Marinir Rusia Gelar Latihan Militer di Suhu Minus 30 Derajat

 Latihan Militer di Suhu Minus 30 Derajat
 Latihan Militer di Suhu Minus 30 Derajat 

Kewaspadaan dunia Barat akan militer Rusia terjadi tidak hanya karena Moskwa mempunyai senjata yang canggih.
Kemampuan tempur setiap anggota pasukan "Negeri Beruang Merah" juga unggul karena telah melalui latihan berat.
Seperti dalam video yang dirilis Kementerian Pertahanan Rusia, dilansir dari Daily Mirror, Senin (29/1/2018).
Dalam video tersebut, ditampakkan anggota marinir menggelar latihan di Murmansk, sebuah kota di barat laut Rusia.
Mereka menggelar latihan militer menggunakan senapan serbu AK-47, granat berpeluncur roket (RPG), dan berbagai peledak lain.
Kementerian Pertahanan menyatakan bahwa suhu di Murmansk saat itu mencapai minus 30 derajat celsius.
" Marinir kami menjalani latihan dalam berbagai cuaca ekstrem agar siap bertempur kapan pun dan di mana pun," demikian pernyataan Kementerian Pertahanan.
Murmansk, kota terbesar dunia di lingkaran Arktik, adalah benteng Rusia saat Perang Dunia II (kala masih bernama Uni Soviet) dan era Perang Dingin.
Kota tersebut tidak difungsikan sebagai pangkalan militer sejak Perang Dingin berakhir.
Namun, Murmansk tetap menjadi kota pelabuhan utama Samudra Arktik dan tempat terdekat dari Severomorsk, tempat Armada Utara Rusia bernaung.
Sejumlah analis militer menyatakan, seiring tensi ketegangan dengan dunia Barat meningkat, Kremlin disebut mempertimbangkan mengaktifkan Murmansk sebagai benteng.
Selain itu, kompetisi penambangan mineral yang semakin ketat di Arktik mendorong Rusia untuk lebih menempatkan militernya di sana.

AS Ancam Hukum Turki karena Beli Sistem Rudal S-400 Rusia

Sistem Rudal S-400 Rusia
Sistem Rudal S-400 Rusia 

Pembelian sistem rudal pertahanan udara S-400 Rusia oleh Turki bisa memicu sanksi sekunder Amerika Serikat (AS) terhadap Ankara. Kekhawatiran bahwa Washington akan menjatuhkan sanksi pada sekutunya itu disampaikan Turkish Heritage Organization dalam laporan mengenai hubungan kedua negara.
”Ada kekhawatiran bahwa kesepakatan tersebut dapat memicu sanksi AS pada 2018 di bawah ‘Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act’ (CAATSA) yang ditandatangani pada Agustus 2017,” bunyi laporan tersebut yang diterbitkan hari Senin.
Pada bulan Desember, Rusia dan Turki menandatangani sebuah kesepakatan di mana Moskow akan memasok sistem rudal pertahanan udara S-400 kepada Ankara.
Laporan organisasi yang dilansir Sputnik, Selasa (30/1/2018) itu juga mengulas masalah suplai gas alam Rusia kepada Turki. Dalam sebuah rencana soal proyek pipa gas alam, Ankara berpotensi akan meningkatkan ketergantungan pada pasokan energi dari Rusia.
”Pada tahun 2017, lebih dari 50 persen impor gas alam Turki berasal dari Rusia. Meskipun keinginan Turki untuk melepaskan diri dari energi Rusia, kemajuan pada (proyek) pipa nasional Turk-Stream akan melakukan hal yang sebaliknya pada tahun 2018 dan bahkan dapat memicu sanksi AS,” lanjut laporan organisasi itu.
Laporan tersebut ikut menyinggung dukungan AS yang terus berlanjut kepada pasukan Unit Perlindungan Rakyat (YPG) Kurdi yang beroperasi di sebelah timur Sungai Efrat di Suriah. Hal itu mengindikasikan bahwa Washington dan Ankara akan mengalami ketegangan lanjutan pada tahun ini.
Pemerintah Presiden Tayyip Erdogan pernah mengemukakan alasan mengapa membeli sistem rudal pertahanan udara S-400 Rusia. Menurut Ankara, Turki tidak diberikan sistem pertahanan dengan kecanggihan serupa dari AS maupun sekutu NATO-nya yang lain.
Pemerintah Erdogan bahkan tidak peduli ketika Washington memprotes pembelian S-400 tersebut. Washington protes karena sistem pertahanan canggih Rusia itu bisa membongkar rahasia kecanggihan pesawat-pesawat jet tempur siluman AS yang dioperasikan Ankara. Jika itu terjadi, maka keuntungan besar akan diperoleh militer Rusia.
Kendati demikian, pemerintah Presiden Donald Trump belum mewacanakan penjatuhan sanksi atas tindakan Turki yang membeli sistem rudal canggih Rusia. (Muhaimin)

Menhan Sibuk, Penyerahan Pesawat F-16C/D Ex-AS ke TNI AU Tertunda

Pesawat F-16C/D
Pesawat F-16C/D  

Penyerahan 24 unit pesawat tempur F-16C/D Fighting Falcon ex-AU Amerika Serikat dari Kementerian Pertahanan kepada Mabes TNI Angkatan Udara yang semula akan dilakukan pada 1 Februari 2018 ditunda sekitar minggu keempat Februari.
Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Samsul Rizal mengatakan penundaan upacara serah terima pesawat tempur F-16C/D disebabkan karena kesibukan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu.
"Karena kesibukan Pak Menteri Pertahanan, sehingga ditunda kira-kira akhir Februari, atau minggu keempat," kata Komandan Lanud Samsul Rizal.
Dalam upacara serah terima pesawat F-16C/D dari Amerika tersebut, kata Samsul Rizal, Lanud Iswahjudi hanya sebagai pelaksana. Sedangkan yang memiliki kegiatan adalah Kementerian Pertahanan.
"Kegiatan tersebut merupakan hajat Kementerian Pertahanan. Jadi kita di sini hanya pelaksana. Sehingga kita menunggu kesiapan Pak Menteri Pertahanan," ujarnya.
Menurut Samsul Rizal, seluruh pesawat tempur F-16C/D yang dikirim secara bertahap dari Amerika Serikat sejak 2014 tersebut semua dalam kondisi bagus dan siap beroperasi.
"Tidak ada masalah dengan pesawatnya, semua sudah lengkap dan dalam kondisi bagus. Bisa dilihat, setiap hari, kan terbang," ucapnya.
Sebelumnya Samsul Rizal menyebutkan, bila ke-24 unit pesawat F-16C/D dari Amerika Serikat seluruhnya sudah terkirim, akan dilakukan upacara serah terima dari Kementerian Pertahanan kepada Mabes TNI dan TNI AU di Lanud Iswahjudi. Upacara yang semula akan digelar 1 Februari juga akan disaksikan perwakilan pemerintah Amerika Serikat.

Pesawat Militer China Dicegat 8 Jet Tempur Korea Selatan, Kenapa?

F-15K
F-15K  

Pesawat militer China tanpa izin telah terbang ke zona identifikasi pertahanan udara Korea atau KADIZ di dekat Pulau Ieo. Delapan jet tempur Korea Selatan dengan cepat langsung mencegatnya.
Seperti yang dilansir Chosun Ilbo pada 30 Januari 2018, ini pelanggaran kedua pesawat China memasuki KADIZ dalam kurun waktu sekitar 40 hari.
Pesawat militer China itu memasuki zona tersebut dari barat daya Pulau Ieo pada Senin, 29 Januari 2018, sekitar pukul 9.30 pagi Senin, 29 Januari 2018.
Jet tersebut meninggalkan zona tersebut 25 menit kemudian dan memasuki ADIZ Jepang. Jaraknya mencapai sekitar 120 kilometer arah selatan Pulau Ulleung, sebelum berbelok dan terbang ke selatan ke arah China.
Jet militer China itu rupanya pesawat patroli atau pesawat perang elektronik yang direnovasi dari pesawat transport Y-8.
Angkatan Udara Korea segera menerbangkan secara acak delapan pesawat F-15K dan KF-16 untuk mengawasi pesawat China.
Pada 18 Desember tahun lalu, lima pesawat militer China, dua pembom strategis H-6, dua pesawat tempur J-11 dan pesawat pengintai TU-154, juga melanggar KADIZ di dekat Pulau Ieo.
China memiliki desain teritorial berdasarkan pada batuan yang terendam, namun badan internasional tidak mengenal pulau-pulau yang tidak terlihat di atas air. Zona identifikasi pertahanan udara bukan wilayah udara teritorial, namun pesawat yang memasuki mereka wajib mengidentifikasi diri mereka ke negara yang mengklaim zona tersebut.
Namun zona Korea, China dan Jepang tumpang tindih di dekat Ieo karena masing-masing negara mengklaim sepihak sebagai wilayahnya. (Yon Yoseph)

