F-35A dan F-15EX akan Segera Terbang Bersama dengan Drone Q-58 Valkyrie


Angkatan Udara Amerika Serikat sedang mempelajari bagaimana mengendalikan pesawat tak berawak dari jet tempur terbarunya, F-35A Joint Strike Fighter dan F-15EX. Pesawat tempur tak berawak itu akan bertindak sebagai wingman bagi pesawat tempur berawak.
Drone Q-58 Valkyrie
Drone Q-58 Valkyrie 
Wingman robot AU AS tersebut adalah pesawat tanpa awak XQ-58A Valkyrie.
Versi masa depan F-35A Joint Strike Fighter dan F-15EX Eagle akan dilengkapi dengan perangkat keras dan perangkat lunak untuk mengontrol beberapa drone semi-otonom. AU AS dalam diskusi dengan Boeing dan Lockheed masing-masing untuk memodifikasi pesawat tempur F-15EX dan F-35A Blok 4 mereka untuk mengakomodasi datalink dan prosesor dari program Skyborg.
Skyborg adalah program menyeluruh AU AS untuk mengembangkan drone tempur yang dapat terbang bersama dengan pesawat tempur berawak ke dalam pertempuran sementara secara fleksibel di bawah kendali seorang pilot dalam sebuah pesawat tempur berawak, sebuah pengontrol di pesawat pendukung yang lebih besar atau seseorang pengendali di darat. Dalam program Skyborg, drone akan dilengkapi dengan perangkat sensor baru dan muatan dan akan bekerja dalam jaringan dengan pesawat tempur berawak. Skyborg digambarkan sebagai wingman dengan kecerdasan buatan (AI) yang akan berlatih dan belajar bersama pilot atau mungkin dimasukkan dalam pesawat tempur berawak sebagai asisten seperti R2-D2 dalam film "Star Wars". (Angga Saja - TSM)

Iran Ancam Tenggelamkan Kapal Perang AS dengan Senjata Rahasia


Militer Iran mengancam akan menenggelamkan kapal-kapal perang Amerika Serikat di Teluk Persia dengan senjata rahasia baru. Tak dijelaskan jenis senjata rahasia yang dimaksud.
"Amerika...mengirim dua kapal perang ke wilayah tersebut. Jika mereka melakukan kebodohan sekecil apa pun, kami akan mengirim kapal-kapal ini ke dasar laut bersama awak mereka serta pesawatnya dengan menggunakan dua rudal atau dua senjata rahasia baru," kata Jenderal Morteza Qorbani, seorang penasihat komando militer Iran, kepada kantor berita Mizan, yang dikutip Reuters, Sabtu (25/5/2019).
USS Abraham Lincoln
USS Abraham Lincoln 
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran yang memburuk sejak awal bulan ini setelah Washington memberlakukan lebih banyak sanksi terhadap Teheran. Pemberlakuan sanksi itu sebagai tindak lanjut pemerintah Donald Trump yang menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran 2015 yang bernama resmi Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
Pentagon telah mengerahkan Kelompok Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln, satu skuadron pesawat pengebom B-52 dan baterai rudal Patriot ke Timur Tengah.
Iran juga menangguhkan sebagian kewajibannya dari JCPOA 2015.
Surat Antiperang
Sementara itu, 76 pensiunan jenderal, laksamana dan duta besar AS telah menandatangani surat terbuka kepada Presiden AS Donald Trump. Dalam surat tersebut, mereka mendesak Trump untuk tidak menghasut perang dengan Republik Islam Iran.
"Perang dengan Iran, baik karena pilihan atau kesalahan perhitungan, akan menghasilkan reaksi dramatis di Timur Tengah yang sudah tidak stabil dan menyeret Amerika Serikat ke dalam konflik bersenjata lainnya dengan biaya finansial, manusia, dan geopolitik yang besar," bunyi surat tersebut.
Surat itu muncul setelah Trump mengatakan bahwa Washington memutuskan untuk mengerahkan sekitar 1.500 tentara tambahan ke Timur Tengah. Presiden Trump sendiri berharap bahwa situasi tidak akan mengarah pada perang.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei juga menegaskan bahwa Teheran tidak ingin perang dengan AS, tetapi akan terus menentang kebijakan Washington.(Muhaimin)

Rusia Siap Membalas Jika AS Sebar Fasilitas Radar di Norwegia


Kementerian Luar Negeri Rusia mengirim peringatan kepada Amerika Serikat (AS). Moskow dapat mengambil tindakan balasan jika AS melanjutkan rencana memodernisasi fasilitas radar Globus 2 di kota Vardo, Norwegia, yang berbatasan dengan negara itu.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova mengatakan, Moskow memiliki banyak alasan untuk percaya bahwa fasilitas radar itu akan digunakan untuk tujuan mengawasi Rusia. Ia menambahkan bahwa stasiun radar akan menjadi bagian dari sistem rudal anti-balistik AS.
AS Sebar Fasilitas Radar di Norwegia
AS Sebar Fasilitas Radar di Norwegia 
"Ada banyak alasan untuk meyakini bahwa radar akan memantau secara khusus wilayah Rusia dan akan menjadi bagian dari jaringan pertahanan rudal global AS," kata Zakharova.
"Jelas bahwa persiapan militer semacam ini, apakah itu di dekat perbatasan Rusia atau perbatasan negara lain, tidak dapat diabaikan oleh negara kita atau negara lain. Oleh karena itu, kami sedang mempertimbangkan tindakan timbal balik yang akan diambil untuk memastikan keamanan kami sendiri," tuturnya seperti dikutip dari Sputnik, Jumat (24/5/2019).
Zakharova mencatat bahwa Rusia telah berulang kali ditolak konsultasi tentang masalah ini oleh otoritas Norwegia.
Stasiun Globus II yang didanai AS di pulau Vardo Arktik terletak hanya 50 kilometer dari perbatasan dengan Rusia dan dikelola oleh personel intelijen militer Norwegia.
Pada April 2016, Angkatan Darat Norwegia mengumumkan modernisasi stasiun radar yang dijadwalkan untuk 2017-2020. Fasilitas ini diharapkan mencakup radar lain.
Pembaruan fasilitas radar dilakukan di tengah penyebaran sistem pertahanan rudal Terminal High Altitude Defense (THAAD) di Rumania oleh AS.
Moskow telah berulang kali menyuarakan keprihatinan atas peningkatan aset militer NATO di sepanjang perbatasannya dan di Eropa. THAAD adalah sistem pertahanan rudal anti-balistik yang mencegat rudal balistik di pertengahan akhir atau tahap akhir penerbangannya, baik di dalam maupun di luar atmosfer Bumi. (Berlianto)

Tandingi Tes Rudal Pakistan, India Ledakkan Bom 500 Kg


Militer India meledakkan bom berpemandu seberat 500 kilogram (kg) dalam sebuah uji coba yang dijatuhkan dari sebuah pesawat. Uji coba ini sebagai tandingan atas tes rudal balistik Shaheen-II Pakistan yang bisa membawa hulu ledak nuklir pada hari Kamis lalu.
Bom seberat itu diledakkan militer India pada hari Jumat. "Bom yang dipandu mencapai jarak yang diinginkan dan menghantam target dengan presisi tinggi. Semua tujuan misi telah tercapai," bunyi siaran pers dari divisi penelitian dan pengembangan militer India.
Shaheen-II Pakistan
Shaheen-II Pakistan  
Dua hari sebelumnya, negara itu juga menguji coba rudal jelajah BrahMos dengan jangkauan 300 km.
Peledakan bom 500 kg dilakukan di tengah-tengah perayaan kemenangan Perdana Menteri India Narendra Modi dan partainya; Partai Bharatiya Janata (BJP) dalam pemilu di negara tersebut.
Perdana Menteri Pakistan Imran Khan telah menyampaikan ucapan selamat kepada Modi via Twitter. Dalam ucapannya, Khan berharap bisa bekerja sama dengan Modi untuk perdamaian, kemajuan dan kemakmuran di Asia Selatan.
Modi menanggapi dengan mengucapkan terima kasih. Dia menyatakan akan memprioritaskan perdamaian dan pembangunan di kawasan tersebut.
Namun, pesan-pesan perdamaian kedua pemimpin ini juga diwarnai oleh peringatan keras utusan India untuk Amerika Serikat Harsh Vardhan Shringla. Dia mengatakan tidak ada pembicaraan antara kedua negara yang akan berlangsung."Sampai Pakistan menunjukkan dengan segera, efisien dan tindakan yang dapat diverifikasi untuk mengekang kelompok teroris yang beroperasi dari wilayahnya," katanya, seperti dikutip dari Russia Today, Sabtu (25/5/2019).
Ketegangan antara kedua negara bersenjata nuklir ini pecah di wilayah Kashmir Februari lalu, ketika India melakukan serangan udara terhadap gerilyawan di wilayah Pakistan. Pakistan merespons dengan mengirimkan jet tempurnya untuk menargetkan angkatan udara India. Satu jet tempur India ditembak jatuh. Sedangkan, New Delhi mengklaim menjatuhkan sebuah jet tempur F-16 Islamabad.(Muhaimin)

