War Story : Kisah Pasukan Katak Soviet yang Mematikan dari Era PD II

Pasukan Katak Soviet
Pasukan Katak Soviet  

Unit Lumba-Lumba, yang berasal dari komando pasukan katak Soviet, segera dibentuk begitu Perang Dunia II meletus. Unit ini memainkan peran penting dalam kekalahan Jerman dan Jepang. Selama bertahun-tahun, kehadiran unit yang diam-diam turut berperan dalam sejumlah konflik selama Perang Dingin ini tetap dibutuhkan, terutama untuk melakukan misi pengintaian dan sabotase bawah air.
Bayangkan Anda berada dalam sebuah misi untuk meledakkan pangkalan angkatan laut musuh. Anda terjun payung ke laut, menggunakan parasut, dan berada 30 kilometer dari lepas pantai. Saat itu, bisa jadi tengah terjadi badai yang mengerikan, tapi tak masalah satu-satunya yang penting adalah misi yang harus Anda eksekusi.
Anda berenang, melewati ranjau laut, kabel sinyal, dan perangkap lainnya. Setiap detik yang Anda lalui adalah bahaya. Di bawah Anda terdapat jurang laut yang gelap, sedangkan di atas ada lampu sorot dan kelompok penjaga bersenjata yang berpatroli. Bawaan Anda sangat berat, sementara peluang gagal dan bahkan mati sangat mungkin terjadi. Terdengar menakutkan?
Tentara Super Bawah Laut
Misi semacam itu tak akan terdengar begitu menakutkan jika Anda adalah seorang pasukan katak dan anggota unit Lumba-Lumba unit bawah laut Pasukan Khusus Uni Soviet. Anda akan dipersiapkan sebaik mungkin untuk menghadapi misi semacam itu, dan setelah menyelesaikan pelatihan yang diperlukan, tugas meledakkan pangkalan angkatan laut tak akan terlihat seperti misi yang sulit.
Pelatihan Anda akan sangat istimewa, bahkan dari segi standar militer sekalipun. Sebagai seorang kadet, Anda hanya akan tidur tiga atau empat jam sehari selama tujuh minggu. Selain latihan fisik yang sangat keras, Anda juga harus belajar selama 15 jam setiap hari.
Unit Lumba-Lumba harus bisa bertahan dalam kondisi yang hampir tak manusiawi sekalipun. Jadi, tentu saja, tak sembarang orang bisa diterima di unit ini. Dari 20 kadet, hanya satu orang saja yang bisa melewati fase awal latihan ini.
Namun, itu baru permulaan. Selama fase berikutnya (sebelas minggu), Anda akan belajar bertarung menggunakan senjata apa pun dan bahkan tanpa senjata sama sekali. Anda akan belajar mengendarai berbagai jenis kendaraan, menggunakan parasut, memasang ranjau, dan memanjat. Selama fase ini, Anda dan teman-teman kadet Anda akan membentuk kelompok yang terdiri dari dua, tiga, dan empat orang.
Kelompok Anda akan belajar bertukar komando kecil-kecilan yang memungkinkan Anda bertindak bersama seperti sepotong mekanisme. Tingkat kerja sama ini adalah hal yang mutlak dalam menjalankan misi apa pun.
Fase terakhir berlanjut selama delapan minggu. Selama masa ini, Anda harus melewati pelatihan di pangkalan angkatan laut yang berbeda dan belajar bagaimana beraksi di wilayah tertentu. Masing-masing pasukan katak memiliki wilayah berbeda yang mereka kuasai, seperti Amerika Latin, Amerika Utara, Asia Tenggara, Timur Tengah, dan sebagainya. Kepentingan Uni Soviet harus dilindungi di mana pun mereka berada.
Pertarungan dengan Nazi dan Jepang
Pasukan katak Uni Soviet muncul pertama kali bersamaan dengan kemunculan unit serupa di belahan lain di dunia, yaitu pada masa-masa kelam Perang Dunia II. Dibentuk pada Agustus 1941, unit baru ini memiliki misi untuk mengumpulkan informasi, meledakkan pangkalan dan jembatan, dan menenggelamkan kapal musuh.
Unit-unit ini menjadi sangat diperlukan, terutama di Leningrad (sekarang Saint Petersburg), Kala itu, pasukan ini membantu membangun infrastruktur “Jalan Kehidupan” yang dibangun di atas Danau Ladoga. Ini merupaan satu-satunya cara untuk memasok persediaan makanan ke kota itu selama masa blokade. Meski terus dibom, pasukan katak tanpa putus asa terus memperbaiki jalan itu.
Pada akhirnya, Uni Soviet mengalahkan Jerman. Setelah itu, Pasukan Khusus, termasuk pasukan katak, dikirim ke medan perang di timur untuk membantu mengalahkan Jepang. Ketika perang akhirnya berakhir, pemerintah memutuskan untuk membubarkan unit khusus pasukan katak.
Teknik Khusus
Berbagai pemimpin, termasuk Marsekal Georgy Zhukov yang terkenal, berusaha untuk mengatur kembali pasukan khusus angkatan laut, dan ini dilakukan pada akhir 1960-an. Pada 1970, sebuah unit khusus bernama Lumba-Lumba diciptakan kembali di dalam GRU (Direktorat Intelijen Utama) Pasukan Khusus. Soviet kemudian harus mengejar ketinggalan dari Barat dalam hal teknologi, peralatan, dan persenjataan untuk pasukan katak mereka.
Mereka berhasil dan melengkapi tentara bawah laut ini dengan senjata yang tak terkalahkan, termasuk senapan bawah air APS dan pistol bawah air SPP. Unit Lumba-Lumba juga memiliki kapal selam khusus, Piranha, untuk keperluan mereka. Kapal kecil ini mampu mengangkut pasukan katak sejauh 1.600 kilometer dan beroperasi tanpa bantuan hingga sepuluh hari.
Siap Siaga
Seiring meningkatnya ketegangan selama Perang Dingin, unit Lumba-Lumba selalu siap siaga. Jika terjadi perang skala penuh, mereka akan berusaha menghancurkan seluruh jalur komunikasi Barat di sepanjang Atlantik dan Pasifik, sehingga memutus koneksi musuh-musuh Uni Soviet. Namun, itu tak pernah terjadi.
Meski begitu, pasukan katak tetap tak sempat duduk santai. Mereka berpartisipasi di hampir setiap konflik Perang Dingin, dan jumlahnya banyak. Sebagai contoh, mereka terlibat di Nikaragua, Angola, Mozambik, Vietnam, dan Etiopia. Tentu saja, keterlibatan mereka tak pernah resmi, dan mereka secara formal digunakan sebagai penasihat militer.
Unit Lumba-Lumba kembali dibubarkan pada 1990-an setelah runtuhnya Uni Soviet. Namun, ini tak berarti bahwa keterampilan pasukan katak hilang begitu saja. Baik para personel maupun teknik pasukan legendaris itu kini digunakan di berbagai unit Pasukan Khusus Rusia.

Rusia Sukses Uji Coba Rudal Pencegat 53T6 (NATO : SH-08/ABM-3A Gazelle)

Uji Coba Rudal Pencegat 53T6
Uji Coba Rudal Pencegat 53T6  

Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan bahwa mereka berhasil melakukan uji coba sistem anti rudal balistik atau Anti Balistic Missile (ABM) yang telah dipermodern di Sary-Shagan, Kazakhstan, pada 24 November. Namun, Rusia tidak menjelaskan secara rinci rudal pencegat yang mereka uji.
Pavel Podvig, seorang analis independen, mengatakan bahwa kemungkinan rudal pencegat yang dipermordern itu sama dengan yang diluncurkan, pada Juni 2017. Podvig mengatakan bahwa berdasarkan peluncurnya, rudal itu adalah 53T6, NATO menyebutnya SH-08/ABM-3A Gazelle.
Rudal 53T6 digunakan dalam sistem pencegat rudal balistik A-135 dan menjadi komponen kunci dalam sistem pertahanan anti rudal balistik Moskow. Sistem pencegat rudal balsistik A-135 menggunakan dua rudal, yaitu 51T6 yang mencegat di luar atmosfir (Exoatmospheric) dan 53T6 mencegat di atmosfir (Endoatmospheric). Rusia sudah memensiunkan rudal 51T6.
Rusia membangun dua platform sistem pertahanan anti balistik A-135 rudal 53T6, yaitu berbasis silo dan truk. Awalnya, rudal pencegat 53T6 berhulu ledak nuklir 10 kt, kemudian diganti hulu ledak fragmentizing konvensional. Rudal 53T6 mampu mencegat target sejauh 300km dengan ketinggian 50km.
Foto rudal Gazelle sangat langka di ranah publik, namun beberapa rincian dapat diketahui. Bentuk rudal itu meruncing, sangat mirip dengan ABM Amerika Serikat, Sprint. Rudal ini didesain oleh Toporkov OKB (OKB-134, sekarang Vympel NPO) dan diproduksi oleh Kisunko SKB (SKB-30, sekarang NIIRP).
Rudal pencegat Gezelle mampu melesat dengan kecepatan 4 km/detik atau 14.400 km/jam. Rudal dua tingkat ini memiliki panjang 10 m dengan diameter 1,3 m, dan menggunakan bahan bakar propelan padat. Sistem pertahanan anti rudal balistk ini menggunakan radar Don-2N. (Mahanizar Djohan)
Sumber : TSM

Menhan Dr. Ng Eng Hen Jajal Terbang LCA Tejas, Singapura Kepincut?

