Opini : Sudah Terbiasa, Belanja Alutsista Terus

Irvan Dwi P 22:00 Add Comment
TNI AU
TNI AU 

Perjalanan menumbuhkan kekuatan alutsista militer Indonesia sudah berlangsung sembilan tahun sejak program MEF (Minimum Essential Force) diterbitkan tahun 2010. Dengan sebuah peta jalan besar untuk mampu menumbuhkembangkan koleksi alutsista berteknologi terkini. Perjalanan sepanjang waktu itu sudah memberikan nilai tambah yang luar biasa bagi institusi militer negeri pejuang.
Kamis kemarin tanggal 28 Juni 2018 sebuah kapal perang baru jenis LST (Landing Ship Tank) diluncurkan di Lampung dari sebuah galangan kapal swasta nasional yang berprestasi. Galangan kapal itu saat ini sedang membangun 4 kapal perang LST untuk TNI AL setelah sebelumnya sukses membangun KRI Teluk Bintuni-520 yang selanjutnya menjadi nama kelas LST ini, Bintuni Class.
PT PAL Surabaya saat ini juga sedang membangun 1 kapal perang jenis LPD (Landing Platform Dock), 1 kapal selam Nagapasa Class dan 3 Kapal Cepat Rudal. Galangan kapal swasta nasional lainnya juga ikut bersuka cita karena kecipratan proyek membangun belasan Kapal Patroli Cepat (KPC), Kapal logistik BCM TNI AL, kapal-kapal Bakamla dan KKP. Artinya semua galangan kapal nasional di negeri ini sedang bergembira ria mendapatkan rezeki besar dari program MEF TNI.
Tentara langit kita juga sudah memesan 11 jet tempur Sukhoi Su-35 dan diprediksi akan menambah minimal 5 unit lagi. Disamping itu Kemhan juga sedang memproses pengadaan 5 pesawat Hercules seri J dari AS, sedang mempersiapkan tambahan 3 skadron tempur dengan calon terkuat F-16 Viper, tambahan helikopter AH-64E Apache Guardian, kemudian menambah sedikitnya 5 radar militer, menambah perolehan Oerlikon Skyshiled dan peluru kendali anti serangan udara jarak sedang Nasams.
Jet tempur Golden Eagle yang jumlahnya 15 biji juga diperkuat dengan infrastruktur radar Elbit, menambah jet latih Grob dan KT1 Wong Bee. Pesanan helikopter EC725 Caracal, pesawat CN-295 terus dilakukan. PT DI sebagai pintu gerbang penyaluran produksi kerjasama sedang menyelesaikan berbagai order pekerjaan seperti 11 helikopter anti-kapal selam AS565 MBe Panther untuk TNI AL.
PT Pindad juga sedang bersinar terang dengan berbagai pesanan TNI AD. Produksi panser Anoa terus berjalan, proyek tank medium Harimau Hitam produksi bersama dengan Turki, rantis Komodo, panser Badak, ranpur MRAP Sanca. Semua industri pertahanan strategis sedang sibuk dengan berbagai aktivitas bisnis alutsista untuk militer kita.
Jadi sudah terbiasalah kalau kita membaca berita atau mendengar kabar berlanja alutsista tentara yang terus menerus. Padahal ini baru ingin memenuhi kebutuhan minimal alutsista TNI, belum sampai pada kebutuhan memadai apalagi ideal. Program MEF dirancang menjadi 3 jilid. Jilid I sudah khatam, sekarang kita di jilid II dan terakhir MEF jilid III tahun 2020-2024. Akan banyak pesanan baru skala besar untuk berbagai jenis alutsista mulai akhir tahun ini dan MEF jilid III nanti.
Perolehan alutsista sepanjang sembilan tahun ini sangat luar biasa. Dan kita patut bersyukur karena pengambil keputusan di republik ini tidak terlambat memperkuat militernya apalagi ketika dihadapkan dengan kondisi kawasan terkini yang dinamis dan hangat. Laut China Selatan adalah hotspot yang paling tinggi tensinya dan akan menjadi kawasan yang penuh dengan provokasi dan saling gertak utamanya antara China dan AS.
Terkait dengan manajemen belanja alutsista, catatan kita adalah kemasan manajemen Kemhan harus terus menerus dikawal, dikritisi dan dievaluasi. Kasus helikopter AgustaWestland AW 101 dan yang terakhir soal satelit militer yang menjadi rumor internasional karena Kemhan gagal bayar diharapkan bisa menjadi wahana instrospeksi. Kinerja Kemhan sebagai pemegang anggaran terbesar dan manajemen pengadaan alutsista adalah ujian sesungguhnya.
Manajemen Kemhan diharapkan mampu menyuarakan aktualisasi perkembangan kinerja dan tantangannya. Jangan sampai sebuah bottle neck proyek lalu menjadi sorotan media yang menunjukkan belum terkoordinasinya paket-paket decision strategis dan taktis. Selama 4 tahun ini kita melihat suasana itu dalam mekanisme bermanajemen. Anggaran yang dikucurkan pemerintah adalah yang terbesar, maka penggunaannya juga diharapkan terukur dan terstruktur.
Kita mengapresiasi perkuatan militer negeri ini. Apalagi jika dihadapkan pada konflik kawasan yang mudah panas. Semua negara di kawasan ini sedang membangun kekuatan militernya secara sistematis. Kita lihat Vietnam, Filipina, Singapura, Thailand, Australia, Jepang serius banget mengembangkuatkan militernya. China apalagi, benar-benar tak terbendung dengan libido membangun kekuatan militer ofensif secara besar-besaran.
Maka berita belanja alutsista yang sudah menjadi berita biasa itu dan dikonsumsi masyarakat luas, tidak enak jua diperdengarkan lagu sumbangnya manakala ada proyek yang sumbang prosesnya. Misalnya pesanan 2 kapal perang jenis LST di Koja Bahari yang mestinya sudah diluncurkan paralel bersama KRI Teluk Bintuni beberapa tahun lalu sampai saat ini belum selesai jua.
Perjalanan program MEF masih panjang. Dan sepanjang waktu itu kita akan mendapatkan berita-berita yang membanggakan dan membungakan hati untuk perkuatan militer kita. Kedatangan berbagai jenis alutsista dan kembali memesan berbagai jenis alutsista adalah konsumsi berita yang sudah biasa.
Nah sepanjang waktu itu pula bisa minimalisir berita-berita sumbang. Tentu dengan model komunikasi dan gaya kepemimpinan yang lincah, cerdas, jelas, terukur dan terstruktur. Public Relation adalah pintu komunikasinya. Semua rumor dan sentimen negatif bisa diluruskan sehingga tidak menimbulkan opini yang keliru. Semoga ya karena bahagia itu sederhana. (Jagarin Pane)
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
Sumber : TSM

