Radar TNI AD

Radar TNI AL

Radar TNI AU

Radar Terbaru

Amerika Serikat Mengaku Khawatir Dengan Perkembangan Militer Rusia-China


Amerika Serikat (AS) memandang Rusia dan China sebagai saingan utamanya. Washington kemudian mengaku prihatin dengan perkembangan kemampuan militer mereka yang semakin besar, terutama di domain luar angkasa dan dunia maya.
Menteri Luar Negeri AS, Mike Esper
Menteri Luar Negeri AS, Mike Esper  
"Kami telah memasuki era baru kompetisi negara adidaya," kata Menteri Luar Negeri AS, Mike Esper saat berbicara di Dewan Hubungan Luar Negeri di washington, seperti dilansir Tass pada Minggu (15/12/2019).
"China, pertama, dan Rusia, kedua, sekarang menjadi prioritas utama kami. Kedua negara dengan cepat memodernisasi angkatan bersenjata mereka dan memperluas kemampuan mereka ke ruang angkasa dan domain cyber," sambungnya.
Dia kemudian mengatakan China terus memperluas hubungan ekonominya di seluruh Asia. Sementara itu, papar Esper, Rusia terus berusaha untuk merusak persatuan NATO.
"Strategi pertahanan nasional kami mengatakan persaingan kekuatan yang hebat, fokus pada China dan Rusia," ucapnya dalam acara tersebut.
"kami juga harus khawatir tentang ancaman negara-negara nakal, Iran dan Korea Utara, tetapi juga mengatakan kami harus mempertahankan kemampuan sehubungan dengan perang reguler, karena ancaman itu dari organisasi ekstrimis yang kejam akan bersama kita untuk waktu yang lama, itu generasional," ungkapnya.
Dewan Hubungan Luar Negeri sendiri adalah salah satu organisasi non-pemerintah tertua di ASt, didirikan pada tahun 1921. Dewan ini menyatukan sekitar 4.900 mantan pejabat tinggi pemerintah, pejabat intelijen, ilmuwan, pejabat sektor perbankan dan keuangan. (Victor Maulana)

Amerika Serikat - Republik Ceko Menyetujui Penjualan Helikopter AH-1Z VIPER dan UH-1Y VENOM


Sekretaris Pertahanan Dr Mark T. Esper dan Menteri Pertahanan Ceko Lubomir Metnar bertemu di Pentagon untuk menyelesaikan penjualan delapan helikopter utilitas UH-1Y Venom dan empat helikopter serang Viper AH-1Z.
UH-1Y VENOM
UH-1Y VENOM 
Para pemimpin pertahanan mengambil bagian dalam penandatanganan seremonial perjanjian hari ini setelah pertemuan di mana mereka membahas hubungan pertahanan lama mereka serta masalah keamanan bersama, menurut seorang pejabat pertahanan.
Penjualan itu, yang menurut Esper adalah "momen bersejarah," berjumlah total sekitar $ 650 juta dan merupakan pembelian militer terbesar Republik Ceko dari AS. Menteri pertahanan mengatakan itu adalah langkah maju dalam penggantian helikopter Rusia oleh Republik Ceko dengan peralatan yang dapat dioperasikan oleh NATO.
Pengadaan ini mendukung tujuan Strategi Pertahanan Nasional untuk memperkuat aliansi serta melawan pengaruh Rusia, menyoroti keuntungan terkonsolidasi selama 30 tahun terakhir saat Republik Ceko memodernisasi angkatan bersenjatanya dan menunjukkan kekuatan hubungan pertahanan AS-Republik Ceko, pertahanan kata pejabat itu.
Kedua pemimpin itu mengatakan AS dan Republik Ceko berbagi banyak kepentingan keamanan.
"Kami terus bersatu sebagai sekutu NATO untuk mencegah Rusia yang semakin agresif. Kami juga akan terus bekerja sama untuk mengatasi ancaman dan tantangan yang diajukan oleh China, terutama yang berkaitan dengan teknologi 5G," kata Esper. Dia mencatat apresiasi departemen untuk kepemimpinan Republik Ceko dalam menyerukan keamanan jaringan 5G di Eropa.
Metnar mengatakan melalui seorang penerjemah bahwa AS adalah mitra strategis utama bagi bangsanya, mencatat bahwa kedua negara tidak hanya merupakan sekutu NATO tetapi juga secara historis saling mendukung. "Anggota layanan kami berlatih bersama, bertarung bersama dalam operasi yang dikerahkan dan hari ini, sekarang, kami membuka babak baru dalam hubungan timbal balik kami," katanya.

