China Siap Mainkan Rare Earth, Industri Militer AS Terancam Lumpuh


Otoritas terkait China pada Senin (17/6/2019) mengumumkan akan mempelajari dan meluncurkan kebijakan baru yang relevan terkait elemen rare earth atau logam tanah jarang (LTJ). Jika kebijakan yang dimaksud adalah larangan LTJ ke Amerika Serikat (AS), maka industri militer termasuk produksi jet tempur F-35 Washington bisa terancam lumpuh.
Rare Earth
Rare Earth 
Pengumuman ini disampaikan juru bicara Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) China, Meng Wei, dalam konferensi pers singkat di Beijing, sebagaimana dikutip Channel News Asia. Meng Wei tidak merinci kebijakan baru LTJ yang dimaksud.
Meng mengatakan pemerintah China dengan tegas menentang segala upaya untuk menggunakan produk-produk yang dibuat dengan rare earth.
Larangan ekspor rare earth ke AS telah menjadi ancaman terselubung dari China. Media-media Beijing sebelumnya blakblakan menyebut kebijakan larangan ekspor rare earth adalah salah satu "opsi nuklir" China dalam perang dagang dengan Washington yang terus memanas.
Menurut perusahaan riset Adamas Intelligence, AS bergantung pada China untuk kebutuhan sekitar 80 persen dari pasokan elemen rare earth-nya. Angka itu merupakan data kebutuhan tahun 2014 hingga 2017.
Elemen rare earth tak hanya dibutuhkan untuk industri militer, tapi juga berbagai industri lain mulai dari mobil listrik, smartphone, laser hingga penyulingan minyak. Jika industri militer AS lumpuh karena "permainan" rare earth China, maka keamanan nasional Washington juga terancam.
Diperlukan waktu bertahun-tahun untuk membangun pabrik pemrosesan LTJ yang cukup untuk menyamai kapasitas pemrosesan LTJ China sebesar 220.000 ton. Angka produksi LTJ China itu setara lima kali lipat dari kapasitas gabungan produksi LTJ seluruh dunia.
LTJ adalah sekelompok 17 unsur kimia, yaitu gadolinium, holmium, disprosium, europium, ytterbium, lutetium, neodymium, praseodymium, promethium, samarium, terbium, thulium, cerium, erbium, skandium, yttrium dan lanthanum. Secara teknis LTJ tidak langka, tetapi sangat sulit ditemukan dalam konsentrasi besar, dan sulit untuk diproses karena bijihnya sering mengandung bahan radioaktif yang terjadi secara alami.(Muhaimin)

Iran akan Lampui Batas Pengayaan Uranium


Iran menyatakan melampui batas cadangan uranium yang diperkaya berdasarkan kesepakatan nuklir 2015. Berdasarkan kesepakatan itu, Iran hanya boleh memiliki cadangan uranium yang diperkaya maksimal 300 kilogram.
Behrouz Kamalvandi
Behrouz Kamalvandi 
Juru bicara Organisasi Energi Atom Iran (AEOI), Behrouz Kamalvandi menuturkan, Teheran telah meningkatkan pengayaan uranium. Dalam beberapa hari ke depan, lanjut Kamalvandi, jumlah cadangan uranium yang diperkaya Iran akan melampui 300 kilogram.
"Kami telah meningkatkan produksi uranium di Natanz. Hitung mundur telah dimulai, dan pada 27 Juni, produksi uranium kami akan melampaui 300 kilogram," ucapnya dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Anadolu Agency pada Senin (17/6).
Kamalvandi kemudian mengatakan, Teheran sedang menunggu keputusan para pejabat Iran mengenai memulai langkah kedua dari langkah-langkah untuk mengurangi komitmen terkait kesepakatan nuklir.
"Orang Eropa masih punya waktu. Kami menunggu satu tahun (bagi mereka untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir), yang merupakan 'kesabaran strategis' kami," katanya.
Dia lalu mengatakan, Iran memiliki dua opsi mengenai tingkat pengayaan uranium. "Salah satunya adalah meningkatkan pengayaan hingga 5% untuk penggunaan di pembangkit listrik Bushehr, atau meningkatkannya hingga 20% untuk reaktor Teheran," ungkapnya.
Dirinya menambahkan, seandainya Teheran tidak menemukan pasar dalam jangka waktu 2,5 bulan ke depan, persediaan air berat Iran bisa naik hingga 130 metrik ton.(Victor Maulana)

Danlanud Adisutjipto Menerima Kunjungan Delegasi Korean Aerospace Industries


Bertempat di ruang Loby Mako Lanud Adisutjipto Danlanud Adisutjipto Marsma TNI Ir. Bob Henry Panggabean menerima kunjungan perwakilan dari Korean Aerospace Industries, Senin (17/6). Dalam kunjungan tersebut Danlanud didampingi oleh Kadislog Lanud Adisutjipto Kolonel Tek Dani Eri Wardhana dan Letkol Tek Dedy Eko Sulistyo dari Disaeroau serta perwakilan dari PT Karya Jumbo Agung selaku rekanan kegiatan tersebut.
Kunjungan Delegasi Korean Aerospace Industries
Kunjungan Delegasi Korean Aerospace Industries 
Kunjungan dari Korean Aerospace Industries tersebut dalam rangka Follow On Support Systems pesawat KT 1 B Woong Bee dari Korea selatan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendukung kesiapan pesawat latih yang selama ini digunakan sebagai pesawat latih lanjut sekolah penerbang TNI serta pesawat aerobatik Jupiter Aerobatik Team.
Usai melaksanakan pertemuan dengan Danlanud Adisutjipto seluruh rombongan KAI berjumlah 6 personel melaksanakan peninjauan langsung ke hanggar pesawat KT 1 B Woong Bee serta menuju ke Skatek 043 dan diterima oleh Danskatek 043 Letkol Tek Nur Haryanto untuk melihat secara langsung proses pemeliharaan pesawat tersebut yang menurut rencana akan berlangsung selama 2 hari dari tanggal 17 sd 18 Juni 2019.(TNI AU)

Saab Tawarkan 64 Jet Gripen dan 2 Pesawat AEW&C GlobalEye Ke Finlandia


Saab telah mengajukan penawaran untuk 64 pesawat Gripen dan 2 pesawat AEW & C GlobalEye untuk pengadaan pesawat tempur Finlandia pada Januari tahun ini.
AEW&C GlobalEye dan Gripen E
AEW&C GlobalEye dan Gripen E 
52 dari 64 pesawat temmpur yang ditawarkan adalah Gripen E kursi tunggal, sementara 12 lainnya adalah Gripen F berkursi ganda. Finlandia telah menyatakan bahwa mereka merencanakan mengambil keputusan pengadaan tersebut pada tahun 2021, kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan, Jumat (14/06).
Kontrak tersebut mencakup peralatan yang diperlukan dan layanan terkait untuk mengoperasikan pesawat serta paket senjata dan sensor yang substansial. Proposal Saab juga mencakup program kerja sama industri dengan tujuan untuk membangun kemampuan nasional yang luas di Finlandia untuk pengamanan pasokan, meliputi transfer kemampuan maintenance, repair and overhaul (MRO) untuk industri lokal Finlandia serta produksi pesawat dan pembentukan pusat pengembangan di Finlandia. (Angga Saja - TSM)

