MAKS 2019: Rusia dan China Tawari Iran Jet Tempur Buatannya


Kepala sektor kedirgantaraan Iran mengumumkan penawaran baru untuk membli jet tempur dari Rusia dan China. Itu menunjukkan jika kedua negara tersebut mendukung Iran di tengah perseteruannya dengan Amerika Serikat (AS).
Jet Tempur FC 31 China
Jet Tempur FC 31 China 
Direktur Organisasi Industri Penerbangan Iran Brigadir Jenderal Abdolkarim Banitarafi adalah salah satu dari sejumlah pejabat pertahanan internasional yang menghadiri Pameran Penerbangan dan Antariksa Internasional (MAKS) Rusia tahun 2019 di Rusia. Lebih dari 180 perusahaan asing dari hampir 30 negara dilaporkan berkumpul di Zhukovskiy sejak acara dimulai pada 27 Agustus. Ketika embargo senjata PBB terhadap Teheran mendekati tahun terakhirnya, Banitarafi mengatakan bahwa ia telah menerima tawaran asing yang potensial untuk membeli dan menjual senjata.
"Berbagai negara menawarkan kita dan mendiskusikannya, tetapi itu semua tergantung pada tanggal kapan sanksi senjata berakhir," katanya seperti disitat Newsweek dari kantor berita Tasnim, Jumat (30/8/2019).
Ia juga mengatakan Iran mungkin akan membeli peralatan baru di luar negeri dari dua kekuatan utama.
"Rusia dan China telah memberi kami proposal, tentu saja, kami punya proposal sendiri, tetapi semua ini masih dalam tahap diskusi," tambah Banitarafi.
Dewan Keamanan (DK) PBB mulai memberlakukan embargo senjata ke Iran pada tahun 2006. Dimulai dengan pembatasan transfer tekonlogi yang dapat digunakan untuk memproduksi senjata nuklir, termasuk senjata konvensional.
Beberapa larangan ini telah dicabut dengan penandatanganan kesepakatan nuklir 2015, yang dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA). Berdasarkan kesepakatan ini, Iran setuju untuk tidak mengejar program senjata nuklir. Penarikan Amerika Serikat (AS) dari perjanjian itu tahun lalu semakin memperumit kesepakatan bagi calon mitra bisnis Iran.
Penarikan AS dari kesepakatan nuklir 2015 diiringi dengan penjatuhan sanksi. Hubungan kedua negara pun memanas setelah AS mengirimkan kelompok kapal perangnya ke Teluk bersama dengan satu skuadron pesawat pembom, ribuan tentara dan menyebar rudal Patriot. AS beralasan pengerahan pasukannya ke Timur Tengah untuk mencegah serangan Iran terhadap kepentingannya dan sekutunya.
Meskipun armada udara terbatas, Iran telah berhasil mengembangkan persenjataan rudal terbesar dan paling maju di Timur Tengah. Organisasi Banitarafi meluncurkan drone rudal jelajah baru bernama Mobin di acara MAKS pada 27 Agustus, dan juga baru-baru ini memperkenalkan dua sistem pertahanan udara baru, Bavar-373 dan Khordad-15. Sistem Iran lainnya, Khordad-3, menembakkan drone AS yang canggih dan terbang tinggi di tengah puncak gesekan di jalur air strategis Teluk Persia pada Juni. (Berlianto)

KSAL Laksamana TNI Siwi Suma Adji: Kuasai Laut Kunci untuk Meraih Kejayaan


Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Siwi Sukma Adji menegaskan, laut bukanlah sebatas sumber kehidupan. Siapapun yang mampu menghadirkan unsur kekuatannya di laut, baik armada kapal perang maupun kapal niaga, akan tampil pada tampuk kejayaan bahkan dapat memegang hegemoni kekuasaan atas negerinya.
KRI Sultan Iskandar Muda - 367 TNI AL
KRI Sultan Iskandar Muda - 367 TNI AL 
Hal itu diungkapkan KSAL saat menjadi pembicara dalam seminar nasional yang mengangkat Sejarah Majapahit dengan tema "Refleksi Kejayaan Negara Agraris, Maritim dan Demokrasi Deliberatif, Dahulu, Kini dan Masa yang Akan Datang" di Museum Nasional Jalan. Medan Merdeka Barat No.12, Jakarta Pusat, Kamis, (29/8/2019).
Dalam paparannya yang berjudul, "Dinamika dan Peran Indonesia Dalam Membangun Peradaban Maritim Dunia” KSAL menyatakan, Kerajaan Majapahit telah mengembangkan potensi kemaritimannya guna mengokohkan hegemoni di bidang perdagangan dan politik.
”Untuk itu, Majapahit memberi perhatian khusus terhadap pembangunan galangan kapal yang mampu membuat kapal-kapal berukuran besar serta mengembangkannya sebagai bandar perdagangan,” ungkapnya.
Di era sekarang ini, TNI Angkatan Laut hadir dalam mendukung kebijakan kelautan Indonesia, menghadapi tantangan keamanan maritim maupun melaksanakan misi diplomasi dengan mengirimkan kapal perang ke Lebanon dalam misi Maritime Task Force maupun KRI Bima Suci dan KRI Dewa Ruci muhibah ke negara-negara sahabat.
Seminar yang dibuka Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy ini diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI bekerja sama dengan Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN).
Kegiatan tersebut bertujuan menjadikan nilai-nilai dan pengalaman sejarah kejayaan Majapahit untuk dijadikan modal sosial bagi kemajuan bangsa Indonesia di masa depan dalam menghadapi berbagai tantangan nasional, regional, maupun global.
Selain KSAL Laksamana TNI Siwi Sukma Adji, pembicara lainnya yakni, Sutarto Alimoeso, Agus Aris Munandar, Plt. Bupati Mojokerto H. Pungkasiadi, Deputi IV Kemenko Maritim Safri Burhanuddin, serta Guru Besar UI Budi Susilo Soepandji. Hadir dalam seminar tersebut, Kadispenal Laksma TNI M. Zaenal, Kadisdikal Laksma TNI Ivan Yulivan, serta Kadiskumal Laksma TNI Kresno Buntoro. (Sucipto)

Ketua DPR Minta Koopssus TNI Segera Dioperasikan di Papua


Aksi anarkistis yang terjadi di sejumlah wilayah di Papua harus segera diatasi. Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengaku prihatin atas kondisi terkini di Papua. Karena itu, pihaknya mendesak pihak keamanan, baik Polri maupun TNI untuk segera memulihkan kondisi di Papua.
Koopssus TNI
Koopssus TNI  
”Kemarin Pak Kapolri dan Panglima TNI sudah mengunjungi Papua dan kita mendesak untuk segera dilakukan pemulihan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya,” ujar Bamsoet di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, (29/8/2019).
Bamsoet juga mendorong Komisi I DPR untuk melakukan kajian apakah berbagai peristiwa dan gerakan-gerakan yang terjadi di Papua bisa dikategorikan sebagai gerakan separatis atau gerakan orang bersenjata.
”Kami serahkan sepenuhnya kepada mekanisme yang ada di DPR pada Komisi l untuk meminta penjelasan kepada pihak-pihak terkait dan kemudian merumuskannya dalam bentuk pengambilan langkah-langkah yang lebih konkret,” paparnya.
Saat ini, Indonesia telah memiliki Komando Operasi Khusus (Koopssus) TNI yang terdiri atas matra darat, laut, dan udara. Bamsoet meminta agar Koopssus TNI yang baru diresmikan bisa segera dioperasikan.
”Saya meminta dan mendorong untuk melakukan pembahasan ini kepada pihak-pihak terkait, dan saya sendiri sebagai pimpinan bersama beberapa pimpinan menerima beberapa tokoh Papua dan menyampaikan beberapa solusinya. Saya mendengar juga Presiden akan bertemu dengan para tokoh agama, tokoh adat dari Papua dalam rangka melakukan pembahasan untuk menyelesaikan masalah Papua ini,” katanya. (Abdul Rochim)