Menhan Dr. Ng Eng Hen Jajal Terbang LCA Tejas
Menhan Dr. Ng Eng Hen Jajal Terbang LCA Tejas 

Menteri Pertahanan Singapura Dr. Ng Eng Hen mencatatkan sejarah sebagai orang di luar India pertama yang menjajal duduk dan menerbangkan jet tempur asli India, Tejas Mk1 LCA (Light Combat Aircraft). Beliau terbang dengan pesawat tempur Tejas kursi ganda dari pangkalan udara AU India di Kalaikunda pada Senin, 28 November 2017.
Dua unit jet tempur Tejas yang pangkalan aslinya ada di Bangalore secara khusus diterbangkan ke Kalaikunda yang terletak di Bengal Barat untuk melaksanakan sorti terbang tersebut. Pilot yang menerbangkan Tejas tersebut adalah Marsekal Muda A.P. Singh, yang merupakan Direktur Program di Badan Pengembangan Aeronautika-Fasilitas Uji Penerbangan.
Dr. Ng Eng Hen sendiri berada di India untuk membuka latihan gabungan antara AU India dan AU Singapura yang sudah dilangsungkan sejak 2005 dan bertemu dengan Menteri Pertahanan India Nirmala Sitharaman dalam dialog Menteri Pertahanan Singapura-India yang kedua.
Dr. Eng seusai melakukan penerbangannya selama 45 menit memuji Tejas, dan mengatakan pesawat tempur India tersebut “mengagumkan dan sempurna, rasanya seperti mengendarai mobil yang nyaman dan bukan naik pesawat.” Namun ketika ditanya apakah Singapura memang tertarik untuk meminang Tejas, sang Menteri dengan taktis menjawab bahwa dirinya bukanlah pilot, yang bisa menilai hanyalah orang-orang teknis yang paham di bidangnya.
Sang Menteri dalam kesempatan itu juga menggunakannya untuk memuji AU India, “Saya bisa membayangkan kenapa pilot-pilot Singapura mendapatkan banyak pelajaran dengan berlatih bersama AU India, karena pilot India sangat percaya diri, sangat profesional, dan benar-benar ada di puncak kemampuannya.”
Singapura sendiri bisa saja membeli pesawat tempur seperti Tejas untuk pertahanan udara jarak dekat menggantikan F-5S Tiger yang sudah menua. Tejas sendiri kompatibel dengan banyak sistem senjata seperti rudal buatan Israel, yang juga sama dengan F-16C Block 52 yang dimiliki oleh AU Singapura.
Apabila memang Tejas terbeli, AU Singapura bisa menggunakannya untuk berlatih bersama dengan angkatan udara negara-negara tetangganya yang kapabilitas mesin tempur udaranya dua langkah tertinggal dibandingkan milik Singapura. Hal ini dapat membantu menjaga perasaan negara tetangganya yang secara ekonomi dan anggaran pertahanan jauh di bawah Singapura. (Aryo Nugroho)

Tiga Skuadron Tempur Latihan Bersama di Lanud Pekanbaru

Hawk 100/200
Hawk 100/200 

Tiga skuadron tempur udara dari Skuadron 12, Skuadron 16, dan Skuadron 1 dari dua Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin Pekanbaru dan Supadio Pontianak menggelar latihan bersama di Pekanbaru, Riau. Sedikitnya, 15 pesawat tempur dikerahkan dalam latihan gabungan pertahanan negara di Selat Malaka itu.
Danlanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Marsekal Pertama TBH Age Wiraksono, mengatakan, latihan akan berlangsung hingga 12 Desember mendatang, dengan melibatkan 15 pesawat tempur.
"TNI Angkatan Udara yang merupakan bagian dari TNI harus memiliki kesiapsiagaan tinggi agar dapat menjalankan tugasnya sebagai alat pertahanan negara dengan baik, guna menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar Age di Pekanbaru, Selasa (28/11).
Dia menjelaskan, untuk mempertahankan dan meningkatkan kesiapsiagaan tersebut, di Lanud Roesmin Nurjadin digelar latihan bertajuk Mission Oriented Training (MOT) yang diikuti oleh tiga Skuadron Udara yang terdapat di Lanud Roesmin Nurjadin dan Lanud Supadio terhitung mulai Senin (27/11).
Dipaparkannya, sebanyak 15 pesawat tempur yang terlibat terdiri atas lima pesawat Hawk 100/200 dari Skuadron Udara 12, lima pesawat F-16 dari Skuadron Udara 16, kemudian lima pesawat Hawk 100/200 Skuadron Udara 1, ditambah dengan satu unit Helikopter Puma TNI AU.
Selain itu, lanjutnya, sekitar 350 personel juga terlibat dalam latihan. Ratusan personel itu terdiri atas para penerbang, kru landasan, dan personel GCI dari beberapa Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosekhanudnas) hingga pendukung.
Danlanud menjelaskan, latihan ini bertujuan untuk memberikan bekal dan pengalaman serta meningkatkan pemahaman, kemampuan dalam bekerja sama antara penerbang yang mengoperasikan alat utama sistem pertahanan (alutsista) dengan platform yang berbeda-beda untuk secara terpadu melaksanakan operasi udara yang memiliki kompleksitas tinggi.
"Di samping itu juga, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dan kesiapsiagaan dari seluruh alutsista dan personel yang terlibat di dalamnya, mulai dari para penerbang, ground crew, hingga personel GCI dan juga pendukung," jelas Age.
Selain itu, Danlanud juga berpesan kepada seluruh peserta latihan untuk selalu mengedepankan faktor keselamatan dan keamanan serta selalu melakukan cek dan ricek, agar seluruh rangkaian latihan dapat berjalan dengan baik, aman, dan lancar.(OL-2) (Angga Saja - TSM)

Tahun 2018, China Punya Rudal DF-41 yang Bisa Jangkau Seluruh Bumi

Ilustrasi 

China akan segera memiliki salah satu senjata paling mutakhir, yaitu peluru kendali balistik yang dapat menjangkau seluruh permukaan bumi.
Yang Chengjun, ahli rudal yang memahami program rudal balistik China, mengatakan bahwa pengembangan senjata bernama DF-41 itu kini sudah mencapai tahap akhir dan diperkirakan bakal tiba di pangkalan militer Beijing pada awal 2018.
Kepada China Central Television, Yang mengatakan bahwa proses pengembangan rudal itu sejauh ini sangat baik. Uji coba yang dilakukan selama ini pun berjalan sukses.
Menurut Yang, DF-41 adalah rudal balistik generasi keempat yang memiliki mobilitas, presisi, dan jangkauan serang sangat baik.
Yang menjabarkan, rudal itu dapat diluncurkan dari lahan tak rata dan mampu menahan serangan elektronik.
"Rudal itu tentunya bisa membawa beberapa hulu ledak untuk mengenai target di mana pun di seluruh Bumi," ucap Yang.
Yang mengatakan, karakteristik rudal ini mirip dengan LGM-30G Minuteman III milik Amerika Serikat dan RT-2PM2 Topol-M dari Rusia. Namun, sejumlah teknologi dalam DF-41 lebih canggih dari produk AS dan Rusia itu.
DF-41 pun disebut-sebut sebagai senjata paling mematikan yang akan dimiliki oleh Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA). Tak ayal, DF-41 menjadi salah satu topik spekulasi terhangat bagi para penggemar militer meski selama bertahun-tahun China menyangkal keberadaan rudal ini.
Seorang pensiunan PLA, Xu Guangyu, sebelumnya pernah mengatakan bahwa total berat DF-41 mencapai 60 ton, dapat membawa 10 hulu ledak dengan berat 1,6 ton. Menurutnya, rudal ini dapat menempuh jarak 12.000-14.000 kilometer.
"DF-41 dapat menjangkau sudut mana pun di bumi. Siapa yang berani meluncurkan serangan nuklir terhadap kami akan menanggung balas dendam kami," kata Yang, sebagaimana dilansir The Straits Times. (Hanna Azarya Samosir)

