AL AS Uji UAV Vertical Take Off Unik V-Bat


Angkatan Laut Amerika Serikat baru-baru ini mengirim kapal angkut cepat USNS Spearhead ke laut untuk bereksperimen dengan sejumlah teknologi mutakhir, termasuk diantaranya drone V-Bat dari MartinUAV. V-Bat mampu melakukan lepas landas dan mendarat secara vertikal yang tidak bergantung pada infrastruktur (seperti landasan yang panjang, catapult atau jaring), namun tetap mempertahankan efisiensi tinggi seperti pesawat bersayap tetap untuk misi long-endurance. Drone dapat diluncurkan dan kembali pada ruang seluas sembilan meter persegi dan bahkan di daerah perkotaan yang padat serta di geladak kapal, sehingga drone tersebut memiliki banyak aplikasi di sektor militer, penegakan hukum/first responder, industri , dan pemantauan lingkungan.
UAV Vertical Take Off  V-Bat
UAV Vertical Take Off  V-Bat 
Dengan kecepatan hingga 90 knot, drone itu dapat melesat ke area yang berbeda dengan cepat dan dapat menjelajah sekitar selama delapan jam pada kecepatan 45 knot di ketinggian hingga 15.000 kaki (4.572 m). Drone dapat membawa muatan sekitar delapan pound (3,62 kg), yang dapat berupa berbagai paket sensor multi-spektral, intelijen elektronik, radar, peperangan elektronik, dan paket konektivitas komunikasi. Fleksibilitasnya tinggi yang dikemas dalam drone yang relatif kecil, dengan berat drone hanya 82 pound (37,19 kg). V-Bat ditenagai oleh mesin dua langkah 183cc yang memiliki daya sekitar 13 tenaga kuda untuk propulsi ducted-fan dan sistem kontrolnya.
V-Bat dikendalikan melalui line-of-sight data-link modular yang memiliki jangkauan konektivitas hingga 50 mil (80,46 km). Jangkauan ini dapat diperjauh tanpa batas sepanjang jangkauan linier drone dengan mengalihkan kendali V-Bat ke stasiun pengendali lainnya saat drone mendekati horizon line-of-sight-nya. Drone memiliki fitur interface laptop user semi-otonom yang cocok dengan hard-case portabel.
Dalam banyak hal, kemampuan V-Bat mirip dengan kemampuan drone Scan Eagle atau RQ-21 Blackjack, namun V-Bat memiliki endurance yang sedikit lebih rendah. Meskipun demikian, V-Bat tidak memerlukan ketapel peluncuran atau jaring recovery seperti halnya Scan eagle atau Blackjack.
V-Bat dapat diluncurkan dan kembali operasi secara otonom dan karena hanya memerlukan sedikit ruang, tidak diperlukan dek penerbangan atau area pendaratan yang khusus untuk menerbangkannya atau mendaratkannya. Bahkan, MartinUAV telah mendemonstrasikan pendaratan V-Bat pada flat bed dibelakangf truk saat sedang berjalan. Hal ini membuka sejumlah platform pelayaran dan jenis unit darat yang dapat memanfaatkan potensi perangkat information, surveillance, and reconnaissance (ISR) yang tahan lama.
Angkatan Darat AS telah memasukkan V-Bat pada daftar drone-drone untuk menggantikan drone RQ-7 Shadow-nya. AD AS menginginkan sejumlah kemampuan untuk sistem drone kecil barunya, yaitu kemampuan untuk beroperasi secara independen dalam kondisi yang sangat keras dan tanpa landasan pacu apa pun, serta jejak akustik yang lebih rendah daripada Shadow yang menjadi persyaratan utama. Evaluasi lanjutan di tingkat peleton akan dilakukan hingga 2020, setelah itu pihak AD AS akan membuat pilihan. Kenyataan bahwa pertempuran di masa depan kemungkinan akan terjadi di daerah perkotaan yang luas dan padat, kemampuan V-Bat untuk dikerahkan dan kembali di daerah-daerah yang benar-benar sempit akan dapat membantu mewujudkannya.
Tidak hanya Angkatan Darat dan Angkatan Laut AS yang tertarik pada V-Bat. Korps Marinir dan Penjaga Pantai AS juga mengincar drone ini juga. V-Bat telah menunjukkan kemampuannya selama latihan besar sekutu di Jerman dan untuk pelanggan di luar negeri juga.
V-Bat telah dilibatkan dalam peran anti-narkotika terbatas oleh Angkatan Laut AS setidaknya sejak 2016, tetapi pengerahan yang jauh lebih luas masih belum terlihat. Namun, fakta bahwa Angkatan Laut AS terus bereksperimen dengan sistem tersebut selama bertahun-tahun merupakan pertanda baik bahwa mereka menyukai drone tersebut.(Angga Saja-TSM)
Sumber :  thedrive.com

ACMI Pod untuk Sukhoi, Produk Anak Bangsa yang Sukses Berpartisipasi dalam Latihan Angkasa Yudha TNI AU


Sesuai amanat Undang-undang RI Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan, Kementerian Pertahanan (Kemhan) mempunyai kewajiban mendorong pengembangan kemampuan Industri Pertahanan (Indhan) melalui pengembangan sumber daya manusia, sarana teknologi, informasi teknologi, organisasi dan manajemen melalui penetapan kebijakan, regulasi dan pengawasan. 
ACMI Pod untuk Sukhoi
ACMI Pod untuk Sukhoi 
Dalam pelaksanannya, Kemhan memberi tugas kepada Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan (Ditjen Pothan) Kemhan untuk merencanakan program Pengembangan Teknologi Industri Pertahanan (Bangtekindhan). Tujuan dari pengembangan kemampuan Industri Pertahanan adalah untuk mewujudkan kemandirian dan daya saing Industri Pertahanan.
Kegiatan Program Bangtekindhan dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Menteri Pertahanan Nomor 39 Tahun 2016 tentang Pengembangan Teknologi Industri Pertahanan, yang merupakan kegiatan pengembangan yang dilakukan industri pertahanan dalam negeri dengan didukung sumber anggaran Rupiah murni.
Penyusunan Program Bangtekindhan dilakukan dan dikoordinasikan secara terpadu oleh Kemhan melalui Ditjen Pothan Kemhan bekerjasama dengan Mabes TNI dan Angkatan. Program tersebut diarahkan kepada penguasaan teknologi guna menjamin kelangsungan penyediaan Alat Peralatan Pertahanan dan Keamanan (Alpalhankam) serta kemajuan dan kemandirian industri pertahanan.
ACMI adalah sistem instrumentasi yang mampu memonitor, menampilkan (2 dimensi maupun 3 dimensi), merekam pergerakan, dan posisi pesawat secara real time yang nantinya digunakan sebagai bahan evaluasi serta mampu mensimulasikan pertempuran air to air dan air to ground. ACMI Sukhoi ini merupakan program Bangtekindkan hasil kerjasama Ditjen Pothan Kemhan dengan PT. TRESS (Teknologi Rekatama Solusi Indonesia). Keunggulan dari ACMI ini adalah murni karya anak bangsa, terjamin kerahasiaannya, mampu mendukung latihan penerbang Sukhoi dengan tepat sasaran, upgrade lebih mudah karena hasil penelitian bersama dengan Dislitbang TNI AU, sehingga mudah dalam perawatan dan troubleshooting.
Secara umum, spesifikasi teknis yan diterapkan pada ACMI Sukhoi ini dapat digunakan untuk semua jenis latihan pilot pesawat tempur, antara lain:
  1. Latihan terbang perorangan dan element,
  2. Latihan terbang satu skadron atau lebih,
  3. Latihan gabungan antar skadron,
  4. Latihan gabungan dengan negara lain, dan
  5. Latihan composite strike.