Pengamat Militer: Ancaman Pertahanan di Kaltim Lebih Rendah


Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan Universitas Padjajaran Muradi menilai potensi ancaman pertahanan di Kalimantan Timur sebagai ibu kota baru lebih kecil karena daerah itu lebih tertutup daripada Jawa.
"Kalau dari potensi ancamannya sebenarnya dia lebih rendah di banding dengan di Jawa. Di Jawa kan terbuka dan kecil," ujar Muradi kepada CNNIndonesia.com, Selasa (27/8).
Kalimantan Timur
Kalimantan Timur 
Pemerintah sebelumnya telah memastikan bakal memindahkan ibu kota dari DKI Jakarta ke Kalimantan Timur, tepatnya ke Kutai Kertanegara dan Penajam Paser Utara. Infrastruktur dasar di dua kabupaten rencananya mulai dibangun pertengahan 2020.
Meski potensi ancaman kecil, Muradi mengingatkan pemerintah harus tetap mengembangkan kekuatan pertahanan. Pertimbangannya, kata Muradi, secara geografis Kaltim dekat dengan negara tetangga seperti Malaysia hingga
Filipina.
Angkatan Darat merupakan matra pertama yang harus diperkuat. Muradi menyebut perlu ada Komando Daerah Militer baru yang fokus menjaga perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia dan Brunei Darussalam.
Kodam baru juga diperlukan untuk khusus menjaga ibu kota.
Matra kedua yang perlu diperkuat adalah Angkatan Laut. Ia menilai perlu ada Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) baru mengingat posisi ibu kota baru berada di pesesir laut. Adapun untuk Angkatan Udara, ia menyebut perlu ada Skuadron baru untuk mendukung AD dan AL.
"Jadi kalau boleh dikatakan, semua potensinya masih harus sama-sama, tapi karena dia berada berbatasan langsung dengan negara lain walaupun jaraknya ribuan kilo tetap jadi bagian yang harus diperhatikan betul," ujarnya.
Muradi menilai kedalaman laut di Selat Makassar menjadi alasan lain menurunnya potensi ancaman pertahanan jika ibu kota di Kaltim. Ia berkata kedalaman laut itu membuat kapal selam hingga kapal perang modern dan berukuran besar bisa berada dekat di ibu kota.
"Jadi menurut saya dengan keberadaan alutsista itu bisa lebih menjamin pertahanan ibu kota baru," ujar Muradi.
Muradi menambahkan pemindahan ibu kota secara otomatis akan berdampak pada pemindahan Markas Besar TNI dan Polri. Akan tetapi, ia mengatakan pemindahan itu tidak akan mempengaruhi koordinasi ketika terjadi ancaman.
Menurutnya koordinasi tak akan terganggu karena ada teknologi komunikasi. Selain itu, telah ada satuan yang tersebar di Indonesia.
"Pemindahan Mabes hanya secara administratif. Karena operasionalnya tersebar di banyak tempat," ujarnya.
Lebih dari itu, Muradi meminta semua pihak tidak berpolemik dengan kemungkinan Indonesia lebih mudah diinvasi lantaran pindah ke Kaltim. Ia menyebut peperangan saat ini dan masa yang akan datang berada di wilayah siber.
"Jadi mau pindah ke daerah terpencil sekalipun tidak pengaruh. Karena ancamannya bukan pendudukan, tapi siber dan sebagainya," ujar Muradi.(Angga Saja-TSM)

Pemerintah Siap Bangun Pangkalan Militer di Ibu Kota Baru


Pemerintah berencana membangun pangkalan militer di ibu kota negara baru, yang telah diputuskan dibangun di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Pangkalan militer ini meliputi markas untuk tiga matra: Angkat Darat (AD), Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU).
Moeldoko
Moeldoko  
"Kalau rencana demikian, karena nanti ada pembangunan pangkalan militer yang lebih lengkap lagi dari darat, laut, maupun udara," kata Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (28/8).
Mantan Panglima TNI ini menyatakan pemilihan lokasi ibu kota pengganti DKI Jakarta itu juga telah mempertimbangkan aspek pertahanan dan keamanan. Pemerintah, kata Moeldoko, pun menghitung perkembangan teknologi di masa depan.
"Kalau nanti mudah diserang, Ini kalau nanti dengan teknologi yang baru, rudal jelajah itu, mau di mana saja juga bisa dilewati. Jadi menurut saya kajian-kajian ke arah sana sudah dipikirkan dengan baik," tuturnya.
Mantan Panglima TNI itu menyebut lokasi ibu kota baru lebih aman dibandingkan Jakarta, semisal terjadi pertempuran. Menurutnya, di Jakarta akan sulit mengatasi pertempuran kota karena banyak gedung-gedung tinggi.
Sementara, kata Moeldoko, di wilayah Kaltim terbilang mudah karena masih banyak hutan jika pertempuran berlanjut. Di sisi lain, Moeldoko menyebut tentara Indonesia memiliki keunggulan jika harus bertempur di tengah hutan.
"Apalagi Kopassus perang hutannya sangat diakui. Memiliki keunggulan di bidang perang hutan. Banyak negara lain ingin belajar dari Indonesia," ujarnya.(Angga Saja-TSM)

