Radar TNI AD

Radar TNI AL

Radar TNI AU

Radar Terbaru

Korvet Kelas Sa'ar 6 Pertama AL Israel


Korvet kelas Sa'ar 6 pertama milik Angkatan Laut Israel secara resmi diberi nama INS Magen pada sebuah upacara di Kiel, Jerman pada 23 Mei.
Kapal itu dinamai oleh Ny. Eti Sharvit, istri Vice Admiral Eli Sharvit, Panglima Angkatan Laut Israel, di hadapan para pejabat tinggi dari Pemerintah dan Angkatan Laut Israel serta pejabat tinggi Angkatan Laut Jerman.
Korvet Kelas Sa'ar 6
Korvet Kelas Sa'ar 6  
Penamaan ini menandai tonggak penting dalam program berkelanjutan Thyssenkrupp Marine Systems (TKMS) sebagai General Contractor untuk membangun empat korvet rudal next generation kelas Sa'ar-6 untuk Angkatan Laut Israel.
Kapal-kapal kelas Sa'ar-6 memiliki desain stealth dengan jejak yang rendah dengan solusi yang dibuat khusus dan berbagai teknologi baru di dalamnya.
Kontrak untuk pengiriman empat korvet Sa'ar-6 ditandatangani pada Mei 2015. Desain kapal-kapal tersebut akan sedikit didasarkan pada korvet kelas Braunschweig milik Angkatan Laut Jerman, tetapi dengan perubahan rekayasa untuk membuat platform dasar yang lebih kuat secara militer.
Keempat kapal akan dibangun di Jerman dalam proyek bersama oleh German Naval Yards Holdings dan Thyssenkrupp Marine Systems (TKMS). Biaya konstruksi diperkirakan mencapai NIS 1,8 miliar ($ 480 juta). Israel akan membayar dua pertiga dari biaya tersebut dan pemerintah Jerman akan mensubsidi sepertiga dari biaya pembangunan korvet itu, seperti halnya pembangunan kapal selam kelas Dolphin.
Setelah menyelesaikan tahap desain, tahap konstruksi dimulai dengan upacara pemotongan baja kapal pertama dalam kelasnya (INS Magen) pada bulan Februari 2018. Hanya 15 bulan setelah pemotongan baja pertama, kapal itu undocked, untuk memenuhi jadwalnya yang sangat ambisius. INS Magen direncanakan akan diserahkan pada musim semi 2020 setelah menyelesaikan konstruksi dan pengujian. Tiga kapal lainnya akan menyusul kemudian dalam interval beberapa bulan.
Korvet kelas Sa'ar 6 memiliki panjang 90 m, lebar 13 m, dan displacement muatan penuh sekitar 1.900 ton. Kapal memiliki ruang hangar dan dek penerbangan yang mampu mengakomodasi helikopter kelas menengah tipe SH-60.
Kapal-kapal tersebut dipersenjatai dengan meriam utama Oto Melara 76 mm, dua RCWS Typhoon, 32 sel peluncur vertikal (VLS) untuk rudal permukaan-ke-udara Barak-8, sistem pertahanan titik C-Dome (versi laut Iron Dome), 16 rudal anti-kapal, radar AESA EL/M-2248 MF-STAR, dan dua peluncur torpedo 324 mm.
Peran utama kapal tersebut adalah untuk melindungi anjungan gas alam di laut Mediterania terhadap kemungkinan ancaman melalui laut atau ancaman roket. (Angga Saja - TSM)
Sumber : defpost.com