Dan dari hail uji dinamis, ACMI Sukhoi ini telah melampaui spesifikasi teknis yang tertuang dalam kontrak, antara lain mampu digunakan bermanuver melebihi 6,5 G, mencapai ketinggian di atas 30.000 ft, dan suhu antara -30⁰C hingga 70⁰C.
Perhatian yang sangat luar biasa diberikan oleh Kepala Staf Angkatan Udara dan Dirjen Pothan yang telah mendukung penuh Tim Waspro dan PPHP serta Puslaik Baranahan Kemhan dalam kegiatan uji statis maupun uji dinamis yang dilaksanakan di Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Hasanuddin Makassar. Atas dukungan dan kerjasama semua pihak, kini ACMI Sukhoi Program Bangtekindhan Ditjen Pothan Kemhan telah mengantongi Sertifikat Tipe Produk Aeronautika Klas II Militer dan siap untuk diproduksi massal guna mendukung kegiatan TNI AU, compatible dengan pesawat-pesawat TNI AU lainnya (sebelumnya TNI AU telah memiliki ACMI KITS buatan Cubic dan P5 buatan Cubic & DRS Tecnologies untuk pesawat F-5, F-16 dan Hawk 100/200).
Selain sukses mebangun ACMI Sukhoi, pada tahun ini Ditjen Pothan Kemhan berhasil pula meluncurkan Roket R-Han 122B Tahap II yang merupakan hasil kerjasama dengan Konsorsium Reverse Engineering R-Han 122B yang terdiri dari PT. Pindad (Persero) selaku Lead Integrator, didukung oleh anggota konsorsium yaitu PT. Dahana (Persero), PT. Dirgantara Indonesia (Persero), dan LAPAN. Selain itu, Dtjen Pothan juga telah mendapatkan sertifikat tipe untuk berbagai program Bangtekindhan lainnya, yaitu:
  1. First Article Senjata Serbu Bawah Air 5,66 mm,
  2. First Article Mekatronik Mortir 81 mm, dan
  3. First Article Remote Control Weapon System (RCWS),

Sedangkan untuk program Pembinaan Potensi Teknologi Industri Pertahanan (Binpottekindhan), Puslaik Baranahan juga telah menerbitkan type certificate untuk program Reverse Enginering Inertial Navigation System (INS) Rudal dan Program Penyusunan Tabel Tembak Roket R-Han 122B.
Saat ini Ditjen Pothan Kemhan tengah melaksanakan program Bangtekindhan TA. 2019 yang teridiri dari:
  1. First Article Alat Kendali Tembak Senjata FFAR Heli Serang Mi 35-P,
  2. First Article Sistem Penembakan Mortir Berbasis Komputer,
  3. First Article Senjata Otomatis Kal. 5,56 mm
  4. First Article Data Distribution Unit,
  5. First Article Depth Personal Vehicle, dan
  6. First Article Card Module Radar Thomson.

Selain itu, melalui Binpottekindhan, Ditjen Pothan Kemhan juga tengah bekerjasama dengan Industri Pertahanan (BUMN dan BUMS), antara lain:
  1. Program Tank Boat Tahap II,
  2. Program Joint Production PTTA Kelas MALE Tahun I, dan
  3. Program Reverse Engineering Sistem Rudal C-705.

Dengan bantuan semua pihak, semoga Program Bangtekindhan dan Binpottekindhan Ditjen Pothan Kemhan mampu membina Industri Pertahanan dalam negeri, baik BUMN maupun BUMS, untuk menjadi industri yang mandiri, handal, dan berdaya saing baik di lingkup nasional maupun internasional. (Letkol Kal Nanto Nurhuda, S.M)*
* Kasi Bangraptekinfokomhan Subdit Tekinfokomhan Dit Tekindhan Ditjen Pothan Kemhan.
Sumber : kemhan.go.id (Herru Sustiana-TSM)

India Pikir Ulang Beli Drone Buatan AS, Gara-Gara Ditembak Jatuh Iran


India sedang mempertimbangkan ulang rencananya untuk membeli drone canggih Amerika Serikat (AS). Sikap itu muncul setelah pesawat nirawak mata-mata Amerika, RQ-4 Global Hawk, tersebut ditembak jatuh oleh rudal Iran di atas Teluk Persia bulan lalu.
Militer New Delhi telah berencana untuk membeli 30 drone AS senilai USD6 miliar, tetapi sekarang sedang mempertimbangkan ulang akuisisi atas biaya dan pertanyaan tentang kemampuannya bertahan hidup di wilayah udara yang disengketakan.
Drone
Drone 
Keraguan India itu disampaikan seorang pejabat senior militer setempat kepada Hindustan Times, Senin (29/7/2019).
Meskipun kesepakatan India untuk membeli drone belum final, Angkatan Udara dan Angkatan Darat negara itu berencana untuk membeli masing-masing 10 unit drone General Atomics MQ-9 Reaper atau dikenal sebagai Predator-B. Sedangkan Angkatan Laut-nya berencana untuk berinvestasi dalam versi pesawat pengintai jarak jauh.
Iran menembak jatuh sebuah pesawat mata-mata RQ-4 Global Hawk AS dengan sistem rudal S-300 di Selat Hormuz pada 20 Juni.
Menurut sumber-sumber militer yang dikutip Hindustan Times, Angkatan Udara India telah mempertanyakan kelangsungan hidup drone Predator-B di wilayah udara yang diperebutkan, seperti di atas Kashmir yang diduduki Pakistan atau di sepanjang perbatasan yang disengketakan antara India dan China. Baik Pakistan dan China memiliki sistem rudal surface-to-air (SAM) mutakhir.
AS telah berhasil menggunakan drone bersenjata di Afghanistan, Pakistan, Irak dan Suriah. "Pakistan adalah satu-satunya negara yang memiliki kemampuan kontra tetapi akan berpikir 100 kali sebelum memutuskan untuk mengambil drone AS yang dijatuhkan oleh SAM," kata salah satu sumber militer India.
Label harga pada drone bersenjata adalah faktor penghambat lain yang dirasakan India. Platform drone polos akan menelan biaya USD100 juta dan senjata pelengkapnya seperti rudal dan bom terpandu laser akan menelan biaya tambahan USD100 juta.
"Ini berarti pesawat tanpa awak bersenjata lengkap dengan senjata akan lebih mahal daripada pesawat tempur multi-peran Rafael dengan semua senjata dan rudal di dalamnya," kata seorang pejabat senior Blok Selatan India kepada Hindustan Times.
"Dalam keadaan itu, IAF (Angkatan Udara India) akan memberikan preferensi untuk memperoleh lebih banyak jet tempur multi-peran dengan rudal air-to-air jarak-jauh dan tentara India akan berupaya mengganti tank-tank T-72. Angkatan Laut membutuhkan lebih banyak kapal permukaan di laut daripada pesawat tanpa awak bersenjata untuk memproyeksikan dirinya sebagai kekuatan Indo-Pasifik," imbuh pejabat itu.
IAF menjadi lebih tertarik pada rudal air-to-air jarak jauh sejak F-16 Pakistan menembak jatuh sebuah jet tempur MiG-21 India di perbatasan Kashmir pada bulan Februari.
Seorang pejabat senior kementerian pertahanan mengatakan, keputusan untuk mengakuisisi drone AS akan diambil hanya setelah tiga cabang militer mendekati pemerintah dengan proposal. (Muhaimin)
Sumber :  sindonews.com

