Australia Pertimbangkan Gabung Aksi Militer AS di Iran


Perdana Menteri Australia, Scott Morrison mengatakan, pihaknya belum diminta oleh Amerika Serikat (AS) untuk ambil bagian dalam aksi militer di Iran. Meski begitu, dikatakan oleh Morrison, Australia mengamati perkembangan di Timur Tengah dengan cermat.
Scott Morrison
Scott Morrison 
"Tidak ada permintaan dan pada tahap ini saya pikir masalah itu agak terlalu dini tapi kami jelas khawatir," kata Morrison.
"Kami jelas akan bekerja sama tetapi permintaan seperti itu akan ditangani dengan cara normal," imbuhnya seperti dikutip dari The Guardian, Sabtu (29/6/2019).
Ditekan tentang apakah dia akan mengesampingkan dukungan militer Australia, Morrison mengatakan: "Kami akan menangani permintaan dari sekutu seperti Amerika Serikat secara serius dan berdasarkan kemampuannya."
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Mike Pompeo, telah meminta Australia untuk memperkuat sikapnya terhadap Teheran dan memainkan peran kunci dalam "koalisi global" baru melawan rezim.
Sebelum KTT G20 di Osaka, Pompeo meminta Australia untuk bergabung dengan apa yang dia sebut sebagai "koalisi global" melawan Iran, yang pekan lalu menembak jatuh pesawat pengintai AS.
Ketegangan antara AS dan Iran berada pada titik terburuk sejak Gedung Putih menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015. Penarikan diri ini dibarengi dengan sejumlah sanksi terhadap Iran.
Pada bulan Mei, Presiden Trump mengerahkan kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dan gugus tugas pembom B-52 untuk mengirim pesan ke rezim Iran bahwa setiap serangan terhadap kepentingan Amerika Serikat atau pada sekutunya akan ditanggapi dengan kekuatan yang tak henti-hentinya.
Pentagon pekan lalu menyetujui pengiriman 1.000 tentara tambahan ke wilayah itu setelah para pejabat menyalahkan Iran atas serangan terhadap dua kapal tanker minyak di Teluk Oman.(Berlianto)

PTDI Selesaikan Pesanan Pesawat CN-235 Nepal dan NC-212i Thailand


Pernah mengalami masa-masa sulit di awal Era Reformasi di penghujung tahun 1990-an hingga awal 2000-an, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) perlahan mulai bangkit.
Pabrik pesawat yang telah tiga kali bersalin nama ini mulai bergairah lagi, disibukkan dengan proses pengerjaan pesanan pesawat andalannya NC-212i-400 dan CN-235-220.
AX-2347 CN-235 Nepal
AX-2347 CN-235 Nepal  
Setelah menyerahkan CN-295 Special Mission pesanan TNI AU (27/6/2019), pabrik pesawat asal Paris van Java ini tengah menuntaskan pengerjaan sebuah CN-235 pesanan Dinas Penerbangan Angkatan Darat Nepal dan satu unit NC-212i pesanan MoAC (Ministry of Agriculture and Cooperatives) Thailand.
Kedua pesawat kini tengah menjalani uji terbang intensif oleh PTDI sebelum diserahkan kepada pemesannya.
Bagi yang tinggal di sekitar wilayah Bandara Husein Sastranegara, pasti tak asing dengan lalu lalang pesawat berlabur warna hijau ini (belum menggunakan livery pemesan).
Pesawat pesanan AD Nepal mendapatkan nomor registrasi pabrik AX-2347 dengan nomor serial N-68 (produksi seri CN-235 ke-68 oleh PTDI).
Sementara NC-212i pesanan MoAC Thailand memperoleh nomor registrasi pabrik AX-2124 dan nomer serial N-116 (produksi seri NC-212 ke-116 oleh PTDI).
Proses pembelian CN-235 untuk AD Nepal ditandatangani pada 16 Juni 2017 di Markas Besar AD Nepal di Kathmandu dengan nomor kontrak No. MGO/Fixed Wing/073/74/65.
Penandatanganan kontrak dilakukan oleh Mayjen Purna B. Silawal selaku Master General of Ordnance (Provision) AD Nepal dan Budi Santoso selaku Direktur Utama PTDI pada masa itu.
Khusus untuk pesawat CN-235, selain tengah menyelesaikan uji terbang pesanan AD Nepal, PTDI tengah menyelasaikan proses manufaktur CN-235 MPA (patroli maritim) pesanan AU Senegal. Pesawat dengan nomer serial N-69 dan dinamai Senegal-2 ini hampir selesai dirakit dan selanjutnya siap untuk di uji terbang.
Seperti diketahui, pada Desember 2016 PTDI telah menerbangkan (ferry flight) CN-235-220M pertama pesanan AU Senegal. Pesawat versi angkut multiguna bernomor registrasi AX-2344 tersebut diberangkatkan dari Bandung menuju Dakar, Senegal. Penerbangan memakan waktu 11 hari ini menyinggahi negara Sri Lanka, Maladewa, Pakistan, Arab Saudi, Sudan, Chad, dan Burkina Faso.
Sementara untuk seri NC-212i dipesan oleh MoAC Thailand sebanyak dua unit. Pesawat kedua nomor serial N-116 dalam proses penyelesaian perakitannya.
Sebelumnya pada November 2016, PTDI juga telah menerbangkan sebuah CN-235 pesanan Polisi Udara Thailand (RTF). Pesawat berregistrasi AX-2343 ini diterbangkan dari Bandara Husein Sastranegara di Bandung menuju Bandara Internasional Hat Yai, Thailand.
Hingga saat ini PTDI telah berhasil memproduksi dan mengirimkan 67 unit seri CN-235 dan 114 unit seri NC-212.
Selain untuk kebutuhan dalam negeri, kedua pesawat juga diekspor ke manca negara.
Tercatat sebagai pengguna adalah Venezuela, Senegal, Burkina Faso, Uni Emirat Arab, Pakistan, Turki, Malaysia, Korea Selatan, Thailand, Brunei Darussalam, dan Filipina. (Rangga Baswara Sawiyya)

Erdogan Tuntut Pengembalian Total Dana Pengembangan Jet Tempur F-35 kepada AS


Presiden Recep Tayyip Erdogan yang hadir dalam pertemuan G20 di Osaka, Jepang buka-bukaan soal ancaman embargo F-35 jika negaranya jadi membeli rudal S-400.
Erdogan - Trump
Erdogan - Trump 
Kepada harian Nikkei (27/6), Presiden Erdogan mengatakan bahwa Amerika Serikat harus mengembalikan total dana yang sudah dibayarkan Turki pada Amerika Serikat. Dalam hitungan Turki, sudah ada dana 1,25 Milyar Dolar AS yang telah dibayarkan kepada AS untuk ikut dalam program F-35.
Menurut Erdogan, jika AS menolak, maka Turki akan maju ke pengadilan arbitrase internasional untuk memaksa Amerika Serikat mengembalikan pembayarannya, jika Turki sampai ditendang dari program F-35.
Erdogan menekankan bahwa negaranya juga tak sebatas konsumen namun juga terlibat dalam mata rantai pasokan global untuk program F-35, dan dirinya berharap bahwa AS akan mempertimbangkan semua itu sebelum mengambil keputusan final, dengan deadline pada 31 Juli. (Aryo Nugroho)

