Komodo D7CH, Senapan Sniper Kaliber 7,62mm Buatan Bekasi

Komodo D7CH
Komodo D7CH 

Nama senapan penembak runduk alias senapan sniper yang satu ini memang belum tersohor di jagad internasional, namun jangan salah, Komodo D7CH sudah dipesan 100 pucuk oleh Kementerian Pertahanan. Ya, inilah senapan sniper kaliber 7,62 x 51 mm produksi PT Komodo Armament Indonesia, manufaktur senjata asli dari kawasan Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat.
Dilihat dari desainnya, maka tak sulit untuk menebak mekanisme senapan sniper ini, yakni mengadopsi mode bolt action dengan pola tembakan satu per satu yang lazim bagi senapan dengan presisi tinggi. Cita rasa senapan sniper jaman now amat kental dari desain D7, terkhusus pada desain popor lipat dan cover laras yang mengadopsi Rail Interface System (RIS), nampak picatinny rail memanjang dari pangkal receiver hingga ujung laras. Model picatinny rail khas senapan serbu memudahkan bagi sniper untuk memasang dan mengatur posisi scope.
Lebih dalam tentang D7CH (chassis), struktur utama senjata ini dibangun dari material T67075 billet alumunium. Sementara laras senjata ini ditawarkan dua pilihan yang dapat digonta ganti, yaitu laras heavy barrel (26 inchi) dan laras tactical (18,5 inchi). Seperti halnya senapan sniper modern keluaran merek-merek ternama, Komodo D7 disiapkan dalam dua piluhan magasin, persisinya ada magasin yang berisi 5 munisi dan magasin dengan 10 munisi.
Dengan variasi magasin sudah barang tentu mempengaruhi bobot, menurut sumber dari PT Komodo Armament Indonesia, dengan konfigurasi magasin 5 munisi, maka bobot senapan mencapai 6 kg, sementara dengan magasin 10 munisi bobot senapan menjadi 6,5 kg.
Untuk memperlancar aksi sang sniper, Komodo D7 sudah dilengkapi dengan bipod di bawah laras dan monopod di bawah popor. Lantas berapa jarak tembak efektif senapan “Made In Bekasi” ini? Dengan menggunakan scope Meopta ZD 6-24x56RD, jarak tembak efektif senapan ini bisa mencapai 1.000 meter, sedangkan jarak tembak maksimumnya 1.200 meter.
Secara keseluruhan, Komodo D7 punya panjang keseluruhan 1.220 mm, dan uniknya senapan ini desainnya terlihat mirip dengan Remington MSR (Modular Sniper Rilfle), kemiripan terlihat dari jenis popornya yang mengadopsi right side foldable buttstock dan laras yang menggunakan jenis single point cut competition barrel. (Haryo Adjie)

Ditawari Patriot PAC 3, AS Berupaya Gagalkan Penjualan Rudal S-400 Rusia ke Turki

Patriot PAC 3
Patriot PAC 3 

Media Turki Hurriyet (25/2) memberitakan bahwa Pemerintah AS berupaya dengan segala cara untuk membatalkan rencana Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk membeli empat baterai rudal S-400 dari Rusia.
Dikutip dari sumber di dalam Pemerintah AS, Administrasi Presiden Donald Trump menawarkan ganti dari sistem rudal S-400 untuk meningkatkan kemampuan pertahanan udara Turki, yang dibicarkana dalam kunjungan Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson ke Ankara, 15 Februari lalu.
Tawaran yang akan disodorkan oleh AS ke meja perundingan adalah sistem anti rudal dan pesawat Patriot PAC 3 dan sejumlah drone intai yang ingin dibeli oleh Turki di masa lampau, tetapi kemudian diblok oleh Pemerintah AS. Administrasi Presiden Donald Trump sendiri akan meratifikasi sejumlah aturan, termasuk ITAR, agar bisa berjualan senjata lebih leluasa.
Langkah AS ini dipandang sangat penting dan kritis mengingat Turki adalah anggota NATO. Jika Turki semakin berpaling ke Timur alias Rusia, ada resiko keamanan mengingat Turki merupakan lokasi dari sejumlah pangkalan penting NATO. (Aryo Nugroho)

Kapal Izumo Jepang Sejak Awal Memang Didesain Sebagai Kapal Induk

Kapal Izumo
Kapal Izumo  

Meskipun ada bantahan dari Kementerian Pertahanan Jepang bahwa helicopter-destroyer Izumo, yang diluncurkan pada tahun 2015, direncanakan akan diubah menjadi kapal induk, mantan eksekutif Angkatan Maritim Bela Diri Jepang (MSDF) mengkonfirmasi bahwa memang begitulah cetak birunya dibuat (dimaksudkan sebagai kapal induk).
"Adalah masuk akal untuk merancang (Izumo) dengan kemungkinan kemungkinan perubahan keadaan di dekade-dekade mendatang," seorang eksekutif MSDF kemudian mengatakan kepada The Asahi Shimbun. "Apakah Izumo kemudian harus benar-benar diubah, hal itu merupakan keputusan pemerintah."
Mantan eksekutif tersebut mengatakan bahwa sebuah konsensus dicapai secara pribadi diantara MSDF bahwa Izumo harus dipertimbangkan untuk dapat diubah menjadi kapal induk. Namun MSDF tidak dapat menjelaskan kebutuhan tersebut secara publik karena pandangan pemerintah bahwa kapal induk yang mampu meluncurkan serangan setara dengan kemampuan militer berskala besar dilarang oleh Pasal 9 Konstitusi Jepang yang menentang perang.
Sejak pembangunan Izumo, para ahli di dalam maupun di luar Jepang telah melihat kemungkinan untuk mengubah kapal tersebut menjadi kapal induk sepenuhnya.
Namun, Kementerian Pertahanan Jepang secara terbuka menolak rencana untuk menempatkan jet tempur dengan kemampuan menyerang di Izumo dan berpendapat bahwa kapal tersebut bukanlah kapal induk.
Kementerian Pertahanan Jepang secara tiba-tiba berubah pikiran dan sekarang sedang mempertimbangkan kemungkinan untuk mengubah kapal tersebut menjadi kapal induk.
Perubahan semacam itu sudah pasti menimbulkan kecurigaan bahwa kementerian telah merencanakan hal ini sejak awal.
Melakukan refitting Izumo, kapal Angkatan Maritim Bela Diri Jepang terbesar, menjadi kapal induk telah dipertimbangkan sejak akhir 2000 untuk mendukung pertahanan negara tersebut melawan perkembangan maritim Tiongkok yang meningkat di sekitar kepulauan barat daya Jepang, menurut eksekutif MSDF.
Dilengkapi dengan flat deck dari haluan hingga buritan, helikopter dapat mendarat dan lepas landas dari lima titik flight deck secara sekaligus. Desain dasar Izumo dirumuskan dari tahun 2006 sampai 2008.
Pada tahun 2008, kapal Angkatan Laut Tiongkok melewati perairan antara pulau utama Okinawa dan pulau Miyakojima, yang terletak di barat daya, terlihat untuk pertama kalinya. Pada saat itu kapal pemerintah Tiongkok yang mengganggu perairan teritorial Jepang menjadi sering.
Menurut eksekutif MSDF saat itu, MSDF melihat perlunya mengamankan kemampuan Jepang di wilayah udara untuk melawan kemungkinan ekspansi maritim Tiongkok di Laut Tiongkok Timur.
Namun, landasan pacu di Pangkalan Angkatan Udara Beladiri Jepang (ASDF) Naha adalah satu-satunya tempat dimana pesawat ASDF memungkinkan untuk lepas landas dan mendarat di dan sekitar Okinawa.
Oleh karena itu, "rencana untuk membangun Izumo diselesaikan dengan konversi pada masa depan untuk mempersiapkan kemungkinan kemungkinan tidak tersedianya Pangkalan Naha ASDF," menurut salah satu eksekutif.
Pada masa itu, pesawat tempur stealth F-35B AS, yang dapat lepas landas dan mendarat secara vertikal, sedang dalam pengembangan, yang mempengaruhi konsepsi desain Izumo dengan tujuan bahwa ia dapat dikonversi untuk menangani pendaratan dan lepas landas pesawat F-35B dan pesawat terbang lainnya, seperti pesawat angkut Osprey.
Elevator Izumo yang menghubungkan antara deck dengan hanggar dirancang untuk mampu mengakomodasi pesawat tempur F-35B, yang berukuran panjang sekitar 15 meter dan lebarnya sekitar 11 meter.
Cat yang mampu menahan panas buangan yang dihasilkan dari jet tempur F-35 saat pendaratan dan lepas landas juga dipilih untuk deck Izumo. Juga telah dipikirkan untuk memodifikasi Izumo dengan dek miring untuk lepas landas, kata mantan eksekutif MSDF.
Jika Izumo dikonversi untuk memungkinkan pendaratan dan lepas landas pesawat F-35B, kapal tersebut dapat digunakan untuk mengisi bahan bakar jet tempur stealth AS di manapun di dunia, kapan saja, termasuk saat keadaan darurat militer berdasarkan undang-undang keamanan nasional yang baru.
Bahkan jika disebut sebagai kapal induk "defensif" atau dengan beberapa terminologi lain, Izumo yang telah direfitting akan menjadi kapal yang mampu menyerang sasaran musuh. Kapal Izumo nampaknya mencerminkan buah dari pemikiran jangka panjang perencana pertahanan Jepang. (Angga Saja - TSM)
Sumber :  asahi.com