Iran: Uji Coba Rudal Amerika Serikat Sebabkan Ketidakstabilan di Dunia


Iran menyuarakan keprihatinan dan menyesalkan langkah terbaru Amerika Serikat (AS) untuk menguji coba rudal balistik jarak menengah. Uji coba ini dilakukan beberapa bulan setelah Washington menarik diri dari Perjanjian Pasukan Nuklir Jangka Menengah (INF).
Abbas Mousavi
Abbas Mousavi  
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Abbas Mousavi menuturkan, keputusan AS untuk mundur dari perjanjian INF dengan Rusia dan kemudian melakukan uji coba rudal adalah sumber ketidakstabilan dunia.
"Kami mengumumkan bahwa penarikan sepihak AS dari Perjanjian INF dengan Rusia dan melakukan beberapa uji coba rudal akan menyebabkan ketidakstabilan di dunia," kata Mousavi dalam sebuah pernyataan.
Mousavi, seperti dilansir PressTV pada Minggu (15/12/2019), kemudian menuturkan bahwa Iran mengajak AS untuk mematuhi peraturan internasional. "Tidak dapat diterima bagi kita bahwa kita harus menyaksikan ketegangan yang meningkat dan perlombaan rudal dan senjata di dunia setiap hari," ungkapnya.
Pada hari Kamis, Kementerian Pertahanan AS mengatakan telah menguji coba rudal balistik jarak menengah. Ini adalah uji coba kedua dalam empat bulan terakhir yang dilakukan atau sejak AS keluar dari Perjanjian INF.
Pentagon mengatakan bahwa uji itu dilakukan dari Pangkalan Angkatan Udara Vandenberg dekat Los Angeles, California, dan rudal itu terbang sejauh 500 kilometer.
AS secara resmi menarik diri dari Perjanian INF yang diteken pada 1987 dengan Rusia pada Agustus lalu setelah mengklaim bahwa Moskow melanggar perjanjian itu. Rusia membantah tudingan AS tersebut. (Victor Maulana)