Turki Luncurkan Jet TF-X Generasi Ke-5, Alternatif Pengganti F-35 AS


Turki membuat kejutan setelah dihambat Amerika Serikat (AS) untuk memperoleh pesawat jet tempur siluman F-35 Lockheed Martin. Kejutan tersebut adalah peluncuran model jet tempur generasi kelima buatan sendiri yang dijuluki jet tempur TF-X.
Pesawat TF-X diluncurkan Turki di Paris Air Show hari Senin. Pesawat jet tempur pribumi itu menjadi alternatif pengganti F-35 Lockheed Martin AS.
 TF-X Generasi Ke-5
 TF-X Generasi Ke-5 
Perancang TF-X generasi kelima adalah Turkish Aerospace Industries (TAI), biro desain pesawat utama Turki.
Ankara sejatinya telah memesan 100 unit jet tempur F-35 dari AS. Namun, Washington baru-baru ini menangguhkan kesepakatan itu atas keberatannya yang berkelanjutan terhadap pembelian sistem pertahanan rudal S-400 Rusia oleh Ankara.
Di landasan pacu di Bandara Paris-Le Bourget, peluncuran dramatis itu menunjukkan kepada dunia sebuah pesawat tempur bermesin ganda dan canted-vertical-tail. Mengutip Military.com, Selasa (18/6/2019), pesawat jet tempur buatan Turki ini mirip F-35, tetapi badan pesawat lebih sempit dan sayap yang lebih lebar.
"Pada F-35, sebenarnya, perusahaan saya sedang membangun badan pusat," kata Presiden dan CEO TAI Temel Kotil pada upacara tersebut. Menurut data Defense News, TAI selama ini menjadi pemasok sekunder untuk kontraktor Northrop Grumman yang berpusat di AS, yang membangun mayoritas pesawat F-35.
"Jadi ini berarti, dalam hal pembuatan, Dirgantara Turki memiliki kekuatan yang cukup untuk membangun pesawat tempur ini," kata Kotil. “Mesin kami adalah tiruan, tetapi pada tahun 2023 akan ada mesin yang nyata, dan penerbangan pertama pada tahun 2025, dan (itu akan dalam) layanan pada tahun 2028," ujarnya.
TF-X dilaporkan memiliki kecepatan tertinggi Mach 2 dengan kisaran tempuh 600 mil, dan akan mampu mengangkat beban 60.000 pound saat lepas landas. Mesinnya, masing-masing akan memberikan jet tempur itu dengan daya dorong 20.000 pound yang membuatnya sebanding dengan F-35 Joint Strike Fighter.
BAE Systems, yang telah berkolaborasi dalam program jet tempur itu dengan TAI, mengatakan bahwa TF-X akan menjadi "petarung terbaik di Eropa" dan mampu membawa rudal Meteor air-to-air dalam jarak jauh yang sedang dikembangkan oleh pabrikan Eropa, MBDA.
Seorang pejabat Pentagon yang dihubungi oleh Defense News menolak mengomentari apakah TF-X mewakili langkah tegas Turki yang dihambat untuk membeli F-35 Lockheed Martin AS.
Para pemimpin pertahanan AS selama ini menyuarakan kekhawatiran bahwa jika Turki mengoperasikan F-35 dan sistem rudal S-400 bersama-sama, senjata pertahanan Rusia itu bisa mengungkap kelemahan dan kerentanan F-35.
Sebelumnya, Ankara juga menyatakan minatnya pada pesawat tempur generasi kelima lainnya, termasuk Su-57 Rusia dan pesawat tempur FC-31 China.(Muhaimin)

AU Filipina Resmikan Simulator FA-50 Golden Eagle


Angkatan Udara Filipina meresmikan FA-50PH Flight Simulator dan fasilitasnya di Fighter Wing ke-5, Pangkalan Udara Basa, Floridablanca, Pampanga pada 14 Juni 2019 dimana Menteri Pertahanan Nasional FIlipina, Delfin N Lorenzana menjadi Tamu Kehormatan bersama dengan Duta Besar Republik Korea untuk Filipina, Dong-Man Han.
  Peresmian Simulator FA-50 Golden Eagle Filipina
Peresmian Simulator FA-50 Golden Eagle Filipina 
FA-50PH Flight Simulator adalah sistem pelatihan simulasi berbasis darat yang dapat membantu meningkatkan kemampuan operasional pesawat sebenarnya melalui pelatihan penerbangan sistematis dan program pelatihan misi taktis. Simulator ini juga menyediakan lingkungan pelatihan yang tepat untuk pilot dengan mensimulasikan skenario yang mirip dengan operasi penerbangan yang sebenarnya.
FA-50PH Flight Simulator dan fasilitasnya adalah bagian dari Horizon I Proyek Modernisasi AFP. Pembangunan fasilitas dimulai 19 Oktober 2018 dan selesai 20 Februari 2019 dengan Korea Aerospace Industries Ltd. (KAI) sebagai kontraktornya. (Angga Saja - TSM)
Sumber : paf.mil.ph

A-10 C Thunderbolt II dan M1A2 Abrams Latihan Tempur Bersama di Fort Irwin


Tank Tempur Utama (MBT) merupakan wahana tempur darat yang berbahaya. Monster lapis baja ini dapat menghancurkan kendaraan maupun perkubuan musuh dengan cara maju menyerang dalam formasi yang masif.
Untuk melumpuhkan tank, pesawat menjadi salah satu wahana perang lain yang digunakan. Pesawat memiliki keunggulan karena dapat menyerang dari atas dan sudah pasti tidak bisa dihalau oleh tank itu sendiri.
A-10 C Thunderbolt II dan M1A2 Abrams
A-10 C Thunderbolt II dan M1A2 Abrams 
Tank buster atau wahana pelahap tank dilengkapi rudal udara ke darat macam AGM-65 Maverick yang berdaya jangkau lebih jauh dibanding AGM-114 Hellfire. Rudal ini ampuh dan sudah terbukti kegunaannya di berbagai medan pertempuran.
Ada juga rudal-rudal tube-launched yang digunakan untuk menyerang tank, seperti Javelin atau BGM-71 TOW buatan Amerika Serikat. Rudal ini digunakan oleh pasukan infanteri darat maupun infanteri laut (marinir) untuk melumpuhkan tank.
Khusus mengenai pesawat penyerang tank, A-10 Thunderbolt II atau sering disebut Warthog, adalah pesawat yang sangat mumpuni digunakan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF). Demikian halnya dengan A-10C Thunderbolt II yang digunakan Wing Tempur ke-124 Idaho Air National Guard.
Dalam skenario latihan perang yang dilaksanakan oleh National Tranining Center di Fort Irwin, California mulai 24 Mei hingga 20 Juni 2019, kedua mesin perang beda alam ini didaulat untuk melaksanakan latihan tempur bersama.
A-10 C Thunderbolt II diturunkan bersama dengan tank M1A2 Abrams dari Batalion ke-2, Resimen Kavaleri ke-116 Idaho Army National Guard. Bukan untuk melumpuhkan Abrams, Warthog malah didaulat guna memberikan bantuan terhadap pasukan tank.
Memang, Thunderbolt II tidak semata hanya menjalankan tugas utama untuk menghancurkan tank. Mesin perang udara ini melaksanakan misi sekunder sebagai pesawat pemberi dukungan udara dekat (close air support/CAS) bagi pasukan darat termasuk batalion tank maupun resimen kavaleri. A-10 menyapu sasaran-sasaran di depan untuk memberikan akses atau ruang gerak maju bagi pasukan darat.
A-10 yang dapat melaksanakan tugas pada siang dan malam hari memandu tank Abrams dengan memberikan koordinat-koordinat sasaran untuk dihancurkan.
Warthog yang dapat terbang rendah dengan kecepatan yang rendah atau cepat, juga bisa memberikan informasi mengenai keadaan di depan yang akan dilalui pasukan tank. Istilahnya, bertindal selaku pengendali udara (forward air controller/FAC).
Tidak hanya itu, pesawat ini juga digunakan guna mendukung operasi pasukan khusus dan tim SAR Tempur.
Beragam persenjataan dapat dibawa oleh A-10. Mulai dari kanon putar GAU-8 Avenger kaliber 30 mm 1.174 putaran, roket Hydra 70/APKWS, bom Mk-82, Mk-84, bom kluster, JDAM, dan rudal pelahap tank maupun penghancur beton/landasan AGM-65 Maverick.
Bahkan, rudal udara ke udara jarak dekat AIM-9 Sidewinder pun dapat dibawa untuk menghancurkan sasaran bergerak di udara. (Roni Sontani)

