Untuk Sistem Pertahanan Udara Turki Ambil S-400 Rusia, Tapi Jet Tempur Tetap Tak Mau ke Lain Hati Pesan F-35 AS

F-35
F-35  

Sputnik (27/3) memberitakan bahwa Turki memang dengan heroik berhasil dan bahkan menaikkan nilai tawar negaranya dengan tetap berkeras membeli rudal S-400 walaupun dari kejauhan AS tetap mengancam menggunakan sanksi CAATSA.
Namun ketika tiba urusan pesawat tempur, Turki malu-malu mengakui bahwa negaranya sudah kadung ketagihan pada produk-produk AS. Menteri Pertahanan Turki Nurettin Canikli bahkan mengatakan bahwa pembelian S-400 tak ada hubungannya dengan pembicaraan bilateral dengan AS terkait F-35 yang sudah dipesan Turki.
“Perjanjian pembelian S-400 sudah ditandatangani dan semua urusan sudah dibereskan. Kesepakatan sudah tercapai dan urusan pembayaran sudah disepakati, dan Turki sudah memenuhi seluruh kewajibannya,” ujar Canikli.
Sebelumnya Kepala Komite Hubungan Luar Negeri Parlemen Turki Volkan Bozkir sempat mengatakan bahwa Kongres AS bisa jadi akan membatalkan penjualan F-35 ke Turki kalau negara tersebut memaksakan untuk tetap membeli rudal S-400. (Aryo Nugroho)

Kadet Penerbang AU China Dilatih ‘Stall & Spin Recovery’ dengan Pesawat JL-8

Pesawat JL-8
Pesawat JL-8 

Para kadet penerbang Angkatan Udara China (PLAAF) di Akademi Penerbangan Harbin, mulai dilatih melaksanakan Stall & Spin Recovery atau menyelamatkan diri dari keadaan pesawat yang jatuh berputar pada sumbu vertikal.
Kegiatan ini dinilai sangat penting dan baru pertama kali dilaksanakan menggunakan jet latih JL-8 dalam dua dekade terakhir.
PLAAF mulai menggunakan jet latih JL-8 sejak tahun 1995. Pesawat yang sama juga digunakan oleh AU Pakistan dengan nama Karakorum 8 atau K-8. Lebih 500 unit JL-8 telah dibuat dan digunakan di 13 negara.
“Latihan menyelamatkan diri dari keadaan stall dan spin sangat penting karena kondisi berbahaya tersebut dapat menghilangkan nyawa pilot,” ujar Instruktur Penerbang Fei Hongliang. Ditambahkan, peristiwa inin beberapa kali terjadi pada penerbang PLAAF.
Sementara itu, Wang Zhiming, profesor di Akademi Komando AU China mengatakan, sejak 30 tahun lalu PLAAF telah merancang program latihan Stall & Spin Recovery.
Latihan ini akan diajarkan kepada seluruh instruktur penerbang militer di China dan setelah itu akan diterapkan kepada seluruh kadet penerbang. (Ron)

Mengenal Red Arrow 10A, Rudal Anti-tank China

Red Arrow 10A
Red Arrow 10A 

Rudal anti-tank berpemandu (ATGM) HJ-10A buatan China North Industries Corp (NORINCO) muncul di ajang Eksibisi Pertahanan Internasional (International Defense Exhibition (IQDEX-2018) di Bagdad, Irak pada 10-13 Maret lalu.
Rudal Red Arrow-10A atau Panah Merah (Hong Jian - HJ) 10 ini sebelumnya telah dipamerkan dalam penyelenggaraan Zhuhai Air Show 2016.
Berbeda dengan sistem yang diperlihatkan di Zhuhai, kali ini Panah Merah muncul dalam varian ekspor yang diusung kendaraan 8×8. Kendaraan beroda ban ini sekilas tampak kurang gahar dibanding versi roda rantai. Namun, pihak pabrikan menyatakan bahwa biaya perawatan ranpur roda ban lebih murah dibanding ranpur roda rantai.
Rudal darat ke darat HJ-10A dengan pemandu kawat fiber-optik mampu menghancurkan sasaran hingga jarak 10 km. Kemampuan menembus lapis bajanya merupakan yang terbaik di keluarga Panah Merah yang mulai digunakan Angkatan Bersenjata China sejak tahun 1990-an.
Pemandu lain yang juga digunakan pada HJ-10 adalah semi-active laser homing dan milimeter wave radar seeker untuk varian udara ke darat (AKD-10). (Ron)

Yonarmed 11/76 Kostrad akan Gunakan Howitzer Baru Buatan Perancis

Meriam 105/LG1
Meriam 105/LG1  

Danpussenarmed Kodiklatad Brigjen TNI Dwi Jati Utomo, S.IP., M.Tr. (Han) mengunjungi Mako Yonarmed 11/76/GG/1/2 Kostrad di Magelang dalam rangka Asistensi dan Inspeksi Danpussenarmed Kodiklatad beserta rombongan, Senin (26/03).
Pada kunjungan kerja tersebut Danpussenarmed beserta istri didampingi oleh Dirbindok Pussenarmed Kolonel Arm Joko Tri beserta istri, Dirbindik Pussenarmed Kolonel Arm Ari Estefanus, Sos., M.Sc. beserta istri, Dirbinlitbang Pussenarmed Kolonel Arm Saripuddin, S.sos., M.Si. beserta istri dan Danmenarmed 1/PY/2 Kostrad Letkol Arm Rama Hendarto Budhiyanto beserta istri.
Di Mako Yonarmed 11/76/GG/1/2 Kostrad, rombongan Danpussenarmed disambut oleh Komandan Batalyon Armed 11/76/GG/1/2 Kostrad Mayor Arm Siswo Budiarto, S.I.P., M.M. beserta seluruh jajaran Perwira dan dilanjutkan foto bersama di depan Relief Mako Yonarmed 11/76/GG/1/2 Kostrad.
Dalam kunjungan tersebut, Danpussenarmed berkesempatan memberikan pengarahan kepada seluruh prajurit Yonarmed 11/76/GG/1/2 Kostrad. Dalam arahannya Danpussenarmed menyampaikan, bahwa insan prajurit Armed harus senantiasa memiliki mental dan kepribadian yang baik, memahami dan menguasai pengetahuan kecabangan Armed dengan baik.
Selain itu Brigadir Jenderal TNI Dwi Jati Utomo, S.IP., M.Tr. (Han) menyampaikan, dengan berkembangnya zaman yang modern akan direncanakan pergantian Alutsista yang lama yaitu Meriam 76 MM/Gunung dengan yang baru Meriam 105/LG1 buatan Perancis dengan jarak capai sekitar 12 - 17 Km, yang nantinya untuk memback up satuan Batalyon Para Raider.
Danpussenarmed mengungkapkan, mengingat persenjataan Armed semakin canggih dan modern, maka perlu diadakan revisi pembinaan fungsi Armed ke depannya dengan cara meningkatkan ilmu pengetahuan, meningkatkan kualitas SDM dan tetap memiliki ketangguhan diri.
Usai memberikan pengarahan, Danpussenarmed beserta rombongan berkesempatan meninjau pangkalan dan Alutsista yaitu Meriam 76/Gunung buatan Yugoslavia serta peninjauan lahan “Ketahanan Pangan” tanaman Edamame (Kedelai Jepang) satuan Yonarmed 11/76/GG/1/2 Kostrad di Dsn. Sanggrahan Ds. Kebonagung Kec. Bandongan Kab. Magelang.

