Dubai Airshow-2019 : UEA Umumkan Rencana Beli Tambahan Saab GlobalEye dan Airbus A330 MRTT


Angkatan Udara Uni Emirat Arab (UEA) mengumumkan rencana untuk mengakuisisi dua tambahan pesawat airborne early warning and control (AEW&C) GlobalEye dari Saab, dan tiga tambahan pesawat Airbus A330 Multi Role Tanker Transport (MRTT), di Dubai Airshow yang sedang berlangsung (17- 21 November). UEA sebelumnya sudah memesan tiga pesawat GLobalEye dan memiliki tiga pesawat A330 MRTT.
Saab GlobalEye
Saab GlobalEye 
GlobalEye adalah salah satu pesawat yang ditampilkan secara statis di pameran udara Dubai Airshow, menandai debut pesawat tersebut di pameran apa pun. Pesawat tersebut dikenal di UEA sebagai Swing Role Surveillance System (SRSS).
"Menurut pengumuman hari ini, nilai pesanan potensial terkait dengan amandemen kontrak ini adalah $ 1,018 miliar. Periode negosiasi akhir akan menyusul. Saab masih belum menandatangani amandemen kontrak atau menerima pesanan terkait pengumuman hari ini," kata perusahaan Swedia itu dalam sebuah pernyataan, Selasa (19/11).
Kontrak pengembangan dan produksi awal untuk GlobalEye diberikan kepada Saab di Dubai Air Show pada November 2015 oleh UEA dengan pesanan awal sebanyak dua pesawat GlobalEye. Pesanan tambahan oleh UEA untuk pesawat ketiga kemudian diumumkan pada 2017.
“GlobalEye mampu melakukan pengawasan udara, maritim dan darat. Ia menggabungkan radar jarak jauh baru dengan pesawat ultra long-range Global 6000jet dari Bombardier,” kata Saab.
Nota kesepahaman untuk pembelian awal 3 A330 MRTT antara Airbus dan UEA ditandatangani pada 2007, dan pada tahun berikutnya, sebuah kontrak ditandatangani. Pengiriman pesawat selesai pada Agustus 2013. Menurut laporan, pesawat dilengkapi dengan ARBS dan dua pod pengisian bahan bakar dibawah sayap Cobham 905E. Unit-unit ARBS yang dipasang pada tanker-tanker ini termasuk hoist boom sekunder yang dikembangkan untuk UEA. Sistem ini memungkinkan boom ditarik kembali, bahkan jika terjadi kegagalan sistem retraksi boom primer.(Angga Saja-TSM)

DSEI Japan 2019: Perkembangan Multi-Mission Frigate Jepang


Perwakilan perusahaan Jepang Mitsubishi Heavy Industries (MHI), yang direncanakan akan membangun enam dari delapan fregat untuk Pasukan Beladiri Maritim Jepang (JMSDF), mengatakan di pameran pertahanan DSEI Japan 2019 pada 18-20 November di Chiba bahwa kelas fregat baru itu akan memiliki panjang 132,5 m, lebar 16 m, dan memiliki beam 9 m dan displacement standar 3.900 ton.
Multi-Mission Frigate Jepang
Multi-Mission Frigate Jepang 
Ditenagai oleh sistem propulsi combined diesel and gas (CODAG) dengan dua mesin diesel MAN 12V28/33D STC dan satu turbin gas Rolls-Royce MT30, kapal-kapal ini diharapkan mampu mencapai kecepatan tertinggi 30 kt.
Persenjataan pada fregat, yang masing-masing akan mampu meluncurkan satu helikopter serta kendaraan permukaan dan bawah laut tak berawak, diperkirakan meliputi versi laut dari rudal permukaan-ke-udara jarak menengah Type-03 (juga dikenal sebagai 'Chū-SAM Kai'), meriam kaliber 5-inci (127 mm)/62, sistem peluncur vertikal (VLS), rudal anti-kapal yang diluncurkan dari kanister, dan close-in weapon system SeaRAM.
Kementerian Pertahanan Jepang diperkirakan akan melakukan pemesanan untuk semua delapan fregat multirole tersebut pada tahun fiskal 2021, dengan dua kapal akan dibangun setiap tahun dalam pengaturan dimana MHI dan Mitsui akan bergantian sebagai pimpinan dan sub-kontraktor.
MHI, yang pada November 2018 lalu mendapat kontrak untuk membangun kapal pertama, direncanakan untuk membangun enam fregat kelas tersebut (dengan Mitsui Engineering dan Shipbuilding [MES] sebagai subkontraktor), sementara MES akan membangun dua kapal yang tersisa (dengan MHI sebagai subkontraktor).
Konstruksi dua fregat pertama berlangsung di Nagasaki Shipyard & Machinery Works milik MHI di Prefektur Nagasaki dan Galangan Tamano MES di Prefektur Okayama. Dua kapal pertama ini akan diluncurkan pada November 2020 dan diharapkan akan mulai bertugas pada Maret 2022.(Angga Saja-TSM)
Sumber :  janes.com

