Rusia Buktikan Jet Tempur F-16 Israel Kabur Gunakan Il-20 Sebagai Perisai

Jet Tempur F-16 Israel Kabur Gunakan Il-20 Sebagai Perisai
Jet Tempur F-16 Israel Kabur Gunakan Il-20 Sebagai Perisai 

Data yang diambil oleh radar sistem S-400 Rusia membuktikan bahwa jet Israel bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat Rusia dan rudal Suriah mengubah jalurnya sesaat sebelum menghantam Il-20.
Data yang diperoleh dari sistem pertahanan udara S-400 yang dikerahkan di pangkalan udara Khmeimim Rusia di provinsi Latakia Suriah telah mengungkapkan bahwa rudal anti-udara Suriah, faktanya menargetkan jet F-16 Israel sebelum tiba-tiba mengubah jalur target dan akhirnya menghantam pesawat Rusia, seperti diungkapkan Kementerian Pertahanan Rusia selama konferensi pers, yang dilaporkan dari Russia Today, 25 September 2018.
Dari data radar detik-detik insiden 17 September, membuktikan bahwa jet Israel secara de facto menggunakan Il-20 yang berukuran lebih besar sebagai perisai, ungkap juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Mayor Jenderal Igor Konashenkov. Menurut data itu, setidaknya satu jet Israel terbang di ketinggian 10.000 meter, dan mengalihkan target rudal dengan pesawat Rusia.
"Gambar-gambar radar menunjukkan arah terbang rudal S-200 yang diluncurkan oleh sistem pertahanan udara Suriah, serta lokasi pesawat Rusia dan Israel. Itu cukup jelas bahwa rudal itu menargetkan jet Israel," tegas Konashenkov.
Namun rudal tiba-tiba berubah arah dan mengunci target dengan obyek radar yang lebih besar dan kecepatan lebih lambat, yang merupakan pesawat pengintai Rusia yang datang untuk mendarat. Jet Israel, yang secara efektif menggunakan pesawat Rusia Il-20 sebagai perisai dari serangan itu, kemudian juga secara tiba-tiba mengubah ketinggian dan arah penerbangannya.
Pesawat Israel kemudian melanjutkan untuk berpatroli di daerah di lepas pantai Suriah, yang ditunjukan oleh radar, meskipun Israel menyanggahnya dan mengatakan bahwa pesawat mereka telah kembali ke wilayah udara Israel pada saat insiden itu terjadi.
"Data hari ini tidak hanya menunjukkan tetapi membuktikan bahwa kesalahan atas tragis pesawat Rusia Il-20 sepenuhnya terletak pada Angkatan Udara Israel. klaim Israel yang mengatakan tidak terlibat dalam tragedi ini yang menewaskan 15 orang prajurit Rusia adalah bohong," tambahnya.
Sebelumnya Kementerian Pertahanan Rusia menyajikan detik-detik penembakan Il-20. Angkatan Udara Israel memberi pihak Rusia kurang dari satu menit peringatan sebelum serangan udara mereka, namun ini tidak memebri waktu untuk manuver keselamatan. Selain itu, Israel salah informasi tentang lokasi target mereka kepada Rusia.
Israel menyatakan belasungkawa kepada Rusia atas tragedi itu tetapi berulang kali membantah tanggung jawab sementara menyalahkan Suriah. Sebelumnya Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa Tel Aviv siap untuk menyediakan Rusia dengan semua informasi yang diperlukan untuk memfasilitasi penyelidikan, mengklaim bahwa Suriah bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat Rusia, seperti dilansir dari Sputniknews.
Menyusul insiden itu, Rusia memutuskan untuk memasok sistem pertahanan udara S-300 kepada militer Suriah. Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu menyatakan juga akan memberikan pengacau satelit navigasi Rusia, radar on-board dan sistem komunikasi di atas perairan Laut Mediterania kepada militer Suriah.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut langkah itu kepada PM Israel Benjamin Netanyahu sebagai langkah memadai, yang ditujukan untuk mencegah ancaman potensial terhadap kehidupan personel Rusia yang dikerahkan di Suriah.

TNI AU akan Bangun Pangkalan di Batam

Sukhoi TNI AU
Sukhoi TNI AU 

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) akan menempatkan satu flight di kawasan Bandara Hang Nadim Batam. Penempatan tersebut untuk menunjang pembangunan Batam sebagai kawasan ekonomi dan menjaga wilayah perbatasan dari ancaman dan gangguan keamanan.
Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna mengatakan satu flight tersebut diisi empat pesawat tempur.
"Hal ini juga dimaksudkan untuk mengantisipasi perkembangan yang ada. Selain itu, perkembangan ekonomi, juga dari segi geostrategis dan geopolitik. Kami memandang perlu menempatkan pesawat sebagai efek tangkal," kata Yuyu di Aula Gedung Marketing BP Batam, Selasa, 25 September 2018.
Menurutnya, TNI AU tidak bermaksud membangun pangkalan militer dan menempatkan skuadron secara permamen di Hang Nadim Batam. Pangkalan yang dibutuhkan TNI AU hanya pangkalan kecil untuk aktivitas dan lalu lintas pesawat tempur.
"Jadi sifatnya temporary. Pesawat tempur disiagakan jika sewaktu-waktu dibutuhkan," jelas Sutisna.
Sutisna mengatakan TNI AU sudah sering menyiagakan pesawat tempur di Hang Nadim, seperti jenis Sukhoi Su-27/30, F-16, C-130 Hercules, dan lainnya.
Namun hal itu dirasa kurang efektif karena pergerakan pesawat tempur TNI AU dapat mengganggu lalu lintas pesawat komersial Bandara Hang Nadim Batam.
"Hasil diskusi bersama Kepala BP Batam, kami berharap diberi tempat (lahan) membangun pangkalan kecil supaya lebih private dan tidak mengganggu yang lain," ungkap Sutisna.
Meski telah menemukan kata sepakat dengan Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo, Sutisna mengatakan pengajuan lahan pembangunan pangkalan TNI AU tersebut akan dibawa ke tingkat Dewan Kawasan untuk dibahas. "Pengajuan izinnya akan dibawa ke atas (pusat) untuk mendapatkan persetujuan," kata Sutisna.
Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo menyambut baik rencana ini. Batam sebagai kawasan ekonomi strategis, menurut Lukita, perlu didukung dengan sistem keamanan yang baik.
"Kami apresiasi kedatangan KSAU yang menyampaikan langsung rencana tersebut sehingga informasinya tidak bias. Bahwa yang dibangun bukan pangkalan militer, melainkan pangkalan kecil. Prinsipnya kami sangat mendukung rencana tersebut," ujar Lukita.
Mantan Sesmenko Perekonomian ini menambahkan izin pembangunan pangkalan kecil TNI AU tersebut segera disampaikan ke Dewan Kawasan. Lukita berharap pembangunan tersebut bisa segera dilakukan dan disetujui Dewan Kawasan.
"Saya kita, bagaimana pun pembangunan ekonomi Batam harus ada dukungan security (keamanan). Bentuknya seperti apa, salah satunya tadi sudah disampaikan oleh KSAU," kata Lukita. (Den)

AAD 2018: Denel RG-41, Ranpur Generasi Baru Hasil Kawin Silang Panser Roda dan MRAP