Pentagon : AS Sangat Hargai Hubungan Militer dengan Indonesia

Militer Indonesia dan Amerika
Militer Indonesia dan Amerika 

Bos Pentagon James Norman Mattis mengatakan, Amerika Serikat (AS) sangat menghargai hubungan militer dengan Indonesia. Hal itu disampaikan saat menyambut kunjungan Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi ke Pentagon.
"Indonesia mitra yang berpikiran sama dengan berbagi nilai-nilai demokrasi dan kepentingan," kata Mattis.
Selain menghargai hubungan militer kedua negara, menurut Menteri Pertahanan AS tersebut, Washington juga mencatat bahwa sikap Indonesia yang menjunjung tinggi atau bersikap hormat terhadap hukum internasional. Sebagai contoh, negara yang beribukota di Jakarta ini teguh menjaga integritas teritorial di Laut China Selatan dan kedaulatannya.
Saat menyambut diplomat tertinggi Indonesia itu, Menhan Amerika memuji Indonesia dalam peran kontraterorisme dan upaya rekonsiliasi untuk Afghanistan.
"Saya percaya kedua negara kita memiliki peluang mungkin bahkan peluang dalam satu generasi untuk kerja sama dalam masalah ekonomi, diplomatik dan keamanan bersama," kata Mattis dalam sebuah upacara menyambut diplomat tertinggi Indonesia tersebut.
"Saya pikir penting bagi negara-negara kita untuk bekerja bersama dan berbagi tanggung jawab untuk keamanan regional di persimpangan kritis perdagangan global," ujar Mattis, selasa (27/3/2018) dari website resmi Pentagon.
Mattis mengatakan, Indonesia adalah titik tumpu geografis dan diplomatik untuk kawasan Indo-Pasifik. Dia mencatat kemampuan Indonesia dalam membangun konsensus di Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), yang dia sebut berperan penting dalam upaya untuk memperluas kontraterorisme, meningkatkan kerja sama maritim dan mempromosikan keamanan kolektif.
"Kami juga menghargai dukungan Indonesia untuk upaya rekonsiliasi di Afghanistan," puji kepala Pentagon tersebut.
"Kami menyambut inisiatif Anda untuk menjadi tuan rumah pertemuan segitiga para pemimpin agama (ulama) Afghanistan, Pakistan, dan Indonesia. Mengingat masyarakat multietnis bangsa Anda, suara Anda dalam mengecam kekerasan teologis dan dukungan Anda terhadap proses perdamaian menunjukkan jalan menuju perdamaian abadi di Afghanistan, negara yang telah menderita terlalu lama dari perang," papar Mattis.
Menhan Mattis juga berterima kasih kepada Menlu Retno atas kepemimpinan Indonesia dalam pelatihan dan interoperabilitas dengan tetangga-tetangganya. "Kami percaya itu adalah faktor stabilisasi atas apa yang Anda lakukan," katanya.
"Perjanjian kerja sama trilateral Anda dengan Malaysia dan Filipina berfungsi sebagai model yang baik dari Laut Natuna Utara, hingga Laut Sulu dan seterusnya," imbuh Mattis. (Muhaimin)

Ratnik, Seragam Kamuflase Baru Rusia Bisa Membuat Pemakainya Hilang dari Pandangan Kamera Termal

Ratnik
Ratnik 

Sputnik (27/3) memberitakan bahwa seragam kamuflase militer Rusia yang baru dan masuk dalam konsep pasukan masa depan Ratnik memiliki pewarnaan khusus yang membuat pemakainya hilang dari pandangan kamera termal dan spektrum infra merah.
Hal ini dikatakan oleh Oleg Faustov, insinyur senior di biro desain TsNIITTochMash yang mengerjakan komponen pendukung prajurit seperti seragam dan rompi. Ia menjelaskan bahwa kamuflase Ratnik tidak akan memantulkan dan justru menyerap emisi infra merah, membuatnya sewarna dengan lingkungan sekitarnya.
Dewasa ini, para prajurit negara maju banyak memakai NVG (Night Vision Goggles) atau kamera termal untuk mengendus emisi panas lawan. Alutsista seperti tank dan pesawat terbang dilengkapi dengan FLIR juga bisa mendeteksi hal yang sama.
Ratnik akan memecah spektrum emisi ini sehingga pemakai NVG tidak akan bisa mengenali siluet manusia dari kacamata pandangnya. Jadi ketika lawan baru mulai mengenali, prajurit Rusia sudah bisa menembaknya lebih dulu. (Aryo Nugroho)

KUS-FS, Drone MALE Asli Korea Selatan Sukses Uji Terbang Perdana

KUS-FS
KUS-FS 

Setelah berjaya dengan produk pesawat latih bermesin turboprop KT-1 dan bermesin jet T-50, kini lini produk militer kedirgantaraan Korea Selatan makin lengkap dengan segera hadirnya pesawat terbang tanpa awak (UAV) buatan lokal.
Baru-baru ini beredar di dunia maya penampakan drone jenis MALE (medium altitude long endurance) yang sedang menjalani uji terbang dan difoto oleh seorang penggemar kedirgantaraan. Sayangnya tak ada penjelasan tentang kapan dan di mana foto itu diambil.
Berdasar rilis berita yang dilansir situs Jane’s, drone ini dikenal sebagai Korean Unmanned System (KUS)–FS yang model skalanya sempat diperlihatkan dalam ajang Seoul International Aerospace & Defence Exhibition (ADEX) bulan Oktober 2017 silam.
KUS-FS dibangun oleh Korean Air-Aerospace Division yang dikenal juga sebagi KAL-ASD atas nama Badan Pengembangan Pertahanan Korea (ADD). Nantinya drone ini akan digunakan oleh Angkatan Udara Republik Korea (RoKAF).
KAL-ASD sendiri mulai menggarapnya sejak tahun 2008 saat ditunjuk sebagai pemenang pengembangan drone MALE oleh Defense Acquisition Program Administration (DAPA). KAL-ASD berhasil menyingkirkan pesaingannya yaitu KAI (Korean Aerospace Industries).
Drone yang digadang sekelas dengan MQ-9 Reaper buatan General Atomics dari AS ini memiliki panjang 11 m dn rentang sayap 25 m. Dilengkapi sebuah mesin berdaya 1.200 hp dengan kecepatan jelajah sekitar 312 km/jam, ketinggian terbang hingga 15.240 m, serta jangkauan sekitar 1.852 km atau endurance 32 jam.
Dari foto KUS-FS yang beredar, terlihat di bawah sayapnya tersedia empat cantelan untuk senjata. Tampak pula sebuah turret sensor elektro-optik/inframerah (EO/IR) buatan Hanwa Systems yang terpasang di lehernya. KUS-FS juga dilengkapi peralatan komunikasi satelit (SATCOM) dan sensor lain termasuk LIG Nex1 Synthetic Aperture Radar (SAR).
Peran yang dialokasikan untuk KUS-FS adalah sebagai drone serang darat, peperangan elektronik (EW), sinyal intelijen (SIGINT), ISR (intelligence, surveillance, reconnaissance) serta sebagai wahana relai komunikasi.
Meski foto KUS-FS baru beredar bulan Maret 2018 ini, namun Jane’s mewartakan drone ini sebenarnya telah menjalani terbang perdana tahun 2012. Diharapkan rangkaian uji coba tuntas tahun ini dan selanjutnya bisa segera diproduksi.
Bagi AU Korea Selatan sendiri, KUS-FS bukanlah pesawat tanpa awak dalam negeri pertama yang digunakan. Sebelumnya RoKAF telah mengadopsi RQ-101 buatan KAI yang diperoleh sejak tahun 2004. Drone yang dijuluki sebagai Night Intruder ini memiliki panjang 4,7 m, rentang sayap 6,4 m, dengan jangkauan hingga 80 km atau endurance 6 jam. (Rangga Baswara)

F-16 Skadron 16 Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru Gelar Latihan Pengeboman dari Udara ke Laut. di Bengkalis

