Kebangkitan Kekuatan Bawah Laut Indonesia

Irvan Dwi P 23:00 Add Comment
Kapal Selam TNI AL
Kapal Selam TNI AL 

Kita sering dengar lelucon bahwa Indonesia sebenarnya sudah mampu membuat "kapal selam" sejak dahulu, kapal selam itu bahkan banyak dibuat masyarakat Palembang, Sumatera Selatan.
Kapal selam yang dimaksud tentulah bukan dalam artian sebenarnya, melainkan jenis kuliner khas kota Palembang yang telah menjadi kebanggaan Nusantara karena rasanya lezat dan nikmat. Itulah "Pempek Kapal Selam."
Kini, lelucon itu tidak lama lagi akan mulai sirna karena putra-putri Indonesia sebentar lagi benar-benar akan mampu membuat kapal selam yang bisa memperkuat armada TNI Angkatan Laut dalam menjaga keamanan di seluruh wilayah perairan di negeri kepulauan ini dari Sabang hingga Merauke.
Kapal selam KRI Ardadedali-404 menjadi bukti betapa anak negeri ini mampu mewujudkan impian besarnya untuk bisa memproduksi kapal, meskipun masih dibantu dari para teknisi dari Daewoo Shipbuilding Marine and Engineering (DSME), Okpo, Korea Selatan.
Itulah kapal kedua dari tiga kapal pesanan Indonesia dari Korea Selatan yang dibuat dengan skema ToT (transfer of technology) atau alih teknologi.
Kontrak kerja sama pembuatan kapal selam itu ditandatangani oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan RI Mayjen TNI Ediwan Prabowo sedangkan pihak DSME diwakili oleh President & CEO DSME Sang-Tae Nam pada Desember 2011 dengan nilai kontrak triliunan rupiah.
Pembuatan kapal selam itu dimulai sejak Januari 2013
Perjalanan panjang pembuatan kapal selam U-209/1300 DSME ini meliputi kegiatan steel cutting KRI Nagapasa-403 pada 3 Desember 2013, keel laying pada 9 April 2015, serta peluncuran pada 24 Maret 2016 yang kemudian dilanjutkan dengan rangkaian kegiatan uji coba laut (sea trial) serta pelatihan awak KRI Nagapasa-403 selama satu tahun.
Dalam pembuatan kapal selam pesanan pertama dilakukan oleh para teknisi Korsel, kapal selam kedua dilakukan bersama dengan para teknisi Indonesia yang telah dilatih oleh Korsel, sedangkan kapal ketiga dibuat oleh para teknisi Indonesia dengan supervisi dari Korsel.
Tahun lalu, kapal selam pertama, hasil kerja sama RI dan Korsel, yang diberi nama KRI Nagapasa-403 dan dikomandani oleh Letkol Laut (P) Harry Setyawan, telah tiba di Pangkalan Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) Surabaya, pada 28 Agustus 2017 setelah berlayar selama 16 hari dari galangan kapal DSME.
Sementara kapal selam kedua KRI Ardadedali-404 berangkat dari Korsel pada 25 April 2018, dan tiba di Dermaga Kapal Selam Koarmada II, Ujung, Surabaya, pada 17 Mei 2018.
Sementara itu, kapal selam ketiga, KRI Alugoro-405, saat ini sedang dibuat di galangan kapal PT. PAL di Surabaya setelah putra-putri Indonesia menerima ToT dari Korea Selatan dalam kerja sama kedua negara yang bersahabat. Kapal selam ketiga ini diharapkan dapat selesai dan diserahkan pada awal 2019.
Fokus pada pembuatan kapal selam sendiri
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menegaskan setelah kapal selam KRI Ardadedali-404 diserahterimakan beberapa waktu lalu, fokus pemerintah adalah pada pembuatan kapal selam buatan sendiri.
Praktik membuat kapal selam sendiri melalui kerja sama dalam pemesanan tiga kapal selam dari Korea Selatan itu akan terus menerus dipelajari dan disempurnakan.
Untuk pembuatan kapal selam ketiga dari kerjasama dengan Korsel ini, pihak Korsel telah mengirim bagian-bagian kapal selam dan penyambungan bagian-bagian kapal tersebut dilakukan di PT PAL oleh para teknisi Indonesia. Penyambungan kapal selam yang akan dinamai KRI Alugoro-405 itu sudah berjalan dan diperkirakan akan selesai dalam beberapa bulan ke depan.
Untuk selanjutnya, kapal selam berikutnya bisa dibuat sendiri.
Ryamizard memastikan bahwa bangsa Indonesia memiliki banyak orang pintar yang memiliki kemampuan untuk membuat kapal selam.
Setelah kapal selam ketiga hasil kerja sama dengan Korsel selesai, Menhan menuturkan diperlukan beberapa kerja sama lagi hingga akhirnya dapat benar-benar membuat kapal selam sendiri.
"Itu arti makna yang awal dari kerja sama ini," ujar Ryamizard Ryacudu.
Pada era Presiden Soekarno, Indonesia pernah membeli 12 kapal selam kelas Whiskey buatan Uni Soviet. Kapal-kapal selam itu sudah tak beroperasi.
Selain itu, juga ada dua kapal selam KRI Cakra-401 dan KRI Nanggala-402 buatan Jerman yang mulai beroperasi pada 1981. Kedua kapal inilah yang selama ini menjaga NKRI dari bawah laut.
Dengan adanya tiga kapal selam baru dari hasil kerja sama dengan Korsel itu, paling tidak akan ada lima kapal selam. Jumlah itu akan terus bertambah sehingga minimal ke depan Indonesia bisa memiliki 12 kapal selam sebagaimana yang pernah dimiliki sejak tahun 1960-an.
Ryamizard memastikan bahwa bangsa ini akan terus belajar hingga bisa membuat kapal selam yang canggih.
Negara maritim harus serius membangun kekuatan maritim
Bagi seorang peneliti dari "The Habibie Center", Muhammad Arif, negara maritim harus memiliki kapal selam untuk menunjukkan keseriusan dalam mengamankan wilayah laut.
Ia mencontohkan negara lain seperti Vietnam juga sedang gencar dalam pengadaan kapal selam karena hal tersebut menjadi satu-satunya cara untuk menghadapi kemungkinan ancaman China dalam sengketa laut di wilayah perairan Laut China Selatan.
Hukum internasional pun mengharuskan suatu negara menjaga wilayah lautnya. Selain itu, apabila ada sengketa wilayah, kapal selam menjadi kebutuhan besar untuk operasional.
Perkembangan teknologi kapal selam relatif tidak secepat kapal permukaan nuklir atau diesel, dan yang terpenting dari kapal selam adalah daya tahan yang lama saat menyelam tanpa harus kembali ke pangkalan.
Pengadaan kapal perang, termasuk kapal selam, menjadi prioritas dalam kekuatan pokok minimum (minimum essential force) 2015-2019 TNI AL.
Kapal selam baru adalah untuk memenuhi kebutuhan alat utama sistem senjata (alutsista), apalagi TNI AL juga memiliki visi untuk menjadi Angkatan Laut Kelas Dunia (World Class Navy).
Indonesia juga ingin mewujudkan sebagai sebuah negara poros maritim dunia.
Hal itu membuat kehadiran TNI AL sangat strategis, tak hanya di pangkalan atau di permukaan lautan, melainkan juga di bawah laut.
Satuan Kapal Selam TNI AL yang telah ada sejak 14 September 1959, ditandai dengan berdirinya Divisi Kapal Selam dalam Komando Armada TNI AL, juga menjadi garda utama dalam turut menjaga keamanan dan keutuhan wilayah NKRI.
Keberadaan kapal selam memang memiliki nilai yang strategis dan mampu memberikan efek deteren (daya gentar). Kapal selam dinilai efektif serta mampu memukul dan menghancurkan musuh. Terlebih kapal selam mampu melakukan penetrasi jauh ke daerah perbatasan lawan. (Efran Syah)

AS Ancam India jika Beli Sistem Pertahanan Udara S-400 Triumf Rusia, Mengapa?

