China Isyaratkan Pamerkan Rudal DF-41 Penjangkau AS di Parade Militer


Pejabat senior Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China mengisyaratkan bahwa DF-41, rudal balistik antarbenua (ICBM) paling canggih yang mampu menjangkau daratan Amerika Serikat (AS) kemungkinan akan melakukan debutnya pada parade militer Hari Nasional di Beijing pada 1 Oktober. Parade ini untuk memperingati 70 tahun berdirinya Republik Rakyat China.
Rudal DF-41
Rudal DF-41 
Berbicara pada konferensi pers di ibu kota untuk membahas pengaturan parade militer besar-besaran yang akan datang, seorang perwira senior militer China mengatakan kepada wartawan untuk menunggu dan menonton apa yang akan terungkap, dan menekankan bahwa media "tidak akan kecewa."
"Semua orang harap menunggu dan melihat, dan saya yakin teman-teman jurnalis kita tidak akan kecewa," kata Mayor Jenderal Tan Min, Wakil Direktur Eksekutif Kantor Komando Gabungan Parade Militer, tanpa secara eksplisit mengkonfirmasi debut DF-41. Tan juga Wakil Kepala Staf Komando Teater Pusat PLA.
Pengaturan untuk parade militer ini berjalan lancar dengan persiapan besar-besaran sedang berlangsung.
Mayor Jenderal Cai Zhijun, Wakil Direktur Kantor Kelompok Utama Parade Militer mengatakan bahwa parade ini akan menampilkan 59 phalanx, sekitar 15.000 personel, sekitar 160 pesawat serta 580 senjata dan peralatan tempur lainnya.
Cai yang juga menjabat Wakil Direktur Jenderal Biro Operasi Departemen Staf Gabungan mengatakan parade militer akan memakan waktu sekitar 80 menit, dan akan menjadi yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Jumlah personel yang berpartisipasi dalam parade militer di Pangkalan Pelatihan Taktik Gabungan Zhurihe Daerah Otonomi Mongolia Dalam pada tahun 2017 dan parade militer Hari Kemenangan pada tahun 2015 sama besar, yakni sekitar 12.000 orang. Dengan demikian, parade militer Hari Nasional 1 Oktober mendatang akan lebih besar daripada keduanya.
Cai menambahkan, parade militer nanti akan menjadi yang pertama kalinya bahwa tentara wanita PLA akan berpartisipasi dalam formasi persegi yang dipimpin oleh dua jenderal wanita. Formasi persegi Pasukan Penjaga Perdamaian PBB juga akan berpartisipasi dalam pawai militer untuk pertama kalinya .
Mayor Jenderal Tan Min mengatakan, semua senjata yang dijadwalkan untuk ditampilkan dalam parade militer diproduksi di dalam negeri dan dalam layanan aktif, termasuk yang akan melakukan debut pada 1 Oktober.
Ditanya apakah parade militer China menjadi "pertunjukan otot melawan AS", juru bicara Departemen Pertahanan Kolonel Wu Qian membantahnya dan menganggap klaim semacama itu sebagai logika yang aneh.
Jika China menunjukkan senjata, kata Wu, sering dituduh bahwa China melakukan pertunjukan otot. Jika tidak melakukannya, militer China dikritik karena kurangnya transparansi.
"China tidak perlu dan tidak punya niat untuk menunjukkan otot melalui parade," imbuh Wu, seperti dikutip Sputniknews, Sabtu (28/9/2019).
Wu juga mengatakan 188 atase militer dari 97 negara akan diundang untuk menyaksikan pawai militer, dan tidak ada tim lapangan militer asing yang akan ikut pawai kali ini. Bahkan, tidak ada pemimpin militer asing yang diundang ke pawai militer.(Muhaimin)

Citra Satelit: Kapal Induk AS Dikepung 7 Kapal Perang China


Sebuah citra atau gambar satelit menunjukkan sebuah kapal induk Amerika Serikat (AS) dikepung oleh tujuh kapal perang China di perairan sengketa di Laut China Selatan. Pentagon menolak mengonfirmasi, sedangkan Beijing tidak membantah atau pun tidak membenarkan apakah insiden itu benar-benar terjadi.
Kapal Induk Amerika Serikat
Kapal Induk Amerika Serikat 
Gambar satelit itu dilaporkan diambil pada 24 September 2019. Gambar tersebut dipublikasikan seorang pengguna media sosial Weibo dengan nama akun @zhezhongzhihuizhang.
Kapal induk Amerika Serikat yang dilaporkan dikepung tujuh kapal perang China itu adalah USS Ronald Reagan. Dalam foto itu, terlihat kapal induk Amerika sendirian saat dikepung di wilayah timur laut Kepulauan Spratly di Laut China Selatan. Biasanya kapal induk Amerika dikawal oleh beberapa kapal perang.
Pentagon, melalui seorang juru bicara Armada ke-7 AS, menolak untuk mengonfirmasi apakah insiden itu benar-benar terjadi atau tidak. Dia hanya mengatakan bahwa kapal induk itu melakukan operasi rutin.
Kementerian Pertahanan China juga tidak membenarkan maupun membantah bahwa kapal induk Amerika dikepung. Namun, kementerian itu mencatat ketika menanggapi pertanyaan tentang laporan bahwa AS mengirim kapal USS Ronald Reagan ke wilayah sengketa untuk "melenturkan otot dan meningkatkan militerisasi regional".
"Kami menentang keras hal itu. Kami mendesak pihak AS untuk menghormati masalah keamanan negara-negara di kawasan ini dan memberikan kontribusi positif bagi perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan," kata kementerian itu melalui seorang juru bicara, seperti dikutip dari Sputniknews, Senin (30/9/2019).
Laporan penampakan kapal induk AS di perairan sengketa di Laut China Selatan muncul hanya beberapa hari sebelum perayaan ulang tahun ke-70 Partai Komunis China. Perayaan yang akan digelar pada 1 Oktober 2019 akan diramaikan dengan parade militer yang menampilkan berbagai senjata menakutkan Beijing.
AS—kadang-kadang bekerja sama dengan sekutunya—telah mengirim kapal perang dalam apa yang mereka sebut sebagai operasi kebebasan navigasi. Operasi itu diklaim untuk melindungi rute-rute vital maritim yang saat ini dikendalikan oleh China. Selain China, wilayah perairan Laut China Selatan juga diklaim oleh beberapa negara Asia seperti Malaysia, Filipina, Vietnam, Brunei dan Taiwan. Bagi China, Taiwan bukan negara tapi bagian dari wilayahnya yang membangkang.
Beijing telah berulang kali mengecam operasi maritim Amerika tersebut sebagai tindakan provokasi dan memperingatkan Washington agar tidak meningkatkan situasi di kawasan Laut China Selatan dengan tindakan "ceroboh" -nya.(Muhaimin)

Jepang Berencana Kembangkan Kemampuan Militer Luar Angkasa


Dokumen Pertahanan Jepang mengindikasikan negara itu berencana untuk mencapai keunggulan dalam domain baru militer seperti ruang angkasa, dunia maya dan spektrum elektromagnetik dalam perkembangan militer global. Dokumen tersebut menyebutkan China dan Rusia telah meningkatkan kemampuan mereka untuk menghalangi AS dan sekutunya menggunakan luar angkasa.
Ilustrasi
Ilustrasi 
Sebagai bagian dari langkah-langkah yang direncanakan terkait dengan domain luar angkasa, Jepang akan membangun sistem bernama Space Situational Awarness (SSA) pada tahun 2022 sebagai sarana untuk memantau ancaman terhadap satelit Jepang. Satu langkah juga termasuk membangun kemampuan untuk mengganggu jaringan perintah, kontrol, komunikasi, komputer, dan intelijen musuh potensial dari luar angkasa.
Perubahan besar lainnya pada pasukan negara akan meningkatkan kemampuannya di dunia maya untuk membelokkan dan "mengganggu" serangan dari lawan seperti dikutip dari Sputnik, Sabtu (28/9/2019).
Para pejabat militer Amerika Serikat (AS) telah berulang kali menyatakan keprihatinannya bahwa Rusia dan China mungkin sedang mengembangkan senjata anti-satelit. Pada saat yang sama, Moskow telah berulang kali memperingatkan Washington agar tidak mengambil langkah menuju militerisasi ruang angkasa.
Senjata anti-satelit yang diduga dikembangkan oleh negara-negara ini bukan satu-satunya di dunia. India baru-baru ini melakukan uji coba senjata anti-satelitnya sendiri, sementara Prancis juga mengumumkan rencana untuk mengembangkannya.(Berlianto)