Mil Mi-17-V5, Helikopter Angkut Multi Guna Andalan Puspenerbad TNI AD dari Rusia


Setelah cukup lama berpisah dari kedigdayaan alutsista asal Rusia, kini Puspenerbad (Pusat Penerbangan Angkatan Darat) kembali bisa memiliki helikopter Mi-17-V5. Sebuah helikopter angkut sedang yang punya kapasitas angkut jauh lebih besar dibanding arsenal helikopter Penerbad selama ini yang didominasi buatan AS.
 Mil Mi-17-V5 TNI AD
 Mil Mi-17-V5 TNI AD 
Pada dasarnya sesuai kode yang ada, Mi-17-V5 skadron 31 merupakan subvarian pengembangan generasi kelima. Ciri dari helikopter ini terasa dari warna cat abu-abu pada awal kedinasan di TNI AD (kini di cat hijau loreng) untuk dalam kabin yang bisa menampung 30 personel bersenjata lengkap. Tempat duduk personel menempel pada kedua sisi dalam kabin penumpang (posisi saling berhadapan). Bila difungsikan sebagai helikopter ambulance, kabin dapat diisi 12 tepat tidur lipat dan satu bangku untuk tenaga medis.
Merujuk ke kesatuannya, Skadron 31 Serbu Puspenerbad resmi berdiri pada 23 Maret 2006 dan bermarkas di Lanumad Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah. Kala itu kekuatannya masih terdiri dari sepasang heli serang Mi-35P Hind. Saat ini komposisi Skadron 31 Serbu sudah dalam kategori lengkap, terdiri dari 5 helikopter serang Mi-35P dan kini jumlah totalnya sebanyak 18 helikopter angkut taktis Mi-17-V5. Semua armada helikopter di skadron ini adalah rancangan biro desain Mil Moscow Helicopter, sedangkan untuk pabrikannya adalah Kazan Helikopter.
Mi-17 dilengkapi tiga pintu sebagai fasilitas akses keluar rmasuk. Masing-masing sebuah pintu terdapat di kanan dan kiri. Selanjutnya di bagian belakang terdapat pintu rampa (ramp door), bukan pintu model cangkang. Di lingkungan TNI, saat ini hanya Mi-17 yang punya pintu ramp, umumnya ramp door ada di pesawat angkut, seperti C-130 Hercules dan CN-235/295. Sementara untuk pintu model cangkang (clamshell) kini digunakan oleh helikopter ringan NBO-105, dan helikopter angkut sedang tempo doeloe Mi-4 Hound. Sejenak kembali ke masa lalu, di tahun 60-an TNI AU pernah mengoperasikan helikopter angkut berat Mil Mi-6, dan helikopter ini juga dibekali ramp door dengan ukuran lebih besar.
Kembali kabin penumpang, terdapat dua dudukan senapan mesin yang tersebar di empat titik (jendela). Sepasang di dekat pintu depan (kanan - kiri), dari pantauan saat ajang Pameran Alutsista TNI AD di lapangan Monas, November 2013 silam, tampak jenis senjatanya adalah FN MAG kaliber 7,62mm. Sedangkan untuk jenis senjata dibelakangnya (kiri dan kanan) adalah tipe SS-1 kaliber 5,56mm. Kehadian dua jenis senapan mesin tadi bersifat portable, fungsinya lebih ditekankan sebagai bantuan tembakan secara terbatas.
Selain dudukan senjata tadi, pada sisi kanan dan kiri bagian tengah kabin bisa dipergoki lubang sambungan pipa. Ini tak lain fasilitas bagi empat tabung bahan bakar cadangan yang bisa bisa dipasang menggantikan posisi tempat duduk pasukan. Setiap tabung punya kapasitas sekitar 975 liter. Dalam kondisi standar setiap unit Mi-17 sudah dibekali sepasang tangki bahan bakar dikanan dan kiri luar body dengan kapasitas masing-masing 1000 liter. Bila seluruh kemampuan angkut bahan bakar tadi digabungkan maka secara teknis heli dapat melakukan terbang feri selama 6 jam non stop.
Beranjut ke soal pengoperasian, ada karakter khas pada helikopter buatan Rusia ini, contohnya untuk menghidupkan kedua mesin, lantaran lubang exhaust mengarah kesamping maka proses pengaktifan mesin harus dilakukan dengan memperhatikan arah angin. Bila angin dari arah kanan maka mesti mengaktifkan mesin sebelah kiri terlebih dahulu. Sifat serupa berlaku ketika helikopter mulai beranjak ke udara. Terkait efek putaran baling-baling, putarannya yang searah jarum jam membuat ada kecenderungan body miring ke arah kanan, bukan ke kiri seperti helikopter buatan Barat.
Untuk urusan sumber tenaga, Mi-17 dibekali sepasang mesin turboshaft Isotov TV3-117VMA, setiap mesin mampu menyemburkan daya hingga 2.200 shp. Spesifikasi mesin pada Mi-17adalah sama dengan helikopter serang Mi-35P, bedanya pada Mi-35P tenaga besar dipakai untuk membawa persenjataan berat maka pada Mi-17 tenaga besar digunakan untuk membawa beban. Karena punya spesifikasi mesin yang serupa, maka untuk perawatan mesin antara Mi-17 dan Mi-35P tidak ada perbedaan.
Bila ditengok dari sejarahnya, Mi-17 dikembangkan dari basis airframe varian helikopter Mi-8. Setidaknya ada dua perbedaan utama yang bisa dipergoki. Dari segi fisik paling mencolok terdapat pada rotor belakang. Posisinya untuk Mi-8 berada di sebelah kanan, sedangkan pada Mi-17 ada disebelah kiri. Untuk mesin, tenaga yang disemburkan Mi-17 lebih besar ketimbang Mi-8. Sebagai tambahan info, dikalangan militer Rusia kode Mi-17 tak begitu populer. Mereka lebih suka menyebutnya sebagai Mi-8M.
Dalam dua dekade belakangan ini, pasar helikopter angkut serba guna cukup marak. Tiap tahun sedikitnya ada 100 unit heli serba guna yang berhasil dijual ke berbagai negara. Namun jenis yang benar-benar merajai pasar jumlahnya tak seberapa.
Rusia terkenal sebagai produsen papan atas untuk kelas helikopter angkut sedang dan berat. Nama-nama seperti Mi-4 Hound, Mi-6 Hook, dan Mi-8 Hip telah menjadi primadona banyak angkatan bersenjata di dunia. Dari sederet nama tadi, Mi-8 adalah yang paling populer. Ide pembuatan Mi-8 sendiri karena Uni Soviet merasa tersaingi dengan hadirnya helikopter Sea King, adanya Mi-4 kala itu dinilai sudah tak sesuai lagi dengan kebutuhan operasional. Dengan basis Mi-6 dan helikopter angkut serang Mi-24 Hind, terciptalah helikopter angkut serba guna Mi-8. Lewat pengembangan lanjutan, kemudian dihasilkan Mi-17 selaku versi ekspor. Puluhan negara,tidak hanya negara sekutu Rusia yang mengadopsi helikopter ini, bahkan Mi-17 dipercaya sebagai helikopter andalan misi PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa) dalam menjalankan tugas dikawasan konflik dan rawan bencana.
Meski merupakan varian ekspor dari Mi-8 dan punya struktur desain yang nyaris serupa. Tapi bila dipandang dari sisi kinerja keduanya memiliki perbedaan, ini terlihat dari tipe mesin, dimensi body, bobot total saat tinggal landas, dan klnerja operasional lainnnya. Panjang total Mi-8 dari ujung bilah baling-baling utama (saat berputar) hingga ke ujung ekor mencapai 25,24 meter, sementara Mi-17 mencapai 25,35 meter.
Bobot badan Mi-17 saat tinggal normalnya adalah 11,1 ton, sementara bobot tinggal landas maksimumnya adalah 13 ton. Dari beban 13 ton tersebut, untuk kapasitas angkut di dalam kabin mencapai 4,07 ton dan kapasitas angkut di luar kabin (seperti membawa roket/bom/rudal/kanon atau sling cargo) bisa mencapai ukuran 5 ton. Meski kodratnya adalah heli angkut, tapi dari pihak pabrikan telah menawarkan 10 jenis varian senjata dan perangkat elektronik yang bisa dibawa. Diantara yang cukup sangar adalah kontainer bom tabur anti personel PFM-1 Butterfly, empat rudal anti tank beragam jenis dengan pemandu laser, empat peluncur roket multi kaliber, dua bom penghancur beton FAB-250GP, ranjau laut, perangkat pengecoh rudal (chaff), torpedo jenis MK46, dan perangkat pengacau sinyal elektronik ICRM.
Dalam hal kecepatan, dengan kondisi bahan bakar 3.700 liter tanpa muatan, kecepatan jelajah maksimum Mi-17 bisa mencapai 262 km per jam. Sedangkan bila bobotnya telah mencapai batas maksimum, kecepatan jelajah hanya bisa 250 km per jam. Dengan memperhitugkan faktor kelebihan muatan sekitar 5 persen dari batas angkut maksimum, jangkauan jelajah Mi-17 adalah 465 km. Sedangkan bila heli terbang tanpa muatan, maka jarak jelajahnya bisa mencapai 590 km. Kehandalan Mi-17 kian kentara dengan adanya unit peralatan catu tenaga cadangan yang memungkinkan Mi-17 mampu mendarat di landasan darurat,seperti tanah lunak, padang salju, bahkan bisa mendarat di air dengan bantuan kaki pelampung.
Masuk ke dalam ruang kokpit, beberapa perangkat avionik yang menyertai seperti peralatan radio pemancar penerima yang bekerja pada gelombang frekuensi tinggi (HF) dan frekuensi sangat tinggi (VHF), radio komunikasi internal (interkom), kompas radio, radar pengukur ketinggian (altimeter) yang dibekali GPWS (Global Positioning & Warning Systems), hingga perangkat autopilot, peralatan efek Doppler, dan perangkat sistem identifikasi kawan/lawan tipe SRO-2M, serta perangkat untuk menabur keping logam (chaff) atau bunga api (flare) sebagai pengecoh rudal.
Jumlah awak Mi-17 adalah tiga orang, untuk konstruksi kokpit menggunakan model ganda berdampingan disertai dua unit kontrol terpisah dan tempat navigator. Melidungi keselamatan awak, bagian hidung terbuang dari kaca khusus yang dapat menahan terjangan proyektil kaliber 7,62mm.
Disulap Jadi Helikopter PBB
Sungguh mulia pemerintah Indonesia, meski alutsista yang dimiliki terbatas, termasuk dalam hal kuantitas, tapi tetap menunjukkan rasa “sosial” dalam pergaulan internasional. Hal ini dibuktikan untuk pertama kalinya, Mabes TNI akan mengirimkan tiga helikopter ke dalam misi perdamaian PBB yang bertugas di Darfur, Sudan. Ketiga heli yang terpilih, Mil Mi-17V5 Hip merupakan aset Skadron 31 Serbu (Puspenerbad) yang berpangkalan di Lanumad Ahmad Yani, Semarang. Dengan misi berlabel internasional di daerah konflik, ketiga heli harus memenuhi standar tinggi yang ditetapkan PBB.
Guna memenuhi permintaan ini, Puspenerbad pun menyiapkan tiga helikopter Mi-17V5 terbaik dari 12 unit heli sejenis yang dimiliki. Pilihan jatuh kepada HA-5156, HA-5157, dan HA-5159. Ketiga heli ini adalah hasil pengadaan terakhir tahun 2011 sehingga kondisinya masih sangat baik. Kalau melihat rekam jejaknya, HA-5156 baru mengantongi 115 jam terbang, HA-5157 mengantongi 102 jam terbang, dan HA-5159 mengumpulkan 237 jam terbang. Kondisinya masih sangat baru, dan ini memberikan kepercayaan diri tersendiri kepada Indonesia.
Mi-17 kita satu-satunya yang terbaru, sementara helikopter negara lain sudah ribuan jam terbang sehingga PBB pun surprise dengan helikopter kita. Tidak sedikit perombakan dan penambahan dilakukan terhadap ketiga Mi-17 ini guna memenuhi persyaratan yang diminta PBB. Secara umum ketiga helikopter dituntut mampu terbang instrument, karena tidak tertutup kemungkinan beroperasi di malam hari dan di cuaca yang berubah-ubah, membawa kargo di eksternal, mengirim-mengambil pasukan dengan teknik fastrope serta kemampuan beladiri.
Tidak hanya menyangkut sistem navigasi dan komunikasi, syarat ketat pun dititahkan sampai ke urusan penerbang. Dalam LOA (Letter of Assist) yang disampaikan PBB, disebutkan bahwa untuk mengawaki ketiga helikopter, Indonesia harus menyiapkan empat set kru yang terdiri dari empat pilot (PiC) dan empat kopilot. Untuk PiC harus memiliki minimal 1.500 jam terbang dengan 750 jam di antaranya in command dan 400 jam pada tipe dimaksud. Sebagai tambahan, PiC juga harus memiliki minimal 30 jam terbang instrument dan 50 jam terbang malam dengan NVG. Sementara kopilot harus mengantongi minimal 100 jam terbang di tipe dimaksud.
Demi alasan keamanan terbang, oleh Pemerintah Indonesia akhirnya disetujui setiap helikopter akan diawaki oleh dua set kru. Sehingga dengan tiga helikopter, disediakan enam pilot serta enam juga kopilot. Semua PiC (Penerbang I) berpangkat mayor sedangkan untuk kopilot (Penerbang II) berpangkat lettu dan seorang letda. “Dua orang di antaranya (kopilot) sudah kandidat pilot, namun belum sempat disupervisi karena keburu persiapan ke PBB,” kata Letkol CPN Eko Priyanto yang ditunjuk sebagai Komandan Satgas/ Komandan Detasemen Penerbad di Sudan.
Karena daya angkut Mi-17 lebih besar dibandingkan helikopter jenis Bell yang hanya mampu mengangkut 1/3 dari kekuatan satu batalyon. “Jadilah helikopter ini sangat efektif apalagi TNI Angkatan Darat lebih banyak gelaran kekuatan di daerah perbatasan, daratan dan pegunungan seperti di Wilayah Papua. (Diolah dari berbagai sumber)

