Radar TNI AD

Radar TNI AL

Radar TNI AU

Radar Terbaru

Patriot MIM-104, Sistem Anti Rudal Andalan Amerika Serikat


Sistem antirudal Patriot, atau Patriot MIM-104 merupakan sistem pertahanan udara dan peluru kendali atau rudal utama milik Amerika Serikat (AS).
Rudal Patriot dalam sejarah awalnya dibuat sebagai sistem menangkal pesawat perang. Namun dalam perkembangannya, Rudal Patriot digunakan AS dan sekutunya di Perang Teluk 1991 untuk menangkal rudal-rudal dari Irak.
Patriot MIM-104
Patriot MIM-104 
Rudal Patriot diklaim mampu menangkis rudal balistik taktis dan ancaman udara seperti pesawat dan rudal jelajah.
Mengutip laman resmi Army Technology, sistem pertahanan Patriot memiliki empat rudal untuk setiap peluncur. Rudal kemudian disimpan dan diluncurkan dari tabung aluminium yang dipasang pada trailer menggunakan casis 8x8. Setiap unit Patriot, memiliki truk pembangkit listrik dengan dua generator 150-KW.
Peluncur ditarik oleh truk traktor Oshkosh M983 8x8 atau truk traktor lainnya. Versi bergerak Rudal Patriot menggunakan kendaraan mobilitas tinggi MAN KAT 1 8x8. Dibutuhkan 25 menit untuk menyiapkan posisi siap tembak hingga peluncuran.
Baterai Rudal Patriot atau unit tembak adalah elemen operasi dasar. Unit tembak sendiri terdiri dari pos komando, radar, 8 hingga 16 peluncur dan kendaraan pendukung. Baterai dapat mencegat hingga 8 target secara bersamaan.
Peluncur rudal Patriot diklaim dapat melacak target hingga 1 kilometer dari radar atau kendaraan pos komando.
Adapun radar Patriot diklaim mampu melacak pesawat jet tempur pada jarak 110 hingga 130 kilometer, pesawat pembom pada jarak 160 hingga 190 kilometer, rudal pada jarak 85 hingga 100 kilometer dan hulu ledak rudal di kisaran jarak 60 hingga 70 kilometer. 
Mengutip Miltary Today, rudal Patriot diklaim memiliki kemampuan menembak sasaran yang bergerak dengan kecepatan 8 kilometer per jam. Tak hanya itu, rudal Patriot mampu menyerang 36 target sekaligus dengan radar melacak pergerakan 125 target pada saat yang sama.
Dalam perkembangannya, rudal patriot sudah mengeluarkan berbagai varian seperti Patriot Advanced Capability (PAC) 2, PAC-3, Guidance Enhanced Missile (GEM-T), dan PAC-3 MSE.
Mengutip Missile Defence Advocacy, varian-varian tersebut mampu meningkatkan rudal patriot mempunyai manuver yang lebih luas melalui roket dengan ekor yang lebih besar sehingga diklaim mampu melumpuhkan rudal balistik dalam jumlah banyak.
PAC-2 dan 3 diklaim bisa melumpuhkan 100 target berbeda dan mampu mengendalikan 9 rudal secara bersamaan.
Rudal patriot digunakan oleh pasukan AS di Kuwait pada tahun 2003 saat terjadi konflik Irak. Rudal Patriot digunakan oleh lebih dari 13 negara seperti Jerman, Yunani, Israel, Jepang, Kuwait, Belanda, Arab Saudi, Korea Selatan, Qatar, dan Uni Emirat Arab serta Taiwan.
Kendati demikian kemampuan rudal atau sistem antirudal Patriot tak selalu sempurna. Beberapa waktu lalu, rudal patriot ini pernah diledek Rusia karena gagal melindungi kilang minyak Arab Saudi dari serangan drone dan rudal jelajah dari Yaman.
Belakangan, serangan rudal Iran juga mampu menembus pangkalan militer AS di Irak. Serangan itu dilancarkan Iran untuk membalas serangan Presiden AS Donald Trump yang membunuh Jenderal Iran Qaseem Soleimani. Trump mengklaim pihaknya memang tak menempatkan sistem antirudal Patriot andalan AS di Irak.
Rudal THAAD
Selain rudal patriot, Amerika Serikat juga memiliki alternatif lain yakni sistem rudal THAAD (Terminal High Altitude Area Defense). Sistem antirudal THAAD ini salah satunya dipasang di Korea Selatan untuk mengantisipasi serangan rudal Korea Utara.
Rudal THAAD memiliki kemampuan mencegat rudal musuh, yang datang pada ketinggian sekitar 40-50 kilometer. Atas dasar itu, rudal THAAD tidak cocok untuk mengejar jet tempur musuh, yang terbang pada ketinggian jauh lebih rendah.
Sistem pertahanan rudal berbasis darat ini dapat digunakan secara cepat, dengan mobilitas tinggi, dengan jangkauan pada rentang 200 km dan ketinggian hingga 150 km.
THAAD adalah sistem yang dapat dioperasikan dengan elemen-elemen Ballistic Missile Defence System (BMDS) lainnya dan dapat menerima isyarat dari Aegis, satelit, dan sensor eksternal lainnya, serta bekerja bersama dengan sistem Patriot PAC-3.
(dal/DAL)

