Jenderal TNI : Empat Sukhoi Bisa Hancurkan Jakarta

KangUsHa 07:00
Loading...
Su-35 Rusia
Su-35 Rusia 

Mantan Kasau Marsekal TNI (purn) Agus "Dingo" Supriatna adalah penerbang pesawat tempur yang pada masa mudanya berpengalaman menerbangkan semua pesawat tempur yang dimiliki Indonesia ketika itu. Dua jenis pesawat tempur yang canggih, F-16 buatan Amerika dan Sukhoi buatan Rusia.
Dalam buku "Dinggo" Menembus Limit Angkasa, karya Bambang Setiawan dan Budiawan Sidik Arifianto, Agus Supriatna menceritakan bagaimana kemampuan Sukhoi-35 di langit. Ia mencontohkan 4 pesawat tempur itu rudal-rudalnya mampu menghancurkan Jakarta dalam waktu singkat dengan melepaskan 18 bom.
"Kalau Sukhoi kuat, hebat, tapi duduknya enggak nyaman. Sukhoi memang dibuat untuk perang. Kalau Rusia membuat pesawat, ya untuk perang. Nah kenapa saya ngotot Sukhoi-35? Karena satu pesawat saja bisa menangkap enam target. Enam target di darat bisa terkunci sekaligus," papar Agus.
Ketika menjadi Pangkoopsau II, Agus pernah berkunjung ke Rusia dan mencoba Sukhoi-35. Ia kagum dengan kemampuan pesawat itu yang bisa melakukan hal berbahaya.
"Wuih, kayak begitu rupanya. Buset, hebat betul. Pesawat bisa berhenti di udara, lalu tiba-tiba wuuut.... melaju kencang seketika. Berhenti lagi, dan seketika bisa melaju kencang lagi. Loop-loopnya bisa begitu lho, patah-patah, hebat bener!" kata Agus.
Kehadiran Sukhoi-35 diharapkan dapat mengimbangi pesawat tempur Amerika yang telah mengembangkan sistem rudal dengan daya tembak yang lebih jauh. F-35 memang dirancang dengan sistem penggunaan rudal yang handal. Pesawat itu dilapisi sesuatu sehingga tidak dapat ditangkap radar biasa. Sistem ini menjadikan pesawat tempur dengan harga mahal.
Agus juga bercerita strategi pembelian pesawat tempur dipengaruhi oleh pertimbangan geopolitik. Menurut pengalamannya, kalau kita membeli pesawat tempur hanya satu negara, semuanya dibeli dari Amerika, ketika terjadi embargo atau pelarangan perniagaan dan perdagangan dengan sebuah negara, maka Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Waktu kasus Timor Timur saat itu, Hawk kita yang lagi di Aceh ditarik, tapi tidak boleh dipakai. Biar buatan Inggris, tetap enggak boleh dipakai juga," kata Agus menceritakan sulitnya menggunakan pesawat ketika terjadi embargo.
Oleh karena itu, Indonesia akhirnya memutuskan membeli pesawat Sukhoi-35 dari Rusia. Namun keputusan membeli Sukhoi, membuat Amerika kelabakan dan semakin gesit memasarkan pesawat F-35 kepada Indonesia. Amerika memamerkan keunggulan dan kualitas pesawat buatannya, juga mencoba mengambil keuntungan dari kedekatan hubungan Indonesia dengan Amerika.
Namun Indonesia tetap memutuskan membeli Sukhoi dari Rusia karena lebih murah dibandingkan F-35, mengingat anggaran pembelian pesawat terbatas. "Jauh lebih murah Sukhoi-35 dari F-35. F-35 harganya hampir dua kali lipat, mahal sekali. F-15 saja harganya USD 125 juta, apalagi yang F-35. Sementara, Sukhoi-35 hanya USD 107 juta," jelas Agus.
Sementara itu, Wakil KSAU Marsdya Hadiyan Sumintaatmadja saat itu bercerita Agus Supriatna yang menginginkan membeli Sukhoi-35. "Karena memang kita sudah melihat pesawat ini mempunyai nilai deterrence, nilai gentar yang tinggi. Pertimbangan yang lain tentu ada. Secara politis saya tidak tahu, tetapi secara teknis kita penginnya itu," kata Hadiyan.
Nilai deterrence yang dimaksud adalah tingkat kekuatan yang mampu membuat gentar musuh yang hendak melakukan suara aksi kepada negara Indonesia. [has](Syifa Hanifah)
Loading...

Share this

Berlangganan via email

Related Posts

Previous
Next Post »

- Berkomentarlah yang sopan dan bijak sesuai isi artikel/ berita;
- Dilarang berkomentar SPAM, SARA, Politik, Provokasi dsb
EmoticonEmoticon

Radar Acak