SAR tempur.
Komputer misi A/MH-6 memproses data dalam jumlah besar dan membagikan informasi ke semua sistem pesawat dengan cepat. Helikopter ini juga memiliki tingkat keamanan tinggi, meningkatkan dan membantu pengambilan keputusan yang cepat, meningkatkan kesadaran situasional, mengurangi beban kerja pilot dan mengurangi biaya dukungan siklus hidup pesawat.
Saat ini semua helikopter Little Bird dijamin dapat melindungi kru dari semburan senjata jenis AK47. Perlindungan balistiknya juga membuat helikopter tersebut aman dari kaliber NATO 5,56mm.
Program MELB mencakup peningkatan komponen utama helikopter A/MH-6 Little Bird untuk meningkatkan margin keselamatan, kontrol penerbangan, dan memperbarui kokpit. Helikopter yang ditingkatkan menerima bilah rotor baru, boom ekor yang lebih panjang, gearbox belakang baru. Konfigurasi baru MELB Block 3.0 ini juga mencakup kemampuan yang lebih baik untuk terbang di ketinggian tinggi dalam cuaca panas, kapasitas muatan yang 500 pound lebih berat, kontrol penerbangan yang ditingkatkan, dan kokpit yang ditingkatkan dengan full moving map.
Awal tahun ini, SOCOM telah mengumumkan rencana untuk memperpanjang masa kerja helikopter A/MH-6 Little Bird hingga tahun 2030-an sebelum akhirnya dipensiunkan.(Angga Saja-TSM)

Mengenal Pahlawan - Pahlawan Nasional Gagah Berani Asal Papua


Provinsi Papua dan Papua Barat merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terletak paling Timur Indonesia. Sejarah mencatat untuk menjadi Papua bagian dari NKRI bukanlah perkara yang mudah.
Pahlawan Nasional Gagah Berani Asal Papua
Pahlawan Nasional Gagah Berani Asal Papua 

