Army-2018: Mi-35M, Varian Ekspor Mi-24 Berkonsep Helikopter Serang dan Serbu Modern

Mi-35M
Mi-35M 

Salah satu kelebihan dari helikopter serang Mi-24 atau versi ekspornya yang diberi kode Mi-35, adalah karena heli ini memadukan konsep heli serang (attack) dengan heli serbu (assault) dalam satu platform. Artinya, heli untuk menyerang sasaran darat ini juga sekaligus mampu membawa personel penyerbu di kabinnya. Umumnya, heli serang hanya diawaki oleh pilot dan penembak (gunner) saja.
Mi-35M buatan Russian Helicopters melalui pabrik Mil Moscow Helicopter Plant dan Rostvertol, merupakan heli turunan dari Mi-24 untuk versi ekspor yang telah dimodernisasi. Heli Mi-24/35 yang didesain untuk operasi militer dan digunakan sebagai basis pengembangan Mi-35M, telah mendapat sambutan positif di pasar internasional karena terbukti ampuh di medan penugasannya.
“Heli ini dirancang sangat baik dan telah membuktikan kiprahnya di banyak medan operasi militer,” kata Anatoly Serdyukov, Direktur Industri Aviation Cluster dari Rostec State Corporation kepada media di Kubinka, Wilayah Moskow beberapa waktu lalu.
Dari sisi perlengkapan, Mi-35M merupakan peningkatan dari Mi-35P (Mi-24V) seperti yang Indonesia (TNI AD) miliki. Heli ini dilengkapi dengan sistem penglihatan generasi ketiga matriks gelombang panjang thermal imager OPS-24N-1L, kamera TV, dan laser rangefinder.
Versi upgrade Mi-35P juga dilengkapi sistem kontrol penerbangan otomatis PKV-8 yang dapat membantu otomasi penerbangan. Selain itu, heli ini dilengkapi juga dengan sistem komputerisasi dan penglihatan modern yang dapat meningkatkan akurasi tembakan terhadap sasaran.
Kelebihan dari Mi-35M, karena opsi-opsi perlengkapan yang disediakan semakin banyak dibanding Mi-35P. Heli ini dapat di-upgrade lebih jauh sehingga mampu membawa rudal udara ke udara Igla-S dan sistem pertahanan terpadu President-S untuk melawan sistem senjata antipesawat berplatform rudal jinjing (MANPADS).
Data kelengkapan lain yang penulis terima dari Russian Helicopters, adalah sistem VOR/ILS dan radio rangefinder untuk mengukur jarak antara helikopter dengan basis suar di darat.
Andrey Boginsky, CEO Russian Helicopters menandaskan, Mi-24/35 telah berpengalaman selama lebih 30 tahun dalam penggunaan di wilayah-wilayah konflik militer di banyak negara.
“Dengan banyaknya pengalaman yang dijalani oleh helikopter ini, kami bisa menyempurnakan hal-hal yang dibutuhkan dengan menambahkan persenjataan serta avionik yang baru,” ujar Boginsky.
Mi-35M dilengkapi beragam senjata konvensional maupun senjata berpemandu (guided weapons). Heli ini mampu melakukan serangan terhadap sasaran dari ketinggian rendah 10-25 meter di atas permukaan tanah pada siang hari dan dari ketinggian 50 meter pada malam hari.
Heli ditenagai mesin turboshaft VK-2500 buatan pabrik Klimov dan menggunakan rotor utama berbahan fibreglass dengan sistem sambungan kepala elastomeric serta bentuk baru swashplate. Sementara untuk rotor ekor tetap mempertahankan model X.
Untuk kapasitas angkut, Mi-35M mampu membawa delapan personel pasukan bersenjata lengkap di kabinnya. Heli ini mampu membawa muatan 1,5 ton di bagian kabin internal dan 2,4 ton kargo esternal menggunakan sling.
Dari sisi dimensi, Mi-35M memiliki panjang keseluruhan 21,6 m, bentang sayap 6,5 m, dan tinggi 6,5 m.
Turet senjata di bagian hidung dapat menampung dua laras kanon kembar GSh-23V kaliber 23 mm dengan 450 putaran amunisi. Dalam satu menit, senjata ini dapat memuntahkan 3.400-3600 peluru.
Beragam persenjataan maupun tanki bahan bakar tambahan dapat dibawa pada pod senjata yang ditempatkan di bagian stub wings dengan ukuran lebih pendek dari pendahulunya.
Seri Mi-35M mulai diproduksi sejak 2005. Selain digunakan oleh Angkatan Udara Rusia, heli ini juga dimiliki oleh Venezuela, Brasil, Azerbaijan, Nigeria, Kazakhstan, dan Mali. (Roni Sontani)

Politeknik Kodiklatad TNI AD Tampilkan Corner Shot Pistol

Politeknik Kodiklatad TNI AD
Corner Shot Pistol Politeknik Kodiklatad TNI AD 

Untuk melengkapi persenjataan lini pasukan khusus, corner shot jelas bukan barang baru lagi, guna menghadapi Pertempuran Jarak Dekat (PJD) atau CQB (Close Quarter Battle), beberapa satuan elite TNI sudah mengadopsi corner shot. Namun corner shot dalam label “Corner Shot” yang digunakan TNI saat ini masih buatan luar negeri. Berangkat dari kebutuhan operasi PJD, Politeknik Kodiklatad TNI AD di Malang, telah merilis corner shot pistol yang dibuat berdasarkan penelitian dan produksi internal.
Resminya corner shot Kodiklatad masih berstatus prototipe, dan termasuk dalam proyek Litbanghan TNI AD tahun 2016. Tak berbeda dengan Corner Shot lansiran Israel, senjata khas perang urban ini dapat memberikan lindung tinjau dan lindung tembak. Sementara dari aspek persenjataan, corner shot buatan TNI AD ini dapat dipasangkan dengan tiga jenis pistol, yaitu Glock all series, Pindad G2 Combat dan G2 Elite, kesemuanya adalah pistol di kaliber 9 mm. Sebagai perbandingan, Corner Shot yang digunakan satuan elite TNI saat ini dapat dipasangkan dengan pistol Glock 17/19, SiG Sauer P226/P228, Bull Grand Cherokee, Beretta 92F, dan FN Fiveseven.
Bagian ‘laras’ yang bisa ditekuk (dibelokkan) ke kiri dan ke kanan jelas menjadi ciri corner shot Kodiklatad. Penembak yang terlatih, dapat membelokkan bagian laras ke kanan dan kiri secara cepat, masing-masing sudut dapat dibelokkan 60 derajat dengan mekanisme traversing.
Selain ‘laras’ yang dapat ditekuk, komponen vital dari sistem senjata ini adalah teknologi kamera. Politeknik Kodiklatad memilih kamera dengan tipe wireless mini DVR. Ukuran LCD screen-nya 2,5 inchi dengan resolusi 800×480 pixels. Sebagai sumber tenaga, dipercaya baterai 5V DC dengan kekuatan 3200 mAh. Dengan daya baterai yang ada, corner shot ini dapat digunakan non stop selama lima jam. Guna mendukung peperangan di malam hari, teknologi corner shot ini telah dilengkapi enam lampu LED (tactical light) yang dapat menjangkau jarak delapan meter.
Corner shot ini ditampilkan dalam Pameran Bursa Litbang Pertahanan di Gedung Balitbang Kementerian Pertahanan, Pondok Labu, Jakarta Selatan (28-29 Agustus 2018). Dari desain, terlihat perancang corner shot tetap ingin memperlihatkan ciri khas senapan serbu SS-1, terlihat dari rancangan popor lipatnya.
Secara umum, bobot corner shot tanpa pistol adalah 3,2 kg. Sementara bila dipasangkan dengan pistol Glock G-17 maka bobotnya menjadi 3,85 kg; kemudian dengan Pindad G2 Combat menjadi 4,1 kg; dan dengan Pindad G2 Elite menjadi 4,15 kg. Bila direntangkan, panjang keseluruhan corner shot mencapai 920 mm. (Haryo Adjie)