Rusia Berupaya Jual Jet Tempur Siluman Su-57 pada Turki


Rusia saat ini sedang berupaya menjual pesawat jet tempur siluman generasi kelima Su-57 kepada Turki setelah Amerika Serikat (AS) menghentikan pengiriman pesawat tempur siluman F-35 ke Ankara.
Presiden Vladimir Putin telah memamerkan pesawat tempur siluman terbaru Rusia kepada rekannya dari Turki; Recep Tayyip Erdogan. Washington menghentikan pengiriman F-35 ke Ankara setelah pemerintah Erdogan nekat membeli sistem pertahanan rudal S-400 Moskow.
Jet Tempur Siluman Su-57
Jet Tempur Siluman Su-57 
Diapit oleh menteri pertahanan Rusia dan Turki, Putin dan Erdogan memeriksa kokpit pesawat Su-57 pada hari Selasa pada pembukaan pertunjukan udara internasional MAKS-2019 di luar Moskow. Mereka juga melakukan tur pesawat tempur Su-35, peragaan helikopter dan pesawat amfibi.
"Putin menyambut teman baiknya, Erdogan, di layar udara. Putin meluncurkan kemampuan teknis generasi terbaru Angkatan Udara Rusia. Membuka peluang baru untuk kerja sama yang saling menguntungkan," bunyi transkrip Kremlin, dikutip TIME, Kamis (29/8/2019).
Kantor berita Interfax melaporkan, ketika Erdogan bertanya selama tur apakah Su-57 sudah tersedia untuk dibeli, Putin yang tersenyum menjawab; "Anda bisa membeli."
Kunjungan Erdogan menyusul keputusan AS pada bulan lalu untuk menangguhkan Turki membeli dan membantu membangun pesawat tempur siluman F-35 sebagai pembalasan karena menentang pemerintah Trump dan menerima pengiriman sistem pertahanan udara S-400 Rusia. AS mengatakan pembelian S-400 tidak sesuai dengan peran Turki dalam NATO dan program F-35 karena hal itu memungkinkan Rusia untuk mengumpulkan informasi tentang teknologi canggih pesawat tempur F-35.
Turki telah merencanakan untuk membeli sekitar 100 unit F-35 dan harus mencari alternatif jika AS mempertahankan larangan tersebut. Rusia dan Turki pernah terlibat perseteruan sengit setelah jet-jet Turki menembak jatuh sebuah pesawat tempur Rusia di dekat perbatasan Suriah pada 2015. Sejak itu, Putin dan Erdogan memperkuat hubungan ekonomi dan militer terutama ketika hubungan Turki dan sekutu NATO-nya sedang tegang.
Putin dan Erdogan juga mengadakan perundingan terbaru untuk mencoba menyelesaikan perselisihan mengenai serangan tentara Suriah yang didukung Kremlin terhadap pemberontak di wilayah barat laut Idlib yang berisiko memicu eksodus pengungsi baru ke Turki.
"Turki adalah mitra kami yang sangat dekat, itu adalah sekutu kami," kata juru bicara Putin, Dmitry Peskov, pada Senin lalu. Dia menolak untuk mengatakan apakah Putin dan Erdogan akan membahas penjualan senjata baru. "Semuanya benar-benar terkonsentrasi di sana," ujarnya mengacu pada MAKS-2019.
Turki menegaskan bahwa mereka terpaksa membeli sistem pertahanan udara Rusia karena sekutu NATO, termasuk AS, tidak akan memenuhi kebutuhan pertahanannya berdasarkan persyaratan Turki.
AS berulang kali menawarkan untuk menjual sistem pertahanan rudal Patriot ke Turki, tetapi tanpa pembagian teknologi yang menurut pemerintah Turki perlu untuk mengembangkannya di dalam negeri.
Turki Ganti Jet Siluman F-35 dengan Su-57?, Erdogan: Mengapa Tidak?
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan tidak mengesampingkan pembelian jet tempur siluman generasi kelima Rusia, Su-57, sebagai alternatif pengganti pesawat tempur F-35 yang pengirimannya dihentikan Amerika Serikat (AS).
Sikap pemimpin Turki itu disampaikan saat dalam perjalanan pulang dari Rusia setelah mengunjungi MAKS-2019. Dalam acara pertunjukan udara pesawat-pesawat tempur di Zhukovsky, dia bertemu Presiden Rusia Vladmir Putin dan membahas opsi pembelian pesawat tempur tercanggih Moskow tersebut.
Selain Su-57, Turki juga berminat membeli Su-35, pesawat tempur generasi keempat Rusia yang juga dibeli Indonesia.
Ketika ditanya seorang reporter CNN Turk apakah pesawat tempur Su-35 dan Su-57 adalah alternatif pengganti F-35 AS, presiden Turki itu menjawab; "Mengapa tidak? Kami tidak datang ke sini dengan sia-sia."
"Setelah kami mempelajari keputusan akhir Amerika Serikat (tentang jet F-35), kami akan membuat langkah kami sendiri. Pasar yang memungkinkan memenuhi kebutuhan kami sangat besar," ujar Erdogan dikutip Sputniknews, Kamis (29/8/2019).
Erdogan juga menyampaikan bahwa dia akan melakukan percakapan telepon dengan Presiden AS Donald Trump tentang F-35 dalam beberapa hari ke depan.
Saat berbicara dengan wartawan, presiden Turki mengatakan bahwa dengan berpartisipasi dalam MAKS-2019, Ankara memiliki kesempatan untuk mengenal produk-produk baru sektor tersebut.
Dia mengaku telah mengundang Putin untuk mengunjungi Teknofest Istanbul Aerospace and Technology Festival, yang akan diadakan di Istanbul pada 17-22 September.
Pada bulan Juli, Amerika Serikat mengumumkan bahwa mereka menangguhkan penjualan jet tempur F-35 kepada Turki sebagai pembalasan atas pembelian sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia. Washington juga akan mencoret Ankara secara penuh dari program pengembangan F-35 pada akhir Maret 2020. (Muhaimin)

AS Buka Peluang Turki kembali ke Proyek F-35 dengan Syarat Singkirkan Rudal Hanud S-400 Rusia


Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Mark Esper, menyatakan harapan Turki untuk kembali bergabung dalam proyek pesawat tempur canggih F-35 masih ada. Namun ada syarat yang harus dipenuhi jika memang ingin kembali bergabung.
 F-35
 F-35  
Esper menyebut Turki harus menyingkirkan sistem pertahan udara S-400 jika ingin kembali ke dalam proyek F-35. Ia bahkan menekankan bahwa Turki harus sepenuhnya menghentikan partisipasinya dalam program S-400, menghapus sistem itu dari pertahanan negara, untuk mendapatkan jet tempur F-35.
"Turki telah lama bersama, mitra yang hebat dan sekutu. Saya berharap mereka akan kembali ke arah kita, dan benar-benar akan hidup sesuai dengan apa yang NATO setujui bertahun-tahun lalu dan itu akan memulai divestasi Rusia era Soviet peralatan dan mereka tampaknya bergerak ke arah yang berbeda," kata Esper seperti dikutip dari Sputnik, Kamis (29/8/2019).
Pernyataan Esper muncul setelah Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menyatakan bahwa Ankara berniat untuk menemukan dan membeli pesawat tempur alternatif selain F-35 jika gagal mendapatkan jet siluman AS itu.
AS menangguhkan partisipasi Turki dalam program F-35 pada Juli lalu karena negara itu menolak membatalkan pembelian sistem pertahanan udara Rusia yang canggih, dengan alasan kebutuhan keamanan nasional. Gedung Putih juga mengancam Turki dengan sanksi dan pengecualian dari NATO atas pembelian teknologi militer Rusia. Washington mengklaim bahwa sistem Rusia dapat mengungkapkan kelemahan F-35 ke Moskow.
Turki mengecam keputusan AS itu sebagai tindakan ilegal, mencatat bahwa tidak ada alasan hukum untuk pengecualian negara itu dari program F-35. Ankara telah berulang kali menyatakan bahwa S-400 diperlukan untuk keamanan nasionalnya dan tidak dapat diganti dengan sistem rudal Patriot, yang ditawarkan oleh AS sebagai pengganti pada awal tahun ini.
Setelah berita tentang penangguhan keanggotaan Turki dalam program F-35, Rusia menawarkan untuk menjual jetnya sendiri ke Ankara, seperti Su-35. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan kepada mitranya dari Turki dalam sebuah pertemuan di acara udara MAKS-2019 bahwa Ankara dapat membeli pesawat tempur Su-57 generasi kelima, tetapi tanpa mempelajari secara spesifik. Putin juga mengatakan kedua negara telah membahas kemungkinan produksi bersama jet Rusia. (Berlianto)

John Bolton Tuding China Curi Desain Jet Tempur Siluman F-35 AS


Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) John Bolton mengklaim bahwa jet tempur baru China secara mencurigakan terlihat serupa dengan pesawat tempur canggih F-35. Ia pun lantas menuding China telah mencuri desain F-35.
 Jet Tempur Siluman
 Jet Tempur Siluman 
"Pesawat tempur generasi kelima China sangat mirip dengan F-35, itu karena F-35, hanya saja mereka mencurinya," ujar Bolton pada konferensi pers di Kiev seperti dikutip dari Sputnik, Kamis (29/8/2019).
Ia kemudian mengklaim bahwa jet tempur siluman F-35 menjadi contoh bagaimana China mencuri kekayaan intelektual selama beberapa dekade.
"AS dan China memiliki perbedaan signifikan dalam perdagangan sekarang. Ini bukan hanya tentang ketidakseimbangan ekspor dan impor antara Amerika Serikat dan China. Ini tentang alasan mendasar mengapa ketidakseimbangan itu ada," katanya.
Beijing sendiri belum menanggapi tuduhan tersebut.
AS dan China telah terlibat dalam sengketa perdagangan yang sedang berlangsung sejak Juni 2018. Ketegangan diperburuk pada pekan lalu ketika Dewan Negara China mengatakan tarif mulai dari 5 hingga 10 persen akan diterapkan pada barang-barang Amerika senilai USD75 miliar mulai 1 September dan 15 Desember.
Tak lama kemudian, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Washington akan meningkatkan tarif barang-barang China senilai USD250 miliar menjadi 30 persen dari tarif saat ini yaitu 25 persen mulai 1 Oktober. Selain itu, tarif akan dinaikkan menjadi 15 persen dari 10 persen pada produk China senilai USD300 miliar mulai 1 September. (Berlianto)

