TNI AU Bangun Skuadron 27 di Lanud Manuhua Biak Numfor Papua

CN-235
CN-235 

Markas besar TNI Angkatan Udara membangun fasilitas fisik Skuadron udara 27 yang berisikan pesawat CN-235 di pangkalan udara Manuhua Biak Numfor.
Komandan Pangkalan Udara Manuhua Biak Marsekal Pertama TNI Fajar Adriyanto di Biak, Jumat mengatakan kehadiran Skuadron pesawat CN-235 di Kabupaten Biak Numfor diharapkan dapat mendukung kelancaran angkutan udara untuk menunjang pelayanan roda perekonomian masyarakat di tanah Papua.
"Idealnya ada sekitar 12 pesawat CN-235 yang akan mendukung operasional Skuadron 27 Lanud Manuhua Biak, ya untuk tahap awal akan ada tiga atau empat pesawat beroperasi," ungkap Marsma TNI Fajar menanggapi pembentukan Skuadron 27 Biak.
Ia mengakui untuk tahapan pekerjaan fisik pembangunan fasilitas Skuadron 27 akan dimulai pada Senin pekan depan.
Marsma Fajar mengharapkan dukungan semua elemen masyarakat Biak Numfor sehingga pembangunan Skuadron 27 dapat selesai tepat waktu.
Sementara itu, Sekretaris Lembaga Adat Biak (LAB) Yan Rumbarar mengatakan akan mengawal proses pembangunan fasilitas Skuadron 27 di Lanud Mahuhua Biak.
"Saya harapkan pekerjaan pembangunan fisik Skuadron 27 memperhatikan pekerja lokal masyarakat Biak, ya ini bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat adat," ucap Yan Rumbarar.
Ia mengatakan secara kelembagaan dan masyarakat adat mendukung sepenuhnya pelaksanaan pembangunan Skuadron udara 27 Biak.
Pembangunan fasilitas hanggar Skuadron udara 27 di Lanud Manuhua Biak ditandai dengan pembacaan doa bersama dengan tokoh adat, tokoh masyarakat, Ketua DPRD Zeth Sandy serta komandan satun TNI dna Polri. ( Muhsidin)

Pindad Jalin Kerja Sama dengan Waterbury di Bidang Amunisi

Amunisi Pindad
Amunisi Pindad 

PT Pindad (Persero) menjalin kerja sama strategis di bidang amunisi dengan Waterbury Farrel, salah satu Divisi dari Magnum Integrated Technologies Inc. Kerja sama tersebut, ditandai dengan penandatanganan MoU antara Direktur Utama Pindad, Abraham Mose dan President & CEO Waterbury Farrel, Andre Nazarian, Kamis (11/10) di Inaya Hotel, Nusa Dua, Bali.
Menurut Direktur Utama PT Pindad (Persero) Abraham Mose, bentuk investasi Pindad dalam ajang International Monetery Fund (IMF)-World Bank 2018, adalah dengan melakukan strategic partnership dengan Waterbury Farrel dengan nilai investasi 100 Juta Dolar AS untuk pembangunan pabrik amunisi kaliber kecil. Artinya kerja sama ini dengan skema Build Operate Transfer (BOT).
"Harapan kami di 2019 akhir nanti kita sudah mencapai penjualan 350 juta butir per tahun, yang sebenarnya masih di bawah kebutuhan TNI-Polri yang kurang lebih sekitar 500 juta butir per tahun," ujar Abraham dalam siaran persnya.
Kemampuan Pindad untuk memproduksi 350 juta amunisi per tahun bisa mempengaruhi pendapatan Pindad Rp 1,4 triliun per tahun. "Dan sudah melakukan subtitusi impor kurang lebih Rp 342 miliar per tahun," katanya.
Abraham menjelaskan, tujuan dari kerja sama ini adalah untuk mengembangkan fasilitas lini produksi amunisi kaliber kecil yang berlokasi di Indonesia. Selain itu, kerja sama juga bertujuan membangun program bisnis sebagaimana dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 untuk memenuhi kebutuhan TNI dan membangun kemampuan dan kemandirian industri pertahanan di masa yang akan datang.
Perseroan berharap bisa memaksimalkan kemampuan serta meningkatkan operasional dan menjamin bahwa kerja sama ini dapat meningkatkan kemandirian Indonesia dalam memelihara kualitas produk dan proses kemampuan Amunisi. Tak hanya itu, melalu kerja sama ini perseroan bisa melakukan proses bisnis dan pengembangan industri secara bertahap dan progresif untuk membangun bisnis amunisi yang kompetitif secara internasional di Indonesia dan selanjutnya untuk masuk ke penjualan ekspor global.
Pelaksanaan dari kerja sama ini, kata dia, untuk membangun program akan berdasarkan pada kontribusi utama Pindad yang akan menyediakan wilayah manufaktur dan keahlian tenaga kerja. Waterbury nantinya akan menyediakan lini produksi amunisi, menjamin produk berkualitas tinggi dan harga bersaing untuk pasar Indonesia dan internasional.
"Kedua perusahaan akan menggabungkan kemampuan mereka dalam kerja sama ini serta bersama-sama mencari investor yang sesuai dengan kebutuhan Pindad dan Waterbury membangun program jangka panjang ini," katanya.
Waterbury, perusahaan yang berbasis di Kanada, merupakan penyedia amunisi lengkap dan pabrikan rolling mill. Perseroan memiiki keahlian dalam peralatan untuk membentuk logam, rolling dan produk-produk industri pertahanan. Perusahaan yang berdiri di Ontario ini memiliki lebih dari 160 tahun keahlian dan pengalaman di seluruh dunia. (Arie Lukihardianti)

PT DI Berencana Bangun Sebuah Pabrik di Tahun 2019

PT Dirgantara Indonesia
PT Dirgantara Indonesia 

Guna meningkatkan kapasitas produksi pesawat, PT Dirgantara Indonesia berencana untuk membangun sebuah pabrik di tahun 2019.
Keberadaan pabrik tersebut diestimasi akan meningkatkan kapasitas produksi perusahaan sebanyak 6 unit pesawat per tahun. Selama ini, perusahaan rata-rata menghasilkan 10 unit pesawat setiap tahunnya.
"[Tahun] 2019, kalau sudah sertifikasi, segera kita bangun fasilitas manufaktur tersendiri," kata Direktur Utama PT DI Elfien Goentoro, ketika ditemui para jurnalis di Paviliun Indonesia, di sela-sela pertemuan IMF-WB, hari Rabu (10/10).
Elfien berkata dibutuhkan pendanaan sekitar US$90 juta (Rp 1,4 triliun) sampai $100 juta untuk membangun pabrik tersebut. Nantinya, pabrik tersebut akan menghasilkan pesawat militer berjenis N219 yang diberi nama Nurtanio oleh Presiden Joko Widodo.
Saat ini, perusahaan sedang melakukan penjajakan terhadap beberapa institusi keuangan supaya mereka bisa membantu pembangunan pabrik dalam hal pendanaan.
Perusahaan juga terbuka dengan alternatif pendanaan lain seperti partisipasi ekuitas, Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), pembuatan anak perusahaan, maupun perusahaan patungan (joint venture).
Dirgantara Indonesia yang merupakan produsen pesawat satu-satunya milik Indonesia ini juga tidak menutup peluang kolaborasi secara internasional. Meski terbuka untuk bekerjasama dengan asing, Elfien berkata perusahaan akan tetap mempertahankan konten lokal dari segi komponen, desain dan produk.
"Boeing, Airbus, mana ada yang sendiri. Seluruh komponen [mereka] dari luar, kita [juga] kerja sama dari luar. Kalau industri pesawat terbang mau sendiri risiko [dan] modalnya terlalu besar. Kita harus bangun ekosistem dari dalam ataupun luar supaya bisa mandiri," jelasnya.

