Antisipasi Serangan Pre-Emptif China, Pesawat Tempur Taiwan Latihan Mendarat dan Terbang di Jalan Raya


Militer Taiwan meyakini bahwa China suatu waktu akan melancarkan serangan pre-emptif yang menghancurkan sejumlah fasilitas militer Taiwan, termasuk lapangan udaranya.
Oleh karena itu, Taiwan menjadi satu dari sedikit negara yang berlatih operasional jet tempur dari jalan raya.
Pesawat Tempur Taiwan Latihan
Pesawat Tempur Taiwan Latihan  
Latihan semacam itu yang tahun ini bersandi Han Guang 35, diadakan dengan rakyat antusias menyaksikan.
Gemuruh mesin jet-jet tempur F-16 Fighting Falcon, Mirage-2000 dan juga AIDC F-CK-1 Ching Kuo sudah menggelegar sejak pukul 7 pagi hari ini (28/5).
Tahun ini, Angkatan Udara Republik Taiwan mengirim pesawat tempur Mirage 2000-5, AIDC F-CK-1 Ching Kuo, F-16 serta pesawat patroli dan peringatan dini E2-K Hawkeye yang terbang dari pangkalan udara kota Hsincu.
Rakyat Taiwan dengan antusias tinggi menunggu di pinggir jalan dan di tingkap-tingkap bangunan untuk memotret momen langka itu.
Tiap pesawat bergiliran lepas landas dan mendarat dengan membawa muatan bom dan rudal latih, untuk mendekatkan dengan kondisi aktual serealistis mungkin.
Selain Taiwan, Swiss dan Singapura termasuk negara yang rajin menguji kemampuan penerbangnya mendarat di jalan raya. Puluhan tahun lalu, TNI AU pernah melakukan hal serupa dengan mendaratkan pesawat tempur F-86 Sabre di jalan tol Jagorawi.
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kesalahan nama, data, dan isi artikel sebagaimana tertera. (Aryo Nugroho)

Embargo Logam Tanah Jarang Cina Mengancam Produksi F-35 AS


Cina mengancam membalas perang dagang Amerika Serikat dengan embargo rare earth atau logam tanah jarang yang bisa berdampak pada produksi senjata AS, termasuk jet tempur F-35 dan rudal kendali.
Amerika Serikat sebelumnya menggertak Cina dalam konfrontasi perang dagang. Namun tajuk utama surat kabar Cina memperingatkan AS tentang rare earth.
Sampel mineral rare earth
Sampel mineral rare earth 
"Amerika Serikat, jangan remehkan kemampuan Cina untuk membalas," tulis tajuk utama surat kabar People's Daily, media Partai Komunis Cina. menurut laporan yang dikutip dari Reuters, 30 Mei 2019.
"Akankah logam tanah jarang menjadi senjata balasan bagi Cina untuk membalas balik tekanan yang dilakukan AS tanpa alasan sama sekali? Jawabannya bukan misteri," kata surat kabar itu dalam komentarnya.
"Jangan bilang kami tidak memperingatkanmu!"
Outlet media Cina lainnya merilis artikel serupa.
Unsur tanah jarang memainkan peran penting dalam produksi sistem pertahanan. Sebagai contoh, sebuah kapal selam serangan cepat nuklir kelas Angkatan Laut AS USS Virginia membutuhkan 4.173 kg logam tanah jarang, sedangkan kapal perusak berpeluru kendali kelas Arleigh Burke membutuhkan 2.358 kg.
Kontraktor pertahanan AS seperti Raytheon dan Lockheed Martin menggunakan logam rare-earth untuk membuat sistem panduan dan sensor canggih untuk rudal dan platform militer lainnya, Reuters melaporkan.
F-35 Light Strike Fighter Joint Strike Fighter, generasi kelima stealth jet yang dibangun untuk memberi AS keunggulan atas pesaing seperti China, membutuhkan 417 kg logam tanah jarang, menurut laporan Asia Times, yang melaporkan bahwa AS memiliki hampir tidak ada kemampuan untuk menghasilkan bahan tanah jarang.
Saat ini ada 380 unit jet tempur F-35 yang sudah dibuat, dan total pesanan untuk militer AS sendiri berjumlah 2.663 unit, sementara Jepang memesan 105 unit F-35 tambahan.
Sejauh ini, Cina memiliki cadangan logam tanah jarang terbesar di dunia, berupa pasir mineral yang mengandung unsur-unsur yang penting dalam banyak teknologi modern berkinerja tinggi, menurut laporan News.com.au.
Papan sirkuit, baterai, dan lainnya membutuhkan logam yang memiliki konduktivitas spesifik, tahan panas, berat, kekuatan, dan ini hanya diperoleh dari logam tanah jarang.
Menurut data Departemen Energi AS, yang dikutip dari News.com.au, Cina memiliki cadangan logam tanah jarang sebesar 36 juta ton. Kedua adalah negara pasca-Soviet atau Commonwealth of Independent States (CIS) dengan 19 juta ton, dan ketiga AS memiliki cadangan 13 juta ton. Cina menjadi negara dengan cadangan logam tanah jarang terbanyak di dunia dari total cadangan dunia sebesar 99 juta ton.
Unsur tanah jarang adalah sekelompok 17 unsur kimia yang memiliki sifat kunci untuk produksi segala sesuatu mulai dari satelit hingga mesin jet.
Tanah jarang digunakan sebagai bahan baku militer dan komersial, seperti baterai, turbin angin, komputer, superkonduktor, fiber optik, rudal kendali, kacamata nightvision, laser pendeteksi target, dan teknologi siluman.
AS bergantung pada Cina sebanyak 80 persen dari bahan tanah jarangnya, menurut Bloomberg.
"Logam tanah jarang adalah spesialisasi khusus dan penting bagi Departemen Pertahanan," kata Simon Moores, direktur pelaksana di Benchmark Mineral Intelligence.
"Logam tanah jarang sangat penting untuk produksi, keberlanjutan, dan pengoperasian peralatan militer AS," kata laporan Kantor Akuntabilitas Pemerintah 2016. "Akses yang andal ke bahan yang diperlukan, terlepas dari tingkat keseluruhan permintaan pertahanan, merupakan persyaratan utama untuk Departemen Pertahanan."
Jika Cina mengembargo pengiriman tanah jarang ke AS maka akan menyebabkan komplikasi, walaupun ada kemungkinan bahwa departemen pertahanan dapat beralih ke sumber-sumber alternatif, mengingat bahwa persyaratannya hanya 1 persen dari total permintaan AS untuk logam tanah jarang atau rare earth. (Eka Yudha Saputra)

