Rusia Terima 6 Pesawat AEW Berriev A-50U dengan Teknologi Serba Digital


Rusia terus meningkatkan kemampuan tempurnya khususnya di bidang kekuatan udaranya demi menghadapi jet-jet tempur AS-NATO di kawasan Eropa Timur dan Alaska.
Guna membangun kekuatan udara yang memiliki daya pukul terintegrasi, Angkatan Udara Rusia telah mengoperasikan sejumlah pesawat peringatan dini Airborne Early Warning (AEW), A-50U yang sudah menjalani program upgrade.
AEW Berriev A-50U
AEW Berriev A-50U  
Perusahaan Vega yang telah diintegrasikan ke dalam Ruselectronics Group (bagian dari Rostec) dan Beriev Aircraft (bagian dari United Aircraft Corporation), mengirimkan enam pesawat radar terbang A-50U yang selesai di-upgraded.
A-50U adalah pesawat intai jarak jauh yang mengusung radar dan dioperasikan oleh AU Rusia seperti dilaporkan kantor berita TASS (28/3/2019).
A-50U adalah updated variant dari A-50M dengan penggunaan sistem elektronik baru yang lebih modern dan peningkatan level kenyamanan kru.
Komponen A-50U yang sudah ditingkatkan kemampuannya dengan teknologi paling mutakhir, antara lain adalah radar baru. Pesawat ini juga menjalani peningkatan kemampuan lepas landas maksimum (MTOW), peningkatan jelajah terbang, dan avionik yang serba digital. Demikian juga dengan akurasi deteksi terhadap target yang semakin meningkat.
Pesawat radar tebang A-50U melakukan penerbangan perdana tahun 2011. Pesawat ini adalah derivatif dari Beriev A-50 dan turunan langsung dari Il-76, yang sudah berdinas sejak 1989.
Pesawat pengintai radar jarak jauh adalah radar terbang dengan fungsi pos komando dan kontrol.
Dalam misi tempurnya sebagai pesawat surveillance, A-50U selain bertugas mendeteksi target di udara, juga mengidentifikasi pesawat yang sedang terbang sebagai pesawat lawan atau kawan. Pesawat ini juga jelas berfungsi sebagai pesawat komando dan komunikasi dan sebagai pesawat pemandu bagi jet-jet tempur yang sedang mengincar sasaran baik di udara, laut, maupun darat.
Khusus mengenai upgrade perangkat avionik dari analog menjadid digital, komponen-kompenen tersebut disuplai oleh Vega Radio Engineering Corporation JSC.
Tidak hanya perangkat avionik dan komponen yang mendukung AEW yang di-upgrade, ruang istirahat kru pesawat, toilet, dan fasilitas lainnya juga turut dibenahi sehingga A-50U menjadi pesawat AEW yang nyaman untuk misi penerbangan jarak jauh.
Beriev Aircraft Company dan mitranya Vega Radio Engineering Corporation sebenarnya tidak hanya melakukan program upgrade untuk pesawat AEW. Sejak 2016, kedua industri pertahanan itu bahkan sudah menyiapkan model pesawat Early Warning and Control System (AWACS) terbaru dengan teknologi radar AESA, A-100 Premier.
A-50U didesain untuk melakukan deteksi, penjejakan, dan menentukan target yang akan dieksekusi. Baik di udara, laut, dan darat. Dengan penciumannya yang tajam, A-50U mampu menemukan target pada jarak 800 kilometer dan beroperasi sejauh 7.500 kilometer.
Data dari A-50 ditransfer ke pos komando untuk kemudian memandu pesawat tempur menuju ke sasaran. (Beny Adrian, A Winardi)

AU AS (US Air Force) akan Pindahkan MiG-21 Fishbed ke Museum Penerbangan


Angkatan Udara Amerika Serikat (AU AS) berencana memindahkan sebuah pesawat tempur era Uni Soviet MiG-21 Fishbed ke Museum Penerbangan di Robins Air Force Base.
Disebutkan pihak AU AS tengah mencari kontraktor yang bisa menyediakan layanan relokasi pesawat.
MiG-21 Fishbed
MiG-21 Fishbed 
Lingkup pekerjaan kontraktor meliputi pemindahan pesawat MiG-21 nomor seri TBD dari US Army Aberdeen Proving Grounds, Aberdeen, Maryland ke Museum Penerbangan di pangkalan Robins, Georgia.
Menjadi persoalan karena semua sistem dan komponen tidak dapat dipotong, disobek atau dirusak selama pembongkaran, pengangkutan dan pemasangan kembali.
Selain itu juga akan diserahkan pesawat serang ringan A-7D Corsair bersamaan dengan pesawat tempur MiG-21. (Beny Adrian)
Sumber : mylesat.com

Kemhan Uji Dinamik IV R-HAN122B Tahap II


Program Roket R-Han 122B merupakan salah satu dari 7 (tujuh) program prioritas Nasional yang dikembangkan untuk mendukung kemandirian dalam perancangan dan pembuatan peralatan utama sistem persenjataan dalam negeri, kegiatan ini merupakan program lanjutan dari pengembangan roket yang sudah pernah dilakukan oleh industri pertahanan dalam negeri. 
Uji Dinamik IV R-HAN122B
Uji Dinamik IV R-HAN122B  
Pelaksanaan uji Dinamik IV Roket R-Han 122B merupakan rangkaian tahapan kelanjutan uji sebelumnya yaitu : Hydrostatic test, Static test, Drop test, Igniter Random Rantest dan Dynamic test 1 -3, pada pelaksanaan uji saat ini difokuskan untuk konsistensi terbang, memastikan titik jatuhan roket dengan melakukan pengamatan trayektory secara visual pada saat roket diluncurkan dengan beberapa sudut elevasi dan melakukan pemantauan dititik jatuhan untuk pembuatan tabel tembak dan sertifikasi.
Pelaksanaan uji Dinamik IV Roket R-Han 122B dilaksanakan selama 4 hari dimulai dari Hari Senin s.d Kamis yaitu pada tanggal 25 s.d 28 Maret 2019 bertempat di Kab. Lumajang Prov. Jawa Timur dengan posisi kedudukan Launcher berada di Pantai Rowo Pandan Kec. Tempur Sari dan sasaran di daerah latihan lapangan tembak AWR milik TNI AU Pandanwangi.
Rangkaian Kegiatan dimulai dengan sambutan Dari Dirjen Pothan Kemhan yang dibacakan oleh Laksma TNI Edy Sulistyadi, S.T Dirtekindhan Ditjen Pothan Kemhan yang menyampaikan bahwa program ini sebagai salah satu program prioritas nasional dan sebagai forum pembelajaran dalam mengejar teknologi peroketan nasional serta tersusunnya tabel tembak yang tersertifikasi sehingga dapat memenuhi kebutuhan Tri Matra TNI. 
Kemudian dilanjutkan penyampaian dari Dirtekbang PT. Pindad yaitu Bapak Dr, Ade Bagdja mewakili Tim Konsorsium Roket R-Han 122B yang menyampaikan bahwa Program ini terlaksana atas kerja sama Tim Konsorsium Roket R-Han 122B dan dukungan dari pihak-pihak terkait, selanjutnya dilakukan tahapan pelaksanaan uji Dinamik IV Roket R-Han 122B yang telah direncanakan.
Adapun undangan yang hadir dalam uji Dinamik IV adalah : Sesbalitbang Kemhan, Kapus Litbang Balitbang Kemhan, Kapus Roket Lapan, Kadislitbangal TNI AL, Perwakilan Itjen Kemhan, Perwakilan Puslaik Baranahan Kemhan, Dirbindik Pussenart TNI AD, Perwakilan Dislitbangad TNI AD, Tim Konsorsiun Roket R-Han 122B, Tim Ahli, Tim Waspro dan Tim PPHP.
Pelaksanaan kegiatan uji Dinamik IV Roket R-Han 122B didukung personel dan perlengkapan dari Korps Marinir TNI AL yaitu satuan Batalyon Roket-2 dari jajaran Resimen Armed-2 Pasmar-2 Korps Marinir dengan menggunakan Launcher MLRS “VAMPIRE” GRAD.
Sumber : kemhan.go.id