Sikorsky S-97 Raider, Helikopter Serang Intai Masa depan

Sikorsky S-97 Raider
Sikorsky S-97 Raider 

Prototipe helikopter taktis ringan Sikorsky S-97 Raider berhasil melampaui target yang ditetapkan saat pengujiannya digelar di Pusat Pengembangan Penerbangan Sikorsky pada Kamis (4/10) lalu. Tercatat, helikopter ini mampu melesat pada kecepatan 200 knot, dua kali lipat dari kecepatan helikopter konvensional.
Pencapaian tersebut tak lepas dari teknologi teruji yang diusung Sikorsky untuk S-97, X2 Technology.
“Program uji terbang Sikorsky S-97 Raider melebihi dari yang diharapkan, mendemonstrasikan kecepatan revolusioner Raider, kemampuan manuver dan kelincahan. X2 Technology mewakili seperangkat teknologi yang dibutuhkan untuk pertempuran masa depan, yang memungkinkan para penempur untuk terlibat dalam konflik berintensitas tinggi kapanpun, di manapun,” kata Tim Malia, Sikorsky Director, Future Vertical Lift Light.
Sikorsky dikabarkan sedang mempersiapkan proposal untuk mengikuti kompetisi pesawat serang intai masa depan (Future Attact Reconnaissance Aircraft/FARA) ke Angkatan Darat Amerika Serikat (AS). Sikorsky mendorong AD AS untuk merevolusi armada pesawat mereka sebagai bagian dari wacana yang mereka sebut dengan ‘Future Vertical Lift’.
Raider menggabungkan kemajuan teknologi terbaru dalam kontrol penerbangan fly-by-wIre, sistem manajemen kendaraan dan sistem integrasi. Perangkat X2 Technology memungkinkan pesawat dapat dioperasikan dengan kecepatan tinggi sambil mempertahankan kualitas penanganan kecepatan rendah dan kemampuan manuver rotor utama tunggal helikopter konvensional.
Sumber :  TSM

Thailand Berminat pada BTR-4MV1 Ukraina

BTR-4MV1
BTR-4MV1 

Thailand telah menunjukkan minatnya untuk membeli pengangkut personil lapis baja BTR-4MV1.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional dan Pertahanan Ukraina Oleksandr Turchynov, dalam rangka pameran Senjata dan Keamanan, membahas masalah kerja sama pertahanan dan keamanan dengan kepala delegasi dari Polandia, Kazakhstan, Arab Saudi, Republik Ceko, Turki, dan Thailand.
Negosiasi dengan Vice Admiral Sangkorn Pongsiri dari Korps Marinir Kerajaan Thailand mencakup isu-isu perluasan kerja sama militer-teknis bilateral.
Para perwira militer Thailand menyatakan minat mereka pada BTR-4MV1 Ukraina yang baru, yang menurut mereka, "bisa menjadi kendaraan tempur utama Korps Marinir Kerajaan Thailand". Menurut pejabat tinggi Thailand, peralatan militer dan senjata yang diperoleh dari Ukraina, khususnya tank dan pengangkut personel lapis baja, "berhasil melewati semua pengujian dan masuk dalam inventaris persenjataan Thailand".
BTR-4MV1, dikembangkan oleh spesialis dari UOP SE “Kharkiv Morozov Machine-Building Design Bureau” sesuai dengan standar NATO.
Berkat perubahan di bagian depan kendaraan lapis baja, serta solusi teknologinya, sesuai dengan tren persenjataan NATO terbaru, para spesialis berhasil mencapai tingkat perlindungan baru bagi BTR-4.
Ketika membuat BTR-4MV1, pengembang menggunakan pendekatan modular untuk membangun armor kendaraan tersebut dengan menggunakan spaced armor. Pendekatan modular seperti itu memungkinkan untuk dengan cepat mengganti elemen lapisan luar armor di lapangan.
Ini memungkinkan untuk meningkatkan perlindungan BTR-4MV1 secara signifikan melebihi APC model lama yangkini dioperasikan oleh Ukraina.
Solusi teknologi yang diadopsi oleh para spesialis Kharkiv Morozov Machine-Building Design Bureau memungkinkan penambahan berat BTR-4MV1 hanya menjadi 24-25 ton, yaitu 2-3 ton lebih berat dari BTR-4.
Penggerak roda 8×8 dengan mesin Deutz Jerman dan transmisi Alisson dari AS tetap tidak berubah, kecepatan tertinggi adalah 110 km/jam. Selain itu, BTR-4MV1 mempertahankan kemampuan untuk melintasi air dengan berenang dengan kecepatan hingga 10 km/jam. (Angga Saja - TSM)

Jepang Tawarkan Australia Bantuan untuk Bangun Kapal Selam Jika Negosiasi Kontrak Berlarut-Larut dengan Naval Group Perancis Tak Berhasil

Soryu Class
Soryu Class 

Menteri Luar Negeri Jepang mengatakan negaranya akan tetap siap untuk mengekspor kapal selamnya ke Australia jika negosiasi kontrak yang berlarut-larut antara Departemen Pertahanan Australia dan perusahaan Perancis, Naval Group, akhirnya tak berhasil.
Dalam wawancara dengan ABC sebelum berangkat ke Sydney, Menteri Luar Negeri Jepang, Taro Kono, juga mengisyaratkan bahwa Jepang akan bersedia melakukan patroli maritim bersama dengan Australia di Laut China Selatan, dan menyampaikan harapan agar rotasi pasukan akan terjadi "sesegera mungkin".
Bulan lalu, ABC mengungkap frustrasi yang dirasakan Pemerintah Australia terhadap Naval Group atas proyek kapal selam di masa depan senilai $ 50 miliar (atau setara Rp 500 triliun), dan kekhawatiran bahwa perjanjian kemitraan strategis kunci tak mungkin ditandatangani sebelum akhir tahun.
Dalam satu-satunya wawancara yang dilakukan setelah pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Australia, Marise Payne, dan Menteri Pertahanan Australia, Christopher Pyne, Kano mengatakan Tokyo akan bersedia untuk masuk jika Australia memutuskan untuk melihat pilihan lain sebagai pengganti armada Collins Class yang menua.
"Itu mungkin tetapi terserah kepada pemerintah Australia untuk memutuskannya," kata Kano.
Pada tahun 2016 Tokyo mengungkapkan kekecewaan yang mendalam setelah pemerintahan Turnbull memberi kontrak kapal selam yang menguntungkan bagi Perancis ketimbang tawaran Jepang dan Jerman yang bersaing.
Kano menekankan ia tak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan Jepang untuk mempersiapkan penawaran lain jika Australia kembali mendekati pemerintahnya.
"Ya, saya harus mengecek dengan Departemen Pertahanan dan industri terkait," katanya.
Minggu lalu Jepang merayakan peluncuran kapal selam kelas Soryu terbaru, Oryu, yang pertama dari armada yang akan didukung oleh baterai lithium-ion.
Menurut Euan Graham, seorang peneliti senior dari Lowy Institute, tawaran asli Jepang untuk membangun kapal selam masa depan Australia tak memenuhi standar teknis Departemen Pertahanan Australia, meskipun kapal selam kelas Soryu saat ini adalah kapal selam terbesar yang dioperasikan secara konvensional.
"Jika negosiasi dengan Perancis tak berhasil, Departemen Pertahanan menghadapi keputusan yang menakutkan tentang apakah akan kembali ke langkah awal, termasuk mungkin meninjau kembali opsi kapal selam bertenaga nuklir," kata Graham.
Patroli gabungan
Dalam pembicaraan tingkat tinggi pada hari Rabu (10/10/2018), Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan Jepang serta Australia membahas opsi untuk kerjasama militer dan keamanan yang lebih dekat sebagai bagian dari strategi Tokyo dalam "Strategi Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka".
Kano mengatakan hal yang mungkin bahwa Jepang akhirnya bisa melakukan patroli maritim bersama dengan Australia di perairan yang diperebutkan dari Laut China Selatan.
"Kekuatan Bela Diri maritim kami menimbulkan pelabuhan strategis di negara-negara ASEAN dan ada banyak hal yang bisa kita lakukan bersama," katanya.
"Laut China Selatan jelas merupakan wilayah yang sangat kontroversial, kami akan mempertimbangkan apa yang bisa kami lakukan bersama."
"Kami tidak melakukan pengawasan permanen saat ini, tetapi kami bisa memikirkan banyak hal yang bisa kami lakukan bersama di banyak tempat."
Menteri Luar Negeri Jepang juga menegaskan bahwa perjanjian "Status of Forces" dengan Australia hampir selesai.
Kesepakatan itu akan memungkinkan personel militer untuk melakukan perjalanan ke kedua negara untuk melakukan latihan bersama.
"Perjanjian ini sangat penting untuk kerja sama kami. Kami telah membuat kemajuan yang signifikan, hanya ada beberapa masalah yang tersisa untuk diselesaikan, jadi kami berharap pada akhir tahun ini kita pada dasarnya bisa mendapatkan kesepakatan," katanya.
Sumber : TSM