Jepang Pertimbangkan Beli 40 Pesawat Tempur F-35B

Pesawat Tempur F-35B
Pesawat Tempur F-35B 

Harian Jepang Yomiuri Shimbun melaporkan bahwa pemerintah Jepang kemungkinan akan membeli hingga 40 pesawat tempur stealth lepas landas vertikal F-35B dari AS yang dapat beroperasi dari kapal induk, pangkalan di pulau-pulau kecil dan bandara komersial.
"Pemerintah mempertimbangkan untuk mengoperasikan jet tempur F-35B pada sekitar tahun fiskal 2026, dalam upaya memanfaatkan bandara di pulau-pulau terpencil dan dengan demikian meningkatkan kemampuan Jepang untuk mempertahankan pulau-pulau kecil," kata surat kabar tersebut dalam sebuah berita bertanggal 12 Februari.
F-35B adalah versi maritim dari pesawat tempur canggih AS yang dapat melakukan take-off dan pendaratan vertikal (VTOL) dari dek kapal perang.
Yomiuri mengutip narasumber pemerintah Jepang yang mengatakan bahwa Tokyo juga mempertimbangkan apakah akan menggunakan pesawat tempur F-35B di kapal destroyer Angkatan Maritim Beladiri Jepang, Izumo, yang mampu membawa helikopter dan secara de facto adalah merupakan kapal induk.
Militer AS sudah mengoperasikan skuadron F-35B di Jepang dan pemerintah Jepang sudah membeli 42 jet tempur tempur F-35A untuk mengganti pesawat tempur AS generasi lama seperti F-15 dan F-4 Phantom.
"Untuk F-35B, pemerintah berencana akan mengungkap jumlah pesawat yang akan dibeli dalam Program Pertahanan Jangka Menengah berikutnya, yang akan disusun pada akhir tahun ini. Program ini juga mempertimbangkan hal-hal lain termasuk biaya terkait dalam rencana anggaran fiskal 2019, dengan maksud memulai pengiriman F-35B mulai sekitar tahun fiskal 2024," kata Yomiuri mengutip narasumbernya. (Angga Saja - TSM)

Pelontar Granat Kroasia Tarik Minat Negara-negara Timur Tengah

RBG-6
RBG-6  

Dengan meningkatnya minat pada peralatan dan senjata khusus untuk militer dan penegak hukum di pasar Timur Tengah, perusahaan Kroasia M Adler D Ltd. menawarkan rangkaian produk terbarunya.
Perusahaan Kroasia itu mempromosikan pelontar granat semi-otomatis ringan 40 mm RBG-6 untuk pasukan militer, keamanan, penegak hukum dan pasukan khusus di wilayah Timur Tengah. Peluncur granat ini menembakkan keluarga granat low velocity 40 mm yang banyak digunakan. RBG-6 dilengkapi dengan popor lipat tiga posisi.
RBG-6 dirancang agar sederhana, kuat, dan dapat diandalkan. Pelontar granat ini menggunakan prinsip revolver yang telah terbukti dengan baik untuk mencapai rate of fire yang tinggi dengan akurat yang dapat dengan cepat diarahkan ke sasaran. Berbagai amunisi granat seperti HE, HEAT,anti huru hara, piroteknik (bakar) atau bahan irritant dapat ditembakkan dengan rate of fire satu peluru per detik. RBG-6 juga menembakkan granat low velocity Mod94 40 mm hingga jarak efektif maksimum 375m.
Menurut perusahaan, semua bagian vital pelontar granat itu dilapisi hard chrome 60 HRC. Senjata itu tahan dan terlindung dari segala macam kondisi cuaca. RBG-6 berukuran panjang 777 mm (566 mm - dengan popor dilipat) dan beratnya sekitar 5,4 - 5,5 kg.
Pelontar granat RBG-6 juga terlihat digunakan oleh grup-grup perlawanan di Suriah. (Angga Saja - TSM)

GAZ-330 Tigr, Macan Lapis Baja Bertaring Ganas

GAZ-330 Tigr
GAZ Tigr 

Rusia menjadi salah satu negara yang berani melakukan ubahan ekstrim, atau boleh dibilang revolusioner. Jika rantis sejatinya cukup dipasangi senjata mesin berat saja, Rusia dua langkah lebih maju. Dikutip dari Tass (25/2) mereka memodifikasi rantis GAZ-330 Tigr (macan) dengan memberikannya kanon berukuran besar.
Tigr yang digunakan oleh Kementerian dalam negeri Rusia menggunakan mesin GAZ-562 3.200cc turbodiesel dengan daya 197hp. Sosoknya gagah dan berukuran besar, bolehlah disandingkan dengan Humvee dari Amerika Serikat.
Seluruh tubuhnya dilapis panel balistik tebal dengan sudut-sudut kaku. Seluruh jendela dilindungi dengan kaca balistik, termasuk bagian depan, panel pintu depan, dan dua kaca berbentuk kapsul di belakang yang dilengkapi dengan lubang tembak untuk memasang senapan serbu ke arah luar.
Nah, dalam pameran International Army Technical Forum 2016, perusahaan VPK (Voyenno-Promishlennaya Kompaniya) menampilkan konsep Tigr yang revolusioner: kendaraan tak berawak plus kubah RCWS (Remote Controlled Weapon System) Uran-9 dengan kanon tembak cepat Shipunov 2A72 kaliber 30x165mm, yang merupakan kanon standar pada kendaraan tempur BMP-2.
VPK membuat kendaraan ini bekerjasama dengan 766th UPTK JSC (Upravlenie Proizvodstvenno-Tekhnologicheskoi Komplektacii) atau Departemen Rekayasa dan Manufaktur. Tampilan kendaraan jelas lebih sangar, karena biasanya Tigr paling banter dipasangi senapan mesin seperti Kord 12,7mm.
Untuk alat bidik, disediakan boks kamera di atas pangkal laras, yang diisi dengan kamera yang distabilisasi, televisi pencahayaan rendah, laser designator untuk mengukur jarak, serta sistem komputer balistik yang mampu mengunci dan menjejak sasaran secara otomatis.
Pemasangan kanon berukuran besar ini merupakan satu strategi untuk melariskan Tigr ke pasaran dunia terutama bagi militer berkantong pas-pasan. Dengan platform pengusung 4x4, harganya sudah pasti jauh lebih murah, tapi sanggup menggasak tank. (Aryo Nugroho)