Pakistan Memulai Negosiasi Keuangan untuk Pembelian Helikopter T129 Turki

Helikopter T129 Turki
Helikopter T129 Turki 

Rencana Pakistan untuk melakukan pembelian helikopter serang Turkish Aerospace Industries (TAI) T129 ATAK telah mencapai tahap negosiasi keuangan.
"Sesuai dengan rencana... [prosesnya] 90 persen selesai," dan bahwa masalahnya berlanjut ke proposal keuangan, yang sedang diperiksa oleh pihak Pakistan, kata Menteri Produksi Pertahanan Pakistan Rana Tanveer Hussain seperti dikutip oleh Quwa pada hari Minggu.
Rana Tanveer Hussain tengah melakukan kunjungan resmi dua hari resmi (24-26 November) ke Turki dalam upaya untuk meninjau kembali program pertahanan bilateral yang sedang berjalan.
Pada tanggal 25 November, Kementerian Produksi Pertahanan Pakistan menginformasikan kepada agen berita milik pemerintah Turki Anadolu Agency bahwa rencana Pakistan untuk pembelian helikopter Aerospace Industries (TAI) T129 ATAK dan empat kapal perang MILGEM merupakan subyek diskusi utama pada kunjungannya saat ini.
Pakistan memilih helikopter ATAK T129 dibandingkan China Changhe Aircraft Industries Corporation (CAIC) Z-10. Kedua produsen helikopter tersebut bersaing untuk memasok Angkatan Darat Pakistan dengan helikopter serang ringan sebanyak lebih dari 50 unit dengan negosiasi awal sebanyak 30 helikopter. Tiga helikopter tempur Z-10 telah menjalani uji coba oleh Pakistan sejak tahun 2015 sementara Angkatan Darat Pakistan juga telahmelakukan uji kinerja hot-and-high helikopter T129 ATAK sejak Juni 2016.
Pada acara pameran pertahanan IDEF 2017 di Turki pada bulan Mei, TAI dan PAC telah menandatangani sebuah nota kesepahaman (MoU) yang diikuti dengan kunjungan ke Pakistan oleh pimpinan TAI Temel Kotil, yang mengulangi komitmen TAI untuk memungkinkan PAC memproduksi suku cadang untuk helikopter T129 dan kemungkinan perakitan T129 ATAK di Pakistan.
T129 adalah varian upgrade dari helikopter serang Mangusta AgustaWestland A129 oleh perusahaan Turki seperti Aselsan, Roketsan dan Havelsan yang telah mengembangkan senjata dan subsistem untuk helikopter tersebut. (Angga Saja - TSM)

Versi Laut Iron Dome Israel Dinyatakan Operasional

Versi Laut Iron Dome Israel
Versi Laut Iron Dome Israel  

Setahun setengah setelah uji coba laut pertamanya, sistem Iron Dome Israel dinyatakan operasional penuh untuk digunakan pada kapal perang Israel pada hari Senin (27/11).
Sistem intersepsi maritim, yang dirancang untuk melindungi ladang gas dan jalur pelayaran Israel dari rudal jarak pendek, akan "menambah lapisan operasional" pada pertahanan udara berlapis Israel, bersama-sama dengan sistem rudal jarak jauh Arrow 3 dan jarak sedang David's Sling, yang masing-masing sudah operasional awal tahun ini, kata Brigjen. Tzvika Haimovitch, kepala Komando Pertahanan Udara Angkatan Pertahanan Israel (IAF).
Sistem tersebut ditempatkan pada helikopter pad kapal, beroperasi bersama dengan sistem identifikasi milik Angkatan Laut dan Angkatan Udara Israel.
Selama pengujian, baterai Iron Dome dipasang di INS Lahav, sebuah korvet kelas Sa'ar 5. Berbagai skenario diuji, seperti penembakan roket Grad ke platform pengeboran gas. Tim angkatan udara, yang bekerja dengan tim angkatan laut, menghancurkan semua roket yang menuju sasaran simulasi, yang mengarah pada kesimpulan bahwa sistem tersebut siap beroperasi.
Iron Dome maritim akan ditempatkan pada kapal, bukan platform gas itu sendiri, untuk alasan keselamatan. Akan mustahil menembakkan rudal dari platform gas, yang bisa menyebabkan kebakaran. Peluncur Tamir Iron Dome sekarang terhubung tidak hanya ke sistem radar Adir kapal Tersebut, tapi juga ke seluruh jaringan baterai Iron Dome berbasis darat.
Pada Musim panas ini, Kementerian Pertahanan Israel mengungkapkan bahwa pihaknya telah menginvestasikan sebesar NIS 1,5 miliar ($ 420 juta) untuk melengkapi Angkatan Laut Israel dengan sistem maritim untuk melindungi ladang gas dan jalur pelayaran negara tersebut, selain untuk membeli empat kapal korvet Sa'ar-6 dari Jerman
Anggaran NIS 1,5 miliar akan termasuk untuk baterai pertahanan rudal tambahan, sistem peperangan elektronik, sistem navigasi, pusat komando dan kendali, peralatan komunikasi dan sistem laut lainnya, kata pihak Kementerian Pertahanan Israel pada bulan Juli lalu. (Angga Saja - TSM)

Jet tempur Rusia Lakukan Manuver Berbahaya saat Cegat Pesawat P-8A Poseidon AS

Pesawat P-8A Poseidon AS
Pesawat P-8A Poseidon AS 

Kementerian Pertahanan Amerika Serikat menyatakan bahwa jet tempur jenis Sukhoi Rusia melakukan manuver berbahaya ketika mencegat pesawat militer Washington, P-8A Poseidon, yang sedang terbang di atas Laut Hitam.
Juru bicara Pentagon, Letnan Kolonel Michelle Baldanza, mengatakan bahwa jet tempur Rusia itu tiba-tiba melintas di depan pesawat AS dari arah kanan ke kiri.
Saat insiden selama 24 menit itu terjadi, jet tempur Rusia dan P-8A Poseidon hanya berjarak 50 kaki. Selama melakukan manuver itu, awak Sukhoi juga mengaktifkan mesin pembuangan atau afterburners yang kerap mengeluarkan api.
“Aksi tidak aman ini tentunya berpotensi menimbulkan bahaya serius dan cedera bagi awak pesawat yang terlibat,” ujar Baldanza.
Menurut Baldanza, P-8A Poseidon terpaksa berbalik 15 derajat dan mengalami turbulensi yang sangat keras. Awak P-8A Poseidon pun mengaktifkan transponder, radar sinyal yang digunakan untuk mengetahui posisi pesawat ketika berada di angkasa.
“Pesawat militer AS tengah beroperasi di wilayah udara internasional pada Sabtu pekan lalu dan tidak melakukan hal apa pun yang memicu manuver jet tempur Rusia tersebut,” kata Baldanza.
Insiden ini bukan yang pertama terjadi antara pesawat militer AS dan Rusia. Pada awal Juni lalu, Rusia mengerahkan jet tempur untuk mencegat pesawat pengebom AS yang dilaporkan melintas di Laut Baltik, dekat perbatasan negaranya.
AS mengatakan pesawat pengebom itu terbang di wilayah udara internasional dalam suatu operasi rutin.
Kawasan Baltik dan Laut Hitam menjadi wilayah rentan insiden pencegatan pesawat kedua negara, terutama setelah Rusia meningkatkan kehadiran militernya di wilayah tersebut pasca-pencaplokan Crimea pada 2014.
Sejak itu, militer AS dan NATO makin gencar beroperasi di wilayah tersebut untuk mengantisipasi pergerakan militer Rusia. (Riva Dessthania Suastha)