Pentagon Batasi Akses Senjata Bagi Mahasiswa Militer Asing


Pentagon pada Jumat mengumumkan pembatasan baru akses senjata bagi mahasiswa militer asing di pangkalan Amerika Serikat serta sejumlah langkah lainnya setelah seorang personel Arab Saudi menewaskan tiga tentara AS di pangkalan udara Angkatan Laut Florida pada Desember lalu.
Penembakan Pensacola
Penembakan Pensacola 
"Kembali beraktivitas bukan berarti kembali pada urusan yang biasanya. Untuk selanjutnya kami akan memberlakukan sejumlah kebijakan dan prosedur keamanan baru," kata pejabat senior intelijen Pentagon, Garry Reid, melalui pernyataan.
Tiga pelaut AS tewas dan delapan lainnya terluka akibat serangan di Pangkalan Udara Angkatan Laut Pensacola. Wakil polisi menembak mati si pelaku, Letnan Dua Pasukan Udara Arab Saudi Mohammed Saeed Alshamrani.
Seusai peristiwa itu, militer AS melarang pilot Arab Saudi beroperasi dan membatasi sekitar 850 personel militer Arab Saudi yang sedang menjalani pelatihan di negara tersebut, sebagai bagian dari "standar keamanan" selama pihaknya meninjau ulang prosedur pemeriksaan.
Reid mengatakan melalui pernyataan bahwa semua departemen militer dapat melanjutkan pelatihan secara menyeluruh ketika prosedur baru diberlakukan.
Pekan depan Menteri Pertahanan Mark Esper akan mengunjungi pangkalan di Pencasola, Florida, yang menjadi lokasi penembakan. Pihaknya akan memberikan pengarahan singkat soal rencana perubahan dalam pemeriksaan dan keamanan, menurut Pentagon.(Asri Mayang Sari)