Si Radar Terbang A-50 Mainstay Ikut Dikirim ke Suriah

A-50 Mainstay
A-50 Mainstay 

Walaupun bintang penggelaran Angkatan Udara Rusia ke Suriah baru-baru ini adalah Su-57 PAK-FA, secara strategis sesungguhnya pesawat paling penting dalam ‘rombongan sirkus maut’ yang baru mendarat di Suriah sebenarnya adalah pesawat A-50U Mainstay.
Seperti dikutip dari Al Masdar News (24/2), dalam rombongan pesawat AU Rusia, ada satu unit A-50U SRDLO, akronim Rusia untuk AWACS (Airborne Early Warning and Control System). Bukan sekali ini saja A-50U menyambangi Suriah, sejak 2017 kehadirannya sudah terendus sejak 2017 oleh intelijen Israel.
AU Rusia tercatat memiliki empat unit A-50U yang dikembangkan dari basis pesawat angkut Il-76. Seperti pesawat AWACS milik AS, A-50U membawa radar berputar di punuknya dari tipe Izdeliye RM Mission dengan intinya ada pada radar Shmel-M.
Radar ini bekerja pada rentang pita S, dengan dua antena planar di dalam piringan dengan diameter 12 meter yang dipasang pada dua pylon di atas badan pesawat. Piringan ini berputar sebanyak enam putaran per menit.
Radar Shmel-M sendiri bisa mendeteksi sasaran yang terbang di udara sampai jarak 600 kilometer dengan mode pencarian konstan, atau dalam pulse mode untuk mendeteksi sasaran permukaan sampai jarak 300 kilometer. Artinya A-50U punya peran strategis baik untuk kekuatan darat maupun udara. (Aryo Nugroho)

AS dan Rusia Berseteru Syarat Kondisi Pemberlakuan Gencatan Senjata di Suriah

Akibat Perang di Suriah
Akibat Perang di Suriah 

Dewan Keamanan (DK) PBB dengan suara bulat mengadopsi sebuah resolusi yang mengusulkan gencatan senjata selama 30 hari di Suriah. Namun, Amerika Serikat (AS) dan Rusia berseteru soal persyaratan kondisi pemberlakuan gencatan senjata tersebut.
”Akan naif untuk berpikir bahwa masalah internal Suriah dapat diselesaikan dengan sebuah resolusi,” kata Duta Besar Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia setelah pemungutan suara.
Menurutnya, Moskow mendukung maksud di balik dokumen resolusi tersebut. ”Namun tidak ada gencatan senjata yang mungkin dilakukan tanpa kesepakatan dari pihak yang bertikai,” ujar Nebenzia.
Nebenzia mengkritik ambisi pendudukan koalisi oposisi yang didukung Amerika Serikat (AS). Dia mengatakan bahwa kelompok milisi yang didukung AS bertanggung jawab atas krisis kemanusiaan di Suriah.
Diplomat Rusia ini menilai ada kecacatan dalam resolusi yang diadopsi 15 suara DK PBB. Alasannya, tidak menyebutkan kelompok milisi Suriah sebagai pihak yang disalahkan atas parahnya krisis Suriah.
Nebenzia juga mengulangi tuduhan sebelumnya bahwa Barat melakukan kampanye propaganda melawan pasukan pemerintah Suriah di Ghouta Timur, sebuah wilayah di pinggiran Damaskus, di mana pertempuran telah meningkat selama seminggu terakhir.
Nebenzia meminta dunia untuk memperhatikan sama sekali penderitaan kemanusiaan di titik-titik lain di seluruh negeri. Dia menegaskan bahwa gencatan senjata tidak menghalangi pasukan di Suriah untuk menargetkan ISIS, Al-Nusra dan organisasi ekstremis lainnya.
Sementara itu, Duta Besar AS untuk PBB Nikky Haley mengecam Rusia. Alasannya, Moskow menghalangi pemungutan suara DK PBB mengenai resolusi yang diajukan sejak hari Selasa tersebut. Haley menuntut resolusi gencatan senjata segera dilaksanakan.
”Orang-orang Suriah seharusnya tidak harus mati menunggu Rusia mengatur instruksi atau mendiskusikannya dengan orang-orang Suriah,” kata Haley, seperti dikutip Russia Today, Minggu (25/2/2018).
”Washington sangat skeptis bahwa rezim (Presiden Suriah Bashar) al-Assad akan mematuhi dan menunjukkan bahwa kredibilitas Dewan Keamanan PBB dipertaruhkan,” ujarnya.
Ketegangan terus berlangsung dalam forum DK PBB dan tak ada pihak yang menjelaskan rencana gencatan senjata yang sudah diadopsi DK PBB. Swedia, yang mengajukan resolusi tersebut, mengatakan bahwa evakuasi medis dan konvoi kemanusiaan PBB siap untuk dijalankan.
Menurut PBB, hampir 400.000 orang terjebak di Ghouta Timur, yang dikendalikan oleh sejumlah faksi seperti Jaysh al-Islam, Ahrar al-Sham, dan Faylaq al-Rahman dan kelompok Islamis lain yang berafiliasi dengan Pasukan Pembebasan Suriah (FSA). (Muhaimin)

AS Jual Ratusan Sistem Rudal Patriot ke Eropa untuk Antisipasi Agresi Rusia

Sistem Rudal Patriot
Sistem Rudal Patriot 

Ketakutan tentang terjadinya agresi Rusia mendorong Amerika Serikat (AS) menjual ratusan sistem rudal Patriot ke negara-negara Eropa. Nilai kontrak penjualan senjata ini mencapai miliran dolar AS.
Pasokan senjata itu juga bagian dari upaya pemerintah Donald Trump untuk menghadapi Rusia di wilayah Eropa.
Administrasi Trump mengumumkan pada hari Rabu lalu bahwa Departemen Luar Negeri telah menyetujui penjualan sistem rudal Patriot, termasuk sekitar 100 rudal ke Swedia.
Sistem rudal pertahanan itu diklaim mampu mencegat atau menembak jatuh rudal balistik jarak pendek dan menengah serta pesawat tak berawak.
Para pejabat AS dan Eropa telah menyatakan keprihatinannya bahwa Rusia baru-baru ini mengerahkan rudal berkemampuan nuklir ke Kaliningrad, wilayah Rusia yang berada di kawasan pantai Baltik di antara Polandia dan Lithuania.
Seorang pejabat pertahanan AS yang bertugas di Eropa mengatakan bahwa pengerahan rudal Iskander Rusia ke Kaliningrad adalah langkah terbesar dalam hal militerisasi Rusia terhadap Baltik.
”Mereka selalu memiliki rudal balistik di sana, jenis rudal ini membawa jangkauan yang jauh lebih lama daripada sebelumnya,” kata pejabat tersebut kepada CNN yang menolak diidentifikasi.
Dia mengatakan rudal berkemampuan nuklir Moskow itu berpotensi mengancam sebagian besar wilayah Polandia, Estonia, Latvia, Lithuania, Jerman dan Swedia.
”Penjualan ini merupakan respons tidak hanya aktivitas militer Rusia yang meningkat, namun juga kenyataan bahwa Rusia memodernisasi kemampuan penyerangan Angkatan Udara dan jangkauan jangka panjangnya,” kata Magnus Nordenman, direktur Transatlantic Security Initiative yang berbasis di Washington, kepada CNN, yang dilansir Minggu (25/2/2018).
”Rusia mungkin tidak memiliki banyak rudal pesawat terbang dan rudal jarak jauh seperti yang dilakukan Uni Soviet selama Perang Dingin, namun sistem Rusia saat ini jauh lebih mampu daripada nenek moyang Perang Dingin mereka,” ujarnya.
Sekutu-sekutu Amerika di wilayah Eropa telah mencari kemampuan yang memungkinkan untuk melawan rudal-rudal Moskow.
Polandia mengumumkan ketertarikannya pada sistem rudal Patriot AS. Pada November 2017, Departemen Luar Negeri AS mentujui opsi penjualan senjata pertahanan itu dengan nilai USD10 miliar.
Beberapa Polandia awalnya menolak keras harga yang dianggap mahal. Namun, Menteri Pertahanan Polandia Mariusz B. (Muhaimin)