Viktor Litovkin: Turki Bisa Beralih Beli Sukhoi Su-35 Rusia jika AS Tak Jadi Kirim F-35


Washington berisiko kehilangan pasar senjata di Turki sama sekali jika terus menunda pengiriman jet tempur siluman F-35 yang disepakati dengan Ankara. Negara yang dipimpin Presiden Tayyip Erdogan itu bisa melirik jet tempur Su-35 Rusia sebagai pengganti.
Peringatan itu disampaikan analis militer untuk kantor berita TASS, Viktor Litovkin, kepada Russia Today. "Jika AS gagal mengirimkan jet (F-35) ke Turki, Ankara tentu dapat membeli Su-35 dari Rusia sebagai gantinya," katanya, Jumat (29/3/2019) malam.
Sukhoi Su-35
Sukhoi Su-35  
Menurut pakar tersebut, kedua jet tempur memiliki karakteristik yang sebanding. Moskow, kata dia, tidak akan mengambil risiko dengan membocorkan teknologi militer yang sensitif di luar negeri, karena perangkat lunak jet Su-35 sulit untuk dipecahkan.
Menurut Litovkin, tidak akan membutuhkan banyak upaya untuk mengintegrasikan pesawat tempur Rusia dengan mulus ke dalam militer Turki.
Para politisi di Washington telah berusaha menekan sekutu pentingnya di NATO, Turki, untuk membatalkan kesepakatan pembelian sistem pertahanan rudal anti-udara S-400 Moskow. Pekan ini, para Senator AS mengajukan draf RUU yang berisi seruan larangan mengirim 100 unit jet tempur F-35.
Larangan dalam RUU itu bisa dicabut jika Ankara menjamin tidak akan mendapatkan senjata dari Rusia. Pengiriman pesawat tempur siluman buatan Lockheed Martin AS ke Turki sudah diblokir secara efektif oleh Senat pada tahun lalu.
Sementara itu, para pemimpin Turki tetap mempertahankan haknya untuk membeli senjata dari siapa pun yang diinginkannya. Ankara berulang kali menegaskan bahwa Turki tetap berpegang pada kontrak pembelian sistem rudal S-400 Rusia.
Litovkin mengatakan upaya-upaya untuk menekan Ankara adalah tanda persaingan tidak sehat yang digunakan AS untuk mengendalikan penjualan sistem pertahanan rudal anti-udaranya, MIM-104 Patriot Pac 3.
Dia percaya bahwa Washington kemungkinan akan terus memeras sekutunya selama mungkin, tetapi pada titik tertentu akan dipaksa untuk menyerah dan mengirim jet F-35 yang dijanjikan kepada Turki. (Muhamin)

Saab Tawarkan Gripen untuk Penuhi Persyaratan LCA AU Malaysia dengan Kredit Ekspor


Saab menawarkan Malaysia konsep jangka pendek dan jangka panjang dalam sebuah ‘satu-platform’ yang berpusat pada pesawat tempur JAS-39 Gripen.
Penawaran ini disampaikan pihak Saab sebagaimana dikutip janes.com saat berlangungnya pameran LIMA 2019 di Langkawi dari 26-30 Maret 2019.
Saab Gripen
Saab Gripen 
Dalam waktu dekat Saab akan memposisikan Gripen sebagai kandidat untuk program Angkatan Udara Malaysia (RMAF) yang memiliki agenda pengadaanLight Combat Aircraft (LCA).
Saab mengatakan bahwa rencana ini sebagai respon permintaan untuk informasi (RFI) yang pernah dikeluarkan AU Malaysia dalam mendukung program LCA pada Februari lalu.
Untuk itu Saab memberikan tawaran yang didukung kredit ekspor Swedia untuk 12 pesawat tempur JAS-39Gripen. Terdiri dari 10 kursi tunggal Gripen C dan dua kursi ganda Gripen D.
Saab sebelumnya menawarkan Gripen kepada AU Malaysia untuk kebutuhan multirole combat aircraft (MRCA).
Namun program MRCA ini dibatalkan karena kurangnya dana dan sebaliknya pada saat bersamaan Malaysia tengah mendorong perkuatan kemampuan counter-insurgency daripada pertahanan teritorial eksternal.
Penekanan lebih baru kemudian mendorong munculnya rencana LCA, bahkan jika program ini juga menghadapi rintangan keuangan.
Program MRCA kemungkinan masih akan terus berjalan. Tetapi mungkin tidak akan muncul sebagai proyek pengadaan formal untuk satu dekade atau lebih.
Menurut Saab, pendekatan ‘satu platform’ menekankan kepada kemampuan Gripen untuk memenuhi persyaratan kemampuan yang diminta LCA dan MRCA.
Sementara AU Malaysia belum merinci persyaratan kemampuan LCA, pejabat AU Malaysia menekankan perlunya pesawat tempur ringan dan fleksibel yang dapat digunakan dalam serangan darat dan operasi counter-insurgency, dengan kemampuan lepas landas dan mendarat di landasan pendek.
Pejabat Saab mengatakan bahwa JAS-39 Gripen memenuhi persyaratan ini. Pesawat dengan kemampuan MRCA akan memberikan pertahanan taktis dan pencegahan di seluruh wilayah seperti Laut China Selatan. (Beny Adrian)
Sumber :  mylesat.com