Rusia Kaji Kembali Torpedo dengan Hulu Ledak Nuklir 100 Megaton Pemicu Tsunami

Irvan Dwi P 20:00 Add Comment
Torpedo
Torpedo  

Salah satu senjata hebat Rusia yang sedang dikembangkan dalah torpedo bawah laut dengan hulu ledak nuklir 100 megaton. Proyek senjata yang bisa menimbulkan tsunami mengerikan di garis pantai musuh itu sedang dikaji kembali.
Torpedo nuklir dengan panjang 80 kaki tersebut digagas oleh fisikawan nuklir era Soviet, Andrei Sakharov.
Fisikawan itu tergerak merancang senjata modern Rusia dengan efek mengerikan setelah Vladimir Putin sebagai pemimpin Kremlin terbesar sejak Josef Stalin.
Sakharov dikenal sebagai perancang senjata nuklir Soviet, namun dia berubah menjadi menjadi pembangkang. Dia telah aktif menuntut perlucutan senjata dan menyuarakan hak asasi manusia.
Dia telah mengutuk torpedo nuklir gagasannya yang dia sebut "benar-benar rendah budi".
Menurut media pemerintah Rusia, senjata hebat gagasan Sakharov sedang dikaji kembali. Hal itu diungkap Shamil Aliyev, 75, perancang top rudal modern Rusia.
"Ada kecenderungan umum untuk meninjau kembali gagasan yang tidak pernah diimplementasikan sebelumnya," katanya, yang dikutip Daily Mirror, Rabu (27/6/2018) malam.
"Ide Sakharov tentang membuat torpedo berhulu ledak nuklir sepanjang 24 meter dengan diameter 1,5 meter dan jarak 50 kilometer sedang ditinjau," ujarnya.
Proyek ini di era Uni Soviet dikenal sebagai T-15, sebuah torpedo seberat 40 ton dengan hulu ledak termonuklir 100-megaton.
Tujuannya, kata Aliyev, adalah untuk menghancurkan target pantai musuh melalui ledakan di sehingga bisa memicu tsunami monumental.
Menurut ilmuwan tersebut, rencana Sakharov ditangguhkan pada 1950-an karena kurangnya pendanaan, bukan karena kelemahan intrinsik.
Sebaliknya, Soviet kala itu mengejar T-5 yang jauh lebih sederhana dengan kekuatan setara 3,5 kiloton TNT.
Pengujian untuk T-5 dilakukan di pulau Arktik di lokasi uji coba di Novaya Zemlya. Di lokasi itu pula Soviet pada tahun 1961 meledakkan Bom Tsar berkekuatan 50 megaton.
Senjata modern Rusia itu digambarkan oleh pejabat Pentagon sebagai "ancaman strategis utama" terhadap pelabuhan-pelabuhan AS, instalasi militer pesisir, dan armada kapal induk.
Aliyev memuji dukungan Putin bagi para pembuat rudal Rusia. "Faktanya adalah, bahwa tidak ada pemimpin sejak Josef Stalin yang membuat dirinya begitu gigih dan konsisten terlibat dalam masalah militer seperti yang dilakukan Vladimir Putin," katanya.
"Inilah sebabnya mengapa terdengar sangat mendalam, terpelajar, dan profesional," ujarnya.
Sumber-sumber militer Rusia pernah mengatakan torpedo nuklir itu dirancang untuk menghancurkan pangkalan angkatan laut musuh dengan amunisi nuklir.
"Karena pembangkitnya nuklir, Poseidon akan mendekati target pada rentang antarbenua, pada kedalaman lebih dari satu kilometer dan dengan kecepatan 60-70 knot," kata salah seorang sumber. (Muhaimin)

LST KRI Teluk Lada-521 Buatan PT Daya Radar Utama (DRU) Resmi Diluncurkan

Irvan Dwi P 18:00 Add Comment
LST KRI Teluk Lada-521
LST KRI Teluk Lada-521  

Setelah meluncurkan KRI Teluk Bintuni-520 pada September 2014, hari ini (28/6/2018) PT Daya Radar Utama (DRU) meluncurkan LST (Landing Ship Tank) Teluk Bintuni Class kedua yang merupakan pesanan Kementerian Pertahanan RI untuk TNI AL. Dengan dihadiri Menhan Ryamizard Ryacudu, kelas LST terbesar ini namanya dikukuhkan sebagai KRI Teluk Lada-521 di fasilitas galangan PT DRU di Srengsem Panjang, Lampung.
Peluncuran KRI Teluk Lada-521 menandakan rampungnya satu dari empat unit pesananan kapal angkut tank, yaitu AT-4 (Teluk Lada 521), AT-5, AT-6 dan AT-7. Sebelumnya, PT DRU pada tahun 2014 telah berhasil meluncurkan dan menyerahkan proyek AT-3, yakni KRI Teluk Bintuni-520 kepada pihak TNI AL. Sementara proyek AT-5, AT-6 dan AT-7 adalah pengadaan baru yang kontraknya telah ditandatangani pada bulan Januari 2017. Setelah sesi peluncuran, tahapan selanjutnya KRI Teluk Lada-521 akan menjalani tahapan sea trial.
Proyek Teluk Bintuni Class disebut dengan kode AT-117M, yang desainnya adalah milik PT Dok & Perkapalan Kodja Bahari. Bintuni Class dirancang dengan 7 lantai yang letaknya secara berurutan dimulai dari bawah yakni deck A merupakan ruang untuk tangki dan ruang pasukan. Paling bawah adalah bottom deck yang menjadi ruang khusus mesin kapal dan deck B untuk pasukan. Lalu, deck C untuk kru kapal termasuk tempat tidur dan peralatan keseharian kru kapal. Deck D juga untuk kru kapal dan deck E untuk komandan dan para perwira. Kemudian, deck F untuk ruang komando. Terakhir, deck G alias top deck atau kompas deck digunakan untuk meletakkan dua radar utama.
KRI Teluk Lada-521 mampu membawa 10 unit MBT Leopard 2A4/Ri yang berat tiap tank mencapai 62,5 ton. Sebuah lompatan besar, bila sebelumnya LST TNI AL hanya akrab membawa tank ringan dengan berat per tank hanya belasan ton. Selain itu, KRI Teluk Lada-521 bisa membawa 2 unit helikopter, kapal ini memang dibekali dua helipad dengan fasilitas hangar. Kapal ini punya panjang 120 meter, lebar 18 meter, dengan tinggi 11 meter. Kecepatannya 16 knot dengan main engine 2×3285 KW yang ditenagai dua mesin.
Sementara untuk persenjataan, hanya diproyeksikan untuk self defence. LST ini mengandalkan meriam Bofors kaliber 40/L70 mm yang ditempatkan pada bagian haluan. Kemudian ada kanon PSU kaliber 20 mm, serta dua unit SMB (senapan mesin berat) kaliber 12,7 mm.
Secara umum KRI Teluk Lada-521 sanggup dimuati 113 ABK (anak buah kapal), enam orang kru helikopter, dan pasukan sebanyak 361 personel. Untuk mengantar pasukan Marinir ke pantai, LST ini dapat membawa 4 unit LCVP (Landing Craft, Vehicle, Personnel). Untuk memudahkan loading logistik dan cargo, pada bagian depan anjungan juga dilengkapi crane.
KRI Teluk Lada-521 diluncurkan ke laut menggunakan airbag system. Penggunaan airbag system punya beberapa keunggulan dibanding slipway system yang mengadopsi konstruksi rel. Pastinya dalam hal investasi, airbag system jauh lebih murah ketimbang membangun konstruksi rel yang permanen.
Nama KRI Teluk Lada-521 diambil dari nama lokasi teluk yang terletak di Selat Sunda, di sisi barat daya Provinsi Banten. Teluk ini adalah bagian laut yang membatasi sisi utara Ujung Kulon. Teluk Lada pernah menjadi daerah pelabuhan yang cukup ramai sebelum letusan besar Gunung Krakatau tahun 1883. Kala itu ia masih dinamakan dengan bahasa Belanda, Pfeferbai. Setelah disapu tsunami, daerah itu dinyatakan tertutup untuk pemukiman dan sisi selatannya kemudian dikembangkan menjadi cagar alam. (Bayu Pamungkas)

Orderan Bahrain Hidupkan Lini Produksi F-16 Lockheed Martin

Irvan Dwi P 16:00 Add Comment
Lini Produksi F-16 Lockheed Martin
Lini Produksi F-16 Lockheed Martin 

Fox News (28/6) memberitakan bahwa orderan Bahrain dengan jumlah 16 unit F-16 Block 70 telah menyelamatkan lini produksi F-16 di Amerika Serikat. Awalnya, Lockheed Martin menawarkan F-16 ke India, Indonesia, Bahrain, dan Abu Dhabi namun belum menemukan pembeli.
Lini produksi di Forth Worth Texas pun terpaksa dibongkar supaya ada perluasan fasilitas produksi untuk jet tempur F-35 Lightning II. Lockheed Martin pun pusing karena tidak ada lagi yang mau membeli F-16, AU AS pun sudah tidak lagi membeli unit baru dan untuk modifikasi dilakukan sendiri.
Wacana menyebutkan bahwa perkakas produksi ini akan digeser ke India saja sekalian mendukung fabrikasi lokal kalau F-16 jadi dibeli ratusan unit oleh India.
Namun orderan Bahrain mengubah wacana India itu. Lockheed Martin pun mendirikan fasilitas baru di Greenville dan menyewa 200 tenaga kerja baru untuk menyelesaikan order yang berhasil menghidupkan kembali lini produksi F-16 tersebut.
Menurut Susan Ouzts selaku wakil presiden program F-16 mengatakan bahwa “Kami menghargai hubungan jangka panjang dengan Kerajaan Bahrain dan menunggu aktivitas produksi jet tempur F-16V Block 70 di fasilitas kami di Greenville.” (Aryo Nugroho)

