Story : OV-10 Bronco, Kuda Perang Tua Terakhir di Perang Teluk

Irvan Dwi P 23:00 Add Comment
OV-10 Bronco
OV-10 Bronco 

Saat Saddam Hussein menolak ultimatum Koalisi untuk mundur, babak baru operasi Desert Storm pun dimulai. Di balik hingar-bingar teknologi maju seperti misi tempur (terpublikasi) pertama F-117 Nighthawk, sejumlah veteran perang tua pun diterjunkan. Selain A-7 Corsair II, OV-10 Bronco milik Korps Marinir AS pun digelar ke sana.
Awalnya para perencana militer AS sempat mempertanyakan apakah memang bijak untuk menggelar OV-10, mengingat di medan gurun yang terbuka, OV-10 yang terbangnya lambat dengan mudah dapat diidentifikasi oleh musuh. Tidak ada pepohonan yang menghalangi line of sight dari lawan di darat, dan pasukan darat Irak memiliki senjata anti pesawat portabel seperti rudal panggul SA-7.
Namun Korps Marinir AS juga tidak punya pilihan lain. Pesawat observasi dan FAC mereka tinggal OV-10, yang saat itu menjadi yang terbaik karena memiliki perangkat sensor yang canggih. Tidak ada lagi pesawat dalam inventori Korps Marinir yang mampu melakukan tugas serupa. Pada bulan Agustus 1990 VMO-2 diperintahkan untuk menggelar pesawatnya ke Arab Saudi. Satu detasemen berkekuatan enam pesawat ditugaskan untuk ‘pindah’ ke Kuwait. Jarak yang terlihat dekat di peta sebenarnya jaraknya 10.000 mil dari Camp Pendleton ke Arab Saudi!
Selama satu bulan para penerbang OV-10 Korps Marinir tersebut melakukan ferry flight yang melintasi berbagai Negara demi mencapai tujuan akhirnya: Pangkalan Angkatan Laut King Abdul Azis. Rekor penerbangan yang dicatatkan VMO-2 dengan pesawat propellernya ini ternyata dianggap tidak praktis, sehingga sisa skadron akhirnya diberangkatkan dengan kapal induk yang akhirnya sandar di Spanyol dan kemudian dilanjutkan terbang feri ke Arab Saudi. Pada bulan Januari 1991 VMO-1 menyusul kemudian tiba di King Abdul Azis, dan sampai berakhirnya perang, berpangkalan di sana bersama AV-8 Harrier II milik Korps Marinir.
OV-10 milik Korps Marinir AS ditugaskan untuk menjalankan misi FAC (A) (Forward Air Controller - Airborne), TAC (Tactical Air Coordination), dan MSR (Multi Sensor Reconaissance). Pilot-pilot VMO-2 mengendalikan akurasi tembakan artileri musuh, mengorganisasikan koordinasi pesawat CAS Sekutu, mengendalikan koordinat tembakan NGS (Naval Gunfire Support) dari USS Wisconsin (BB 64).
Langsung jadi korban
Malang tidak dapat ditolak, OV-10 dari VMO-2 menjadi korban pesawat Koalisi pertama yang ditembak jatuh oleh kekuatan musuh. Pada pukul 05.45 tanggal 18 Januari 1991 atau hari kedua Operasi Desert Storm, Komandan Skadron Letkol Clifford Acree menjalankan misi tempur keduanya di Irak. Ia lepas landas dengan OV-10A dengan pengamat CWO Guy “Great White” Hunter, Jr. Terbang parallel dengan garis perbatasan, mata yang awas dari kedua awak OV-10 tersebut menangkap sekumpulan peluncur rudal FROG yang sedang mempersiapkan peluncuran rudal taktis tersebut ke arah Arab Saudi.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih baik, Letkol Acree mengarahkan pesawatnya untuk terbang melingkari posisi musuh. Di bawah sana, rupa-rupanya pasukan Irak sudah mempersiapkan sambutan untuk tamu yang tidak diundang. Penembak SA-7 di bawah tanpa perlu terburu-buru segera memperoleh kuncian atas OV-10 yang terbang pelan, dan dalam sekejap jejak asap putih meliuk dari arah bawah. Letkol Acree melihat rudal yang meluncur tersebut, tetapi ia tidak bisa apa-apa; Kuda liarnya itu terlalu lamban.
Mempersiapkan dirinya untuk impak, kedua awak OV-10 tersebut merasakan goncangan keras ketika rudal menghantam mesin sebelah kiri. Pecahan logam panas dengan segera mencelat kemana-mana, termasuk menghantam kokpit dan meretakkan kacanya. Letkol Acree yang kehilangan kontrol atas pesawatnya berusaha mengendalikan pesawat yang bergetar keras, tanpa harapan. Ia berusaha mengontak CWO Hunter di kursi belakang, tapi sistem radio dan interkom rusak akibat kena pecahan rudal. Parahnya lagi, Hunter sendiri ternyata pingsan di kursi belakang dan tidak bangun walaupun Letkol Acree berulang kali meneriakkan namanya.
Tak punya pilihan dan pesawat mulai menukik spiral, Letkol Acree dengan cepat menarik tuas kursi pelontar. Kedua pilot Marinir tersebut merasakan betotan motor roket yang melesat ke atas, CWO Hunter terlebih dahulu; sedetik kemudian Letkol Acree menyusul.
Tergantung pada parasut di tengah pagi yang dingin dan sunyi, seribu pikiran berkecamuk di pikiran Letkol Acree. Ia adalah perwira dengan pangkat tertinggi kedua yang ditembak jatuh di Irak. Lapar, ia belum sempat makan karena sudah harus sorti di subuh hari. Ia merasakan rembesan dingin. Darah. Sepotong logam menancap di lehernya, nyaris mengenai pembuluh darah utama Acree.
Namun yang dikuatirkannya bukan itu. Akankah pasukan Irak menaati Konvensi Jenewa? Apakah saya akan selamat? Bagaimana mereka akan memperlakukan perwira seperti saya? Letkol Acree tidak perlu menanti lama untuk menemukan jawabannya. Sang Komandan skadron sudah ditunggu di bawah oleh pasukan Irak yang menembaknya jatuh, dan tak punya pilihan, menyerah di bawah todongan senjata musuh.
Pasukan Irak tidak segan menyiksanya. Mengetahui Letkol Acree adalah seorang perwira tinggi, pasukan Irak yang menginterogasinya menggunakan kekerasan fisik setelah Letkol Acree tidak mau buka mulut. CWO Hunter yang ditahan secara terpisah juga menerima nasib serupa. Setelah dipukuli dalam sesi interogasi, pilot Marinir itu akan diseret ke sel sempit tanpa lampu, hanya bisa menunggu sesi penyiksaan berikutnya. Tidak ada yang merawat luka-lukanya. Baru seminggu kemudian ada dokter yang memeriksa dan akhirnya mencabut serpihn logam yang menancap di leher LetKol Acree. Tanpa pembiusan terlebih dahulu.
Tak lama kemudian, Letkol Acree dipindahkan ke penjara militer lain, kali ini dipisahkan dengan CWO Hunter. Ia bertemu dan ditempatkan di dalam sel yang terletak di antara sel Lettu John Peters yang Tornado GR1nya ditembak jatuh di atas pangkalan udara Al-Rumaylah dan Mayor Jeffrey Tice yang F-16nya tertembak jatuh di atas Baghdad. Ketiganya diperlakukan baik, diberi makan yang cukup dan tidak disiksa, namun lima hari kemudian dipindahkan lagi ke pos komando intelijen Irak di Baghdad.
Di lokasi baru ini mereka kembali diperlakukan buruk, tidak diberi makan, selnya sangat dingin, dan sesi interogasi yang panjang. Selama nyaris sebulan Letkol Acree menjalani siksaan tersebut, fisik dan mental. Para penyiksanya mengancam untuk memotong seluruh jari Acree untuk setiap pertanyaan yang tak terjawab, dan mengirim setiap potongannya ke rumah Acree di Amerika.
Siksaannya baru berakhir ketika Baghdad dibombardir oleh F-117A. Posko tempat Acree dan pilot lain ditahan sebenarnya sudah masuk dalam daftar target, tetapi di detik terakhir F-117A diperintahkan menyerang sasaran lain. Letkol Acree akhirnya dievakuasi dan dibawa ke komplek penjara Abu Ghraib, dimana akhirnya ia dipertemukan kembali dengan CWO Hunter. Setelah gencatan senjata, Letkol Acree dan rekan-rekannya diserahterimakan ke Palang Merah, dimana mereka diobati dan kemudian dipulangkan ke negaranya masing-masing. (Aryo Nugroho)

Menhan Resmikan Kapal PKR-2 KRI I Gusti Ngurah Rai-332 Hasil Kerjasama PAL Indonesia - Damen Belanda

Irvan Dwi P 21:00 Add Comment
Kapal PKR-2 KRI I Gusti Ngurah Rai-332
Kapal PKR-2 KRI I Gusti Ngurah Rai-332 