Bekerja Sama dengan Rusia dan China, Turki Siap Produksi Pesawat Siluman Bersama

Su-57 

Sebagai negara penyumbang investasi dan riset pesawat siluman F-35 sekaligus anggota NATO dan sekutu AS di kawasan Timur Tengah, Turki memang berhak mendapat jatah sekitar 100 unit pesawat tempur generasi ke-5, F-35 Lightning II yang dibuat di pabrik Lockheed Martin AS.
Turki sendiri merasa kecewa berat setelah upaya memiliki jet tempur Siluman F-35 dari AS yang tinggal dikirim tenyata dibatalkan sepihak oleh Kongres AS dan Pentagon.
Awal mulanya Turki berniat membeli sistem pertahanan rudal S-400 dari Rusia setelah ditolak ingin membeli rudal Patriot buatan AS. Hubungan AS-Turki akhirnya memanas dan berakibat pada penghentian pengiriman F-35 ke Turki.
Keinginan Turki untuk memiliki F-35 sebenarnya membuat gusar sekutu AS di Timur Tengah (Israel) terlepas dari pembelian sistem pertahanan udara S-400 dari Rusia.
Pasalnya Turki dikhawatirkan akan menyaingi superioritas udara Israel di kawasan Timur Tengah dan negara-negara di Eropa Timur.
Turki bahkan bukan hanya ingin menyaingi Israel dalam soal kekuatan udara tapi juga ingin menggempur Israel.
Selain itu, rupanya Turki di bawah pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan, nampaknya sudah mulai bosan untuk bersekutu dengan NATO dan AS karena sering dirugikan.
Salah satu ulah AS yang membuat Presiden Erdogan marah besar adalah keterlibatan AS yang melnyokong pembrontak Kurdi dan melindungi pentolan tokoh kudeta dalam aksi untuk menggulingkan kekuasaan Erdogan pada tahun 2016. AS sendiri sampai saat ini memiliki pangkalan militer di Incirlik, Turki.
Setelah peristiwa itu kini Turki justru makin akrab dengan Rusia yang dalam konflik di Suriah sama-sama menggempur teroris ISIS.
Langkah Turki memutuskan membeli sejumlah rudal-rudal S-400 Rusia, tentu saja mengejutkan AS dan NATO karena manuver Erdogan itu mencerminkan tindakan yang ‘mbalelo’.
Pasalnya sebagai anggota NATO dan sekutu AS, Turki memang dilarang keras membeli persenjataan dari Rusia, negara yang justru sedang diembargo ekonomi oleh AS dan sekutunya.
Rusia diembargo ekonomi oleh AS dan sekutunya karena menguasai wilayah Krimea (2014) secara tidak sah menurut Barat dan Ukraina.
Turki yang berang terhadap ulah AS karena menghentikan pengiriman F-35, telah membuat Turki melangkah lebih jauh dalam hubungannya dengan pihak lain yakni Rusia.
Pada akhir bulan Juli 2018, Turki dan Rusia malah sudah sepakat untuk membangun kerja sama militer. Khususnya untuk memproduksi jet-jet tempur siluman secara bersama.
Langkah Presiden Erdogan untuk bekerja sama memproduksi pesawat siluman dengan Rusia tentu akan membuat AS dan NATO makin berang.
Pasalnya Presiden Erdogan seperti sudah tidak mau tergantung lagi dalam soal kepemilikan persenjataan dengan NATO dan AS.
Turki bahkan menekankan demi memperkuat pertahanan nasionalnya, program kerja sama untuk memproduksi pesawat siluman juga akan melibatkan China.
Sikap Presiden Erdogan itu jelas membuat hubungan dengan AS-NATO makin merenggang dan tinggal menunggu waktu saja kapan untuk ‘bercerai’ dari NATO. (AW)

Ukraina Bersiap Hadapi Gempuran Pasukan Darat Rusia dengan Peluncur Granat Demon Drone

Peluncur Granat Demon Drone
Peluncur Granat Demon Drone 

Salah satu ciri khas pasukan darat Rusia ketika menyerbu musuh adalah mengerahkan pasukan infanteri dalam jumlah besar di belakang barisan tank.
Selain sebagai pelindung pasukan yang sedang bergerak maju, tank-tank Rusia juga berfungsi sebagai pendobrak benteng pertahanan lawan.
Jika benteng pertahanan lawan sudah bisa didobrak maka mengalirlah pasukan darat Rusia menggunakan kendaraan-kendaraan angkut personel, helikopter, dan kendaraan mekanis lainnya lainnya.
Pola serangan darat pasukan Rusia itu sangat dikenal baik oleh pasukan Ukraina karena dulu pernah menjadi satu negara di bawah bendera Uni Soviet.
Ukraina lepas dari Uni Soviet pada 1990-an tapi pada tahun 2014, negara ini terancam berperang melawan Rusia, setelah wilayah Crimea Ukraina diambil sepihak oleh Rusia lewat referendum yang dimenangkan kelompok Pro Rusia.
Pertempuran antara pembrontak yang di dukung Rusia dan tentara pemerintah Ukraina memang pernah meletus tapi mereda setelah pasukan NATO dan AS ikut campur.
Hingga saat ini baik pasukan pembrontak yang didukung Rusia maupun tentara Ukraina yang didukung NATO dan AS sudah dalam posisi saling berhadapan.
Apalagi kedua kekuatan militer yang saling mengintai itu secara rutin menggelar latihan perang agar pasukannya selalu dalam kondisi siap tempur.
Ukraina sendiri berusaha memproduksi beragam senjata mulai dari rudal jelajah hingga peluncur granat yang sewaktu-waktu bisa digunakan bertempur melawan pasukan Rusia.
Untuk menghadapi gempuran pasukan darat Rusia, Ukraina bahkan sudah memproduksi drone-drone penggendong peluncur granat yang dinamai Demon Drone (Drone Setan).
Dalam peperangan nanti, drone-drone Setan yang diproduksi oleh pabrik senjata Ukraina, Matrix UAV, itu akan digunakan untuk menghajar pasukan darat Rusia yang berada di dalam kendaraan angkut personel, titik-titik perkubuan lawan, markas lawan, dan lainnya.
Drone Setan yang bisa dikendalikan dari jarak 10 km itu dimonitor melalui layar komputer.
Selain bisa menggendong peluncur granat juga bisa membawa senapan mesin ringan, bom seberat 5 kg, dan amunisi ke pasukan yang sedang bertempur.
Meski drone-drone setan Ukraina bisa dilumpuhkan menggunakan tembakan senapan mesin, jika dikerahkan dalam jumlah banyak, benda-benda yang bisa terbang tanpa suara itu diharapkan akan membuat pasukan darat Rusia kalang-kabut. (AW)
Sumber  : TSM