Rusia Sebut Iran Salah Tembak karena Gugup dengan Jet F-35 Amerika Serikat


Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menduga Iran melakukan kesalahan fatal menembak jatuh pesawat komersial Ukraina dengan rudal karena gugup setelah diprovokasi oleh jet tempur F-35 milik Amerika Serikat.
Jet F-35 Amerika Serikat
Jet F-35 Amerika Serikat 
Insiden itu terjadi ketika Iran tengah bersiaga untuk membalas serangan drone Amerika Serikat yang menewaskan jenderal mereka, Qasem Soleimani di Irak.
Pasukan Garda Revolusi Iran tak sengaja menembak pesawat itu dua kali dengan rudal hingga menewaskan seluruh 176 penumpang dan awak. "Ada informasi bahwa Iran sedang menunggu serangan lain dari AS, mereka tidak tahu dalam bentuk apa, tetapi ada setidaknya enam jet tempur F-35 di wilayah udara tepat di perbatasan Iran," kata Lavrov dikutip dari AFP, Sabtu (18/1).
Teheran sendiri mengakui kecelakaan itu terjadi karena human error. Lavrov pun memaklumi posisi Iran saat itu.
Dia menyatakan tidak ingin memihak pada siapapun, namun mengecam tindakan Washington membunuh perwira tinggi militer Iran Mayor Jenderal Qasem Soleimani.
Ia menyebut operasi AS membunuh Soleimani merusak dan mempertanyakan semua norma hukum Internasional yang pernah ada.
Meski demikian Lavrov mendesak Iran dan AS sama-sama menurunkan tensi ketegangan.
"Peningkatan ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat tidak akan membantu menyelesaikan krisis di kawasan Timur Tengah," katanya. Hubungan AS-Iran terus memanas setelah Washington meluncurkan serangan drone yang menewaskan jenderal Qasem Soleimani, di Irak pada 3 Januari lalu.
Serangan itu dikhawatirkan memicu perang terbuka antara AS dan Iran. Teheran bersumpah akan membalas kematian Soleimani dengan beberapa kali meluncurkan belasan roket dan rudal ke sejumlah basis militer dan kedutaan AS di Irak. Namun, hujan rudal dan roket itu meleset tanpa menyebabkan kerusakan dan korban yang berarti dari pihak AS. Terakhir kekhawatiran terjadi perang terbuka antara AS-Iran sedikit mereda setelah Presiden Donald Trump menyatakan mundur dari konflik. (khr/dea)

Rusia Kirim Lima Sistem Rudal S-400 ke India Tahun 2025


Rusia menyatakan lima sistem pertahanan rudal S-400 yang dipesan India akan dikirim pada tahun 2025 mendatang. Pengumuman ini muncul ketika Amerika Serikat (AS) sedang menekan New Delhi untuk membeli senjata pertahanan Washington ketimbang senjata Moskow.
Sistem Rudal S-400
Sistem Rudal S-400 
Wakil Duta Besar Rusia untuk India, Roman Babushkin, mengatakan dalam sebuah konferensi pers di New Delhi hari Jumat bahwa produksi lima sistem pertahanan rudal S-400 untuk New Delhi telah dimulai. Jadwal itu sesuai dengan kontrak senilai lebih dari USD5 miliar yang ditandatangani kedua pihak pada 2018.
"Kami akan memberikan 5 sistem pertahanan rudal S-400 (ke India) pada tahun 2025. Rusia memiliki salah satu sistem pertahanan terbaik di dunia dan akan melayani keamanan India dengan baik," kata Babushkin, seperti dikutip dari Sputniknews, Sabtu (18/1/2020).
Meskipun ada ancaman sanksi dari AS atas pembelian sistem rudal dari Rusia tersebut, India tetap melanjutkan kesepakatan kontrak. CEO Rostec State Corporation, Sergey Chemezov, pada November 2019 mengatakan Rusia akan memenuhi kontraknya karena telah menerima pembayaran uang muka pertama.
Kementerian Pertahanan India pada bulan Desember 2019 mengatakan bahwa mereka sedang bersiap untuk melanjutkan penerapan sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia pada tahun 2020.
Washington telah menekan New Delhi untuk mempertimbangkan platform senjata Amerika sebagai ganti S-400 Rusia. Menurut Washington memilih senjata pertahanan Washington akan meningkatkan tingkat interoperabilitas antara pasukan India dan AS.
Pada bulan Desember 2019, setelah India dan AS menandatangani dokumen Industrial Security Annex (ISA) selama dialog 2+2 kedua antara menteri luar negeri dan menteri pertahanan kedua negara di Washington. Dalam pertemuan itulah, seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS menyarankan India untuk membeli sistem senjata Amerika daripada S-400 Rusia. (Muhaimin)