India akan Alihkan Kapal Selam Kilo kepada Myanmar


India akan mengalihkan sebuah kapal selam kelas Kilo ke Myanmar, yang kemungkinan akan dikirim pada tahun ini setelah di-refit didalam negeri India. Kapal selam tersebut akan menjadi kapal selam pertama Myanmar.
INS Sindhuvir (S58) akan digunakan oleh Angkatan Laut Myanmar, yang sedang berusaha untuk mendapatkan armada kapal selamnya sendiri di tahun-tahun mendatang, untuk tujuan pelatihan.
INS Sindhuvir (S58)
INS Sindhuvir (S58)  
Kapal selam kelas Kilo yang dibeli dari Rusia pada 1980-an tersebut, saat ini sedang dimodernisasi oleh Hindustan Shipyard Limited (HSL) di Visag, narasumber mengatakan bahwa pekerjaan kemungkinan akan selesai sebelum akhir tahun ini.
Narasumber mengatakan kepada ET bahwa izin yang diperlukan telah diperoleh dari Rusia yang merupakan pabrikan asli kapal selam itu dan akan dilengkapi dengan sistem buatan dalam negeri India untuk melatih Angkatan Laut Myanmar.
Telah terjadi serangkaian pertukaran dan pertemuan tingkat tinggi antara kedua negara dalam beberapa bulan terakhir, dimana Panglima Tertinggi Angkatan Pertahanan Myanmar Senior General Min Aung Hlaing saat ini sedang dalam kunjungan resmi ke India.
Kementerian Pertahanan India mengatakan bahwa pembicaraan dengan Senior General tersebut bertujuan untuk "meningkatkan kerja sama pertahanan, meninjau latihan bersama dan pelatihan yang diberikan kepada Angkatan Pertahanan Myanmar, memperkuat keamanan maritim dengan pengawasan bersama dan pembangunan kapasitas ... dan mengembangkan infrastruktur baru".
Transfer kapal selam tersebut kemungkinan akan dilakukan dengan Line of Credit (LoC) yang telah diperpanjang oleh India ke Myanmar untuk meningkatkan kemampuan militer. Inisiatif India, kata para narasumber, datang setelah pembicaraan ekstensif dengan para pemimpin Myanmar selama empat tahun terakhir untuk memahami kebutuhan pertahanan mereka.
Sebagai bagian dari pembangunan kapasitas, awal bulan ini India memasok Myanmar dengan torpedo ringan canggih bernama `Shyena 'sebagai bagian dari kesepakatan ekspor $ 38 juta yang ditandatangani pada 2017. Torpedo diproduksi oleh perusahaan milik negara India Bharat Dynamics Limited (BDL).
Perjanjian mengenai transfer kapal selam datang bahkan ketika Tiongkok telah melakukan upaya besar untuk memasok sistem senjata bawah laut di wilayah tersebut. Narasumber mengatakan bahwa Tiongkok juga telah melakukan pembicaraan dengan Myanmar untuk memasok kapal selamnya yang lama. Pada tahun 2017, Bangladesh menerima dua kapal selam kelas Type 035G (kelas Ming) yang telah diperbaharui dari Tiongkok sebagai bagian dari kesepakatan senilai $ 203 juta, sebuah langkah yang diawasi dengan hati-hati di India karena melambangkan meningkatnya ketergantungan negara tetangganya pada Beijing.
Narasumber mengatakan bahwa kelas Kilo (Proyek 877) yang ditransfer oleh India secara signifikan lebih memiliki kemampuan daripada kelas Ming yang dijual oleh Tiongkok dan cocok untuk operasi di kawasan seperti yang telah ditunjukkan oleh Angkatan Laut India. Kesepakatan dengan Myanmar juga mencakup paket pelatihan yang signifikan untuk mempersiapkan negara tersebut untuk masuknya armada yang lebih besar di tahun-tahun mendatang.
Pada bulan Maret tahun ini, Commodore Moe Aung, Kepala Staf Angkatan Laut Myanmar telah mengumumkan bahwa negara itu akan segera memiliki kapal selam. Perwira senior itu mengatakan bahwa memperoleh kapal selam adalah bagian dari rencana jangka panjang yang mencakup pelatihan awak yang akan membutuhkan setidaknya empat tahun. Pejabat senior Myanmar telah mengunjungi Rusia dalam beberapa bulan terakhir untuk mengadakan pembicaraan untuk memperoleh kapal selam baru dan pengalaman pelatihan dengan INS Sindhuvir yang mungkin akan berguna.(Angga Saja-TSM)

Indonesia Menunggak Pembayaran Proyek Pengembangan Jet Tempur KF-X/IF-X Bersama Korea Selatan


Korea Selatan mengambil sikap hati-hati atas usulan Indonesia baru-baru ini mengenai pembagian biaya proyek jet tempur bersama KF-X/IF-X. Menurut pihak Seoul, kedua negara masih bernegosiasi.
"Diskusi sedang berlangsung antara kedua negara mengenai pembagian biaya, tetapi kami tidak dapat memberikan komentar lebih lanjut tentang kemajuan negosiasi pada titik ini," kata Wakil Juru Bicara Kementerian Pertahanan Nasional, Roh Jae-cheon.
 Jet Tempur KF-X/IF-X
 Jet Tempur KF-X/IF-X  
Korea Times mengutip kementerian tersebut mengatakan kontribusi Indonesia untuk proyek ini sekitar 1,7 triliun won atau 20 persen dari total 8 triliun won.
Pembayaran seharusnya selesai pada 2026. Indonesia telah membayar sekitar 220 miliar won dari 520 miliar won yang seharusnya dibayar sejauh ini. Tunggakan Indonesia sekitar 300 miliar won. Tunggakan pembayaran inilah yang jadi masalah dalam kelanjutan proyek jet tempur tersebut.
Komentar kementerian itu muncul setelah pertengahan bulan ini pemerintah Indonesia menyatakan sedang berusaha untuk menegosiasikan kembali persyaratan kontrak untuk pengembangan bersama pesawat tempur KF-X/IF-X untuk Angkatan Udara kedua negara, yang ditandatangani oleh kedua negara pada tahun 2014.
Sumber militer dan industri dari pihak Korea Selatan, mengatakan menerima pesawat CN-235 atau peralatan lain sebagai pengganti uang tunai tidak akan menjadi pilihan yang lebih disukai.
"Angkatan Udara Republik Korea (ROKAF) membutuhkan pesawat angkut berukuran besar sedangkan CN-235 adalah yang terkecil di antara pesawat angkut," kata seorang pejabat ROKAF yang berbicara dalam kondisi anonim.
Dia mengatakan ROKAF sudah membahas persyaratan untuk pesawat angkut berukuran yang lebih besar dari C-130, terbesar yang telah dioperasikan. C-130, diproduksi oleh raksasa pertahanan AS Lockheed Martin, memiliki panjang 12,5 meter, tinggi 2,7 meter, dan lebar 3 meter.
Seorang pejabat pemerintah Korea Selatan mengatakan Indonesia masih bersedia untuk melaksanakan proyek bersama, karena pihak Jakarta juga menginginkan jet tempurnya sendiri. Dia mengatakan proyek itu akan dilaksanakan sesuai jadwal terlepas dari masalah tunggakan Indonesia, karena sisa anggaran 8 triliun won sudah dialokasikan sesuai rencana.
Pemerintah Korea Selatan mencakup 60 persen dari anggaran, dan Korea Aerospace Industries (KAI) akan berkontribusi 20 persen sisanya.
"Kita juga harus mempertimbangkan bahwa pemerintah Indonesia akan mengerahkan sekitar 50 jet tempur KF-X/IF-X setelah pengembangan selesai," kata pejabat itu. Dari 168 jet tempur yang akan diproduksi, pemerintah Indonesia berencana untuk membeli 48 unit. Korea Selatan akan memperkenalkan 120 pesawat tempur yang dikembangkan sendiri.
Para ahli militer mengatakan pemerintah Korea Selatan tampaknya tidak mau merusak hubungan persahabatannya dengan Indonesia, karena negara itu baru saja membeli kapal selam buatan Korea Selatan.
Pada bulan April, Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) Korea Selatan dan PT PAL Indonesia mencapai kesepakatan untuk membangun tiga kapal selam lebih dari 1.400 ton.
Kim Dae-young, seorang peneliti di Institut Penelitian Korea untuk Strategi Nasional, mengatakan komitmen keuangan pemerintah Indonesia yang tidak pasti untuk proyek jet tempur masih bukan pertanda baik bagi pemerintah Korea Selatan.
"Inti dari proyek jet tempur KF-X/IF-X tidak hanya tentang mengganti pesawat lama ROKAF tetapi juga mencakup investasi dan pengembangan bersama," kata Kim, yang dikutip dari Korea Times, Selasa (30/7/2019).
"Jika pemerintah Indonesia tidak akan membayar bagiannya, akan ada masalah termasuk pemerintah Korea Selatan yang membelanjakan lebih banyak uang pajak untuk proyek tersebut." (Muhaimin)