AL Tiongkok Pilih Jet Stealth J-20 untuk Kapal Induk Next Generation Tiongkok


Militer Tiongkok kemungkinan akan memilih pesawat tempur siluman aktif pertama negara itu, J-20, untuk kapal induk next generation-nya, menurut sumber-sumber militer dan laporan terbaru pada media pemerintah Tiongkok.
J-20, yang dibuat oleh Chengdu Aerospace Corporation (CAC), tampaknya telah memenangkan kontes head-to-head dengan FC-31, pesawat tempur yang dibuat oleh perusahaan lain yang masih menjalani pengujian.
Jet Stealth J-20
Jet Stealth J-20  
Narasumber orang dalam militer mengatakan kepada South China Morning Post bahwa Komisi Militer Pusat, badan pembuat keputusan tertinggi Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA), lebih suka mengadopsi J-20 untuk kapal-induk baru Tiongkok.
“Chengdu Aerospace Corporation akan mengumumkan beberapa produk baru, yang akan termasuk versi baru J-20 mereka. Anda dapat menebak tipe apa itu,” kata orang dalam militer, yang meminta tidak disebut nama karena sensitivitas permasalahan.
FC-31 dikembangkan secara independen oleh perusahaan Shenyang Aircraft Corporation (SAC), yang juga memproduksi pesawat J-15, jet yang saat ini digunakan pada satu-satunya kapal induk aktif Tiongkok, Liaoning.
Kedua perusahaan kedirgantaraan tersebut adalah anak perusahaan dari perusahaan raksasa milik negara Tiongkok, Aviation Industry Corporation of China, yang berspesialisasi dalam merancang dan mengembangkan pesawat militer, dan didirikan untuk memastikan persaingan yang tidak berbahaya antara produsen pesawat.
Namun, SAC menghadapi kritik dari beberapa pemimpin militer dan para ahli karena terlalu konservatif dan gagal berinovasi karena struktur birokratisnya.
Sebuah program baru-baru ini yang disiarkan oleh stasiun televisi pemerintah China Central Television juga menyebutkan pesawat J-20 yang akan dipilih.
Sebuah episode Dokumenter Militer yang ditayangkan pada 16 Agustus melaporkan bagaimana Angkatan Laut PLA memilih kandidat untuk pelatihan pilot dan mengilustrasikan fitur tersebut dengan mockup jet yang tampak seperti pesawat J-20 lepas landas dari kapal induk.
J-20 berbasis darat, yang dikenal sebagai Powerful Dragon, memasuki kedinasan Angkatan Udara PLA pada 2017. Produksi massal pesawat tempur stealth itu dimulai akhir tahun lalu ketika Tiongkok meningkatkan upayanya untuk menghadapi penyebaran F-22 dan F-35 AS di wilayah Asia-Pasifik.
Jika pemilihan J-20 tersebut memang benar, hal itu akan menandai akhir dari perdebatan panjang diantara pendukung J-20 dan FC-31 dan mendorong FC-31 untuk menjadi pesawat tempur berbasis kapal induk yang lebih baik.
Mereka yang menyukai J-20 mengatakan pesawat itu lebih canggih dan dapat diandalkan daripada FC-31, tetapi para pendukung FC-31 mengatakan pesawat FC-31 lebih ringan dan gesit.
“Baik J-20 dan FC-31 memiliki kelebihan. Ukuran J-20 mirip dengan J-15 karena keduanya adalah pesawat tempur yang kuat,” kata Song Zhongping, seorang komentator militer untuk Phoenix Television yang berbasis di Hong Kong.
Song mengatakan FC-31 yang lebih ringan dapat dikembangkan menjadi pesawat tempur berukuran sedang yang akan melengkapi J-20 di masa depan.
Tetapi narasumber militer lain yang dekat dengan AL PLA mengatakan hampir tidak mungkin untuk mengembangkan kedua pesawat selama beberapa tahun ke depan mengingat risiko penurunan ekonomi karena perang dagang dengan AS terus meningkat.
Narasumber itu mengatakan kapal induk Tiongkok next generation akan dilengkapi dengan ketapel elektromagnetik yang sama dengan yang digunakan pada supercarrier kelas Ford Angkatan Laut AS.
Ini memungkinkan pengoperasian pesawat tempur yang lebih berat karena ketapel ini lebih kuat daripada sistem uap lama yang digunakan pada kapal induk lama.
“Masalah utama dari J-20 bukanlah berat, tetapi panjangnya. Jika ingin menjadi jet tempur berbasis kapal induk, ia harus dibuat lebih pendek.”
Orang dalam militer sebelumnya mengatakan bahwa insinyur CAC sedang bekerja untuk menghasilkan versi J-20 yang lebih pendek yang akan bekerja dengan sistem peluncuran baru.
Saat ini, baik J-20 dan FC-31 masih mengandalkan mesin buatan Rusia. Mesin WS-15 yang dibuat khusus untuk J-20 telah menjalani ratusan jam pengujian tetapi belum memenuhi target keandalan sementara prototipe FC-31 tidak memiliki mesin yang dibuat secara khusus.
AL Tiongkok berencana untuk membangun setidaknya empat carrier battle group pada tahun 2030, tiga di antaranya akan dapat diaktifkan kapan saja.
Analis milier mengatakan Tiongkok akan membutuhkan setidaknya satu dekade untuk mengembangkan pesawat tempur berbasis kapal induk next generation, sehingga J-15 akan tetap beroperasi setidaknya selama satu dekade, atau dua dekade.
J-15 melakukan penerbangan perdananya pada tahun 2009 dan telah beroperasi sejak tahun 2012. Pesawat tempur itu adalah satu-satunya pesawat tempur yang berpangkalan pada kapal induk Liaoning dan akan digunakan oleh saudaranya, kapal induk Type 001A ketika kapal tersebut memasuki kedinasan, kemungkinan pada akhir tahun ini.(Minnie Chan)(Angga Saja-TSM)
Sumber scmp.com