Rusia Dikabarkan Menambah Lagi Armada Jet Tempur Sukhoi Su-57 ke Suriah

Jet Tempur Sukhoi Su-57
Jet Tempur Sukhoi Su-57 

Medan tempur Suriah bak magnet besar yang berhasil menarik pengerahan mesin-mesin perang modern. Tidak hanya mesin-mesin penjagal di darat yang kita temukan, ruang udara pun jadi kancah penampakan bagi algojo-algojo langit terbaru.
Yang menghebohkan, tentu beberapa hari lalu (21/2), ketika Rusia diberitakan (unconfirmed) telah mengirimkan dua unit armada tempur udara generasi kelima Su-57. Kedua pesawat anyar tersebut tampak dalam foto yang tersebar bersama dengan empat Su-25, empat Su-35S, dan satu A-50U AEW&C.
Belum rampung kebenaran dari berita itu, muncul lagi berita yang menyatakan bahwa Moskow telah mengirim dua Su-57 tambahan ke Pangkalan Udara Khmeimim, di Provinsi Latakia, Suriah tempat berkumpulnya monster-monster udara Rusia.
Atas adanya indikasi pengiriman Su-57 tambahan ke Suriah, Amerika Serikat pun memberikan komentar. “Tindakan Rusia dengan penambahan pesawat generasi kelima tidak sesuai sesuai dengan penarikan pasukan yang diumumkan Rusia,” ujar Juru Bicara Pentagon Mayor Adrian Rankine-Galloway, Sabtu (24/2).
Di luar semua yang beredar, Su-57 yang dikerahkan ke Suriah pada dasarnya adalah pesawat yang belum rampung pengembangannya.
Sebagaimana diketahui, Rusia sendiri masih berkutat dengan penyelesaian mesin Saturn izdeliye 30 yang secara perhitungan matematis adalah mesin yang paling pas digunakan Su-57. Mesin baru dengan bobot 30% lebih ringan dari Saturn izdeliye 117 (AL-41F1) yang digunakan oleh Su-35 itu, memiliki gaya dorong maksimal 176kN (afterburner) per mesin. Untuk perbandingan, mesin Su-35 hanya mampu menghasilkan gaya dorong maksimal 147 kN (afterburner) saja per buah.
Bisa jadi, karena itu pula Amerika Serikat diberitakan tidak terlalu risau dengan pengerahan Su-57 ke Suriah. Terlebih, Su-57 sebenarnya belum masuk jajaran operasional tempur AU Rusia.
“Kami tidak memandang pengerahan jet-jet tersebut (Su-57) sebagai sebagai ancaman bagi operasi kami di Suriah. Kami akan terus melanjutkan operasi-operasi penurunan konflik sebagaimana diperlukan,” kata Juru Bicara Kementerian Pertahanan AS, Eric Pahon. (Roni Sontani)

Boeing Kembali Ikuti Pengadaan Jet Tempur Kanada

F-18 Super Hornet
F-18 Super Hornet 

Raksasa kedirgantaraan Amerika Serikat, Boeing, telah disetujui untuk berpartisipasi dalam pengadaan untuk mengganti armada F-18 Kanada yang telah menua, meskipun sebelumnya terjadi perselisihan perdagangan antara produsen pesawat terbang Amerika tersebut dan pihak Ottawa.
Seorang pejabat senior Kanada mengatakan pada hari Kamis (22/02) bahwa Boeing memiliki kesempatan yang sama dengan penawar lain dalam sebuah lelang pengadaan untuk memasok Kanada dengan 88 jet tempur baru, dan mengabaikan perselisihan yang sebelumnya terjadi.
Pengumuman tersebut diumumkan satu bulan setelah Komisi Perdagangan Internasional AS menolak sebuah pengaduan yang diajukan oleh Boeing terhadap pesaingnya Bombardier dari Kanada, menuntut hampir 300 persen bea anti-dumping pada pesawat penumpang Bombardier C Series. Ketika itu Boeing menuduh Bombardier menjual pesawat tersebut dengan harga yang rendah dan tidak masuk akal di pasaran AS
Boeing, pembuat F-18 Super Hornet, adalah satu dari lima produsen pesawat yang diundang untuk mengajukan proposal pada musim semi 2019 untuk pesanan 88 jet tempur canggih, yang akan diserahkan pada tahun 2025, menurut sebuah pernyataan pemerintah Kanada.
Pabrikan lain yang mengikuti pengadaan tersebut adalah Lockheed Martin yang juga dari AS (F-35), Dassault dari Prancis (Rafale) , Airbus Group (Eurofighter Typhoon), dan Saab Swedia (Gripen).
Kanada akan merilis spesifikasi yang rinci untuk jet tempur tersebut pada tahun depan. Pihak pejabat Kanada mengatakan kesepakatan tersebut akan bernilai antara C $ 15 miliar ($ 11,80 miliar) dan C $ 19 miliar. (Angga Saja - TSM)

Enam Pesawat Hawk Latihan dengan Rudal Maverick di Aceh

Pesawat Hawk Latihan dengan Rudal Maverick
Pesawat Hawk Latihan dengan Rudal Maverick 

Sebanyak enam pesawat Hawk 100/200 Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru tiba di Lanud Sultan Iskandar Muda. Jumat (23/2). Kedatangan enam pesawat tempur TNI Angkatan Udara yang dipimpin Danskadud 12 Lanud Roesmin Letkol Pnb Adhi Safarul Akbar diterima langsung Danlanud Sultan Iskandar Muda Kolonel Nav Indrastanto Setiawan, S.Sos., beserta pejabat Lanud Sultan iskandar Muda.
Dijelaskan dalam rilis penerangan Lanud SIM,rencananya selama dua minggu, “Black Panther” sebutan Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin dengan pesawat Hawk 100/200 nya akan melaksanakan latihan tempur dengan menggunakan rudal Maverick dan dilanjutkan patroil pengamanan wilayah udara sekitaran provinsi Aceh. “Tentunya hal ini dilaksanakan sebagai tugas dan tanggung jawab TNI Angkatan Udara dan sarana meningkatkan kemampuan para penerbang TNI Angkatan Udara,” ujar Danlanud Sultan Iskandar Muda. Mengenai patrol udara, lanjutnya, pengamanan wilayah udara sangatlah penting bagi keutuhan NKRI dalam rangka menjaga dan mengamankan pulau terluar.
Selain itu, tambahnya, kegiatan latihan dan patrol pengamanan wilayah udara bukan hanya meningkatkan kemampuan serta profesionalisme Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin saja, melainkan juga Lanud Sultan Iskandar Muda dalam mendukung operasi penerbangan. “Mari kita berikan yang terbaik agar hasil yang dicapai maksimal,” tutupnya.

Militer Rusia Uji Coba Lebih dari 200 Teknologi Senjata Baru di Suriah

Militer Rusia Uji Coba Lebih dari 200 Teknologi Senjata Baru
Militer Rusia Uji Coba Lebih dari 200 Teknologi Senjata Baru 

