Radar TNI AD

Radar TNI AL

Radar TNI AU

Radar Terbaru

China-Singapura Teken Kerjasama Tingkatkan Hubungan Militer


Singapura dilaporkan meneken kerjasama untuk meningkatkan hubungan militer dengan China. Kerjasama ini melibatkan peningkatan latihan militer gabungan, pemberian bantuan logistik secara timbal balik dan membangun dialog reguler antara Menteri Pertahanan kedua negara.
China-Singapura
China-Singapura  
Kementerian Pertahanan Singapura, seperti dilansir Channel News Asia pada Minggu (20/10/2019), menuturkan, kesepakatan diteken saat Menteri Luar Negeri Singapura, Ng Eng Hen bertemu dengan Menteri Luar Negeri China, Wei Fenghe di Beijing.
"Ini menegaskan kembali persahabatan yang hangat dan dekat kedua negara, yang mencerminkan kemajuan signifikan dalam hubungan pertahanan selama dekade terakhir dan komitmen untuk memperkuatnya," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan.
Dalam pernyataan, kementerian itu mengatakan dalam kerjasama itu Singapura dan China mencakup untuk meningkatkan komitmen untuk mengatur dan meningkatkan latihan dan interaksi bilateral di seluruh Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara.
Lalu, menyiapkan "Visiting Forces Agreement" untuk pasukan yang berpartisipasi dalam latihan bilateral, menyiapkan pengaturan dukungan logistik timbal balik dengan China, pembentukan dialog tingkat menteri Singapura-Cina reguler dan lanjutan kehadiran silang tingkat tinggi di konferensi dan dialog multilateral.
"Pembentukan hotline bilateral. Melakukan pertukaran di antara akademi militer dan lembaga think tank," ungkapnya.
“Selain kerjasama bilateral, Singapura dan China juga menegaskan kembali komitmen kedua negara untuk bekerja sama secara erat pada platform multilateral dalam ADESC yang ditingkatkan, termasuk Pertemuan Menteri Pertahanan ASEAN (ADMM)-Plus dan latihan Kelompok Kerja Para Ahli, Latihan Maritim ASEAN-China dan Latihan Respon terkoordinasi,” ucapnya.
ADMM-Plus termasuk Australia, China, India, Jepang, Selandia Baru, Korea Selatan, Rusia dan Amerika Serikat.(Victor Maulana)