Irvan Dwi P 21:00 1 Comment
Sistem Pertahanan Udara S-400 Triumf
Sistem Pertahanan Udara S-400 Triumf  

Amerika Serikat memperingatkan India bahwa pengadaan sistem pertahanan udara canggih S-400 Triumf Rusia dapat membahayakan kerjasama pertahanan dan teknologi antara Amerika Serikat dan India, serta interoperabilitas (kerja sama sistem operasi) antara angkatan bersenjata mereka.
"Ada banyak kekhawatiran dalam administrasi dan kongres Amerika Serikat dengan S-400," kata Ketua Komite Pelayanan Bersenjata, Mac Thornberry, seperti dilansir dari Russia Today, 30 Mei 2018.
Dia mendesak India untuk tidak terburu-buru dan mempertimbangkan secara seksama semua konsekuensi dari pembelian senjata canggih Rusia.
"Ada kekhawatiran bahwa negara manapun yang mengakuisisi sistem akan menyulitkan kemampuan interoperabilitas (dengan pasukan AS)."
"Saya khawatir akuisisi teknologi ini akan membatasi Amerika Serikat membawa teknologi ke negara mana pun," kata Thornberry.
Keputusan untuk membeli S-400 yang akan diumumkan India pada Oktober, bisa membahayakan penjualan drone Predator yang dikembangkan Amerika Serikat, meskipun pemerintahan Donald Trump baru-baru ini mengumumkan rencana untuk mengurangi penjualan senjata ke negara-negara asing, termasuk India. Perubahan ini dirancang untuk memungkinkan pemasok senjata Amerika Serikat untuk menjual senjata kepada sekutu secara langsung, dan melewati proses birokrasi dari departemen terkait, Pentagon, dan Kongres.
"Ini adalah salah satu bidang di mana akuisisi sistem anti-pesawat Rusia akan membuat akuisisi teknologi itu agak lebih sulit," ujar Thornberry
Keinginan India untuk memproduksi jet tempur F-16 dalam negeri juga dapat dipertaruhkan, sebagian karena Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA), yang berisi pemerintahan Amerika Serikat berhak menghukum entitas yang terlibat dalam transaksi signifikan dengan sektor pertahanan Rusia .
"India ingin memiliki lebih banyak berbagi teknologi dan produksi seperti F-16. Masalahnya adalah ketika Anda berbicara tentang teknologi dan kemudian ada S-400, kami memiliki beberapa kekhawatiran yang kami bawa ke berbagai tingkat pemerintahan Anda," kata anggota Kongres Texas, Henry Cuellar.
India bukan satu-satunya negara yang ditekan oleh Amerika Serikat karena berniat membeli S-400 Rusia. Anggota parlemen Amerika Serikat juga mengancam menjatuhkan sanksi terhadap Turki dan bahkan berusaha melarang pengiriman F-35 jika Ankara melanjutkan dengan kesepakatan dengan Rusia.

Ini Daftar Renstra IV TNI AU (2020-2024), dari Skadron Baru hingga Satuan Rudal Jarak Jauh

Irvan Dwi P 19:00 Add Comment
Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU)
Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU)  

Empat Pangkalan TNI AU (Lanud) Tipe C akan dibentuk oleh TNI Angkatan Udara di Batam, Saumlaki/Selaru, Wamena, dan Sorong. Hal ini telah dituangkan dalam Rencana Strategis (Renstra) IV TNI AU periode 2020-2024.
Selain membangun empat lanud baru Tipe C, TNI AU juga akan membangun enam Satuan Radar (Satrad), dua Resimen Hanud (Reshanud), dan lima Detasemen Hanud (Denhanud). Ada pula pembentukan Detasemen/Satuan Peluru Kendali (Denrudal/Satrudal) Jarak Sedang dan Jarak Jauh.
Kemudian pembentukan Depo Pemeliharaan (Depohar) 80 dengan tiga Satuan Pemeliharaannya (Sathar 81, Sathar 82, Sathar 83) untuk pemeliharaan tingkat berat pesawat tempur.
Lalu pembentukan Depohar 90 dengan tiga Satharnya yaitu Sathar 91, Sathar 92, dan Sathar 93 untuk pemeliharaan tingkat berat helikopter.
Ada juga pembentukan Sathar baru sebagai pelengkap dari Sathar yang sudah ada. Yaitu Sathar 24 (Depohar 20), Sathar 34 (Depohar 30), Sathar 43 (Depohar 40), Sathar 54 (Depohar 50), Sathar 55 (Depohar 50), dan Sathar 65 (Dephar 60).
Selanjutnya, di dua Lanud Tipe A, masing-masing di Lanud Supadio, Pontianak dan Lanud Suryadarma, Subang TNI AU juga akan membentuk Skadron Teknik baru.
Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna memaparkan hal itu saat memberikan kuliah umum kepada para mahasiswa dan dosen Pascasarjana (S2) Universitas Pertahanan (Unhan) di Sentul, Bogor, Senin (28/5/2018).
Dikatakan KSAU, sesuai amanah Undang-undang TNI No 34 Tahun 2004 Pasal 10, TNI Angkatan Udara melaksanakan tugas TNI matra udara di bidang pertahanan, menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah udara yurisdiksi nasional sesuai dengan ketentuan hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi. Selain itu TNI AU juga melaksanakan tugas TNI dalam pemberdayaan wilayah pertahanan udara.
Perihal sistem pertahanan maritim, lanjut KSAU, dibutuhkan Angkatan Laut yang kuat dan Angkatan Udara yang kapabel. Sehingga, penguasaan ruang udara dapat menjamin terwujudnya supremasi kekuatan maritim.
“Terwujudnya kebijakan pembangunan TNI AU yang andal dan disegani serta berkelas, tidak terlepas dari kebijakan Tripilar, yaitu kesiapan operasional, profesionalisme, dan kesejahteraan prajurit. Sedangkan empat program pembangunan kekuatan mancakup dukungan kesiapan matra udara, modernisasi alutsista dan non-alutsista, peningkatan profesionalisme personel matra udara, serta penyelenggaraan manajemen dan operasi matra udara,” papar Yuyu Sutisna.
Kohanudnas digabung dengan Koopsau
Sebelumnya, KSAU menjelaskan bahwa pada Renstra III (2015-2019), TNI AU telah dan akan melakukan validasi organisasi. Yaitu penggabungan Kohanudnas dan Koopsau menjadi Komando Operasi Udara Nasional (Koopsudnas), dan pembentukan Koopsud III sebagai kelanjutan dari rencana pembentukan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan).
Kemudian restrukturisasi Kodikau menjadi Kodiklatau dan Dispamsanau menjadi Pusintelau. Ada juga pembentukan Spotdirgaau dan Disopslatau serta pembentukan skadron udara baru untuk pesawat tempur, pesawat angkut, pesawat intai strategis, heli, dan pesawat terbang tanpa awak (PTTA).
Dua skadron pesawat baru di Makassar
Sementara itu, terkait skadron baru yang akan dibangun, KSAU menyatakan bahwa tahun depan Skadron Udara 9 (helikopter) dan Skadron Udara 33 (pesawat angkut) akan dibangun di Lanud Sultan Hasanuddin (HND), Makassar.
Hal tersebut dikatakan KSAU dalam kunjungannya ke Lanud HND hari ini, Rabu (30/5/2018).
“Rencana ke depan, di tahun 2019, akan dibentuk Skadron Udara 33 pesawat angkut dan Skadron Udara 9 helikopter,” ujar KSAU dalam pengarahannya kepada para perwira Lanud HND.
Hadir pada acara tersebut, Irjenau, para Asisten KSAU, Pangkohanudnas, Dankorpaskhas, Dankoharmatau, Pangkoopsau II, Waaspers KSAU, para Kadis jajaran Mabesau, dan Komandan Lanud HND Marsma TNI Bowo Budiarto.
KSAU menjelaskan, penempatan dua skadron baru di Lanud HND sebagai upaya TNI AU mendukung dan mewujudkan interoperabilitas antar satuan-satuan TNI di wilayah Sulawesi. Untuk diketahui, di Makassar saja terdapat beberapa satuan TNI lainnya seperti Divisi III Kostrad dan Lantamal VI.
Menyikapi rencana tersebut, KSAU minta agar Lanud HND melakukan persiapan, termasuk kesiapan sarana prasarana dan para awak pesawat.
Yang terkait dengan kesiapan pesawat, KSAU berharap ada sinergi yang baik antara kebutuhan kesiapan pesawat untuk melaksanakan misi dengan pelaksanaan upgrade atau perbaikan pesawat.
“Lakukan kerja sama yang baik dengan PTDI dalam proses tersebut, sehingga kita dapat mendukung dan membesarkan Industri Pertahanan Nasional sesuai kebijakan pemerintah,” tekan Yuyu.
Kepada para penerbang, KSAU meminta untuk memanfaatkan alokasi jam terbang yang ada secara efektif dan efisien guna meningkatkan kemampuan dengan tetap berpatokan pada keselamatan (safety). (Roni Sontani)