Menteri Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) Kunjungi PT Pindad


Direktur Utama PT. Pindad (Persero), Abraham Mose beserta jajaran Direksi Pindad menerima kunjungan kerja Menteri Negara urusan Pertahanan Uni Emirat Arab (Menhan UEA), Mohammed bin Ahmed Al Bawardi Al Falacy di Auditorium Direktorat Utama PT. Pindad Bandung (12/12). 
Menteri Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA)
Menteri Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) 
Menhan UEA turut membawa jajaran pejabat strategis pertahanan UEA serta didampingi oleh Duta Besar Fungsional Dit. Timur Tengah Kementerian Luar Negeri, Nurul Aulia. Kunjungan ini dimaksudkan untuk mengenal industri pertahanan yang dimiliki oleh Indonesia serta membuka peluang kerjasama antar kedua negara.
Direktur Utama Pindad, Abraham Mose mengucapkan selamat datang kepada delegasi dari UEA serta menjelaskan secara singkat mengenai kemampuan Pindad, “Selamat datang kepada Menhan UEA beserta rombongan. Kami perlu memperkenalkan Pindad sebagai industri pertahanan yang memproduksi senjata, munisi, kendaraan tempur dan produk industrial. Kami berharap dari kunjungan ini kita dapat memperoleh kesepahaman mengenai hubungan bisnis dan kerjasama yang akan kita bangun kedepannya.” buka Abraham dalam sambutannya.
Menhan UEA secara khusus mengungkapkan rasa terima kasihnya atas sambutan yang hangat dari Pindad. Menhan UAE turut mengutarakan tujuan kerjasama, “Kami sangat senang dapat berada disini untuk bekerjasama. Kekuatan dapat kita bangun melalui keunggulan produk dan kolaborasi. Kami berharap dapat membangun kerjasama yang baik dan berkelanjutan dengan Pindad.” ujar Menhan UEA.
Penjelasan mengenai produk serta kemampuan Pindad secara menyeluruh selanjutnya dipaparkan oleh Niken Arina, staf Divisi Kendaraan Khusus. Niken menjelaskan mengenai produk kendaraan khusus dari lini Anoa, 8x8, Komodo hingga Medium Tank Harimau. 
Hal ini menarik perhatian dari Menhan UEA yang menanyakan lebih lanjut mengenai kemampuan Medium tank serta amunisi 105 mm yang digunakan. Direktur Bisnis Produk Hankam Pindad, Heru Puryanto kemudian menjelaskan mengenai munisi serta level proteksi yang dimiliki oleh kendaraan khusus Pindad.
Untuk meninjau lebih detil, Menhan UEA berkesempatan melakukan kunjungan ke fasilitas produksi kendaraan khusus, menyaksikan parade defile kendaraan khusus serta mencoba berkendara menggunakan kendaraan taktis Komodo. 
Sebelum menutup lawatannya, Menhan UEA beserta rombongan mengunjungi display produk senjata serta mencoba menembak menggunakan senjata unggulan produksi Pindad yaitu SS2-V4 dan PM3. (Tomo)(Herru Sustiana)
Sumber : pindad.com

Video Propaganda Korea Selatan Tunjukkan Jet Tempur F-35 Bombardir Korea Utara


Angkatan Udara Korea Selatan (Korsel) telah merilis video propaganda yang mensimulasikan serangan preemptive terhadap negaranya Kim Jong-un, Korea Utara (Korut). Video rekayasa itu menunjukkan jet tempur siluman F-35 membombardir Korea Utara.
Propaganda Korea Selatan
Propaganda Korea Selatan  
Meski video itu hanya rekayasa dan terkesan sebagai hiburan, namun rezim Kim Jong-un bisa marah. Target serangan F-35 Korsel dalam video propaganda itu ditandai dengan bintang-bintang merah.
Tidak disebutkan secara terang-terangan bahwa target serangan itu sebagai wilayah Korea Utara, namun simbol bintang merah tidak bisa dimungkiri adalah bagian dari lambang negara tersebut.
Video berdurasi empat menit itu sudah dirilis awal pekan ini. Adegan dalam video itu dimulai dengan pesawat mata-mata RQ-4 Global Hawk buatan AS yang mendeteksi aktivitas musuh yang pada satu titik menunjukkan apa yang terlihat sebagai platform rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasong-14 Korea Utara. Platform itu meledak dramatis setelah dijatuhi bom oleh jet tempur F-35.
"Kejayaan kemenangan dijanjikan dalam keadaan apa pun," bunyi komentar dalam bahasa Korea dari seorang narator di video tersebut sebagaimana dilaporkan stasiun televisi Korea Selatan, JTBC, yang dikutip Sabtu (14/12/2019).
Video provokatif itu dirilis setelah rezim Kim Jong-un menguji coba mesin roket Korea Utara terbaru akhir pekan lalu, yang beberapa ahli berspekulasi bahwa itu menjadi langkah pertama menuju pengembangan kemampuan rudal balistik jarak jauh Pyongyang.
Pyongyang bersikeras bahwa senjatanya semata-mata untuk pertahanan diri. Namun, tes rudal terus digencarkan ketika pembicaraan denuklirisasi dengan Amerika Serikat (AS) mengalami kebuntuan.
Awal bulan ini, Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Thae Song melemparkan "bola" kepada Washington terkait buntunya perundingan denuklirisasi. "Sekarang sepenuhnya tergantung pada AS apa hadiah Natal yang akan dipilih dari DPRK," ujarnya yang menggunakan singkatan nama resmi Korut.
Seoul telah menandatangani kesepakatan dengan Washington pada 2014 untuk membeli beberapa lusin pesawat jet tempur siluman F-35A seharga USD6,8 miliar, dan saat ini beberapa pesawat sudah berada di jalur operasional. Seoul akan mengoperasikan total 40 pesawat pada tahun 2021.
Kesepakatan lain dicapai pada tahun yang sama adalah pembelian 30 unit pesawat nirawak mata-mata RQ-4 Global Hawk.
Penjualan senjata semacam itu dianggap oleh Pyongyang sebagai tindakan permusuhan, sebuah kesimpulan yang biasa dilakukan dalam latihan perang gabungan AS-Korea Selatan. Latihan perang gabungan itu biasanya untuk berlatih invasi besar-besaran terhadap Korea Utara.(Muhaimin)