Dalam rangka untuk mewujudkan kekuatan pokok minimal atau Minimum Essential Force (MEF) dan membangun kekuatan TNI AL menuju world class navy, Menhan RI Ryamizard Ryacudu dan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo selaku wakil pemerintah Indonesia menyaksikan serah terima Kapal Perusak Kawal Rudal Kedua (PKR-2), di galangan kapal PT PAL Surabaya, Jawa Timur, Senin (30/10). Kapal PKR-2 ini merupakan hasil kerjasama Foto bersama Serah terima Kapal PKR2 Belanda dengan PT PAL Indonesia (Persero) melalui proses alih teknologi atau Transfer of Technology (ToT).
Kapal berteknologi canggih ini akan memperkuat jajaran TNI AL berdasarkan pada pertimbangan taktis dan strategis untuk menjaga dan melindungi wilayah kedaulatan NKRI serta melaksanakan tugas-tugas pertahanan baik Operasi Militer Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
Dalam kesempatan tersebut Menhan berharap keberadaan Kapal PKR-2 ini dapat menjadi kebanggaan TNI AL khususnya serta TNI dan bangsa Indonesia pada umumnya. Dengan hadirnya kapal PKR-2 ini diharapkan dapat dioperasionalkan secara optimal termasuk dalam mengatur sistem pemeliharaan dan perawatannya sebagai pertanggungjawaban kita kepada rakyat Indonesia.
Sekilas tentang Kapal PKR-2
Pembangunan Kapal PKR dengan program ToT ini menyerap kurang lebih 200 personel PT PAL Indonesia (Persero) dari berbagai disiplin ilmu dimana 75 orang diantaranya telah mendapat pelatihan di Damen Schelde-Vlisingen Belanda. Kapal perang atas air yang pertama kali dibangun di Indonesia ini dibangun dengan menggunakan sistem pembangunan “Moduler System”.
Sistem pembangunan PKR ke-2 ini mengusung “One Team One Goal” yaitu dua galangan dari dua negara bersatu padu untuk menerobos semua tantangan dan rintangan, menjadi sebuah potensi kesuksesan guna terwujudnya produk yang handal dan berkualitas.
Kapal ini memiliki panjang 105.11 meter, lebar 14.2 meter dengan kecepatan 28 knot dan dapat belayar sampai 5000 nm dengan ketahanan berlayar sampai 20 hari. Kapal ini juga dilengkapi dengan persenjataan modern yang terintegrasi dalam sistem Sensor Weapon Control (Sewaco).
Selain itu desain stealth yang dimiliki yakni low radar cross section, low infrared signature, low noise signature menjadikan kapal PKR sulit terdeteksi oleh radar kapal lain. Kapal PKR ini juga mampu melakukan peperangan permukaan laut, udara, bawah air serta elektronika.

Kapal Selam Nuklir HMS Vigilant Milik Royal Navy Kena Skandal

Irvan Dwi P 19:00 Add Comment
HMS Vigilant Milik Royal Navy
HMS Vigilant Milik Royal Navy 

Pembaca mungkin ingat, beberapa minggu lalu admin pernah menurunkan kasus skandal asmara terlarang yang melibatkan komandan kapal selam HMS Vigilant dengan salah seorang staf wanita perwira urusan persenjataan. Padahal kapal selam aset strategis nuklir tersebut sedang dalam perjalanan menuju Amerika Serikat untuk mengambil muatan rudal nuklir Trident yang terbaru.
Nah, sesampainya di Amerika Serikat, ternyata awak kapal selam tersebut justru semakin bersemangat untuk menciptakan skandal lainnya. Para awak kapal selam tersebut kedapatan berpesta narkoba saat tiba di Amerika Serikat. Kelakuan tak terpuji tersebut terungkap ketika para awak HMS Vigilant yang saat itu tengah sandar di Pangkalan Kapal Selam AS di Kings Bay, Georgia diperintahkan untuk menjalani tes darah untuk mendeteksi narkoba pada September lalu.
Dari tes darah tersebut, ketahuan bahwa banyak sekali awak kapal selam yang mengkonsumsi narkoba dalam serangkaian pesta liar di hotel-hotel di sekitar Florida selama mereka menginap menunggu HMS Vigilant dipersenjatai di Kings Bay. Yang lebih memalukan lagi, sejumlah awak kapal selam itu dilaporkan menyewa jasa prostitusi, membayar dan kemudian mencuri kembali uang yang sudah mereka bayarkan itu.
Kasus ini bocor ke permukaan setelah perempuan yang disewa tersebut melapor ke Kepolisian setempat, yang menyebabkan penegak hukum AS tersebut menyelidiki para kelasi tersebut yang memicu insiden internasional. Di depan polisi, para kelasi tersebut berbohong dan mengatakan mereka adalah awak kapal selam HMS Valiant, kapal selam yang sudah pensiun lebih dari 20 tahun yang lalu.
Sebanyak Sembilan orang kelasi dites positif kandungan narkoba di dalam darah dan urinnya dengan terbukti mengonsumsi kokain. Sebagai akibatnya, sanksi tegas berupa pemecatan dari dinas Angkatan Laut Inggris langsung dihadiahkan kepada awak kapal selam yang terlibat. Media-media Inggris pun setengah mengejek dengan menyebutkan HMS Vigilant sebagai HMS 'Sex and Cocaine' saking bobroknya moral awaknya.
Sebagai akibat dari skandal internasional lintas negara ini, Menteri Pertahanan Inggris Michael Fallon marah besar kepada First Sea Lord atau Kepala Staf AL Inggris Laksamana Sir Philip Jones. Sang Menteri memerintahkan diadakannya tes narkoba untuk seluruh pelaut AL Inggris, baik di darat maupun permukaan untuk mencegah insiden memalukan seperti ini terulang lagi. Kita tunggu saja seberapa efektif perubahan tersebut dapat dilakukan untuk AL Inggris yang diterpa prahara dana, moral, dan kesiapan armada. (Aryo Nugroho)

KSAU : TNI AU Terus Bangun Kekuatan Persenjataan

Irvan Dwi P 18:00 Add Comment
Pesawat Tempur F-16
Pesawat Tempur F-16 

Kepala Staf TNI AU, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, matra udara TNI itu terus membangun serta memodernisasi sistem kesenjataannya.
"Dua dokumen strategis yang telah kami sepakati, yaitu Postur TNI Angkatan Udara 2005-2024 dan Program Kekuatan Pokok Minimum, hendaknya menjadi pedoman dalam setiap perencanaan maupun pelaksanaan program TNI AU," kata dia, di Markas Besar TNI AU Cilangkap, Jakarta Timur, Senin.
Dia memimpin Rapat Evaluasi Pelaksanaan Program Kerja dan Anggaran TNI Angkatan Udara TA 2017 sampai dengan akhir Triwulan III,
Keterangan pers Dinas Penerangan TNI AU, diterima di Jakarta, Senin, menyatakan, Wakil Kepala Staf TNI AU, Marsekal Madya TNI Hadiyan Sumintaatmadja, dan sejumlah pimpinan TNI AU juga hadir.
Ke depan, kata Tjahjanto, kebijakan TNI AU tetap mengarah pada peningkatan kesiapan operasional tugas di bidang pertahanan, menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah udara yuridiksi nasional sesuai ketentuan hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi.
"Perencanaan strategis TNI AU harus diarahkan pada sasaran yang realistis," ujarnya.
Di bidang percepatan reformasi birokrasi, kata dia, TNI AU harus dapat menyiapkan kekuatan pokok minimum yang mampu mendukung pelaksanaan tugas TNI AU baik dalam tugas operasi militer untuk perang maupun tugas operasi militer selain perang.

Anggaran Militernya Naik, Malaysia Fokus Pada Pengadaan, Pemeliharaan, dan Perbatasan

Irvan Dwi P 17:00 Add Comment
Paratroopers Malaysia
Paratroopers Malaysia 

Sama dengan tren kenaikan anggaran pertahanan negara-negara ASEAN, Malaysia pun menaikkan anggaran pertahanannya untuk tahun depan. Tercatat Malaysia mengalokasikan anggaran pertahanan sebesar Ringgit Malaysia (MYR) 15,86 Miliar atau naik 5,3 persen dari anggaran pertahanan tahun berjalan. Jika dipatok dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau persentase belanja pemerintah, angka ini sebenarnya tidak jauh beda dengan tahun 2017, malah turun sedikit.
Dibandingkan dengan Indonesia, anggaran militer Malaysia yang kalau dirupiahkan sekitar 51 Trilyun ini memang hanya setengahnya dari anggaran militer Indonesia, namun begitu, 70% anggaran militer Indonesia memang habis untuk belanja gaji pegawai dan prajurit, dibandingkan dengan Malaysia yang memiliki lebih sedikit prajurit.
Malaysia masih merasakan imbas pelemahan ekonomi global yang berdampak pada kemampuan pemerintah Malaysia memperoleh devisa dan pendapatan dari ekspor komoditas. Puncak kejayaan anggaran pertahanan Malaysia yang terjadi pada 2015 nampaknya masih akan sulit tercapai dalam waktu dekat.
Menurut Panglima Tentera Darat Malaysia Jenderal Tan Sri Zulkiple Kassim, sebagian anggaran akan difokuskan untuk meningkatkan kemampuan dan menambah peralatan bagi pasukan komando GGK (Grup Gerak Khas) serta menambah pos-pos pengawasan perbatasan di Sabah dan Sarawak yang berlokasi di Kalimantan.
Sebanyak MYR 250 Juta juga dialokasikan kepada komando khusus Sabah Timur, ESSCOM (Eastern Sabah Security Command) yang dibentuk untuk menanggulangi ancaman separatisme dari Sulu dan sekitarnya. Dana ini akan digunakan untuk memperkuat pertahanan dan juga kesejahteraan wilayah Sabah Timur, khususnya di wilayah perairan untuk menangkal penyusupan dan mencegah pemberontakan Lahad Datu terulang.
Sementara di sektor maritim, Panglima Tentera Laut Diraja Malaysia Laksamana Tan Sri Ahmad Kamarulzaman Ahmad Badaruddin mengatakan anggaran yang dialokasikan untuk TLDM akan digunakan untuk membeli sensor dan persenjataan bagi kapal perang pesisir (LCS) yang sedang dibangun oleh galangan kapal Malaysia, serta meneruskan visi penyederhanaan armada kapal perang TLDM.
Di sektor udara, Tentera Udara Diraja Malaysia berencana akan menghidupkan kembali MiG-29N Fulcrum yang telah purna usia pakainya, diremajakan agar bisa digunakan kembali untuk memperkuat dan menjaga wilayah udara. Di sektor pengawasan kekuatan maritim, ada kebutuhan untuk mengadakan empat unit pesawat patroli maritim, yang kemungkinan akan dijatuhkan pada P-8A Poseidon. (Aryo Nugroho)

