Radar TNI AD

Radar TNI AL

Radar Terbaru

Helikopter EC 120 Colibri TNI AU Pantau Work From Home di Atas Kota Malang

radarmiliter.com - Satu unit Helikopter EC 120 Colibri TNI AU dengan tail number 1205 yang tengah bertugas di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Kamis (2/4) melaksanakan pemantauan dari udara terhadap kondisi beberapa pusat keramaian di Kota Malang setelah pemberlakuan work from home (WFH), akibat merebaknya virus corona 19. Helikopter EC 120 Colibri TNI AU tersebut take off sekaligus landing di Skadron Udara 21 Lanud Abd Saleh.
TNI AU Pantau Work From Home di Atas Kota Malang
TNI AU Pantau Work From Home di Atas Kota Malang 
Pemantauan Helikopter EC 120 Colibri TNI AU yang home basenya di Skadron Udara 7 Lanud Suryadarma, Subang, Jawa Barat tersebut, dipiloti Kapten Pnb Dodik “Rudus” Ardiana, S.ST (Han)., dan copilot Letnan Satu Pnb Firman “Khansa” Septia Hadi, S.ST (Han)., dengan kameramen anggota Penerangan Lanud Abd Saleh dilaksanakan pukul 10.00-10.30 Wib. Tujuannya memantau dari udara kondisi tempat-tempat umum di kota Malang seperti Jalan Tol Malang-Surabaya, Terminal Arjosari, Jalan Soekarno Hatta, Stasiun Malang, Stadion Gajayana, Pasar Gadang, Rumah Sakit Saiful Anwar, Alun-alun dan fasilitas kota lainnya, apakah masyarakat sudah melaksanakan social distancing dan WFH.
Dari pantauan terlihat, kondisi Kota Malang yang di ada pemukiman jalanannya cenderung lengang, jalan tol juga lengang, namun di jalan-jalan protokol di kota masih terlihat adanya motor dan mobil yang lalu-lalang, demikian pula di jalan di seputaran pasar masih ada aktifitas masyarakat. Di komplek perkantoran baik militer, sipil maupun swasta terlihat cenderung lengang, terlihat pula kantor yang personelnya tengah berjemur secara bersamaan di halaman.(Pen Lanud Abd)

Pemerintah Jerman Setujui Lisensi TKMS untuk Memasok Kapal Selam ke Mesir dan Korvet ke Israel

radarmiliter.com - Pemerintah Jerman telah menyetujui lisensi Thyssenkrupp Marine Systems untuk memasok kapal selam ke Mesir dan empat kapal perang ke Israel. Menteri Urusan Ekonomi Peter Altmaier (CDU) mengumumkan keputusan Dewan Keamanan Federal pada hari Selasa kepada Komite Ekonomi Bundestag dalam sebuah surat yang disediakan untuk Badan Pers Jerman.
Korvet Rudal kelas SA'AR 6
Korvet Rudal kelas SA'AR 6 
ThyssenKrupp Marine Systems akan mengirimkan satu kapal selam Tipe 209 ke Mesir dan empat korvet Sa'ar 6 ke angkatan laut Israel menurut Menteri Ekonomi Peter Altmaier. Tahun lalu, Mesir adalah pelanggan asing terbaik ketiga dari produsen Jerman yang telah memesan persenjataan senilai 802 juta euro.
Kontrak untuk pengiriman dua kapal selam pertama kelas 209/1400mod ke Mesir ditandatangani pada 2011. Pada 2015, Mesir memutuskan untuk mengambil opsi untuk dua unit tambahan versi terbaru dari kapal selam kelas 209/1400mod.
Kontrak untuk pengiriman empat korvet rudal kelas SA'AR 6 telah ditandatangani pada Mei 2015 dengan Thyssenkrupp Marine Systems sebagai kontraktor umum. Kapal-kapal memiliki desain tersembunyi dari korvet rudal dengan solusi yang dibuat khusus dan berbagai teknologi baru di dalamnya.(paijojr)