TNI AD Lakukan Modernisasi Persenjataan Artileri Medan


Modernisasi Alutsista Arteri Medan (Armed) digencarkan TNI AD dalam lima tahun terakhir. Selain mendatangkan sejumlah senjata baru, TNI juga mengupgrade senjata lama dengan kemampuan daya rusak luas.
Selain itu, menyiapkan prajurit siap perang. Pelatihan kian di modernisasi, bekerja sama dengan sejumlah pabrikan senjata dan universitas terkemuka. Armed kemudian menjadi satuan tempur mengerikan, prajurit kemudian dibekali kemampuan bertempur modern.
 Astros II
 Astros II 
"Salah satunya mengoperasikan senjata modern. Kami kini tengah mencoba mengupgrade senjata dari pabrikannya," kata Komandan Pusat Senjata Arteri Medan (Danpussenarmed), Kolonel Arm Purbo Prastowo di Cimahi, Jawa Barat, Jumat (29/3/2019).
Pada satuan Armed sendiri, Purbo memaparkan modernisasi gencar dilakukan pihaknya. Beberapa senjata yang telah usang ia kandangkan dan mempelajari senjata baru, seperti Meriam 155 mm Caesar buatan Perancis dan Multiple Louncher Rocket System (MLRS) Astros II MK 6 AV-LMU buatan Brazil.
Meskipun keduanya telah dimiliki oleh negara lain, namun Purbo memaparkan senjata yang dimilik Indonesia berbeda. Sejak kedatangannya tahun 2017 lalu, senjata ini telah di upgrade dengan daya gempur lebih jauh dan daya rusak luas.
Beberapa senjata itu, kini telah ditempatkan di 18 batalion di seluruh Indonesia. "Beberapa di antaranya masih kami upgrade, misal yang MLRS Astros II, kami proses upgrade hingga mampu mencapai jarak 300 km," kata Purbo.
Meskipun saat ini alutista dinilai sudah cukup, namun TNI AD dibawah kepemimpinan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jendral TNI Andika Perkasa masih mengupayakan modernisasi Alutsista, beberapa senjata baru kini diupayakan untuk terus didatangkan.
Adanya modernisasi alutista dengan persenjataan modern, tak membuat senjata lama diabaikan. Salah satunya meriam gunung M-48 76 mm tahun pembuatan 1963. Meriam yang bisa dibagi delapan bagian ini masih digunakan untuk latihan dan siap digunakan untuk perang.
Purbo melanjutkan, dengan efektifitas dan kemampuan yang dilepas pasang. Membuat meriam ini cukup terjaga, perawatan rutin berkala dilakukan terhadap meriam ini, meriam ini akan digunakan untuk pertempuran jarak dekat.
"Dulu banyak negara negara menggunakan meriam 76. Tapi semenjak pabriknya tutup, meriam itu dipensiunkan. Hanya di Indonesia yang operasional baik. Artinya peliharaan TNI luar biasa. Negara lain tidak bisa menggunakan ini, sementara kami bisa memanfaatkan," ucapnya.
Termasuk meriam AMX MK61 tahun 60 an yang kini terdapat di sejumlah batalion. Meriam itu kini mendapatkan perawatan intensif dan masih bisa difungsikan untuk keadaan darurat perang.
Komandan Pusat Pendidikan Arteri Medan Pusat Senjata Arteri Medan (Danpusdikarmed Pussenarmed), Kolonel Arm Djoni Prasetiyo memaparkan perubahan kurikulum dilakukan pihaknya dengan menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB).
"Salah satu contoh yang kita kembangkan dengan kelas hologram. Bagaimana saat kita kembangkan bukan perencanaan operasi. Bagaimana saat masuk alutista ada gambaran visual yang sebenarnya. Artinya real time. Ini bagian dari kebijakan KSAD," papar Djoni.
Di Pusdikarmed sendiri, sejumlah prajurit dilatih dalam tiga kelompok berbeda, yakni Perwira, Bintara, dan Tamtama. Mereka nantinya dilatih paling cepat 1,5 bulan untuk menguasai satu alat tempur.
Setelah proses pelatihan teori dalam kelas, pelatihan kemudian dilanjutkan dengan praktek lapangan. Latihan bersama antara operasional kendaraan, operasional meriam, dilakukan di kawasan Batu Jajar, yang tak jauh dari lokasi.
Selain itu, untuk menciptakan Guru Militer (Gumil). Djoni mengakui pihaknya menebar sejumlah pengajar ke beberapa negara pembuat senjata. Pelatihan selama tiga bulan dilakukan untuk mengenalkan senjata itu. Sehingga, ketika mereka kembali ke Indonesia, mereka memiliki modal untuk mengupgrade senjata itu.
"Tentunya sebelum diberangkatkan kami latih bahasa mereka dulu," ucapnya sembari mengatakan regenerasi guru juga dilakukan pihaknya.
Sementara terhadap sejumlah senjata baru, Djoni mengatakan beberapa teknisi juga didatangan dari pabrikan itu. Selama di Indonesia, mereka kemudian belajar kepada sejumlah prajurit untuk diajarkan mengenal senjata itu termasuk perawatannya.
Khusus untuk Multiple Louncher Rocket System (MLRS) Astros II MK 6 AV-LMU sendiri, Pusdikarmed menyediakan dua alat simulator, yakni Astros II MK 6 AV-PCC Kendaraan Pibak Baterai dan Multiple Louncher Rocket System (MLRS) Astros II MK 6 AV-LMU. Dua alat ini diketahui memiliki fungsi berbeda.
Astros II MK 6 AV-PCC Kendaraan Pibak Baterai merupakan alat yang menentukan titik koordinat musuh dan sasaran yang ingin di tuju. Setelah data base tersimpan, nantinya dikirimkan ke MLRS Astros II 6 AV-LMU. Roket meluncur ke sasaran.
Djoni mengatakan, dengan alat yang canggih itu memungkin peluncuran roket bisa dilakukan dengan jarak jauh. "Tapi untuk peluncuran kita harus memperhatikan beberapa bagian, seperti kekuatan angin, koordinat lokasi, kelembapan cuaca, hingga kondisi tanah," ucapnya.
Untuk kemampuannya, Astros merupakan senjata mutakhir armed dunia. Senjata ini mampu meluncurkan 32 roket dalam waktu enam detik. Dengan daya ledak hampir hampir dua hektare, Astros dinilai mampu melumpuhkan basis pertahanan musuh.
"Tentunya senjata itu efektif kalau SDM bagus. Makanya disini kami latih sejumlah prajurit siap tempur," tuturnya.
Komandan Bataliyon Armed 4/105 GS, Mayor Arm Gatot Awan Febrianto memaparkan simulasi pelatihan perang dilakukan pihaknya diwaktu tertentu. Dengan demikian, misi menjadikan anakbuahnya menjadi komandan tempur telah teruji.
Dengan 481 orang anggota batalion. Awan memaparkan setiap harinya kemampuan fisik dan bertempur jarak dekat hingga beladiri dilakukan. Para prajurit dituntut untuk siap dan berlatih keras.
Di Batalion Armed 4/105 GS, lanjut Awan, pihaknya tengah menunggu kedatangan meriam baru M149 G dari Belgia yang kini salam proses persiapan kesisteman.
Sembari menunggu senjata itu datang, mereka kemudian AMX MK61 tahun 60 an yang diterimanya tahun 1985 lalu. Alat itu mampu menembak dengan jarak tempuh 14-15 kilometer dengan daya rusak 20-30 meter.
"Setiap harinya kami melakukan perawatan. Mulai membenahi beberapa sasis mesin dan perawatan rutin, seperti penggantian oli," ucapnya.
AMX MK61 yang dimiliki Bataliyon Armed 4/105 GS telah mengalami perubahan. Bila sebelumnya meriam ini hanya memiliki daya gempur kurang dari 10 kilometer. Namun berkat pergantian suku cadang, alat ini mampu merusak dengan daya jangkau maksimal 15 kilometer.
"Bisa dikatakan mampu efektif digunakan untuk peperangan jarang menengah," katanya.
Mengenai kemampuan peralatan perang yang ada, Awan menuturkan sehebat apapun peralatan yang dimiliki TNI AD, tapi tanpa dukungan rakyat Indonesia. TNI takkan kuat, karenanya ia meminta support dari rakyat Indonesia. (Yan Yusuf)

Kapal Selam Nagapasa Class Rakitan PT PAL akan Diluncurkan


Setelah melewati beberapa kali penundaan, unit ketiga dari kapal selam Nagapasa Class yang disebut dengan identitas KRI Alugoro-405, kabar terakhir diwartakan bahwa kapal selam Type 209/1400 tersebut akan diluncurkan secara resmi pada 12 April mendatang. Molornya jadwal peluncuran dikarenakan adanya pendangkalan berat pada area dermaga utama PT PAL di Surabaya.
Nagapasa Class
Nagapasa Class 
Merespon kondisi tersebut, para teknisi dari PT PAL tengah melakukan koordinasi untuk memindahkan lokasi peluncuran kapal selam ke dok Semarang. Pemindahan kapal selam ke dock Semarang ini disebut-sebut penuh risiko, sehingga diperlukan perhitungan yang cermat agar kapal selam tidak mengalami kerusakan saat dipindahkan.
Dikutip dari Janes.com (29/3), disebutkan PT PAL telah berhasil memindahkan kapal selam ke posisi peluncuran alternatif. Pemindahan kapal selam dengan bobot 1.400 ton dilakukan dengan tongkang sepanjang 300 kaki (91 meter), dan bila semua proses lancar maka kapal selam akan diluncurkan dalam sebuah acara seremoni pada 12 April 2019. Pasca diluncurkan, nantinya KRI Alugoro-405 akan memasuki tahap sea trial, sebelum secara final diserahkan kepada pihak Kementerian Pertahanan dan TNI AL.
KRI Alugoro-405 punya panjang 61,3 meter dan lebar 7,6 meter. Dengan awak 41 orang, kapal selam disesel listrik yang dirakit oleh PT PAL ini sanggup melaju 10 knot saat melaju di permukaan, dan 21 knot saat di bawah permukaan air. (Bayu Pamungkas)

