Radar TNI AD

Radar TNI AL

Radar Terbaru

China Gemar Reverse Engineering Persenjataan Rusia

Rusia adalah satu di antara kekuatan militer besar di dunia. Selama ini, China yang tercatat sebagai konsumen terbesar produk militer negeri pecahan Soviet itu. Menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Rusia adalah penyuplai terbesar persenjataan impor China sepanjang 2014-2018.
Shenyang J-15 tiruan Su-33 Rusia
Shenyang J-15 tiruan Su-33 Rusia 
Sepanjang periode itu sebanyak 70 persen impor senjata China dari Rusia. Termasuk di antaranya Rusia menjual 24 jet tempur Sukhoi Su-35 dan enam perangkat sistem senjata anti serangan udara S-400 ke China senilai total US$ 5 miliar pada 2015 lalu.
Hubungan dagang dan kedekatan kedua negara sempat terusik pada akhir 2019 lalu. Saat itu industri pertahanan Rusia, Rostec, menuduh China telah menjiplak secara ilegal banyak persenjataan dan perangkat keras militer Rusia lainnya.
"Mencontek perangkat militer kami adalah sebuah masalah besar. Sudah ada 500 kasusnya selama 17 tahun," kata Yevgeny Livadny, pimpinan proyek properti intelektual di Rostec.
Menurut Livadny, China telah meng-kopi jet tempur Sukhoi mulai dari badan, mesin sampai ke kokpitnya. China juga didituding melakukannya di sistem pertahanan udara dan rudal pertahanan udara maupun rudal jarak menengah darat ke udara.
China, misalnya, membeli jet tempur Sukhoi Su-27 dan sistem rudal S-300 tapi kemudian menggunakannya sebagai template untuk pengembangan jet tempur bikinannya sendiri, J-11, dan rudal darat ke udara HQ-9.
Teknik rekayasa dengan cara mengurai dari produk yang sudah ada itu sangat gamblang dan sempat meresahkan industri pertahanan Rusia. Mereka, seperti yang dituturkan Direktur Asian Security Project Vadim Kozyulin, mendorong Moscow menekan aksi yang disebut pencurian teknologi itu.
Rusia lalu menerapkan beberapa kebijakan, seperti memaksa China, dalam impornya, membeli satu paket persenjataan ketimbang hanya beberapa perangkat untuk mencegah reverse engineering ala China. Rusia juga meminta jaminan tak ada pencurian hak cipta dalam kontrak jual belinya.
Kozyulin menilai kebijakan itu tak banyak membantu, dan belakangan pun Rusia tak lagi mempermasalahkannya. Reverse engineering ala China itu dianggap ongkos yang tak bisa dihindari dari transaksi yang sudah dilakukan.
Vasily Kashin, peneliti senior di Institute of Far Eastern Studies di Russian Academy of Sciences, menambahkan kalau pemerintahan Moscow tak lagi menilai kemampuan China dalam menjiplak sebagai ancaman. Rusia diyakini masih tetap unggul dan inovasinya lebih di depan China.
"Tidak mungkin untuk menjiplak sejumlah teknologi dalam waktu singkat," katanya sambil menambahkan, menyalin teknologi lama itu butuh waktu yang sama dengan mengembangkan yang baru. "Jadi terima saja uang sari China lalu gunakan untuk mengembangkan teknologi kita yang lebih baru, dan biarkan China melakukan apa saja yang dia mau."

