Wakasau: Peran Vital TNI AU Pada Penanggulangan Bencana


Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau) Marsekal Madya TNI Fahru Zaini Isnanto, S.H., M.DS., mengatakan peran TNI AU sangat vital dalam mendukung penanggulangan bencana karena memiliki karakteristik kecepatan, daya angkut dengan jumlah yang sangat signifikan, dan pengerahan dukungan kesehatan yang mampu dilaksanakan secara optimal.
Operasi Militer Selain Perang
Operasi Militer Selain Perang 
Pernyataan tersebut disampaikan Wakasau saat memberikan ceramah “Peran TNI AU pada penanggulangan bencana dalam OMSP” kepada International Military Dentistry Forum (IMDF) di Hotel Alila, Surakarta, Jawa Tengah, Jumat (15/11/2019).
Wakasau juga menyampaikan, TNI AU merupakan bagian dari pemerintah turut bertanggung jawab terhadap penanggulangan bencana. Salah satu tugas pokok TNI melaksanakan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) dengan membantu menanggulangi bencana alam, pengungsian, dan pemberian bantuan kemanusiaan.
“Kekuatan TNI AU tidak hanya menjadi faktor yang menentukan dalam perang saja, namun dalam OMSP seperti penanggulangan bencana, TNI AU bergerak dengan kecepatan jauh lebih tinggi, dapat menjangkau ke segala penjuru, semua titik di permukaan bumi dibandingkan kekuatan darat atau laut, sehingga memberikan keunggulan dari aspek jarak dan waktu,” ujar Wakasau.
Lebih lanjut Wakasau menyampaikan, kekuatan TNI AU dapat digunakan untuk tugas-tugas dengan fungsi yang berbeda dan perubahan tersebut dapat dilaksanakan dalam waktu yang relatif singkat. Selain itu juga kekuatan udara dapat digelar dengan cepat untuk diproyeksikan pada sasaran tertentu dengan dukungan logistik dan personel secara berlanjut.
Turut Hadir mendampingi Wakasau, Wakapuskes TNI, Kadispamsanau, Kadispenau, Kadisopslatau, dan Kadispotdirgaau.(Dispenau)

China Dicurigai Curi Teknologi Sistem Rudal Iron Dome Israel


Sebuah perusahaan keamanan siber terkemuka curiga bahwa China mencuri data teknologi sistem pertahanan rudal Iron Dome Israel. Kecurigaan itu muncul setelah peretas China meretas sistem komputer tiga perusahaan teknologi Israel dan mengambil data teknis sistem pertahanan canggih tersebut.
Sistem Rudal Iron Dome Israel
Sistem Rudal Iron Dome Israel 
Penulis keamanan siber, Brian Krebs, dalam tulisannya mengatakan Cyber Engineering Services (CyberESI), perusahaan keamanan siber yang berbasis di Maryland, Amerika Serikat (AS), mendeteksi pembobolan sistem komputer tiga perusahaan teknologi Zionis beberapa tahun lalu.
"Antara 10 Oktober 2011 dan 13 Agustus 2012, para penyerang yang diduga beroperasi di luar negeri meretas jaringan (komputer) tiga perusahaan teknologi pertahanan top Israel, termasuk Elisra Group, Israel Aerospace Industries, dan Rafael Advanced Defense Systems," tulis Krebs.
Rafael Advanced Defense Systems adalah pengembang sistem pertahanan rudal Iron Dome.
"Dengan memanfaatkan infrastruktur komunikasi rahasia yang dibuat oleh para peretas, CyberESI menetapkan bahwa para penyerang menggali data dalam jumlah besar dari tiga perusahaan," lanjut dia, seperti dikutip dari National Interest, Jumat (15/11/2019).
"Sebagian besar informasi adalah kekayaan intelektual yang berkaitan dengan (sistem) rudal Arrow III, Kendaraan Udara Tak Berawak (UAV), roket balistik, dan dokumen teknis lainnya di bidang studi yang sama."
CyberESI percaya para pelakunya adalah "Comment Crew", sebuah kelompok peretas yang disponsori oleh militer China.
Mandiant, sebuah perusahaan keamanan siber yang berbasis di Virgina, telah lebih jauh mengidentifikasi kelompok peretas itu sebagai "Biro ke-2 Departemen Staf Umum Tentara Pembebasan Tentara, yang dikenal sebagai Military Unit Cover Designator dengan nama Unit 61398".
Unit 61398 telah begitu agresif dalam mencuri rahasia Amerika sehingga Departemen Kehakiman AS mendakwa empat tersangka anggotanya pada Mei lalu. Poster daftar buron yang pernah dirilis FBI menunjukkan dua pria dari anggota itu mengenakan seragam militer China.
Israel memiliki industri keamanan siber yang sangat besar dan kumpulan peretas serta kelompok anti-peretas di militer negara Yahudi tersebut. Jadi, jika China dapat membobol komputer Israel yang sangat rahasia, mereka dipastikan dapat membobol sistem komputer Amerika dan juga yang lainnya.
Tetapi apa yang akan dilakukan Beijing dengan informasi tentang sistem Iron Dome adalah pertanyaan terbuka. Iron Dome dioptimalkan secara sempit untuk mencegat roket Katyusha sebelum mendarat di kota-kota Israel.
Sistem yang mampu menembak jatuh pesawat pembom siluman AS atau rudal jelajah telah menjadi prioritas tinggi bagi China. (Muhaimin)

Kim Jong-un Minta Pilot Tempurnya Cari Taktik Hebat terhadap Musuh


Kim Jong-un, pemimpin Korea Utara (Korut) menghadiri demonstrasi penerbangan pesawat tempur di sebuah lapangan terbang di pantai timur negara itu, Sabtu (16/11/2019). Dia menginstruksikan pilot tempur Pyongyang untuk mendapatkan ide dan taktik hebat terhadap musuh yang dipersenjatai.
Kim Jong-un
Kim Jong-un  
Kehadiran pemimpin muda rezim Komunis itu dilaporkan kantor berita negara Korut, KCNA. Komentar Kim muncul setelah Pyongyang melontarkan serangkaian pernyataan marah atas rencana latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan. Pemerintah Kim mengatakan latihan militer gabungan itu dapat menggagalkan negosiasi nuklirnya dengan Washington.
Menteri Pertahanan AS Mark Esper saat ini sedang berkunjung ke Korea Selatan. Dia mengatakan kepada wartawan pada hari Jumat bahwa sekutu dapat memodifikasi latihan udara gabungan untuk menciptakan ruang bagi diplomasi.
Negosiasi Pyongyang dan Washington telah goyah sejak pertemuan puncak Februari antara Kim Jong-un dan Presiden Donald Trump di Vietnam. Pertemuan itu gagal menghasilkan kesepakatan apa pun setelah AS menolak tuntutan Korea Utara untuk mencabut sanksi sebagai imbalan atas pengekangan sebagian besar program senjata nuklirnya.
Kim telah memberikan batas waktu akhir tahun bagi pemerintahan Trump untuk menawarkan persyaratan yang dapat diterima bersama untuk kesepakatan guna menyelamatkan negosiasi untuk denuklirisasi semenanjung Korea.
Korea Utara telah meningkatkan uji coba rudal dan demonstrasi militer lainnya dalam beberapa bulan terakhir dalam upaya nyata untuk menekan Washington.
KCNA, dalam laporannya, mengatakan Kim Jong-un menyatakan kepuasannya atas kinerja pilot tempur Korut yang memperlihatkan kekuatan tak terkalahkan dari korps terbangnya. Kantor berita itu tidak menyebutkan komentar langsung Kim terhadap Washington atau pun Seoul.
"Kim mengatakan pilotnya harus siap untuk melawan musuh yang bersenjata dengan ide dan taktik hebat dalam situasi apa pun," tulis KCNA.
"Dia menekankan bahwa betapapun kerasnya musuh dapat membual tentang keunggulan teknologi mereka, mereka tidak akan pernah bisa membanjiri keuntungan politis-ideologis dan pertempuran serta moral dari personel layanan kami," lanjut kantor berita tersebut.
Laporan itu tidak memberikan banyak rincian tentang pesawat tempur yang dikerahkan dalam demonstrasi udara di Bandara Wonsan Kalma. Namun, pesawat resmi Kim Jong-un, Chammae-1, terbang di atas lapangan terbang yang dikawal oleh pesawat militer lainnya.
Sebuah laporan awal pekan ini dari 38 North, sebuah situs web yang mengkhususkan diri dalam studi Korea Utara, mengatakan gambar satelit komersial menunjukkan puluhan pesawat militer yang diparkir di sepanjang taxiway bandara dan parkir mencakup jet tempur MiG-15, MiG-17 dan MiG-29, pesawat pembom II- 28 dan pesawat pendukung Su-25. (Muhaimin)