Ukraina Ujicoba Sistem Rudal Pesisir Neptunus

radarmiliter.com - Sistem rudal anti-kapal Neptunus milik Luch Design Bureau BUMN Ukraina diuji coba di Laut Hitam pada 2 April.
"Uji keberhasilan kedua sistem rudal jelajah darat Neptunus dilakukan pada 2 April di lokasi uji Alibey di Laut Hitam. Selama penembakan Neptunus, karakteristik taktis dan teknis, khususnya jangkauan dan akurasi dari target angkatan laut diperiksa. Target permukaan terkena pada kisaran yang ditentukan," seperti dinyatakan oleh Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina pada Jumat.
Ukraina Ujicoba Sistem Rudal Pesisir Neptunus
Ukraina Ujicoba Sistem Rudal Pesisir Neptunus 
"Jangkauan operasional Neptunus selama pengujian mencapai 100 km," dalam postingan Sekretaris NSDC Oleksiy Danilov di akun Facebook-nya.
Neptunus menggunakan rudal jelajah P-360 terbaru. Rudal P-360 memiliki berat 870 kg, hulu ledak berbobot 150 kg dan jangkauannya hingga 300 km. Kecepatan rudal sekitar 900 km/ jam dan ketinggiannya dari 3 hingga 10 meter, menurut media Ukraina.
Dimungkinkan untuk meluncurkan 24 rudal secara bersamaan dengan tembakan penuh 6 sistem rudal. Jeda antara peluncuran adalah dari 3 hingga 5 detik. Sistem ini dapat digunakan hingga 25 km dari garis pantai. Waktu yang dibutuhkan untuk penyebarannya adalah 15 menit.
Rudal Neptunus dirancang untuk menghancurkan kapal musuh dengan tonase hingga 5.000 ton serta target darat. Sistem itu dikembangkan atas dasar rudal Kh-35 Soviet.(paijojr)