Militer AS Ingin Normalkan Hubungan dengan Kopassus Indonesia


Militer Amerika Serikat (AS) ingin menormalkan hubungan dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Tentara Nasional Indonesia (TNI). Militer Washington bahkan mengajak pasukan elite tersebut latihan bersama pada 2020 nanti.
Kopassus
Kopassus  
Niat militer AS itu disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Pertahanan Patrick Shanahan saat bertemu dengan Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu, di Jakarta, Kamis (30/5/2019).
AS pernah menjatuhkan sanksi kepada Kopassus terkait tuduhan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Timor Lorosae atau Timor Leste ketika wilayah itu bersiap untuk merdeka dari Indonesia pada tahun 1990-an. Sanksi itu termasuk larangan bagi Kopassus untuk melakukan kontak dengan militer AS.
Namun, pada 2010 AS mencabut larangan tersebut. Pendahulu Shanahan, James Norman Mattis pada 2018 lalu berkunjung ke Indonesia dan berharap bisa membantu menormalkan hubungan.
Shanahan dan Ryamizard telah melakukan pertemuan hari ini. Mereka, dalam pernyataan bersama, mengatakan bahwa Amerika Serikat ingin menormalkan hubungan dengan Kopassus dan mengadakan latihan bersama pada tahun 2020.
"Kedua kementerian menegaskan dukungan untuk ekspansi pasukan kita untuk latihan tentara tahun depan, dan dengan menormalkan hubungan pasukan khusus Angkatan Darat dimulai pada 2020 dengan Latihan Gabungan Bersama dengan Kopassus," bunyi pernyataan bersama tersebut.
Pertemuan kedua pejabat pertahanan ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara China dan Amerika Serikat.
Indonesia pernah berselisih dengan China mengenai hak menangkap ikan di sekitar Kepulauan Natuna. Otoritas berwenang Indonesia melarang keras nelayan China menangkap ikan di Kepulauan Natuna dan mencegah ekspansi kehadiran militer China di wilayah tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2017, Indonesia mengganti nama wilayah zona ekonomi eksklusif-nya di Laut China Selatan menjadi Laut Natuna Utara. Tindakan Indonesia ini dipandang para pakar sebagai tindakan perlawanan signifikan terhadap ambisi teritorial China di Laut China Selatan.
"Kedua kementerian mendukung kemungkinan peningkatan pertukaran informasi dan pertukaran pandangan tentang penilaian ancaman regional dengan menggunakan ASEAN Our Eyes (AOE) sebagai platform untuk pertukaran informasi strategis di antara Negara-negara Anggota ASEAN," lanjut pernyataan bersama tersebut.
Indonesia dan lima negara Asia Tenggara lainnya meluncurkan pakta intelijen "Our Eyes" atau "Mata Kita" tahun lalu yang bertujuan memerangi kelompok gerilyawan ISIS dan meningkatkan kerja sama dalam menghadapi ancaman keamanan.
Indonesia, negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, dalam beberapa tahun terakhir telah berjuang untuk menahan kebangkitan radikalisme dalam negeri yang terinspirasi sebagian oleh kelompok militan Islamic State atau ISIS di Timur Tengah.
Dalam pertemuan kedua pejabat itu, AS dan Indonesia juga membahas melakukan survei bawah laut untuk memastikan bahwa bangkai kapal perang Perang Dunia Kedua di perairan Indonesia tidak terganggu. Ada laporan penjarahan terhadap bangkai kapal-kapal perang yang karam.
"Kedua kementerian membahas pentingnya mendukung kesucian jasad yang terkubur dalam kapal Perang Dunia Kedua, USS Houston, dan kerja sama untuk mengidentifikasi sisa-sisa (kapal dan jasad pelaut) AS di Indonesia," imbuh pernyataan Shanahan dan Ryamizard, seperti dikutip Reuters.(Muhaimin)

Rudal Canggih AS Ini Bisa Lenyapkan Militer Korut Tanpa Membunuh


Seorang pakar militer memperingatkan bahwa Amerika Serikat (AS) dapat membalas ancaman musuh, termasuk Korea Utara (Korut), dengan menggunakan terobosan rudalnya. Senjata terobosan ini diklaim mampu "memusnahkan" kemampuan militer Pyongyang tanpa menyebabkan kematian.
CHAMP
CHAMP 
Senjata tersebut bernama Counter-Electronics High Power Microwave Advanced Missile Project (CHAMP) dan terpasang pada rudal jelajah yang dibawa oleh pesawat pengebom B-52.
Senjata microwave itu dilaporkan memiliki jangkauan 700 mil, yang berarti dapat terbang ke negara "nakal", pada ketinggian rendah, dan memancarkan energi gelombang mikro yang memiliki kemampuan untuk menonaktifkan sistem elektronik musuh.
"Ini benar-benar merupakan terobosan pada level senjata nuklir dalam hal apa yang dapat dilakukannya. Korea Utara dapat sepenuhnya dihancurkan dalam hal militernya tanpa membunuh siapa pun," kata penulis dan pakar militer Ronald Kessler kepada OANN.
"Itu hanya akan menetralisir lokasi uji coba nuklir, pusat komando, pesawat, itu akan menghancurkan sistem radar yang mungkin mendeteksi rudal," ujarnya, yang dilansir Express.co.uk, Kamis (30/5/2019).
"Jadi pihak lawan bahkan tidak tahu bahwa rudal ini datang dan tidak bisa mengusirnya."
CHAMP memiliki kemampuan untuk memanggang peralatan elektronik secara permanen dengan menggunakan meriam pulsa elektromagnetik untuk menembakkan seberkas energi yang mampu menyebabkan lonjakan tegangan pada peralatan elektronik.
Kessler menjelaskan rudal itu diam-diam dibuat oleh Boeing's Phantom Works for the US Air Force Research Laboratory.
"Untuk itu dapat digunakan dengan cara terselubung dan untuk benar-benar menghapus seluruh militer yang benar-benar unik. Tentu saja, pihak lain akan mencoba melindungi peralatan mereka," ujarnya.
“Mereka akan mencoba untuk memiliki pusat kendali dan pusat komando di bawah tanah. Tetapi meski begitu rudal ini dapat menghapus isolasi di bawah tanah," paparnya.
Komentar itu muncul setelah Korea Utara melanjutkan uji coba rudal jarak pendeknya. Peluncuran rudal Pyongyang bulan ini adalah yang pertama sejak 2017 dan yang pertama sejak Presiden Donald Trump bertemu pemimpin Korut Kim Jong-un.
"Korea Utara menembakkan beberapa senjata kecil, yang mengganggu beberapa orang saya, dan yang lain, tetapi bukan saya," kata Trump beberapa hari lalu.
Namun, komentarnya bertentangan dengan penasihat keamanan nasionalnya, John Bolton. Bolton mengatakan uji senjata Korea Utara pada bulan ini melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.
"Resolusi Dewan Keamanan PBB melarang peluncuran rudal balistik dan tidak ada keraguan bahwa Korea Utara telah melanggar resolusi itu," katanya.(Muhaimin)

AU Rusia Terima Kiriman 20 Su-35S, Jumlah Operasional Jadi 98 Unit


Angkatan Udara Rusia yang kini skupnya dikembangkan menjadi Angkatan Kedirgantaraan Rusia (VKS) gabungan dari VVS (Angkatan Udara) dan VKO (Pertahanan Dirgantara), segera menerima tambahan 20 unit jet tempur generasi 4++ Su-35S (NATO: Flanker-E).
Kedua puluh unit jet tempur tambahan akan dikirimkan dalam dua tahap, tahun ini dan tahun depan.
Wakil Menteri Pertahanan Rusia Alexey Krivoruchko menyatakan hal itu saat mengunjungi pabri Su-35S di Komsomolsk-on-Amur Aircraft Plant, Rabu (29/5).
Su-35S
Su-35S 
“Pabrik ini menjalankan rencana produksi Su-35. Kami berharap bisa mendapatkan beberapa pesawat lebih cepat tahun ini. Dan sesuai kontrak, ada tambahan 20 Su-35S pada tahun ini dan tahun depan,” kata Krivoruchko seperti dikutip TASS.
Ia melanjutkan, pihak pabrikan menambahkan modernisasi pada pesawat ini berdasar pengalaman operasi tempur di Suriah. Secara khusus, Su-35S berikutnya dapat membawa semua tipe persenjataan. Baik persenjataan udara ke udara maupun udara ke darat.
Su-35S merupakan varian yang dibuat untuk VKS. Kode “S” berarti Stroyevoy (kombatan).
AU Rusia menerima pertama kali kiriman Su-35S sebanyak dua unit pada 2011 dan hingga kini telah memiliki 78 unit. Dengan tambahan 20 unit hingga tahun depan, maka dalam satu dekade VKS menerima 98 Su-35S atau rata-rata setiap tahun menerima 10 unit.
Indonesia termasuk negara yang memesan 11 unit Su-35 setelah China sebagai operator pertama pesawat ini di luar Rusia.
Tahun 2015 China menandatangani kontrak pembelian 24 Su-35 senilai 2,5 miliar dolar AS. Empat pesawat pertama diterima tahun 2016 dan seluruh pengiriman selesai pada 2019.
Sementara Indonesia, menandatangani pembelian 11 Su-35 pada Februari 2018 senilai 1,14 miliar dolar AS. Dijadwalkan, pesawat akan dikirimkan pada 2019 ini.
Prototipe Su-35 (Su-27M) terbang perdana pada 28 Juni 1988. Sementara prototipe Su-35S terbang perdana pada 19 Februari 2008.
Jet tempur kursi tunggal Su-35S dengan panjang 21,9 m, rentang sayap 15,3 m, dan tinggi 5,9 m memiliki bobot terbang maksimal (MTOW) 34.500 kg. Pesawat yang ditenagai dua mesin Saturn AL-41F1S afterburning turbofan ini mampu menjelajah jarak hingga 3.600 km tanpa pengisian bahan bakar di udara atau 4.500 km dengan dua tangki bahan bakar eksternal. Sementara ketinggian terbang maksimum mencapai 59.100 kaki.
Untuk persenjataan, Su-35S dilengkapi kanon internal Gryazev-Shipunov GSh-30-1 kaliber 30 mm 150 putaran di pangkal sayap sebelah kanan dan 12 gantungan persenjataan di sayap dan di bawah badannya. Radius tempur Flanker-E mencapai 1.600 km. (Roni Sontani)