Denarhanud Rudal Bontang Uji Coba Rudal Grom di Pantai Sekerat

Uji Coba Rudal Grom
Uji Coba Rudal Grom  

Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Sonhadji meninjau langsung uji coba Rudal Grom yang dilaksanakan prajurit Denarhanud Rudal 002/Bontang, di Pantai Sekerat Bengalon, Sangatta, Kalimantan Timur, Sabtu (25/11/2017).
Kemampuan prajurit yang dikomandani Mayor Arh Reindi Trisetyo ini, diuji dalam mengoperasikan sekaligus menembakan senjata berat 23 mm bersama Rudal Poprad.
Sebuah pesawat diterbangkan yang disimulasikan pesawat musuh memasuki kawasan vital di Indonesia. Saat pesawat memasuki udara Indonesia, langsung dilakukan deteksi untuk mengetahui tujuan pesawat memasuki kawasan terlarang di Indonesia. Kemudian, peringatan dilakukan namun diabaikan sehingga sejumlah rudal diluncurkan. “Pelucuran rudal merupakan tindakan terakhir,” terang Mayor Arh Reindi Trisetyo.
Disebutkan, Rudal Grom adalah rudal jenis Short Range Air Defence alias rudal pertahanan udara jarak pendek. Sebagai rudal SAM ringan, Grom pertama kali diproduksi pada tahun 1995, dirancang oleh Military Institute of Armament Technology dan diproduksi oleh Mesko, Skarzysko-Kamienna, manufaktur senjata asal Polandia. “Rudal Grom mulai memperkuat Detasemen Rudal 002 Kodam VI/Mulawarman yang mengamankan obyek vital di Bontang,” ujarnya.
Mayor Arh Reindi Trisetyo menyampaikan, berdasarkan data, Rudal Grom milik Arhanud TNI AD bisa dipasang dalam platform peluncur Poprad dan meriam 23-mm/ZUR komposit. Poprad yang dipakai oleh TNI AD, menggunakan platform
Jip Defender dari Land Rover. Dalam satu Jip tersedia 4 (empat) peluncur Grom yang bisa berputar 360 derajat.
“Dengan adopsi peluncur Grom pada kendaraan berkemampuan off road, diharapkan gelar operasi rudal ini dapat lebih mobile dan fleksibel. Umumnya dalam satu Jip peluncur membawa 8 rudal, 4 yang siap tembak dan sisanya 4 rudal sebagai cadangan,” tutur Mayor Arh Reindi Trisetyo. (Angga Saja - TSM)
Sumber : tniad.mil.id

Ramses Ohee, Tokoh Pejuang Pepera Tegaskan Papua Sebagai Bagian dari NKRI Sudah Final

Papua Sebagai Bagian dari NKRI Sudah Final
Papua Sebagai Bagian dari NKRI Sudah Final 

Tokoh pejuang Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) 1969 Ramses Ohee bersama Staf Khusus Presiden Lenis Kogoya, dan para tokoh adat di tujuh wilayah adat Papua menegaskan keberadaan Papua sebagai bagian dari NKRI adalah final. Dan, tidak ada perayaan 1 Desember sebagai Kemerdekaan Papua.
Ramses Ohee dalam sesi jumpa pers di Pendopo Adat Suku Sentani di Sentani, Kabupaten Jayapura, Selasa (28/11/2017) siang mengatakan, Pepera 1969 adalah hasil kesepakatan dari tokoh-tokoh adat Papua saat itu.
"Ada sekitar seribu lebih tokoh adat Papua dari pantai, lembah, dan gunung turut dalam Pepera 69 itu, termasuk saya, dan kemudian hasil Pepera itu dibawa ke PBB selanjutnya disahkan, dan ini artinya final, kita sudah merdeka," kata Ramses Ohee, Selasa (28/11/2017).
Oleh karena itu, dirinya meminta berbagai pihak yang ingin membalikkan sejarah tersebut untuk berhenti dan mengakui kedaulatan NKRI. "Hargai perjuangan orang-orang tua kita, mereka telah menanam benih dan berbuah kemerdekaan Republik Indonesia, jadi jangan diutak-atik lagi," tegasnya.
Dirinya pun menegaskan bahwa 1 Desember bukan Hari Papua Merdeka. "1 Desember tidak ada apa-apa, malah menjadi hari integrasi bagi Papua bergabung ke Indonesia, bukan terus dijadikan sebagai Hari Kemerdekaan Papua," ucapnya.
Lenis Kogoya dalam kesempatan yang sama mempertanyaan gejolak keamanan jelang 1 Desember di Papua. Menurutnya, ada pihak-pihak yang sengaja membuat isu tersebut mencuat ke publik.
"Saat ini mulai muncul gejolak, dan kita tanya sebagai tokoh adat Papua, apakah hanya musiman, atau karena ideologi, atau buat-buatan, pertanyaan siapa yang membuat itu?"
Menurutnya, Presiden telah mengenjot pembangunan di Papua, termasuk Otsus yang digelontorkan ke Papua. "Saya bersama Bapak Jokowi sampai masuk-masuk ke wilayah pedalaman Papua, termasuk ke basis (KKB, red) di Nduga dan Puncak Jaya, itu kita lakukan untuk pemerataan kesejahteraan pendidikan juga kesehatan," ucapnya.
Sesi jumpa pers ditutup dengan pernyataan sikap yang dibacakan oleh Martinus Marware, ketua Dewan Adat Kabupaten Jayapura, di antaranya menolak dengan tegas tanggal 1 Desember sebagai Hari Kemerdekaan Bangsa Papua atau hari TPN-OPM dan mendeklarasikan bahwa tanggal 1 Mei 1963 sebagai 'Hari Kembalinya Irian Barat' ke pangkuan ibu pertiwi NKRI dan hendaklah tanggal tersebut diberlakukan sebagai hari libur untuk seluruh Papua. (Edy Siswanto)

KAPA Multiguna Besutan PT Wirajayadi Bahari, Digadang Sebagai Pengganti KAPA K-61 Korps Marinir

Kendaraan Amfibi Pengangkut Artileri
Kendaraan Amfibi Pengangkut Artileri 

Mengingat KAPA (Kendaraan Amfibi Pengangkut Artileri) yang dioperasikan Korps Marinir telah berusia lanjut, yakni K-61 dan PTS-10, maka Batalyon KAPA Resimen Kavaleri Marinir membutuhkan modernisasi jenis KAPA, maklum peran KAPA cukup vital, selain diperlukan dalam menunjang operasi pendaratan amfibi, KAPA terbukti punya andil besar dalam operasi tanggap darurat bencana alam, hingga mendukung misi SAR.
Meski belum ada kontrak pengadaan KAPA baru untuk Marinir, setidaknya kini ada dua tipe yang ditawarkan untuk Korps Baret Ungu. Yang pertama adalah KAPA RD MK1, jenis KAPA ini resminya masih berupa mockup yang telah ditampilkan sosoknya dalam Indo Defence 2016. Sebagai pihak yang menawarkan solusi adalah perusahaan swasta nasional, PT Republik Defensino yang merilis desain mockup Amphibious Tracked Carrier KAPA RD MK1. Meski masih berwujud mockup, pihak manufaktur telah merilis bahwa ransus (kendaraan khusus) ini bakal punya bobot total 25 ton. RD MK1 rencananya akan ditenagai mesin diesel Iveco L6 dengan enam silinder. Kekuatan mesin RD MK1 disebut-sebut mencapai 590HP.
Detail tentang KAPA RD MK1 telah kami kupas di artikel terdahulu, sementara tipe kedua yang ditawarkan untuk Korps Marinir adalah KAPA Mutliguna lansiran PT Wirajayadi Bahari. Berbeda dengan RD MK1, KAPA Multiguna sudah dalam wujud prototipe dan lebih jauh telah berhasil dilakukan uji coba di Perairan Tuban, Jawa Timur.
Menurut Bintoro, pimpinan PT Wirajayadi Bahari yang ditemui penulis, KAPA Mutliguna yang di cat loreng coklat ini memang dibangun sebagai modernisasi dari K-61. “Tapi perlu dicatat, KAPA buatan kami tidak menggunakan sasis dari K-61, semuanya serba baru, mulai dari roda rantai sampai mesin,” ujar Bintoro.
Bila diperhatikan secara seksama, memang ada beberapa kemiripan antara KAPA buatan Surabaya ini dengan K-61, seperti posisi dua bilah propeller dan penempatan posisi mesin di bagian tengah. Namun KAPA Multiguna dirancang lebih kekinian, terbukti dari peningkatan proteksi pada kompartemen pengemudi dan navigator. Pun pada bagian depan sudah dilengkapi pemecah gelombang yang ketinggiannya dapat disesuaikan. Sementara untuk roda rantainya, mencomot model tank China/Rusia, atau mirip yang digunakan BTR-50 dan PT-76, artinya berukuran lebih besar dari roda rantai milik K-61.
Dapur pacu KAPA Multiguna disokong mesin Cummins ISZ 525-40 dengan RPM 2.100 plus tenaga 525HP/368KW. KAPA ini dapat melaju di darat dengan kecepatan maksimum 50 km per jam, dan di air menggunakan dua propeller berukuran 540 mm, kecepatan maksimumnya mencapai 12 km per jam. Dengan bobot muatan penuh 17,5 ton, KAPA Multiguna dirancang untuk menggotong sepucuk Howitzer kaliber 105 mm. (Haryo Adjie)
Spesifikasi KAPA Multiguna :
  • Panjang: 9,2 meter
  • Lebar: 3,23 meter
  • Tinggi: 2,6 meter
  • Groud Clearance: 480 mm
  • Gearbox: Reintjes (Cina)
  • Suspensi: Batang torsi
  • Mesin: Cummins ISZ 525-40
  • Tenaga: 525HP/386KW
  • Max Torque: 2508 NM
  • Kecepatan maks di darat: 50 km per jam
  • Kecepatan maks di air: 12 km per jam