F-35A dan F-15EX akan Segera Terbang Bersama dengan Drone Q-58 Valkyrie


Angkatan Udara Amerika Serikat sedang mempelajari bagaimana mengendalikan pesawat tak berawak dari jet tempur terbarunya, F-35A Joint Strike Fighter dan F-15EX. Pesawat tempur tak berawak itu akan bertindak sebagai wingman bagi pesawat tempur berawak.
Drone Q-58 Valkyrie
Drone Q-58 Valkyrie 
Wingman robot AU AS tersebut adalah pesawat tanpa awak XQ-58A Valkyrie.
Versi masa depan F-35A Joint Strike Fighter dan F-15EX Eagle akan dilengkapi dengan perangkat keras dan perangkat lunak untuk mengontrol beberapa drone semi-otonom. AU AS dalam diskusi dengan Boeing dan Lockheed masing-masing untuk memodifikasi pesawat tempur F-15EX dan F-35A Blok 4 mereka untuk mengakomodasi datalink dan prosesor dari program Skyborg.
Skyborg adalah program menyeluruh AU AS untuk mengembangkan drone tempur yang dapat terbang bersama dengan pesawat tempur berawak ke dalam pertempuran sementara secara fleksibel di bawah kendali seorang pilot dalam sebuah pesawat tempur berawak, sebuah pengontrol di pesawat pendukung yang lebih besar atau seseorang pengendali di darat. Dalam program Skyborg, drone akan dilengkapi dengan perangkat sensor baru dan muatan dan akan bekerja dalam jaringan dengan pesawat tempur berawak. Skyborg digambarkan sebagai wingman dengan kecerdasan buatan (AI) yang akan berlatih dan belajar bersama pilot atau mungkin dimasukkan dalam pesawat tempur berawak sebagai asisten seperti R2-D2 dalam film "Star Wars". (Angga Saja - TSM)

Iran Ancam Tenggelamkan Kapal Perang AS dengan Senjata Rahasia


Militer Iran mengancam akan menenggelamkan kapal-kapal perang Amerika Serikat di Teluk Persia dengan senjata rahasia baru. Tak dijelaskan jenis senjata rahasia yang dimaksud.
"Amerika...mengirim dua kapal perang ke wilayah tersebut. Jika mereka melakukan kebodohan sekecil apa pun, kami akan mengirim kapal-kapal ini ke dasar laut bersama awak mereka serta pesawatnya dengan menggunakan dua rudal atau dua senjata rahasia baru," kata Jenderal Morteza Qorbani, seorang penasihat komando militer Iran, kepada kantor berita Mizan, yang dikutip Reuters, Sabtu (25/5/2019).
USS Abraham Lincoln
USS Abraham Lincoln 
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran yang memburuk sejak awal bulan ini setelah Washington memberlakukan lebih banyak sanksi terhadap Teheran. Pemberlakuan sanksi itu sebagai tindak lanjut pemerintah Donald Trump yang menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran 2015 yang bernama resmi Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
Pentagon telah mengerahkan Kelompok Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln, satu skuadron pesawat pengebom B-52 dan baterai rudal Patriot ke Timur Tengah.
Iran juga menangguhkan sebagian kewajibannya dari JCPOA 2015.
Surat Antiperang
Sementara itu, 76 pensiunan jenderal, laksamana dan duta besar AS telah menandatangani surat terbuka kepada Presiden AS Donald Trump. Dalam surat tersebut, mereka mendesak Trump untuk tidak menghasut perang dengan Republik Islam Iran.
"Perang dengan Iran, baik karena pilihan atau kesalahan perhitungan, akan menghasilkan reaksi dramatis di Timur Tengah yang sudah tidak stabil dan menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik bersenjata lainnya dengan biaya finansial, manusia, dan geopolitik yang besar," bunyi surat tersebut.
Surat itu muncul setelah Trump mengatakan bahwa Washington memutuskan untuk mengerahkan sekitar 1.500 tentara tambahan ke Timur Tengah. Presiden Trump sendiri berharap bahwa situasi tidak akan mengarah pada perang.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei juga menegaskan bahwa Teheran tidak ingin perang dengan AS, tetapi akan terus menentang kebijakan Washington.(Muhaimin)