Tegang dengan Iran, Amerika Serikat Kerahkan Jet Tempur F-15 ke Saudi


Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) mengerahkan skuadron pesawat jet tempur F-15E Strike Eagle ke Arab Saudi di tengah memanasnya ketegangan antara Amerika dengan Iran. Pesawat-pesawat tempur itu ditempatkan di Prince Sultan Air Base (Pangkalan Udara Pangeran Sultan).
Jet Tempur F-15 USAF
Jet Tempur F-15 USAF 
Jet-jet Skuadron Tempur Ekspedisi ke-494 itu hanya beberapa jam setelah serangan pesawat tak berawak AS di Baghdad yang menewaskan komandan Pasukan Quds Iran, Jenderal Qassem Soleimani, 3 Januari 2020. Pengerahan pesawat itu bagian dari penumpukan pasukan AS di wilayah tersebut untuk melawan Teheran.
Dijuluki "Mighty Black Panthers", skuadron pesawat tempur F-15E dikerahkan pada 4 Januari dari Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) Lakenheath. "Para krunya akan mengasah cakar kita bersama, bekerja dengan Angkatan Udara Kerajaan Saudi," kata komandan skuadron Letnan Kolonel Jaina Donberg, dalam sebuah pernyataan.
Jet-jet itu tiba ketika Pentagon mempercepat lebih banyak pasukan ke wilayah itu dalam menanggapi serangan terhadap Kedutaan Besar AS di Baghdad.
Satu-satunya skuadron tempur AS yang saat ini dikerahkan ke pangkalan yang berjarak sekitar 90 mil tenggara Riyadh, membawa kemampuan pencegahan dan pertahanan tambahan ke wilayah tersebut.
Menteri Pertahanan Mark Esper telah memberi wewenang pengerahan dua skuadron tempur, satu sayap udara, empat baterai sistem rudal Patriot dan sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) ke Kerajaan Arab Saudi untuk meningkatkan keamanan sejak musim gugur lalu setelah dua fasilitas minyak Saudi diserang rudal jelajah dan pesawat nirawak bersenjata.
Bulan lalu, Sayap Udara Ekspedisi ke-378 secara resmi diaktifkan di pangkalan itu, yang menurut pernyataan Angkatan Udara "tumbuh setiap hari". Pengerahan peralatan tempur Amerika ini menandai kembalinya pasukan Amerika di wilayah itu sebelum operasi dipindahkan ke Qatar sekitar 15 tahun yang lalu.
"Kami mengubah apa yang tadinya hanya sepetak di padang pasir menjadi lokasi operasi penuh," kata Kolonel Robert Raymond, kepala kelompok operasi sayap udara, seperti dikutip Stars and Stripes, Jumat (17/1/2020). (Muhaimin)