Israel Dilaporkan Sembunyikan 300 Senjata Nuklir Miliknya di Bawah Laut

Angkatan Laut Israel
Angkatan Laut Israel 

Secara resmi Israel tidak pernah mengakui memiliki senjata nuklir, namun menurut sebuah penelitian diyakini Israel memilikinya.
Senjata global berhulu ledak nuklir saat ini berada pada 16.300, turun hampir 1.000 sejak 2013.
Jumlah senjata operasional saat ini adalah sekitar 4.000, menurut data tahunan yang dirilis oleh Lembaga Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI).
Senjata nuklir global didominasi oleh dua kelas berat, nuklir Amerika Serikat dan Rusia yang secara bersama-sama memiliki lebih dari 90 persen persenjataan nuklir di dunia.
Sedangkan kekuatan terbesar pemilik nuklir saat ini adalah Rusia 8.000 dengan hulu ledak selanjutnya AS dengan kekuatan nuklir 7.300 hulu ledak.
Secara keseluruhan, sembilan negara diyakini memiliki senjata nuklir adalah AS, Rusia, Inggris, Perancis, China, India, Pakistan, Israel, dan Korea Utara.
Menariknya, Israel juga disebut didalamnya meski negara ini tidak pernah mengakui secara resmi memiliki senjara nuklir.
Menurut laporan yang diterbitkan di Swedia, Israel adalah gudang nuklir dengan 80 hulu ledak, namun laporan lain dari Jane's Defence Weekly menyebut Israel memiliki 100 hingga 300 hulu ledak.
Kapasitas tersebut diyakini sama dengan yang dimiliki oleh militer Inggris saat ini.
Israel adalah satu-satunya kekuatan nuklir di Timur Tengah, program nuklirnya secara bertahap dikembangkan dengan bantuan Perancis, dan itu berpusat di reaktor Dimona di selatan Negev.
Pada tahun 1986, seorang teknisi dari pabrik Dimona, Mordechai Vanunu, mengungkapkan rinciannya kepada dunia tentang program nuklir negaranya.
Sebaliknya, Israel juga diyakini secara diam-diam telah mengembangkan sendiri senjata nuklir yang berbasis di lautan, seperti diwartakan National Interest.
Pada tahun 2000 Angkatan Laut AS mendeteksi peluncuran uji rudal jelajah berbasis kapal selam (SLCM) milik Israel di Samudera Hindia, dengan target mencapai 930 mil.
Senjata ini secara umum diyakini sebagai Turbo Popeye, adaptasi dari rudal jelajah udara yang diluncurkan oleh subsonic dengan hulu ledak nuklir 200 kiloton.
Dugaan lain menyebut senjata ini secara terselubung, disematkan pada kapal selam Dolphin milik Israel yang telah menyerang pelabuhan Suriah, Latakia, dengan rudal jelajah konvensional pada tahun 2013.
Kapal selam ini memiliki ketangkasan berenang lebih cepat, dan mampu berenang di bawah air dengan sangat tenang pada kecepatan rendah selama berminggu-minggu.
Namun, bukan berarti senjata ini digunakan untuk melakukan serangan dengan tenang melalui bawah laut, tetapi mereka bisa menggunakannya untuk berpatroli dan pencegahan nuklir jangka panjang.
Meski pun memiliki banyak kelebihan, ada suatu kendala geografis yang mengurangi kepraktisan kekuatan nuklir Israel.
Menurut laporan saat ini hanya ada satu target yang bisa dituju, yaitu Iran, sementara Teheran terletak hampir dalam jangkauan kapal selam Israel sepanjang 930 mil.
Namun, ancaman nuklir yang diluncurkan oleh laut mungkin lebih ditujukan untuk senjata politik daripada ditujukan untuk keefektifan militernya. (Afif Khoirul M)

Brazil Operasikan Kapal Induk Helikopter PHM Atlantico (A140)

 Kapal Induk Helikopter PHM Atlantico (A140)
 Kapal Induk Helikopter PHM Atlantico (A140) 

Angkatan Laut Brazil segera mengoperasikan kapal induk pengangkut helikoter terbaru. Kapal induk PHM Atlantico (A140) ini tiba di Rio de Janeiro pada 25 Agustus 2018.
Brazil membeli kapal bekas pakai AL Inggris HMS Ocean (L12) yang memiliki bobot 21.578 ton dan panjang 203 m.
PHM Atlantico dibeli dengan nilai 108,7 juta dolar AS pada 19 Februari lalu sebagai bagian dari program strategis Obtaining Full Operational Capability.
HMS Ocean pensiun dari jajaran AL Inggris pada 27 Maret dan diresmikan sebagai PHM Atlantico di HMNB Devonport di Plymouth, Inggris pada 29 Juni.
Dengan paket pembelian cepat ini, PHM Atlantico masih membawa sistem lama beserta perlengkapannya.
Termasuk sistem radar Artisan, KH1008, dan radar KH1007, meriam DS30M Mk2 30 mm, sistem komando DNA(2), dan empat kapal pendarat Mk5B.
Yang tidak masuk ke dalam paket penjualan adalah CIWS Phalanx Block 1B 20mm, sistem datalink, terminal komunikasi satelit, electronic support measures system, torpedo, senapan mesin 7,62 mm M134, dan decoy launchers 130 mm. (Beny Adrian)

PT PAL Indonesia Kejar Pendapatan dari Kapal Perang

Buatan PT PAL Indonesia
Buatan PT PAL Indonesia 

PT PAL menargetkan pendapatan sebesar Rp 2,4 triliun pada 2018. Jumlah itu naik dua kali lipat dari angka pendapatan perusahaan pelat merah tersebut di 2017, Rp 1,2 triliun. Namun catatan penulis, pendapatan PT PAL di semester I 2018 masih jauh dari target yakni masih 23%.
Sekretaris Perusahaan PT PAL Rariya Budi Harta menjelaskan saat ini PT PAL berfokus untuk mengerjakan kapal perang. Menurutnya permintaan kapal perang meningkat setelah sebelumnya pada 2016 PT PAL mengekspor dua kapal jenis strategic sealift vessel (SSV) ke Filipina.
“Masing-masing harganya kira US$ 45 juta sampai US$ 50 juta,” katanya kepada penulis pada Sabtu (25/8).
Saat ini, kata Rariya, pihaknya juga kedatangan permintaan dari Benua Afrika yakni Senegal. Tak hanya itu, PT PAL juga sedang mengerjakan pesanan TNI AL untuk jenis kapal landing platform dock.
Selain mengerjakan pembangunan kapal, PT PAL juga menjadi tempat perbaikan kapal-kapal milik angkatan laut, termasuk untuk jenis kapal selam.

F-35, Jet Tempur Canggih Berjuluk Lightning II yang Ternyata Takut Disambar Petir

F-35B Lightning II
F-35B Lightning II 

Task and Purpose (28/8) memberitakan bahwa ironi terbesar dari F-35 selain biaya pengembangannya yang sangat bengkak adalah namanya sendiri, Lightning II alias si petir. Nyatanya, jet tempur canggih ini ternyata takut disambar petir!
Hal ini terlihat dari F-35B milik USMC, dimana Korps Marinir AS ternyata mencari sistem penangkal petir portabel untuk mengamankan F-35B yang saat ini diparkir di MCAS (Marine Corps Air Station) Iwakuni di Jepang.
Alasan kenapa F-35B membutuhkan penangkal petir adalah karena F-35B merupakan jet tempur komposit yang tidak dilengkapi sistem perlindungan petir, sehingga butuh sistem perlindungan petir saat F-35 digelar di lapangan.
Sistem perlindungan petir yang bisa melindungi F-35 dari lonjakan tegangan listrik dan daya yang ditimbulkan sambaran petir saat ini masih diuji intensif dan belum akan diterapkan setidaknya dalam tahun ini.
Sambaran petir sendiri bisa merusak komponen vital pesawat termasuk ALIS, sistem yang mencatat kondisi kesehatan F-35. (Aryo Nugroho)