Mengenal Jet Tempur Amfibi Convair F2Y Sea Dart

Convair F2Y Sea Dart merupakan pesawat tempur amfibi Amerika Serikat yang dibuat ditahun 1950-an yang menggunakan dua hydro-ski saat lepas landas dan mendarat. Pesawat itu hanya terbang sebagai prototipe, dan tidak pernah memasuki produksi massal. Pesawat tersebut merupakan satu-satunya pesawat amfibi yang mampu terbang melebihi kecepatan suara.
Jet Tempur Amfibi Convair F2Y Sea Dart
Jet Tempur Amfibi Convair F2Y Sea Dart 
Pesawat Sea Dart diciptakan pada 1950-an, untuk mengatasi masalah lepas landas dan mendarat pesawat supersonik di kapal induk pada waktu itu.
Sea Dart bermula sebagai penawaran perusahaan industri pesawat terbang Convair dalam kontes Angkatan Laut AS ditahun 1948 untuk pesawat pencegat supersonik. Pada waktu itu, ada banyak keraguan tentang pengoperasian pesawat supersonik dari dek kapal induk. Jadi untuk mengatasi masalah ini, Angkatan Laut AS memesan banyak pesawat terbang subsonik. Kekhawatiran itu memiliki dasar, karena banyak desain pesawat supersonik pada saat itu membutuhkan takeoff roll yang panjang, memiliki approach speed yang tinggi, dan tidak terlalu stabil atau mudah dikendalikan, yang semuanya merupakan faktor yang menyulitkan pada kapal induk.
Tim Ernest Stout dari laboratorium penelitian hidrodinamik Convair awalnya menawarkan untuk memasang water ski pada pesawat F-102 Delta Dagger.
Proposal Convair mendapatkan pesanan untuk dua prototipe pada akhir 1951. Dua belas pesawat produksi dipesan sebelum prototipenya terbang. Tidak ada persenjataan yang dipasang pada Sea Dart yang telah dibangun, tetapi rencananya adalah untuk mempersenjatai pesawat produksi dengan empat meriam Colt Mk12 20mm dan peluncur majemuk folding-fin rocket tak berpemandu. Empat dari pesanan ini dirancang ulang sebagai pesawat service test, dan delapan pesawat produksi tambahan segera dipesan juga.
Pesawat Sea Dart kemudian menjadi pesawat tempur bersayap delta dengan hull kedap air dan hidro-ski ganda yang dapat ditarik masuk untuk lepas landas dan mendarat. Ketika diam atau bergerak perlahan di dalam air, Sea Dart mengambang dengan permukaan sayap yang menyentuh air. Ski dikeluarkan sampai pesawat mencapai sekitar kecepatan 10 mil (16 km) per jam selama lepas landas.
Pesawat rencananya ditenagai oleh sepasang mesin turbojet Westinghouse XJ46-WE-02 afterburning, yang mendapat pasokan udara dari intake yang dipasang tinggi di atas sayap untuk menghindari masuknya percikan air. Karena mesin ini belum siap untuk prototipe, dua mesin Westinghouse J34-WE-32 dengan daya lebih dari setengahnya dipasang pada pesawat.
Pada 1950-an, Angkatan Laut AS mempertimbangkan pembuatan kapal induk kapal selam yang dapat membawa tiga pesawat ini. Disimpan di ruang bertekanan yang tidak menonjol dari hull kapal selam, pesawat akan diangkat oleh elevator di sisi kiri kapal selam di belakang menara periskop (sail) ketika kapal selam muncul ke permukaan dan pesawat lepas landas di laut yang tenang dengan daya pesawat sendiri. Dalam hal laut yang lebih tinggi ombaknya, pesawat dilontarkan dengan catapult. Namun, program tersebut hanya mencapai tahap konsep, karena dua masalah yang sulit diatasi yaitu lubang untuk elevator akan sangat melemahkan hull kapal selam dan beban elevator yang sarat muatan juga akan sulit ditransmisikan ke struktur hull kapal selam.
Pesawat ini dibangun di fasilitas Convair San Diego di Lindbergh Field dan dibawa ke San Diego Bay untuk pengujian pada bulan Desember 1952. Pada tanggal 14 Januari 1953, dengan pilot E. D. "Sam" Shannon, pesawat secara tidak sengaja melakukan penerbangan pendek pertamanya pada apa yang seharusnya merupakan uji fast taxi run; penerbangan perdananya secara resmi kemudian dilakukan pada tanggal 9 April ditahun yang sama.
Operasional prototipe Sea Dart tidak berjalan mulus.Mesin yang kurang bertenaga membuat pesawat tempur itu menjadi lamban, dan hidro-ski nya tidak sesukses yang diharapkan; hidro-skinya menyebabkan getaran keras selama lepas landas dan mendarat, meskipun oleo leg penyerap goncangannya dikeluarkan. Penyempurnaan ski dan kaki sedikit memperbaiki situasi ini, tetapi tim pengembang tidak dapat menyelesaikan masalah kinerja pesawat yang lamban. Sea Dart terbukti tidak mampu mencapai kecepatan supersonik dalam penerbangan dengan mesin J34; masalah ini diperburuk adalah bentuk pre-area rule-nya, yang berarti drag (hambatan) transonik yang lebih tinggi.
Prototipe kedua dibatalkan, sehingga pesawat service test pertama dibangun dan diterbangkan. Pesawat ini menggunakan mesin J46, yang sayangnya kinerjanya pun di bawah spesifikasi. Namun, kecepatan lebih dari Mach 1 dapat dicapai dengan pesawat ini, sehingga menjadikannya satu-satunya pesawat amfibi supersonik hingga saat ini. Pada tanggal 4 November 1954, pesawat Sea Dart BuNo 135762 hancur di udara di atas San Diego Bay selama acara demonstrasi untuk para pejabat angkatan laut dan pers, menewaskan pilot uji Convair Charles E. Richbourg ketika ia secara tidak sengaja terbang melampaui batasan kemampuan airframe pesawat.
Bahkan sebelum insiden tersebut, Angkatan Laut AS sebenarnya telah kehilangan minat terhadap Sea Dart dengan teratasinya masalah dengan pesawat tempur supersonik di dek kapal induk dan kecelakaan itu membuat program Sea Dart menjadi status eksperimental. Semua pesawat produksi dibatalkan, meskipun tiga pesawat service test lainnya telah selesai. Dua pesawat prototipe terakhir tidak pernah diterbangkan. Sea Dart secara resmi dihentikan pada tahun 1957.(Angga-TSM)