Insinyur Pertahanan Israel Ungkap Kegagalan Rudal Patriot Halau Serangan di Kilang Minyak Saudi


Kegagalan sistem pertahanan udara Patriot buatan Amerika Serikat (AS) menangkal serangan kilang minyak Arab Saudi terus menjadi sorotan. Terkait hal tersebut, seorang insinyur pertahanan Israel pun mengungkapkan penyebab kegagalan sistem pertahanan udara yang dibanggakan AS itu.
Rudal Patriot
Rudal Patriot  
Mantan Direktur Organisasi Pertahanan Rudal Israel Uzi Rubin mengatakan sistem pertahanan rudal Patriot gagal menghalau serangan udara gabungan drone dan rudal karena terbang di bawah cakrawala. Menurutnya, situasi itu membuat sistem pertahanan tersebut tidak siap untuk mendeteksi target.
"Ketika rudal datang, sensor pertahanan rudal akan mengarah ke atas cakrawala karena rudal di atasnya dan Anda tidak ingin kekacauan. Jadi ketika datang untuk menjaga, masalahnya adalah hal-hal yang dapat menyelinap di dekat tanah," terangnya seperti dikutip dari Sputnik, Minggu (29/9/2019).
Rubin mengatakan bahwa sulit untuk menutup "celah" radar ini, di mana benda-benda yang terbang rendah dapat tergelincir, tetapi bukan tidak mungkin. Dia menambahkan bahwa semua yang perlu dilakukan Saudi adalah membangun pertahanan lokal yang tepat.
Dia menguraikan bahwa tidak ada sistem "mewah" yang diperlukan untuk ini dan sistem pertahanan Pantsir-S1 Rusia yang cukup sederhana dan sudah terbukti dalam pertempuran. Sistem ini mempunyai sistem meriam otomatis 2A38M 30 milimeter ganda dilengkapi dengan pencari arah inframerah untuk melakukan trik itu.
Rusia telah berhasil menggunakan sistem pertahanan Pantsir-S1 untuk mengusir serangan drone besar-besaran di pangkalannya di Hmeymim di Suriah yang dilakukan oleh kelompok-kelompok militan lokal.
Meskipun tidak ada indikasi bahwa Riyadh telah membahas pembelian sistem pertahanan Pantsir-S1 dari Rusia, pihaknya membahas kemungkinan membeli sistem pertahanan udara S-400 Rusia pada tahun 2018, yang memiliki keunggulan tertentu jika dibandingkan dengan sistem pertahan rudal Patriot milik AS. Namun, peristiwa baru-baru ini yang melibatkan Turki dan India telah menunjukkan bahwa pembelian semacam itu dapat memicu reaksi negatif dari sekutu lama Arab Saudi, Washington, yang telah mengancam New Delhi dan Ankara dengan sanksi atas akuisisi S-400 mereka.
Mengingat serangan 14 September, yang melumpuhkan kilang minyak Saudi Aramco dan mengurangi separuh produksi minyak mentah harian negara itu, Pentagon mengumumkan penyebaran baterai Patriot tambahan ke wilayah sekutu Timur Tengah. Keputusan itu diambil meskipun dua baterai gagal menggagalkan serangan gabungan rudal-drone, di mana tanggung jawab atas serangan tersebut telah diklaim oleh Houthis Yaman. (Berlianto)

Helikopter Tanpa Awak KAI Terbang Perdana


Korea Aerospace Industries (KAI) mengumumkan bahwa perusahaan tersebut berhasil menerbangkan helikopter tanpa awak, NI-600VT (Night Intruder-600 Vertical Take-off & Landing) dalam penerbangan pertamanya. Helikopter UAV tersebut dikembangkan di bawah dana litbang perusahaan sendiri.
NI-600VT
NI-600VT 
Dalam penerbangan pertama yang diadakan 24 September di Goheung Aerospace Center Provinsi Jeolla Selatan, NI-600VT menunjukkan fungsi konversi arah melayang dan horizontal dan dengan melakukan itu, helikopter tersebut memastikan kinerja dan keamanan kontrol penerbangannya.
Helikopter NI-600VT yang terbang perdana dengan sukses, merupakan konversi dari helikopter komersial twin seat dengan kelas lepas landas & pendaratan vertikal 600 kg tanpa awak. Sistem inti diantaranya, seperti kontrol penerbangan otomatis dan avionik seluruhnya dikembangkan oleh teknologi independen KAI. 
Perusahaan meningkatkan stabilitas operasi helikopter melalui peralatan kritikal penerbangan multipleks termasuk komputer kontrol penerbangan, sensor, dan data-link. Helikopter NI-600VT mampu menemukan posisinya secara otomatis bahkan dalam kondisi darurat untuk kembali dengan aman ke pangkalannya.
KAI berencana untuk menentukan pengembangan fase pertama NI-600VT dalam tahun ini dan mengamankan kemampuan lepas landas dan mendaratnya, dengan memulai pengembangan lanjutan fase kedua untuk memajukan kemampuan operasi helikopter lebih lanjut.(Angga Saja-TSM)

Jepang Beli 9 Pesawat E-2D Tambahan


Kontraktor pertahanan AS Northrop Grumman Systems akan membangun sembilan pesawat airborne early warning & control (AEW&C) E-2D Advanced Hawkeye tambahan untuk pemerintah Jepang.
Perusahaan ini mendapat kontrak senilai $ 1,36 miliar dari Komando Sistem Udara Angkatan Laut AS untuk pekerjaan itu.
E-2D Advanced Hawkeye
E-2D Advanced Hawkeye  
Pemberian kontrak ini menyusul pengiriman pesawat E-2D pertama pada Mei 2019 lalu ke Angkatan Udara Bela Diri Jepang (JASDF). Negara ini memiliki total tiga pesawat yang masih dalam pesanan sebelum kontrak ini.
Pada tahun 2014, Kementerian Pertahanan Jepang secara kompetitif memilih E-2D untuk memenuhi kebutuhan AEW negara tersebut. Pasukan Bela Diri Jepang Udara telah mengoperasikan sejumlah tigabelas E-2C Hawkeye sejak tahun 1983.
Kontrak untuk membangun Advanced Hawkeye Jepang pertama diberikan kepada Northrop pada Januari 2016.
E-2D Advanced Hawkeye (AHE) adalah versi yang ditingkatkan dari E-2C Hawkeye yang menampilkan deteksi target medan pertempuran dan kewaspadaan situasional yang ditingkatkan, khususnya di littoral; dukungan operasi Theater Air Missile Defense (TAMD); dan peningkatan kesiapan operasional.(Angga Saja-TSM)