Hurkus-C dari Turki, Tampil Lebih Garang dengan Grafis Moncong Hiu Menyeringai


Tampil dengan warna abu-abu gelap, penampilan Hurkus-C (Free Bird seri C) makin terlihat garang dengan grafis berbentuk moncong hiu menyeringai. Pesawat bertengger di luar arena selama pameran IDEF 2019 yang berlangsung di Istanbul, Turki pada 30 April – 3 Mei lalu.
Varian bersenjata dari keluarga pesawat latih turboprop buatan Turkish Aerospace Industries (TAI) ini dikembangakan untuk keperluan Militer Turki. Pesawat didapuk untuk menghadapi peperangan asimetris melawan gerilyawan.
Hurkus-C
Hurkus-C  
Seperti diketahui, Turki hingga saat ini masih terus memerangi kelompok ISIS maupun pemberontak Kurdi yang beroperasi di sekitar wilayah perbatasan dengan negara tetangganya Suriah dan Irak.
Purwarupa pertama Hurkus-C resmi diluncurkan pada pertengahan Februari 2017. Prototipe ini dikembangkan berdasar versi latih lanjut Hurkus-B yang telah dilengkapi dengan avionik terintegrasi termasuk HUD, MFD, dan MC (Mission Computer). Sayap pesawat juga telah dilengkapi winglet.
Sebagai pesawat serang dan intai, Hurkus-C dapat dijejali muatan hingga 1.500 kg. Tersedia enam gantungan senjata (tiga di tiap sayap) dan satu di tengah perutnya. Hurkus-C juga dilengkapi pod elektro-optik dan inframerah (EO/IR) Aselsan Common Aperture Targeting System (CATS).
Sementara pilihan senjata untuk misi dukungan udara jarak dekat (CAS) ataupun antigerilya (COIN) dipasok oleh pabrik senjata asal Turki, Roketsan. Yaitu berupa rudal antitank UMTAS serta roket berpemandu laser Cirit kaliber 2,75 inci.
Jenis bom yang dibawa mulai dari GBU-12 berpemandu laser, bom multiguna Mk-81, Mk-82, BDU-33 serta bom latih MK-106. Hurkus-C juga dapat dilengkapi pod berisi senapan mesin kaliber 12,7 mm atau sebuah tabung tangki eksternal kapasitas 70 galon.
Hurkus-C ditenagai sebuah mesin turboprop Pratt & Whitney Canada PT6A-68T berdaya1.600 shp. Kecepatan terbang maksimum di angka 574 km/jam dan ketinggian terbang hingga 10.577 m. Sementara untuk jangkauan operasi sejauh 1.478 km atau lama terbang 4 jam 25 menit.
Berdasar informasi Jane’s, Penerbangan AD Turki telah memesan sebanyak 12 unit Hurkus-C termasuk 12 opsi tambahan. Namun penyerahan yang semula diagendakan pada 2018 hingga saat ini belum terlaksana.
Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, TAI sendiri telah mengumumkan akan menyasar pasar ekspor untuk Hurkus-C. Di kelasnya ‘Sang Burung Bebas” akan bersaing dengan EMB-314 Super Tucano dari Brasil, AT-6B Wolverine dari Amerika Serikat, KAI KT-1C dari Korea Selatan, dan pendatang baru B-250 Bader dari Uni Emirat Arab.(Rangga Baswara Sawiyya)

Frigate BRP Jose Rizal (FF-150) Filipina Telah Diluncurkan


BRP Jose Rizal (FF-150) diluncurkan pada hari Kamis (23/5) di galangan kapal Hyundai Heavy Industries (HHI) Korea selatan.
Kapal sepanjang 107 meter ini mewakili kapal terbaru milik Angkatan Laut Filipina yang mampu melakukan peperangan anti-kapal permukaan, anti-kapal selam, dan operasi peperangan elektronik.
Frigate BRP Jose Rizal FF-150
Frigate BRP Jose Rizal FF-150 
Frigat ini dirancang berdasarkan frigat serba guna multi peran Incheon / FFX-I / HDF-3000 sejenis milik Angkatan Laut Republik Korea. dipersenjatai dengan meriam utama super rapid Oto Melara 76mm serta kanon SMASH 30mm remote-controlled established naval gun.
Kapal-kapal akan dilengkapi dengan rudal permukaan-ke-udara dan permukaan-ke-permukaan, torpedo, peluncur dan sistem senjata untuk perang empat dimensi.
Setiap kapal mampu mengangkut lebih dari seratus perwira dan awak. Ini juga dilengkapi dengan dek penerbangan ke arah buritan dengan kemampuan untuk menangani satu helikopter maritim dengan berat hingga 12 ton. Hangar juga akan dipasang untuk mengakomodasi helikopter. serta akan dilengkapi juga dengan dua perahu karet untuk operasi militer dan darurat di laut.
Kapal Perang jenis Frigat ini memiliki kecepatan maksimum 25 knot, dengan kisaran 4.500 mil laut dengan kecepatan jelajah 15 knot. Itu dapat mempertahankan keberadaan operasional selama 30 hari.
Beberapa subsistem yang sudah diinstal
  1. Senjata utama menunjukkan Meriam Super rapid Oto Melara 76/62 dari Italia, Hal ini Membantah rumor sebelumnya yang mengatakan kapal akan menggunakan senjata Hyundai WIA 76mm., Oto Melara SR sesuai dengan kecepatan tembak yang diperlukan oleh spesifikasi teknologi versus senjata tembak yang lebih lambat dari Hyundai WIA.
  2. Fire control NA-25Xl radar Leonardo NA-25X Italia, yang akan memandu senjata Oto Melara. Awalnya PN memilih tawaran HHI lainnya, Thales Nederland STIR Mk.II FCR
  3. The Kelvin Hughes Sharpeye secondary surface search, navigation, and helicopter approach radar helikopter dari Inggris. Rupanya HHI hanya menawarkan ini, meskipun itu adalah produk bagus yang bahkan Angkatan Laut Filipina saat ini digunakan pada beberapa kapal kelas Del Pilar.
  4. Radar pencarian udara / permukaan primer Hensoldt TRS-3D Baseline-D 3D buatan Jerman, sistem pengawasan utama kapal. Sebaliknya, PN memilih radar AESA Thales Nederland NS-106 yang lebih baru.
  5. Elisra NS9003 Aquamarine Radar Electronic Support Measures (R-ESM), varian yang disederhanakan mereka dari paket lengkap Aquamarine EW. Ini menggantikan Thales Vigile 100 EW suite yang dikatakan telah ditawarkan meskipun spesifikasi hanya membutuhkan sistem R-ESM.
  6. Sistem peluncuran triple torpedo TLS J + S TLS, senjata anti-kapal selam utama dari fregat.
  7. Tidak diperlihatkan tetapi tampaknya fregat masih belum memiliki peluncur tabung untuk rudal jelajah anti-kapal LIGNex1 SSM-700K C-Star. Diharapkan bahwa peluncur akan dipasang pada saat HHI mengirimkan kapal pada tahun 2020.
  8. Tampaknya peluncur misil MBDA Simbad-RC VSHORAD telah dipasang juga. Kapal memiliki dua peluncur menghadap sisi pelabuhan dan kanan di atas struktur hanggar.