AU Jerman (Luftwaffe) Jelaskan Kronologi Benturan Dua Typhoon di Udara


Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe) memberikan penjelasan mengenai benturan dua jet tempur Eurofighter Typhoon mereka yang menyebabkan satu penerbangnya gugur.
Seperti diberitakan sebelumnya, dua jet Typhoon dari Skadron Taktis 73 “Steinhoff” yang berbasis di Laage dekat Rostock berbenturan di udara di kawasan timur laut Jerman pada Senin, 24 juni 2019.
Typhoon  Jerman
Typhoon  Jerman 
Penjelasan Luftwaffe yang dikutip FlightGlobal (27/6) menyebutkan, kedua pesawat saat itu tengah melakukan latihan pencegatan (intersepsi) di atas ketinggian 9.800 kaki. Satu pesawat Typhoon lainnya bergabung memerankan diri sebagai pesawat yang akan dicegat.
Pada saat hendak melakukan pencegatan, kedua Typhoon melakukan manuver untuk membentuk formasi menyerang.
Kedua pesawat saling berganti posisi di ruang terbatas pada kecepatan tinggi. Pilot melakukan penerbangan secara visual.
Badan meteorologi memastikan, cuaca saat itu cerah, langit terang benderang, jarak pandang bagus dihiasi sedikit gumpalan awan.
Namun apa yang terjadi kemudian, kedua pesawat dalam latihan tersebut berbenturan (collided) satu sama lain.
Dengan kondisi kedua pesawat yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi akibat berbenturan secara keras dalam kecepatan tinggi, satu pilot berhasil melaksanakan eject. Ia selamat dengan sedikit luka-luka. Namun satu penerbang lainnya gugur.
Pesawat jatuh di Distrik Muritz Lake, Mecklenburg-Vorpommern, timur laut Jerman.
Sementara satu Typhoon lain yang berperan sebagai agresor selamat dari kecelakaan dan mendarat di Bandara Rostock.
Kedua Typhoon milik Luftwaffe dalam kecelakaan ini merupakan pesawat yang dioperasikan sejak tahun 2010 dan telah membukukan 1.000 jam terbang.
Luftwaffe menjelaskan, materi latihan seperti ini sebenarnya merupakan hal biasa yang sebelumnya dilakukan di simulator.
Namun bagi penerbang tempur, latihan secara nyata pun harus dilaksanakan guna mendapatkan pengalaman sesungguhnya.
Pilot dapat mengetahui kondisi nyata di mana terjadi faktor ketegangan yang harus dihadapi. Demikian juga dengan panas terpaan sinar matahari, tarikan gravitasi, kecepatan terbang, dan lainnya.
Sementara itu, Der Spiegel (28/6) melaporkan, pihak investigator kecelakaan telah mengabaikan faktor kerusakan teknis pesawat dalam kecelakaan tersebut. Investigator lebih menyoroti soal faktor kelalaian manusia.
Kecelakaan dua Typhoon pada minggu ini merupakan musibah paling fatal dari 140 Typhoon yang dioperasikan Luftwaffe. Di luar jumlah ini, Luftwaffe masih menunggu kiriman tiga unit Typhoon dari konsorsium Eurofighter. (Roni Sontani)

Sistem Pertahanan Udara S-500 Prometheus Dipilih Rusia untuk Lindungi Obkek Vital Nasionalnya


Sistem pertahanan udara buatan Lockheed Martin AS Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) mampu melesat hingga ketinggian 150 km dengan kecepatan lebih dari Mach 8, menjadikan rudal THAAD menjadi ujung tombak Amerika Serikat untuk menangkal serangan rudal balistik sebelum mencapai atmosfer.
S-500 Prometheus
S-500 Prometheus  
Rivalnya di Eropa Timur yakni Rusia juga punya porto folio rudal pertahanan udara kelas medium - jarak jauh yang tak kalah garang, seperti S-300 dan S-400. Dari segi jangkauan luncur kedua rudal tersebut dengan pilihan jenis rudal memiliki ketinggian luncur ada di rentang 20 km - 185 km bisa menjadi andalan Rusia, namun rupanya untuk urusan kecepatan meluncur, S-300 dan S-400 jelas bukan tandingan THAAD yang dirancang sejak 1987 dan resmi diproduksi pada tahun 2008.
Seolah merespon kemajuan yang telah diraih Negeri Paman Sam, Moskow pun berkepentingan untuk meningkatkan pertahanan pada obyek-obyek vital nasional. Kerisauan Rusia tentu wajar adanya, mengingat yang jadi ancaman pertahanan udara bukan hanya rudal balistik antarbenua, tapi juga antisipasi untuk menghadang serangan dari rudal berkecepatan hipersonik di atas Mach 5. Potensi serangan rudal hipersonik inilah yang harus diwaspadai, dan juga menjadi dasar AS merancang THAAD.
Mengutip dari nationalinterest.org, disebutkan S-500 dengan two-stage solid fuel dapat melesat sampai kecepatan Mach 9, dan dapat meng-intercept sasaran yang bergerak di kecepatan Mach 15.6.
Rudal hanud jarak jauh yang banyak disebut sebagai kelanjutan dari S-400 ini adalah rancangan biro Almaz-Antey pada tahun 2002. S-500 juga dikenal sebagai Prometey (Prometheus) dan Triumfator-M. Prototipe rudal S-500 telah diuji tembak pada tahun 2015, sementara produksinya sudah dimulai pada tahun 2017 dan rencananya akan resmi masuk arsenal arhanud Rusia pada tahun 2020. Bila tak ada aral melintang, Rusia mencanangkan penempatan S-500 di 10 batalyon.
Meski secara numerik adalah kelanjutan S-400, tapi faktanya S-500 adalah sebuah sistem rudal yang benar-benar baru. Almaz-Antey menyebut teknologi pada S-500 jauh lebih unggul dari S-400. Jarak jangkauan S-500 mencapai 600 km dan efektif mengejar sasaran dari ketinggian 40 - 120 km. Beberapa analis menyebut sistem rudal hipersonik ini dapat melacak 5- 20 sasaran balistik secara bersamaan, sementara sistem S-500 dapat mengeliminasi 5 – 10 sasaran balistik secara bersamaan.
Melesat awal hingga 7 ribu meter per detik, S-500 bahkan digadang dapat menghancurkan satelit yang mengorbit rendah. Sistem S-500 dapat membawa berbagai rudal. Rudal ini akan memiliki berbagai jarak dan akan digunakan melawan sasaran yang berbeda, contohnya adalah rudal hanud jarak jauh 40N6.
S-500 merupakan platform mobile dengan basis peluncur yang mencomot truk BAZ-69096 berpenggerak 10×10. Sistem ini memiliki waktu reaksi yang terbilang singkat, yaitu hanya butuh 10 menit untuk deployment di satu titik luncur.
Tentu tak hanya unit peluncur saja, sistem S-500 juga terdiri dari komponen mobile lain seperti command post, acquisition and battle management radar dan multimode engagement radar. Karena alustista yang tergolong mahal, S-500 diproritaskan untuk mengamankan ruang udara Moskow. Sementara yang jadi sasarannya pun sangat terpilih, yaitu rudal balistik antarbenua, pesawat AWACS (Airborne Warning and Control System) dan pesawat lawan yang berperan sebagai jammer.
Bila AS menjual THAAD ke Arab Saudi dan Oman, maka Rusia pun berusaha menawarkan kerja sama untuk pemasaran S-500. Saat menyadari Turki kesulitan untuk mengakuisisi sistem S-400 akibat ancaman sanksi dari Donald Trump, maka Presiden Rusia Vladimir Putin menawarkan produksi S-500 kepada Turki sebagai next generation missile defense system. (Boni Prasongko)