Indonesia Tawarkan Senjata Buatan Pindad ke Menteri Pertahanan Laos


Menteri Pertahanan Prabowo Subianto menerima kunjungan Menteri Pertahanan Republik Laos Jenderal Chansamone Chanyalath di kantor Kemhan RI, Jakarta, Rabu, 11 Desember 2019.
Dalam kunjungan tersebut Menhan Laos melakukan penandatanganan kerja sama dengan Indonesia di bidang pertahanan. Namun tak disebutkan fokus kerja sama yang disepakati tersebut.
Senjata Buatan Pindad
Senjata Buatan Pindad  
Dahnil Anzar Simanjuntak Staf Khusus Menteri Pertahanan bidang Komunikasi Publik dan Hubungan Antar Lembaga mengatakan saat kunjungan itu Prabowo memperkenalkan produk-produk persenjataan Indonesia khususnya yang diproduksi PT Pindad.
“Dalam pertemuan tersebut Menteri Pertahanan RI Prabowo juga menawarkan kesediaan agar taruna-taruna akademi militer Laos bisa belajar di Indonesia,” kata Dahnil, Rabu, 11 Desember 2019.
Selain itu, Prabowo juga mempersilakan Laos jika angkatan darat negara itu memerlukan pelatih dari pasukan khusus TNI AD untuk melatih pasukan khusus Laos. Indonesia, kata dia, siap membantu.
Di sisi lain, Dahnil menyebut kerja sama bilateral yang telah dijalin antara RI dan Laos ini cukup penting. Hal itu mengingat negara seperti Laos, Vietnam, dan Kamboja memiliki karakteristik gerilya.
“Yang menjadi warisan penting strategi perang (tiga negara tersebut) dan penting sesama negara Asean untuk saling bahu membahu memperkuat pertahanan regional,” ujarnya.(Bisnis.com)