Menhan James Mattis Serukan Empat Pesawat Utama Militer AS Harus 80 Persen Siap Tempur

F-35
F-35 

Menteri Pertahanan Amerika Serikat James Norman "Mad Dog" Mattis telah meminta Pentagon agar 80 persen pesawat jet utamanya dalam kondisi siap tempur.
Dilansir dari Russia Today, 10 Oktober 2018, James Mattis telah memerintahkan Angkatan Udara dan Angkatan Laut untuk meningkatkan tingkat kemampuan misi mereka untuk empat pesawat utama menjadi 80 persen selama dua belas bulan ke depan. Memo yang dirilis pertengahan September dilaporkan secara eksklusif oleh situs militer Defense News.
Pesawat-pesawat utama yang dimaksud, yakni F-35, F-22, F-16 dan F/A-18, yang saat ini berada dalam kondisi kurang siap tempur. Tahun lalu, kurang dari separuh F-22 Angkatan Udara memiliki kemampuan misi, dan F-35 yang terkenal mahal mengalami kecelakaan pertama bulan lalu, hanya beberapa hari setelah armada mengangkasa untuk pertama kalinya.
Kantor Akuntabilitas Pemerintah sudah memperingatkan masalah ini pada 2016, ketika merilis laporan tentang kesiapan terbang 12 pesawat Angkatan Laut dan Angkatan Udara pada 2011. Pengawas menemukan bahwa kemampuan terbang setengah pesawat menurun selama periode tersebut, sementara sembilan dari 12 pesawat tidak memenuhi target pada 2016.
Menurut angka-angka yang dirilis Angkatan Udara setiap tahun, di seberang armada, kemampuan misi rata-rata menurun 0,8 persen dari 2016 hingga 2017, bahkan penurunan kecil ini menutupi penurunan dramatis yang terjadi pada F-22, yang kehilangan kemampuan misi 11,17 persen hanya dalam satu tahun. Dari 2013 hingga 2017, kecelakaan penerbangan meningkat 39 persen, menurut analisis oleh Times Militer.
"Keterbatasan anggaran dan kekurangan dalam skuadron penerbangan menyebabkan kinerja yang kurang optimal, kelebihan kapasitas dan kapasitas yang tidak terealisasi dalam armada," aku Mattis.
James Mattis sebelumnya telah menyalahkan kurangnya kesiapan tempur militer di Kongres, meskipun AS menghabiskan lebih banyak anggaran untuk militernya daripada gabungan anggaran tujuh negara.
Mattis telah menyerukan untuk mengurangi biaya operasi dan pemeliharaan armada selama tahun mendatang. Ini adalah sasaran yang logis, karena lebih banyak pesawat berkemampuan misi berarti lebih sedikit pesawat yang diperlukan dan lebih sedikit pesawat yang harus dibeli.
Sementara itu, mengesampingkan seruan James Mattis, Pentagon masih berencana untuk meluncurkan F-35 sebagai pesawat tempur utama untuk semua cabang militer Amerika Serikat, yang membebani pembayar pajak sebesar US$ 350 miliar atau Rp 5.300 triliun.
Sumber : TSM

Palestina Bantu Rekonstruksi Pasca Gempa dan Tsunami di Sulawesi Tengah

Palestinian International Coorperation Agency (PICA)
Palestinian International Coorperation Agency (PICA) 

Direktur Palestinian International Coorperation Agency (PICA), Imad al-Zuhair menyatakan, pihaknya akan turut membantu dalam proses rekosntruksi pasca gempa di Sulawesi Tengah.
Berbicara saat menggelar jumpa pers di kantor Kedutaan Besar Palestina di Jakarta, Imad menyatakan, PICA akan mengirimkan 24 anggota untuk membantu rekonstruksi di Palu dan Dongala.
"Kami siap untuk membantu membangun kembali Sulawesi Tengah. Rencananya, kami akan mengirimkan sekitar 24 orang, yang masing-masing dengan keahliannya untuk membangun kembali Sulawesi Tengah," ucap Imad.
"Tim yang akan kami kirimkan merupakan tim profesional di bidangnya. Kami tahu bagaimana membangun kembali dengan didukung sejumlah ahli," sambungnya pada Kamis (11/10).
Sebelumnya, PICA juga telah mengirimkan bantuan darurat ke Sulawesi Tengah. Imad mengatakan, pemberian bantuan ini adalah arahan dari Presiden Palestina, Mahmoud Abbas.
Dia mengatakan, pada awalnya PICA ingin langsung bertolak ke Palu dan menyampaikan bantuan itu secara langsung. Namun, karena situasi tidak memungkinkan, PICA akhirnya menyerahkan bantuan itu kepada pemerintah Indonesia, yang kemudian akan disalurkan ke daerah terdampak gempa.
"Nantinya, setelah kondisi sudah kondusif barulah kami akan berangkat ke Palu untuk membantu proses pembangunan kembali," ucapnya dan menambahkan bantuan yang diberikan berupa makanan, minuman, obat-obatan, air, genset, tenda hingga keperluan bayi. (Victor Maulana)

Kunjungan Kedua Delegasi Militer Indonesia, Peluang Akuisisi Frigat Iver Huitfeldt Class Kian Terbuka