Menhan Ryamizard Ryacudu Klaim Pertahanan Indonesia 10 Besar Terkuat di Dunia


Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menghadiri acara Halal Bihalal bertajuk Indonesia Sejuk bersama Presidium PA 212 di Hotel Shangrila, Jakarta Pusat.
Menhan Ryamizard Ryacudu
Menhan Ryamizard Ryacudu 
Dalam acara tersebut, Menhan menyampaikan bahwa pertahanan Indonesia sudah masuk peringkat 10 besar terbaik di dunia. "Kekuatan pertahanan kita menempati peringkat antara 10 sampai 12 dari 193 negara," ujar Menhan di Balroom Hotel Shangrila, Kamis (27/6).
Pertahanan Indonesia, kata Menhan, sudah diakui dan mendapat pujian oleh Amerika Serikat (AS) sebagai salah satu pertahanan terkuat di dunia khususnya di Asia Tenggara.
"Saya sudah berbincang kira-kira 3 atau 4 bulan lalu dengan Menhan AS, waktu itu dia menyampaikan Indonesia salah satu pertahanan yang terkuat di Asia Tenggara," jelasnya.
Menhan menegaskan sebagai bangsa Indonesia harus bangga dengan kekuatan pertahanan Indonesia. "Indonesia salah satu yang terkuat di dunia! Jadi kita harus bangga sudah termasuk negaesa terkuat di dunia," tegasnya.
Menurut Menhan yang membuat kuat pertahanan bukanlah peralatan perang yang canggih, tetapi bangsa Indonesia yang menentukan.
"Siapa yang bikin kuat? Bangsa kita sendiri bukan alutsistanya. Kalau senjatanya canggih tapi bangsanya ga jelas, ya ga jelas juga jadinya," pungkas Menhan.
Sumber : gatra.com

Bersitegang dengan Iran, AS Kirim Belasan F-22 Raptor ke Qatar


Militer Amerika Serikat mengerahkan hampir selusin jet tempur Angkatan Udara ke Qatar di Teluk Peris minggu ini. Pengerahan belasan pesawat ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran dan ancaman terhadap pasukan AS di kawasan itu.
F-22 Raptor
F-22 Raptor  
Pesawat tempur jenis F-22 Raptors tiba pada Kamis ke pangkalan udara al-Udeid, pusat operasi udara AS di Timur Tengah. Dalam sebuah pernyataan, Komando Pusat AS mengatakan bahwa pesawat sedang dikerahkan ke Qatar untuk pertama kalinya untuk membela pasukan dan kepentingan Amerika, seperti dilansir dari Fox News, Sabtu (29/6/2019).
Pesawat-pesawat tersebut membawa rudal udara-ke-udara dan dapat melakukan misi serangan darat. Militer AS menggunakan F-22 tahun lalu untuk mendukung AS dan pasukan sekutu di Suriah.
Ketegangan di wilayah Teluk Persia antara Washington dan Teheran meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Pada bulan Mei, Presiden Trump mengerahkan kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dan gugus tugas pembom B-52 untuk mengirim pesan ke rezim Iran bahwa setiap serangan terhadap kepentingan Amerika Serikat atau pada sekutunya akan ditanggapi dengan kekuatan yang tak henti-hentinya.
Pentagon pekan lalu menyetujui pengiriman 1.000 tentara tambahan ke wilayah itu setelah para pejabat menyalahkan Iran atas serangan terhadap dua kapal tanker minyak di Teluk Oman. Jenderal Angkatan Laut AS Frank McKenzie, komandan Komando Pusat, meminta dan menerima sistem pertahanan udara dan rudal tambahan.
Ia juga menerima pengawasan tambahan dan pesawat pengumpul intelijen untuk meningkatkan kemampuan militer untuk memantau potensi ancaman Iran terhadap pengiriman minyak di wilayah Teluk.(Berlianto)

Rusia Rancang Tank Ringan Amfibi Berbasis Ranpur Sprut-SDM1


Biro Desain Special Machine-Building, anak perusahaan dari Precision Systems Company, Rusia tengah menyelesaikan rancangan tank amfibi ringan.
Tank yang bisa mengapung di air ini dibangun berdasarkan basis kendaraan tempur (ranpur) anti-tank 2S25M Sprut-SDM1 airborne self-propelled yang baru diluncurkan pada 2016 lalu.
 Ranpur Sprut-SDM1
 Ranpur Sprut-SDM1 
Sergei Abdulov, Kelapa Perancang Biro Desain Special Machine-Building, sebagaimana dikutip TASS mengatakan hal itu di sela ajang pameran dan forum teknik militer ARMY 2019 di Kubinka, Kamis (27/6).
“Pengerjaan sedang dilaksanakan untuk membangun sebuah tank ringan non-airborne yang dapat mengapung di air. Kendaraan ini berbasis SDM1,” ujar Abdulov.
Dibandingkan dengan Sprut, lanjutnya, ranpur baru ini akan mendapatkan proteksi lebih baik dan sistem roda yang berbeda.
Ranpur ini akan menggunakan sistem suspensi bar torsi yang diambil dari BMP-3 IFV. Sistem ini lebih tangguh dan lebih mudah dioperasikan dibanding sistem hydro-penumatic gear pada Sprut.
Sementara untuk persenjataan, tetap menggunakan senjata yang ada di Sprut. Sprut-SDM1 menggunakan kanon 2A75M laras halus (smoothbore) kaliber 125 mm. Sementara senjata pendukung ada senapan mesin berat kaliber 12,7 mm dan senapan mesin koaksial 7,62 mm.
Tidak disebutkan lebih jauh soal nama dan detail dari proyek yang sedang dikerjakan ini.
Sprut-SDM1 merupakan kendaraan tempur anti-tank yang digunakan oleh pasukan lintas udara. Ranpur ini memiliki bobot maksimal 18 ton supaya bisa dimobilisasi menggunakan pesawat Il-76 maupun dilepaskan dari udara menggunakan parasut (airdropped).
Guna mengurangi bobotnya, lapisan baja pelindung Sprut-SDM1 terpaksa dipangkas lebih tipis dan hanya tahan terhadap serbuan peluru. (Roni Sontani)

Rusia Borong 76 Unit Jet Tempur Sukhoi Su-57, Mulai Pengiriman 2028


Kementerian Pertahanan Rusia akan menerima 76 pesawat tempur Su-57 dalam kerangka kontrak dengan Sukhoi, seperti dijelaskan Menteri Industri Denis Manturov kepada media saat berlangsungnya Army 2019 Forum.
Jet Tempur Sukhoi Su-57
Jet Tempur Sukhoi Su-57 
Pesawat tempur Su-57 akan dipasok mulai 2028, Wakil Menhan Alexei Krivoruchko menambahkan.
Su-57 adalah pesawat tempur generasi kelima Rusia yang didesain untuk menghancurkan semua targe baik di udara, darat, dan permukaan laut.
Tentu saja pesawat tempur Su-57 berkemampuan siluman dengan karakteristik senjata disimpan di ruang dalam dan kecepatan terbang supersonik. (Beny Adrian)
Sumber : angkasa.news

Bird Strike, Pilot Sepecat Jaguar AU India Seketika Buang Drop Tank dan Kembali Mendarat


Sebuah pesawat tempur Jaguar milik Angkatan Udara India mengalami kecelakaan kecil setelah bertabrakan dengan seekor burung (bird strike).
Kecelakaan terjadi saat Jaguar menjalani latihan rutin. Mesin pesawat tempur Jaguar dilaporkan mengalami serangan burung, tak lama setelah lepas landas dari pangkalan udara Ambala pada Kamis pagi (27/6).
Sepecat Jaguar AU India
Sepecat Jaguar AU India 
Pilot yang waspada dengan cepat menjatuhkan tangki bahan bakar eksternal dan kembali mendarat. Pesawat dilaporkan mengalami kerusakan mesin akibat tabrakan itu.
Pilot membuang tangki bahan bakar dan bawaan eksternal lainnya termasuk sekitar 10 kg bom latih agar bisa menambah ketinggian dan berhasil mendarat kembali dengan selamat.
Menjatuhkan tangki bahan bakar dan bawaan eksternal lainnya adalah bagian dari prosedur operasi standar angkatan udara, ketika pesawat mengalami masalaha teknis.
Pihak AU India berhasil menemukan bom kecil yang dijatuhkan pilot seperti dikutip ANI. AU India akan memerintahkan pengadilan untuk menyelidiki alasan di balik insiden itu.
Pangkalan udara AU India berada di jantung Kota Ambala di Haryana, yang selama bertahun-tahun telah dikelilingi oleh populasi yang semakin membludak. (Beny Adrian)
Sumber : angkasa.news