Apa Saja Keunggulan Satuan Koopssus Milik TNI


Komando Operasi Khusus Tentara Nasional Indonesia (Koopssus TNI) diresmikan di Mabes TNI Cilangkap, Selasa, 30 Juli 2019. Pasukan ini tentunya memiliki keahlian khusus yang ditonjolkan untuk menjalankan tugasnya terutama memberantas aksi terorisme.
Satuan Koopssus
Satuan Koopssus 
Koopssus TNI ini merupakan kelanjutan dari Satuan Koopsusgab yang sebelumnya dibentuk mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Moeldoko. Di mana awal pembentukannya terjadi pada 2015.
Koopsusgab ini adalah tim antiteror gabungan dari tiga matra TNI. Para prajurit tersebut berasal dari Sat-81 Gultor Komando Pasukan Khusus milik TNI AD, Detasemen Jalamangkara milik TNI AL, dan Bravo 90 Komando Pasukan Khas dari TNI AU.
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan, salah satu keunggulan dari Koopssus TNI ini adalah kecepatan dan ketepatan. Apabila ada ancaman, panglima TNI atas arahan dari Presiden dapat dengan cepat menggerakkannya.
"Ciri dari Koopssus TNI seperti yang saya sampaikan, adalah kecepatan dan ketepatan. Ketika ada ancaman dari dalam maupun luar negeri, panglima TNI langsung bisa perintahkan bergerak dengan cepat dengan tingkat keberhasilan sangat tinggi," kata Hadi di Cilangkap, Selasa 30 Juli 2019.
Secara materiil, menurut Hadi, pasukan Koopssus TNI ini tidak berbeda dengan pasukan elite tiga matra. Namun, karena saat ini ancaman yang hadir di wilayah Indonesia semakin berbeda, makanya ketiga pasukan elite tersebut disatukan agar lebih mumpuni menghadapi ancaman kedaulatan negara saat ini.
"Karena ancamannya juga beda, ada ancaman dari darat, laut, maupun udara, sehingga diperlukan interoperability. Kesamaan dan TNI menyiapkan doktrin kemudian sarana dan prasarana untuk menggerakkan pasukan khusus tersebut," ujarnya.
Koopssus TNI memiliki tugas pokok dan fungsi menangkal terorisme, melakukan penindakan dan memulihkan tindak terorisme, baik itu ancaman terorisme yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Dalam Koopssus TNI ini, sekitar 80 persennya akan fokus melakukan penangkalan seperti operasi intelijen.
"Penangkal di dalamnya adalah surveillance yang isinya intelijen 80 persen. Kita laksanakan adalah surveillance atau observasi jarak dekat. 20 persen baru penindakan. (operasi) Intelijen ada di penangkalan," ujarnya.
Koopasus TNI dalam hal ini hanya sebagai pengguna prajurit khusus yang telah dicetak oleh masing-masing matra. Karena para prajurit miliki kualifikasi khusus dan yang tahu kualifikasinya hanyalah matra tempat prajurit bernaung.
"Yang tahu adalah angkatan dan Koopssus TNI ini pengguna, juga membuat satu tools doktrin kesamaan tugas dalam setiap kegiatan. Namun yang ditanyakan tadi, ada satu yang kita samakan di sini beberapa teknik dan taktik yang tentunya diperlukan kesamaan penugasan di lapangan," ujarnya.

Mesir akan Modifikasi Sistem Hanud Chaparral


Mesir tampaknya akan terus menjadi salah satu dari beberapa operator yang tersisa dari sistem pertahanan udara swagerak Chaparral setelah Departemen Pertahanan AS memberikan kontrak senilai USD17 juta kepada ProjectXYZ untuk memodifikasi beberapa unit penembak M48A3-nya.
Chaparral
Chaparral  
Pengumuman itu tidak mengatakan modifikasi apa yang akan dilakukan tetapi mengatakan bahwa kontrak akan dilakukan di Kairo dan diharapkan akan selesai pada 30 Desember 2020.
Mesir dilaporkan memperoleh 50 Chaparrals pada 1980-an dan, menurut database US Defense Security Cooperation Agency's Excess Defense Articles, Mesir telah menerima 550 rudal surplus antara 2008 dan 2014.
MIM-72/M48 Chaparral adalah sistem rudal permukaan-ke-udara swagerak dari Amerika Serikat yang didasarkan pada sistem rudal udara-ke-udara AIM-9 Sidewinder. Kendaraan peluncurnya didasarkan pada keluarga kendaraan
M113. Sistem ini memasuki kedinasan Angkatan Darat dan Korps Marinir AS pada tahun 1969 dan telah dipensiunkan antara tahun 1990 dan 1998. Sistem ini dimaksudkan untuk digunakan bersama dengan M163 VADS. VADS dengan kanon gatling 20mm akan meng-kover sasaran untuk jarak pendek dan waktu yang singkat, dan Chaparral untuk digunakan pada sasaran yang jaraknya lebih jauh.
Negara lain yang masih menggunakan sistem pertahanan udara Chapparal yaitu Maroko, Portugal, Taiwan dan Tunisia. (Angga Saja-TSM)
Sumber :  janes.com

Jepang Pertimbangkan Beli Helikopter Tanpa Awak MQ-8C Fire Scout


Jepang sedang mempelajari kemungkinan apakah akan membeli helikopter tanpa awak MQ-8C Fire Scout untuk kapal perusak terbarunya, kapal induk helikopter kelas Izumo dan kapal-kapal lainnya.
japannews.com oleh The Yomiuri Shimbun mengutip para narasumber, melaporkan bahwa pemerintah Jepang sedang mempertimbangkan akuisisi sekitar 20 helikopter tak berawak untuk dioperasikan dari kapal angkatan laut.
MQ-8C Fire Scout
MQ-8C Fire Scout 
"Menanggapi ekspansi maritim Tiongkok, pemerintah ingin memperkuat kegiatan peringatan dini dan pengawasan di sekitar Kepulauan Senkaku di Prefektur Okinawa," menurut laporan berita.
Narasumber yang dekat dengan masalah ini mengatakan pemerintah Jepang berencana untuk membeli helikopter tanpa awak MQ-8C Fire Scout yang dikembangkan oleh Northrop Grumman.
Pada tahun 2018, perwakilan Northrop Grumman juga mengatakan bahwa Jepang kemungkinan akan menjadi pelanggan ekspor pertama untuk helikopter tanpa awak MQ-8C Fire Scout terbaru.
Pesawat tak berawak berbasis kapal akan dapat memantau kapal asing yang berada jauh dan benda-benda lain yang tidak dapat ditangkap oleh radar kapal, yang akan memperluas daerah yang dapat diawasi oleh satu kapal Pasukan Beladiri Maritim Jepang (MSDF).
Juga ditambahkan bahwa helikopter itu akan menjadi unik karena memiliki sensor radiasi. Setelah kecelakaan nuklir di pembangkit listrik tenaga nuklir No. 1 Fukushima milik Tokyo Electric Power Company Holdings Inc., pemerintah Jepang mempertimbangkan untuk melengkapi helikopter tanpa awak dengan sensor radiasi untuk digunakan dalam misi yang mendukung dalam keadaan darurat [radiasi nuklir].
Helikopter tersebut diharapkan akan dipilih pada tahun fiskal 2022, dan pengadaan akan dimulai pada tahun fiskal 2023, kata narasumber tersebut.
MQ-8C Fire Scout adalah helikopter tak berawak terbaru Angkatan Laut Amerika Serikat dan telah ditingkatkan kecepatannya, memiliki ketinggian terbang maksimum yang lebih tinggi, lebih dari dua kali lipat bahan bakar, dan kapasitas muatan yang lebih baik dibandingkan dengan versi sebelumnya.
Menurut Northrop Grumman, sistem ini telah menyelesaikan lebih dari 16.600 jam penerbangan dengan lebih dari 6.200 sortie. Airframe MQ-8C Fire Scout didasarkan pada helikopter komersial Bell 407, sebuah helikopter yang telah mature dengan lebih dari 1.600 airframe telah diproduksi dan lebih dari 4,4 juta jam penerbangan. Dikombinasikan dengan kematangan arsitektur sistem otonomi Northrop Grumman, Fire Scout akan memenuhi kebutuhan pelanggan akan sistem yang otonom yang berbasis darat dan kapal.(Angga Saja-TSM)