 Frigat Iver Huitfeldt Class
 Frigat Iver Huitfeldt Class  

Dikunjungi sampai dua kali oleh pejabat pertahanan, tentu membuat sosok kapal perang andalan Denmark ini menjadi topik perhatian di kalangan pemerhati alutsista di Indonesia. Ya, kapal perang yang dimaksud adalah frigat Iver Huitfeldt Class, frigat ‘kelas berat’ dengan bobot mencapai 6.645 ton ini digadang sebagai kandidat pengganti frigat Van Speijk Class (Ahmad Yani Class) yang akan purna tugas pada tahun 2024.
Setelah pada 7 Maret 2016 lalu sempat dikunjungi Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu di fasilitas pangkalan AL Denmark. Menhan saat itu melihat frigat Peter Willemoes, kapal kedua dari tiga unit Iver Huitfeldt Class yang telah beroperasi. Maka kabar terbaru yang dikutip dari Twitter KBRI Kopenhagen, menyebutkan pada 8 Oktober 2018 telah dilakukan kunjungan delegasi dari TNI AL, Kementerian Pertahanan RI dan Duta Besar Indonesia untuk Denmark, Muhammad Ibnu Said ke Pangkalan AL Korsør untuk melihat langsung frigat Iver Huitfeldt Class.
Sebagai mitra diskusi adalah DALO (Danish Acquisition Logistic Acquisition) dan prinsipal kapal perang Odense Maritime Technology. Namun belum diketahui jelas, apa hasil dari pertemuan tersebut. Selama ini berita pengadaan Iver Huitfeldt Class sudah berhembus di dalam negeri, meski belum dapat dikonfirmasi malah disebut keinginan Indonesia untuk bisa mengakuisisi dua unit Iver Huitfeldt Class, yang akan dibangun di galangan PT PAL, Surabaya.
Tentu Iver Huitfeldt Class tak melenggang sendiri untuk menggantikan singgasana Van Speijk Class, pasalnya ada dua nama besar lain yang jadi kompetitor, yaitu De Zeven Provincien Class dan Bergamini Class FREMM. Yang disebut pertama adalah lawan terberat Iver Huitfeldt Class, pasalnya frigat buatan Belanda dipandang lebih punya sejarah penggunaan oleh TNI AL, maklum pembuatnya adalah Royal Schelde, yang memproduksi korvet SIGMA Diponegoro Class.
Dalam pertemuan penulis bersama Casper Klynge, Duta Besar Kerajaan Denmark untuk Indonesia (10/8/2016), disebutkan bahwa Denmark sangat serius untuk menawarkan frigat ini ke Indonesia. “Kami menawarkan frigat Iver Huitfeldt Class dalam fleksibilitas terkait perlengkapan senjata dan sensor yang dibutuhkan Indonesia. Kami juga menawarkan untuk pembangunan kapal perang ini di fasilitas galangan Indonesia, dan ini akan menjadi peluang positif bagi industri di dalam negeri, dan tentunya skema ToT (Transfer of Technology),” ujar Casper Klynge kepada penulis.
Odense Maritime Technology selaku principal Iver Huitfeldt Class memberikan beberapa opsi bila nantinya frigat ini diakuisisi oleh TNI AL. Yang pertama adalah solusi ‘plug and play,’ dimana persenjataan dan sensor dibangun melalu modul-modul. Tentunya muatan disini dapat disesuaikan dengan keperluan misi. Masa pakai yang berbeda dari komponen-komponen dapat diatasi secara individual sistem per sistem. Pola ini dipercaya dapat menghilangkan periode “off hire” yang panjang, dan secara praktis mampu meningkatkan usia pemakaian kapal. Dalam hal perawatan, muatan dan platform dapat dirawat secara independen, ini bisa memperdendek periode proses perawatan dan memperpanjang jam operasional.
Opsi kedua terkait ToT, Odense Maritime Technology selaku perancang menawarkan kerjasama yang erat dengan pihak galangan kapal dan TNI AL sebagai user. Dimana semua pihak bekerja dengan mengacu pada database yang sama, sehingga memaksimalkan proses ToT dari mulai tahap perancangan hingga tahap perakitan kapal di Indonesia.
Kemudian yang terakhir adalah muatan konten lokal, dimana sebagian pembangunan dan perakitan dapat dilakukan oleh galangan kapal Indonesia. Odense Maritime Technology menawarkan keterlibatan perancang kapal lokal dalam tahap rancangan dan rekayasa, serta prinsipal akan membantu galangan kapal lokal selama fase konstruksi di Indonesia. (Haryo Adjie)

Lockheed Martin Tawarkan Untuk Produksi Lebih Dari 400 Pesawat F-16 di India

Pesawat F-16
Pesawat F-16 

Lockheed Martin telah menawarkan untuk melakukan produksi di fasilitas India, lebih dari 400 pesawat tempur F-16 Blok 70 baru dan melakukan upgrade sekitar 400 pesawat untuk pelanggan internasionalnya.
Namun, pendirian pabrik manufaktur itu akan tergantung pada apakah Lockheed Martin akan mendapatkan kontrak Kementerian Pertahanan India untuk memproduksi lebih dari 100 pesawat tempur untuk Angkatan Udara India. Lockheed Martin dan Tata Advanced Systems Limited (TASL) mengumumkan pada tahun lalu bahwa kedua perusahaan berniat untuk bekerjasama untuk memproduksi pesawat tempur F-16 Blok 70 di India jika pesawat itu dipilih oleh Angkatan Udara India.
Mengenai mentransfer teknologi penting yang berkaitan dengan radar, sistem persenjataan dan komunikasi, dia mengatakan sebagian besar teknologi ini adalah dengan vendor yang memasok komponen tersebut ke Lockheed Martin dan setelah pembicaraan berjalan, pemerintah AS dan India akan mengatasi masalah ini.
Teknologi baru utama dalam F-16V meliputi radar AESA APG-83, yang juga dikenal sebagai Scaleable Agile Beam Radar (SABR). F-16V juga dilengkapi dengan Multifunctional Information Distribution System Joint Tactical Radio Systems (MIDS-JTRS) Link-16.
Lockheed Martin akan bergerak maju dengan mengidentifikasi vendor yang akan memasok ke perusahaan patungan yang akan dibentuk tersebut. Sekitar 70 vendor telah diidentifikasi, sejauh ini, kata Randall Howard, F-16 Business Development Lockheed Martin pada konferensi pemasok yang diadakan di Bangalore, India, Selasa (09/10).
"Pabrik India yang akan dibangun tersebut akan memasok sistem lingkungan F-16 global dari waktu ke waktu sampai fasilitas tersebut matang dari membuat bagian pesawat hingga memproduksi seluruh sub-sistem dan komponen penting," kata Howard pada November tahun lalu.
"Lockheed Martin memiliki pengalaman yang sangat banyak dalam hal bekerjasama dengan mitra internasional melalui kurva manufaktur dan akan melakukan hal yang sama dengan mitra India-nya."
Lockheed Martin sudah mengantongi penjualan, upgrade dan prospek pemeliharaan F-16 senilai $ 10 miliar untuk Bahrain, Slovakia, dan Yunani.
Bahrain melakukan pesanan senilai $ 1,1 miliar untuk versi baru F-16V Block 70 yang kemudian dapat berkembang nilainya hingga $ 3,3 miliar. Yunani kemungkinan akan mengupgrade armada 80 pesawat F-16-nya ke versi yang lebih baru dan Slovakia telah memilih F-16V mengalahkan Saab Gripen dengan estimasi nilai $ 1,8 miliar untuk 14 pesawat. (Angga Saja - TSM)

Rostec Rusia Buka Pusat Perawatan Mesin Helikopter Asia di Vietnam

Rostec
Rostec 

JSC UEC-Klimov (bagian dari United Engine Corporation - Rostec) dan Helicopter Technical Service Company Vietnam telah menandatangani perjanjian distributor mengenai pemeliharaan mesin helikopter sipil TV3-117 dan VK-2500. Perusahaan tersebut akan mendukung pengoperasian mesin dan gearbox utama helikopter di 12 negara Asia. Untuk tujuan ini, Center for Integrated Logistics Support akan dibangun di Vũng Tàu Vietnam pada akhir tahun ini.
Para mitra telah menandatangani perjanjian pada hari Senin (08/10) di Saint Petersburg Rusia. Dalam kerangka kesepakatan tersebut, Helicopter Technical Service Company, yang menyediakan pemeliharaan helikopter buatan Rusia, akan mendistribusikan mesin helikopter sipil TV3-117 dan VK-2500 yang dirancang oleh UEC-Klimov di Indonesia, Malaysia, Kamboja, Thailand, Vietnam, Myanmar, Laos, Australia, India, Tiongkok, Bangladesh dan Sri Lanka. UEC-Klimov akan memperbaiki unit daya, mesin pasokan, komponen, assembly dan suku cadang, dan melatih staf dalam pemeliharaan mesin sipil dan gearbox utama helikopter VR-12/VR-252.
“Dengan mengembangkan sistem dukungan purna jual mesin pesawat di Asia, kami akan dapat meningkatkan daya tarik produk kami untuk pelanggan lokal. Penawaran kami kepada para mitra bukanlah produk individual, ini juga mencakup seluruh jajaran layanan pemeliharaan terkait. Kami siap memberikan dukungan unit mesin sepanjang masa hidup helikopter. Pendekatan semacam itu akan membantu mengurangi durasi perawatan dan perbaikan mesin dan menurunkan biaya pengoperasian alat berat,” kata Anatoly Serdyukov, Direktur Industri dari Aviation Cluster Rostec.
Dalam pelaksanaan perjanjian tersebut, Center for Integrated Logistics Support UEC-Klimov akan dibangun di Vũng Tàu (Vietnam) pada akhir tahun ini. Ini akan menjadi pusat untuk mid-life repair mesin helikopter sipil, gudang suku cadang dan assembly-nya, dan merupakan kantor perwakilan UEC-Klimov. Otoritas penerbangan Vietnam diharapkan akan mengeluarkan sertifikat untuk Center for Integrated Logistics Support pada bulan Desember 2018 setelah menyelesaikan perbaikan percobaan satu mesin.
“Negosiasi kerja sama tersebut diadakan dalam rangka program pengembangan layanan UEC-Klimov 2018-2022. Sebagai hasil dari negosiasi ini, perusahaan kami telah memasuki pasar baru. Kami percaya bahwa kami akan menjadi mitra handal yang menyediakan dukungan purna jual dan perbaikan yang cepat dan berkualitas tinggi untuk mesin yang dioperasikan tidak hanya di Vietnam, tetapi di seluruh Asia Tenggara,” kata Alexander Vatagin, CEO UEC-Klimov. (Angga Saja - TSM)
Sumber :  rostec.ru