AD AS Sedang Munguji Coba Intensif Helikopter Serang AH-64E Version 6


Angkatan Darat AS saat ini sedang melakukan uji coba intensif pada AH-64E Apache Guardian terbaru, dikenal sebagai Version 6, bersama dengan pabrikan Boeing.
AH-64E Guardian V6 menjadi milestone paling penting bagi AD AS karena rencananya lebih dari 60 persen varian AH-64D Longbow akan dimodifikasi dan dibangun ulang menjadi AH-64E V6.
AH-64E Version 6
AH-64E Version 6 
Sejumlah perubahan kemampuan yang dibenamkan pada AH-64E Version 6 adalah kemampuan helikopter ini untuk beroperasi atau bahkan mengambil alih kendali drone.
AH-64E Guardian V6 juga memiliki kemampuan intai dan serang maritime yang jauh meningkat karena adanya moda targeting untuk sasaran maritim, termasuk kemampuan mengenali sasaran di permukaan laut.
AH-64E Guardian V6 juga memperoleh MDSA (Modernized Day Sensor Assembly), CDAS (Cognitive Decision Aiding System), peningkatan perangkat lunak, dan penggantian prosesor untuk konsol misi, dan kemampuan untuk mengukur jarak secara pasif sehingga tak memerlukan laser rangefinder.
Nah, untuk AH-64E TNI AD, tak ada alasan untuk tidak bisa mengupgrade AH-64E yang sudah dimiliki karena secara baseline sudah sama, apalagi V6 dengan kemampuan serang maritim bakal sangat sesuai dengan kebutuhan pertahanan Indonesia. Tinggal kemampuan Kemenhan RI saja untuk melakukan kontrak upgrade, dan tentu restu dari AS sendiri. (Aryo Nugroho)

Kapal Patroli KMC 38M TNI AD Dilengkapi Senjata Kongsberg Sea Protector MK50


TNI AD dikabarkan akan kembali mendapatkan kapal patroli terbaru buatan PT Tesco Indomaritim. Hal tersebut dirilis dalam video di YouTube yang memperliatkan kegiatan sea trial dan firing test dari kapal yang disebut sebagai KMC 38M. Desain Kapal dengan nomer lambung AD-64 ini nampak tak beda jauh dengan kapal patroli peronda Lantamal yang dikenal sebagai KAL. Namun justru perhatian netizen pemerhati dunia alutsista tertarik pada sosok senjata yang disematkan persis di depan anjungan.
Kongsberg Sea Protector MK50
Kongsberg Sea Protector MK50 
Dari tayangan di video dapat dipastikan senjata di depan anjungan adalah sebuah SMB (Senapan Mesin Berat) dari jenis Browning M2HB kaliber 12,7 mm. Yang menarik, SMB ini disematkan pada dudukan (mounting) remote control weapon system (RCWS). Ini artinya M2HB dapat ditembakan secara otomatis dan manual, secara otomatis artinya kendali tembakan dilakukan oleh operator berdasarkan panduan sensor dan kamera.
Yang menjadi pertanyaan selanjutnya, platform RCWS yang digunakan berasal dari pabrikan mana? Dari penelusuran maka dapat diketahui bahwa RCWS yang terpasang adalah Sea Protector MK50 buatan Kongsberg, manufaktur persenjataan kelas dunia asal Norwegia. Sea Protector adalah varian lain dari RCWS Kongsberg M151 Protector yang lazim dipasang pada kendaraan tempur dan taktis.
Oleh Kongsberg, Sea Protector disasar untuk melawan ancaman asimetris di wilayah pesisir. Selain komponen utama berupa senapan mesin berat, Sea Protector mengandalkan modul CCD-TV daylight camera, kamea thermal tanpa pendingin, dan pengukur jarak berdasakan laser (laser rangefinder). Jarak tembak efektif dengan SMB M2HB adalah 2.500 meter.
Dengan bobot tempur yang mencapai 135 kg, RCWS Sea Protector mempunyai sudut putar azimuth 360 derajat dan sudut elevasi laras sampai 80 derajat. Karena digunakan pada lingkungan yang bergelombang, maka Sea Protector dilengkapi gyro stabilizer. Selain dikendalikan secara remote, sistem senjata ini dapat pula digunakan secara manual. Untuk mekanisme kokang senjata dan penggantian munisi pun, semua dilakukan masih manual.
Sementara dari sisi wahana, KMC 38M dengan penggerak dua mesin diesel dapat melesat dengan kecepatan maksimum 23 knots dan kecepatan jelajah 17 knots Dengan bahan bakar penuh (30.000 liter solar), KMC 38M dapat berlayar sejauh 3.704 km. Dengan bekal penuh, kapal patroli ini punya endurance berlayar terus menerus selama 6 hari. Lamanya endurance ditunjang dengan kemampuan membawa bekal 5.000 liter air tawar.
KMC 38M diawaki 15 personel dan dapat membawa 65 orang pasukan. Dari spesifikasi, kapal motor cepat ini punya panjang 38 meter, lebar 7,3 meter dan tinggi sarat air 1,5 meter. (Haryo Adjie)

Kala Rantis MRAP Bushmaster dan Casspir "Kawin Silang" di Perusahaan Karoseri PT. Delima Jaya


Perusahaan karoseri swasta PT. Delima Jaya lewat akun Instagramnya beberapa hari ini membuat heboh jagad pemerhati alutsista nasional. Hal ini disebabkan oleh inovasi dari perusahaan karoseri yang sudah berdiri sejak 1976 ini merilis prototipe rantis (kendaraan taktis) lapis baja dengan kategori MRAP (Mine-Resistant Ambush Protected).
 Karoseri PT. Delima Jaya
 Karoseri PT. Delima Jaya 
Dengan predikat MRAP, maka prototipe rantis ini digadang mampu menahan efek ledakan dari ranjau darat. Sembari menunggu spesifikasi resmi dari prototipe rantis ini, netizen kadung ramai membahas sosok kendaraan ini, terutama dari aspek desainnya yang terkesan ‘berani.’
Bila dilihat sekilas, maka tak sulit untuk menebak bahwa prototipe rantis ini merupakan bentuk kawin silang antara Casspir MK3 dan Bushmaster, yang keduanya adalah rantis 4×4 dengan kategori MRAP yang digunakan unit anti teror Sat-81/Gultor Kopassus (Komando Pasukan Khusus). Sentuhan Casspir terasa pada desain luar kompartemen bagian belakang, khususnya pada pola kaca di kabin personel dan rancangan body yang v-hull untuk menahan efek ledakan dari bawah.
Sementara aroma Bushmaster agak terasa pada bagian depan, terutama pada bagian depan kap mesin. Sisanya efek Bushmaster juga sedikit terasa pada rancangan kaki-kaki.
Untuk persenjataan, terlihat ada mockup up senapan mesin dengan RCWS (Remote Control Weapon Station). Lain dari itu, penampilan prototipe rantis MRAP ini cenderung mengundang tawa netizen. Hal tersebut dikarenakan adanya dummy yang diduga rudal Maverick pada sisi kiri belakang (2 unit) dan satu rudal lainnya pada bagian depan tepat disebelah kiri kubah senapan mesin. Sontak desain nyeleneh ini menjadi ramai dikomentari netizen, seperti tangki bahan bakar yang berada di luar (tidak terlindung), padahal konsep rantis ini adalah MRAP.
Bukan kali ini saja Delima Jaya merilis prototipe alutsista dengan desain ‘kontroversial,’ jika Anda masih ingat prototipe kendaraan peluncur roket multi laras besutan PT Prafir Jaya Abadi. Lewat halaman Instagram Delima Jaya, diketahui kendaraan khusus tersebut merupakan lansiran Delima Jaya. Kendaraan peluncur tersebut tampil unik lantaran mengusung desain kawin silang antara panser Anoa dan M142 HIMARS (High Mobility Artillery Rocket System).
Lepas dari itu, Delima Jaya pernah sukses merilis rantis Assault Ladder yang digunakan untuk kebutuhan Sat-81/Gultor Kopassus. Delima Jaya Assault Ladder ini di produksi pada tahun 2002 dan menggunakan basis mesin diesel Isuzu NPS dengan kapasitas 3.408 cc. (Bayu Pamungkas)

KSAU: TNI AU akan Datangkan Pesawat Tempur Generasi Terbaru


Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna mengatakan, dalam waktu dekat Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) akan mendatangkan pesawat tempur generasi terbaru.
Selain pesawat tempur, beberapa alutsista mutakhir juga akan turut melengkapi kekuatan TNI AU.
Jet Tempur TNI AU
Jet Tempur TNI AU 
Di antaranya, adalah pesawat angkut, pesawat amfibi, helikopter SAR Tempur, pesawat tanpa awak (UAV), pesawat jet tanker, dan alutsista pendukung seperti radar Ground Control Intercept (GCI), radar pasif, dan rudal jarak menengah/jauh.
KSAU mengatakan hal tersebut saat memimpin upacara serah terima jabatan (sertijab) Komandan Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan, dan Latihan Angkatan Udara (Dankodiklatau) dari Marsda TNI Andjar Sungkowo kepada Marsma TNI Diyah Yudanardi.
Sertijab dilaksanakan di Auditorium Leo Waatimena Mabesau, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (27/6/2019).
Ditekankan oleh KSAU, Rencana Strategis (Renstra) TNI AU dan Minimum Essential Force (MEF) menjadi harapan terwujudnya sebuah organisasi tempur pengawal kedaulatan udara yang andal, berkelas, dan disegani.
Untuk itulah KSAU berpesan agar TNI AU terus meningkatkan pengembangan kekuatan dan pembinaan kemampuan matra udara dengan mengacu pada postur TNI AU.
“Di sinilah peran Kodiklatau untuk menyiapkan personel TNI AU yang profesional dan ahli di bidangnya, memiliki jiwa militan, serta inovatif,” ujar KSAU seperti dikutip dalam siaran pers Dinas Penerangan Angkatan Udara (Dispenau) yang diterima Airspace Review.
Selain sertijab Dankodiklatau, pada saat bersamaan dilaksanakan juga Sertijab Kadisbangopsau dari Marsma TNI Irawan Nurhadi kepada Kolonel Pnb Engkus Kuswara. (Roni Sontani)