Jepang Ingin Gabung Program Jet Tempur F-35


Langkah Amerika Serikat (AS) mendepak Turki dari program pesawat jet tempur siluman F-35 dilihat Jepang sebagai kesempatan untuk masuk dalam program tersebut. Ankara diusir dari program jet tempur generasi kelima itu karena menolak untuk membatalkan kontrak pembelian sistem pertahanan rudal S-400 Rusia.
 Jet Tempur F-35
 Jet Tempur F-35 
Tokyo sejatinya telah menderita kerugian setelah jet tempur F-35A miliknya jatuh di Samudra Pasifik awal tahun ini, termasuk pilotnya yang sampai saat ini belum ditemukan. Namun, negara itu justru berminat untuk bergabung dalam konsorsium bersama pesawat Lockheed Martin itu dengan status negara mitra penuh.
Kendati demikian, sumber Pentagon yang dikutip Defense News mengatakan bahwa Washington berencana menolak permintaan Tokyo. Padahal, Washington sendiri sedang berusaha mempertahankan para pembeli F-35.
Permintaan Tokyo itu muncul dalam surat tertanggal 18 Juni yang ditujukan kepada Pentagon. "Saya percaya menjadi negara mitra dalam program F-35 adalah pilihan," bunyi surat dari direktur Biro Perencanaan Pembangunan Kementerian Pertahanan Jepang Atsuo Suzu kepada Kepala Akuisisi Pentagon, Ellen Lord.
"Saya ingin memiliki pemikiran Anda tentang apakah Jepang memiliki kemungkinan untuk menjadi negara mitra. Juga, saya ingin Anda memberikan informasi terperinci kepada Kementerian Pertahanan tentang tanggung jawab dan hak negara mitra, serta pembagian biaya dan ketentuan seperti proses persetujuan dan periode yang diperlukan," lanjut surat tersebut, yang dikutip Defense News, Selasa (30/7/2019).
Surat Suzu kepada Lord secara khusus meminta kebutuhan akan informasi keselamatan penerbangan untuk pertanggungjawaban kepada publik, dalam referensi yang memungkinkan untuk kemungkinan keterlambatan pengiriman informasi keselamatan ke pihak Jepang setelah kecelakaan F-35A April lalu.
Namun juru bicara Kantor Program Gabungan F-35, Brandi Schiff, mengatakan bahwa kemitraan F-35 telah ditutup sejak Juli 2002. "AS tidak akan dapat mengakomodasi mitra Level III tambahan apa pun karena ketidakmampuan kami untuk menawarkan tunjangan antar-pemerintah yang adil dan ketidakmampuan industri AS untuk menawarkan pengaturan pembagian kerja," bunyi memo yang dikutip Shciff.
Dengan kata lain, hanya negara-negara yang telah mengambil bagian dalam pengembangan awal pesawat tempur yang dapat menjadi mitra selama produksi dan modernisasi apa pun.
Seorang sumber yang mengetahui diskusi status negara mitra F-35 mengatakan kepada Defense News bahwa jika Jepang diizinkan masuk sebagai mitra, maka negara lain seperti Korea Selatan atau pun Israel kemungkinan juga meminta hal serupa.
Menurut sumber tersebut, aturan itu dibuat oleh Pentagon dan Departemen Luar Negeri, dan sebenarnya bisa diubah jika Washington menginginkannya, terutama setelah kekosongan kursi mitra yang ditinggalkan oleh Turki.
"Ini adalah sepakbola politik yang sangat menarik yang harus dilawan oleh DoD (Departemen Pertahanan)....Saya pribadi berpikir DoD tidak ingin sakit kepala jika mereka mengatakan ya," kata sumber yang merupakan pejabat militer AS tersebut.
Ellen Lord diperkirakan akan bertemu dengan para pejabat pertahanan Jepang akhir pekan ini, dengan membahas masalah F-35.
Sebagai mitra Level II, Jepang kurang memiliki suara dalam produksi pesawat dan tidak memiliki hak suara pada modernisasi, atau perwakilan di Kantor Program Gabungan F-35.
Tokyo mengumumkan rencana untuk membeli beberapa lusin pesawat F-35 pada akhir 2011. Pada akhir 2018, jumlah pembelian ditingkatkan menjadi 147 unit. Jika sepenuhnya dikirim, Jepang akan memiliki armada F-35 terbesar kedua di dunia setelah AS. (Muhaimin)

Jet Tempur Generasi Kelima Sukhoi Su-57 Rusia Akhirnya Diproduksi Massal


Produksi massal pesawat jet tempur Sukhoi Su-57 generasi kelima telah dimulai di Rusia. Produsennya, Sukhoi Aircraft Company, mengumumkan hal tersebut saat ulang tahun ke-80 perusahaan pada hari Senin.
Sukhoi Su-57 Rusia
Sukhoi Su-57 Rusia 
"Sistem penerbangan multinasional generasi kelima, yang memiliki peralatan onboard yang sangat cerdas, hampir tidak terlihat dan juga ditandai oleh garis besar intersepsi target udara dan penghancuran target darat. Produksi massal diluncurkan pada 2019 dan kontrak jangka panjang ditandatangani dengan Departemen Pertahanan untuk mengirim lebih dari 70 pesawat," bunyi pengumuman tersebut dalam sebuah brosur yang dilansir Sputniknews, Selasa (30/7/2019).
Wakil Perdana Menteri Yuri Borisov kepada TASS mengonfirmasi dimulainya produksi serial pesawat jet tempur tersebut. Menurutnya, Sukhoi Aircraft Company bagian dari United Aircraft Corporation telah mulai menjalankan kontraknya untuk pengiriman pesawat-pesawat canggih itu ke Angkatan Dirgantara.
"Sebuah kontrak negara ditandatangani di pameran senjata internasional Angkatan Darat 2019 antara Kementerian Pertahanan Rusia dan Sukhoi Company untuk pengiriman sejumlah jet tempur Su-57 generasi kelima. Sukhoi telah mulai memenuhi kewajiban kontraktualnya," ujar Borisov.
Sukhoi Aircraft Company juga merilis pernyataan perihal dimulainya produksi massal pesawat itu."Sebagai hasil dari implementasi kontrak, Kementerian Pertahanan akan mendapatkan jet tempur generasi kelima yang paling canggih, yang akan meningkatkan kemampuan tempur Angkatan Udara dalam negeri," bunyi pernyataan perusahaan itu.
Su-57 adalah pesawat tempur multirole generasi kelima yang dirancang untuk menghancurkan semua jenis target udara pada jarak yang jauh dan pendek, termasuk juga target di darat dan laut. Selain itu, pesawat ini dirancang untuk melawan kemampuan sistem pertahanan udara musuh.
Su-57 naik ke langit untuk pertama kalinya pada 29 Januari 2010. Dibandingkan dengan pendahulunya, Su-57 yang dibuat dengan bahan komposit tersebut menggabungkan fungsi pesawat penyerang dan jet tempur.
Persenjataannya mencakup rudal hipersonik. Jet tempur generasi kelima Rusia ini telah berhasil diuji coba dalam kondisi tempur di Suriah. (Muhaimin)

Kamboja Umumkan Telah Beli Puluhan Ribu Senjata dari China


Pemerintah Kamboja mengumumkan telah membeli "puluhan ribu" senjata dari China, dalam perjanjian yang disampaikan Perdana Menteri Hun Sen, Senin (29/7/2019).
Meski demikian tidak diungkapkan secara rinci jumlah pasti maupun jenis senjata yang dibeli Kamboja dari China.
Alutsista Kamboja
Alutsista Kamboja 
Pernyataan terkait pembelian persenjataan itu muncul hanya selang beberapa hari setelah Hun Sen membantah tentang adanya kesepakatan rahasia dengan Beijing, yang bakal mengizinkan kapal perang China menggunakan pangkalan angkatan laut di Kamboja.
Kabar tentang kesepakatan Kamboja dengan China dalam hal pemanfaatan Pangkalan Angkatan Laut Ream di dekat Sihanoukville untuk berlabuhnya kapal perang dan menyimpan senjata itu pertama kali dimunculkan The Wall Street Journal, pada pekan lalu.
Namun kabar tersebut dibantah keras pemerintah Kamboja, yang bahkan berusaha meyakinkan publik dengan mengundang wartawan pada Jumat (26/7/2019) pekan lalu, untuk melakukan kunjungan ke pangkalan militer Ream, suatu hal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Perdana menteri bahkan kembali mengulangi penolakan terkait isu tersebut dalam pidato sambutan terbarunya, Senin (29/7/2019), dan menyebut laporan itu sebagai "fitnah".
Akan tetapi Hun Sen justru mengungkapkan tentang kesepakatan pembelian senjata dari China. "Saya telah memesan pembelian puluhan ribu senjata tambahan dan saat ini sedang dalam proses pengiriman," kata dia, tanpa memberi rincian persenjataan yang dibeli.
Hun Sen mengatakan, pemerintah Kamboja telah menghabiskan anggaran sebesar 40 juta dollar AS (sekitar Rp 560 miliar) tahun ini, dia atas total anggaran 290 juta dollar AS (sekitar Rp 4 triliun), dalam kesepakatan senjata sebelumnya dengan China.
China telah memberikan miliaran dollar dalam bentuk pinjaman lunak, infrastruktur, dan investasi pada negara kerajaan yang miskin di Asia Tenggara itu, yang semakin menjauh dari Amerika Serikat di tengah pemerintahan Hun Sen yang otoriter.
Kamboja juga meningkatkan latihan militer dengan China dan menjadi sekutu diplomatik yang gigih bagi Beijing di Laut China Selatan yang disengketakan.
Kedutaan besar AS di Phnom Penh telah mempertanyakan kemungkinan Kamboja untuk menampung aset militer asing di pangkalannya, yang juga dekat dengan Sihanoukville, tempat banyak properti dimiliki warga China. (Agni Vidya Perdana)
Sumber : kompas.com