Selandia Baru Akhirnya Pilih C-130J-30 Super Hercules Gantikan C-130H Hercules


Selandia Baru telah mengumumkan C-130J-30 Super Hercules buatan Lockheed Martin sebagai pemenang untuk menggantikan armada lama C-130H Hercules. Super Hercules menyisihkan Airbus A400M dan Embraer KC-390 dalam kontes yang digelar oleh pemerintah negeri di barat daya Samudra Pasifik ini.
Keputusan tersebut diumumkan oleh Menteri Pertahanan Selandia Baru Ron Mark pada Senin, 10 Juni lalu.
C-130H Hercules Selandia Baru
C-130H Hercules Selandia Baru 
Langkah selanjutnya, pemerintah Selandia Baru akan meminta rincian penawaran harga untuk lima unit C-130J-30 yang akan dibeli.
Pembelian pesawat pengganti C-130H bagi Angkatan Udara Selandia Baru (Royal New Zealand Air Force/RNZAF) merupakan salah satu prioritas dari program Perencanaan Kapabilitas Pertahanan 2019.
Mark menyatakan, armada Hercules RNZAF harus segera mendapatkan pengganti mengingat pesawat angkut militer yang ditenagai empat mesin turboprop itu telah mengabdi di RNZAF sejak tahun 1960-an.
Menggunakan pesawat yang sudah berumur, ujar Mark, membutuhkan anggaran pemeliharaan yang terus bertambah. “Pesawat-pesawat itu telah sampai pada masanya untuk diganti dengan pesawat baru yang lebih tangguh.”
Tentunya, ada beberapa hal yang menyebabkan terpilihnya Super Hercules menjadi pengganti Hercules di RNZAF. Apakah itu?
“Setelah mempertimbangkan beberapa hal terkait jangkauan pesawat angkut, Super Hercules dipilih karena pesawat tersebut memiliki jangkauan jarak dan kapabilitas angkut muatan yang sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pertahanan Selandia Baru,” ujar Mark seperti diberitakan Reuters.
Ditambahkan, pesawat angkut taktis merupakan kebutuhan penting bagi Selandia Baru. Pesawat ini besar kegunaannya bagi komunitas dan negara seperti pergeseran personel maupun logistik di dalam negeri, kawasan Pasifik Selatan, Antartika, dan bahkan hingga ke seluruh negara.
“Kami butuh pesawat yang tangguh dan sudah diuji. Kami tidak mau mengambil risiko untuk salah satu kebutuhan penting dari kapabilitas militer kami,” lanjutnya.
Akan tetapi, walau sudah memilih C-130J-30 sebagai pemenang, Mark mengatakan keputusan tersebut belum final terkait berapa jumlah pasti pesawat yang akan dibeli. Karena, hal itu sangat tergantung dengan harga yang ditawarkan dan paket yang didapat nantinya.
Keputusan lanjutan mengenai hal ini, pungkasnya, akan ditetapkan tahun depan.
Sebelumnya, tawaran lain di tahun ini juga datang dari Kawasaki, Jepang dengan pesawat angkut C-2 serta kolaborasi dari Leonardo dan Northrop Grumman Australia yang menawarkan C-27J Spartan.
Selain akan mengganti 5 C-130H, RNZAF juga sedang mencari pesawat pengganti 2 B757-200. (Roni Sontani)

Kedatangan Pesawat C 17 Globe Master US Air Force di Lanud Sam Ratulangi


Pangkalan Udara Sam Ratulangi Manado, menerima kedatangan satu pesawat angkut berat C-17 Globe Master US Air force, Jumat (14/6). Pesawat angkut berat tersebut tiba di Bandara Sam Ratulangi Manado pada pukul 13.58 Wita setelah menempuh perjalanan jauh dari Jepang ke Bandara Sam Ratulangi Manado.
C 17 Globe Master US Air Force
C 17 Globe Master US Air Force  
Kedatangan pesawat C-17 Globe Master US Air Force yang di pimpin oleh Kapten Pilot, Capt Rocque Gardland dan Co Pilot Capt Jon Simon Cs, tersebut disambut oleh Komandan Lanud Sam Ratulangi Kolonel Pnb Johnny Sumaryana S.E., di apron bandara Sam Ratulangi.
Kedatangan pesawat tersebut dipersiapkan guna mendukung latihan bersama “Cope West” Tahun 2019 dengan TNI AU , yang rencananya akan dimulai tanggal 17 sampai 28 Juni 2019, dan akan berlangsung di Lanud Sam Ratulangi, Sulawesi Utara . Kedatangan Pesawat C-17 dengan tanda Reg. USA, no Reg. 55152 ini membawa 7 orang crew, pax 43 orang dan Kargo seberat 42.140 kg, untuk mendukung Ground Crew/teknisi serta peralatan pendukung dari Skadron tempur F-16 US Air Force.
Dalam latihan Cope west Tahun 2019 nanti, Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) akan menggunakan pesawat tempur F-16 dari Skadron 14 yang bermarkas di Misawa Jepang dan dari TNI AU akan mendatangkan pesawat tempur F-16 dari Skadron udara 3 Lanud Iswahyudi. (TNI AU)

Trump akan Minta Korea Selatan Beli Lebih Banyak F-35 Setelah Harga Diturunkan


Presiden AS Donald Trump diperkirakan akan meminta pemimpin Korea Selatan untuk membeli lebih banyak pesawat tempur siluman F-35A Lightning II JSF.
Media berbahasa Inggris Korea The Korea Times mengutip analis pertahanan, melaporkan bahwa Trump diperkirakan akan bertanya kepada Presiden Moon Jae-in tentang pembelian F-35A tambahan pada KTT G20 tahun ini.
F-35 Korsel
F-35 Korsel 
Trump berencana mengadakan pertemuan pribadi dengan Moon pada 30 Juni untuk membahas masalah yang menjadi kepentingan bersama dan mengeksplorasi cara-cara untuk lebih memperkuat aliansi keamanan.
"Jika Trump mengemukakan masalah pembelian tambahan F-35A Korea Selatan, ini dapat mempercepat proyek pengadaan karena Angkatan Udara Republik Korea telah berulang kali meningkatkan kebutuhan untuk mengerahkan lebih banyak pesawat siluman,” kata Shin Jong- woo, sekretaris perwakilan Forum Pertahanan dan Keamanan Korea.
Pada September 2014, Korea Selatan mengumumkan kesepakatan untuk pengadaan 40 pesawat tempur F-35A dalam kerangka Penjualan Militer Asing (FMS) sekitar 6,1 miliar dolar AS. Dua pesawat pertama sudah tiba di Korea pada akhir Maret 2019.
Jabat tangan terakhir antara Departemen Pertahanan AS dan Lockheed Martin menghasilkan penurunan harga per pesawat menjadi 81,35 juta dolar dari sebelumnya 89,2 juta. (Beny Adrian)