Denel RG-41
Denel RG-41 

Tak patah arang, perusahaan pertahanan Denel Vehicle Systems asal Afrika Selatan kembali menampilkan dan menawarkan ranpur RG-41 dalam pameran pertahanan AAD 2018 di Pangkalan Udara Waterkloof, Afrika Selatan pada 19-23 September 2018. Ranpur delapan roda ini mulai dikembangkan sejak 2008 dan menjalani debut di hadapan publik dalam pameran senjata internasional Eurosatory 2010 di Paris, Perancis.
Denel menamai produknya sebagai ‘New Generation Combat Vehicle’, yakni kendaraan tempur yang cocok untuk menghadapi perang modern di berbagai medan. Mulai dari gurun, gunung, hingga perkotaan.
Kendaraan ini dapat dikembangkan ke beragam versi dan mampu mengakomodasi beragam senjata sesuai tuntutan misi serta keinginan pelanggan. Namun sayang, sejak ditawarkan delapan tahun silam RG-41 belum mendaptkan pelanggan.
RG41 sendiri merupakan ranpur jenis baru berupa perkawinan silang antara panser roda ban dengan kendaraan jenis MRAP (Mine-Resistant Ambush Protected). Kelebihan utama yang ditawarkan selain desain modularnya, adalah kemampuan menghadapi ranjau yang didesain berdasarkan pengalaman Denel dalam merancang keluarga MRAP seri ‘RG’ (RG-31 s/d RG-35) yang telah terbukti ketanggunganya di medan perang.
Tak hanya menawarkan kemampuan di atas rata-rata lawannya, Denel berusaha menawarkan RG-41 dengan harga terjangkau. Untuk itu RG-41 memaksimalkan pemakaian komponen COTS (commercial off the shelf) yang tersedia di pasar bebas. Komponen otomotif untuk kendaraan komersial ini tidak tunduk pada ITAR (International Traffic in Arms Regulations) yang dikeluarkan Amerika Serikat.
RG41 versi AFV (Armored Fighting Vehicle) yang ditampilkan di AAD 2018 dapat menampung sebelas orang. Pengemudi duduk terpisah di bagian depan di samping rumah mesin. Sementara komandan dan operator senjata duduk dalam kubah senjata di kompartemen tengah. Lalu delapan prajurit bersenjata duduk di bangku belakang. Jumlah prajurit ini akan bertambah bila kubah senjata berawak digantikan dengan stasiun senjata kendali jarak jauh (RCWS).
Ranpur berbobot antara 19-24 ton dan muatan bawaan hingga 11.000 kg (berat tergantung paket misi) ini digerakkan oleh mesin diesel Deutz 2015TCD V6 berdaya 520 hp yang disandingkan dengan transmisi otomatis 5 percepatan ZF 5HP 902. Kendaraan ini mampu melaju hingga kecepatan maksimum 100 km/jam dengan jangkauan operasi dipermukaan datar sejauh 700 km dan dijalan off road penuh hingga 400 km.
Soal dimensi, RG41 cukup bongsor dengan panjang total 7,78 m, lebar 2,80 m, dan tinggi 2,58 m. Ground clearance-nya mencapai 44 cm yang disokong dengan penggunaan ban besar Michelin XZL 16.00R20. Rodanya berjenis run flat yang masih bisa tetap berjalan mesti tertembus peluru dengan kecepatan maksimum 50 km/jam hingga jarak 100 km. Rodanya juga dilengkapi sistem pengaturan inflasi pusat untuk mengatur tekanan angin sesuai kondisi permukaan jalan.
Soal persenjataan, RG-41 tampil menggunakan Modular Combat Turret SV yang diproduksi oleh Denel Land Systems. Yaitu, berupa kubah senjata berawak dua orang bersenjatakan kanon dengan umpan ganda kaliber 30 mm guna menghajar lawan berat. Tersedia pula senjata koaksial kaliber 7,62 mm untuk menyikat sasaran lunak.
Namun demikian, Denel tetap memberi kebebasan terhadap calon konsumen untuk pemakaian sistem kubah senjata. Apakah ingin menggunakan versi berawak atau RCWS. Begitu pula soal persenjataan bisa senapan mesin kaliber 7,62 atau 12,7 mm ataupun kanon kaliber 20-30 mm.
Untuk diketahui, dalam pameran Eurosatory 2010 silam, RG-41 dipasangkan dengan stasiun senjata kendali jarak jauh TRT-25 buatan Alliant Techsystems yang mengusung kanon M242 Bushmaster kaliber 25 mm.
Selain varian dasar berupa AVF, Denel juga menawarkan varian lain dari RG-41 sebagai kendaraan komando, ambulans, kendaraan pemulihan (recovery), pengusung rudal antitank dan versi lainnya. Dengan segudang kelebihan yang ditawarkan, Denel tentunya berharap RG-41 segera mendapatkan pelanggan dan bisa mengikuti jejak kesuksesan ranpur MRAP seri ‘RG’ lainnya. (Rangga Baswara Sawiyya)

Kemhan India dan Dassault Klarifikasi Terkait Kisruh Offset Pembelian 36 Unit Rafale

Rafale
Rafale 

Kementerian Pertahanan (Kemhan) India dan Dassault Aviation secara terpisah mengeluarkan pernyataan yang merinci program offset (kompensasi investasi) terkait akuisisi 36 unit jet tempur Dassault Rafale untuk Angkatan Udara (AU) India.
Menanggapi dugaan kesalahan dalam program offset yang diajukan oposisi politik di India (Kongres Nasional India/INC), baik Kemhan India maupun Dassault mengatakan bahwa pemerintah India tidak terlibat dalam keputusan untuk memilih Reliance Group India sebagai mitra offset perusahaan Perancis.
INC sebelumnya menduga bahwa program offset kurang transparan dan pengambilan keputusan tersebut tidak melalui proses yang benar seperti yang digariskan dalam Prosedur Pengadaan Pertahanan India (Defense Procurement Procedure/DPP) 2016.
INC juga menduga bahwa akuisisi pesawat tempur anyar asal negeri mode tersebut telah secara tidak adil mempromosikan kepentingan Reliance Group lewat industri kedirgantaraan negara, Hindustan Aeronautics Limited (HAL).
Menanggapi tuduhan tersebut, pihak Dassult pada Jum’at (21/9/2018) lalu, seperti dikutip janes.com menjelaskan bahwa adalah perjanjian antarpemerintah (government-to-government). Perjanjian tersebut menyediakan kontrak terpisah, di mana Dassault Aviation berkomitmen untuk membuat offset di India sebesar 50 persen dari nilai pembelian Rafale.
“Kontrak offset ini disampaikan sesuai dengan regulasi DPP 2016. Dalam kerangka ini Dassault Aviation telah memutuskan untuk bermitra dengan Reliance Group India. Ini adalah pilihan Dassult Aviation,” tambah perusahaan.
Kemitraan antara Dassault Aviation dengan Reliance Group menelurkan sebuah perusahaan patungan bernama Dassault Reliance Aerospace Ltd (DRAL) pada Februari 2017. Perusahaan ini membangun fasilitas produksi kedirgantaraan di India yang memproduksi suku cadang Rafale versi ekspor dan dan perusahaan jet bisnis Falcon Pernacis.
Dassault juga menyebutkan, selain Reliance Group, pabrik pesawat jet temput kesohor asal Perancis itu juga menjalin kemitraan dengan beberapa perusahaan India lainnya untuk memfasilitasi offset terkait dengan Program Rafale. Perusahaan-perusahaan tersebut antara lain adalah Mahindra, Samtel, BTSL Automotive India, Defsys Solution, Maini Aerospace dan Kinetic India. (Ery)

Singkirkan Lockheed dan Sierra Nevada, Boeing-Leonardo Menangi Tender 84 Unit Helikopter MH-139 untuk USAF