Mengenal FNS Vendémiaire (F 734), Frigat “Minimalis” Kekuatan AL Perancis di Wilayah Koloni

FNS Vendémiaire (F 734)
FNS Vendémiaire (F 734) 

Meski keberadaan Perancis nun jauh di Eropa, negara yang hingga kini mempunyai beberapa koloni di Pasifik ini tak pernah lupa untuk menunjukan kehadiran militernya di kawasan. Salah satu buktinya Perancis sengaja menciptakan kapal perang dengan genre light patrol frigate Floréal class. Jangan bayangkan atribut alutsista kelas berat di kapal perang ini, lantaran Floréal class memang diciptakan untuk menghadapi konflik berintensitas rendah dan melindungi Zona Ekonomi Eksklusif di wilayah koloni.
Dan belum lama berselang, tepatnya 23 Januari lalu, salah satu Floréal class, yakni FNS Vendémiaire (F 734) berlabuh di Pelabuhan Jayapura, Papua dalam kunjungan kehormatannya di Indonesia. Dirancang untuk ditempatkan di wilayah koloni, FNS Vendémiaire tak datang dari Benua Biru, sebagai informasi kapal perang ini justru berpangkalan di Noumea, kota terbesar di Kaledonia Baru, Pasifik Selatan. Yang secara lokasi jaraknya berdekatan dengan Pantai Timur Australia.
Peran FNS Vendémiaire ibarat frigat pengintai, sementara bila mengikuti standar kelengkapan senjata dan bobot pada level kapal perang TNI AL, maka FNS Vendémiaire lebih pas disebut sebagai korvet. Dirunut dari rancangan, Floréal class dibangun pasca Perang Dingin berakhir, frigat yang dibangun galangan Chantiers de l’Atlantique memang diciptakan untuk patroli jarak jauh.
Agar menghemat kocek, konstruksi kapal perang ini dibangun dari struktur kapal sipil. Total ada enam kapal yang dibangun untuk AL Perancis, kapal pertama adalah FNS Floréal (F 730) yang meluncur perdana pada 27 Mei 1992. Sementara FNS Vendémiaire meluncur pada Agustus 1992, dan resmi masuk dinas pada Oktober 1993. Selain Perancis, Floréal class juga dibeli dua unit oleh AL Maroko.
Bobot penuh kapal ini mencapai 2.950 ton, dan bobot standar 2.600 ton. Panjang kapal 93,5 meter, dan lebar 14 meter. Dengan empat mesin diesel SEMT Pielstick 6PA6 L280, FNS Vendémiaire mampu meluncur hingga 20 knots. Sedangkan jarak jelajahnya sampai 19.000 km pada kecepatan 15 knots, atau 24.000 km pada kecepatan 12 knots.
Lantas yang jadi pertanyaan, apa bekal senjata yang dibawa? Yang paling kentara adalah kanon tua kaliber 100 mm CADAM dengan Najir fire control system, kemudian untuk rudal anti kapal, uniknya justru FNS Vendémiaire masih menggunakan Exocet MM38, jenis Exocet tua yang di TNI AL pun sudah tak dioperasikan lagi. Nah, untuk menghadapi serangan udara, untungnya ada rudal Mistral dengan peluncur Simbad, persis seperti yang digunakan TNI AL pada frigat Van Speijk Class. Lain dari itu, ada dua pucuk kanon F2 kaliber 20 mm yang dioperasikan secara manual.
Bicara tentang misi anti kapal selam, FNS Vendémiaire tak dilengkapi torpedo atau pun bom laut. Namun misi anti kapal selam dijalankan oleh helikopter. Dan uniknya lagi FNS Vendémiaire masih menggunakan helikopter jadul Alouette III, meski secara bertahap akan diganti dengan AS-565 MBe Panther. Keunggulan FNS Vendémiaire yakni sudah dilengkapi hanggar dan ukuran deck helipad yang cukup besar untuk didarati helikopter ukuran sedang.
Pasa reformasi 98, FNS Vendémiaire pernah eksis di perairan Indonesia, lantaran kapal perang ini ikut bagian dalam misi INTERFET di Timor Timur bersama Australia. Dari 20 September - 17 November 1999 kapal ini berada untuk misi pengawasan di Laut Timor. (Gilang Perdana)
Spesifikasi FNS Vendémiaire :
  • Panjang: 93,5 meter
  • Mesin: 4 diesel SEMT Pielstick 6PA6 L280
  • Auxiliaries: 1 Ulstein 200 kW beam propulsor
  • Propellers : 2 variable pace Lips
  • Kecepatan: 20 knots (37 km/h)
  • Jarak jelajah:19.000 km at 15 knots, 24,000 km at 12 knots
  • Kelengkapan: 11 officers, 36 non-commissioned officers, 42 men, (11 men for the helicopter)
  • Radar: DRBV-21C (Mars) air sentry, Racal Decca RM1290 navigation radar, Racal Decca RM1290 landing radar
  • Electronic warfare&decoys: ARBG-1A Saïgon, 2 Dagaie decoy systems

AS Protes Pencegatan Pesawat Intainya oleh Su-27 Flanker Rusia

Pencegatan Pesawat
Pencegatan Pesawat 

Sebuah kisah selalu memiliki dua sisi, jadi kali ini admin akan menurunkan pula kisah dari sisi Amerika Serikat mengenai pencegatan pesawat intai EP-3E Aries II milik AL AS yang terbang dekat wilayah Rusia dan kemudian dicegat oleh Su-27. Departemen Pertahanan AS dikutip dari USNI News (29/1) telah mengeluarkan protes resmi atas pencegatan yang dianggap tidak aman ini.
“Interaksi antar kedua pesawat ini dianggap tidak aman karena Su-27 terbang kurang dari dua meter dan melintas memotong alur lintasan terbang EP-3, menyebabkan pesawat masuk ke dalam turbulensi yang ditinggalkan oleh sapuan jet dari Su-27 tersebut, seperti dirilis oleh Armada keenam AL AS. EP-3E Aries II tersebut terbang pepet-pepetan dengan Su-27 setidaknya selama dua jam dan 40 menit.
EP-3E Aries tersebut kemudian memperpendek durasi misinya dan kemudian pulang ke kandang setelah menganggap bahwa misi terlalu berbahaya untuk diteruskan setelah kejar-kejaran dengan jet tempur Rusia tersebut.
Insiden EP-3E Aries II yang dicegat ini tentu bukan pertama kalinya. Pesawat intai AS seperti P-8A Poseidon juga pernah terbang di atas laut hitam dan dicegat oleh Su-27, dengan jarak yang begitu dekat pula.
AL AS menuntut agar pesawat tempur Rusia harus berperilaku sesuai dengan norma-norma internasional untuk menjamin keamanan dan mencegah insiden. Tindakan yang tidak aman meningkatkan resiko salah kalkulasi dan bisa menyebabkan tabrakan di udara. Amerika Serikat sendiri meningkatkan kehadiran militernya setelah Rusia melancarkan invasi dan menduduki semenanjung Krimea pada 2014. (Aryo Nugroho)