Peserta Putri Lomba Tembak AARM 29/219 Gelar Pool Bull


Para peserta lomba tembak ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) 29/2019 seluruhnya telah tiba di Bandung. Berbagai aktivitas menjelang pembukaan lomba juga dilakukan sebagai uji coba pengenalan lapangan maupun latihan ringan untuk mempertajam kemampuan para petembak.
Peserta Putri Lomba Tembak AARM 29/219
 Peserta Putri Lomba Tembak AARM 29/219 
Hal tersebut disampaikan Kepala Penerangan Pusat Kesenjataan Infanteri (Kapen Pussenif) Kodiklatad, Mayor Inf Irzal dalam keterangan tertulisnya, di Bandung, Sabtu (16/11/2019).
Dikatakan Irzal, pelaksaan Pool Bull ini merupakan bagian dari tradisi setiap pelaksanaan lomba tembak AARM, yang dilakukan sebelum lomba resmi dibuka.
“Pool Bull adalah salah satu tradisi unik AARM, yang secara harfiah berarti “Menembak Mata Banteng”. Dalam kegiatan ini para petembak ditantang untuk menembak sasaran dengan diameter yang berbeda- beda sesuai dengan besarnya munisi yang ditembakkan, “ jelas Irzal.
Lebih lanjut diungkapkan, untuk kaliber 9 mm (pistol) sasaran diameternya 2 cm, untuk kaliber 5,56 mm, sasaran diameternya 2,5 cm, dan kaliber 7,62 mm sasaran diameternya 3 cm. Bagi petembak yang berhasil menembak “Mata Banteng”, oleh panitia mendapatkan hadiah.
“Tidak banyak petembak yang dapat menaklukkan tantangan tersebut, “ imbuhnya.
Dalam pelaksanaan Pool Bull sendiri, setiap petembak dibekali 10 butir munisi. Pada kesempatan Pool Bull Pistol Putri yang diikuti 40 petembak, Serda (K) Yosepine dari Indonesia, berhasil mendaratkan empat butir munisi di “Mata Banteng”, Captain Nicole Tan dari Singapura dan Corporal Nguyen Thi Hai dari Vietnam, masing-masing berhasil mendaratkan tiga butir munisi di Mata Banteng. (AARM 29/2019).
Otentifikasi :
Kolonel Inf Paiman. Kasubdispenmedtak. Dispenad.

Turki: Kami Beli S-400 untuk Dipakai, Bukan Hanya Dipajang


Kepala Direktorat Industri Pertahanan Turki Ismail Demir menegaskan negaranya membeli sistem pertahanan rudal S-400 dari Rusia untuk digunakan, tidak untuk dipajang saja. Pernyataan itu muncul setelah perundingan antara Presiden Turki Tayyi Erdogan dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
S-400 Turki
S-400 Turki 
Erdogan dan Trump bertemu di Washington pada Rabu (13/11) untuk membahas perselisihan antara aliansi NATO tersebut, mulai dari kebijakan Suriah hingga ancaman sanksi AS karena Turki membeli S-400. AS menganggap sistem rudal itu ancaman bagi jet tempur F-35.
AS memperingatkan Turki akan mendapat sanksi karena membeli S-400 dan menghentikan Turki dari program pengembangan F-35. Turki saat ini juga menjadi konsumen dan salah satu manufaktur F-35 bersama negara lain. AS belum menerapkan sanksi apapun pada Turki yang telah menerima S-400 pada Juli.
Saat wawancara dengan CNN Turki, Demir menyatakan tidak masuk akal bagi negara manapun membeli sistem semacam itu hanya untuk dipajang atau tak digunakan. Menurut dia, Turki dan AS perlu mengatasi isu itu.
"Bukan pendekatan yang tepat untuk mengatakan, 'kami tidak akan menggunakannya demi mereka' tentang sistem yang kami beli karena kebutuhan dan bayar sangat mahal untuk itu. Kami memiliki hubungan aliansi dengan Rusia dan AS. Kami harus melanjutkan dan menghormati kesepakatan yang kami tandatangani," tutur Demir, dilansir Reuters.
Trump mendesak Erdogan di Gedung Putih untuk mencabut sistem S-400, tapi Erdogan mengatakan Turki tidak dapat merusak hubungannya dengan Rusia. Dia menegaskan kembali keinginan Turki membeli sistem pertahanan Patriot buatan AS sebagai tambahan bagi S-400.
Ajudan Erdogan menjelaskan, para pejabagt Turki dan AS mulai membahas mekanisme gabungan untuk evaluasi dampak S-400 pada F-35.
Demir menyatakan langkah itu menunjukkan melunaknya sikap AS. Dia menambahkan, Turki siap mengambil langkah yang akan mengatasi kekhawatiran AS terhadap S-400 setelah perundingan itu.
"Sebagai teman dan aliansi setia, kami katakan kami siap mengambil langkah jika ada risiko apapun yang kami lihat pada isu ini. Kami masih yakin dapat menemukan titik tengah pada isu S-400, selama kedua pihak terbuka," ujar Demir. (Syarifudin)

Setelah Rudal David Sling, Kini Roket Iron Dome Ditemukan dalam Kondisi Utuh


Bagian penting dari pencegat rudal Tamir Israel, yang digunakan dalam sistem pertahanan udara Iron Dome jarak menengah, tampaknya telah jatuh dalam kondisi utuh di Jalur Gaza. Hal ini berpotensi membocorkan rahasia besar teknologi roket penghalau itu.
Bagian dari Roket Iron Drome
Bagian dari Rudal Tamir Israel
Seperti banyak sistem pencegat lainnya, rudal Tamir menghancurkan proyektil musuh dengan mendekatinya di tengah jalan dan meledakkan hulu ledaknya untuk mengirimkan pecahan peluru yang semakin meluas. Bagian yang sulit adalah mengidentifikasi dengan tepat waktu peledekan dan mengeksekusi ledakan defensif yang tepat ketika dibutuhkan.
Waktunya harus sempurna, mengingat kecepatan yang mencengangkan di mana proyektil yang ditargetkan dan perjalanan roket pencegat. Jadi, tidak mengherankan bahwa komponen yang bertanggung jawab untuk itu, pencari radar aktif dan bagian sekering, sangat diklasifikasikan atau dirahasiakan. Komponen ini pun paling dicari oleh siapa pun yang ingin merekayasa balik teknologi Israel. Biasanya pencegat yang gagal mengenai target akan menghancurkan diri sendiri untuk melindungi rahasianya.
Tetapi satu rudal Tamir tampaknya telah ditemukan oleh seseorang di Jalur Gaza dengan bagian yang sangat sensitif ini masih utuh. Begitu laporan situs berita pertahanan The Drive. Bukti kemungkinan hilangnya teknologi dipublikasikan di Twitter oleh Joe Truzman, seorang pakar pertahanan Israel dan penulis buletin GroundBrief seperti dikutip dari Russia Today, Sabtu (16/11/2019).
Rudal Tamir diproduksi oleh Rafael, kontraktor pertahanan utama milik Israel yang juga terlibat dalam produksi sistem pertahanan udara David's Sling yang jaraknya lebih jauh. Rudal pencegat itu diperkirakan menelan biaya antara USD40.000 dan USD100.000 per potong dan biasanya ditembakkan dari peluncur yang masing-masing membawa 20 rudal. Dua pencegat diluncurkan terhadap proyektil musuh yang dianggap sebagai ancaman, untuk memastikan target hancur.
Sistem Iron Dome telah digunakan secara luas minggu ini di tengah peperangan antara kelompok militan Palestina Jihad Islam dan Israel setelah negara Zionis itu membunuh Bahaa Abu al-Atta, seorang komandan militan senior, dan dilaporkan mencoba membunuh operasi politik Jijad Islam di Suriah.
Sebelumnya, Israel juga dilanda kekhawatiran sistem pertahannya terbongkar setelah rudal David's Sling dilaporkan jatuh ketangan Rusia. (Berlianto)

Dua Drone Tempur Terbaru Siap Perkuat Militer Rusia


Setelah diuji dalam pertempuran melawan kelompok militan di Suriah, drone Orion telah dikirim ke Tentara Rusia. Pada saat yang sama, drone Okhotnik buatan Biro Desain Sukhoi sedang dipersiapkan untuk beraksi di medan perang sungguhan.