MH-139
MH-139  

Kolaborasi Boeing Defense dan Leonardo berhasil memenangi tender pengadaan 84 unit helikopter militer MH-139 senilai 2,38 miliar dolar AS. MH-139 akan digunakan untuk menggantikan peran heli gaek Bell UH-1N Iroquois atau “Huey” yang telah mengabdi sejak tahun 1970-an di jajaran dinas Angkatan Udara Amerika Serikat (AU AS - USAF).
Kontrak awal senilai 375 juta dolar AS, diterima Boeing Defense-Leonardo untuk pengadaan empat heli MH-139 dan integrasi sejumlah perangkat non-developmental. Sebagaimana diberitakan CNBC, penandatanganan kontrak dilakukan Senin (24/9).
USAF menyatakan, pengiriman gelombang pertama MH-139 akan dilakukan pihak pabrikan pada 2021 mendatang.
Dikutip dari Flightglobal, Selain akan digunakan sebagai helikopter latih, heli uji, dan operasi dukungan angkutan udara, MH-139 sejatinya akan menjalankan peran sebagai heli layanan dinas rudal balistik nuklir antarbenua milik AS yang berbasis di Wyoming, Montana, dan North Dakota.
MH-139 tidak lain adalah varian militer dari helikopter sipil buatan AgustaWestland yaitu AW139. Masuknya Leonardo (induk perusahaan AgustaWestland/Leonardo Helicopters) ke Amerika Serikat dan berkolaborasi dengan Boeing, merupakan cara jitu industri pesawat Inggris-Italia tersebut untuk merebut pasar di Negeri Paman Sam.
Leonardo akan merakit helikopter MH-139 di fasilitas Philadelphia dan Pennsylvania bekerja sama dengan Boeing yang bertanggung jawab soal spesifikasi komponen militer heli ini.
AW139 sendiri merupakan salah satu helikopter terlaris di dunia untuk kelas heli sipil medium berkapasitas 15 orang. Heli ini diproduksi sejak 2001 dan sudah hampir seribu unit diserahkan pihak pabrikan kepada para pemesannya.
Badan SAR Nasional (Basarnas/BNPP) merupakan salah satu pengguna heli ini di Indonesia dengan mengoperasikan satu unit AW139.
Kemenangan Boeing-Leonardo untuk pengadaan helikopter pengganti UH-1N di USAF, merupakan kemenangan besar dari sebuah penantian panjang.
Boeing-Leonardo dalam hal ini berhasil menyingkirkan HH-60U Black Hawk yang diusung Sikorsky (sekarang berada dalam naungan Lockheed Martin) dan heli Force Hawk (versi upgraded UH-60 Black Hawk) garapan Sierra Nevada Corp.
Kemenangan yang diraih oleh Boeing Defense khususnya, merupakan berkah lajutan dari kontrak 805,3 juta dolar AS yang diterima Boeing Defense dari Angkatan Laut Amerika Serikat (AL AS - US Navy) beberapa minggu lalu. Yaitu kontrak untuk pengadaan empat unit tanker udara tanpa awak berbasis di kapal induk, MQ-25A Stingray.
Dalam beberapa hari ke depan, diprediksi Boeing Defense juga akan mendapatkan kontrak lain dari Angkatan Bersenjata AS. (Roni Sontani)

Israel dan AS Gusar dengan Langkah Rusia Pasok S-300 ke Suriah

S-300
S-300  

Pemerintah Israel dan Amerika Serikat (AS) gusar dengan keputusan Rusia yang memilih untuk memasok sistem rudal pertahanan S-300 kepada Suriah. Keputusan Moskow itu sebagai respons setelah pesawat mata-matanya ditembak jatuh sistem rudal S-200 Damaskus saat merespons serangan empat jet tempur F-16 AU Israel.
Tel Aviv dan Washington pada Senin malam mengeluarkan peringatan kepada Moskow untuk membatalkan keputusannya. Mereka menilai langkah Moskow akan semakin mengguncang kawasan dan meningkatkan ketegangan yang sudah memanas.
Keputusan militer Moskow itu juga membuat kabinet keamanan Israel menggelar rapat pada Selasa (25/9/2018) pagi. Pertemuan itu untuk membahas perkembangan terbaru yang melibatkan hubungan Tel Aviv dengan Moskow setelah retak akibat insiden jatuhnya pesawat mata-mata Il-20 yang menewaskan 15 tentara Moskow.
Presiden Rusia Vladimir Putin melalui telepon sudah memberitahu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tentang keputusan militernya untuk menyediakan sistem S-300 kepada Suriah.
Netanyahu melalui kantornya telah memberikan tanggapan. "Perdana menteri mengatakan menyediakan sistem persenjataan canggih kepada aktor yang tidak bertanggung jawab akan memperbesar bahaya di wilayah tersebut, dan bahwa Israel akan terus mempertahankan diri dan kepentingannya," bunyi pernyataan kantor Netanyahu, seperti dikutip Times of Israel.
Secara bersamaan, Penasihat Keamanan Nasional AS John Bolton mengatakan keputusan Rusia adalah "kesalahan besar" yang akan menyebabkan eskalasi signifikan. Bolton mendesak Moskow untuk mempertimbangkan kembali keputusannya.
Channel 10 News mengutip seorang pejabat senior Amerika menyatakan bahwa sistem rudal S-300 dapat membahayakan jet-jet tempur Angkatan Udara AS yang beroperasi melawan kelompok Islamic State atau ISIS di Suriah.
"Membawa lebih banyak rudal anti-pesawat ke Suriah tidak akan menyelesaikan penembakan misil yang tidak profesional dan sembarangan dan tidak akan mengurangi bahaya bagi pesawat yang terbang di daerah itu," kata pejabat yang tidak disebutkan namanya tersebut.
Rusia sebelumnya membuat pengumuman soal paparan data menit demi menit jatuhnya pesawat Ilyushin Il-20 oleh sistem S-200 Suriah pada 17 September lalu. Insiden friendly fire itu menewaskan 15 tentara Rusia. Moskow menyalahkan Tel Aviv dengan menuduhnya menggunakan pesawat Il-20 sebagai perisai jet-jet tempur F-16 Israel dari respons S-200 Damaskus.
Dalam panggilan telepon dengan Netanyahu, Putin mengatakan dia tidak setuju dengan penjelasan versi Israel yang menyalahkan militer Suriah dalam insiden mematikan itu.
"Informasi yang diberikan oleh militer Israel bertentangan dengan kesimpulan dari kementerian pertahanan Rusia," kata Kremlin mengutip pernyataan Putin dalam panggilan telepon dengan Netanyahu. Menurut Putin, tindakan pilot Israel telah menyebabkan pesawat Rusia ditargetkan oleh sistem pertahanan udara Suriah.
"Pihak Rusia melanjutkan dari fakta bahwa tindakan oleh angkatan udara Israel adalah alasan utama untuk tragedi itu," lanjut Kremlin. (Muhaimin)

Lock On, Jet Tempur Siluman F-22 Raptor Terjejak IRST OLS-35 Sukhoi Su-35 Rusia di Suriah

F-22 Raptor Terjejak IRST OLS-35 Sukhoi Su-35
F-22 Raptor Terjejak IRST OLS-35 Sukhoi Su-35  

Diberitakan Jane’s (24/9) yang memperlihatkan siluet foto pesawat tempur silaman F-22 Raptor AS di Suriah yang terjejak IRST OLS-35 Su-35 Rusia. Fotonya biasa saja kalau tidak diperhatikan baik-baik. Namun saat dilihat teliti terlihatlah bahwa itu adalah hasil tangkapan sistem penjejak infra merah OLS-35 milik jet tempur Sukhoi Su-35 Super Flanker.
Foto yang diambil dari akun instagram seorang pilot tempur AU Rusia ini menggambarkan siluet jet tempur siluman F-22 Raptor yang sudah dicegat, dikunci, dan bisa saja ditembak jatuh oleh jet tempur Sukhoi Su-35 Super Flanker yang sedang menjalankan misi di Suriah.
Objek yang ia deteksi adalah jet tempur siluman F-22 Raptor, yang digadang AS sebagai paling digdaya dan tak terkalahkan. Keberhasilan penjejakan F-22 oleh Su-35, yang artinya dilakukan pada jarak cukup dekat ini membuktikan bahwa Su-35 memang punya kapabilitas sebagai Raptor Killer.
Foto tersebut menggambarkan kontras antara F-22 dengan citra bumi, jadi kemungkinan pilot jet tempur Sukhoi Su-35 itu menggunakan perangkat IRST (Infra Red Scan and Track) OLS-35 yang mengandalkan sensor infra merah, televisi pencahayaan rendah, dan laser pengukur jarak.
OLS-35 IRST memungkinkan pendeteksian pasif atas jet tempur lawan tanpa menyalakan radar, jadi F-22 itu sudah pasti menyadari kalau Su-35 muncul di atasnya pada detik-detik terakhir. Andaikan perintah tembak diberikan, maka F-22 itu sudah pasti akan tinggal rongsokan belaka yang jatuh ke bumi.
Pilot tinggal melakukan cueing dengan rudal pencari panas jarak dekat, dan pada jarak sedekat ini rudal seperti R-73 kemungkinan besar tidak akan meleset untuk melalap F-22 tersebut. (Aryo Nugroho)