Selangkah Lagi Embraer KC-390 Siap Dioperasikan Brazil


Embraer memasuki tahap uji akhir sertifikasi militer untuk pesawat tanker/ transport KC-390. Pesawat ini rencananya akan dioperasikan Angkatan Udara Brasil (Força Aérea Brasileira) pada akhir tahun ini.
Walter Pinto, Wakil Presiden Embraer bidang pertahanan dan keamanan, mengatakan kepada wartawan pada 28 Mei lalu bahwa perusahaannya akan menyelesaikan sertifikasi drop point (CCDP) yang berkelanjutan, combat offload, dan pengisian bahan bakar udara di udara.
Embraer KC-390
Embraer KC-390  
KC-390, katanya, sebelumnya melakukan uji pengisian bahan bakar kering dengan F-5 Tiger II. Transfer bahan bakar sesungguhnya akan dimulai pada tes berikutnya.
Tes sertifikasi militer lain yang akan dilakukan selanjutnya termasuk sistem perlindungan diri KC-390, baik chaff dan flare serta kemampuan penanggulangan inframerah langsung (direct infrared countermeasure, DIRCM).
Pinto menambahkan bahwa beberapa tes mungkin dilakukan tahun 2020, tergantung ketersediaan pesawat dan kesiapan personel dan peralatan pendukung dari AU Brazil.
Uji terbang pesawat KC-390 sejauh ini telah mengantongi 2.200 jam terbang.
Pesawat AU Brazil (FAB 1), KC-390 pertama yang akan dikirim, melakukan uji terbang produksi pertama pada akhir pekan 25 Mei. Penerbangan ini menjadi tonggak penting menuju pengiriman pesawat.
Ada tujuh pesawat KC-390 saat ini tersebar di fasilitas perakitan. FAB 1 sepenuhnya dirakit, menurut foto yang ditunjukkan kepada wartawan. FAB 2 sedang dalam perakitan akhir dengan sayap sudah terpasang, tetapi belum ada mesin.
Embraer KC-390 adalah pesawat transport ukuran medium dan menggunakan dua mesin jet IAE V2500-E5 turbofan.
Banyak kemampuan ditawarkan KC-390. Meliputi pengisian bahan bakar di udara, angkut personel dan kargo hingga 26 ton. Termasuk mengangkut ranpur.
Bagi Embraer, KC-390 menjadi pesawat terberat yang pernah dibuat. Melalui rekanannya di Indonesia, pesawat ini pernah ditawarkan ke TNI AU. (Beny Adrian)

Panglima Kolinlamil Pimpin Pendaratan ke Pulau Edam


Pada Mei 2019 Komando Tugas Gabungan Pendaratan Administrasi (Kogasgabratmin) setelah melewati tahapan embarkasi personel dan meterial di pangkalan Jakarta - lintas laut menuju daerah serbuan amfibi, akhirnya berhasil mendaratkan pasukan Komando Tugas Darat Gabungan (Kogasratgab) di Pantai Pulau Edam yang masih dikuasai musuh dengan metode beaching dan operasi pindah.” demikian skenario latihan yang mengantar pelaksanaan manuver lapangan (Manlap) Latihan Operasi Pandaratan Administrasi TA 2019 yang resmi dibuka oleh Panglima Kolinlamil pada senin 27 mei lalu.
 Latihan Operasi Pandaratan Administrasi TA 2019
 Latihan Operasi Pandaratan Administrasi TA 2019 
Onboard pada LCVP KRI BAC 593, Pangkolinlamil Laksda TNI Heru Kusmanto, S.E., M.M. memimpin dan mengendalikan secara langsung manuver lapangan latopsratmin TA 2019 guna meyakinkan pelaksanaan latihan berjalan sesuai rencana.
Tiba di titik atur 1 unsur-unsur Kogasgabratmin terdiri dari KRI ABN 503 dan KRI BAC 593 siap melaksanakan debarkasi personel dan material tempur. KRI ABN 503 melaksanakan beaching (memantai) untuk menurunkan personel dan material tempur pasukan Kogasratgab, sedangkan KRI BAC 593 melaksanakan operasi pindah menurunkan personel dengan menggunakan LCU dan LCVP.
Pasukan yang turun dari kapal akan dijemput oleh regu aju menuju Daerah Berkumpul (DB), yakin seluruh personel dan material kogasratgab telah berada di DB alihkodal dari Pangkogasgabratmin kepada Pangkogasgabfib. Selanjutnya Pasrat akan memandu pasukan Kogasratgab melaksanakan operasi pelintasan menuju daerah persiapan (DP) sebelum alih kodal dari Pangkogasgabfib kepada Pangkogasratgab. Latihan Operasi pendaratan administrasi ini akan berlangsung selama 5 hari sejak tanggal 27 hingga 31 mei 2019. (Dispen Kolinlamil).

Rusia Ingin Kembangkan Rudal Jelajah Supersonik Jadi Hipersonik


Militer Rusia dikabarkan tengah berencana mengembangkan rudal jelajah supersoniknya hinga mencapai kecepatan hipersonik.
"Pabrik persenjataan Rusia, Tactical Missiles Corporation sedang mengembangkan rudal jelajah supersoniknya untuk digunakan oleh Angkatan Bersenjata Rusia," kata CEO perusahaan, Alexander Leonov.
Rudal Jelajah Supersonik
Rudal Jelajah Supersonik  
"Tren saat ini dalam peningkatan rudal jelajah adalah membawanya ke tingkat kecepatan hipersonik dan meningkatkan jangkauannya. Ini adalah arah yang kami tuju," tambahnya kepada TASS.
Rudal jelajah supersonik adalah rudal dengan jarak tempuh di atas 1.000 kilometer dan mampu mencapai kecepatan di atas 2.469 kilometer per jam atau dua kali kecepatan suara.
Sementara, rudal hipersonik merupakan rudal dengan kecepatan di atas 6.174 kilometer per jam atau lima kali kecepatan suara.
Leonov mengatakan, perusahaannya sedang mengembangkan rudal anti-kapal supersonik, Onyx, yang dapat ditembakkan dari kapal frigat maupun kapal selam, dengan kecepatan maksimum lebih dari dua kali kecepatan suara dan jangkauan 640 kilometer.
"Kami sedang berusaha untuk mengembangkan rudal itu sebagai ruda universal, baik dari sisi target maupun platform peluncuran yang digunakan," ujar Leonov.
Awal bulan ini, Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengunjungi Pusat Uji Penerbangan Chkalov untuk memeriksa jet tempur MiG-31 yang dipersenjatai rudal hipersonik Kinzhal.
Rudal balistik dengan kemampuan nuklir yang diluncurkan dari udara tersebut dikembangkan oleh kementerian pertahanan dan digunakan oleh Angkatan Udara Rusia.
Rudal itu diklaim mampu mencapai kecepatan 10 kali kecepatan suara (sekitar 12.000 kilometer per jam) dan menempuh jarak 1.900 kilometer.
"Bahkan untuk jarak yang lebih pendek rudal itu bisa mencapai kecepatan Mach 12 (sekitar 14.000 kilometer per jam)," tulis situs Airforce Technology, dikutip Newsweek.
Rudal Kinzhal Rusia juga dilaporkan dapat diintegrasikan ke dalam sistem lain yang digunakan Rusia, yang dapat menimbulkan ancaman signifikan terhadap pertahanan dan pasukan udara NATO.
Rudal tersebut dikatakan dapat mencapai lebih banyak target jika diluncurkan melalui berbagai tipe pesawat tempur, termasuk yang mampu lepas landas di landasan pendek.
Rusia juga mengembangkan rudal jelajah hipersonik (HCM) 3K22 Tsirkon dengan kemampuan Mach 6, serta rudal balistik antarbenua (ICBM) Avangard. (Agni Vidya Perdana)