Menhan Prabowo Subianto Bahas Pembelian Sukhoi Su-35 di Kantor Menko Polhukam Mahfud MD

Menko Polhukam Mahfud MD dan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menggelar Rapat Koordinasi Khusus (Rakorsus) untuk membahas perkembangan pengadaan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) TNI tahun 2020-2024, termasuk soal rencana pengadaan jet tempur Sukhoi Su-35.
Sukhoi Su-35
Sukhoi Su-35 
Selain Prabowo, rapat turut dihadiri Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI, Andika Perkasa, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Yuyu Sutisna, serta Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Wakasal), Laksamana Madya TNI Mintoro Yulianto juga hadir di kantor Mahfud ini.
Prabowo tak banyak bicara kepada awak media usai rapat yang digelar selama satu jam tersebut. Dia bergegas memasuki mobil untuk kembali ke kantornya. Dia pun hanya melambaikan tangan seraya menutup kaca mobil.
Sikap tersebut juga dilakukan oleh peserta rapat yang lain. Mereka menyerahkan penjelasan soal hasil rapat kepada Mahfud selaku tuan rumah.
"Langsung ke pak Menko ya," ujar Andika Perkasa di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Kamis (20/2).
Kontrak pengadaan pesawat tempur generasi ke 4 buatan Rusia ini disebut telah dilakukan oleh pihak Kemenhan dan Rusia. Prabowo juga telah menyambangi Rusia beberapa waktu lalu untuk membahas rencana pembelian Sukhoi Su-35.
Pihak Rusia sendiri sempat mengatakan masalah finansial menjadi salah satu hal teknis yang menghambat proses pembelian 11 Sukhoi Su-35 oleh Indonesia.
"Tentunya, itu menjadi salah satu masalah teknis yang ada tapi semuanya bisa diselesaikan," ucap Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Georgievna Vorobieva, dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Rabu (12/2).
Meski begitu, Vorobieva optimistis kontrak pembelian pesawat militer Sukhoi Su-35 senilai Rp16,75 triliun itu akan tetap berlanjut. (tst/gil)