Turki Siap Lirik Produk Lain Jika AS Tolak Jual F-35

Irvan Dwi P 18:00 Add Comment
Sukhoi Su-57
Sukhoi Su-57  

Turki akan melirik produk dari negara lain jika Amerika Serikat (AS) tidak mengizinkannya membeli jet F-35 Lockheed Martin. Hal itu dikatakan oleh Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu.
Komite Senat AS pekan lalu mengeluarkan versi dari RUU kebijakan pertahanan senilai USD716 miliar, termasuk tindakan untuk mencegah Turki membeli jet-jet tersebut. Ini semakin memperkeruh hubungan yang sudah tegang antara sekutu NATO tersebut.
Berbicara kepada wartawan dalam penerbangan kembali dari kunjungannya ke Jerman, Cavusoglu mengatakan belum ada tekanan dari pemerintah AS untuk membatalkan kesepakatan untuk pembelian jet F-35.
"Ini bukanlah kesepakatan di mana Washington bisa membatalkan sesuai keinginannya," kata Cavusoglu seperti dikutip Reuters dari NTV, Rabu (30/5/2018).
Hubungan antara Ankara dan Washington telah tegang dalam beberapa bulan terakhir karena sejumlah masalah, termasuk keputusan Presiden Donald Trump untuk memindahkan Kedutaan Besar AS di Israel ke Yerusalem dan menentang kebijakan AS di Suriah.
Turki telah melakukan serangan ke wilayah Afrin Suriah utara melawan YPG Kurdi Suriah sejak Januari. Turki juga marah dengan dukungan Washington kepada YPG, yang dianggap sebagai organisasi teroris terkait dengan militan Kurdi yang dilarang di Turki.
Presiden Tayyip Erdogan mengancam akan mendorong operasi Turki terhadap YPG lebih jauh ke timur ke Manbij, di mana pasukan AS ditempatkan, mempertaruhkan konfrontasi antara sekutu.
"Namun, Ankara dan Washington telah mencapai pemahaman atas Manbij di mana militan akan meninggalkan daerah itu," kata Cavusoglu, menambahkan jadwal untuk rencana itu dapat diputuskan dalam pembicaraannya dengan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pekan depan.
Pekan lalu, kelompok kerja Turki dan AS yang bertemu di Ankara, mengatakan mereka telah menggariskan rancangan kerja sama untuk memastikan keamanan dan stabilitas di Manbij.
"Jika perjanjian itu selesai, model itu bisa diterapkan ke daerah lain di Suriah utara,"ucap Cavusoglu.
Ia juga mengatakan duta besar Turki untuk Washington, yang dipanggil untuk konsultasi setelah pasukan Israel membunuh demonstran Palestina di Gaza awal bulan ini, dapat kembali ke Washington. (Berlianto)

USAF Mulai Incar Remaja Penggila Game untuk Jadi Penerbang

Irvan Dwi P 17:00 Add Comment
USAF Mulai Incar Remaja Penggila Game
USAF Mulai Incar Remaja Penggila Game 

Angkatan Udara AS (USAF) membuat program unik dengan mengundang anak-anak memainkan game terkini untuk membantu mereka menemukan calon penerbang masa depan.
“Strateginya adalah mengambil keuntungan dari sesuatu yang sudah ditemukan, yaitu internet. Kami memanfaatkan penggunaan big data,” kata Letnan Jenderal Steven Kwast, kepala Komando Pendidikan dan Pelatihan Udara USAF.
Satuan ini telah mengumpulkan data untuk mengembangkan game online untuk anak-anak sekolah menengah. Remaja penggila game akan bermain secara anonim dan diidentifikasi melalui alamat IP. Program ini akan mengumpulkan data tanpa melanggar privasi mereka.
“Jika saya menemukan anak berusia 15 tahun yang brilian dalam permainan tersebut, saya mungkin akan mengirim pesan pribadi ke alamat IP itu,” ujarnya.
Ia akan mendorong pemain tersebut untuk mengatakan kepada ibu dan ayah mereka bahwa mereka istimewa.
“Saya akan menawarkan bonus penandatanganan sebesar 100.000 dolar AS dan akan mengirim Anda ke Harvard selama empat tahun secara gratis,” ujar Kwast.
Dengan memberi anak-anak beberapa skenario untuk dikerjakan, USAF dapat mengukur pemikiran kritis, kreatif, konseptual, konstruktif, kontekstual, dan kolaboratif dari para pemain.
“Permainan ini memberi saya wawasan mengenai mereka mereka, dari keterampilan, pengetahuan, atribut, dan karakteristik. Dan kami tidak perlu tahu nama mereka,” tegas Kwast.
Program seleksi yang unik ini tidak cuma berlaku bagi penerbang. “Saya juga bisa mendapatkan teknisi dan mendapatkan setiap orang yang melakukan pekerjaan di Angkatan Udara,” tambahnya.
Data untuk mengembangkan game tersebut didapat dari program pelatihan penerbang baru yang telah memanfaatkan perkembangan teknologi yang ada. Program pelatihan penerbang tersebut telah terbukti efektif dalam memangkas waktu dan biaya pelatihan. (Ian)

Lockheed Martin : Jet Tempur F-35 AS Sejatinya Representasi dari Komputer Terbang

Irvan Dwi P 16:00 Add Comment
Jet Tempur F-35
Jet Tempur F-35  

Lockheed Martin, produsen jet tempur siluman F-35 menyatakan pesawat itu merupakan salah satu sistem persenjataan Amerika Serikat (AS) yang teruji dunia maya. Pesawat itu bahkan digambarkan sebagai representasi dari komputer terbang.
Menurut kontraktor pertahanan Amerika tersebut, ada hampir 9 juta baris kode perangkat lunak yang terkandung di jet tempur F-35. Penjelasan bahwa jet tempur siluman kebanggaan AS itu sebagai komputer terbang dijelaskan produsennya kepada Britain's Lightning Force.
Inggris sepakat membeli 48 unit pesawat itu pada 2025. Namun, juga telah berjanji akan membeli total 138 unit.
"Itu salah satu sistem persenjataan teruji di dunia maya yang ada di inventaris Departemen Pertahanan AS," kata Steve Over, direktur pengembangan bisnis internasional F-35 di Lockheed Martin, kepada Press Association, yang dilansir Rabu (30/5/2018).
"Sepengetahuan kami, kami telah lulus setiap uji coba siber yang telah diterapkan terhadap F-35, tetapi itu bukan area di mana setiap dari kami, AS, Lockheed atau pelanggan kami dapat puas," ujarnya.
"Ini adalah area di mana Anda harus tetap waspada, dan kami harus tetap berkomitmen untuk melanjutkan evolusi semua sistem IT di pesawat sehingga kami tetap berada di depan ancaman siber yang sangat nyata dan sangat eksistensial," imbuh dia.
Ditanya apakah serangan siber dapat dilakukan atau dilakukan dari jet F-35, dia berhenti memberikan jawaban. "Saya tahu tidak ada yang bisa kita bicarakan," kata Over.
Inggris saat ini memiliki 15 uni F-35B yang berbasis di AS di mana mereka digunakan untuk uji coba dan pelatihan. (Muhaimin)

F-5ST Super Tigris, Harimau Tua AU Thailand yang Mengaum Kembali dengan Darah Muda

Irvan Dwi P 14:49 Add Comment
F-5ST Super Tigris
F-5ST Super Tigris 

Terlepas dari ketersediaan anggaran, sepertinya Angkatan Udara Kerajaan Thailand (RTAF) sangat menyayangi ‘Harimau’ tuanya, yaitu pesawat F-5E/F buatan Northrop yang didatangkan sejak tahun 1978. Hingga saat ini pesawat tersebut masih dipertahankan dan malah terus ditingkatkan kemampuannya mengikuti perkembangan teknologi/zaman.
Armada tempur gaek ini telah di-upgrade dalam empat gelombang. Pertama pada tahun 1988, sejumlah jet F-5E/F dilengkapi sistem Head-Up Display (HUD) dan Weapon Aiming Computer (WAC) yang dipasok oleh GEC Marconi (kini BAE Systems). Pesawat mendapatkan juga sistem decoy AN/ALE-40 dan sistem deteksi peringatan AN/ALR-46 Radar Warning Receiver (RWR).
Hasil upgrade gelombang pertama memungkinkan F-5E/F bisa meluncurkan rudal udara ke udara Python-3 buatan Rafael, Israel dan juga mendapatkan ‘cakar’ baru baru berupa tabung senjata GPU-5 dengan kanon tunggal kaliber 30 mm.
Upgrade gelombang ke-2 dilaksanakan tahun 2002 yang memanfaatkan jasa perusahaan asal Israel, Elbit Systems dengan mengintegrasikan perangkat Multi-Function Display (MFD), Helmet Mounted Display (HMD), Display And Sight Helmet (DASH) weapon sights, dan tongkat kendali Hands On Throttle-And-Stick (HOTAS).
Pesawat tempur yang di-upgrade mendapatkan julukan baru sebagai F-5T Tigris. Versi ini bisa meluncurkan rudal udara ke udara yang lebih sakti yaitu Python-4, namun dalam upgrade gelombang kedua ini radar bawaan AN/APQ-159 tak jadi diganti dengan AN/APG-69 seperti yang direncanakan semula.
Selanjutnya upgrade ke-3 dilaksanakan tahun 2005 untuk peningkatan struktural dan sistem avionik bagi sepuluh unit F-5E/F. Pesawat mendapatkan radar baru Elta EL/M-2032, helm pilot baru DASH IV serta persenjataan yang lebih ampuh berupa rudal udara ke udara Phyton-5 berjangkauan 20 km dan rudal Beyond Visual Range (BVR) jarak menengah Derby berjangkuan 50 km.
Gelombang terakhir (ke-4) mulai dilaksanakan bulan Agustus 2017 silam. Sebanyak 14 pesawat F-5E/F Tiger II yang telah berusia 40 tahun ini diremajakan kembali.
Kontrak peningkatan menjadi Super Tigris yang mencapai 96 juta dolar AS dipercayakan pada Elbit Systems dan perusahaan Israel lainnya yaitu Rafael Advanced Defense Systems yang bertindak sebagai subkontraktor. Elbit hanya akan melaksanakan modifikasi dua unit pesawat saja sebagai acuan. Sementara sisanya akan dikerjakan oleh insinyur dari RTAF yang seluruh pengerjaannya dijadwalkan akan rampung tahun 2020.
Unit contoh pertama hasil upgrade yang digarap oleh Elbit Systems telah dirampungkan pengerjaannya. Selanjutnya jet tempur versi tandem (tempat duduk ganda, depan-belakang) ini diserahterimakan kepada RTAF dalam sebuah seremoni pada Rabu (23/5/2018). Pesawat tersebut menyandang nama baru yakni F-5ST Super Tigris.
Jet tempur bermesin ganda ini dilengkapi dengan radar modern yang kuat, perangkat perang elektronik (EW) yang canggih, glass cockpit terkini, dan HMD baru. Pesawat juga mendapatkan sistem senjata terkini Israel berupa rudal udara ke udara jarak jauh IRIS-T serta memiliki kemampuan serang darat yang mumpuni.
RTAF termasuk salah satu pengguna terbesar jet tempur F-5E/F dengan mengakuisisi sebanyak 46 unit. Kini, 16 di antaranya telah berubah menjadi F-5T Tigris dan 14 lainnya akan segera menjadi F-5ST Super Tigris. RTAF akan mempertahankan keduanya 10-15 tahun ke depan hingga tahun 2031-2036 mendatang.
Meski tergolong jet tempur generasi III, F-5T dan F-5ST kemampuannya tak kalah dengan pesawat tempur generasi IV lainnya yang juga diguanakan RTAF, yakni F-16 Fighting Falcon dan JAS-39 Gripen. Ibarat kakek sakti, F-5T dan F-5ST masih sanggup bersaing dengan anaknya. Sungguh kemampuan yang luar biasa. (Rangga Baswara)