Danmenart 2 Marinir Kunjungi Uji Fungsi Roket R-HAN 122 B di Lumajang


Komandan Resimen Artileri 2 Marinir Kolonel Marinir Encep Wahyu Gumelar, S.E., M.M., mengunjungi prajuritnya yang sedang melaksanakan uji dinamik penembakan Munisi Roket R-Han 122B di pantai Dampar Lumajang, Jawa Timur. Kamis (13/06/2019).
Uji Fungsi Roket R-HAN 122 B
Uji Fungsi Roket R-HAN 122 B  
Dalam melaksanakan kunjungan tersebut Danmenart 2 Marinir didampingi Pasops Menart 1 Mar Letkol Mar Dian Suryansyah, S.E.,M.M., Pasops Menart 2 Mar Letkol Mar Marhabang, S.H.,M.M., Paslog Menart 1 Mar Letkol Mar Wahyudi, S.E.,M.M., Komandan Batalyon Roket 2 Marinir Letkol Marinir Anthonius Temmy Irawan selaku pimpinan penembakan serta tim penguji dari Kementrian Pertahanan dan PT.Pindad.
Penembakan yang menggunakan dua pucuk Roket MLRS Vampire Grad dibawah komando Danyon Roket 2 Marinir Letkol Marinir Anthonius Temmy Irawan dari tempat stelling yang berada di pantai Dampar Lumajang menuju sasaran yang ditentukan oleh tim penguji.
Usai meninjau penembakan, Danmenart 2 Marinir beserta rombongan melakukan pemeriksaan material Roket Korps Marinir dan memberikan motivasi kepada prajuritnya yang melaksanakan latihan agar tetap mendekatkan diri kepada Allah SWT, melaksanakan latihan sesuai prosedur, mengutamakan faktor keselamatan agar latihan benar-benar zerro accident.
Di akhir kunjungannya, orang nomor satu di jajaran Menart 2 Mar tersebut melaksanakan pengecekan amunisi R-HAN 122B yang akan ditembakkan oleh tim penguji.

Turki Bakal Siapkan "Aksi Balasan" Jika AS Beri Sanksi soal Pembelian S-400


Turki menyatakan tidak akan diam saja jika Amerika Serikat ( AS) menjatuhkan sanksi terkait pembelian sistem rudal S-400 dari Rusia.
Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu dalam wawancara dengan media Turki, seperti dikutip Reuters via Antara Jumat (14/6/2019).
S-400S-400
S-400 
"Jika Amerika Serikat mengambil langkah negatif terhadap kami, maka kami juga akan melakukan pembalasan," kata menteri yang menjabat sejak November 2015 itu.
Turki dan AS memanas selama berbulan-bulan buntut keputusan Ankara untuk membeli sistem rudal S-400 itu yang diprediksi bakal dikirim pada Juli nanti.
Washington mengancam pembelian itu bakal memicu sanksi. Selain itu, Penjabat Menteri Pertahanan Patrick Shanahan sempat menulis surat kepada Menhan Turki Hulusi Akar. Dalam suratnya,
Shanahan mengultimatum Turki untuk menghentikan pembelian sistem pertahanan S-400 jika tidak ingin dikeluarkan dari program jet tempur F-35.
Sejak surat peringatan itu mengemuka ke publik, nilai mata uang Turki lira dilaporkan melemah hingga 5,93 per dollar AS, terendah dalam dua pekan terakhir.
Cavusoglu menerangkan, tidak mungkin bagi Turki untuk membatalkan pembelian tersebut. "Kami yang menentukan masalah ini. Tidak peduli apa hasilnya, kami tak akan mundur," tegasnya.
Dalam pandangan AS, rudal S-400 dianggap tidak sesuai dengan sistem pertahanan NATO, apalagi jet tempur F-35 di mana Ankara berniat membeli 100 unit.
Turki sempat mengusulkan agar bersama AS, mereka membentuk gugus tugas untuk menilai dampak yang ditimbulkan dari S-400. Namun, hingga saat ini belum ada tanggapan.
Sumber : kompas.com

Perusahaan China Ternyata Bikin Komponen Sensitif Jet Tempur F-35 AS


Sebuah perusahaan China disebut terlibat dalam produksi jet tempur F-35 Amerika Serikat (AS) di tengah narasi tuduhan bahwa mereka melakukan spionase.
Exception PCB, perusahaan China yang berbasis di Gloucestershire, Inggris, terlibat dalam pembuatan papan sirkuit yang mengontrol mesin, cahaya. bahan bakar, dan sistem navigasi.
Jet Tempur F-35
Jet Tempur F-35 
Dilansir Russian Today Sabtu (15/6/2019), Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan perusahaan itu merupakan pemasok tetap dan tidak menimbulkan risiko.
Mantan Menteri Strategi Keamanan Internasional Sir Gerald Howarth mengaku sangat khawatir dengan keterlibatan China di program senjata rahasia itu.
"Kami benar-benar naif tentang peran China itu, dan baru saat ini kami sudah terbangun," ujar politisi berusia 71 tahun itu kepada The Telegraph.
Anggota parlemen dari Partai Konservatif sekaligus anggota tentara cadangan Bob Seely kepada Sky News menuturkan, dia begitu takjub dengan temuan itu.
"Pertanyaannya bukanlah 'Apakah itu buruk?' melainkan "Seberapa buruk yang terjadi?'," terang Seely. Exception PCB dilaporkan dibeli Shenzhen Fastprint pada 2013.
Perusahaan itu tidak mengungkap pemiliknya di China, dan dilaporkan terlibat juga dalam produksi komponen program sensitif lain seperti jet tempur Eurofighter Typhoon dan helikopter Apache.
Juru bicara perusahaan menuturkan terdapat "sekat yang jelas" antara Exception PCB dengan perusahaan induknya di China, dan menyatakan hanya memproduksi papan sirkuit mentah.
Mereka mengaku tidak mendapatkan informasi mengenai sistem elektronik jet tempur. Namun Lockheed Martin selaku pabrikan utama F-35 tidak begitu yakin.
Lockheed menjelekan seperti halnya komponen F-35 yang lain, papan sirkuit itu menjalani pemeriksaan di setiap perusahaan produsen secara berkala dan terus-menerus.
Pabrikan yang bermarkas di Maryland itu mengungkapkan, Exception PCB tidak mempunyai akses atau visibilitas terhadap informasi program bersifat sensitif.
Mereka menuturkan sudah mempunyai perusahaan pengganti jika di kemudian hari, mereka menemukan bahwa Exception PCB merupakan sumber yang belum disetujui.
Laporan itu terjadi di tengah larangan yang diberlakukan AS terhadap raksasa telekomunikasi China Huawei setelah dianggap menjadi mata-mata bagi Beijing.
Menurut Chief Security Officer Huawei John Suffolk, adalah kompetisi yang membuat AS ketakutan dan memuturkan melarang raksasa telekomunikasi tersebut.
Suffolk berkata, AS takut pada persaingan pengembangan teknologi dan kontrol terhadap jaringan telekomunikasi global. "Teknologi AS-lah yang mengawasi seluruh dunia," ucapnya. (Ardi Priyatno Utomo)

Kazakhstan Sepakat dengan Airbus Produksi Helikopter H145M Secara Lokal


Kazakhstan akan memproduksi helikopter Airbus H145M secara lokal di bawah usaha patungan (JV) yang dibentuk antara Airbus Helicopter dan Kazakhstan Engineering (KE) pada 2011.
Pemerintah Kazakhstan mengatakan bahwa JV akan menandai pertama kali sebuah helikopter militer dibangun di negara itu.
Helikopter H145M
Helikopter H145M  
Disetujui selama pertemuan Komisi Kazakh-Perancis untuk kerja sama senjata yang diadakan bulan ini, helikopter akan dibangun Eurocopter Kazakhstan Engineering JV yang didirikan antara KE dan Airbus.
JV memfasilitasi akuisisi EC145 milik Kazakhstan (sekarang H145) untuk kementerian pertahanan dan darurat, serta menghasilkan beberapa perakitan akhir dan pengecatan yang dilakukan di dalam negeri untuk pembelian awal tersebut. (Beny Adrian)
Sumber : angkasa.news