Dipepet Su-27 Flanker Rusia, Pesawat Mata-Mata AS Pilih Pergi Menghindar

EP-3E Aries
EP-3E Aries  

Pesawat intai elektronik EP-3E Aries milik Angkatan Laut Amerika Serikat, yang melakukan penerbangan pengintaian di atas Laut Hitam memilih pergi menghindar setelah dipepet pesawat tempur Su-27 Rusia.
Pesawat mata-mata EP-3E Aries itu terbang tanpa meminta konfirmasi atau tanpa ijin untuk mengumpulkan sampel emisi elektronik seperti radar milik Rusia. Rusia sendiri sebagai tuan rumah yang memiliki armada di Laut hitam tentu saja tak membiarkan begitu saja. Maka untuk menyambut penerbangan illegal itu, dikirimlah Sukhoi Su-27 Flanker lengkap dengan rudalnya mendekati pesawat mata-mata itu.
Pilot Su-27 tersebut terbang dengan mendekati EP-3 tersebut sambil menunjukkan rudal-rudalnya. Karena dipandang terlalu dekat oleh pilot EP-3E Aries tersebut karena Su-27 itu terbang hanya 1,5 meter jauhnya dari ujung sayap pesawat AS tersebut. Namun begitu, Su-27 dan EP-3E itu terus terbang pepet-pepetan sampai selama dua jam lebih, sebelum kemudian Su-27 itu terbang dan memotong EP-3E di lintasannya. Pilot pesawat baling-baling AL AS itu merasa terkaget-kaget dan pesawatnya terguncang hebat karena dilintasi jet dengan kecepatan tinggi.
Alhasil, AS pun memprotes Rusia, yang sebenarnya juga aneh karena AS sendiri yang punya gara-gara. Biarpun terbangnya di perairan internasional, tapi EP-3E Aries mencoba mendekati wilayah perairan dan udara Rusia? Bagaimana Su-27 itu bisa meyakini kalau EP-3E Aries itu akan berbelok sebelum masuk wilayah Rusia? (Aryo Nugroho)

CAMS, Sistem Proteksi Anti Rudal MANPADS di Pesawat Kepresidenan Republik Indonesia RI-001

 Pesawat Kepresidenan Republik Indonesia RI-001
 Pesawat Kepresidenan Republik Indonesia RI-001 

Selain fasilitas mewah dan nyaman, hal lain yang menarik dari pesawat Kepresidenan adalan sistem proteksi (pertahanan) dari ancaman sengatan rudal. Sudah bukan rahasia bila ancaman rudal, khususnya dari jenis MANPADS (Man Portable Air Defence System) menjadi momok menakutkan bagi setiap pesawat VIP/Kepresidenan. Meski tidak secanggih Air Force One milik Amerika Serikat, pesawat Kepresidenan Republik Indonesia RI-001 “Indonesia One” yang dibangun dari basis Boeing 737-800 sudah mengadopsi sistem proteksi dari ancaman rudal hanud.
Bila dirunut dari komponen biaya, dari total harga pesawat yang mencapai US$91,2 juta, untuk pemasangan sistem keamanan pada pesawat RI-001 bernilai US$4,5 juta. Tentu bukan harga yang murah, namun instalasi sistem proteksi tersebut menjadi sepadan dengan keamanan seorang kepala negara. Sistem proteksi yang digunakan pada pesawat Kepresidenan RI mengacu pada teknologi CAMS (Civilian Aircraft Missile Protection System) yang dikembangkan Saab dan Innoviator Flight Science.
Dibanding Boeing 737-800 yang digunakan maskapai penerbangan sipil, pada Boeing 737-800 yang kemudian dikembangkan sebagai Boeing Business Jet 2, terlihat jelas adanya penambahan perangkat sensor pada beberapa titik di bodi pesawat.
Dari empat titik sensor, CAMPS menjamin perlindungan pesawat dari segala sudut (360 derajat). Selain sensor, sistemnya terdiri dari electronic control unit, control panel pada kokpit, dan decoy dispenser.
Sistem kerja CAMPS adalah dengan mendeteksi karakter radiasi dari engine missile yang diluncurkan. Secara otomatis sensor akan mengenali potensi ancaman dan dilakukan proses seleksi countermeasure, hebatnya semua proses kalkulasi ini dilakukan tanpa interaksi dengan pilot. Untuk selanjutnya pada tahap akhir pesawat dapat meluncurkan decoy yang diaktifkan oksigen. CAMPS dirancang untuk mengatasi ancaman serangan lebih dari satu rudal. Dalam situsnya, Innoviator menyebut instalasi CAMPS terbilang hanya butuh waktu minimal, khususnya pada seri Boeing 737-800.
Selain Indonesia, India juga menggunakan basis Boeing 737-800 sebagai pesawat VVIP dam Kepresidenan, dan Air Force One India pun diketahui juga dilengkapi proteksi CAMS, meski terlihat berbeda pada posisi penempatan sensor. (Haryo Adjie)

AS Marah, Irak Hibahkan Tank Abrams Bantuan ke Milisi Bersenjata Hashd al-Sha'abi

Tank Abrams
Tank Abrams  

Amerika Serikat berharap bahwa pemerintahan Irak yang baru bisa mandiri berdikari dalam hal pertahanan dan keamanan. Tidak heran bahwa AS memberikan sekian banyak alutsista canggih mulai dari tank M1A1 Abrams, pesawat tempur F-16IQ, helikopter, dan panser seperti Commando Select. AS begitu bermurah hati memberi fasilitas kredit untuk alutsista, ke Indonesia dan TNI saja tak pernah sebesar ke Irak.
Namun harapan AS tinggallah pepesan kosong. Bukannya mengoperasikan senjata bantuan itu dengan baik, pemerintah Irak malah menghibahkan dua dari tank Abrams itu ke kelompok milisi Hashd al-Sha'abi yang saat ini terafiliasi dengan pemerintah. Kelompok ini sendiri terdiri dari lebih dari 40 kelompok bersenjata lainnya dengan jumlah 100.000 milisi.
Pemerintah Irak sendiri menganggap Hashd al-Sha'abi sebagai milisi resmi yang tak terpisahkan dari struktur militer Irak. Milisi itu dianggap sebagai garda lokal yang menerima gaji dan bahkan pensiun dari Pemerintah Irak. Para milisi ini sendiri terlibat dalam pembebasan kota Mosul dari tangan ISIS.
Langkah gegabah militer Irak ini merupakan pelanggaran berat atas perjanjian kontrak antara AS dengan Irak. Perusahaan General Dynamics yang seharusnya menyediakan depot perbaikan di pangkalan udara Al-Muthanna ditarik mundur pada Desember 2017. Hal ini menyebabkan 60 dari total 140 tank Abrams Irak yang rusak saat penyerbuan ke Mosul tidak bisa diperbaiki.
Pemerintah Irak sendiri kini kalang kabut untuk menarik kembali dua tank yang sudah terlanjur dipakai milisi itu. Satu sudah berhasil ditarik dari Propinsi Daeshin Anbar, dan satu lagi hendak ditarik dengan tenggat waktu Februari, seperti dikutip dari Defense World (28/1). General Dynamics sendiri belum mengirim kembali teknisinya ke Irak.
Dengan 'hibah' tank Abrams ke milisi, tidak ada jaminan bahwa sistem yang terpasang di dalam Abrams itu tidak bocor ke tangan pihak lain seperti Rusia yang tentunya akan sangat tertarik pada sistem elektronik pada tank Abrams. (Aryo Nugroho)