TNI AL Pamerkan Kecanggihan Dua Kapal Perang di Timor Leste


KRI Usman Harun (USH) 359 dan KRI Sultan Iskandar Muda (SIM) 367 yang tergabung dalam Satuan Tugas Port Visit Indonesia Maritime Envoy (IME) 19B menyelenggarakan ship tour dan Mini Defense Expo di Port Dili.
KRI Sultan Iskandar Muda (SIM) 367
KRI Sultan Iskandar Muda (SIM) 367 
Kegiatan yang dibuka bagi personel Kementerian Pertahanan, Militer dan BUMN Timor Leste bertujuan untuk menunjukkan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutista) KRI Usman Harun dan KRI Sultan Iskandar Muda sangat modern. ”Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa kepercayaan kepada Menhan, Militer dan BUMN Timor Leste bahwa kerja sama dengan pemerintah Indonesia akan sangat menguntungkan bagi perkembangan pertahanan maritim Timor Leste,” ujar Kapushidrosal Laksda TNI Harjo Susmoro dalam keterangan tertulis yang diterima SINDOnews, Sabtu(14/12/2019).
Dalam ship tour Komandan KRI Usman Harun Kolonel Laut (P) Himawan menyampaikan karakteristik alutsista yang di miliki KRI USH seperti meriam OSRG 76mm, meriam 30mm, meriam 12.7 mm, Torpedo MK32, rudal exocet MM 40 B2, Vertical Launch Sea Wolf dan decoy.
Sedangkan Komandan KRI Sultan Iskandar Muda Letkol Laut (P) Rasyid, menyampaikan karakteristik alutista KRI SIM seperti meriam OSRG 76mm , meriam vector 20mm, torpedo Launcher, Exocet MM 40 Blok III, Tetral Mistral dan SKWS Therma Decoy.
Di sisi lain, Satgas Port Visit Indonesia Maritime Envoy-19B juga melaksanakan ziarah di Taman Makam Pahlawan Seroja, Dili untuk menghormati para pahlawan Indonesia yang gugur di Timor Timur.
Dubes RI untuk Timor Leste Sahat Sitorus saat memimpin acara ziarah tersebut menyampaikan bahwa ziarah yang dilaksanakan ini harus bisa menjadi cambuk semangat bagi para penerusnya, untuk selalu tulus dan ikhlas dalam melaksanakan tugas yang diberikan.
”Karena dengan tulus dan ikhlas tersebut apa yang kita kerjakan akan dinilai menjadi nilai ibadah. Saya yakin arwah para pahlawan telah diterima oleh Allah SWT karena keikhlasan mereka dalam melaksanakan tugas negara saat itu,” ujarnya.
Menurut Sahat, meski jasad mereka telah terkubur namun semangatnya masih berkobar. "Di depan kita terdapat jasad para prajurit sejati yang rela meninggalkan sanak keluarga guna melaksanakan tugas negara, jasad mereka memang sudah terkubur namun semangat mereka masih berkobar di dalam jiwa para penerusnya saat ini,” tegas Sahat Sitorus.
Sementara itu Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Port Visit IME-19B Kolonel Laut (P) Himawan pada kesempatan itu menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Timor Leste karena sudah turut mengamankan jalannya ziarah yang dilaksanakan Satgas Port Visit ini karena Ziarah ini merupakan sebuah momentum yang sakral.
Hadir dalam acara ini Dubes RI untuk Timor Leste, Kapushidrosal Laksda TNI Harjo Susmoro, Kadisdikal Laksma TNI Ivan Yulian, Danguspurla Koaramada III Laksma TNI Rudhi Aviantara IH, Athan RI Kolonel Inf Elvin Tiomada Saragih, Komandan KRI Usman Harun Kolonel Laut (P) Himawan, Komandan KRI Sultan Iskandar Muda Letkol Laut (P) Rasyid, para Prajurit Satgas Port Visit dan Homestaff KBRI di Timor Leste. (Sucipto)