Bakamla: Aturan Patroli Kelautan Disederhanakan, Jadi Satu Pintu

Pemerintah akan menyederhanakan aturan terkait dengan patroli keamanan laut di tangan Badan Keamanan Laut (Bakamla).
Kepala Bakamla Aan Kurnia mengatakan saat ini terdapat 17 undang-undang yang membahas soal kelautan yang berlaku di Indonesia. Sesuai dengan arahan Presiden Jokowi saat melantik Aan pada pekan lalu, kewenangan penegakan hukum kelautan dalam negeri akan diberikan sepenuhnya kepada Bakamla.
KN Tanjung Datu - 1101
KN Tanjung Datu - 1101 
Dia berharap dengan adanya sistem satu pintu, dia berharap koordinasi untuk menjaga kelautan Indonesia dapat lebih mudah.
“Nanti keluarannya teman-teman pengguna di laut khususnya masalah perekonomian lebih simpel dengan adanya satu pintu ini. Jadi contohnya nanti di darat kepolisian, di laut ya Bakamla,” ujarnya usai bertemu dengan Menteri Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam) Mahfud MD, Rabu (19/2).
Badan Keamanan Laut Republik Indonesia adalah badan yang bertugas melakukan patroli keamanan dan keselamatan di wilayah perairan Indonesia dan wilayah yurisdiksi Indonesia.
Pengamanan keamanan laut termasuk di Natuna menjadi salah satu tugas yang harus dijalankan Bakamla.
Aan menargetkan aturan yang baru akan segera terbit dalam tahun ini. Rencananya dalam pekan depan Bakamla akan kembali berdiskusi dengan Menko Polhukam untuk melaporkan perkembangan aturan ini.
Selain dengan Polhukam, perlu ada diskusi yang juga harus dilakukan dengan pihak lain yang selama ini juga berperan dalam menjaga keamanan laut, di antaranya adalah TNI, Polri, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan.
“Intinya bukan untuk saya, bukan untuk Bakamla tapi untuk NKRI. Harusnya semua ikut. Karena kalau ini jadi, hebat nanti. Kita lihat negara2 maju seperti ini, tidak tumpang tindih aturannya,” paparnya.
Sejauh ini, kewenangan dan tugas Bakamla diatur dalam Perpres No. 178/2014 tentang Badan Keamanan Laut. Kewenangan Bakamla meliputi melakukan pengejaran seketika.
Selain itu, memberhentikan, memeriksa, menangkap, membawa, dan menyerahkan kapal ke instansi terkait yang berwenang, dan mengintegrasikan sistem informasi keamanan dan keselamatan di wilayah perairan Indonesia dan yurisdiksi Indonesia.(Nindya Aldila)

AU Amerika Serikat Selesaikan Peningkatan Sensor EO/IR Pesawat Pengintai U-2 Dragon Lady

Angkatan Udara AS (USAF), bersama dengan kontraktor Collins Aerospace Systems dan Lockheed Martin Skunk Works, baru-baru ini menyelesaikan uji terbang dan pengembangan sensor Sistem Pengintaian Senior Year Elektro-Optik (SYERS-2C) pada pesawat pengintai ketinggian tinggi. Lockheed U-2 Dragon Lady.
Pesawat Pengintai U-2 Dragon Lady
Pesawat Pengintai U-2 Dragon Lady 
Seluruh armada U-2,telah menerima kemampuan sensor elektro-optik/inframerah (EO/IR) yang ditingkatkan hingga memberikan peningkatan kinerja optik dan pelacakan jarak jauh yang unggul dan sangat akurat untuk deteksi ancaman dalam kondisi berbagai cuaca yang lebih luas, menurut pernyataan Lockheed Martin. Sensor 10-band, resolusi spasial tinggi SYERS-2C lebih baik memberikan kemampuan untuk menemukan, melacak, dan menilai target bergerak dan diam. (Abu Hafizh - TSM)
Sumber : janes.com

Pembuat Kapal Damen Belanda Jajaki Order Baja dari Krakatau Steel (KRAS)