Hawk MK-209 TT-0230 Home Flight Setelah Major Servicing

Hawk MK-209 TT-0230
Hawk MK-209 TT-0230  

Pesawat tempur Hawk Mk-209 TT-0230 milik Skadron Udara 1 Lanud Supadio, Pontianak Kalimantan Barat yang tiba di Satuan Pemeliharaan (Sathar) 32 Depohar 30 Lanud Abd. Saleh Malang pada tgl 26 Agustus 2016 telah selesai melaksanakan pemeliharaan Major Servicing. 
Setelah hampir satu tahun 6 bulan dilaksanakan pemeliharaan Major Servicing di Sathar 32 Depohar 30 Lanud Abd Saleh Malang, Sabtu pagi (27/01) diserahkan kembali untuk kembali ke home basenya bertempat di lapangan apel Sathar 32 Depohar 30 yang ditandai dengan penandatanganan berita acara penyerahan oleh Komandan Sathar 32 Depohar 30 Mayor Tek Slamet Riyanto,S.T. kepada test pilotnya Mayor Pnb Dedi Andres Saputra disaksikan oleh Kasihar Sathar 32 beserta anggotanya.
Pesawat Hawk Mk-209 merupakan pesawat tempur ringan buatan Inggris British Aerospace (BAE) dengan nomor seri IS-030 dan nomor Registrasi TT-0230 masuk ke Sathar 32 untuk pemeliharaan major servicing yaitu suatu pesawat apabila sudah melaksanakan 2000 jam terbang maka pesawat tersebut diharuskan melaksanakan pemeliharaan tingkat berat.
Satuan Pemeliharaan 32 (Sathar 32), satuan pelaksana dibawah Depo Pemeliharaan 30 (Depohar 30) Lanud Abdulrachman Saleh Malang mempunyai tugas melaksanakan pemeliharaan/perbaikan tingkat berat beragam pesawat tempur dari jenis Su-27/30, Super Tucano, Hawk 100/200 dan pesawat Cassa C-212.
“Setelah hampir 1 tahun 6 bulan tepatnya tanggal 22 Januari 2018, Sathar 32 telah berhasil melakukan pengerjaan major servicing (servis berat) pesawat tempur Hawk Mk-209 dibawah komando Komandan Sathar 32 Mayor Tek Slamet Riyanto, S.T. dan telah dilaksanakan test flight beberapa kali dengan hasil baik.” tegasnya
Pada pagi tadi pesawat Hawk Mk-209 dengan tail number TT-0230 akan melaksanakan fery flight dari Lanud Abdulrachman Saleh ke homebasenya Skadron Udara 1 Lanud Supadio Pontianak Kalimantan Barat dengan Test Pilot Mayor Pnb Dedi Andres Saputra dengan ditandai dengan melakukan terbang low pass diatas lapangan apel Sathar 32 Depohar 30 Lanud Abd. Saleh. Berdasarkan SPT: Spt/233/ I /2018 tgl 27-01-2018 Pesawat dinyatakan release, telah tinggal landas dari Lanud Abd. Saleh pada pukul 02:11 UTC / 09:11 WIB dan ETA(Estimate Time Arrival) di Lanud Supadio Pontianak pukul 03:40 UTC / 10:40 WIB. (Angga Saja - TSM)

Helikopter AS550C3 Fennec TNI AD Tampil dengan Persenjataan Lengkap

Helikopter AS550C3 Fennec TNI AD
Helikopter AS550C3 Fennec TNI AD 

Seiring dengan penyerahan heli serbu AS550C3 Fennec ke Dinas Penerbangan TNI Angkatan Darat, PT Dirgantara Indonesia sebagai pihak yang melakukan perakitan helikopter ini telah melengkapinya dengan sistem senjata yang lengkap. Dilihat dari foto-foto yang beredar dan dua minggu lalu saat admin melakukan peliputan, AS550C3 dilengkapi dengan sistem senjata berupa tabung roket di sisi kanan dan pod senapan mesin di sisi kiri helikopter. Posisi senjata ini bisa dipertukarkan.
Sesuai pesanan Penerbad, AS550C3 dilengkapi dengan tabung roket FZ219, yang sudah dimulai sejak heli NBO-105 memperkuat skadron serbu Penerbangan TNI AD di Semarang. Roket memang dianggap sebagai senjata helikopter yang sangat mumpuni.
Biaya pengadaannya murah, sudah bisa dibuat di dalam negeri oleh PT Dirgantara Indonesia, dan daya hancurnya luar biasa terhadap perkubuan maupun musuh berupa personil yang terpencar, yang seringkali dihadapi TNI dalam menanggulangi gangguan berbagai kelompok gerakan pengacau keamanan di tanah air.
Kode FZ di depan angka 219 sendiri merupakan inisial dari pabrikan pembuatnya, Forges de Zebrugge yang berpusat di Belgia. Pabrik ini sudah menyuplai sistem roket ke Angkatan Bersenjata lebih dari 55 negara, dengan 25 diantaranya tercatat masih aktif membeli. Banyak negara yang kesengsem dengan produk FZ karena tidak satupun komponennya yang menggunakan produk buatan Amerika Serikat, sehingga lebih aman dari ancaman embargo.
Pabriknya sendiri berlokasi di Herstal, kota yang sama dengan kota kelahiran pabrikan senjata Fabrique Nationale de Herstal. Forges de Zebrugge sendiri saat ini menjadi bagian dari konglomerasi industri pertahanan Thales dari Perancis. Forges de Zebrugge sendiri merupakan spesialis sistem roket udara-darat dan memfokuskan pengembangan produknya di sekitar sistem pod dan roketnya.
Sistem FZ219 yang memiliki bobot kosong 29kg dan panjang 1.658mm dipasang di sayap kecil atau stub wing yang posisinya ada di belakang kabin penumpang AS550C3. Bentuk penampang tabungnya sendiri berbentuk seperti berlian (diamond shaped). Untuk menjamin bahwa tabung berumur panjang, sekuensial peluncuran roket dibuat acak.
Artinya ketika roket meluncur keluar dari tabung, maka roket berikutnya akan meluncur dari tabung yang tidak bersebelahan dengan posisi tabung yang baru saja melepaskan roketnya. Untuk membidikkan roket, pilot akan membidik sasaran dengan sistem bidik prismatik T100 buatan Thales, yang sudah jadi langganan helikopter buatan Airbus yang dipasangi tabung roket.
Sementara untuk pod senapan mesin, di sisi kiri terpasang pod HMP400 yang di dalamnya menyimpan sepucuk senapan mesin berat FN M3P kaliber 12,7x99mm dengan kapasitas 250 butir peluru. Dengan kecepatan tembak mencapai 1.100 peluru per menit, HMP400 dapat diandalkan untuk melibas sasaran seperti kendaraan ringan, pos penjagaan, dan tentu saja infanteri.

Kroasia Siap Borong F-16A/B Eks AU Israel Senilai US$ 500 Juta

F-16A/B Eks AU Israel
F-16A/B Eks AU Israel  

Setelah melewati perundingan yang cukup alot dan memenuhi harapan rakyatnya, pemerintah Kroasia akhirnya setuju untuk memborong F-16A/B Netz bekas pakai AU Israel dengan nilai kontrak akhir diperkirakan sebesar US$ 500 juta, seperti dikutip dari JPost (29/1). Finalisasi atas kontrak tersebut diharapkan bisa ditandatangani pada akhir 2018.
Persetujuan ini tercapai setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Perdana Menteri Kroasia Andrej Plenkovic menemukan kata sepakat dalam pertemuan dua kepala pemerintahan itu dalam forum ekonomi dunia di Davos, Swiss.
Kroasia sendiri mencari kandidat pengganti untuk 12 unit MiG-21nya dan mencari jet tempur dengan standar NATO. Saat ini, AU Kroasia hanya punya 6 unit MiG-21 yang layak terbang dan operasional. Pesaing Israel sendiri adalah F-16 bekas pakai dari AS dan Yunani, serta JAS-39 Gripen dari Swedia. Israel sempat merevisi penawarannya setelah Swedia menawarkan paket harga yang cukup menarik untuk pembelian Gripen.
F-16A/B Netz sendiri adalah F-16 Block 10 yang bahkan lebih tua dari F-16 Block 15 OCU (Operational Capability Upgrade) yang dimiliki oleh TNI AU. Namun jangan salah, Israel berulangkali meningkatkan kemampuan F-16 Netz yang dimilikinya dengan perkuatan struktur secara Falcon Up dan juga pemasangan avionik buatan Elbit yang membuatnya setara dengan F-16C.
Salah satu hal yang membuat Israel memenangkan kontrak selain harga yang murah adalah juga janji Israel untuk memberikan teknologi senjata kepada Kroasia. Hal ini dipandang krusial karena Kroasia yang bergabung dengan NATO pada 2009 memiliki banyak ketertinggalan yang harus dikejar agar sejajar dengan mitranya dari Eropa Barat. (Aryo Nugroho)