Rusia Siap Membalas Jika AS Sebar Fasilitas Radar di Norwegia


Kementerian Luar Negeri Rusia mengirim peringatan kepada Amerika Serikat (AS). Moskow dapat mengambil tindakan balasan jika AS melanjutkan rencana memodernisasi fasilitas radar Globus 2 di kota Vardo, Norwegia, yang berbatasan dengan negara itu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova mengatakan, Moskow memiliki banyak alasan untuk percaya bahwa fasilitas radar itu akan digunakan untuk tujuan mengawasi Rusia. Ia menambahkan bahwa stasiun radar akan menjadi bagian dari sistem rudal anti-balistik AS.
AS Sebar Fasilitas Radar di Norwegia
AS Sebar Fasilitas Radar di Norwegia 
"Ada banyak alasan untuk meyakini bahwa radar akan memantau secara khusus wilayah Rusia dan akan menjadi bagian dari jaringan pertahanan rudal global AS," kata Zakharova.
"Jelas bahwa persiapan militer semacam ini, apakah itu di dekat perbatasan Rusia atau perbatasan negara lain, tidak dapat diabaikan oleh negara kita atau negara lain. Oleh karena itu, kami sedang mempertimbangkan tindakan timbal balik yang akan diambil untuk memastikan keamanan kami sendiri," tuturnya seperti dikutip dari Sputnik, Jumat (24/5/2019).
Zakharova mencatat bahwa Rusia telah berulang kali ditolak konsultasi tentang masalah ini oleh otoritas Norwegia.
Stasiun Globus II yang didanai AS di pulau Vardo Arktik terletak hanya 50 kilometer dari perbatasan dengan Rusia dan dikelola oleh personel intelijen militer Norwegia.
Pada April 2016, Angkatan Darat Norwegia mengumumkan modernisasi stasiun radar yang dijadwalkan untuk 2017-2020. Fasilitas ini diharapkan mencakup radar lain.
Pembaruan fasilitas radar dilakukan di tengah penyebaran sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Defense (THAAD) di Rumania oleh AS.
Moskow telah berulang kali menyuarakan keprihatinan atas peningkatan aset militer NATO di sepanjang perbatasannya dan di Eropa. THAAD adalah sistem pertahanan rudal anti-balistik yang mencegat rudal balistik di pertengahan akhir atau tahap akhir penerbangannya, baik di dalam maupun di luar atmosfer Bumi. (Berlianto)

Tandingi Tes Rudal Pakistan, India Ledakkan Bom 500 Kg


Militer India meledakkan bom berpemandu seberat 500 kilogram (kg) dalam sebuah uji coba yang dijatuhkan dari sebuah pesawat. Uji coba ini sebagai tandingan atas tes rudal balistik Shaheen-II Pakistan yang bisa membawa hulu ledak nuklir pada hari Kamis lalu.
Bom seberat itu diledakkan militer India pada hari Jumat. "Bom yang dipandu mencapai jarak yang diinginkan dan menghantam target dengan presisi tinggi. Semua tujuan misi telah tercapai," bunyi siaran pers dari divisi penelitian dan pengembangan militer India.
Shaheen-II Pakistan
Shaheen-II Pakistan  
Dua hari sebelumnya, negara itu juga menguji coba rudal jelajah BrahMos dengan jangkauan 300 km.
Peledakan bom 500 kg dilakukan di tengah-tengah perayaan kemenangan Perdana Menteri India Narendra Modi dan partainya; Partai Bharatiya Janata (BJP) dalam pemilu di negara tersebut.
Perdana Menteri Pakistan Imran Khan telah menyampaikan ucapan selamat kepada Modi via Twitter. Dalam ucapannya, Khan berharap bisa bekerja sama dengan Modi untuk perdamaian, kemajuan dan kemakmuran di Asia Selatan.
Modi menanggapi dengan mengucapkan terima kasih. Dia menyatakan akan memprioritaskan perdamaian dan pembangunan di kawasan tersebut.
Namun, pesan-pesan perdamaian kedua pemimpin ini juga diwarnai oleh peringatan keras utusan India untuk Amerika Serikat Harsh Vardhan Shringla. Dia mengatakan tidak ada pembicaraan antara kedua negara yang akan berlangsung."Sampai Pakistan menunjukkan dengan segera, efisien dan tindakan yang dapat diverifikasi untuk mengekang kelompok teroris yang beroperasi dari wilayahnya," katanya, seperti dikutip dari Russia Today, Sabtu (25/5/2019).
Ketegangan antara kedua negara bersenjata nuklir ini pecah di wilayah Kashmir Februari lalu, ketika India melakukan serangan udara terhadap gerilyawan di wilayah Pakistan. Pakistan merespons dengan mengirimkan jet tempurnya untuk menargetkan angkatan udara India. Satu jet tempur India ditembak jatuh. Sedangkan, New Delhi mengklaim menjatuhkan sebuah jet tempur F-16 Islamabad.(Muhaimin)