Rudal Tercanggih AIM-9X Sidewinder Mampu Diaplikasikan ke Sistem Pertahanan Udara NASAMS


Mengutip sumber dari airforce-technology.com, disebutkan uji coba penembakan AIM-9X dari sistem NASAMS telah sukses diluncurkan di Andoya Test Center, Norwegia pada akhir bulan Mei 2019. Dalam pengujan yang dilakukan bersama Raytheon selaku manufaktur rudal, dihadirkan sistem fire unit yang mencakup Kongsberg Fire Distribution Center, missile launchers dan Raytheon MPQ-64F1Sentinel radar and interceptors. Dalam uji tersebut, Sidewinder generasi tercanggih ini diwartakan sukses mengejar dan menghancurkan sasaran.
AIM-9X Sidewinder NASAMS
AIM-9X Sidewinder NASAMS 

Yang menarik, Rayheon menyebutkan bahwa AIM-9X dapat digunakan untuk sistem NASAMS tanpa perlu modifikasi, ini artinya AIM-9X yang akan dipasang di jet tempur dapat langsung digunakan di sistem NASAMS. AIMX-9X Sidewinder digadang dapat mengejar sasaran dalam misi udara ke udara, udara ke permukaan, dan permukaan ke udara (hanud) tanpa perlu modifikasi.
Publik pemerhati di Indonesia pastinya menantikan hadirnya sistem rudal hanud NASAMS (National Advanced Surface-to-Air Missile System). Dan sampai saat ini yang sudah jelas adalah kontrak pengadaan untuk peluncurnya, sementara untuk rudal yang menggunakan basis AIM-120 AMRAAM (Advanced Medium-Range Air-to-Air Missile) masih belum ada update lebih lanjut. Namun ada kabar baik datang dari Kongsberg dan Raytheon, pasalmya NASAMS kini dapat pula meluncurkan rudal selain AIM-120, persisnya sistem NASAMS kini dapat meluncurkan AIM-9X Sidewinder.
Indonesia sendiri termasuk salah satu negara yang bakal mendapatkan AIM-9X. Dalam tawaran AS di tahun 2015, Indonesia dikabarkan akan mendapatkan 30 unit rudal AIM-9X-2 Sidewinder Block II, 20 unit AIM-9X-2 captive air training missiles (CATM), 2 unit CATM-9X-2 Block II tactical missile guidance units, 4 unit CATM-9X-2 Block II guidance units, dan dua dummy air training missile.
AIM-9X Sidewinder pesanan Indonesia nantinya akan menjadi arsenal untuk armada F-16C/D 52ID dan F-16A/B 15 OCU yang tengah menjalani upgrade di Lanud Iswahjudi. Bila benar apa yang disebutkan Raytheon, maka AIM-9X untuk F-16 TNI AU dapat juga dipasang pada NASAMS yang akan dioperasikan Detasemen Pertahanan Udara (Denhanud) Paskhas.
Kjetil Myhra, executive vice president of Kongsberg Defence & Aerospace menyebutkan, bahwa sistem hanud NASAMS kini semakin lengkap dengan memberikan pilihan lapisan pertahanan udara, apalagi rudal AIM-120 AMRAAM dapat diluncurkan dengan kombinasi AIM-9X. Bila pilihannya untuk menghadang sasaran dari jarak menengah, maka AIM-120 yang ideal meladeni, namun jika untuk sasaran dalam jarak dekat, maka AIM-9X bisa menjadi opsi yang tepat. “Pilihan yang kami ajukan dalam sistem hanud campuran NASAMS yang terdiri dari AMRAAM, AMRAAM-ER dan AIM-9X” ujar Kjetil.
Sebagai jawara pertempuran udara, AIM-9X Sidewinder punya kemampuan first shot dan first kill yang lebih responsif. Rudal ini dilengkapi thrust vectoring yang terhubung ke guidance fins, artinya rudal dapat menguber target yang berbelok sekalipun. Radius putar AIM-9X mencapai 120 meter, dengan kemampuan ini, saat penembakan pesawat peluncur tidak lagi harus melakukan manuver untuk menyesuaikan dengan target. Cukup lepas AM-9X, selanjutnya rudal akan menguber target sendiri.
AIM-9X merupakan versi termutakhir dari Sidewinder yang mampu menghancurkan target di jarak 20 Km. Seperti halnya AIM-9X, Indonesia juga tengah dalam proses mendapatkan AIM-120 AMRAAM. (Bayu Pamungkas)

Su-27/30 TNI AU Gempur Sasaran di Lumajang, Persiapan Angkasa Yudha dan Fire Power Demo


Kehadiran jet tempur Su-27/30 dari Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar di Lanud Abdrulrachman Saleh, Malang membuat langit Malang Raya dan sekitarnya lebih bergemuruh.
Raungan mesin kawanan Flanker terdengar di udara dalam beberapa hari terakhir, mengantarkan para penerbangnya mengasah profesionalisme dalam mengawaki pesawat ini.
Su-27/30 TNI AUSu-27/30 TNI AU
Su-27/30 TNI AU 
Misi lain yang dilaksakanan Thunder Family adalah melaksanakan pengeboman di Air Shooting Range (ASR) Pandanwangi, Lumajang, Jawa Timur.
Kamis (28/6), pesawat Su-27/30 terbang rendah di atas kota Malang. Menurut Komandan Wing 2 Lanud Abdulrachman Saleh Kolonel Pnb Meka Yudanto, pesawat terbang rendah di atas kota Malang karena kota sejuk ini merupakan jalur naik-turun pesawat menuju landasan pesawat Lanud Abdulrachman Saleh yang berada di Kecamatan Pakis.
Sebelum mendekati landasan, pesawat sudah memposisikan diri ke arah landasan. Sehingga, pesawat tempur buatan Rusia ini terbang agak rendah mendekati daratan.
Ketika terbang rendah, lanjutnya, suaranya cukup menggelegar dan dirasakan di darat cukup keras.
Direncanakan, TNI AU akan melaksanakan latihan puncak “Angkasa Yudha 2019”. Latihan puncak merupakan akumulasi dari latihan prajurit TNI AU yang dilaksanakan secara berjenjang (berurut) mulai dari tingkat perorangan, satuan, antarsatuan, hingga tingkat TNI AU.
Latihan Angkasa Yudha selain meningkatkan profesionalisme dan kemampuan prajurit TNI AU, juga bertujuan menguji doktrin, koordinasi, kerjasama, keterpaduan pola operasi serta kemampuan teknologi informasi dalam penyelenggaraan kegiatan operasi udara dalam menghadapi ancaman.
Demikian tulis Kepala Penerangan Lanud Abdulrachman Saleh Letkol Sus Dodo Agusprio dalam siaran pers yang dilayangkan kepada redaksi AR.
Sebelum Latihan Angkasa Yudha digelar, terlebih dahulu diadakan beberapa kegiatan berupa latihan posko oleh pelaku selama beberapa hari di Seskoau, Lembang pada akhir Juni hingga awal Juli.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan manuver lapangan selama beberapa hari pada pertengahan Juli 2019 nanti.
Selain Latihan Angkasa Yudha, TNI AU akan melaksanakan demo penembakan udara atau Fire Power Demo (FPD) pada minggu terakhir Juli 2019 di ASR Pandanwangi, Lumajang.
Latihan pesawat Sukoi di Lanud Abdulrachman Saleh saat ini, adalah untuk mempersiapkan diri (latihan pendahuluan) dalam pelaksanaan manuver lapangan dan FPD tersebut. (Roni Sontani)

PT Dirgantara Indonesia Kirim Pesawat CN-295 ke-10 Pesanan TNI AU


PT Dirgantara Indonesia (PTDI) melakukan ferry flight satu unit pesawat CN-295 versi Special Mission untuk TNI Angkatan Udara (AU) pada hari Kamis, 27/6/2019. Ini merupakan pesawat jenis serupa ke-10 pesanan TNI AU yang dikirim PTDI.
CN-295 TNI AU
CN-295 TNI AU 
Pesawat lepas landas dari Husein Sastranegara, Bandung menuju Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Pengadaan pesawat ini dilakukan di bawah kontrak Jual Beli bernomor TRAK/820/PDN/XII/2015/TNI AU yang ditandatangani pada 23 Desember 2015, antara Kementerian Pertahanan dengan PTDI.
Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Gita Amperiawan berharap, diserahkannya CN-295 Special Mission dapat meningkatkan kinerja TNI AU dalam setiap pelaksanaan operasi.
“Semoga dapat meningkatkan kinerja TNI Angkatan Udara dalam setiap pelaksanaan operasi udara. Kami merasa bangga dapat memberikan dukungan terhadap kebutuhan Pemerintah,” ungkap Gita saat seremoni ferry flight di hanggar Delivery Center PTDI.
CN-295 merupakan pesawat terbang hasil kerja sama industri antara PTDI dengan Airbus Defense & Space (ADS) yang dikerjakan di kawasan produksi PTDI di Bandung, Jawa Barat.
Pesawat ini merupakan pengembangan dari pesawat CN-235. Badan pesawatnya (fuselage) diperpanjang tiga meter, sehingga mampu membawa 50 penumpang.
CN-295 menggunakan mesin terbaru, turboprop Pratt & Whitney PW127G yang dilengkapi enam bilah baling-baling Hamilton Standard 586-F.
Unit yang dikirim hari ini merupakan pesawat CN-295 ke-11 yang diproduksi PTDI. Pesawat ke-10 yang diproduksi dikirim untuk Direktorat Kepolisian Udara RI.