Irak Telah Terima Enam Pesawat Serang Ringan KAI T-50IQ

Pesawat Serang Ringan KAI T-50IQ
Pesawat Serang Ringan KAI T-50IQ 

Angkatan Udara Irak telah menerima pengiriman setidaknya enam pesawat serang ringan T-50IQ yang dibuat berdasarkan pesawat latih supersonik T-50 buatan Korea Aerospace Industries (KAI), menurut laporan Alert5 yang mengutip foto yang dipublikasikan di akun media sosial Angkatan Udara Irak.
Irak telah memesan 24 pesawat jet tersebut pada tahun 2013, termasuk paket pelatihan senilai $ 1,1 miliar, namun KAI telah mengumumkan bahwa mereka akan mendukung pesawat tersebut selama 20 tahun, yang juga dimasukkan kedalam kontrak, sehingga menaikkan total nilai kesepakatan tersebut menjadi $ 2 miliar.
Irak yang memesan 24 jet dan berdasarkan nomor seri yang ditunjukkan dalam foto, setidaknya enam jet diyakini telah diserahkan, kata laporan tersebut.
Versi pesanan Irak adalah FA-50, yang diberi label T-50IQ, dapat dipersenjatai rudal udara-ke-udara dan udara-ke-permukaan, senapan mesin dan bom presisi berpemandu dan amunisi lainnya, kata KAI pada tahun 2013 .
Panglima Angkatan Udara Irak, Letnan Jenderal Anwar Hamad Amin telah mengumumkan tahun lalu bahwa AU Irak menerima batch pertama jet T-50 Korean Aerospace Industries (KAI) pada tanggal 16 Maret 2017.
Dia mengatakan bahwa pesawat-pesawat tempur tersebut dikirim dengan senjata dan peralatan dan akan memasuki  (Angga Saja- TSM)

AS Upgrade Bom Non-Nuklir Terbesar di Dunia GBU-57

 GBU-57
 GBU-57 

Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) baru saja mendapat upgrade The Massive Ordnance Penetrator (MOP) atau GBU-57, bom non-nuklir terbesar di dunia.
MOP yang diperbarui ini jauh lebih mematikan. Bahkan diklaim lebih kuat dari “Ibu semua bom” (MOAB) AS yang pernah dijatuhkan di Afghanistan dan “Bapak semua bom” (FOAB) milik Rusia.
Menurut analisis militer di situs Global Security, upgrade baru MOP telah meningkatkan kemampuannya untuk menghasilkan muatan yang lebih berat dan menembus substruktur beton secara lebih efektif.
Laporan dari Popular Mechanics disebutkan MOP memiliki berat 30.000 pound dan lebih berat ketimbang pesawat tempur siluman F-35 Joint Strike Fighter. Namun, hanya ada 6.000 pon bahan peledak di dalamnya.
Bom raksasa ini awalnya dirancang untuk menghancurkan bangunan beton dan bunker bawah tanah. Bom ini dikurung dalam struktur yang panjangnya 20 kaki dan memiliki diameter 31,5 inci.
Baik MOAB maupun FOAB sudah sama-sama dijatuhkan oleh AS dan Rusia dalam perang melawan ISIS tahun lalu. Pada saat itu, FOAB dilaporkan sebagai bom non-nuklir “tak tertahankan” terbesar dalam sejarah militer. Kekuatan FOAB disebut-sebut empat kali lebih dahsyat dari MOAB.
MOAB sendiri memiliki berat 21.000 pound, termasuk hulu ledak seberat 18.700 pound yang terbuat dari M6.
MOP, menurut laporan tersebut, dirancang khusus untuk menyerang struktur komando bawah tanah seperti yang ditemukan di Korea Utara dan Iran. Kedua negara musuh AS itu dapat secara efektif menyembunyikan aktivitas nuklir mereka dan menjaga semua basis mereka tersembunyi di bawah tanah.
Bom seperti MOP bisa digunakan untuk menghancurkan fasilitas semacam itu atau menonaktifkannya sesuai kebutuhan.
“Pembom B-2 Spirit dapat mengirimkan dua MOP sekaligus,” tulis Popular Mechanics dalam analisis militernya yang dikutip Senin (29/1/2018). Begitu dijatuhkan, bom tersebut memiliki GPS onboard dan sepasang sirip yang membimbingnya ke sasaran. Laporan tersebut menyebutkan bahwa baru-baru ini pesawat tempur terlihat di Missouri dan melakukan latihan mirip manuver pesawat B-2 dalam menghancurkan sebuah bunker.
Sementara itu, dalam pertukaran email antara Bloomberg dan Angkatan Udara AS, disebutkan bahwa upgrade bom tersebut dapat meningkatkan kemampuan penetrasi 200 kaki dan kapasitas peledak. (Muhaimin)

Story : Tupolev Tu-16 Badger, Pesawat Bomber Jarak Jauh TNI AU yang Pernah Bikin Keder Australia

Tupolev Tu-16 Badger
Tupolev Tu-16 Badger 

Di era tahun 1960, merupakan era kejayaan TNI Angkatan Udara (AU).
Pada era tersebut, TNI AU menjadi sebuah angkatan udara yang memiliki alutsista paling canggih di tataran negara berkembang lainnya di dunia.
Pesawat-pesawat canggih yang berasal dari blok timur didatangkan untuk memperkuat sistem persenjataan TNI AU dalam mengamankan teritorial.
Kedatangan pesawat asal Uni Soviet dan sekutunya seperti MiG-21 Fishbed dan pesawat bomber strategis legentaris Tupolev Tu-16 Badger memberikan detern effect pada negara lain terhadap Indonesia.
Indonesia pun pada era itu menjadi salah satu negara dengan pasukan udara paling elit.
Kegiatan latihan pembom strategis TNI AU yang sering memasuki wilayah Australia dan Singapura pun tak berani diganggu ataupun dihadang oleh mereka.
Kala itu hanya ada tiga buah pesawat pembom yakni, B-58 Hustler yang dioperasikan AS, V Bomber yang dioperasikan Inggris dan Uni Soviet dengan Tupolev Tu-16nya.
Pesawat pembom strategis Tupolev Tu-16 merupakan salah satu pesawat kombatan yang paling ditakuti di dunia.
Keberadaannya cukup menakutkan, maka negara yang memilikinya pun cukup disegani di lingkungan internasional.
Tu-16 memiliki kemampuan jelajah hingga 7.200 km dengan kecepatan jelajah yang mencapai 1.050 km per jam serta memiliki kemampuan terbang hingga pada ketinggian 12.800 km.
Kemampuan angkut muatan bomnya pun fantastis, Tu-16 mampu membawa bom seberat 9.000 kg.
Wajar saja jika pada era tahun 1960 TNI AU Bangsa Indonesia sempat diperhitungkan keberadaannya.
Selain Indonesia, negara lain yang mengoperasikan Tu-16 pada kala itu adalah Mesir.
Indonesia sempat mengalami embargo oleh Uni Soviet (kini Rusia) disaat membutuhkan alutsista untuk meredam pemberontakan yang dilakukan oleh PRRI dan Permesta.
Guna membendung embargo Rusia yang dilayangkan terhadap Indonesia saat itu, pemerintah China memberikan tawaran terhadap Indonesia yang notabene sesama bangsa Asia.
Tercatat ada 12 pesawat pembom Tupolev Tu-2, 24 Lavockhin La-11 (Russian Thunderbolt) dan 12 jet tempur MiG-17 buatan China.
Pesawat tersebut yang kemudian digunakan pada Operasi Pembebasan Irian Barat. (Ferry Setiawan/Majalah Angkasa Edisi Koleksi 2011)