Sukses Membuat Medium Tank, Ini Prospek Pindad Berikutnya

Arah Pengembangan Ranpur Pindad
Arah Pengembangan Ranpur Pindad 

PT Pindad (Persero) baru saja merampungkan pembuatan purwarupa (prototipe) Medium Tank. Sebelum bisa diproduksi massal, tank teranyar buatan Pindad tersebut menjalani uji tembak pada 27 Agustus.
Direktur Utama PT Pindad, Abraham Mose mengatakan tank merupakan kendaraan tempur yang cukup menjanjikan dari sisi bisnis selain menambah kekuatan tempur TNI karena tank AMX-13 akan dipensiunkan.
"Medium tank ini akan kami tingkatkan untuk mengganti (AMX-13)," tutur Abraham.
Kesuksesaan membuat Medium Tank tidak menghentikannya untuk berinovasi. Namun semangat untuk kembali membuat kendaraan tempur berat terus berkobar.
"Setelah ini kami akan menggarap panser 8x8," ungkapnya.
Selain itu, pengembangan varian akan terus dilakukan. Dalam hal ini, Abraham mengungkapkan salah satu yang akan menjadi pengembangannya adalah membuat tank listrik.
"Selama ini transmisi dan mesin yang digunakan masih konvensional. Masih menggunakan bahan bakar, kedepan kami akan mengembangkan transmisi dan mesin elektrik. Sangat memungkinkan, kapal selam saja sudah ada yang menggunakan listrik, kenapa tank tidak bisa?" imbuhnya.
Salah satu yang menjadi kendala dalam membuat tank berbahan bakar listrik adalah terletak pada bagian power suply. Abraham menyebut, saat ini yang menjadi keterbatasan dalam pengembangan mesin dan transmisi eletrik adalah baterai.
"Tapi dalam lima tahun kedepan, teknologi baterai akan maju begitu pesat. Masalah baterai ini kemungkinan tidak akan menjadi kendala lagi," tutupnya.

Panser APR-1V1 Pindad Ternyata Masih Eksis Digunakan TNI AD

Panser APR-1V1 Pindad
Panser APR-1V1 Pindad  

Lama tak terdengar kabarnya, ditambah beragam program pengadaan alutsista baru, beberapa orang mengira kendaraaan tempur produksi dalam negeri ini sudah tak lagi dioperasikan. Namun update dari situs kostrad.mil.id (20/9/2018), menjelaskan ranpur yang disebut sebagai APR-1V1 buatan PT Pindad ini masih terus digunakan sampai saat ini.
Seperti diwartakan panser yang menjadi arsenal Kompi Kavaleri (Kikav) 8 Kostrad ini tengah mendapat program pengecekan rutin oleh Detasemen Peralatan (Denpal) Divisi Infanteri 2 Kostrad. Komandan Detasemen Peralatan Mayor Cpl Sahadi mengatakan bahwa Tim akan memberikan pelayanan pengecekan materiil secara baik dan benar, dengan pemeriksaan seluruh kondisi Ranpur serta melaksanakan pemeriksaan sistem pelumasan, sistem kelistrikan dan sistem tenaga.
Kikav 8 yang bermarkas di Jabung, Malang, Jawa Timur, memiliki beberapa arsenal panser, selain APR-1V1, kompi kavaleri ini juga dilengkapi trio panser legendaris produksi Alvis, Inggris, yaitu Ferret, Saracen dan Saladin. Tidak hanya alutsista tua, pada Februari 2017, Kikav 8 disebutkan telah mendapat perkuatan berupa 3 unit Panser Anoa 2. Terdiri dari Anoa 2 Commando yang digunakan sebagai kendaraan taktis komandan, Anoa 2 Ambulance yang dipakai untuk mengevakuasi korban di medan yang tidak memungkinkan, serta Anoa 2 Recovery yang digunakan untuk pemulihan kendaraan lain yang terperosok atau mengalami kendala lain.
Sementara tentang APR-1V1, dikenal sebagai kategori Armoured Personnel Carrier (APC) diciptakan PT Pindad terkait kebutuhan operasi militer di NAD (Nanggroe Aceh Darussalam) pada tahun 2003 - 2004.
Panser beroda empat ini menggunakan sasis dan mesin truk ringan Isuzu Elf NKR 55 berpenggarak 4×4. Jika melihat sosoknya, panser ini lebih menyerupai mobil Kijang dengan bodi ramping dan memanjang yang dipasangi “baju” lapis baja anti peluru. Walaupun mengadopsi sasis truk sipil, kemampuan panser ini tak bisa dianggap remeh. Lihat saja kemampuannya dalam melahap berbagai medan berat dan terjal. Tak ketinggalan kemampuannya bermanuver dengan lincah dan gesit menjadi keunggulan tersendiri.
Ketahanan lapis bajanya memang belum sanggup menahan terjangan RPG, namun untuk terjangan proyektil kaliber 7,62 mm dari segala arah dapat ditahan. Selain itu dibagian atas panser terdapat turret atau menara putar yang dapat berputar 360 derajat sebagai kubah tempat penembak. Sayangnya, kubah gunner masih semi terbuka dan serba manual, sehingga juru tembak rawan dibidik oleh sniper.
Dari aspek persenjataan, APR-1 mampu menggotong beragam senjata standar, mulai dari pelontar granat otomatis AGL-40, senapan mesin berat (SMB) kaliber 12,7 mm, dan senapan mesin sedang GPMG (General Puspose Machine Gun) FN MAG kaliber 7,62 mm. Untuk perlindungan dan pelarian, pada sisi kubah terdpat pelontar granat asap kaliber 60 mm. (Bayu Pamungkas)

Angkatan Laut Rusia Luncurkan Kapal Selam Siluman "Kronstadt"

Kronstadt
Kronstadt 

Angkatan Laut Rusia resmi meluncurkan kapal selam siluman yang diberi nama Kronstadt, Kamis (20/9/2018).
Kapal selam berkemampuan siluman dengan panjang 68 meter itu diluncurkan dalam sebuah upacara khusus yang dilangsungkan di galang kapal militer di St Petersburg dan disaksikan perwira Angkatan Laut Rusia.
CEO Galangan Kapal Admiralty, Alexander Buzakov mengatakan, acara peluncuran kapal selam itu sangat penting hingga sulit untuk melebih-lebihkannya.
Melansir dari TASS, Jumat (21/9/2018), Proyek 677 Kapal selam Siluman Kronstadt mulai dibangun pada 2005. Namun pengerjaan sempat terhambat lantaran kendala dalam pembiayaan dan baru kembali dimulai pada 2013.
"Hari peluncuran akhirnya datang. Keterlambatan dalam pekerjaan konstruksi memungkinkan untuk menggunakan pengalaman dalam membangun dan mengoperasikan kapal selam St Petersburg."
"Kapal selam ini melampaui pendahulunya, Proyek 636, dalam setiap parameter. Kami yakin Proyek 677 pantas disebut sebagai masa depan kekuatan kapal selam non-nuklir Angkatan Laut Rusia," kata Buzakov.
Kapal selam Proyek 677 dari kelas Lada adalah bagian dari kapal selam non-nuklir Rusia generasi keempat.
Kapal selam tersebut dilengkapi dengan persenjataan berpresisi tinggi, di antaranya enam peluncur torpedo 533 milimeter untuk 18 torpedo atau rudal, termasuk rudal jelajah Kalibr.
Kapal selam siluman Kronstadt memiliki bobot sekitar 1.750 ton di permukaan dan 2.650 saat menyelam. Mampu membawa 35 awak dan melaju di bawah air dengan kecepatan maksimum 21 knot (38 kilometer per jam).
Kapal selam itu menggunakan sistem pendorong udara independen (AIP), yang pertama dimiliki Angkatan Laut Rusia. Sistem pendorong tersebut memungkinkan pengoperasian tanpa harus sering mengakses oksigen di permukaan.
Kapal selam Kronstadt mampu beroperasi di bawah air selama beberapa minggu sebelum perlu muncul kembali ke permukaan.
Sebagai perbandingan, kapal selam milik Angkatan Laut Inggris, HMS Artful, mampu menyelam dan mengelilingi bumi tanpa harus muncul ke permukaan karena memiliki sistem pemurnian udara dan air.
Meski pada pelaksanaannya, kapal selam itu tetap harus berlabuh setiap sekitar 90 hari untuk memasok persediaan pangan bagi 98 awak kapalnya. (Agni Vidya Perdana)