Iran Peringatkan AS Tak Lagi Terobos Perbatasan Mereka


Ketua Parlemen Iran, Ali Larijani memperingatkan Amerika Serikat (AS) untuk tidak lagi melanggar perbatasan Iran. Dia mengatakan, Teheran akan memberikan tanggapan "lebih kuat" jika AS kembali melanggar perbatasan Iran.
Ali Larijani
Ali Larijani  
"Ditembak jatuhnya pesawat tak berawak Amerika adalah pengalaman bagi mereka untuk tidak melanggar perbatasan kami. Tetapi, jika mereka melakukannya, Angkatan Bersenjata akan memberikan respon yang lebih kuat," kata Larijani, seperti dilansir PressTV pada Kamis (27/6).
Larijani kemudian memuji peningkatan kapasitas Angkatan Bersenjata Iran dan menekankan bahwa jatuhnya pesawat mata-mata AS baru-baru ini hanyalah bagian dari kemajuan itu.
Sebelumnya, seorang legislator senior parlemen Iran mengatakan, jatuhnya pesawat tidak berawak AS mengirim pesan ke negara-negara lain di kawasan Timur Tengah untuk mengandalkan kemampuan mereka sendiri.
"Menghancurkan pesawat tak berawak Amerika adalah pesan yang sangat bagus bagi negara-negara lain di kawasan itu agar mereka tahu untuk menemukan kekuatan asli dengan mengandalkan kemampuan nasional mereka sendiri," kata Alaeddin Boroujerdi, anggota Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri di parlemen Iran.
Ketegangan meningkat antara Iran dan AS setelah Teheran menembak jatuh pesawat tak berawak Angkatan Laut Amerika. Iran mengklaim pesawat itu terbang di atas perairan teritorial mereka. Komandan militer Iran mengatakan, drone itu ditembak jatuh oleh rudal yang dikembangkan di dalam negeri Iran.
Namun, Washington mengatakan pesawat tak berawak itu berada di wilayah udara internasional.(Victor Maulana)

Dalam Sehari, Jet Tempur Inggris Dua Kali Cegat Pesawat Rusia


Jet-jet tempur Angkatan Udara Inggris di Estonia terbang ke langit untuk mencegat pesawat militer Rusia untuk kedua kalinya dalam sehari. Demikian pernyataan yang dikeluarkan Kementerian Pertahanan Inggris.
Typhoon
Typhoon  
Jet tempur jenis Typhoon milik Angkatan Udara Inggris, RAF, mencegat pesawat tempur Su-30 Rusia dan pesawat angkut militer saat melintasi Laut Baltik pada 14 Juni malam dan 15 Juni dini hari. RAF telah bekerja sama dengan pemerintah Estonia sejak Mei lalu setelah mengambil alih misi Polisi Udara Baltik.
Serangkaian intersepsi ini telah menambah jumlah insiden yang melibatkan Inggris dengan pesawat Rusia menjadi total 11 kali sejak saat itu.
"Ini adalah misi rutin kepolisian udara NATO untuk detasemen Typhoon yang memberikan jaminan berkelanjutan bagi kawasan itu," kata RAF dalam sebuah pernyataan.
"Inggris beroperasi dalam mendukung NATO untuk meyakinkan sekutu kami dan merupakan demonstrasi lebih lanjut dari komitmen Inggris untuk keamanan kawasan," sambung pernyataan itu seperti dilansir dari Fox News, Kamis (27/6/2019).
Seorang pilot jet tempur Typhoon dari Skuadron XI yang dipanggil bertugas hari itu mengatakan mereka dikirim di antara dua periode cuaca buruk.
"Kami bergegas untuk mencegat kontak yang dekat dengan wilayah udara Estonia pada sore hari," pilot melaporkan ke RAF.
"Tidak lama setelah mengudara, kami datang bersama pesawat tempur Su-30 Flanker. Kami mengawal pesawat tempur itu di Laut Baltik, sekitar Estonia, dan melewati pesawat angkut militer Rusia lainnya," imbuhnya.
Insiden terkait militer Rusia dengan negara-negara Barat telah banyak terjadi, termasuk kegiatan yang sering melibatkan Inggris dan Amerika Serikat (AS). Aktivitas militer Rusia yang konsisten dengan kedua negara telah menyebabkan ketegangan meningkat di panggung global.
Awal bulan ini, sebuah kapal perang AS mengalami tabrakan dengan kapal perusak Rusia di Laut Filipina.(Berlianto)

Sisi Lain Perjuangan Mayor Inf Alzaki Dari Jualan Asongan Sampai Catatkan Sejarah di AS