Israel Ingin Atasi Masalah Jet Tempur F-35 dengan Modifikasi Besar


Pesawat jet tempur siluman generasi kelima dilaporkan masih menghadapi banyak masalah, mulai dari yang kecil sampai yang kritis, bahkan setelah dua dekade pembuatan dan miliaran dolar dihabiskan.
Ketika pabrikannya Lockheed Martin Amerika Serikat (AS) sedang berupaya memperbaikinya, Israel justru ingin melakukan modifikasi besar untuk jet yang bermasalah.
 Jet Tempur F-35
  Jet Tempur F-35  
Israel akan melakukan beberapa modifikasi besar pada jet F-35 yang telah dipesan dari Lockheed Martin dalam upaya untuk membuat pesawat sesuai dengan visi negara tentang bagaimana pesawat tempur harus beroperasi, serta untuk meningkatkan kemampuannya dan memperbaiki masalah tertentu.
Upaya miiliter Zionis itu diungkap The National Interest dalam laporannya 19 Oktober 2019. Menurut laporan itu, salah satu hal penting yang akan diubah oleh ahli Israel adalah sistem komputer pesawat tempur. Tel Aviv ingin menyesuaikannya dengan sistem Command, Control, Communications and Computing (C4) sendiri, yang akan berjalan "di atas" dari sistem operasi Lockheed Martin.
Hal yang terakhir itu telah menimbulkan banyak masalah dengan negara-negara lain yang memesan F-35, karena mereka menginginkan akses terhadap kode pembuka untuk memodifikasinya. Lockheed Martin, sejauh ini, hanya memberi mereka akses terbatas.
Komputer on-board jet tempur tersebut mengumpulkan semua informasi yang dikumpulkan dari sensornya, termasuk lokasi kemungkinan penempatan dan instalasi pasukan musuh. Semua informasi itu kemudian disampaikan ke sistem lain yang terhubung di darat, yang mencakup pasukan sekutu, sistem pertahanan udara, atau artileri. Tetapi tidak semua sistem kompatibel dengan F-35; karena itulah Israel ingin menginstal C4 secara tepat untuk dapat menyampaikan informasi dari sensor jet tempur ke sistem militernya sendiri.
Sementara menginstal sistem baru di komputer on-board dimungkinkan tanpa perubahan besar pada jet itu sendiri, modifikasi lain yang ada dalam pikiran militer Israel akan membutuhkan perubahan besar pada desain pesawat. Dengan demikian, Tel Aviv telah berhasil bernegosiasi untuk pembuatan sekitar 30 pesawat jet tempur generasi kelim F-35I Adir modifikasi khusus.
Majalah The National Interest mengindikasikan ketika seluruh daftar perubahan untuk jet tempur sebagai bagian dari program modifikasi masih belum jelas, itu akan menampilkan opsi untuk menginstal tambahan pihak ketiga yang "plug-and-play". Salah satu tambahan semacam itu adalah pod-jamming radar, yang diharapkan dapat membantu jet memintas pertahanan musuh bahkan setelah negara-negara lain mencari cara untuk mendeteksi F-35.
Perubahan lain yang dilakukan pada F-35 sebagai bagian dari modifikasi "I" -nya adalah kemampuan untuk menggunakan persenjataan Israel, seperti rudal udara-ke-udara (air-to-air) jarak pendek Python atau bom presisi berpemandu dari keluarga Spice.
Israel juga berusaha meningkatkan jangkauan operasional jet Amerika tersebut dengan menambahkan kemampuan untuk menginstal tangki bahan bakar eksternal. Dua opsi seperti itu diharapkan tersedia. Salah satunya adalah tangki non-siluman yang dapat dibuang di tengah penerbangan untuk mengembalikan kemampuan guna keluar dari pertahanan saat diperlukan. Israel juga ingin mengembangkan sistem tangki bahan bakar bersama dengan Lockheed Martin yang tidak melukai kemampuan stealth (siluman) atau aerodinamika jet.
Daftar perubahan pada F-35I bisa lebih lama, tetapi tampaknya Israel ingin menyempurnakan jet tersebut untuk memenuhi kebutuhan regionalnya sendiri. Beberapa kelemahan pada jet tempur itu dilaporkan menyebabkan kekhawatiran di antara pilot pesawat. (Muhaimin)

Rusia Berharap Kontrak Pengiriman 11 Jet Tempur Sukhoi Su-35 ke Indonesia Segera Diterapkan


Rusia berharap keputusan mengenai implementasi kontrak pengiriman 11 unit jet tempur Sukhoi Su-35 ke Indonesia segera dibuat. Harapan ini disampaikan Direktur Layanan Kerjasama Militer-Teknik Rusia Dmitry Shugayev.
Jet Tempur Sukhoi Su-35
Jet Tempur Sukhoi Su-35 
"Su-35 bukan masalah tertutup, kami akan membahas pengembangan (dari topik). Kami berharap untuk melaksanakan kontrak di masa mendatang. Semoga keputusan penerapan kontrak akan dibuat," kata Shugayev, ketika ditanya tentang kemungkinan pengiriman Su-35 ke Indonesia, seperti dikutip dari Sputniknews, Minggu (20/10/2019).
Pada akhir Agustus lalu, pihak Rusia mengungkap adanya ancaman Amerika Serikat (AS) terhadap Angkatan Udara Indonesia jika nekat membeli pesawat jet tempur Su-35. Ancaman berupa sanksi itulah yang membuat militer Indonesia berhati-hati untuk mengakuisisi pesawat tempur tersebut.
Direktur Kerjasama Internasional dan Kebijakan Regional Rostec Rusia, Victor Kladov, membeberkan ancaman Washington terhadap Jakarta.
"Kami merasa beberapa negara lebih berhati-hati," kata Kladov. “Misalnya, kemarin saya berbicara dengan Kepala Angkatan Udara Indonesia dan dia menyebutkan CAATSA, hukum AS," katanya lagi mengacu pada Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CATSAA), sebuah undang-undang AS yang mengamanatkan penjatuhan sanksi terhadap negara-negara yang membeli senjata Rusia, Korea Utara dan Iran.
"Dari apa yang dia katakan, saya mengerti mereka menerima ancaman. Mereka tergantung tidak hanya pada peralatan Rusia, mereka tergantung pada sebagian besar peralatan buatan AS. Jika sebagai tindakan hukuman, katakanlah, pabrikan Amerika berhenti memasok suku cadang, berhenti mendukung peralatan buatan Amerika, maka akan ada pelanggaran keamanan di pertahanan nasional di Indonesia. Jadi, mereka sangat berhati-hati," papar Kladov.
Pada Agustus 2017, Jakarta mengonfirmasi akan membeli 11 unit jet tempur Su-35 dengan harga sekitar USD1,14 miliar. Sistem pembayarannya melibatkan komoditas pertanian Indonesia, termasuk kopi. Dengan sistem pembayaran yang unik ini, jet tempur itu terkadang dipelesetkan sebagai "jet tempur rasa kopi".
Militer Indonesia yang menjaga hubungan baik dengan AS dan Rusia cenderung enggan berkomentar terkait masalah tersebut. (Muhaimin)