Hurkus-C dari Turki, Tampil Lebih Garang dengan Grafis Moncong Hiu Menyeringai


Tampil dengan warna abu-abu gelap, penampilan Hurkus-C (Free Bird seri C) makin terlihat garang dengan grafis berbentuk moncong hiu menyeringai. Pesawat bertengger di luar arena selama pameran IDEF 2019 yang berlangsung di Istanbul, Turki pada 30 April – 3 Mei lalu.
Varian bersenjata dari keluarga pesawat latih turboprop buatan Turkish Aerospace Industries (TAI) ini dikembangakan untuk keperluan Militer Turki. Pesawat didapuk untuk menghadapi peperangan asimetris melawan gerilyawan.
Hurkus-C
Hurkus-C  
Seperti diketahui, Turki hingga saat ini masih terus memerangi kelompok ISIS maupun pemberontak Kurdi yang beroperasi di sekitar wilayah perbatasan dengan negara tetangganya Suriah dan Irak.
Purwarupa pertama Hurkus-C resmi diluncurkan pada pertengahan Februari 2017. Prototipe ini dikembangkan berdasar versi latih lanjut Hurkus-B yang telah dilengkapi dengan avionik terintegrasi termasuk HUD, MFD, dan MC (Mission Computer). Sayap pesawat juga telah dilengkapi winglet.
Sebagai pesawat serang dan intai, Hurkus-C dapat dijejali muatan hingga 1.500 kg. Tersedia enam gantungan senjata (tiga di tiap sayap) dan satu di tengah perutnya. Hurkus-C juga dilengkapi pod elektro-optik dan inframerah (EO/IR) Aselsan Common Aperture Targeting System (CATS).
Sementara pilihan senjata untuk misi dukungan udara jarak dekat (CAS) ataupun antigerilya (COIN) dipasok oleh pabrik senjata asal Turki, Roketsan. Yaitu berupa rudal antitank UMTAS serta roket berpemandu laser Cirit kaliber 2,75 inci.
Jenis bom yang dibawa mulai dari GBU-12 berpemandu laser, bom multiguna Mk-81, Mk-82, BDU-33 serta bom latih MK-106. Hurkus-C juga dapat dilengkapi pod berisi senapan mesin kaliber 12,7 mm atau sebuah tabung tangki eksternal kapasitas 70 galon.
Hurkus-C ditenagai sebuah mesin turboprop Pratt & Whitney Canada PT6A-68T berdaya1.600 shp. Kecepatan terbang maksimum di angka 574 km/jam dan ketinggian terbang hingga 10.577 m. Sementara untuk jangkauan operasi sejauh 1.478 km atau lama terbang 4 jam 25 menit.
Berdasar informasi Jane’s, Penerbangan AD Turki telah memesan sebanyak 12 unit Hurkus-C termasuk 12 opsi tambahan. Namun penyerahan yang semula diagendakan pada 2018 hingga saat ini belum terlaksana.
Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, TAI sendiri telah mengumumkan akan menyasar pasar ekspor untuk Hurkus-C. Di kelasnya ‘Sang Burung Bebas” akan bersaing dengan EMB-314 Super Tucano dari Brasil, AT-6B Wolverine dari Amerika Serikat, KAI KT-1C dari Korea Selatan, dan pendatang baru B-250 Bader dari Uni Emirat Arab.(Rangga Baswara Sawiyya)