Tak Laku-Laku, Rantis Arwana Pindad Berakhir Jadi Sasaran Tembak Tank Medium

Rantis Arwana Pindad
Rantis Arwana Pindad  

Diberitakan Arcinc.id (27/8), Kesuksesan uji tembak tank medium Pindad tak lepas dari ‘tokoh’ di belakang layar yang jadi sasaran tembaknya. Ya, tak sekedar lesan kertas, uji tembak tank medium harus pula dilakukan terhadap kendaraan lapis baja supaya lebih afdol.
Maksudnya, supaya hasil uji tembaknya sahih, apalagi kalau menguji jenis peluru penembus baja APFSDS (Armor Piercing Fin Stabilised Discarding Sabot), sudah tentu wajib dicarikan sasaran yang bisa mewakili untuk pembuktian.
Nah, rupa-rupanya yang dijadikan sansak itu adalah bodi atau hull rantis Arwana Pindad. Arwana ini pernah dipamerkan dalam Indo Defence 2014 di Kemayoran dengan menggunakan kelir standar Polri karena hendak dipasarkan Pindad sebagai ganti panser Barracuda buatan Doosan Korea Selatan.
Paskhas TNI AU sendiri dikabarkan pernah pula menjajaki Arwana dan pernah diwacanakan dibeli untuk patrol penjaga pangkalan. Namun tahun berganti tahun, Arwana tak kunjung dibeli jua.
Sampai akhirnya hull rantis Arwana 4x4 itu jadi sasaran tembak munisi APFSDS, yang tepat menjebol pintu akses masuk ke dalam kabin kendaraan, yang kini berlubang besar menganga ‘disantap’ taring harimau baja Pindad.
Peluru M1057 TPCSDS-T 105mm Jebol Baja Rantis Arwana Bagai Kertas!
Pengujian kanon 105mm tank medium Pindad tidak sekedar mengandalkan munisi M393A3 HEP-T. Sebagai sebuah tank medium, fungsi asasinya tentu adalah untuk melawan tank lain, entah tank ringan, medium, atau Main Battle Tank sekalian, ayo saja!
Nah, munisi khusus penjebol tank mengandalkan pada munisi APFSDS (Armor Piercing Fin Stabilised Discarding Sabot). Namun mengingat keterbatasan lahan di Cipatat, maka tidak seperti munisi HEP-T/HESH yang menggunakan peluru tajam, maka untuk menguji peluru penjebol tank ini digunakanlah munisi latihnya.
Munisi latih dimaksud adalah peluru TPCSDS-T M1057 buatan Mecar Belgia. Desain munisi ini sudah menggunakan penetrator alias jarum (sub-caliber) berbahan tungsten. Desain ini memungkinkan energi kinetik maksimal diberikan untuk menembus kerasnya lapisan baja tank.
Penggunaan Cone Tail pada peluru M1070 sendiri didesain untuk memperlambat laju penetrator, sehingga jarak jangkau jarum penembus versi latih ini kurang dari 10 kilometer, sehingga aman untuk medan uji yang lahannya terbatas seperti di Cipatat ini.
Namun patut dicatat pula, walaupun namanya munisi latih, sasaran berupa panser Arwana pindad yang ditembak dengan proyektil M1057 ini kena telak dan masih saja tembus di kedua sisinya, tak beda dengan pisau panas menembus mentega! (Aryo Nugroho)

Mengenal Peluru 105mm yang Dipakai Tank Medium Pindad Uji Sertifikasi

Tank Medium Pindad
Tank Medium Pindad  

Tank Medium Pindad melakukan uji sertifikasi tembak yang memasuki hari ketiganya. Dari seluruh tahapan, kemampuan tembak meriam 105mm ini secara umum mampu memenuhi ekspektasi.
Nah, pembaca tentu penasaran dengan jenis peluru yang digunakan untuk sertifikasi kelulusan ini dong? Asal tahu saja, munisi yang digunakan oleh PT. Pindad dan CMI sendiri menggunakan peluru tajam, yang digunakan dalam perang sesungguhnya.
Amunisi 105mm yang dipakai dalam pengujian ini berasal dari tipe Mecar HEP-T M393A3. Peluru ini sendiri berjenis HESH-T atau High Explosive Squash Head-Tracer, peluru yang didesain untuk merontokkan (spalling) dinding dalam baja saat kulit luar sasaran ditumbuk oleh amunisi ini.
Peluru M393A3 ini oleh Mecar diisi dengan bahan peledak Composition A3 yang terdiri dari 91% peledak plastik RDX yang dibungkus dengan 9 persen material lilin. Munisi HESH bagus digunakan untuk menggebuk kendaraan tempur atau panser yang tidak dilindungi dengan balok reaktif atau perlindungan tambahan lainnya. (Aryo Nugroho)

TNI AU Modifikasi Engine 501-D22A menjadi T56-A-15/LFE Pada Pesawat C-130 Hercules

Pesawat C-130 Hercules
Pesawat C-130 Hercules 

Wadan Koharmatau Marsekal Pertama TNI Hadi Suwito, S.E., pimpin Rapat Pembahasan Tindaklanjut Modifikasi Engine 501-D22A menjadi T56-A-15/LFE di ruang rapat Basjir Soerya Mako Koharmatau Senin (27/08/2018). Melalui rapat ini diharapkan dapat mewujudkan sistem pemeliharaan Engine yang lebih efektif, efisien, mantap dan terpadu baik antara masing-masing satuan pelaksana pemeliharaan, maupun satuan pelaksana pemeliharaan dengan satuan atas dan pimpinan sebagai penanggung jawab kebijaksanaan pemeliharaan. Muaranya adalah terjaminnya kesiapan dan keandalan alutsista TNI Angkatan Udara.
Bertambahnya populasi pesawat yang menggunakan Engine T56-A-15/LFE semakin banyak, hal ini berdampak kepada timbulnya permasalahan-permasalahan terhadap kesiapan Engine T56-A-15/LFE. Wadan Koharmatau menyampaikan beberapa alasan yang mendasari diselenggarakannya rapat pembahasan ini:
Pertama: Saat ini pesawat C-130 Hercules TNI AU menggunakan Engine T56 Series dengan tiga jenis Engine yaitu T56-A-7B, T56-A-15/LFE dan 501-D22A, namun dengan adanya program Retrofit dan adanya Instruksi Teknik Udara (ITU) yang diterbitkan oleh Koharmatau nomor 07/7/Mod/C-130 bulan Juli 2008 tentang penggantian dan pemasangan Engine T56-A-15/LFE pada pesawat L-100-30 menyebabkan populasi pesawat yang menggunakan Engine T56-A-15/LFE semakin banyak dan berbanding lurus dengan tuntutan yang tinggi pula terhadap kesiapan Engine T56-A-15/LFE.
Dilain pihak populasi Engine 501-D22A cukup banyak, sedangkan penggunaannya hanya tinggal satu pesawat (A-1314) saja. Untuk mengantisipasi hal tersebut maka perlu diadakan rapat tentang pelaksanaan modifikasi Bare Engine 501-D22A menjadi Engine T56-A-15/LFE agar dukungan kesiapan pesawat C-130 Hercules yang menggunakan Engine T56-A-15/LFE terpenuhi.
Kedua: Arti Modifikasi. Perubahan rekayasa atau konfigurasi terhadap suatu unit, dengan tujuan meningkatkan kemampuan/daya guna dan keamanan dalam penggunaan, memudahkan atau menyederhanakan pengoperasian atau dukungannya.
Ketiga: Bahwa antara Engine 501-D22A dengan T56-A-15/LFE memiliki Persamaan Engine dan Sistim Engine.