Latihan Laut terbesar di Dunia Dimulai di Hawaii

Irvan Dwi P 14:00 Add Comment
RIMPAC 2018
RIMPAC 2018 

Lebih dari lima puluh kapal dan kapal selam dari 26 negara berkumpul di Joint Base Pearl Harbor–Hickam untuk memulai latihan angkatan laut terbesar di dunia, RIMPAC 2018, yang dimulai tanggal 27 Juni.
Berlangsung di sekitar Kepulauan Hawaii dan Southern California, latihan Rim of the Pacific (RIMPAC) dijadwalkan akan berakhir pada 2 Agustus, setelah lebih dari satu bulan interaksi secara profesional.
Ini adalah pertama kalinya Brasil, Israel, Sri Lanka dan Vietnam berpartisipasi dalam RIMPAC. Brasil sebelumnya direncanakan bergabung dengan RIMPAC 2016 tetapi dibatalkan sesaat sebelum latihan dimulai, karena "komitmen penjadwalan yang tak terduga".
Latihan tahun ini termasuk kekuatan dari 26 negara, di antara angkatan laut yang berkontribusi dalam latihan tersebut adalah Australia (dengan kapal-kapal yang dipimpin oleh LHD HMAS Adelaide), Kanada (dengan dua frigat, dua kapal patroli dan AOR Asterix baru), Chili (dengan frigat Almirante Lynch), Prancis (dengan frigate Prairial yang sebelumnya juga mengikuti RIMPAC 2016), India (dengan frigate INS Sahyadri), Indonesia (dengan KRI Raden Eddy Martadinata dan KRI Makassar), Jepang (diwakili oleh kapal induk JS Ise), Malaysia (dengan frigat KD Lekiu), Meksiko (dengan kapal pendarat tank ARM Usumacinta), Belanda, Selandia Baru (dengan HMNZS Te Mana), Peru (dengan BAP Ferré), Republik Korea (dengan kapal selam kelas ROCS Park Wien Chang Bogo dan kapal perusak), Republik Filipina (dengan frigate BRP Andres Bonifacio dan dermaga pendarat amfibi Davao del Sur), Singapura (dengan RSS Tenacious) dan Angkatan Laut AS dengan sejumlah kapal dan kapal selam dengan kapal induk USS Carl Vinson sebagai pucuk pimpinan.
Edisi latihan tahun ini akan menjadi yang pertama kalinya negara non-founding RIMPAC (Chili) akan memegang posisi komandan komponen. Tahun ini juga akan menampilkan live firing rudal Long Range Anti-Ship Missile (LRASM) dari pesawat Angkatan Udara AS, rudal permukaan-anti kapal oleh Pasukan Bela Diri Darat Jepang, dan Naval Strike Missile (NSM) dari sebuah peluncur pada bagian belakang truk dengan Palletized Load System (PLS) oleh Angkatan Darat AS.
Ini menandai pertama kalinya unit darat akan berpartisipasi dalam acara live fire selama RIMPAC. RIMPAC 18 juga akan mencakup acara Pameran Inovasi.
Selain itu, untuk pertama kalinya sejak RIMPAC 2002, Pusat Komando Armada ke-3 AS akan pindah dari San Diego ke Pearl Harbor untuk mendukung komando dan kendali semua pasukan Armada ke-3 di wilayah tanggung jawab Armada ke-3 termasuk operasi depan di Pasifik Barat. Pusat Komando Armada akan dibentuk pada komando dan kendali bersama di Hospital Point untuk bagian pertama dari latihan dan kemudian dialihkan ke USS Portland (LPD 27) untuk sisa latihan.
Diselenggarakan oleh Armada Pasifik AS, RIMPAC 2018 akan dipimpin oleh Komandan Armada 3 AS, Vice Adm. John D. Alexander, yang akan bertindak sebagai komandan combined task force (CTF).
Rear Adm. Bob Auchterlonie dari Angkatan Laut Kanada akan bertindak sebagai deputi komandan CTF, dan Adm Hideyuki Oban dari Pasukan Bela Diri Maritim Jepang sebagai wakil komandan CTF.
Pasukan Marinir akan dipimpin oleh Brigadir Jenderal Mark Hashimoto dari Korps Marinir AS. Pimpinan penting lainnya dari pasukan multinasional tersebut adalah Commodore Pablo Niemann dari Angkatan Laut Chili, yang akan memimpin komponen maritim, dan Commodore Udara Craig Heap dari Angkatan Udara Australia, yang akan memimpin komponen udara.
RIMPAC 2018 adalah latihan ke 26 dalam seri yang dimulai pada tahun 1971. (Angga Saj  - TSM)

Perjalanan Terwujudnya Senapan Serbu Nasional Buatan Pindad

Irvan Dwi P 12:00 Add Comment
SS2 V4HB (Heavy Barrel) Pindad
SS2 V4HB (Heavy Barrel) Pindad  
Bila ditarik mundur ke belakang, sebelum lahirnya senapan serbu kebanggaan nasional SS-1 (1984) dan SS-2 (2001), maka senapan serbu laras panjang atau assault rifle pertama buatan dalam negeri adalah senapan SP-1 (Senjata Panjang 1) yang merupakan modifikasi dari senapan serbu Beretta BM-59 Mk.1 buatan Italia.
SP-1 mengadopsi amunisi kaliber 7,62 x 51 mm dengan sistem operasi gas operated, rotating bolt. Menganut sistem bidik konvensional rear aperture dan front post. Panjang totalnya 109 cm dengan berat mencapai 4.4 kg.
Senapan laras panjang ini dipilih menjadi senapan serbu standar prajurit infanteri TNI pada masa itu. Dalam kurun waktu 1968 hingga 1974, PSM (Pabrik Senjata dan Mesiu, nama lama PT Pindad) telah memroduksi sebanyak 50.000 pucuk SP-1.
Pindad kemudian mengembangkan dan menyempurnakan lebih lanjut dengan melahirkan varian SP-2 yang bisa melepaskan rifle grenade dipasang di ujung larasnya. Lahir pula varian SP-3 yang menggunakan hand grip model baru plus dipasangi bipod penyetabil.
Ketika penetrasi awal Operasi Seroja tahun 1974-1975 dalam rangka penyatuan Timor Timur (kini Timor Leste) ke dalam naungan Republik NKRI, SP-1 sempat diturunkan dalam palagan tersebut.
Namun, banyak kendala yang ditemui selama beroperasi di lapangan. Di antara yang dikeluhkan para prajurit pemakainya adalah selongsong yang kadang tidak keluar, lalu ada picu yang copot hingga kompensatornya terlepas.
Dari pengalaman di lapangan tersebut, maka tercetuslah ide untuk mengembangkan senapan serbu baru yang lebih mumpuni pada 1976. Selang setahun kemudian lahirlah purwarupa yang diidamkan tersebut yang dinamai sebagai SS-77 (Senapan Serbu 1977).
Desain dan sistem kerja SS-77 mengacu pada senapan serbu Armalite AR18 dengan sistem mekanik gas operated, rotating bolt. Kapasitas peluru dalam magasen sebanyak 30 butir dengan kaliber 5,56 x 45 mm. Mode penembakan keduanya adalah Safe-Semi-Auto.
Selain versi standar dengan laras panjang, SS-77 juga dibuatkan dalam versi karabin (berlaras pendek) dengan popor model lipat. Tahun 1979, SS-77 dikembangkan lebih lanjut dengan menggunakan peluru kaliber 7,62 x 51 mm menjadi SS-79 (Senapan Serbu 1979).
Berdasarkan keberhasilkan pengembangan SS-77 dan SS-79 pihak TNI AD dan Hankam berniat mengadopsinya sebagai senapan standar infanteri TNI pengganti SP-1 seperti yang direncanakan sebelumnya.
Namun, berdasarkan pertimbangan yang dikeluarkan BPPT tahun 1982, bahwa untuk memroduksi sendiri senapan ini dari awal (dari nol) memerlukan waktu kurang lebih hingga delapan tahun lamanya dan biaya litbang yang dikembangkanpun terlalu tinggi.
Sebagai jalan pintas untuk menghemat biaya dan jangka waktu, BPPT pun mengusulkan untuk membuat lisensi senapan serbu yang sudah ada di pasaran yang sudah terbukti ketangguhan dan kehandalannya di lapangan.
Saat itu sebanyak enam jenis senapan serbu dievaluasi pada tahap pertama. Dari hasil uji coba yang dilakukan terpilih tiga calon kuat yakni HK33 buatan Jerman, M16A1 buatan Amerika Serikat dan FNC dari Belgia.
HK33 menjadi favorit utama, namun karena tidak menggunakan sistem mekanik gas operated melainkan sistem delayed blow back, teknologi yang rumit dan mahal, serta beberapa komponen terutama laras belum memungkinkan untuk dibuat di dalam negeri, akhirnya senapan ini batal dipiliih.
Sementara M16A yang menjadi kandidat kedua persyaratnnya terlalu ketat. Mulai dari peluru, komponen utama sistem mekanis dan laras yang harus diimpor langsung dari Amerika Serikat. Lalu penggunaan senjata untuk operasi militer harus seizin Konggres AS serta maksimal produksi dibatasi untuk 150.000 pucuk senapan saja. Senapan ini pun akhirnya batal dipilih.
Akhirnya, diputuskan FNC (kandidat ketiga) menjadi pemenang dan kemudian dijadikan senapan serbu infanteri modern resmi yang digunakan seluruh kesatuan Tentara Nasional Indonesia.
Keputusan memilih senapan serbu FNC karena kemudahan yang diberikan prinsipal dalam hal ini FN Herstal SA dari Belgia yang bersedia memberikan alih teknologi hingga 100 persen.
Pertimbangan utama lainnya, karena senapan serbu FNC telah mengadopsi laras kisar 7 inci dengan peluru SS-109 yaitu pelor inti baja atau full metal jacket yang telah menjadi standar NATO.
Selanjutnya, atas kesepakatan yang dilakukan BPPT mewakili Pemerintah Indonesia dengan FN Herstal SA Belgia sebagai prinsipal pada Februari 1983, Pindad harus memroduksi sebanyak 200.000 pucuk senapan FNC sebagai syarat minimal. Setelah itu tidak perlu membayar royalti lagi pada pihak prinsipal.
Pada tahap awal assault rifle untuk TNI ini didatangkan langsung dari Belgia. Baru tahun 1984 setelah semua persiapan di jalur produksi beres, senapan serbu FNC mulai diproduksi di pabrik PT Pindad yang berlokasi di Kiara Condong, Bandung. Senapan serbu ini kemudian menyandang nama resmi SS-1 (Senapan Serbu 1). (Rangga Baswara)