Juara Umum 12 Kali, Beberapa Negara Minta Dilatih Menembak oleh TNI

ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) 2017
ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) 2017 

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) TNI Jenderal TNI Mulyono mengaku bangga dengan pencapaian Kontingen TNI AD meraih juara umum dalam lomba tembak antar Angkatan Darat Negara-negara ASEAN atau The ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) 2017 di Singapura.
Ia juga mengaku mendapat ucapan selamat dari seluruh KSAD negara Asia Tenggara lainnya. Bahkan, ada beberapa negara tetangga yang meminta dilatih menembak oleh TNI AD.
"Mungkin mereka kagum sama Indonesia sampai sekian kali juara terus. Mereka berpikir bagaimana caranya mengalahkan Indonesia. Sehingga ada beberapa negara yang minta dilatih negara kita," kata Mulyono usai menerima laporan Kontingen Menembak TNI AD, di Mabes TNI AD, Jakarta, Selasa (28/11/2017).
"Yang minta dilatih yang sudah kan Brunei, Laos juga sudah. Ke depan Malaysia juga minta dilatih karena tahun depan Malaysia menjadi tuan rumah," tambah Mulyono.
Mulyono memastikan bahwa TNI AD bersedia untuk membantu melatih prajurit angkatan darat Malaysia. Latihan ini sekaligus diberikan sebagai tanda persahabatan angkatan darat kedua negara.
"Tentunya sebagai tuan rumah tidak ingin juga dia malu di negaranya. Atau dia kalah. Minimal kan dia harus mendapatkan tropi atau pun medali. Keinginan dia seperti itu," kata Mulyono.
Mulyono memastikan bahwa pelatihan yang diberikan tidak lantas membuat posisi TNI AD menjadi terancam pada turnamen berikutnya. Ia tetap yakin Kontingen Menembak TNI AD akan tetap unggul.
"Kalau mengalahkan Indonesia tidak mungkin, tapi setidaknya dia dapat medali," ucap Mulyono.
Kontingen TNI AD meraih prestasi terbaik dalam sejarah penyelenggaraan Lomba Tembak antar Angkatan Darat Negara-negara ASEAN atau The ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) 2017 di Singapura pada 14 November hingga 23 November 2017 lalu.
Mereka berhasil memecahkan rekor dengan perolehan 9 tropi, 31 emas, 10 perak dan 10 perunggu. Tak heran jika mereka unggul di antara 9 negara lainnya dan menjadi juara umum.
AARM 2017 diikuti oleh 10 negara ASEAN yaitu lndonesia, Thailand, Filipina, Singapura, Malaysia, Vietnam, Myanmar, Laos, Brunei dan Timor Leste.
Kompetisi yang digelar tiap tahun sejak 1991 mempertandingkan 5 kategori yaitu Senapan, Karaben, Pistol Putra dan Putri serta Senapan otomatis (machine gun).
Tercatat hingga saat ini Indonesia menjadi negara yang paling banyak menjadi juara umum sebanyak 12 kali.

Berdimensi Laksana Frigat, KN Tanjung Datu 1101 Berstatus Kapal Patroli Penjaga Pantai

KN Tanjung Datu 1101
KN Tanjung Datu 1101  

Kilas balik ke 17 Juni 2016, saat itu terjadi insiden dramatis di Laut Natuna, pasalnya kapal penjaga pantai alias China Coast Guard (CCG) dilaporkan terus membayang-bayangi aksi penegakan hukum yang dilakukan kapal perang TNI AL atas illegal fishing yang dilakukan kapal nelayan China. Tak satu dua kali pula, kapal CCG berani menghalangi upaya penangkapan yang dilakukan aparat Indonesia.
Bahkan kapal CCG yang diketahui dengan identitas Haijing 3303 berani mendekati dan memotong arah korvet KRI Imam Bonjol-383 yang tengah melakukan upaya penarikan kapal ikan asing asal China, Han Tan Cou. Meski kodratnya adalah kapal penjaga pantai, kapal tersebut punya dimensi lumayan besar, bahkan banyak yang memperkirakan dimensinya setara dengan frigat Van Speijk Class milik TNI AL. Haijing 3303 masuk dalam kelas Zhaoyu WPS, meski resminya bukan kapal perang, tapi kapal ini dibangun dari platform korvet Type 056 Jiangdao Class.
Haijing 3303 punya berat kosong 3.450 ton. Panjang kapal ini 111 meter dengan lebar 15 meter. Kapal ini juga dilengkapi heli pad dan fasilitas hanggar. Sementara jumlah awaknya 50 orang. Untuk spesifikasi mesin, kecepatan, dan dukungan sensor yang melengkapi, hingga saat ini masih belum diketahui. Namun merujuk ke oplanchina.com, Haijing 3303 dilengkapi meriam air (water canon) dan kanon PSU (Penangkis Serangan Udara) jenis PJ17 naval gun kaliber 30 mm buatan Norinco.
Pesan dari keberadaan kapal patroli penjaga pantai selelas Haijing 3303 adalah kemampuan daya jelajah dan endurance yang tinggi, menjadikan kapal patroli ini dapat meronda jauh dari pangkalannnya. Poin inilah yang menjadi titik lemah dari armada Indonesia Cost Guard yang ada dalam arsenal Badan Keamanan Laut (Bakamla). Selama ini armada kapal patroli Bakamla adalah jenis ukuran kecil dan sedang, dengan jarak jelajah dan endurance minim.
KN Tanjung Datu 1101
Seolah ingin merespon keberadaan kapal patroli selelas Haijing 3303, Bakamla pada Senin (20/11/2017) meresmikan penamaan kapal patroli terbarunya yang diberi nama KN (Kapal Negara) Tanjung Datu dengan nomer lambung 1101. Ada yang khas dari KN Tanjung Datu, pasalnya ini merupakan kapal patroli terbesar yang bakal dioperasikan Bakamla.
Betapa tidak, dimensi KN Tanjung Datu setara dengan sebuah korvet. Bisa dilihat dari panjang lambung kapal yang mencapai 110 meter, lebih panjang ketimbang Perusak Kawal Rudal (PKR) RE Martadinata Class yang punya panjang 105 meter. Lebar KN Tanjung Datu adalah 15 meter dengan bobot 2.400 ton, dan tinggi geladak utama 6,9 meter.
Untuk sistem penggerak, KN Tanjung Datu 1101 dilengkapi dengan dua mesin utama yang punya kekuatan 5,300hp, dibantu empat mesin diesel generator @250Kva yang mampu melaju dengan kecepatan 20 knots per jam. Sementara kecepatan jelajah kapal penjaga pantai ini adalah 15 knots. KN Tanjung Datu 1101 mampu menampung satu helipad ukuran medium dengan bobot maksimal delapan ton, sehingga kapal patroli ini sanggup di darati helikopter sekelas NBell-412. Konstruksi kapal mampu menampung 76 anak buah kapal dengan tambahan 56 orang akomodasi tambahan.
Bila kapasitas tangki terisi penuh (264 ribu liter), maka jarak jelajah kapal ini bisa mencapai 4.630 km pada kecepatan 12 knots. Bekal air tawar yang bisa ditampung hingga 252 ribu liter.
Dengan dilakukan peluncuran ini maka untuk pertama kalinya kapal diapungkan ke laut, setelah sebelumnya dilakukan visual inspection test dan witness NDT oleh Bureau Veritas sebagai badan klasifikasi kapal internasional. Sebelum melaut, kapal besar ini akan terlebih dahulu diuji sistem navigasi dan kelayakan laut untuk memastikan semuanya berfungsi dengan baik. Dari segi ketahanan, kapal ini mampu melaju di tengah ombak lima meter. Nantinya Bakamla akan melakukan pembangunan tiga unit kapal serupa dengan ukuran medium.
Yang cukup menggetarkan ternyata pembuat kapal patroli terbesar ini justru perusahaan swasta dalam negeri, PT Palindo Marine Shipyard, Batam, perusahaan yang sebelumnya cukup populer memasok kapal perang untuk untuk segmen KCR (Kapal Cepat Rudal) dan kapal patroli.
Nama KN Tanjung Datu diambil dari nama daerah perbatasan Indonesia dengan Malaysia, tepatnya di Kelurahan Temajuk Kecamatan Paloh, Kab. Sambas, Prov. Kalbar, dimana terdapat mercusuar setinggi 43 meter di kawasan hutan lindung lereng Gunung Datu sebagai penanda batas kepemilikan wilayah RI. Kapal ini resmi dipesan ke PT Palindo Marine pada tahun 2015.
Bakal jadi andalan untuk misi patroli ZEE (Zona Ekonomi Eksklusif) dan SAR, KN Tanjung Datu dilengkapi tiga unit rigid hull inflatable boats (RHIBs). KN Tanjung Datu juga dirancang sebagai basis operasi drone helicopter, terbukti dengan tersedianya fasilitas flight deck. Karena disasar untuk menghadapi kapal sipil di lautan, bekal penindakan andalan kapal khas Penjaga Pantai adalah adanya water cannon. (Haryo Adjie)

