![]() |
Pew Research Centre |
Sebuah survei yang dilakukan Pew Research Centre menunjukkan bahwa kelompok ISIS dibenci di Indonesia, negara dengan mayoritas penduduknya Muslim. Survei pada akhir 2015 itu muncul setelah kelompok radikal itu mengaku bertanggung jawab atas serangan teror bom di kawasan Sarinah, Jalan MH. Thamrin, Jakarta.
Tak hanya di Indonesia, hasil survei itu menunjukkan negara-negara Muslim di seluruh dunia juga membenci kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Menurut grafik statisik hasil survei yang dilansir The Independent, hanya empat persen orang Indonesia yang menyatakan “pandangan positif” tentang kelompok itu. Angka itu sama persis dengan hasil survei di Arab Saudi.
Dukungan tertinggi terhadap ISIS, menurut survei, terlihat di Suriah, negara kacau yang sebagian wilayahnya dikuasai kelompok radikal tersebut. Penelitian juga menunjukkan Nigeria, Tunisia dan Malaysia memiliki dukungan yang relatif luas. Sedangkan di Iran dan Libanon, tidak ada yang mendukung ISIS atau hasilnya nol persen.
Menanggapi penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Centre, Direktur Council for Arab-British Understanding (Caabu), Chris Doyle, mengatakan kepada The Independent bahwa hasil survei itu tidak mengherankan.
”Saya pikir itu menekankan bahwa ISIS dipandang sebagai ancaman bagi masyarakat di seluruh dunia Arab-Muslim yang telah menjadi korban utama mereka setelah semuanya, seperti yang terjadi dengan kasus Al-Qaeda,” katanya, yang dikutip Sabtu (16/1/2016).
”Sifat brutal pemerintahan mereka, cara mereka memperlakukan perempuan, semua pemenggalan, tidak disenangi orang-orang,” lanjut Doyle. ”(Responden) juga tahu bahwa dengan tindakan mereka, ISIS mencoba untuk mengubah dunia non-Muslim terhadap mereka.”
Hari Kamis lalu, untuk pertama kalinya ISIS mengklaim melakukan serangan di kawasan Sarinah, Jakarta. Tujuh orang, yaitu lima pelaku, satu warga Indonesia dan satu lagi warga asing tewas dalam serangan tersebut. Selain itu beberapa warga asing juga menjadi korban luka.
Kepolisian Indonesia menyatakan, Bahrun Naim, diduga menjadi dalang serangan teror bom di kawasan Sarinah. Bahrun yang saat ini berada di Raqqa, Suriah, disebut polisi berambisi menjadi pemimpin ISIS Asia Tenggara.
Alasan ISIS tak Subur di Indonesia
Direktur Institut Analisis Kebijakan Konflik Sidney Jones mengatakan alasan ISIS tidak tumbuh subur di Indonesia adalah kondisi politik yang cukup stabil. Pemerintah Indonesia juga bukanlah pemerintah yang mudah menerapakan kebijakan represif.
Dilansir dari the atlantic bukanlah hal yang aneh jika keberadaan ISIS hampir tidak terlihat. Karena dari 200 juta penduduk Indonesia hanya sebagian kecil saja yang berangkat ke Suriah. "Indonesia tidak memiliki pemerintahan yang represif, tidah sedang dijajah, kondisi politik yang stabil, dan muslim disana bukan minoritas yang teraniaya," ujar dia.
Menurut Jones bayak warga negara yang bergabung dengan ISIS karena negaranya cenderung memiliki politik represif seperti Arab Saudi dengan 2.500 orang (pengikut ISIS), negara yang kondisi politiknya tidak stabil seperti Tujisia dengan 6.000 orang dan negara yang muslimnya minoritas dan didiskriminasi seperti Rusia dengan 2.400 orang. Meskipun Indonesia pernah memiliki kelompok radikal tetapi hanya melakukan gerakan di tingkat lokal saja.
Selain itu demokrasi di Indonesia mampu mengkondisikan masyarakat dengan paham radikal menerapkan hukum Islamnya sendiri tanpa harus menggunakan tindakan kekerasan. Jones mengakui bahwa beberapa kelompok memanfaatkan kondisi tersebut untuj melakukan kekerasan tetapi masih dalam batas tertentu.
Sumber : http://international.sindonews.com/read/1077543/40/biang-bom-thamrin-isis-dibenci-di-indonesia-1452904188