Australia akan Terima Rudal AMRAAM Terbaru

Irvan Dwi P 14:00
Loading...
Rudal AMRAAM
Rudal AMRAAM

Australia kemungkinan akan menjadi pengguna internasional pertama dari Raytheon AIM-120D, yang merupakan varian rudal Advanced Medium Range Air-to-Air Missile (AMRAAM) AS yang terbaru, dan memiliki jangkauan yang lebih jauh dari varian sebelumnya. Permintaan Australia untuk rudal tersebut baru-baru ini disetujui oleh Departemen Luar Negeri AS, sebagaimana yang diberitahukan oleh Badan Kerjasama Pertahanan Keamanan AS (DSCA) kepada Kongres AS.
Kementerian Pertahanan Australia berencana untuk mengakuisisi 450 rudal tersebut untuk memperlengkapi pesawat F/A-18 Hornet, Super Hornet dan Growler serta F-35A Angkatan Udara Australia (RAAF). Akuisisi ini kemungkinan bernilai sekitar US $ 1,22 miliar. Menurut DSCA, penjualan tersebut akan memberikan RAAF tambahan kemampuan intersep udara-ke-udara dan meningkatkan interoperabilitas dengan Angkatan Udara AS.
AU Australia saat ini mengoperasikan pesawat Hornet dan Super Hornet dengan rudal jarak menengah AIM-120C-7 yang merupakan rudal berpemandu radar untuk engagement diluar jarak visual (beyond visual range - BVR) dan rudal berpemandu infra merah AIM-132 ASRAAM untuk engagement jarak pendek. Australia berencana untuk membekali pesawat F-35A-nya dengan AIM-120D (BVR) dan rudal udara-ke-udara jarak pendek AIM-9X-II.
AIM-120D adalah senjata udara-ke-udara terbaru dalam arsenal AS yang memiliki perbaikan kemampuan secara signifikan dibandingkan versi AMRAAM sebelumnya, termasuk jangkauan yang lebih jauh, navigasi yang dibantu GPS, data link dua arah dan kinerja kinematik yang meningkat. Meskipun beberapa dari 36 operator AMRAAM internasional telah meminta akses untuk rudal varian baru itu, Washington sejauh ini menolak penjualan rudal tersebut, dan menganggap senjata tersebut akan berlebihan terhadap lawan potensial mereka. "AIM-120D merupakan peningkatan yang signifikan dalam kemampuan senjata dan teknologi udara-ke-udara dimedan perang yang akan memberikan pesawat tempur AS suatu keunggulan yang tak tertandingi di arena udara-ke-udara." menurut Ron Krebs, direktur program AMRAAM untuk Raytheon Missile Systems.
Dalam engagement jarak jauh AMRAAM mengarah menuju sasaran dengan menggunakan pemandu inertial (GPS ditambahkan ke model D) dan menerima informasi target yang diperbarui melalui data link dari pesawat peluncurnya. Ia beralih ke mode terminal untuk mengarahkan dirinya ketika sasaran berada dalam jangkauan set radar monopulse-nya sendiri. AIM-120 juga memiliki modus pemandu "home-on-jam" untuk melawan jamming elektronik dengan memanfaatkan noise jamming yang dipancarkan lawan berbalik menjadi pemandu pasif bagi rudal AMRAAM, mirip cara kerja anti-radiation missile. Ketika mengintersep, proximity fuze radar aktifnya akan meledakkan hulu ledak untuk menghancurkan sasaran. Pada jarak yang lebih dekat, AMRAAM mampu memandu dirinya sendiri dengan menggunakan radarnya sendiri, sehingga membebaskan pesawat peluncur untuk menghadapi sasaran lainnya.
Sebagai jenis rudal udara-ke-udara terbaru dalam inventori AS, AIM-120D telah mencapai initial operational service dengan F/A-18 AL AS pada tahun 2015. Angkatan Udara AS juga berencana untuk mengunakan rudal tersebut dengan pesawat F-16, F-15, F-22 dan F-35, setelah selesainya evaluasi operasional dan pengujian.
Sumber : http://defense-update.com/
Loading...

Share this

Berlangganan via email

Related Posts

Previous
Next Post »

- Berkomentarlah yang sopan dan bijak sesuai isi artikel/ berita;
- Dilarang berkomentar SPAM, SARA, Politik, Provokasi dsb
EmoticonEmoticon

Radar Acak