Amerika Serikat Kirim Pesawat Pendeteksi Nuklir ke Pangkalan Udara di Jepang


Amerika Serikat (AS) telah mengerahkan pesawat pendeteksi radiasi nuklir WC-135W ke salah satu pangkalan udara di Jepang. Begitu laporan situs pelacak penerbangan.
Pengiriman pesawat pendeteksi radiasi nuklir ini dipandang sebagai langkah yang bertujuan untuk meningkatkan pengawasan terhadap Korea Utara (Korut).
WC-135W
WC-135W 
"Pesawat WC-135W Constant Phoenix tiba di Pangkalan Udara Kadena di Okinawa Jepang," kata Aircraft Spots dalam postingannya di Twitter, tanpa merinci waktu kedatangan yang tepat seperti dilansir dari kantor berita Korea Selatan (Korsel) Yonhap, Jumat (17/1/2020).
Dijuluki sebagai "pengendus nuklir," WC-135W memainkan peran penting dalam mendeteksi kebocoran radioaktif setelah bencana nuklir Chernobyl di Uni Soviet pada tahun 1986.
Tidak jelas apakah tujuan penyebaran pesawat ini adalah untuk persinggahan sederhana atau untuk operasi.
Sebelumnya sebuah pesawat pengintai Cobra Ball RC-135S juga diketahui telah dikerahkan di Pangkalan Udara Kadena.
Negosiasi Pyongyang dengan Washington mengenai program nuklir Korea Utara terhenti dalam beberapa bulan terakhir, di mana Pyongyang menetapkan batas waktu akhir tahun bagi Washington untuk menawarkan konsesi terhadap masalah ini.
Amerika Serikat telah berjanji akan melonggarkan sanksi jika rezim Kim Jong-un melakukan denuklirisasi secara penuh. Namun, proposal seperti itu telah ditolak keras oleh Pyongyang.
Pyongyang telah memperingatkan itu bisa mengambil "jalan baru" jika negosiasi denuklirisasi gagal. Sementara itu, Gedung Putih juga mengancam akan menggunakan kekuatan militer dan ekonomi jika rezim Kim Jong-un nekat menguji coba rudal jarak jauh maupun bom nuklir.
Korea Utara telah melakukan serangkaian uji coba rudal jarak pendek dalam beberapa pekan terakhir. Sebelum liburan Natal, Kim Jong-un mengeluarkan ancaman samar terhadap AS, yakni akan memberikan "hadiah Natal" tak mengenakkan bagi Washington jika tak menawarkan konsesi sampai batas waktu akhir tahun ini yang sebentar lagi habis. (Berlianto)

Kapal Perang Amerika Serikat Berlayar Lintasi Selat Taiwan


Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan Sebuah kapal perang Amerika Serikat (AS) telah berlayar melalui Selat Taiwan. Ini adalah pelayaran pertama sejak Taiwan menggelar pemilu yang dimenangkan kembali oleh Tsai Ing-wen, presiden pro dengan kemerdekaan pulau itu dari China.
Kapal Perang Amerika Serikat
Kapal Perang Amerika Serikat  
"Kapal perang itu berada pada misi rutin", kata Kementerian Pertahanan Taiwan, saat kapal melintasi perairan yang memisahkan pulau indenpenden itu dari daratan China yang otoriter seperti dikutip dari Al Arabiya, Jumat (17/1/2020).
Selat Taiwan penuh dengan perangkat militer di kedua sisinya dan China memandang perlayaran seperti itu sebagai pelanggaran kedaulatannya.
AS dan banyak negara lain mengatakan Selat Taiwan adalah perairan internasional. Washington secara rutin melakukan apa yang disebutnya sebagai operasi "Kebebasan Navigasi" untuk menekankan hal tersebut.
Perlayaran itu dilakukan setelah Tsai Ing-wen memenangkan masa jabatan kedua dalam pemilu akhir pekan lalu dengan suara mayoritas yang meningkat.
Hasil ini dipandang sebagai teguran keras terhadap kampanye Beijing yang sedang berlangsung untuk mengisolasi pulau itu.
Kepemimpinan China tidak merahasiakan keinginannya untuk melihat Tsai bergolak karena dia dan partainya menolak untuk mengakui pandangan bahwa Taiwan adalah bagian dari "satu China".
Beijing menganggap pulau itu sebagai wilayahnya dan bersumpah akan merebutnya pada suatu hari, dengan paksa jika perlu, terutama jika menyatakan kemerdekaan.
China menyambut terpilihnya kembali Tsai Ing-wen dengan kemarahan. Beijing mengelurakan peringatan terhadap setiap langkah untuk mendorong pulau itu lebih dekat menuju kemerdekaan formal. (Berlianto)