Kapal Frigat P-17A Pertama AL India Diluncurkan


Frigat stealth INS Nilgiri, kapal pertama dari frigat P-17A, diluncurkan di galangan kapal Mazagon Dock Shipbuilders Limited (MDL) di Mumbai hari sabtu (28/09).
Istri Menteri Pertahanan India Rajnath Singh, Savitri Singh, sebagai bagian dari tradisi, meluncurkan kapal INS Nilgiri ke laut untuk trial lebih lanjut.
 INS Nilgiri
 INS Nilgiri 
Selain Rajnath Singh, Kepala Staf Angkatan Laut India Admiral Karambir Singh dan pejabat lainnya hadir pada kesempatan itu. Peluncuran adalah proses ketika galangan kapal melepaskan kapal perang ke laut untuk pertama kalinya dan menjalani berbagai pengujian.
INS Nilgiri adalah yang pertama di Proyek-17 Alfa. Kapal ini akan diikuti oleh beberapa kapal lagi yang sedang dibangun oleh galangan kapal. Kapal ini adalah penyempurnaan dari frigat kelas Shivalik yang telah beroperasi, kata Cmde (purn.) Rakesh Anand, pimpinan Mazagon Dock Limited.
Dengan bobot ketika diluncurkan 2.650 ton, INS Nilgiri dibangun dengan menggunakan metodologi konstruksi terintegrasi, katanya.
"Kapal-kapal ini dirancang secara mandiri oleh Direktorat Desain Kelautan Angkatan Laut India, New Delhi. Kapal P17A menggabungkan konsep desain baru untuk meningkatkan kemampuan survivabilitas, sea keeping, stealth, dan kemampuan manuver kapal," katanya.
Fitur siluman yang ditingkatkan telah tercapai, yang membuat kapal-kapal ini sulit dideteksi, menurut Cmde (purn.) Anand.(Angga Saja-TSM)
Spesifikasi
  • Displacement : 6.670 ton
  • Panjang : 149 m
  • Lebar : 17,8 m
  • Draft : 5,22 m
  • Mesin : 2 x MAN Diesel 12V28/33D STC dan 2 x General Electric LM2500
  • Kecepatan : 28 knot
  • Jangkauan : 1.000 mil laut (1.900 km) pada kecepatan 28 knot, 5.500 mil laut (10.200 km) pada 16-18 knot
  • Awak kapal : 226
  • Sensor : BEL HUMSA-NG bow sonar
  • Radar AESA S band IAI EL/M-2248 MF-STAR
  • Senjata : 32 × rudal Barak 8
  • 8 × rudal anti-kapal BrahMos
  • 1 × meriam Oto Melara 127mm
  • 2 × CIWS AK-630M
  • 2 × peluncur roket AKS RBU-6000
  • 2 × Triple tabung torpedo
  • Pesawat : 2 × helikopter HAL Dhruv atau Sea King Mk. 42B
Sumber ndtv.com

Turki Jajaki Pembelian Sukhoi Su-35 Rusia Setelah Gagal Mendapatkan Jet Tempur Siluman F-35 AS


Moskow dan Ankara mengadakan pembicaraan tentang kemungkinan Turki membeli pesawat jet tempur Su-35 Rusia. Penjajakan ini dilakukan Ankara setelah didepak Amerika Serikat (AS) dari program konsorsium bersama pesawat jet tempur siluman F-35.
Sukhoi Su-35 Rusia
Sukhoi Su-35 Rusia  
Meski pembicaraan sudah dimulai, namun seorang pejabat senior pemerintah Rusia mengatakan masih terlalu dini untuk membicarakan kesepakatan konkret.
Washington mengusir Ankara dari program pesawat jet tempur F-35 setelah Turki membeli sistem pertahanan rudal S-400 Rusia. Washington sejak awal memperingatkan bahwa senjata pertahanan Moskow itu tidak kompatibel dengan sistem pertahanan NATO dan menimbulkan ancaman bagi jet tempur F-35 produksi Lockheed Martin.
Turki mulai menerima pasokan sistem pertahanan rudal S-400 dari Rusia sejak pertengahan Juli. Beberapa hari setelah perangkat sistem rudal itu tiba, AS mengumumkan pengusiran Turki dari program F-35.
Ketika menjadi mitra dalam program jet tempur generasi kelima Amerika tersebut, pabrikan Turki membuat lebih dari 900 komponen jet tempur dan diharapkan menghasilkan sekitar USD9 miliar pada kontrak suku cadang F-35. Para pejabat pertahanan AS mengatakan bahwa Pentagon akan menghabiskan biaya antara USD500 juta hingga USD600 juta karena mendepak Turki dari program tersebut.
"Dan kami sekarang memberi tahu Turki...kami tidak akan menjual kepada Anda jet tempur F-35," kata Trump sebelum pengumuman resmi bahwa Turki diusir dari program, seperti dikutip Reuters, Sabtu (28/9/2019).
Kepala Rostech yang berstatus perusahaan negara Rusia, Sergei Chemezov, mengatakan upaya penjualan jet tempur F-35 memang sedang dilakukan pada Turki tak lama setelah Ankara diusir dari program F-35 oleh Washington.
Pada akhir Agustus, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menjadi tamu kehormatan Presiden Rusia Vladimir Putin pada pembukaan pameran penerbangan MAKS di luar Moskow. Erdogan bahkan mengintip ke dalam kokpit jet tempur terbaru Rusia, Su-57, yang diresmikan dalam acara tersebut.
"Apakah ini Su-57? Apakah ini terbang?," tanya Erdogan pada Putin. "Ya itu. Kami akan menunjukkannya hari ini," jawab Putin.
"Jadi sekarang, apakah kita bisa membeli yang ini?," tanya Erdogan lagi."Anda bisa membelinya," jawab Putin. (Muhaimin)

Tertarik dengan Medium Tank, Delegasi Filipina Kunjungi Pindad


Delegasi Filipina yang dipimpin oleh Commanding General of Philippines Army, Letjen Macairog S. Alberto, AFP melaksanakan kunjungan ke PT Pindad (Persero) dalam rangka meninjau secara langsung Medium Tank Harimau, berbagai produk lainnya serta fasilitas produksi yang dimiliki PT Pindad (27/9). Acara tersebut juga dihadiri oleh Philippines Presidential Advisers on Military Affairs, Letjen Arthur I. Tabaquero (Retd.), Dirjen Pothan Kemhan, Bondan Tiara Sofyan, Direktur Utama, Abraham Mose, jajaran Direksi dan Komisaris Pindad.
Medium Tank
Medium Tank 
"Kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh Delegasi Terhormat Filipina serta Dirjen Pothan Republik Indonesia. Hari ini kita akan menyaksikan secara langsung Harimau Medium Tank sebagai tindak lanjut dari pertemuan dan pengujian yang telah dilakukan sebelumnya. Kami harap anda dapat mendapatkan pengalaman menyeluruh mengenai produk andalan kami" jelas Direktur Utama PT Pindad (Persero), Abraham Mose dalam sambutannya.
Bondan Tiara Sofyan optimis dengan kemampuan Pindad sebagai industri pertahanan terkuat dan mampu mengembangkan inovasi dan kemampuannnya. "Kami dari Kementerian Pertahanan percaya terhadap kemampuan Pindad dan mendukung penuh Pindad untuk berinovasi dalam bidang pertahanan serta penyediaan alutsista". Bondan juga mengungkapkan rasa bangga atas relasi baik yang telah terjalin antara Indonesia dan Filipina serta mengharapkan kerja sama yang lebih baik ke depannya.
Delegasi Filipina mengapresiasi sambutan hangat dari jajaran Pindad. Macairog S. Alberto menyampaikan ketertarikan terhadap berbagai produk terutama kendaraan tempur yang diproduksi oleh Pindad, baik yang beroda ban maupun roda rantai. Disebutkan pula dalam paparan Abraham Mose, bahwa berbagai kendaraan tempur telah lolos dalam berbagai pengujian hingga memenuhi seluruh persyaratan dan kebutuhan Kendaraan Tempur untuk Militer Filipina. "Kami tertarik dengan produk kendaraan tempur terutama Harimau. Kedepannya kami akan mendiskusikan dengan lebih lanjut mengenai potensi kerja sama terkait dengan pengadaan hingga pengembangan kompetensi Harimau" jelas Alberto. Delegasi militer Filipina juga mengakui ketertarikan terhadap salah satu produk industrial andalan PT Pindad, yaitu Excava Amphibious.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan melaksanakan plant tour dan meninjau langsung berbagai produk, fasilitas produksi serta proses produksi kendaraan khusus. Kunjungan ke fasilitas produksi divisi kendaraan khusus direspon secara antusias oleh Delegasi Filipina terutama pada saat menyaksikan parade berbagai ranpur dan rantis buatan Pindad meliputi : Komodo, Anoa, Panser 8x8 dan Medium Tank Harimau. Perwakilan Delegasi Filipina juga mencoba langsung mengemudikan Medium Tank Harimau.
Selanjutnya, Delegasi Filipina meninjau berbagai produk senjata dan diakhiri dengan kegiatan menembak dengan berbagai senjata buatan Pindad, yaitu senapan SS2 V4, Pistol Mag4 dan Pistol G2.(Angga Saja-TSM)
Sumber : pindad.com