Kota-kota di Suriah telah menjadi tempat uji coba bagi teknologi senjata terbaru militer Rusia selama bertahun-tahun.
Mantan komandan Rusia, yang kini menjadi anggota parlemen, Vladimir Shamanov mengatakan, lebih dari 200 senjata baru yang dikembangkan oleh ilmuwan Moskwa telah diuji coba dalam peperangan di Suriah.
Shamanov bahkan menyebut sudah lebih dari setengah juta nyawa melayang akibat persenjataan yang diuji coba militer Rusia selama perang tujuh tahun di negara itu.
"Saat kami membantu saudara-saudara kami di Suriah, kami juga menguji coba hingga lebih dari 200 jenis persenjataan baru," kata Shamanov di hadapan parlemen, Kamis (22/2/2018).
Serangan Drone Shamanov mengisyaratkan senjata-senjata baru tersebut telah "berhasil" dan membuat rezim Suriah memesan stok persenjataan, yang kemungkinan besar akan digunakan untuk kepada rakyat mereka sendiri.
Dilansir dari The New Arab, kekuatan penjualan senjata Rusia telah terlihat dalam penyerangan lima hari di timur Ghouta pada pekan ini. Hal yang menurut Shamanov patut "dibanggakan" Moskwa.
"Bukan suatu kebetulan jika saat ini mereka datang kepada kita dari berbagai sisi untuk membeli senjata dari kita, tak terkecuali negara-negara yang bukan sekutu kita," ujarnya.
"Hari ini, industri militer kita menjadikan tentara kita terlihat sebagai sesuatu yang pantas dibanggakan," tambahnya.
Rusia telah menjadi penyedia terbesar bagi gudang persenjataan rezim Suriah yang telah digunakan selama masa perang.
Perang di negara itu terjadi sejak 2011, dipicu aksi brutal pasukan rezim untuk menekan aksi demonstrasi damai. Menyebabkan munculnya pembelotan massal dari tentara Suriah.
Rusia mulai terlibat dalam perang pada 2015, ketika pasukan yang setia pada presiden Bashar al-Assad menderita kekalahan saat menghadapi pemberontak.
Sejak "bergabungnya" Rusia dalam peperangan, rezim telah berhasil menekan pasukan pemberontak ke daerah kantong oposisi, namun juga menimbulkan banyak korban jiwa dari rakyat sipil.
Dalam serangan oleh rezim Suriah ke wilayah timur Ghouta dalam lima hari menimbulkan korban tewas dari warga sipil hingga 400 jiwa.
Rusia menolak tuduhan terlibat dalam pembantaian tersebut, meski pesawat tempur mereka kerap terlihat terbang di atas wilayah oposisi yang terkepung selama pemboman. (Agni Vidya Perdana)

TNI AU Adakan Latihan Manyar Super Skadron Udara 6 Wing 4 Lanud Atang Sanjaya

 Latihan Manyar Super
 Latihan Manyar Super 

Dalam rangka meningkatkan kualitas penerbang pesawat NAS-332 Super Puma Skadron Udara 6 Wing 4 Lanud Atang Sanjaya dalam mendukung Operasi Pengungsian Medis Udara, Operasi Angkutan Udara Dukungan Logistik dan Operasi Dukungan Udara lainnya, maka dilaksanakan latihan satuan Manyar Super tahun 2018. Latihan ini dilaksanakan di Skadron Udara 6 Lanud Atang Sanjaya, dan beberapa spot lainnya yang ditentukan, Selasa (20/2).
Sehari sebelum pelaksanaan latihan, dilaksanakan briefing kepada seluruh penerbang dan pendukung penerbangan serta latihan lainnya, yang dipimpin langsung oleh Komandan Skadron Udara 6 Atang Sanjaya, Letkol Pnb Suryo Patmonobo, selaku Direktur Latihan (Dirlat), bertempat di ruang rapat Skadron Udara 6 Lanud Atang Sanjaya, Senin (19/2).
“Latihan ini dilaksanakan sebagai upaya meningkatkan kemampuan para penerbang NAS-332 Super Puma Skadron Udara 6 dan serta para pendukung penerbangan”, jelas Danskadron 6 kepada awak media. “Dalam latihan ini, lanjut Letkol Pnb Suryo Patmonobo, seluruh peserta latihan dilatih untuk dapat melaksanakan koordinasi dalam kegiatan-kegiatan operasi yang dilakukan, diantaranya Operasi Pengungsian Medis Udara, Operasi Angkutan Udara Dukungan Logistik dan Operasi Dukungan Udara lainnya, karena ini merupakan tugas dari Skadron Udara 6, sehingga ketika operasi dilaksanakan, apa yang menjadi tugas dari Skadron Udara 6 ini dapat terlaksana dengan baik”.
Latihan ini menjadi penting, mengingat tahun 2018 ini akan dilaksanakan Asian Games XVIII yang digelar di Jakarta, sehingga Komandan Lanud Atang Sanjaya, Marsma TNI Irwan Is. Dunggio, S.Sos., sebagai Dansatgasud yang bertanggungjawab penuh atas penggunaan unsur Helikopter yang berada di Skadron 6, harus selalu siap untuk pelaksanaan pengamanan kegiatan Asian Games XVIII, termasuk melaksanakan Operasi Pengungsian Medis Udara, Kontijensi Darurat kepada pejabat VVIP serta seluruh peserta Asian Games XVIII jika dibutuhkan.
“Selain itu, saat ini kita diperhadapkan pada salah satu agenda nasional yaitu Pilkada 2018, maka Skadron Udara 6 di jajaran Koopsau I memiliki salah satu tugas untuk ikut mendukung dan suksesnya pelaksanaan Pilkada tersebut”, ungkap Danskadron Udara 6. “Kita ditugaskan untuk melaksanakan pendistribusian logistik Pilkada berupa kotak suara ke remote area yang sulit dijangkau menggunakan transportasi darat”, pungkas Letkol Pnb Suryo.

Batalyon 18 Rejimen Askar Melayu Diraja (RAMD) Malaysia Ditingkatkan Menjadi Batalyon Infanteri (Para)

 Batalyon Infanteri (Para)
 Batalyon Infanteri (Para) 

Angkatan Darat Malaysia (TDM) membawa sejarah perkembangan lain dengan deklarasi operasi Batalyon ke-18 Rejimen Askar Melayu Diraja (RAMD) yang ditingkatkan menjadi Batalyon Infanteri (Para).
Latihan restrukturisasi tersebut menyebabkan penempatan pasukan elit di bawah 10 Brigade penuh adalah salah satu pendekatan yang memungkinkan tim Angkatan Darat untuk melakukan operasi militer simultan yang melibatkan Wilayah Semenanjung, Sabah dan Sarawak di masa depan.
Upacara simbolis dan penyerahan bendera RAMD (Para) 18 oleh Panglima 8 Brigade ke Panglima 10 Brigade (Para) diadakan di Bandara Sultan Mahmud (LTSM) disaksikan oleh Menteri Besar Datuk Seri Ahmad Razif Abdul Rahman dan Kepala Angkatan Darat, Sri Zulkiple Kassim.
Hadir pula Panglima 10 Brigade (Para), Brigadir Jenderal Datuk Tengku Muhammad Fauzi Tengku Ibrahim dan Panglima 8 Brigade, Brigadir Jenderal. Datuk Nazari Abd. Hadi.
Sehubungan dengan upacara tersebut, demonstrasi kemampuan Fast Track Movement menunjukkan kemampuan untuk melakukan penerbangan dari pesawat terbang (teknik fast roping) dan SPIE-Rig, hover jump serta serangan peleton terhadap musuh yang ditampilkan di depan publik.
Dalam perhelatan ini sekurangnya melibatkan partisipasi 800 petugas dan anggota dari tumpukan berbagai aset militer yang digunakan termasuk aset Angkatan Udara seperti pesawat tempur Sukhoi Su-30MKM dan pesawat pengangkut C-130H Hercules TUDM.
Selain itu, publik yang hadir disuguhi dengan demonstrasi infiltrasi Seksi Navigasi Udara (terjun bebas), Close Air Support oleh dua pesawat tempur Sukhoi Su-30MKM, drift statis dari C-130H Hercules (mass drop), penarikan bagian navigasi udara (Teknik SPIE-RIG).
Demikian pula pengaturan serangan oleh helikopter EC725 Cougar (teknik fast roping), kompilasi menggunakan teknik hover jump dan CAS dari pesawat tempur Sukhoi Su-30MKM dan drift statis menggunakan pesawat C 130H Hercules TUDM.
Sementara itu, Ahmad Razif mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Angkatan Darat (TDM) terutama Kepala Angkatan Darat, Sri Zulkiple Kassim tentang deklarasi pengoperasian RAMD 18 (Para) di Kamp Seberang Takir yang telah ditingkatkan kemampuannya.
"Ini telah menjadi kekuatan elit yang melibatkan tindakan ekstrem dan lebih agresif, dan kami juga beruntung menjadi Batalyon 18 ini, kami memiliki dua komandan, 8 komandan Brigade dan 10 komandan Brigade," jelasnya.
Sementara Kepala Angkatan Darat, Sri Zulkiple Kassim mengatakan bahwa restrukturisasi Batalyon ke 18 dibuat oleh 10 Brigade Para untuk memiliki empat batalyon infanteri, sehingga menambah kekuatan bagi brigade.
"Majllis hari ini secara garis besar mendefinisikan Batalyon Resimen ke-18 sekarang dapat ditugaskan sebagai tim elit di bawah 10 Brigade sepenuhnya.
"Salah satu dari 10 Brigade Para perlu diperkuat karena komitmennya yang tinggi, kami terlibat dalam misi tidak hanya di dalam negeri tetapi hampir semua misi luar negeri kami melibatkan 10 anggota Brigade Para," katanya, menambahkan bahwa Tim Gerak Cepat memiliki total 800 anggota.
Sebagai formasi awal Pasukan Gerak Cepat, memiliki empat perwira dan 46 anggota lainnya dipilih sebagai kelompok perintis yang pernah menghadiri pangkalan parasut di Pusat Pelatihan Peperangan Khusus Malaka Special Battle (Pulpak). (TSM)