F-16 Skadron 16 Lanud Roesmin Nurjadin
F-16 Skadron 16 Lanud Roesmin Nurjadin 

Sejak Senin hingga Rabu (26-28/3/2018), langit di sekitaran Pantai Desa Sepahat, Kecamatan Bandar Laksamana, di Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau terus dipenuhi pesawat tempur F-16 dari Skadron 16 TNI AU.
Selama tiga hari ini Skadron yang memiliki pangkalan di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru itu menggelar latihan pengeboman dari udara ke laut. Informasi soal ini didapat dari surat Komandan Pangkalan TNI AU Roesmin Nurjadin, Nomor: B/265/III/2018, tanggal 21 Maret 2018.
Johansyah Syafri, Plt Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kabupaten Bengkalis menjelaskan, latihan weapon delivery itu dilaksanakan mulai pukul 08.00-14.00 WIB di Pantai Desa Sepahat, Kecamatan Bandar Laksamana.
Johan mengimbau agar masyasarakat tidak mendekat ke lokasi latihan dan menjadikannya sebagai tontonan gratis karena sangat berbahaya. Masyarakat diminta menjauh dari lokasi latihan hingga kisaran jarak 2 km.
”Kami mengingatkan kepada warga sekitar, terutama yang berprofesi sebagai nelayan untuk tidak mendekati latihan dengan radius 2 km selama latihan berlangsung,” ujarnya.
F-16 di Skadron 16 Lanud Roesmin Nurjadin memiliki jadwal latihan yang cukup ketat. Sebelum menggelar latihan weapon delivery di Bengkalis, mereka telah bergabung bersama belasan F-16 milik USAF di Lanud Sam Ratulangi Manadi untuk menggelar latihan bersama dengan tajuk Cope West 2018.
Latihan yang digelar sejak tanggal 12 hingga 23 Maret ini akan meningkatkan kemampuan seluruh kru F-16 dalam kesiapan operasi mereka. Selain latihan patroli bersama, dalam kesempatan itu F-16 juga melatihkan kemampuan penembakan menggunakan bom pintar. (Ian)

Pesawat Tempur Gen 4.5 KFX/IFX Pakai Kursi Lontar Buatan Martin-Baker

Kursi Lontar Buatan Martin-Baker
Kursi Lontar Buatan Martin-Baker 

Pabrikan kursi lontar (ejection seat) ternama dari Inggris, Martin-Baker, kembali terpilih sebagai pihak penyuplai kursi penyelamat pilot pada pesawat tempur generasi terbaru Korea Selatan, KFX.
Korea Aerospace Industries (KAI) sebagai pembuat KFX melalui rangkaian kompetitif telah menetapkan pilihan pada kursi lontar Mk18 buatan Martin-Baker. Keputusan ini sekaligus memperpanjang hubungan kerja sama KAI dengan Martin-Baker.
Sebelumnya, KAI juga telah memilih pabrikan yang sama untuk menyuplai kursi lontar bagi pesawat latih dasar KT-1 Woong Bee dan jet latih lanjut T-50 Golden Eagle.
Wakil Presiden Pengembangan Bisnis dan Pemasaran Martin-Baker, Andrew Martin, menyatakan rasa bangga dan terhormat pihaknya kembali terpilih oleh KAI.
“Sejak kursi lontar kami menyelamatkan nyawa pilot pertama pada 70 tahun lalu, hingga saat ini kurang lebih 7.563 pilot di seluruh dunia telah terselamatkan nyawanya melalui kursi lontar Martin-Baker,” jelasnya.
Laman Martin-Baker menyebut, kursi lontar Mk18 yang dipilih untuk KFX nantinya sama dengan kursi lontar yang saat ini digunakan oleh salah satu kontestan pesawat jet latih untuk USAF.
Martin-Baker berkantor pusat di Denham, Inggris dengan jumlah karyawan mencapai seribu orang. Produk kursi lontar Martin-Baker telah digunakan di 56 jenis pesawat berbeda di 90 negara. Sekira 17.000 kursi lontar Martin-Baker saat ini masih digunakan dalam operasional pesawat. (Roni Sontani)

TNI AL Launching Kapal Perang Baru Jenis PC-40 KRI Albakora-867

 PC-40 KRI Albakora-867
 PC-40 KRI Albakora-867 

TNI Angkatan Laut melakukan peluncuran (launching) dan Shipnaming kapal perang baru jenis PC-40, kapal tersebut diberi nama KRI Albakora-867 yang diresmikan Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI A. Taufiq R mewakili Kepala Staf Angkatan Laut, yang didampingi Wakil Ketua Umum Jalasenastri Ibu Ina A. Taufiq bertempat di Halte Slipway, PT Caputra Mitra Sejati, Banten,Senin (26/3).
Kapal ini rencananya akan memperkuat Satuan Patroli Komando Armada RI Kawasan Timur. Alutsista baru milik TNI AL ini merupakan salah satu kapal perang karya anak bangsa yang diproduksi oleh PT Caputra Mitra Sejati Banten. KRI Albakora-867 di launching ke perairan Suralaya-Banten ditandai dengan pemotongan tali oleh Wakil Ketua Umum Jalasenastri Ibu Ina A.Taufiq R .
Kasal dalam amanatnya yang dibacakan Wakasal mengatakan bahwa pembangunan PC-40 Meter dengan senjata jni tentunya memiliki makna yang sangat strategis bagi industri pertahanan nasional. Hal ini dibuktikan oleh PT. Caputra Mitra Sejati yang telah berhasil dan mampu diandalkan dalam pengembangan teknologi industri pertahanan bagi kepentingan nasional.
“Keberhasilan ini juga merupakan salah satu solusi konkrit bagi Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) dalam mengurangi ketergantungan dari negara lain terkait dengan pengadaan alutsista TNI Angkatan Laut di masa mendatang”, tegas Wakasal.
Pemberian nama Albakora, diambil dari nama sejenis Ikan Tuna Putih yang memiliki karakteristik kecepatan dan ketahanan dalam berenang. Dalam kesempatan tersebut TNI Angkatan Laut juga mengucapkan terima kasih dan memberikan penghargaan yang tinggi, atas kerja sama, usaha serta kerja keras yang telah dilakukan Direktur PT. CMS beserta staf dalam membantu mewujudkan kebutuhan TNI Angkatan Laut dalam pembangunan kapal PC 40 Meter.
Hadir dalam kesempatan tersebut para pejabat tinggi TNI AL antara lain, Koorsahli Kasal, Asrena Kasal, Aslog Kasal, Asops Kasal, Kasarmabar, Kadisadal, Kadislaikmatal, beserta para Ibu Jalasenastri, Dirut PT. CMS Bapak Kris Pramono dan jajaran Direksi PT. CMS Banten.

Kejatuhan Rudal MIM-104 Patriot Warga Saudi Temui Ajal

 Rudal MIM-104 Patriot
 Rudal MIM-104 Patriot  

Diberitakan Haaretz (26/3) kejadian pencegatan rudal jelajah yang ditembakkan militan Houthi dari arah Yaman ternyata menyisakan suatu kisah pilu. Arab Saudi memang berhasil meluncurkan rudal MIM-104 Patriot yang berhasil mencegat tujuh rudal Houthi, tapi ada harga mahal yang harus dibayar.
Seorang warga yang berdiam di rumahnya meninggal dunia akibat kejatuhan rudal, sementara sejumlah rumah dan apartemen rusak parah akibat tertimpa pecahan-pecahan rudal yang ditembakkan ke arah Najran, Jizan, dan Khamis Mushait.
Ada dugaan bahwa mereka yang meninggal atau rumahnya rusak itu, justru tertimpa oleh pecahan rudal Patriot. Sebanyak dua rudal Patriot mengalami kegagalan peluncuran ketika baru saja meluncur, meledak di udara, dan ada yang jatuh ke atas rumah dan apartemen.
Akhirnya pecahan dari rudal Patriot tersebut menyebabkan satu orang meninggal dan dua orang lagi luka parah, seluruhnya adalah warga negara Mesir. Sejumlah pecahan lain jatuh di komplek al-Malqa dimana sejumlah kaca pecah akibat pecahan rudal yang jatuh di atas wilayah tersebut. (Aryo Nugroho)