Kapal Perang Admiral Panteleyev Rusia Mampir Kunjungi Jakarta

Kapal Perang Admiral Panteleyev Rusia
Kapal Perang Admiral Panteleyev Rusia  

“Rusia adalah sahabat Indonesia, yang akan datang menolong kalau Republik ini diancam oleh negara lain”, adalah salah satu manifesto dan jargon yang sangat diyakini kesahihannya oleh para penggemar alutsista Rusia. Setiap kali membuka forum atau media sosial, pernyataan senada seperti ini seringkali ditemukan. Penulis sendiri ambil positifnya saja, artinya banyak sekali yang memang ngefans dengan peralatan tempur Rusia dan negaranya sendiri.
Nah, untuk membuktikan kecintaan terhadap alutsista Rusia tersebut, jangan lewatkan kunjungan kapal perang Rusia yakni kapal perusak spesialis anti kapal selam kelas Udaloy yaitu Admiral Panteleyev dan kapal pendukungnya yaitu kapal BCM (Bantu Cair Minyak) Boris Butoma. Kedua kapal perang ini berasal dari Armada Pasifik Rusia yang bermarkas di Vladivostok. Kedua kapal tersebut saat ini sudah tiba di Tanjung Priok dan tengah mengadakan serangkaian kunjungan perwira ke TNI AL.
Admiral Panteleyev dan Boris Butoma akan mengadakan hari kunjungan publik atau public day besok, 29 November 2017 di pelabuhan JICT-2, pada pukul 10 pagi sampai dengan jam 4 sore. Pelabuhan JICT-2 bisa dicapai dengan jalur tol inner ring road yang mengarah ke jalan Yos Sudarso, terus ke arah Kolinlamil lalu belok ke kiri.
Admiral Panteleyev sendiri memiliki panjang 163 meter, lebar 19,3 meter, dan benaman 6,2 meter. Bobotnya mencapai 6.200 ton. Admiral Panteleyev sendiri merupakan kapal perusak kelas Udaloy kedua yang datang ke Jakarta, setelah sebelumnya Admiral Tributs datang pada pameran Indo Defence terakhir. Admiral Panteleyev dan Boris Butoma terakhir tercatat mengunjungi Filipina dalam rangka penyerahan bantuan senjata.
Sistem senjata anti permukaan pada Udaloy pun boleh dikata hanya dicukupkan untuk pertahanan diri belaka. Bentuk lambung dan superstruktur tidak berbeda jauh dengan Krivak, dimana Udaloy menggunakan desain standar Rusia dengan dua casemate meriam di depan, anjungan yang diapit oleh dua sel rudal, kemudian tiang-tiang radar, dua cerobong, dan di bagian belakang ada dua hangar helikopter yang bersisian untuk helikopter anti kapal selam Ka-27 Helix.
Pembaca bisa mengagumi meriam raksasa AK-100 DP yang terpasang pada dua kubah di haluan, masing-masing dengan satu laras meriam 100mm L70 A-214. Kubah di belakang posisinya lebih tinggi sedikit di atas kubah depan, untuk memberi ruang putar laras.
Setiap laras meriam dibungkus dengan jaket berisi air untuk pendinginan secara cepat, dan sistem pasokannya juga otomatis untuk memberikan kecepatan tembak maksimal. Kubah dari bahan baja yang menaungi meriam sanggup menampung dua drum amunisi berkapasitas 174 butir peluru per kubah.
Pesan admin, bawalah topi dan jas hujan karena cuaca tidak menentu. Kalau sambutan perwira di atas kapal Rusia terkesan dingin dan seadanya, itu adalah memang khasnya sambutan Rusia. Kalau dilarang berfoto di beberapa tempat pun, patuhi saja. Pembaca juga kemungkinan besar hanya diajak tur sampai di atas haluan dan lambung kapal, tapi tidak diperbolehkan masuk ke anjungan, beda dengan kunjungan kapal-kapal perang NATO yang ramah senyum dan terbuka. (Aryo Nugroho)

KRI Bima Suci Tiba di Sabang Provinsi Aceh

KRI Bima Suci
KRI Bima Suci 

Kapal layar tiang tinggi TNI AL, KRI Bima Suci, tiba di pulau terluar paling ujung barat Indonesia, Pulau Weh, Selasa pagi. Ini adalah kiprah perdana KRI Bima Suci di Tanah Air, yang akan berpartisipasi dalam Sail Sabang 2017.
KRI Bima Suci tiba di Teluk Sabang, Pulau Weh, Aceh, sekira pukul 06:00 WIB. Sebelum sandar di Pelabuhan CT-3 Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang, suara gemuruh drum band para kadet Akademi TNI AL terdengar jelas di kejauhan sana.
Mereka menunjukkan kebolehan ber-drum band dari geladak-geladak terbuka KRI Bima Suci, dengan seragam parade biru-putih.
Sementara di Pelabuhan CT-3 BPKS, Komandan Pangkalan TNI AL Sabang, Kolonel Laut Pelaut Kycki Salvadhie, bersama sejumlah perwira-nya, Asisten-II Pemerintah Kota Sabang, Kamaruddin, dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlevi, serta Wakil Ketua DPRK Sabang, Afrizal, dan unsur Forkompinda se-Kota Sabang menyambut langsung kedatangan kapal layar tiang tinggi terbaru TNI AL itu.
Masih di Pelabuhan CT-3 BPKS, puluhan personil Pangkalan TNI AL Sabang juga ikut memainkan drum band penyambutan KRI Bima Suci.
Sekira pukul 08:50 WIB KRI Bima Suci sandar secara mulus di Pelabuhan CT-3 BPKS, di pulau terluar paling ujung barat Indonesia.
Komandan Kapal KRI Bima Suci, Letnan Kolonel Pelaut Widiyatmoko Baruno Aji, bersama seorang perempuan kadet Akademi TNI AL turun dan disambut Duta Wisata Sabang (Cut Abang dan Cut Adek) serta dikalungi bunga dan disuguhi tarian ranub lampuan sirih dalam bati sebagai bentuk peumulia jame alias memuliakan tamu.
"Selamat datang KRI Bima Suci dan selama Sail Sabang 2017, KRI Bima Suci dibuka bagi semua masyarakat yang ingin menyaksikan langsung dan dipersilakan secara terbuka naik ke kapal," kata Salvadhie.
Dia lalu naik ke geladak KRI Bima Suci, di mana dia berpesan kepada para kadet Akademi TNI AL untuk membuka diri dengan masyarakat maupun pengunjung yang naik ke kapal.
Selanjutnya, Baruno Aji mengakui, selama pelayaran dari Spanyol sampai di Jakarta dan kembali berlayar ke Sabang, cuaca di laut sangat bersahabat dan mereka bisa tiba di pulau terluar Indonesia sesuai target.
"Cuacanya bagus dan yang ikut dalam pelayaran ini semua ada 94 taruna, 13 di antaranya taruni, kimudian pendampingnya tujuh personil," kata Baruno Aji.
Masyarakat pulau terluar paling ujung barat Indonesia serta wisatawan domestik juga antusias menyambut kedatangan KRI Bima Suci itu.
Begitu mendapat izin naik ke geladak kapal layar tiang tinggi kelas Barque tiga tiang itu, warga pun berbondong-bondong memenuhi geladak kapal yang dibuat di galangan kapal Freire, Vigo, Spanyol, dengan nilai kontrak sekitar 78 juta dolar Amerika Serikat itu.
Sejauh ini, TNI AL memiliki dua kapal layar tiang tinggi yang masih operasional. Mereka adalah KRI Dewaruci, di kelas Barquentine tiga tiang, buatan galangan kapal Stulcken und Sohns, Hamburg, Jerman, yang mulai dibangun pada 1952 dan tergabung ke TNI AL pada 1954, serta KRI Bima Suci, yang dibangun sejak 2015 dan tergabung dengan TNI AL sejak 18 September 2017 itu.
Selain mereka berdua, ada kapal layar kelas yacht, yaitu KRI Arung Samudera I dan KRI Arung Samudera II.