LAPAN Buka Kerja Sama Pengembangan Roket


"Kerja sama dengan mitra luar negeri terutama pada transfer teknologi dan penyediaan bahan yang belum bisa diproduksi di dalam negeri."
Jakarta (ANTARA) - Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengatakan membuka peluang kerja sama dengan berbagai negara mitra untuk pengembangan roket di Indonesia.
Roket RX 450 LAPAN
Roket RX 450 LAPAN 
"Untuk percepatan penguasaan teknologi roket dengan target penguasaan roket bertingkat untuk roket peluncur satelit orbit rendah, LAPAN sedang berupaya menjalin kerja sama dengan negara mitra," kata Thomas saat dihubungi Antara di Jakarta, Jumat (17/5)
Thomas menuturkan kerja sama dengan mitra luar negeri terutama pada transfer teknologi dan penyediaan bahan yang belum bisa diproduksi di dalam negeri.
Menurut Thomas, pengembangan roket tergolong paling sulit, karena teknologi ini tergolong sensitif dan bersifat dual-use, bisa untuk sipil dan militer.
Namun, LAPAN terus berupaya untuk meningkatkan kemampuannya, dimulai dari roket ukuran kecil.
Program roket sipil oleh LAPAN saat ini difokuskan untuk roket sonda untuk keperluan penelitian atmosfer, termasuk untuk mendukung teknologi modifikasi cuaca.
"Roket RX 120 saat ini sudah dianggap cukup stabil. Roket RX 360 sedang ditingkatkan kinerjanya. Roket RX 450 sudah mulai tahap uji terbang," ujarnya.
Sementara, roket pertahanan tetap diteruskan, tetapi itu ranahnya Kementerian Pertahanan.(Martha Herlinawati S)

Minum Bir di Peluncuran 150 Rudal Nuklir, 2 Airmen AS Dihukum


Dua airmen atau penerbang Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) dihukum. Musababnya, mereka ketahuan minum bir beralkohol di pusat kendali peluncuran untuk 150 rudal nuklir di Pangkalan Angkatan Udara F.E. Warren dekat Cheyenne.
Ilustrasi
Ilustrasi 
Perilaku seperti itu berisiko menimbulkan petaka. Jika para penerbang itu mabuk, mereka bisa lepas kontrol dengan mengoperasikan sistem peluncuran rudal nuklir tanpa komando resmi.
Sebuah posting Facebook untuk kelompok Angkatan Udara mengklaim ada tiga penerbang yang tertangkap minum bir Pabst Blue Ribbon (PBR) selama perubahan kode nuklir yang terjadwal.
"Tampaknya ada lelucon di pangkalan tentang kejadian itu dan mereka bahkan memiliki meme yang dikirim untuk kami kirim," tulis sumber di posting Facebook tersebut. "Mereka menganggap PBR sebagai bir resmi untuk Perubahan Kode Rudal Nuklir 2019 di Pangkalan Angkatan Udara F.E. Warren."
Kepala Operasi untuk Urusan Publik Sayap Misil ke-90 Angkatan Udara AS, Joseph Coslett, mengonfirmasi kepada Task and Purpose bahwa insiden itu terjadi pada 14 Mei tetapi hanya melibatkan sersan staf dan seorang penerbang senior.
"Investigasi, termasuk pengakuan penerbang, mengungkapkan keduanya mengonsumsi alkohol saat dalam status tidak bertugas dan tidak dalam kontak, juga tidak memiliki akses ke senjata atau bahan rahasia," kata Coslett, yang dikutip dari New York Daily News, Sabtu (25/5/2019).
"Ini adalah pelanggaran standar yang tidak dapat diterima dan Angkatan Udara meminta penerbang bertanggung jawab atas tindakan mereka," imbuh Coslett tanpa menyebutkan bagaimana keduanya dihukum.
Kurang dari setahun yang lalu, 14 penerbang di pangkalan yang sama ditangkap dan dihukum karena menjatuhkan asam saat tugas.(Muhaimin)

Opini : Diplomasi Viper


Beradu luwes, beradu lincah, bergerak cepat, diam-diam dan berpacu dengan waktu, adalah irama yang sedang diperlihatkan Indonesia dalam diplomasi perdagangannya dengan Amerika Serikat. Sebabnya cuma satu, agar fasilitas yang bernama GSP yang diberikan negara adidaya itu masih bisa diperpanjang nafasnya untuk Indonesia.
Jet Tempur F-16 Viper
Jet Tempur F-16 Viper 
GSP (Generalized System of Preferences) adalah fasilitas kemudahan perdagangan yang diberikan AS untuk negara-negara berkembang dengan cara membebaskan bea masuk ribuan produk negara-negara tersebut. Ada sekitar 3.500 produk ekspor RI yang boleh lenggang kangkung diberikan kemudahan masuk ke AS. Ini sudah berlangsung puluhan tahun.
Nah, pak Donald mulai mendehem neh. Dengan China terang-terangan dan tegas melakukan perang dagang. Maka Indonesia mengantisipasinya dengan melakukan diplomasi perdagangan selama dua tahun terakhir ini dengan Paman Sam. Kita ketahui bahwa sejak Oktober 2017 AS meninjau ulang pemberian fasilitas GSP terhadap 25 negara termasuk Indonesia. Untungnya kita masih punya “kartu remi” yang sangat diperlukan Uak Sam utamanya dalam menghadapi menggeliatnya militer China di Laut China Selatan (LCS).
Maka kartu remi dimainkan Indonesia dengan menerima tawaran Menhan AS untuk membeli sejumlah alutsista berkelas dari Paman Sam. Pengadaan alutsista semacam jet tempur F16 Viper, Hercules seri J dan Apache bermanfaat untuk menyeimbangkan neraca perdagangan kedua negara yang selama ini menguntungkan kita. Artinya tidak lagi dipelototi Trump.
Ini juga seirama dengan rencana strategis pertahanan RI yang akan menambah skadron-skadron tempurnya. Maka penambahan minimal 32 unit jet tempur F16 Blok 70 Viper adalah sebuah langkah cemerlang dan akan terlaksana dalam MEF jilid III. Indonesia juga sudah mendapatkan 8 Helikopter serang Apache dan diprediksi akan menambah 8 unit lagi.
Selain alutsista diatas yang paling sering didengungkan adalah pengadaan 6 pesawat Hercules seri terbaru. Pak Menhan sudah disambut di Pentagon untuk memastikan pembelian pesawat militer angkut berat yang legendaris itu. Program beli ini juga agar AS bisa memberikan kelonggaran untuk pengadaan jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia yang masih tersendat karena DP tidak bisa cair.
Itulah kenyataan yang kita hadapi karena sang adidaya lagi galak-galaknya kepada siapa pun yang mau mengganggu hegemoni Yues’e di segala bidang. Raksasa China aja diajak gelut alias perang dagang, dengan Iran sekarang sedang demam tinggi, Rusia dikenakan sanksi ekonomi ketat, Venezuela diadu domba dan lain-lain.
Untuk kepentingan geo strategis AS di LCS maka Trump memerlukan dukungan Indonesia. Artinya masih ada kekuatan bargaining bagi kita soal GSP tadi. Kita memang lagi butuh peningkatan kualitas dan kuantitas alutsista. Dan karena sudah ditawari juga oleh Menhan AS pada waktu berkunjung ke Jakarta maka tidak eloklah kalau tidak diambil.
Anggaran pertahanan kita tahun depan juga meningkat bagus mencapai 126 Trilyun rupiah. GSP untuk produk ekspor kita ke AS juga masih bisa diperpanjang. Sekalian bisa mencairkan kebuntuan soal pembelian 11 jet tempur Sukhoi SU35 dari Rusia yang terhambat Bank Garansi untuk DPnya. Semua itu bisa dihasilkan dengan model diplomasi perdagangan yang cerdas, lincah dan luwes.
Kita meyakini bahwa kontrak pengadaan Jet tempur F16 Viper, Hercules, Apache akan diselesaikan Oktober tahun ini dan barangnya mulai berdatangan di episode MEF jilid III (2020-2024). Diplomasi Viper membutuhkan gerak lincah luwes dan bergerak cepat diam-diam seperti seekor ular Viper. Karena kita pun bakalan mendapat Viper, jet tempur F16 Blok 70 paling mutakhir, lincah dan mematikan. (Jagarin Pane)
Sumber : FSM