Perisai Rudal Iron Dome Israel Menembak Sendiri Tanpa Ada Serangan Roket

Rudal Iron Dome Israel
Rudal Iron Dome Israel  

Sputnik (26/3) memberitakan bahwa sistem baterai rudal pintar Iron Dome yang memiliki spesialisasi menangkis roket dari arah Gaza yang ditembakkan militan Hamas rupa-rupanya berulah aneh pada minggu malam 25 Maret 2018.
Pada minggu malam, seiring dengan penduduk Israel Selatan yang sedang terlelap, tiba-tiba sirine serangan udara berbunyi, disusul dengan Iron Dome yang tiba-tiba aktif dan menembakkan roketnya ke udara. Lebih dari dua roket ditembakkan, seperti direkam oleh warga yang mengunggahnya ke media sosial.
Masalahnya, tidak ada roket yang ditembakkan malam itu ke arah Israel. Padahal secara desain, Iron Dome dilengkapi sistem kendali penembakan yang pintar, bisa membaca trayektori roket yang ditembakkan dan hanya meluncurkan rudal pencegat kalau ada roket yang diduga akan masuk dan jatuh ke pemukiman.
Ketika roket pencegat meluncur tapi tak ada roket yang jadi sasaran, sistem ini tentu jadi mandul, dan tidak seorangpun yang tahu kenapa. Apakah memang karena bunyi senapan mesin Brigade Qassam Hamas?
Angkatan Darat Israel seperti dikatakan juru bicara IDF Brigjend Ronen Manelis mengatakan mereka akan mencari tahu kenapa Iron Dome bisa bertingkah seperti itu. (Aryo Nugroho)

Connie : Indonesia Harus Percepat Industri Pertahanan

Medium Tank Pindad
Medium Tank Pindad 

Kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump yang menaikkan tarif impor barang-barang dari China sebesar 60 miliar dollar AS harus diwaspadai oleh Indonesia. Dampak kebijakan tersebut berpotensi meluas jika Indonesia tidak segera mempercepat industri di sektor pertahanan.
"Pertarungan ini hanya satu step sebelum perang betulan. Artinya segeralah indonesia mempersiapkan diri, bukan terlibat di situ, tapi bagaimana menghalau agar tidak terjadi dekat kita," kata Pengamat Pertahanan, Connie Rahakundini Bakrie di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (24/3).
Ia menilai ada persepsi yang salah antara masyarakat dan pemerintah dalam menyikapi ancaman perang. Seolah-olah senjata dan perlengkapan perang bisa dibeli di supermarket. Padahal menurutnya persiapan tersebut perlu dibangun.
"Hal ini menurut saya yang tidak bisa ditunda, bagaimana segera membuat program jangka panjang program industri kita, khususnya di industri pertahanan," jelasnya.
Saat ini menurut Connie ada tujuh prioritas yang sudah ditetapkan oleh Kementrian Pertahanan, seperti misalnya penguasaan kepada pembuatan kapal selam, radar, rudal. Namun menurutnya perlu ditambah satu prioritas yang perlu didorong, yaitu nuklir.
"Kalau itu sudah jelas road map-nya, jelas juga angkatan laut kita di mana angkatan udara kita di deployed (dikerahkan) di mana, demand-nya (permintaan) sudah ada. Seperti China kan bangun industri pertahanan buat siapa sih kan nggak dijual tadinya. Buat people liberation army saja gitu. Sama kita juga seperti itu," ungkapnya.

AL AS Baru Bisa Terbangkan F-35C Tahun 2021

 F-35C
 F-35C  

Varian terakhir dari F-35 Joint Strike Fighter, F-35C masih jauh masa operasi pertamanya. Penggunaannya secara resmi ditargetkan baru dimulai tahun 2021 mendatang di kapal induk USS Carl Vinson.
Penempur generasi kelima milik Angkatan Laut AS ini menyediakan platform yang lebih siluman, memiliki jarak terbang lebih jauh, dan lebih mampu beroperasi minimal sampai tahun 2030.
Pada tahun 2021 kapal induk kelas Nimitz USS Carl Vinson akan meluncur dari pelabuhan asalnya di pangkalan San Diego menuju Samudra Pasifik dengan membawa serta skadron pertama F-35C Joint Strike Fighters untuk melaut. Menurut Warrior Maven, ini akan menjadi patroli resmi pertama Angkatan Laut F-35.
Angkatan Laut F-35C adalah varian terbesar dua varian lainnya, F-35A milik Angkatan Udara AS dan F-35B milik Korps Marinir AS.
Dibandingkan dengan saudara kandungnya, F-35C memiliki sayap yang lebih besar, roda pendarat yang lebih kuat agar mampu menahan hentakan dari ketapel di kapal induk, dan kapasitas bahan bakar yang lebih besar.
Walau tak menyebutkan angka pasti, namun Marinir AS dikabarkan juga berencana untuk mengakuisisi beberapa model-C untuk operasinya.
F-35C saat ini masih belum mencapai Kemampuan Operasi Awal (Initial Operation Capability/IOC). Angkatan Udara AS sendiri telah menerima IOC untuk varian A pada bulan Agustus 2016. Sedangkan Marinir AS menyatakan skadron pertama mereka siap untuk menggunakan F-35B pada bulan Juli 2015.
Angkatan Laut AS berharap untuk mendeklarasikan IOC untuk model-C sekitar tahun 2018. Program ini telah mengalami keterlambatan lebih dari tiga tahun.
Angkatan Laut AS berharap akan ada 18 hingga 20 skadron yang beroperasi di kapal induk akan menerbangan F-35C hingga tahun 2030-an. Dua skuadron lainnya akan terus menggunakan pesawat tempur F/A-18E/F Super Hornet. (Ian)

Story : Kopassus vs Tropaz, Pertempuran Sengit dan Berdarah dalam Menguasai Dili Timor - Timur

Operasi Lintas Udara
Operasi Lintas Udara 

7 Desember 1975, TNI menggelar operasi lintas udara terbesar untuk menguasai Kota Dili, Timor Portugal. Jumlah pasukan yang diterjunkan 270 orang Prajurit Para Komando dari Grup I Kopasandha (kini Kopassus TNI AD) dan 285 prajurit Yonif 501.
Banyak kelemahan dari operasi penyerbuan itu. Antara lain data intelijen yang salah. Disebutkan musuh yang menjaga Kota Dili hanya sekelas dengan Hansip. Ini salah besar.
Demikian ditulis dalam buku Hari H 7 Desember 1975, Reuni 40 Tahun Operasi Lintas Udara di Dili, Timor Portugis yang disunting Atmadji Sumarkidjo dan diterbikan Kata.
Tropaz adalah pasukan didikan militer Portugis yang kenyang dengan pengalaman tempur gerilya. Mereka diterjunkan untuk menumpas pemberontakan di daerah jajahan Portugis seperti Angola dan Mozambik. Mereka juga kemampuan menembak yang sangat baik.
Pasukan TNI sudah ditembaki sejak masih melayang di udara. Pilot TNI AU terpaksa membatalkan sejumlah penerjunan karena pesawat diberondong tembakan dari bawah. Seorang load master di dalam C-13o Hercules tewas tertembak. Akibatnya 72 prajurit Kopassus batal diterjunkan.
Para prajurit yang terjun tak bisa membalas tembakan. Senapan AK-47 mereka masih terikat di paha.
Begitu mendarat mereka langsung mencari kelompoknya dan terlibat dalam pertempuran sengit. Beberapa prajurit baret merah tersungkur ditembus peluru Tropaz.
Sementara itu, Komandan Nanggala V/Kopasandha Letkol Inf Soegito berlindung di balik tembok. Ternyata di balik tembok itu terlihat beberapa orang Tropaz sedang menembak bertubi-tubi ke arah pasukan yang baru mendarat.
Soegito melemparkan granat ke dalam ruangan. Namun apes, granat buatan Pindad itu tak meledak.
Dia mencabut granat kedua buatan Korea Selatan. "Blaaaar!!" ledakan keras terdengar hingga dinding bergetar.
Beberapa orang yang terluka berhamburan keluar. Tanpa ba-bi-bu, Soegitu menarik picu senapan otomatisnya. Rentetan peluru kaliber 7,62 mm segera menyiram dan menghabisi orang-orang berseragam hijau itu.
Dili dipenuhi suara tembak menembak hari itu. Senapan serbu AK-47 milik Kopasandha (Kopassus) versus senapan G3 standar NATO milik Tropaz dan Fretilin.
Siang harinya, pasukan baret merah itu berhasil menguasai Pelabuhan. Letkol Soegito menggunakan sebuah bangunan yang belum jadi untuk markas Grup. Dia mulai bisa mengontak pasukannya yang berceceran.
Di sinilah Soegito menerima kabar Mayor Inf Muji Raharjo tertembak di bagian leher. Lukanya sangat parah. Namun ajaib, nyawanya masih bisa tertolong. Dia bisa sembuh karena peluru tidak merobek syarafnya.
Kota Dili bisa direbut hari itu juga. Pasukan Tropaz dan Fretilin mundur ke gunung untuk meneruskan perang Gerilya. Kemenangan yang harus dibayar mahal dengan gugurnya 19 anggota Kopasandha dan 35 prajurit Yonif Linud 501.
Sementara dari pihak musuh sedikit simpang siur. Ada yang menyebut 122 orang Pasukan Tropaz tewas, ada juga yang mencatat 105 orang. Selain itu puluhan pucuk senjata G-3 juga berhasil direbut.