Dassault Rafale, Jet Tempur Buatan Perancis Calon Andalan Baru India


India memperbaharui armada tempurnya dengan membeli 36 jet tempur Rafale buatan Dassault Perancis. Pesawat pertama diserahkan secara simbolis ke Angkatan Udara India (IAF) pada 8 Oktober 2019. Bagi India, kehadiran Rafale penting untuk meningkatkan posisi pertahanan di hadapan Pakistan dan China.
Dassault Rafale
Dassault Rafale 
Rafale baru bisa dilihat di atas langit India pada Mei 2020. Setelah itu satu persatu pesawat akan tiba sampai 2021. India adalah negara keempat setelah Perancis, Mesir dan Qatar, yang menerbangkan Rafale.
“Angkatan Udara India berada di jalur modernisasi yang cepat melalui akuisisi teknologi penting dan kemampuan kritis seperti pesawat tempur Rafale, rudal darat-ke-udara S-400 (sistem pertahanan dari Rusia), senjata presisi, elektronik canggih dan sistem peringatan awal," kata Kastaf Angkatan Udara India R.K.S. Bhadauria.
Pesawat lama India, termasuk Mirage 2000 buatan Dassault dan Su-30MKI buatan Rusia, digolongkan sebagai pesawat tempur generasi ketiga atau keempat. Rafale dikategorikan sebagai jet tempur generasi keempat-plus berkat kemampuan teknologi siluman yang bisa mengelak dari radar.
“Kehadiran Rafale akan meningkatkan berbagai kemampuan pertahanan kami. Ketika deterensi meningkat, kemungkinan konflik akan berkurang," kata P.S. Ahluwalia, pensiunan marsekal udara AU India (IAF).
Kekuatan Rafale terletak pada radar canggih dan serangkaian rudal Meteor, Scalp, dan Mica, di samping 13 perangkat tambahan khusus pesanan India, kata para analis.
Sistem radar RBE2 yang dipasang pada Rafale menungkinkan pelacakan pesawat lawan. Rudal Meteor udara-ke-udara bisa mencapai 300 km dan menjangkau sasaran. Mica memiliki kemampuan intersepsi siluman yang unik.
Khusus untuk pesanan India, Rafale dilengkapi alat pengendali serangan pada helm pilot sehingga tembakan bisa dilakukan lebih cepat dan akurat. Pesawat juga memiliki sistem umpan untuk menggagalkan rudal lawan. Rafale juga modifikasi dalam sistem starter bahan bakar yang akan memungkinkan mesin pesawat beroperasi pada tingkat optimal bahkan di pangkalan udara di ketinggian seperti Leh.
"Dilengkapi dengan berbagai macam senjata, Rafale akan melakukan supremasi udara, serangan, anti-kapal dan menjadi platform pengiriman strategis untuk misi udara nuklir. Rudal Meteor BVRAAM dengan jangkauan lebih dari 180 km akan memiliki zona tanpa-lepas lebih dari 60km," kata Anil Chopra, pensiunan marsekal udara IAF.
Masuknya Rafale sangat penting bagi IAF, yang akan segera menonaktifkan pesawat MiG-21 Bison dan segera bisa duduk sejajar dengan China dan Pakistan.
Sebagian besar jet pasukan Pakistan terdiri dari F-16 buatan AS selain beberapa JF-17 buatan kerjasama dengan China. Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China bahkan memiliki lebih dari 600 jet tempur generasi keempat dan kelima. China juga mengembangkan J-20 generasi kelima dalam persaingan dengan jet tempur generasi kelima AS seperti F-22 dan F-35 buatan Lockheed Martin Corp.
"Rafale jauh lebih baik daripada F-16 dan JF-17 dalam hal jangkauan, persenjataan, dan kemampuan peperangan elektronik," kata Manmohan Bahadur, mantan mantan petinggi IAF.