AS Kembali Kandangkan Sementara Pesawat Pembom Strategis B-1B Lancer karena Bermasalah


Militer Amerika Serikat kembali mengkandangkan pesawat pembom B-1B milik Angkatan Udara setelah ditemukan adanya masalah teknis dalam sistem pelontarnya.
Ini menjadi kali kedua Angkatan Udara AS melarang terbang pesawat pembom tersebut dalam kurun waktu kurang dari dua tahun.
B-1B Lancer
B-1B Lancer 
Kali ini, dikhawatirkan terdapat masalah teknis pada fitur parasut yang terhubung dengan kursi pelontar pilot.
Dilansir Fox News, dalam laporan inspeksi rutin oleh penerbang pada salah satu pesawat tersebut, ditemukan bahwa sistem parasut pelontarnya telah salah dipasang, dan menimbulkan kekhawatiran bahwa masalah itu juga terdapat pada pesawat lainnya.
Saat ini, ada sebanyak 62 unit pesawat pembom B-1B Lancer, atau yang dijuluki "Bone", yang tercatat dalam inventaris Angkatan Udara AS.
"Pesawat-pesawat pembom tersebut akan dikandangkan selama beberapa minggu, dan tidak akan lebih dari satu bulan," ujar salah seorang pejabat.
Pesawat pembom B-1B tercatat telah banyak digunakan secara luas dalam operasi menghadapi ISIS di Irak dan Suriah, serta meluncurkan rudal jelajah jarak jauh.
"Pesawat ini bukan pembom nuklir, melainkan hanya digunakan untuk meluncurkan senjata konvensional," kata pejabat tersebut.
Sebelumnya, pesawat pembom B-1B juga sempat dikandangkan selama sekitar tiga minggu pada Juni 2018 karena masalah keamanan dalam sistem kursi pelontar.
Menurut pejabat departemen pertahanan AS, saat ini tidak ada pesawat pembom B-1B yang berada di luar negeri.
Sebagian besar dari armada pesawat ini kini ditempatkan di dua pangkalan domestik, yakni di Pangkalan Angkatan Udara Ellsworth di South Dakota dan di Pangkalan Angkatan Udara Dyess di Texas.
Pesawat pembom B-1B merupakan satu dari tiga pesawat tipe pembom strategis jarak jauh yang masih digunakan Departemen Pertahanan AS.
Pesawat yang dikembangkan pada era Perang Dingin ini sempat digadang-gdang sebagai pesawat yang akan melakukan serangan udara nuklir terhadap Uni Soviet jika terjadi konflik global, dan tetap menjadi bagian penting dalam rencana darurat AS.
Menurut sejumlah laporan, pesawat ini akan dihapus dari inventaris Angkatan Udara AS pada pertengahan 2030 mendatang dan akan digantikan dengan pembom siluman B-21 Raider yang baru. (Agni Vidya Perdana)
Sumber : kompas.com

AS Tawari India THAAD dan Patriot Sebagai Ganti Sistem Pertahanan Udara S-400 Rusia


Amerika Serikat (AS) bekerja sama dengan India untuk menawarkan alternatif bagi sistem pertahanan rudal S-400 Triumf Rusia. Washington menawarkan sistem rudal Patriot dan sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD).
Langkah Washington itu disampaikan Asisten Menteri Pertahanan Randall Schriver. Dia juga menyampaikan bahwa Washington kemungkinan tidak akan menjatuhkan sanksi pada New Delhi atas pembelian sistem rudal S-400 Moskow.
THAAD
THAAD 
Pemerintah India resmi menandatangani kontrak pembelian lima unit sistem senjata pertahanan Rusia tersebut. Nilai kontrak itu mencapai sekitar USD5 miliar.
"Saya pikir itu akan menjadi keputusan yang disayangkan jika mereka memilih untuk mengejar itu," kata Schriver kepada Komite Angkatan Bersenjata Parlemen AS pada hari Rabu di Washington saat rapat dengar pendapat tentang Kegiatan Militer AS di kawasan Indo-Pasifik.
"Kami sangat ingin melihat mereka membuat pilihan alternatif," ujarnya."Kami bekerja dengan mereka untuk memberikan alternatif yang potensial," imbuh dia, seperti dikutip Gulf News, Jumat (29/3/2019).
Tawaran untuk India juga disampaikan Komandan Komando Indo-Pasifik AS, Laksamana Philip Davidson."Saya terus membuat poin dengan mereka bahwa interoperabilitas dan kompatibilitas kami ke depan akan diuntungkan dengan pembelian sistem AS," katanya.
Dalam referensi terhadap undang-undang sanksi bernama Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA), Schriver menunjukkan bahwa ada undang-undang AS yang "menggantung” kesepakatan pembelian S-400 dengan Rusia.
"Kami ingin bekerja melewatinya karena India adalah mitra baru bagi kami," ujarnya. "Undang-undang itu tidak dirancang untuk menjadi penghalang dalam kemitraan strategis yang kita miliki dengan India. Ini dirancang untuk konsekuensi terhadap Rusia."
Undang-undang yang diadopsi tahun 2017 itu sebagai tanggapan terhadap dugaan campur tangan Rusia dalam pemilu AS 2016. UU itu mengamanatkan penjatuhan sanksi pada pembeli peralatan pertahanan Rusia.
Alternatif senjata pertahanan yang ditawarkan AS pada India sebagai pengganti S-400 Rusia adalah sistem THAAD Lockheed Martin dan sistem Patriot Raytheon. Namun, ketiganya berbeda dalam kemampuan dan biaya.(Muhaimin)

Pejabat Menhan AS: Kami Butuh Turki Membeli Rudal Patriot Kami


Penjabat Menteri Pertahanan Amerika Serikat ( AS) Patrick Shanahan berkata, dia sangat ingin Turki tetap dalam program jet tempur F-35.
Pernyataan itu dia sampaikan dalam rapat dengar pendapat dengan Komite Pelayanan Senjata House of Representatives, dikutip Hurriyet Kamis (28/3/2019).
Rudal Patriot
Rudal Patriot 
Dalam rapat dengar pendapat yang berlangsung Selasa (26/3/2019), Shanahan mendapat pertanyaan apakah dia masih ingin Turki berpartisipasi dalam program bernilai triliunan dollar itu.
"Tentu saja kami masih ingin. Namun, kami butuh Turki membeli rudal Patriot kami," terang pejabat yang menggantikan Menhan James Mattis itu.
Ucapan Shanahan itu muncul setelah Washington menentang rencana Turki untuk membeli sistem pertahanan rudal S-400 dari Rusia.
Sebabnya, AS khawatir rahasia F-35 bisa diketahui Rusia, sehingga radar S-400 bisa mendeteksi jet tempur siluman generasi kelima tersebut.
Diwartakan Al Arabiya, Senat AS memperkenalkan usulan bipartisan yang memerintahkan penahanan pengiriman F-35 jika Ankara masih nekat membeli S-400.
"Kemungkinan Rusia bisa mempunyai akses ke teknologi jet tempur AS adalah ancaman keamanan baik nasional maupun global," kata Senator Jeanne Shaheen dari Partai Demokrat.
Memberi sinyal terkuat, seorang sumber mengatakan kepada Reuters AS bisa mengeluarkan Turki dari program pengembangan jet tempur itu.
Pada Minggu pekan lalu (24/3/2019), Presiden Recep Tayyip Erdogan menegaskan dia bakal tetap membeli S-400 meski AS memprotes.
Meski Turki tetap bisa membeli rudal Patriot, Washington bersikukuh Turki tidak boleh membeli S-400, dan mengancam bakal menarik negosiasi soal Patriot. (Ardi Priyatno Utomo)