Pesawat Pembom Siluman B-2 Spirit AS Tiba di Wilayah Pasifik Barat yang Dirahasiakan

Irvan Dwi P 15:00 Add Comment
Pembom Siluman B-2 Spirit AS
Pembom Siluman B-2 Spirit AS  

Pentagon telah mengerahkan pembom siluman B-2 yang bisa membawa senjata nuklir ke wilayah yang dirahasiakan di Pasifik barat. Pengerahan pesawat pembom ini dilakukan jelang kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke wilayah itu minggu depan.
Rencana penerbangan pesawat pembom itu belum diumumkan oleh Komando Strategis AS (STRATCOM) atau pun Gedung Putih, meskipun berbagai pangkalan AS berada di kawasan ini termasuk di Korea Selatan (Korsel) dan Jepang. Kesemuanya masuk ke dalam daftar penerbangan jarak jauh untuk memasok logistik.
Seperti dilansir Sputnik dari Japan Times, Senin (30/10/2017), dokumentasi terakhir menyebutkan sebuah pesawat B-2 mengunjungi daerah itu selama tur unjuk kekuatan Pentagon pada 2013 lalu di Semenanjung Korea.
Terbang ke wilayah Pasifik dari home base-nya di Pangkalan Angkatan Udara Whiteman, Missouri, selama akhir pekan, pesawat B-2 akan menempuh jarak lebih dari 6.000 mil. Pesawat ini punya kemampuan untuk mengisi bahan bakar di tengah penerbangan, sehingga memungkinkan pesawat tersebut untuk mengirimkan senjata nuklir dimanapun di planet ini
STRATCOM meremehkan overflight pengebom tersebut, yang menyatakan bahwa misi keliling dunia tersebut rutin dilakukan. STRATCOM mengatakan tengah melakukan pengenalan pesawat dengan basis udara dan operasi dalam perintah kombatan geografis yang berbeda, yang memungkinkan mereka mempertahankan tingkat kesiapan yang kemampuan yang tinggi.
Pernyataan STRATCOM tersebut juga termasuk ucapan yang dimaksudkan untuk menghilangkan ketakutan sekutu regional AS, Jepang dan Korsel, jelang kunjungan Trump. Hal itu sekaligus menunjukkan bahwa kunjungan B-2 harus dianggap sebagai demonstrasi nyata yang menunjukkan komitmen terhadap sekutu AS dan meningkatkan keamanan regional.
Selama akhir pekan, Menteri Pertahanan AS James Mattis menuduh Korea Utara (Korut) terlibat dalam kegiatan "penjahat". Ia pun berjanji bahwa Washington dan sekutunya tidak akan pernah menerima Pyongyang sebagai negara yang memiliki kemampuan senjata nuklir.
"Saya tidak bisa membayangkan sebuah kondisi di mana Amerika Serikat akan menerima Korea Utara sebagai negara yang memiliki tenaga nuklir," kata Mattis.
"Korea Utara telah mempercepat ancaman yang ditimbulkannya kepada negara-negara tetangganya dan dunia melalui program rudal dan nuklirnya yang tidak sah dan tidak perlu," ujarnya, menambahkan bahwa perkembangan terakhir termasuk klaim ledakan bom hidrogen pada bulan September telah menciptakan "urgensi baru" untuk kawasan ini. (Berlianto)

FC-31 Falcon Hawk, Akankah Dilirik Bila Proyek Kerjasama Pesawat Tempur KFX/IFX Korea Selatan - Indonesia Berhenti Ditengah Jalan?

Irvan Dwi P 13:00 Add Comment
FC-31 Falcon Hawk
FC-31 Falcon Hawk 

Punya nilai prestis dan untuk pengadannya membutuhkan waktu lama serta biaya sangat besar, menjadi ciri khas dari proses pembelian jet tempur baru. Lepas dari momen pengadaan Sukhoi Su-35 yang penuh liku dan kini kabarnya tinggal menanti momen penandatanganan kontrak pembelian, Indonesia disisi lain terus mematangkan pengembangan teknologi jet tempur generasi 4.5 KFX/IFX bersama Korea Selatan.
Jelas bukan perkara mudah untuk mewujudkan KFX/IFX, tantangan muncul dari mulai pendanaan sampai ganjalan lisensi teknologi dari Amerika Serikat. Meski status proyek KFX/IFX masih terus berjalan, baru-baru ini situs ainonline.com (27/10/2017) menyebut bahwa proyek kerjasama KFX/IFX bersama Korea Selatan telah berakhir dan yang mengejutkan dalam artikel berjudul “Chinese Fighter Developments Revealed” yang ditulis Reuben F. Johnson menyatakan bahwa sumber internal China telah mengklaim bahwa Indonesia merupakan pasar yang potensial dan serius untuk program jet tempur stealth FC-31.
Tentu saja kabar tersebut belum bisa diuji kebenarannya, namun bisa dipastikan cepat atau lambat Indonesia toh perlu menyiapkan kehadiran jet tempur generasi 4.5 dan 5. China sendiri untuk proyek FC-31 memang membuka peluang kerja sama pengembangan dengan negara lain, yang sejauh ini respon positif sudah datang dari Pakistan. Negeri sahabat China ini dikabarkan berniat memesan 40-50 unit FC-31, yang tentunya diikuti dengan proses ToT (Transfer of Technology) untuk industri Pakistan.
Walau dari segi kualitas kerap dicibir, proyek FC-31 terasa lebih realistis, pasalnya FC-31 yang digadang sebagai lawan tanding untuk Lockheed Martin F-35 Ligtning II yang statusnya sudah berwujud prototipe dan telah berhasil diterbangkan. Sebelum FC-31, China memang sudah menuai sukses dengan mengoperasikan jet tempur stealth Chengdu J-20.
Nah, yang jadi pertanyaan, seperti apakah sosok FC-31? Resminya jet tempur stealth ini punya label Shenyang J-31, kode F-31 tak lain adalah versi ekspor dari J-31. Jet tempur ini dirancang dan diproduksi oleh Shenyang Aircraft Corporation. Oleh manufakturnya J-31 didapuk sebagai Fifth Generation Multi-Purpose Medium Fighter. Dalam jagad pecinta alutsista, J-31 atau FC-31 lebih dikenal dengan sebutan “Gyrfalcon” atau “Falcon Hawk.”
J-31 diduga dikembangkan sejak pertengahan tahun 2008. Tidak ada yang tahu pasti kapan pesawat ini mulai dikembangkan, namun, foto tentang prototipe pertama pesawat ini yang diberi nomor identifikasi model F-60 mencuat di internet pada bulan September 2011.
Fakta tentang kehadiran jet tempur J-31 kemudian mulai sedikit demi sedikit terkuak melalui berbagai foto dan video yang beredar di internet. Prototipe pesawat tempur ini melaksanakan sejumlah tes sebelum mengudara untuk pertama kali pada tahun 2012. Tes tersebut diantaranya tes high speed taxiing yakni melakukan taxi run, gerakan sebelum lepas landas, dengan kecepatan tinggi. Prototipe pesawat tempur ini kemudian melaksanakan “maiden flight” atau penerbangan perdana pada 31 Oktober 2012. Prototipe yang melaksanakan penerbangan pesawat dengan nomor 31001.
J-31 baru resmi diluncurkan pada ajang Zhuhai Airshow 2014, dan FC-31 ditawarkan China untuk negara-negara yang tidak dapat dapat memiliki jet tempur sekelas F-35. Sebagai dapur pacu, J-31 disokong dua mesin RD-93 buatan Rusia. Belakangan China juga telah memasok mesin yang setara dengan RD-93, yakni Guizhou WS-13 yang tak lain copy-an dari RD-93.
Dari aspek persenjataan, J-31 atau FC-31 uniknya tak dilengkapi kanon internal. Meski begitu bekal senjata FC-31 cukup mampu menggetarkan lawan. Dengan penyimpanan senjata di weapon bay, FC-31 dapat membawa muatan dengan konfigurasi persenjataan seberat 8 ton. Dalam konfigurasi pertempuran udara ke udara, FC-31 dapat membawa 10 rudal dengan kombinasi 4 rudal udara ke udara jarak menengah SD-10A, dan 6 rudal udara ke udara jarak pendek PL-9 yang dapat dibawa pada 6 hardpoint di luar internal weapon bay.
Sergey Kornev selaku Kepala Departemen Ekspor Rosoboronexport pada Zhuhai AirShow 2014 menyebut bahwa FC-31 adalah program yang ambisius tapi sangat nyata, terutama mengingat biaya akuisisi F-35 yang sangat tinggi dan beberapa masih ada masalah dengan perkembangannya, maka FC-31 bisa menjadi kuda hitam untuk kebutuhan hadirnya jet tempur berkemampuan stealth untuk negara-negara berkembang.
Mungkinkah FC-31 akan jadi pijakan jet tempur TNI AU di masa depan? Jika Indonesia butuh deterens power di tengah hegemoni jet tempur buatan AS yang dimiliki negara-negara tetangga, maka mengakuisisi produk jet tempur buatan Rusia jadi pilihan tepat sebagai kekuatan penggetar. Namun terkhusus untuk berbagi ilmu tentang stealth dan proyek kolaborasi di sekitarnya, maka belum tentu Rusia mau. Sementara China dengan FC-31 boleh jadi benar-benar membuka peluang kerja sama produksi dan pengembangan, seperti halnya yang telah dibuktikan antara kerja sama pertahanan antara China dan Pakistan. (Bayu Pamungkas)
Spesifikasi J-31/FC-31 Gyrfalcon :
  • Crew: one
  • Length: 17,3 meter
  • Wingspan: 11,5 meter
  • Height: 4,8 meter
  • Max takeoff weight: 28.000 kg
  • Powerplant: 2 × RD-93 afterburning turbofans, 85 kN (19,000 lbf) thrust each
  • Maximum speed: Mach 2.2
  • Combat range: 1.250 km on internal fuel, atau 2.000 km dengan external tanks