Mengenal Keluarga Pesawat Tempur F-15E Strike Eagle


Dari Perang Teluk, Yaman, hingga Suriah menjadi medan pembuktian keperkasaan jet tempur F-15E Strike Eagle.
Sejak penerbangannya di 1972, McDonell Douglas sebagai pabrikan pertama yang memproduksi F-15 telah melahirkan setidaknya enam varian yang berbeda untuk keperluan negara pembelinya. Apa saja mereka?
 F-15E Strike Eagle
 F-15E Strike Eagle 
F-15QA
Bisa dibilang, Qatar adalah negala yang paling muda dalam mengoperasikan F-15. Mereka baru mulai mendapat persetujuan pembelian F-15 tahun 2016 lalu.
Tak tanggung-tanggung, pemerintah Qatar menggelontorkan 21,2 miliar dolar AS untuk memboyong 72 unit F-15QA bersama sistem persenjataan, suku cadang, serta paket pelatihan.
F-15K
Varian ini dibuat khusus untuk Korea Selatan. Uniknya, bagian badan dan sayap pesawat dibuat langsung di Korea Selatan lewat kontrak offset.
Berkah untuk Korea Selatan karena mereka berhak untuk memproduksi 40% dan merakit 25% bagian F-15K. Bahkan mesinnya juga dibuat oleh Samsung dengan lisensi dari Pratt & Whitney.
Untuk mendapatkan keuntungan sebesar itu, Korea Selatan harus menebus 40 unit F-15 yang mulai diterima tahun 2005. Puas dengan performa F-15K pesanannya, Korea Selatan mulai memborong kembali 21 unit tambahan.
Hingga akhir 2018, Korea Selatan telah mengoperasikan 59 unit F-15K. Rencananya, AU Korea Selatan bakal menerbangkan pesawat ini hingga tahun 2060.
F-15I
Varian yang satu ini khusus dibuat untuk kompatriot terdekat AS, yaitu Israel. Menggunakan mesin Pratt & Whitney F100-PW-229, F-15I di Israel memiliki kode nama Ra'am, yang berarti Guntur.
Varian ini sebenarnya tak jauh beda dengan F-15E milik AS. Tapi seperti pesawat buatan AS lainnya yang dipesan Israel, F-15I juga sudah dimodifikasi dengan fitur yang khusus, terutama di bagian avioniknya.
Selain itu, Israel juga menginginkan agar F-15 miliknya dilengkapi taget pod untuk sharpshooter. Di kemudian hari, Israel menggantinya dengan teknologi LANTRIN.
Saat ini Israel masih aktif menerbangkan 29 unit F-15K.
F-15S/SA
Arab Saudi sebenarnya sudah melirik F-15 sejak awal 1990-an, namun saat itu Kongres AS masih enggan melepas penjualan F-15 ke tanah Arab.
Baru pada pertengahan dekade '90-an Arab Saudi berhasil membawa pulang 72 unit F-15E yang kemudian diberi kode F-15E. Tahun 2007, 65 unit di antaranya menjalani program penggantian mesin dari Pratt & Whitney menjadi mesin General Electric tipe GE F110.
Setelah itu, di awal 2000-an Arab Saudi kembali memesan F-15 dengan seri F-15SA. Seri ini memiliki kendali fly-by-wire yang lebih mutakhir dengan menggunakan radar APG-63(V)3 AESA, sistem perang elektronik digital (DEWS), dan sistem pencarian inframerah.
Saat ini F-15 masih menjadi tulang punggung utama Angkatan Udara Arab Saudi dengan total 60 unit aktif. Satu di antaranya jatuh di Yaman tahun lalu.
F-15SG
Setelah mengkaji selama 7 tahun, akhirnya pada tahun 2005 Singapura menjatuhkan pilihan kepada F-15. Pesawat itu awalnya diberi nama F-15T yang berarti Temasek, namun kemudian berubah menjadi F-15SG.
Tidak hanya membeli pesawat ompong, Singapura memilih untuk memborong sepaket senjata pelengkapnya, seperti AIM-120C, AIM-9X, AGM-154, GBU-38 JDAM, hingga perangkat pengindera malam untuk para penerbangnya.
Berbeda dengan Israel dan Korea Selatan, Singapura lebih memilih menggunakan mesin buatan General Electric F110.
Saat ini Singapura memiliki 40 unit F-15SG. Ini menjadikan F-15 sebagai pesawat tempur terbanyak setelah F-16 sebanyak 60 unit.
F-15SE
Silent Eagle adalah kode nama untuk proyek masa depan F-15 yang digadang-gadang bakal menjadi pesawat Generasi kelima. Boeing sebagai pabrikan Boeing, sejak 2009 lalu sudah mulai mendesain F-15SE dengan bahan yang menyerap radiasi radar.
Fitur siluman juga dibuktikan lewat penempatan seluruh senjata di dalam sayap dan badannya. Namun sayang, hingga saat ini belum jelas kelanjutan proyek prestisius ini. (Remigius Septian)

India Uji Tembak Rudal Jelajah BrahMos dari Jet Tempur Su-30


India mengatakan bahwa rudal jelajah supersoniknya telah lulus uji penting pada hari Rabu 22 Mei ketika rudal tersebut berhasil mencapai sasaran darat setelah ditembakkan dari jet tempur.
Kementerian Pertahanan India mengatakan, jet tempur Su-30 MKI yang dikonversi secara khusus berhasil menembakkan rudal berbobot 2,5 ton itu, yang memiliki jangkauan sekitar 300 km (185 mil).
India Uji Tembak Rudal Jelajah BrahMos
India Uji Tembak Rudal Jelajah BrahMos  
"Peluncuran dari pesawat itu berjalan mulus dan rudal mengikuti lintasan yang diinginkan sebelum langsung mengenai sasaran darat," kata sebuah pernyataan Kementerian Pertahanan India.
Tidak disebutkan di mana pengujian tersebut dilakukan atau memberikan perincian lain selain dari mengatakan modifikasi mekanik, elektrik, dan perangkat lunak yang "sangat rumit" telah dilakukan pada jet tempur asal Rusia itu.
Pengujian BrahMos pertama pada sasaran laut dilakukan pada bulan November 2017.
India mengatakan bahwa mereka adalah negara pertama "yang berhasil menembakkan rudal serang permukaan 2,8 Mach dari kategori ini ke sasaran laut."
Pengujian hari Rabu lalu adalah peluncuran senjata yang kedua secara live, kata pihak kementerian.
"Rudal BrahMos memberikan Angkatan Udara India kemampuan yang sangat diinginkan untuk menyerang dari jarak yang jauh pada sasaran apa pun di laut atau darat dengan akurasi tepat pada siang atau malam hari dan dalam segala kondisi cuaca," kata pihak kementerian.
India mengembangkan rudal supersonik Brahmos dengan Rusia, dan menurut laporan media, mereka ingin segera mulai menjualnya ke luar negeri.
BrahMos adalah rudal jelajah dengan mesin ramjet berbahan bakar cair jarak menengah yang dapat diluncurkan dari laut, darat dan udara. Rudal ini merupakan rudal dua tahap, dengan tahap pertama berbahan bakar padat untuk membawanya ke kecepatan supersonik. Rudal yang diluncurkan permukaan dapat membawa hulu ledak 200 kg, sedangkan varian yang diluncurkan melalui udara dapat membawa muatan 300 kg.
Rudal diproduksi di Hyderabad oleh BrahMos Aerospace, sebuah perusahaan patungan antara DRDO India dan NPO Mashinostroeyenia Rusia. BrahMos dinamai dari nama sungai Brahmaputra di India dan Moskva di Rusia.
Pejabat dari perusahaan tersebut mengatakan pada acara internasional baru-baru ini bahwa diskusi tentang penjualan sedang dilakukan dengan sejumlah negara.
Pada bulan Desember 2016, Jane melaporkan bahwa India dan Rusia telah sepakat untuk melakukan "pekerjaan pengembangan teknis bersama" untuk menambah jangkauan rudal melampaui 292 km, setelah India bergabung dengan Missile Technology Control Regime (MTCR).
Varian jarak jauh baru dengan jangkauan "jauh di atas 400 km" telah diuji pada Maret 2017, dan pada bulan November, rudal tersebut berhasil diuji coba dari jet tempur IAF Su-30 MKI.
Pada bulan Maret 2018, India berhasil menguji coba sebuah BrahMos yang dilengkapi dengan seeker buatan dalam negeri, dan meluncurkannya tiga kali lagi tahun lalu, termasuk uji bulan Juli dari peluncur otonom mobile dalam “kondisi cuaca ekstrem” sebagai bagian dari service life extension.
Pada bulan Februari, seorang pejabat industri pertahanan India mengatakan, BrahMos-A akan memulai uji coba pengembangan atau sertifikasi finalnya dengan IAF pada kuartal ketiga tahun ini, termasuk peluncuran tersertifikasi terhadap sasaran laut dan darat, lapor media Diplomat.
India dan Rusia dilaporkan sedang mempersiapkan rencana untuk versi rudal jarak jauh yang dapat terbang hingga Mach 5, atau 6.125 km (3.800 mil) per jam.(Angga Saja - TSM)