Orion

Orion dipersenjatai empat buat peluru kendali dan nonkendali yang mampu menghancurkan target musuh pada jarak ratusan kilometer.
Kronstadt, perusahaan pengembang drone tersebut, belum mengomentari keberhasilan Orion baru-baru ini. Perusahaan itu pun enggan memberikan keterangan lebih rinci terkait pengiriman Orion ke pasukan Rusia. Selain mengutip “rahasia negara”, mereka masih harus menandatangani kontrak dengan Kementerian Pertahanan Rusia.
Orion
Orion 
Menurut Viktor Murakhovsky, Pemimpin Redaksi Arsenal Otechestva, ada dua versi Orion yang digunakan di Suriah: satu untuk pengintaian, sedangkan yang lainnya untuk penyerangan.
“Pasukan Kedirgantaraan Rusia kini sedang mengembangkan program untuk drone jarak jauh berdampak besar. Para jenderal ingin unit-unit tentara baru dipersenjatai dengan pesawat tradisional dan UAV dengan senjata kelas serupa supaya bisa beroperasi bersama dalam satu kelompok,” kata sang ahli.
Drone baru ini dapat membawa empat rudal dengan bobot hingga 200 kg. Pada saat yang sama, Orion mampu mendaki ke ketinggian 7,5 km. Pesawat tanpa awak itu juga mampu melesat hingga 200 km/jam dan baterai yang tahan selama 24 jam. Setelah itu, drone perlu kembali ke hanggar untuk “mengisi bahan bakar”.

Okhotnik

Senjata mematikan lain yang akan segera memperkuat Tentara Rusia adalah drone tempur Okhotnik buatan Sukhoi.
Dibuat dengan teknologi yang sama dengan pesawat tempur generasi kelima Su-57, drone ini merupakan prototipe pesawat tanpa awak masa depan.
Okhotnik
Okhotnik 
Sebagaimana “abangnya” (Su-57), Okhotnik adalah pesawat tipe sayap terbang (flying wing), yang keduanya melindungi pesawat dari sistem pertahanan udara musuh dan memungkinkan drone membawa lebih banyak senjata.
Selain itu, drone seberat 20 ton tersebut dapat meluncur mencapai target dengan kecepatan supersonik (hingga 1000 km/jam). Apalagi, Okhotnik juga dilengkapi dengan salah satu komputer pertama yang terintegrasi dengan kecerdasan buatan. Teknologi ini membuat si operator terbebas dari sebagian besar tugas pengoperasian kecuali keputusan untuk mengerahkan senjata.
Beberapa teknologi dan amunisinya bahkan disatukan dengan Su-57.
“Persenjataan Okhotnik termasuk rudal udara-ke-darat dan sejumlah bom (misil kendali dan bersayap) yang disembunyikan di dalam tubuh drone demi mengurangi visibilitas pada radar musuh alih-alih menggantungnya pada sayap,” ujar Profesor Vadim Kozyulin dari Akademi Ilmu Militer Rusia kepada Rusia Beyond.
Di antara bom yang diangkut Okhotnik adalah bom berdaya ledak tinggi OFZAB-500 dan bom udara ODAB-500PMV, yang keduanya telah digunakan dalam kampanye militer di Suriah.

Trump Desak Jepang Bayar Rp112 Triliun untuk Tentara AS


Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendesak Jepang membayar empat kali lipat lebih banyak untuk pasukan AS yang ditempatkan di sana.Berdasarkan beberapa sumber pejabat aktif dan mantan pejabat AS, tindakan itu dilakukan saat Washington menekan aliansinya meningkatkan belanja pertahanan mereka.
Militer Amerika di Jepang
Militer Amerika di Jepang 
"AS ingin Tokyo menambah pembayaran tahunan untuk 54.000 tentara AS di Jepang menjadi sekitar USD8 miliar (Rp112 triliun) dari sebelumnya USD2 miliar," ungkap laporan Foreign Policy, mengutip tiga sumber mantan pejabat pertahanan AS.
Kesepakatan yang ada saat ini akan berakhir pada Maret 2021.
Desakan AS itu dilakukan pada para pejabat Jepang selama kunjungan oleh John Bolton dan Matt Pottinger pada Juli. Bolton saat itu masih menjadi penasehat keamanan nasional Trump. Pottinger ketika itu adalah direktur asia untuk Dewan Keamanan Nasional AS.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Jepang menyatakan laporan oleh Foreign Policy itu tidak benar dan tak ada negosiasi AS-Jepang untuk kesepakatan baru yang telah dilakukan.
Perwakilan pemerintah AS belum memberikan komentar terkait isu itu.
Banyak aliansi AS mendapat tekanan untuk membayar lebih banyak dalam belanja pertahanan, terutama terkait penempatan pasukan AS di Jepang dan Korea Selatan. Trump juga telah meminta Korea Selatan membayar lebih banyak untuk penempatan pasukan AS di sana. (Syarifudin)

Uji Dinamis Prototipe Kendaraan Peluncur Roket R-HAN 122B Tahap II-II


Puslitbang Alpalhan Balitbang Kemhan melaksanakan uji dinamis Prototipe Kendaraan Peluncur Roket R-Han 122B Tahap II-II, TA. 2019 Uji dinamis Kendaraan Peluncur Roket R-Han 122B tahap II-II disaksikan oleh Staf Ahli bidang Politik Kemhan Laksda TNI Ir. A. Budiharja Raden, Ses Balitbang Kemhan Brigjen TNI Abdullah Sani, Kapuslitbang Alpalhan Balitbang Kemhan Brigjen TNI Rosidin, M.Si (Han), M.Sc., Kapuslitbang Iptekhan Balitbang Kemhan Marsma TNI Bambang Wijanarko, S.E.,S.T.,M.Si.(Han), Kabag Datin Set Balitbang Kemhan Kolonel Inf Fatih El Amin, S.IP., M.Si., Kabid Matra Darat Puslitbang Alpalhan Balitbang Kemhan Kolonel Kolonel Kav R. Herdianto Nuringtyas, S.Sos., para pejabat di lingkungan Kemhan, PT. Dahana (Persero), PT. Pindad, LAPAN , PT.DI serta tim uji dinamis Prototipe Kendaraan Peluncur Roket R-Han 122B Tahap II-II.
Prototipe Kendaraan Peluncur Roket R-HAN 122B Tahap II-II
Prototipe Kendaraan Peluncur Roket R-HAN 122B Tahap II-II 
Uji coba diawali sambutan dari Kepala Energetic Material Center PT. Dahana (Persero) Bapak Ir. Benny Gunawan, sambutan kedua oleh Kabalitbang Kemhan yang diwakili oleh Ses Balitbang Kemhan Brigjen TNI Abdullah Sani, selanjutnya sambutan oleh Staf ahli bidang politik Kemhan Laksda TNI Ir. A. Budiharja Raden, kemudian dilanjutkan pembacaan doa dan pelaksanaan uji coba. Litbang Prototipe Kendaraan Peluncur Roket R-Han 122 B Tahap II-I TA. 2019 merupakan program litbang yang bekerjasama dengan LAPAN, PT. Dahana (Persero) dan PT. Pindad.
Kendaraan Peluncur Roket R-Han 122B adalah Kendaraan peluncur roket laras banyak (multiple rocket launcher system – MRLS) buatan dalam negeri karya anak bangsa. Diharapkan proses peluncuran roket secara otomatis mampu dieksekusi lebih cepat. Mekanisme pengisian roket ke peluncur didesain sedemikian rupa supaya dicapai waktu operasi yang lebih singkat.
Sistem peluncur menggunakan Programmable Logic Controller (PLC) WAGO 750-8206/040-000 XTR sebagai pengontrol utama yang dapat diprogram untuk menyimpan rangkaian instruksi yang menjalankan fungsi-fungsi spesifik seperti: logika, sekuen, timing, counting, dan aritmatika.
Pengembangan Kendaraan Peluncur Roket R-Han 122B ini adalah untuk menghasilkan kendaraan peluncur yang dapat berfungsi dengan baik dan stabil sesuai spesifikasi yang diharapkan tanpa adanya kesalahan dan kerusakan baik saat endurance maupun penembakan.
Disamping itu diharapkan sistem otomatisasi dan manual dapat dioperasikan oleh operator sesuai prosedur dan operasi penembakan yang dikehendaki. Prototipe peluncur roket ini dibuat dalam rangka memenuhi kebutuhan akan kendaraan peluncur roket R-Han 122B sebagai dukungan dalam program pengembangan Roket Nasional.