Raytheon dan Rheinmetall Bentuk Joint Venture untuk Kompetisi Kendaraan Tempur AS


Raytheon dan Rheinmetall Defense telah membentuk joint venture untuk menawarkan Kendaraan Tempur Infanteri (Infantry Fighting Vehicle - IFV) Lynx KF41 untuk kompetisi Optionally Manned Fighting Vehicle atai OMFV Angkatan Darat AS. Usaha patungan yang berbasis di AS dinamai Raytheon Rheinmetall Land Systems LLC. Tim Lynx akan mengajukan penawarannya pada atau sebelum 1 Oktober 2019.
Lynx KF41
Lynx KF41 
Dijadwalkan untuk dioperasikan pada tahun 2026, OMFV direncanakan untuk menggantikan kendaraan tempur Bradley. Kendaraan baru ini akan dioptimalkan untuk pertempuran perkotaan dan medan rural (pedesaan). Angkatan Darat AS telah menganggap OMFV sebagai prioritas modernisasi teratas yang didukung di bawah struktur Futures Command AD AS. 
"Kendaraan tempur canggih ini akan dibuat di Amerika," kata Sam Deneke, wakil presiden Raytheon Land Warfare Systems. "Tim kami akan memproduksi dan mengirimkan kendaraan tempur ke Angkatan Darat AS yang melindungi pasukan kami dan memberi mereka keuntungan luar biasa di medan perang."
Raytheon dan Rheinmetall bekerjasama pada 2018 untuk menawarkan Lynx untuk kompetisi OMFV Angkatan Darat AS. Lynx adalah kendaraan tempur lapis baja generasi baru yang beroda rantai yang dirancang untuk mengatasi tantangan berat dari medan perang masa depan. Lynx menyediakan kapasitas growth (pertumbuhan) yang luas untuk mendukung teknologi baru selama masa pakai kendaraan tersebut, dan memiliki biaya siklus hidup yang lebih rendah. 
Ben Hudson, kepala global divisi Sistem Kendaraan Rheinmetall mengatakan, "Dengan memilih Lynx, Angkatan Darat AS memiliki peluang luar biasa untuk menyediakan pasukan AS dengan kendaraan tempur yang akan memungkinkan mereka mengalahkan ancaman selama beberapa dekade mendatang."
Teknologi Raytheon yang diperuntukkan untuk Lynx termasuk senjata canggih produk perusahaan tersebut, seperti rudal TOW, Active Protection System, perangkat penglihatan generasi ketiga, sistem pesawat tak berawak Coyote serta cyber protection.(Angga Saja-TSM)

Yonzipur 9 Kostrad Terima Alutsista Baru


Prajurit Yonzipur 9 Kostrad patut berbangga pasalnya telah datang tiga unit alutsista kebanggan Korps Zeni Angkatan Darat, yaitu M3 Amphibious Pontoon (Rig). M3 Amphibious Pontoon merupakan alutsista baru milik Korps Zeni TNI AD yang berasal dari negara Jerman. Ujung Berung, Bandung, Kamis (26/9).
M3 Amphibious Pontoon
M3 Amphibious Pontoon 
M3 Amphibious Pontoon, memiliki bobot sebesar 68 Ton sehingga dalam pergerakannya memerlukan dukungan khusus untuk mobilitasnya. Alat ini diangkut menggunakan trailer dalam pergerakannya.
M3 Amphibious Pontoon tiba di Indonesia pada hari Senin Tanggal 23 September 2019, kemudian diarahkan ke Direktorat Zeni TNI AD untuk melaksanakan pengecekan administrasi secara terpusat. Kemudian alat tersebut bergerak menuju Pindad dan kemudian sampai di Batalyon Zipur 9.
Sebelum dimasukan ke garasi khusus yang sudah disediakan oleh Yonzipur 9 Kostrad, M3 Amphibious Pontoon diuji coba terlebih dahulu seluruh fungsinya, seperti transmisi, mesin dan sebagainya.
M3 Amphibious Pontoon diharapkan bisa menjadi alutsista baru andalan Korps Zeni TNI AD yang mampu mendukung gerak maju pasukan kawan dalam keadaan apapun.(Angga Saja-TSM)
Sumber :  kostrad.mil.id

Helikopter AD India jatuh di Bhutan, Kedua Pilot Tewas


Dua orang pilot, satu dari Angkatan Darat India dan yang lainnya dari Angkatan Darat Kerajaan Bhutan tewas dalam kecelakaan helikopter di Bhutan pada hari Jumat (27/09).
Helikopter Cheetah bermesin tunggal milik Angkatan Darat India sedang bertugas dalam perjalanan dari Khirmu (Arunanchal) ke Yongfulla (Bhutan) tempat helikopter tersebut jatuh.
Helikopter AD India jatuh
Helikopter AD India jatuh 
Menurut narasumber Angkatan Darat India, pilot Angkatan Darat India yang tewas dalam kecelakaan itu adalah seorang Letnan Kolonel sementara pilot Angkatan Darat Bhutan sedang berlatih dengan Angkatan Darat India.
Helikopter itu milik 667 Army Aviation Squadron Angkatan Darat India yang bermarkas di Misamari di Assam. Helikopter itu kembali setelah mengantar Mayor Jenderal Angkatan Darat India yang ditugaskan bersama Tim Pelatihan Militer AD India yang ditugaskan di Bhutan.
Sebagai bagian dari perjanjian antara India dan Bhutan, pilot Bhutan berlatih dengan Angkatan Darat India sejak tahun 2014-15.
"Dalam insiden tersebut, sebuah helikopter Angkatan Darat India jatuh pada pukul 1 siang di dekat Yongphulla di Bhutan. Helikopter tersebut hilang dari kontak radio dan visual tidak lama setelah pukul 1 siang. Helikopter itu dalam perjalanan dari Khirmu (Arunanchal) ke Yongphulla dalam sebuah tugas," kata Juru Bicara Angkatan Darat India Kolonel Aman Anand
"Pencarian dan penyelamatan darat telah diluncurkan segera dari Yongphulla. Puing-puing telah ditemukan," katanya
Cheetah tak lain adalah versi India dari helikopter Aérospatiale SA 315B Lama yang dibuat secara lisensi oleh Hindustan Aeronautics Limited (HAL). HAL menandatangani perjanjian lisensi Cheetah pada tahun 1970. Helikopter Cheetah pertama diproduksi oleh HAL diserahkan pada tahun 1976-1977. Sebanyak total 275 helikopter Cheetah telah diproduksi dan dijual. Bahkan setelah lebih dari 30 tahun sejak produksi awal Cheetah, HAL masih menerima pesanan baru helikopter tersebut. Terakhir helikopter Cheetah dipesan oleh Namibia sebanyak 1 unit ditahun 2009.
Cheetah dikembangkan menjadi versi tempur bersenjata dengan nama Lancer. Lancer dilengkapi dengan composite armoring, kaca yang lebih kuat dan gun sight. Lancer membawa dua pod FN RMP yang masing-masing dipersenjatai satu senapan mesin 12,7mm dan tiga roket 70mm. Versi modernisasi Cheetah, dinamai Cheetal, menggunakan mesin Turbomeca TM333-2M2 yang lebih kuat.(Angga Saja-TSM)