General Dynamics Luncurkan Senapan Mesin Medium Ringan Versi Baru


General Dynamics Ordnance and Tactical Systems, anak perusahaan dari General Dynamics, telah meluncurkan versi baru dari senapan mesin ringan buatannya, yang disebut sebagai Lightweight Medium Machine Gun (LWMMG) pada acara Special Operations Forces Industry Conference (SOFIC).
Lightweight Medium Machine Gun
Lightweight Medium Machine Gun  
Anak perusahaan General Dynamics tersebut mengumumkan di akun Twitternya bahwa: [Senapan tersebut] "Diuji oleh prajurit, untuk prajurit, dan dipamerkan di SOFIC stan 904 untuk pertama kalinya."
LWMMG next generation, setelah mengalami sejumlah besar modifikasi pada komponen internal dan eksternalnya, memberi para penempur keunggulan yang berbeda dalam pertempuran jarak jauh dan jarak dekat. Dimaksudkan untuk mengisi celah antara senjata kaliber 7,62mm dan .50, LWMMG menggunakan amunisi .338 Norma Magnum yang sangat efisien yang memberikan akurasi dan daya bunuh yang tak tertandingi sekaligus memperluas ruang tempur pasukan hingga 1.700 meter.
Presentasi perusahaan mencatat pada jarak 1.000 meter, LWMMG mampu menembus body armor Level III dan mampu melumpuhkan kendaraan non lapis baja dengan menghantarkan lebih dari 1.900 kaki pound energi ke sasaran, lebih dari lima kali efek terminal dari amunisi 7,62mm NATO.
Dengan berat kurang dari 24 pound (10,88 kg) dan menampilkan popor yang sepenuhnya dapat dipendekkan (collapsible), LWMMG menawarkan mobilitas dan portabilitas yang unggul dalam operasi dipasang pada kendaraan atau dibawa oleh pasukan.
LWMMG dioperasikan oleh gas, long-stroke piston dengan rotating bolt yang terletak di bawah laras dan ditembakkan dari open bolt. Senapan mesin ini menggunakan teknologi "Short Recoil Impulse Averaging", yang dipatenkan oleh General Dynamics dan sebelumnya digunakan pada senapan mesin XM806 mereka, di mana seluruh laras, ekstensi laras, sistem gas, dan bolt assembly melakukan recoil di dalam housing luar senapan.
Menurut perusahaan, portabilitas dan integrasi optik standar LWMMG yang dikombinasikan dengan koefisien balistik yang unggul dari amunisi.338 Norma Magnum memberikan kemampuan yang melebihi dibandingkan dengan semua senapan mesin portabel yang dikenal di dunia. (Angga Saja - TSM)

Rusia Siap Bangun 12 Frigat Bersenjatakan Rudal Kalibr, Onyx, dan Zircon


Rusia berencana membangun 12 frigat Proyek 22350M yang dimodernisasi, yang masing-masing akan memuat hingga 48 rudal jelajah Kalibr, Onyx, dan Zircon. Demikian informasi tersebut dilaporkan media Rusia pada pertengahan bulan ini, mengutip sumber-sumber di industri pertahanan dalam negeri.
“Kapal utama dalam seri ini direncanakan akan diserahkan kepada Angkatan Laut Rusia pada 2027,” kata seorang sumber di industri pembuatan kapal.
Laksamana Gorshkov
Laksamana Gorshkov 
Prototipe teknis kapal, dengan berat benaman 7.000 ton, akan diluncurkan sebelum akhir 2019. Setiap kapal akan memiliki ruang-ruang peluncuran yang dapat menampung tiga jenis rudal berbasis laut paling canggih: Kalibr, Onyx, dan Zircon.
“Secara total, ada 12 frigat yang akan dibangun, 11 di antaranya akan diserahkan ke AL Rusia di bawah program persenjataan negara yang baru,” kata sang narasumber.
Selain itu, kapal perang ini akan memiliki sistem pertahanan rudalnya sendiri, Poliment-Redut, dengan kapasitas amunisi hingga seratus rudal, serta senjata antikapal selam dan torpedo.
Armada Baltik Rusia sudah memiliki kapal Proyek 22350 (tetapi tanpa huruf ‘M’, yang berarti ‘dimodernisasi’), Laksamana Gorshkov.
“Itu kapal yang bagus dan sekarang para insinyur harus menemukan cara untuk memodernisasikannya. Pertama-tama, senjatanya sebagaimana yang disebutkan di atas, harus ditingkatkan kapasitasnya menjadi 48 rudal. Selain itu, rangkaian kapal ini dan selanjutnya akan dilengkapi dengan sebuah sistem kendali tembak otomatis universal,” ujar mantan analis militer surat kabar Izvestia, Dmitry Safonov, kepada Russia Beyond.
Safonov menambahkan, amunisi kapal saat ini hanya terdiri dari 16 rudal, sementara dimensinya hanya sekitar setengah dari angka yang ditargetkan setelah dimodernisasi (saat ini berat benaman kapal-kapal Proyek 22350 hanya 4.500 ton).
Rudal Kalibr Rusia setara dengan rudal Tomahawk AS. Singkatnya, ini adalah rudal jelajah berbasis laut yang terbang menuju sasaran di sepanjang jalur penerbangan yang “memeluk medan” (terbang dengan sangat rendah dan secara otomatis menjaga ketinggian relatif konstan di atas permukaan -red.) dan memiliki lintasan yang tak dapat diprediksi sistem pertahanan rudal. Saat ini, rudal semacam ini adalah salah satu senjata paling efektif dan mematikan yang digunakan dalam pertempuran melawan militan.
Rudal-rudal ini memiliki jangkauan hingga 2.600 km dan dalam 10 - 15 tahun mendatang, perkembangan teknologi akan semakin canggih sehingga sistem berpresisi tinggi ini (rudal Kalibr menyasar target dengan akurasi hingga 30 meter) bisa dilengkapi hulu ledak yang memiliki kekuatan setara dengan senjata nuklir.
Dengan kata lain, ini akan menjadi senjata bermanuver dan berpresisi tinggi yang tidak akan membuat awan radioaktif atau mencemari medan target.
Sementara itu, Zircon adalah rudal pertama di dunia yang terbang dengan kecepatan hipersonik, yaitu sekitar 2,5 km per detik (delapan kali lebih cepat dari kecepatan suara) dan memiliki jangkauan hingga 500 km.
Zircon adalah rudal antikapal dan, tidak seperti Kalibr, secara khusus diciptakan untuk menghancurkan kapal musuh.
Hingga kini tidak ada negara lain selain Rusia yang memiliki rudal hipersonik. Selain itu, belum ada langkah-langkah balasan yang efektif terhadap rudal-rudal ini.

Mohamad Sabu: Jangan Berspekulasi Tentang Masalah Pembelian Helikopter MD-530G, Mengganggu Proses Investigasi


Menteri Pertahanan Malaysia Mohamad Sabu mengatakan Komite Nasional untuk Masalah Pemerintahan, Pengadaan dan Pembiayaan (JKSTUPKK), yang diketuai oleh mantan Auditor Jenderal Tan Sri Ambrin Buang, masih menyelidiki masalah-masalah pengadaan dan keuangan Departemen Pertahanan.
Helikopter MD-530G
Helikopter MD-530G 
Dalam sebuah pernyataan kemarin, Mohamad Sabu mengingatkan pihak-pihak yang tidak terkait untuk tidak berspekulasi tentang masalah yang sedang diselidiki oleh JKSTUPKK seperti pembelian helikopter karena akan mengganggu proses penyelidikan.
"Seperti investigasi JKSTUPKK mengenai masalah pertukaran lahan sebelumnya, Kementerian Pertahanan akan memperluasnya ke Kabinet sebelum melaporkan ke pihak berwenang seperti Komisi Anti-Korupsi Malaysia (MACC) dan Polisi Kerajaan Malaysia (PDRM) untuk tindakan lebih lanjut," katanya.
Sebelumnya, portal berita melaporkan bahwa pembelian helikopter militer MD-530G senilai RM300 juta yang dilakukan selama pemerintahan BN belum diterima oleh Angkatan Bersenjata Malaysia (ATM) hingga saat ini.
Sebuah laporan yang mengutip sumber itu menyatakan bahwa enam helikopter tempur udara ringan MD-530G buatan McDonnel Douglas AS, , dipesan ketika Datuk Seri Hishamuddin Tun Hussein menjadi Menteri Pertahanan.