Frigate BRP Jose Rizal (FF-150) Filipina Telah Diluncurkan


BRP Jose Rizal (FF-150) diluncurkan pada hari Kamis (23/5) di galangan kapal Hyundai Heavy Industries (HHI) Korea selatan.
Kapal sepanjang 107 meter ini mewakili kapal terbaru milik Angkatan Laut Filipina yang mampu melakukan peperangan anti-kapal permukaan, anti-kapal selam, dan operasi peperangan elektronik.
Frigate BRP Jose Rizal FF-150
Frigate BRP Jose Rizal FF-150 
Frigat ini dirancang berdasarkan frigat serba guna multi peran Incheon / FFX-I / HDF-3000 sejenis milik Angkatan Laut Republik Korea. dipersenjatai dengan meriam utama super rapid Oto Melara 76mm serta kanon SMASH 30mm remote-controlled established naval gun.
Kapal-kapal akan dilengkapi dengan rudal permukaan-ke-udara dan permukaan-ke-permukaan, torpedo, peluncur dan sistem senjata untuk perang empat dimensi.
Setiap kapal mampu mengangkut lebih dari seratus perwira dan awak. Ini juga dilengkapi dengan dek penerbangan ke arah buritan dengan kemampuan untuk menangani satu helikopter maritim dengan berat hingga 12 ton. Hangar juga akan dipasang untuk mengakomodasi helikopter. serta akan dilengkapi juga dengan dua perahu karet untuk operasi militer dan darurat di laut.
Kapal Perang jenis Frigat ini memiliki kecepatan maksimum 25 knot, dengan kisaran 4.500 mil laut dengan kecepatan jelajah 15 knot. Itu dapat mempertahankan keberadaan operasional selama 30 hari.
Beberapa subsistem yang sudah diinstal
  1. Senjata utama menunjukkan Meriam Super rapid Oto Melara 76/62 dari Italia, Hal ini Membantah rumor sebelumnya yang mengatakan kapal akan menggunakan senjata Hyundai WIA 76mm., Oto Melara SR sesuai dengan kecepatan tembak yang diperlukan oleh spesifikasi teknologi versus senjata tembak yang lebih lambat dari Hyundai WIA.
  2. Fire control NA-25Xl radar Leonardo NA-25X Italia, yang akan memandu senjata Oto Melara. Awalnya PN memilih tawaran HHI lainnya, Thales Nederland STIR Mk.II FCR
  3. The Kelvin Hughes Sharpeye secondary surface search, navigation, and helicopter approach radar helikopter dari Inggris. Rupanya HHI hanya menawarkan ini, meskipun itu adalah produk bagus yang bahkan Angkatan Laut Filipina saat ini digunakan pada beberapa kapal kelas Del Pilar.
  4. Radar pencarian udara / permukaan primer Hensoldt TRS-3D Baseline-D 3D buatan Jerman, sistem pengawasan utama kapal. Sebaliknya, PN memilih radar AESA Thales Nederland NS-106 yang lebih baru.
  5. Elisra NS9003 Aquamarine Radar Electronic Support Measures (R-ESM), varian yang disederhanakan mereka dari paket lengkap Aquamarine EW. Ini menggantikan Thales Vigile 100 EW suite yang dikatakan telah ditawarkan meskipun spesifikasi hanya membutuhkan sistem R-ESM.
  6. Sistem peluncuran triple torpedo TLS J + S TLS, senjata anti-kapal selam utama dari fregat.
  7. Tidak diperlihatkan tetapi tampaknya fregat masih belum memiliki peluncur tabung untuk rudal jelajah anti-kapal LIGNex1 SSM-700K C-Star. Diharapkan bahwa peluncur akan dipasang pada saat HHI mengirimkan kapal pada tahun 2020.
  8. Tampaknya peluncur misil MBDA Simbad-RC VSHORAD telah dipasang juga. Kapal memiliki dua peluncur menghadap sisi pelabuhan dan kanan di atas struktur hanggar.