Pernah Diincar Indonesia, 100 Tank Leopard 2A6 Belanda Lunas Diborong Finlandia

Tank Leopard 2A6 Belanda
Tank Leopard 2A6 Belanda  

Dulu sebelum Indonesia memutuskan membeli tank Leopard 2A4 dan 2RI dari Jerman, TNI AD sempat ngebet meminang 100 unit Main Battle Tank Leopard 2A6 eks Belanda. Namun siapa duga, Parlemen Belanda ternyata justru mempersulit proses tersebut karena urusan HAM.
Kini, enam tahun kemudian, seperti diberitakan Jane’s (23/3) ternyata Belanda sudah menjual habis 100 MBT Leopard 2A6 tersebut ke Finlandia. 20 unit terakhir dari tank-tank tersebut sudah dikirimkan pada tanggal 21 Maret, dan tank terakhir akan tiba pada awal 2019.
Finlandia sendiri memborong 100 unit Leopard 2A6 itu pada tahun 2014, dan mulai dikirimkan pada tahun 2015. Nilai kontraknya mencapai hampir 200 juta Euro. Finlandia sendiri merupakan pengguna dari Leopard 2A4, sama seperti Indonesia.
Finlandia meningkatkan kemampuan korps lapis bajanya sebagai langkah jaga-jaga untuk menghadapi Rusia, karena negara itu meningkatkan aktivitas militernya secara kontinyu. Di masa lalu, Finlandia sudah tiga kali coba diserang dan diduduki Uni Soviet. (Aryo Nugroho)

Turki dan Pakistan Bahas Penjualan 30 Unit Helikopter Serang T129 ATAK

Helikopter Serang T129 ATAK
Helikopter Serang T129 ATAK 

Turki dan Pakistan menuju pembicaraan akhir penjualan 30 unit helikopter T129. Turki akan mengekspor heli berlabel Advanced Attack and Tactical Reconnaissance Helicopter (ATAK) itu kepada Pakistan.
Sumber bidang pertahanan di Ankara sebagaimana dikutip media Turki (22/3) mengatakan, delegasi Pakistan telah datang ke Turki untuk menguji heli ATAK dan mereka menyatakan cocok dengan performa heli ATAK.
Pada Oktober 2017 Perdana Menteri Pakistan Shahid Khaqan Abbasi mengunjungi Turki dan mencoba joy flight dengan T129. Abbasi menunjukkan ketertarikannya dan berkeinginan membeli heli itu untuk Angkatan Bersenjata Pakistan.
Tak kalah agresif pihak Turki pun jemput bola dengan mengirim tiga heli ATAK milik AD Turki ke Pakistan untuk ikut ambi bagian dalam parade Hari Nasional negeri itu di Islamabad (23/3).
Disebutkan dalam pemberitaan, Turki dan Pakistan segera menandatangani kontrak jual beli helikopter senilai 1,5 miliar dolar AS.
Meski demikian, masih ada dua hal yang masih “mengganjal” rencana tersebut. Pertama, Turki masih harus mendapatkan izin dari Amerika Serikat dan Inggris terkait mesin LHTEC T800 yang digunakan heli ATAK. Mesin itu dibuat oleh perusahaan kongsi Honeywell dan Rolls-Rocye. Kedua, Pakistan butuh kesediaan bank Turki untuk menalangi kredit pembelian ATAK.
T129 ATAK merupakan heli generasi baru. Heli berkapasitas dua tempat duduk tandem dan bermesin ganda ini didesain sebagai heli penyerang dan pengintai.
ATAK didesain oleh Turkish Aerospace Industries (TAI) dari basis heli combat-proven AgustaWestland A129CBT Mangusta dengan sejumlah pembaruan. Antara lain menyangkut avionik, sistem penglihatan dan persenjataan, rangka, dan rotor ekor. Saat ini heli ATAK telah mengantongi total 12.000 jam terbang
Sebanyak 91 T129 ATAK telah dipesan untuk Angkatan Bersenjata Turki. Sebagian di antaranya telah dioperasikan. Kemudian sembilan unit lainnya akan dikirimkan kepada Kementerian Dalam Negeri.
Heli ATAK Januari lalu disertakan dalam Operation Olive Branch di Suriah dan mendapatkan apresiasi atas kiprahnya tersebut. (Roni Sontani)

Mengenal SLT 2 Mammut, Heavy Duty Transporter Pengangkut MBT Leopard 2 AD Jerman

Add caption

Di Tanah Air, sebagai satuan pengguna tank tempur utama (MBT) Leopard A2, Yonkav 8 TNI AD memilih truk trailer Iveco Astra HD9-6648 buatan Italia sebagai sarana angkut penggeser tank seberat 55 ton tersebut. Transporter ini datang sejak tahun 2012.
Lalu bagaimana di negeri asalnya Jerman? Nah, sejak tahun 2013 AD Jerman (Bundeswehr) punya kendaraan transporter baru untuk mengendong tank tempur utamanya dengan nama SLT 2 yang dapat diartikan sebagai heavy duty transporter generasi 2 yang dijuluki Mammut (Mammoth).
SLT 2 didapuk menggantikan truk penghela MBT lama yakni SLT 50 Elefant (Elepanth) buatan 1976 dan SLT 56 Franziska buatan tahun 1989. Keduanya menggunakan kepala truk buatan Faun dan trailer dikerjakan oleh Kässbohrer di bawah lisensi Krupp.
Sesuai nama panggilan yang disandang yakni gajah purba raksasa, SLT 2 mampu mengangkut beban yang lebih berat lagi hingga 70 ton lebih, sedang Elefant hanya 50 ton dan Franziska 56 ton.
Traktor penghela menggunakan basis truk HX81 yang dikembangkan bersama oleh MAN dan Rheinmetall. Mammut mengakomodasi pengemudi dan tiga penumpang yang duduk dalam kabin lapis baja yang digarap oleh Krauss-Maffei Wegmann (KMW) yang beratnya sekitar 4.5 ton.
Kabin berzirah ini memberikan perlindungan tingkat tinggi untuk awak didalamnya. Tahan terhadap tumbukan pelor kaliber 7,62x51mm, lemparan granat, pecahan artileri dan mampu bertahan dari ledakkan ranjau darat sekuat 8 kg serta steril terhadap senjata nubika.
Sebagai senjata pertahanan diri dari sergapan musuh, diatap kabinnya bisa dipasangi stasiun senjata dikendalikan dari jauh (RCWS) yang dilengkapi senapan mesin berat 12,7mm atau pelontar granat otomatis AGL 40mm.
Dapur pacunya mengadopsi mesin turbo diesel D2868 buatan MAN berdaya 680 hp dikawinkan dengan transmisi otomatis 12 percepatan buatan ZF. Kecepatan maksimum hingga 90 km/jam pada jalan rata, jangkauannya hingga 800 km yang dilengkapi tangki bbm berkapasitas 800 liter.
Truk transporter berkonfigurasi 8×8 ini dilengkapai ban dengan central tyre inflation system, sedang trailernya dilengkapi 7 pasang roda yang lebih kecil. Berat total SLT 2 termasuk bawaannya adalah 130 ton, sedang panjang termasuk trailer hingga 24 meter.
Didapuk sebagai wahana transporter kelas berat, dibelakang kabin SLT 2 tersedia dua derek (winch) untuk memuat dan menurunkan muatan, kapasitas masing-masing derek 20 ton dengan kabel sepanjang 75 meter. Tersedia juga winch 8 ton di bumper depan untuk self-recovery bila terjebak dalam kubangan lumpur atau pasir.
Luas area trailer gajah baja raksasa ini 11.80 x 3.30 meter yang mampu menggendong berbagai alutsista matra darat AD Jerman seperti MBT Leopard 2A7, ranpur angkut personel (IFV) Marder dan Puma, tank penyapu ranjau Keiler, tank pionir (Armoured Engineer Vehicle) Kodiak dan sistem artileri swagerak (SPH) Panzerhaubitze 2000. (Rangga Baswara)
Spesifikasi SLT-2 Mammut :
  • Kru : 4 orang
  • Dimensi traktor : P 9,47 m / L 2,25 m / T 3,83 m
  • Panjang total : 24 m termasuk trailer
  • Luas area trailer : 11,80 x 3,30 m
  • Berat traktor : 26 ton
  • Berat trailer : 29 ton
  • Payload maks : 75 ton
  • Total massa : 130 ton
  • Konfigurasi : 8×8
  • Daya mesin : 860 hp
  • Kapasitas bbm : 800 liter
  • Kecepatan maks. : 90 km/jam
  • Jangkauan : 800 km