Israel Resmikan 'Dataran Tinggi Trump' di Golan


Pemerintah Israel meresmikan sebuah komunitas baru di Dataran Tinggi Golan dengan nama "Trump Heights" atau "Dataran Tinggi Trump". Nama komunitas itu sebagai penghargaan untuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang secara sepihak mengakui Dataran Tinggi Golan milik negara mayoritas Yahudi tersebut.
'Dataran Tinggi Trump
Dataran Tinggi Trump 
Wilayah Golan sejatinya milik Suriah. Wilayah itu diduduki Israel dalam perang 1967 dan kemudian dianeksasi beberapa tahun kemudian. Komunitas internasional tidak pernah mengakui aneksasi tersebut. Namun, Trump pada Maret lalu secara sepihak memberikan pengakuan yang membuat Suriah dan negara-negara Arab marah.
Proyek "Trump Heights" dimaksudkan untuk mempererat hubungan AS dan Israel. Pada sesi kabinet khusus di Beruchim, sebuah clutch rumah yang jarang berjarak hanya 12 km (7,5 mil) dari garis gencatan senjata Dataran Tinggi Golan dengan Suriah, Netanyahu meluncurkan tanda bertuliskan "Trump Heights" dalam bahasa Inggris dan Ibrani.
Tanda itu dihiasi dengan bendera Israel dan AS dan ditanam di sebidang rumput sintetis.
"Trump adalah teman baik Israel," kata Netanyahu, seperti dikutip Reuters, Senin (17/6/2019). "Dia telah merenggut topeng kemunafikan ini yang tidak mengenali apa yang sudah jelas," katanya lagi.
Otoritas Israel berharap pembenahan Beruchim—rumah bagi komunitas imigran dari bekas Uni Soviet— menjadi "Trump Heights" akan memicu gelombang masuk penduduk.
Tetapi sebuah memorandum 12 Juni dari kantor Netanyahu menunjukkan rencana itu masih jauh dari implementasi, karena Israel tidak memiliki dana peruntukan serta persetujuan akhir untuk lokasi dan nama yang tepat.
"Dalam resolusi (kabinet) ini, diusulkan agar nama komunitas, jika didirikan, menjadi 'Trump Heights'," bunyi memorandum yang ditandatangani oleh wakil penasihat hukum, Yael Cohen.
Masalah itu sebagian disebabkan oleh fakta bahwa Netanyahu mengepalai pemerintahan sementara, setelah gagal membentuk koalisi setelah maju dalam pemilihan umum 9 April di Israel. Perdana menteri itu sekarang harus memperebutkan suara pada pemilu ulang 17 September mendatang.
Dalam interval seperti itu, Cohen menulis; "Keputusan hukum mengharuskan, sebagaimana aturan umum, menahan diri dalam pengambilan keputusan oleh kabinet".
Rival Netanyahu menertawakan upacara peresmian komunitas "Trump Heights" pada hari Minggu.
"Siapa pun yang membaca cetakan kecil pada resolusi 'bersejarah' memahami bahwa itu adalah resolusi boneka," bunyi tweet Zvi Hauser, seorang mantan menteri kabinet Netanyahu yang sekarang menjadi bagian dari partai oposisi.
Kegagalan politik Netanyahu telah menguji kesabaran Trump, yang awal bulan ini mengatakan Israel kacau karena pemilu dan perlu menyatukan tindakan mereka.(Muhaimin)

41 Personel TNI Konga XXXIX-A RDB Monusco, Ikut Misi Tembus Wilayah Red Zone (Berbahaya) di Kongo Afrika


Sebanyak 41 personel Satuan Tugas (Satgas) TNI RDB Monusco melaksanakan pemantauan dengan melakukan latihan jangka panjang atau Long Range Mission (LRM )sejauh 189 kilometer di Provinsi Tanganyika, Republik Demokratik Kongo yang masih berstatus red zone.
Hal itu disampaikan Dansatgas TNI Konga XXXIX-A RDB Monusco, Kolonel Inf Dwi Sasongko dalam keterangan tertulisnya di Kongo, Jumat 14 Juni 2019.
Personel TNI Konga XXXIX-A RDB Monusco
Personel TNI Konga XXXIX-A RDB Monusco 
Latihan yang dilakukan bersama UN Departement of Safety and Security (UNDSS) tersebut berlangsung selama tiga hari, mulai tanggal 10 sampai 12 Juni dengan tujuan untuk menjamin keselamatan dan keamanan staf UN dalam melakukan aktivitas di wilayahnya.
"Selama latihan berlangsung, tim LRM singgah di desa-desa untuk melaksanakan koordinasi dengan aparat kemanan lokal di antaranya Armed Forces of the Democratic Republic of the Congo (FARDC) dan Police National Congo (PNC)," tuturnya.
Dwi menuturkan, daerah Axist Nyunzu yang digunakan sebagai tempat latihan, merupakan daerah yang belum terjamah oleh pasukan UN serta memiliki medan yang sulit ditembus oleh kendaraan dan berstatus red zone atau berbahaya.
"Tahun lalu pernah terjadi ambush atau penyergapan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata kepada Batalyon Benin yang mengakibatkan 11 pucuk senjata dirampas," ungkapnya.
"Namun dengan berbagai kegiatan Civil and Military Coordination (Cimic) yang kita gelar ternyata mampu memengaruhi serta mengajak masyarakat untuk kembali menempati desa-desa yang telah lama ditinggalkan," tandasnya.
Bahkan masyarakat setempat berharap, Satgas Indo RDB dapat kembali lagi ke Nyunzu, dan warga berjanji akan menyerahkan senjatanya, serta kembali sebagai warga masyarakat biasa.
“LRM merupakan salah satu sarana pembinaan teritorial atau Cimic yang memiliki dampak positif dan sangat besar sehingga diharapkan 'gaungnya' didengar oleh warga pelosok desa di wilayah Propinsi Tanganyika, Republik Demokratik Kongo," ucapnya.
Saat perjalanan dari Kalemie menuju Nyunzu, kata dia, tim terbagi dua di antaranya Nyemba dan Nyunzu. "Pada tiap-tiap etape dilakukan pula kegiatan Cimic berupa pelayanan kesehatan gratis, psikologi sosial dan perpustakaan mini," kata Dansatgas.
Di sela-sela itu pula, kata dia, tim menggelar pertemuan dengan kepala desa serta tokoh masyarakat, untuk membangun komunikasi dua arah, dari Satgas kepada masyarakat dan dari masyarakat kepada Satgas. (Adam Prawira)