KRI Bima Suci Dapat Penghargaan Sebagai Kapal yang Paling Dicintai di Sail Regatta 2018 Rusia

KRI Bima Suci
KRI Bima Suci  

KRI Bima Suci yang mengikuti perhelatan Sail Regatta sejak 27 Agustus hingga 12 September 2018 berhasil meraih penghargaan bergengsi Friendship Trophy.
Bima Suci dinilai para juri sebagai “Most to Promoting Internasional Friendship and Understanding”, kapal yang paling dicintai, dikenal, dan paling ramah oleh masyarakat setempat.
KRI Bima Suci juga dinobatkan sebagai kapal terheboh dan termeriah. Penilaian para juri sudah dimulai sejak awal lomba balap kapal di Yeosu, Korea Selatan, hingga berakhirnya Sail Regatta di Vladivostok, Rusia.
“Hasil apapun yang diperoleh menjadi investasi di masa depan bagi pengawak kapal dan juga para taruna. Ini menjadi modal pengalaman yang berharga untuk KRI Bima Suci melakoni pelayaran dan race-race berikutnya,” kata komandan KRI Bima Suci Letnan Kolonel (P) Widiyatmoko Baruno Aji.
Ketua panitia Sail Regatta Michael Bowles mengatakan, para juri kesulitan menentukan tim mana yang berhak mendapatkan penghargaan ini.
“Semua tim telah berusaha menampilkan segala yang dimilliki, baik keramahtamahan, juga sikap hangat dan bersahabat antar-satu tim,” kata dia.
Penerus Dewaruci
KRI Bima Suci adalah kapal layar tiang tinggi penerus KRI Dewaruci yang sudah pensiun. Sail Regatta adalah pelayaran perdana KRI Bima Suci dalam misi Kartika Jala Krida Luar Negeri 2018.
Kapal berkelir putih itu berlayar menuju Vladivostok, kota pelabuhan terbesari di Rusia di tepi pantai Samudera Pasifik. Di Vladivostok Kapal berawak 118 kadet Akademi TNI AL tersebut bertemu puluhan kapal bertiang tinggi dari berbagai negara.
Selain memperoleh Frendship Trophy, KRI Bima Suci juga mendapat sejumlah penghargaan lain. Untuk kategori kecepatan berlayar dari Yeosu, Korea Selatan, menuju Vladivostok, KRI Bima Suci mendapat juara 2. Juara pertama diraih kapal Nadezha dari Rusia.
KRI Bima Suci juga mendapat special trophy dari Walikota Vladivostok. Penghargaan ini sekaligus menjadi kado ulang tahun KRI Bima Suci yang pertama.
KRI Bima Suci Juara Kedua Sail Regatta 2018 Puncak perhelatan Sail Regatta berlangsung pada 12 September dengan agenda utama penyerahan trofi kepada para pemenang. Seluruh peserta yang ikut rangkaian Sail Regatta melakukan kirab atau pawai yang bertujuan mengenalkan budaya negara asal.
Anggota KRI Bima Suci dan taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) menampilkan genderang suling dan mengenakan ragam pakaian adat nusantara. (Herwanto)

Regu Pandu Tempur Yonif 1 Marinir Asah Naluri Tempur

Regu Pandu Tempur Yonif 1 Marinir
Regu Pandu Tempur Yonif 1 Marinir 

Regu Pandu Tempur (Rupanpur) Batalyon Infanteri 1 Marinir melaksanakan latihan renang ketahanan di Kolam Renang Tirta Krida Juanda, Sidoarjo, Jumat (21/09/2018).
Kegiatan yang dipimpin Lettu Mar Novie Hariyanto itu merupakan salah satu materi Latihan Dalam Dinas (LDD) Rupanpur Yonif 1 Marinir. Materi latihan lainnya adalah penguasaan senjata organik dan Pertempuran Jarak Dekat (PJD).
Lettu Mar Novie Hariyanto selaku koordinator lapangan menyampaikan bahwa LDD Rupanpur Yonif 1 Mar dilakukan secara bertahap bertingkat dan berlanjut hingga benar-benar siap saat dibutuhkan.
Untuk materi penguasaan senjata organik, prajurit Rupanpur dituntut mampu menggunakan senapan SS-1 dan IAR dengan alat bantu bidik (Mepro) dalam waktu cepat dan akurat dalam perkenaan sasaran serta mampu mengatasi jika terjadi kendala.
“Dalam materi pertempuran jarak dekat (PJD) prajurit Rupanpur mengombinasikan ilmu dasar yang dimiliki dengan ilmu baru yang didapat saat melaksanakan Platoon Exchange di Hawaii bersama Marinir Amerika (USMC) beberapa waktu lalu. Sedangkan materi renang ketahanan, prajurit Rupanpur melaksanakan renang di kolam menggunakan fin snorkel,” jelasnya.
Sementara Komandan Batalyon Infanteri 1 Marinir Letkol Mar Danang Wahyu Isbiantoro di sela-sela kegiatan menyampaikan bahwa Rupanpur Yonif 1 Mar sudah dua kali berturut-turut menerima predikat Rupanpur terbaik tingkat Korps Marinir.
Prestasi tersebut menjadi tantangan bagi prajurit Rupanpur Yonif 1 Mar untuk selalu belajar, belajar, dan belajar.
“Dalam setiap latihan yang dilakukan, mereka langsung mengadakan After Action Review (AAR) sehingga dapat meminimalisir kesalahan dan tetap mengutamakan keamanan dan keselamatan,” pungkasnya. (Beny Adrian)

Skadron Udara 8 TNI AU Latihan Terbang Malam Tanpa Bantuan Cahaya Lampu

Skadron Udara 8 TNI AU
Skadron Udara 8 TNI AU  

Skadron Udara 8 Lanud Atang Sendjaja kini memiliki Night Vision Google (NVG) yaitu alat bantu penglihatan malam yang digunakan untuk melaksanakan terbang malam tanpa bantuan cahaya lampu. Alat tersebut diuji coba setelah menjalani latihan penggunaan alat tersebut, yang dilakukan langsung oleh Komandan Skadron Udara 8 Lanud Atang Sendjaja, Letkol Pnb Asep Wahyu Wijaya, yang dilaksanakan di area Bogor, selama sepekan ini, dan berakhir pada malam Jumat atau Kamis malam, (20/9).
Di sela-sela kesibukannya melaksanakan latihan malam menggunakan NVG, Danskadron Udara 8 ini menjelaskan tentang kegunaan alat tersebut. “Untuk pertama kali alat ini digunakan oleh Penerbang khususnya penerbang helikopter di Indonesia yang dilaksanakan oleh Skadron Udara 8 pada hari Selasa, 18 September 2018 pada pukul 22.00 Wib,” jelasnya. “Kami melakukan konven area ke daerah Ciomas, di wilayah Gunung Kapur dan melaksanakan landing di Helipad Hastina Gunung Kapur tanpa ada cahaya apapun,” ujar Letkol Pnb Asep Wahyu Wijaya.
Selanjutnya Danskadron 8 ini menjelaskan kehebatan alat tersebut yang digunakan untuk melihat dengan jelas di malam hari tanpa ada cahaya sedikitpun, hanya menggunakan ilminasi dari cahaya bulan. “Karena bila ada cahaya, maka akan mengganggu penglihatan penerbang karena memang alat ini berfungsi untuk menerangkan di kondisi gelap”, ujarnya.
“Sebelum menggunakan alat ini, lanjutnya, kita bisa melaksanakan terbang malam hanya base to base, dari aerodrome ke aerodrome, tidak bisa dari aerodrome ke spot, apalagi dari spot ke spot, itu lebih tidak bisa lagi, karena dengan mata terbuka di malam hari, kita tidak bisa melihat tingginya pohon, adanya bukit dan segala macam, tapi dengan alat ini, semuanya tampak jelas seperti siang hari”.
Letkol Pnb Asep mengungkapkan bahwa kalau terbang di low level navigasi, pada siang hari saja ya agak bikin merinding, tapi dengan terbang di malam hari menggunakan alat ini, tanpa ada cahaya lampu sedikitpun, dapat melihat dengan jelas, ada bukit, ada antena, dan lain sebagainya. Dengan alat tersebut, menelusuri bebukitan, menelusuri sungai, yang biasanya hanya bisa di lakukan siang hari, dapat dilakukan dengan mudah dimalam hari yang gelap.
Komandan Lanud Atang Sendjaja, Marsma TNI Erwin B. Utama, yang selama pelaksanaan latihan malam, bersama-sama dengan pejabat Lanud Atang sendjaja lainnya berada di Skadron Udara 8 mengungkapkan bahwa dengan adanya alat ini, akan ada peningkatan kemampuan penerbang untuk terbang malam. “Akan terjadi peningkatan kemampuan penerbang termasuk waktu terbang yang bisa dilakukan selama 24 jam tanpa hambatan,” ujar Marsma TNI Erwin B. Utama. Artinya, lanjutnya, dapat terbang dari pagi sampai pagi tanpa harus ada lagi pembatasan, karena tuntutan tugas ya memang seperti itu”.
“Kami berharap, dengan adanya alat terbaru yang dimiliki oleh Skadron Udara 8 maupun Skadron Udara 6, akan dapat meningkatkan peran pesawat helikopter bagi kepentingan bangsa dan Negara termasuk masyarakat”, ujar Danlanud Atang Sendjaja. “Kami juga mohon pengertian dari masyarakat apabila sewaktu-waktu kami melaksanakan latihan malam, agar dapat dimaklumi dan semoga selalu memberikan dukungan atas pelaksanaan tugas-tugas Lanud Atang Sendjaja tersebut,” pungkasnya.