TNI Miliki Kemampuan Tangani Terorisme

Satuan 81 Penanggulangan Teror Komando
Satuan 81 Penanggulangan Teror Komando 

Panglima TNI, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, menegaskan, ada banyak kemampuan yang dimiliki TNI; salah satunya satuan-satuan yang mampu menangani masalah-masalah terkait ancaman aksi teroris.
"Untuk itu, TNI juga bisa dilibatkan dalam kegiatan penanganan anti terorisme. Sehingga saya berkirim surat untuk memohon bahwa TNI juga dilibatkan. Karena apa? Karena kemampuan itu TNI tadi," kata dia, saat menjawab pertanyaan wartawan terkait revisi RUU terorisme, sebelum mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi I DPR dan Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, di Ruang Rapat Komisi I DPR, Jakarta, Senin.
Pada 8 Januari lalu, dia mengirimkan surat permohonan kepada Panitia Khusus RUU Antiterorisme DPR, agar judul RUU terkait terorisme yang tengah mereka bahas, dari semula RUU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme agar diubah menjadi RUU Penanggulangan Aksi Terorisme.
Di dalam surat itu, dia juga mengusulkan perubahan definisi terorisme, sehingga TNI bisa terlibat aktif menindak teroris.
Menurut Tjahjanto yang selalu tampil dalam keseharian memakai seragam loreng dinas lapangan, ada dua dimensi mengapa surat permohonan itu diajukan ke DPR.
Pertama adalah TNI sesuai jati diri sebagai tentara rakyat, tentara pejuang, tentara nasional, dan tentara profesional, dimana mereka memiliki fungsi sebagai penangkal, penindak dan pemulih.
Fungsi itu dijabarkan dalam tugas pokok adalah untuk menjaga kedaulatan, keutuhan wilayah dan melindungi segenap bangsa.
"Saya berkirim surat untuk memohon bahwa TNI juga dilibatkan, karena ada kemampuan. Namun demikian, dalam permohonan itu saya juga sampaikan supaya TNI juga bisa terlibat dalam kegiatan penanganan antiteroris," tuturnya.
Menurut dia, pandangan dari TNI adalah, teroris itu mengancam kepentingan nasional atau teroris itu adalah kejahatan terhadap negara, sehingga mengancam terhadap kedaulatan, keutuhan dan keselamatan bangsa.
"Saya memohon untuk judulnya diubah menjadi Penanggulangan Aksi Terorisme. Itu dimensi yang pertama," katanya.
Dimensi berikut, keputusan politik. "Kami menunggu keputusan politik itu. Jadi, saya saat ini juga masih bergerak di dimensi saya sebagai TNI," kata mantan kepala Dinas Penerangan TNI AU itu.
Dia enggan berandai-andai apabila usulannya ditolak fraksi-fraksi di DPR. "Itu adalah dimensi berbeda. Saya masih bergerak pada dimensi saya yang pertama," katanya.
Secara organisasi dan fungsi, TNI memiliki pasukan-pasukan khusus yang bisa digerakkan panglima TNI. Mereka dibina kemampuannya oleh para kepala staf matra TNI agar sewaktu-waktu bisa melaksanakan perintah panglima TNI.
Mereka adalah Detasemen Jala Mangkara Korps Marinir TNI AL, Satuan Bravo B-90 Korps Pasukan Khas TNI AU, dan Satuan 81 Penanggulangan Teror Komando Pasukan Khusus TNI AD. Markas Besar TNI tengah mematangkan penyatuan operasionalisasi mereka ke dalam Komando Operasi Khusus Gabungan TNI, yang sementara ini bermarkas di Pusat Misi Pasukan Perdamaian PBB, di Sentul, Jawa Barat.
Mereka masih didukung pasukan-pasukan lain dengan kemampuan operasi khusus, yaitu Komando Pasukan Katak TNI AL, Batalion Intai Amfibi Korps Marinir TNI AL, Peleton Intai Tempur Kostrad, hingga Batalion Infantri/Raider di semua Kodam.
Tidak cukup itu, TNI juga memiliki Satuan Anti Siber Markas Besar TNI yang dirancang untuk mengentaskan peperangan di dunia maya, sedangkan pada aspek intelijen, hal ini dikoordinasikan Badan Intelijen Strategis TNI.
Akan tetapi, sejumlah LSM dan lembaga kajian sipil menginginkan pendekatan hukum lebih dikedepankan dalam penanggulangan terorisme.

JAS-39 Gripen Bakal Unjuk Kebolehan di Singapore AirShow 2018

JAS-39 Gripen
JAS-39 Gripen  

Setelah tahun lalu tampil memukau dalam demo udara di Aero India 2017, kini ada kabar bahwa jet tempur asal Swedia, Saab Jas-39 Gripen C/D akan unjuk kebolehan di Singapore AirShow 2018, ajang pameran dirgantara terbesar di Asia yang akan berlangsung 6-11 Februari mendatang. Berbeda saat Aero India 2017, dimana dua unit Gripen didatangkan langsung dari markasnya di Linköping, Swedia, maka untuk Singapore AirShow 2018, Gripen yang ditampikan bukan milik Swedia.
Dikutip dari Gripenblogs.com (25/1/2018), Gripen C/D milik AU Kerajaan Thailand telah dijawalkan untuk static and flying display di Singapura. Ini artinya kabar baik bagi penggemar jet ini di Tanah Air yang ingin melihat dari dekat sosok Gripen. Meski belum pernah menunjukan taringnya di udara Indonesia, sejatinya flight Gripen AU Thailand pernah singgah di Lanud Ngurah Rai saat mengikuti ajang Pitch Black 2012 di Australia.
Sementara untuk kampanye di Indonesia, Saab pada Indo Defence 2014 pernah mendatangkan flight simulator Gripen. Dalam catatan kami, selain bekal kecanggihan sistem sensor kendali/navigasi dan skema ToT (Transfer of Technology), ada beberapa poin yang menjadi value added dalam penawaran Gripen untuk Indonesia, seperti:
1. Sistem senjata
Meski bukan bagian dari anggota NATO, jet Gripen dirancang untuk dapat menggotong hampir semua sistem senjata (rudal dan roket) keluaran terbaru, baik buatan AS dan Eropa Barat. Berarti bisa kompatibel dengan bekal senjata yang dipersiapkan untuk jet F-16 A/B C/D TNI AU.
2. Operational Cost per Hour
Dengan basis single engine dan penggunaan mesin modern General Electric yang efisien, maka Jas-39 Gripen punya operational cost per hour yang paling rendah dibanding kompetitornya. Estimasinya adalah US$3.000 - US$4.000 per jam.
3. Combat radius
Dengan kecepatan maksimum Mach 2 (2.204 km/h), Jas-39 Gripen C/D punya combat radius hingga 800 km, khusus untuk misi air battle operation, combat radiusnya mencapai 100 km. Combat radius tentu tak bisa dipukul rata, berbicara tentang ini tersebut akan bergantung pada konfigurasi persenjataan yang dibawa pesawat dalam suatu misi, semisal misi CAP (Combat Air Patrol) dan ground attack pasti membawa konsekuensi berbeda pada performa pesawat.
4. Gelar Tempur ke Pangkalan Aju
Meski telah dilengkapi fasilitas air refueling system, kemampuan untuk mudah di deploy pada pangkalan aju tetap menjadi perhatian penting, khususnya bagi negara dengan wilayah luas, dan minim dukungan pesawat tanker udara.
Satu skadron Gripen dapat di-deploy hanya dengan dukungan satu unit C-130 Hercules. Dukungan satu unit Hercules untuk 10 unit Gripen bisa berlangsung untuk waktu empat minggu. Hal ini menegaskan bahwa Gripen sebagai jet tempur yang ekonomis dari sisi dukungan logistik. (Haryo Adjie)

Jepang Berhasil Identifikasi dan Paksa Kapal Selam Asing Naik ke Permukaan

Jepang Berhasil Identifikasi dan Paksa Kapal Selam Asing Naik ke Permukaan
Jepang Berhasil Identifikasi dan Paksa Kapal Selam Asing Naik ke Permukaan 

Menteri Pertahanan Jepang Itsunori Onodera mengatakan bahwa JMSDF (Japan Maritime Self Defence Force) atau AL bela diri Jepang berhasil melakukan operasi perburuan kapal selam di wilayah perairan dekat kepulauan Senkau yang saat ini jadi sengketa. Menurut SCMP (18/1), operasi perburuan kapal selam itu terjadi pada 18 Januari 2018.
Kapal Angkatan Laut Jepang dan pesawat pemburu kapal selam Kawasaki P-1 berhasil melakukan perburuan dan mengikuti kapal selam tersebut selama dua hari dengan menjatuhkan berbagai perangkat akustik berupa mikrofon bawah air untuk mencatat sinyal akustik yang dikeluarkan oleh propeller kapal selam tersebut untuk keperluan identifikasi selanjutnya.
Kapal selam tersebut pertama kali teridentifikasi di contiguous zone atau zona yang dimulai dari garis terluar batas laut teritorial yang terbentang sejauh 12 mil dari bibir pantai dan sampai 24 mil nautik, sehingga JMSDF bereaksi dan mengirimkan kapal perusak dan pesawat anti kapal selam untuk melakukan pengejaran.
Kapal selam yang menjadi target buruan tersebut kemudian akhirnya naik ke permukaan di wilayah perairan internasional dan mengibarkan bendera asal negaranya. Karena sudah tidak memiliki yurisdiksi, JMSDF pun balik kanan, mencatatkan naiknya kapal selam tersebut sebagai pengakuan atas keunggulan sang pemburu. Menteri Onodera kemudian secara resmi meminta Departemen Luar Negeri Jepang untuk mengirimkan nota protes atas insiden tersebut.
Menteri Onodera mengatakan bahwa “Kami sangat prihatin atas tindakan yang secara sepihak menaikkan ketegangan. Jepang akan meningkatkan kewaspadaannya untuk merespon secara langsung apabila insiden serupa terjadi lagi.” Sang menteri juga mengatakan bahwa kapal selam tersebut merupakan kapal selam pemburu jenis terbaru dan dilengkapi dengan rudal anti kapal yang memiliki jarak 40 kilometer dan torpedo. (Aryo Nugroho)