Antisipasi Ancaman Nasional, Panglima TNI Bentuk Tiga Kogabwilhan


Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto membentuk tiga Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan). Pembentukan Kogabwilhan ini bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya ancaman yang mengganggu kepentingan nasional.
“Pembentukan Kogabwilhan secara prinsip diarahkan untuk mencapai kesiapsiagaan dalam penanganan krisis di wilayah Indonesia dengan membagi teritorial Indonesia ke dalam tiga Kogabwilhan TNI,” ujarnya saat memimpin upacara peresmian Kogabwilhan TNI I, II, III, di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Jumat (27/9/2019).
Kogabwilhan
 Kogabwilhan 
Menurut Hadi, pembentukan Kogabwilhan merupakan salah satu upaya pembangunan kekuatan TNI sebagai deterrence effect terhadap berbagai potensi ancaman.
”Pembentukan Kogabwilhan ini ditetapkan dengan Keputusan Presiden Nomor 27 tahun 2019 tentang Pembentukan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan dan Peningkatan Status 23 Komando Resort Militer dari Tipe B menjadi Tipe A,” katanya.
Mantan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) ini menjelaskan, Kogabwilhan merupakan representasi konsep kemampuan interoperabilitas TNI yang saat ini menjadi kebijakan prioritas bagi pimpinan TNI.
“Ancaman dan tantangan yang harus dihadapi bangsa Indonesia di masa mendatang akan terus berevolusi, sehingga membutuhkan keterpaduan kekuatan ketiga matra darat, laut dan udara dalam merespons ancaman tersebut,” ujarnya.
Menurut Hadi, kehadiran ancaman tersebut perlu diantisipasi dan dicermati dalam menyusun pembangunan kekuatan, pembinaan kemampuan, dan gelar kekuatan TNI di masa mendatang, sehingga dapat bersifat adaptif.
“Sebagai Kotamaops TNI, Kogabwilhan bertugas sebagai penindak awal apabila terjadi konflik di wilayahnya baik untuk Operasi Militer Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP) dan sebagai kekuatan penangkal bila terjadi ancaman dari luar sesuai dengan kebijakan Panglima TNI,” katanya.
Hadi menyebut, kedudukan Makogabwilhan telah mempertimbangkan aspek komando dan kendali, strategi dan infrastruktur yang sudah ada saat ini. Atas dasar pertimbangan tersebut, maka ditetapkan kedudukan Makogabwilhan I berada di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Makogabwilhan II di Balikpapan, Kalimantan Timur dan Makogabwilhan III berada di Biak, Papua.
”Keberadaan Kogabwilhan tentu telah diselaraskan dengan program pembangunan Pemerintah yang mencanangkan 35 Wilayah Pengembangan Strategis, membangun dari pinggiran serta menghadirkan negara untuk melindungi seluruh warga negara di seluruh wilayah NKRI,” tutupnya.
Makogabwilhan I berada di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, dipimpin Pankogabwilhan I Laksda TNI Yudo Margono meliputi wilayah darat Sumatera, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten; sedangkan wilayah laut meliputi perairan di sekitar Sumatera, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten dan Alki-1 beserta perairan sekitarnya; sementara wilayah udara (Wilayah di atas Sumatera, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, DKI, Jawa Barat, Banten dan Alki 1 beserta perairan sekitarnya.
Untuk Makogabwilhan II di Balikpapan, Kalimantan Timur, dipimpin oleh Pangkogabwilhan II Marsda TNI Fadjar Prasetyo dengan wilayah darat meliputi Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT.
Untuk wilayah laut meliputi perairan di sekitar Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT dan Alki-2 serta Alki-3a beserta perairan sekitarnya; sedangkan wilayah udara yakni, di atas Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT dan Alki-2 serta Alki-3a beserta perairan sekitarnya.
Sementara Makogabwilhan III berada di Biak, Papua, dipimpin oleh Pangkogabwilhan III Mayjen TNI Ganip Warsito dengan wilayah darat mencakup Maluku, Maluku Utara dan Papua. Wilayah laut mencakup perairan di sekitar Maluku, Maluku Utara, Papua dan Alki-3b dan 3c beserta perairan sekitarnya; sementara untuk wilayah udara mencakup di atas Maluku, Maluku Utara, Papua dan ALKI-3b dan 3c beserta perairan sekitarnya. (Sucipto)

Drone Su-70 Okhotnik Rusia Terbang Tandem dengan Jet Tempur Su-57


Militer Rusia untuk pertama kalinya menguji terbang tim pesawat maut futuristik yang oleh media setempat dijuluki duo pesawat maut. Kedua pesawat yang bermanuver tandem itu adalah pesawat nirawak atau drone siluman Okhotnik (Hunter) dan pesawat jet tempur siluman generasi kelima Su-57.
Drone Su-70 Okhotnik Rusia
Drone Su-70 Okhotnik Rusia 
Momen spektakuler dari misi uji terbang 30 menit itu direkam dalam video yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Rusia. Video menunjukkan kedua pesawat lepas landas dan melintasi langit hanya beberapa meter jaraknya dari satu sama lain.
Kolaborasi ini bukan hanya untuk pertunjukan udara, namun keduanya memang dirancang untuk tandem untuk memperluas jangkauan radar dan serangan terhadap target tanpa memasuki area pertahanan udara musuh.
Drone siluman Okhotnik selama ini dianggap diklaim sebagai pesawat nirawak generasi keenam. Drone ini memiliki tipe body sayap terbang, yang membuatnya terlihat seperti sesuatu dari film fiksi ilmiah. Militer Moskow mengatakan bahwa bahan dan pelapis khusus yang digunakan dalam desainnya memungkinkan drone tersebut untuk sepenuhnya menghindari deteksi sistem radar modern.
Pesawat nirawak siluman ini pertama kali terbang ke langit pada bulan Agustus dan sejauh ini tidak banyak yang diketahui tentang drone tersebut. Mengutip laporan Russia Today, Sabtu (28/9/2019), alat berat ini memiliki berat lepas landas lebih dari 20 ton dan dapat beroperasi pada kecepatan supersonik. Selain melakukan misi pengawasan, drone Okhotnik juga dikklaim mampu membawa senjata di teluk internalnya.
Sedangkan Su-57 adalah jet tempur siluman generasi ke-5 pertama Rusia. Pesawat ini dirancang untuk unggul di udara dan operasi serangan. Penerbangan perdananya berlangsung pada 2010, dan pesawat ini telah diuji dalam kondisi tempur di Suriah. Su-57 pertama diharapkan memasuki layanan Angkatan Udara Rusia pada akhir tahun ini. (Muhaimin)