Damen, perusahaan pembuat kapal asal Belanda menjajaki order baja dari PT Krakatau Steel Tbk sehingga kebutuhan baja bisa dipenuhi dari Tanah Air.
Regional Sales Director Indonesia dan Malaysia Damen, Gysbert Boersma mengatakan pihaknya telah menggandeng Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dan Kementerian Pertahanan untuk menyelesaikan pesanan kapal. Pesanan terbaru selesai pada Desember 2019 dan April 2020.
Pembangunan PKR 10514 PT PAL - Damen
Pembangunan PKR 10514 PT PAL - Damen 
Adapun, sebagian proses pembangunan kapal dilakukan di Indonesia dengan menggandeng pabrikan kapal lokal termasuk PT PAL. Menurutnya, selain melakukan kemitraan dengan produsen kapal dalam negeri, pihaknya menjajaki kerja sama dengan mitra lokal seperti Krakatau Steel untuk memasok baja dengan spesifikasi khusus.
Kemitraan lain yang turut dijajaki yakni dengan PT LEN dan PT Pindad sehingga pembuatan kapal bisa melibatkan industri lokal.
“Kami sudah bicara dengan PT Pindad, Krakatau Steel. Saat ini Krakatau Steel enggak punya baja khusus. Kami sedang membicarakan apakah mereka bisa membuat baja sesuai spesifikasi kami," katanya saat mengunjungi kantor pusat Damen di Gorinchem, Belanda, Senin (19/2/2020).
Dia menilai pesanan kapal dari TNI AL dan Kementerian Pertahanan dengan skema ini bisa membuka peluang ekspor produk kapal dari Indonesia. Hal itu, katanya, telah dilakukan di Vietnam. Di Vietnam, dia berujar, ekspor kapal dimulai dari pesanan kapal Pemerintah.
Lalu, pada 15 tahun lalu pengiriman kapal yang dibuat sepenuhnya. Hingga kini, setidaknya 300 kapal telah dibuat dan dikirim. “Model ini juga yang akan dilakukan di Indonesia,” katanya.
Damen mengumpulkan pendapatan sebesar 2 miliar euro sepanjang 2019. Kontribusi terbesar penjualan kapal berasal dari Eropa dengan porsi 32 persen dan Asia Pasifik dengan 28 persen. Pesanan kapal terbanyak yang telah diselesaikan jenis work boat dan tug serta kapal cepat. (Duwi Setiya Ariyanti)

Singapore Airshow 2020: Malaysia Ungkapkan Rencana Masa Depan untuk Pesawat Angkut A400M RMAF

Angkatan Udara Kerajaan Malaysia (RMAF) telah menyusun rencana untuk lebih membuka kunci kemampuan taktis pesawat angkut berat A400M miliknya. Kemampuan taktis ini termasuk melengkapi pesawat dengan kemampuan paradropping.
Singapore Airshow 2020
Pesawat Angkut A400M RMAF di Singapore Airshow 2020 
Rencana tersebut diungkapkan oleh Mayor Lo Chee Sing, seorang pilot RMAF A400M dari Skuadron 22 saat briefing yang diselenggarakan oleh Airbus di Singapore Airshow 2020. Saat ini RMAF mengoperasikan empat unit armada angkut berat A400M.
"Angkatan Udara Kerajaan Malaysia sangat tertarik untuk melakukan dan lebih terlibat dalam kemampuan taktis pesawat ini," kata Maj Lo.
Menurut pilot, RMAF mulai membuka kunci kemampuan ini pada awal 2018 ketika berhasil melakukan operasi pengisian bahan bakar di udara dengan dua titik pengisian pada sayap (Wing Mounted Aerial Refuelling Pods) dengan A400M.(paijojr)