Opini: Dipersimpangan Jalan

radarmiliter.com - Belum lagi reda dan lega soal diguntingnya proses pengadaan jet tempur Sukhoi Su-35 karena tekanan Paman Sam, muncul lagi berita soal rencana pembatalan order 3 kapal selam Nagapasa Class batch 2. Lho kok bisa. Padahal sudah dievaluasi secara komprehensif sebelum dilanjut ke jilid dua.
Kali ini yang mengambil inisiatif untuk meninjau ulang proyek prestisius ini adalah kita sendiri. Seperti kita ketahui Indonesia sembilan tahun yang lalu melakukan pola kerjasama pembuatan 3 kapal selam U209-1400 dengan Korea Selatan melalui transfer teknologi.
KRI Alugoro - 405 (Nagapasa Class)
KRI Alugoro - 405 (Nagapasa Class) 
Seri asli U209-1200 adalah kapal selam buatan Jerman. Turki dan Korea Selatan sukses mendapatkan ilmu transfer teknologi dari Jerman. Kapal selam lawas kita KRI Cakra-401 dan KRI Nanggala-402 adalah jenis U209-1200 asli buatan Jerman tahun 1980.
Nah ketiga kapal selam Nagapasa Class itu sudah selesai pembuatannya. Dan April 2019 kembali dilakukan sign kerjasama pembuatan 3 kapal selam batch 2 bernilai US$ 1,2 milyar. Sekaligus melanjutkan program transfer teknologi. Lalu muncul berita dari media militer luar negeri dari Jane's.
Apa pasal. Cerita yang berkembang proyek yang juga dikenal dengan Changbogo Class ini tidak memuaskan User dari sisi performance dan endurance. Salah satu keandalan kapal selam adalah sunyi dan senyap. Nah tingkat senyap ini yang menjadi soal besar Nagapasa Class. Kapal selam kok berisik sih, begitulah bunyi keluhannya. Mudah terdeteksi.
Proyek pembangunan 3 kapal selam tahap I itu bernilai US$ 1 milyar. Indonesia mengirim seratusan insinyur ke Korea Selatan. Kita buat infrastruktur galangan kapal selam modern di PT PAL Surabaya. KRI Nagapasa-403 dan KRI Ardadedali-404 dibuat di Korsel. Kapal selam ketiga KRI Alugoro-405 dibangun di PT PAL. Selesai.
Semua berjalan dengan baik. Lalu mengapa tiba-tiba muncul kontroversi. Pertanyaannya kalau memang bermasalah di jilid I mengapa proyek jilid dua dilanjut. Dua Menhan sebelumnya yaitu Purnomo Yusgiantoro dan Ryamizard Ryacudu seirama jalannya dan melanjutkan proyek bergengsi ini. Lalu mengapa saat ini muncul evaluasi. Bagaimana dengan kualitas evaluasi sebelum ditandatangani kontrak batch 2.
Pembatalan kontrak tentu berimplikasi luas. Mulai dari soal denda, ilmu transfer teknologi belum selesai, investasi infrastruktur kapal selam sia-sia. Belum lagi ketersinggungan diplomatik. Juga kekecewaan sang guru yang sudah bertahun-tahun berinteraksi dengan muridnya. Murid pun pasti kecewa.
Pandangan kita mari cermati dulu secara seksama dan bijaksana. Ajak semua pemangku kepentingan bicara termasuk tim evaluasi terdahulu. Pihak Korea Selatan juga diajak bicara. Dan Korea Selatan juga punya hak publikasi untuk menjelaskan duduk perkaranya. Semua untuk obyektivitas penilaian.
Catatan kita ada tiga proyek strategis industri pertahanan kita yang bekerjasama dengan pihak luar. Dan ketiganya bermasalah. Proyek pengembangan jet tempur KFX/IFX dengan Korea Selatan macet di dua pertiga perjalanan. Proyek kapal perang PKR 10514 kerjasama alih teknologi dengan Belanda tersendat hanya sampai produksi dua kapal saja. Lalu Nagapasa jilid 2 tiba-tiba disapu mendung pekat.
Sesungguhnya jika ketiga proyek industri pertahanan (Inhan) yang bergengsi ini bisa diselesaikan, dalam lima tahun kedepan kita sudah menguasai teknologinya. Pertanyaannya mungkinkah Korsel berkhianat alias tidak mengajarkan transfer teknologi yang berkualitas. Atau Belanda yang setengah hati menuangkan ilmu PKR nya untuk ilmuwan kita.
Atau ada pihak-pihak yang tidak senang dengan program strategis ini. Jika kita sukses dengan tahapan transfer teknologi di ketiga proyek besar ini, luar biasa dampaknya. Kita sudah bisa mensuplai kebutuhan alutsista strategis meski komponen produksinya tetap harus kerjasama hitung-hitungan bisnis dengan pihak luar.
Solusi yang bisa disampaikan dalam pandangan kita teruskan saja Nagapasa jilid 2. Sejalan dengan itu buka lagi proyek kerjasama pembangunan kapal selam dengan Turki. Bukankah kita masih butuh minimal 12 kapal selam dalam program penguatan militer kita.
Sekarang sudah ada 5 kapal selam. Ditambah dengan kontrak 3 kapal selam Nagapasa Class batch 2. Baru ada 8 kapal selam. Kebutuhan 4 kapal selam bisa kerjasama dengan Turki yang juga satu perguruan U209. Jadi transfer teknologi dengan Korsel berlanjut dan dengan Turki dibuka lagi program yang sama. Bukankah materi kuliah dasarnya relatif sama, U209. (Arien Pan/Jagarin Pane) *
*) Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
Sumber : FP TSM

Korea Selatan Sebarkan Baterai Rudal Patriot ke Pangkalan Udara Cheongju

radarmiliter.com - Angkatan Udara Republik Korea (RoKAF) telah mengerahkan baterai rudal pencegat Patriot Advanced Capability-3 (PAC-3) ke Pangkalan Udara Cheongju. Pangkalan ini menampung jet tempur generasi kelima F-35 Joint Strike Fighters dan diyakini berada dalam jangkauan berbagai sistem rudal balistik jarak pendek (SRBM) Korea Utara yang baru dikembangkan.
Baterai Rudal Patriot ke Pangkalan Udara Cheongju
Baterai Rudal Patriot ke Pangkalan Udara Cheongju 
Para pejabat RoKAF memberi tahu Jane bahwa penempatan itu dilakukan pada 1 April lalu. Namun tidak terkait dengan pengungkapan Pyongyang pada tahun 2019 tentang empat sistem sistem rudal balistik jarak pendek baru, yang mencakup SRBM yang disebut KN-23 (penyebutan oleh Korea Selatan/ Pasukan Amerika Serikat di Korea Selatan). Sebuah SRBM yang mirip dengan beberapa rudal yang digunakan oleh US Army Tactical Missile System (ATACMS), 'sistem roket berpemandu berkaliber berkaliber besar' dan 'peluncur roket multipel super besar'.(paijojr)