Estonia Pesan Howitzer Swa-gerak 155mm buatan Korea Selatan

Irvan Dwi P 10:00 Add Comment
Howitzer Swa-gerak 155mm buatan Korea Selatan
Howitzer Swa-gerak 155mm buatan Korea Selatan 

Estonia telah menandatangani kontrak dengan grup Hanwha Korea Selatan untuk mengakuisisi 12 sistem artileri K9 Thunder, layanan pers Kementerian Pertahanan Republik Estonia mengumumkan pada hari Selasa (26/06).
"Pengadaan artileri ini akan membawa kemampuan pertahanan Estonia ke tingkat yang baru dan merupakan salah satu langkah paling signifikan dalam membangun kemampuan manuver lapis baja," kata Kolonel Rauno Sirk, direktur Pusat Investasi Pertahanan Estonia (ECDI). "Estonia akan memiliki sistem senjata dengan senjata yang paling kuat, yang dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan wajib militer dan cadangan, dan yang dapat diandalkan dan bergerak dalam kondisi ekstrim sekalipun."
Howitzer pertama dijadwalkan tiba di Estonia pada tahun 2020, ECDI mengumumkan.
Menurut kesepakatan itu, perusahaan Korea Selatan akan memasok dua belas howitzer swa-gerak beroda rantai K9 Thunder 155 mm/kaliber-52 di bawah kontrak senilai € 46 juta.
Proses pemilihan sistem artileri yang paling sesuai untuk kondisi Estonia dimulai pada tahun 2016. Dalam prosesnya, para ahli dari Pasukan Pertahanan Estonia (EDF), Kementerian Pertahanan Estonia dan ECDI menilai berbagai sistem senjata, dan hasil dari analisis menunjukkan bahwa K9 Thunder adalah sistem artileri swa-gerak paling modern dengan kemampuan tempur terbaik, menurut siaran pers. (Angga Saja - TSM)

Jepang Ungkapkan Pengembangan Howitzer Swa-gerak 155mm Baru

Irvan Dwi P 08:00 Add Comment
Howitzer Swa-gerak 155mm
Howitzer Swa-gerak 155mm  

Kementerian Pertahanan Jepang telah mengkonfirmasi rencana untuk mengganti howitzer FH-70 yang telah menua dan telah mengungkapkan rincian tentang howitzer swa-gerak baru beroda ban.
Menurut pernyataan Kementerian Pertahanan Jepang, Badan Akuisisi, Teknologi, dan Logistik (ATLA) Kementerian Pertahanann Jepang sedang mengembangkan howitzer swa-gerak beroda ban baru untuk menggantikan howitzer tarik FH-70 untuk Angkatan Darat Bela Diri Jepang (JGSDF).
Rincian mengenai prototipe pertama sistem artileri swa-gerak 155mm berdasarkan chassis kendaraan 8×8 tersebut dirilis di situs resmi Kementerian Pertahanan Jepang.
Sistem artileri baru itu merupakan gabungan dari chassis truk dengan dengan meriam jarak-jauh 155mm kaliber 52 yang dilengkapi dengan perangkat perhitungan, navigasi inersial dan sistem pembidik didalamnya.
Kendaraan memiliki panjang maksimum 11,4m, tinggi 3,4m dan lebar 2,5m. Jumlah awak untuk mengoperasikannya secara umum adalah lima personel, meskipun tiga orang dapat mengelola fungsi senjata dan fungsi kendaraan dalam keadaan darurat. (Angga Saja - TSM)

Jet Tempur Su-30MKI untuk AU India Jatuh

Irvan Dwi P 06:00 Add Comment
Jet Tempur Su-30MKI untuk AU India Jatuh
Jet Tempur Su-30MKI untuk AU India Jatuh 

Sebuah jet tempur Sukhoi Su-30MKI yang sedianya untuk Angkatan Udara India jatuh kemarin siang (27/06) ketika tengah menjalani test flight. Kedua pilot berhasil melontarkan diri dengan selamat sebelum pesawat itu jatuh.
Pesawat tempur multi-role bermesin jet ganda itu jatuh dekat perkebunan di desa Wavi-Tushi, 25 km dari Nashik pada pukul 11.05 siang, PTI melaporkan mengutip pejabat polisi yang mengatakan pada Rabu. Beberapa buruh tani yang bekerja di perkebunan di mana pesawat jatuh, terluka setelah terkena serpihan dan dirawat di rumah sakit di Pimpalgaon, kata polisi.
Jet tempur Sukhoi Su-30MKI yang jatuh adalah pesawat yang dibuat oleh Hindustan Aeronautics Limited atau HAL di Nashik. Pesawat itu masih menjalani tes dan belum diserahkan ke Angkatan Udara India. Pesawat itu, yang dikembangkan oleh Sukhoi Rusia dan dibangun di bawah lisensi oleh Hindustan Aeronautics Limited (HAL), sebelumnya lepas landas dari landasan udara HAL dekat Nashik/
Kedua pilot yang berhasil melontarkan diri sebelum pesawat itu jatuh merupakan personil Angkatan Udara India.
Menurut kantor berita IANS, narasumber mengatakan bahwa kecelakaan pesawat Sukhoi itu mungkin terjadi karena kesalahan teknis. Investigasi secara rinci telah diperintahkan.
Pejabat tinggi Angkatan Udara India di stasiun Angkatan Udara Ojhar, serta polisi telah mencapai lokasi kecelakaan itu.
Pesawat Su-30MKI pertama masuk kedinasan AU India pada akhir 1990-an. Sejak itu, setidaknya telah terjadi delapan kecelakaan menimpa pesawat sejenis. Penyebab kecelakaan sebagian besar karena kegagalan teknis. (Angga Saja - TSM)