AAD 2018: Denel dan OTT Afrika Selatan Tawarkan Truk Kontainer Logistik Anti-Ranjau

Africa Truck
Africa Truck 

Dalam gelaran Africa Aerospace & Defence (AAD) 2018 yang berlangsung pada 19-23 September di Pangkalan Udara Waterkloof, dua perusahaan pertahanan asal Afrika Selatan menawarkan kendaraan pembawa logistik berkemampuan anti-ranjau.
Tawaran pertama datang dari Denel Vehicle Systems yang menampilkan truk lapis baja pembawa kontainer bernama Africa Truck. Dibangun menggunakan basis ranpur RG-31 Mk6 MRAP (Mine Resistant Ambush Protected), namun sistem penggeraknya telah diubah dari 4x4 menjadi 6x6.
Fitur unggulan utama yang ditawarkan pada Africa Truck adalah kemampuannya menghadapi ancaman ranjau darat atau bom rakitan improvisasi (IED) di bawah lambung atau rodanya hingga setara ledakan 8 kg TNT. Kabinnya juga tahan terhadap tumbukan peluru senapan serbu hingga kaliber 7,62 mm.
Kelebihan lainnya, truk ini menerapkan desain modular agar bisa digunakan untuk beragam misi logistik. Di bagian belakang kabin tersedia sistem pengait otomatis untuk mengangkat dan menurunkan kontainer standar ISO berukuran 20 X 8 X 8 kaki. Kontainer barang bisa dipertukarkan dengan tanki air atau bahan bakar minyak. Bisa juga digantikan dengan kontainer pos komando maupun ambulans.
Africa Truck memiliki dimensi panjang 10 m, lebar 2,6 m, dan tinggi 2,74 m. Berat kosongnya 12 ton sedang muatan hingga 16 ton. Untuk menghelanya ditanamkan mesin diesel berdaya 360 hp, dilengkapi sistem transmisi otomatis enam percepatan. Dapat melaju hingga 110 km/jam di jalan rata dengan jangkauan operasi hingga 1.000 km.
Sebagai senjata perlindungan diri, Africa Truck dapat dilengkapi sistem senjata kendali jarak jauh (RCWS) bersenjatakan senapan mesin kaliber 7,62 mm yang dipasang di tengah atap bagian depan. Tersedia dua pintu palka di atas atap untuk kedua awaknya keluar darurat bila truk terbalik kesamping saat terkena ranjau.
Dalam pameran AAD 2018 juga ditampilkan truk logistik antiranjau buatan perusahaan pertahanan OTT Technologies Pty, yaitu OTT M36 Mk 6C. Truk ini dibangun menggunakan ranpur angkut pasukan M36 4x4 Puma yang sistem penggeraknya telah diubah menjadi 6x6. Dua tipe mesin diesel ditawarkan yakni buatan Mercedes-Benz Unimog atau Ashok Leyland Stallion.
Seperti halnya Denel Afrika Truck, OTT M36 Mk 6C juga mampu menahan ledakan ranjau atau IED setara ledakan 8 kg TNT dan kabin tempat duduk pengemudi dan komandan yang tahan peluru senapan serbu hingga kaliber 7,62 mm. Sebagai opsional bisa dilengkapi sistem senjata kendali jarak jauh (RCWS).
Begitu pula dengan bagian kargo belakangnya yang bisa dipertukarkan sesuai kebutuhan misi. Keduanya bisa dinaikkan lewat udara menggunakan pesawat angkut militer sekelas Boeing C-17 atau Ilyushin Il-76 dengan keadaan tanpa membawa kontainer.
Baik Denel Africa Truck dan OTT M36 Mk 6C ditawarkan pertama untuk militer Afrika Selatan guna menggantikan truk logistik dan transportasi SAMIL yang telah beropersi 30 tahun.
Kedua truk logistik antiranjau juga ditawarkan untuk militer asing yang membutuhkan pengangkut serbaguna di medan konflik di dalam negerinya atau digunakan di oleh pasukan penjaga perdamaian PBB. (Rangga Baswara Sawiyya)

Australia Berencana Bangun Pangkalan MIliter di Papua Nugini

Papua Nugini
Papua Nugini 

Australia dilaporkan berencana membangun pangkalan angkatan laut di Papua Niugini untuk menangkal pengaruh China di kawasan Pasifik.
The Australian via AFP melaporkan Kamis (20/9/2018), Canberra bersiap menyelesaikan fasilitas militer bersama di Pulau Manus.
Kesepakatan itu bakal dijalin di tengah pertemuan Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Port Moresby November mendatang.
Pejabat Kementerian Pertahanan Australia menjajaki pembangunan kembali Pangkalan Lombrum setelah Perdana Menteri Papua Niugini Peter O'Neill berkunjung ke Australia Juli lalu.
Dikonfirmasi mengenai pemberitaan The Australian, PM Australia Scott Morrison berkata tidak memberikan sanggahan.
"Pasifik merupakan area prioritas tertinggi bagi kepentingan keamanan nasional Australia," kata PM 50 tahun tersebut.
"Namun saya tidak akan berkomentar soal spekulasi isu keamanan nasional karena memang tak diperlukan," lanjut Morrison.
Kabar rencana pembangunan pangkalan militer di Papua Niugini terjadi setelah China dikabarkan berniat menempatkan militer di Vanuatu.
China dilaporkan telah mengucurkan miliaran dolar Amerika Serikat (AS) dalam bentuk pinjaman infrastruktur di pulau kawasan Pasifik.
Kawasan tersebut dikenal sangat strategis dan penting sebagai jembatan maritim di Asia. Australia telah memperingatkan pentingnya membendung pengaruh Beijing di sana.
Negeri "Kanguru" mengkritik China yang disebut melakukan "diplomatik lembut". Di 2018 ini, mereka menyatakan bakal menjalin perjanjian dengan Vanuatu.
Selain itu, mereka juga mengumumkan bakal membangun jalur kabel komunikasi bawah laut di Kepulauan Solomon dan Papua Niugini. (Ardi Priyatno Utomo)