India Minat Membeli Tank T-14 Armata Buatan Rusia

Tank T-14 Armata
Tank T-14 Armata 

The India Times (9/10) memberitakan bahwa Rusia baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan program T-14 Armata, yang walaupun revolusioner dan teknologinya canggih, tetapi biaya risetnya mahal.
Rusia yang kesulitan keuangan karena kena embargo ekonomi dari AS mengalami kesulitan besar dalam memodernisasi seluruh alutsistanya sehingga harus memprioritaskan apa yang penting. Rusai mementingkan senjata yang punya efek penggentar besar.
India sebagai negara pembeli alutsista Rusia nampaknya mulai mengincar platform T-14 yang dinilai sudah cukup matang. Modernisasi dianggap perlu terutama pada armada T-72M1 Ajeya yang sebagian sudah diupgrade, dan sebagian lainnya belum.
T-14 akan memberikan keunggulan teknologi proteksi dan daya gebuk bagi India dibanding lawan-lawannya. KSAD India Jenderal Bipin Rawat juga sedang di Moskow untuk membahas soal alutsista, diantaranya diduga mencakup T-14 Armata.
Dana dari India dapat digunakan Rusia untuk menyempurnakan lagi T-14, diantaranya untuk memperkenalkan kanon kaliber besar yang diperuntukkan bagi Armata untuk memenuhi potensi terbaiknya, dan memesan lebih banyak T-14, karena Rusia sendiri tentu membutuhkannya. (Aryo Nugroho)

Airbus A400M TUDM Malaysia Sukses Angkut Eskavator dan Truk Tangki BBM ke Palu Sulawesi Tengah

Airbus A400M TUDM Malaysia
Airbus A400M TUDM Malaysia  

Nama Airbus A400M Atlas kian moncer saja di Indonesia, setelah AU Perancis yang menyertakan pesawat turbo propeller dalam misi bantuan kemanusiaan untuk korban gempa di Lombok pada 24 Agustus 2018, kini AU Malaysia pun ikut ambil bagian dalam misi bantuan logitik pada musibah gempa bumi di Palu, Sulawesi Tenggara. Bila Airbus A400M Perancis membawa dua unit ambulans ke Lombok, maka yang dibawa Airbus A400M Malaysia, lebih spektakuler.
Dengan kapasitas payload hingga 37 ton, apa yang diangkut Airbus A400M AU Malaysia (TUDM) ke Palu adalah truk tangki bahan bakar Pertamina dan satu unit eskavator Excava 200. Dikutip dari siaran pers airbus.com (9/10), disebutkan terlaksananya misi bantuan logistik ini berkat kerjasama antara Pemerintah Indonesia, AU Malaysia dan Airbus Foundation.
Seperti diwartakan sebelumnya, satu unit Airbus A400M Atlas Malaysia telah tiba di Lanud Halim Perdanakusuma pada 4 Oktober 2018. Dengan durasi penerbangan 2 jam 45 menit, setiap hari pesawat turbo propeller yang juga telah dipesan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia ini menghabiskan dua sortie.
Dalam misi bantuan logistik selama empat hari di Indonesia, Airbus A400M Malaysia menyalurkan distribusi bantuan pangan, dan peralatan kesehatan yang dikumpulkan oleh Kementerian BUMN. Karena melibatkan peran Kementerian BUMN, nama PT Pindad dan PT Pertamina ikut disertakan dalam misi bantuan ke Palu.
Kebutuhan pasokan bahan bakar di Palu dijawab dengan penerbangan truk BBM berkapasitas 5.000 liter. Tidak itu saja, ruang kargo Airbus A400M juga dimuati satu unit eskavator Excava 200 buatan PT Pindad.
Ibarat membawa tank, Excava 200 dengan bobot 20 ton tak mengalami kesulitan saat proses loading dan unloading. Selain menjadi ‘promosi’ atas kehandalan Airbus A400M, sosok eskavator Excava 200 yang buatan dalam negeri ikut terdongkrak pamornya. PT Pindad sendiri dilaporkan siap memproduksi 100 unit Excava 200 per tahunnya. (Haryo Adjie)

Tiongkok Ungkapkan Program Pembom Stealth Baru Hong-20

Pembom Stealth Baru Hong-20
Pembom Stealth Hong-20  

Tiongkok telah mengungkap program pembom stealth generasi baru, Hong-20 yang uji coba penerbangannya mungkin akan segera dilakukan, kata surat kabar Global Times Tiongkok yang melaporkan kemarin (10/10).
Pengumuman resmi Hong-20 kemungkinan akan dijadwalkan untuk acara Zhuhai Air pada bulan depan meskipun belum ada konfirmasi mengenai hal ini. Sementara rincian pesawat belum diketahui, namun pesawat tersebut kemungkinan memiliki jangkauan yang lebih jauh daripada pesawat stealth yang sudah ada yang tengah menjalani pengujian atau dalam kedinasan Angkatan Udara Tiongkok.
Pembom stealth baru ini akan melengkapi pesawat tempur stealth Shenyang J-31 yang pertama kali diterbangkan secara publik pada tahun 2016 dan pesawat tempur stealth kursi tunggal, multirole, Chengdu J-20 yang diproduksi oleh Chengdu Aircraft Industry Group (CAIG).
Stasiun televisi resmi Tiongkok mengkonfirmasi nama pembom itu pada hari Selasa (09/10). Sebelumnya China Central Television telah menyiarkan dalam sebuah film dokumenter pada bulan Agustus bahwa "pengembangan pembom strategis jarak jauh baru, Hong-20, telah mencapai kemajuan besar."
Ini adalah pertama kalinya nama "Hong-20" muncul secara resmi. "Hong" adalah karakter pertama hongzhaji, "pesawat pembom" dalam bahasa Tiongkok.
Pembom Tiongkok Hong-20 telah dikembangkan di Shanghai Aircraft Design and Research Institute sejak 2008, koran Rusia Rossiyskaya Gazeta sebelumnya melaporkan.
"Generasi baru pembom dapat membawa lebih banyak bom daripada pembom H-6K sebelumnya, memiliki keunggulan dari fitur stealth dan mampu menyerang sasaran dari jarak jauh (standoff)," kata seorang ahli militer Song Zhongping dalam wawancara sebelumnya dengan Global Times pada bulan April.
Hong-20 dapat meningkatkan kemampuan pasukan udara defensif dan ofensif dan "memungkinkan angkatan bersenjata Tiongkok untuk memiliki deterrent nuklir dan konvensional yang lebih kuat," kata Song. (Angga Saja - TSM)

KSAD: Kerja Sama TNI AD dan AD Brunei Meningkatkan Interoperabilitas dan Mengokohkan Kekuatan di Asia Tenggara

