TNI AD Lakukan Modernisasi Persenjataan Artileri Medan

KangUsHa 15:00
Loading...

Modernisasi Alutsista Arteri Medan (Armed) digencarkan TNI AD dalam lima tahun terakhir. Selain mendatangkan sejumlah senjata baru, TNI juga mengupgrade senjata lama dengan kemampuan daya rusak luas.
Selain itu, menyiapkan prajurit siap perang. Pelatihan kian di modernisasi, bekerja sama dengan sejumlah pabrikan senjata dan universitas terkemuka. Armed kemudian menjadi satuan tempur mengerikan, prajurit kemudian dibekali kemampuan bertempur modern.
 Astros II
 Astros II 
"Salah satunya mengoperasikan senjata modern. Kami kini tengah mencoba mengupgrade senjata dari pabrikannya," kata Komandan Pusat Senjata Arteri Medan (Danpussenarmed), Kolonel Arm Purbo Prastowo di Cimahi, Jawa Barat, Jumat (29/3/2019).
Pada satuan Armed sendiri, Purbo memaparkan modernisasi gencar dilakukan pihaknya. Beberapa senjata yang telah usang ia kandangkan dan mempelajari senjata baru, seperti Meriam 155 mm Caesar buatan Perancis dan Multiple Louncher Rocket System (MLRS) Astros II MK 6 AV-LMU buatan Brazil.
Meskipun keduanya telah dimiliki oleh negara lain, namun Purbo memaparkan senjata yang dimilik Indonesia berbeda. Sejak kedatangannya tahun 2017 lalu, senjata ini telah di upgrade dengan daya gempur lebih jauh dan daya rusak luas.
Beberapa senjata itu, kini telah ditempatkan di 18 batalion di seluruh Indonesia. "Beberapa di antaranya masih kami upgrade, misal yang MLRS Astros II, kami proses upgrade hingga mampu mencapai jarak 300 km," kata Purbo.
Meskipun saat ini alutista dinilai sudah cukup, namun TNI AD dibawah kepemimpinan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jendral TNI Andika Perkasa masih mengupayakan modernisasi Alutsista, beberapa senjata baru kini diupayakan untuk terus didatangkan.
Adanya modernisasi alutista dengan persenjataan modern, tak membuat senjata lama diabaikan. Salah satunya meriam gunung M-48 76 mm tahun pembuatan 1963. Meriam yang bisa dibagi delapan bagian ini masih digunakan untuk latihan dan siap digunakan untuk perang.
Purbo melanjutkan, dengan efektifitas dan kemampuan yang dilepas pasang. Membuat meriam ini cukup terjaga, perawatan rutin berkala dilakukan terhadap meriam ini, meriam ini akan digunakan untuk pertempuran jarak dekat.
"Dulu banyak negara negara menggunakan meriam 76. Tapi semenjak pabriknya tutup, meriam itu dipensiunkan. Hanya di Indonesia yang operasional baik. Artinya peliharaan TNI luar biasa. Negara lain tidak bisa menggunakan ini, sementara kami bisa memanfaatkan," ucapnya.
Termasuk meriam AMX MK61 tahun 60 an yang kini terdapat di sejumlah batalion. Meriam itu kini mendapatkan perawatan intensif dan masih bisa difungsikan untuk keadaan darurat perang.
Komandan Pusat Pendidikan Arteri Medan Pusat Senjata Arteri Medan (Danpusdikarmed Pussenarmed), Kolonel Arm Djoni Prasetiyo memaparkan perubahan kurikulum dilakukan pihaknya dengan menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB).
"Salah satu contoh yang kita kembangkan dengan kelas hologram. Bagaimana saat kita kembangkan bukan perencanaan operasi. Bagaimana saat masuk alutista ada gambaran visual yang sebenarnya. Artinya real time. Ini bagian dari kebijakan KSAD," papar Djoni.
Di Pusdikarmed sendiri, sejumlah prajurit dilatih dalam tiga kelompok berbeda, yakni Perwira, Bintara, dan Tamtama. Mereka nantinya dilatih paling cepat 1,5 bulan untuk menguasai satu alat tempur.
Setelah proses pelatihan teori dalam kelas, pelatihan kemudian dilanjutkan dengan praktek lapangan. Latihan bersama antara operasional kendaraan, operasional meriam, dilakukan di kawasan Batu Jajar, yang tak jauh dari lokasi.