Kondisi Pesawat Tempur Hawk Mk. 108 TUDM Malaysia Sekarang Tambah Baik

Irvan Dwi P 11:00 Add Comment
Pesawat Tempur Hawk Mk. 108 TUDM
Pesawat Tempur Hawk Mk. 108 TUDM 

Tentera Udara Diraja Malaysia (TUDM) akan meningkatkan semua pesawat tempur Hawk Mk.108 milik pasukan keamanan udara secara bertahap untuk memastikan bahwa semua pesawat berada dalam kondisi baik.
Panglima TUDM, Tan Sri Affendi Buang, mengatakan bahwa masalah tersebut dilakukan saat penyelidikan masalah teknis dalam rangka untuk mengetahui penyebab pesawat tempur Hawk Mk, 108 jatuh dan menyebabkan gugurnya dua pilot TUDM di Chukai, Terengganu pada pertengahan Juni lalu.
"Penyebab insiden tersebut adalah masalah teknis di sayap pesawat. Sebagai tindak lanjut kami telah membuat pengaturan untuk dua pesawat Hawk Mk.108 bulan lalu.
"Pesawat sudah teruji dan kondisinya bagus. Kami akan melakukan perawatan semua jenis pesawat yang sama secara bertahap, "katanya saat ditemui wartawan sele­pas Maj­­lis Penganugerahan Sayap Pe­ner­bangan Kuartermaster­ Udara di Pangkalan Udara Kuantan kemarin.
Pada tanggal 15 Juni, dua pilot TUDM, Mayor Mohd. Hasri Zahari, 31, dan Mayor Mohd. Yazmi Mohamed Yusof, 39, ditemukan meninggal dunia pada pukul 14.30, sekitar 54 kilometer dari Pangkalan TUDM Kuantan setelah pesawat Hawk Mk.108 mereka jatuh di daerah hutan Chukai.
Sementara itu, Affendi mengatakan, pangkalan angkatan udara yang sebelumnya ditempatkan di Pangkalan Udara Kuala Lumpur akan dipindahkan ke Kuantan Air Base tahun depan.
Dia mengatakan transfer tersebut juga akan melibatkan 200 petugas dan anggota kantor pusat.
"Dalam hal ini, kami sekarang melakukan perbaikan di Pangkalan Udara Kuantan dalam persiapan. Kami membangun gedung baru dan tempat tinggal.
"Diharapkan akan selesai pada akhir tahun sehingga berencana memindahkan Markas Besar Angkatan Udara 1 bisa dilakukan tahun depan," katanya.(Herru Sustiana)

Mengenal Brügger & Thomet MP9, Pistol Mitraliur Terbaru Pasukan Khusus TNI

Irvan Dwi P 09:09 Add Comment
 Brügger & Thomet MP9
Personel TNI AL WFQR dengan  Brügger & Thomet MP9 

Brugger & Thomet (B&T) bukanlah perusahaan besar. Walaupun berkecimpung di industri pertahanan, B&T justru jauh lebih terkenal dalam pembuatan aksesori senjata tangan ketiga yang berkualitas. Di Indonesia sosoknya kentara pada produk popor MP5K PDW yang digunakan oleh pasukan elit TNI AU, Detasemen Bravo dan Paspampres. Nah, jika pembaca cukup jeli, Kesatuan khusus TNI seperti Kopassus Kopaska, Denjaka, Taifib Marinir, dan Detasemen Bravo Korpaskhas akhir-akhir ini banyak tampil dengan produk SMG (submachinegun) atau pistol mitraliur MP9 buatan perusahaan tersebut.
B&T mungkin melihat potensi (dan sedikit kasihan) dalam produk Steyr TMP (Taktische Maschinen Pistole-Tactical Machine Pistol). Muncul mendahului jamannya dengan balutan polimer yang membungkus keseluruhan mekanisme, TMP sukar dilirik oleh negara-negara yang kadung kesengsem dengan HK MP5 pada era 1990an.
Konon, Malaysia sebenarnya sudah memegang hak untuk memproduksi TMP pada saat SME Ordnance menjalin kerjasama untuk memproduksi Steyr AUG pada 1991 dan direalisasikan pada awal dasawarsa 2000. Sayangnya, karena SMEO memutuskan kontrak secara sepihak dalam kerjasama lisensi tersebut, SMEO akhirnya menarik diri dan Malaysia hanya memiliki desain SMG Berapi yang sangat tidak representatif, tidak ergonomis, dan tidak masuk di akal.
Steyr kemudian memindahkan paten dan produksi atas TMP ke perusahaan di negara tetangganya. B&T, yang memang terkenal dengan kemampuan kustomisasinya, akhirnya mengambil alih produksi. B&T merasa bahwa masih ada ceruk di kelas kebutuhan proteksi VIP, kepolisian, dan intelijen yang membutuhkan senjata yang dapat dipergunakan dari dalam kendaraan, disimpan di balik jaket, dan memiliki kemampuan tembak otomatis yang lebih oke dari pistol, namun profilnya tidak sebesar SMG konvensional.
TMP dianggap cocok, karena dengan ukurannya yang amat kompak, TMP masih bisa disimpan dalam holster taktis yang terpasang di paha. Saat dioperasikan dengan popor terbuka pun, TMP tetap lebih pendek dibandingkan MP5A3 dalam keadaan popor tersorong. Pembaca tentu kenal TMP bukan, sebagai SMG paling murah yang bisa dibeli oleh pihak Counter Terrorist dalam game Counter Strike.
Seluruh paten, cetak biru, dan hak produksi beralih dari Steyr ke Brugger & Thomet pada tahun 2001. B&T kemudian melakukan rebranding, nama TMP pun ditanggalkan dan disematkan nama baru MP9. dengan segudang pengalamannya menambahkan sejumlah perubahan yang bertujuan untuk memaksimalkan faktor ergonomi sehingga TMP lebih nyaman untuk digunakan. Maklum saja, dengan bentuk yang ringkas dan ringan dan bobotnya hanya 1,7kg terisi, MP9 rawan sekali mengalami sentakan ke atas pada saat ditembakkan, sehingga perlu rekayasa bentuk agar pasar yang ditujunya, dalam hal ini kesatuan khusus, percaya dan mau menggunakannya.
Hal ini ditambah dari dimensinya, yang apabila dibandingkan, tidak lebih besar dari selembar kertas A4. Kalau disepadankan, tentu mirip dengan Micro Uzi. Ukurannya yang kecil dan bisa disembunyikan di balik jaket dengan sling khusus cocok untuk operasi klandestin yang beresiko tinggi, atau untuk prajurit yang mengawaki tank, artileri, zeni, dan sebagainya, atau yang dikenal sebagai senjata pertahanan diri (PDW: Personal Defense Weapon).
Namun sedikit berbeda dengan PDW produk perusahaan lain seperti HK MP7A1 dan FN P90 yang memanfaatkan munisi khusus (propietary), B&T MP9 tetap memanfaatkan munisi 9x19mm yang merupakan standar NATO untuk memperluas pasar yang disasar dengan iming-iming mempermudah logistik peluru.
Pemenuhan syarat PDW yang mampu melontarkan SCHV (Small Caliber, High Velocity) dilakukan melalui kemampuan MP9 dalam melontarkan peluru 9mm Parabellum bertekanan tinggi +P (38.500 Psi), vs 9x19mm komersial (35.000 Psi) atau 9x19mm NATO (36.500 Psi), dan prototipe yang mampu melontarkan munisi PDW 4,6mm HK sedang dalam pengembangan.
Penggunaan munisi 9x19mm sebenarnya memang kurang optimal apabila diperuntukkan sebagai PDW, mengingat dengan variasi +P pun kemampuannya menembus rompi anti peluru kategori soft armor seperti Kevlar pun kurang optimal. Tetapi dari segi logistik, munisi 9mm yang terhitung standar NATO mudah didapat dan hampir semua Negara Barat memproduksi dan menyetoknya dalam jumlah besar.
B&T sendiri di dalam manual MP9 menyatakan bahwa PDW mungilnya ini mampu mengakomodasi lebih dari 60 jenis peluru 9x19mm dari berbagai pabrikan utama, dan memiliki ketahanan sampai 6.000 kali penembakan untuk larasnya.
Konstruksi dasar TMP/MP9 terhitung sangat revolusioner, mempercayakan polimer untuk seluruh konstruksi pembuatannya. Gagang depan dicetak menyatu dengan receiver bawah, dan dengan sudut mengarah ke depan untuk memberikan daya genggam yang pasti untuk mengontrol penembakan khususnya dalam moda otomatis.
Fitur-fitur bawaan menyerupai pistol, seperti bolt release yang ditempatkan seperti posisi slide release, mudah dimanipulasi dengan jempol tanpa perlu melepas genggaman. Tombol pengaman pun dibuat ringkas, seperti pada Steyr AUG yang menggunakan kunci model blok dorong.
Manipulasi penembakan tinggal mengatur tekanan pada pelatuk, dimana tarikan penuh maka MP9 akan menembak secara otomatis. Untuk mencegah meletusnya peluru tanpa dikehendaki (accidental discharge), maka disediakan fitur trigger safety seperti pada pistol Glock.
Untuk memaksimalkan potensinya sebagai PDW, MP9 memiliki popor lipat bawaan yang melipat ke kanan saat tak digunakan. Ini jauh lebih baik dari Steyr TMP yang harus menambah popor plastik tambahan. Selain itu, B&T sudah menyediakan beberapa fitur kosmetik seperti rel Picatinny di receiver atas dan kiri-kanan MP9, sesuatu yang tidak ada pada TMP.
Mekanisme operasinya tetap menganut prinsip blowback, namun MP9 selangkah lebih maju dalam menerapkan rotating barrel, atau laras berputar. Dengan membuat mekanisme macam ini, laras jadi tidak perlu bergerak jauh-jauh untuk mengompensasi efek tolak balik, sehingga dimensi senjata bisa dibuat sekompak mungkin.
Proses kerja mekanisme MP9 dimulai saat pengokang ditarik, hammer terkokang dan peluru masuk dalam kamar. Saat Pelatuk ditarik, hammer melesat ke depan. Hammer memukul firing pin (pena pemukul) Firing pin memantik primer (penggalak), pada gilirannya membakar mesiu dalam kelongsong. Gas dari mesiu yang terbakar dan mengembang seketika mendorong peluru, melesat dalam laras. Daya dorong dari peluru yang terus melesat mendorong unit penembakan yang terkunci (laras dan bolt) ke belakang, melawan gaya dari pegas recoil.
Setelah proyektil keluar dari laras, bolt dan laras terus bergerak ke belakang. Laras berhenti bergerak ke belakang, dan berputar pada sumbunya, dikendalikan pin pengunci di barrel guide yang bergerak di dalam kem pengendali laras. Bolt mulai mendorong hammer ke posisi semula. Laras menyelesaikan rotasinya dan terlepas dari receiver. Laras kemudian menyelesaikan rotasinya dan berhenti, sementara bolt terus melanjutkan gerakan ke belakang.
Ekstraktor menarik kelongsong sisa keluar dari kamar peluru, dan melemparnya keluar melalui ejection port. Bolt bergerak ke titik terjauh, sambil mengokang hammer secara penuh sampai ke posisinya. Bolt menekan pegas recoil sampai ke titik jenuhnya, dan pegas melawan, meregang, dan sekaligus mengembalikan bolt ke depan. Bolt yang bergerak ke depan memasukkan peluru dari magasen ke dalam kamar. Bolt mengunci dirinya dengan laras kembali, bersama-sama kembali ke posisi depan. Disconnector melepaskan pelatuk kembali ke posisi semula, dan MP9 siap ditembakkan kembali.
Di luar paket standar yang disediakan, B&T menyediakan beberapa paket aksesoris tambahan seperti peredam suara. Dengan bentuk kaleng yang besar, peredam suara yang terpasang dengan pengunci lug ini memiliki rel Picatinny di bagian bawah untuk menempelkan laser atau senter, mengingat ukuran kompak MP9 memang tidak menyisakan ruang di sisi bawah untuk menempelkan aksesoris lainnya. Peredam suara ini mampu mereduksi suara penembakan lebih kurang sebesar 33dB dengan peluru biasa maupun subsonik. (Aryo Nugroho)