Jenderal Amerika Serikat : Korea Utara Buat Rudal Baru Lebih Cepat


Korea Utara (Korut) membuat rudal baru, kemampuan baru, senjata baru lebih cepat dari siapa pun di planet ini dan mereka belajar dari kesalahannya saat membuat kemajuan dalam program misilnya. Hal itu dikatakan oleh jenderal nomor dua di Pentagon.
Rudal Korea Utara
Rudal Korea Utara 
Jenderal Angkatan Udara Amerika Serikat (AS), John Hyten, membuat komentar itu ketika pembicaraan antara Washington dan Pyongang mengenai program nuklir Korut terhenti dan Kim Jong-un mengisyaratkan bersiap untuk menguji lebih banyak rudal yang bisa menghantam AS.
"Jika kamu ingin melaju cepat dalam bisnis rudal kamu perlu menguji cepat, terbang cepat dan belajar cepat. Lihatlah Space X di negara ini. Ada beberapa kegagalan yang cukup spektakuler. Apakah mereka berhenti? Tidak," kata Wakil Ketua Staf Gabungan AS ini saat berbicara di Pusat Studi Strategis & Internasional di Washington.
"Itulah yang telah dilakukan Korea Utara dan Korea Utara telah membangun rudal baru, kemampuan baru, senjata baru lebih cepat dari siapa pun di planet ini dengan ekonomi terkuat ke-115 di dunia. Kecepatan itu sendiri adalah efisiensi," tambahnya seperti dikutip dari CNN, Sabtu (18/1/2020).
Pemerintahan Trump telah mengajak Korut untuk melanjutkan perundingan diplomatik setelah kedua negara menghentikan pembicaraan pada Oktober. Hal itu diungkapkan penasihat keamanan nasional Gedung Putih, Robert O'Brien, kepada Axios pada akhir pekan.
"Kami telah mengulurkan tangan kepada Korea Utara dan memberi tahu mereka bahwa kami ingin melanjutkan negosiasi di Stockholm yang terakhir dilakukan pada awal Oktober," kata O'Brien.
"Kami telah memberi tahu mereka, melalui berbagai saluran, bahwa kami ingin mengembalikan (negosiasi) itu ke jalurnya dan menerapkan komitmen Ketua Kim untuk denuklirisasi Semenanjung Korea," imbuhnya.
Pernyataan ini muncul setelah Pemimpin Korut, Kim Jong-un, pada awal bulan ini mengatakan tidak akan pernah ada denuklirisasi di Semenanjung Korea jika AS tetap dalam kebijakan bermusuhan terhadap negara itu, seperti dilapokrn kantor berita Korut KCNA.
Pada pertemuan para pejabat partai yang berkuasa, Kim Jong-un juga mengatakan keamanan jangka panjang negaranya akan dijamin dengan tetap waspada dan mengandalkan pencegah nuklir kuat yang mampu menahan ancaman nuklir dari AS, tulis KCNA.
KCNA merilis laporan di akhir Rapat Pleno ke-5 Komite Sentral ke-7 Partai Buruh Korea.
"DPRK akan terus mengembangkan senjata strategis yang diperlukan dan prasyarat untuk keamanan negara sampai AS memutar kembali kebijakan bermusuhan terhadap DPRK dan mekanisme menjaga perdamaian yang tahan lama dan tahan lama dibangun," kata Jong-un dalam pleno itu menggunakan akronim dari nama resmi Korut, Republik Rakyat Demokratik Korea.
Dalam sebuah indikasi bahwa Korut dapat segera melanjutkan pengujian senjata nuklir, Jong-un mengatakan negaranya tidak lagi merasa terikat oleh penghentian atas senjata nuklir dan pengujian rudal jarak jauh.
"Dunia akan menyaksikan senjata strategi baru dalam waktu dekat," kata Jong-un seperti dilaporkan KCNA.
Ancaman terbaru Kim Jong-un datang ketika para pejabat AS memantau Korut dengan cermat setelah janjinya pada bulan Desember untuk mengirimkan "hadiah Natal" ke AS.
Bahasa khusus - Korut menyebut peluncuran rudal balistik antarbenua (ICBM) pertama yang berhasil pada tahun 2017 sebagai "hadiah" - memicu spekulasi bahwa Pyongyang dapat melakukan sesuatu yang sama-sama provokatif, meskipun saat liburan Natal itu datang dan berakhir tanpa uji senjata.
Meski begitu, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan bahwa ia tetap optimis tentang masa depan diplomasi dan menggembar-gemborkan hubungannya dengan Kim Jong-un.
"Dia menyukaiku, aku menyukainya, kita rukun," katanya. "Dia benar-benar menandatangani perjanjian yang berbicara tentang denuklirisasi. Saya pikir dia orang yang suka kata-katanya, jadi kita akan mencari tahu," kata Trump awal bulan ini. (Berlianto)