Steadfast Marine Selesaikan Pengerjaan 2 Kapal Patroli Cepat Pesanan TNI AL Senilai Rp 86 Miliar


PT Steadfast Marine Tbk (KPAL) berhasil menyelesaikan pengerjaan dua unit kapal patroli cepat berukuran 29 meter pesanan TNI AL dengan nilai kontrak Rp 86,75 miliar.
Dua kapal ini digarap oleh perseroan sejak awal tahun ini di galangan Steadfast Marine di Batulayang, Pontianak.
 Kapal Patroli Cepat TNI AL
 Kapal Patroli Cepat TNI AL 
“Manajemen Steadfast Marine merasa bangga dan mengucapkan puji syukur atas keberhasilan peluncuran dua unit kapal patroli pesanan TNI AL yang berhasil kami bangun sejak Januari 2019."
"Kami bangga produksi dua unit kapal ini dirakit 100% di dalam negeri oleh putra terbaik Bangsa,” ungkap Direktur Utama Steadfast Marine Rudy Kurniawan Logam kepada wartawan di Pontianak, Jumat (18/10/2019).
Dua unit kapal patroli masing-masing memiliki kecepatan 28 knot dengan dilengkapi mesin bertenaga 2x1900 horse power dan kapasitas bahan bakar 15 meter kubik.
Rudy mengatakan dua kapal ini merupakan pesanan perdana dari TNI AL.
Karena itu, pihaknya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan oleh TNI AL kepada Steadfast Marine untuk dapat memproduksi dua unit kapal patroli.
“Dua unit kapal yang baru diluncurkan ini akan melakukan sea trial dan finishing selama sebulan ke depan,” ujar Rudy.
Rudy mengatakan dua kapal ini merupakan pesanan perdana dari TNI AL.
Karena itu, pihaknya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan oleh TNI AL kepada Steadfast Marine untuk dapat memproduksi dua unit kapal patroli.
Menurut Rudy, Steadfast Marine tahun ini mulai melakukan diversifikasi pendapatan dengan membangun dan memperkuat divisi ‘perbaikan dan pemeliharaan’.
“Kami menargetkan bisnis dapat tumbuh 30-40% pada tahun depan, baik penjualan kapal maupun reparasi, dengan membidik prospek klien dari TNI AL, Kementerian dan sektor swasta,” ujar dia.
Steadfast Marine membukukan kinerja positif hingga semester I 2019, tercermin dari pendapatan usaha yang naik 35% dari Rp 58,68 miliar pada Juni 2018 menjadi Rp 79,47 miliar.
Lonjakan pendapatan terutama disumbang oleh pendapatan dari proyek kapal senilai Rp 62,84 miliar atau melonjak 78% dan sisanya disumbang dari pendapatan sewa kapal senilai Rp 16 miliar dan lain-lain Rp 575,7 juta.
Seiring kenaikan pendapatan, KPAL membukukan kenaikan laba kotor 11,8% menjadi Rp 32,16 miliar dan laba usaha naik 19,43% menjadi Rp 17,49 miliar.
Perseroan berhasil membukukan kenaikan lba bersih sebesar 226% dari kondisi rugi Rp 2,4 miliar menjadi membukukan laba bersih sebesar Rp 3,04 miliar.
Total aset perusahaan di semester I-2019 tercatat naik 7,9% menjadi Rp 813,6 miliar, liabilitas naik 9,3% menjadi Rp 617,4 miliar, serta nilai ekuitas naik 3,8% menjadi Rp 196,27 miliar.
Sumber : https://tribunnews.com/news