Singapura Pensiunkan Tiga Kapal Patroli Kelas Fearless


Kini hanya tinggal satu kapal patroli kelas Fearless yang masih beroperasi setelah Angkatan Laut Republik Singapura (RSN) menonaktifkan tiga kapal di kelas tersebut pada 27 Agustus kemarin.
RSS Fearless, RSS Brave dan RSS Dauntless dinonaktifkan di Pangkalan Angkatan Laut Tuas dalam upacara yang dipimpin oleh Panglima AL Singapura, Rear-Admiral (RADM) Lew Chuen Hong.
Kapal Patroli Kelas Fearless
Kapal Patroli Kelas Fearless 
Fearless dan Brave mulai beroperasi pada tahun 1996 sementara Dauntless bergabung pada tahun 1997.
Kapal-kapal kelas Fearless dibangun oleh perusahaan Singapura, ST Engineering (Marine), dengan total produksi sejumlah 12 unit yang kesemuanya digunakan oleh AL Singapura. Kapal tersebut memiliki displacement 500 ton dengan panjang 55m, lebar 8,6m dan draft 2,7m. Kapal dapat berlayar dengan kecepatan maksimum 20 knot dan menjangkau jarak hingga 1.000 mil laut (pada kecepatan 15 knot). Persenjataan yang diusungnya antara lain adalah meriam utama Oto Melara 76mm, rudal anti pesawat Mistral, torpedo Euro Torp A244/S Mod 1, dan 4 senapan mesin STK 50MG kaliber 12,7mm.
Pemensiun ketiga kapal tersebut merupakan bagian dari proses yang akan membuat RSN beralih ke littoral mission vessel (LMV) yang lebih besar dan lebih modern, dimana semuanya berjumlah delapan telah aktif terhitung Januari 2019.
Singapura memulai program LMV pada 2013 dengan tujuan mengganti kapal kelas Fearless. LMV diharapkan akan beroperasi penuh pada tahun 2020.(Angga Saja-TSM)
Sumber :  navaltoday.com

Bulan Depan Thailand akan Terima Batch Pertama Stryker 8x8


Menurut situs surat kabar "Bangkok Post", pada bulan depan Thailand akan menerima sejumlah kendaraan lapis baja buatan Amerika Serikat, Stryker. Kendaraan itu akan digunakan oleh unit infantri Angkatan Darat Thailand (Royal Thai Army - RTA).
Stryker 8x8
Stryker 8x8 
Pada Juli 2019 lalu, Departemen Luar Negeri AS telah mengumumkan kemungkinan Foreign Military Sales ke Thailand atas 60 kendaraan pengangkut infanteri Stryker dengan peralatan dan dukungannya dengan perkiraan biaya $ 175 juta. Badan Kerjasama Keamanan Pertahanan AS (DSCA) memberikan sertifikasi yang diperlukan untuk memberi tahu Kongres tentang kemungkinan penjualan ini pada 26 Juli 2019.
Pemerintah Thailand telah mengajukan permohonan untuk membeli enam puluh (60) Kendaraan Pengangkut Stryker Infantry (ICV); dan enam puluh (60) senapan mesin M2 Flex .50 cal. Juga termasuk suku cadang, Basic Issue Items (BII), Components of End Items (COEI), Additional Authorized List (AAL) (item spesifik untuk operasi dan pemeliharaan), Special Tools and Test Equipment (STTE), manual teknis, OCONUS Deprocessing Service, peluncur granat asap M6 (4 per kendaraan) dan suku cadang terkait, AN/VAS-5 Driver's Vision Enhancer (DVE), sistem komunikasi antar-kendaraan AN/VIC-3, biaya penyediaan pelatihan dan Field Service Representatives (FSR) dari kontraktor, dan elemen logistik dan dukungan program terkait lainnya. Total estimasi biaya program tersebut adalah $ 175 juta
Jenderal Apirat Kongsompong, Panglima Angkatan Darat Kerajaan Thailand, mengatakan Thailand akan menerima 70 kendaraan tempur Stryker pada akhir tahun di bawah program Foreign Military Sales AS.
Stryker adalah keluarga kendaraan lapis baja beroda 8x8 yang berasal dari LAV III Kanada. Kendaraan Stryker diproduksi oleh General Dynamics Land Systems Canada untuk Angkatan Darat Amerika Serikat. Stryker M1126 ICV adalah versi kendaraan lapis baja pengangkut personel infanteri. Kendaraan itu membawa 9 pasukan tempur di kompartemen belakang.
Hull M1126 Stryker dibuat dari baja berkekerasan tinggi (high-hardness steel) yang menawarkan tingkat perlindungan basic terhadap peluru 14.5mm pada bagian depan, dan perlindungan menyeluruh pada kendaraan terhadap amunisi kaliber 7,62mm.
Stryker IFV ditenagai oleh mesin diesel C7 Caterpillar dengan daya 350 hp. Kendaraan dapat melaju pada kecepatan maksimum 100 km/jam dijalan dengan jangkauan jelajah maksimum mencapai 500 km.(Angga Saja-TSM)

MiG-35 Dipamerkan dengan Radar AESA Baru


Radar AESA baru pesawat tempur Mikoyan MiG-35 ditampilkan di pameran kedirgantaraan internasional MAKS 2019 di Moskow.
Jet generasi 4 ++ itu sebelumnya dilengkapi dengan radar Zhuk-M dengan antena yang diarahkan secara mekanis.
MiG-35
MiG-35 
Phazontron-NIIR dilaporkan mengembangkan versi radar Active Electronically Scaned Array (AESA) baru yang disebut Zhuk-A/AM untuk pesawat tempur. Radar ini memiliki lebih dari 1.000 solid-state transceiver-receiver modules, kata Anastasia Kravchenko, direktur komunikasi MiGs, sebagaimana dikutip oleh media sebelumnya pada tahun ini.
Concern Radio-Electronic Technologies (KRET) memamerkan radar Zhuk-AME FGA 50 AESA yang kompatibel dengan jet MiG-35 sebelumnya di Airshow China 2016. Radar tersebut dapat mendeteksi sasaran di luar garis pandang, melacak hingga 30 di antaranya dan menghancurkan hingga 6 target di udara dan 4 di darat.
AESA memungkinkan untuk meningkatkan jangkauan deteksi untuk Zhuk-AME hingga 160 km dan secara bersamaan beroperasi dalam mode "udara-udara" dan "udara-permukaan", untuk mengenali dan mengklasifikasikan kumpulan objek dan objek tunggal, untuk secara bersamaan menyerang beberapa sasaran dengan senjata presisi, serta untuk mengirimkan data taktis ke pesawat lain dan untuk melakukan countermeasure elektronik. Radar ini dapat memberikan dukungan informasi di ketinggian rendah, navigasi, serta panduan untuk senjata udara-ke-udara dan udara-ke-permukaan yang canggih.
Beberapa laporan mengklaim bahwa MiG-35 dilengkapi dengan radar AESA Phazotron Zhuk-A/AE yang menawarkan berbagai frekuensi operasi, memberikan ketahanan yang lebih baik terhadap countermeasure elektronik (ECM), jangkauan deteksi yang lebih jauh dan kemampuan mendeteksi sasaran udara dan darat yang lebih banyak.(Angga Saja-TSM)

KSAU Marsekal Yuyu Sutisna Kunjungi MAKS Air Show 2019. Diskusi Kelanjutan Pengadaan Pesawat Tempur Sukhoi Su-35


KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna beserta delegasi TNI AU menghadiri International Aviation and Space Salon MAKS 2019 di Zhukovsky International Airport Moscow, Rusia, Selasa (27/8/2019).
KSAU Marsekal Yuyu Sutisna
KSAU Marsekal Yuyu Sutisna  
Russian Internasional Airshow dibuka oleh Presiden Vladimir Putin. Ajang pameran kedirgantaraan terbesar di Rusia yang dilaksanakan 2 tahun sekali ini dimeriahkan dengan atraksi demo udara dari pesawat-pesawat Rusia baik pesawat helikopter, angkut maupun pesawat fighter paling mutakhir yang dimiliki termasuk Sukhoi Su-57 yang menjadi primadona dalam ajang tersebut.
Pada kesempatan ini, KSAU beserta delegasi berkesempatan untuk mengadakan official meeting dengan JSC Rosoboronexport sebagai pemegang hak tunggal kegiatan ekspor/impor seluruh produk pertahanan Rusia, serta dengan JSC UEC, JSC UAC, dan Sukhoi Company.
Diskusi berlangsung dengan akrab dan membahas materi seputar kelanjutan pengadaan pesawat Sukhoi Su-35, permasalahan perawatan pesawat Sukhoi yang dimiliki TNI AU, penjajakan pesawat LIFT untuk Sukhoi, simulator Su-27/30 dan Su-35, serta diskusi tentang permasalahan operasional dan pemeliharaan pesawat Sukhoi Su-27/30.
KSAU juga menjajaki kemungkinan kerja sama dengan perusahaan Rusia dalam upaya meningkatkan kemampuan pemeliharaan tingkat berat engine Sukhoi pada tingkat depo.