Reruntuhan Jet Tempur Siluman F-35 AU Bela Diri Jepang yang Jatuh di Samudera Ditemukan


Tim penyelamat militer Jepang telah menemukan sayap dan pecahan mesin dari pesawat tempur multirole F-35A generasi kelima. Pesawat yang dioperasikan oleh Angkatan Udara Bela Diri Jepang itu jatuh di Samudra Pasifik di lepas pantai Prefektur Aomori di utara Pulau Honshu pada 9 April lalu.
Berita penemuan itu diumumkan pada hari Selasa waktu setempat dalam sebuah konferensi pers di Tokyo oleh Menteri Pertahanan Jepang Takeshi Iwaya.
 F-35
  F-35 
"Fragmen yang ditemukan diangkat ke permukaan, mereka telah mengalami kerusakan serius," kata kantor berita Kyodo mengutip Iwaya.
“Kami akan melanjutkan pencarian; masih ada serpihan-serpihan pesawat yang tersebar di dasar laut,” imbuhnya seperti dikutip dari Sputnik, Rabu (29/5/2019).
Sebelumnya pada bulan Mei, penyelam menemukan bagian dari kokpit pesawat yang hilang dan perekam data penerbangan di area pencarian, namun, perekam itu kehilangan kartu memorinya. Alasan kecelakaan hingga kini tetap tidak diketahui.
Pesawat tempur siluman F-35A menghilang dari layar radar pada bulan April selama penerbangan pelatihan dari Pangkalan Angkatan Udara Misawa di Jepang. Jasad dari pilot tidak berhasil ditemukan.
Pesawat telah dirakit di Jepang dari komponen Amerika Serikat (AS) di pabrik Mitsubishi Heavy Industries.
Ini adalah kecelakaan pertama yang melibatkan F-35A, karena jet-jet ini baru saja beroperasi di angkatan bersenjata berbagai negara.
Tahun lalu, sebuah pesawat F-35B yang lepas landas pendek dan melakukan pendaratan vertikal jatuh di AS. F-35B dimodifikasi untuk Korps Marinir dengan kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal sambil memberikan pengawasan elektronik dan kemampuan senjata generasi kelima.
Jepang berencana mengakuisisi 105 pesawat tempur siluman buatan AS untuk angkatan udara serta dua kapal induk ringan, sehingga menjadikannya rumah bagi armada F-35 terbesar dari sekutu AS mana pun.
Berita itu diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump selama kunjungan resminya ke Jepang.
"Amerika Serikat mendukung upaya Jepang untuk meningkatkan kemampuan pertahanannya, dan dalam beberapa bulan terakhir kami telah mengirim mereka sejumlah besar peralatan militer," kata Trump pada konferensi pers.
Program F-35 AS ramai menuai kecaman karena anggaran yang besar dan tahun produksi di belakang jadwal.
Pemerintah Jepang mengumumkan dalam anggaran pertahanan terbarunya pada bulan Desember niatnya untuk membeli 105 pesawat F-35A, dengan media lokal mengatakan pada saat itu bahwa pembelian tersebut dapat bernilai total lebih dari USD 9,1 miliar.
Jepang dan AS memiliki sejarah panjang kolaborasi. Secara khusus, negara-negara bekerja sama sehubungan dengan pertahanan, dengan sekitar 50.000 personel militer AS ditempatkan di seluruh negara pulau itu. (Berlianto)
Sumber :  sindonews.com

Pasang Surut Helikopter Nirawak MQ-8C Fire Scout AL AS


Di penghujung dekade 1990-an Departemen Pertahanan AS mengumumkan dimulainya program helikopter nirawak, atau yang disebut dengan VTOL-UAV. Setidaknya tiga kontraktor pertahanan ikut serta dalam sayembara ini, yaitu Bell, Sirkosky, dan tim hasil kolaborasi Teledyne Ryan dengan Schweizer Aircraft.
Sekitar pertengahan tahun 2000 desain hasil kolaborasi Teledyne Ryan dan Schweizer Aircraft diumumkan sebagai pemenang. Para teknisi membenamkan mesin Rolls-Royce 250-C20 di badan VTOL-UAV yang diberi kode RQ-8 ini.
Helikopter Nirawak MQ-8C Fire Scout
Helikopter Nirawak MQ-8C Fire Scout 
Di bagian depannya ditanamkan sebuah penjejak dan laser rangefinder yang terhubung dengan sistem UAV milik RQ-4 Global Hawk buatan Northrop Grumman. Dengan sistem ini RQ-8 pun mampu dioperasikan tidak hanya dari kapal laut tapi juga dari kendaraan Humvee milik Marinir AS.
Di tengah riset pengembangannya, ternyata AD AS ikut tertarik dengan proyek lanjutan RQ-8. Ketertarikan ini berujung pada penandatanganan kontrak pemesanan tujuh unit RQ-8B hasil pengembangan terakhir. Di tahun 2006 RQ-8B berubah nama menjadi MQ-8B.
Di lingkungan US Navy, helikopter nirawak ini biasa dibawa bersama dengan operasional kapal fregat. Satu unit fregat mengangkut empat MQ-8B Fire Scout. Sedangkan untuk kapal perang pantai biasanya dilengkapi satu hingga dua unit Fire Scout. Dari sisi waktu pengerahan pun MQ-8B tidak membutuhkan banyak waktu dan ruang.
Di tahun 2011, US Africa Command dan US Special Operations Command (SOCOM) mengirimkan proposal untuk kebutuhan akan helikopter nirawak yang berdaya jelajah lebih jauh dan dapat mengangkut lebih banyak muatan dan senjata. Sebagai catatan, MQ-8B Fire Scout hanya mampu mengangkut sekitar 272 kg barang, termasuk bahan bakar.
Dari sinilah Northrop Grumman kemudian berpikir keras untuk mengembangkan helikopter nirawak dengan performa lebih baik. Idenya cukup gila, membenamkan sistem avionik MQ-8B ke helikopter lain yang lebih besar.
Tim pengembang akhirnya memilih helikopter Bell 407 untuk bisa terbang tanpa awak. Alasannya, Bell 407 dianggap memiliki karakteristik yang mirip dengan helikopter latih AL AS TH-57 Sea Ranger, sehingga lebih mudah untuk melatih para pilot daratnya.
Di pertengahan 2010 Northrop memulai proyek modifikasi Bell 407 ini menjadi helikopter nirawak. Jeroan dari Bell 407 ini pun dikeluarkan untuk diganti dengan sistem otomatis. Bisa dibilang, seluruh sistem nirawak, mulai dari sistem elektronik hingga sistem kendali di daratnya sama dengan sistem yang digunakan di Fire Scout.
Di tahun 2012 Departemen Pertahanan AS tertarik dengan konsep helikopter nirawak ini dan kemudian langsung memesan sebanyak 30 unit MQ-8C. Dengan adanya UAV baru ini Pentagon akhirnya memutuskan untuk menghentikan pembelian MQ-8C Fire Scout sampai 30 unit.
MQ-8C digadang-gadang mampu terbang hingga 14 jam dengan muatan penuh. Payload dapat diisi hingga 1.430 kg barang. Walau menggunakan sistem dari UAV lama tapi MQ-8C mampu melaju hingga kecepatan 140 knot, atau hampir 260 kilometer per jam.
Tahun 2013, heli baru yang diberi kode Fire-X ini menjalani serangkaian pengujian, meliputi uji terbang selama 250 jam terbang hingga ketinggian 20.000 kaki, sama dengan batas ketinggian Bell 407.
Uji pertama adalah pengujian terbang menggunakan pilot di darat, setelah dianggap berhasil MQ-8C diuji terbang secara otomatis total dengan menentukan waypoint terlebih dahulu.
Selain itu, MQ-8C juga diuji performanya saat mengangkut berbagai macam muatan di dalam badannya hingga 450 kg, mulai dari logistik pasukan, hingga senjata. Setelah uji terbang tersebut kabar perkembangan heli nirawak ini cenderung hilang.
SOCOM sebagai pihak yang mengajukan UAV ini pun mendapat bagian pertama untuk menggunakan MQ-8C. SOCOM akan menggunakan MQ-8C sebagai destroyer yang akan dioperasikan dari kapal-kapal fregat. Saat ini, MQ-8C milik AD AS telah dioperasikan dari kapal pendarat (Landing Craft Support/LCS).
Walau menjadi kesatuan pertama yang ditawari MQ-8C, namun nyatanya AL AS tidak langsung menandatangani kontrak pemesanan. Setelah lebih dari 15 tahun pengembangan, baru pada awal tahun ini AL AS membukukan pesanan 5 unit MQ-8C. Rencananya, AL AS baru menerima pesanannya tahun 2021 mendatang. (Remigius Septian)