Jet Tempur AV-8B Harrier Milik Korps Marinir AS (USMC) Jatuh di North Carolina


Sebuah pesawat jet penyerang AV-8B Harrier milik Korps Marinir Amerika Serikat (AS) jatuh di North Carolina pada hari Senin waktu setempat. Pilot pesawat yang berbasis darat itu terlontar keluar dan mengalami cedera.
Pilot dibawa ke Pusat Medis North Carolina. Kondisi luka yang diderita belum diketahui.
Jet Tempur AV-8B Harrier Jatuh
Jet Tempur AV-8B Harrier Jatuh 
Insiden kecelakaan pesawat tempur ini terjadi di dekat Havelock, North Carolina, tak jauh dari Cherry Point Air Station Korps Marinir.
Menurut rilis Korps Marinir AS, yang dilansir Selasa (21/5/2019), tidak ada korban sipil atau kerusakan properti di lokasi kecelakaan.
Kru Departemen Sheriff Havelock adalah yang pertama tiba di tempat kejadian, diikuti oleh anggota Sayap Pesawat Marinir Kedua.
"Situs kecelakaan telah ditutup oleh para pejabat militer," lanjut rilis Korps Marinir. "Penyebab kecelakaan saat ini sedang diselidiki."
Para pejabat belum bersedia menanggapi pertanyaan tentang bagaimana kecelakaan itu terjadi, skuadron yang ditugaskan, apakah ada indikasi awal mengenai apa yang menyebabkannya jatuhnya jet penyerang itu.
Pekan lalu, seorang pilot Angkatan Udara AS terlontar dari jet tempur F-16 sebelum pesawat menabrak sebuah gudang di South California. Hantaman pesawat tempur itu menyebabkan 11 orang terluka. Jet tempur F-16 pada saat itu sedang dalam misi pelatihan. (Muhaimin)

Pakistan Siap Terima Kedatangan Korvet Pertama dari Damen Belanda


Kapal perang jenis korvet pertama dari dua yang dipesan Angkatan Laut Pakistan (PN), diluncurkan di pembuat kapal Belanda, Damen di Galati, Rumania. Peluncuran perdana kapal ke air dilaksanakan pada 17 Mei 2019 di Rumania. Turut hadir Laksamana Madya Abdul Aleem dari Pakistan.
  Damen OPV2400 Pakistan
Damen OPV2400 Pakistan 
Angkatan Laut Pakistan memesan dua korvet pada 2017. Kapal pertama diharapkan bergabung dengan Armada PN pada akhir tahun ini dan yang kedua akan dikirimkan pada pertengahan 2020.
Laksamana Abdul Aleem menyatakan bahwa kedua kapal akan bertindak sebagai pengganda kekuatan dalam meningkatkan kemampuan Angkatan Laut dalam melindungi perbatasan laut.
Akan lebih banyak fleksibilitas bagi AL Pakistan dalam melaksanakan inisiatif untuk melakukan patroli Keamanan Maritim Regional independen di Wilayah Samudera Hindia.
Korvet ini digambarkan Damen sebagai Kapal Patroli Lepas Pantai (OPV), dengan displacement sekitar 2.300 ton. Menurut spesifikasi Damen, kapal yang dikembangkan dari korvet Damen OPV2400 ini memiliki panjang 90 meter, mengakomodasi 90 awak termasuk dek penerbangan dan hanggar helikopter.
Korvet ini mampu menjalankan berbagai modul misi. Seperti ASW, MCM, UAV/ USV, dukungan selam, dan fasilitas rumah sakit. Sistem senjata mencakup satu senjata utama kaliber 76mm dan senapan mesin sekunder. (Beny Adrian)

HQ-016 Quang Trung, Frigat Gepard Class Buatan Rusia Milik AL Vietnam


Pameran Maritim dan Pertahanan IMDEX 2019 yang berlangsung pada 14 - 16 Mei di Changi, Singapura. negara tetangga Vietnam, ikut memamerkan langsung kapal perang andalannya, HQ-016 Quang Trung. Berbeda dengan Sampari Class, Quang Trung adalah frigat dengan tonase standar 1.500 ton yang kemampuannya banyak disandingkan dengan frigat Martadinata Class TNI AL.
HQ-016 Quang Trung
HQ-016 Quang Trung 
Quang Trung adalah satu dari enam frigat Gepard Class yang saat ini sudah keseluruhan memperkuat arsenal AL Vietnam sejak tahun 2011 (HQ-011 Dinh Tien Hoang). HQ-016 Quang Trung sendiri dibangun oleh galangan Zelenodolsk Plant Gorky di Rusia, dan baru dioperasikan sejak 6 Februari 2018 setelah sebelumnya kapal ini diluncurkan pada 26 Mei 2016. Frigat Gepard Class (Project 1166.1) meski dibangun oleh Rusia, namun pengguna terbesarnya jusru Vietnam. AL Rusia kini mengoperasikan dua unit Gepard Class untuk memperkuat armada di Laut Kaspia.
Untuk saat ini, tingkat kesiapan tempur Gepard Class AL Vietnam jauh di atas frigat Martadinata Class TNI AL, pasalnya Martadinata Class masih belum tuntas dalam proses instalasi persenjataan. Seperti HQ-016 Quang Trung yang dipamerkan Vietnam di IMDEX 2019, sudah terbilang full armament dengan senjata andalan rudal anti kapal Kh-35E. Rudal ini digadang dengan jangkauan 200 km ini dipercaya dapat menghancurkan sasaran kapal dengan bobot 5.000 ton.
Jika frigat Martadinata Class menempatkan meriam rapid gun OTO Melara 76mm di haluan, begitu juga Gepard Class dilengkapi meriam AK-176M kaliber 76 mm. Dalam kesiapan tempur, dapat dibawa 120 munisi, dimana jarak tembak meriam ini mencapai 10 kilometer.
Untuk peran pertahanan udara (hanud) jarak dekat, ada dua kanon reaksi cepat (Close In Weapon System/CIWS) AK-630 kaliber 30 mm. Sistem CIWS dipasok oleh Palma anti-aircraft gun system dengan teknologi Sosna-R SAM, sementara sistem pengendali temnakan 3V-89. Palma dapat melindungi kapal terhadap seragan rudal jelajah dan bom udara berpemandu. Itu saja belum cukup, di frigat ini ada rudal hanud Osa-M yang sistem kendalinya penembakannya dipasok oleh Palma.
Dalam menghadapi aspek peperangan bawah air, Gerpard Class dilengkapi two twin peluncur torpedo kaliber 533 mm dan tersedia roket anti kapal selam legendaris RBU-6000. Frigat ini juga membawa 12 - 20 ranjau laut yang mekanismenya dijatuhkan ke laut lewat dua mine rails yang ada di buritan.
Frigat dengan sokongan mesin berteknologi combined diesel or gas (CODOG) ini dapat melesat dengan kecepatan 28 knots. Dengan bahan bakar penuh, frigat dengan panjang 102,14 meter dan lebar 13,09 meter ini dapat mengrung sejauh 7.000 kilometer pada kecepatan jelajah 10 knots. Diawaki 98 personel, kapal perang kebanggaan Vietnam ini dapat berlayar terus-menerus selama 15 hari. (Bambang Anggoro)