Menhan : Pembelian 11 Pesawat Sukhoi Su-35 Sudah Selesai

Pesawat Sukhoi Su-35
Pesawat Sukhoi Su-35 

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyampaikan masalah pesawat Sukhoi Su-35 Flanker E dari Rusia sudah selesai dengan jumlah pembelian 11 unit.
"Lho, kok, nanya terus, sih. Masalah Sukhoi sudah selesai. Kita beli 11 unit, bukan delapan unit. Kalau beli delapan unit, itu namanya korupsi," ujarnya setelah melakukan pertemuan dengan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto pada Selasa, 28 November 2017.
Seperti diketahui, Indonesia dan Rusia bersepakat melakukan jual-beli 11 pesawat Sukhoi Su-35 dengan mekanisme imbal dagang. Dengan kata lain, pembelian satu pesawat tempur dengan nilai lebih-kurang US$ 90 juta tersebut bisa menggunakan komoditas dagang, bukan uang.
Ryamizad menyebutkan 11 unit pesawat Sukhoi Su-35 itu dibeli. "Enggak ada barter, tapi dibeli," katanya.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan pembelian pesawat Sukhoi Su-35 Flanker E dari Rusia dengan cara imbal beli atau barter terus dilakukan.
"Prosesnya masih jalan. Sistemnya barter (imbal beli), masih dalam proses, salah satunya dengan karet karena Rusia sedang membutuhkan karet," ucapnya seusai penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Perdagangan dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia di gedung Kementerian Perdagangan, Rabu, 23 Agustus lalu.
Awalnya, Sukhoi Su-35 akan dilepas pemerintah Rusia seharga US$ 150 juta per unit. Namun, setelah melalui berbagai tahap negosiasi, termasuk dalam hal spesifikasi pesawat tempur itu, disepakati harga US$ 90 juta per unit yang bisa digantikan dengan komoditas Indonesia.

Rudal Balistik Antar Benua RS-28 Rusia, Mampu Atasi Semua Sistem Pertahanan Udara di dunia

Rudal Balistik Antar Benua RS-28 Rusia
Rudal Balistik Antar Benua RS-28 Rusia 

Wakil menteri pertahanan Rusia, Deputy Minister of Defense Yuri Borisov mengatakan bahwa Rusia akan melakukan uji coba rudal balistik antar benua RS-28 Sarmat, pada akhir 2017. Uji coba dilaksanakan di kosmodrom Plesetsk Rusia barat, dekat perbatasannya dengan Finlandia.
RS-28 Sarmat dapat membawa selusin kepala nuklir yang dapat mencari sasarannya sendiri untuk menghancurkan wilayah seluas Texas atau Prancis. Media TV Zvezda mengklaim bahwa Sarmat dapat menenggelamkan separuh California.
Kantor berita Rusia, TASS, menyebut bahwa Sarmat dapat mengatasi semua sistem pertahanan udara yang ada di dunia. Klaim ataupun spekulasi muncul karena militer Rusia merahasiakan kemampuan Sarmat yang sesungguhnya. Para pengamat meenyebut bahwa Sarmat termasuk sistem rudal generasi kelima.
Pengamat militer Alexei Leonkov menyebutkan bahwa Sarmat memiliki jangkauan hingga 18.000 kilometer, dengan masing-masing kepala nuklir berkekuatan 750 kiloton. Setiap kepala nuklir dapat melesat dengan kecepatan hipersonik dan bermanuver.
Kecepatan hipersonik dan kemampuan manuver ini membuat sistem pertahanan rudal yang ada di dunia tidak dapat menghentikan rudal balistik RS-28. Sarmat merupakan respon efektif terhadap penempatan pertahanan rudal AS di dekat perbatasan Rusia.
Dunia heboh saat Makeyev Rocket Design Bureau memperlihatkan gambar rudal balistik anta benua RS-28 Sarmat yang dikembangkan pada Oktober 2016. Sarmat dijadwalkan mulai beroperasi pada tahun 2018 menggantikan sistem balistik RS-20V Voyevoda (NATO menyebutnya SS-18 Mod.3 Satan). (Mahanizar Djohan)
Sumber :TSM

Tunjuk Panglima TNI, Presiden Diminta Pertimbangkan Sejumlah Aspek

Panglima TNI
Panglima TNI 

Komisi I DPR belum menerima surat pengajuan dari Presiden Joko Widodo untuk melakukan uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) terhadap calon panglima TNI.
Wakil Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid yakin, Presiden Joko Widodo telah memilih waktu yang tepat untuk menyerahkan pengajuan tersebut.
Panglima TNI yang baru akan menggantikan Jenderal Gatot Nurmantyo yang akan memasuki masa pensiun pada Maret 2018.
"Prinsipnya, Komisi I siap menerima kapan pun. Kami sudah mempersiapkan dan berulang kali melakukan uji kepatutan dan kelayakan. Jadi prosesnya tidak akan lama di DPR," kata Meutya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (27/11/2017).
Dalam menunjuk calon panglima TNI, menurut dia, rotasi matra tak menjadi syarat mutlak. Ada beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan. Misalnya, kondisi sosial politik negara.
Adapun salah satu agenda politik besar ke depan adalah Pemilu Serentak 2019.
"Ada juga aspek kondisi sosial politik yang harus dicermati oleh pemerintah dalam hal ini Presiden. Karena itu, kami kembalikan lagi kepada Presiden, Presiden yang paling mengetahui keperluan kondisi sosial politik ini," kata politisi Partai Golkar itu.
Sementara itu, anggota Komisi I DPR Andreas Hugo Pareira mengatakan, Presiden harus mempertimbangkan aspek internal dan eksternal dalam memilih panglima TNI yang baru.
Aspek internal meliputi organisasi TNI ke dalam terkait kemampuan mengendalikan baik TNI Angkatan Udara, Darat, maupun Laut. Sementara itu, aspek eksternal meliputi ancaman terhadap negara.
"Soal itu kami serahkan kepada Presiden bagaimana melihat persoalan internal. Artinya kebutuhan organisasi dan TNI sendiri kemudian bagaimana persepsi ancamannya," ujar politisi PDI-P itu.
Sebelumnya, Direktur Imparsial Al Araf mengatakan, Presiden Joko Widodo harus mempertimbangkan pola rotasi secara bergiliran agar memberikan penyegaran dalam tubuh TNI.
"Rotasi posisi Panglima TNI penting untuk memajukan sektor pertahanan. Setelah Jenderal Gatot Nurmantyo yang berasal dari TNI AD, maka setelah itu TNI AU atau AL," ujar Al Araf.
Al Araf menjelaskan, Pasal 13 Ayat (4) Undang-Undang No 34 Tahun 2004 tentang TNI menyatakan, jabatan panglima dapat dijabat secara bergantian oleh perwira tinggi aktif dari tiap-tiap angkatan yang sedang atau pernah menjabat sebagai kepala staf angkatan.
Saat ini, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) dijabat Laksamana Ade Supandi. Sementara Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) dijabat Marsekal Hadi Tjahjanto.
Al Araf menilai, Marsekal Hadi Tjahjanto berpotensi untuk dipilih Presiden sebagai penganti Gatot. Sebab, diketahui Laksamana Ade Supandi, kelahiran Jawa Barat, 26 Mei 1960, akan memasuki masa pensiun pada pertengahan 2018. (Nabilla Tashandra)