LAPAN Buka Kerja Sama Pengembangan Roket


"Kerja sama dengan mitra luar negeri terutama pada transfer teknologi dan penyediaan bahan yang belum bisa diproduksi di dalam negeri."
Jakarta (ANTARA) - Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengatakan membuka peluang kerja sama dengan berbagai negara mitra untuk pengembangan roket di Indonesia.
Roket RX 450 LAPAN
Roket RX 450 LAPAN 
"Untuk percepatan penguasaan teknologi roket dengan target penguasaan roket bertingkat untuk roket peluncur satelit orbit rendah, LAPAN sedang berupaya menjalin kerja sama dengan negara mitra," kata Thomas saat dihubungi Antara di Jakarta, Jumat (17/5)
Thomas menuturkan kerja sama dengan mitra luar negeri terutama pada transfer teknologi dan penyediaan bahan yang belum bisa diproduksi di dalam negeri.
Menurut Thomas, pengembangan roket tergolong paling sulit, karena teknologi ini tergolong sensitif dan bersifat dual-use, bisa untuk sipil dan militer.
Namun, LAPAN terus berupaya untuk meningkatkan kemampuannya, dimulai dari roket ukuran kecil.
Program roket sipil oleh LAPAN saat ini difokuskan untuk roket sonda untuk keperluan penelitian atmosfer, termasuk untuk mendukung teknologi modifikasi cuaca.
"Roket RX 120 saat ini sudah dianggap cukup stabil. Roket RX 360 sedang ditingkatkan kinerjanya. Roket RX 450 sudah mulai tahap uji terbang," ujarnya.
Sementara, roket pertahanan tetap diteruskan, tetapi itu ranahnya Kementerian Pertahanan.(Martha Herlinawati S)

Minum Bir di Peluncuran 150 Rudal Nuklir, 2 Airmen AS Dihukum


Dua airmen atau penerbang Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) dihukum. Musababnya, mereka ketahuan minum bir beralkohol di pusat kendali peluncuran untuk 150 rudal nuklir di Pangkalan Angkatan Udara F.E. Warren dekat Cheyenne.
Ilustrasi
Ilustrasi 
Perilaku seperti itu berisiko menimbulkan petaka. Jika para penerbang itu mabuk, mereka bisa lepas kontrol dengan mengoperasikan sistem peluncuran rudal nuklir tanpa komando resmi.
Sebuah posting Facebook untuk kelompok Angkatan Udara mengklaim ada tiga penerbang yang tertangkap minum bir Pabst Blue Ribbon (PBR) selama perubahan kode nuklir yang terjadwal.
"Tampaknya ada lelucon di pangkalan tentang kejadian itu dan mereka bahkan memiliki meme yang dikirim untuk kami kirim," tulis sumber di posting Facebook tersebut. "Mereka menganggap PBR sebagai bir resmi untuk Perubahan Kode Rudal Nuklir 2019 di Pangkalan Angkatan Udara F.E. Warren."
Kepala Operasi untuk Urusan Publik Sayap Misil ke-90 Angkatan Udara AS, Joseph Coslett, mengonfirmasi kepada Task and Purpose bahwa insiden itu terjadi pada 14 Mei tetapi hanya melibatkan sersan staf dan seorang penerbang senior.
"Investigasi, termasuk pengakuan penerbang, mengungkapkan keduanya mengonsumsi alkohol saat dalam status tidak bertugas dan tidak dalam kontak, juga tidak memiliki akses ke senjata atau bahan rahasia," kata Coslett, yang dikutip dari New York Daily News, Sabtu (25/5/2019).
"Ini adalah pelanggaran standar yang tidak dapat diterima dan Angkatan Udara meminta penerbang bertanggung jawab atas tindakan mereka," imbuh Coslett tanpa menyebutkan bagaimana keduanya dihukum.
Kurang dari setahun yang lalu, 14 penerbang di pangkalan yang sama ditangkap dan dihukum karena menjatuhkan asam saat tugas.(Muhaimin)