Perjuangan dari masa kecilnya membantu orang tua dengan berjalan asongan, mendorong Mayor Inf Alzaki untuk memberikan pengabdian dan prestasi terbaik sehingga menjadi Perwira TNI AD pertama yang namanya tercatat di Wall of Fame US Army Command and General Staff College.
Hal itu diceritakannya saat diundang ke Dinas Penerangan Angkatan Darat (Dispenad), Jakarta, Kamis, (27/6/2019).
Mayor Inf Alzaki
Mayor Inf Alzaki  
Untuk diketahui, pada 14 Juni 2019, Mayor Inf Alzaki, berhasil menyita perhatian para petinggi US Army dan mencatatkan sejarah sebagai Perwira TNI AD pertama yang mendapatkan Award dari The Simon Center.
“Selain mendapatkan Award (The Simon Center Writing Interagency), alhamdulillah dalam kesempatan yang diberikan (TNI AD), bisa menyelesaikan pendidikan di CGSC, USArmyUniversity dan Webster University,” ungkap Alzaki.
Diceritakan Alzaki, alasan dirinya berjualan asongan dan membantu usaha bengkel keluarga dikarenakan keinginannya untuk membantu orang tua yang saat itu hidup pas-pasan.
“Ketika itu masih SD, karena kondisi orang tua dan sebagai anak pertama, saya terdorong membantu hanya dengan cara itu,” ujar Alzaki.
Diawal mulai mengasong, lanjut Alzaki, orang tuanya melarang dan meminta agar fokus belajar. Namun olehnya, pemintaan itu dijadikan cambuk untuk semakin tekun belajar, sehingga dapat tetap bekerja membantu keluarganya.
“Karena saya selalu menjadi juara 1 di SD maupun SMP dan menjadi siswa teladan di daerah, mereka pun tidak melarang ataupun meminta saya berjualan atau bekerja di bengkel,” tandasnya.
“Meski hanya berjualan kelontongan, beliau ingin anak-anaknya dapat belajar dengan baik dan berprestasi,” ujar Alzaki yang dimasa kecilnya sering ikut lomba pidato, sholat, cerdas cermat maupun perlombaan lainnya.
“Prestasi favoritnya saat itu adalah juara lomba bidang studi matematika. Dalam upacara tingkat Kabupaten, dirinya selalu menjadi Komandan Upacara saat itu. Apabila ada lomba gerak jalan, tim kami selalu juara I,” imbuhnya.
Dari apa yang disampaikan orang tuanya itu, dirinya pun semakin terdorong untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya termasuk mewujudkan keinginannya menjadi anggota TNI.
“Selain bapak dan ibu, yang menjadi figur kekaguman saya ketika itu adalah sosok Babinsa Kodim 0308/Pariaman yang dalam kesehariannya begitu tulus membantu masyarakat. Dari kekaguman itu juga yang mendorong saya ingin jadi TNI,” kata Alzaki kala ditanyakan tentang figur panutannya ketika masih kecil.
Waktu terus berlalu, keinginannya untuk menjadi anggota TNI terus terpatri dan semakin memacu untuk tekun belajar serta mempersiapkan dirinya untuk masuk Akademi TNI melalui jalur SMA Taruna Nusantara (SMA TN) pada tahun 1998.
“Waktu itu, saya dapat informasi dari anaknya teman Ibu yang lebih dahulu masuk SMA TN bahwa selain lulusannya banyak yang menjadi Taruna (Akademi TNI) dan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) maupun di Luar Negeri, juga selama sekolah mendapat beasiswa,” ujarnya beri alasan.
“Dengan pola pendidikan yang ketat, di SMA TN tidak hanya belajar akademik saja, namun juga digembleng kedisiplinan, mental, kepribadian dan jasmani serta kemandirian,” terangnya.
“Sehingga itu, yang membuat saya lebih siap dalam mengikuti test dan masuk Akmil,” imbuh Alzaki.
Dikarenakan mengalami culture shock, prestasinya yang waktu itu masih berusia 16 tahun, tidak optimal.
“Mungkin karena itu, pertama kali saya jauh dari keluarga. Namun setelah itu, saya mencoba mengatur kembali cara belajar agar lebih baik. Termasuk selama di sekolah, saya jarang pesiar,” ucap pria kelahiran Bukit Tinggi itu.
“Selama menjadi siswa SMA TN, keinginan untuk menjadi TNI pun semakin tinggi, apalagi melihat sosok Taruna Akmil yang tidak hanya gagah namun juga cerdas dan berwibawa,” Alzaki menambahkan.
Dikatakan Alzaki, selain cita-citanya saat kecil, beberapa hal lain yang membuatnya mendaftar Akmil yaitu kondisi orang tua dan faktor keuangan.
“Ketika itu ibu sakit keras dan setelah lulus di dompet hanya tinggal uang Rp 50 ribu, sehingga dengan uang sebesar itu, jangankan mendaftar, untuk melengkapi administrasi pendaftaran pun sepertinya tidak cukup. Walaupun waktu kecil saya ada keinginan untuk bisa bikin pesawat seperti Bapak Habibie,” kenang dia.
“Belum lagi, andai nantinya kuliah, sepertinya akan mengalami kesulitan,” tambahnya.
Dengan pertimbangan itu, Alzaki akhirnya mendaftar Akmil dan selama pendaftaran dirinya ikut numpang di rumah salah satu Pamong (Staf/Pengajar SMA TN).
“Selama daftar saya tinggal di Magelang, yaitu di rumah Pak Bambang. Saya sangat terbantu beliau, hingga akhirnya lulus jadi Taruna Akmil,” tambahnya.
Perjuangan dan prestasi Alzaki kembali terlihat ketika dalam mengikuti pendidikan Candradimuka dirinya lulus menjadi yang terbaik dari Capratar (Calon Prajurit Taruna) Akademi TNI (Akmil, AAL dan AAU).
“Ketika wisuda jurit, saya bahagia karena dapat memberikan prestasi dan kebanggaan kepada orang tua saya yang waktu itu tidak sempat hadir,” ucapnya.
Diutarakan Alzaki, Wisuda Jurit merupakan awal perjuangan untuk menjadi Perwira TNI AD, sehingga selama pendidikan di Akmil pun dia memilih fokus belajar dan berlatih untuk mewujudkan cita-citanya itu.
“Dengan berbagai dinamika yang ada, bagi saya kehidupan di Akmil dirasakan lebih baik. Karenanya, membayangkan keluarga di kampung halaman, sampai lulus, meski diberikan kesempatan pesiar, saya lebih memilih mempersiapkan diri di Kesatrian. Ketika makan di rumah makan, saya terbayang keluarga saya makan apa di kampung,” terang Alzaki.
Sambil tersenyum, pria dengan tinggi badan sekitar 163 cm dan juga hampir tidak dijinkan mengikuti seleksi Kopassus karena tinggi badannya itu, menyampaikan bahwa dimungkinkan hingga kini dirinya merupakan pejabat Danmen Korps (Komandan Resimen Korps) Taruna yang terpendek.
“Juga ketika Praspa dilantik Bapak Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, punya kenangan tersendiri. Tapi untungnya kameramen yang mengambil sangat bagus, sehingga semuanya terlihat seperti memiliki tinggi badan yang tidak jauh berbeda,” ujarnya sedikit tertawa.
Menurutnya, amanah jabatan selaku Danmen Korps yang diterimanya itu tidak hanya memberikan kebanggaan tersendiri, namun menuntut komitmen yang kuat agar dapat mengatur dan mengelola kehidupan Korps Taruna dari tingkat I s.d III dengan baik.
“Dengan usia masih dapat dikatakan remaja (21 tahun), para pejabat Korps Taruna, selain dituntut mampu berprestasi, juga menjadi contoh, teladan, serta penjembatan komunikasi antara Taruna dengan pengasuh melalui Mentar (Resimen Taruna) maupun Lembaga (Akmil),” imbuhnya.
Meski mengemban amanah yang cukup berat itu, akhirnya Alzaki pun berhasil lulus dengan meraih prestasi tertinggi dalam pendidikan Akmil yaitu Adhi Makayasa dan Trisakti Wiratama.
“Adhi Makayasa diberikan kepada lulusan Akademi TNI yang memiliki prestasi terbaik dari aspek akademis, jasmani, dan kepribadian, akumulasi dari mulai Capratar sampai dengan tingkat akhir,” terang dia.
“Sedangkan peraih pedang Tri Sakti Wiratama diberikan kepada lulusan Akmil atau Akademi TNI dengan prestasi terbaik dari tiga aspek diatas, namun hanya pada tingkat terakhir pendidikan,” tambah ayah dari dua orang putri itu.
Pasca lulus dari Akmil, berkat dukungan keluarga, rekan dan seniornya, serta doa junior dan anggotanya, lulusan Diklapa II di Australia ini pun tidak pernah lepas mendapatkan prestasi yang terbaik mulai pendidikan kecabangan Infanteri, Komando maupun pendidikan spesialisasi yang diikutinya.
“Merekalah sumber inspirasi dan semangat untuk senantiasa memberikan pengabdian dan usaha yang terbaik,” tegas Alzaki.
Terkait dengan capaiannya saat mengikuti sekolah di CGSC, sosok yang rutin puasa Senin dan Kamis itu, menerangkan bahwa keinginannya untuk mengikuti program The Master of Military Art and Science (MMAS) dari United States Army University dan Program Master Bussines of Administration (MBA) dari Webster University bersamaan dengan pendidikan di CGSC, tidak direkomendasikan oleh dosennya disana.
“Saya disarankan fokus menyelesaikan CGSC, karena dihadapkan alokasi waktu dan tuntutan hasil akademik di CGSC yang tinggi, tidak banyak siswa dari AS yang mengambil program MMAS bahkan program kuliah di universitas lainnya,” ujarnya.
Namun setelah mendiskusikan dengan keluarganya dan juga mendapatkan dukungan semangat dari senior dan rekannya, Alzaki pun dengan penuh keyakinan mendaftar dan mengikuti seleksi di program MMAS dan MBA.
“Khusus untuk program MMAS, setahu saya, ketika itu dari TNI AD baru ada tiga orang yang lulus, yaitu Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo, Letkol Inf Frega Wenas Inkiriwang dan Letkol Inf Nurul Yakin atau sekarang saya sebagai orang keempat,”ucapnya.
“Lalu, dari 300-an siswa yang lolos seleksi penerimaan, akhirnya USArmyUniversity hanya memberikan Award Degree kepada 152 Siswa US dan manca negara,” terang Alzaki.
Diungkapkannya, karena sibuk mengerjakan tugas kuliah dari CGSC, US Army University dan Webster University serta mengerjakan tulisan untuk The Simmon Center, pria kelahiran Bukit Tinggi 37 tahun lalu itu, mengaku jika selama itu anak istrinya rela “tidak pesiar” dan tinggal menemaninya di rumah, saat libur.
“Tahun ini, dari 1001 siswa US dan 110 siswa manca negara yang berasal dari 87 negara, lebih dari 75% nya tidak mengikuti program MMAS maupun universitas lain,” jelasnya.
“Teman saya Mayor Inf Paulus Panjaitan dan Mayor Arm Delli Yudha yang memilih tidak ikut program tersebut, sangat men-support saya selama disana,” imbuhnya.
“Tahun ini, 1.111 siswa dari US Army, US Navy, US Marine, US Air Force, US Coast Guard, US Border Patrol dan beberapa US Government Departments serta siswa manca negara, termasuk kami bertiga mendapatkan gelar Diploma dan penghargaan InternationalBadge dari CGSC,” ucap prajurit Kopassus yang menjadikan Masjid di Leavenworth sebagai tempat mendekatkan dirinya pada Sang Pencipta.
International Badge merupakan penghargaan yang diberikan sejak tahun 1964 kepada seluruh siswa manca negara yang mengikuti CGSC dan hingga saat ini Alzaki merupakan siswa Indonesia ke-142 yang menerima International Badge.
“Meski tidak menduga, ketika diberitahu mendapatkan salah satu dari empat penghargaan akademik di CGSC, yaitu The Simon Writing Interagency Award, saya merasa senang dan bersyukur karena dapat ikut membuat sejarah baru, yaitu menempelkan Indonesia, khususnya TNI AD di Wall of Fame The Simmon Center,” tutur Alumni Akmil 2004 itu.
Dikarenakan Award tersebut selalu diraih Siswa AS, yang pertama kali yang dilakukan oleh Alzaki, lari ke Masjid di Leavenworth untuk berdoa dan bersyukur kepada Allah SWT karena telah memuluskan perjuangannya itu.
“Saya sangat percaya bahwa perencana yang baik adalah yang mampu merencanakan waktunya dimasa yang akan datang, namun perencana terbaik adalah yang mampu merencanakan waktunya melebihi masa hidupnya,” tegas Alzaki penuh yakin.
“Alam ini kecil bagi-NYA, apalagi hanya untuk mengabulkan apa yang kita inginkan, jika Dia (Allah) berkehendak,” pungkasnya.
Selama di AS, Alzaki aktif mengenalkan Indonesia, bersama kedua sahabatnya di beberapa acara seperti circle of knowledge di Park University, dimana dia mendapatkan apresiasi sertiifkat dari People to People Organization (Dispenad).

Radar Acak