China Miliki Kapal Perang Robot Baru yang Dinamai JARI


China baru saja meluncurkan kapal robot pembunuh baru. Menurut majalah industri pertahanan China, kapal yang diklaim dapat melakukan misi anti kapal selam dan anti kapal ini telah menjalani misi uji coba laut pertamanya.
Diberi nama JARI, kapal nirawak ini dikatakan sebagai kapal permukaan tak berawak (USV) pertama di dunia dengan persenjataan yang kuat. Kapal ini juga bisa memainkan berbagai peran seperti anti kapal selam, pertahanan udara dan pertempuran permukaan.
USV JARI
USV JARI China
Menurut sebuah laporan dalam edisi terbaru Ordnance Industry Science Technology, purwarupa kapal ini diluncurkan pada Agustus lalu dan baru-baru ini difoto selama uji coba laut. Namun laporan itu tidak memberikan rincian kapan atau di mana uji coba dilakukan.
Dilengkapi dengan radar array bertahap aktif dan sistem elektronik canggih lainnya mirip dengan yang ada di kapal perusak Aegis kelas Arleigh Burke Amerika Serikat (AS) atau penghancur rudal berpemandu Tipe 052D China. Kapal ini pun dijuluki "kapal perusak Aegis mini". Sistem sonarnya dapat melacak target bawah laut hingga 7 km.
Kapal dengan panjang 15 meter dan berbobot 20 ton sedang dikembangkan oleh China Shipbuilding Industry Corporation (CSIC) dan memiliki jangkauan sejauh 500 mil laut dan kecepatan tertinggi 42 knot.
Persenjataannya memberinya ruang untuk melakukan misi anti-kapal selam, pertahanan udara, dan anti-kapal. Drone ini memiliki meriam 30mm, rudal pertahanan udara jarak dekat, dua peluncur rudal darat-ke-udara serta anti-kapal kecil dan dua peluncur torpedo anti-kapal selam.
"USV JARI dapat dimuat ke kapal induk atau kapal serbu amfibi untuk memberikan kelompok serangan mereka dengan platform pengintaian dan serangan tambahan," bunyi laporan itu.
"Ketika teknologi telah dikembangkan, kapal-kapal ini bahkan akan dapat meluncurkan serangan wolfpack pada kapal permukaan musuh yang besar," sambung laporan itu seperti dikutip dari South China Morning Post, Sabtu (18/1/2020).
Serangan wolfpack merujuk kepada taktik serangan massal terhadap konvoi yang digunakan oleh kapal selam Jerman dan kapal selam Amerika Serikat (AS) terhadap kapal-kapal Jepang dalam Perang Dunia II.
Namun, menurut laporan itu, hambatan teknologi tetap ada. Hambatan itu termasuk penyebaran dan perbaikan, serta keselamatan navigasi, termasuk selama kondisi sulit di laut.
JARI pertama kali diperlihatkan pada tahun 2018 oleh pengembangnya di CSIC. Kemunculannya menarik perhatian internasional ketika mereka membawanya ke Pameran dan Konferensi Pertahanan Internasional di Abu Dhabi tahun lalu.
Banyak negara lain juga mengerjakan drone pembunuh karena berbiaya rendah, sangat mobile, tersembunyi dan dapat digunakan untuk melakukan misi berbahaya.
Angkatan Laut AS telah mengerahkan beberapa jenis USV untuk pekerjaan seperti berburu ranjau dan mendeteksi kapal selam. Kemampuan ini juga dimiliki pada dua kendaraan permukaan tak berawak berukuran besar, atau LUSV.
RUU pertahanan AS pada 2020 menganggarkan USD 400 juta untuk dua kapal tanpa awak yang panjangnya 200 hingga 300 kaki, dengan berat sekitar 2.000 ton, di bawah program penelitian dan pengembangan, dan Angkatan Laut AS meminta tambahan USD2,7 miliar untuk tambahan delapan kapal dalam lima tahun ke depan.
LUSV akan sebesar kapal fregat dan mampu melakukan berbagai misi tak berawak, dengan atau tanpa kapal permukaan berawak.
"(Kapal itu) akan mampu operasi semi-otonom atau sepenuhnya otonom, dengan operator in the loop (mengendalikan jarak jauh) atau on the loop (diaktifkan melalui otomatis)," terang Angkatan Laut AS. (Berlianto)