ADEX 2019: Perusahaan Alat Pertahanan Hyundai Rotem Siap Penuhi Pesanan Tank Masa Depan AD Korea Selatan


Perusahaan alat pertahanan Korea Selatan, Hyundai Rotem memposisikan diri untuk mengamankan pesanan baru untuk membangun tank tempur utama (MBT) K2 Black Panther untuk Tentara Republik Korea (RoKA). Pada saat yang sama, perusahaan terus maju dengan rencana untuk mengembangkan platform yang akan menjadi pengganti di masa depan untuk kendaraan tempur tank di kelas yang sama.
MBT) K2 Black Panther
MBT K2 Black Panther 
Seorang pejabat perusahaan dikonfirmasi ke Jane's di Pameran Aerospace dan Pertahanan Internasional Seoul (ADEX 2019) Seoul pada 17 Oktober bahwa Hyundai Rotem saat ini sedang membangun 106 kendaraan tempur utama di bawah pesanan batch kedua tank K2 Black Panther yang diorder pada akhir 2014. Pengiriman tank-tank ini telah dimulai dan diharapkan disielesaikan pada tahun 2021.
K2 Black Panther batch pertama, yang berjumlah 100 unit, dibangun berdasarkan kontrak yang ditandatangani pada 2011 dan dikirim ke RoKA mulai 2014.
Pejabat itu menambahkan bahwa badan pengadaan militer Korea Selatan - Administrasi Program Akuisisi Pertahanan (DAPA) - sedang mempertimbangkan program batch ketiga, kemungkinan mulai tahun 2020. Jumlah tank utama yang akan dibangun di bawah fase ini tidak dikonfirmasi tetapi kemungkinan akan menjadi atau lebih dari 100 unit.
Pejabat itu mengatakan bahwa target dalam pesanan MBT K2 Black Panther di masa depan adalah untuk indigenise sistem daya platform.
Batch pertama K2 Black Panther dilengkapi dengan mesin diesel common rail MTU 883 V12 buatan Jerman yang mengembangkan mesin berdaya 1.500hp, ditambah dengan transmisi otomatis sepenuhnya Renk dengan lima gigi maju dan tiga mundur. Batch kedua tank K2 mengintegrasikan mesin lokal - powerpack Doosan DV27K - dan transmisi Renk.
Pejabat Hyundai Rotem mengatakan industri lokal bertujuan untuk mengembangkan sistem transmisi yang dapat diintegrasikan ke dalam pesanan batch ketiga.
Jane's sebelumnya telah melaporkan bahwa persyaratan RoKA pada akhirnya bisa mencapai sekitar 600 unit untuk menggantikan persediaan yang sudah tua dari tank M48 Patton buatan AS dan versi lama dari MBT K1, yang telah beroperasi sejak 1980-an. K1 dan versi terbaru dari tank, K1A1, juga diproduksi oleh Hyundai Rotem. (Jon Grevatt)(Herru Sustiana-TSM)

ADEX 2019: Hanwha Defense Korea Selatan Luncurkan Skala Model Kendaraan Tempur Amfibi Baru KAAV II