Marinir Brazil Terima Kiriman Terakhir Ranpur Amfibi AAV7A1 RAM/RS dari AS

 Ranpur Amfibi AAV7A1 RAM/RS
 Ranpur Amfibi AAV7A1 RAM/RS 

Diangkut menggunakan armada pesawat angkut C-17 Globemaster III milik Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF), unit terakhir AAV7A1 Reliability, Availability, Maintainability/Rebuild to Standar (RAM/RS) kepunyaan Korps Marinir Brazil (CFN) kini telah bergabung dengan 22 unit lainnya.
Unit terakhir diterbangkan dari AS menuju Rio de Janeiro pada 17 September lalu merupakan varian kendaraan angkut personel lapis baja AAVP7A1 RAM/RS.
Awal kisah, pada 2015 Bae System mendapatkan kontrak penjualan militer luar negeri (FMS) senilai 82juta dolar AS untuk memproduksi 23 unit AAV7A1 RAM/RS.
Bukan barang baru, unit-unit tersebut merupakan rantis serbu amfibi AAV7A1 bekas pakai Korps Marinir AS (USMC) yang dimodernisasi dan diubah sesuai kebutuhan CFNavva.
Dari jumlah tersebut, 20 di antaranya di-upgrade ke versi AAVP7A1 RAM/RS (angkut pasukan), dua lainnya menjadi versi AAVC7A1 RAM/RS (pos komando) dan satu sisanya dijadikan versi AAVR7A1 RAM/RS (reparasi).
Melalui kontrak FMS sebesar 117.5juta dolar AS antara AL Brazil dan Pemerintah AS, mulai dari suku cadang, peralatan terkait dan bantuan teknis menjadi paket lengkap untuk pembelian rantis tersebut.
Pada Mei 2017, satu unit kendaraan versi angkut personel (APC) dan satu versi pos komando (kodal) dikirim melalui jalur laut. Kemudian 18 unit versi APC bersama satu versi kodal sisanya dan satu versi reparasi (recovery) diterima Brazil pada 4 September 2017.
Program modernisasi ini menggantikan mesin diesel asli AAV7A1, VTA-903 bertenaga 400 hp, dengan mesin diesel Cummins VTA-525 berdaya 525 hp. Perombakan ini menambahkan sistem transmisi NAVSEA HB-525, intercom Harris RF-7800I, perangkat tampilan termal dan sistem GPS pada rantis.
Modernisasi ini juga menyematkan suspensi batang torsi dengan empat peredam kejut di setiap sisi, sensor penggenangan, sistem pencegahan kebakaran, panel instrument baru, radio dari Elbit Systems, dan provisi untuk ornament lapis baja Rafael Advance Defense Systems EAAK.
Sementara AAVC7A1 RAM/RS mencakup enam stasiun kerja; genset dan kendali Fischer Panda; serta sistem kodal SCI Technology TOCNET-C. (Ery)

Daftar 5 Peralatan Militer Buatan Rusia yang Dibeli China dan Berujung Kena Sanksi CAATSA dari AS

Sukhoi Su-35
Bomber China 

Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan sanksi CAATSA kepada militer China terkait pembelian sejumlah senjata dari Rusia pada Jumat, 21 September 2018 seperti dilansir Reuters.
Sanksi ini ditujukan langsung kepada Departemen Pengembangan Peralatan Angkatan Bersenjata China dan Kepalanya yaitu Li Shangfu.
Kementerian Luar Negeri AS mengatakan ada peningkatan transaksi jual beli antara China dengan Rosoboronexport, yang merupakan eksportir senjata kakap di Rusia.
Sanksi AS ini berupa larangan terhadap Departemen Pengembangan Peralatan Angkatan Bersenjata China mengajukan izin ekspor senjata. Sanksi itu juga melarang pertukaran personel militer di bawah yurisdiksi AS.
Berikut ini beberapa peralatan senjata canggih yang diborong China dari Rusia versi SCMP:
1. Sukhoi Su-35
Kemenlu AS mengatakan China mendapat 10 unit Su-35 jet tempur pada Desember 2017. Ini membuat China menjadi negara pertama yang membeli jet tempur canggih, pesawat tempur yang dikembangkan dari basic Su-27.
Su-35 ini ditenagai dengan dua mesin AL-117S turbofan dan mampu melakukan manuver unik dengan kecepatan rendah. Jet tempur ini juga mampu melacak hingga 30 sasaran sekaligus karena dilengkapi dengan fitus radar multifungsi.
Beijing mulai menggunakan Su-35 ini terhadap Taiwan pada Mei 2018 saat menyeberangi Bashi Channel, yang terletak di antara Taiwan dan utara Filipina.
Pesawat tempur Sukhoi Su-35 tampil pertama kali di Dubai Air Show, UEA, pada13 November 2017. Su-35 merupakan jet tempur generasi 4++ tercanggih Rusia saat ini.
2. Sistem Rudal Anti-serangan Udara S-400 Triumf
Kemenlu AS mengatakan China menerima kiriman sistem rudal anti-serangan udara ini pada 2018, yang merupakan lanjutan kesepakatan kedua negara pada 2014.
Sistem anti-serangan udara canggih ini mampu mengejar target berupa jet tempur dari jarak 40 kilometer hingga 400 kilometer, yang terbang pada ketinggian 10-30 kilometer. Ini disebut sistem pertahanan udara berlapis.
Sistem ini mampu mendeteksi jet tempur siluman dan bisa menahan serangan elektronik, yang dirancang untuk membuat mekanisme rudal menjadi macet.
Satu sistem S-400 memiliki 384 rudal dengan 72 peluncur. Sistem ini bisa melacak hingga 300 target pada saat yang sama dan menyerang 36 target secara serentak. Rudal ini bisa melesat hingga Mach 15 atau 4.800 meter per detik.
Rusia juga bakal menjual sistem ini ke Turki, yang juga mendapat tentangan dari AS.
3. Helikopter Kamov Ka-32A11VS
China membeli 7 unit Kamov Ka-32A11VS multifungsi pada 2016 dan dua unit pada 2017. Helikopter ini cocok untuk berbagai misi seperti pemadaman kebakaran hutan, pencarian dan penyelamatan, serta patroli. Helikopter ini bisa dipasangi berbagai peralatan tambahan seperti water canon untuk pemadaman kebakaran. Rusia merancang helikopter ini untuk membawa kargo dan terbang pada daerah pegunungan.
4. AL-31F Engines
China memesang 150 unit mesin turbofan AL-31F. Sebanyak 100 unit telah diserahkan pada 2017 menurut lembaga kajian Swedia SIPRI.
China memesan mesin ini untuk dipasang pada jet tempur Shenyang J-15, yang berbasis di kapal induk. Shenyang merupakan modifikasi dari jet tempur Sukhoi Su-27.
China juga dikabarkan membeli mesin AL-31FM untuk dipasang pada pesawat jet tempur Chengdu J-20, yang merupakan jet tempur generasi ke-5.
5. D-30 Engines
China membeli mesin ini untuk dipasang pada pesawat angkut militer Y-20 dan pesawat pengebom H-6K, yang telah beroperasi sejak Oktober 2009 dan terbang hingga radius 3.500 kilometer.