Militer Rusia Akan Menerima 40 ribu Senapan Serbu AK-12 Pada Tahun 2020

radarmiliter.com - Unit infantri dan pengintai Angkatan Darat Rusia terus menerima senapan serbu AK-12, menurut kantor pers Kementerian Pertahanan Rusia pada 3 April 2020. Sesuai dengan pesanan kemenhan Rusia, kontraktor pertahanan akan menyerahkan 40.000 unit senapan serbu AK-12 kepada militer Rusia pada tahun 2020.
Senapan Serbu AK-12
Senapan Serbu AK-12  
Pada tahun 2020, satu unit besar senjata gabungan Distrik Militer Timur dan Distrik Militer Barat telah menerima senapan serbu dari jenis itu, kantor pers menambahkan "Senapan serbu AK-12 berkaliber 5,45 mm adalah senjata individu yang dirancang untuk prajurit dari Pasukan gabungan Angkatan Bersenjata Rusia dan unit lainnya," kata kantor pers.
"Beberapa solusi desain telah diterapkan untuk memastikan efektivitas tempur yang lebih tinggi, keserbagunaan dan akurasi tembakan," kantor pers menambahkan.
Perusahaan Rusia Kalashnikov Concern mengatakan Kementerian Pertahanan Rusia sejauh ini adalah satu-satunya pelanggan AK-12 yang secara bertahap menggantikan AK-74M. AK-12 dirancang untuk pakaian tempur Ratnik sebagai elemen dari calon perlengkapan pasukan Rusia.
Pada 6 September 2016, dilaporkan bahwa Kalashnikov Concern memperkenalkan model produksi akhir AK-12, yang berasal dari AK-400 (Base Prototype) yang telah terbukti dan telah menggantikan model prototipe sebelumnya. Ada dua model dasar yang diperkenalkan, AK-12 dengan kaliber 5,45 dan AK-15 dengan kaliber 7,62.
AK-12 telah menyelesaikan pengujian operasional dan lulus uji lapangan militer pada Juni 2017. Baik AK-12 dan AK-15 menyelesaikan pengujian pada Desember 2017. Pada Januari 2018 diumumkan bahwa AK-12 dan AK-15 telah diadopsi oleh militer Rusia.
Senapan serbu Kalashnikov AK-12 adalah senjata api selektif yang dioperasikan dengan gas yang menggunakan aksi tipe tradisional dengan piston gas long-stroke dan penguncian baut putar sebagai senapan serbu standar Kalashnikov. Tuas pemilih tembak terletak di atas pegangan pistol, di kedua sisi senapan. AK-12 memiliki tiga mode penembakan: tembakan tunggal, tembakan tiga tembakan, dan tembakan otomatis.(paijojr)


India Bersiap Mengirimkan Kapal Selam Pertama Untuk AL Myanmar

radarmiliter.com - New Delhi sedang mempersiapkan untuk mengirimkan kapal selam diesel-listrik kelas-Kilo yang beroperasi dengan Angkatan Laut India sebagai INS Sindhuvir ke Angkatan Laut Myanmar.
INS Sindhuvir
INS Sindhuvir 
Transfer ini juga akan mencakup pelatihan operasional dan pemeliharaan untuk Angkatan Laut Myanmar, yang akan mengoperasikan kapal selam untuk pertama kalinya. Namun, tidak jelas apakah ini merupakan sewa atau transfer permanen.
Sindhuvir ditugaskan ke Angkatan Laut India pada tahun 1988 dan dalam pelayanan sebagai bagian dari skuadron kapal selam ke-11, yang berbasis di Vishakhapatnam. Kapal menyelesaikan reparasi di Hindustan Shipyard Ltd. milik BUMN India dari Agustus 2017 hingga Februari 2020.(paijojr)