Caesar Kirab Keliling Ngawi, Armed 12/Divif 2 Kostrad Gelar Pemanasan 18 Pucuk Meriam


Suasana pagi hari di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, nampak tak seperti biasanya. Sebab, masyarakat Ngawi seakan dihibur dengan adanya kirab 18 pucuk Meriam 155 MM Caesar yang merupakan senjata andalan milik Yonarmed 12/Divif 2 Kostrad.
 Kirab 18 Pucuk Meriam 155 MM Caesar
 Kirab 18 Pucuk Meriam 155 MM Caesar 
Danyonarmed 12/Divif 2 Kostrad, Letkol Arm Ronald, F. Siwabessy mengatakan jika pemanasan tersebut, sesuai dengan prosedur maintenance atau perawatan yang telah ditentukan.
"Ada dua jenis pemanasan. Pertama, bisa dilakukan di tempat dan yang kedua, pemanasan on road atau di jalan," beber Danyonarmed ketika ditemui di ruangan kerjanya. Jumat, 15 Nopember 2019 siang.
Pemanasan on road kali ini, ujar almamater Akademi Militer tahun 2002 itu, dilakukan dengan menempuh jarak sejauh 20 kilometer. "Itu bertujuan untuk merawat dan melancarkan sistem kerja hidrolik dari meriam tersebut," ungkapnya.
Sebagai salah satu alutsista canggih dan modern, ujar Ronald, kemampuan prajurit dan Meriam Caesar harus terus terjaga dan ditingkatkan.
"Bukan sebatas mengawaki saja. Prajurit Armed 12 juga harus profesional dalam hal pemeliharaan. Sebab, perawatan alutsista, merupakan suatu hal yang wajib dilakukan," ujar Pamen TNI-AD kelahiran Kota Ambon ini.
Terpisah, Danmenarmed 1/PY/2 Kostrad, Kolonel Arm Didik Harmono menambahkan jika pemeliharaan alutsista dan peningkatan kemampuan prajurit Artileri Medan, merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh prajurit di jajarannya.
Sebab, selain sesuai prosedur, upaya tersebut merupakan salah satu hal yang mampu mendukung keberhasilan, sekaligus tugas pokok TNI-AD dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan negara.
"Alutsista yang modern dan canggih, akan menjadi suatu hal yang sia-sia jika tidak di dukung oleh prajurit yang profesional. Terutama dalam mengawaki maupun memelihara alutsista itu," tegasnya.

Rusia, Lithuania, dan Norwegia Lakukan Pertukaran Mata-mata


Rusia, Lithuania dan Norwegia melakukan pertukaran mata-mata tiga arah. Pertukaran itu terjadi di perbatasan Lithuania dengan Rusia.
Menurut kepala kontra intelijen Lithuania lima orang dibebaskan sebagai bagian dari operasi pertukaran itu pada hari Jumat (15/11/2019). Dua warga negara Rusia ditukar dengan dua orang warga Lithuania dan seorang warga Norwegia seperti dikutip dari Euronews.
Nikolai Filipchenko
Nikolai Filipchenko  
Pertukaran mata-mata tiga arah ini terjadi setelah presiden Lithuania, Gitana Nauseda, mengkonfirmasi pada hari sebelumnya bahwa ia telah mengampuni dua warga Rusia. Nikolai Filipchenko dan Sergei Moisejenko mendekam di penjara Lithuania atas tuduhan spionase sejak 2017 lalu.
Nikolai Filipchenko menjalani hukuman sepuluh tahun setelah diketahui menjadi anggota Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB). Ia juga berusaha merekrut pejabat senior di Lithuania. Sementara Sergei Moisejenko menjalani hukuman sepuluh tahun dan enam bulan karena merekrut seorang perwira.
Pengampunan Nauseda terhadap kedua orang itu pada hari Jumat mengutip sebuah pasal khusus dalam hukum pidana negara itu yang mulai berlaku minggu ini - dan berkaitan dengan proses pertukaran mata-mata asing.
Menurut kantor berita BNS Lithuania, pertukaran mata-mata itu adalah hasil negosiasi selama berminggu-minggu antara Lithuania, Rusia dan Norwegia.
Sebagai tanggapan, Rusia membebaskan dua warga Lithuania - Yevgeny Mataitis dan Aristidas Tamosaitis - yang dipenjara karena aksi mata-matai pada tahun 2016.
Rusia juga merilis Frode Berg, seorang penjaga perbatasan Norwegia yang dihukum pada tahun 2017.
Pengacara Berg mengatakan belum diketahui kapan kliennya akan dibawa kembali ke Norwegia setelah diserahkan kepada otoritas negara itu di Lithuania. (Berlianto)

Amerika Serikat Ancam Mesir karena Beli 20 Lebih Jet Tempur Su-35 Rusia


Amerika Serikat (AS) melontarkan ancaman akan menjatuhkan sanksi kepada Mesir karena keputusannya membeli lebih dari 20 jet tempur Su-35 Rusia. Jet tempur itu pula yang dibeli Indonesia dan sampai saat ini belum jelas kapan pengirimannya.
 Jet Tempur Su-35 Rusia
 Jet Tempur Su-35 Rusia 
Ancaman sanksi itu diungkap surat kabar The Wall Street Journal (WSJ) dalam laporannya hari Kamis (14/11/2019).
Rusia, yang telah menjadi salah satu pemasok senjata utama Mesir, berencana untuk memulai pengiriman pesawat tempur superioritas udara Su-35 Flanker-E ke negara tersebut pada awal 2020 hingga 2021. Sedangkan AS selama ini mengucurkan bantuan militer senilai US1,3 miliar kepada Mesir.
Menurut WSJ, ancaman Washington disampaikan Menteri Luar Negeri Michael Pompeo dan Menteri Pertahanan Mark Esper kepada Menteri Pertahanan Mesir Mohamed Ahmed Zaki Mohamed. Kedua menteri Amerika itu mengatakan bahwa kesepakatan pembelian Su-35 Moskow oleh Kairo dapat memicu sanksi.
"Kesepakatan senjata baru besar dengan Rusia akan—paling tidak—mempersulit transaksi pertahanan AS di masa depan dengan dan bantuan keamanan kepada Mesir," kata Pompeo dan Esper yang dikutip surat kabar tersebut.
Para pejabat Pentagon dilaporkan secara pribadi memperingatkan Kepala Angkatan Udara Mesir Mohamed Abbas tentang konsekuensi dari kesepakatan itu. Seorang pejabat Departemen Luar Negeri yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada WSJ bahwa Washington mendesak semua sekutu dan mitranya untuk mempertimbangkan kembali transaksi pembelian senjata pertahanan dan intelijen Rusia.
Undang-undang AS tahun 2017 yang bernama resmi CAATSA (Countering America's Adversaries Through Sanctions Act) yang bertujuan menghukum Rusia atas tindakan termasuk dugaan campur tangan pemilu 2016 menempatkan sanksi sekunder pada negara-negara yang berdagang dengan sektor pertahanan dan intelijen Rusia.
Di bawah CAATSA, pemerintahan Donald Trump telah memberlakukan sanksi pada militer China karena membeli 10 unit pesawat jet tempur Su-35 dari Rusia. Selain itu, 33 orang dan entitas yang terkait dengan militer dan intelijen Rusia masuk dalam daftar hitam sanksi Amerika. (Muhaimin)

Turki-Amerika Serikat Bentuk Tim Cari Dampak S-400 Terhadap F-35


Juru bicara presiden Turki, Ibrahim Kalin mengatakan, pejabat Turki dan Amerika Serikat (AS) mulai bekerja untuk menyelesaikan masalah sistem pertahanan S-400 yang merusak hubungan kedua negara. Secara khusus, tim tersebut akan mengevaluasi dampak sistem pertahan buatan Rusia itu terhadap jet F-35 buatan AS.
Jet Tempur F-35 dan S-400
Jet Tempur F-35 dan S-400 
Kalin mengatakan Turki tidak mungkin membuang S-400, tetapi mencatat bahwa sistem pertahanan Rusia tidak akan diintegrasikan ke dalam jaringan pertahanan NATO. Hal ini telah berulang kali diperingatkan oleh banyak ahli atau dianggap hampir mustahil untuk melakukannya seperti dikutip dari Sputnik, Sabtu (16/11/2019).
Masalah S-400 Rusia di Turki diangkat antara lain selama pertemuan di Gedung Putih antara Presiden Donald Trump dan koleganya dari Turki Recep Tayyip Erdogan.
Meski pertemuan di Gedung Putih itu tidak membuahkan hasil dalam hal memperbaiki hubungan yang baru-baru ini tegang antara AS dan Turki, beberapa kemajuan telah dibuat. Yakni, Trump mengumumkan rencana untuk mengumpulkan pakar keamanan nasional dari kedua belah pihak untuk menghasilkan solusi untuk masalah S-400.
Presiden Erdogan, pada gilirannya, menyatakan pada hari berikutnya setelah pertemuan itu bahwa Turki tidak akan pernah membuang sistem S-400. Ia menyebut proses akuisisi Turki atas sistem rudal itu sebagai masalah yang berdaulat dan menyalahkan tuntutan AS untuk mengabaikan mereka sebagai "tidak benar". Erdogan selanjutnya menegaskan kembali pernyataan sebelumnya bahwa Ankara siap untuk membeli Patriot AS selain S-400.
AS menangguhkan pengiriman jet tempur F-35 ke Turki tahun ini setelah Ankara menolak memenuhi permintaan Washington untuk membatalkan kontrak pembelian sistem S-400 Rusia. Ankara menegaskan bahwa pembelian S-400 adalah masalah keamanan nasional dan menunjukkan bahwa AS telah menolak untuk menjual sistem pertahanan udara sendiri ketika Turki membutuhkannya. (Berlianto)