AD Rusia Modernisasi MLRS BM-21 Grad Menjadi Tornado-G


Angkatan Darat Rusia untuk tahun kedua berturut-turut, seperti diberitakan RIA Novosti (25/5), meneruskan program modernisasi dan upgrade sistem peluncur roket 122mm legendaris BM-21 Grad ke standar Tornado-G.
MLRS BM-21 Grad
MLRS BM-21 Grad 
Melalui program ini, roket didesain memiliki keunggulan berupa sistem pemandu satelit untuk mengarahkan roket dengan akurat.
"Belum lama ini, Tornado-G MLRS baru ditugaskan. Operasinya diotomatiskan sebanyak mungkin. Hari ini, berdasarkan hasil kajian ilmiah dan teknis, yang diperoleh saat membuat sistem ini, sebuah proyek sedang dilaksanakan untuk memodernisasi BM-21 Grad ke level Tornado-G," kata Wakil Direktur Umum perusahaan produsen amunisi Rusia Techmash, Aleksandr Kochkin.
AD Rusia sendiri masih memiliki ribuan sistem peluncur BM-21 Grad, yang membentuk formasi dasar unit artileri roket AD Rusia pada dekade 1950-an dan 1960-an.
Sistem roket ini diekspor ke berbagai negara satelit Pakta Warsawa dan negara sahabat, termasuk ke Indonesia yang digunakan oleh Korps Marinir TNI AL.
Tornado-G sendiri tidak mengubah bentuk kendaraan pembawa maupun kotak peluncur roket. Modifikasi paling kentara terlihat dari antena receiver satelit yang bisa dipergoki pada bagian atas kabin truk, yang kemudian akan mengumpankan informasi koordinat ke setiap kit pemandu di kepala roket. (Aryo Nugroho)

Sukhoi Su-57 Siap Diproduksi Massal, Pesawat Pertama Diterima AU Rusia Akhir Tahun Ini


Jet tempur generasi kelima andalan Rusia, Su-57, sudah siap dirpoduksi massal. Angkatan Kedirgantaraan (AU) Rusia (VKS) akan menerima pesawat pertama pada akhir tahun ini. Demikian dikatakan Wakil Menteri Pertahanan Rusia Alexey Krivoruchko saat mengunjungi pabrik pesawat ini di Komsomolsk-on-Amur, Rabu (29/5).
Sukhoi Su-57
Sukhoi Su-57  
“Kami akan menerima jet tempur pertama (model ini) pada akhir tahun ini. Kami sudah siap dengan produksi massal,” ujarnya seperti dikutip TASS.
Ditambahkan, Kementerian Pertahanan Rusia telah memastikan soal kesiapan pesawat ini dan kesiapan pihak pabrikan melaksanakan produksi massalnya.
“Kami sangat puas dengan apa yang kami lihat. Kami berharap semua rencana dapat terlaksana,” kata Krivoruchko yang dalam kunjungannya ini menggelar rapat kesiapan produksi massal Su-57.
Untuk diketahui, saat ini VKS mengoperasikan 10 unit Su-57 (flyable prototypes) dan bahkan pernah mengirim jet ini ke medan perang Suriah. Namun, pesawat tersebut sesungguhnya adalah prototipe Su-57 yang dalam operasionalnya sekaligus untuk menguji berbagai sistem yang diterapkan.
Sementara seri produksi pertama Su-57 yang akan diterima VKS akhir tahun ini, merupakan realisasi dari kontrak dua unit pesawat pertama dalam penyelenggaraan Forum ARMY 2018 lalu. Dalam kesepakatan kala itu, satu unit Su-57 akan diterima pada 2019 dan satu unit lagi pada 2020.
Presiden Vladimir Putin dalam pertemuan rutin soal pertahanan di Sochi, Rusia pada 15 Mei lalu menyatakan, sebanyak 76 jet Su-57 akan dibeli oleh pemerintah Rusia untuk melengkapi kebutuhan Angkatan Kedirgantaraan Rusia hingga tahun 2028.
Guna mendukung program tersebut, Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu telah menginstruksikan kepada seluruh pabrikan dalam negeri yang ikut terlibat produksi Su-57 agar menurunkan harga komponen untuk pesawat ini hingga 20%. Dengan begitu, harga jual Su-57 untuk kebutuhan dalam negeri pun menjadi lebih murah.
Prototipe Su-57 (T-50-1) dengan nomor badan 051 terbang perdana pada 29 Januari 2010 oleh pilot uji Sergey Bogdan yang juga Pahlawan Federasi Rusia. Pesawat mengudara selama 47 menit dari fasilitas KnAAPO di Bandara Dzemgi, Rusia Timur Jauh. Penerbangan perdana ini terlaksana setelah beberapa kali mundur dari jadwal semula sejak 2007 akibat sejumlah masalah teknis.
Pemerintah Rusia tidak hanya memproduksi Su-57 untuk kepentingan dalam negeri saja. Melainkan juga berencana mengekspor pesawat ini ke negara lain.
Direktur Kerja Sama Internasional dan Kebijakan Regional Rostec Viktor Kladov dalam penyelenggaraan LIMA 2019 di Langkawi, Malaysia mengatakan, Su-57E akan diekspor oleh Rusia. Pesawat ini rencananya akan ditampilkan dalam pameran Dubai Airshow 2019 pada November mendatang. (Roni Sontani)

Masih Terbilang Canggih, Korvet Victory Class AL Singapura (RSN) Siap Dipensiunkan Secara Bertahap