Estonia Menerima 128 Rudal Anti-Tank Javelin Buatan Raytheon

radarmiliter.com - Amerika Serikat mengirim 128 rudal anti-tank Javelin buatan Raytheon ke Estonia pada Februari, rilis Kedutaan Besar AS di Tallinn pada Kamis.
FGM-148 Javelin
FGM-148 Javelin  
"Pada 15 Februari, Amerika Serikat mengirimkan 128 rudal anti-tank Javelin ke Kementerian Pertahanan Estonia dan Pasukan Pertahanan Estonia sebagai bagian dari kontrak yang lebih besar yang ditandatangani oleh Pusat Investasi Pertahanan Estonia dan Departemen Pertahanan Amerika Serikat," lanjut Kedutaan.
Sistem rudal anti-tank Javelin adalah bagian dari upaya kerja sama yang sedang berlangsung yang melibatkan pembiayaan bersama dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dan APBN Estonia.
Pasukan Pertahanan Estonia (EDF) dan Komando Eropa-AS terus bekerja bersama untuk mencapai tujuan strategis bersama dan menjamin stabilitas di kawasan itu, kata kedutaan. AS telah memberi Estonia lebih dari US $ 100 juta dalam kerja sama pertahanan bersama dalam beberapa tahun terakhir. Dan mengambil bagian dalam lebih dari 150 keterlibatan militer  antara anggota militer kedua negara setiap tahun.
FGM-148 Javelin adalah sebuah peluru kendali/ rudal anti-tank portable fire-and-forget buatan Amerika Serikat yang menggunakan panduan inframerah otomatis. Hulu ledak HEAT-nya mampu mengalahkan tank-tank modern dengan menyerang mereka dari atas, pada titik di mana armor tank yang paling tipis. Javelin pertama dikerahkan dengan unit Angkatan Darat Amerika Serikat pada tahun 1996.(paijojr)

Boeing Tingkatkan Kemampuan KC-46 Pegasus Untuk Pengisian Bahan Bakar Secara Otomatis