Sumber : angkasareview.com

Penampakan Resmi Pesawat Misterius X-44A Buatan Lockheed Martin

X-44A
X-44A 

Di dekade 1990-an Lockheed Martin pernah memperkenalkan konsep pesawat serang/bomber tanpa sirip ekor (tailless) untuk Angkatan Udara AS yang dinamai X-44 MANTA (Multi-Axis No-Tail Aircraft). Desain dikembangkan berbasis pesawat tempur F-22 Raptor, namun pada tahun 2000 dana proyek dihentikan dan program pun berhenti.
Lama menghilang ditelan waktu, tiba-tiba nama X-44 kembali mencuat. Bedanya, kali ini melekat pada pesawat tanpa awak yang ditampilkan secara statis di ajang Los Angeles Country Air Show tanggal 23-24 Maret 2018 di Lancaster, California. Acara kedirgantaraan ini sebagai bagian dari peringatan ulang tahun ke-75 dari divisi peracik pesawat ‘abu-abu’ Skunk Works, Lockheed Martin.
Tak ada data resmi yang dipubikasikan, namun seperti dilansir the drive, pesawat yang mengadopsi desain sayap terbang (flying wing) ini memiliki rentang sayap sekitar 9 meter. Tampilannya serupa dengan pesawat intai tanpa awak RQ-170 Sentinel dan P-175 Polecat yang juga dibuat Lockheed Martin.
Sayap X-44A bisa dilipat dan memiliki perut yang buncit untuk menampung berbagai muatan. Memiliki saluran masuk angin model segi tiga, begitu pula dengan saluran buangannya juga berbentuk segi tiga. Wahana ini ditenagai mesin jet kecil F112 buatan pabrik Williams, serupa yang digunakan oleh rudal jelajah AGM-129 dan pesawat eksperimental tailless McDonnell Douglas X-36.
Meski baru tampil tahun 2018, disebutkan X-44A telah menjalani terbang perdana pada tahun 2001. Program pengembangannya dinamai Black Manta. Tak jelas, penggunaan nama ‘X-44A Black Manta’ ini apakah sengaja digunakan untuk penyamaran keberdaannya. Karena sesungguhnya proyek ‘X-44 MANTA’ sendiri telah dihentikan sejak tahun 2.000.
Ada dugaan X-44A dulu dikembangkan sebagai drone serang sekali pakai seperti program yang pernah diprakarsai Angkatan Udara AS yakni Low Cost Attritable Strike Demonstration (LCASD). Dan bisa jadi saat ini Lockheed Martin menjadikan X-44A sebagai platform pengembangan pesawat tanker tanpa awak berbasis kapal induk (CBARS) Angkatan laut AS dalam program MQ-25 Stingray. (Rangga Baswara)

Strategi Perang TNI AU yang Bisa Digunakan untuk Pemberantasan Separatis TPNPB OPM di Papua

UAV Aerostar
UAV Aerostar  

Seperti diberitakan Vivanews (23/3), sejumlah faksi separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM) telah menantang TNI dan Polri untuk berperang. Dikatakan faksi karena saat ini OPM terpecah-pecah menjadi beberapa kelompok, ada yang sudah kembali ke Ibu Pertiwi dan ada pula yang masih ngotot melawan Republik.
Karena kelompok OPM yang menamakan dirinya TPNPB (Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat) sudah mengumumkan perang semesta di Papua, maka sewajarnya juga TNI dan Polri merespon dengan segala sumber daya dan alutsista yang dimiliki.
Hal pertama dan terutama yang perlu digeser segera adalah menggeser aset ISR (Intelligence, Surveillance, & Reconnaissance) TNI AU, dalam hal ini wahana tak berawak yaitu drone Aerostar ke Papua, ditambah pesawat si "Cocor Merah" Embraer 314 Super Tucano.
Kenapa Super Tucano? Karena aset inilah yang paling cocok disiapkan untuk misi kontra insurjensi. Sebagian Super Tucano TNI AU sudah dilengkapi dengan perangkat FLIR (Forward Looking Infra Red) Star Safire yang bisa mengindera pada kondisi cuaca buruk dan gelap malam.
UAV Aerostar dapat diterbangkan ke titik-titik yang dicurigai atau berdasarkan hasil pengamatan pasukan khusus TNI di garis depan terdeteksi adanya pergerakan separatis OPM, dan dengan suara senyap tentu akan lebih sukar diketahui. Pasukan di darat pun perlu dilengkapi dengan laser designator.
Sementara di lapisan atasnya, satu atau dua Super Tucano diperintahkan untuk loiter, terbang berpatroli dengan dimodali tiga tangki bahan bakar dan tabung roket 2,75mm sebanyak dua buah sehingga bisa patroli tiga sampai empat jam dalam lintasan yang melebar dibandingkan UAV agar tak terdeteksi dari bawah.
Begitu mendapat informasi sasaran dari bawah, Tucano yang dilengkapi sistem FLIR bisa mendeteksi sumber panas dengan lebih akurat akan berperan sebagai pemburu dan memverifikasi bahwa yang bergerak memang gerombolan separatis OPM.
Ketika sasaran dipastikan, maka satu Tucano akan menandai sasaran di bawah dengan laser spot tracker. Sorotan laser tersebut yang bisa dilihat dengan NVG yang dipakai pilot Super Tucano yang bertugas sebagai eksekutor tinggal menghujani dengan roket atau strafing dengan senapan mesin berat FN M3P yang terpasang di sayapnya. (Aryo Nugroho)

Kodam Tanjungpura : 2 Anggota TNI yang Ditangkap di Malaysia Sudah Dilepas

Kolonel Infanteri Tri Rana Subekti
Kolonel Infanteri Tri Rana Subekti  

Kepala Penerangan Komando Daerah Militer (Kodam) XII/Tanjungpura Kolonel Infanteri Tri Rana Subekti mengatakan dua prajurit Tentara Nasional Indonesia atau TNI yang ditangkap di wilayah Malaysia sudah dilepas.
"Jadi malam ini sudah bisa dilepas dan dikembalikan ke tanah air karena adanya upaya dari Konsulat Jenderal Republik Indonesia dan ILO (International Liaison Officer atau perwira penghubung internasional)," kata Tri Rana saat dihubungi, Senin, 26 Maret 2018.
Tri Rana menuturkan malam ini sedang dilakukan penjemputan oleh ILO dan Kosulat Jenderal RI. "Jarak dari lokasi ke pos sekitar empat sampai tujuh jam, jadi kemungkinan malam ini atau besok bergabung dengan pasukan," ujar Tri Rana.
Namun Tri belum dapat menjelaskan lebih detail mengenai alasan mengapa akhirnya pemerintah Malaysia melepas dua anggota TNI tersebut.
Sejak Jumat, 23 Maret 2018, dua anggota Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan Yonif 642/Kapuas diamankan oleh Polis Diraja Malaysia daerah Lundu di wilayah perbatasan Malaysia. Keduanya ditangkap lantaran tidak sadar telah memasuki wilayah Malaysia.
Dua anggota yang diamankan tersebut adalah Kopral Dua M. Rizal dan Prajurit Kepala Subur Arianto. Mereka ditangkap setelah bertugas selama tujuh bulan di pos perbatasan tersebut.
Menurut Tri Rana, dua prajurit tersebut melewati wilayah perbatasan karena saat melakukan pengendapan kondisinya gelap. Tri Rana juga mengatakan tidak ada barang yang diseludupkan oleh kedua TNI yang ditangkap.