AU India Kerahkan Su-30MKI pada Pitch Black 2018

Irvan Dwi P 07:00 Add Comment
 Pitch Black 2018
 Pitch Black 2018 

Angkatan Udara India akan mengirimkan pesawat tempur Su-30MKI-nya ke Australia untuk partisipasi perdananya dalam latihan udara multilateral Pitch Black 2018.
Setidaknya empat atau lima pesawat tempur garis depan tersebut dan satu pesawat angkut C-17 akan terbang ke Australia pada bulan Juli untuk latihan tempur udara selama tiga minggu antara tanggal 27 Juli dan 17 Agustus.
Ini akan menjadi partisipasi perdana India dalam program latihan tempur udara terbesar dibelahan selatan bumi yang melibatkan beberapa angkatan udara lainnya, narasumber mengatakan kepada Deccan Herald.
Pada tahun 2015, India dan Australia sepakat mengenai partisipasi AU India pada latihan perang multilateral tersebut.
Menyusul pertemuan bilateral antara Menteri Pertahanan India waktu itu Manohar Parrikar dan rekannya dari Australia Kevin Andrews, kedua belah pihak membuat pernyataan publik mengenai keikutsertaan India pada Pitch Black 2016.
Namun kemudian AU India tidak dapat mengikutinya karena beberapa permasalahan operasional.
Pada Januari tahun ini, Menteri Industri Pertahanan Australia Christopher Pyne mengkonfirmasi partisipasi India pada Pitch Black 2018 ketika memberi kuliah pada National Defence Collage di New Delhi.
Dilaksanakan sekali setiap tahunnya sejak tahun 2006, latihan tersebut dimulai dengan keikutsertaan Singapura, Thailand, Inggris dan Amerika Serikat dan kemudian berkembang dengan keikutsertaan Perancis dan Malaysia pada tahun 2008.
Selandia Baru ikut pertama kali pada tahun 2010, disusul oleh Indonesia pada tahun 2012.
Uni Emirat Arab juga ambil bagian pada tahun 2014, disusul oleh Kanada, Jerman dan Belanda pada tahun 2016.
Manuver yang sebagian dipraktekkan di bentangan luas di utara Australia adalah untuk mempelajari offensive counter air dan defensive counter air combat dalam lingkungan simulasi.
Hubungan strategis India-Australia perlahan berkembang. Kedua angkatan laut telah memulai latihan maritim bersama pada tahun 2015 dan edisi keduanya pada tahun 2017.
Namun, New Delhi tidak mengijinkan Canberra untuk terlibat dalam latihan laut multilateral Malabar yang melibatkan AL AS dan Jepang.
India, Jepang, Australia dan AS diyakini telah membentuk persekutuan untuk menangkal perkembangan Tiongkok di wilayah Indo-Pasifik. (Angga Saja - TSM)

Tank Boat Sepanjang Masa, Mulai dari Uni Soviet, AS, hingga Indonesia

Irvan Dwi P 05:00 Add Comment
Ilustrasi
Ilustrasi 

Berkisah tentang tank boat, Lundin X18 Antasena bukanlah yang pertama. Wahana sejenis telah muncul sejak tahun 1930-an. Adalah Uni Soviet negara pertama yang mencoba bereksperimen dengan mencangkokkan kubah tank T-34 ke atas perahu sungai yang disebut BK atau Bronekater (armoured boat).
Masa itu, setidaknya Angkatan Laut Uni Soviet memiliki tiga tipe kapal BK (Bronokater) yakni kelas 1124 dengan panjang 25 meter dan berawak 13 mengusung dua kubah meriam tank T-34. Lalu kelas 1125 panjang 23 meter dengan sebuah kubah berawak 10, dan S-40 yang memiliki panjang 24 meter juga dengan sebuah kubah yang diawaki 12 orang.
Ketiga riverrine armoured boat tersebut dilibatkan dalam Perang Dunia II. Selama tahun 1943-1945 terlibat dalam perkelahian di Laut Hitam dan Laut Baltik melawan kapal perang Jerman. Tercatat peran Bronekater kurang berhasil meski telah melakukan perlawanan sengit.
Permasalahan utama BK adalah tidak stabilnya tembakan kanonnya apalagi bila beroperasi di perairan berombak serta bobotnya yang berat (ketiganya di atas 30 ton) sehingga manuvernya jelek. Selama PD II, AL Uni Soviet mengoperasikan 99 unit BK 1124, 204 unit BK 1125, dan tujuh S-40. Empat Bronekater-nya hilang dalam perang ini.
Amerika Serikat juga pernah mencoba mengembangkan tank boat untuk digunakan dalam Perang Vietnam. Pabrik helikopter Sikorsky Aircraft berhasil memenangkan kontrak dari Angkatan Laut AS. Pada 1969 AL AS menerima unit pertama tank boat yang disebut sebagai ASPB (Assault Support Patrol Boat).
Kapal sepanjang 15 meter dan lebar 6 meter ini didukung oleh tiga mesin turbin PT-6 buatan Pratt & Whitney yang terhubung ke tiga waterjet. Di atas permukaan air tenang ASPB bisa mencapai kecepatan 43 knot (80 km/jam) dan bisa bermanuver lincah di kedalaman air hanya 1,2 meter saja.
Sikorsky ASPB dilengkapi kubah tank dengan senjata utama kanon 105 mm. Pertimbangannya, howitzer kaliber ini merupakan bagian artileri yang paling sering digunakan militer AS dalam Perang Vietnam dan persediannya yang banyak.
Kanon ini mampu melakukam penembakan langsung pada musuh atau tidak langsung pada sudut tinggi untuk mendukung pasukan darat. Sebagai senjata pendukung tersedia kanon 20 mm untuk pertempuran atau serangan jarak dekat serta digunakan untuk pertahanan diri ASPB sendiri.
Yang unik dari ASPB adalah penerapan sistem perlindungan diri yang disebut “bar armor”, desain serupa yang kini banyak diterapkan pada ranpur yang digunakan dalam operasi militer di Irak dan Afghanistan. Bar armor adalah grill bar baja ringan yang dipasang rapat melingkar sekitar awak berada dan kubah.
Kurungan baja ini dapat menghadang serangan RPG yang akan meledak ketika menghantam “bar” sebelum menyentuh tubuh ASPB. Sayangnya tank boat ini terlambat masuk operasional di Vietnam karena perang keburu berakhir. Namun begitu, ASPB tetap digunakan oleh pasukan khusus AS sebagai wahana latihan perang sungai hingga pensiun pada 1980.
Perahu berkanon meriam terakhir yang muncul datang dari Banyuwangi, Jawa Timur yang digarap oleh PT Lundin (North Sea Boats). Kapal berkode X18 ni mengadopsi desain catamaran (dua lambung) yang mengusung kubah Cockerill XC-8 105HP buatan CMI dilengkapi kanon kaliber 105 mm dan senjata sekunder berupa kubah RCWS dengan senapan mesin kaliber 12,7 mm.
Dalam misinya, X18 didapuk untuk memberikan dukungan tembakan dalam serangan amfibi yang beroperasi di perairan dangkal mulai sekitar muara sungai hingga pesisir pantai dan selat kecil antarpulau.
X18 memiliki dimensi panjang 18 m, lebar 6,6 m yang diawaki empat ABK serta mampu membawa pasukan serbu sebanyak 20 orang. Sebagai penggerak mengandalkan sepasang mesin diesel buatan MAN berdaya 1.200 hp yang mampu melaju dengan kecepatan penuh 40 knot (74 km/jam).
Lundin X18 tampil perdana untuk umum dalam konferensi AVA (Armored Vehicle Asia) yang berlangsung bulan April 2015 di Jakarta. Selanjutnya tank boat ini kembali hadir dalam bentuk model skala di pameran Defence & Security, November 2015, di Bangkok, Thailand.
Sosok X18 baru terlihat utuh saat PT Lundin memboyongnya ke Kemayoran, Jakarta untuk dipertunjukkan dalam pameran pertahanan internasional Indo Defence ke-7 pada November 2016.
Dalam pameran tersebut, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyematkan nama Antasena tokoh pewayangan dalam kisah Mahabharata yang kebal terhadap segala segala rupa senjata dan memiliki kemampuan menembus tanah serta menyelam di air. Tentu dengan harapan X18 akan sehebat putra bungsu Bimasena yang terkenal paling sakti tersebut. (Rangga Baswara)