Perancis Berencana Kembangkan Senjata Laser Anti-Satelit


Perancis berencana mengembangkan senjata laser anti- satelit, dalam upayanya mendekatkan jarak dalam persaingan senjata baru dan meningkatkan kemampuan penjagaan luar angkasa.
Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, dan China telah banyak berinvestasi dalam teknologi luar angkasa, yang dipandang sebagai garis batas militer yang baru.
Senjata Laser Anti-Satelit
Senjata Laser Anti-Satelit 
Kemampuan untuk mendeteksi satelit mata-mata dan potensi untuk menghancurkan atau melumpuhkannya telah dipandang sebagai kapabilitas yang utama.
"Jika satelit kami terancam, kami bermaksud untuk membutakan musuh-musuh kami," kata Menteri Pertahanan Perancis Florence Parly, Kamis (25/7/2019).
"Kami berhak memiliki sarana untuk dapat merespons, yang dapat menyiratkan penggunaan laser kuat yang dikerahkan dari satelit kami maupun dari patroli satelit-nano," tambahnya.
Diperkirakan ada sekitar 2.000 satelit aktif yang saat ini mengorbut Bumi, dengan sebagian besar berfungsi untuk komunikasi komersial dan militer, namun ada juga yang ditujukan untuk cuaca dan mata-mata.
"Kami akan mengembangkan laser yang kuat. Itu adalah bidang di mana Perancis kini tertinggal, tetapi kita akan menyusul," kata Parly dalam pidatonya di pangkalan angkatan udara di luar kota Lyon.
Kemampuan persenjataan lainnya mencakup senapan mesin yang mampu menembak panel surya satelit musuh untuk menonaktifkannya, demikian menurut sumber pemerintah kepada AFP.
Para pakar menilai bahwa AS, Rusia, China, bahkan India, telah memiliki kemampuan untuk menghancurkan satelit musuh, baik menggunakan rudal yang ditembakkan dari Bumi, maupun dengan menabrakkan satelit mereka secara sengaja.
Pejabat dari aliansi militer NATO sempat mengatakan bahwa tidak ada penyebaran senjata berbasis luar angkasa yang diketahui di orbit.
Namun kekhawatiran terkait hal itu terus berkembang seiring perilaku agresif yang ditunjukkan negara-negara seperti China dan Rusia.
"Sekutu dan musuh kita telah mulai memiliterisasi ruang angkasa. Kita perlu bertindak," kata Parly, yang mengatakan kemampuan militer luar angkasa Perancis harus siap pada 2025 dan selesai pada 2030.
Disampaikan Parly, Presiden Emmanuel Macron telah mengumumkan keinginannya untuk menciptakan komando pasukan luar angkasa Perancis, yang akan dibentuk pada 1 September dan terintegrasi ke dalam angkatan udara.
Deklarasi Macron, yang dibuat menjelang parade militer Bastille Day tersebut serupa dengan inisiatif AS yang kini tengah diperjuangkan Presiden Donald Trump, yang ingin menciptakan Angkatan Luar Angkasa. (Agni Vidya Perdana)
Sumber : (Herru Sustiana-TSM) kompas.com

Pesawat Tempur Su-30 TNI AU Tiba dari Belarusia


Satu unit pesawat tempur Sukhoi Su-30 dengan tail number TS-3002 tiba di Lanud Sultan Hasanuddin Makassar pada tanggal 28 Juli 2019 pukul 07.30 Wita. Fighter tersebut diangkut menggunakan pesawat Antonov An 124-100M Ruslan.
 Su-30 TNI AU
 Su-30 TNI AU  
Pada waktu yang sama, pihak Imigrasi Indonesia melakukan Immigration Clearance terhadap Unschedule Flight sebagai berikut;
  • Maskapai : ANTONOV Design Bureau (Cargo)
  • Nomer Penerbangan : ADB3159
  • Rute : HRI (Srilangka)-UPG(RON)
  • Crew : 20 WNA (Ukraine)

Fighter ini dibawa kembali pulang ke Indonesia dari Belarusia setelah menjalani perawatan berat.
Untuk bisa diangkut ke dalam pesawat An 124, jet tempur Su-30 harus dilepas beberapa bagiannya, seperti sayap tengah, sayap ekor dan ekor tegaknya.
Bagian-bagian tersebut akan dirakit kembali di Skadron Teknik 044 Lanud Sultan Hasanuddin. Setelah selesai menjalani perakitan, pesawat akan menjalani uji terbang oleh pilot uji untuk memastikan semua sistem bekerja dengan sempurna.
TNI AU mengoperasikan 16 unit pesawat tempur Su-27 dan Su-30 yang dibeli dari Rusia sejak tahun 2003. Jet tempur ini dioperasikan oleh Skadron Udara 11 yang ber-home base di Makassar.(DIANEKO_LC) Editor:(D.E.S) (Angga Saja-TSM)

Thailand akan Beli 60 Kendaraan ICV 8x8 Stryker dari AS


Pada tanggal 26 Juli lalu, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah menyetujui kemungkinan Foreign Military Sale ke Thailand untuk 60 Kendaraan Angkut Infanteri (Infantry Carrier Vehicle - ICV) dengan peralatan dan dukungannya senilai perkiraan biaya $ 175 juta.
 ICV 8x8 Stryker
 ICV 8x8 Stryker 
Pemerintah Thailand telah mengajukan permohonan untuk membeli enam puluh (60) Infantry Carrier Vehicles (ICV); dan enam puluh (60) senapan mesin M2 Flex .50 cal. Juga dalam pembelian tersebut termasuk suku cadang, Basic Issue Items (BII), Components of End Items (COEI), Additional Authorized List (AAL) (untuk item spesifik untuk operasi dan pemeliharaan), Special Tools and Test Equipment (STTE), manual teknis, OCONUS Deprocessing Service, peluncur granat asap M6 (4 per kendaraan) dan suku cadang terkait, AN/VAS-5 Driver's Vision Enhancer (DVE), AN/VIC-3 vehicle intercommunications system, pelatihan yang disediakan kontraktor dan Field Service Representatives (FSR), dan elemen logistik dan dukungan program terkait lainnya. Total estimasi biaya program tersebut adalah $ 175 juta.
Kendaraan Stryker tersebut akan meningkatkan kemampuan Thailand untuk mempertahankan wilayah kedaulatannya terhadap ancaman tradisional dan non-tradisional dengan mengisi kekosongan kemampuan antara pasukan infantri ringan dan unit-unit mekanis berat. Thailand tidak akan kesulitan memasukkan peralatan ini ke dalam angkatan bersenjatanya.
Kontraktor utama untuk kendaraan Stryker tersebut adalah General Dynamics Land Systems, Sterling Heights, MI.
Stryker adalah keluarga kendaraan tempur lapis baja 8x8 yang berasal dari kendaraan LAV III buatan Kanada. Kendaraan Stryker diproduksi oleh General Dynamics Land Systems Canada untuk Angkatan Darat Amerika Serikat.
Stryker ICV M1126 memiliki 2 orang awak termasuk pengemudi dan komandan dan dapat menampung pasukan infantri sebanyak 9 orang. Kendaraan memiliki berat total 19 ton. Kendaraan mengintegrasikan sistem komunikasi teks dan jaringan peta antara kendaraan. Kendaraan dapat dipersenjatai dengan satu senapan mesin Browning M2 12,7 mm, peluncur granat 40 mm Mk 19 atau senapan mesin M240 7,62 mm.(Angga Saja-TSM)