JF-17 Thunder Multi-role Fighter, Bukti Kebangkitan Pakistan dari Belenggu Embargo Alutsista

JF-17 Thunder Multi-role Fighter
JF-17 Thunder Multi-role Fighter 

Militer Pakistan pernah merana saat mengalami embargo oleh Amerika Serikat di awal 1990-an, yang sebagain akibatnya langsung dirasakan armada F-16 A/B Fighting Falcon. Berangkat dari tekanan AS, menjadikan Pakistan bangkit menuju kemandirian industri alutsistanya. Atas dukungan dari Cina, maka munculah sosok JF-17 Thunder, jenis pesawat tempur ringan single engine yang sempat dinaiki Presiden Jokowi dalam kunjungan kenegaraannya di Pakistan, Sabtu (27/1/2018) kemarin.
JF-17 Thunder adalah produksi Pakistan Aeronautical Complex (PAC), yang tak lain merupakan varian lain dari FC-1 Xiaolong, produksi Chengdu Aircraft Industries Corporation (CAC). Oleh CAC, filosofi pesawat tempur ini dirancang sebagai low cost fighter dengan desain airframe semi monocoque yang simpel dengan biaya produksi murah, namun tak meninggalkan kapabilitas tempur maksimal dengan persenjataan canggih. Bahkan untuk memaksimalkan jarak jangkau, China dan Pakistan telah menyiapkan air refueling probe untuk misi pengisian bahan bakar di udara.
Debut prototipe perdana JF-17 Thunder (PT-01) terbang perdana pada Agustus 2003, hingga modifikasi dilakukan beberapa kali sampai April 2006. Meski FC-1 justru tak digunakan dalam operasional AU Cina, debut JF-17 Thunder mampu membetot perhatian publik tatkala jet tempur ini ditampilkan dalam pameran dirgantara Farnborough 2010 di Inggris. Dan sejak saat itu, baik China dan Pakistan secara terang-terangan menyatakan menawarkan pesawat tempur ini untuk negara-negara yang berminat. Beberapa pengamat avasi menyebut kemampuan JF-17 jauh lebih baik dari F-5 E/F Tiger II.
Walau kiblat pengembangan JF-17 Thunder adalah China, namun jet tempur ini punya kandungan Rusia. Pasalnya mesin JF-17 Thunder menggunakan jenis turbofan Klimov RD-93. Mesin ini dikenal handal dalam penggunaan di berbagai kondisi, termasuk di lingkungan berdebu. Namun mesin ini bukan tanpa kekurangan, disebut-sebut RD-93 terkenal rakus bahan bakar. Seperti halnya mesin-mesin jet lansiran Rusia, time between overhaul RD-93 terbilang pendek, yakni antara 500-600 jam, sementara service life RD-93 mencapai 1.800 jam.
China sebagai poros teknologi dirgantara tentu tak ingin berpangku tangan pada pasokan mesin dari Rusia. Wujudnya mesin dengan spesifikasi sejenis, yakni WS-13 telah dirilis Guizhou Aircraft Industry Corporation, namun time between overhaul WS-13 malah lebih singkat, hanya 300 jam dan kinerja WS-13 masih jauh di bawah RD-93. Dan jadilah sampai saat ini JF-17 Thunder menggunakan mesin asal Rusia, dan menurut kabar Pemerintah Pakistan telah mendapatkan komitmen penuh dari Rusia untuk pasokan RD-93 bagi penjualan JF-17 Thunder.
Untuk sistem persenjataan, JF-17 Thunder ibarat mennggunakan dual operating sytsem, dimana JF-17 menggunakan interkonekso standar NATO Mil-STD 1760 databus. Dengan digital interface yang disesuaikan oleh pabrikan, negara pengguna jet tempur ini dapat memasangkan jenis senjata asal Barat dan Timur, sepanjang user mampu membeli persenjataan yang dimaksud.
JF-17 Thunder dilengkapi tujuh hardpoint, tiga diantaranya dapat digantungi tangki bahan bakar cadangan. Konfigurasi standar JF-17 adalah sepasang rudal jarak pendek, sepasang rudal jarak menengah-jauh dan satu atau tiga drop tank. Secara keseluruhan, payload yang bisa digotong mencapai 3,7 ton. Di luar mesin yang dari Rusia, sentuhan lain Negeri Tirai Besi juga terasa pasa penggunaan kanon internal dari jenis GSh-23/30 twin barrel.
Bicara tentang avionik, JF-17 mengacu pada teknologi yang digunakan JAS-39 Gripen, termasuk electronic flight instrumentation system (EFIS), flight control system (FCS), health and usage monitoring system (HUMS), automatic test equipment, UHF/VHF communication radio, simpatico data links, inertial navigation system (INS) dan identification friend-or-foe (IFF) transponder. Sementara radarnya dipasok Italian Grifo S-7 multi-track, multi-mode pulse doppler radar.
Saat ini selain Pakistan yang telah menerima 86 unit JF-17 Thunder, negara yang lain telah resmi mengorder JF-17 adalah Myanmar (16 unit) dan Nigeria (3 unit). Kabarnya, Pakistan juga telah menawarkan jet tempur ini ke Indonesia, termasuk production line di Bandung. JF-17 terus dikembangkan, termasuk JF-17 Block 3 yang bakal menggunakan radar Active Electronically Scanned Rrray (AESA), kecepatan Mach 2 dan varian twin seater untuk fungsi latih. (Gilang Perdana)
Spesifikasi JF-17 Thunder :
  • Crew: 1
  • Length: 14,93 meter
  • Wingspan: 9,48 meter
  • Height: 4,72 meter
  • Empty weight: 6.586 kg
  • Max. takeoff weight: 13.494 kg
  • G-limit: +8 g/-3 g
  • Internal Fuel Capacity: 2.329 kg
  • Powerplant: 1 × Klimov RD-93 Afterburning Turbofan, with DEEC
  • Thrust with afterburner: 85.3 kN
  • Maximum speed: Mach 1.6
  • Ferry range: 2.037 km
  • Service ceiling: 16.916 meter

Tetap Beli Sukhoi Su-35 Rusia, Indonesia Tak Takut Sanksi dari AS

Sukhoi Su-35 Rusia
Sukhoi Su-35 Rusia 

Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto menyebut Indonesia tak takut dengan ancaman atau sanksi dengan negara lain terkait keinginan pemerintah membeli pesawat tempur Sukhoi Su-35 dari Rusia.
"Masalah ancaman-ancaman, sanksi saya kira Indonesia tidak terlalu memikirkan masalah itu," kata Wiranto di Kantor Kemenko Polhukam, Jumat (26/1).
Pernyataan Wiranto tersebut menanggpi kemungkinan embargo dari Amerika Serikat jika Indonesia membeli Sukhoi Su-35 dari Rusia.
Wiranto menegaskan Indonesia merupakan negara yang menganut politik bebas aktif dalam berinteraksi dengan negara lain. Prinsip itu, kata Wiranto, harus dihormati oleh negara lain.
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu sebelumnya telah memastikan Indonesia tak akan terkena embargo Amerika Serikat meski membeli pesawat tempur dari Rusia.
Isu embargo AS terhadap Indonesia terkait pembelian Sukhoi Su-35 dari Rusia mencuat saat Menteri Pertahanan Amerika, James Norman Mattis berkunjung ke Indonesia, Selasa (23/1).
Dalam kunjungan tersebut, Mattis saat bertemu Ryamizard disebutkan menawarkan Indonesia untuk membeli alutsista dari negaranya.
Di sisi lain, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna menegaskan proses pembelian pesawat tempur Sukhoi Su-35 generasi 4,5 dari Pemerintah Rusia masih terus berjalan.
"Sukhoi Su-35 masih jalan. Tidak ada pengaruh apa-apa, sesuai dengan apa yang disampaikan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto," kata Yuyu usai Rapat Pimpinan (Rapim) TNI Angkatan Udara 2018 di Mabesau Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (26/1).
KSAU Tegaskan Rencana Pembelian Sukhoi Su-35 Masih berjalan
Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna mengatakan rencana pembelian pesawat tempur generasi 4,5, Sukhoi-35 dari Pemerintah Rusia masih terus berjalan.
KSAU mengatakan hal itu menanggapi informasi tekanan dari pemerintah Amerika Serikat agar Indonesia tidak membeli pesawat dari Rusia saat Menteri Pertahanannya, James Norman Mattis berkunjung ke Indonesia, Selasa (23/1).
Dalam kunjungan tersebut, saat bertemu Menhan Ryamizard Ryacudu, Mattis disebutkan menawarkan Indonesia untuk membeli alutsista dari negaranya.
"Saya tidak mendengar itu (soal dugaan tekanan dari AS). Saya dapat informasinya dari media. Yang pasti, kontraknya akan berjalan," kata pria yang dilantik jadi KSAU pada 17 Januari 2018.
Yuyu pun berharap penandatanganan kontrak pembelian Sukhoi Su-35 bisa berlangsung pada Februari 2018.
"Kalau sudah ditandatangani kontrak tersebut, maka pada tahun depan pesawat pertama akan datang," kata dia. (Dias Saraswati, Dika Dania Kardi)