Israel Sedang Membuat Sistem Rudal Baru yang Mampu Serang Target Seluruh Timur Tengah

Ilustrasi 

Israel sedang mengerjakan sebuah sistem rudal baru yang mampu mencapai target di mana saja di Timur Tengah. Hal itu disampaikan Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman.
"Produsen senjata milik negara, Israel Military Industries (IMI), akan memberikan sistem terintegrasi yang canggih dalam beberapa tahun, yang memungkinkan serangan yang tepat dengan peluncuran jarak jauh," katanya dalam sebuah pernyataan, hari Senin.
Lieberman menambahkan bahwa kontrak dengan IMI dianggarkan pada kisaran ratusan juta shekel. Nama sistem rudal baru yang sedang dikembangkan ini belum diungkap.
"Proyek untuk menyiapkan roket presisi dan sistem rudal sedang berlangsung. Sebagian sudah dalam produksi dan sebagian lagi dalam fase akhir penelitian dan pengembangan," lanjut Lieberman, seperti dikutip Times of Israel, Selasa (28/8/2018).
"Kami mengakuisisi dan mengembangkan sistem penembak presisi yang akan memungkinkan Pasukan Pertahanan Israel untuk menutupi dalam beberapa tahun setiap titik di wilayah ini."
Israel dianggap sebagai kekuatan militer terkemuka di Timur Tengah dan diyakini sebagai satu-satunya negara di kawasan itu yang memiliki senjata nuklir.
Para ahli militer asing menyatakan bahwa Israel memiliki beberapa baterai rudal balistik Jericho, yang mampu mengirimkan hulu ledak nuklir.
IMI pada tahun 2004 pernah mengatakan bahwa mereka telah menghasilkan rudal jelajah Delilah dengan jangkauan 250 kilometer (150 mil).
Kepala IMI, Yitzhak Aharonovitch, mengatakan pada hari Senin bahwa perusahaannya memiliki susunan sistem roket anti-rudal. "Persenjataan baru itu akan mencerminkan kemampuan teknologi perusahaan, yang mengkhususkan pada kemampuan untuk menembak secara akurat, untuk menyerang di berbagai target darat," katanya.
Korps rudal yang direncanakan ini diyakini akan digunakan dalam serangan ofensif terhadap gudang senjata kelompok Hizbullah Lebanon, yang dianggap memiliki lebih dari 100.000 roket jarak pendek dan menengah.
Dengan senjata yang dikembangkan tersebut, Israel bisa menembak sasaran Hizbullah dari wilayahnya sendiri. (Muhaimin)

Rusia Uji Coba Zirah Generasi Baru untuk Tentaranya

Rusia Uji Coba Zirah Generasi Baru
Rusia Uji Coba Zirah Generasi Baru  

Rusia dilaporkan tengah mengujicoba sebuah exoskeleton bertenaga aktif dengan motor listrik terintegrasi dan baterai penyimpanan. Zirah generasi baru ini akan memungkinkan tentara untuk secara akurat mencapai target dengan senapan mesin yang dipegang dengan satu tangan.
"Kami telah mengadakan uji coba untuk prototipe dari exoskeleton aktif. Ini benar-benar meningkatkan kemampuan fisik seorang tentara. Sebagai contoh, tentara mampu menembak dari senapan mesin hanya dengan satu tangan dan secara akurat mencapai target," kata Kepala Desainer untuk Sistem Dukungan Kehidupan Pakaian Tempur di TsniiTochMash, sebuah kontraktor pertahanan Rusia, Oleg Faustov.
"Dalam waktu dekat, exosuit aktif akan memungkinkan tentara untuk membawa lebih banyak peralatan tempur dan persenjataan, bergerak lebih cepat dan mencapai tujuan tempur dengan lebih efektif," sambungnya, seperti dilansir Tass pada Senin (27/8).
Dia lalu menuturkan, tidak adanya baterai penyimpanan dengan karakteristik yang dibutuhkan masih tetap menjadi masalah utama dalam menciptakan exoskeleton yang bertenaga. Namun, Faustov menyebut pihaknya berusaha untuk memecahkan masalah ini.
Sementara itu, Ketua Komite Militer dan Ilmiah Angkatan Darat Rusia, Alexander Romanyuta menyatakan zirah itu akan mulai ditambahkan dalam peralatan tempur Ratnik-3 'Soldier of the Future' pada tahun 2025.
Saat ini, peralatan tempur Ratnik generasi kedua yang dipasok ke tentara Rusia menggunakan exosuit mekanis pasif tanpa motor listrik. Meskipun tidak meningkatkan kemampuan fisik seorang tentara, zirah yang saat ini dipakai memudahkan tentara saat membawa barang-barang berat. (Victor Maulana)

Kementerian Pertahanan Rusia Mulai Operasikan Mi-28UB

Mi-28UB
Mi-28UB 

Selain melahirkan prototipe helikopter serang terbaru ‘Si Pelahap Tank’ Mi-28NE Night Hunter yang ditampilkan dalam ajang ARMY 2018 di Kubinka pada 21-26 Agustus lalu, Russian Helicopters melalui pabrik Rostvertol terlebih dahulu telah membuat Mi-28UB sebagai heli latih tempur bagi pilot generasi Mi-28NE.
Adalah kesatuan Distrik Militer Selatan yang mulai menguji operasi helikopter ini bertempat di Krasnodar Krai, Kaukasus Utara sejak Juli tahun ini. Heli Mi-28UB yang merupakan pesanan Kementerian Pertahanan Rusia untuk Angkatan Udara Rusia, pertama kali diserahkan dari pihak pabrikan pada November tahun lalu.
Sebelum pelatihan, para pilot melaksanakan proses transisi pada helikopter baru ini di Pusat Latihan dan Operasi Tempur, Army Aviation Flight, di Tver Region. Latihan dimulai dengan kegiatan lepas landas dilanjutkan dengan penerbangan hingga ketinggian satu kilomter di atas permukaan tanah dan setelah itu melaksanakan latihan proses pendaratan.
Selesai menjalani tahapan itu, para pilot kemudian melaksanakan beberapa latihan manuver pada berbagai ketinggian dan kecepatan terbang sekaligus mengecek semua sistem sesuai buku petunjuk. Dilaksanakan pula penerbangan dengan membawa muatan sehingga pilot bisa merasakan betul nantinya ketika heli ini membawa persenjataan.
Tahapan berikutnya yang dilaksanakan, adalah latihan uji penembakan menggunakan heli yang memang dirancang untuk bertempur ini. Tidak hanya sasaran diam, para pilot juga menjalani sesi penembakan sasaran bergerak di mana meraka harus bisa menghancurkan sasaran menggunakan kanon 30 mm, roket 80 mm yang terbungkus pod B8V20A, roket 122 mm dalam pod B13L1, hingga rudal udara ke darat Ataka.
Walau dirancang sebagai heli latih, sejatinya, Mi-28UB adalah heli untuk latih tempur sebagaimana telah disebutkan. Keunggulan persenjataan yang dapat dibawa berkombinasi dengan kemampuan manuver heli di udara menjadi keunggulan tersendiri dari Mi-28UB.
Heli ini juga telah dilengkapi dengan airborne radar untuk ground mapping, deteksi rintangan, dan penjejakan target penembakan.
Pihak Russian Helicopters (bagian dari Rostec) menjelaskan, perbedaan antara Mi-28UB dengan Mi-28NE Night Hunter terletak pada sistem kemudi heli yang bisa dilakukan dari kedua kokpit, baik di kokpit depan maupun kokpit belakang.
Dengan sistem tersebut, instruktur bisa sekaligus mengajari bagaimana siswa pilot transisi melaksanakan penerbangan dan mengambil alih kendali heli dalam keadaan darurat.
Mi-28UB yang melaksanakan penerbangan perdana pada Agustus 2013 di fasilitas Rostov-on-Don ini memiliki kabin kokpit lebih lega dan jendela yang lebih lebar dibanding varian tempur aslinya. Heli ini juga dilengkapi panel sistem untuk simulasi kegagalan fungsi sistem dan cara mengatasinya agar terhindar dari situasi darurat.
Russian Aerospace Force (VKS) akan diperkuat sedikitnya oleh 24 unit heli ini dan akan mengoperasikannya setelah seluruh pengujian selesai dilaksanakan. (Roni Sontani)