Penuh darah dan perjuangan dari putra-putra asli Papua untuk menyatukan Papua ke pangkuan Ibu Pertiwi. Berkat jasa dan perjuangannya mereka ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Berikut ini putra-putra asli Papua yang menjadi pahlawan nasional:
1. Frans Kaisiepo
Frans lahir di Wardo, Biak, Papua pada 10 Oktober 1921. Frans terlibat dalam Konferensi Malino tahun 1946 yang membicarakan mengenai pembentukan Republik Indonesia Serikat sebagai wakil dari Papua. Dia mengusulkan nama Irian, kata dalam bahasa Biak yang berarti tempat yang panas.
Sejarah juga mencatat tiga hari menjelang Proklamasi, tepatnya 14 Agustus 1945, Kaisiepo dan beberapa rekan seperjuangannya memperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya di Kampung Harapan Jayapura. Beberapa hari sesudah Proklamasi, atau pada 31 Agustus 1945, Kaisiepo dan rekan-rekannya melaksanakan upacara dengan pengibaran bendera Merah Putih dan nyanyian lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Selain itu, Frans Kasiepo juga pernah menjabat sebagai Gubernur Papua antara tahun 1964-1973. Pada 10 April 1979 Frans meninggal dunia, dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cendrawasih, Jayapura. Untuk mengenang jasanya, namanya diabadikan sebagai nama Bandar Udara Frans Kaisiepo di Biak Selain itu namanya juga di abadikan di salah satu kapal perang jenis korvet kelas Diponegoro yaitu KRI Frans Kaisiepo-368.
Berdasarkan Keputusan Presiden nomor 077/TK/1993, nama Frans Kaisiepo selanjutnya dikenang sebagai satu dari deretan Pahlawan Nasional Indonesia disertai penganugrahan Bintang Maha Putera Adi Pradana Kelas Dua.
Untuk menghargai jasa-jasanya, pada tanggal 19 Desember 2016, Frans Kaisiepo diabadikan dalam uang kertas Rupiah baru pada pecahan Rp. 10.000.
2. Johannes Abraham Dimara
Selanjutnya, ada Mayor TNI Johannes Abraham Dimara putra asli Papua yang ditetapkan sebagai Pahlawan. Johannes lahir di Korem, Biak Utara, Papua, 16 April 1916.
Pada tahun 1946, dia ikut serta dalam Pengibaran Bendera Merah Putih di Namlea, pulau Buru, Maluku. Dia turut memperjuangkan pengembalian wilayah Irian Barat ke tangan Republik Indonesia. Pada tahun 1950, dia diangkat menjadi Ketua OPI (Organisasi Pembebasan Irian Barat).
Johannes menjadi anggota TNI dan melakukan infiltrasi pada tahun 1954 yang menyebabkan dia ditangkap oleh tentara Kerajaan Belanda dan dibuang ke Digul, hingga akhirnya dibebaskan tahun 1960.
Ketika Presiden Soekarno mengumandangkan Trikora (menggabungkan wilayah Papua bagian barat), dia menjadi contoh sosok orang muda Papua dan bersama Bung Karno ikut menyerukan Trikora di Yogyakarta. Dia juga turut menyerukan seluruh masyarakat di wilayah Irian Barat supaya mendukung penyatuan wilayah Irian Barat ke dalam pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada tahun 1962, diadakanlah Perjanjian New York.
Johannes menjadi salah satu delegasi bersama Menteri Luar Negeri Indonesia. Isi dari perjanjian itu akhirnya mengharuskan pemerintah Kerajaan Belanda untuk bersedia menyerahkan wilayah Irian Barat ke tangan pemerintah Republik Indonesia. Maka mulai dari saat itu wilayah Irian Barat masuk menjadi salah satu bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Johanes Abraham Dimara meninggal dunia di Jakarta pada tanggal 20 Oktober 2000. Dia mendapat tanda penghargaan dari pemerintah berupa Satyalancana Perang Kemerdekaan Kesatu dan Satyalancana Bhakti. Atas jasa-jasanya Pemerintah RI menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres No. 113/TK/2011.
3. Silas Papare
Putra asli Papua lainnya yang ditetapkan sebagai pahlawan yakni Silas Papare. Silas lahir di Serui, Papua, 18 Desember 1918, dia adalah seorang pejuang penyatuan Irian Jaya (Papua) ke dalam wilayah Indonesia. Dia sangat gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan Papua sehingga, dia sering berurusan dengan aparat keamanan Belanda dalam memerangi kolonialisme Belanda dan pada akhirnya dia dipenjarakan di Jayapura karena memengaruhi Batalyon Papua untuk memberontak.
Semasa menjalani masa tahanan di Serui, Papua, Silas berkenalan dengan Dr. Sam Ratulangi, Gubernur Sulawesi yang diasingkan oleh Belanda ke tempat tersebut. Perkenalannya tersebut semakin menambah keyakinan bahwa Papua harus bebas dan bergabung dengan Republik Indonesia.
Pada bulan Oktober 1949 di Yogyakarta, dia mendirikan Badan Perjuangan Irian di Yogyakarta dalam rangka membantu pemerintah Republik Indonesia untuk memasukkan wilayah Irian Barat ke dalam wilayah RI. Silas Papare yang ketika itu aktif dalam Front Nasional Pembebasan Irian Barat (FNPIB) juga diminta oleh Soekarno menjadi salah seorang delegasi Indonesia dalam New York Agreement yang ditandatangani pada 15 Agustus 1962, yang mengakhiri konfrontasi Indonesia dengan Belanda perihal Irian Barat. Setelah penyatuan Irian Barat, dia kemudian diangkat menjadi anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara).
Untuk mengenang jasa-jasa Silam Papare, namanya diabadikan menjadi salah satu kapal perang jenis korvet kelas Parchim TNI AL KRI Silas Papare dengan nomor lambung 386. Selain itu, dididirkan Monumen Silas Papare di dekat pantai dan pelabuhan laut Serui.
Sementara di Jayapura, namanya diabadikan sebagai nama Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik (STISIPOL) Silas Papare, yang berada di Jalan Diponegoro. Sedangkan di kota Nabire, nama Silas Papare dikenang dalam wujud nama jalan.
4. Marthen Indey
Marthen Indey lahir di Doromena, Papua pada 14 Maret 1912 merupakan putra Papua yang ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan Nasional Indonesia berdasar SK Presiden No.077 /TK/ 1993 tgl. 14 September 1993 bersama dengan dua putra Papua lainnya yaitu Frans Kaisiepo dan Silas Papare.
Marthen ini merupakan polisi Belanda yang kemudian berbalik mendukung Indonesia setelah bertemu dengan beberapa tahanan politik yang diasingkan di Digul, salah satunya adalah Sugoro Atmoprasojo. Saat itu, ia bertugas untuk menjaga para tahanan politik yang secara tidak langsung berhasil menumbuhkan jiwa nasionalismenya dalam pertempuran melawan penjajah.
Pada tahun 1946, Marthen bergabung dengan sebuah organisasi politik bernama Komite Indonesia Merdeka (KIM) yang kemudian dikenal dengan sebutan Partai Indonesia Merdeka (PIM). Saat menjabat sebagai ketua, Marthen dan beberapa kepala suku yang ada di Papua menyampaikan protesnya terhadap pemerintahan Belanda yang berencana memisahkan wilayah Irian Barat dari wilayah kesatuan Indonesia. Mengetahui pihaknya membelot, Belanda menangkap Marthen dan membuinya selama tiga tahun di hulu Digul karena pasukan Belanda merasa dikhianati oleh aksinya tersebut.
Belum berhasil merebut Irian Barat untuk disatukan kembali dengan wilayah kesatuan Indonesia, pada tahun 1962 Marthen bergerilya untuk menyelamatkan anggota RPKAD yang didaratkan di Papua selama masa Tri Komando Rakyat (Trikora). Di tahun yang sama, Marthen menyampaikan Piagam Kota Baru yang berisi mengenai keinginan kuat penduduk Papua untuk tetap setia pada wilayah kesatuan Indonesia. Berkat piagam tersebut, Marthen dikirim ke New York untuk melakukan perundingan dengan utusan Belanda tentang pengembalian Irian Barat yang selama ini berada di bawah pemerintahan sementara PBB ke dalam wilayah kesatuan Indonesia.
Akhirnya, dalam perundingan tersebut, Irian Barat resmi bergabung dengan wilayah kesatuan Indonesia dan berganti nama menjadi Irian Jaya. Berkat jasanya, Marthen diangkat sebagai anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) sejak tahun 1963 hingga 1968. Tak hanya itu, dia juga diangkat sebagai kontrolir diperbantukan pada Residen Jayapura dan berpangkat Mayor Tituler selama dua puluh tahun. (Syifa Hanifah)
Sumber : merdeka.com