Kisah 'Setan dari Rabau' yang Merontokkan 87 Pesawat Tempur Sekutu

Irvan Dwi P 16:00 Add Comment
Hiroyoshi Nishizawa
Hiroyoshi Nishizawa 

Meski bukan berasal dari keluarga samurai, semangat berani mati pilot tempur Jepang Hiroyoshi Nishizawa ketika bertempur di udara menunjukkan dirinya sebagai ksatria laiknya seorang samurai.
Setidaknya, ada 87 pesawat tempur Sekutu dari berbagai jenis yang berhasil ia rontokkan. Sumber lain bahkan menyebut Nishizwa, yang lebih dikenal sebagai “Setan dari Rabau”, berhasil menembak jatuh lebih dari 100 pesawat Sekutu.
Lepas dari sumber mana yang paling falid, intinya pesawat Sekutu yang berhasil ditembak jatuh oleh Nishizawa tidak sedikit.
Nishizawa lahir di Perfektur Nagano, Jepang, pada 27 Januari 1920. Ia bukan berasal dari keluarga Samurai melainkan pedagang sake.
Setelah lulus SMA, Nishizawa tak langsung bergabung dengan militer tapi sempat bekerja di pabrik tekstil.
Juni 1936, Nishizawa tertarik pada poster penerimaan sukarelawan pilot tempur, Yokaren. Nishizawa pun kemudian mendaftar dan diterima di unit Japanese Navy Air Force.
Setelah menjalani pendidikan selama tiga tahun, Maret 1939 Nishizawa dinyatakan lulus. Tugas pertama Nishizawa adalah menjadi pilot tempur Skuadron Omura dan Sakura yang bermarkas di Qita.
Ketika Perang Dunia II meletus, Nishizawa, yang mempiloti pesawat tempur Mitsubishi A5M, ditempatkan di New Britain. Saat itu, skuadron Nishizawa mengganti pesawat tempur dengan yang lebih canggih, Mitsubishi A6M2 Zero dengan tail code F-108.
Sebelum berganti pesawat, Nishizawa sudah berhasil menembak jatuh sebuah pesawat tempur Sekutu bernama PBY Catalina.
Usai bertugas di New Britain, skuadron Nishizawa ditransfer ke Papua Nugini dan bertempur bersama para seniornya, Saburo Sakai serta Toshio Ohta.
Saburo yang menyaksikan langsung kemahiran Nishizawa dalam manuver dan akrobatik pesawat, memberikan pujian bahwa pilot muda itu akan melebihi dirinya.
Komentar dan pujian Saburo tak hanya sekedar omongan. Dalam misi selama satu bulan, Nishizawa telah berhasil menjatuhkan lebih dari enam pesawat tempur Sekutu.
Dengan prestasinya, Nishizawa pun berhak bergabung dengan dua jawara pilot Saburo dan Toshio, sehingga menjadi tiga serangkai pilot jagoan.
Ketika tiga pilot jawara itu ditugaskan ke Guadalcanal tahun 1942, puluhan pesawat Sekutu kembali berhasil dijatuhkan. Nishizawa sendiri paling tidak berhasil menjatuhkan enam pesawat Grumman F4F Wildcat.
Sementara dua rekan lainnya mengalami luka parah sedangkan Toshio gugur. November 1942, Nishizawa dan sejumlah pilot dipanggil pulang ke Jepang untuk menjadi instruktur.
Pada saat dipanggil pulang, Nishizawa paling sedikit sudah berhasil menembak jatuh 54 pesawat Sekutu. Setahun kemudian, Nishizawa kembali dikirim ke medan tempur Rabaul dan mendapat hadiah sebilah pedang samurai dari komandan 11th Air Fleet, Vice Admiral Jin’Ichi Kusaka.
Nishizawa kembali turun ke medan laga ketika Sekutu mulai menyerbu Filipina, Oktober 1944. Nishizawa yang bertempur dengan para pilot kamikaze menjadi saksi langsung tindakan para pilot yang sengaja menabrakkan pesawatnya ke kapal perang Sekutu.
Dalam pertempuran udara di Filipina ini, Nishizawa berhasil menembak jatuh pesawat musuh yang ke-87.
Karena hampir semua pesawat Zero rusak dan tak layak terbang, pada 26 Oktober, Nishizawa dan pilot-pilot lainnya yang masih tersisa kemudian ditransfer dari Pulau Cebu ke Mabalacat dengan menaiki pesawat transport, Ki-49.
Dalam perjalanan nasib nahas menimpa mereka. Dua pesawat AS, F6F Hellcat dari VF-14 yang baru saja terbang dari kapal induk USS Wasp berhasil menyergap.
Pesawat Ki-49 yang ditumpangi Nishizawa behasil ditembak jatuh oleh dua pesawat itu dan jatuh terbakar menuju lautan. Nishizawa dan para pilot lainnya tewas. Kepastian bahwa Nishizawa telah tewas sebenarnya baru terkuak tahun 1982.
Saat itu pilot F6F, yang berhasil menembak pesawat Ki-49, Harold P Newell, mengutarakan kisahnya di hadapan Saburo Sakai yang sedang berkunjung ke California, AS.
Atas info Newell, pihak Jepang pun kemudian mengumumkan secara resmi bahwa Nishizawa yang merupakan ace of ace Dai Nipon telah gugur pada tahun 1944 dan jasadnya terkubur di Samudra Pasifik.(*)
Sumber : http://bangka.tribunnews.com