NATO Tolak Tawaran Moratorium Penyebaran Rudal Rusia


Presiden Rusia Vladimir Putin telah mengirimkan surat kepada NATO, mendesak anggotanya untuk bergabung dengan moratorium penempatan rudal jarak pendek dan menengah di Eropa. Namun blok yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS) itu telah menolak tawaran itu, dengan mengatakan Moskow telah menyebar senjata semacam itu.
Ilustrasi
Ilustrasi 
Pekan lalu, Putin menyampaikan pesan rahasia ke sejumlah ibu kota asing, termasuk semua negara anggota NATO dan pemain utama Asia. Pesan itu bertujuan mempertahankan status quo setelah AS menarik diri dari perjanjian Senjata Nuklir Jarak Menengah (INF).
Pesan itu mengatakan bahwa Rusia siap untuk membahas langkah-langkah verifikasi tambahan dengan NATO untuk memastikan moratorium ditegakkan oleh semua pihak.
NATO dengan tak acuh menanggapi bahwa tawaran Putin mengabaikan kenyataan di lapangan.
"Moskow harus memusnahkan rudal-rudal ini agar diskusi mengenai moratorium dimulai," kata NATO seperti dikutip dari Russia Today, Jumat (27/9/2019).
Rusia berulang kali mengatakan bahwa kisaran jarak dari rudal 9М729 kurang dari 500 km dan menunjukkan bahwa mitra Baratnya tidak pernah menjelaskan bagaimana mereka sampai pada kesimpulan bahwa rudal ini melanggar kesepakatan.
Pesan Putin tidak memerlukan jawaban wajib, kata Kremlin, mengakui bahwa gagasan moratorium tidak menemui kesepahaman.
Perjanjian INF, yang melarang rudal berbasis darat dengan jangkauan antara 500 km dan 5.500 km di Eropa, ditandatangani oleh Moskow dan Washington pada tahun 1987, selama beberapa dekade tetap menjadi landasan keamanan benua. Setelah penarikan secara sepihak oleh Trump, Rusia tidak punya pilihan selain meninggalkan perjanjian INF. Namun, Putin segera mengumumkan moratorium untuk menempatkan senjata yang dilarang oleh perjanjian itu, sampai AS menyebarkannya. INF secara resmi berakhir pada awal Agustus.(Berlianto)

Jepang: China Jadi Ancaman Lebih Besar daripada Korut Bersenjata Nuklir


Tinjauan pertahanan tahunan Jepang menyatakan militer China sebagai ancaman yang lebih besar bagi keamanannya daripada Korea Utara (Korut) yang memiliki rudal balistik berhulu ledak nuklir. Penilaian ini muncul dalam Defence White Paper (Buku Putih Pertahanan) Tokyo yang dirilis hari Kamis.
Menteri Pertahanan Taro Kono
Menteri Pertahanan Taro Kono 
Tinjauan itu dibuat Jepang bersama sekutunya, Amerika Serikat (AS). Dalam Buku Putih Pertahanan tersebut, China untuk pertama kalinya menduduki peringkat kedua sebagai ancaman utama Jepang atau menggeser posisi Korut di posisi ketiga. Rusia, yang tetap dianggap oleh Tokyo sebagai ancaman utamanya selama Perang Dingin, berada di posisi keempat.
"Kenyataannya adalah bahwa China meningkatkan pengeluaran militer dengan cepat, sehingga orang dapat memahami bahwa kita membutuhkan lebih banyak lembaran," kata Menteri Pertahanan Taro Kono pada konferensi pers, seperti dikutip Reuters, Jumat (27/9/2019). "China mengerahkan aset udara dan laut di Pasifik Barat dan melalui Selat Tsushima ke Laut Jepang dengan frekuensi yang lebih besar," katanya lagi.
Menurut Buku Putih Pertahanan Jepang, Tokyo telah meningkatkan pengeluaran pertahanan sepersepuluh selama tujuh tahun terakhir untuk melawan kemajuan militer Beijing dan Pyongyang, termasuk pertahanannya dalam melawan rudal Korea Utara yang bisa membawa hulu ledak nuklir.
Korea Utara telah melakukan peluncuran rudal jarak pendek tahun ini yang menurut Tokyo menunjukkan bahwa Pyongyang sedang mengembangkan proyektil untuk menghindari pertahanan rudal balistik Aegis.
Untuk tetap berada unggul di depan militer China, Jepang membeli pesawat tempur siluman buatan Amerika Serikat dan senjata canggih lainnya.
Dalam permintaan anggaran terbarunya, militer Jepang meminta 115,6 miliar yen untuk membeli sembilan pesawat tempur siluman F-35 Lockheed Martin, termasuk enam varian take-off pendek dan pendaratan vertikal (STOVL) untuk beroperasi dari kapal induk helikopter yang dikonversi.
Jet siluman, rudal pencegat buatan AS dan peralatan lainnya adalah bagian dari kenaikan 1,2 persen atau 5,32 triliun yen yang diusulkan dalam belanja pertahanan.
Sebagai perbandingan, pengeluaran militer China akan meningkat tahun ini sebesar 7,5 persen menjadi sekitar USD177 miliar dari tahun 2018, lebih dari tiga kali lipat dari Jepang. Beijing sedang mengembangkan berbagai senjata canggih seperti pesawat tempur siluman dan kapal induk yang membantunya memperluas jangkauan dan ruang lingkup operasi militer.(Muhaimin)

KF-X Dapat Dikembangkan Menjadi Pesawat Tempur Generasi ke-5 yang Lengkap


Informasi baru dan lama tentang KF-X diluncurkan setelah sesi Critical Design Review (CDR) baru-baru ini.9.300 halaman dari 12.000 halaman cetak biru terperinci telah selesai, terhitung sekitar 78% dari proses desain terperinci.
KF-X
KF-X 
  1. Meskipun spesifikasi pasti diklasifikasikan, RF Cross Section (RCS) KF-X dikatakan sekitar 0,5㎡. Menurut Global Security, F / A-18E / F dan Rafale memiliki perkiraan RCS 1㎡. F-15 memiliki 25㎡ sementara F-35 masing-masing memiliki 0,005㎡.
  2. KF-X dirancang dengan pengembangan lebih lanjut yang sudah dipikirkan. Ada ruang yang disediakan untuk ruang senjata internal dan KF-X, secara teori, dapat dikembangkan menjadi pesawat tempur gen ke-5 yang lengkap.
  3. Sekitar 65% komponen untuk KF-X Blok 0/1 dikembangkan di Korea Selatan. Ini mungkin persentase yang sama dengan Gripen Swedia, yang juga menggunakan campuran komponen asli dan asing yang sempurna.
  4. Ketika Korea Selatan memutuskan untuk membeli F-35A pada tahun 2015, Lockheed Martin menjanjikan transfer 25 kategori teknologi. Namun, pemerintah AS menolak transfer 4 kategori: radar AESA, IRST, EOTGP, dan paket EW terintegrasi.
  5. radar multi-fungsi AESA KF-X, yang sedang dikembangkan oleh Hanwha Systems, memiliki 1.088 modul dengan jangkauan 110km terhadap target RCS yang tidak ditentukan. Radar F-35 memiliki 1.200 modul untuk perbandingan.
  6. Satu set modul 16-radar untuk radar KF-X berharga sekitar $ 45.000. Modul yang diimpor harganya $ 80.000.
  7. Prototipe radar KF-X telah menyelesaikan pengujian berbasis darat dan udara di Israel bekerja sama dengan sistem ELTA. Ini akan mulai pengujian di Korea November ini dan akan diinstal pada pesawat prototipe KF-X pada 2023.
  8. Desain eksterior KF-X mengalami 9 perubahan besar sejak desain pertama dipilih oleh ADD. KF-X awalnya berbobot 12,1 ton, tetapi harus mengurangi berat sebanyak 500kg.
  9. Total 230.000 komponen individu harus dirancang dengan cermat. Mobil standar memiliki sekitar 20 ~ 30.000 komponen.
  10. 1.250 insinyur sedang mengerjakan proyek KF-X. Prototipe pertama diharapkan akan diluncurkan pada April 2021. 8 model produksi pertama akan dikirim ke Angkatan Udara pada tahun 2026, tetapi mungkin ada penundaan karena sebagian besar negara melakukan pengujian selama 5 - 8 tahun.(Vita Novita)