Buntut Serangan Tanker, AS Pertimbangkan Opsi Militer terhadap Iran


Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Michael Pompeo mengatakan Washington mempertimbangkan berbagai opsi, termasuk opsi militer, terhadap Iran. Komentar diplomat top Amerika itu sebagai respons atas serangan terhadap kapal tanker minyak di Laut Oman yang dituduhkan terhadap Teheran.
Serangan Tanker
Serangan Tanker 
Meski mempertimbangkan opsi militer, Pompeo menegaskan bahwa Presiden Donald Trump tidak ingin berperang.
"Amerika Serikat sedang mempertimbangkan berbagai opsi. Kami telah memberi pengarahan kepada Presiden beberapa kali, kami akan terus memperbaruinya. Kami yakin bahwa kami dapat mengambil serangkaian tindakan yang dapat memulihkan pencegahan yang merupakan misi yang kami atur," kata Pompeo dalam sebuah wawancara di program "Face the Nation" CBS.
Ketika ditanya apakah respons militer termasuk dalam rangkaian opsi tersebut, Pompeo menjawab; "Tentu saja."
"Presiden akan mempertimbangkan semua yang perlu kita lakukan untuk memastikan, bukan? Tapi apa yang dikatakan Presiden? Kami tidak ingin Iran mendapatkan senjata nuklir," ujar Pompeo.
"Presiden Trump telah mengatakan dengan sangat jelas, dia tidak ingin pergi berperang," lanjut dia, seperti dikutip CNN, Senin (17/6/2019).
Seperti diberitakan sebelumnya, dua kapal tanker—satu mengangkut minyak dan satu lagi mengangkut bahan kimia—diserang kawasan Laut Oman di dekat Selat Hormuz.
Amerika Serikat telah menyalahkan Iran atas serangan terhadap kapal-kapal tanker di Teluk Oman dengan merilis rekaman video yang diklaimnya menunjukkan sebuah kapal patroli Iran di dekat kapal tanker yang kemudian terjadi ledakan.
Ledakan tersebut memicu kebakaran pada salah satu dari dua kapal tanker yang saat ini masih dalam penyelidikan. Pompeo menyalahkan Iran atas insiden itu dengan mengutip penilaian intelijen perihal senjata yang digunakan, tingkat keahlian yang dibutuhkan dan kesamaan dengan serangan lainnya baru-baru ini.
Di Fox News Sunday, Pompeo menegaskan kembali bahwa Iran melakukan serangan dengan niat yang jelas untuk menolak transit kapal tanker.
Ketua Parlemen Iran Ali Larijani menuding balik Amerika Serikat-lah yang kemungkinan melakukan "tindakan sabotase" terhadap dua kapal tanker di Laut Oman untuk menyalahkan Iran dan menekan Teheran.
Larijani mencemooh ucapan Pompeo yang mendesak Iran untuk melakukan diplomasi. "Apakah diplomasi untuk memulai pertarungan dengan negara revolusioner dengan aksi terorisme ekonomi, (sanksi ekonomi) yang mereka sendiri sebut sebagai yang terberat?," kata Larijani.
"Apakah itu diplomasi, Tuan Pompeo, untuk mengingkari janji seseorang dalam perjanjian nuklir?," lanjut dia yang menyindir AS sebagai "pengkhianat" kesepakatan nuklir Iran 2015.(Muhaimin)

AU AS untuk Pertama Kali Uji Coba Rudal Hipersonik di Pesawat Pembom B-52 Stratofortress


Angkatan Udara AS berhasil melakukan uji terbang rudal hipersonik hari Rabu lalu (12/6/2019) di Pangkalan Angkatan Udara Edwards California. Tes ini bertujuan untuk mengumpulkan data efek hambat dan getaran rudal tersebut pada pesawat B-52 Stratofortress dan pada dudukan senjata di pesawat tersebut.
Pembom B-52 Stratofortress
Pembom B-52 Stratofortress 
Menurut rilis resmi AU AS, rudal AGM-183A Air Launched Rapid Response Weapon (ALRRW) tidak mengandung bahan peledak dan tidak dilepaskan dari pesawat. Ia hanya dibawa untuk terbang bersama B-52.
Pihak AU AS menyatakan bahwa tes semacam itu merupakan prosedur standar yang harus dijalani do semua sistem senjata yang sedang dikembangkan.
"Kami menggunakan otoritas pembuatan purwarupa cepat yang diizinkan oleh Kongres untuk dengan membawa senjata hipersonik di pesawat tempur kita," ujar Will Roper, asisten sekretaris Angkatan Udara untuk akuisisi, teknologi dan logistik.
Amerika Serikat terus mengebut proyek rudal hipersonik ini untuk mengejar Rusia dan China yang telah lebih dulu mengembangkan teknologi senjata hipersonik.
AU AS sendiri tercatat telah memberikan kontrak untuk mengembangkan rudal hipersonik ke Lockheed Martin Missiles and Fire Control pada Agustus 2018. Jajaran rudal hipersonik ini dijadwalkan bisa memiliki kemampuan operasional awal pada tahun 2022. (Remigius Septian)

Rusia-China Kembangkan Inisiatif Baru Soal Semenanjung Korea


Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rusia mengatakan, Rusia dan China mengembangkan insiatif baru Rusia-China soal Semenanjung Korea. Insiatif ini adalah kelanjutan dari langkah serupa yang dibuat oleh Rusia dan China tahun 2017 lalu.
Semenanjung Korea
Semenanjung Korea 
Pada 2017, Rusia dan Cina mengajukan inisiatif, yang mencakup peta jalan untuk menyelesaikan masalah nuklir Semenanjung Korea. Inisiatif ini menetapkan penangguhan kegiatan rudal dan nuklir Korea Utara (Korut) dengan imbalan pengurangan latihan militer gabungan Amerika Serikat (AS)-Korsel.
Peta jalan itu juga menyerukan dialog antara Pyongyang dan Washington, serta untuk konsultasi yang melibatkan semua pihak yang berkepentingan.
"Untuk meningkatkan koordinasi, kami berencana untuk membahas secara menyeluruh sejumlah langkah yang diusulkan oleh Rusia dan China dalam inisiatif baru mereka," kata Kemlu Rusia dalam sebuah pernyataan.
"Ini adalah sebuah rencana aksi yang bertujuan untuk menemukan solusi komprehensif untuk masalah Semenanjung Korea, yang memperluas peta jalan bersama 2017 dan memiliki sudah diterima sebelumnya oleh mitra lain," sambungnya, seperti dilansir Tass pada Minggu (16/6).
Kementerian itu kemudian menuturkan bahwa insiatif ini akan dibahas dalam pertemuan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov dan Menteri Luar Negeri Korea Selatan (Korsel), Kang Kyung-wha. Keduanya akan bertemu pekan depan.(Victor Maulana)

Pesawat Pengawas Laut DA62 MSA Besutan Leonardo dan Diamond Aircraft Tampil di PAS 2019


Leonardo dan Diamond Aircraft akan menampilkan produk terbaru yaitu DA62 MSA (Maritime Surveillance Aircraft) alias pesawat untuk pengawasan laut dalam penyelenggaraan Paris Air Show (PAS) 2019 di Bandara Paris-Le Bourget pada 17-23 Juni.
Ini adalah pertama kali pesawat mesin ganda yang dilengkapi dengan perangkat ISR (Intelligence, Surveillance and Reconnaissance) ini ditampilkan di ajang bergengsi PAS.
 DA62 MSA
 DA62 MSA 
Sebelumnya, pesawat-pesawat buatan Dimond Aircraft hadir di PAS namun dalam varian yang lain.
DA62 MSA berkemampuan melaksanakan patroli baik di atas lautan maupun di atas daratan. Pesawat dilengkapi radar Gabbiano Ultra-Light TS dan sistem elektro-optik/infra merah (EO/IR) yang telah diintegrasikan dengan sistem misi ATOS (Airborne Tactical Observation and Surveillance). Ketiganya buatan Leonardo Electronics (Leonardo).
Diamond Aircraft, perusahaan dirgantara asal Austria, dalam siaran persnya menyatakan, perangkat yang ada di pesawat ini memenuhi spek kebutuhan para pengguna di berbagai belahan dunia. Pesawat misi khusus pun mendapat perhatian yang cukup besar.
Terbukti, hingga saat ini lebih 110 pesawat misi khusus telah telah berhasil dijual oleh Diamond Aircraft.
Sementara itu lebih 60 sistem ATOS telah berhasil diinstalasi oleh Leonardo pada 10 platform berbeda. Termasuk di antaranya pada pesawat Angkatan Udara Italia, Polisi Bea Cukai Italia, dan juga Bea Cukai serta Penjaga Pantai Australia.
Australia menggunakan pesawat ini antara lain untuk mengawasi dan menindak kegiatan pencurian ikan (illegal fishing) dan operasi kriminal lainnya.
DA62 MSA dengan bobot terbang maksimal (MTOW) 2.300 kg dapat terbang hingga 8 jam lamanya. Untuk versi angkut penumpang, DA62 berkapasitas 7 kursi termasuk satu untuk pilot. (Roni Sontani)