AT200, Drone Canggih Militer China Bentuknya Mirip Pesawat Penumpang

Irvan Dwi P 14:00 Add Comment
Drone AT200 Buatan China
Drone AT200 Buatan China 

Tidak ada yang mengira jika pesawat buatan China yang dinamai AT200 ternyata pesawat tanpa awak yang dioperasikan untuk kepentingan militer. Sekilas, tongkrongannya memang mirip pesawat komersial.
Dengan tampang seperti pesawat ringan yang biasa dicarter oleh para eksekutif perusahaan sehingga tidak seperti pesawat militer, drone AT200 yang bisa terbang pada landasan (airstrip) sepanjang 200 meter ini bisa mengangkut barang hingga 1,5 ton.
Mesin pesawat tanpa awak ini menggunakan PT6A turboprop berkekuatan 750 tenaga kuda dan dibuat oleh Pratt & Whitney, Kanda.
Meski mesinnya menggunakan mesin dari negara lain, dari sisi rancangan teknisnya, drone ini tetap dikerjakan oleh lembaga dalam negeri China: Insitute of Engineering Thrmophysics Academy of Science di Beijing.
Kehadiran drone AT200 sebenarnya telah mengejutkan militer AS. Bagaimanapun, AT200 sudah terbukti sukses diterbangkan dari Pulau Hainan ke Pulau Paracel yang berada di kawasan Laut China Selatan untuk mengantarkan logistik militer.
Baik China maupun AS serta negara-negara sekutunya masih saling memperbutkan Pulau Pacarel karena perairan di sekitarnya kaya akan minyak bumi.
Militer China juga akan mengoperasikan drone AT200 untuk melakukan patroli rutin terhadap Pulau Spartly. Selama ini pulau tersebut menjadi sengketa antara China, Taiwan, Vietnam, Malaysia, Filipina dan juga Indonesia.
Yang jelas kehadiran drone AT200 yang akan terus bergentayangan di atas udara Laut China Selatan telah membuat kekuatan militer China makin tak tertandingi oleh negara-negara di Asia Tenggara. Selain itu, pesawat tanpa awak ini akan membuat ketar-ketir milier Amerika Serikat.
Sumber : http://bangka.tribunnews.com

AS-Korsel Sepakat Perluas Penyebaran Aset Militer Strategis

Irvan Dwi P 12:00 Add Comment
Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS)
Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) 

Kepala pertahanan Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) setuju untuk memperluas penyebaran rotasi aset militer strategis AS ke Semenanjung Korea. Itu dilakukan untuk melawan ancaman dari tetangga Korsel, Korea Utara (Korut).
Menteri Pertahanan Korsel Song Young-moo dan Menteri Pertahanan AS James Mattis mengadakan Rapat Konsultasi Keamanan ke-49 (SCM), sebuah dialog keamanan tahunan antara menteri pertahanan kedua sekutu, di Seoul.
Menteri Song mengatakan pada sebuah konferensi pers setelah pertemuan tersebut bahwa mereka sepakat untuk memperluas penyebaran rotasional aset strategis AS. Hal itu untuk meningkatkan komitmen AS terhadap pencegahan yang terus berlanjut sambil menyetujui untuk memperkuat kerja sama dalam tindakan pencegahan lainnya.
Aset militer strategis AS mencakup kapal induk bertenaga nuklir, kapal selam serangan nuklir, jet tempur siluman dan pembom strategis, yang oleh militer AS baru-baru ini dikirim ke semenanjung lebih sering seperti dilansir dari Xinhua, Minggu (29/10/2017).
Menurut pernyataan bersama berisi 18 poin tersebut, kedua sekutu sepakat untuk tidak mentoleransi jenis provokasi Korut, berjanji untuk menjalin kerja sama yang erat untuk secara efektif melawan provokasi apapun.
Mattis mengatakan dalam pernyataannya bahwa penggunaan persenjataan nuklir akan dipenuhi dengan tanggapan militer yang efektif dan luar biasa, mengkonfirmasikan kembali tawaran AS untuk semua kategori kemampuan militer, termasuk payung nuklir, kemampuan menyerang dan kemampuan pertahanan rudal yang konvensional, untuk pencegahan yang jauh di Korsel.
Kesepakatan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea, yang disebabkan oleh uji coba nuklir Korut dan peluncuran rudal balistik.
China telah mengusulkan untuk mewujudkan denuklirisasi di Semenanjung Korea saat membangun mekanisme perdamaian. China meminta Korut menghentikan kegiatan nuklir dan misilnya dengan imbalan penghentian latihan militer Korsel-AS.
Pyongyang melakukan uji coba nuklir keenam dan paling kuat pada awal September lalu, meledakkan apa yang diklaimnya sebagai bom hidrogen yang dapat dimuat ke rudal balistik antar benua (ICBM).
Negara Asia tersebut melakukan uji coba dua rudal balistik dengan kemampuan antar benua pada bulan Juli. Tidak ada provokasi yang dilakukan sejak DPRK menerbangkan rudal balistik jarak menengah (IRBM) ke Jepang pada 15 September.
Pernyataan bersama tersebut mengatakan kedua menteri tersebut menyatakan dukungannya atas upaya diplomatik untuk membuat Korut melakukan denuklirisasi dan menghentikan provokasi.
Ditanya tentang klaim untuk menyebarkan kembali senjata nuklir taktis AS ke Korsel, Mattis mengatakan bahwa dia negatif tentang penerapan kembali saat masyarakat internasional menuju denuklirisasi.
Kepala pertahanan Korsel juga mengatakan bahwa penempatan kembali tidak akan memenuhi kepentingan nasional Seoul.
Senjata nuklir taktis AS, yang telah dimiliki oleh pasukan AS Korea (USFK), ditarik dari Korea Selatan pada tahun 1991.
Sementara itu, kedua pemimpin pertahanan tersebut sepakat untuk melakukan upaya bersama untuk secara cepat memungkinkan pengalihan kendali operasional militer Korsel dari Washington ke Seoul yang memungkinkan berdasarkan kondisi.
Korea Selatan menyerahkan perintah operasionalnya kepada pasukan AS setelah Perang Korea tiga tahun pecah pada tahun 1950. Negara tersebut memenangkan kendali operasional masa damai pada tahun 1994.
Sumber : https://international.sindonews.com

NATO : Turki Akan Hadapi Konsekuensi Jika Beli S-400 Triumph Buatan Rusia

Irvan Dwi P 10:00 Add Comment
S-400 Triumph Buatan Rusia
S-400 Triumph Buatan Rusia 

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa negaranya telah menandatangani kesepakatan pembelian sistem pertahanan udara S-400 Triumph dengan Rusia dan telah membayar uang muka. Pembelian ini membuat heboh NATO, bahkan Sekjenl NATO mengatakan Turki akan menghadapi konsekuensi.
Saudi Arabia mengikuti jejak Turki, sebulan kemudian. Situs militer IHS Janes menulis bahwa Arab Saudi dan Rusia telah menandatangani sebuah kesepakatan yang mencakup pengadaan sistem pertahanan udara jarak jauh S-400 yang akan dibangun di kerajaan tersebut, pada saat Raja Salman mengunjungi Moskow, 5 oktober 2017.
Sistem pertahanan udara S-400 Triumph dikembangkan oleh Almaz Central Design Bureau, untuk menggantikan S-300, pada 1990. Rusia menciptakan sistem pertahanan udara S-400 dengan radar AESA (Active electronically scanned array) untuk menghadapi ancaman pesawat taktis dan strategis, pesawat tanpa awak, pesawat pengganggu radar, dan pesawat siluman.
Sistem ini merupakan pertahanan udara tercanggih yang dimiliki Rusia. Rudal-rudalnya mampu melaju dengan kecepatan 4.800 m/detik atau 4,8 km/detik, sehingga target sejauh 400 km dapat dihancurkan dalam waktu sekitar 83 detik saja. Rudal sistem ini mampu menghancurkan sasaran aerodinamis pada jangkauan 2 km hingga 200 km, dan sasaran balistik pada sasaran 7 km hingga 60 km.
Sistem pertahanan udara S-400 Triumph menggunakan radar yang dapat mendeteksi sasaran sejauh 600 km dan dilengkapi empat macam rudal yang berbeda jangkauannya, yaitu rudal 40N6 dengan jangkauan 400 km, rudal 48N6 dengan jangkauan 250 km, rudal 9M96E dan 9M96E2 dengan jangkauan 40 km dan 120 km.
Radar dan software S-400 Triumph telah disempurnakan sehingga dapat menghancurkan 36 target secara bersamaan. Radar panorama 91N6E dapat mendeteksi target sejauh 600 km dengan perlindungan anti jamming. Radar 92N6 merupakan radar multi fungsi yang mampu mendeteksi 100 target dengan jangkauan 400 km. (Herru Sustiana)
Sumber : TSM