Story : Kerahkan Banyak Pesawat untuk Rebut Kembali Indonesia, Tapi Dalam 1 Tahun Aset Militer Belanda Malah Jadi Milik Republik

Irvan Dwi P 04:00 Add Comment
P-51D Mustang
P-51D Mustang 
Pada 19 Desember 1948, militer Belanda melancarkan agresi militer yang kedua dan dalam waktu singkat Indonesia pun berhasil dikuasai.
Saat itu kekuatan militer RI mudah dilumpuhkan karena Belanda mengerahkan pesawat-pesawat tempurnya dalam jumlah besar dan pasukannya terdiri dari tentara yang sudah berpengalaman dalam PD II.
Tapi serbuan kilat pasukan Belanda untuk menguasai RI ternyata tidak berlangsung lama.
Berkat perlawanan gigi dari pasukan RI dan gerilyawan yang didukung rakyat pada 29 Juni 1959 Belanda terpaksa menarik mundur semua pasukan dari RI.
Namun mengingat jarak antara Indonesia dan Belanda yang begitu jauh tidak semua perlatan milliter Belanda bisa dibawa pulang dan sebagian besar malah ditinggalkan serta dihibahkan ke RI.
RI yang saat itu bernama Republik Indonesia Serikat (RIS) secara resmi menerima semua aset yang ditinggalkan Belanda sesuai hasil keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 2 November 1949.
Pesawat-pesawat yang sekitar setahun lalu (1948) digunakan Belanda untuk menyerang Indonesia otomatis menjadi milik RIS.
Demikian pula para personel AU Belanda (Militaire Luchtvaart/ML) yang terdiri dari sekitar 10.000 orang dan merupakan penduduk pribumi juga langsung menggabungkan diri dengan AURIS.
Menurut KMB, AURIS akan melikuidasi AU Belanda dalam waktu relatif singkat, selambat-lambatnya enam bulan terhitung setelah pengakuan kedaulatan.
Tapi KSAU saat itu, Marsekal Suryadarma bertindak cepat dengan mengeluarkan petunjuk khusus pada tanggal 19 Januari 1950.
Petunjuk khusus ini mengatur tentang pengibaran Bendera Merah Putih di seluruh pangkalan udara, penyerahan pangkalan udara baik menyangkut personel maupun peralatan dan pesawat yang ada di dalamnya, termasuk juga semua hal yang berkaitan dengan operasi penerbangan.
Tak lama setelah KMB, KSAU juga mengeluarkan surat keputusan yang isinya berupa penunjukan personel untuk memimpin pangkalan yang tersebar di beberapa daerah.
Kehadiran seorang komandan juga diperlukan untuk mempermudah proses transisi dari ML ke AURIS, khususnya menyangkut memberikan penjelasan kepada personel ML yang ingin bergabung dengan AURIS.
Salah seorang perwira yang diberi tanggung jawab adalah Mayor Udara Wiweko Soepono.
Tokoh penerbangan ini dipercaya memimpin Lanud Andir, Bandung. Andir merupakan pangkalan udara yang pertama diserahterimakan dari ML kepada AURIS, yakni pada 20 Januari 1950.
Namun demikian penyerahan hanya berlaku bagi lokasi pangkalan di sisi utara saja. Sedangkan pangkalan di sebelah selatan baru diserahkan pada 2 Juni 1950.
Waktu itu Andir merupakan salah satu pangkalan udara terlengkap di kawasan Pasifik Barat Daya.
Selain sebagai home base skadron tempur dan sejumlah pesawat militer Belanda lainnya. Andir juga menjadi pusat pemeliharaan pesawat militer, fasilitas teknik pesawat dan banyak lagi.
Realisasi penyerahan Andir dilakukan secara bertahap. Pada awal Maret 1950 diserahkan fasilitas penerbangan termasuk sebuah hanggar, tiga pesawat C-47 Dakota, tiga pesawat latih L-4J Piper Cub.
Tiga bulan kemudian, tepatnya 12 Juni, seluruh Lanud Andir beserta sejumlah besar pesawat pemburu, pembom, transpor, dan latih diserahkan kepada AURIS.
Dari pihak ML, penyerahan diwakili oleh Mayor EJ Van Kuppen dan diterima oleh Komandan Lanud Andir Wiweko Soepono yang merangkap sebagai Ketua Sub Panitia Penerimaan Materil dan Personel dari ML. Upacara disaksikan oleh pejabat militer dan sipil dari kedua belah pihak.
Selain pangkalan, sarana dan prasarana yang diserahkan kepada AURIS meliputi sebuah hanggar, bengkel pemeliharaan pesawat, dan sejumlah pesawat.
Di antaranya tujuh Piper Cub, delapan Harvard, 36 Dakota, 25 pembom B-25 Mitchel, 12 pesawat angkut Lockheed (L-12), dan 28 pesawat pemburu P-51 Mustang.
Pada akhir acara penyerahan, dilakukan penggantian tanda kepangkatan sejumlah anggota yang berasal dari ML dan kemudian memilih bergabung dengan AURIS.
Proses serah terima dari ML ke AURIS ternyata berjalan lancar. Dalam waktu relatif singkat AURIS berhasil melakukan konsolidasi yang dalam sejarah TNI AU dikenal sebagai Program Kerja Kilat.
Program ini intinya adalah bahwa AURIS diberi mandat dalam waktu singkat untuk menyusun organisasi Angkatan Udara dalam bentuk sementara yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi.
Program ini direncanakan harus sudah selesai pada tahun 1951. Seperti berpacu dengan waktu, AURIS juga sudah memiliki markas besar yang berlokasi di Jakarta disusul dibekukannya organisasi dengan status langsung berada di bawah Menteri Pertahanan.
Jauh sebelum itu, KSAU juga sudah mengeluarkan surat keputusan berupa pembentukan sejumlah skadron udara.
Yaitu meliputi skadron intai laut, transport, pemburu, intai darat dan skadron intai sedang.
Karena begitu banyaknya pesawat diperoleh dari ML, setiap skadron diperkuat oleh setidaknya 20 pesawat, kecuali skadron intai laut yang berkekuatan hanya 12 pesawat.
Jika tidak diserang oleh Belanda melalui agresi kedua, RI sebenarnya tidak mungkin memiliki semua pesawat-pesawat tempur itu dalam waktu singkat.
Jadi agresi militer kedua Belanda yang hanya bertahan selama 1 tahun itu ternyata merupakan ‘berkah dan sekaligus rezeki nomplok’ bagi RI.
Pasalnya hampir semua peralatan militer Belanda, khususnya pesawat-pesawat tempur menjadi milik RI dalam waktu singkat. (Agustinus Winardi)
(Sumber: Pesawat Kombatan TNI AU Edisi Koleksi Angkasa No.72 2011)

Militer AS Kembangkan Lapisan Pelindung Kapal Selam

Irvan Dwi P 02:00 Add Comment
Kapal Selam
Kapal Selam 

Peneliti militer Amerika Serikat telah mengembangkan lapisan bodi kapan selam yang dapat membantu untuk meluncur dalam air dengan mudah. Lapisan tersebut terbuat dari bahan kimia yang jernih, sebagaimana dilansir laman Daily Mail, 25 Juni 2018.
Mereka telah menganalisis ratusan kombinasi dan menemukan campuran yang tepat untuk lapisan tersebut. Lapisan ini juga dapat menahan goresan, penyok, dan bahaya lain dari penggunaan sehari-hari.
Cairan tersebut adalah karya seorang profesor ilmu dan teknik material dari Universitas Michigan Anish Tuteja dan didukung oleh The Office of Naval Research (ONR). Menariknya, omniphobik dapat mengurangi gesekan atau resistensi yang diciptakan pergerakan melalui air pada kapal selam.
Lapisan yang disebut omniphobik itu diklaim dapat menghemat biaya bahan bakar kapal. Menurut Angkatan Laut Amerika, bahan tersebut menjadikan kapal tahan lama, karena selain anti air, juga anti minyak, alkohol dan selai kacang.
"Persentase signifikan dari konsumsi bahan bakar kapal hingga 80 persen pada kecepatan yang lebih rendah dan 40-50 persen pada kecepatan tinggi," ujar petugas program di ONR Sea Warfare and Weapons Department Ki-Han Kim.
Jika kapal ingin mengurangi gesekan secara drastis, kata Kim, kapal akan mengkonsumsi lebih sedikit bahan bakar atau daya baterai. Dan dapat beroperasi dalam rentang lebih lama.
Selain mengurangi gesekan, penemuan tersebut diharapkan dapat melindungi peralatan bernilai tinggi seperti sensor, radar, dan antena dari cuaca. Selain lapisan omniphobik untuk mengurangi gesekan tarik, ONR juga mendukung penelitian lain untuk mencegah korosi pada kapal dan pesawat dan melawan biofouling.
Lapisan tersebut dapat mencegah es yang terbentuk pada kapal yang beroperasi di daerah dingin. Atau membuat mudah untuk memindahkan es dibadingkan metode konvensional seperti pengikisan.