Opini : Mekarnya Industri Pertahanan Kita


Satu dekade terakhir ini, perubahan besar terjadi di industri pertahanan kita di segala matra. Sebuah perjalanan yang memberikan nilai kebanggaan bagi bangsa besar ini. Sejalan dengan tumbuh kuatnya benteng pertahanan negeri, TNI.
PT PAL Surabaya adalah gambaran jelas sebuah industri pertahanan maritim yang saat ini disibukkan dengan berbagai pesanan pembuatan kapal perang. BUMN strategis ini sudah mampu membuat kapal cepat rudal. Sudah ada 4 kapal cepat rudal yang dibuat di galangan kapal ini. Masih ada lagi pesanan 3 kapal sejenis yang sedang dibuat.
PT Daya Radar Utama Lampung
PT Daya Radar Utama Lampung 
PT PAL bekerjasama dengan Damen Schelde Belanda sudah menyelesaikan 2 kapal perang modular jenis perusak kawal rudal " Martadinata Class". Demikian juga kerjasama produksi pola transfer teknologi pembuatan kapal selam dengan Daewoo Korsel telah menyelesaikan 3 kapal selam "Nagapasa Class". Saat ini sedang dibangun 3 kapal selam jenis yang sama tentu dengan mitra yang sama.
Diharapkan dengan memproduksi 6 kapal selam canggih ini transfer teknologi yang kita tekuni selama ini bisa membuahkan hasil, yaitu bisa membuat kapal selam berteknologi made in sendiri. Contoh keberhasilan transfer teknologi adalah pembuatan kapal perang jenis LPD (Landing Platform Dock) dengan guru yang baik hati, Korsel.
Kita memesan 4 kapal LPD "Makassar Class" kepada Korsel dengan catatan 2 dibuat di Korsel dan 2 lagi dibuat di Surabaya. Setelah PT PAL sukses membuat kapal ke tiga dan keempat, datang tawaran dari Filipina yang pesan 2 kapal LPD. Dan dua-duanya sukses dibuat dan diserahkan ke Filipina. Saat ini Manila sedang melakukan tender terbuka pemesanan 2 kapal sejenis. Peluang menang terbuka lebar.
PT PAL baru saja menyelesaikan pembuatan kapal LPD KRI Semarang 594 pesanan TNI AL dan saat ini sedang membangun 1 kapal LPD rumah sakit. Jadi betapa sibuknya perusahaan plat merah ini, membangun 3 kapal cepat rudal, membangun 3 kapal selam dan membangun 1 kapal LPD rumah sakit dengan waktu bersamaan. Luar biasa.
Bisa dibayangkan ke depan nanti dengan kemampuan PT PAL membuat kapal perang jenis striking force termasuk kapal selam dan juga kapal jenis LPD. Betapa Angkatan Laut kita akan semakin berjaya kekuatan armadanya dengan dukungan industri pertahanan strategis PT PAL.
Galangan kapal swasta nasional juga ikut mekar dan berbunga harum dengan berbagai pesanan kapal perang jenis kapal patroli cepat (KPC), landing ship tank (LST) pesanan TNI AL. Belum lagi pesanan dari Bakamla, KKP, Bea Cukai dan Kepolisian.
Galangan kapal swasta nasional yang ada di Batam, Banten, Jatim dan Lampung sedang panen raya dan menikmati bulan madu perjalanan bisnis mereka. PT Daya Radar Utama Lampung misalnya mendapat pesanan 5 kapal perang LST dan semuanya sudah hampir diselesaikan. Belum lagi yang pesanan Bakamla.
Sementara beberapa galangan kapal swasta nasional di Batam telah berhasil membuat belasan kapal cepat rudal ukuran 40 m dan kapal patroli cepat untuk TNI AL. Belum terhitung pesanan kapal Coast Guard untuk Bakamla.
Bagaimana dengan PT Pindad, industri pertahanan strategis matra darat. Lagi rame Om, saat ini sudah menyelesaikan pembuatan 300 panser Anoa. Bulan-bulan ini sedang disibukkan memproduksi tank Harimau pesanan TNI AD. Medium tank ini akan diproduksi di kisaran 300 unit untuk batalyon kavaleri TNI AD. Pasar yang menjanjikan termasuk peluang ekspor ke negara sahabat.
PT Pindad juga sedang memproduksi puluhan ranpur anti ranjau Sanca. Puluhan kendaraan Komodo Nexter sedang diselesaikan. Sementara untuk panser canon Badak masih tertunda produksinya meski sudah lulus uji ketahanan.
Industri pertahanan strategis lainnya PT DI sedang disibukkan dengan berbagai pesanan TNI AU. Ada pesanan puluhan helikopter berbagai jenis seperti Bell 412 Epi, Caracal, Panther. Juga pesanan pesawat CN 295, CN 235. Selain CN 235 yang murni produk sendiri, berbagai jenis pesanan tadi merupakan produk perusahaan multi nasional bekerjasama dengan PT DI.
Yang paling monumental adalah kerjasama teknologi jet tempur KFX/IFX dengan Korsel. Jika semuanya berjalan lancar lima tahun ke depan sdh ada gambaran produksi dimana kita bisa mendapatkan puluhan jet tempur sesuai rasio investasi kedua negara.
Dengan pencapaian ini maka pembangunan kekuatan pertahanan kita yang didukung kemampuan industri pertahanan dalam negeri memberikan asupan energi yang luar biasa untuk terciptanya mata rantai otot pertahanan yang kekar.
Ketersediaan industri pertahanan yang mampu mensuplai kebutuhan alutsista berteknologi akan memberikan jaminan kebutuhan alutsista setiap saat. Perjalanan mekarnya industri pertahanan baik yang plat merah maupun swasta nasional kita apresiasi sebagai keberhasilan cum laude.
Bahwa kebutuhan alutsista kita sekarang dan yang akan datang sebagian besar bisa dicukupi oleh industri pertahanan dalam negeri akan menjadi kebanggaan dan gengsi nasional. Karena tumbuh mekarnya industri alutsista kita sejatinya adalah memastikan ketersediaan beragam alutsista utk kebutuhan TNI, Bakamla, KKP dan Kepolisian. Termasuk juga peluang ekspor.
Lebih dari itu mekar harumnya industri pertahanan kita tentu akan memberikan persepsi positif di kawasan karena Indonesia telah mampu menghasilkan kualitas produksi alutsista setara dengan negara lain, setara pula dengan tumbuh kuatnya otot militer negeri ini. Barakallah.
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
Sumber : Jagarin Pane - 
Arien Pan