Terus Ditekan Soal S-400, Turki: Kami Bukan Koloni AS


Kepala Partai Gerakan Nasionalis Turki (MHP), Devlet Bahceli menyatakan, keputusan untuk membeli sistem pertahanan udara S-400 adalah hak Turki sebagai negara yang berdaulat. Dia menegaskan, tidak ada negara, termasuk Amerika Serikat (AS), yang berhak menentukan mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan Turki.
Devlet Bahceli
Devlet Bahceli  
"Turki akan membeli S-400 jika membutuhkannya, sesuai dengan keamanan dan kepentingan nasionalnya sendiri. Ini sudah berakhir, Turki adalah satu-satunya otoritas untuk memutuskannya," kata Bahceli, seperti dilansir Anadolu Agency pada Senin (17/6).
Pemimpin oposisi Turki itu kemudian mengatakan, Turki adalah negara yang kuat di kawasan dan memiliki kemampuan untuk membuat keputusan independen dan menerapkannya tanpa konsesi apa pun.
Dia lalu mengkritik Washington, yang menyarankan Turki untuk membeli sistem rudal AS Patriot daripada S-400, dengan argumen bahwa S-400 akan tidak kompatibel dengan sistem NATO dan mengekspos F-35 kepada Rusia. "Turki bukanlah koloni atau negara bagian AS," tegasnya.
Sementara itu, sebelumnya Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengatakan ia memperkirakan sistem pertahanan rudal S-400 Rusia akan mulai tiba di Turki pada semester pertama pada Juli.
“Kami membahas masalah S-400 dengan Rusia. Memang masalah S-400 diselesaikan. Saya pikir mereka akan mulai datang pada paruh pertama bulan Juli," kata Erdogan.
Hubungan antara Ankara dan Washington memburuk paska Turki memutuskan membeli S-400. Hubungan kedua terus memburuk setelah AS menyebut bahwa Turki kemungkinan besar akan ditendang dari program F-35.(Victor Maulana)

Komando Operasi Khusus AS Pesan Helikopter Chinook MH-47G


Komando Operasi Khusus AS mengontrak Boeing untuk menyediakan enam helikopter re-build dan satu helikopter MH-47G baru.
Pemesanan merupakan modifikasi dari kontrak saat ini dan nilainya 194,2 juta dolar AS.
 MH-47G Chinook
 MH-47G Chinook 
"Tindakan ini diperlukan untuk mempertahankan kemampuan serang berat US Special Operations Forces (SOF), pesawat sayap putar dan mengurangi dampak ketersediaan MH-47G sehubungan meningkatnya tuntutan operasional SOF,” menurut laporan Departemen Pertahanan.
Boeing MH-47G adalah varian operasi khusus dari CH-47 Chinook. MH-47G digunakan dalam misi angkut berat seperti transportasi pasukan, amunisi, kendaraan, peralatan, bahan bakar dan pasokan serta bantuan sipil dan kemanusiaan misi.
Helikopter ini dapat melakukan misi jarak jauh di ketinggian rendah, terbang dalam cuaca buruk baik siang maupun malam.
Konfigurasi MH-47G menggabungkan sejumlah peningkatan produksi untuk memasukkan sistem kontrol penerbangan canggih digital, kerangka mesin monolitik lebih kuat, dan peningkatan kemampuan angkut udara. (Beny Adrian)
Sumber : angkasa.news

Pentagon: Kecepatan Supersonik F-35 Singkat atau Lapisan Melepuh


Pejabat Pentagon di AS telah memperingatkan bahwa jet tempur F-35 Angkatan Udara Britania Raya (RAF) senilai £100 juta (Rp 1,8 triliun) hanya dapat terbang dengan kecepatan supersonik untuk semburan singkat, atau lapisan siluman akan 'melepuh'.
Jet, yang juga telah dibeli oleh Angkatan Laut AS dan Korps Marinir itu beresiko 'kerusakan struktural' ketika mencapai kecepatan tertinggi mereka sekitar 1.200 mph, berpotensi menghambat kemampuan mereka untuk mencegat pesawat lain, menurut laporan oleh Departemen Pertahanan AS, sebagaimana dikutip Daily Mail, 13 Juni 2019.
Jet Tempur F-35
Jet Tempur F-35 
Masalah 'serius' lain yang ditemukan dalam pengujian termasuk lonjakan tekanan kokpit yang dapat membuat pilot sakit sinus, hilangnya kontrol pada manuver tertentu, dan kesalahan sistem yang menyebabkan pesawat melaporkan masalah baterai dalam kondisi dingin.
Pesawat juga mengalami masalah dengan mode pencarian laut di radar dan dalam melakukan pendaratan vertikal selama cuaca panas, menurut dokumen yang diperoleh oleh Defense News. Tetapi masalah itu digambarkan sebagai 'masalah baru' oleh sumber pertahanan Inggris.
Kelemahan pada lapisan siluman, yang membuat pesawat tidak terlihat oleh radar dengan menyerap gelombang radio, terungkap menyusul tes pada 2011 ketika F-35B dan F-35C terbang dengan kecepatan antara 997 dan 1074mph.
Sebuah inspeksi pasca penerbangan menemukan 'gelembung dan melepuh' di permukaan salah satu jet, yang mendorong Lockheed Martin untuk memperbaiki masalah itu dengan memperkenalkan bahan baru yang tidak terlihat oleh radar.
Mail Online mendapati masalah ini pada empat dari 17 jet Inggris, yang saat ini berbasis di RAF Akrotiri di Siprus, di mana pengujian sedang berlangsung.
Selama uji coba Inggris, F-35 belum diuji dengan batas ekstrim yang sama seperti di AS, jadi tidak semua masalah yang sama telah dialami. Inggris berencana untuk membeli 138 F-35 sebagai bagian dari kesepakatan besar-besaran senilai £ 9,1 miliar (Rp 165 triliun).
Sebuah jet F-35A Jepang jatuh di Samudra Pasifik selama misi pelatihan pada bulan April, enam bulan setelah F-35B Amerika jatuh di South Carolina.
F-35 sedang diuji ketat di AS, di mana jumlah masalah mekanik paling serius telah berkurang dari 111 pada awal 2018 menjadi 13 pada Oktober - sembilan mempengaruhi varietas yang dimiliki Inggris. Jet-jet Inggris diperkirakan masih akan beroperasi pada akhir tahun meskipun ada cacat.
Seorang juru bicara Lockheed Martin mengatakan: "Masalah-masalah ini penting untuk diatasi, dan masing-masing dipahami dengan baik, diselesaikan atau dalam tahap menuju resolusi. "Kami telah bekerja secara kolaboratif dengan pelanggan kami, dan kami sepenuhnya percaya diri dalam kinerja F-35 dan solusi yang ada untuk mengatasi setiap item yang diidentifikasi."
Sumber :  tempo.co

Serangan Mortir Hantam Basis Militer AS di Irak


Militer Irak menyatakan, tiga mortir telah menghantam sebuah pangkalan udara yang menjadi basis tentara Amerika Serikat (AS) di utara Baghdad. Serangan ini memantik kebakaran dan menyebabkan kerusakan ringan terhadap basis tersebut.
Serangan Mortir
Serangan Mortir 
Melansir Arab News pada Minggu (16/6), militer Irak menuturkan, serangan terhadap pangkalan udara Balad itu terjadi pada Sabtu pagi. Sejauh ini, tidak ada laporan adanya korban dalam serangan tersebut.
Sejauh ini belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Serangan ini sendiri terjadi satu bulan setelah adanya serangan roket di Zona Hijau Baghdad, wilayah Kedutaan Besar AS berlokasi.
Zona Hijau adalah salah satu tempat institusional dengan keamanan paling tinggi di dunia. Zona itu terletak di pusat ibu kota Irak, tempat gedung parlemen, kantor perdana menteri, kantor kepresidenan, lembaga-lembaga penting lainnya, rumah pejabat tinggi dan kedutaan besar asing.
Serangan itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah antara AS dan Iran, yang meningkat setelah dugaan serangan terhadap dua kapal tanker minyak di dekat Selat Hormuz.(Victor Maulana)