Korea Selatan akan Gunakan Rudal K-SAAM di Kapal Kelas Dokdo Kedua

Irvan Dwi P 03:00 Add Comment
Rudal K-SAAM
Rudal K-SAAM  

Korea Selatan akan menggunakan rudal K-SAAM pada kapal induk helikopter kelas Dokdo-nya yang kedua. Penggunaan rudal tersebut mencerminkan perluasan penggunaan close-in defence system yang dikembangkan secara lokal di seluruh armada kapal perang Angkatan Laut Korea Selatan.
Kapal induk helikopter kelas Dokdo kedua Angkatan Laut Republik Korea (RoKN) akan menggunakan senjata yang dikembangkan secara lokal yang disebut di negara tersebut sebagai Korea Surface-to-Air Anti-Missile (SAAM, atau K-SAAM), kata perwakilan industri yang dekat dengan masalah ini mengkonfirmasi Jane.
Kapal yang dinamai sebagai ROKS Marado dengan nomor lambung 6112 setelah nanti ditugaskan, akan dilengkapi dengan sistem peluncur vertikal yang dikembangkan secara lokal (K-VLS) di bagian ujung belakang dari suprastruktur untuk meluncurkan senjata ini.
K-SAAM adalah proyektil anti sasaran udara sepanjang 3,07 m yang menggunakan inersia mid-course guidance dan dual microwave dan imaging infrared seeker untuk panduan akhir. Sebuah program untuk mengembangkan senjata tersebut, yang juga disebut sebagai 'Haegung' atau 'Sea Bow' di Korea Selatan, dimulai pada tahun 2011, dan pengujian pertama dari sistem tersebut dimulai pada tahun 2013. Selain dimaksudkan untuk penggunaan terhadap sasaran udara, K-SAAM juga memiliki kemampuan anti-kapal dan anti-permukaan yang terbatas.
Pejabat dari produsen senjata tersebut, LIG Nex1, yang berbicara dengan Jane di pameran Seoul International Aerospace and Defense Exhibition (ADEX) pada tahun 2015, mengatakan bahwa senjata itu akan memasuki kedinasan pada AL Korea Selatan ditahun 2018 dan pada akhirnya akan menggantikan sistem Raytheon RIM-116 Rolling Airframe Missile (RAM) pada kapal-kapal perang Korea Selatan.
Dimasukkannya sistem senjata ini adalah salah satu dari beberapa perbedaan antara Marado dan kapal kakak kelasnya, RoKS Dokdo (6111), yang masuk kedinasan pada 2007. Foto upacara peluncuran Marado pada 14 Mei lalu mengungkapkan bahwa Korea Selatan juga memilih sensor campuran buatan lokal dan Israel pada kapal Marado tersebut.
Ini termasuk penggunaan radar pengawas multifungsi ELM-2248 (MF-STAR) dari perusahaan pertahanan Israel ELTA Systems sebagai pengganti radar multibeam SMART-L dari Thales yang digunakan pada Dokdo, dan radar pengawas udara dan permukaan tiga-dimensi SPS-550K dari perusahaan lokal LIG Nex1, yang menggantikan radar pengawas Thales MW08 pada kapal sebelumnya. (Angga Saja - TSM)

Bila Terjadi Duel antara Virginia Class AS dengan Yasen Class Rusia, Kapal Selam Mana yang Unggul?