Pemberontak Houthi Yaman Sita 3 Kapal Milik Korsel dan Arab Saudi


Pemberontak Houthi asal Yaman menyita tiga kapal, yakni dua milik Korea Selatan (Korsel) dan satu dari Arab Saudi pada akhir pekan lalu.
Pemberontak Houthi Yaman Sita 3 Kapal Milik Korsel dan Arab Saudi
Pemberontak Houthi Sita 3 Kapal Milik Korsel dan Arab Saudi 
Tiga kapal tersebut merupakan satu pengeruk Korsel yang ditarik oleh dua tugboat, masing-masing asal Korsel dan Saudi. Ketiganya disita oleh pemberontak Houthi saat berlayar di Laut Merah, tepatnya di lepas pantai Yaman, Minggu (17/11/2019).
Menurut keterangan Kementerian Luar Negeri Korsel, sebanyak 16 kru turut ditahan oleh pelaku di Pelabuhan Salif. Dua di antaranya merupakan warga Korsel.
"Semua warga negara kami dalam kondisi sehat dan aman," bunyi pernyataan, dikutip dari AFP, Selasa (19/11/2019).
Terkait kejadian ini Pemerintah Korsel mengirim kapal perang Cheonghae dan telah bersiaga anti-di lepas pantai Oman, dekat lokasi penyitaan.
"Kami melakukan yang terbaik untuk membebaskan warga kami terlebih dulu," isi pernyataan.
Ketua Komite Revolusi Tertinggi Houthi, Mohammed Al Houthi mengakui telah menyita tiga kapal dengan alasan mencurigakan.
"Penjaga pantai Yaman masih menentukan apakah itu (kapal) milik agresor atau Korea Selatan. Jika itu milik Korea Selatan, mereka akan dibebaskan setelah memenuhi prosedur hukum. Kami menjamin agar tidak perlu khawatir mengenai nasib kru," katanya, di Twitter.
Kata agresor mengacu pada Arab Saudi dan sekutu. Pemberontak Houthi merupakan milisi bersenjata yang didukung Iran. Mereka menggulingkan pemerintahan sah Yaman di bawah kepemimpinan Presiden Abedrabbo Mansour Hadi.
Koalisi Saudi melancarkan serangan ke Yaman setahun setelah pemberontak Houthi merebut ibu kota Sanaa atau pada 2015. Sejak itu, puluhan ribu orang, kebanyakan warga sipil, tewas. (Anton Suhartono)