Perusahaan Korea Selatan Hanwha Defense telah meluncurkan model skala kendaraan tempur serangan amfibi generasi berikutnya yang dilacak di 2019 Seoul International Aerospace and Defense Exhibition (ADEX).
KAAV II
KAAV II 
Kendaraan Serangan Amfibi Korea II (KAAV II) saat ini sedang dikembangkan untuk Korps Marinir Republik Korea (RoK), kata YoungHo Koo, pemimpin tim propulsi dan penskorsan dalam kelompok program KAAV II Pertahanan Hanwha.
Platform baru ini dimaksudkan untuk menggantikan sekitar 200 dari versi pertama KAAV yang saat ini beroperasi dengan RoK Marine Corps, katanya. KAAV didasarkan pada kendaraan serbu amfibi AAV7A1.
Koo mengatakan pengembangan awal KAAV II, yang didukung oleh Badan Pengembangan Pertahanan (ADD) Korea Selatan, dijadwalkan selesai pada 2022. Pada tahap itu Hanwha Defense akan menyerahkan kepada ADD dua prototipe untuk percobaan - satu untuk uji coba darat dan satu untuk uji coba laut.
Koo menambahkan bahwa pengembangan tahap kedua dari KAAV II akan berlangsung antara 2023 dan 2028, yang mengarah pada dimulainya produksi massal pada tahun 2029. Hanwha Defense berencana untuk membangun platform di fasilitas produksi di Changwon.
Koo menambahkan bahwa sebagian besar kendaraan akan dibangun oleh industri lokal, meskipun mesin dan transmisi akan diimpor, paling tidak pada awalnya. Mesin akan bersumber dari MTU Jerman, sementara perusahaan Kanada Kinetics Drive Solutions - anak perusahaan Singapore Technologies Engineering - akan menyediakan transmisi.(Herru Sustiana-TSM)

Pentagon Menunda Keputusan Produksi Penuh Jet Tempur Siluman F-35 Selama Setahun Lebih


Pentagon menunda keputusan produksi tingkat penuh (FRP) untuk jet tempur siluman F-35 Lightning II Joint Strike Fighter (JSF) yang diproduksi oleh Lockheed Martin karena ada masalah dalam mengintegrasikan jet tempur dengan pengujian dan simulator pelatihannya Joint Simulation Environment (JSE).
F-35 Lightning II
F-35 Lightning II 
Ellen Lord, wakil menteri pertahanan untuk Akuisisi dan Keberlanjutan (A&S), mengatakan kepada wartawan pada 18 Oktober bahwa pengumuman ini berarti keputusan FRP tidak akan dibuat pada bulan Desember, seperti yang diantisipasi semula, tetapi berpotensi pada Desember 2020 atau Januari 2021.
Dan Grazier, rekan militer dengan kelompok pengawas Proyek Pengawasan Pemerintah (POGO) di Washington, DC, mengatakan kepada Jane's pada 18 Oktober bahwa batasan jangkauan mencegah F-35 dari diuji terhadap misi kelas dan jaringan pertahanan udara terintegrasi.
Secara teori, katanya, Pentagon harus dapat mereplikasi misi ini di simulator. Grazier mengatakan Pentagon harus memiliki BEJ yang berfungsi dengan baik untuk menyelesaikan tes operasional awal dan evaluasi (IOT & E), yang diperlukan untuk menginformasikan keputusan FRP dengan benar.
Setidaknya akan ada tiga fasilitas BEJ. Grazier mengatakan bahwa Angkatan Laut AS (USN) telah mengembangkan satu di Stasiun Udara Naval Patuxent River, Maryland, selama sekitar tiga tahun. Angkatan Udara AS (USAF) juga merencanakan sepasang BEJ sendiri dengan terobosan untuk kedua fasilitas yang dijadwalkan untuk Mei 2020. Yang pertama adalah fasilitas seluas 21.988 m persegi yang direncanakan untuk Pangkalan Angkatan Udara Edwards di California, sedangkan 15.535 m Fasilitas akan berlokasi di Pangkalan Angkatan Udara Nellis di Nevada.(Herru Sustiana-TSM)