 Kerja Sama TNI AD dan AD Brunei
 Kerja Sama TNI AD dan AD Brunei  

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono menerima kunjungan kehormatan Panglima Angkatan Darat Brunei Darussalam Brigadir Jenderal Dato Seri Pahlawan Awang Khairul Hamed bin Awang Haji Lampoh, di Mabesad, Jakarta, Selasa (9/11/2018). Kunjungan kehormatan Panglima Angkatan Darat Brunei Darussalam bersama rombongan ini dalam rangka perkenalan beliau kepada KSAD.
KSAD mengucapkan selamat atas pengangkatan Brigadir Jenderal Dato Seri Pahlawan Awang Khairul Hamed bin Awang Haji Lampoh sebagai Panglima Angkatan Darat Brunei Darussalam yang dilantik pada tanggal 31 Januari 2018. “Jabatan tersebut merupakan penghargaan dan bukti pengakuan AD Brunei terhadap dedikasi, profesionalisme dan loyalitas Brigjen Awang selama ini,”ujarnya.
KSAD menyampaikan, kerja sama antara kedua Angkatan Darat yang telah terjalin tidak hanya terkait bidang intelijen melainkan juga bidang pendidikan,“TNI AD tetap berkomitmen untuk melanjutkan kerja sama yang telah terjalin serta bertekad untuk terus meningkatkan kerja sama ke level yang lebih tinggi lagi,”tegasnya.
Di bidang latihan, TNI AD dan AD Brunei telah melaksanakan Latihan Bersama (Latma) Keris Satria 2018 pada tanggal 27 Agustus s.d. 5 September 2018 di Brunei Darussalam dan Latma Kilat Sakti 2018 yang akan dilaksanakan pada tanggal 15 s.d. 28 Oktober 2018.
Selain itu, terkait dengan pelatihan menembak bagi AD Brunei yang dilakukan TNI AD beberapa waktu lalu, Jenderal TNI Mulyono berharap agar kegiatan tersebut dapat bermanfaat bagi AD Brunei, khususnya dalam rangka menghadapi event kejuaraan menembak internasional seperti AASAM maupun AARM.
Selanjutnya di bidang pendidikan, KSAD memberi apresiasi atas terjalinnya kembali kerja sama di bidang pendidikan yang sempat terhenti sejak tahun 2016. “Direncanakan pada Tahun 2019, 1 (satu) Pamen TNI AD akan mengikuti Dik Seskoad di Brunei. Semoga kedepannya kerja sama dapat ditingkatkan dengan pertukaran intelijen,”terang KSAD.
“Program tersebut merupakan salah satu upaya diplomasi TNI AD dan untuk meningkatkan aspek interoperabilitas TNI AD dengan AD Brunei dalam rangka mengokohkan kekuatan militer kedua negara di kawasan Asia Tenggara,” sambungnya.
Sementara itu, dengan pertimbangan bahwa meski mereka merencanakan pembaruan Alutsista namun pihaknya masih akan tetap akan mengoperasionalkan Tank Scorpion yang telah mereka gunakan selama 40 tahun, Panglima AD Brunei meminta agar dalam kerja sama ini ditambahkan dengan kegiatan pemeliharaan Tank tersebut.
Guna menindaklanjuti kerja sama AD kedua negara, akan dilaksanakan Army Working Group yang diperkirakan akan dilaksanakan pada tanggal 23 s.d. 26 Oktober 2018 di Bandung. Dalam rangkaiannya ke Indonesia, besok pagi Pangllima AD Brunei juga akan berkunjung ke PT Pindad Persero yang merupakan bagian dari tindaklanjut realisasi kesepakatan pembelian 45 unit Ranpur Anoa dan sejumlah senjata ringan SS2 V5 dengan PT. Pindad pada Mei 2018 lalu.

NATO Bakal Gelar Latihan Perang Terbesar Bersandi November's Trident Juncture 2018

NATO
NATO 

Organisasi Pertahanan Atlantik Utara ( NATO) menyatakan bakal menggelar latihan perang terbesar sejak era Perang Dingin.
Dilaporkan AFP via Channel News Asia Selasa (9/10/2018), latihan tersebut juga merupakan ajang unjuk kekuatan NATO kepada Rusia.
Latihan bernama November's Trident Juncture itu bakal dilaksanakan di Norwegia, dan menyertakan 50.000 tentara, 150 pesawat, 60 kapal perang, dan 10.000 kendaraan.
Kepala Komando Aliansi Gabungan Laksamana James Foggo dari Amerika Serikat (AS) berujar, mereka bakal melakukan simulasi menghadapi serangan dari sebuah negara fiksi.
"Latihan itu menunjukkan NATO mampu melindungi sekutunya dari segala serangan. Tidak menyebut negara tertentu," terang Foggo.
Dia menyadari Norwegia mempunyai perbatasan dengan Rusia, dan menjelaskan latihan perang itu mendemonstrasikan mereka bisa bergerak cepat di saat sekutunya diserang.
Jenderal Norwegia Rune Jakobsen memaparkan, area tempat mereka berlatih mempunyai jarak 1.000 kilometer dari perbatasan Rusia.
"Seharusnya pihak Rusia tidak menganggapnya sebagai ancaman. Atau mereka bisa berpikir positif bahwa ini adalah latihan pertahanan reguler," ujar Jakobsen.
Dia menambahkan telah mengirim undangan kepada dua pengamat Rusia dan dua pengamat Belarusia untuk meninjau latihan tersebut.
Jenderal Kanada Christian Juneau menyatakan, latihan itu bakal dibagi dalam dua tahap, di mana fase pertama adalah bagaimana menahan serangan dari sebuah negara.
Setelah serangan itu dibendung, tahap kedua dari rencana tersebut adalah bagaimana NATO bisa melaksanakan serangan balik untuk mengusir musuh.
Meski latihan itu berusaha menunjukkan aliansi 29 negara bersatu dan kuat, terdapat kekhawatiran soal peralatan tempur negara anggota.
Presiden AS Donald Trump sempat mengkritisi banyak negara anggota tidak fokus dalam pemeliharaan peralatan perangnya.
Bahkan di Januari, sebuah laporan dari Parlemen Jerman menunjukkan persenjataan mereka sudah ketinggalan zaman, atau sudah mulai rusak.
Juneau menyikapinya dengan menjelaskan Jerman telah berkomitmen menyertakan satu brigade kuat, dengan sejumlah peralatan mereka telah berada di Norwegia.
November's Trident Juncture merupakan latihan terbesar yang digelar NATO sejak 1991, dan berlangsung sebulan sejak Rusia melaksanakan latihan Vostok-2018. Latihan perang tersebut melibatkan 300.000 tentara dan diikuti China, serta diklaim simulasi terbesar sejak era Uni Soviet. (Ardi Priyatno Utomo)

TNI AU Latihan Tempur Gabungan Bersama AU Singapura

F-16 TNI AU
F-16 TNI AU 

TNI Angkatan Udara bersama dengan Republic of Singapore Air Force (RSAF) menggelar latihan militer bersama yang digelar di Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Provinsi Riau.
Komandan Lanud Roesmin Nurjadin Marsekal Pertama Ronny Irianto Moningka, mengatakan sesuai jadwal, latihan militer gabungan tersebut akan berlangsung selama dua bulan mendatang di langit Bumi Lancang Kuning.
"Selama dua bulan ke depan kita melaksanakan latihan bersama dalam rangka meningkatkan kemampuan penerbang dalam operasi pertempuran udara," kata Ronny di Pekanbaru, Selasa (09/10)
Latihan tempur gabungan yang menjadi agenda rutin tiap tahun dua negara bertetangga tersebut, ditandai dengan kedatangan enam unit jet tempur F-16 milik RSAF. Enam jet temput buatan AS itu mendarat di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Selasa siang (09/10).
Ronny menuturkan bahwa latihan gabungan itu akan dikemas dalam kegiatan Joint Fighter Weapon Course (JFWC) 2018.
"Latihan ini untuk melatih penerbang tempur kedua angkatan udara dalam melakukan pertempuran di udara secara lebih profesional, sekaligus mempererat kerja sama kedua angkatan udara," ujar Ronny seperti dilansir Antara.
Lebih jauh ia memaparkan, JFWC kali ini merupakan latihan yang ketiga kalinya digelar.
Secara umum, menurutnya, latihan dibagi dalam dua kegiatan. Pertama adalah "ground school", dan selanjunya latihan manuver.
Untuk "ground school" akan dilaksanakan selama dua pekan, dan selanjutnya dilanjutkan dengan manuver lapangan yang digelar selama tiga bulan di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru.
Dalam latihan tempur gabungan ini, Ronny menuturkan, TNI AU mengerahkan tiga pesawat tempur F-16 Fighting Falcon dari Skuadron Udara III Lanud Iswahjudi Madiun dan Skuadron Udara 16 Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru. Sementara RSAF mengerahkan 6 pesawat F-16 dari 140 SQ, 143 SQ dan 145 SQ.
"Nantinya dalam latihan bersama manuver tiga bulan kedua angkatan udara akan melaksanakan berbagai macam latihan. Mulai Basic Fighter Manuver (BFM), Air Combat Tactic (ACT), Surface Attack Tactic (SAT) hingga puncaknya adalah Large Force Employment (LFE) atau Mission Orientation Training (MOT)," kata Ronny.
Lanud Roesmin Nurjadin merupakan pangkalan militer tipe A satu-satunya di Pulau Sumatera.
Pangkalan itu, kini diperkuat dengan dua skuadron tempur yakni Skuadron Udara 12 dan 16 yang masing-masing diperkuat dengan jet tempur Hawk 100/200 dan F-16 Fighting Falcon.(Andika Pratama) (Angga Saja - TSM)