Opini : Diplomasi Viper


Beradu luwes, beradu lincah, bergerak cepat, diam-diam dan berpacu dengan waktu, adalah irama yang sedang diperlihatkan Indonesia dalam diplomasi perdagangannya dengan Amerika Serikat. Sebabnya cuma satu, agar fasilitas yang bernama GSP yang diberikan negara adidaya itu masih bisa diperpanjang nafasnya untuk Indonesia.
Jet Tempur F-16 Viper
Jet Tempur F-16 Viper 
GSP (Generalized System of Preferences) adalah fasilitas kemudahan perdagangan yang diberikan AS untuk negara-negara berkembang dengan cara membebaskan bea masuk ribuan produk negara-negara tersebut. Ada sekitar 3.500 produk ekspor RI yang boleh lenggang kangkung diberikan kemudahan masuk ke AS. Ini sudah berlangsung puluhan tahun.
Nah, pak Donald mulai mendehem neh. Dengan China terang-terangan dan tegas melakukan perang dagang. Maka Indonesia mengantisipasinya dengan melakukan diplomasi perdagangan selama dua tahun terakhir ini dengan Paman Sam. Kita ketahui bahwa sejak Oktober 2017 AS meninjau ulang pemberian fasilitas GSP terhadap 25 negara termasuk Indonesia. Untungnya kita masih punya “kartu remi” yang sangat diperlukan Uak Sam utamanya dalam menghadapi menggeliatnya militer China di Laut China Selatan (LCS).
Maka kartu remi dimainkan Indonesia dengan menerima tawaran Menhan AS untuk membeli sejumlah alutsista berkelas dari Paman Sam. Pengadaan alutsista semacam jet tempur F16 Viper, Hercules seri J dan Apache bermanfaat untuk menyeimbangkan neraca perdagangan kedua negara yang selama ini menguntungkan kita. Artinya tidak lagi dipelototi Trump.
Ini juga seirama dengan rencana strategis pertahanan RI yang akan menambah skadron-skadron tempurnya. Maka penambahan minimal 32 unit jet tempur F16 Blok 70 Viper adalah sebuah langkah cemerlang dan akan terlaksana dalam MEF jilid III. Indonesia juga sudah mendapatkan 8 Helikopter serang Apache dan diprediksi akan menambah 8 unit lagi.
Selain alutsista diatas yang paling sering didengungkan adalah pengadaan 6 pesawat Hercules seri terbaru. Pak Menhan sudah disambut di Pentagon untuk memastikan pembelian pesawat militer angkut berat yang legendaris itu. Program beli ini juga agar AS bisa memberikan kelonggaran untuk pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia yang masih tersendat karena DP tidak bisa cair.
Itulah kenyataan yang kita hadapi karena sang adidaya lagi galak-galaknya kepada siapa pun yang mau mengganggu hegemoni Yues’e di segala bidang. Raksasa China aja diajak gelut alias perang dagang, dengan Iran sekarang sedang demam tinggi, Rusia dikenakan sanksi ekonomi ketat, Venezuela diadu domba dan lain-lain.
Untuk kepentingan geo strategis AS di LCS maka Trump memerlukan dukungan Indonesia. Artinya masih ada kekuatan bargaining bagi kita soal GSP tadi. Kita memang lagi butuh peningkatan kualitas dan kuantitas alutsista. Dan karena sudah ditawari juga oleh Menhan AS pada waktu berkunjung ke Jakarta maka tidak eloklah kalau tidak diambil.
Anggaran pertahanan kita tahun depan juga meningkat bagus mencapai 126 Trilyun rupiah. GSP untuk produk ekspor kita ke AS juga masih bisa diperpanjang. Sekalian bisa mencairkan kebuntuan soal pembelian 11 jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia yang terhambat Bank Garansi untuk DPnya. Semua itu bisa dihasilkan dengan model diplomasi perdagangan yang cerdas, lincah dan luwes.
Kita meyakini bahwa kontrak pengadaan Jet tempur F16 Viper, Hercules, Apache akan diselesaikan Oktober tahun ini dan barangnya mulai berdatangan di episode MEF jilid III (2020-2024). Diplomasi Viper membutuhkan gerak lincah luwes dan bergerak cepat diam-diam seperti seekor ular Viper. Karena kita pun bakalan mendapat Viper, jet tempur F16 Blok 70 paling mutakhir, lincah dan mematikan. (Jagarin Pane)
Sumber : FSM

Radar Acak