Irvan Dwi P 22:00 Add Comment
Virginia Class AS
Virginia Class AS  

Kapal selam Kelas Virginia Block III Amerika Serikat dan kapal selam Kelas Yasen Rusia adalah puncak teknologi kapal selam kedua negara. Cukup adil untuk keduanya bila diadu kecanggihannya. Kelas Yasen mungkin lebih lambat, tetapi bisa menyelam lebih dalam. Sedangkan Kelas Virginia mungkin lebih cepat, tetapi lambungnya hanya teruji hingga kedalaman 488 meter.
Sejak Perang Dingin berakhir, armada kapal selam Angkatan Laut AS muncul sebagai penguasa dunia bawah laut yang tak terbantahkan, yang semuanya bertenaga nuklir. Berbeda nasib dari kapal-kapal selam Soviet saingannya yang tidak lagi mampu dipertahankan oleh Federasi Rusia yang baru didirikan.
Setelah lebih dari dua puluh tahun supremasi kapal selam Amerika, penantang baru pun telah muncul dari kedalaman laut. Hampir memakan dua dekade waktu pembuatannya, menjadi penantang serius dan mematikan bagi superioritas Angkatan Laut AS. Bagaimana kapal selam pemula baru ini, kapal selam kelas Yasen Rusia, dibandingkan dengan tulang punggung terbaru armada kapal selam AS, Kelas Virginia Blok III?
Ide pengembangan Kelas Yasen (“Ash Tree”) muncul pada awal pertengahan 1980-an oleh Malakhit Central Design Bureau, salah satu dari tiga biro kapal selam utama Uni Soviet. Konstruksi kapal selam pertama, K-560 Severodvinsk, dimulai pada tahun 1993 di galangan kapal Sevmash Rusia, tetapi kurangnya dana menyebabkan penyelesaian tertunda selama lebih dari satu dekade. Severodvinsk akhirnya diluncurkan pada tahun 2010, dan mulai bertugas pada tahun 2013.
Severodvinsk memiliki panjang 120 meter dan bobot benaman 13.800 ton (menyelam). Severodvinsk hanya diawaki oleh sembilan puluh kru, jauh lebih sedikit daripada seteru Amerika-nya, menunjukkan bahwa Kelas Yasen memiliki tingkat otomatisasi sistem yang tinggi. Bentuknya masih serupa Kelas Akula sebelumnya, tetapi lebih luas di belakang menara komando dan punuk untuk mengakomodasi tabung peluncuran vertikal.
Severodvinsk ditenagai oleh reaktor nuklir OK-650KPM dua ratus megawatt, yang akan menjadi sumber tenaga seumur hidupnya, yang mendorongnya ke kecepatan hingga 16 knot di permukaan dan 31 knot saat menyelam. Severodvinsk bisa berlayar 'tanpa berisik' pada kecepatan 20 knot.
Perlengkapan sensor Severodvinsk terdiri dari sistem sonar Irtysh-Amfora, dengan bow-mounted spherical sonar array, flank sonar array dan towed array untuk deteksi ke belakang. Severodvinsk dibekali radar pencarian permukaan /navigasi MRK-50 Albatross (Snoop Pair) dan fitur dukungan elektronik (countermeasures ) Rim Hat.
Senjata Severodvinsk terdiri dari empat tabung torpedo standar 533 milimeter dan empat tabung torpedo 650 milimeter. Tabung torpedo dapat menampung torpedo dan rudal 3M54 Klub, yang tersedia dalam varian anti-kapal, serangan darat, dan anti-kapal selam. Untuk senjata yang lebih banyak lagi, kelas Yasen dilengkapi dengan dua puluh empat tabung rudal peluncuran vertikal, masing-masing mampu membawa rudal supersonik tenaga ramjet anti kapal P-800 Onyx.
Kapal selam Kelas Virginia dikembangkan sebagai pengganti yang terjangkau untuk Kelas Seawolf yang berumur pendek, yang meskipun sangat mampu, tapi juga sangat mahal. Artinya, AS telah sukses menggantikannya, dan Kelas Virginia secara berangsur-angsur menjadi kapal selam andalan Angkatan Laut AS.
Dengan panjang 115 meter, Kelas Virginia hanya lima meter lebih pendek dari Kelas Yasen, tetapi bobot benamannya hanya 7.800. Diawaki 113 kru, dan didukung oleh satu reaktor nuklir General Electric SG9, didorong dengan propulsor/pump-jet bukan baling-baling. Kecepatannya dilaporkan 25 knot di permukaan dan 35 knot saat menyelam, dan kapal selam ini dilaporkan tidak berisik pada pada kecepatan 25 knot saat Kelas Los Angeles berada di sampingnya.
Seperti rivalnya dari Rusia, sonar utama di Virginia adalah spherical, bow-mounted type. Namun, sejak muncul Blok III Kelas Virginia, sonar BQQ-10 diganti dengan U-shaped Large Aperture Bow sonar. Yang juga melengkapi adalah array pada port dan sisi sayap, juga dikenal sebagai Light Weight Wide Aperture Arrays, terdiri dari dua kumpulan dari tiga sensor akustik serat optik. LWWAA sangat selaras untuk mendeteksi kapal selam listrik diesel. Deteksi ke belakang dicover oleh TB-29 (A) towed passive array. Terakhir, sonar array frekuensi tinggi yang dipasang memungkinkan Virginia mendeteksi dan menghindari ranjau laut.
Kelas Virginia hanya memiliki empat tabung torpedo 533 milimeter, yang mampu menembakkan torpedo kelas berat Mk.48 Advanced Capability (ADCAP) untuk digunakan melawan kapal permukaan dan kapal selam dan rudal anti kapal UGM-84 Sub-Harpoon.
Versi Virginia sebelumnya membawa dua belas rudal serangan darat Tomahawk di tabung peluncuran vertikal, namun pada Blok III diganti dengan dua peluncur silinder dengan membawa jumlah rudal yang sama. Sedangkan Virginia Blok V nantinya akan memperbanyak jumlah peluncur untuk membawa hingga empat puluh rudal BGM-109 Tomahawk per kapal selam.
Dalam hal terjadi konfrontasi head-to-head antara kapal selam Kelas Virginia Block III AS dan Kelas Yasen Rusia, siapa yang bakal menang? Kedua kapal selam itu adalah puncak teknologi kapal selam kedua negara. Cukup adil untuk membandingkan keduanya. Kelas Virginia Blok III yang pertama USS North Dakota diluncurkan pada tahun 2013 (bertugas pada 2014), sedangkan Kelas Yasen yang pertama K-560 Severodvinsk diluncurkan pada tahun 2010 (bertugas pada 2013).
Kapal selam Severodvinsk mungkin lebih lambat, tetapi bisa menyelam lebih dalam. Sedangkan Virginia mungkin lebih cepat, tetapi menurut Combat Ships of the World, lambungnya hanya diuji hingga kedalaman 488 meter. Virginia kemungkinan memiliki keunggulan dalam deteksi sonar, berkat sonar Large Aperture Bow yang baru.
Dalam hal senjata, kedua kapal selam cukup berimbang, hanya saja Severodvinsk memiliki varian rudal Klub anti kapal selam, yang memungkinkannya secara cepat menembak kapal selam musuh dengan torpedo yang dilepaskan rudal.
Kelas Virginia lebih "siluman" dan memiliki rig sonar yang lebih baik daripada Kelas Yasen. Di dunia peperangan kapal selam, itu adalah kombinasi yang tidak ada duanya. Kelas Virginia dapat bergerak dan mendeteksi dengan caranya yang akan membuat Severodvinsk tidak lagi mampu bersembunyi. Untuk hal ini, Kelas Virginia yang unggul. Tapi satu hal yang menjadi keunggulan Severodvinsk adalah mampu merespon dengan cepat dalam hal menanggapi peluang target secara tiba-tiba dengan rudal supersonik Klub anti kapal selamnya.
Untuk prospek jangka pendek, sonar Virginia dapat terus diupgrade dengan software baru. sedangkan sonar Severodvinsk mungkin tidak lagi dapat diperbarui, menjadikan kapal selam Rusia ini mungkin sulit meningkatkan fitur "silumannya".
Untuk prospek jangka panjang, rivalitas kedua kapal selam mungkin juga akan melihat masuknya drone bawah laut dan sejumah teknologi baru lainnya. Sejak Perang Dingin berakhir, Amerika Serikat kurang mengembangkan teknologi peperangan bawah laut. Namun sekarang tampaknya AS telah kembali menaruh perhatian besar untuk peperangan skala besar, dan peperangan kapal selam khususnya, jika Rusia tidak berbuat banyak, kapal-kapal selam AS mungkin akan kembali mendominasi kekuatan bawah laut. (Efran Syah)

Serge Dassault dan Warisan Industri Dirgantara Perancis

Irvan Dwi P 20:00 Add Comment
Serge Dassault
Serge Dassault  

Serge Dassault, Kepala Dassault Group, perusahaan besar yang membidangi industri dirgantara dan media di Perancis, senator, mantan walikota Corberik-Essones, dan juga satu dari lima orang terkaya di Perancis, meninggal dunia pada usia 93 tahun, Senin (25/5/2018).
Pihak keluarga mengatakan, Serge Dassault meninggal di kantornya di kawasan Champs-Elysees, Paris setelah terkena serangan jantung pada sore hari.
Di dunia penerbangan, nama keluarga Dassault sudah tak asing lagi. Nama ini terkenal melalui pabrik Dassault Aviation yang melahirkan beragam seri pesawat tempur maupun pesawat jet pribadi.
Jet tempur Mirage dan Rafale yang paling modern merupakan dua di antara mahakarya yang dihasilkan Dassault Aviation untuk dunia kedirgantaraan. Demikian juga dengan serial jet bisnis Falcon yang laku dan digunakan sebagai salah satu simbol citra kemapanan kalangan pebisnis atau kelompok jet set.
Seluruh masyarakat Perancis, utamanya para Parisien berduka mendengar berpulangnya Serge Dassault, putra dari pendiri Dassault Aviation, Marcel Dassault.
“Perancis kehilangan salah satu putra terbaik yang semasa hidupnya telah mengembangkan kemilau industri Perancis,” kata Presiden Perancis Emmanuel Marcon saat menyampaikan ucapan duka cita.
Nicolas Sarkozy, mantan Presiden Perancis yang sangat dekat dengan keluarga Dassault tak ketinggalan menyampaikan kenangannya. “Serge adalah teman yang sangat visioner dalam mengantisipasi perkembangan dunia tanpa mengorbankan arti dari kehidupan yang ia jalani,” ujar Sarkozy.
Digambarkan, Serge merupakan seorang pekerja keras dengan empat anak dan istri tercintanya, Nicole Raffel. Melalui tangan dinginnya Dassault Group mampu mengibarkan bendera bisnis yang besar, termasuk Dassault Aviation dan Le Figaro harian terbesar yang sangat berpengaruh di Perancis.
Kerajaan bisnis Dassault Group dibangun atas jasa sang ayah Marcel Dassault. Marcel adalah insinyur aeronotika yang menciptakan baling-baling pesawat untuk digunakan dalam pesawat-pesawat Perancis semasa Perang Dunia I.
Kegetiran Perang Dunia II dialami Marcel ketika ia ditangkap pasukan Nazi Jerman yang kemudian mengirimnya ke kamp kematian Buchenwald, di Etterswald. Marcel ditangkap karena keturunan Yahudi ini tidak mau membagi ilmu tekniknya kepada Jerman. Beruntungnya, ia selamat hingga PD II berakhir.
Serge merupakan anak kedua Marcel Dassault yang lahir pada 4 April 1925. Keluarga keturunan Yahudi ini tinggal di Perancis dan kemudian mewarisi perusahaan sang ayah, Societe des Avions Marcel Bloch disingkat “MB” yang didirikan tahun 1929. Kemudian hari perusahaan itu berganti nama menjadi Dassault Aviation.
Serge melewati masa remajanya dengan suram. Sama seperti ayahnya, selama PD II itu, ketika usinya baru beranjak 14 tahun, ia pun harus mendekam di penjara. Sementara ibunya tetap berada di Paris dan bekerja di sebuah perusahaan.
Selepas PD II dan mereka semua selamat, sang ayah pun berpindah keyakinan dari Yahudi dan mengganti nama famnya dari Bloch menjadi Dassault sehingga menjadi Marcel Dassault. Ia lantas mendirikan sejumlah bisnis manufaktur termasuk mengembangkan kembali cikal bakal bisnis penerbangan yang ia rintis sejak 1914.
Sepeninggal sang ayah di tahun 1986, Serge Dassault menjadi pewaris tunggal perusahaan penerbangan milik sang ayah. Tidak mudah mengingat saat itu usianya sudah beranjak 61 tahun. Praktis Serge mengambil alih komando bisnis keluarga di saat ia seharusnya sudah mulai menjalani masa pensiun. Tapi bagi dia, justru di usia itu ia mulai mengemban tugas yang sangat besar. Dia lalu memperluas bisnisnya warisan sang ayah dan mendirikan Dassault Group.
Berperan sebagai pimpinan sekaligus CEO Dassault Group, Dassault berhasil mengakuisisi sejumlah perusahaan di bidang media, pesawat, dan perangkat lunak (software). Tak hanya itu, perusahaan ini pun memiliki anak-anak perusahaan yang tersebar di berbagai negara.
Tahun lalu, Dassault Aviation tercatat sebagai perusahaan multinasional di 83 negara dengan pekerja 11.398 orang yang 9.315 orang di antaranya bekerja di Perancis. Khusus produksi pesawat, perusaahan ini telah mengirimkan 8.000 unit pasca-PD II.
Penyandang gelar sarjana ilmu pengetahuan itu selanjutnya mencoba peruntungan dengan memasuki dunia politik. Ia mendirikan partai Union for a Popular Movement. Tahun 2004, Dassault diangkat sebagai anggota senat. Lewat posisinya tersebut, dia banyak bicara soal regulasi tenaga kerja dan perpajakan di Perancis. Banyak lintasan kehidupan sebagai politisi ia lampaui termasuk ketika terlibat dalam sejumlah skandal politik.
Bersama Nicole sang istri yang dinikahi pada 5 Juli 1950, keduanya dikaruniai empat anak, yaitu Olivier Dassault, Laurent Dassault, Thierry Dassault, dan Marie-Helene Dassault. Mereka hidup bahagia bahkan Serge merupakan suami yang sangat mencintai istri dan anak-anaknya. Anak sulungnya, Olivier kemungkinan besar akan meneruskan warisan industri dirgantara Perancis yang dirintis oleh sang kakek. (Roni Sontani)