Selain itu, untuk menciptakan Guru Militer (Gumil). Djoni mengakui pihaknya menebar sejumlah pengajar ke beberapa negara pembuat senjata. Pelatihan selama tiga bulan dilakukan untuk mengenalkan senjata itu. Sehingga, ketika mereka kembali ke Indonesia, mereka memiliki modal untuk mengupgrade senjata itu.
"Tentunya sebelum diberangkatkan kami latih bahasa mereka dulu," ucapnya sembari mengatakan regenerasi guru juga dilakukan pihaknya.
Sementara terhadap sejumlah senjata baru, Djoni mengatakan beberapa teknisi juga didatangan dari pabrikan itu. Selama di Indonesia, mereka kemudian belajar kepada sejumlah prajurit untuk diajarkan mengenal senjata itu termasuk perawatannya.
Khusus untuk Multiple Louncher Rocket System (MLRS) Astros II MK 6 AV-LMU sendiri, Pusdikarmed menyediakan dua alat simulator, yakni Astros II MK 6 AV-PCC Kendaraan Pibak Baterai dan Multiple Louncher Rocket System (MLRS) Astros II MK 6 AV-LMU. Dua alat ini diketahui memiliki fungsi berbeda.
Astros II MK 6 AV-PCC Kendaraan Pibak Baterai merupakan alat yang menentukan titik koordinat musuh dan sasaran yang ingin di tuju. Setelah data base tersimpan, nantinya dikirimkan ke MLRS Astros II 6 AV-LMU. Roket meluncur ke sasaran.
Djoni mengatakan, dengan alat yang canggih itu memungkin peluncuran roket bisa dilakukan dengan jarak jauh. "Tapi untuk peluncuran kita harus memperhatikan beberapa bagian, seperti kekuatan angin, koordinat lokasi, kelembapan cuaca, hingga kondisi tanah," ucapnya.
Untuk kemampuannya, Astros merupakan senjata mutakhir armed dunia. Senjata ini mampu meluncurkan 32 roket dalam waktu enam detik. Dengan daya ledak hampir hampir dua hektare, Astros dinilai mampu melumpuhkan basis pertahanan musuh.
"Tentunya senjata itu efektif kalau SDM bagus. Makanya disini kami latih sejumlah prajurit siap tempur," tuturnya.
Komandan Bataliyon Armed 4/105 GS, Mayor Arm Gatot Awan Febrianto memaparkan simulasi pelatihan perang dilakukan pihaknya diwaktu tertentu. Dengan demikian, misi menjadikan anakbuahnya menjadi komandan tempur telah teruji.
Dengan 481 orang anggota batalion. Awan memaparkan setiap harinya kemampuan fisik dan bertempur jarak dekat hingga beladiri dilakukan. Para prajurit dituntut untuk siap dan berlatih keras.
Di Batalion Armed 4/105 GS, lanjut Awan, pihaknya tengah menunggu kedatangan meriam baru M149 G dari Belgia yang kini salam proses persiapan kesisteman.
Sembari menunggu senjata itu datang, mereka kemudian AMX MK61 tahun 60 an yang diterimanya tahun 1985 lalu. Alat itu mampu menembak dengan jarak tempuh 14-15 kilometer dengan daya rusak 20-30 meter.
"Setiap harinya kami melakukan perawatan. Mulai membenahi beberapa sasis mesin dan perawatan rutin, seperti penggantian oli," ucapnya.
AMX MK61 yang dimiliki Bataliyon Armed 4/105 GS telah mengalami perubahan. Bila sebelumnya meriam ini hanya memiliki daya gempur kurang dari 10 kilometer. Namun berkat pergantian suku cadang, alat ini mampu merusak dengan daya jangkau maksimal 15 kilometer.
"Bisa dikatakan mampu efektif digunakan untuk peperangan jarang menengah," katanya.
Mengenai kemampuan peralatan perang yang ada, Awan menuturkan sehebat apapun peralatan yang dimiliki TNI AD, tapi tanpa dukungan rakyat Indonesia. TNI takkan kuat, karenanya ia meminta support dari rakyat Indonesia. (Yan Yusuf)
Loading...

Share this

Berlangganan via email

Related Posts

Previous
Next Post »

- Berkomentarlah yang sopan dan bijak sesuai isi artikel/ berita;
- Dilarang berkomentar SPAM, SARA, Politik, Provokasi dsb
EmoticonEmoticon

Radar Acak