Timor Leste Turut Kirim Bantuan pada Korban Gempa dan Tsunami di Sulawesi Tengah

Timor Leste
Timor Leste  

Pemerintah Timor Leste menyatakan, mereka akan turut mengirimkan bantuan untuk membantu penanggulangan gempa dan tsunami yang terjadi di Palu dan Dongala, Sulawesi Tengah.
Bertempat di Palacio do Governo, Dili, Perdana Menteri Timor-Leste, Taur Matan Ruak menyampaikan langsung kepada Duta Besar Indonesia untuk Timor-Leste, Sahat Sitorus mengenai pemberian bantuan tersebut.
Menurut keterangan Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Dili, dalam pertemuan itu Taur Matan Ruak mengungkapkan turut berdukacita dan belasungkawa atas terjadinya gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, beberapa waktu lalu, yang telah mengakibatkan korban jiwa, material, dan puluhan ribu orang mengungsi.
Pada kesempatan tersebut, Matan Ruak juga menyampaikan keputusan Dewan Menteri Timor-Leste untuk memberikan donasi sebesar USD 750 ribu atau sekitar Rp. 10 miliar bagi para korban dan proses pemulihan pasca bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala.
“Bantuan ini merupakan bentuk dari simpati terdalam dan solidaritas masyarakat Timor-Leste kepada masyarakat di Palu dan Donggala yang terkena dampak bencana gempa bumi dan tsunami beberapa waktu lalu,” ungkap Taur, seperti diikutip dalam siaran pers KBRI Dili pada Rabu (10/10).
Menanggapi rasa simpati dimaksud, Sahat mengucapkan terima kasih atas perhatian dan rasa solidaritas yang diungkapkan oleh masyarakat Timor-Leste.
Ditambahkan bahwa sebagai negara tetangga terdekat, Indonesia dan Timor-Leste terus bekerja sama dalam berbagai bidang, antara lain, mitigasi bencana dan tsunami yaitu melalui kerja sama antara Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dan Universitas Nacional Timor Lorosae, dalam upaya menghadapi potensi bencana.
"KBRI Dili akan meneruskan bantuan dana tersebut kepada Kementerian Luar Negeri RI untuk kemudian diteruskan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana RI," kata KBRI Dili. (Victor Maulana)

Brunei Borong Puluhan Alutsista Buatan PT Pindad

 SS2 V5
 SS2 V5 

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Mulyono menerima kunjungan kehormatan Panglima Angkatan Darat Brunei Brigadir Jenderal Dato Seri Pahlawan Awang Khairul Hamed bin Awang Haji Lampoh di Markas Besar Angkatan Darat (Mabesad), Jakarta, Selasa (9/10/2018).
Lawatan tersebut merupakan kunjungan bilateral dari Brunei sekaligus kunjungan perkenalan Brigjen Dato Seri Pahlawan Awang Khairul ke Indonesia sebagai pimpinan Angkatan Darat Brunei yang baru sejak dilantik pada Januari 2018. Selama ini kerja sama antara TNI AD dan AD Brunei telah terjalin dengan baik di berbagai bidang, baik dalam bidang intelijen, latihan dan pendidikan.
Kerja sama tahun ini, antara lain Latma Keris Satria 2018 yang telah dilaksanakan pada 27 Agustus sampai 5 September di Brunei Darussalam dan Latma Kilat Sakti 2018 yang akan dilaksanakan pada 15 - 28 Oktober. Serta, Army working Group mulai 23-26 Oktober di Bandung, Jawa Barat.
Dalam kesempatan itu, KSAD mengapresiasi terjalinnya kembali kerja sama di bidang pendidikan yang sempat terhenti sejak 2016. Direncanakan pada TA 2019 satu personel TNI AD akan mengikuti pendidikan setingkat Seskoad di Brunei.
“Saya berterima kasih atas kepercayaan Brunei terhadap industri pertahanan dalam negeri Indonesia melalui pembelian 45 unit Ranpur Anoa. Dan, sejumlah senjata ringan seperti SS2 V5 dan Pistol G2 Elite pada Mei 2018 yang lalu," ujarnya. Setelah kunjungan ke Mabesad, Rencananya Panglima AD Brunei akan ke Bandung, di antaranya mengunjungi PT Pindad. (Sucipto)

AL Kerajaan Denmark Pesan Rudal SM-2 Blok IIIA untuk Frigat Kelas Iver Huitfeldt

Frigat Kelas Iver Huitfeldt
Frigat Kelas Iver Huitfeldt 

Badan Akuisisi dan Logistik Pertahanan Denmark (Forsvarets Materialiel- indkøbsstyrelse, FMI) memesan rudal Raytheon SM-2 Blok IIIA untuk Angkatan Laut Kerajaan Denmark (Søværnet) pada 2 Oktober 2018, menurut platform tender online Eropa TED.
Menurut pengumuman tersebut, FMI ingin mengakuisisi hingga 50 rudal Standard Missile 2 Block IIIA (SM-2). Rudal SM-2 adalah rudal pertahanan diri yang digunakan untuk melawan musuh yang menyerang. Akuisisi ini hanya dapat dilakukan melalui Angkatan Laut AS melalui Foreign Military Sales (FMS). Rudal SM-2 dirancang khusus untuk menembak target udara.Angkatan bersenjata akan menggunakan rudal SM-2 sehubungan dengan frigat pertahanan udara Angkatan Laut untuk memerangi sasaran musuh yang menyerang.
Menurut pengumuman TED, total nilai pengadaan tersebut (tidak termasuk PPN) adalah 143 juta Dolar AS.
Rudal SM-2 Blok IIIA tersebut ditujukan untuk digunakan oleh frigat kelas Iver Huitfeldt AL Denmark. Tiga frigat pertahanan udara sepanjang 138,9 meter tersebut adalah Iver Huitfeldt (F361), Peter Willemoes (F362), dan Niels Juel (F363) dengan displacement 6.645 ton. Kapal-kapal tersebut memasuki kedinasan Angkatan Laut Kerajaan Denmark pada tahun 2012 dan 2013. Setiap frigat dapat membawa hingga 32 rudal SM-2 serta 24 rudal ESSM. Kapal-kapal ini mempunyai paket perangkat Anti-Air Warfare yang sama dengan frigat kelas De Zeven Provincien milik AL Kerajaan Belanda dan frigat kelas Sachsen milik Angkatan Laut Jerman. Sensor buatan Thales dari perangkat ini termasuk radar pengawasan jarak jauh SMART-L dan radar multi-fungsi APAR. Setidaknya satu kapal kelas Iver Huitfeldt akan ditingkatkan untuk Ballistic Missile Defense (BMD) dan Integrated Air and Missile Defense (IAMD) untuk bertindak sebagai sensor BMD dan kemampuan ini akan menjadi sistem BMD NATO. Kapal kelas Iver Huitfeldt direncanakan akan dikerahkan bersama carrier strike group Angkatan Laut Prancis di Laut Mediterania dan Samudra Hindia pada musim semi 2019.
Menurut Raytheon, SM-2 adalah senjata pertahanan udara armada utama di dunia. Rudal-rudal itu juga mampu memberikan pertahanan udara di area yang sangat luas. Pelanggan internasional SM-2 meliputi: Australia, Kanada, Jerman, Jepang, Korea, Belanda, Spanyol dan Taiwan. SM-2 telah terintegrasi dengan sistem senjata tempur Aegis dan non-Aegis. Rudal itu dapat diluncurkan dari peluncur MK-41, MK-13 dan MK-26. SM-2 memiliki riwayat pengujian penerbangan yang ekstensif dengan lebih dari 2,700 tes penerbangan yang sukses Lebih dari 5.000 SM-2 telah dikirim ke AS dan pelanggan sekutunya.
SM-2 melindungi kapal perang terhadap rudal anti-kapal dan pesawat terbang hingga 90 mil laut (166,68 kilometer) dan ketinggian 65.000 kaki (19,81 kilometer). Rudal Blok III berbeda dari blok sebelumnya dengan penambahan perangkat pendeteksi sasaran MK 45 MOD 9, untuk meningkatkan kinerja terhadap sasaran ketinggian rendah.
Raytheon memulai kembali lini produksi Standard Missile-2 pada tahun lalu untuk memenuhi kebutuhan empat pelanggan internasional melalui foreign military sales. Belanda, Jepang, Australia, dan Korea Selatan membeli SM-2 di bawah kontak baru ini. (Angga Saja - TSM)