Program Jet Tempur Siluman FGFA, Kerjasama Rusia-India Ternyata Masih Berlanjut

Program Jet Tempur Siluman FGFA,
Program Jet Tempur Siluman FGFA, 

Economic Times (26/8) memberitakan bahwa program jet tempur siluman FGFA (Fifth Generation Fighter Aircraft) yang awalnya digagas antara India dan Rusia dan dikabarkan sudah mati, ternyata masih dilanjutkan.
Awalnya India diberitakan mematikan proyek ini karena Rusia dianggap cidera janji dan tidak menepati klausul alih teknologi.
Namun Rusia ternyata akhirnya melunak, dan berjanji melalui perusahaan UAC (United Aircraft Corporation), bahwa mereka akan menyediakan mesin tercanggihnya untuk India.
Mesin itu, dikenal sebagai Idelizye 30 atau Produk 30, adalah mesin yang digadang mampu menjaga sifat siluman dari Su-57 yang akan menjadi cikal-bakal FGFA. Direktur Utama UAC Yuri Slusar mengatakan bahwa India tidak mundur dari proyek FGFA.
Slusar mengatakan bahwa dirinya berharap pembicaraan baru India-Rusia akan diakhiri dengan kesepakatan untuk desain perdana untuk mengembangkan penyempurnaan Su-57. Rusia sendiri nampaknya tidak punya dana lagi untuk mengembangkan Su-57 sehingga India menjadi harapan terakhirnya. (Aryo Nugroho)

Jobaria MCL, Peluncur Multi Roket Terbesar Dunia Buatan Roketsan Turki

Jobaria MCL
Jobaria MCL 

Perusahaan teknologi pertahanan Turki, Roketsan, mencatat rekor dengan membuat mobil peluncur multi roket terbesar.
Ada empat peluncur roket terpasang di atas kendaraan truk beroda sepuluh, yang mengangkut roket berukuran 122 milimeter.
“Kendaraan ini bisa menembakkan 240 roket ke arah target sejauh 37 kilometer. Ini bisa menghancurkan area seluas empat kilometer persegi,” begitu dilansir media Anadolu pada Ahad, 26 Agustus 2018.
Roketsan membangun kendaraan peluncur multi roket ini untuk memenuhi pesanan dari pemerintah Uni Emirat Arab.
Media Middle East Monitor melansir Jobaria diperkenalkan kepada publik pada ajang pameran peralatan tempur di Abu Dhabi pada 2013. Guinner World Records mencatat kendaraan peluncur roket ini sebagai yang terbesar.
Turki dikenal memiliki sejumlah perusahaan pembuat teknologi senjata canggih di dunia. Salah satu perusahaan Turki, Turkish Aerospace Industries, misalnya, terlibat dalam pembuatan dan pengembangan pesawat jet tempur generasi kelima F-35, yang dikembangkan di AS.

Boeing Kirim Helikopter CH-47 Chinook ke Turki

Helikopter CH-47 Chinook ke Turki
Helikopter CH-47 Chinook Turki 

Militer Turki mulai menerima pengiriman helikopter CH-47F Chinook dari Boeing untuk paket kedua dengan satu helikopter tiba pada Sabtu, 25 Agustus 2018.
Turki memesan 11 helikopter angkut berat ini pada 2011 dari Boeing dan telah menerima pengiriman tahap pertama sebanyak 5 unit pada 2016.
Pengiriman tahap kedua ini terjadi di tengah ketegangan politik dan ekonomi antara Turki dan Amerika Serikat.
“Langkah pengiriman ini terjadi di tengah keputusan AS untuk menunda pengiriman jet tempur F-35 ke Turki,” begitu dilansir media Daily Sabah, Ahad, 26 Agustus 2018 waktu setempat.
Helikopter CH-47F Chinook yang memiliki dua baling-baling dan dua mesin ini mempunyai kekuatan masing-masing 4,800 daya kuda. Daya jelajahnya mampu mencapai 1100 kilometer jika membawa tanki bahan bakar tambahan. Helikopter ini mampu membawa beban muatan hingga sepuluh ton dan bisa digunakan untuk operasi sipil dan militer dengan tingkat visibilitas nol.
Trump disebut memutuskan penundaan pengiriman jet siluman F-35 Joint Strike Fighter Lightning II ke Turki. Ini juga tercantum dalam UU Otorisasi Pertahanan Nasional. Pentagon bakal mengeluarkan laporan mengenai hubungan Amerika dan Turki dalam 90 hari.
Turki terlibat dalam program pembuatan F-35 sejak 1999. Industri pertahanan Turki juga terlibat dalam produksi komponen pesawat ini. Pemerintah Turki telah menginvestasikan dana senilai sekitar US$1,25 miliar atau sekitar Rp18 triliun untuk program pengembangan F-35.
Turkish Aerospace Industries bersama Kale Pratt & Whitney, Kale Aviation, AYESAS, dan Alp Aviation terlibat dalam produksi komponen F-35.
Militer Turki berencana membeli sekitar 100 jet tempur F-35 dalam beberapa tahun ke depan. Rencana pembelian 30 pesawat telah disetujui. Turki mendapat pengiriman F-35 ini pada upacara Fort Worth di Texas pada 21 Juni 2018. Ini merupakan pesawat jet tempur generasi ke lima yang memperkuat angkatan udara negara itu.
Hubungan Turki dan Amerika, seperti dilansir Reuters, memburuk belakangan ini setelah permintaan Presiden AS Donald Trump untuk pembebasan pastor AS, Andrew Brunson, ditolak Presiden Recep Tayyip Erdogan.
Kedua negara lalu terlibat dalam konflik dagang dengan Trump menaikkan tarif impor dua kali lipat untuk baja dan aluminium Turki. Erdogan membalas dengan menaikkan tarif ganda untuk produk mobil penumpang, alkohol dan tembakau.

Rusia Kirim 2 Kapal Perang ke Suriah, Ini Kemampuan Kapal Frigat Admiral Grigorovich dan Admiral Essen