Penjelasan Resmi Kapendam XII/Tpr Kolonel Inf Tri Rana Subekti Terkait Penahanan 2 Anggota TNI oleh PDRM Malaysia

(Satgas Pamtas) Batalyon Infanteri (Yonif) 642/Kapuas
(Satgas Pamtas) Batalyon Infanteri (Yonif) 642/Kapuas 

Terjadinya Penahanan dua Orang Anggota Pos Sei Saparan Satuan Setingkat Kompi (SSK) II Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Batalyon Infanteri (Yonif) 642/Kapuas oleh Polis Diraja Malaysia (PDRM) atau Ibu Pejabat Polis Daerah (IPD) Lundu Malaysia, di daerah Lundu, Serawak Malaysia, Jumat (23/3/2018).
Kepala Penerangan Kodam XII/TPR Kolonel Inf Tri Rana Subekti menerangkan kepada sejumlah media pada Sabtu, ( 24/3/2018) mengatakan ,Terjadinya Penahanan 2 Orang Anggota Pos Sei Saparan SSK II Satgas Pamtas Yonif 642/Kps oleh PDRM atau IPD Lundu Malaysia pada saat melakukan Pengendapan (Ambush) di wilayah Perbatasan RI-Malaysia Jalur Pelolosan Patok D. 699/11 atau Pintu Portal Kebun Sawit Malaysia (PT. Rimbunan Hijau).
Maka ada beberapa hal yang perlu di klarifikasi sebagai berikut :
Bahwa benar hari Rabu tanggal 21 Maret 2018 Danpos Sei Saparan SSK II Satgas Pamtas Yonif 642/Kps an. Sertu Abiyulsani mendapat perintah dari Dan SSK II Satgas Pamtas Yonif 642/Kps an. Kapten Inf. Suyitno untuk melaksanakan pengendapan di jalur pelolosan (jalan tikus) patok D. 699/11 mulai dari tanggal 22 s/d 24 Maret 2018.
Bahwa benar hari Kamis tanggal 22 Maret 2018 sekira pukul 22.30 WIB Danpos Sei Saparan an. Sertu Abiyulsani mengumpulkan seluruh anggotanya di pos penjagaan Satgas Pamtas Yonif 642/Kps untuk melaksanakan briefing dan pembagian tugas dalam rangka pengendapan di wilayah perbatasan. Adapun pembagian tugas oleh Danpos Sei Saparan bahwa Danpos bersama Pratu Eka Satria melaksanakan pengendapan di sektor jalur pelolosan (jalan tikus) simpang 4 jalan Divisi Kebun Sawit PT. Ledo Lestari Semunying dan Kopda M. Rizal bersama Praka Subur Arianto diperintahkan oleh Danpos Sei Saparan melaksanakan pengendapan di sektor jalur pelolosan (jalan tikus) patok D. 699/11 atau pintu portal kebun sawit Malaysia (PT. Rimbunan Hijau), sedangkan sisa anggota pos standby berada di Pos Sei Saparan dipimpin oleh Wadanpos
Bahwa benar hari Kamis tanggal 22 Maret 2018 sekira pukul 23.00 WIB Danpos Sei Saparan bersama 3 orang anggotanya berangkat dari pos menuju sektor pengendapan masing-masing yang sudah dibagi sektornya, dan sebelum berangkat Danpos Sei Saparan memerintahkan kepada seluruh anggotanya bila ada hal-hal menonjol agar segera laporan.
Bahwa benar hari Jumat tanggal 23 Maret 2018 sekira pukul 05.00 WIB Danpos Sei Saparan menghubungi Kopda M. Rizal yang berada di sektor jalur pelolosan (jalan tikus) patok D. 699/11 atau pintu portal kebun sawit Malaysia (PT. Rimbunan Hijau) via Telepon, namun HP yang bersangkutan tidak dapat dihubungi, kemudian Danpos Sei Saparan menghubungi Wadanpos an. Serda Ozy Karisma Putra yang standby berada di Pos via telephon apakah Kopda M. Rizal dan Praka Subur Arianto sudah kembali ke Pos, namun dijawab oleh Wadanpos bahwa Kopda M. Rizal dan Praka Subur Arianto belum kembali ke Pos sampai dengan sekarang.
Bahwa benar hari Jumat tanggal 23 Maret 2018 sekira pukul 05.15 WIB Danpos Sei Saparan bersama Pratu Eka Satria mengambil keputusan untuk berangkat menuju sektor jalur pelolosan (jalan tikus) patok D. 699/11 atau pintu portal kebun sawit Malaysia (PT. Rimbunan Hijau), akan tetapi setelah tiba di lokasi Kopda M. Rizal dan Praka Subur Arianto tidak berada ditempat.
Bahwa benar hari Jumat tanggal 23 Maret 2018 sekira pukul 05.40 WIB didekat portal tersebut Danpos Sei Saparan bertemu dengan karyawan kebun sawit Malaysia PT. Rimbunan Hijau an. Bapak Poiman, umur 37 Tahun, agama Islam, pekerjaan buruh kebun, alamat Barak PT. Rimbunan Hijau dan menanyakan kepada yang bersangkutan apakah ada melihat Askar TNI di sekitar perkebunan sawit PT. Rimbunan Hijau, kemudian dijawab oleh Bapak Poiman bahwa tadi ada melihat sekitar pukul 06.30 WITA (Waktu Malaysia) Askar TNI bertemu dengan PDRM.
Bahwa benar hari Jumat tanggal 23 Maret 2018 sekira pukul 07.00 WIB Danpos Sei Saparan melaporkan kejadian tersebut kepada Dan SSK II Satgas Pamtas Yonif 642/Kps an. Kapten Inf Suyitno bahwa 2 orang anggota Pos Sei Saparan an. Kopda M. Rizal dan Praka Subur Arianto belum kembali ke Pos dan tidak berada di lokasi pengendapan sektor jalur pelolosan (jalan tikus) patok D. 699/11 atau pintu portal kebun sawit Malaysia (PT. Rimbunan Hijau).
Bahwa benar hari Jumat tanggal 23 Maret 2018 sekira pukul 07.56 WIB Dansatgas Yonif 642/Kps an. Letkol Inf Faisal Amri, S.E menghubungi Dan SSK II via telephon bahwa Dansatgas mendapat informasi dari Danyon TDM RAMD 11 bahwa 2 orang anggota TNI ditahan PDRM dan posisinya di Kantor Polis Diraja Malaysia wilayah Lundu.
Dengan demikian bahwa benar adanya dua anggota Satgas Pamtas Yonif 642/Kps ditahan oleh Polis Diraja Malaysia saat melaksanakan pengendapan yang posisi atau titik pengendapan sudah masuk di wilayah Malaysia tanpa disadari oleh kedua anggota TNI tersebut. Saat bertemu dengan Polis Diraja Malaysia ke dua anggota Satgas Pamtas Yonif 642/Kps ditahan karena Polis Diraja Malaysia mengklaim kedua prajurit TNI tersebut sudah melanggar dan masuk wilayah Malaysia.
Langkah yang sudah dilaksanakan adalah melaporkan kejadian tersebut ke Komando Atas dan berkoordinasi dengan Konsulat Jenderal RI serta ILO RI di Kuching Serawak Malaysia untuk kelanjutan proses pemulangan kedua Prajurit TNI Satgas Pamtas Yonif 642/Kps.