Helikopter Ansat Kantongi Sertifikat Tipe dari Otoritas Penerbangan China

Helikopter ringan serbaguna Ansat buatan Russian Helicopters telah disetujui oleh otoritas China. Sehingga akan memulai pengiriman 20 unit helikopter ke negara tersebut berdasarkan kontrak yang ditandatangani dua tahun lalu.
Helikopter Ansat
Helikopter Ansat  
"Russian Helicopters telah menyelesaikan validasi sertifikat tipe untuk helikopter ringan serbaguna Ansat di Republik Rakyat Tiongkok," kata Rostec dalam sebuah pernyataan, Rabu. Validasi sertifikat tipe oleh otoritas penerbangan China memungkinkan perusahaan untuk memulai penjualan helikopter Ansat ke China berdasarkan kontrak yang telah disepakati sebelumnya.
Pada Airshow China 2018, Russian Helicopters menandatangani kontrak untuk memasok 20 helikopter Ansat ke BNPB China.
"Pasar China jauh lebih besar daripada pasar Rusia, bahkan dengan mempertimbangkan EAEU. Dengan demikian, China adalah pasar potensial yang penting bagi kami dan kami dapat menjual beberapa ratus helikopter. Namun, pertama-tama kami harus memastikan layanan purna jual, dan kami sedang melakukan itu sekarang. Pembangunan akan memberi kami lebih banyak peluang dan kesempatan dalam hal pasokan peralatan, karena harga helikopter ini sangat kompetitif, "kata Menteri Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia Denis Manturov.
"Validasi sertifikat Ansat di Tiongkok merupakan hasil kerjasama para ahli dari Rostec, Russian Helicopters, Kazan Helicopters serta otoritas penerbangan Rusia dan China. Kami siap memulai pasokan tahun ini," kata Andrey Boginsky, Direktur Jenderal Russian Helicopters.
Pada Januari 2019, Rosaviatsiya (Badan Transportasi Udara Federal) telah mensertifikasi untuk peningkatkan ketinggian take-off dan pendaratan helikopter menjadi 3.500 meter dari sebelumnya 1.000 meter.
Helikopter ringan serbaguna Ansat dirancang oleh kantor desain Kazan Helicopters. Helikopter ini memiliki dua mesin, dapat digunakan untuk transportasi penumpang dan VIP, pengiriman kargo, pemantauan lingkungan, dan sebagai helikopter medis. Helikopter dapat dioperasikan dalam kisaran suhu antara -45 dan +50 derajat Celcius.(paijojr)

India Setuju Membeli Helikopter Sikorsky MH-60R Sebanyak 24 Unit Dengan Biaya $ 2,4 Miliar

Komite Kabinet India untuk Keamanan (CCS) menyetujui kesepakatan $ 2,4 miliar (INR 17.177 crore) untuk membeli 24 helikopter multi-peran dan anti-kapal selam Sikorsky MH-60 'Romeo' untuk Angkatan Laut India.
Helikopter Sikorsky MH-60R
Helikopter Sikorsky MH-60R 
Donald Trump, Presiden Amerika Serikat akan mengunjungi India pada 24-25 Februari. Tidak diketahui kapan pengumuman resmi akan dibuat dan kapan kesepakatan aktual akan ditandatangani.
Pada bulan Agustus 2018, Menteri Pertahanan Nirmala Sitharaman saat itu menyetujui kontrak untuk helikopter. Kesepakatan itu dilakukan di bawah Penjualan Militer Asing (FMS). Setahun kemudian, Badan Kerjasama Keamanan Pertahanan AS (DSCA), yang mengelola program FMS, mengumumkan bahwa Departemen Luar Negeri membuat keputusan menyetujui kemungkinan FMS ke India dari helikopter Multi-Mission 24 MH-60R dengan perkiraan biaya $ 2,6 miliar. (INR 18.608 crore).
Setiap helikopter berharga sekitar $ 100-109 juta (sekitar INR 760 crore) yang mencakup aksesori, suku cadang, dukungan teknis, dan biaya membangun fasilitas perawatan untuk helikopter jenis baru.
Dibangun oleh Lockheed Martin, helikopter ini adalah versi angkatan laut dari Black Hawk Sikorsky UH-60 dan anggota keluarga Sikorsky S-70. Modifikasi yang paling signifikan adalah rotor utama lipat dan ekor berengsel untuk mengurangi jejaknya di atas kapal.
Helikopter ini dapat dikerahkan dari kapal fregat, kapal destroyer, kapal penjelajah, kapal perang cepat, kapal serbu amfibi, atau kapal induk. Selain itu, Sikorsky MH-60R dapat menangani peperangan anti-kapal selam (ASW), perang anti-permukaan (ASUW), perang khusus angkatan laut (NSW), operasi SAR, operasi SAR tempur (CSAR), pemindahan kargo antar kapal (VERTREP), dan evakuasi medis (MEDEVAC).(paijojr)