Jet Tempur Su-35 Rusia Intersep F-16 Turki di Langit Suriah


Dua pesawat jet tempur Su-35 Rusia dilaporkan mencegat beberapa pesawat tempur F-16 Angkatan Udara Turki di atas wilayah udara atau langit Idlib, Suriah. Pesawat-pesawat tempur Ankara buatan Amerika Serikat (AS) itu dipaksa meninggalkan wilayah udara Suriah.
Jet Tempur F-16
Jet Tempur F-16 
Kejadian itu terjadi 19 Agustus 2019, namun baru diungkap publikasi penerbangan Avia.Pro, Selasa (20/8/2019).
Menurut laporan tersebut, jet-jet tempur Turki terpaksa meninggalkan wilayah udara Idlib setelah menempuh jarak 30 hingga 40 kilometer. Hal itu menunjukkan bahwa pilot Ankara menerima peringatan dari Moskow atau melihat pesawat tempur Rusia berada di layar radar F-16.
Setelah insiden itu, kedua jet tempur Su-35 Rusia terlihat di sekitar kota Khan Shaykhun. Pesawat militer Rusia lepas landas dari Pangkalan Udara Khmeimim untuk mencegah pesawat-pesawat Turki dari aksi petualangan.
"Jet-jet tempur Su-35 mengawal dan menjaga Angkatan Udara Suriah ketika mereka menyerang Khan Shaykhun setelah ancaman dari Turki," tulis Avia.Pro, yang mengutip saluran Telegram militer.
Laporan itu belum dikonfirmasi baik oleh militer Moskow maupun Ankara. Namun, militer Turki memang mengirim dua konvoi besar ke pinggiran utara Khan Shaykhun setelah pasukan pemberontak yang merupakan sekutu Ankara kehilangan banyak wilayah setelah serbuan Tentara Republik Arab Suriah loyalis Presiden Bashar al-Assad di sekitar kota tersebut.
Sekadar diketahui sistem pertahanan udara Suriah dan Turki telah menjatuhkan satu sama lain pesawat tempur selama konflik Suriah, dengan insiden terbaru pada 2017. (Muhaimin)

Radar Acak