Iran: Kapal Induk Musuh Tak Lagi Aman di Tempat Mana Pun


Kepala Komandan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Mayor Jenderal Hossein Salami telah memperingatkan musuh-musuh agar tidak mendekati perbatasan Iran.
Ia mengklaim tidak ada zona aman bagi kapal induk musuh di dalam atau di luar perairan teritorial Iran.
Mayor Jenderal Hossein Salami
Mayor Jenderal Hossein Salami  
Salami membuat komentar pada hari Kamis dalam upacara yang didedikasikan untuk Hassan Tehrani Moghaddam, yang sering dipuji sebagai bapak program rudal Iran.
"Mengenai keberhasilan pemasangan rudal balistik ke dalam speedboat [IRGC], kapal induk musuh tidak akan lagi aman di tempat mana pun," kata sang jenderal dilansir dari Sputnik, Jumat, (15/11/2019).
Kepala IRGC menambahkan bahwa sanksi AS telah merangsang perkembangan pesat teknologi pertahanan Iran, mengubah rudal balistik Iran menjadi yang dipandu dengan presisi, sementara mengklaim bahwa kemampuan pertahanan, rudal dan pesawat tanpa awak yang diperkuat negara itu akan memberikan respons paling keras terhadap musuh kesalahan sekecil apa pun.
Iran telah mengakumulasi persenjataan besar sistem rudal balistik dan pelayaran jarak pendek, menengah dan jarak jauh konvensional yang dibuat di dalam negeri.
AS, Uni Eropa, Arab Saudi dan Israel telah menyuarakan keprihatinan tentang senjata-senjata ini yang mengancam keamanan regional dan global, tetapi Iran bersikeras bahwa rudal itu dimaksudkan sebagai pencegah terhadap kemungkinan serangan musuh, dan berulang kali menekankan bahwa kepemilikan mereka adalah Tidak bisa dinegosiasikan untuk Republik Islam.
Sebelumnya pada bulan November, pejabat Iran dan AS telah terlibat dalam debat bolak-balik tentang apakah Iran telah menghancurkan pesawat mata-mata AS yang kedua, dengan pihak Iran mengklaim reruntuhan pesawat tak berawak sedang diambil di dekat kota pelabuhan Mahshahr di barat daya, sementara Pentagon telah membantah laporan bahwa setiap drone AS ditembak jatuh di wilayah tersebut, dan mengatakan bahwa semua peralatan AS telah diperhitungkan.(Agus Nyomba)

Rusia Siap Kirimkan Rudal S-400 ke India Sesuai Jadwal


Presiden Rusia, Vladimir Putin mengatakan bahwa pihaknya akan mengirimkan sistem rudal S-400 ke India. Hal tersebut diungkapkannya dalam pertemuan Brazil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan (BRICS).
Rudal S-400
Rudal S-400  
"Terkait pengiriman S-400, semuanya berjalan sesuai rencana. Rekan-rekan India kami belum meminta untuk mempercepat apa pun. Semuanya baik-baik saja," kata Putin dalam pertemuan itu di Brasilia, Brazil, seperti dikutip Reuters, Jumat (15/11).
India telah memutuskan untuk membeli rudal S-400 meskipun Amerika Serikat (AS) mengancam akan menjatuhkan sanksi. Kesepakatan jual beli itu diteken Perdana Menteri India, Narendra Modi dan Presiden Rusia, Vladimir Putin pada 5 Oktober 2018 silam.
India mengabaikan ancaman AS karena mereka membutuhkan senjata itu untuk meningkatkan pertahanannya terhadap Cina.
Untuk diketahui, S-400 adalah sistem rudal yang dilarang AS. Pemerintahan yang dipimpin Donald Trump itu meyakini bahwa S-400 tidak kompatibel dengan pertahanan NATO dan menimbulkan ancaman bagi jet tempur Lockheed Martin F-35 stealth milik mereka.
Selain India, AS juga mengancam Turki karena telah memesan senjata S-400. Trump meminta Presiden Turki, Tayyip Erdogan untuk membatalkan pembelian sistem rudal milik Rusia itu.
"Akuisisi Turki atas peralatan militer Rusia yang canggih, seperti S-400, menciptakan beberapa tantangan yang sangat serius bagi kami. Kami terus membicarakannya," kata Trump.
Trump mengatakan bahwa AS dan Turki telah mengutus masing-masing Menteri Luar Negeri dan Penasihat Keamanan untuk segera menyelesaikan konflik terkait rudal S-400 asal Rusia. Trump mengakui bahwa konflik tersebut mempengaruhi hubungan bilateralnya dengan Turki.(Dwi Reka Barokah)

Amerika Serikat Habiskan USD6,4 T untuk Berperang dan Tewaskan 800 Ribu Setelah Serangan 11 September


Kelompok pengawas militer Amerika Serikat (AS) mengeluarkan angka-angka terbaru terkait perang melawan teror yang dicanangkan negara itu pasca serangan 11 September 2001. Laporan tersebut menunjukkan, perang yang memasuki tahun ke delapan itu telah menghabiskan dana sebesar USD6,4 triliun dan menewaskan sekitar 800 ribu orang.
Serangan 11 September
Serangan 11 September 
"Sejak akhir 2001, Amerika Serikat telah menyetujui dan wajib menghabiskan sekitar USD6,4 triliun hingga Tahun Anggaran 2020 dalam biaya anggaran terkait dan disebabkan oleh perang pasca-9/11," bunyi laporan yang dirilis Costs of War Project pada 13 November lalu seperti disitir dari Sputnik, Jumat (15/11/2019).
Lembaga yang berbasis di Brown University itu melanjutkan bahwa angka biaya itu terdiri dari sekitar USD5,4 triliun alokasi dalam dolar saat ini dan tambahan minimum USD1 triliun untuk kewajiban AS merawat para veteran perang ini selama beberapa dekade berikutnya.
Sebuah studi terpisah yang diterbitkan pada hari yang sama oleh Costs of War Project melaporkan korban manusia dari perang itu telah mencapai antara 770 ribu dan 801 ribu.
Sementara perang yang termasuk dalam proyek itu adalah perang Afghanistan dan Pakistan, Irak, Suriah dan Yaman, serta kategori "lainnya" yang menyatukan sejumlah konflik yang lebih kecil, termasuk Operasi Enduring Freedom di Teluk Guantanamo (Kuba), Djibouti, Eritrea, Ethiopia, Yordania, Kenya, Kirgistan, Pakistan, Filipina, Seychelles, Sudan, Tajikistan, Turki dan Uzbekistan.
Laporan tahun lalu mencatat label biaya di angka USD5,9 triliun dan diperkirakan 500 ribu orang tewas.
Angka-angka yang dihitung tidak hanya mencakup pengeluaran mentah Pentagon, tetapi juga langkah-langkah luas yang diambil oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri (USD1,05 triliun), tambahan tambahan untuk anggaran pertahanan seperti tagihan pengeluaran tambahan (USD803 miliar), kategori "Operasi Kontinjensi Luar Negeri" yang baru (USD100 miliar), bunga dibayarkan untuk pinjaman bagi pengeluaran tersebut (USD925 miliar), pengeluaran Departemen Luar Negeri AS seperti USAID (USD131 miliar) dan perawatan medis dan disabilitas untuk veteran pasca 11 September (USD437 miliar saat ini, tetapi dengan lebih banyak dari USD1 triliun yang diproyeksikan melalui 2059).
Profesor ilmu politik Brown dan penulis penelitian Neta Crawford mengatakan kepada Military.com totalnya adalah "perkiraan yang sangat kasar."
"Saya pikir itu balling rendah, jujur," catatannya.
Perkiraan Pentagon tahun lalu hanya USD1,5 triliun, Sputnik melaporkan.
Tidak mengherankan, sebagian besar korban tewas dalam perang yang dilakukan oleh AS terjadi di negara-negara yang menjadi sasaran serangan. Jumlah terbesar berasal dari Irak, di mana AS telah memiliki kehadiran militer terus menerus sejak awal 2003 dan di mana ia melakukan perang pendudukan brutal melawan gerakan pemberontak.
Costs of War Project memperkirakan bahwa antara 184.382 dan 207.156 warga sipil Irak telah tewas akibat perang AS di sana, yang merupakan sebagian besar dari 312.971 hingga 335.745 perkiraan warga sipil yang tewas dalam semua perang AS sejak 2001.
Secara keseluruhan, 7.014 tentara AS telah tewas, ditambah lagi 7.950 kontraktor keamanan AS, yang meliputi kelompok-kelompok seperti Blackwater, sekarang berganti nama menjadi Academi, yang telah bertindak sebagai tentara swasta, sebagian besar di Irak.
Laporan itu juga memperkirakan antara 254.708 dan 259.783 kombatan musuh telah terbunuh dalam perang itu. Namun, kutipan laporan menunjukkan banyak bukti berasal dari laporan Pentagon, termasuk bocoran Log Perang Irak, di mana garis antara warga sipil dan pejuang musuh kemungkinan akan kabur.
Misalnya, Komando Afrika AS sebelumnya berusaha mempertahankan fasad bahwa tidak ada warga sipil yang terbunuh oleh serangan udara di Somalia selama bertahun-tahun. Tetapi di hadapan bukti-bukti yang bertentangan dengan penggalian yang digali oleh Amnesty International, AFRICOM mengakui pada April 2019 bahwa beberapa warga sipil telah tewas.
Namun, seperti yang dilaporkan Sputnik, pembatasan serangan udara yang dilonggarkan oleh pemerintahan Trump pada tahun 2017 secara efektif berhenti melacak korban sipil sama sekali dengan tidak mengharuskan komandan untuk menghitung potensi kematian warga sipil yang dihasilkan dari serangan, sehingga melaporkan semua kematian akibat serangan udara sebagai kombatan musuh.
"Jumlah orang yang terbunuh secara langsung dalam kekerasan perang di Irak, Afghanistan dan Pakistan diperkirakan di sini," Costs of War Project mencatat.
"Beberapa kali lebih banyak terbunuh secara tidak langsung sebagai akibat dari perang - karena, misalnya, kehilangan air, limbah dan masalah infrastruktur lainnya, dan penyakit terkait perang," sambungnya.
Untuk memberikan satu contoh saja, perkiraan 2015 oleh Costs of War Project menemukan bahwa sebanyak 360 ribu warga Afghanistan mungkin telah mati karena efek tambahan dari perang AS.
"Bahkan jika Amerika Serikat menarik diri sepenuhnya dari zona perang utama pada akhir FY2020 dan menghentikan operasi Perang Global Melawan Teror lainnya, di Filipina dan Afrika misalnya, total beban anggaran dari perang pasca 11/9 akan terus berlanjut meningkat karena AS membayar biaya perawatan veteran yang sedang berlangsung dan bunga pinjaman untuk membayar perang," kata laporan itu.
Hal yang sama juga berlaku untuk kematian yang disebabkan oleh perang itu sendiri. (Berlianto)