India Berniat Borong 62 Unit Pesawat Angkut Airbus C295


Kementerian Pertahanan India menyimpulkan negosiasi harga terkait rencana pembelian massif sebanyak 62 pesawat angkut sedang (MTA) Airbus Defence and Space C295.
Pesawat akan dioperasikan oleh Angkatan Udara India dan Penjaga Pantai India (ICG).
 Airbus C295
 Airbus C295 
Komite Negosiasi Kontrak (CNC) dari Kemenhan India menyimpulkan pada 28 Maret 2019 bahwa konsultasi dengan Tata Advanced Systems Limited (TASL) yang berada dalam usaha patungan (JV) dengan Airbus untuk program MTA guna mendapatkan 62 pesawat seharga sekitar 3,15 miliar dolar AS.
Mereka mengatakan bahwa kesepakatan yang akan mencakup 56 pesawat untuk AU India guna menggantikan armada Avro 748M yang sudah tua, dan enam untuk ICG, diperkirakan akan diteken setelah pemerintah India yang baru mengambil alih kantor menyusul pemilihan umum yang akan dimulai 11 April 2019.
Program MTA memberikan impor langsung sebanyak 16 pesawat Airbus C295 dan perakitan lokal/ lisensi pembuatan dari 46 pesawat tersisa di fasilitas yang didirikan JV dekat Bangalore.
Sesuai tender MTA 2013, 24 pesawat di antaranya akan diimpor dalam bentuk kit untuk perakitan lokal dan termasuk 30% konten asli.
Tingkat konten asli kemudian diharapkan akan berlipat ganda hingga 60% di 22 platform tersisa.
Pengiriman C295 yang dirakit secara lokal pertama diharapkan akan dimulai dalam waktu 60 bulan sejak kontrak diteken.
Pejabat senior AU India mengatakan bahwa sementara ini versi C295 akan memenuhi persyaratan untuk pesawat angkut udara taktis.
Sementara Airbus C295 pesanan Penjaga Pantai India diharapkan beroperasi sebagai pesawat maritim multimission. (Beny Adrian)

Bulan Menguji Latih Alutsista Canggih 3 Matra TNI


Bulan Maret 2019 ini berbagai inventori alutsista yang dimiliki TNI diuji dalam serial simulasi. Ini bagian dari optimalisasi penggunaan karena alutsista yang baru dimiliki itu seyogyanya memang harus dianalisis dan diuji terus menerus keandalannya teknologinya.
MLRS Astross II
MLRS Astross II 
Beberapa waktu lalu artileri swa gerak M109 A4 yang baru dibeli dan Caesar Nexter kembali unjuk diri kemudian diikuti dengan MLRS Astross II. Ini adalah jenis alutsista milik Yon Armed TNI AD ini baru dimiliki, jadi harus sering-sering diujilatih agar menjadi familiar dalam penggunaannya. Demikian juga dengan helikopter serbu AH-64E Apache yang berjumlah 8 unit memerlukan kuantitas dan kualitas pelatihan yang harus dikuasai oleh para awaknya.
Armada Satu TNI AL yang medan tugasnya mengawal Selat Sunda, Selat Malaka sampai Natuna melaksanakan kegiatan gugus tempur laut di Laut Jawa. Ada kapal perang baru yang dilibatkan yaitu KRI Semarang-594 dari jenis LPD bersinergi dengan KRI Bung Tomo-357 dan beberapa Kapal Cepat Rudal yang lain. Latihan sepanjang Laut Jawa ini berakhir di Banten dan dikunjungi Panglima TNI.
Ketika belasan KRI Armada Satu melaksanakan latihan tempur, kesiagaan menjaga teritori tetap tinggi, buktinya KRI Teuku Umar-385 dan Kri Tarakan-905 berhasil menangkap 4 kapal nelayan Vietnam di Natuna. Sejumlah jet tempur Hawk Mk. 109/209 bersiaga di Natuna dan juga 1 flight Sukhoi Su-27/30 mengawal Tarakan adalah dalam rangka mengawal perbatasan teritori udara negeri ini.
Armada Dua TNI AL melaksanakan simulasi pertempuran bersama TNI AU, jadi modelnya adalah interoperablity antar matra. TNI AL mengerahkan light fregat terbaru KRI I Gusti Ngurah Rai-332 dan beberapa KRI Striking Force lainnya, sedangkan TNI AU mengerahkan 4 jet tempur Sukhoi.Su-27/30 medan latihannya adalah Selat Makassar sampai Ambalat. Latihan antar matra ini adalah bagian dari antisipasi model pertempuran masa depan yang dikenal dengan Network Centric Warfare.
Skadron yang berdomisili di Iswahyudi juga bareng-bareng latihan tempur malam hari. 1 flight Jet tempur F-16 dan T-50i selama seminggu melaksanakan pengeboman pada malam hari di area latihan AWR Lumajang. Sementara Di Iswahyudi AFB saat ini ada kesibukan tersendiri yaitu sedang dilakukan upgrade jet tempur 10 F16 Block 15 secara bertahap dan pembangunan infrastruktur untuk 11 jet tempur Sukhoi Su-35.
Di wilayah timur TNI AL mengerahkan kekuatan pukulnya dengan menghadirkan KRI Yos Sudarso-353 dan sejumlah KRI combatan untuk patroli gugus tempur laut. Armada Tiga TNI AL yang baru dibentuk berpusat di Sorong Papua. Karakter laut dalam yang dimiliki kawasan timur Indonesia mengharuskan kehadiran kapal perang minimal setingkat korvet. Misalnya Diponegoro Class yang berjumlah 4 unit di BKO kan secara bergantian.
Dengan dikembangkannya gelar armada menjadi tiga maka isian KRI striking force harus dipenuhi. Dari sisi ancaman maka kekuatan Armada Satu dan Armada Dua merupakan prioritas karena ada potensi konflik di Natuna dan Ambalat. Jadi kehadiran sejumlah KRI harus lebih sering di wilayah itu.
Sementara kehadiran KRI di Armada Tiga dan bermarkas di Sorong akan memperpendek rentang kendali dan efektivitas operasional. Tidak lagi harus ke Surabaya sebagai pangkalan induk. Sambil menunggu pembangunan kapal perang baru isian KRI dari inventori yang tersedia seperti Ahmad Yani Class.
Berbagai jenis alutsista yang baru dimiliki itu bukan untuk dielus-elus lalu dipamerkan dalam parade hari ulang tahun. Lebih dari itu, harus lebih sering diuji, dianalisis, dievaluasi untuk bisa menampilkan unjuk kerja optimal dan agar awak yang mengoperasikannya menjadi familiar dan tidak gaptek.
Simulasi pertempuran adalah bagian dari kesenyawaan prajurit dan alutsista yang harus terus menerus diasah. Pamer latihan juga perlu dipublikasikan karena ini bagian dari psywar untuk menunjukkan kekuatan militer kita. China berani pamer latihan tempur besar-besaran di Laut China Selatan, padahal itu wilayah konflik. Jelas tujuannya untuk unjuk kekuatan dan kehebatan militernya.
Kita juga pernah latihan militer skala besar di Natuna, pamer kekuatan. Kita juga pernah latihan militer skala besar di Ambalat, pamer kekuatan. Jadi negera itu perlu pamer kekuatan militer melalui latihan tempur disamping juga pamer kekuatan ekonominya. Dua hal yang kita miliki itu, kekuatan ekonomi dan kekuatan militer seiring sejalan menuju kekuatan yang diperhitungkan. Semoga. (Arien Pan)
Sumber : Jagarin Pane - TSM