Korvet Victory Class memang tak muda lagi usianya, namun kapal perang kepunyaan Angkatan Laut Singapura (RSN) ini tergolong kombatan yang padat sistem senjata. Bahkan jika diadu tanding dengan kesenjataan di frigat pun, Victory Class yang memperkuat RSN sejak 1988 ini tak akan lantas minder. Victory Class dengan bobot 595 ton tampil padat persenjataan untuk meladeni peperangan atas permukaan, bawah permukaan dan anti serangan udara.
Korvet Victory Class AL Singapura
Korvet Victory Class AL Singapura 
AL Singapura mengoperasikan 6 unit Victory Class - RSS Victory, RSS Valour, RSS Vigilance, RSS Valiant, RSS Vigour dan RSS Vengeance. Meski tergolong masih sangat memadai dalam aspek persenjataan dan perangkat pendukungnya. Kementerian Pertahanan Singapura sejak 2018 sudah pasang kuda-kuda untuk mengganti Victory Class. Sebagai penggantinya Kemhan Singapura membuka tender proyek Multi-role Combat Vessel (MRCV) yang diharapkan kapal pengganti Victory Class akan diterima pada tahun 2025 dan pengiriman terakhir pada tahun 2030.
Meski digadang untuk menggantikan korvet Victory Class, MRCV rupanya punya spesifikasi di atas itu (frigat). AL Singapura menyaratkan MRCV nantinya dapat membawa dan meluncurkan kapal patroli tanpa awak (drone/unmanned surface vehicles - USV) kelas 16 meter. Paling tidak keinginan tersebut telah diungkapkan Singapura saat ajang IMDEX 2019 di Changi, 14 - 16 Mei lalu.
Selama ini Singapura berhasil mempraktekkan penggelaran USV dari kapal perang, seperti pada RSS Resolution (Endurance Class), dimana kapal angkut amfibi ini dapat difungsikan sebagai mothership dari USV Protector kelas 9 meter. Penggunaan USV Protector yang dipersenjatai senapan mesin dipandang cukup sukses selama Operasi Militer Singapura saat melawan aksi peromapakan di Teluk Aden.
Kembali korvet Victory Class, kapal perang tanpa fasilitas helipad ini sejak awal sudah menjadi rumah bagi drone intai ScanEagle, dan drone ini tak pelak menjadi kepanjangan mata yang efektif tanpa harus melakukan pengintaian langsung dengan menggunakan helikopter.
Seberapa canggih Victory Class? Senjata utama pada haluan adalah meriam reaksi cepat OTO Melara 76 mm Super Rapid Gun. Sementara untuk melawan serangan udara, kapal perang ini punya peluncur VLS (Vertical Launching System) 2×8 cell rudal Rafael Barak. Jika sasaran yang dihadapi kapal perang yang ada di balik cakrawala, maka yang diandalkan adalah 4 rudal anti kapal Harpoon. Khusus melawan kapal selam, juga tersedia torpedo A244S Mod1 yang diluncurkan dari 2 peluncur triple tube. Lain dari itu, sudah tersedia empat dudukan untuk senapa mesin berat kaliber 12,7 mm.
Sementara bekal perangkat elektronik di Victory Class terbilang canggih di kelasnya, untuk radar intai udara dan permukaan mengadopsi Saab Giraffe AMB, radar navigasi Kelvin Hughes 1007, sistem pengendali tembakan MSIS optronic director dari Elbit, dan sonar Thomson Sintra TSM 2064 VDS. Dalam skenario Menghadapi peperangan elekronik, disokong ESM dari Elisra SEWS, Israel. Pun masih ada jammer RAN 1011 buatan Rafael.
Dapur pacu Victory Class disokong mesin 4× Maybach MTU 16 V 538 TB93 high speed diesels coupled to 4× shafts. Dari mesin tersebut dapat dicapai kecepatan maksimum 37 knots dan kecepatan jelajah 18 knots. Dalam kondisi bahan bakar penuh, korvet ini dapat berlayar sampai 7.400 km pada kecepatan jelajah.
Dirunut dari silsilahnya, Victory Class mengambil rancangan awal dari desain MGB62 yang dirilis Lurssen, Jerman. Dan sesuai kesepatakan diantara kedua negara, kapal pertama - RSS Victory dibangun di Jerman, sementara kapal kedua sampai keenam dibangun oleh Singapore Technologies (ST) Marine. Korvet dengan 43 awak ini punya panjang 62 meter dan lebar 8,5 meter. (Gilang Perdana)

Chile Akuisisi Frigat HMAS Melbourne dan HMAS Newcastle Bekas Pakai AL Australia


Angkatan Laut Chile akan menyelesaikan program pengadaan dua kapal perang jenis frigat kelas Adelaide pada akhir Mei ini.
HMAS Melbourne
HMAS Melbourne  
HMAS Melbourne (FFG 05) dan HMAS Newcastle (FFG 06) yang dibangun di Australia pada awal 1990-an, akan diakuisisi sebagai stop-gap untuk menggantikan dua dari tiga frigat buatan Belanda dan Inggris yang saat ini beroperasi di Chile.
Melbourne dan Newcastle mengalami peningkatan ekstensif selama dekade terakhir, dilengkapi dengan sistem manajemen tempur baru dan antipesawat, peperangan antikapal selam, dan sistem antikapal permukaan.
Kedua kapal ini dapat meluncurkan rudal permukaan ke udara jarak menengah RIM-66 Standar (SM-2MR) dan rudal ESSM RIM-162 untuk pertahanan udara jarak jauh dan menengah, serta rudal antikapal RGM-84 Harpoon. (Beny Adrian)

Militer China Serang Pilot Helikopter Australia dengan Laser di Laut China Selatan


Beberapa pilot helikopter Angkatan Laut (AL) Australia terkena laser militer China selama tur Indo-Pacific Endeavour 2019 di dekat pulau-pulau sengketa di Laut China Selatan. Pilot-pilot tersebut terpaksa mendaratkan helikopternya sebagai tindakan pencegahan.
Saksi mata, Euan Graham yang berada di kapal induk Australia; HMAS Canberra (L02) mengatakan pilot-pilot helikopter terkena laser selama penerbangan. Helikopter-helikopter tersebut juga berbasis di HMAS Canberra (L02).
HMAS Canberra (L02)
HMAS Canberra (L02) 
"Beberapa pilot helikopter mendapati laser menunjuk mereka (ketika) melintasi kapal penangkap ikan, untuk sementara mendaratkan (helikopter) untuk alasan medis," kata Graham.
Graham berada di kapal induk HMAS Canberra (L02) dalam perjalanan dari Vietnam ke Singapura ketika laser militer China membidik pilot-pilot helikopter. Kapal induk yang disertai beberapa kapal perang itu juga dibuntuti kapal perang China.
"Apakah nelayan yang terkejut ini bereaksi terhadap hal yang tak terduga? Atau apakah itu semacam pelecehan terkoordinasi yang lebih mengarah pada milisi laut China? Sulit untuk mengatakan dengan pasti, tetapi insiden serupa telah terjadi di Pasifik barat," tulis Graham di situs web The Strategist yang dijalankan oleh Australian Strategic Policy Institute, sebuah lembaga think tank independen yang berbasis di Canberra, seperti dikutip news.com.au, Rabu (29/5/2019).
Insiden serupa yang melibatkan laser dan militer China juga pernah terjadi di Djibouti, di mana AS dan China memiliki pangkalan.
Tahun lalu, AS memprotes China setelah laser diarahkan ke pesawat di negara Tanduk Afrika itu yang mengakibatkan cedera ringan pada dua pilot Amerika. China membantah bahwa pasukannya menargetkan pesawat militer AS.
Departemen Pertahanan Australia (ADF) mengonfirmasi interaksi dengan militer Beijing berlangsung selama kapal-kapal Canberra menjalankan tur Indo-Pasifik Endeavour 2019, sebuah misi keterlibatan regional ADF yang rampung Senin (27/5/2019).
Kapal induk HMAS Canberra (L02) telah berlabuh di Darwin, mengakhiri tur selama tujuh bulan di tujuh negara Asia. Tiga kapal perang, pesawat terbang dan lebih dari 1.200 personel pertahanan Australia bergabung dalam misi tersebut.
Komodor Udara Richard Owen mengatakan kepada ABC di atas kapal induk HMAS Canberra (L02) setelah dia tiba di ujung negara Australia.
Dia mengatakan Kelompok Tugas Australia melakukan dua transit melalui Laut China Selatan, di mana militer China mengawasi dengan ketat para pengunjung internasional yang melewati perairan yang disengketakan.
"Itu kontroversial, kami cukup sadar akan hal itu," kata Komodor Udara Owen. "Kami transit di utara dan selatan melalui Laut China Selatan di perairan internasional dan kami diikuti, seperti biasanya, dengan angkatan laut lainnya."
ABC mengungkap bahwa kapal induk Australia dan rombongannya tersebut dibuntuti militer China awal bulan ini ketika mereka menuju Vietnam, serta ketika Kelompok Tugas meninggalkan pelabuhan Cam Ranh.
"Kami peka terhadap semua interaksi angkatan laut, kami berlatih untuk itu, kami menyadari bagaimana mereka akan berperilaku dan bagaimana kami berperilaku, jadi saya sama sekali tidak khawatir tentang hal itu, saya yakin dengan kemampuan Angkatan Laut Australia dan ADF," ujar Komodor Owen.
"Mereka ingin tahu siapa kami, ke mana kami pergi dan apa niat kami, dan orang China tidak berbeda mereka ramah, mereka profesional." (Muhaimin)