USMC Puji Personel Marinir TNI AL, Paling Terlatih Dibanding Negara Lain


Setelah empat hari melaksanakan latihan bersama, Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal TNI (Mar) Suhartono diwakili Komandan Brigif 2 Marinir Kolonel Marinir Agus Gunawan Wibisono, menutup Latihan Bersama Marinir Indonesia - Amerika Serikat Subject Mather Expert Exchange (SMEE) di Markas Yonif 3 Marinir Gedangan, Sidoarjo, Jumat (14/6).
Subject Mather Expert Exchange (SMEE)
Subject Mather Expert Exchange (SMEE)  
Latihan melibatkan personel dari Marinir TNI AL dan United States Marine Pasific (US MARFORPAC). Kedua pasukan selama empat hari telah melaksanakan latihan bersama mengenai Non Combatant Evacuations Operations (Neo) dan Raid Response Planning Process (R2P2) di Kesatrian Marinir R. Suhadi Gedangan, Sidoarjo.
Menurut Dankormar, seluruh rangkaian kegiatan dan materi latihan yang disiapkan oleh panitia penyelenggara, dapat diselesaikan dengan baik sesuai jadwal dan sasaran yang direncanakan.
Oleh karena itu, Dankormar menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta latihan, khusus kepada prajurit Korps Marinir Indonesia agar pengalaman dan materi yang telah diperoleh dari kegiatan latihan bersama dapat diaplikasikan dan dipertajam kembali di satuan masing-masing sebagai upaya peningkatan profesionalisme.
Dankormar juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemerintah Amerika Serikat dalam hal ini ODC atas kerjasama dan perencanaan yang telah dilaksanakan, sehingga latihan bersama dapat berjalan sesuai harapan.
Kepada Delegasi United States Marine Pasific (US MARFORPAC), Dankormar mengucapkan selamat jalan, semoga selamat kembali ke Satuan induk, sampai bertemu kembali pada penyelenggara latihan bersama di masa yang akan datang.
Sementara Mayor USMC Johnessee menyampaikan bahwa Marinir Indonesia sangat profesional dalam melaksanakan kegiatan. Terbukti dari seluruh kegiatan yang dilaksanakan SMEE di negara lain, personel Kormar paling terlatih.
Selain itu, katanya, peserta latihan menunjukkan keingintahuan yang sangat besar di setiap kegiatan pelajaran dan melebihi dari expektasi USMC dan personel latihan Kormar mempunyai disiplin yang sangat baik.
Mayor USMC Johnessee juga menyampaikan bahwa USMC berterima kasih atas keramahtamahan personel Kormar. Mulai saat datang, melaksanakan kegiatan dan selesai kegiatan.
Menurutnya, USMC ingin lebih meningkatkan latihan bersama dan apa yang telah ditunjukkan dengan sangat baik akan dilaporkan kepada satuan atas. (Beny Adrian)
Sumber : angkasa.news

Boeing Segera Kembangkan Helikopter MH-47G Chinook Generasi Terbaru


Boeing disebut-sebut akan membangun MH-47G Chinook generasi berikutnya yang rencananya akan dioperasikan oleh Komando Operasi Operasi Khusus Angkatan Darat AS.
Heli yang akan tampil dengan konfigurasi Block II ini akan meningkatkan kemampuan Angkatan Darat AS untuk melakukan misi yang paling menantang di seluruh dunia dengan aman.
 MH-47G Chinook
 MH-47G Chinook 
Pemerintah AS sendiri telah sepakat untuk menggelontorkan anggaran sebesar 194 juta dolar AS untuk lot kedua MH-47G Block II. Pesanan ini akan mulai dikirim tahun 2021.
Tanpa menyebut kemampuannya secara detil, Boeing menyebut bahwa Chinook Block II ini akan menampilkan kemajuan teknologi untuk memperpanjang umur layanan armada dan meningkatkan kinerja pasukan.
"MH-47G adalah helikopter angkut berat terbaik di dunia, dan akan membantu pasukan khusus AS melaksanakan misi sulit mereka," kata Chuck Dabundo, wakil presiden dan manajer program MH-47 Chinook.
"Hampir seperempat dari armada Operasi Khusus sekarang dalam kontrak untuk Block II, dan kami berharap dapat memberikan helikopter ini kepada mereka sesuai jadwal."
Angkatan Darat AS saat ini tercatat memiliki helikopter MH-47G dan akan menambah 15 unit MH-47G Chinook Block II. Helikopter MH-47G Block II pertama dijadwalkan memulai perakitan akhir tahun ini. (Remigius Septian)
Sumber : angkasa.news

Teknologi Jet Tempur F-35, Rudal Hipersonik dan Berbagai Sensor


Jet tempur F-35 dikabarkan beresiko mengalami kerusakan struktural ketika mencapai kecepatan tertinggi 1.200 mph. Jet yang dijuluki pesawat siluman itu dilengkapi dengan berbagai teknologi canggih, demikian dilaporkan laman Russia Today, beberapa waktu lalu.
F-35 dapat membawa muatan setara dengan 6803 kg dan memiliki jangkauan penerbangan sejauh 900 mil atau setara dengan 1,448.4 km. Bahkan F-35 memiliki kesamaan pengaturan suhu seperti pesawat luar angkasa.
Jet Tempur F-35
Jet Tempur F-35 
Teknologi yang dimilikinya pun sangat canggih. F-35 memiliki teknologi elektronik militer terbaru termasuk radar peringatan dan arah penargetan yang akurat, serta perlindungan diri untuk mendeteksi dan mengatasi ancaman dari darat dan udara.
Pesawat jet tempur F-35 menjadi jet tempur paling banyak dibicarakan saat ini. Sistem senjata buatan perusahaan manufaktur senjata Lockheed Martin ini digadang-gadang sebagai pesawat tempur siluman dengan kemampuan terbaik.
Laman National Interest menjelaskan bahwa F-35 mampu membawa rudal hipersonik. Lockheed Martin menyiapkan rudal hipersonik atau rudal berkecepatan lima kali kecepatan suara untuk dipasangkan pada jet tempur ini. Biasanya, rudal hipersonik merupakan rudal darat ke darat.
Rencananya, ada dua rudal hipersonik terpasang masing-masing pada bawah sayap jet tempur siluman ini. "Untuk pertama kalinya, rudal hipersonik bakal terbang pada akhir tahun ini," begitu dilansir The War Zone.
Selain itu, Lockheed Martin juga menyiapkan rancangan baru agar jet tempur ini bisa membawa lebih banyak rudal udara ke udara yaitu AIM-120 AMRAAM di dalam pesawat. Jumlahnya bakal bertambah dari empat menjadi enam rudal dengan perubahan desain rak di bagian bawah bodi pesawat.
Hal yang menarik lainnya dari F-35B adalah jet tempur ini bisa terbang dan mendarat secara vertikal. Ini merupakan jet tempur (siluman) pertama dengan kemampuan seperti ini.
Militer AS menggunakan jet tempur ini untuk pertama kalinya menyerang ISIS pada Mei 2019 di Irak dan Suriah yaitu menggunakan versi F-35A. Saat itu, jet tempur ini membawa enam bom terpandu laser yaitu GBU-49 dan dua rudal AIM-9x inframerah terpandu untuk serangan udara ke udara.
Jet tempur ini dilengkapi berbagai sensor untuk mendeteksi musuh dan menghindari serangan musuh. Kokpit dilengkapi dengan sistem komputer yang berisi 8,6 juta baris kode dengan dua layar penuh.
Pilot F-35 akan menggunakan helm dengan layar cekung yang menampilkan informasi penting mengenai ketinggian, navigasi, gambar dari enam kamera infra merah yang dipasang di kulit pesawat. Ini memudahkan pilot mengecek situasi di udara dari berbagai arah. (Moh Khory Alfarizi)
Sumber : tempo.co

Radar Acak