Pangkoarmada II Tinjau Persiapan Uji Penembakan Torpedo Black Shark dari Kapal Selam KRI Nagapasa-403


Pangkoarmada II Laksda TNI Mintoro Yulianto, S. Sos, M. Si kembali onboard di salah satu kapal perang Republik Indonesia (KRI) jajaran Koarmada II, yakni KRI Sultan Iskandar Muda-367, yang bertolak dari Dermaga Ujung, pada Kamis (28/3) sore.
KRI Nagapasa-403
KRI Nagapasa-403 
Keberadaan orang nomor satu di Koarmada II tersebut di KRI SIM-367 , yakni untuk meninjau langsung pelaksanaan uji penembakan torpedo black shark oleh KRI Nagapasa-403 di sekitar perairan utara Bali pada tanggal 30 Maret 2018 mendatang.
Selain KRI SIM dan KRI Nagapasa, dalam uji penembakan tersebut beberapa KRI dan satuan lain juga ikut terlibat. Antara lain KRI I Gusti Ngurah Rai (GNR-332), KRI Spica dari Pushidrosal, Tim dari Dislambair, Satkopaska, Labinlek, serta Dispen Koarmada II.
Pangkoarmada II berharap torpedo Black Shark mampu melengkapi kecanggihan KRI Nagapasa-403 , sehingga kapal selam yang baru bergabung di jajaran Satsel Koarmada II pada tahun 2017 ini semakin terpercaya dalam menjaga keamanan wilayah laut Indonesia.
Sumber : tni.mil.id

Incar Jet Tempur Pakistan, Rudal India Malah Tembak Jatuh Helikopter Mi-17 V5 Miliknya Sendiri


Sebuah laporan surat kabar India mengungkap rudal New Delhi tak sengaja menembak jatuh helikopter militernya sendiri pada 27 Februari lalu. Insiden itu terjadi ketika rudal dari sistem pertahanan udara buatan Israel itu mencoba menargetkan 25 jet tempur Pakistan yang terbang di atas wilayahnya.
Mi-17 V5 India
Mi-17 V5 India 
Aksi 25 jet tempur Islamabad itu sebagai balasan terhadap serangan udara India sehari sebelumnya di wilayah Pakistan untuk menghancurkan sejumlah target yang diduga infrastruktur kelompok militan Jaish-e-Mohammed (JeM).
Kelompok JeM adalah kelompok yang disalahkan atas serangan bom bunuh diri yang menewaskan lebih dari 40 polisi paramiliter India yang sedang konvoi di wilayah Kashmir India.
Laporan surat kabar The Economic Times, pada Jumat (29/3/2019), mengungkap helikopter Mi-17 V5 lepas landas dari lapangan terbang Srinagar pada pukul 10.00 waktu setempat untuk misi rutin. Helikopter itu jatuh sekitar pukul 10.10 pagi di dekat Jammu dan distrik Budgam di Kashmir.
Menurut laporan surat kabar itu, enam personel Angkatan Udara India (IAF) yang berada di dalam helikopter tersebut tewas.
"Fokus investigasi adalah untuk menentukan beberapa lapis perlindungan yang dimaksudkan untuk melindungi aset dari friendly fire gagal dan bagaimana sistem perlu ditingkatkan untuk mencegah insiden seperti itu (terulang) di masa depan," tulis surat kabar tersebut mengutip sumber militer.
IAF telah menyatakan tidak akan ragu untuk memulai proses Pengadilan Militer terhadap personel yang dinyatakan bersalah dalam penyelidikan tentang insiden itu.
"Ketika peringatan pertahanan udara dibunyikan, beberapa hal terjadi. Ada seperangkat aturan yang harus diikuti oleh pesawat angkut dan helikopter dan ada rute masuk dan keluar yang dibatasi untuk terbang. Selain itu, pesawat juga harus mengaktifkan sistem IFF (Identify, Friend atau Foe) mereka," imbuh sumber yang dikutip The Economic Times. (Muhaimin)

Pesawat Angkut CN-235-220 Andalan Skadron 1 TUDM Jalani Perpanjangan Usia Pakai


Angkatan Udara Malaysia (TUDM/RMAF) akan melakukan perpanjangan usia pakai pesawat ini lewat program SLEP (Service Life Extention Program). Seperti diketahui, TUDM mulai mendapatkan CN-235 seri 220 buatan PT Dirgantara Indonesia di Bandung, Jawa Barat sejak 1998. Sebanyak delapan unit diakuisisi, dua diantaranya versi VIP.
 CN-235-220 TUDM
 CN-235-220 TUDM 
Penandatanganan kerja sama program SLEP antara PTDI dan TUDM dilakukan di hari ke-2 gelaran LIMA (Langkawi International Maritim And Aerospace) di Langkawi, Malaysia pada Rabu, (27/23. Program peremajaan ini akan memperpanjang usia pakai CN-235 milik TUDM untuk 15 tahun ke depan.
Adapaun kegiatan SLEP yang akan dikerjakan oleh Sub Direktorat Service PTDI di Bandung meliputi structur inspection, rewiring/harnesses, dan replacement of obsolescence equipment.
Dibutuhkan waktu kurang lebih dua tahun untuk pengerjaan tujuh pesawat. Tiga pesawat akan dikerjakan tahun 2019 dan empat lainnya pada 2020. Sebagai catatan, sebuah CN-235 TUDM mengalami musibah mendarat darurat di tepi pantai Kuala Selangor pada Februari 2016.
Mengenai armada CN-235 TUDM, pesawat ini berada di bawah naungan skadron angkut medium ringan serbaguana. CN-235 digunakan sebagai kuda beban mengangkut pasukan, angkutan VIP serta logistik untuk operasi militer dan kemanuasiaan.
Di TUDM, semula armada CN-235 di tempatkan dalam dua skadron. Pertama di Skadron 21 yang menjadi bagian dari Divisi I TUDM. Skadron 21 yang berlambang burung walet ini bersarang di Pangkalan Udara Subang, Selangor, Semenanjung Malaysia.
Setengahnya lagi ditempatkan di Skadron 1 yang menjadi bagian dari Divisi II TUDM. Skadron berlambang burung merpati memegang keris ini bersarang di Pangkalan Udara Kuching, Serawak.
Namun pada 2010, TUDM mengeluarkan kebijakan untuk melebur armada CN-235 menjadi satu skadron saja. Skadron 21 “Cekal Merintis” pun dipeti-eskan, seluruh pesawat dipindahkan ke Skadron 1 yang memiliki motto “Yang Pertama”.
Selain misi operasi militer reguler, pesawat rancangan PTDI bersama CASA (kini Airbus Defence & Space) tersebut juga dilibatkan TUDM dalam operasi sipil (kemanusiaan).
Salah satunya ketika ditugaskan membawa barang untuk korban gempa dan tsunami Aceh di pengujung 2004. Awal Januari 2005, pesawat CN-235 diterbangkan dari Subang, Selangor menuju Lanud Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Dalam misi yang sama, CN-235 juga men-drop bantuan terbang ke Pulau Nias.
Pesawat CN-235 TUDM juga pernah dilibatkan dalam pencarian pesawat Boeing 777-200 nomor penerbangan MH-370 milik Malaysia Airlines di wilayah Selat Malaka.
MH-370 penerbangan Kuala Lumpur-Beijing berisi 239 orang tersebut dilaporkan hilang setelah dua jam lepas landas pada 8 Maret 2014 dan hingga saat ini belum ditemukan. (Rangga Baswara Sawiyya)

Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) Bikin Cat Anti-Deteksi Radar


Badan Tenaga Atom Nasional atau BATAN berhasil mengembangkan teknologi siluman atau teknologi antideteksi radar berbasis smart magnet, dengan memanfaatkan material logam tanah jarang atau LTJ.
BATAN menguji coba Teknologi anti deteksi radar itu pada kapal Patkamla Sadarin TNI Angkatan Laut di Pantai Mutiara, Jakarta, Jumat 29 Maret 2019.
kapal Patkamla Sadarin
kapal Patkamla Sadarin  
Peneliti Pusat Sains dan Teknologi Bahan Maju (PSTBM BATAN), Wisnu Ari Adi mengatakan, penelitian cat antideteksi radar ini merupakan pengembangan dari kemampuan BATAN dalam mengolah pasir monasit menjadi LTJ.
Penelitian ini dimulai pada 2015, dua tahun kemudian, BATAN berhasil membuat purwarupa skala pilot, berupa cat antideteksi radar yang diaplikasikan pada potongan plat kapal logam dari alumunium dan besi yang tidak dapat dideteksi oleh radar pada frekuensi X-band (8-12 GHz).
Wisnu menuturkan, teknologi ini merupakan teknologi terkini dan hanya dimiliki oleh negara-negara maju.
“Ini merupakan teknologi melenial yang mampu menyerap gelombang radar pada frekuensi tertentu. Teknologi ini hanya dimiliki oleh negara-negara maju dan tidak bersifat komersial, karena merupakan bahan yang sangat strategis untuk pertahanan nasional suatu negara,” ujar Wisnu.
Menurut Wisnu, teknologi siluman ini adalah salah satu hasil penelitian BATAN yang berupa bahan smart magnet untuk cat antideteksi radar. Bahan ini merupakan bahan maju buatan yang memiliki sifat seperti gelombang elektromagnetik yang tersusun dari kombinasi unsur LTJ dan unsur logam transisi yang struktur magnetiknya hanya bisa diuji dengan menggunakan teknologi nuklir.
“Di kawasan Asia Tenggara, hanya BATAN yang mampu melakukan pengujian bahan dengan menggunakan teknologi berkas neutron. Teknik pengujian ini mampu menjelaskan berbagai interaksi magnetik dan elektrik yang terjadi di dalam bahan,” katanya.
Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Jumain Appe mengatakan, penelitian ini memberi dampak sangat luas dalam mendorong tumbuhnya industri logam tanah jarang.
“Penelitian ini mendorong terbangunnya industri logam tanah jarang di Indonesia, juga melalui pengembangan penelitian cat anti-deteksi radar berbasis bahan smart magnet ini dapat meningkatkan kemampuan alutista TNI Angkatan Laut dalam rangka mendukung pertahanan nasional,” ujarnya.
Jumain mengatakan, kegiatan riset tidak hanya terfokus kepada riset saja, namun juga mendorong hasil riset tersebut hingga mampu menggulirkan roda inovasi yang memiliki dampak luas kepada masyarakat dan negara. Banyak hasil riset saat ini hanya berujung pada skala laboratorium saja dan tidak dilirik oleh industri atau tidak mampu bersaing di pasar.
Jumain menuturkan, pengembangan teknologi siluman ini kerja sama antara BATAN dengan perusahaan cat PT. Sigma Utama Paint, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan TNI Angkatan Laut. Kegiatan ini mendapat pendanaan dari Program Inovasi Industri Kemenristekdikti, yang selama dua tahun ini telah menunjukkan kemampuan membuat produk bernilai strategis yaitu cat antideteksi radar yang bisa dimanfaatkan dalam mendukung pertahanan nasional.
Ia menghargai peneliti dan pelaku industri yang telah membantu hilirisasi hasil penelitian. Termasuk, soal inovasi cat antideteksi radar.
“Untuk itu, pemerintah akan terus mendorong kerja sama seperti ini dengan menciptakan lingkungan yang kondusif melalui berbagai program dan regulasi, seperti pendanaan inovasi, kemudahan dalam pertanggungjawaban riset dan pengembangan,” kata dia. (Amal Nur Ngazis)

LIMA 2019: Irkut Bidik Malaysia, Genjot Penjualan Yak-130 di Asia Tenggara


Hadir di pameran maritim dan kedirgantaraan internasional LIMA 2019 di Langkawi, Malaysia pada 26-30 Maret, industri dirgantara Irkut dari Rusia datang membawa jet tempur ringan Yakovlev Yak-130 Mitten.
Tidak hanya menongkrong manis di apron, Mitten pun diterbangkan oleh penerbang Angkatan Udara Rusia untuk diperlihatkan keunggulan performanya di udara kepada pengunjung .
Yak-130
Yak-130 
Delegasi Rusia sekaligus mempromosikan jet serang ringan Yak-130 untuk merebut hati tuan rumah Malaysia dalam kompetisi pengadaan light combat aircraft (LCA)/fighter lead-in trainer (FLIT) negeri jiran.
Upaya yang sama, kini tengah dijajaki Irkut dalam kompetisi pengadaan kebutuhan pesawat sejenis di Vietnam.
Dalam acara media briefing Irkut di ajang LIMA 2019, delegasi Rusia menerangkan, Irkut telah merespons Angkatan Udara Malaysia (TUDM/RMAF) yang meminta informasi tentang Yak-130.
Disebutkan, Malaysia saat ini membutuhkan sedikitnya 18 pesawat LCA/FLIT dari kebutuhan total sebanyak 36 unit.
Dikutip dari janes.com yang mengikuti acara ini, Irkut saat ini tengah menggiatkan peluang ekspor Yak-130 di kawasan Asia Tenggara.
Laos, Myanmar, dan Bangladesh adalah tiga negara yang telah membeli Yak-130 dari enam negara pengguna di dunia. Tiga negara lainnya adalah Aljazair, Belarusia, dan Rusia sendiri. Total kurang lebih 160 Yak-130 telah berhasil dijual oleh Irkut hingga saat ini.
Yak-130 dikembangkan sebagai pesawat jet latih subsonik dan juga tempur ringan. Awalnya, pesawat ini dikembangkan bersama oleh Rusia dan Italia.
Jet mesin ganda dan berkursi tandem ini disebut mengadopsi karakteristik dari jet tempur generasi 4+ maupun jet tempur generasi kelima Rusia. (Roni Sontani)