Ra'ad-II, Pakistan Uji Rudal Jelajah Terbaru Dengan Jangkauan 600 Kilometer

Pakistan pada hari Selasa (18/02) lalu sukses melakukan uji coba rudal jelajah luncur udara (air-launched cruise missile) terbaru Ra'ad-II, dengan jangkauan 600 kilometer.
Menurut unit media militer Pakistan ISPR, Ra'ad-II buatan dalam negeri Pakistan tersebut "secara signifikan meningkatkan kemampuan luncur udara strategis jarak jauh di darat dan di laut." Senjata ini memiliki pemandu dan sistem navigasi yang ditingkatkan, yang "memastikan perkenaan sasaran dengan presisi tinggi."
Rudal Jelajah ALCM Ra'ad-II Pakistan
Rudal Jelajah ALCM Ra'ad Pakistan 
Ketika pertama kali ditampilkan sebagai mock-up pada tahun 2017 pada parade tahunan di Pakistan, Ra'ad-II disebutkan memiliki jarak 550 km. Perubahan kecil pada desain intake menyebabkan spekulasi bahwa jangkauan ekstra telah dicapai karena mesin yang lebih maju daripada yang digunakan pada rudal Ra'ad-I, yang memiliki jangkauan 350 kilometer.
Spekulasi itu kemungkinan benar. Meskipun rekaman dari pengujian hari Selasa lalu memiliki resolusi yang rendah, bagian belakang Ra'ad-II tampaknya telah sepenuhnya didesain ulang dengan intake dan contol surface yang baru.
Ra'ad-I memiliki apa yang dapat digambarkan sebagai sirip "ekor kembar" yang besar, sedangkan Ra'ad-II tampaknya telah mengadopsi layout konfigurasi sirip "X" yang lebih umum pada rudal yang sejenis yang dioperasikan oleh militer lain (misalnya Taurus KEPD 350). Perubahan itu akan membantu pengangkutannya pada platform yang lebih beragam, bahkan mungkin secara internal jika program pesawat tempur generasi kelima Pakistan, Project Azm, sukses terwujud dan menampilkan ruang senjata internal.
Sampai saat ini, rudal Ra'ad hanya terlihat dibawa oleh pesawat tempur Mirage III, yang memiliki jarak antar kedua roda belakang yang lebar.
Peningkatan jangkauan ini akan memungkinkan rudal tersebut untuk diluncurkan dengan baik dari wilayah Pakistan dan mampu mencapai sasaran penting di India, misalnya New Delhi berjarak sekitar 430 kilometer dari Lahore. Kebutuhan rudal semacam itu menjadi semakin penting karena upaya modernisasi pertahanan udara India melalui akuisisi sistem seperti S-400 Rusia. Washington juga baru-baru ini telah mengijinkan penjualan Integrated Air Defense System ke India.
Mansoor Ahmed, seorang rekan senior di Center for International Strategic Studies di Islamabad yang berspesialisasi dalam program nuklir Pakistan dan platform peluncurannya, meyakini Ra'ad-II adalah "jawaban Pakistan untuk pengembangan rudal jelajah Nirbhay di India."
Dia percaya Raad-II "akan secara signifikan meningkatkan fleksibilitas operasional dan penargetan matra udara pasukan strategis Pakistan."
“Rudal ini memberikan kemampuan yang ditingkatkan untuk serangan presisi terhadap sasaran militer penting di darat dan di laut dari jarak yang lebih aman. Dengan jangkauannya yang jauh, sampai sekarang situs-situs yang sulit dijangkau, pasukan dan aset musuh, sekarang dapat dihancurkan dengan ketepatan yang lebih tinggi yang sebelumnya hanya dilakukan oleh rudal balistik Pakistan," katanya.(Usman Ansari)(Angga Saja-TSM)

Radar Acak

Radar TNI AU