Militer Rusia Jajal Rudal Jelajah Subsonik Kh-35


Militer Moskow menguji tembak rudal jelajah subsonik Kh-35 dari sistem rudal Uran yang dipasang di sebuah kapal milik Armada Pasifik Rusia. Senjata yang diuji tembak di Laut Jepang ini menjadi momok bagi kapal-kapal militer Barat.
Kementerian Pertahanan Rusia yang dilansir kantor berita TASS, Kamis (26/9/2019), mengatakan misil jelajah itu ditembakkan ke sasaran laut.
Rudal Jelajah Subsonik Kh-35
Rudal Jelajah Subsonik Kh-35 
"Rudal jelajah Kh-35 berhasil mencapai target permukaan yang melayang pada jarak lebih dari 50 kilometer. Sekitar 10 kapal perang dan kapal tambahan, serta pesawat terbang dari armada Armada Pasifik, terlibat dalam uji coba," kata kementerian tersebut tanpa merinci tanggal uji coba senjata tersebut.
Sebelumnya, kapal rudal kecil Smerch menembakkan rudal dari meriam otomatis 76-mm AK-176MA universal terbaru dan sistem artileri sistem anti-pesawat AK-630 kaliber kecil 30-mm.
Sebelumnya, perbaikan dan modernisasi kapal rudal kecil Smerch berlangsung di Pusat Perbaikan JSC North Eastern di Kamchatka serta pusat perbaikan kapal Dalzavod di Vladivostok. Selama periode waktu itu, Smerch dipersenjatai kembali dengan sistem rudal jelajah anti-kapal Uran, yang menggantikan sistem rudal Malakhit.
Uji coba senjata ini menyusul pernyataan Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu yang mengatakan Moskow tidak membutuhkan kapal induk seperti yang dimiliki Amerika Serikat (AS). "Kami tidak membutuhkan kapal induk, kami membutuhkan senjata untuk menenggelamkannya," katanya.
Ketegangan antara Barat dan Rusia berada di ujung tanduk sejak Presiden AS Donald Trump menarik AS dari perjanjian nuklir yang dikenal sebagai Perjanjian Angkatan Nuklir Jangka Menengah (INF).
Ketegangan juga memanas di Timur Tengah seperti yang terungkap pada hari Kamis bahwa Rusia akan memperluas pangkalan udara Khmeimim di Suriah.
Moskow sedang memperluas kemampuan militernya di Suriah dan membangun kembali landasan pendaratan kedua untuk memungkinkan fasilitas itu melayani lebih banyak pesawat.
Shoigu mengatakan militer Rusia berada di Suriah untuk membela rakyatnya. "AS menghabiskan banyak uang untuk kontraktor militer swasta, pada kapal induk. Nah, apakah Rusia benar-benar membutuhkan lima hingga sepuluh kelompok serangan kapal induk, mengingat kami tidak berniat menyerang siapa pun?," ujarnya.(Muhaimin)

Tempuh 78 Km, Satgas Yonif R 509 Jamin Kedaulatan Negara dan Kesehatan Warga Papua


Berjalan kaki menempuh medan berat sejauh 78 Km, Satgas Pamtas Yonif Raider 509/Kostrad, mengamankan patok perbatasan menjamin kedaulatan negara sekaligus memberi pelayanan kesehatan bagi warga Papua.
Hal tersebut disampaikan Dansatgas Pamtas Yonif Raider 509/Kostrad, Letkol Inf Wira Muharromah, S.H., Psc.,dalam rilis tertulisnya di Kabupaten Keerom, Papua, Kamis (26/9/2019).
Pengamanan Patok Perbatasan TNI AD
Pengamanan Patok Perbatasan TNI AD 
Lebih lanjut dikatakan, para prajurit yang bertugas menjaga keamanan perbatasan pada Rabu (25/9/2019), selain menggelar patroli di patok MM.4.4, yang dipimpin Komandan Pos Ungalom, Serka Dhino, juga memberi pelayanan kesehatan kepada warga setiap singgah di kampung yang dilewati.
“Mereka menempuh jarak kurang lebih 78 Km dari Pos Ungalom, menuju Patok MM.4.4. Medan yang dilalui sangat berat, karena harus melewati jalan setapak, sungai, rawa dan hutan. Para prajurit membutuhkan waktu 36 jam untuk sampai ketempat tersebut,” ujarnya.
Setelah menempuh medan berat dan panjang tambah Dansatgas, akhirnya personel Satgas Pamtas Indonesia-Papua Nugini ini berhasil menemukan Patok MM.4.4 dalam kondisi baik dan tidak bergeser dari koordinatnya.
“Usai melaksanakan patroli patok perbatasan, para prajurit memberikan pengobatan gratis kepada masyarakat yang tinggal di tapal batas. Selain pengobatan, prajurit juga memberikan bantuan kebutuhan pokok kepada warga.
Di tempat terpisah, Danpos Ungalom, Serka Dhino mengatakan, patroli ini merupakan tugas pokok Satgas yang sedang melaksanakan pengamanan perbatasan.
“Patok batas yang menjadi tanggung jawab pengamanan Satgas wajib untuk dilaksanakan patroli agar tidak bergeser dan mengetahui patok tersebut dalam keadaan baik,” tegasnya.
Ia juga menambahkan, selain melaksanakan tugas pokok, para prajurit juga diwajibkan untuk membantu masyarakat yang tinggal di perbatasan, salah satunya dengan melakukan pengobatan dan memberikan bantuan kebutuhan pokok kepada warga.
“Ini kita lakukan sebagai wujud kepedulian dan perhatian kepada warga setiap melaksanakan patroli, jika melewati kampung pasti kita berikan pengobatan,” tuturnya.
Sementara itu, Lewi Pigai (52), mengungkapkan terima kasih kepada Satgas yang telah memberikan pelayanan kesehatan sekaligus membagikan sembako bagi warga.
“Kami atas nama warga bersyukur mendapat pelayanan kesehatan gratis dari bapak Satgas. Apalagi di tempat kami minim sarana kesehatan, sehingga kesempatan ini sungguh dinanti warga,” pungkasnya. (Dispenad)

Jamin Tidak Bergeser, Satgas Yonif MR 411 Patroli Patok Batas Negara Sejauh 21 Km

Untuk memastikan patok batas negara RI-PNG dalam kondisi aman dan tidak bergeser, Tim Patroli Yanggandur, Satgas Yonif 411 harus menempuh perjalanan sehari semalam berjarak 21 Km untuk mencapai patok MM.13.1.
Hal tersebut disampaikan Komandan Satgas Pamtas RI-PNG Yonif MR 411/PDW Kostrad Mayor Inf Rizky Aditya S.Sos., M.Han., dalam rilis tertulisnya di Distrik Elikobel, Kabupaten Merauke, Papua, Kamis (26/9/2019).
Dikatakan Dansatgas, sebagai satuan yang diberikan tanggung jawab menjaga keamanan perbatasan RI-PNG, selain itu juga bertugas untuk memastikan patok batas antar negara dalam kondisi aman dan baik.
“Untuk meyakinkannya, digiatkanlah patroli-patroli rutin seperti yang dilakukan Pos Yanggandur pimpinan Letda Inf Muhammad Rizal,” ucap Rifky.
“17 patok itu yang harus dijaga dan dipastikan keberadaannya demi tegaknya keutuhan dan kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” terangnya.
Menurut Rizky, sampai saat ini 17 patok perbatasan yang menjadi tanggung jawab Satgas dari MM.11.2 sampai MM.14B, seluruhnya dalam kondisi baik.
“Kita harus memastikan patok tersebut tidak bergeser dan rusak, saat ini semua diposisinya karena kita cocokkan dengan koordinat GPS sesuai kedudukan awal,” pungkas Dansatgas.
Sementara itu, Letda Inf Muhammad Rizal mengatakan untuk sampai patok MM.13.1, dirinya beserta tujuh anggota tim patroli harus berjalan selama sehari semalam.
“Selain jaraknya cukup jauh, medan yang dilalui harus melintasi rawa-rawa dan sungai yang belum ada jembatannya, membuat personel harus waspada dan berhati-hati,” terang Rizal.
“Setelah menempuh jarak 21 Km, akhirnya Tim Patroli sampai di tujuan yaitu Patok MM 13.1. Setelah dilakukan pengecekan oleh personel kondisinya baik dan plat besi prasasti yang ada dipatok dalam keadaaan aman,” pungkasnya. (Dispenad).