Story : Sebelum Memilih Rudal S-75 Dvina (SA-2 “Guideline”), Presiden Soekarno Ternyata Mengincar Rudal Hanud Jarak Jauh “Nike”

Irvan Dwi P 19:00 Add Comment
 Parade Rudal S-75 Dvina (SA-2 “Guideline”) di Istora Senayan
Parade Rudal S-75 Dvina (SA-2 “Guideline”) di Istora Senayan 

Walau kini tinggal sejarah, sosok rudal hanud (Surface to Air Missile/SAM) SA-2 “Guideline” pada dekade 60-an masih menyisakan rasa bangga, bahwa dahulu Indonesia pernah mengoperasikan rudal hanud jarak jauh yang battle proven dan membuat keberadaan Indonesia disegani di kawasan. Berita ditembak jatuhnya pesawat spy Amerika Serikat U-2 ‘Dragon Lady” pada ketinggian 15,24 km menjadi poin penting betapa lethal-nya rudal hanud buatan Uni Soviet ini. Namun dibalik itu semua, tak banyak yang tahu bahwa sebenarnya yang dilirik Indonesia pertama kali bukanlah SA-2.
Dikutip dari buku “Sang Kolonel Sang Ilmuwan” (2009) yang mengupas biografi Kol. (Purn) AU Ir. Kusudiarso Hadinoto, disebutkan pada April 1959, Kusudiarso yang kala itu masih berpangkat mayor ditugaskan ke Amerika Serikat untuk melihat dari dekat dan menjajaki pembelian rudal Nike (Nike Ajax dan Nike Hercules) yang saat itu adalah rudal hanud paling modern.
Namun, sayangnya pihak AS tidak berkenan menjual Nike ke Indonesia yang kala itu tengah berselisih dengan Belanda. Meski begitu, saat di AS, Kusudiarso bersama Atase Udara RI di Washington, Kol. R. Soedjono mendapat kesempatan untuk melihat demonstrasi penembakan rudal Nike dari kejauhan.
Sekembalinya Kusudiarso ke Tanah Air dengan tangan hampa, kemudian dilaporkan ke KSAU Suryadarma, yang lantas meneruskan ke Presiden RI Soekarno. Mendengar kabar penolakan AS menjual Nike ke Indonesia, Soekarno pun berang dan memerintahkan Jenderal AH Nasution ke Uni Soviet untuk membeli rudal hanud tandingan dari Blok Timur. Setelah melewati beberapa proses, jadilah kemudian SA-2 efektif memperkuat pertahanan udara obyek vital di Indonesia.
Dengan Skep Men/Pangau Nomor 53 Tahun 1963 tanggal 12 September 1963, dilakukan pembagian unsur-unsur rudal Hanud dalam pelaksanaan operasi, berada di bawah naungan Wing Pertahanan Udara (WPU) 100, membawahi 3 skadron peluncur dan 1 skadron teknik peluru kendali yaitu :
  1. Skadron 101 Peluncur peluru kendali darat ke udara SA-75 (di Cilodong)
  2. Skadron 102 Peluncur peluru kendali darat ke udara SA-75 (di Tangerang)
  3. Skadron 103 Peluncur peluru kendali darat ke udara SA-75 (di Cilincing)
  4. Skadron Teknik 104 Penyiap Peluru Kendali (di Pondok Gede).

Rudal Nike
Nike namanya memang tak sekondang SA-2, namun jangan salah, rudal “oleh-oleh” Perang Dingin ini cukup lama dioperasikan AS dan sekutunya. Terdiri dari Nike Ajax, Nike Hercules, Nike Zeus dan Nike-X, rudal-rudal tersebut masih dipercaya untuk memagari langit Eropa sampai pertengahan dekade 80-an. Nike tak lagi digunakan kala Uni Soviet bubar dan AS meluncurkan rudal hanud jarak jauh yang lebih presisi dan punya kemampuan lebih mobile, yakni MIM-104 Patriot.
Ibarat pepatah tak kenal maka tak sayang, menilik rudal hanud incaran Bung Karno tentu menjadi menarik perhatian. Nike Ajax misalnya, rudal ini pertama kali digunakan US Army, diproduksi mulai 1952 dan dioperasikan pada rentang 1954 - 1970. Rudal dengan bobot 1,12 ton ini sanggup meluncur dengan kecepatan Mach 2,5. Ketinggian operasi rudal ini bisa mencapai 21 km, sementara jarak tembak keseluruhannya 48 km. Dengan performanya yang super Nike Ajax disokong Solid rocket booster dan liquid fuel sustainer.
Lain lagi dengan Nike Hercules, rudal hanud dengan label high altitude long range air defense ini punya kemampuan untuk menguber sasaran sampai ketinggian 46 km, sementara jarak tembak operasionalnya hingga 140 km. Disokong Hercules M42 solid-fueled rocket cluster dan Thiokol M30 solid-fueled rocket, bobot Nike Hercules memang fantastis, yaitu 4,87 ton. Dimensi Nike Hercules pun laksana sebuah pesawat tempur, panjang 12 meter dan diameter sayap 3,5 meter.
Nike Hercules mampu menguber sasaran dengan kecepatan Mach 3,65. Tidak seperti Nike Ajax yang hanya dilengkapi hulu ledak konvensional, maka Nike Hercules sanggup membawa hulu ledak nuklir (W-31). Dengan ukuran yang bongsor dan bobot aduhai, varian Nike digelar menggunakan peluncur fixed erector. Prototipe varian mobile memang pernah dikembangkan, namun tidak populer dan tidak diteruskan.
Walau kalah garang dari SA-2, sejatinya Nike lebih canggih untuk ukuran jaman itu, radar Nike dilengkapi penjejak sasarannya (tracking radar) yang sudah menganut prinsip Monopulse. Dalam prinsip ini posisi angular (azimuth,elevasi) sasaran sudah bisa diukur oleh radar hanya dalam sekali pengukuran.
Kebalikannya, SA-2 mengusung sistemnya conical scan, dengan 2 antenna, satu mengukur azimuth dan satunya lagi elevasi. Untuk menghasilkan data pengukuran diperlukan waktu sedikit lebih lama. Pengaruhnya adalah SA-2 lebih rawan terhadap faktor alam, scintillating error, dimana sasaran pesawat itu RCS (Radar Cross Section)-nya berubah ubah sesuai penampang yang dilihat radar. Perubahan tersebut bisa “membingungkan” radar dan menghasilkan pengukuran posisi sasaran yang salah. Pengaruhnya adalah pada proses pemanduan rudal, yang bisa menyebabkan rudal meleset. Atas dasar hal tersebut, SA-2 memiliki hulu ledak relatif besar (200 kg) untuk mengkompensasi error diatas. Efek lain adalah SA-2 relatif lebih rawan terhadap jamming dengan teknik Inverse Gain seperti di Vietnam, seperti SA-2 di Vietnam dan milik AURI kemudian diberi TV/Optical Sight “Karat”.
Soal jamming, Nike Hercules lebih sulit di jamming karena menganut azas monopulse, dengan demikian perlu teknik yang lebih maju, seperti cross polarization atau cross eye, pasalnya Nike dan SA-2 hanya bisa memandu rudal ke satu sasaran.
Meski di atas kertas Nike lebih unggul, namun soal mobilitas, walau SA-2 resminya tidak mobile, tapi bisa dipindahkan ke wilayah operasi lain dengan waktu penggelaran kurang lebih 7 sampai 24 jam. (Haryo Adjie)