Korea Utara Tebar Ancaman, Amerika Siap Pertahankan Korea Selatan


Seorang jenderal Amerika Serikat (AS) memperingatkan Korea Utara (Korut) bahwa Washington tidak akan ragu membawa pasukan militer penuh untuk membela sekutunya Korea Selatan (Korsel). Peringatan itu dikeluarkan menyusul ancaman Pyongyang tentang eskalasi atas pembicaraan denuklirisasi yang mandek.
Militer Korea Selatan
Militer Korea Selatan 
Korut merilis pernyataan resmi pada Rabu yang mengatakan pihaknya merasa dikhianati oleh latihan militer bersama AS dan Korsel yang direncanakan, yang akan dilanjutkan meskipun Pyongyang berulang kali mengeluh.
Menanggapi hal itu, Ketua Kepala Staf Gabungan AS Mark Milley memberi ancaman singkat kepada Pyongyang.
"AS siap untuk menggunakan kemampun militer AS sepenuhnya untuk mempertahankan Korsel dari segala agresi," ucap Milley seperti dikutip dari Newsweek, Jumat (15/11/2019).
Milley juga menekankan komitmen berkelanjutan AS untuk memberikan pencegahan yang panjang.
Menteri Pertahanan AS Mark Esper yang berada di Korsel mengatakan ia akan mempertimbangkan untuk mengubah kegiatan militer AS di Korsel jika hal itu dapat membantu para pejabat menghidupkan kembali pembicaraan dengan Korut. Saat ini ada sekitar 25.000 tentara Amerika yang ditempatkan di Semenanjung Korea.
"Setiap langkah akan diambil dalam kolaborasi erat dengan mitra Korea kami, bukan sebagai konsesi untuk Korea Utara atau apa pun, tetapi sekali lagi, sebagai sarana untuk menjaga pintu terbuka bagi diplomasi," kata Esper kepada wartawan.
Korut telah lama mengutuk latihan militer gabungan AS-Korsel, mengingat latihan itu dipandang untuk mempersiapkan diri guna menginvasi negara tertutup itu.
Dalam pertemuan dengan Pemimpin Korut Kim Jong-un di Singapura tahun lalu, Presiden AS Donald Trump setuju untuk membekukan semua latihan bersama dengan harapan mencapai kesepakatan denuklirisasi. Pentagon dan Korsel dikejutkan oleh pengumuman tersebut, karena tidak ada konsultasi sebelumnya tentang komitmen tersebut.
Latihan militer The 2018 Vigilant Ace termasuk di antara latihan yang dibatalkan. Pada tahun-tahun sebelumnya, latihan itu melibatkan ratusan pesawat AS dan Korsel. Tidak jelas berapa banyak yang akan dikerahkan dalam latihan mendatang. (Berlianto)

Amerika Serikat Akan Uji Coba Rudal Balistik Baru Sebelum Akhir Tahun


Amerika Serikat (AS) kemungkinan tengah bersiap untuk melakukan uji coba rudal balistik darat baru yang akan diluncurkan dalam beberapa minggu ke depan. Ini akan menjadi uji coba pertama kalinya sejak AS menarik diri dari Perjanjian Nuklir Jarak Menengah (INF) pada bulan Agustus lalu.
Uji Coba Rudal Balistik
Uji Coba Rudal Balistik 
Situs Military.com melaporkan pejabat Pentagon mengungkapkan kembali pada bulan Maret mereka berencana untuk menguji rudal balistik jarak menengah pada bulan November. Selama Konferensi Berita Pertahanan pada bulan September, Robert Soofer, Wakil Asisten Menteri Pertahanan untuk kebijakan pertahanan nuklir dan rudal, mengisyaratkan bahwa Pentagon masih berencana untuk menguji coba rudal dalam waktu dekat.
"Saya yakin itu masih rencana untuk melakukan uji coba rudal balistik sebelum akhir tahun ini," kata Soofer pada saat itu, bunyi laporan Defense News yang dinukil Sputnik, Jumat (15/11/2019).
Namun, ketika menyelidiki tentang pernyataan Soofer, juru bicara Pentagon Letnan Robert Carver mengatakan dia tidak bisa mengkonfirmasi atau menolak uji coba akan berlangsung pada bulan November.
"Saya tidak dapat memberikan perincian tentang tanggal pengujian, waktu atau lokasi," tambahnya, Defense News melaporkan.
Menurut Defense News jika uji coba itu dilakukan, rudal balistik tersebut diperkirakan memiliki jangkauan antara 3.000 dan 4.000 kilometer.
AS secara resmi menarik diri dari Perjanjian INF pada 2 Agustus, mengutip dugaan pelanggaran yang dilakukan Rusia sebagai alasan, bersama dengan keengganan negara-negara lain, termasuk China, untuk bergabung dengan perjanjian tersebut.
Menurut AS, Rusia telah menguji coba dan mengerahkan rudal jelajah yang melebihi jangkauan 500 kilometer, yang dilarang berdasarkan Perjanjian INF. Namun, Rusia telah berulang kali membantah tuduhan tersebut. Keputusan AS untuk meninggalkan pakta itu menarik kemarahan dari Rusia dan negara-negara lain.
Perjanjian era Perang Dingin tersebut ditandatangani oleh AS dan Uni Soviet pada tahun 1987, melarang semua rudal darat jarak pendek (500-1.000 km) dan jarak menengah (1.000-5.500 km) diluncurkan. (Berlianto)

