Darwin Austalia Utara Disebut Lokasi untuk Rudal Jarak Menengah AS, Sangat Dekat dengan Wilayah Indonesia - Radar Militer

07 Agustus 2019

Darwin Austalia Utara Disebut Lokasi untuk Rudal Jarak Menengah AS, Sangat Dekat dengan Wilayah Indonesia


Darwin, Australia, disebut-sebut menjadi salah satu lokasi penempatan rudal berbasis darat Amerika Serikat (AS) untuk Asia-Pasifik. Lokasi wilayah itu berjarak sekitar 2.719 kilometer dari Jakarta, Indonesia.
Rencana penempatan rudal berbasis darat di Asia-Pasifik itu muncul setelah Perjanjian Intermediate-Range Nuclear Forces (INF) antara Amerika Serikat dengan Rusia runtuh.
Rudal Jarak Menengah
Rudal Jarak Menengah 
Washington resmi keluar dari pakta kontrol senjata nuklir era Perang Dingin itu 2 Agustus lalu dengan alasan Moskow melanggar perjanjian. Perjanjian INF 1987 melarang pengembangan, penempatan dan uji coba rudal berbasis darat yang memiliki jangkauan 500 kilometer hingga 5.500 kilometer.
Washington telah membahas masalah penempatan misil itu dengan Australia dalam forum AUSMIN (Australia-United States Ministerial Consultation) hari Minggu kemarin.
Upaya Washington menempatkan misil berbasis darat itu sebagai upaya untuk melawan ekspansi China di kawasan Asia Pasifik.
Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan kepada wartawan dia ingin melihat senjata berbasis darat ditempatkan di Asia sebagai pencegah militer di tengah apa yang dia anggap sebagai "era persaingan kekuatan besar".
Ketika ditanya tentang prospek rudal darat non-nuklir AS yang ditempatkan di utara Australia, Menteri Luar Negeri Marise Payne dan Menteri Pertahanan Linda Reynolds memilih bungkam.
"Dalam hal keterlibatan regional kami, izinkan saya juga memastikan dan mengingatkan bahwa untuk China dan Australia, kami melihat China sebagai mitra yang sangat penting," kata Payne.
Laporan yang menyebut Darwin sebagai lokasi potensial untuk penempatan rudal berbasis darat adalah media Australia, 9news.com.au. "Jika AS mengembangkan senjata dengan jangkauan 5500 kilometer, China selatan akan nyaman dalam jangkauan rudal yang ditempatkan di Darwin," tulis media tersebut, Senin (5/8/2019).
Menteri Pertahanan Linda Reynolds mengaku membahas masalah itu dengan Menteri Pertahanan AS Mark Esper. "Saya memang membahasnya kemarin dengan Menteri Esper dan dia mengonfirmasi bahwa tidak ada permintaan dari Australia dan tidak ada yang diharapkan," katanya kepada ABC Radio National.
"Anda akan mengharapkan Menteri Pertahanan AS untuk menyelidiki semua masalah ini mengingat apa yang terjadi di Indo-Pasifik, tetapi saya dapat mengonfirmasi bahwa dia tidak membuat permintaan dan dia tidak mengantisipasi permintaan apa pun," ujarnya.
Namun, selama pertemuan itu, Esper mengatakan dia ingin memasang hulu ledak konvensional jarak menengah di Asia-Pasifik.
"Kami sekarang bebas jika Anda ingin mengembangkan jangkauan senjata itu, 500 kilometer hingga 5.500 kilometer yang belum tersedia bagi kami dari postur penangkal yang berbasis di darat," kata Esper pada konferensi pers pasca-pembicaraan.
“Saya pikir pada tingkat yang memungkinkan kita untuk merancang dan mengembangkan, menguji dan akhirnya menyebarkan sistem, apakah itu di Eropa, apakah itu di Asia-Pasifik atau di tempat lain, memberi kita dan berisi postur pencegah yang ingin kita lakukan untuk mencegah konflik di wilayah mana pun yang kami sebarkan melalui konsultasi dengan sekutu dan mitra kami."
Menteri Luar Negeri AS Michael Pompeo kemudian mengatakan; “Keputusan yang jujur ​​tentang penempatan pasukan, rudal dan senjata, semua hal yang kami lakukan adalah hal-hal yang terus kami evaluasi. Kami ingin memastikan bahwa kami melindungi mitra kami, melindungi kepentingan Amerika."
Pompeo menekankan bahwa rudal tidak akan dikerahkan di Darwin atau di tempat lain tanpa dukungan Canberra.
"Ketika kami menggunakan sistem ini di seluruh dunia dengan teman dan sekutu kami melakukannya dengan persetujuan mereka," katanya.
Australia Bantah Bakal Jadi Basis Rudal Balistik Kelas Menengah AS
Menteri Pertahanan Australia, Linda Reynolds mengatakan, Australia tidak akan digunakan sebagai pangkalan untuk rudal kelas menengah Amerika Serikat (AS). Isu Australia akan menjadi basis rudal AS muncul, setelah kunjungan Menteri Pertahanan AS, Mark Esper ke Sydney akhir pekan lalu.
Berbicara dalam sebuah wawancara dengan Australian Broadcasting Corp, Linda mengatakan bahwa saat bertemu dengan Esper, tidak ada pembahasan mengenai penempatan rudal AS di Australia.
"Esper tidak membuat permintaan, dan saya tidak mengantisipasi permintaan apa pun agar Australia menjadi pangkalan untuk rudal semacam itu," kata Linda dalam wawancara itu, seperti dilansir Al Arabiya pada Senin (5/8).
Sebelumnya diwartakan, Esper mengatakan kepada wartawan, dia ingin melihat senjata berbasis darat ditempatkan di Asia sebagai pencegah militer di tengah apa yang dia anggap sebagai "era persaingan kekuatan besar".
Pernyataan Esper ini sendiri semakin meningkatkan kekhawatiran tentang perlombaan senjata dan dapat menambah ketegangan dengan China.
Pejabat AS telah memperingatkan selama bertahun-tahun, bahwa AS dirugikan oleh pengembangan pasukan rudal berbasis darat China yang semakin canggih, yang tidak dapat ditandingi Pentagon karena perjanjian AS dengan Rusia.
AS sejauh ini mengandalkan kemampuan lain sebagai penyeimbang China, seperti misil yang ditembakkan dari kapal atau pesawat AS. Tetapi para pendukung tanggapan rudal darat AS mengatakan bahwa itu adalah cara terbaik untuk mencegah penggunaan pasukan rudal berbasis darat China yang berotot. (Victor Maulana, Muhaimin)

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda

- Berkomentarlah yang sopan dan bijak sesuai isi artikel/ berita;
- Dilarang berkomentar SPAM, SARA, Politik, Provokasi dsb