Apa Keunggulan Rudal Supersonik BrahMos yang Mau Dibeli Filipina?


Seperti diberitakan kemarin, Filipina akan menjadi pembeli pertama dua sistem rudal jelajah supersonik BrahMos India ketika kontrak akan diteken pada Mei 2020.
Menurut laporan Defense World, 14 Januari 2020, Menhan Filipina Delfin Lorenzana mengatakan berencana membeli BrahMos pada Desember kemarin setelah rudal tersebut akan dijual ke luar negeri.
Rudal Supersonik BrahMos
Rudal Supersonik BrahMos 
BrahMos adalah rudal jelajah, yang berarti dapat diarahkan ke target berbasis darat atau laut yang telah ditentukan sebelumnya, menurut Indian Express. Dengan kemampuan untuk mencapai kecepatan 2,8 kali suara atau Mach 2.8 (3.000 km per jam), BrahMos diklasifikasikan sebagai rudal jelajah supersonik. Versi yang lebih baru dalam pengembangan ditujukan untuk terbang dengan kecepatan lebih besar dari Mach 5 dan disebut rudal jelajah hipersonik. Selain mengurangi waktu reaksi musuh, kecepatan yang lebih tinggi juga secara substansial mengurangi kemungkinan rudal dicegat.
Nama BrahMos sendiri berasal dari akronim nama sungai Brahmaputra dan Moskva. BrahMos diproduksi oleh BrahMos Aerospace, sebuah perusahaan gabungan yang didirikan oleh DRDO dan Mashinostroyenia dari Rusia pada tahun 1998. Versi pertama rudal jelajah supersonik BrahMos masuk layanan Angkatan Laut India pada tahun 2005, dipasang pada kapal perang India, INS Rajput.
Menurut situs pembuat Brahmos, BrahMos Aerospace, BrahMos adalah rudal dua tahap dengan mesin berbahan bakar padat pada tahap pelepasan pertama yang bisa membawa rudal dengan kecepatan supersonik. Kemudian tahap kedua menggunakan mesin berbahan bakar cair yang membawa hulu ledak sampai kecepatan Mach 3. Bukan hanya kecepatan supersonik, rudal BrahMos juga dilengkapi dengan fitur kendali dan teknologi siluman untuk menyulitkannya dideteksi musuh. Selain itu rudal ini memiliki kemampuan terbang rendah yang sulit dideteksi radar.
Saat ini BrahMos bisa diluncurkan dengan dua sistem peluncuran: sistem peluncuran pada kapal dan sistem peluncuran berbasis darat. Rudal BrahMos akan terus dikembangkan untuk bisa diluncurkan dari kapal selam dan pesawat.
India telah lama menginginkan rudal jelajah BrahMos menjadi produk ekspor senjata India, yang berpotensi membuat India sebagai produsen senjata utama dunia. Menurut Sputnik, India mengincar pasar Asia Tenggara dan Timur Tengah.
Sebelumnya Vietnam dikabarkan tertarik membeli rudal BrahMos, namun Vietnam terlanjur membeli sistem rudal Russian Bastion dengan rudal Onyx. Akhirnya, Filipina adalah negara pertama yang akan membeli rudal BrahMos setelah menteri pertahanannya menyatakan tertarik dengan rudal produksi India tersebut.

Radar Acak