Inilah Solusi Rheinmetall Air Defence untuk Pertahanan Udara di Natuna

Irvan Dwi P 08:00 Add Comment
Oerlikon Skyshield Paskhas TNI AU
Oerlikon Skyshield Paskhas TNI AU 
Dalam perspektif manufaktur persenjataan, bila alutsista yang mereka jual benar-benar menjadi andalan di negeri pembeli, maka hal tersebut ibarat prestasi luar biasa, artinya ada kepercayaan dari aspek kualitas. Dan jika berkaca di Indonesia, salah satu hotspot yang menjadi konsentrasi pertahanan TNI ada di Pulau Natuna, dimana gelar alutsista tercanggih dari ketiga matra TNI semaksimal mungkin dikerahkan dalam berbagai uji dan latihan tempur di kawasan yang langsung berhadapan dengan Laut China Selatan.
Karena diproyeksi ancaman untuk Natuna berasal dari aspek udara, maka unsur hanud (pertahanan udara) terasa menjadi prioritas. Mulai dari hanud terminal, komponen jet buru sergap F-16 Fighting Falcon dan Sukhoi Su-27/Su-30 dipastikan mampu meng-cover area Natuna, terlebih Lanud Ranai kini sudah mampu didarati oleh dua jet tempur tersebut. Sementara dari hanud titik atau point defence, Detasemen Hanud Paskhas dan Arhanud Kostrad sudah punya pengalaman menggelar sistem senjatanya di beberapa obyek vital Natuna. Insiden kecelakaan dalam penembakkan kanon Giant Bow twin gun 23 mm milik Kostrad di Natuna pada bulan Mei 2017, menjadi catatan kelam yang tak pernah dilupakan dalam latihan tempur hanud.
Denhanud Paskhas lain cerita, proyeksi kekuatan hanud titik dikonsentrasikan untuk melindungi area Lanud Ranai. Dan tak tanggung-tanggung, untuk menjawab potensi ancaman yang mungkin terjadi, pasukan Korps Baret Jingga ini sudah paham betul cara penggelaran kanon reaksi cepat Oerlikon Syshield 35 mm, rudal MANPADS Chiron dan QW-3 untuk melindungi Lanud Ranai.
Solusi Rheinmetall Air Defence
Jika ada yang bertanya, kanon hanud apa yang paling canggih di Indonesia? Jawabanya bisa diyakini akan mengarah ke Oerlikon Skyshield produksi Rheinmetall Air Defence AG, manufaktur senjata asal Swiss. Berdasarkan pengadaan tahun 2013, Kementerian Pertahanan membeli enam baterai Oerlikon Skyshield senilai 113 juta euro. Dalam gelarannya, satu baterai Skyshield Paskhas terdiri dari dua Firing Unit (FU). Satu FU Skyshield terdiri dari dua kanon Oerlikon Skyshield 35 mm, satu unit radar, dan satu shelter Fire Control Unit (Command Post).
Sistem Oerlikon Skyshield memang tak asing lagi di Bumi Natuna, tapi apakah komposisi perlindungan Skyshield sudah dirasa ideal? Di Pulau Natuna Besar yang luasnya mencapai 1.720 km² tak hanya Lanud Ranai yang menjadi obyek vital, masih fasilitas Lanal di Bunguran Timur dan dermaga militer di Selat Lampa di selatan pulau. Maka dengan gelar empat pucuk Skyshield dirasa tidak memadai untuk hanud titik yang optimal.
Dalam Seminar “Penggunaan Alat Pengideraan Jarak Jauh dan Peluru Kendali Dalam Menjaga Kedaulatan Ruang Udara Nasional” yang diselenggarakan National Air and Space Power Centre of Indonesia (NASPCI) di Jakarta (25/10/2017), Stefan Schädler selaku Vice President Sales Asia Rheinmetall Air Defence memberikan materi presentasi, yang salah satu bagian menariknya adalah solusi air defence deployment di Natuna.
Rheinmetall memproyeksikan sistem hanud tak hanya di Lanud Ranai, tapi juga ke Lanal dan selat wilayah selatan pulau. Meski fokus kekuatan pada point defence di ketiga obyek vital, Rheinmetall menawarkan solusi hanud terminal untuk Natuna, yakni dengan mengintegrasikan keberadaan rudal hanud jarak sedang. Artinya lawan diharapkan dapat dihancurkan sebelum berhasil melintasi pulau.
Dalam paket integrasi yang melibatkan rudal jarak sedang, Stefan Schädler yang menyandang pangkat kolonel di AU Swiss menawarkan IRIS-T SL (Infra Red Imaging System Surface Launched) besutan Diehl BGT Defence, Jerman. Rudal yang dirilis perdana tahun 2005 ini mempunyai jarak tembak efektif antara 1 - 40 km. Rudal ini dapat menguber sasaran hingga ketinggian 20 km dalam kecepatan Mach 3. Karena mengusung rudal jarak sedang, maka Rheinmetall membutuhkan kehadiran radar penjejak yang mampu mengendus sasaran di radius 50 - 80 km. Serupa tapi tak sama, peran IRIS-T SL bisa dibilang setanding dengan rudal NASAMS (National Advanced Surface to Air Missile System) dari Norwegia, yang telah resmi dipesan dua baterai untuk Denhanud Paskhas.
Masih merujuk ke gambar dari presentasi Rheinmetall, ada integrasi dari rudal MANPADS SHORAD (Short Range Air Defence), yang ini memang Rheinmetall telah mengintegrasikan dengan rudal Chiron buatan Korea Selatan. Untuk hanud titik utama, diserahkan pada Skyshield MK3, tak lain adalah versi update dari Skyshield MK2 yang kini digunakan Paskhas. Dan terakhir ada yang disebut sebagai “Skyranger,” merupakan modul Skyshield yang disematkan pada platform panser 8×8.
Penasaran seperti apa kemampuan Oerlikon Skyshield MK3 dan Skyranger? Kanon kaliber 35 mm ini memang tengah naik daun setelah KSAU Marsekal TNI Marsekal Hadi Tjahjanto baru-baru ini menyebutkan TNI AU berniat menambah Skyshield untuk melengkapi beberapa Lanud strategis. Di kapal peranng TNI AL, kehadiran Millenium (varian naval Skyshield) masih dinanti untuk melengkapi sistem CIWS (Close In Weapon System) di PKR Martadinata Class. (Haryo Adjie)

TNI AU Buka Akses Bagi Masyarakat untuk Melihat Pesawat Tempur

Irvan Dwi P 06:00 Add Comment
Pesawat Tempur Hawk TNI AU
Pesawat Tempur Hawk TNI AU 

Pangkalan Udara TNI AU Sri Mulyono Herlambang, di Palembang, membuka akses bagi masyarakat umum untuk melihat lebih dekat pesawat tempur BAe Hawk 109/209 berkaitan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun ini.
"Kami membuka akses bagi masyarakat luas hari ini dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda sekaligus guna menimbulkan jiwa kedirgantaraan pada masyarakat," kata Komandan Skuadron Udara 12 TNI AU, Letnan Kolonel Penerbang Adhi Akbar, di Palembang, Sabtu.
Sejatinya Skuadron Udara 12 TNI AU itu berpangkalan di Pangkalan Udara TNI AU Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau. Ada lagi Skuadron Udara 1 TNI AU yang berpangkalan di Pangkalan Udara TNI AU Supadio, Pontianak, dengan materi pesawat tempur sama.
Sejak pukul 07:00 WIB, Pangkalan Udara TNI AU Sri Mulyono Herlambang sudah mulai dibuka bagi masyarakat dan pelajar yang ingin melihat lebih dekat pesawat tempur Hawk 100/200 dari Skuadron Udara 12 dan Skuadron Udara 1 itu.
Masyarakat pun diberi kesempatan untuk menyaksikan persiapan terbang tim Skuadron Udara 12 yang akan lepas landas untuk misi pengamanan ALKI. Tidak hanya itu selain berfoto dan mendekati pesawat tempur itu. Setelah lepas landas, masyarakat pun disajikan manuver singkat pesawat tempur Hawk 109/209 itu.
"Pesawat yang kami pergunakan ini adalah milik masyarakat jadi sudah sepatutnya masyarakat diberi kesempatan melihatnya lebih dekat," kata Akbar.
Kesempatan ini pun tidak dilewatkan masyarakat sekitar, salah satunya Ita warga simpang Kades KM 12. Ia yang kebetulan mengantar anaknya yang duduk di taman kanak-kanak itu antusias menyaksikan aksi pesawat tempur.
"Seru aksinya persis seperti yang di film Hollywood," ungkap dia senang. Ia pun berharap kesempatan ini bisa dinikmati setiap tahun.
Skuadron Udara 12 dan Skuadron Udara 1 saat ini tengah melakukan beberapa misi di Lanud SMH Palembang di antaranya latihan peluru kendali udara-ke-darat AGM-65 Maverick dan pengamanan ALKI selama kurang lebih 10 hari.
Wilayah operasi yang mereka laksanakan itu dari Selat Sunda hingga Kepulauan Bangka Belitung dan sekitarnya.
"Kami mengamati kapal-kapal yang melintas apabila ada aktivitas mencurigakan akan dikoordinasikan ke tingkat yang lebih tinggi," kata Akbar.