Saab Swedia Resmi Perlihatkan Pesawat GlobalEye Pesanan Uni Emirat Arab

 Pesawat GlobalEye Pesanan Uni Emirat Arab
 Pesawat GlobalEye Pesanan Uni Emirat Arab 

Untuk pertama kali industri pertahanan dan kemanan asal Swedia, Saab, memperlihatkan pesawat terbang peringatan dini dan kendali Airborne Early Warning & Control (AEW&C) GlobalEye kepada media di Linköping, Swedia, Jumat (23/2/2018).
Seremoni roll-out sistem pengawasan udara canggih multiperan ini menampilkan satu unit GlobalEye berlabur abu-abu dengan tulisan UEA Air Force, menandai pesanan dua unit yang telah ditandatangani Uni Emirat Arab pada ajang Dubai Airshow 2015. Tahun 2017, UEA menambah lagi satu unit pesawat ketiga.
Bagi Saab, peluncuran GlobalEye merupakan tonggak sejarah perusahaan tersebut dalam pengembangan pesawat AEW&C. Sistem GlobalEye diintegrasikan pada basis pesawat bermesin jet Global 6000 buatan Bombardier, Kanada. Pesawat ini dapat bertahan terbang di udara selama 11 jam dan menjangkau jarak jelajah hingga 6.000 mil laut (11.112 km).
GlobalEye dapat digunakan untuk pengawasan udara, maritim, dan daratan dalam satu misi dengan jangkauan lebih luas dibanding Erieye. Tak salah kalau GlobalEye juga disebut sebagai Erieye ER.
Data di internet meyebut, jangkauan radar AESA GlobalEye mencapai 216 mil laut (400 km), lebih jauh dari radar Erieye yang digunakan pada platform pesawat baling-baling Saab 340. Radar ini dapat mendeteksi beragam target termasuk rudal jelajah, helikopter, pesawat nirawak berukuran kecil, hingga periskop kapal selam.
Pesawat pertama GlobalEye selanjutnya akan menjalani beragam uji darat dan udara, bagian dari program pengembangan yang harus dijalani.
Saab dalam rilisnya yang penulis terima menyatakan, GlobalEye merupakan sistem AEW&C paling maju dan tidak tertandingi. “Pengembangan ini juga sekaligus membuktikan komitmen Saab kepada mitra dan pelanggan kami di seluruh dunia,” ujar Anders Carp, Wakil Presiden Senior dan Kepala Bisnis Pengawasan Area Saab. (Roni Sontani)

Apa Misi Jet Siluman Sukhoi Su-57 di Suriah, Sekedar Uji Coba atau Mau Hadang F-22 AU AS?

Jet Siluman Sukhoi Su-57
Jet Siluman Sukhoi Su-57  

Kedatangan Sukhoi Su-57 ke Pangkalan AU Rusia di Khmeimim, Suriah merupakan suatu kejutan yang sangat tidak terduga. Tidak seorangpun yang memperkirakan kedatangannya atau mendengar rencana itu sebelumnya.
Sputnik (24/2) sendiri menerka-nerka apa tujuan Su-57 digelar jauh sampai ke Suriah, padahal mereka belum lagi mencapai tahapan ujicoba. Sejumlah ahli dan pengamat yang diwawancarai nyatanya memberikan jawaban berbeda.
Andrei Frolov, editor majalah Arms Export yang berbasis di Rusia mengatakan bahwa penggelaran ini lebih untuk publikasi dalam rangka pemasaran jet tempur baru ini, khususnya bagi India yang pernah mengancam akan mundur dari program FGFA bersama Rusia.
Sementara Kolonel Jenderal (Mayor Jenderal) Nikolai Antoshkin yang seorang pilot militer Rusia dan mantan veteran perang Afghanistan menjelaskan bahwa walaupun pengujian resmi dilakukan di Pusat Latihan Tempur Lipetsk, pengujian langsung digaris depan adalah sesuatu yang biasa dilakukan oleh Rusia sejak dulu.
Antoshkin juga menegaskan bahwa Su-57 adalah jet tempur yang sempurna untuk menghadapi provokasi terhadap kekuatan Rusia di Suriah, terutama berita bahwa F-22 Raptor AU AS yang berulang kali mengganggu misi penerbangan Su-25 Rusia akhir 2017 lalu. (Aryo Nugroho)

PT Sari Bahari Tampilkan Prototipe Rudal Petir dengan Desain Baru

Prototipe Rudal Petir dengan Desain Baru
Prototipe Rudal Petir dengan Desain Baru 

Saat PT Sari Bahari memutuskan Petir berubah peran dari prototipe rudal permukaan ke permukaan menjadi target drone “Jalak,” maka tak lantas konsep rudal permukaan ke permukaan balistik dilupakan, justru manufaktur senjata asal Malang, Jawa Timur ini terus melanjutkan prototipe Petir. Bahkan diketahui desain rudal Petir terbaru telah mengalami perubahan yang signifikan.
Perubahan yang signifikan bukan saja dari cat loreng yang kini dibalut loreng putih coklat, melainkan dari fuselage dan vertical stabilizer. Jika pada desain Petir terdahulu model mirip dengan jet tempur F/A-18 Hornet, maka pada Petir generasi baru (102), nampak desain fuselage lebih terlihat lebih kaku namun memberi kesan tegas. Sekilas fuselage-nya rudal Petir terbaru mengingatkan pada desain rudal Taurus KEPD 350, sosok rudal jarak jauh anti jamming GPS lansiran MBDA Deutschland GmbH dan Saab Bofors Dynamics.
Sementara dari desain vertical stabilizer, jika Petir terdahulu menggunakan dua sayap tegak ala F/A-18 Hornet, maka di Petir terbaru memakai model konvensional dengan satu sayap tegak. Sementara desain ekor dan exhaust nampak serupa, begitu juga dengan rancangan sayap, tidak nampak perbedaan yang berarti dari generasi sebelumnya.
Pihak PT Sari Bahari menyebut, dengan model sayap seperti yang ada saat ini maka rudal memang dikhususkan untuk misi permukaan ke permukaan. “Kedepan kami berencana untuk mengembangkan Petir dengan model sayap lipat (folded wing), sehingga Petir kelak dapat diluncurkan dari pesawat tempur dengan peran sebagai rudal udara ke permukaan,” ujar nara sumber dari PT Sari Bahari kepada penulis. Pengembangan model folded wing memang dirasa penting, mengingat jika difungsikan di kapal perang misalnya, rudal yang dikemas dalam kontainer peluncur menutut desain sayap lipat.
Dilihat dari spesifikasi, Petir 102 tetap ditenagai mesin turbo jet dengan thrust 22 kgf (kilogram force). Kecepatan rudal ini 350 km per jam dengan jarak jaungkau 80 km. Peningkatan performance rudal petir dilakukan untuk pengembangan sistem kontrol auto pilot dan seeker (pemandu) dengan intertial dan GPS waypoint, serta pembuatan peluncur rudal serta pengembangan warhead. Untuk warhead (hulu ledak) bisa dibawa hingga 10 kg.
Scope of work dari pengembangan rudal petir ini dititikberatkan pada peningkatan kecepatan, jarak jangkau, sistem kontrol, dan uji fungsi. Dengan adanya target pengembangan tersebut maka terjadi perubahan airframe. Dalam rancangannya, rudal Petir sudah dibekali dengan onboard video camera. Saat ini PT Sari Bahari terus melakukan serangkaian uji coba untuk menyempurnakan desain rudal balistik ini. (Haryo Adjie)