Latihan Taktis Tingkat Pleton, Tank Leopard 2A4 Kostrad Serang Asembagus


Kendaraan tempur berat dari Batalyon Kavaleri (Yonkav) 8 Divisi Infanteri (Divif) 2 Komando Strategis TNI AD (Kostrad), melakukan penyerangan di Asembagus.
Sebanyak sembilan tank jenis Leopard 2A4, dan satu kendaraan tempur ARV, melakukan penyerbuan di kawasan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, untuk melaksanakan latihan taktis tingkat pleton.
 Tank Leopard 2A4 Kostrad
 Tank Leopard 2A4 Kostrad  
Latihan ini digelar selama 20 hari lamanya. Yakni pada 11-31 Mei 2019. Berupa latihan secara bertahap, bertingkat dan berlanjut, guna memelihara dan meningkatkan kemampuan teknik dan taktik bertempur dalam hubungan peleton Kavaleri, di dalam operasi militer perang (OMP).
Komandan Yonkas 8 Divif 2 Kostrad, Letkol Kav. Suntara Wisnu Budi Hidayanta mengungkapkan, latihan taktis tingkat pleton ini selain untuk memelihara dan meningkatkan kemampuan prajurit, juga guna dapat mengetahui dan mengukur kesiapan satuan. Harapannya, latihan ini dapat dipahami, dimengerti dan dilaksanakan dengan baik.
"Sebagai satuan yang mempunyai alutsista canggih dan modern, Yonkav 8 Kostrad memiliki tanggung jawab besar, terutama dalam mewujudkan profesionalisme prajurit yang merupakan kewajiban utama, sekaligus pertanggung jawaban kepada Bangsa dan Negara," tambahnya.
Latihan taktis tingkat pleton ini diawali dengan latihan taktis tanpa pasukan, dengan metode latihan peta, model, dan medan. Selanjutnya dilaksanakan latihan taktis dengan pasukan menggunakan metode drill teknis dan drill taktis.
Rangkaian kegiatan latihan di Pusat Latihan tempur (Puslatpur) Marinir Asembagus, Situbondo, diakhiri dengan kegiatan pembinaan teritorial yang meliputi memberikan bantuan materiil ke Mushola Al-Ikhlas, dan memberikan bantuan sosial kepada masyarakat di sekitar daerah latihan guna memupuk kemanunggalan TNI dengan Rakyat. (Yuswantoro)

Angkatan Kedirgantaraan (AU) Rusia akan Mendapat 30 Unit Helikopter Serang Ka-52 Alligator


Sebanyak 30 helikopter intai serang Ka-52 Alligator akan melengkapi Angkatan Kedirgantaraan Rusia (VKS) hingga tahun 2022. Sebanyak delapan unit di antaranya akan diterima tahun ini. Heli dibuat oleh pabrik Progress Aviation Enterprise, bagian dari Russian Helicopters.
Wakil Menteri Pertahanan Rusia Alexei Krivoruchko sebagaimana dikutip TASS (28/5) menyatakan, Progres Aviation Enterprise telah mendapatkan kontrak untuk memenuhi kebutuhan helikopter VKS.
 Ka-52 Alligator
 Ka-52 Alligator 
Tahun depan, ia menambahkan, kontrak jangka panjang untuk pengadaan 114 Ka-52M (versi upgraded Ka-52) kemungkinan besar juga akan ditandatangani.
Helikopter Ka-52 disiapkan untuk melaksanakan misi penggempuran terhadap armada tank musuh, kendaraan non lapis baja, pasukan, maupun helikopter musuh pada beragam kondisi cuaca.
Sejumlah perlengkapan avionik modern telah melengkapi heli bersistem rotor utama koaksial ini. Heli dilengkapi sistem proteksi radio elektronik, pendistorsi aliran panas mesin, dan perangkat aktif kontra-elektronik musuh.
Ka-52 (NATO: Hokum B) merupakan pengembangan versi side-by-side dari helikopter kursi tunggal yang menjadi pendahulunya yaitu Ka-50 Black Shark. Prototipe Ka-52 terbang perdana pada 1997 dan seri produksinya mulai dibuat tahun 2008.
Usai menyelesaikan uji coba negara (state trials), Ka-52 mulai digunakan oleh Angkatan Udara Rusia pada 2011. Ka-52 juga dibuat versi untuk Angkatan Laut dengan rotor utama dan sayap bisa ditekuk, yaitu Ka-52K Katran. (Roni Sontani)

Rusia Tawarkan Jet Tempur MiG-35 ke India, dengan Transfer Teknologi dan Produksi Pesawat


Rusia menawarkan jet tempur ringan terbaru MiG-35 (NATO: Fulcrum-F) kepada India. Penawaran dibarengi dengan bonus transfer teknologi kritis pesawat tempur generasi empat plus ini dan kesempatan untuk memproduksi di dalam negeri sesuai kampanye ‘Make in India’.
CEO MiG Corporation Ilya Tarasenko dalam wawancara dengan Financial Express yang dipublikasikan pada Senin (27/5) menyatakan, JSC RAC MiG ikut serta dalam tender pengadaan jet tempur untuk Angkatan Udara India (IAF) melalui Rosoboronexport.
 Jet Tempur MiG-35
 Jet Tempur MiG-35 
MiG-35 yang ditawarkan, merupakan varian termodern dengan seluruh persenjataan yang dapat dibawanya. Baik itu persenjataan yang sudah ada saat ini, persenjataan yang sedang dikembangkan untuk masa depan (buatan Rusia maupun luar), serta persenjataan yang didesain untuk penempur kelas berat sekalipun.
Tarasenko menegaskan, India merupakan mitra Rusia sejak lebih dari setengah abad lalu. Sehingga, pihaknya sudah sangat memahami hal-hal yang telah dijalankan selama beberapa dekade, termasuk dalam mendukung operasional jet tempur MiG-21 atau MiG-29 yang digunakan IAF.
“Kami juga sudah membangun simulator dan pusat perwatan pesawat di sini. Namun yang lebih penting dari itu semua, kami sangat memahami filosofi, semangat, dan kebutuhan riil IAF,” ujarnya.
Ia menambahkan, saat ini timnya sedang melaksanakan finalisasi kesepakatan dengan sejumlah mitra industri India mengenai apa-apa yang bisa dilaksanakan oleh industri lokal guna mendukung kampanye dalam tender ini.
Dikonfirmasi apakah MiG benar-benar mau memberikan transfer teknologi kritis jet MiG-35? Tarasenko menjawab bahwa pihaknya sudah siap dengan hal itu.
“Kami sangat mengerti dan memahami aspirasi India sebagai salah satu importir terbesar persenjataan. Yang diinginkan tentu bukan hanya membeli barang sesuai standar di pasaran, tetapi soal kecanggihan sistem untuk disesuaikan dengan kebtuhan mereka.”
Ditekankan olehnya, apa yang dikatakan ini bukan sekadar isapan jempol. Transfer teknologi MiG-21 telah dilakukan oleh Uni Soviet (Rusia kini) di tahun 1960-an. MiG-21 pun selanjutnya dibuat di India. Setelah itu, masih banyak alutsista Soviet/Rusia yang dibuat di India.
Jadi, ujarnya lagi, kampanye ‘Make in India’ bukan hal baru bagi MiG maupun Rusia. Bahkan, sebelum slogan ini kini digencarkan lagi oleh New Delhi.
Tarasenko memastikan, MiG-35 merupakan pilihan terbaik bagi IAF. Jet tempur modern ini telah dilengkapi berbagai sistem canggih terbaru. Dalam hal radar, MiG-35 sudah dilengkapi radar AESA dengan jangkauan 190 km. Radar dapat digunakan pada siang maupun malam hari. (Roni Sontani)

Jet Tempur Mirage 2000 AU Brasil Dijual Murah ke Pihak Swasta


Angkatan Udara Brasil diketahui telah membeli 36 unit jet tempur JAS-39 Gripen untuk memperkuat pertahanan udaranya. Oleh karena itu, jet-jet tempur Mirage 2000 yang sebenarnya masih terhitung mumpuni terpaksa tersisih dari dinas aktif AU Brasil.
Mirage 2000 AU Brasil
Mirage 2000 AU Brasil 
Angkatan Udara Brasil pada tahun 2016 sudah berusaha menjual selusin Mirage 2000 yang dipensiun sejak 2013.
Paket yang hendak dijual adalah sembilan Mirage 2000C berkursi tunggal dan dua Mirage 2000B berkursi ganda. Semua dalam kondisi tidak laik terbang.
Penjualan diluncurkan pada 2016 tetapi tidak pernah berhasil. Pengumuman baru dibuat pada akhir tahun lalu. Harga lot pesawat (tidak dalam kondisi laik terbang) adalah sekitar 500.000 dolar AS.
Mirage 2000 Brasil akhirnya berhasil terjual berkat jasa broker Perancis yang berbasis di Uni Emirat Arab. Tujuannya adalah memanfaatkan pesawat tempur modern tersebut guna membentuk perusahaan jasa Skadron Agresor untuk sarana latih Angkatan Bersenjata dari wilayah Timur Tengah.
Perusahaan yang membeli kabarnya bernama Procor, dengan harga penawaran sekitar 450.000 dolar AS. Procor adalah perusahaan dagang Eropa yang bergerak di bidang aeronautika dan pertahanan militer. (Aryo Nugroho)

