MAKS 2019: Rusia dan China Tawari Iran Jet Tempur Buatannya - Radar Militer

31 Agustus 2019

MAKS 2019: Rusia dan China Tawari Iran Jet Tempur Buatannya


Kepala sektor kedirgantaraan Iran mengumumkan penawaran baru untuk membli jet tempur dari Rusia dan China. Itu menunjukkan jika kedua negara tersebut mendukung Iran di tengah perseteruannya dengan Amerika Serikat (AS).
Jet Tempur FC 31 China
Jet Tempur FC 31 China 
Direktur Organisasi Industri Penerbangan Iran Brigadir Jenderal Abdolkarim Banitarafi adalah salah satu dari sejumlah pejabat pertahanan internasional yang menghadiri Pameran Penerbangan dan Antariksa Internasional (MAKS) Rusia tahun 2019 di Rusia. Lebih dari 180 perusahaan asing dari hampir 30 negara dilaporkan berkumpul di Zhukovskiy sejak acara dimulai pada 27 Agustus. Ketika embargo senjata PBB terhadap Teheran mendekati tahun terakhirnya, Banitarafi mengatakan bahwa ia telah menerima tawaran asing yang potensial untuk membeli dan menjual senjata.
"Berbagai negara menawarkan kita dan mendiskusikannya, tetapi itu semua tergantung pada tanggal kapan sanksi senjata berakhir," katanya seperti disitat Newsweek dari kantor berita Tasnim, Jumat (30/8/2019).
Ia juga mengatakan Iran mungkin akan membeli peralatan baru di luar negeri dari dua kekuatan utama.
"Rusia dan China telah memberi kami proposal, tentu saja, kami punya proposal sendiri, tetapi semua ini masih dalam tahap diskusi," tambah Banitarafi.
Dewan Keamanan (DK) PBB mulai memberlakukan embargo senjata ke Iran pada tahun 2006. Dimulai dengan pembatasan transfer tekonlogi yang dapat digunakan untuk memproduksi senjata nuklir, termasuk senjata konvensional.
Beberapa larangan ini telah dicabut dengan penandatanganan kesepakatan nuklir 2015, yang dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA). Berdasarkan kesepakatan ini, Iran setuju untuk tidak mengejar program senjata nuklir. Penarikan Amerika Serikat (AS) dari perjanjian itu tahun lalu semakin memperumit kesepakatan bagi calon mitra bisnis Iran.
Penarikan AS dari kesepakatan nuklir 2015 diiringi dengan penjatuhan sanksi. Hubungan kedua negara pun memanas setelah AS mengirimkan kelompok kapal perangnya ke Teluk bersama dengan satu skuadron pesawat pembom, ribuan tentara dan menyebar rudal Patriot. AS beralasan pengerahan pasukannya ke Timur Tengah untuk mencegah serangan Iran terhadap kepentingannya dan sekutunya.
Meskipun armada udara terbatas, Iran telah berhasil mengembangkan persenjataan rudal terbesar dan paling maju di Timur Tengah. Organisasi Banitarafi meluncurkan drone rudal jelajah baru bernama Mobin di acara MAKS pada 27 Agustus, dan juga baru-baru ini memperkenalkan dua sistem pertahanan udara baru, Bavar-373 dan Khordad-15. Sistem Iran lainnya, Khordad-3, menembakkan drone AS yang canggih dan terbang tinggi di tengah puncak gesekan di jalur air strategis Teluk Persia pada Juni. (Berlianto)

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda

- Berkomentarlah yang sopan dan bijak sesuai isi artikel/ berita;
- Dilarang berkomentar SPAM, SARA, Politik, Provokasi dsb