Korea Utara Tolak Tawaran Perundingan Amerika Serikat


Korea Utara (Korut) menolak tawaran Amerika Serikat (AS) untuk mengadakan perundingan pada bulan Desember mendatang. Korut mengatakan tidak tertarik dengan pembicaraan yang hanya bertujuan untuk "menenangkan kami" jelang berakhirnya batas waktu yang telah ditetapkan oleh Pyongyang.
Ilustrasi
Ilustrasi 
Negosiator nuklir Korut, Kim Myong-gil mengatakan, mitranya dari AS Stephen Biegun telah menawarkan melalui negara ketiga untuk bertemu lagi.
Kim dan Biegun bertemu bulan lalu di Ibu Kota Swedia, Stockholm, untuk pertama kalinya sejak Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong-un sepakat pada bulan Juni untuk membuka kembali perundingan yang macet sejak pertemuan puncak yang gagal di Vietnam pada Februari lalu.
Tetapi pertemuan Stockholm berantakan, dengan Kim Myong-gil mengatakan pihak AS gagal untuk menyajikan pendekatan baru.
"Jika solusi masalah yang dinegosiasikan dimungkinkan, kami siap untuk bertemu dengan AS di mana saja dan kapan saja," kata Kim Myong-gil dalam sebuah pernyataan yang dilaporkan kantor berita resmi Korut, KCNA, seperti dilansir dari Reuters, Jumat (15/11/2019).
Tapi ia menyebut proposal Biegun sebagai tujuan jahat hanya untuk menenangkan Korut dalam upaya untuk lolos dari batas waktu akhir tahun Pyongyang.
"Kami tidak punya keinginan untuk melakukan negosiasi seperti itu," tegasnya.
Korut telah berupaya pencabutan sanksi hukuman, tetapi AS bersikeras Kim Jong-un harus membongkar program senjata nuklirnya terlebih dahulu.
Pernyataan Korut itu muncul setelah Jenderal Mark Milley, ketua Kepala Staf Gabungan AS, menegaskan kembali bahwa AS siap menggunakan "jangkauan penuh" kemampuannya untuk mempertahankan Korsel dari serangan apa pun. (Berlianto)

Studi: Bom Hidrogen Korut 17 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima


Hasil studi Indian Space Research Organisation (ISRO) mengungkap data baru tentang kekuatan bom Hidrogen yang diuji coba tahun 2017. Studi yang mengandalkan citra satelit itu menyebutkan kekuatan bom rezim itu antara 245 hingga 271 kiloton atau 17 kali lebih kuat dari bom nuklir Amerika Serikat (AS) yang dijatuhkan di Hiroshima 1945.
Bom Hidrogen Korea Utara
Bom Hidrogen Korea Utara 
Perkiraan awal daya ledak uji senjata termonuklir Republik Rakyat Demokratik Korea (DPRK) pada 3 September 2017 saat itu antara 50 dan 70 kiloton. Namun, studi ISRO menyebutkan kekuatannya sekitar 17 kalinya bom "Little Boy".
AS pernah menguji coba bom Hidrogen pertamanya pada tahun 1952, yang kala itu kekuatannya sekitar 10,2 megaton atau hampir 700 kali lebih kuat dari bom "Little Boy".
Sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Dr. K. M. Sreejith dari ISRO's Space Applications Center menerbitkan temuan mereka bulan lalu di sebuah jurnal yang dikelola Royal Astronomical Society, Geophysical Journal International.
Para ilmuwan menggunakan data dari Advanced Land Observing Satellite 2 (ALOS-2), satelit Jepang yang menggunakan radar aperture sintetis PALSAR-2 yang kuat. Radar ini digunakan untuk kartografi, guna mengukur pergeseran di permukaan Gunung Mantap, di mana uji bom Hirdogen terjadi.
Mereka menggunakan teknik yang disebut Synthetic Aperture Radar Interferometry (InSAR), yang menurut US Geological Survey umumnya digunakan untuk secara akurat mengukur deformasi tanah yang terkait dengan gunung berapi, yang dapat membengkak sebelum meletus.
"Radar berbasis satelit adalah alat yang sangat kuat untuk mengukur perubahan di permukaan Bumi, dan memungkinkan kami memperkirakan lokasi dan hasil uji coba nuklir bawah tanah," kata Sreejith dalam siaran pers hari Kamis, yang dilansir Sputniknews, Jumat (15/11/2019). "Sebaliknya dalam seismologi konvensional, estimasi tidak langsung dan tergantung pada ketersediaan stasiun pemantauan seismik," ujarnya.
Satelit itu mengukur pergeseran permukaan gunung beberapa meter tepat di atas ledakan, yang juga menggerakkan sisi puncak Gunung Mantap sekitar 0,5 meter. Mereka memperkirakan ledakan itu sendiri terjadi sekitar 540 meter di bawah puncak, menciptakan rongga di dalam gunung dengan radius 66 meter.
Sementara tes dilakukan jauh di bawah tanah, seperti yang telah menjadi praktik standar selama beberapa dekade untuk meminimalkan kejatuhan radioaktif, meskipun beberapa kebocoran radiasi terdeteksi setelah ledakan 2017. Uji coba bom itu bisa mengancam runtuhnya Gunung Mantap dan bahan radioaktif di dalamnya bisa bocor.
Sejak Juni 2018, AS dan DPRK telah terlibat dalam beberapa putaran negosiasi untuk mencapai kesepakatan yang akan mengarah pada denuklirisasi Semenanjung Korea. Namun, sejauh ini belum berhasil. (Muhaimin)

Iran Tegaskan Tolak Perundingan Soal Program Misilnya


Iran tidak akan pernah mengadakan pembicaraan mengenai program misilnya. Hal itu ditegaskan komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Hossein Salami.
Salami bahkan dengan tegas menambahkan bahwa negaranya tidak akan berhenti meningkatkan kemampuan pertahanannya
Ilustrasi
Ilustrasi 
"Hal seperti itu tidak akan pernah terjadi. Kami tidak akan pernah berhenti atau mundur ketika datang untuk meningkatkan kemampuan pertahanan kami. Topik ini adalah salah satu garis merah kami," kata Salam saat ditanya tentang kemungkinan pembicaraan antara kekuatan dunia dan Iran mengenai program rudal Iran untuk memudahkan sanksi terhadap negara itu.
Ia menambahkan kemampuan pertahanan Iran tidak dapat didiskusikan, disesuaikan, dihentikan atau dikendalikan.
"Kami mengalami kemajuan tanpa terkendali," ujar Salami, tanpa merinci bidang apa yang sedang dibuat.
"Kami meyakinkan bangsa Iran bahwa angkatan bersenjata negara dan IRGC memiliki potensi dan kapasitas untuk menghadapi musuh apa pun, tidak peduli seberapa besar," imbuh Salami.
"Bangsa (Iran) harus tenang dan hidup dengan ketenangan pikiran karena kami mampu menghancurkan musuh," tukasnya seperti dikutip dari Al Arabiya, Jumat (15/11/2019).
Amerika Serikat (AS) menarik diri dari perjanjian nuklir Iran pada tahun 2018, dengan alasan kesepakatan itu memberikan keuntungan bagi Iran, dan sejak itu memberlakukan kembali sanksi terhadap negara tersebut.
Washington mengatakan ingin menegosiasikan kesepakatan lebih luas yang bertujuan untuk membatasi kerja nuklir Iran, menghentikan program rudal balistiknya dan membatasi campur tangannya dalam urusan negara-negara lain di Timur Tengah.
Beberapa pejabat tinggi Iran dan komandan militer pada beberapa kesempatan mengesampingkan kemungkinan perundingan tentang program rudal negara itu.
Komandan angkatan laut IRGC Alireza Tangsiri mengatakan pada bulan September bahwa program rudal Iran sedang berkembang setiap hari dan merupakan "garis merah" untuk negosiasi.
Pada bulan Juni, pemimpin tertinggi negara itu Ali Khamenei menekankan bahwa Iran tidak akan melepaskan program misilnya dan bersikeras bahwa Amerika tidak akan dapat menghilangkan kemampuan rudal Iran. (Berlianto)