Boeing Serahkan C-17 Terakhirnya ke India


Raksasa dirgantara Amerika Serikat, Boeing, pada hari Senin (26/08) menyerahkan pesawat angkut C-17 Globemaster III ke-11 pesanan Angkatan Udara India, sehingga meningkatkan kemampuan angkut udara strategisnya.
C-17 India
C-17 India 
India memesan 10 pesawat C-17 pada Februari 2011, dengan opsi pembelian tambahan sebanyak 6 pesawat C-17. Pada tahun 2012 AU India menyelesaikan rencana pembelian tambahan 6 pesawat C-17 untuk tahun 2017-2022. Namun rencana ini batal, karena produksi pesawat C-17 berakhir pada tahun 2015. Pada Juni 2017 AS menyetujui penjualan satu pesawat C-17 "white tail" kepada India. Pesawat itu merupakan satu dari 5 pesawat C-17 terakhir yang ada dalam lini produksi Boeing yang belum memiliki pembeli. Ke-empat pesawat terakhir lainnya dibeli oleh Qatar.
C-17 Globemaster III adalah pesawat angkut utama. Pesawat yang besar, kokoh, mampu terbang jarak jauh ini dapat membawa peralatan tempur besar, pasukan, dan bantuan kemanusiaan melintasi jarak jauh dalam segala kondisi cuaca.
"Boeing pada hari ini mengirimkan Globemaster III C-17 ke-11 yang menambah kemampuan India untuk memenuhi kebutuhan angkut udara strategis disaat ini dan masa depan," kata perusahaan Boeing dalam sebuah pernyataan.
Armada C-17 telah menjadi bagian penting dari kemampuan pengangkutan udara strategis dan tempur AU India.
C-17 AU India telah melakukan berbagai operasi dalam misi militer, dan memberikan dukungan penjaga perdamaian, bantuan kemanusiaan dan bantuan bencana di India dan internasional, sejak masuk ke skuadron "Sky Lords" (No. 81 Squadron) pada 2013.
Boeing telah membantu kelangsungan armada C-17 AU India melalui dukungan tekno-logistik dan pelatihan untuk awak pesawat yang mengoperasikan platform tersebut.
"Armada C-17 telah mempertahankan serviceability rate yang tinggi sejak masuk kedinasan. Boeing bertanggung jawab atas pemeliharaan, layanan dukungan lapangan, modifikasi dan upgrade, dukungan manual teknis dan layanan engineering logistik," kata perusahaan itu.
Pusat pelatihan simulator C-17 Boeing, yang didirikan pada tahun 2016, menyediakan layanan pelatihan kepada AU India, dan telah menyelesaikan lebih dari 5.100 jam pelatihan untuk awak pesawat dan loadmaster.
"Dengan penyerahan ini, ada 275 pesawat C-17 buatan Boeing yang dapat dioperasikan di seluruh dunia. Boeing berencana untuk mendukung kelangsungan pesawat-pesawat tersebut untuk memastikan mereka dapat memenuhi tuntutan misi yang ada," kata perusahaan Boeing.(Angga Saja-TSM)

Jet Tempur Generasi 5 Sukhoi Su-57 Rusia Siap Tampil pada Pameran MAKS Air Show 2019


Pesawat jet tempur siluman generasi kelima Rusia, Su-57, dijadwalkan muncul di MAKS Air Show 2019, Selasa (27/8/2019). Satu-satunya jet tempur siluman Moskow ini akan didemonstrasikan di depan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan perwakilan India.
Turki dan India diincar sebagai calon pembeli pesawat tercanggih Rusia tersebut. Ada banyak peralatan tempur yang dipamerkan di MAKS Air Show 2019, namun Su-57 akan menjadi bintangnya karena bukti kecanggihannya telah dinanti-nantikan.
Sukhoi Su-57 Rusia
Sukhoi Su-57 Rusia 
Rusia sebelumnya sudah resmi mengumumkan pesawat tempur generasi kelima itu mulai diproduksi massal dan siap untuk diekspor. Militer Moskow sendiri telah memesan 76 unit dari produsennya, Sukhoi.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov memastikan Presiden Rusia Vladimir Putin dan rekannya dari Turki; Recep Tayyip Erdoğan akan menghadiri MAKS Air Show 2019 untuk melihat demonstrasi versi ekspor jet tempur Su-57.
"Presiden Turki Erdogan akan berada di (kota) Zhukovsky sebagai bagian dari kunjungan kerjanya. Kedua presiden akan menyaksikan eksposisi (MAKS Air Show) dan mengadakan pembicaraan bilateral," kata Peskov dikutip kantor berita TASS.
Kedua pemimpin juga akan memeriksa jet tempur Su-35 Rusia selama pertemuan mereka.
Ankara telah mempertimbangkan untuk membeli Su-35 Rusia setelah Amerika Serikat (AS) menghentikan pengiriman jet tempur siluman F-35 ke Turki. Langkah AS itu sebagai respons terhadap keputusan Ankara yang nekat membeli sistem pertahanan rudal S-400 Rusia.
Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia Denis Manturov mengklaim banyak negara termasuk India tertarik pada jet tempur Su-57.
"Kepercayaan pada pemasok adalah salah satu faktor kunci ketika datang untuk membeli persenjataan semacam ini," katanya, yang menambahkan bahwa India adalah pasar terbesar untuk produk-produk pertahanan Rusia dan dapat tertarik dengan jet Sukhoi Su-57. New Delhi sendiri telah mengoperasikan beberapa pesawat tempur buatan Rusia termasuk MiG-29 dan Su-30MKI.
Wakil Direktur Layanan Federal untuk Kerja Sama Militer dan Teknis Rusia (FSMTC), Vladimir Drozhzhov, pada Juli lalu mengatakan bahwa India akan memulai kembali program pengembangan jet tempur generasi kelima dengan Rusia.
"Saya percaya bahwa kita harus melanjutkan proyek ini, Rusia terbuka untuk itu. Kami siap dan mengusulkan program ini kepada mitra India kami," katanya.
Namun, Kepala Staf Angkatan Udara India (IAF) Marsekal Birender Singh Dhanoa telah menjelaskan bahwa IAF hanya akan memikirkan Su-57 begitu pesawat tempur itu bergabung dengan Angkatan Udara Rusia.
"Jika yang Anda maksud adalah pesawat generasi kelima (Sukhoi Su-57), pertanyaannya belum dipertimbangkan. Ketika pesawat itu sudah siap untuk melayani Anda, baru kita dapat membuat keputusan untuk diri kita sendiri. Kami siap untuk mempertimbangkannya untuk akuisisi setelah kami melihatnya, dan diberikan kepada kami untuk pertimbangan dan penilaian," katanya dalam sebuah wawancara dengan Krasnaya Zvezda, surat kabar Kementerian Pertahanan Rusia.
Menurut pejabat pertahanan Rusia, armada Su-57 sudah diuji dalam pertempuran di Suriah pada Februari 2018. Selain Su-57, pesawat tempur siluman generasi kelima lainnya yang aktif adalah F-22 Raptor dan F-35 Lightning II buatan Lockheed Martin Amerika Serikat. (Muhaimin)