Latihan Malam Hari, Pesawat Tempur F-16 dan T50i Bombardir Ponorogo


Pesawat tempur dari Skadron Udara 3, dan Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, membombardir wilayah Ponorogo, pada malam hari. Aksi ini dilakukan selama dua hari.
Pesawat tempur jenis F-16 fighting Falcon, dan T50i Golden Eagle tersebut, melaksanakan latihan menembak air to ground pada malam hari, dengan sasaran AWR (Air Weapon Range) Pulung, di Desa Suren, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo.
Pesawat Tempur F-16  TNI AU
Pesawat Tempur F-16  TNI AU 
Dalam latihan pertempuran malam hari tersebut, pesawat F-16 Fighting Falcon, dan T-50i Golden Eagle menggunakan bom BL 25. Pesawat melaksanakan take off dan landing di Bandara Adi Soemarmo, Solo.
Di hari pertama pesawat tempur F-16 Fighting Falcon melaksanakan latihan sebanyak enam kali penerbangan, dan melepaskan tembakan sebanyak 36 bom.
Sedangkan pesawat T-50i Golden Eagle, di hari pertama latihan melakukan sebanyak empat kali penerbangan, dan berhasil menembakkan sebanyak 24 bom.
Komandan Lanud Iswahjudi, Marsekal Pertama (Marsma) TNI Widyargo Ikoputra mengatakan, latihan pengeboman pada malam hari ini merupakan ujian yang harus lalui seorang penerbang tempur.
"Hal ini merupakan pencapaian profesionalitas sebagai seorang penerbang tempur. Setiap penerbang tempur harus dapat mencapainya, guna menghadapi situasi yang sulit saat melaksanakan operasi," ujar marsekal bintang satu ini.
Adapun penerbang yang terlibat dalam latihan pengeboman malam hari ini, antara lain penerbang pesawat T50i Golden Eagle, yakni Mayor Pnb. Dharma S. Gultom, Kapten Pnb. Yerik, Lettu Pnb Stefanus, Mayor Pnb. Yudisthira, dan Kapten Pnb. Kustaman.
Sementara dari Skadron Udara 3 yang menggunakan pesawat F-16 Fighting Falcon antara lain, Mayor Pnb. Bambang Aulia Yudistira, Lettu Pnb. Fulgentius Dio Prakoso, Kapten Pnb. Windi, dan Kapten Pnb. Ferry Rachman. (Yuswantoro)

LIMA 2019: Rusia akan Tampilkan Versi Ekspor Su-57E dalam Dubai Airshow 2019


Pemerintah Rusia kemungkinan besar akan memberikan otorisasi bagi penjualan jet tempur siluman Su-57 kepada negara lain. Draf persetujuan ekspor Su-57E (Ekspor) tinggal menunggu tanda tangan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam beberapa minggu ke depan.
Su-57
Su-57 
Direktur Kerja Sama Internasional dan Kebijakan Regional Rostec Viktor Kladov mengatakan hal itu dalam acara media briefing dengan para jurnalis pada penyelenggaraan pameran maritim dan kedirgantaraan internasional LIMA 2019 di Langkawi, Malaysia, Kamis (28/3).
Dikatakan Kladov sebagaimana dikutip Jane’s, dokumen-dokumen kelengkapan terkait persetujuan ekspor Su-57 telah diajukan oleh United Aircraft Company dan Rostec sebagai induk perusahaan kepada pemerintah Rusia.
Kladov memaparkan, Su-57 memiliki peluang ekspor yang sangat besar di luar Rusia, terutama bagi negara-negara di kawasan Timur Tengah dan Asia Pasifik.
Untuk memperkenalkan versi ekspor Su-57E, Rusia akan menampilkan jet tempur generasi kelima ini di ajang pameran kedirgantaraan bergengsi Dubai Airshow pada November 2019 nanti.
“Kami meyakini, Timur Tengah merupakan pasar yang menarik untuk pesawat ini,” tandasnya.
Dengan tampil di Dubai Airshow, pihaknya pun akan dapat mengetahui negara-negara yang punya potensi berminat terhadap mesin perang udara siluman ini.
Sementara itu China sebagai negara raksasa di Asia, menurut Kladov kemungkinan besar akan menambah pembelian Su-35 dari Rusia dalam dua tahun ke depan.
“China bisa juga membuat Su-35 di dalam negeri, atau membeli jet tempur generasi kelima. Ini tentu merupakan peluang juga bagi ekspor Su-57E,” paparnya.
Jet tempur kursi tunggal Su-57 dikembangkan Rusia sebagai jet tempur siluman dominasi udara dan penyerang sasaran darat. Pesawat yang terbang perdana pada 29 Januari 2010 ini baru 10 unit prototipe dibuat.
Meski masih prototipe, pesawat ini telah digunakan oleh Angkatan Udara Rusia dan dikerahkan ke Palagan Suriah beberapa waktu lalu. (Roni Sontani)

Panglima TNI Tinjau Latihan Koarmada I TNI AL di Cilegon


Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto meninjau Latihan Kesiapsiagaan Operasional Koarmada I di Dermaga PLTU PT Indonesia Power Suralaya, Cilegon, Banten, Kamis (28/3/2019).
Dalam peninjauannya, Panglima TNI didampingi KSAL Laksamana TNI Siwi Sukma Adji, Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Tri Soewandono, dan Pangkoarmada I Laksda TNI Yudo Margono.
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto 
“Kegiatan Latihan Kesiapsiagaan Koarmada I ini adalah bagian dari latihan tahunan yang dapat disebarluaskan kepada seluruh masyarakat, bahwa profesional TNI seperti yang ditunjukan pada hari ini, sehingga rakyat juga senang bahwa profesionalisme prajurit TNI adalah untuk rakyat,” kata Panglima TNI di atas KRI Semarang-594.
Menurut Panglima TNI, latihan ini sudah sesuai setting dan skenario operasi, dan semuanya bisa berjalan dengan baik.
“Dalam setiap kegiatan pasti kita menemukan suatu kendala dan itu bukan menjadi satu hal yang menurunkan mental kita untuk tidak terus berlatih, kita evaluasi untuk perbaikan yang akan datang,” ujar Hadi.
Panglima TNI mengatakan bahwa Latihan Kesiapsiagaan Operasional Koarmada I yang dilaksanakan, bertujuan untuk mempertahankan kemampuan sumber daya manusia para prajurit TNI AL.
Selain itu juga untuk mencoba, sejauh mana peralatan yang sudah dibeli sesuai spesifikasi dan abstraknya yang diinginkan dan disesuaikan dengan kondisi geografis di Indonesia.
“Yang paling utama adalah kita menguji doktrin kita, apakah sesuai dengan yang kita inginkan”, katanya. (Puspen TNI/ Beny Adrian)

Mesin Hornet F/A-18 Malaysia Alami Flameout di Udara pada Acara LIMA-19


Mesin kiri pesawat serang Boeing F/A-18D milik Angkatan Udara Kerajaan Malaysia mengalami flameout (matinya mesin jet karena api di ruang pembakaran mesin padam, Kejadian tersebut dapat terjadi karena beberapa hal, salah satunya adalah benda asing yang masuk kedalam mesin) diketinggian 50 kaki, pada pertunjukan tunggal pada hari Selasa (26/03), di Langkawi International Maritime and Aerospace Exhibition, LIMA 2019.
Flameout Hornet F/A-18
Flameout Hornet F/A-18 
“Saya hendak mencapai kecepatan udara 280 knot sebelum mengangkat hidung saya untuk high-alpha vertical climb, saya baru saja terbang menyusuri landasan pacu pada saat itu. Kemudian, saya mendengar ledakan keras, dan seluruh pesawat mulai bergetar," kata Mayor Goh Keng Loon, pilot pesawat tersebut kepada The New Straits Times.
Selama terbang transisi diketinggian rendah ini, mesin turbofan General Electric F-404-400 EPE sebelah kiri kemungkinan menghisap benda asing.
Pengamat di darat melihat nyala api oranye menyembur keluar dari nozzle mesin kiri. Campuran bahan bakar dan api dari mesin nampak melayang jatuh dan membakar rumput kering di lapangan terbang.
Setelah mengalami ledakan keras akibat flameout tersebut, pilot segera melakukan prosedur darurat untuk mendaratkan pesawat dengan selamat. (Angga Saja - TSM)

Radar Acak