Bos Pentagon: China Prioritas Utama Militer Amerika Serikat


Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Mark Esper mengatakan, Pentagon telah menempatkan China sebagai prioritasnya di atas Rusia. Hal itu didasari pada upaya Beijing untuk merusak klaim teritorial tetangganya di Laut China Selatan.
Berbicara di Dewan Hubungan Luar Negeri di New York, Esper mengutuk China karena merusak hukum internasional dan melanggar kedaulatan negara-negara kecil.
Militer China
Militer China 
"Hari ini, tatanan berbasis aturan internasional yang telah dibuat oleh Amerika dan sekutu-sekutunya sedang diuji. Pertama China dan kedua Rusia, sekarang menjadi prioritas utama departemen (pertahanan AS)," kata Esper.
“Kedua negara dengan cepat memodernisasi angkatan bersenjata mereka dan memperluas kemampuan mereka ke ruang angkasa dan domain siber, yang diperkuat oleh kekuatan militer mereka yang semakin meningkat," imbuhnya.
"Beijing dan Moskow tidak hanya melanggar kedaulatan negara-negara kecil, mereka juga berusaha merusak hukum dan norma internasional yang menguntungkan diri mereka sendiri,” ujar Esper seperti dikutip dari South China Morning Post, Sabtu (14/12/2019).
Pada tahun 2017, meletakkan rencana ambisius untuk Tentara Pembebasan Rakyat, Presiden China Xi Jinping mengatakan bahwa PLA harus dimodernisasi pada tahun 2035 dan menjadi militer peringkat teratas pada tahun 2050.
Beijing juga telah mengajukan klaim “nine-dash line” terhadap apa yang dikatakannya sebagai hak bersejarahnya di Laut China Selatan, dan telah membangun pulau-pulau buatan, tanah reklamasi serta membuat landasan terbang dan peralatan militer di perairan itu. Negara ini terlibat dalam perselisihan sengit dengan beberapa negara Asia Tenggara, termasuk Filipina dan Vietnam, mengenai wilayah tersebut.
"Upaya berani China untuk memaksa negara-negara kecil dan menegaskan klaim maritim tidak sahnya mengancam kedaulatan tetangganya, merusak stabilitas pasar regional dan meningkatkan risiko kemiskinan," tutur Esper, memperkuat bahwa apa yang disebut AS sebagai kawasan Indo-Pasifik tetap menjadi teater prioritas AS.
Esper juga mengatakan China tidak mematuhi norma yang ada di Laut China Selatan, sehingga melanggar status quo regional.
AS telah menerapkan strategi Indo-Pasifik, kombinasi kebijakan militer dan geoekonomi dengan harapan dapat menahan ekspansi militer China di Pasifik dan lautan India. Tujuan lainnya adalah untuk mengekang Belt and Road Initiative andalan Beijing dengan menyediakan model pengembangan alternatif bagi ekonomi di wilayah tersebut.
Esper mengatakan bahwa perilaku China sangat kontras dengan visi AS, yang menghargai dan memberikan peluang bagi semua bangsa, besar dan kecil.
"Pendekatan kami terus membuktikan dirinya lebih unggul dari China, sebagaimana dibuktikan oleh kemitraan kami yang berkembang di Indo-Pasifik," ucap Esper.
Esper menambahkan bahwa AS akan menahan China - dan memastikan kembali aturan serta perintah internasional yang ada - dengan semakin memperkuat hubungan dengan sekutu tradisionalnya.
“Jaringan aliansi dan kemitraan Amerika Serikat memberi kita keunggulan strategis asimetris yang tidak dapat ditandingi musuh kita bukan hanya karena kemampuan dan peralatan militer kita yang unggul, tetapi juga karena nilai-nilai kita," ujarnya.
"Kami menawarkan sesuatu yang tidak dihargai oleh pesaing kami untuk kedaulatan dan kemerdekaan semua negara, kepatuhan terhadap hukum dan norma internasional, dan promosi kebebasan individu dan hak asasi manusia," sambungnya.
Esper mengatakan bahwa ia telah mengunjungi Indo-Pasifik dua kali sejak menjadi menteri pertahanan pada bulan Juli.
“Sepanjang diskusi saya dengan rekan-rekan saya. Saya diingatkan betapa banyak negara di kawasan itu menginginkan kehadiran dan kepemimpinan Amerika," katanya.
"Mereka memandang kami untuk mencegah agresi, untuk memastikan akses bebas dan terbuka ke komentar vokal dan menegakkan aturan serta norma internasional yang sudah lama ada," lanjut Esper.
"Kami telah memasuki era baru kompetisi kekuatan besar," tukasnya. (Berlianto)