Prototipe Helikopter Tempur Rusia Berkecepatan Tinggi Terbang Perdana 2019

Prototipe Helikopter Tempur Rusia
Prototipe Helikopter Tempur Rusia  

Prototipe helikopter tempur terbaru berkecepatan tinggi yang sedang dikembangkan Russian Helicopters (bagian dari Rostec) untuk Kementerian Pertahahanan (Kemhan) Rusia direncanakan akan mengambil debut terbang perdananya pada 2019 mendatang. Hal tersebut disampaikan langsung CEO Rostec, Sergei Chemezov, Kamis (22/2/2018).
“Tahun depan, kami akan melanjutkan pekerjaan rancangan eksperimental. Kami telah mengembangkan potensi yang cukup besar. Uji terbang Perdana helikopter eksperimental ini kemungkinan akan berlangsung pada tahun 2019 atau mendekati akhir tahun,”
Disebutkan, prototipe helikopter terbaru itu akan mampu melesat pada kecepatan lebih dari 400 km per jam.
Seperti diberitakan sebelumnya, Mil Moscow Helicopter Plant yang menjadi bagian dari Russian Helicopters Group sedang melakukan pekerjaan penelitian dan pengembangan (litbang) sebuah helikopter tempur dengan potensi yang sangat besar untuk Kemhan Rusia. Beberapa penyelesaian teknologi dalam proyek ini telah diuji pada model serial.
Berdasarkan keterangan dari Russian Helicopters Group, tenaga-tenaga ahli dari Mil Moscow Helicopter Plant telah mengembangkan sebuah rancangan revolusioner pisau rotor untuk helikopter bersersenjata ini. (Ery)

Sekjen NATO : Pembelian S-400 Turki Jadi Masalah yang Sangat Sulit

 S-400
 S-400 

Posisi Turki sebagai negara anggota NATO yang bersikukuh untuk tetap membeli rudal S-400 dari Rusia telah menjadi onak duri dalam hubungan negara NATO. Sekjen NATO Jens Stoltenberg menggambarkan pembelian rudal oleh Turki tersebut seperti dikutip dari Hurriyet (22/2), sebagai suatu masalah yang sangat sulit bagi NATO.
“Saya sadar bahwa Turki sudah membuat perjanjian dengan Rusia untuk membeli S-400. Ini adalah keputusan Turki sendiri. NATO hanya bisa melihat dari jauh saja dan tidak ikut campur urusan dalam negeri Turki."
"Yang jadi masalah bagi NATO adalah satu pertanyaan, apakah S-400 akan diintegrasikan dalam sistem pertahanan udara NATO. Saat ini tidak ada permintaan dari Turki.”
“Tanpa perlu didalami, ini sudah pasti akan jadi masalah sulit,” karena tentu sistem Rusia tidak kompatibel dengan NATO. Padahal NATO sendiri saat ini sedang berjuang mengintegrasikan sistem di pesawat tempur, kapal perang, dan stasiun radar darat agar bisa saling berbagi informasi dan meningkatkan jangkauan radar. (Aryo Nugroho)

Pindad Akan Buat Smart Bom dengan Alih Teknologi Korea Selatan

Smart Bom Pindad
Smart Bom Pindad 

PT. Pindad terus mencatatkan kemajuan. Jika biasanya membuat senjata ringan, kali ini PT. Pindad nampaknya beralih membuat bom pintar. Dalam pameran asosiasi industri pertahanan dalam negeri seperti diberitakan CNN Indonesia (20/2), PT. Pindad membawa maket bom pintar yang diberi nama Smart Bomb ER (Extended Range).
Smart Bomb ER ini dikembangkan oleh konsorsium yang terdiri dari Kementerian Pertahanan, Kementerian Ristek, PT Dirgantara Indonesia, dan PT. Pindad. Bentuk bomnya sendiri seperti seri bom Mk series buatan AS, akan tetapi bagian atasnya seperti dipasang modul bersayap.
Kalau UCers pernah berkunjung ke pameran Indo Defence 2016 dan melihat ke booth LIG Nex1, tentu pernh melihat KGGB atau Korean GPS-Guided Bomb alias bom berpemandu GPS. Bom ini awalnya dikembangkan oleh DAPA (Defense Acquisition Program Administration) dan ADD (Agency for Defense Deelopment).
Dengan desain bom ini, saat bom dijatuhkan dari pesawat, inersia dari kecepatan pesawat ditambah sayap yang mengembang akan membawa bom ‘terbang’ lebih jauh ke sasaran sehingga jet tempur tidak perlu terbang terlalu dekat dengan sasarannya. Karena kit bisa dipasang ke desain bom biasa (iron bomb), maka biaya pengembangannya tidak terlalu mahal, dan Industri pertahanan dalam negeri pun bisa membuat bom ini.
Smart Bomb ER/ KGGB kompatibel dengan seluruh jet tempur buatan Barat. Artinya untuk TNI AU, Smart Bomb ER bisa dipasang di bawah sayap F-16 Fighting Falcon, Hawk 100/200, atau T/A-50 Golden Eagle sehingga akan meningkatkan daya hancurnya. (Aryo Nugroho)

Panglima TNI Pastikan Pembentukan Markas Komando Pasmar 3 di Sorong Terus Berjalan

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto
Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto  

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengatakan, proses pembentukan dan pengorganisasian Markas Komando Pasmar 3 Korps Marinir di Kabupaten Biak, Sorong, masih tahap proses dan terus berjalan untuk segera diajukan kepada Presiden Joko Widodo.
“Pembentukan Markas Komando Pasmar 3 Korps Marinir TNI AL di Sorong, Papua Barat, tentunya akan kita dukung juga dengan dokumen-dokumen pendukung lainnya agar segera terealisasi,” ujar Panglima seusai dikukuhkan sebagai Warga Kehormatan Korps Marinir ke-37 TNI AL di Pantai Nganteb, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (22/2/2018).
Panglima menuturkan, rencana pembangunan Pangkalan TNI di wilayah Indonesia timur tersebut, sudah masuk dalam Rencana Strategis (Renstra) kedua TNI dalam rangka memenuhi Minimum Essential Force (MEF). “Dalam Renstra kedua ini, TNI sedang dan terus mendorong untuk pembentukan Markas Komando Pasmar 3 Korps Marinir TNI AL yang akan ditempatkan di Sorong,” katanya.
Panglima menjelaskan, saat ini pembangunan infrastruktur sudah selesai, tinggal pengisian untuk personel-personel pengawak Pasmar 3 yang ada di Sorong. “Di samping penambahan personel, juga akan dilengkapi dengan tambahan kelengkapan untuk satuan tersebut,” ucapnya. (Sucipto)