Kapal Frigat Admiral Grigorovich
Kapal Frigat Admiral Grigorovich 

Kementerian Pertahanan Rusia mengirim dua kapal perang kelas frigat untuk mencegah militan Suriah melakukan serangan senjata kimia yang diduga akan digunakan untuk menyalahkan Rusia.
Kapal perang kelas frigat, Admiral Grigorovich dan Admiral Essen, ambil bagian dalam Armada Laut Hitam Rusia, menuju ke Laut Mediterania untuk meningkatkan kehadiran militer Rusia di wilayah itu, seperti dilaporkan Sputniknews, 27 Agustus 2018.
Sementara dalam perjalanan ke tujuan akhir mereka, dua kapal dilaporkan melakukan serangkaian latihan angkatan laut, termasuk pendeteksian dan pelacakan target musuh yang dapat ditambang yang disimulasikan.
Perkembangan ini terjadi ketika Kementerian Pertahanan Rusia menuduh AS, Inggris dan Prancis bersiap untuk melakukan serangan baru terhadap Suriah dengan dalih pasukan pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia. Lalu apa saja kemampuan kapal perang frigat Rusia yang juga membawa misil jelajah Kalibr.
Dilansir dari naval-technology.com, frigat Admiral Grigorovich Kelas Menengah dibuat di Yantar Shipyard, yang berbasis di Kaliningrad, untuk Angkatan Laut Rusia. Kapal menggunakan desain yang sama yang dikembangkan untuk frigat kelas Talwar Angkatan Laut India.
Frigat Kelas Admiral Grigorovich dapat dioperasikan untuk misi anti-permukaan peperangan (AsuW), misi anti-kapal selam (ASW) dan misi anti-udara (AAW), dan mampu melakukan misi sebagai kapal tunggal atau bagian dari kelompok satuan tugas.
Kementerian Pertahanan Rusia menandatangani dua kontrak dengan Yantar Shipyard antara 2010 dan 2011 untuk pembangunan enam frigat Project 11356.
Sementara Admiral Essen diluncurkan pada November 2014 dan ditugaskan pada Juni 2016. Angkatan Laut Rusia memasukkan frigat Project 11356 ke dalam Armada Laut Hitam.
1. Disain dan Fitur Frigat Kelas Admiral Grigorovich
Kelas Admiral Grigorovich menggabungkan desain lambung kapal yang dikembangkan oleh Biro Desain Severnoye. Lambung dan suprastruktur dirancang untuk memiliki kemampuan fitur radar, akustik dan inframerah yang sulit dilacak. Kapal ini memiliki dek landasan udara di belakang untuk membawa helikopter Ka-28 atau Ka-31.
Panjang frigat 124,8 meter secara keseluruhan dan lebar 15,2 meter, dan dapat menampung 220 awak. Rancangan pada pemindahan beban penuh adalah 4,6 meter, sementara pemindahan standar dan beban penuh kapal masing-masing 3.350 ton dan 3.860 ton.
2. Rudal Admiral Grigorovich
Senjata yang paling mutakhir dari frigat Rusia ini adalah 8-sel Vertical Launch System (VLS) untuk rudal jelajah supersonik Kalibr (SS-N-27 Sizzler). Rudal-rudal ini dapat menghantam kapal dan target darat. VLS yang sama juga dapat menembakkan rudal jelajah anti rudal Oniks (SS-N-26 Strobile), yang memiliki jangkauan hingga 600 kilometer.
Pertahanan anti-pesawat disediakan oleh sistem rudal pertahanan udara jarak menengah Shtil-1, sistem rudal permukaan-ke-udara Igla man-portable, dan sistem rudal/meriam pertahanan Kashtan, termasuk enam modul tembak, modul komando, sistem penyimpanan dan isi ulang, 64 rudal, dan 6.000 amunisi 30 milimeter. Kompleks Shtil-1 dilengkapi dengan peluncur 3S90E dan sistem kontrol api 3R90E1, dan secara bersamaan dapat menghancurkan hingga 12 target dalam rentang jarak 3,5 kilometer hingga 32 kilometer.
3. Senjata Artileri dan Anti-Kapal Selam
Meriam utama yang dipasang di depan busur dek adalah meriam A190E 100 milimeter yang menampilkan sistem kontrol tembakan 5P-10E, yang memungkinkan untuk melacak dan menghantam beberapa target secara efektif. Senjata laut 190 dapat menembakkan semburan ledakan tinggi (impact fuse) dan AA (pengatur waktu ledakan) amunisi pada kcepatan 80 peluru per menit untuk rentang jarak lebih dari 20 kilometer.
Kemampuan anti-kapal selam disediakan oleh dua tabung torpedo kembar DTA-53-11356, dan sebuah peluncur roket peledak dalam laut RBU-6000 yang menembakkan roket 90R ASW dan roket dalam laut RGB-60.
4. Sensor dan Sistem Serangan Balasan
Admiral Grigorovich dilengkapi dengan sonar yang terpasang di lambung, SNN-137 yang dipasang sonar array aktif, radar pencarian udara/permukaan Fregat-M2EM, dan radar navigasi MR-212/201-1 dan Nucleus-2-6000A.
Penanggulangan serangan disediakan oleh ASOR-11356 sistem Electronic Counter Measures (ECM) dan sistem pengeluaran umpan PK-10 jarak dekat. Sistem PK-10, yang mencakup dispenser umpan KT-216-E, pengalih radar A3-SR-50, dan pengalih elektro-optik A3-SO-50 / A3-SOM-50, melindungi kapal dari radar yang masuk atau rudal kendali optik.
5. Tenaga penggerak
Sistem propulsi gabungan gas dan gas (COGAG), yang memadukan dua turbin jelajah dan dua turbin boost, menghasilkan daya laju Admiral Grigorovich. Mesin propulsi utama menghasilkan output daya maksimum 56.000 tenaga kuda.
Frigat juga dilengkapi dengan empat diesel-alternator WCM 800/5, menghasilkan listrik 3.200kW untuk sistem kapal. Sistem propulsi memastikan kecepatan maksimum 30 knot dan daya jelajah 5.000 nmi. Kapal perang ini dapat beroperasi terus-menerus selama 30 hari.

Jet Tempur F-5B AU Iran (IRIAF) Jatuh di Pangkalan Dezful, Pilot Gugur

Jet Tempur F-5B AU Iran (IRIAF)
Jet Tempur F-5B AU Iran (IRIAF) 

Sebuah pesawat jet tempur F-5B Angkatan Udara Iran (IRIAF) jatuh di Pangkalan Udara Dezful saat misi pelatihan pada hari Minggu. Pilot jet tempur gugur, sedangkan co-pilotnya berhasil diselamatkan.
Insiden mematikan ini terjadi ketika pesawat mencoba mencoba di landasan pacu di Pangkalan Udara Dezful, sebelah barat daya Provinsi Khuzestan.
Mengutip laporan kantor berita Fars, pilot yang gugur berpangkat kolonel. Co-pilot pesawat yang selamat dari insiden itu telah dibawa ke rumah sakit.
Pihak Pangkalan Udara Dezful mengatakan bahwa jet tempur F-5B mengalami malfungsi teknis saat dalam penerbangan. Pihak Pangkalan Udara juga memuji awak jet tempur karena berhasil membawa pesawat ke landasan pacu untuk menghindari kehancuran yang lebih besar.
Pihak berwenang Iran telah meluncurkan penyelidikan atas penyebab kecelakaan itu.
Kecelakaan terjadi beberapa hari setelah Iran secara resmi meluncurkan pesawat tempur buatan dalam negeri, Kowsar. Lantaran ada kemiripan yang mencolok dengan F-5 kursi ganda buatan Amerika Serikat (AS), beberapa pengamat menduga bahwa pesawat tempur Kowsar sebenarnya adalah versi buatan ulang jet tempur F-5 AS.
Iran mulai membeli F-5 pada pertengahan 1960-an, dan akhirnya menerima lebih dari 100 unit jet tempur itu dari Washington sebelum Revolusi Islam Iran pecah tahun 1979.
Pesawat-pesawat yang dibeli dari AS itu kemudian aktif digunakan selama Perang Iran-Irak (1980-1988). (Muhaimin)