Ukraina Kerjasama dengan Thailand untuk Produksi Kendaraan Kodal BTR-3KS


Perusahaan Ukraina "Ukroboronprom" mengirim ke Thailand kit mesin pertama BTR-3KS untuk perakitan berlisensi di Thailand, kata Direktur Jenderal Ukroboronprom Pavel Bukin.
"Kami memandang pasokan ekspor ini sebagai penanda semakin dalamnya kerja sama kami dengan Thailand, mitra strategis Ukraina di Asia Tenggara. Ukraina memiliki prospek serius dalam hal ini dan kami harus menggunakannya untuk kepentingan nasional kami," katanya.
 BTR-3KS
 BTR-3KS 
Menurut dia, beberapa tahun yang lalu perjanjian kerangka kerja telah disepakati dengan perusahaan yang ditunjuk oleh Kementerian Pertahanan Thailand untuk memproduksi BTR-3E1, termasuk berbagai modifikasi dan kendaraan yang didasarkan padanya, serta untuk memberikan layanan perbaikan di negara tersebut .
"Kendaraan komando dan pengendalian (kodal) BTR-3KSH yang didasarkan pada kendaraan BTR-3 adalah proyek bersama KBTZ, sebuah perusahaan bagian dari Ukroboronprom, serta perusahaan-perusahaan lain dalam Ukroboronprom dan perusahaan-perusahaan swasta, yang dirancang atas pesanan Angkatan Darat Thailand bekerja sama dengan Kementerian Institut Teknologi Pertahanan, Kementerian Pertahanan Thailand dan Kementerian Pertahanan Ukraina" kata Direktur Jenderal Ukroboronprom.
Menurut dia, dalam kondisi saat ini perluasan pasokan ekspor adalah satu-satunya peluang untuk memastikan pengembangan inovatif perusahaan Ukroboronprom. "Kerja sama dengan Thailand telah memungkinkan Ukraina untuk memperluas lini BTR-3 dan meluncurkan mesin tempur kelas dunia yang sepenuhnya baru ke dalam produksi massal," katanya.
BTR-3KSH adalah kendaraan baru dalam lini BTR-3, dilengkapi dengan sistem manajemen tempur otomatis yang mengintegrasikan dengan aman komunikasi dan posisi unit, sasaran, dan penembak. Sistem manajemen tempur tersebut memberikan gambaran menyeluruh ke komputer taktis dan memungkinkan komandan untuk dengan cepat memberikan perintah dan tugas tempur dan memantau pelaksanaannya.
BTR-3KSH juga dilengkapi wahana udara tak berawak dalam komposisinya, yang memungkinkan untuk mendapatkan informasi terkini secara mandiri. Saat ini, UAV "Rama" dari perusahaan DKB Aviation, yang merupakan bagian dari Ukroboronprom, digunakan sebagai bagian dari BTR-3KS.
Dimungkinkan untuk mengintegrasikan modul pertempuran ringan dan kompleks tanpa awak ke dalam kendaraan, seperti modul RCWS IVA-M yang dirancang oleh perusahaan CheZaRA yang dipersenjatai dengan senapan mesin 12,7mm, perangkat penglihatan siang dan malam, pengukur jarak dan peluncur granat asap. Karakteristik kendaran mampu bergerak dengan kecepatan 100 km/jam dengan kemampuan untuk melintasi rintangan air.(Angga Saja-TSM)

Batch Pertama Helikopter Serang AH-64E AU India Telah Tiba


Batch pertama yang terdiri dari empat helikopter serang AH-64 Apache milik Angkatan Udara India telah tiba di Hindon Air Force Station di Ghaziabad di pinggiran New Delhi, India pada hari Sabtu, 27 Juli. Empat helikopter dari varian yang sama akan tiba pada minggu ini.
Delapan helikopter tersebut dijadwalkan akan dibawa ke Pathankot Air Force Station di Punjab untuk peresmian memasuki kedinasan AU India sekitar bulan September.
AH-64E AU India
AH-64E AU India  
Pesanan untuk pembelian 22 helikopter serang Apache AH-64E ditandatangani oleh Kementerian Pertahanan India pada tahun 2015 mencakup produksi, pelatihan dandukungan. Pemerintah India juga telah menyetujui akuisisi enam Apache tambahan untuk Angkatan Darat India pada tahun 2017.
AH-64E Apache untuk Angkatan Udara India menyelesaikan penerbangan pertamanya pada Juli 2018. Angkatan pertama awak pesawat dari Angkatan Udara India memulai pelatihan mereka untuk menerbangkan Apache di AS pada 2018.
AH-64 Apache adalah helikopter serang twin-turboshaft yang dirancang dan diproduksi oleh perusahaan AS Boeing. Helikopter serang AH-64E adalah versi terbaru dari AH-64, yang juga digunakan oleh Angkatan Darat AS. Helikopter ini juga dikenal sebagai Apache Guardian.
AH-64 Apache memiliki serangkaian sensor yang dipasang di hidung untuk akuisisi target dan sistem penglihatan malam. Helikopter dipersenjatai dengan kanon M230 30 mm (1,18 in.), yang dipasang di antara roda pendaratan utama, di bawah fuselage depan, dan empat hardpoint yang dipasang pada stub wing untuk membawa persenjataan, biasanya campuran rudal AGM-114 Hellfire dan pod roket Hydra 70.
AH-64E memiliki fitur konektivitas digital yang ditingkatkan, Joint Tactical Information Distribution System, mesin T700-GE-701D yang lebih kuat dengan face gear transmission yang ditingkatkan untuk mengakomodasi daya yang lebih besar, kemampuan untuk mengendalikan wahana udara tak berawak (UAV), kemampuan IFR penuh, dan peningkatan kemampuan roda pendaratan. Bilah rotor komposit yang baru, yang berhasil menyelesaikan pengujian pada tahun 2004, meningkatkan kecepatan jelajah, climb rate, dan kapasitas muatannya. (Angga Saja-TSM)

AS Jual Suku Cadang F-16 ke Pakistan dan C-17 ke India


Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyetujui penjualan peralatan militer kepada Pakistan dan India, dua negara bersenjata nuklir yang selama ini berseteru. Washington menjual suku cadang untuk armada F-16 Islamabad dan suku cadang untuk armada transportasi militer C-17 New Delhi.
Jet Tempur F-16
Jet Tempur F-16 
Persetujuan pemerintah Amerika itu telah disampaikan kepada Kongres setempat hari Jumat. Badan Kerja Sama Pertahanan (DCSA) Pentagon mengatakan penjualan ke Pakistan akan membutuhkan pengerahan sekitar 60 perwakilan kontraktor, yang akan menyediakan pemantauan 24/7 bagi pengguna akhir jet tempur buatan negara itu.
Kantor Urusan Politik dan Militer Departemen Luar Negeri AS melalui Twitter juga mengonfirmasi penjualan peralatan militernya kepada Islamabad. "@StateDept (Departemen Luar Negeri) memberikan otorisasi usulan Penjualan Militer Asing (FMS) kepada Pakistan untuk Tim Keamanan Teknis (TST), Dukungan Lanjutan Program F-16 senilai USD125 juta," tulis kantor tersebut via akun Twitter-nya, @StateDeptPM, Sabtu (27/7/2019).
Armada F-16 Pakistan menjadi sorotan pada Februari 2019 saat terjadi krisis keamanan, di mana pesawat-pesawat tempur India dan Pakistan terlibat dalam pertempuran udara secara langsung untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.
Saat itu, New Delhi menuduh Pakistan telah menggunakan jet tempur buatan AS tersebut selama serangan balasan di wilayah Kashmir. Jika tuduhan itu benar, maka akan menjadi pelanggaran ketentuan ekspor senjata AS. Pakistan membantah mengerahkan F-16 untuk misi tersebut dengan menegaskan tidak kehilangan satu pesawat pun dalam pertempuran udara.
Pada hari Jumat, Washington juga mengumumkan persetujuannya untuk menjual suku cadang untuk armada pesawat angkut militer Boeing C-17 New Delhi. Menurut Kantor Urusan Politik dan Militer Departemen Luar Negeri, kontrak untuk New Delhi akan membutuhkan 23 perwakilan kontraktor.
"@StateDept memberikan otorisasi usulan Penjualan Militer Asing (FMS) kepada India untuk dukungan tindak lanjut Keberlanjutan C-17 senilai USD670 juta," imbuh tweet @StateDeptPM.
DSCA menjelaskan bahwa penjualan itu tidak akan mengubah keseimbangan militer dasar di wilayah tersebut. Persetujuan penjualan itu muncul beberapa hari setelah kunjungan Perdana Menteri Pakistan Imran Khan ke Amerika, dan sebulan setelah Menteri Luar Negeri AS Michael Pompeo berkunjung ke New Delhi.
Meski Washington setuju menjual peralatan militernya kepada Islamabad, para pejabat Amerika menyatakan bahwa pembekuan bantuan keamanan kepada Pakistan atas arahan Presiden Donald Trump sejak Januari 2018 masih berlaku.
"Tidak ada perubahan pada penskorsan bantuan keamanan yang diumumkan oleh presiden pada Januari 2018. Ketika presiden menegaskan kembali minggu ini, kita dapat mempertimbangkan pemulihan program bantuan keamanan tertentu sesuai dengan jangka waktu yang lebih luas dari hubungan kita," kata seorang juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika kepada PTI.(Muhaimin)

Radar Acak