USS Zumwalt (DDG-1000), Kapal Perang Siluman Pertama di Dunia


USS Zumwalt (DDG-1000) merupakan kapal perang siluman pertama di dunia, yang saat ini sedang dibangun Amerika Serikat. Sayangnya, jadwal penyelesaian kapal ini mundur dan baru bisa melaut paling cepat paruh kedua 2021.
USS Zumwalt (DDG-1000)
USS Zumwalt (DDG-1000)
Kapal perusak sepanjang 182 meter itu enam tahun terlambat dari jadwal. Padahal AS sudah menghabiskan Rp 110 triliun untuk proyek ini. Dua senjata berat kapal, yang dirancang untuk memberikan dukungan tembakan jarak jauh, masih dikesampingkan karena kurangnya amunisi yang terjangkau.
USS Zumwalt mulai dibangun 2011 di Bath Iron Works di Maine dan dialihkan ke Angkatan Laut AS pada 2016. Kapal perusak berbobot 16.000 ton ini dirancang hanya serupa perahu nelayan kecil dalam tangkapan radar lawan. Kapal ini dipersenjatai dengan 80 peluncuran silo rudal vertikal dan dua meriam otomatis 30 milimeter.
Andalan utama Zumwalt adalah dalam bentuk dua Advanced Gun Systems 155 milimeter. AGS awalnya ditetapkan untuk menembakkan Long Range Land Attack Projectile (LRLAP), yang dipandu oleh GPS yang dapat memastikan akurasi hingga 128 km.
Ketika biaya naik, Angkatan Laut memotong jumlah Zumwalts dari 32 menjadi hanya 3. Sementara itu, masalah teknis dengan LRLAP menyebabkan biaya meroket menjadi masing-masing Rp 8 miliar, sehingga ditunda.
Angkatan Laut AS telah membuat beberapa perubahan pada program Zumwalt. Mereka sedang mencari pengganti untuk dua Advanced Gun Systems, dan telah mengubah misi dasar kapal dari serangan darat ke perang permukaan (anti-kapal). Untuk saat ini, dua AGS akan dikirimkan dalam apa yang oleh Angkatan Laut disebut "dalam keadaan tidak aktif."

Bakamla Luncurkan 3 Kapal Penjaga Perbatasan


Badan Keamanan Laut (Bakamla) meluncurkan tiga kapal buatan Batam. Ketiga kapal ini memiliki total kontrak sebesar Rp 600 miliar.
Bakamla Luncurkan 3 Kapal Penjaga Perbatasan
Bakamla Luncurkan 3 Kapal Penjaga Perbatasan 
Kepala Bakamla Laksamana Madya A. Taufiq R mengatakan, ketiga kapal terbaru milik Bakamla RI merupakan yang terbaik. "Saya sudah 34 tahun di satuan tempur Indonesia, mulai dari kapal penyerang cepat sampai dengan fregat, dan saya on board di kapal ini. Saya sangat puas dengan tampilannya, salah satu contoh stabilitas, kemampuan manuver, kecepatan sudah sangat bagus," kata Taufiq, usai meresmikan kapal tersebut, Jumat, 18 Oktober 2019.
Ketiga kapal tersebut yaitu KN Pulau Nipah-321 akan ditugaskan di Kota Batam wilayah zona barat. Nama kapal tersebut diambil dari nama sebuah pulau terluar terletak di perbatasan Indonesia-Singapura.
Kemudian KN Pulau Marore-322 akan menjaga laut Indonesia zona tengah yaitu Manado. Nama, kapal tersebut juga diambil dari nama pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Sulawesi yang berbatasan dengan Filipina.
Terakhir adalah KN Pulau Dana-323 ditugaskan memperkuat jajaran Zona Timur, yaitu di Ambon. Sedangkan Pulau Dana terdapat di sebelah Barat Daya Pulau Rote dan berbatasan dengan negara Australia.
Masing-masing kapal tersebut memiliki panjang 80 meter, tinggi 7.90 meter, lebar 14.4 meter, dengan kecepatan mencapai 22 knot dan memiliki mesin penggerak 2 unit MAN/2862LE433.
Ke depan, kata Taufiq, kapal ini terus dikembangkan dengan dilengkapi meriam 30 mm dan remote weapon system yang dikendalikan langsung dari anjungan.
Ketiga kapal ini pun dikomandani oleh Letkol Bakamla Andris Benhard sebagai Komandan KN P. Nipah-321, Letkol Bakamla Raden Haryo Wiji sebagai Komandan KN P. Marore-322, dan Letkol Bakamla Hananto Widhi sebagai Komandan KN P. Dana-323.
Taufiq mengatakan, dengan hadirnya tiga kapal ini, juga menjadi bagian penting dalam mendukung terwujudnya negara Indonesia sebagai poros maritim dunia. "Tiga kapal ini untuk memperkuat Bakamla dalam menjaga teritorial perbatasan kelautan Indonesia dari ancaman asing," katanya. (Yogi Eka Sahputra)

Radar Acak