TNI AL Akan Operasikan Drone ScanEagle Hibah AS

Drone ScanEagle
Drone ScanEagle 

Jane’s (23/2) memberitakan bahwa hasil kunjungan Menteri Pertahanan AS James ‘Mad Dog’ Mattis ke Indonesia nampaknya mulai berdampak positif. AS mengumumkan bahwa mereka akan menghibahkan empat unit UAV (Unmanned Aerial Vehicle) alias Drone tipe Boeing-Insitu ScanEagle.
Hibah dari AS itu dimaksudkan untuk membangun kemampuan pengamatan dan patroli maritim negara-negara Asia Tenggara. Hibah ScanEagle ini menjadikan Indonesia sebagai negara pengguna keempat di kawasan ASEAN setelah Singapura, Malaysia, dan Filipina.
Singapura dan Mayasia mengadakan ScanEagle langsung dari pabriknya pada medio 2012-2013, dan Malaysia bahkan sudah menggunakannya untuk memberantas separatis Sabah di Lahad Datu. Filipina membeli ScanEagle pada tahun 2016.
Dengan program Pemerintah Indonesia untuk membentuk poros maritim dan menjaga kedaulatan negeri ini, pengadaan drone maritim yang dilakukan dengan menunggu hibah sebenarnya merupakan sesuatu yang patut dipertanyakan, apakah kita memang serius dengan poros maritim?
UAV ScanEagle sendiri memiliki panjang 2,5 meter dengan bentang sayap hampir 2 meter. Bobotnya hanya sekitar 25 kilogram dan dapat membawa sensor seperti kamera seberat 4 kilogram. ScanEagle bisa terbang selama 24 jam lebih pada ketinggian 7 kilometer dan kecepatannya 80 knot. ScanEagle sendiri tidak bisa dipersenjatai. (Aryo Nugroho)
Boeing Insitu ScanEagle, Mini Drone untuk Tugas Intai Maritim TNI AL
Setelah Korps Marinir mengoperasikan drone flying wing SWG-R1, kini ada kabar terbaru bahwa TNI AL juga akan memperoleh drone jenis baru untuk memperkuat kemampuan pengamatannya di lautan. Persisnya TNI AL akan mendapatkan 4 unit drone ScanEagle produksi Boeing Insitu pada pertengahan 2018 ini.
Kabar tersebut pertama kali diwartakan situs Janes.com (23/2/2018). Disebutkan keempat drone ScanEagle merupakan bagian dari paket hibah dari Pemerintah Amerika Serikat untuk memperkuat kapabilitas intai maritim pada negara-negara di kawasan Asia Tenggara. ScanEgle yang battle proven di Irak ini memang laris manis dipasaran. Dari belasan negara pengguna, di Asia Tenggara ada Singapura dan Malaysia yang sudah lebih dulu memakai ScanEgle. Malahan Australia adalah salah satu pengguna terbesar drone ini.
Sepintas seperti apakah sosok ScanEagle? Struktur drone ini terdiri dari lima modul replaceable, yakni bagian hidung, badan pesawat (fuselage), avionik, sayap dan sistem propulsi. Sementara lebar bentang sayap keseluruhan (dengan winglet) mencapai 3,1 meter.
Khusus pengoperasian di wilayah bersuhu dingin, ScanEagle dapat dilengkapi dengan carburettor heating dan ice phobic wing covering. Karena termasuk mini drone, tak sulit untuk mengemas ScanEagle, drone ini dapat diurai dan dirakit dengan cepat dengan dukungan kontainer berukuran 1,7 1 x 0,45x 0,45 meter.
Seperti halnya target drone Jalak atau rudal Petir buatan PT Sari Bahari, ScanEagle tidak memiliki roda pendarat, alhasil drone ini diluncurkan lewat catapult pneumatic yang mampu melesatkan drone dengan kecepatan 25 meter per detik. Insitu yang kini menjadi anak perusahaan Boeing, sejak 2006 juga mengembangkan ScanEagle dengan model sayap lipat (folded wing), tujuannya agar drone ini dapat dilepaskan dari udara, terutama dari pesawat C-130 Hercules atau V-22 Osprey.
Karena tak punya roda, maka ScanEagle didaratkan dengan cara khusus, bukan dengan jaring atau parasut, melainkan menggunakan metode kabel penangkap (SkyHook) yang dikembangkan Insitu.
Sementara untuk payload yang menjadi elemen vital drone pengintai ini disematkan pada bagian hidung. Paket payload juga dibuat modular, sehingga operator dapat mengganti jenis payload dalam waktu beberapa menit saja. Lokasi sensor yang ditempatkan di bagian muka memudahkan operator untuk melacak sasaran tanpa harus melakukan manuver ulang.
Lantas apakah isi payload ScanEagle? Standarnya drone ini dilengkapi sensor thermal beresolusi tinggi DRS E6000. Sensor ini menyediakan resolusi 640×480 pixels dengan 25 micron pitch. ScanEagle juga dilengkapi short-wave infrared camera buatan Goodrich Sensors. Untuk misi memburu sniper, ScanEagle milik AU AS dipasangi sniper gun fire detection and location system. Pengujian terus berlanjut, yang terbaru ScanEagle malah digarap Boeing untuk instalasi NanoSAR synthetic aperture radar (SAR).
Sebagai dapur pacu, ScanEagle menggunakan tenaga propeller dengan dua bilah baling-baling. Menggunakan mesin piston dapat dihasilkan tenaga 0,97kW. Dalam sekali terbang, ScanEagle dapat membawa 4,3 kg bahan bakar (JP5 jet aircraft fuel).
Dalam menjalankan misi intai, ScanEagle dapat mengudara sampai 22 jam 10 menit. Bahkan pada uji coba dengan bahan bakar JP5, endurance ScanEagle bisa sampai 28 jam 44 menit di udara.
Dalam pengoperasiannya, ScanEagle diawaki oleh kru pada Ground Control Station. Sistem kontrol dan navigasi ScanEagle menggunakan GPS waypoint dan autonomous object tracking and autonomous in-flight route mapping. Untuk transmisi data, ScanEagle disokong datalink UHF 900MHz dan downlink S-band 2.4GHz untuk transmisi video.
Berapa harga ScanEagle? Menurut situs wikipedia.org, untuk empat unit ScanEagle berikut paket Ground Control dibandrol US$3,2 juta. (Gilang Perdana)
Boeing Insitu ScanEagle
  • Payload:3,4 kg
  • Length: 1,2 meter
  • Wingspan: 3,1 meter
  • Empty weight: 12 kg
  • Loaded weight: 18 kg
  • Max. takeoff weight: 22 kg
  • Maximum speed: 148 km/h
  • Cruise speed: 111 km/h
  • Endurance: 24+ hours
  • Service ceiling: 5.950 meter

Tambahan 106 MBT K2 Black Panther untuk AD Korea Selatan

MBT K2 Black Panther
MBT K2 Black Panther  

Menurut situs surat kabar Diplomat, Korea Selatan akan memproduksi 106 tank tempur utama (MBT) K2 Black Panther untuk Angkatan Darat Republik Korea (Korea Selatan). MBT K2 diproduksi oleh perusahaan Korea Hyundai Rotem dan kontrak pertama ditandatangani pada tahun 2014 untuk pengiriman batch pertama terdiri dari 100 unit.
Pada awalnya, produksi 100 MBT K2 tambahan tersebut diperkirakan akan dilakukan pada akhir 2017, namun pesanan tersebut ditunda karena masalah teknis terkait transmisi otomatis yang diproduksi oleh S&T Dynamics Korea. Kini varian terbaru dari K2 akan dilengkapi dengan transmisi buatan Jerman dari perusahaan Renk dan mesin diesel MTU 883 lisensi dari Jerman.
Pengembangan MBT K2 dimulai pada tahun 1995 dan prototipe pertama diluncurkan pada tahun 2007. K2 ditampilkan untuk pertama kalinya ke publik pada Pameran Pertahanan ADEX di Bandara Seoul pada bulan Oktober 2009.
K2 Black Panther masuk secara resmi dalam kedinasan AD Korea Selatan pada tahun 2016, dan saat ini 100 K2 MBT telah dioperasikan oleh AD Korea. AD Korea Selatan berencana untuk memiliki total 600 MBT.
Persenjataan utama MBT K2 Black Panther terdiri dari meriam smoothbore Rheinmetall 120 mm/L55 buatan Jerman yang diproduksi dengan lisensi di Korea Selatan. Meriam ini dilengkapi dengan loader otomatis yang memungkinkan pemuatan proyektil dilakukan saat tank tengah bergerak, bahkan saat tank bergerak di permukaan yang tidak rata.
Armor pada K2 Black Panther terdiri dari jenis armor komposit yang tidak dipublikasikan dan Active Defense System yang menggunakan blok Explosive Reactive Armor (ERA). K2 memiliki awak tiga dengan pengemudi di bagian depan hull dan komandan dan penembak berada di turret. Perlindungan sistem K2 mencakup sistem radar milimeter band yang terpasang di turret yang digunakan sebagai Missile Approach Warning System (MAWS). (Angga Saja - TSM)

Radar Acak