HH-60W Combat Rescue Helicopter, Sang Pengganti Pave Hawk di AU AS


HH-60W Combat Rescue Helicopter (CRH) buatan Sikorsky (Lockheed Martin) berhasil melaksanakan penerbangan perdana di fasilitas West Palm Beach, Florida, Amerika Serikat pada 17 Mei 2019. Heli ini disiapkan guna menggantikan peran HH-60G Pave Hawk di jajaran Angkatan Udara Amerika Serikat (AU AS/USAF) yang telah digunakan sejak 1982.
Penerbangan perdana HH-60W dilaksanakan selama 1,5 jam termasuk hovering, manuver kecepatan rendah, dan terbang lintas di atas landasan. Lockheed Martin dala keterangannya mengatakan, heli selanjutnya akan menjalani serangkaian uji terbang. Pihak pabrikan menyediakan empat prototipe untuk diuji mulai akhir musim panas tahun ini.
HH-60W Combat Rescue Helicopter
HH-60W Combat Rescue Helicopter 
AU AS rencananya membutuhkan 113 unit HH-60W. Penentuan lanjut tidaknya heli ini masuk jalur produksi, kemungkinan akan diputuskan pada September 2019. Hingga saat ini masih ada beberapa hal terkait teknis heli yang masih harus diuji dan tentunya disertifikasi.
Bicara tentang HH-60W, heli ini sejatinya masih berasal dari keluarga besar heli ‘Elang Hitam’. Basisnya diambil dari UH-60M Black Hawk yang sudah digunakan di jajaran Angkatan Darat AS (US Army).
Sejumlah fitur turut melengkapi HH-60W CRH. Di antaranya radar yang ditempatkan di bagian hidung serta turet kamera elektro optik dan infra merah. Ada juga AN/APR-52 radar warning receiver (RWR), perangkat pendeteksi datangnya ancaman.
Di bagian kabin, fitur yang turut disematkan adalah kursi awak dan penumpang yang mampu menyerap energi hentakan. Lalu sel tangki bahan bakar dengan kapasitas dua kali lebih besar dibanding pada UH-60M.
Sebagai heli SAR Tempur, HH-60 dilengkapi dudukan senjata di masing-masing bagian samping heli. Senjata dioperasikan oleh dua gunner dengan pilihan senjata meliputi senapan mesin putar enam laras M134 Minigun kaliber 7,62 mm maupun senapan mesin GAU-18/A atau GAU-21/A, keduanya kaliber 12,7 mm.
Menelusuri sejarahnya ke belakang, keinginan AU AS untuk memiliki heli CSAR (SAR Tempur) penerus HH-60G Pave Hawk sebenarnya telah diinisiasi di awal tahun 2000-an. Kala itu AU AS menyosialisasikan CSAR-X yang tidak lain adalah program pembuatan heli untuk mengganti HH-60G. Kompetisi pun digelar.
Boeing dengan rancangan HH-47 (varian CSAR dari CH-47 Chinook) di tahun 2006 sempat dinyatakan sebagai pemenang. Namun keputusan itu direvisi setelah adanya protes dari Sikorsky dan Lockheed Martin.
Tahun 2012 AU AS menginisiasi sendiri program CRH. Namun, ini pun tak berjalan mulus dan sempat dibatalkan beberapa kali karena terkendala pemotongan anggaran. Dua tahun kemudian, 2014, USAF akhirnya memilih Sikorsky dan memberikan kontrak untuk pembuatan prototipe HH-60W.
Bersamaan dengan itu, armada Pave Hawk makin uzur dan mulai menunjukkan gejala-gejala kelelahan struktural. Kebutuhan untuk heli CSAR pun terbilang cukup mendesak di AU AS.
Dipilihnya HH-60W oleh USAF, tidak serta merta heli ini akan mulus masuk ke jalur produksi. Walaupun tampaknya, AU AS memang lebih sreg dengan heli keluarga Black Hawk.
Seperti disinggung di atas, HH-60W masih harus menjalani berbagai uji, baik itu teknis maupun sistem.
Pengujian sistem jaringan tautan data (Link 16), RWR, rescue hoist, dudukan senjata, sel tangki bahan bakar, lapisan baja, maupun kursi awak heli masih harus dinyatakan sesuai persyaratan.
Untuk tangki bahan bakar misalnya, masih dinilai terlalu membebani bobot heli. Demikian juga dengan sistem proteksi dan temperaturnya, dipertanyakan sudah sesuai atau belum.
Lalu mengenai lapisan baja pelindung di bagian kokpit khususnya perlindungan bagi pilot dan kopilot termasuk hal yang dipertanyakan.
Secara umum, tantangan-tantangan itu harus dijawab oleh Sikorsky/Lockheed Martin. AU AS sebagai penggagas dan calon pengguna CRH, sangat berharap dapat memperoleh heli SAR Tempur yang tangguh dan seperti yang diharapkan.
Selain ketangguhan, kriteria besar yang dicantumkan USAF untuk heli penerus Pave Hawk ini adalah berkemampuan terbang lebih jauh, terbang lebih cepat, dan berkapasitas lebih besar.
Sementara itu, Lockheed Martin di lamannya menuliskan tagline HH-60W “Whiskey” ini sebagai “Proven Design. Long Range, Survivable And Lethal”. A New H-60 For The Most Demanding Missions. (Roni Sontani)

Diam-Diam, Indonesia Pesan 32 Unit F-16 Viper dari AS?


Asia Times (20/5/19) memberitakan bahwa Indonesia diam-diam sedang melakukan pendekatan kepada Amerika Serikat untuk membeli 32 unit jet tempur F-16 Viper dari Amerika AS, yang kurang lebih akan cukup untuk memperkuat 2 skadron udara tempur sergap.
F-16 Viper
F-16 Viper  
Di satu sisi, pengadaan 32 jet tempur ini akan membantu memenuhi MEF (Minimum Essential Force) Tahap 2 yang digagas Kementerian Pertahanandan TNI, namun dalam waktu bersamaan menggambarkan keputusan pemerintah yang agak ‘out of character’ mengingat selama ini yang santer diberitakan adalah pengadaan jet tempur Sukhoi Su-35 dari Rusia.
Namun pengadaan F-16 dalam jumlah besar tersebut tampaknya didorong oleh faktor Indonesia yang berupaya mempertahankan status GSP (Generalized Scheme of Preferences) dalam perdagangan dengan Amerika Serikat.
Status GSP adalah fasilitas yang diberikan oleh Amerika Serikat kepada negara mitra dagangnya. GSP sendiri memberikan pembebasan bea masuk yang diberikan dengan pertimbangan bahwa negara mitra AS tersebut kondisinya miskin dan terbelakang.
Sejauh ini, Indonesia menikmati GSP untuk 124 jenis komoditi. Dari dalam negeri AS, sudah banyak suara yang meminta agar Indonesia dicabut fasilitas GSP-nya karena dinilai RI sudah cukup maju, sementara itu terjadi defisit neraca perdagangan Indonesia dan AS yang timpang di sisi Paman Sam.
Indonesia sendiri tentu saja tidak bisa kehilangan nilai ekspor ke Amerika Serikat yang cukup besar.
Salah satu strategi yang diterapkan bisa dengan membeli jet tempur F-16, yang harganya cukup mahal namun tidak akan merusak perekonomian dalam negeri. Pun pengadaannya bisa dengan skema FMS (Foreign Military Sales) atau dengan commercial line. (Aryo Nugroho)
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak bertanggung jawab atas kesalahan nama, data, dan isi artikel sebagaimana tertera.