AS Sebar Rudal Patriot dan Kirim 200 Tentara ke Arab Saudi


Pentagon mengirim 200 tentara, sistem pertahanan rudal Patriot dan empat sistem radar ke Arab Saudi. Pengiriman ini sebagai tanggapan atas serangan Iran terhadap fasilitas minyak Arab Saudi awal bulan ini.
Rudal Patriot
Rudal Patriot  
"Pengerahan ini akan menambah pertahanan udara dan rudal kerajaan atas infrastruktur penting militer dan sipil," kata kepala juru bicara Pentagon Jonathan Hoffman dalam sebuah pernyataan.
"Penempatan ini menambah kehadiran pasukan AS yang sudah signifikan di kawasan ini," imbuhnya seperti dikutip dari Washington Examiner, Jumat (27/9/2019).
Namun Pentagon tidak mengatakan kapan pasukan ini akan dikerahkan.
Pengumuman ini mengikuti pengarahan Pentagon di mana Menteri Pertahanan Mark Esper dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Joseph Dunford mengumumkan Amerika Serikat (AS) berencana untuk meningkatkan pertahanan Arab Saudi mengikuti permintaan pihak kerajaan untuk dukungan.
Esper juga menempatkan dua lagi baterai rudal Patriot dan satu Sistem Pertahanan Terminal High Altitude Area pada persiapan untuk menyebarkan sesuai perintah jika mereka dibutuhkan dalam waktu singkat.
"Penting untuk dicatat bahwa langkah-langkah ini merupakan demonstrasi komitmen kami kepada mitra regional, dan keamanan serta stabilitas di Timur Tengah," kata Hoffman.
"Ini mengikuti penjangkauan luas Sekretaris dan Ketua untuk para mitra di kawasan ini, dan di seluruh dunia," sambungnya.
Esper mengatakan bahwa semua indikasi menunjuk ke Iran sebagai pelaku serangan terhadap Arab Saudi, yang melibatkan campuran drone dan rudal jelajah. Penyelidik AS sedang bekerja dengan rekan-rekan Saudi sementara mereka menyelidiki serangan, yang mengganggu 5% dari pasokan harian minyak dunia.
"Negara-negara lain telah memanggil misadventures Iran di kawasan itu, dan kami mencari mereka untuk berkontribusi aset dalam upaya internasional untuk memperkuat pertahanan Arab Saudi," kata Hoffman.(Berlianto)

Kemhan: Pemindahan Ibu Kota Pengaruhi Postur Pertahanan


Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyampaikan bahwa pemindahan ibu kota akan mempengaruhi postur pertahanan. Sekretaris Jenderal Kemhan, Laksamana Madya TNI, Agus Setiadji mengatakan, postur pertahanan itu bidangnya Kemhan yang setiap saat direvisi karena disesuaikan dengan ancaman yang ada.
NASAMS 2
NASAMS 2 
"Pemindahan ibu kota akan memperngaruhi postur pertahanan," ujar Agus dalam rapat panitia khusus (Pansus) pemindahan ibu kota di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (26/9/2019).
Di samping itu kata dia, tata ruang secara geografis akan mempengaruhi medan pertahanan. "Baik medan penyangga di luar batas ZEE dan lapisan udara di atasnya, berikutnya medan pertahanan utama sebagai medan operasi laut ZEE sampai laut teritorial dan lapisan udara di atasnya," ujarnya.
Kemudian lanjut dia, medan perlawanan termasuk perairan kepulauan dan lapisan udara. "Ini juga meliputi daerah pertempuran daerah komunikasi serta daerah pangkal pertahanan dan perlawanan," ungkapnya.
Dia menjelaskan, yang harus dipertimbangkan dalam Medan pertahanan itu adalah kemungkinan serangan ancaman militer oleh negara lain.
"Selanjutnya untuk konteks calon pengganti ibu kota, lokasi tersebut telah memenuhi kriteria namun akan masih diperlukan kajian yang lebih komprehensif integral dan holistik," tuturnya.
Sedangkan untuk memenuhi standar kekuatan pertahanan dan keamanan ibu kota negara, kata dia, diperlukan adanya peningkatan dan penguatan postur TNI Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), Angkatan Udara (AU) di wilayah Kalimantan.
"Karena kita tahu sendiri otomatis dengan adanya pemindahan dari Jakarta ke kalimantan timur pasti akan terjadi pergeseran centre of gravity, yang berikutnya yang meliputi kemampuan personel, materil dan fasilitas," ujarnya.(Rico Afrido Simanjuntak)

Militer Filipina akan Membeli Sejumlah Alutsista Buatan Indonesia


Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengapresiasi kemajuan industri pertahanan dalam negeri. Indonesia mulai memasok alat utama sistem persenjataan (alutsista) di sejumlah negara di ASEAN dan Afrika.
Kasubdit Promosi dan Kerja Sama Kemhan, Kolonel Iskandar mengungkapkan, industri pertahanan dalam negeri mulai memberikan kemajuan. Terbukti, sejumlah pasar di luar negeri mulai melirik produk alutsista di Republik Indonesia (RI), salah satunya Filipina.
ILSV Armored Vichicle
ILSV Armored Vichicle 
"Sekarang kita saksikan bahwa KSAD Filipina beserta penasihat Presidennya datang untuk melihat dan membeli produk industri dalam negeri," kata Iskandar, Kamis (26/9/2019).
Pada kesempatan itu, Iskandar mendampingi kedatanganCommanding General of thr Philipina Army,Lt Gen Macairog Sabiniani Alberto, dan Presidential advicer Military Affari (PAMA), Lt Gen Arthur Ibanez Tabaquero di PT Ridho Agung Mitra Abadi dan PT Jala Berikat Nusantara Perkasa, Jakarta, kem.
Dalam kunjungan Macairong cs itu direncanakan, Filipina akan membeli sejumlah alutsista dari Indonesia melalui PT Ridho Agung Mitra Abadi dan PT Jala Berikat Nusantara Perkasa.
Selain mobil ILSV Armored Vichicle dan ILSV VVIP, negara revolusi hijau itu juga memesan sejumlah jaket atau rompi, dan helm anti peluru. Melanjutkan keterangannya, Iskandar memastikan, pemerintah akan terus mendukung upaya penguatan industri pertahanan dalam negeri.
Hingga kini, sudah ada seratus lebih perusahaan yang bergerak di bidang industri pertahanan. "Untuk menjualnya. Kami juga sering mengikutsertakan mereka di pameran-pameran tingkat internasional," katanya.
Presiden Direktur PT Ridho Agung Mitra Abadi, Johny Tanoto mengucapkan terima kasih kepada pemerintah Indonesia yang telah mendukung industri dalam negeri berkiprah di kacah Internasional. Menurutnya, dengan sejumlah aturan dan kebijakannya, industri alutsista dalam negeri beranjak maju.
"Dua tahun terakhir ini terbukti kami bisa memaketkan produk ke sejumlah negara di Asean. Salah satunya Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan juga di Philipina, " ungkap Johny.
Menurutnya, dengan masuknya produk industri dalam negerike sejumlah negara di ASEAN serta kunjungan elite pengambil kebijakan di negara lainakan meningkatkan kepercayaan negara lainnya terhadap alutsista Indonesia.
"Kami harap, setelah melihat proses pembuatan dan hasil akhir alutsista kami, mereka akan membelinya," katanya.
Sementara itu, General Marketing PT Ridho Agung Mitra Abadi Ujang yakin, bahwa produk industri dalam negeri mampu merajai pasar ASEAN. Paling tidak, produk anak bangsa bisa menyuplai kebutuhan dalam negeri.
"Cintailah produk dalam negeri. Kalau bukan kita, siapa lagi," kata Ujang. (Mohammad Fajardin)

Radar Acak