Myanmar Beli Enam Pesawat Tempur Su-30 Rusia

Pesawat Tempur Su-30 Rusia
Pesawat Tempur Su-30 Rusia 

Rusia akan memasok enam jet tempur Su-30 ke Myanmar berdasarkan sebuah kesepakatan yang ditandatangani saat Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu berkunjung ke negara itu, Deputi Menteri Pertahanan Rusia Letnan Jenderal Alexander Fomin mengatakan pada hari Senin (22/01).
"Kunjungan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu telah memberikan dorongan tambahan untuk kerjasama militer dan teknis antara Rusia dan Myanmar. Negara tersebut secara aktif telah mempergunakan persenjataan dan perangkat keras militer Rusia, termasuk jet tempur Su-30," kata Letnan Jenderal Alexander Fomin.
Letnan Jenderal Fomin mengungkapkan keyakinannya bahwa pesawat tempur Su-30 akan menjadi jet tempur utama Angkatan Udara Myanmar untuk melindungi integritas teritorial dan mengusir serangan teroris.
Myanmar juga menyatakan minatnya untuk membeli perangkat keras militer Rusia lainnya untuk pasukan darat dan angkatan lautnya, lapor kantor berita RIA.
Menurut Deputi Menteri Pertahanan Rusia, persenjataan Rusia telah membuktikan kemampuan mereka selama dioperasikan oleh Angkatan Bersenjata Myanmar. "Persenjataan itu antara lain helikopter Mi-24, Mi-35 dan Mi-17, serta pesawat tempur MiG-29, pesawat latih berkemampuan tempur Yak-130, sistem pertahanan udara Pechora-2 dan peralatan lainnya."
Pada 20-22 Januari, Menteri Pertahanan Rusia Shoigu mengunjungi Myanmar dalam sebuah kunjungan resmi. Sebuah kesepakatan antar pemerintah mengenai kemudahan masuk untuk kapal-kapal perang di pelabuhan Rusia dan Myanmar ditandatangani saat kunjungan tersebut, dan pembicaraan dengan Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Myanmar, Jenderal Senior Min Aung Hlaing juga diadakan. (Angga Saja - TSM)

TNI AL Resmi Bubarkan Satrol Koarmada dan Satkamla Lantamal

TNI AL Resmi Bubarkan Satrol Koarmada dan Satkamla Lantamal
TNI AL Resmi Bubarkan Satrol Koarmada dan Satkamla Lantamal 

Dalam sebuah langkah reorganisasi struktur dan kekuatan besar, TNI Angkatan Laut seperti diberitakan oleh CNN (22/1) melikuidasi atau membubarkan Satuan Kapal Patroli Komando Armada RI Kawasan (Barat dan Timur) dan Satuan Keamanan Laut Pangkalan Utama (Lantamal) TNI AL. Reorganisasi ini bertujuan untuk penguatan dan desentralisasi kekuatan sehingga Lantamal TNI AL lebih bergigi dan bertaji.
Peresmian reorganisasi tersebut dilakukan dalam upacara hari ini, Senin 22 Januari, yang dipimpin oleh KSAL Laksamana TNI Ade Supandi di Dermaga Sunda Komplek Satuan Koarmabar 1, Pondok Dayung, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Bertindak sebagai Komandan Upacara adalah Kolonel Laut (P) Johannes Djanarko Wibowo yang menjabat selaku Komandan Satuan Amfibi Koarmabar.
Sebagai tindak lanjut atas reorganisasi tersebut, TNI AL membentuk Satuan Kapal Patroli Pangkalan Utama TNI AL atau Satrol Lantamal, yang tugasnya melaksanakan pembinaan kemampuan tempur unsur-unsur organik di bawahnya agar mampu melaksanakan operasi keamanan laut dalam rangka penegakan hukum di wilayah kerja Lantamal.
Seluruh aset dari Satrol Koarmada didistribusikan ke 14 Lantamal yang ada di seluruh Indonesia, sehingga diharapkan tiap Lantamal memiliki unsur pemukul dan daya deterens yang kuat, mampu melakukan penegakan hukum aspek laut serta mengantisipasi gangguan keamanan laut ataupun memberikan bantuan SAR apabila ada kecelakaan laut di wilayahnya.
Penambahan kekuatan ke Lantamal tersebut diwujudkan dalam distribusi kapal-kapal patroli (nomor lambung kepala 8) yang tadinya di Satrol Koarmada ke Satrol Lantamal. Lantamal yang tadinya hanya memiliki KAL atau kapal patroli TNI AL dan kapal Patkamla jadi memiliki kapal perang dengan daya gempur dan manuver tinggi.
Diharapkan dengan adanya desentralisasi kekuatan ini, maka efektivitas dan efisiensi TNI AL akan meningkat terutama mampu memproyeksikan kekuatan dalam waktu singkat ke seluruh wilayah Indonesia, dibandingkan dengan harus memberangkatkan kapal dari Satrol yang bermarkas di Armada, yang belum tentu dekat dengan lokasi gangguan. (Aryo Nugroho)

AL China Mulai Menggunakan Pesawat Perang Elektronik H-6G

Pesawat Perang Elektronik H-6G
Pesawat Perang Elektronik H-6G 

Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAN) mulai menggunakan satu jenis pesawat perang elektronik baru. Dilaporkan oleh Globaltimes dan Chinamil (22/1), Armada Laut China Selatan telah mulai menggelar pesawat tersebut dalam latihan tempur terakhir, menandakan integrasi sistem pendukung yang lebih kompleks bagi AL China.
Pesawat tersebut dinamakan H-6G, varian khusus dari pesawat pembom Xian H-6K yang pada gilirannya merupakan evolusi dari pesawat pembom taktis Tu-16 Badger peninggalan Uni Soviet. Di tangan China, H-6 dikembangkan menjadi pesawat dengan kemampuan terkini dan andalan grup pembom di garis depan.
H-6G dikembangkan selama 10 tahun dengan integrasi pod ECM (Electronic Counter Measure) yang dipasang di bawah sayapnya. Pod ECM ini berfungsi untuk mengacaukan (jamming) radar stasiun darat, pesawat tempur, atau rudal sehingga meminimalkan kemungkinan tersengat senjata yang dilepaskan sasaran.
Sesuai dengan tugasnya di dalam PLAN, H-6G kelihatannya akan dioptimalkan untuk menekan emisi radar kapal perang, termasuk untuk melindungi gugus tugas maritim yang berpatroli. Dengan mengacu pada kemampuan dari Xian H-6K yang mulai bertugas pertama pada 2007, pesawat yang dilengkapi mesin Saturn D-30KP-2 turbofan ini mampu terbang sejauh 3.500 kilometer.
Varian H-6G kelihatannya juga akan memiliki tambahan kru yang mengoperasikan sistem pengacauan radar tersebut, sekaligus menangkap emisi radar dari sekitar dan mencatatnya untuk bahan analisa dan koleksi data ancaman. Kemampuan baru H-6G ini akan menambah lengkap varian H-6K yang sebelumnya difungsikan sebagai pembom strategis dan pesawat serang maritim dengan modal rudal anti kapal. (Aryo Nugroho)

Radar Acak