radarmiliter.com - Boeing dan Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) sedang bersiap untuk meningkatkan kemampuan pesawat tanker KC-46 Pegasus untuk melakukan pengisian bahan bakar secara otomatis.
"Angkatan Udara dan Boeing akan membuat KC-46 identik dengan keunggulan pengisian bahan bakar udara. Kemajuan ini akan menguntungkan KC-46 dengan mempersiapkannya untuk kemampuan di masa depan seperti pengisian bahan bakar mandiri dan mereka juga akan mendapat manfaat dari program lain untuk tahun-tahun mendatang. Investasi yang terus kami lakukan di KC-46 dengan jelas menunjukkan komitmen Boeing terhadap Pegasus sebagai standar semua pesawat pengisian bahan bakar masa depan," ujar Leanne Caret, Presiden dan CEO Pertahanan Boeing, Space & Security pada Kamis.
Boeing KC-46 Pegasus
Boeing KC-46 Pegasus 
"Melalui kemitraan yang erat dengan USAF, kami mencapai kesepakatan baru yang akan meningkatkan teknologi sistem penglihatan jarak jauh KC-46," kicau tweet resmi perusahaan.
Upgrade akan memungkinkan KC-46 untuk mengisi bahan bakar pesawat lain tanpa operator manusia yang secara langsung mengendalikan operasi. Pesawat ini sudah dilengkapi dengan beberapa fitur yang diperlukan dari sistem tersebut, termasuk sistem penglihatan jarak jauh berbasis kamera untuk memvisualisasikan pesawat penerima dan boom fly-by-wire dengan kontrol penerbangan digital.
Boeing telah mengisyaratkan upgrade semacam itu selama hampir tiga tahun dari saat ini. Ketika mengumumkan peluncuran program pengembangan lanjutan KC-46A pada kuartal pertama tahun 2018, Mike Gibbons, manajer program perusahaan, mengatakan kepada FlightGlobal : "Boeing mengharapkan untuk mengevaluasi sensor tambahan, seperti LIDAR (Light Detecting And Ranging) untuk menambah sistem penglihatan jarak jauh dan GPS diferensial untuk menentukan posisi antara boom pengisian bahan bakar dan pesawat penerima."
Pada 30 Maret, USAF melaporkan Kategori 1 - kebocoran bahan bakar berlebihan - dengan KC-46. Dalam sebuah pernyataan, Angkatan Udara mengatakan bahwa mereka "pertama kali mengidentifikasi kebocoran bahan bakar yang berlebihan pada Juli 2019 setelah tes pengisian bahan bakar udara."
Sementara itu pada hari Kamis, seorang pejabat Pentagon mengatakan kepada media bahwa USAF akan melepaskan pembayaran senilai $ 882 juta kepada Boeing yang ditahan karena cacat pada KC-46 - kamera dan sistem tampilan pesawat tidak bekerja dengan baik dalam kondisi pencahayaan tertentu. Angkatan Udara mengatakan bahwa pembayaran itu bukan untuk desain ulang, tetapi untuk menyediakan likuiditas Boeing selama krisis uang tunai yang disebabkan oleh pandemi COVID-19.
Pada tanggal 2 April, kedua pihak mencapai kesepakatan - Boeing akan memastikan bahwa operator yang duduk di depan komputer dapat melakukan manuver boom pengisian bahan bakar di bagian belakang pesawat sehingga dapat terhubung ke pesawat penerima.
Wakil presiden dan manajer program Boeing KC-46 Jamie Burgess mengatakan dalam jumpa pers bahwa timnya akan sepenuhnya mendesain ulang setiap komponen: kamera, sistem tampilan dan sistem komputer yang mendasarinya. Selain pengenalan LIDAR, sistem monokromatik pesawat akan dikonversi ke tampilan penuh warna yang sama dengan yang digunakan untuk menghindari tabrakan pada mobil otonom yang akan mengukur jarak dari ujung boom ke pesawat pengisian bahan bakar.
Tes penerbangan diharapkan dimulai pada 2022, kata Burgess.(paijojr)

Destroyer Jepang Berlubang Setelah Tabrakan Dengan Kapal Nelayan China

radarmiliter.com - Kapal perusak Angkatan Laut Jepang, Shimakaze mengalami lubang satu meter di sisi kapal setelah tabrakan dengan kapal penangkap ikan Tiongkok yang awaknya menderita luka-luka. Insiden tabrakan itu terjadi sekitar pukul 19:30 pada hari Senin di perairan Laut Cina Timur di sebelah timur Zhoushan, Provinsi Zhejiang Tiongkok Timur.
JDS Shimakaze DDG-172
JDS Shimakaze DDG-172 
"Tabrakan itu terjadi di perairan pesisir Tiongkok. Sisi Tiongkok telah menyatakan keprihatinannya kepada pihak Jepang atas kapal perang Pasukan Bela Diri Jepang yang berlayar di perairan terkait dan membahayakan keselamatan kapal Tiongkok," Hua Chunying, juru bicara Kementerian Luar Negeri China.
Penyebab insiden itu sedang diselidiki. "China dan Jepang sekarang dalam komunikasi atas insiden itu. Kami berharap pihak Jepang dapat secara aktif bekerja sama dan menemukan penyebab insiden itu sesegera mungkin untuk mencegah insiden semacam ini terjadi lagi," tambah Hua.
Destroyer tersebut mulai ditugaskan pada tahun 1988. Shimakaze memiliki panjang 150 meter dan lebar 16,4 meter, dan memiliki berat 5.900 ton.
Kementerian Pertahanan Jepang mengatakan bahwa kapal itu sedang berpatroli setelah berangkat dari Sasebo di Prefektur Nagasaki pada Minggu pagi.
Pada hari Senin, sebuah kapal pesiar Portugis menabrak salah satu kapal pengawas pantai Guaicamacuto-Class Angkatan Laut Venezuela di Laut Karibia yang akhirnya menenggelamkan kapal.(paijojr)

Radar Acak

Radar TNI AU