Pakistan Beli 48 Drone Multi-Role Tiongkok Wing Loong II

Wing Loong II
Wing Loong II 

Pakistan akan membeli 48 drone medium altitude, long endurance (MALE) intai dan serang buatan Tiongkok Wing Loong II dalam kesepakatan senjata antara kedua negara.
Laporan di media Tiongkok menautkan informasi tentang penjualan itu ke sebuah posting di akun Facebook resmi Sherdils Aerobatic Team Angkatan Udara Pakistan pada hari Minggu (07/10) tanpa memberikan informasi tentang nilai kesepakatan itu.
Secara signifikan, posting tersebut menyatakan bahwa Pakistan Aeronautical Complex (PAC) dan Aviation Industry Corporation anak perusahaan Chengdu Aircraft Industrial Company Tiongkok akan bersama-sama memproduksi drone tersebut.
Wing Loong II, yang dibuat oleh Chengdu Aircraft Industrial Company telah melakukan penerbangan perdananya pada Februari tahun lalu, Xinhua News Agency melaporkan. Wing Loong II juga telah dijual kepada beberapa pembeli, termasuk UAE dan Uzbekistan.
Tiongkok telah mencapai sukses besar dari ekspor drone yang dimilikinya dengan keunggulan pada keterjangkauan harga dan kualitas yang cukup baik. UAV Tiongkok seperti seri Caihong sebelumnya telah dijual ke Irak dan Arab Saudi dan ke negara-negara yang tidak disebutkan di Asia dan Afrika.
Ekspor drone Tiongkok mendapatkan keuntungan dari kebijakan Amerika Serikat yang membatasi ekspor drone semacam itu hanya untuk sekutu terdekat. Namun, pemerintahan Trump telah meliberalisasi kebijakan ekspor untuk drone kelas atas seperti Predator dan Reaper. Namun demikian, beberapa pembatasan masih tetap diterapkan secara kasus per kasus.
Wing Loong II UAV memiliki kapasitas muatan maksimum 400 kg. Setiap sayap memiliki tiga hardpoint yang mampu membawa bom, roket atau rudal udara ke permukaan. Antena komunikasi satelit dipasang pada tonjolan di bagian depan atas fuselage UAV. Wing Loong II memiliki panjang 11 meter, rentang sayap 20,5 meter dan tinggi 4,1 meter. (Angga Saja  -TSM)

10 Kapal Perang Awasi Perairan Bali Selama Annual Meeting IMF-WB 2018

Kapal Perang TNI AL Kapal Perang TNI AL
Kapal Perang TNI AL 

Sepuluh kapal perang Angkatan Laut Indonesia disiagakan untuk mengamankan dan melakukan penyekatan perairan Bali selama gelaran IMF-WB 2018.
Kapal perang yang diterjunkan di antaranya KRI Raden Edi Martadinata-331, KRI I Gusti Ngurah Rai-332, KRI Abdul Halim Perdanakusuma-335, KRI Nala-363, KRI Badik-623, KRI Terapang-648, KRI Ajak-653, KRI Pulau Rapat-712, KRI Banda Aceh-593, dan KRI Tarakan-905.
Kapal perang tersebut umumnya mampu melakukan pertempuran di tiga medan, seperti perang permukaan, bawah air, hingga perang udara dengan pesawat tempur. Kapal tersebut juga mampu mengangkut personel dan penumpang yang jumlahnya ratusan hingga ribuan orang.
Pantauan Bisnis, KRI I Gusti Ngurah Rai-332 sempat bersandar di Pelabuhan Benoa untuk memenuhi keperluan logistik, Rabu (10/10/2018) pagi.
Kapal ini mampu melakukan perang empat mitra sekaligus, perang permukaan sesama kapal perang, perang bawah air melawan kapal selam, perang udara dengan pesawat tempur, perang elektronika, dan sekaligus memiliki kemampuan membajak sistem persenjataan dan kendali dari kapal perang musuh.
Kapal ini juga mampu mampu membawa 120 kru dengan kecepatan 28 knots. Kapal jenis Sigma 10514 ini juga memiliki spesifikasi panjang 105,11 meter, lebar 14,02 meter, draft termasuk sonar 5,73 meter, dan bobot penuh 3.216 ton.
Ketika memasuki kapal, seluruh persenjataan terutama meriam KRI I Gusti Ngurah Rai-332 berada dalam kondisi siaga jika nantinya diperlukan. Bahkan, satu heli juga disiagakan di atas kapal jika nantinya diperlukan.
Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Denpasar Kolonel Laut (P) Henricus Prihantoko mengatakan sepuluh kapal perang tersebut telah mengawasi keamanan perairan Bali sejak 6 Oktober 2018 dan direncanakan sampai 16 Oktober 2018.
Sepuluh kapal perang tersebut melakukan penyekatan di hampir empat penjuru arah seluruh perairan Bali, mulai dari barat, timur, utara, dan selatan.
“Situasi perairan Bali hingga saar ini pada umumnya aman,” kata Henricus, Rabu (10/10/2018).
Kata dia, kapal-kapal perang tersebut akan terus melakukan patroli di perairan Bali sampai 16 Oktober 2018. Hanya saat memerlukan tambahan logistik, kapal melakukan sandar di Pelabuhan Benoa. Sementara, untuk keperluan bahan bakar telah disuplay KRI Tarakan.
Selain itu, jalan tol laut juga tidak luput drai pengawasan. Pihaknya juga menerjunkan sea rider dan rubber boat di sepanjang tol laut selama kepala negara atau delegasi melewati jalur tersebut.
“Jumlah personel bersama KRI ada kurang lebih 2.000, kita dapat juga tambahan unsur-unsur stakeholder terkait seperti Pol Air, Pelindo, Polsek, Basarnas, kurang lebih ada sekitar 800-an,” ujarnya.

Delegasi Indonesia Kunjungi Frigat Iver Huitfeldt Class di Denmark

Delegasi Indonesia
Delegasi Indonesia 

Duta Besar Indonesia untuk Denmark, Muhammad Ibnu Said mengunjungi kapal perang frigat kelas Iver Huitfeldt di Pangkalan Angkatan Laut Korsør Denmark bersama dengan delegasi dari Angkatan Laut Indonesia dan Kementrian Pertahanan Indonesia.
Dubes Muhammad Ibnu Said mengunjungi Lindø Industripark (bekas Galangan Baja Odense) dengan delegasi dari Angkatan Laut Indonesia (TNI AL) dan Kementrian Pertahanan Indonesia selain untuk melihat kapal perang juga berdiskusi secara teknis pembuatan kapal.
Pertemuan dan diskusi teknis berlangsung sangat baik dengan Odense Maritime Technology A/S antara delegasi dari Angkatan Laut Indonesia dan Kementrian Pertahanan Indonesia mengenai berbagai aspek pembuatan kapal perang.
Pertemuan ini menarik dan bermanfaat antara delegasi Indonesia dengan DALO (Danish Acquisition Logistic Acquisition) untuk saling tukar pengalaman bagi kedua negara.

Radar Acak