OKB TSP Rusia Tawarkan Sistem Pertahanan Udara Terbaru Buk-MB3K


Sistem pertahanan udara (Sishanud) terbaru Buk-MB3K garapan OKB TSP tampil perdana dalam pameran pertahanan MILEX ke-9 di Minsk, Belarusia pada 15-18 Mei lalu. Keandalan tinggi dan peningkatan kinerja merupakan ciri utama dari sishanud bersenjata peluru kendali ini.
 Buk-MB3K
 Buk-MB3K 
Sistem Buk-MB3K dilengkapi radar baru S-range solid state phased array AESA yang mampu mendeteksi target udara hingga radius 130 km. Metode dan algoritma khusus untuk pemrosesan sinyal mampu meningkatkan presisi fiksasi dan deteksi target sebesar 50-100%.
Radar dapat mendeteksi dan melakukan pelacakan target secara otomatis. Juga dapat mengukur data primer dari target udara, termasuk azimuth, jangkauan, dan kecepatan radial dalam mode aktif dan pasif.
Sistem Buk-MB3K dapat mendeteksi dan mencegat semua jenis target terbang. Mulai dari jet tempur, pesawat udara tak berawak (UAV), rudal jelajah hingga balon udara. Setiap sistem ini dilengkapi empat misil siap luncur.
Sishanud ini juga dilengkapi stasiun automated mobile command & control battle management (AMC & CBM) yang sepenuhnya terintegrasi dalam jaringan pertahanan udara. Stasiun ini memastikan komunikasi dan berbagi data antara berbagai komponen sistem rudal pertahanan udara, sistem kontrol, serta radarnya.
Untuk mengusung sistem Buk-MB3K digunakan kendaraan khusus berpenggerak 8X8 yang dikembangkan oleh perusahaan otomotif MZKT asal Belarusia. Kendaraan dapat membawa muatan 17.300 kg dan melaju dengan kecepatan hingga 60 km/jam.
Secara keseluruhan, sasis beroda ban baru pada Buk-MB3K meningkatkan kinerja dan kemampuan manuver dibandingkan versi lawas yang menggunakan roda rantai (track). Sistem beroda ban ini juga mengurangi biaya pemeliharaan dan perbaikan.
Dilansir dari belarus.by, sistem Buk-MB3K memiliki parameter pengintaian, daya tembak, dan manuver sistem yang setara dengan sistem rudal pertahanan udara jarak menengah produksi Barat. Menariknya, sistem Buk-MB3K memiliki harga jual yang lebih miring. (Rangga Baswara Sawiyya)

AD Austria Punya Seragam Tempur Kamuflase Baru


Pada bulan Maret 2019, tentara Angkatan Darat Austria telah menerima seragam tempur kamuflase pertamanya. Sejak 1970-an, seragam tempur standar Angkatan Darat Austria adalah hijau zaitun (olive green) polos.
Seragam Tempur Kamuflase Baru
Seragam Tempur Kamuflase Baru 
Kementerian Pertahanan Austria mengumumkan pada bulan September 2017 bahwa seluruh Angkatan Darat Austria pada akhirnya akan dilengkapi dengan seragam baru yang menampilkan pola kamuflase Austria yang unik. Desain 
kamuflase baru ini menggabungkan enam warna (abu-abu, dark olive, medium olive, hijau lumut, khaki, dan pasir) dalam pola beraneka ragam yang dimaksudkan untuk mereplikasi jenis vegetasi asli yang ditemukan di Austria.
Pada 4 Maret 2019, seragam kamuflase Austria yang baru tersebut dibagikan untuk para prajurit. Styrian Jägerbataillon 18 menjadi unit pertama yang dilengkapi seragam baru tersebut, dimana Menteri Pertahanan Austria Mario Kunasek secara pribadi menyerahkan pakaian seragam itu. Mulai sekarang, total 3.000 hingga 4.000 tentara direncanakan menyusul akan menerima seragam baru itu setiap tahun.
Kamuflase Austria itu disebut sebagai "Tarnanzug neu", dikembangkan oleh para ahli Angkatan Bersenjata Austria dan menampilkan desain yang unik. Selain efek kamuflase yang diinginkan di lingkungan alami, pola kamuflase baru itu juga akan memastikan penyamaran yang baik ketika berhadapan dengan perangkat optronik seperti perangkat penglihatan malam.
Seragam baru tersebut merupakan turunan dari seragam tempur yang ada saat ini dan akan menampilkan opsi untuk dapat menggunakan pad pelindung untuk siku dan lutut yang dapat disisipkan pada seragam. Unit cadangan AD AUstria juga akan menerima set seragam baru tersebut. (Angga Saja - TSM)

Taiwan Produksi Korvet Rudal dan Kapal Pembunuh Kapal Induk (Aircraft Carrier Killer)


Taiwan telah memulai produksi massal kapal perang jenis korvet rudal (missile corvette) dalam negeri dengan nama Tuo Jiang-class (Tuo Chiang-class) dan kapal penyebar ranjau berkecepatan tinggi (high-speed minelayer) guna meningkatkan kekuatan angkatan lautnya.
Aircraft Carrier Killer
Aircraft Carrier Killer 
Dijuluki sebagai armada pembunuh kapal induk (aircraft carrier killer), korvet berukuran kecil dengan bobot 680 ton ini mampu bergerak lincah dengan kecepatan hingga 45 knot.
Tahap pertama, Taiwan akan membangun tiga unit korvet dari 12 yang direncanakan. Proyek bernama Hsun Hai ini dilaksanakan pengerjaannya oleh Lung Teh Shipbuilding di Suao, Yilan dengan anggaran mencapai satu miliar dolar AS.
Dikutip dari SCMP (25/5), kapal korvet rudal akan dilengkapi sistem komputer paling maju di dunia. Sementara bahan konstruksi kapal akan menggunakan campuran metal termodinamik tinggi guna mencapai tingkat kekuatan kapal yang tinggi.
Kapal juga dibuat berteknologi siluman dengan tingkat tangkapan oleh radar musuh sangat rendah. Dengan begitu, keberadaan kapal sutlit terdeteksi walau sudah dekat ke pantai sekalipun.
Untuk persenjataan, pada korvet ini disematkan rudal antikapal. Terdiri dari delapan rudal Hsiung Feng II (HF-II) dan delapan rudal Hsiung Feng III (HF-III), masing-masing berkecepatan subsonik dan supersonik/hipersonik. Sebagai gambaran, HF-III produksi CSIST, Taiwan ini memiliki jarak jangkau 400-1.500 km.
Korvet Rudal Tuo Chiang-class yang masuk jenis catamaran (dua lambung) ini akan menggantikan peran kapal lama berukuran lebih besar namun kurang lincah dan berbiaya mahal. Termasuk juga fregat dan kapal perusak.
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen menghadiri langsung upacara dimulainya produksi massal kapal ini di Yilan.
Sementara untuk kapal penyebar ranjau berkecepatan tinggi, juga akan dikerjakan oleh Lung Teh di galangan Kaohsiung.
Tsai Ing-wen mengatakan, produksi kapal dalam negeri merupakan langkah Taiwan memasuki era baru peningkatan kekuatan angkatan laut untuk mempertahankan negara dari invasi negara lain.
“Ini membuktikan bahwa kita bisa membuat kapal perang dan meluncurkan era baru kekuatan angkatan laut,” ujarnya.
Dijadwalkan, pengiriman Tuo Jiang-class kepada Angkatan Laut Taiwan akan dilaksanakan pada 2021 dan dilanjutkan dengan dua unit lainnya hingga tahun 2025.
Demikian juga untuk kapal penyebar ranjau, dijadwalkan siap mulai 2021.
Saat ini AL Taiwan mengoperasikan satu unit prototipe Tuo Jiang-class yang diterima dari galangan Lung Teh tahun 2014. (Roni Sontani)

Radar Acak