AU Israel (IAF) Kembali Terima 3 Jet Tempur F-35 dari AS

Irvan Dwi P 00:00 Add Comment
Jet Tempur F-35 Israel
Jet Tempur F-35 Israel 

Angkatan Udara Israel mengumumkan tiga jet tempur F-35 baru yang mereka pesan telah mendarat di pangkalan militer.
Diwartakan Times of Israel Senin (25/6/2018), jet tempur yang dikenal dengan nama Ibrani Adir, berarti Yang Terkuat, itu mendarat di Pangkalan Nevatim.
AU Israel (IAF) menyebut jet tempur siluman generasi kelima itu mendarat di pangkalan yang terletak di selatan Israel itu Minggu siang (24/6/2018) waktu setempat.
Dengan kedatangan tiga F-35, IAF melansir total Israel memiliki 12 pesawat dan telah membentuk Skuadron Golden Eagle.
"Dalam waktu dekat, jet tempur F-35 tersebut bakal berpartisipasi dalam kegiatan operasional angkatan udara," kata IAF dalam pernyataan resmi.
Israel mulai menerima F-35 dari Amerika Serikat ( AS) sejak Desember 2016 dari total 50 unit yang sudah disepakati.
Untuk mendapatkan 50 unit tersebut, Israel harus menggelontorkan 7,2 miliar dolar AS, atau sekitar Rp 101,7 triliun.
Pada 22 Mei lalu, Komandan IAF Mayjen Amikam Norkin mengklaim Israel adalah negara pertama yang menggunakan F-35 dalam operasi sungguhan.
Norkin menunjukkan sebuah gambar yang memperlihatkan F-35 di Beirut, Lebanon, dan menyatakan pesawat itu sudah melakukan serangan di dua tempat berbeda.
"F-35 bukanlah mainan. Pesawat ini adalah pengubah keadaan Nantinya, kami berencana menambah pembelian kami menjadi 75 unit," kata Norkin.
Pesawat buatan pabrikan senjata Lockheed Martin itu disebut sebagai program termahal yang pernah dibuat oleh Negeri "Paman Sam".
Sebab, hingga masa program berakhir pada 2070 mendatang, AS total harus mengeluarkan dana sebssar 1.508 triliun dolar AS.
Pesawat dengan kecepatan maksimal hingga 1,6 Mach, setara dengan 1.960 km per jam tersebut menuai kritikan baik dari AS maupun sekutunya.
Sebab, harga pesawat tersebut dianggap mahal, yakni mencapai 100 juta dolar, atau sekitar Rp 1,4 triliun, per unit.
Sebuah blog militer terkemuka pada 2015 mengulas kelemahan F-35. Dikatakan bahwa jet tersebut tidak mampu melakukan manuver.
F-35 tidak bisa mengalahkan F-16 Fighting Falcon dalam pertempuran jarak dekat.
Pesawat itu juga mempunyai masalah soal keterbatasan pandangan pilot.
Analis menyatakan, karena pengembang terlalu memperhatikan sistem siluman, diyakini efektivitas F-35 dalam pertempuran udara menjadi tereduksi. (Ardi Priyatno Utomo)

Mengenal Radwar N-22, Mobile Surveillance Radar yang Pernah Ditawarkan ke Indonesia

Irvan Dwi P 22:00 Add Comment
Radwar N-22
Radwar N-22 

Radwar N-22, jenis mobile surveillance radar buatan Polandia yang pernah ditawarkan kepada TNI. Meski akhirnya tak diakuisisi oleh Indonesia, namun tak pelak keberadaan N-22 menjadi identitas yang tak terlupakan dalam Indo Defence 2004 di JIE Kemayoran, Jakarta dahulu.
Sosoknya terbilang masif dengan antena menjulang, sontak wahana mobile radar dengan cat hijau ini menjadi maskot utama dalam perhelatan pameran militer terbesar dua tahunan di Indonesia kala itu.
Dibanding jenis mobile surveillance radar yang dioperasikan TNI, jelas Radwar N-22 tampil beda. N-22 terlihat garang karena mengusung platform heavy truck Tatra 815 8×8. Dibangun laksana kendaraan tempur, bagian kompartemen pengemudi dan ruang operator radar dibalut dengan material tahan terjangan peluru.
Dirunut dari spesifikasinya, Radwar N-22 digadang sebagai radar jenis 2D dengan jangkauan menengah. Perannya lebih ditekankan untuk urusan taktis guna memandu baterai Satuan Tembak rudal atau kanon Arhanud. Namun menurut pihak Radwar, N22 juga dapat difungsikan untuk menutup gap coverage antar radar militer.
N-22 masih menggunakan antena model parabolic reflector, bentang reflektornya adalah 4,2 x 3,1 meter. Radarnya sendiri beroperasi pada frekuensi S-band dengan pulse repetition frequency (PRF) 1000 Hz dan kecepatan rotasi antena 10/24 RPM. Jarak jangkau intai radar ini adalah 100 km dengan ketinggian deteksi maksimum 7.000 meter. Di Polandia, N-22 diperankan sebagai elemen pendukung pada rudal hanud jarak sedang 9M33M3 (Osa-A).
N-22 dibangun dari pengembangan jenis mobile radar N-21, debut produksi N-22 dimulai sejak 1990 oleh Radwar, yang saat ini telah menjadi Pit-radwar. Saat ini N-22 telah ditawarkan dalam varian yang lebih maju, N-22N yang punya kemampuan sebagai radar 3D yang dapat menjangkau sasaran di ketinggian 30.000 meter. (Haryo Adjie)

MBT Leopard 2A6 dan IFV Marder Brigade Demonstrasi Lapis Baja ke-9 AD Jerman (Bundeswehr) Jadi Inti Pasukan NATO

Irvan Dwi P 20:00 Add Comment
MBT Leopard 2A6
MBT Leopard 2A6 

Panzerlehrbrigade 9 (9th Armour Demonstration Brigade) Bundeswehr atau Brigade Demonstrasi Lapis Baja ke-9 Angkatan Darat (AD) Jerman ditunjuk sebagai komponen inti Satuan Tugas Darat Kesiapan Sangat Tinggi (Very High Readiness Joint Task Force Land/VJTFL) dari Pasukan Reaksi NATO (NATO Response Force/NRF). MBT Leopard 2A6 dan IFV Marder brigade ini pun mengaum keras di Kota Schnöggersburg.
Penunjukan (sertifikasi) tersebut diberikan kepada Panzerlehrbrigade 9 Bundeswehr selama berlangsungnya latihan gabungan bersama Belanda dan Norwegia pada tanggal 9 dan 19 Juni lalu di sebuah pusat latihan tempur yang berlokasi di Altmark, Jerman.
Latihan tersebut melibatkan total sekitar 1.700 pasukan dari tiga negara dan mengerahkan lebih dari 80 ranpur lapis baja (armoured fighting vehicle/AFV).
Inti satgas yang berjumlah lebih dari 8.000 kekuatan ini berasal dari Panzerlehrbataillon 93 (93rd Armour Demonstration Battalion) atau Batalyon Demonstrasi Lapis Baja ke-93 Panzerlehrbrigade 9.
Komposisi lain yang mengisi ini kekuatan inti tersebut berasal dari lima batalyon AD Jerman (termasuk pasukan medis), Batalyon Infanteri Lapis Baja ke-45 AD Kerajaan Belanda dan Batalyon Telemark AD Norwegia.
Kendaraan lapis baja yang turun ke gelanggang latihan adalah tank tempur utama (main battle tank/MBT) Leopard 2A6 dan ranpur infanteri (infanteri fighting vehicle/IFV) milik AD Jerman, Leopard 2A4 dan IFV CV9030 AD Norwegia serta IFV CV9030 AD Belanda.
Latihan kali ini termasuk melaksanakan sesi latihan serangan cepat di Kota Schnöggersburg yang disiapkan oleh MBT dan pasukan infantry lapis baja Belanda, dengan pasukan infanteri lapis baja Jerman dan ranpur infanteri ringan Norwegia yang terlibat simulasi pertempuran dari rumah ke rumah.
Satgas reaksi cepat NATO ini akan mendemonstrasikan mobilitas lintas batas mereka dalam Latihan ‘Trident Juncture 18’ NATO di Norwegia pada Oktober-November mendatang sebagai lanjutan dari seri latihan di Jerman bulan ini. (Ery)