Story: Ketika SR-71 Blackbird Dibuntuti MiG-25 Foxbat: Bagaimana Mungkin Pilot Soviet Gagal


Satu hari, Desember 1976, langit begitu cerah di atas Pulau Okinawa, Jepang. Bagi Kolonel (Pur) Richard Graham, itulah hari terbaik untuk menerbangkan SR-71 Blackbird dengan RSO (Reconnaissance Systems Officer) Don Emmons yang duduk di bangku belakang.
Saat itu mereka menjalankan misi khusus pengintaian dan mengumpulkan data intelijen di wilayah fasilitas nuklir dan sejumlah pangkalan besar kapal selam nuklir Uni Soviet. Lokasi yang akan diendus berada di ujung selatan Semenanjung Kamchatka, dekat kota Petropavlovsk yang selanjutnya disingkat Petro.
SR-71 Blackbird
SR-71 Blackbird  
Jarak dari Okinawa ke Petro sekitar 2.400 mil, yang mengharuskan sekali pengisian bahan bakar di udara di atas Samudera Pasifik untuk sekali jalan. Tiga pesawat tanker KC-135Q juga sesuai jadwal.
Richard membawa SR-71 bermanuver untuk memasuki posisi terhubung dengan tanker. Operator boom memberi lampu hijau bahwa ia sudah siap menuju ke posisi pengisian. Begitu boom tersambung, saat bersamaan pula kedua pesawat bisa saling tersambung melalui sistem boom-interphone. “You’re tanking gas,” ujar operator boom melalui radio. Sebanyak 80.000 pon bahan bakar JP-7 mengalir ke tangki SR-71.
Kemudian Richard membumbung ke ketinggian 71.000 kaki.
Begitu berada di ketinggian 60.000 kaki, pesawat berada pada rute yang telah diplot. Mission planner bekerja sangat apik memetakan jalur darat yang akan diintip. Ketelitiannya diperlukan agar sensor canggih yang dibawa pesawat bekerja efektif mengumpulkan data yang diinginkan Pentagon.
Penerbangan direkam setiap tiga detik secara elektronik. Jika melenceng dari black line (istilah ground track di peta), secara otomatis akan dibatalkan. Dengan karakternya yang rumit dan misi berbahaya, SR-71 bukanlah pesawat yang bisa diterbangkan oleh pilot jagoan (hot shot) yang mau ugal-ugalan. “Anda harus memiliki sikap mental dan kedisiplinan tinggi untuk terbang secara presisi pada jalurnya serta ketinggian tertentu sesuai jumlah bahan bakar. Jika terbang terlalu tinggi, Anda tidak akan bisa membuat putaran kedua. Sebaliknya jika terlalu rendah, bahan bakar tidak akan cukup untuk bisa menyelesaikan misi,” urai Richard.
Pesawat mempertahankan ketinggian di 71.000 kaki, ketinggian normal untuk terbang jelajah dengan kecepatan Mach 3. Pada ketinggian ini langit sangat cerah dengan jarak pandang lebih 300 mil. Pesawat tepat di jalurnya menuju Semenanjung Kamchatka. Setelah 20 menit terbang dengan Mach 3, panas permukaan badan pesawat sudah mencapai sekitar 500-600 derajat Fahreinhet. Dengan kata lain bisa diartikan bahwa pesawat dalam kondisi sangat oke untuk diajak meneruskan misi.
Dibuntuti MiG-25
Memasuki wilayah sensitif, Richard meningkatkan kewaspadaan. Segala sesuatu di luar perkiraan bisa terjadi. Bisa dengan tiba-tiba pesawat pencegat Soviet berada di sebelah, atau tembakan rudal permuaan ke udara (SAM).
Salah satu yang mereka monitor adalah frekuensi radio HF untuk mendengarkan informasi penting. Jika sistem reconnaissance nasional lainnya merasa SR-71 keluar dari black line, kru menerima pesan peringatan melalui kode rahasia di HF yang berisi perintah untuk memeriksa-ulang sistem navigasi.
Terbang di wilayah udara sensitif mengharuskan penerbang men-set pesawat pada batas tertinggi kemampuannya, disebut tactical limits. Pesawat harus bisa sewaktu-waktu diajak berlaga.
Memasuki wilayah udara Soviet, di ketinggian sekitar 76.000 kaki, Richard mengalihkan pandangan ke kiri. Alangkah kagetnya ketika melihat tiga jet tempur Soviet terbang searah di bawahnya. Sangat tidak mungkin melihat keberadaan ketiga pesawat Soviet ini dari ketinggian terbang, jika tidak ada jejak asap (contrails) yang memungkinkannya terlihat karena cerahnya langit.
Richard mencoba menahan diri untuk tidak mengatakannya kepada Don. Ia biarkan Don tahu sendiri. Kokpit Don dilengkapi seabrek peralatan elektronik pengacak canggih yang tinggal diaktifkan jika terancam.
SR-71 mulai mendekati pesawat Soviet dengan kecepatan Mach 3. Ketika jarak mereka terpaut 100 mil, tiba-tiba jet tempur Soviet bermanuver dengan posisi langsung mengarah ke SR-71. ”Saya tidak terlalu kaget. Begitu saya tahu jejak asapnya hilang, saat itu saya tahu mereka mulai mengaktifkan afterburner dan bersiap terbang supersonik. Pastinya untuk mengintersep. Sepertinya mereka sudah terbang Mach 4 atau 5, yang dalam waktu kurang dua menit pasti akan menghampiri kami. Saya sangat khawatir, karena saya tahu karakter pilot-pilot Soviet yang bisa jadi akan menembak kami atau mungkin sengaja memancing emosi kami untuk head on dengan mereka,“ ujar Richard.
Tanpa adanya jejak asap, sulit bagi Richard mendeteksi. Tapi ia yakin sedang diburu. Meski dalam kondisi terancam, ia tetap membawa SR-71 terbang pada black line dan meminta Don mengaktifkan view sight untuk mengetahui posisi pesawat Soviet.
Mereka pasti akan lewat di bawah SR-71. Don tiba-tiba buka suara di radio. “Itu yang nomor 1... di sana, nomor 2.... di sana, nomor 3.“ Don bilang bahwa ketiga jet tempur Soviet bermanuver dengan cara berpencar ke tiga arah. Richard berusaha menghindari petaka, meski dalam situasi seperti ini Anda tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi.
Selintas Richard teringat kejadian 6 September 1976, ketika pilot Soviet Letnan Viktor Belenko mendaratkan MiG-25 Foxbat di Jepang. Tak lama kemudian, Belenko membeberkan kisah seorang pilot Soviet yang frustasi berusaha keras menembak jatuh sebuah SR-71.
Kata Belenko, “Pesawat intai Amerika, SR-71, sedang berputar-putar di atas pantai, berusaha tetap di luar wilayah udara Soviet sambil memotret ratusan mil daratan dengan kamera samping. Aksi SR-71 ini memancing Soviet untuk mengirim MiG-25, meski Foxbat tidak akan bisa mencapai ketinggian SR-71.
Soviet memiliki master plan untuk mengintersep SR-71 dengan cara menempatkan satu MiG-25 di depan SR-71 dan satu lagi di bawah. Begitu SR-71 melewati mereka, saatnya melepaskan rudal. Namun rencana ini tidak pernah terjadi. Pasalnya komputer Soviet masih sangat primitif dan tidak ada cara untuk menuntaskan misi seperti ini.
Kenapa? Pertama, SR-71 terbang terlalu tinggi dan terlalu cepat. MiG-25 jelas tidak bisa mencapai kemampuan ini, apalagi untuk menangkap tangan SR-71.
Kedua, rudal yang disiapkan jadi tidak berguna digunakan pada ketinggian di atas 27.000 m (88.500 kaki). Kalaupun MiG-25 mampu mengejar SR-71, rudal-rudal yang ada tidak akan sanggup menyentuh SR-71. Andai pun rudal itu ditembakkan, sistem pemandunya tidak akan mampu mengatur secara cepat untuk mencapai kecepatan tinggi.
Kisah-kisah ini selintas menyergap benak Richard. Ada rasa khawatir namun juga keyakinan berdasar penuturan Belenko. Bahwa ketiga MiG-25 tidak akan bisa mengintersep. Meski begitu, ia tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang bisa terjadi.
SR-71 melanjutkan misi ke Petro setelah bayang-bayang ketiga MiG-25 menghilang. Sepertinya mereka, persis cerita Belenko, putus asa membuntuti SR-71. Di Petro, mereka kembali menjalankan misi mengumpulkan data intelijen, lalu kembali ke black line untuk terbang ke Samudera Pasifik. ”Di sini kami sudah janjian dengan pesawat tanker untuk kembali air refueling dan terbang ke Okinawa,“ kata Richard.
Beberapa hari kemudian, mereka diinformasikan bahwa pesawat yang mencoba mengintersep waktu itu adalah MiG-25.
”Saya kaget, namun sekaligus heran, bagaimana mungkin pilot Soviet itu gagal. Saya juga kagum, bagaimana bisa mereka tahu kami ada di atas mereka namun mereka tidak mampu melakukan apapun terhadap kami. Bagi saya, sekali lagi terbukti bahwa SR-71 Blackbird adalah pesawat tak tertandingi,” kenang Richard (Sumber: Majalah Angkasa, Mei 2008)

Radar Acak