AU Brasil Kerahkan Pesawat Hercules untuk Padamkan Api Amazon


Angkatan Udara Brasil (FAB) mengerahkan dua pesawat C-130M Hercules untuk memadamkan api di Amazon, yang diterbangkan dari Porto Velho (RO). Pesawat dioperasikan oleh Skuadron Pertama dari Group Angkut Pertama (1st/1st GT), yang saat ini bermarkas di Wing 11, di Rio de Janeiro (RJ).
Pesawat Hercules Padamkan Api Amazon
Pesawat Hercules Padamkan Api Amazon 
Pesawat-pesawat Hercules itu menggunakan Modular Airborne Fire Fighting System (MAFFS). MAFFS merupakan sistem delivery bahan fire retardant yang dapat dimasukkan ke ruang kargo pesawat C-130 tanpa perlu modifikasi struktural. MAFFS terdiri dari serangkaian lima tangki bertekanan berisi fire retardant bertekanan dengan total kapasitas 10.000 l dan peralatan terkaitnya pada palet dan dibawa di ruang kargo pesawat. Selain tangki berisi retardant, setiap modul berisi tangki bertekanan dimana udara bertekanan disimpan pada 82,7 bar (1200 psi).
Keterlibatan AU Brasil ini merupakan bagian dari upaya bersama, yang dikoordinasi oleh Kementerian Pertahanan Brasil, dalam memerangi kebakaran yang melanda wilayah Amazon.(Angga Saja-TSM)
Sumber : Kanal Youtube Força Aérea Brasileira

Gripen E Brasil Pertama Terbang Perdana


Saab kemarin (26/08) menyelesaikan penerbangan pertama yang sukses pesawat tempur Gripen E Brazil pertama, dengan nomor registrasi 39-6001. Pada pukul 2.41 siang CET (Central Europe Time) pada tanggal 26 Agustus, pesawat Gripen E lepas landas pada penerbangan perdananya yang diterbangkan oleh pilot uji Saab Richard Ljungberg. Pesawat dioperasikan dari lapangan terbang Saab di Linköping, Swedia.
Gripen E Brasil
Gripen E Brasil 
Durasi penerbangan adalah selama 65 menit dan termasuk pengujian untuk memverifikasi penanganan mendasar pesawat dan kualitas terbang pada ketinggian dan kecepatan yang berbeda. Tujuan utamanya adalah untuk memverifikasi bahwa perilaku pesawat telah sesuai dengan harapan.
“Tonggak sejarah ini merupakan bukti kemitraan yang hebat antara Swedia dan Brasil. Kurang dari lima tahun sejak kontrak ditandatangani, Gripen Brasil pertama telah melakukan penerbangan pertamanya,” kata Håkan Buskhe, Presiden dan CEO Saab.
Pesawat ini adalah pesawat produksi Brasil pertama dan akan digunakan dalam program uji bersama sebagai pesawat uji. Perbedaan utama dibandingkan dengan pesawat uji sebelumnya adalah bahwa 39-6001 memiliki tata letak kokpit yang sama sekali baru, dengan Wide Area Display (WAD), dua small Head Down Display (sHDD) dan Head Up Display (HUD) yang baru. Perbedaan utama lainnya adalah sistem kontrol penerbangan yang diperbarui dengan protokol kontrol yang diperbarui untuk Gripen E. Ini juga mencakup modifikasi baik dalam perangkat keras maupun perangkat lunak.
“Bagi saya sebagai pilot, merupakan kehormatan besar untuk menerbangkan pesawat Gripen E Brasil yang pertama karena saya tahu betapa berartinya ini bagi Angkatan Udara Brasil dan semua orang di Saab dan mitra Brasil kami. Penerbangannya mulus dan pesawatnya berperilaku seperti yang kita lihat di rig dan simulator. Ini juga pertama kalinya kami terbang dengan Wide Area Display di kokpit, dan saya senang mengatakan bahwa harapan saya terpenuhi,” kata pilot uji Saab, Richard Ljungberg.
39-6001 sekarang akan bergabung dengan program pengujian untuk envelope expansion lebih lanjut serta pengujian sistem dan sensor taktis.
Gripen E 39-6001 akan diberi kode F-39 di Angkatan Udara Brasil dan akan memiliki nomor ekor 4100.(Angga Saja-TSM)
Sumber : saab.com

Kemhan India Negosiasi Harga Pesawat Tempur Tejas


Kementerian Pertahanan India sedang bernegosiasi dengan Hindustan Aeronautics Limited (HAL) untuk pemesanan 83 jet tempur Tejas dengan harga diperkirakan sekitar $ 3 miliar (INR 22.000 crore), lebih rendah dari harga yang diminta oleh HAL sebesar $ 5 miliar (INR 37.350 crore).
Pesawat Tempur Tejas
Pesawat Tempur Tejas 
"HAL meminta INR 450 crore per pesawat sebagai harga dasar. Kementerian Pertahanan dan Angkatan Udara India menegaskan bahwa harga ini tidak kompetitif dan sedang bernegosiasi untuk harga yang kurang dari INR 300 crore per pesawat. Negosiasi hampir selesai dan harga final kemungkinan berada dalam kisaran INR 250-275 crore," kata seorang narasumber perundingan tersebut sebagaimana dikutip oleh TOI pada hari Minggu (24/08).
Jika setiap unit berharga INR 450 crore ($ 62,5 juta), nilai kontrak untuk 83 jet adalah INR 37.350 crore ($ 5 miliar). Jika sebuah pesawat tempur Tejas berharga INR 275 crore ($ 38,2 juta), maka pesanan akan bernilai INR 22,825 crore ($ 3,17 miliar).
Mantan menteri pertahanan Nirmala Sitharaman telah mematok nilai total pesanan Light Combat Aircraft (LCA) pada angka INR 50.000 crore ($ 6,9 miliar) pada bulan Januari, laporan itu menyatakan.
“Pesawat tempur Gripen, yang diproduksi oleh perusahaan Swedia SAAB memiliki fitur yang mirip dengan LCA. Harganya kurang dari INR 300 crore ($ 41,7 juta) per pesawat. Mengapa ada orang yang membayar INR 450 crore ($ 62,5 juta) untuk Tejas jika mereka dapat membeli Gripen dengan harga lebih murah? HAL harus lebih kompetitif dan dapat menawarkan harga yang setara," kata narasumber lain.(Angga Saja-TSM)