Dua Unit NC212i dari PTDI Diserahterimakan ke AU Filipina

Irvan Dwi P 18:00 Add Comment
Dua Unit NC212i dari PTDI Diserahterimakan ke AU Filipina
Dua Unit NC212i dari PTDI Diserahterimakan ke AU Filipina 

Disaksikan Menteri Pertahanan (Menhan) RI Jenderal TNI (Pur) Ryamizard Ryacudu, hari ini (Selasa, 26/6/2018) dua unit pesawat NC212i dari PT Dirgantara Indonesia (PTDI) diserahterimakan ke Angkatan Udara Filipina melalui Kemhan Filipina di Haribon Hangar, Clark Air Base, Mabalacat City, Pampanga, Filipina.
Direktur Utama PTDI Elfien Goentoro menyerahkan kedua pesawat tersebut kepada Secretary Delfin N Lorenzana dari Departemen Pertahanan Nasional Filipina dan kemudian diserahan ke Komandan Jenderal Angkatan Udara (Danjen AU) Filipina Letjen Galileo Gerard R Kintanar JR AFP sebagai end user (pengguna).
Pengiriman kedua NC212i itu merupakan Proyek Akuisisi Pesawat Terbang Angkut Ringan Bersayap Tetap di bawah Program Modernisasi Angkatan Bersenjata Republik Filipina.
Keunggulan yang dimiliki pesawat NC212i akan memberikan keuntungan yang besar untuk meningkatkan kesiapan dari Angkatan Udara Filipina dalam mendukung berbagai misinya, seperti: Pertahanan Teritorial; Keamanan dan Stabilitas; Bantuan Kemanusiaan dan Penanggulangan Bencana; serta Pertahanan Internasional dan Keterlibatan Keamanan.
“Dengan menyerahkan kedua pesawat ini, diharapkan kita dapat memenuhi kebutuhan Angkatan Udara Filipina dan kami juga sangat berharap kedua pesawat ini memiliki peran penting dalam mendukung segala pesyaratan operasi Angkatan Udara Filipina. Selanjutnya, kami berharap dapat memperkuat hubungan antara dua negara melalui skema G2G yang solid,” ungkap Elfien.
Kedua pesawat NC212i yang diserahkan ke AU Filipina telah sepenuhnya dikerjakan oleh PTDI. Hingga kini, total pesawat seri NC212 yang telah diproduksi PTDI sebanyak 114 unit. Sejak bulan Oktober 2011, PTDI adalah satu-satunya industri pesawat terbang di dunia yang memproduksi pesawat NC212i.
Terhadang Thunderstorm, Pesawat NC212i Sempat Tertahan di Puerto Princesa Sebelum Sampai di Clark Air Base
Seperti kita ketahui, dua unit pesawat NC212i pesanan Kementerian Pertahanan Filipina telah sampai ke tangan Angkatan Udara (AU) mereka hari ini (Selasa, 26/6/2018). Nah, ada kisah yang perlu anda simak dibalik misi ferry flight kedua pesawat tersebut. Seperti apa kisahnya?
PT Dirgantara Indonesia (PTDI) berhasil melakukan ferry flight dua unit pesawat NC212i dengan kode registrasi AX-2119 dan AX-2120 untuk AU Filipina dari Bandara Internasional Husein Sastranegara, Bandung, Indonesia menuju Clark Air Base, Mabalacat City, Pampanga, Filipina pada 8 Juni lalu.
Pimpinan misi ferry flight, Capt. Esther Gayatri Saleh yang merupakan Chief Test Pilot PTDI menjadi Pilot in Command (PIC) penerbangan pesawat beregistrasi AX-2119. Ia ditemani Ervan Gustanto sebagai First Officer (FO) dan Ir. Nurcholis sebagai Flight Test Engineer (FTE).
Sementara pesawat dengan registrasi AX-2120, penerbangannya dipimpin Capt. Adi Budi Atmoko yang didampingi Capt. Zulda Hendra sebagai First Officer (FO) serta Ir. Mula F Butar Butar sebagai Flight Test Engineer (FTE).
Rute penerbangan yang dilalui kedua pesawat yakni, Husein Sastranegara, Bandung - Syamsudinnoor, Banjarmasin - Juwata, Tarakan - Puerto Princessa, Filipina - Clark Air Base, Mabalacat City, Pampanga, Filipina.
Kedua pesawat tiba di DAP, 420th Supply Wing, PAF, Clark Air Force Base (Air Force City), Pampanga, Filipina pada 14 Juni. Semula direncanakan pesawat akan tiba di Filipina pada tanggal 10 Juni. Keterlambatan ini terjadi lantaran pesawat sempat tertahan di Puerto Princesa karena terkendala masalah cuaca (terhadang badai).
Kemudian pada tanggal 19 Juni 2018 dilakukan Flight Acceptance Test dengan subject test yang sudah disepakati bersama, salah satunya adalah one engine in operative dan air start performance.
Flight Acceptance Test ini dipimpin Capt. Esther. Pesawat NC212i dengan kode registrasi AX-2119 terbang selama 1 jam 55 menit, sedangkan pesawat NC212i kode registrasi AX-2120 terbang selama 1 jam 15 menit.
Flight Acceptance Test tersebut kemudian diterima oleh dua pilot AU Filipina, Major Ronald dan Major Amora.
PTDI meraih kontrak pengadaan dua NC212i ini pada akhir 2013, kemudian ditindaklanjuti dengan penandatanganan kontrak senilai 18 juta dolar AS pada 2014. (Ery)

Radar Fire Finder "Sapta Pangrungu" (HALO) Pusdik Armed TNI AD

Irvan Dwi P 16:00 Add Comment
Radar Fire Finder "Sapta Pangrungu" (HALO)
Radar Fire Finder "Sapta Pangrungu" (HALO) 