Mayoritas Perusahaan Pertahanan Rusia Dicekal AS, Ini Dampaknya Pada TNI

Irvan Dwi P 04:00 Add Comment
BMP 3 Marinir TNI AL
BMP 3 Marinir TNI AL 

Melanjutkan paparan admin pada tulisan kemarin mengenai perusahaan-perusahaan industri pertahanan Rusia yang dihajar sanksi oleh Departemen Luar Negeri AS, akhirnya Deplu AS mengeluarkan daftar lengkap perusahaan-perusahaan Rusia tersebut yang dimasukkan dalam daftar CAATSA Section 231(d) Defense and Intelligence Sectors of the Government of the Russian Federation atau pelaku industri sektor intelijen dan pertahanan Negara Rusia.
Seperti bisa diduga, seluruh perusahaan industri pertahanan utama Rusia masuk ke dalam daftar cekal tersebut, seperti dapat dilihat pada gambar di atas. Sektor pertahanan darat, laut, udara, dari pembuat senapan serbu, kapal perang sampai dengan pesawat tempur, semua tidak ada yang lolos dari sanksi. Sebut saja nama-nama populer seperti Kalashnikov Concern JSC, KBP Instrument Design Bureau, Rosoboronexport OJSC, Rostec, United Aircraft Corporation (UAC), Russian Helicopters JSC, Mikoyan Guryevich (MiG), dan Sukhoi Aviation JSC.
Dalam paparannya di depan para wartawan, Departemen Luar Negeri AS dengan tegas menyatakan akan menjatuhkan sanksi ke negara manapun yang berani bertransaksi secara signifikan dengan entitas perusahaan industri pertahanan Rusia di atas. Departemen Luar Negeri AS tidak mau secara gamblang menyebutkan kriteria transaksi signifikan tersebut, melainkan menggunakan beberapa kategori penilaian.
Kategori tersebut mencakup seberapa besar ukuran transaksi, jenis barang-barang pertahanan yang dibeli oleh negara pembeli dari Rusia, dan tidak lupa keamanan nasional dan kepentingan kebijakan luar negeri dari Amerika Serikat terhadap transaksi tersebut. Jadi dalam hal ini penilaian bahwa transaksi tersebut memiliki kepentingan transaksi yang signifikan adalah sesuatu yang sangat subjektif sifatnya berdasarkan kepentingan Amerika Serikat sendiri.
Artinya, Amerika Serikat bisa dengan seenaknya sendiri menarik tali kekang; ketika Paman Sam melihat bahwa sebuah negara orbitnya menjadi terlalu dekat dengan Rusia, maka AS bisa saja langsung menghantam lembaga keuangan atau investasi yang berurusan dengan Rusia tersebut, yang akhirnya bisa saja membuat perekonomian negara tersebut menjadi timpang dan lumpuh.
Jika melihat komentar pembaca pada tulisan admin terdahulu, yang rata-rata menyebutkan bahwa Indonesia tidak perlu akan terpengaruh oleh sanksi dari AS, ketahuilah bahwa seluruh lembaga finansial di Indonesia, tanpa terkecuali, bekerjasama dan tunduk pada sanksi yang dikeluarkan oleh lembaga internasional, termasuk Amerika Serikat.
Tidak percaya? Tengok saja aturan terbaru FATCA (Foreign Account Tax Compliance Act), yang merupakan kebijakan sepihak dari Pemerintah AS yang memerintahkan agar setiap negara di dunia melaporkan apakah ada warga negara AS yang memiliki rekening dana yang disimpan di negara-negara lain. Sanksi bagi negara yang tidak mau menerapkan penelisikan informasi tersebut adalah pengenaan pajak besar yakni 30% atas dana milik perusahaan keuangan yang ada dan dikeluarkan dari AS jika ada perusahaan keuangan yang tidak patuh.
Indonesia, bersama negara-negara lain yang mayoritas punya kepentingan dengan AS pun patuh dan bahkan melapor ke US IRS (Internal Revenue Services) atau Dinas Pajak AS untuk nama-nama WNA AS yang punya rekening di Indonesia. Bercermin dari ketentuan tersebut, ketentuan apapun yang akan dikenakan oleh AS terkait perusahaan Rusia yang akan dikenai CAATSA Section 231(d) tersebut sudah pasti akan dipatuhi oleh lembaga keuangan nasional dan Internasional di Indonesia, walaupun sekali lagi, belum tentu AS akan memperlakukan sanksi yang keras untuk Indonesia mengingat kepentingan AS yang besar di negara ini.
Dampak besarnya adalah, apabila Amerika Serikat ingin mempermainkan Indonesia, bisa saja Paman Sam mengunci keberadaan alutsista Rusia di Indonesia dengan menggunakan sanksi ini. Tidak hanya pembelian pesawat tempur baru seperti Su-35 Super Flanker, akan tetapi juga pembelian suku cadang yang sangat penting untuk memastikan bahwa alutsista Rusia di TNI dapat beroperasi untuk menjaga kedaulatan Republik Indonesia.
Untungnya, TNI sendiri masih mengingat dengan baik pelajaran pahit embargo dari AS pada 1999. Kerjasama dengan negara lain yang bisa melakukan perbaikan, perawatan, maupun peningkatan kemampuan alutsista Timur seperti Ukraina dan Belarusia sudah dijajaki dan bahkan sebagian telah dikerjasamakan secara riil. Artinya walaupun sanksi ini bisa jadi kedepannya akan berpengaruh, tidak akan pernah bisa mematikan kesiapan TNI secara penuh. (Aryo Nugroho)

Koksan, Howitzeri 170mm Korea Utara yang Menakutkan

Irvan Dwi P 23:00 Add Comment
Howitzer Swagerak M1978 Koksan
Howitzer Swagerak M1978 Koksan 

Korea Utara memang memiliki arsenal nuklir yang sangat menakutkan dengan daya jangkau yang konon sampai ke Guam. Namun sebenarnya, bukan rudal nuklir yang membuat Korea Selatan selaku tetangga dan saudaranya yang kuatir. Adalah sistem artileri masif Korea Utara yang menjadi momok bagi Korea Selatan, karena proyektil artileri sekali lepas ke udara sudah sangat sukar ditebak dan sukar pula ditangkal impak jatuhnya.
Korea Utara pun sangat menyadari potensi sistem artileri yang mereka kembangkan. Kekuatan darat Korea Utara sangat bergantung pada kemampuan meriam-meriam howitzernya untuk memuntahkan peluru berkaliber besar dari jarak yang jauh, sehingga Korsel tidak mampu mematikan atau membalas serangan artileri Korut.
Howitzer-howitzer Korut pulalah yang menjadi momok bagi AS yang pernah berencana melakukan serangan pendadakan ke Korut pada 1994 (Op Plan 5027) namun akhirnya tidak pernah mengeksekusinya. Rencana ini batal karena AS dan Korsel kuatir sekali dengan ancaman serangan masif dari sistem artileri Korut yang dikatakan berpotensi makan korban sampai 1 juta jiwa di kota Seoul, dan mengubahnya menjadi lautan api dalam serangan pertama jika terjadi perang antara Korut dan Korsel.
Tulang punggung sistem artileri Korea Utara adalah howitzer swagerak M1978 Koksan yang pertama kali dipamerkan pada parade besar tahun 1985. Nama Koksan sendiri mengacu pada nama sebuah kota di Korea Utara. Koksan menjadi bagian dari total 12.000 meriam howitzer Korea Utara yang hampir seluruhnya diarahkan ke Korea Selatan.
Berbeda dengan sistem howitzer swagerak buatan Barat dan Uni Soviet yang sudah menggunakan sistem kabin tertutup agar mampu digunakan dalam perang nuklir, Koksan terhitung primitif dengan mengawinkan antara meriam artileri 170mm dengan sasis tank beroda rantai, yang diperkirakan berasal dari jenis tank Type 59. Awak yang mengoperasikannya berdiri di luar, kurang lebih sama seperti sistem artileri berbasis truk. Meriamnya sendiri tidak jelas diambil dari mana, ada yang mengatakan dari meriam pertahanan pantai, ada pula yang bilang desainnya adalah meriam kapal perang.
Karena besarnya dudukan meriam, hanya pengemudi saja yang punya palka dan ruangan sendiri. Komandan, juru tembak, juru bidik, juru isi amunisi, semuanya berada di luar dan mengoperasikan meriam masif tersebut dari luar. Kurang-lebih ada lima atau enam awak yang menangani penembakan meriam Koksan. Karena hentakan yang sangat besar pada saat penembakan, maka sasis Koksan pun dilengkapi dua garu penstabil dudukan pada bagian belakang yang diturunkan untuk memancang sasis ke tanah, sehingga Koksan tidak bergeser ketika ditembakkan.
Tidak ada yang mengetahui dengan pasti jarak efektif dari howitzer 170mm milik Koksan. AS memperkirakan jangkauannya sejauh 40km dengan amunisi biasa, atau 59km dengan amunisi berpendorong roket. Kecepatan tembaknya mencapai 4-8 proyektil per menit. Pada saat diendus Barat, Koksan menjadi sistem artileri operasional dengan jangkauan tembak terjauh yang ada di dunia saat itu. Korea Utara sendiri menggunakan doktrin penggelaran 36 unit meriam per baterai, dengan estimasi total ada sekitar 500 unit Koksan dalam kondisi siap tempur. jadi bisa dibayangkan betapa ngerinya kalau seluruh meriam menembak bersamaan.
Koksan sendiri memperoleh cap battle proven ketika Korut menjual meriam-meriam swagerak ini ke Iran dengan bayaran dolar AS secara tunai pada 1987 untuk membiayai program nuklirnya. Iran menggunakan Koksan untuk terus-menerus menghantam posisi pasukan Irak di semenanjung Al-Faw, termasuk membumihanguskan ladang-ladang minyak milik Kuwait di sisi Timur Laut.
Korea Utara sendiri menyempurnakan Koksan menjadi model M1989 dengan menambahkan sistem penyimpanan amunisi sebanyak 12 proyektil di dalam kendaraan. Untuk mempersiapkan serangan ke Korsel, Korut menempatkan Koksan di sebelah Barat dan Tengah DMZ alias Zona Demiliterisasi. Meriam-meriam ini ditempatkan dalam shelter yang diperkeras dan mampu menahan pemboman dari pesawat tempur ataupun duel artileri dengan lawan. (Aryo Nugroho)

Radar Acak