Patroli dan Latihan Perang, China Kerahkan Su-35 dan Kapal Induk Liaoning ke LCS

CNS Liaoning
CNS Liaoning  

Untuk pertama kali di tahun 2018 China mengerahkan kekuatan Angkatan Udara (PLAAF) dan Angkatan Laut (PLAN) untuk melaksanakan misi patroli dan latihan perang di kawasan Laut China Selatan (LCS).
PLAAF menyebut, pengerahan Su-35, Su-30, dan juga pembom H-6K adalah untuk melaksanakan misi patroli tempur sekaligus high-sea training di kawasan Pasifik Barat dan kemudian dilanjutkan ke kawasan LCS.
PLAAF
Sementara itu PLAN, Minggu (25/3), menyatakan akan melaksanakan latihan tempur di Laut China Selatan dalam beberapa hari ke depan. Kegiatan dilaksanakan sebagai bentuk latihan rutin dan tidak ditujukan secara spesifik terhadap negara atau target tertentu.
Pengumuman rencana latihan dikeluarkan dua hari setelah pihak otoritas pertahanan Taiwan mendeteksi adanya kapal induk AL China, CNS Liaoning dan CNS Hulun Lake berlayar melintasi Selat Taiwan.
Seorang pengamat AL AS kepada China Daily mengatakan, PLAN tampaknya ingin menguji kemampuan tempur atau kapabilitas dari gugus kapal induk Liaoning secara nyata di Laut China Selatan.
PLAN
Sebelumnya, pada awal bulan ini dua kesatuan Korps Marinir PLA mengerahkan 10.000 personel pasukannya guna melaksanakan latihan tempur melintasi jarak 2.000 km. Latihan tersebut merupakan yang terbesar dikerahkan Korps Marinir China.
Untuk latihan perang di LCS, China tidak menyebutkan secara detail kapan dan berapa lama Liaoning akan melaut di kawasan yang potensial menimbulkan konflik intensitas tinggi itu. (Ron)

Iptek : Hindari Tabrakan, NASA Usulkan Mengecat Asteroid Bennu yang Mengancam Bumi

Ilustrasi 

Seorang ilmuwan senior NASA mengatakan badan antariksa itu dapat menggunakan cat untuk mempertahankan planet kita dari asteroid berbahaya yang mungkin menghapus kehidupan di Bumi, sebagaimana dilaporkan Daily Mail akhir pekan ini.
Baru-baru ini terungkap bahwa batu luar angkasa berbahaya 101955 Bennu, yang lebih besar dari Empire State Building, bisa bertabrakan dengan planet kita pada tahun 2135.
Dr Michael Moreau, seorang ilmuwan untuk misi OSIRIS-REx NASA, yang mengirimkan penyelidik untuk mempelajari batu itu, mengatakan sebuah pesawat ruang angkasa dapat dikirim untuk mengecat Bennu untuk mengalihkannya.
Mengubah warna bagian dari asteroid itu, diklaimnya, akan memaparkannya ke radiasi matahari, yang bisa memanaskan objek itu dan cukup untuk mengubah orbitnya sehingga luput menabrak planet kita.
Berbicara kepada Gizmodo, Dr Moreau mengatakan: "Bahkan hanya mengecat permukaan dengan warna yang berbeda pada sebagian asteroid akan mengubah sifat termal dan mengubah orbitnya."
Bennu adalah obyek berpotensi bahaya yang ditemukan pada tahun 1999 yang berukuran diameter 492 meter (1.614 kaki), menurut perkiraan Nasa.
Ada peluang kecil, sekitar 1 dalam 2,700, bahwa Bennu akan menyerang Bumi pada 2135 berdasarkan jalur orbitnya saat ini, dan beberapa ilmuwan telah menyarankan untuk menghantamnya dengan senjata nuklir untuk menghindari tabrakan yang menghancurkan.
Menurut Dr Moreau, misi untuk melukis asteroid menghadirkan solusi yang jauh lebih sederhana jika Bennu menimbulkan ancaman bagi planet kita dalam 120 tahun mendatang.
Matahari secara konstan melelehkan benda-benda di tata surya dengan partikel-partikel kecil dari radiasi matahari. Karena Bennu lebih kecil dibandingkan dengan planet atau bintang, dengan berat sekitar 13 kali massa Piramida Besar Giza, partikel-partikel ini dapat secara bertahap mengubah orbitnya.
Jika para ilmuwan bisa membuat bagian dari batu ini lebih rentan terhadap radiasi matahari dengan mengecatnya menjadi warna gelap, hal itu diperkirakan akan mengubah jalurnya untuk menghindari hantaman ke Bumi.
Para ilmuwan harus terlebih dahulu mempelajari komposisinya dengan lebih baik dan mengorbit mengelilingi matahari untuk menentukan tindakan terbaik.
Pesawat ruang angkasa OSIRIS-REx milik NASA akan mempelajari Bennu lebih lanjut ketika mencapai asteroid itu pada bulan Desember, dengan penyelidik itu dijadwalkan kembali ke Bumi dengan berbagai sampel pada tahun 2023.
Alterantif Lain Bom Nuklir Diperlukan untuk Menghancurkan Asteroid
Ilmuwan kini memiliki gagasan yang lebih baik tentang seberapa kuat nuklir yang dibutuhkan untuk menghadang asteroid yang masuk ke Bumi, sebagaimana dilaporkan Space, 14 Maret 2018.
Periset di Rusia telah memodelkan penghancuran batuan antariksa berbahaya di dalam lab, menggunakan replika asteroid kecil dan ledakan laser untuk meniru efek hulu ledak nuklir.
Tim tersebut menetapkan, antara lain, bahwa butuh bom nuklir 3 megaton untuk melenyapkan asteroid berukuran 650 kaki atau 200 meter. Dan kekuatan destruktif nuklir akan meningkat dengan meledak di dalam kawah atau rongga di dalam batuan antariksa.
Untuk perspektif, bom atom yang diturunkan Amerika Serikat di kota Hiroshima dan Nagasaki Jepang selama Perang Dunia II memiliki hasil eksplosif sekitar 15 kiloton dan 20 kiloton. Satu megaton setara dengan 1.000 kiloton.
Senjata nuklir paling kuat yang pernah dibangun, bom hidrogen "Tsar Bomba" dari Uni Soviet, menghasilkan sekitar 50 megaton.
Untuk studi baru ini, para periset memproduksi asteroid buatan kecil, mendasarkan struktur dan komposisinya pada sebongkah batuan antariksa yang meledak di kota Chelyabinsk Rusia pada bulan Februari 2013. Meteor yang digunakan tim tersebut ditemukan dari dasar Danau Chebarkul Rusia.
Tim peneliti kemudian menempatkan asteroid buatan mereka, yang memiliki berbagai bentuk, di ruang vakum dan menyerangnya dengan pulsa laser singkat. Para ilmuwan menemukan bahwa ledakan laser 500 joule per gram diperlukan untuk memecah batuan model jadi 0,3 inci hingga 0,4 inci (8 sampai 10 milimeter), jika ledakan itu diarahkan ke rongga di "asteroid”. Tanpa rongga, energi yang diperlukan adalah sekitar 650 joule per gram.
Para peneliti membuat skala hasil ini untuk sampai pada kesimpulan mereka mengenai asteroid berukuran 650 kaki.
Studi baru ini yang diterbitkan dalam Journal of Experimental and Teoretical Physics edisi Rusia akan segera muncul dalam jurnal versi bahasa Inggris.
Di masa depan, para peneliti berencana untuk memperluas eksperimen mereka ke batuan antariksa logam, dan untuk menyelidiki secara lebih mendalam bagaimana bentuk asteroid dan rongganya dapat mempengaruhi usaha nuklir itu.
"Dengan mengakumulasi koefisien dan dependensi untuk asteroid dari jenis yang berbeda, kami memungkinkan pemodelan cepat ledakan itu sehingga kriteria penghancuran dapat dihitung dengan segera,” ujar salah satu penulis studi Vladimir Yufa, seorang profesor di departemen Fisika Terapan dan departemen Sistem Laser dan Bahan Terstruktur di Institut Fisika dan Teknologi Moskow.
"Kami juga melihat kemungkinan untuk membelokkan sebuah asteroid tanpa menghancurkannya dan berharap untuk keterlibatan internasional," tambah Yufa.
Tapi defleksi mungkin tidak layak dilakukan dalam beberapa skenario, menurut para astronom. Jika asteroid yang sangat besar ditemukan beberapa minggu sebelum dampak potensial, misalnya, menghancurkannya dengan nuklir mungkin merupakan satu-satunya pilihan manusia.

Radar Acak