Kecepatan untuk mengetahui posisi asal tembakan lawan menjadi poin penting dalam gelar tempur Artileri Medan (Armed). Pasalnya dengan diketahuinya posisi asal tembakan, maka akan memudahkan untuk dilakukannya tembakan artileri balasan.
Dalam duel artileri, lintasan proyektil howitzer dan roket dapat diukur dan dianalisa oleh masing-masing kubu, maka tak heran bila di Armed dikenal jenis self propelled howitzer dan MLRS (Multiple Launch Rocket System), yang selain unggul dalam deployment, juga dapat lebih cepat untuk menggeser posisi steling guna menghindari tembakan balasan dari lawan.
Menyadari pentingnya mengetahui posisi asal tembakan secara cepat, TNI AD lewat Dislitbangad telah memberi perhatian khusus. Sebagai buktinya pada Pameran Alutsista TNI AD tahun 2013 di Lapangan Monas, Pusdik Armed TNI AD memperkenalkan sosok radar Fire Finder yang terpasang di kontainer rantis 4×4.
Secara teori radar Fire Finder dapat memancarkan sinyal dengan kelebaran sebaran 45 derajat dengan jarak 5.000 meter. Karena tampil di garda depan pertempuran, sifat radar ini harus punya mobilitas tinggi dan mendapat perlindungan. Sistem radar ini dapat dioperasikan oleh 2 awak (1 pengemudi dan 1 operator). Menghadapi eskalasi pertempuran yang panjang, radar ini pun dirancang untuk dioperasikan secara terus menerus sesuai kebutuhan operasi, salah satunya dengan dukungan genset. Secara umum, data yang dihasilkan dari radar Fire Finder mencakup kaliber proyektil, kecepatan lintasan, waktu terbang, titik jatuh, dan kedudukan senjata asal proyektil.
Dalam simulasi pertempuran, respon data dari Fire Finder harus mendapat penanangan cepat dari Satbak (Satuan Tembak), ini tak lain guna menghindari berpindahnya posisi meriam lawan setelah melakukan aksi penembakan. Nah, berangkat dari kebutuhan akan elemen kecepatan dan mobilitas, sistem Fire Finder harus dibuat lebih ringkas dan kompak, maklum unit pencari posisi asal tembakan harus bergerak gesit, yang terkadang harus melintasi medan berat di lokasi peperangan.
Berangkat dari kebutuhan di atas, Dislitbangad dan Laboratorim Sistem Kendali & Komputer Institut Teknologi Bandung (ITB) merancang wahana yang disebut “Sapta Pangrungu.” Tampil dalam platfom rantis Komodo KIT 250AT, Prototipe Sapta Pangrungu (Halo) digadang dengan misi serupa radar Fire Finder. Meski sama-sama punya tugas untuk mengetahui titik atau posisi asal tembakan lawan, namun Sapta Pangrungu tidak mengadopsi azas radar, melainkan mengandalkan teknologi rambatan suara dengan frekuensi tertentu untuk mendeteksi koordinat lokasi dan jenis meriam musuh.
Dikutip dari laman defsec.lskk.ee.itb.ac.id, disebutkan bahwa Sapta Pangrungu digunakan sebagai alternatif pengganti Taktik Tasmo/Art yang sudah ada. Dalam gelarnya, antar sistem HALO (client dan server) terhubung dengan menggunakan Long Range Aerial Communication secara otomatis. Unit Sapta Pangrungu juga dapat diintegrasikan dengan peran drone untuk verifikasi visual pada sasaran. (Bayu Pamungkas)

Australia Beli Drone Pengintai Triton

Irvan Dwi P 14:00 Add Comment
MQ-4C Triton
MQ-4C Triton 

Pemerintah Australia berkomitmen untuk membeli enam pesawat drone pengintai jarak jauh Northrop Grumman MQ-4C Triton senilai $ 1,4 miliar.
Perdana Menteri Malcolm Turnbull pada hari ini (26/06) mengumumkan pembelian pesawat tanpa awak Triton pertama di negara itu, sebagai bagian dari program bersama Angkatan Laut Amerika Serikat. Sydney Morning Herald telah melaporkan bahwa perkiraan biaya seluruh armada dan infrastruktur yang terkait akan berjumlah hampir $ 7 miliar.
"Triton akan melengkapi peran pengawasan P-8A Poseidon melalui operasi berkelanjutan pada jarak jauh serta mampu melakukan berbagai tugas intelijen, pengawasan dan pengintaian," kata Perdana Menteri Australia.
Investasi awal senilai $ 1,4 miliar dalam sistem Triton juga akan mencakup $ 364 juta untuk fasilitas baru di pangkalan-pangkalan RAAF di Edinburgh dan Tindal, serta sistem kontrol darat, dukungan, dan pelatihan yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan proyek ini.
Northrop-Grumman MQ-4C Triton dirancang untuk melakukan pengawasan maritim terus menerus atas wilayah pesisir dan lautan yang luas. Drone tersebut dapat terbang hingga 30 jam pada ketinggian 55.000 kaki (17.000 meter).
Sensor pengintaian utamanya adalah radar AESA X-band AN/ZPY-3 Multi-Function Active Sensor (MFAS), yang mampu menangani bidang 360 derajat, memungkinkan MQ-4C Triton untuk mensurvei wilayah laut dengan luas lebih dari 7 juta kilometer persegi dalam periode 24 jam. (Angga Saja - TSM)

Saktinya Jet Tempur F-15SA AU Saudi Arabia, 1 Pesawat Mampu Membawa 12 Unit Rudal AIM-120 AMRAAM

Irvan Dwi P 12:00 Add Comment
Jet Tempur F-15SA AU Saudi Arabia
Jet Tempur F-15SA AU Saudi Arabia 

Seperti diberitakan oleh The Drive (26/6), pabrikan Boeing diketahui tengah memamerkan F-15SA, varian Eagle tercanggih pesanan Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi (RSAF). F-15SA ini istimewa karena daya tampung senjata varian ini dinaikkan dengan aktivasi cantelan atau pylon di posisi nomor 1 dan 9.
Aktivasi cantelan ini berimbas pada daya tampung senjata, dimana F-15SA bisa difungsikan sebagai elang buas yang membawa lebih dari 10 rudal. Dalam aksinya di Star Wars Canyon, dua buah F-15SA menunjukkan kapasitas maksimal membawa 12 unit rudal AIM-120 AMRAAM di bawah sayap dan bodinya.
Asal tahu saja, 1 F-15SA mampu membawa 12 unit AIM-120 AMRAAM ini sama dengan sepertiga dari jumlah AMRAAM yang dimiliki oleh TNI Angkatan Udara, yang memesan 36 unit AIM-120C7 seperti dirilis oleh DSCA.
F-15A yang salah satunya dikelir streak orange ini lepas landas dari Plant 42 di Palmdale, California, membawa 12 AMRAAM, pod navigasi LANTIRN, dan sistem IRST Tiger Eye untuk mendeteksi kehadiran pesawat siluman, dan pod penanda sasaran Sniper XR. (Aryo Nugroho)

Korea Selatan Beli Pesawat Patroli Maritim Poseidon

Irvan Dwi P 10:00 Add Comment
Pesawat Patroli Maritim Poseidon
Pesawat Patroli Maritim Poseidon 

Korea Selatan pada hari Senin (25/06) memutuskan untuk membeli pesawat patroli maritim P-8 Poseidon dari perusahaan pertahanan AS Boeing dalam proyek senilai 1,7 miliar dolar AS, kata badan akuisisi militer Seoul.
Administrasi Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan (DAPA) mengatakan bahwa komite promosi proyek pertahanan Seoul telah bersidang untuk membuat keputusan untuk membeli pesawat tersebut melalui program foreign military sale (FMS) antar pemerintah.
"(Kami telah memutuskan) untuk membeli pesawat patroli maritim terbaru untuk melakukan operasi patroli, search-and-rescue melalui program FMS dari pemerintah AS, dengan mempertimbangkan biaya, jadwal waktu, kemampuan serta aspek hukum," kata DAPA dalam siaran pers.
Sebelum keputusan itu muncul, kompetisi terjadi dengan tawaran pesawat patroli maritim dari Airbus Defense & Space dari Eropa dan Saab dari Swedia yang mengekspresikan niat mereka untuk memenangkan proyek akuisisi pertahanan besar pertama sejak pemerintahan Moon Jae-in mengambil alih pada Mei tahun lalu.
Di tengah prospek kontes multi-pihak, beberapa pengamat mengatakan bahwa proyek tersebut harus diserahkan pada penawaran terbuka, yang dapat membantu menurunkan harga.
Namun seorang pejabat DAPA mengatakan bahwa pemerintah AS mengusulkan harga yang masuk akal untuk pesawat Boeing yang mirip dengan pesawat Swordfish dari Saab.
"Jika kami memilih kontes terbuka, harga Poseidon akan naik 10 hingga 28 persen per unit, yang akan melampaui total anggaran," kata pejabat itu tanpa menyebut nama.
"Tampaknya pesawat yang dapat kami beli pada titik waktu ini adalah P-8A, dan kami yakin tidak ada masalah dengan keputusan pembelian tersebut," tambahnya.
Militer Korea Selatan berkeinginan untuk memiliki sejumlah pesawat maritim yang tidak disebutkan jumlahnya antara tahun 2022 dan 2023.
DAPA berencana mengirim letter of request (LOR) untuk proyek pengadaan tersebut ke Washington pada bulan ini. Tetapi sumber mengatakan proyek itu dapat ditunda jika pemerintah AS gagal memberikan letter of offer and acceptance (LOA) melalui proses persetujuan kongres pada bulan November.
P-8 Poseidon dibangun berdasarkan pada pesawat penumpang jarak dekat-menengah 737-800ERX. Pesawat tersebut mampu melakukan berbagai misi, termasuk operasi anti kapal permukaan, anti kapal selam, intelijen, pengawasan dan pengintaian. (Angga Saja - TSM)

Radar Acak