Delapan Satgas TNI Siap Berangkat Jalankan Misi Konga UNIFIL


Sejumlah 1.234 prajurit TNI yang tergabung dalam 8 (delapan) Satuan Tugas (Satgas) TNI Kontingen Garuda (Konga) UNIFIL telah siap berangkat menjalankan misi ke daerah penugasan.
Hal tersebut disampaikan Wakil Asisten Operasi (Waaspos) Panglima TNI, Marsma TNI Jorry S. Koloay, S.I.P., M.Han.,dalam rilis tertulisnya di Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (13/12/2019).
Pengecekan Kesiapan Pasukan
Pengecekan Kesiapan Pasukan 
Diungkapkan Waasops Panglima TNI, ke-8 Satgas TNI ini terdiri dari Satgas MTF, FHQSU, FPC, MPU, CIMIC, MCOU, Level Two Hospital, dan Satgas Indobatt Yon Mekanis XXIII-N.
“Kedelapan Satgas Konga tersebut akan bertugas di Lebanon Selatan di bawah bendera UNIFIL,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakan, saat melakukan pengecekan kesiapan pasukan di lapangan Canti Dharma, PMPP TNI, Sentul, Bogor pada Kamis (12/12/2019), dirinya mewakili Asisten Operasi (Asops) Panglima TNI, Mayjen TNI Mayjen TNI Tiopan Aritonang, S.I.P.
“Setelah dicek ke delapan Satgas TNI ini dinyatakan siap untuk melaksanakan tugas misi PBB,” jelasnya.
Pada kesempatan itu Waasops Panglima TNI menyampaikan bahwa penugasan ini merupakan kehormatan bagi prajurit secara individu, keluarga, satuan, bangsa dan negara.
“Oleh karenanya Satgas harus dapat melaksanakan tugas ini sebaik mungkin dengan penuh rasa tanggung jawab,” ucapnya.
Selanjutnya dikatakan pula, setiap unsur yang ada dalam Satgas dituntut untuk dapat melaksanakan peran dan fungsinya masing-masing.
“Laksanakan segala tugas sesuai dengan aturan dan prosedur yang berlaku. Satu sama lain agar saling melengkapi menjadi tim yang dapat diandalkan,” tutupnya. (Dispenad)

China : Amerika Serikat Ingin Kembangkan Senjata Canggih


Uji coba rudal balistik berbasis darat yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) mengundang cibiran dari China. Beijing menilai uji coba itu adalah bukti jika AS memang telah merencanakan sebelumnya untuk keluar dari Perjanjian Nuklir Jarak Menengah (INF).
Uji Coba Rudal
Uji Coba Rudal 
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying mengatakan, niat AS sebenarnya adalah membebaskan diri untuk mengembangkan rudal canggih dan mencari keuntungan militer sepihak.
Ia pun meminta masyarakat internasional harus "mempertajam matanya" dan bersama-sama menjaga sistem kendali senjata internasional saat ini.
Ia juga mendesak AS untuk meninggalkan mentalitas Perang Dingin dan pola pikir zero-sum game. Ia juga menyerukan agar AS berkontribusi pada keseimbangan dan stabilitas strategis global, serta perdamaian serta keamanan internasional dan regional seperti dilansir dari Xinhua, Sabtu (14/12/2019).
Pentagon telah melakukan dua uji coba rudal jelajah berbasis darat sejak AS menarik diri dari perjanjian INF pada Agustus lalu. Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan bahwa negara itu telah mulai mempersiapkan uji coba pada Februari ini.
Perjanjian era Perang Dingin yang ditandatangani oleh AS dan Uni Soviet membatasi pengembangan, produksi, dan penyebaran rudal berbasis darat yang dapat menyerang di mana saja antara jarak 500 dan 5.500 kilometer.
Tes senjata ini dilakukan di tengah meningkatnya ketidakpastian tentang masa depan kendali senjata. Batasan perjanjian terakhir yang tersisa tentang senjata nuklir AS dan Rusia—perjanjian New START 2010—dijadwalkan berakhir pada Februari 2021. Perjanjian itu dapat diperpanjang selama lima tahun tanpa memerlukan negosiasi ulang persyaratan utamanya.
Namun, pemerintah Trump telah menunjukkan sedikit minat untuk memperpanjang perjanjian tersebut. (Berlianto)

Radar Acak