Meski Canggih Rafale Masih Menganut Non Retractable Probe

 Non Retractable Probe Rafale
 Non Retractable Probe Rafale 

Soal kecanggihan, rasanya tak ada yang meragukan kemampuan Rafale besutan Dassault Aviation. Segala fitur khas jet tempur generasi 4.5 ini telah melekat pada Rafale. Namun, ada suatu pertanyaan mendasar tentang jet tempur twin engine ini, yaitu air refuelling probe yang tak bisa dilipat ke dalam bodi (non retractable probe). Agak berbeda dengan jet tempur papan atas generasi terbaru yang sudah menganut mazhab retractable probe.
Dengan non retractable probe yang terpasang di depan kaca kokpit, otomatis mengurangi sudut pandang pilot (cockpit view). Beberapa literasi menyebut non retractable probe yang terpasang ‘tetap’ tersebut dapat menciptakan large blind spot pada cockpit view. Belum lagi ada anggapan non retractable probe akan menciptakan drag udara. benarkah pendapat tersebut?
Jawabannya masih subyektif, bagi pilot yang telah terbiasa, mungkin tak menemui kendala dengan keberadaan non retractable probe. Namun pada dasarnya implementasi air refuelling probe terkait langsung dengan desain pesawat, terutama pada bagian hidung pesawat.
Jenis jet tempur yang mengusung retractable probe umumnya mempunyai bentuk desain area moncong yang lebih besar, lantaran di area tersebut tak hanya berisi radar semata. Sebagai contoh pesawat tempur yang menerapkan retractable probe adalah Sukhoi Su-30, F/A-18 Hornet, Eurofighter Typhoon dan F-35 Lightning II. Meski tampil lebih mulus dengan air refuelling probe yang dapat dilipat, tapi jenis jet tempur dengan retractable probe membawa konsekuensi pada kompleksitas mekanis dan biaya perawatan. Umumnya retractable probe hanya diterapkan pada jet tempur yang mengusung model hose dalam skema air refuelling.
Walau terlihat ‘permanen’ di depan kokpit, pada dasarnya probe jenis ini dapat dilepaskan dengan mudah. Dalam hal perawatan, non retractable probe juga lebih mudah. Dalam hal ini Perancis menerapkan strategi yang berbeda dengan Amerika Serikat, dimana kesemua tipe jet tempur garis depan seperti Rafale, Mirage 2000 dan Mirage F1, mengusung model non retractable probe.
Dengan non retractable probe menjadikan desain area hidung bisa tampil lebih runcing, lantaran area hidung bisa difokuskan untuk penempatan radar dan perangkat pendukungnya saja. Apa yang diterapkan Saab pada jet tempur Gripen bisa menjadi contoh yang menarik, Gripen mempunyai desain hidung yang relatif kecil, namun tetap mengusung retractable probe, yakni dengan penempatan air refuelling probe hose bukan di hidung, melainkan pada sisi kiri atas air intake.
Stategi deployment jet tempur ala Perancis dengan non retractable probe, bisa menjadi contoh yang baik, dimana dukungan pengisian bahan bakar di udara bisa fokus pada teknik hose. Saat ini di arsenal TNI AU, armada jet tempur F-16 mengguakan teknik pengisian udara boom, sementara jet tempur lain seperti Sukhoi Su-27/Su-30 dan Hawk 209 menganut mazhab hose. (Bayu Pamungkas)

Uji Tembak Medium Tank Pindad Berhasil dengan Sukses

Uji Tembak Medium Tank Pindad
Uji Tembak Medium Tank Pindad  

Medium tank hasil kerjasama Pindad-FNSS akhirnya menjalani uji tembak perdana yang dilangsungkan di Pusat Pendidikan Infantri (Pusdikif) Cipatat, Bandung, Jawa Barat pada hari sabtu, 25 Agustus 2018.
Uji tembak ini adalah tahapan akhir menuju sertifikasi, setelah sebelumnya tank medium ini menjalani uji ledak ranjau berkekuatan 10kg TNT, uji tanjakan ekstrim hingga 60 derajat di Sarangan, Magetan, Jawa Timur dan uji medan berpasir di pantai Setrojenar, Kebumen, Jawa Tengah.
Pada uji tembak kali ini, tank medium ini harus menembak sasaran di atas bukit yang berjarak lurus 1.300m (1,3 km). Kubah turret C1305 High Pressure kaliber 105mm buatan CMI Defence Belgia ini sukses menembakkan munisi dan mengenai sasaran dengan telak, asap mengepul pada sasaran yang terkena tembakan tank medium ini.
Kubah turret jenis High Pressure ini dapat mengakomodir munisi standar NATO yaitu jenis APFSDS-T dan HEAT-T yaitu jenis munisi dengan kecepatan tinggi sehingga dapat dipakai untuk menghantam kendaraan tempur lawan dengan menghasilkan penetrasi yang dalam. Efek munisi seperti ini adalah recoil (hentakan ke belakang) yang tinggi, dan kubah turret yang dipilih untuk medium tank ini mampu untuk menahan hal tersebut.
Dengan selesainya uji coba atas tank medium Pindad-FNSS ini maka sertifikasi tank medium Pindad dapat diraih dari penggunanya yaitu TNI Angkatan Darat, dan Pindad sebagai produsennya dapat melangkah ke tahap produksi untuk menggarap pesanan pertama sebanyak 50 unit.
Sumber : Defense Studies

Kisah Lolosnya Perwira Kopassus Dari Incaran Senapan Maut Dua Sniper Pasukan SAS Inggris

Benny Moerdani
Benny Moerdani 

Pasukan elit Kopassus atau Komando Pasukan Khusus mempunyai reputasi mentereng di berbagai medan pertempuran.
Satu diantaranya saat digelarnya Operasi Dwikora di hutan Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia.
Pasukan Indonesia yang terdiri dari Kopassus bertempur dengan pasukan elit dunia SAS, Gurkha, Pasukan Malaysia dan juga tentara negara-negara di bawah persemakmuran Inggris.
Satu diantara pemimpin pasukan dari Indonesia yakni Benny Moerdani.
Ketika terjadi konfrontasi militer Indonesia-Malaysia (1964), tugas Benny Moerdani yang saat itu berpangkat Mayor adalah menyusup ke Kalimantan Utara.
Tugas itu merupakan misi militer yang sangat berat dan penuh risiko.
Setiap harinya Benny bersama tim kecil RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) berjalan kaki menyusuri hutan lebat selama berjam-jam untuk membuka jalur bagi pasukan induk AD yang nantinya bertugas menyerbu Malaysia.
JIka tidak sedang melewati hutan lebat, Benny dan timnya menyusuri sungai yang berada di wilayah Kalimantan Utara menggunakan perahu.
Baik misi penyusupan yang melewati wilayah daratan maupun sungai, Benny dan timnya selalu terancam oleh pasukan Inggris yang siap menghadang.
Selain menyiapkan sergapan pasukan Inggris yang rutin patroli juga kerap bertemu dengan gerilyawan dari Indonesia sehingga kontak senjata yang memakan korban jiwa tak bisa dihindari.
Ketika Benny dan timnya sedang bertugas menyusuri sungai sejumlah pasukan SAS Inggris ternyata sudah menunggu di seberang sungai dan berada di tempat ketinggian yang strategis.
Posisi Benny yang berada di perahu paling depan sudah masuk ke dalam jarak tembak sniper SAS dan senapan runduk pun siap dibidikkan.
Dari teropongnya sniper SAS bisa melihat sosok Benny secara jelas tapi jari yang telah menyentuh picu senjata masih diam.
Setelah sekian detik, picu senjata ternyata tak jadi ditarik dan senapan lainnya yang sudah siap tembak dan dibidikan secara akurat oleh semua personel SAS juga tidak menyalak.
Semua personel yang dipimpin Benny akhirnya lolos dari sergapan mematikan itu.
Pada tahun 1976 Benny berkunjung ke Inggris dan secara tak terduga ia dipertemukan dengan dua prajurit SAS yang dulu nyaris menembakknya.
Personel SAS yang pernah mengincarnya ternyata masih mengenali Benny yang secara fisik tidak berubah banyak.
Benny lalu bertanya kenapa personel SAS itu kenapa tak jadi menembaknya.
Salah seorang langsung menjawab, bahwa timnya harus menunggu dulu datangnya kapal perang Queen Elisabeth.
Jika saat itu Benny ditembak dan kemudian berlangsung baku tembak, kapal Queen Elisabeth bisa terganggu perjalanannya.
Namun, hingga semua tim Benny pergi, kapal Queen Elisabeth ternyata tidak jadi melintas.
Mendengar kisah prajurit SAS itu, Benny serta merta berkomentar, jika saat itu dirinya jadi ditembak, pasukan Inggris telah berhasil menembak mati prajurit dengan pangkat tertinggi dan bisa saja konfrontasi Indonesia-Malaysia berakhir secara lain. (bandot)
Sumber : http://jambi.tribunnews.com

Radar Acak