USAF Perpanjang Umur 300 Unit F-16 Hingga Tahun 2018

F-16 Lockheed Martin
F-16 Lockheed Martin 

Angkatan Udara AS telah merilis sebuah proposal permintaan kontrak untuk memperkuat struktur pada subset armada F-16 Lockheed Martin. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan pesawat tempur bermesin tunggal F-16 yang akan beroperasi setidaknya selama 30 tahun lagi.
Pada bulan April, USAF berencana untuk memperpanjang umur layanan model F-16C / D dari 8.000 jam penerbangan aslinya menjadi 12.000 jam terbang. Di bulan Juni, USAF menambah kriterianya menjadi 13.856 jam terbang.
SLEP akan meningkatkan 300 unit F-16 Blok 40 hingga Blok 52, yang akan terbang hingga 2048, dengan opsi penambahan hingga 489 unit F-16.
Plafon kontrak tersebut mencapai 403 juta dollar AS, menurut RFP tanggal 20 November. USAF bermaksud untuk mulai pengadaan kit modifikasi struktural pada tahun 2018, yang juga akan tersedia bagi pelanggan penjualan militer asing (FMS).
Meskipun produsen F-16 Lockheed yang asli menyatakan persetujuan program SLEP dalam siaran pers bulan April, RFP baru-baru ini menunjukkan bahwa rencana yang diotorisasi tidak menjamin kontrak Lockheed.
Boeing misalnya, telah mendapatkan pengalaman dengan sistem dan struktur F-16 setelah menerima kontrak untuk mengubah pesawat tempur yang sudah pensiun menjadi pesawat tak berawak, sebagaimana dilansir dari Flight Global (21/11). (dianeko_LC)(Angga Saja - TSM)

Kasus Korupsi Kapal Selam Israel Terungkap, Besarnya Sogokan Tersingkap

Benjamin Netanyahu
Benjamin Netanyahu 

Penyelidikan otoritas anti korupsi Israel terhadap kontrak pembelian kapal selam AL Israel yakni kapal selam kelas Dolphin dari pabrikan TKMS (Thyssen Krupp Marine System) makin menemukan titik terang. Kasus korupsi yang melibatkan petinggi negara Israel ini mencakup sejumlah dana yang dibayarkan oleh TKMS agar AL Israel membeli kapal selam Dolphin.
Baru-baru ini terungkap bahwa TKMS memodali perwakilan usaha mereka di Israel, Michael Ganor, dengan dana sejumlah 10,2 juta Euro untuk melicinkan jalan agar Israel membeli tambahan kapal selam Dolphin. Mereka yang kecipratan mulai dari pejabat militer sampai dengan pejabat senior pemerintahan Israel yang menentukan kebijakan pertahanan.
Michael Ganor sendiri mengajukan diri sebagai saksi alias whistleblower dengan imbalan keringanan hukuman. Ia bersedia menunjukkan pola aliran dana, dimana TKMS mentransfer dana tersebut ke tiga perusahaan miliknya di Israel sebagai dana konsultasi dan agen. TKMS juga mentransfer 10 juta Euro lainnya sebagai imbalan jasa kontrak 10 kapal patroli lain yang dipesan oleh Israel.
Kasus ini, yang disebut sebagai Kasus 3000 oleh Kepolisian, bagaikan bom waktu politik karena polisi Israel telah mengidentifikasi setidaknya 10 pejabat tinggi yang terlibat, termasuk David Shimron, pengacara pribadi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. TKMS ditengarai membayar sogokan tersebut agar order kapal selam keenam jadi dipesan oleh AL Israel.
Pejabat lain yang dijadikan tersangka adalah Avriel Bar-Yosef, mantan Deputi Dewan Keamanan Nasional yang sebelumnya dijadikan kandidat sebagai Penasehat Keamanan Nasional PM Israel. Bar-Yosef sendiri ditengarai tidak hanya terlibat soal urusan kapal selam, tetapi juga banyak proyek lainnya termasuk pemberian kontrak-kontrak atas pengamanan proyek gas alam lepas pantai Israel.
Pabrikan TKMS sendiri berupaya menyelamatkan reputasinya dengan mengumumkan akan membuka langsung kantor perwakilan perusahaannya di Tel Aviv, dan menghentikan praktek-praktek penggunaan agen atau makelar senjata dalam urusannya dengan Pemerintah Israel.
Kapal selam kelas Dolphin sendiri adalah kapal selam buatan galangan kapal HDW AG yang dimiliki oleh TKMS. Kapal selam tersebut didasarkan pada desain kapal selam Type-209 tetapi diperbesar dan dilengkapi dengan sistem AIP (Air Independent Propulsion) pada tiga kapal selam terakhir. Kapal selam ini merupakan alutsista termahal di dalam militer Israel dan ditujukan untuk misi pengamanan anjungan gas alam lepas pantai. (Aryo Nugroho)

Tahun Depan Satu Skuadron Udara Standby di Tarakan

Super Tucano
Super Tucano 

Pangkalan Udara (Lanud) Tarakan, berencana untuk memaparkan pengembangan udara jangka panjang, hal itu diutarakan saat Komite II DPD RI tiba untuk melakukan kunjungan kerja di Kaltara, pada hari Minggu (26/11).
Kepada Radar Tarakan, Komandan Lanud Tarakan Kolonel Pnb Didik Kristiyanto mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan master plan pengembangan Lanud Tarakan ke depan, untuk menjadi pangkalan operasi pertahanan udara di kawasan perbatasan utara Indonesia.
“Master plan ini digunakan untuk taraf 5 tahun ke depan. Kami sekarang sedang bangun site plane untuk 10 tahun ke depan. Nantinya jalan pintu masuk sampai ke bibir pantai, sudah kami gambarkan di dalam master plan
itu,” katanya.
Didik mencontohkan, dalam janga waktu 5 tahun ke depan hingga 2022, di Lanud Tarakan sudah standby 1 skuadron pesawat tempur super tucano anti gerilya serta pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Verichle (UAV).
Hasil koordinasinya dengan Panglima TNI dan Mabes AU beberapa waktu lalu, diperkirakan pertengahan 2018 nanti armada tempur udara tersebut sudah berada di Tarakan. Skuadron tempur ini nantinya merupakan pengalihan dari skuadron udara 21 yang bermarkas di Malang.
“Nanti di sini akan menjadi pangkalan acu operasional yang bukan hanya dukungan operasi, tapi sudah pangkalan operasi,” sambung Didik disela mengikuti kegiatan bersama TNI/Polri di Mako Lantamal XIII/Tarakan.
Dengan kehadiran skuadron udara itu, pihaknya membutuhkan sarana pendukung seperti mess untuk prajurit, maupun fasilitas penerbangan seperti forklift kapasitas 5 ton serta towing car kapasitas 12 ton.
Dua sarana pendukung penerbangan itu yang belum ada karena keterbatasan anggaran. Sehingga perlu dipaparkan dalam pertemuan nantu untuk segera diputuskan anggarannya oleh pemerintah pusat. Mengingat kebutuhan ini dianggap prioritas untuk diadakan.
Dengan adanya satu skuadron udara di Lanud Tarakan nanti, Didik berupaya memaksimalkan pengamanan perbatasan khususnya wilayah udara. Apalagi sudah terjalin kerjasama trilateral antara Indonesia, Malaysia dan Filipina, sehingga perlu di back-up pengamanan udaranya oleh TNI AU. (*/yed/nri) (Angga Saja - TSM)

Radar Acak