India Sepakat Borong Sistem Pertahanan Udara S-400 Triumf dari Rusia

Irvan Dwi P 18:00 Add Comment
Sistem Pertahanan Udara S-400 Triumf
Sistem Pertahanan Udara S-400 Triumf  

India telah menyelesaikan negosiasi harga dengan Rusia untuk pengadaan sistem pertahanan udara rudal S-400 Triumf. Sistem pertahanan udara itu akan digunakan untuk Angkatan Udara India.
Mereka mengatakan, kedua negara kini berusaha mencari jalan keluar untuk menghindari ketentuan undang-undang AS yang berusaha untuk menghukum negara dan entitas yang terlibat dalam transaksi pertahanan atau pembentukan intelijen dengan Rusia.
“Negosiasi untuk kesepakatan rudal telah selesai. Komponen keuangan telah diselesaikan,” kata seorang pejabat penting yang terlibat dalam negosiasi tersebut.
Pejabat itu mengatakan, Rusia dan India kemungkinan akan mengumumkan kesepakatan itu sebelum pertemuan tahunan antara Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Oktober mendatang.
Kedua belah pihak saat ini tengah mencari cara agar kesepakatan ini tidak mendapat sanksi yang diumumkan oleh AS terhadap Rusia lewat Countering America’s Adversaries Through Sanctions (CAATSA).
Ada kekhawatiran yang meningkat di India atas sanksi AS terhadap program pengadaan barang dari Rusia, termasuk dari Rosoboronexport.
AS sebelumnya telah mengumumkan sanksi terhadap Rusia di bawah undang-undang ketat karena dugaan ikut campur dalam pemilihan presiden Amerika pada tahun 2016.
CAATSA, yang mulai berlaku pada bulan Januari lalu mengamanatkan kabinet Donald Trump untuk menghukum entitas yang terlibat dalam transaksi signifikan dengan pertahanan atau pembentukan intelijen Rusia.
India ingin mendapatkan sistem rudal jarak jauh tersebut untuk memperketat mekanisme pertahanan udara, khususnya di sepanjang perbatasan Sino-India yang terhampar sepanjang 4.000 km.
Pada tahun 2016, India dan Rusia telah menandatangani perjanjian tentang sistem rudal S-400 Triumf yang dapat menghancurkan pesawat, rudal, dan bahkan pesawat tanpa awak dengan jarak hingga 400 km.
S-400 dikenal sebagai sistem pertahanan misil permukaan-ke-udara jarak jauh Rusia yang paling canggih. (Ian)

Opini : Sudah Perlukah Indonesia Memiliki Sistem Pertahanan Udara Jarak Jauh Sekelas S-400 Triumf?

Irvan Dwi P 17:00 Add Comment
S-400 Triumf
S-400 Triumf 

Ketika Perang Teluk (1991) berkobar, pasukan koalisi pimpinan AS berhasil melumpuhkan kekuatan militer Irak melalui gempuran rudal-rudal jelajah BGM-109 Tomahawk yang diluncurkan dari kapal-kapal perang.
Demikian pula ketika pasukan Koalisi AS, Inggris, dan Perancis menggempur Suriah pada 14 April 2018 lalu.
Rudal-rudal jelajah jarak jauh yang ditembakkan dari kapal perang dan pesawat tempur berjatuhan di berbagai sasaran yang dituju.
Lepas dari itu, setiap peperangan yang berlangsung di berbagai negara seperti di Irak dan Suriah, sebenarnya selalu dianalisis oleh para pakar strategi TNI.
Hasil analisis itu kemudian dibahas dalam Rapat Pimpinan TNI (Rapim TNI) yang berlangsung setiap tahun.
Dalam Rapim itu, selain membahas peperangan terkini yang baru saja terjadi, juga selalu dibuat skenario, bagaimana seandainya Indonesia diserang dari negara lain.
Tak sekadar membuat skenario, anggota rapat juga membat simulasi berupa strategi dan taktik militer apa yang harusnya dilakukan.
Biasanya jawaban dari skenario hasil simulasi itu adalah, jika Indonesia harus berperang maka ‘jawabannya’ diwujudkan dalam bentuk latihan-latihan perang yang digelar TNI sepanjang tahun sesuai anggaran yang tersedia.
Pola latihan perang pasukan TNI biasanya selalu mengandaikan jika salah satu wilayah atau pulau Indonesia direbut musuh.
Sesuai skenario, pasukan TNI akan segera "diturunkan" untuk melancarkan serangan balik demi merebut kembali wilayah itu dan dipastikan menang.
Tapi bisa disimpulkan dalam setiap Rapim TNI, Indonesia jarang sekali mengandaikan jika salah satu wilayahnya suatu saat mendapat gempuran rudal jelajah musuh dan cara apa yang harus dilakukan untuk melawannya.
Pasalnya hingga kini Indonesia memang belum memiliki persenjataan perisai anti-rudal seperti yang dimiliki oleh Singapura, semacam MBDA Aster-30 buatan Prancis, Barak 1, dan Iron Dome buatan Israel. Indonesia memang baru-baru ini telah mengakusisi rudal pertahanan udara kelas menengah yakni NASAMS II untuk melindungi Ibu Kota Jakarta.
Pelajaran di Perang Teluk, Perang Suriah, dan juga peperangan di Afganistan menunjukkan bahwa negara yang tidak memiliki rudal sistem pertahanan udara untuk melawan rudal jelajah lawan pasti akan kewalahan ketika mendapat gempuran rudal apalagi dalam jumlah besar.
Pasalnya serangan menggunakan rudal merupakan penerapan peperangan modern, di mana pihak penyerang melakukan serangan dari jarak jauh ke target musuh dan tanpa terdektesi keberadaannya.
Jika pihak yang diserang tidak memiliki rudal untuk penangkal atau rudal sejenisnya, maka persenjataan dan pasukan yang terlatih di negara yang menjadi target gempuran rudal hanya akan menjadi korban tanpa bisa melakukan serangan balasan.
Oleh karena itu, seandainya saja Indonesia sampai digempur rudal jelajah oleh musuh, akan menjadi negara yang benar-benar tidak berdaya karena sama sekali tidak memiliki pertahanan anti-rudal.
Ketika Presiden Joko Widodo berkunjung ke Rusia pada bulan Mei 2016 dan bertemu dengan Presiden Vladimir Putin, ketertarikan Indonesia untuk memiliki persenjataan anti-rudal buatan Rusia sebenarnya sudah disampaikan.
Rudal yang ‘ditaksir’ Presiden Jokowi bahkan dari jenis yang tergolong mumpuni yakni S-300 dan S-400.
Khusus S-400 bahkan merupakan rudal pertahanan udara yang bisa digunakan untuk menghantam sasaran baik pesawat tempur maupun rudal jelajah lawan hingga jarak 400 km.
Apalagi jika jumlah peluncur dan rudalnya banyak, S-400 bahkan bisa digunakan untuk menghantam 40 sasaran sekaligus.
Hingga kini rudal S-400 juga merupakan rudal pertahanan udara yang paling disegani oleh AS dan sekutunya karena mampu merontokkan jet tempur musuh dengan mudah.
Oleh karena itu ketika Turki memutuskan untuk membeli rudal S-400 Triumf Rusia, AS yang selama ini sebenarnya enggan menjual jet tempur siluman F-35 ke Turki jadi kelabakan.
Pasalnya bila rudal pertahanan udara S-400 dimiliki Turki dikhawatirkan bisa merontokkan pesawat tempur siluman F-35 Israel.
Seandainya saja dalam Rapim TNI ancaman serangan rudal jelajah asing menjadi tantangan yang harus dijawab maka kepemilikan rudal pertahanan udara jarak jauh bagi Indonesia memang tidak bisa dielakkan untuk menjadi prioritas.
Apalagi Indonesia memiliki banyak pulau yang bisa digunakan untuk menjadi pangkalan rudal.
Jadi selain untuk kepentingan mempertahankan diri dalam upaya mengantisipasi peperangan modern, kepemilikan rudal pertahanan udara jarak jauh, detterent effeck Indonesia juga meningkat sekaligus. Pemikiran ini memang bertolak belakang dengan pernyataan Menhan di media yang berkata bahwa kita tidak punya musuh. "Kita Mau Perang dengan Siapa" bukankah lebih baik sedia payung sebelum hujan? Kita berdoa semoga anggaran pembeliannya tersedia. (Agustinus Winardi)

Radar Acak