Beli Sistem Senjata dari Rusia, Militer China Kena Sanksi CAATSA Amerika Serikat

Sukhoi Su-35
Sukhoi Su-35 

Amerika Serikat akan segera menjatuhkan sanksi kepada Departemen Pengembangan Peralatan Angkatan Bersenjata China dan Kepala Departemen tersebut, Li Shangfu. Sanksi dijatuhkan karena departemen itu telah membeli peralatan pertahanan dari Rusia.
Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan telah melihat adanya peningkatan transaksi jual-beli yang dilakukan departemen itu dengan Rosoboronexport, sebuah eksportir senjata terbesar di Rusia. China diantaranya telah melakukan pembelian jet tempur Su-35 pada 2017 dan sistem rudal S-400 pada 2018.
Sanksi yang dijatuhkan diantaranya melarang Departemen Pengembangan Peralatan Angkatan Bersenjata China mengajukan izin ekspor senjata dan berpartisipasi dalam pertukaran militer di bawah yurisdiksi Amerika Serikat.
Dikutip dari Reuters pada Jumat, 21 September 2018, sumber di Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan target akhir dari sanksi ini adalah Rusia. Sanksi dalam kontek ini tidak ditujukan untuk mengesampingkan kemampuan pertahanan suatu negara tertentu.
"Sanksi ini sebaliknya ditujukan menyasar sektor pembiayaan Rusia sebagai respon atas sejumlah aktivitasnya yang dinilai telah menyebar fitnah," kata sumber yang menolak dipublikasi identitasnya.
Rencana penjatuhan sanksi ini muncul ketika pemerintahan Presiden Donald Trump melakukan berbagai upaya untuk menekan China. Bukan hanya itu, langkah ini juga untuk merespon laporan agen intelijen Amerika Serikat yang dalam laporannya menyebut Rusia terus-menerus mencampuri urusan politik dalam negeri Amerika Serikat.
Amerika Serikat sebelumnya telah memasukkan dalam daftar hitam 33 orang dan organisasi di dunia yang berhubungan dengan Angkatan Bersenjata Rusia dan intelijen negara itu. Sejumlah anggota parlemen, termasuk pendukung Trump di Partai Republik telah menyerukan berkali-kali menyerukan agar Trump mengambil langkah tegas terhadap Moskow.
China Desak Amerika Serikat Cabut Sanksi CAATSA Atas Militernya
Pemerintah China mendesak pemerintah Amerika Serikat untuk menarik sanksi atas militer China terkait pembelian sejumlah senjata canggih Rusia atau akan menghadapi konsekuensi.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang, mengungkapkan kemarahan besar Beijing atas sanksi AS itu dalam jumpa pers rutin pada Jumat, 21 September 2018.
“Kami mendesak dengan kuat AS untuk segera mengkoreksi kesalahannya dan membatalkan apa yang disebut sebagai sanksi,” kata Geng Shuang seperti dilansir media China, CGTN, pada Jumat, 21 September 2018.
Geng mengatakan kebijakan AS ini telah secara serius melanggar basik norma hubungan internasional dan merusak hubungan AS dan China serta hubungan militer kedua negara.
Media Sputnik asal Rusia melansir Geng juga mengatakan,”Pemerintah China mengekspresikan kemarahan yang besar terkait tindakan itu dan telah membuat respon yang kuat.”
Geng mengatakan kerja sama militer China dan Rusia dalam bidang pertahanan tidak melanggar hubungan internasional dan tidak diarahkan kepada negara ketiga. Dia menambahkan Beijing bakal meningkatkan kerja sama dan kolaborasi dengan Moskow meskipun ada sanksi.
Seperti dilansir Reuters pada Kamis, 20 September 2018, seorang pejabat AS mengatakan kepada jurnalis bahwa AS telah mengenakan sanksi kepada Departemen Pengembangan Peralatan China dan direkturnya yaitu Li Shangfu.
Ini karena lembaga itu telah melanggar Undang-Undang Countering America;s Adversaries Through Sanctions Act atau CAATSA. UU ini dilansir pada 2017 sebagai respon atas intervensi Rusia pada pemilu Presiden AS 2016 untuk memenangkan Donald Trump, yang belakangan terpilih sebagai Presiden. Rusia membantah tudingan dan menyebutnya absurd.
Pasca pengumuman sanksi dari Amerika Serikat, Menteri Industri dan Teknologi Informasi China, Miao Wei, mengumumkan percepatan negosiasi kerja sama dengan Rusia untuk pengembangan helikopter angkut berat. Pada Mei 2016, perusahaan helikopter dari Rusia yaitu Rostec dan Avic dari China bersepakat membuat helikopter dengan bobot angkut 38,2 ton.
Rusia dan China negara disebut bersepakat untuk mengerjakan proyek pembuatan pesawat penumpang dengan body lebar yaitu CR929.

Rudal Tua S-200 Dubna, Adopsi Peluncur Jadul Fixed Erector yang Masih Bikin Israel Penasaran

Rudal Tua S-200 Dubna
Rudal Tua S-200 Dubna 

Nama rudal hanud S-200 milik Suriah dalam satu tahun ini telah mendapat dua kali sorotan, pertama pada Februari 2018, diwartakan sebuah jet tempur F-16I Soufa milik Israel berhasil dirontokkan oleh rudal hanud jarak jauh peninggalan era Perang Dingin tersebut, kemudian yang terbaru, S-200 melakukan friendy fire pada pesawat angkut Ilysuhin Il-20 milik Rusia, 15 awaknya dilaporkan gugur dalam insiden tersebut.
Dalam peristiwa kedua, sebenarnya yang disasar adalah F-16 Israel yang tengah dalam manuver melakukan serangan darat di wilayah Suriah. Lepas dari ‘prestasinya,’ rudal tua yang dirilis perdana tahun 1967 ini memang menarik untuk disimak. Bagi kebanyakan orang tampilan dan sistem operasi S-200 mengingatkan pada rudal hanud SA-2, yang dahulu di dekade 60-an pernah jadi kebanggaan Kohanudnas untuk melindungi obyek vital di Jakarta.
Serupa dengan SA-2, dimensi dan bobot S-200 terbilang bongsor. Untuk memobilisasi satu rudal saja diperlukan satu unit rangkaian truk trailer khusus. Persisnya bobot S-200 yang disebut NATO sebagai SA-5 Gammon mencapai 7,1 ton. Semenetra SA-2 atau dalam kode Rusia disebut S-75 Dvina, bobotnya ‘hanya’ 2,3 ton. Dari dimensi S-200 punya panjang 10, 8 meter, sedangkan SA-2 yang dapat Anda lihat sosoknya di Museum Satria Mandala panjangnya 10,6 meter.
Dengan bobot yang masif karena mengejar aspek kecepatan dan jarak jangkau spektakuler, baik S-200 dan SA-2 tak seperti rudal hanud zaman kini, jangan bandingkan kedua rudal tua ini dengan desain peluncur S-300/S-400 dan rudal Patriot. S-200 dan SA-2 masih mengedepankan peluncur model jadul dengan fixed erector. Artinya bila sudah dipasang pada satu titik, maka relatif akan permanen di area tersebut, alias tidak mobile. Meski begitu, model rudal gambot ini bisa dipindahkan ke wilayah operasi lain dengan waktu penggelaran kurang lebih 7 sampai 24 jam.
Sekilas kisah tentang S-200 yang namanya mampu menyalip kondangnya S-400, mulai diterima Suriah pada Januari 1983. Menurut Wikipedia.org, Suriah mendapatkan dua baterai dengan komposisi 24 peluncur dari Rusia (Uni Soviet).
Fire control radar 5N62 yang mendukung satuan tembak rudal S-200.
Dengan bobot yang aduhai, untuk meluncurkan rudal ini dengan kecepatan awal yang memadai diperkukan booster. Persisnya S-200 dilengkapi empat booster dengan bahan bakar padat. Dengan sokongan utama dari dual-thrust liquid-fueled rocket motor, S-200 memang dapat melesat sampai kecepatan Mach 4 atau sekitar 2.500 meter per detik. Dengan membawa hulu ledak frag-HE seberat 217 kg, S-200 mampu mengejar sasaran sejauh 300 km.
Pola penghancuran pada sasaran menganut proximity and command fusing, sementara sistem kendali rudal mengadopsi semi-active radar homing seeker head. Karena dirancang untuk menghancurkan pesawat mata-mata yang terbang tinggi, S-200 dapat melesat sampai ketinggian 40.000 meter.
Lantaran sudah tergolong uzur, Rusia sejak lama sudah tak mengoperasikan S-200, dan menggantinya dengan S-300 dan S-400. Selain Suriah, S-200 saat ini masih dioperasikan oleh Myanmar, Polandia, Turkmenistan, Uzbekistan, India, Azerbaijan, Bulgaria, Algeria, Kazakhstan dan Korea Utara. Pamor S-200 di tahun 2017 juga sempat naik daun, setelah diberitakan berhasil ‘menyenggol’ F-35 Israel dan menjadikan jet tempur siluman tersebut rusak berat. Meski tentu saja klaim itu ditolak Israel dengan mengatakan F-35 mereka rusak karena menabrak burung. (Gilang Perdana)

Radar Acak