Erdogan Tolak Desakan Trump Singkirkan Sistem Rudal S-400 Rusia


Presiden Turki Tayyip Erdogan menolak desakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menyingkirkan yang telah dibeli Ankara. Menurutnya, saran seperti itu tidak benar dan merupakan pelanggaran hak kedaulatan.
Presiden Turki
Presiden Turki  
Dalam pertemuan di Gedung Putih hari Rabu, Trump mendesak Erdogan untuk menyingkirkan sistem S-400 Rusia yang mulai tiba di Turki pada bulan Juli meskipun ada ancaman sanksi dari Washington.
Ditanya setelah pertemuan itu apakah Turki akan mempertimbangkan desakan Washington untuk tidak mengaktifkan S-400, Erdogan mengatakan kepada wartawan bahwa Ankara tidak dapat merusak hubungannya dengan Rusia. Dia juga sekali lagi mengulurkan opsi untuk membeli sistem pertahanan Patriot AS.
"Kami mengatakan; 'Kami melihat proposal untuk menyingkirkan S-400 sepenuhnya saat membeli Patriot sebagai pelanggaran hak kedaulatan kami dan tentu saja tidak benar'," katanya, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (15/11/2019).
"Ini adalah elemen yang paling mengikat; kami memiliki beberapa upaya strategis dengan Rusia," lanjut Erdogan. Dia menambahkan bahwa pipa gas alam Turkstream yang dimulai di Rusia dan berjalan melalui Turki akan mulai mengirimkan gas ke Eropa.
"Saya tidak bisa meninggalkan S-400 karena (sistem) Patriot sekarang. Jika Anda ingin memberi kami Patriot, berikanlah itu," kata Erdogan.
Berkat hubungan baik yang baik antara kedua presiden, Turki sejauh ini terhindar dari sanksi AS meski telah membeli sistem pertahanan rudal S-400 Rusia. Tetapi Amerika Serikat telah melarang penjualan jet tempur siluman F-35 ke Ankara dan mencoretnya dari keikutsertaan program multinasional untuk memproduksi pesawat tempur generasi kelima tersebut.
Erdogan mengakui telah melihat pendekatan yang jauh lebih positif untuk masalah F-35 ketika itu dilakukan Trump.
Berbeda dengan sambutan hangat yang diterima Erdogan dari Trump, lima senator Partai Republik dalam sebuah pertemuan pada hari Rabu mempertanyakan motif Ankara membeli senjata Rusia.
"Para Senator menjelaskan kepada Erdogan bahwa meskipun mereka ingin tetap menjadi sekutu Turki, Ankara tidak bisa membeli sistem rudal Rusia ini dan mengharapkan tidak ada yang terjadi sebagai konsekuensinya," kata sumber Kongres yang diberi pengarahan pada pertemuan itu.
Sasaran utama pertemuan itu, lanjut sumber, adalah membahas pembelian senjata Rusia oleh Ankara. Tetapi sesi itu berlangsung lebih dari satu jam dan termasuk diskusi tentang Suriah. Menurut sumber tersebut, Trump memberi Senator kebebasan untuk mengajukan pertanyaan setelah membuat beberapa pernyataan untuk memulai pertemuan.
Erdogan sendiri menunjukkan video pada Ipad selama pertemuan, dan merinci permusuhan milisi Kurdi. Erdogan mengatakan Trump tampak "tergerak" sambil menonton rekaman.
Kongres AS telah bersatu dalam kemarahannya terhadap Turki, yang semakin dalam setelah invasi Ankara sejak 9 Oktober ke Suriah untuk mengusir milisi Kurdi, mitra utama Washington dalam perang melawan kelompok Islamic Satate of Iraq and Levant/Syria (ISIL/ISIS).
Bulan lalu, Dewan Perwakilan Rakyat atau Kongres AS memilih mendukung resolusi yang tidak mengikat yang mengakui pembunuhan 1,5 juta warga Armenia beberapa abad lalu sebagai genosida yang dilakukan pasukan Turki. Pengakuan itu membuat Ankara maraha.
Namun, pada hari Rabu, Senator Lindsay Graham—sekutu Presiden Trump dan kritikus Turki yang juga hadir dalam pertemuan itu, memblokir resolusi tersebut di lantai Senat.
"Keberatan saya bukan pada sejarah mantel gula atau mencoba menulis ulang," kata Graham. "Saya benar-benar berharap Turki dan Armenia dapat bersatu dan menangani masalah ini," katanya lagi, seraya menambahkan bahwa dia baru saja bertemu dengan Erdogan dan Trump. (Muhaimin)

Microsoft Menang Kontrak Militer Rp 140 Triliun dari Departemen Pertahanan Amerika Serikat


Amazon terindikasi akan memprotes keputusan Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang baru-baru ini memberikan kontrak besar layanan cloud computing pada saingan beratnya, Microsoft.
Bisnis Cloud Microsoft Azure
Bisnis Cloud Microsoft Azure 
Dikutip detikINET dari CNBC, Pentagon telah menyatakan Microsoft sebagai pemenang, dalam kontrak yang bisa berlangsung 10 tahun dan bernilai sampai USD 10 miliar atau di kisaran Rp 140 triliun.
Didapatnya kontrak itu merupakan kemenangan besar bagi Microsoft di bawah CEO Satya Nadella, yang menyebut jika layanan cloud merupakan prioritas utama. Di sisi lain, adalah pukulan bagi Amazon Web Services yang sekarang masih menguasai pasar.
"Beragam aspek dalam evaluasi mengandung kesalahan dan bias, dan penting bahwa hal-hal tersebut diperiksa dan diperbaiki," demikian pernyataan Amazon.
Pentagon sebelumnya mengaku sudah berhati-hati sehingga pengumuman pemenang kontrak yang sedianya dilakukan tahun silam molor. "Kami harus tepat melakukannya sehingga kami tidak tergesa-gesa membuat keputusan,"jar Dana Deasy, Chief Information Officer Pentagon.
"Kami menghabiskan seberapa banyak apapun waktu yang dibutuhkan tim evaluasi untuk memastikan kami memilih solusi teknis terbaik dengan harga dan kriteria yang sesuai," paparnya.
Bisnis cloud Microsoft, Azure, pada kuartal III 2019 membukukan pertumbuhan 59%. Sedangkan Amazon Web Services di belakangnya dengan 35%, meski masih pemimpin pasar.(fyk/fyk) (Fino Yurio Kristo)

Uni Eropa Hendak Buat Senjata Baru untuk Lepas dari Ketergantungan AS


Pemerintah negara-negara Uni Eropa memberi lampu hijau 13 proyek pertahanan pada Selasa untuk melepas ketergantungan dari Amerika Serikat.
Di bawah rencana yang disetujui oleh para menteri pertahanan UE di Brussels, proyek pertahan terdiri dari kapal patroli baru, senjata pengacau elektronik untuk pesawat terbang dan teknologi untuk melacak rudal balistik.
Eurofighter Typhoon
Eurofighter Typhoon 
Dikutip dari Reuters, 12 November 2019, proyek-proyek itu membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk dinegosiasikan, tetapi Presiden Prancis Emmanuel Macron menggarisbawahi keinginan untuk kolaborasi pertahanan UE yang lebih luas pekan lalu ketika ia mengatakan aliansi pertahanan NATO sedang sekarat akibat kebijakan AS.
Sekitar 47 proyek pertahanan bersama Uni Eropa kini sedang dikerjakan setelah penandatanganan pakta oleh Prancis, Jerman dan 23 pemerintah UE lainnya pada akhir 2017 untuk mendanai, mengembangkan dan mengerahkan pasukan bersenjata menyusul keputusan Inggris untuk keluar dari blok tersebut.
Semua senjata baru di darat, di laut, atau di udara dan di dunia maya dapat diserahkan kepada NATO, tetapi pertanyaan Presiden AS Donald Trump mengenai signifikansi aliansi telah menambah daya dorong bagi inisiatif pertahanan Eropa.
Macron telah menyatakan keraguan tentang slogan keamanan NATO bahwa serangan terhadap satu sekutu adalah serangan terhadap semua. Tetapi banyak sekutu Eropa menolak komentarnya yang menyebut NATO sekarat.
Meskipun 22 negara Uni Eropa menjadi anggota NATO, blok itu berharap untuk meluncurkan anggaran senjata multi-miliar euro mulai 2021, yang mengharuskan negara-negara anggota UE untuk bekerja sama dalam merancang dan membangun tank, kapal, dan teknologi baru.
Perencanaan pertahanan Eropa, operasi dan pengembangan senjata memperkirakan Prancis mengambil peran besar dalam 60% dari 47 proyek, atau sering kali dengan Jerman, Italia, dan Spanyol.
Di bawah proyek terbaru, Prancis akan memimpin rencana untuk membangun teknologi melacak rudal balistik di luar angkasa, dan mengembangkan senjata pengacau elektronik dengan Spanyol dan Swedia untuk pesawat tempur Eropa.
Bersama Italia, Prancis akan mengembangkan prototipe untuk kelas baru kapal militer, yang dikenal sebagai Corvette Patroli Eropa.
Prancis, Portugal, Spanyol dan Swedia juga bertujuan untuk memberikan sistem anti-kapal selam baru untuk melindungi jalur laut dan komunikasi. Prancis juga sudah memimpin pekerjaan pada helikopter jenis baru untuk Uni Eropa.

Radar Acak