Mesir Terus Produksi MBT M1A1 Abrams Secara Lokal


Kementerian Produksi Militer Mesir terus memproduksi tank tempur utama M1A1 Abrams secara lokal berkolaborasi dengan perusahaan asal AS General Dynamics. Gambar-gambar dirilis di internet pada 24 Agustus 2019, yang menunjukkan tank tempur utama (MBT) M1A1 Abrams yang 95 persen diproduksi di Mesir.
MBT M1A1 Abrams
MBT M1A1 Abrams  
M1A1 adalah generasi ketiga dari tank tempur utama Amerika Serikat yang telah diproduksi di Mesir sejak tahun 1992. Komponen utama M1A21 diproduksi secara lokal Mesir termasuk diantaranya hull, turret, dan amunisi. M1A1 Abrams merupakan tulang punggung AD Mesir.
Pada tanggal 25 Oktober 2011, Mesir dan Amerika Serikat merayakan dimulainya kembali produksi bersama tank M1A1 Abrams pada upacara yang diadakan di Egyptian Tank Plant (ETP) di luar Kairo. Pembuatan M1A1 di Mesir adalah bagian penting dari dukungan AS atas peran penting Mesir sebagai faktor keamanan dan stabilitas di kawasan tersebut. Melalui program ini, Egyptian Tank Plant menyediakan lapangan kerja bagi lebih dari 2500 orang Mesir dan mendukung kapasitas Angkatan Bersenjata Mesir untuk mempertahankan negara itu.
Sejak dimulainya M1A1 Co-production Program, sebuah usaha patungan antara pemerintah Amerika Serikat dan Mesir untuk memproduksi suku cadang dan merakit kit tank untuk MBT M1 Abrams, Egyptian Defense Company Tank Plant telah memproduksi sekitar 1.200 tank tempur utama M1A1 Abrams di Mesir.
Versi awal M1 Abrams dipersenjatai dengan satu meriam 105mm, sedangkan M1A1 dipersenjatai dengan satu meriam M256 smoothbore 120 mm yang dilengkapi dengan muzzle reference system untuk mengukur lengkungan laras meriam. Meriam utama M1A1 Mesir juga diproduksi di Mesir.
M1A1 Abrams memiliki empat awak, termasuk pengemudi, komandan, penembak, dan pemuat amunisi. Pengemudi duduk di depan kendaraan di tengah sementara tiga anggota kru lainnya berada di turret. Komandan dan penembak duduk di sebelah kanan turret dan pemuat amunisi di sebelah kiri.(Angga Saja-TSM)

AD Jepang Pamerkan Howitzer Swa Gerak Baru


Dalam edisi tahun 2019 even Fuji Firepower Review yang berlangsung setiap tahun pada akhir Agustus di Area Manuver Fuji Timur, Pasukan Bela Diri Darat Jepang (JGSDF) memamerkan Type 19, sebuah howitzer swa gerak beroda ban 155mm baru yang didasarkan pada sasis truk militer MAN.
Howitzer swa gerak Type 19 155mm
Howitzer swa gerak Type 19 155mm 
Howitzer swa gerak Type 19 155mm baru Jepang ini terlihat sangat mirip dengan howitzer swa gerak CAESAR buatan Prancis yang diproduksi oleh Perusahaan Prancis Nexter Systems. Keuntungan utama dari sistem artileri ini adalah memiliki daya tembak yang sama dengan sistem artileri tarik dan swa gerak [roda rantai], dengan mobilitas strategis yang lebih besar dan waktu in/out of action yang lebih cepat.
Type 19 didasarkan pada sasis truk militer 8x8 MAN Military dengan kabin kru di depan dan satu howitzer 155mm dipasang di belakang. Menurut analisis awal armyrecognition, kabin kru tampaknya dilengkapi dengan armor untuk memberikan perlindungan terhadap tembakan senjata kaliber 7,62mm dan serpihan amunisi artileri.
Type 19 memiliki awak lima orang dengan tiga orang duduk di kabin awak dan dua kursi tambahan di kabin yang terletak di tengah sasis truk.
Sebagaimana CAESAR Prancis, Type 19 tampaknya dilengkapi dengan fire-control computer utama yang terletak di kabin kru, di bagian belakang di sebelah kiri nampak unit display senjata untuk kru ketika sistem dikerahkan dalam posisi menembak. Ketika sistem ditempatkan dalam posisi menembak, sekop besar diturunkan secara hidrolik di bagian belakang untuk menyediakan platform penembakan yang lebih stabil. Empat roda belakang dinaikkan dari tanah sehingga sekop besar menyerap semua tekanan karena penembakan.(Angga Saja-TSM)

Pesawat Latih C-101 AU Spanyol Jatuh ke Laut


Sebuah pesawat latih lanjut Casa C-101 Aviojet milik Ejército del Aire (Angkatan Udara Spanyol), jatuh ke perairan Mediterania tanggal 26 Agustus pukul 09:38 waktu setempat dalam sebuah kecelakaan di lepas pantai La Manga del Mar Menor, di Murcia, tidak jauh dari Pangkalan Udara San Javier.
C-101 AU Spanyol
C-101 AU Spanyol 
Menurut laporan awal yang belum terkonfirmasi, pesawat itu milik Patrulla Águila ("Patroli Elang"), tim aerobatik Angkatan Udara Spanyol dan satu-satunya pilot di pesawat yang berhasil melakukan eject sebelum pesawat menghantam air laut. Berita itu kemudian diedit.
Pada awalnya, satu-satunya pernyataan resmi hanya mengatakan bahwa pesawat tersebut diterbangkan oleh IP (Instructor Pilot) dari Academia General del Aire, akademi perwira Angkatan Udara Spanyol, yang berbasis di San Javier, pangkalan udara yang sama yang menjadi rumah bagi tim demonstrasi aerobatic Angkatan Udara Spanyol.
Tim Patrulla Águila menerbangkan tujuh pesawat Casa C-101 Aviojet.
Video kejadian itu diposting online. Rekaman tampaknya tidak menunjukkan adanya pilot yang eject; malahan sepertinya pesawat itu sedang dipiloti dan berusaha melakukan recovery sebelum menghantam air.
Menurut Facebook Page European Airshow Council, pilot pesawat, Cmdte. Paco Marin telah meninggal karena kecelakaan tersebut.
C-101 adalah pesawat latih yang memungkinkan pelatihan penerbangan "dari tahap awal penerbangan hingga transisi ke pesawat tempur," Kementerian Pertahanan Spanyol menjelaskan di situs webnya. Pesawat tersebut sepenuhnya dibangun di Spanyol oleh Aeronautical Constructions (CASA). Selain sebagai pesawat latih, C-101 juga digunakan sebagai pesawat serang ringan. Pesawat tersebut digunakan diantaranya oleh Spanyol, Chili, Honduras dan Yordania.
Pengawas dan Penyelamatan Pantai (Plan Copla) telah datang ke daerah itu untuk menemukan dan menyelamatkan pilot.(Angga Saja-TSM)

Militer Rusia Latihan Sebar Rudal Iskander


Formasi rudal Armada Baltik Rusia telah mengadakan latihan di Wilayah Kaliningrad untuk menghilangkan kelompok subversif musuh nasional dan secara diam-diam menyebarkan sistem rudal taktis Iskander.
Rudal Iskander
Rudal Iskander 
Kantor pers Armada Baltik pada hari Minggu mengumumkan latihan militer tersebut. "Unit-unit rudal yang dipraktikkan menghilangkan kelompok subversif musuh nosional, mengatasi medan yang terkontaminasi, berbagai hambatan dan rintangan," bunyi pernyataan kantor pers tersebut yang dikutip TASS, Senin (26/8/2019).
"Kru rudal Armada Baltik menyelesaikan berbagai misi yang ditugaskan, termasuk penyebaran sistem rudal taktis Iskander secara sembunyi-sembunyi di lapangan," lanjut pernyataan tersebut.
Pengerahan para kru rudal dilakukan dengan dukungan helikopter tempur Mi-24 dan jet tempur Su-30SM dari penerbangan Angkatan Laut Baltik yang melakukan pengintaian udara dan membalas serangan udara musuh.
Secara keseluruhan, latihan melibatkan sekitar 100 personel dan sekitar 20 item perangkat keras militer.
"Selain itu, personel mempraktikkan pemenuhan prosedur dalam batas waktu yang diperlukan untuk memuat peluncur dan melakukan apa yang disebut peluncuran elektronik, dan juga langkah-langkah untuk penyamaran taktis, perlindungan radiasi, kimia dan biologi," imbuh kantor pers Armada Baltik.(Muhaimin)

Radar Acak