Eurospike akan Pasok Rudal dan Peluncur Spike untuk AD Jerman


Rafael Advanced Defense Systems telah menandatangani kontrak untuk menjual rudal dan peluncur Spike ke Angkatan Darat Jerman melalui usaha patungan (joint venture).
Eurospike JV antara Rafael Israel dan perusahaan Jerman Diehl Defense dan Rheinmetall Electronics memasuki kontrak kerangka kerja multi-year dengan Kantor Federal untuk Peralatan, Teknologi Informasi dan Dukungan Bundeswehr (BAAINBw).
Spike ATGM
Spike ATGM 
Di bawah kontrak tersebut, Eurospike menerima pesanan awal untuk memasok 1.500 rudal Spike dan ratusan unit peluncur rudal integrated control launch unit (ICLU).
Kontrak tersebut mensyaratkan pembuatan rudal dan peluncur lokal di Jerman oleh perusahaan setempat.
Spike dikenal sebagai MELLS di Angkatan Bersenjata Jerman. Ini adalah rudal elektro-optik multi-misi dan multi-platform Israel yang presisi.
Rudal anti-tank (ATGM) fire-and-forget ini akan memberi kemampuan angkatan bersenjata untuk menyerang target yang tersembunyi.
Wakil presiden eksekutif Advanced Defense Systems dan kepala Divisi Darat dan Laut Moshe Elazar mengatakan: "Ini adalah kontrak yang signifikan bagi Eurospike dan untuk RAFAEL, sebagai pemasok terkemuka ATGM generasi kelima di dunia. Tidak diragukan lagi akan memperkuat posisi Angkatan Darat Jerman sebagai salah satu kekuatan ATGM terkuat di Eropa.
“Kesamaan lintas negara rudal dan peluncur Spike memungkinkan negara-negara tersebut untuk mengelola stok rudal SPIKE bersama, membuat pengadaan bersama, dan melakukan dukungan timbal balik. Dalam kombinasi dengan produksi lokal di Eropa oleh Eurospike, Spike adalah rudal Eropa bersama.”
Di Eropa, rudal anti-tank Spike telah digunakan oleh negara-negara diantaranya Belgia, Kroasia, Republik Ceko, Finlandia, Italia, Latvia, Belanda, Polandia, Portugal, Romania, Slovenia, Spanyol dan Inggris.
Perusahaan mengharapkan pesanan lebih lanjut di tahun-tahun mendatang untuk lebih banyak rudal Spike untuk Angkatan Darat Jerman.
AD Jerman sudah menggunakan peluncur Spike portabel, serta peluncur yang dipasang kendaraan, pada platform Puma, Wiesel, dan Marder.
Pada bulan Juni, Angkatan Darat Jerman melakukan serangkaian latihan penembakan Spike di Jerman. Pelatihan termasuk penembakan 54 rudal SPIKE LR langsung dari peluncur ICLU.(Angga Saja-TSM)

Tandingi India, Pakistan Uji Rudal Balistik Berkemampuan Nuklir


Militer Pakistan menguji coba rudal balistik surface-to-surface Shaheen-I sebagai bagian dari latihan militer hari Senin. Tes misil yang memiliki kemampuan membawa hulu ledak nuklir ini sebagai tandingan setelah India menguji coba misil Agni II pada akhir pekan lalu.
Shaheen-I
Shaheen-I 
Tes senjata Pakistan dinyatakan berhasil. Uji peluncuran rudal dilakukan oleh Komando Pasukan Strategis Angkatan Darat (ASFC) untuk memastikan kemampuan "pencegahan minimum yang kredibel".
Shaheen-I adalah rudal balistik jarak pendek berbahan bakar padat. Misil ini memiliki jangkauan 650km dan telah beroperasi di Pakistan sejak 2003.
Misil tersebut dapat membawa hulu ledak konvensional atau pun nuklir dan biasanya menggunakan peluncur seluler sebagai platform.
India sebelumnya menunjukkan kemampuan nuklirnya sendiri dengan meluncurkan rudal balistik Agni-II selama latihan malam hari pada akhir pekan lalu. Ini adalah rudal balistik jarak menengah yang kira-kira sebanding dengan Shaheen-II Pakistan.
Uji coba rudal itu dilakukan ketika ketegangan yang berlangsung selama satu dekade terus meningkat antara India dan Pakistan.
Langkah New Delhi bulan Agustus dengan menghapus status otonomi wilayah Kashmir dikritik keras oleh Islamabad. Sebelumnya pada bulan Februari, kedua negara terlibat pertempuran udara singkat.
Mantan duta besar Inggris untuk PBB Sir Mark Lyall Grant memperingatkan ada risiko nyata dari perang militer habis-habisan antara kedua negara bersenjata nuklir tersebut.
"Konflik itu akan memiliki implikasi keamanan nasional bagi Inggris," katanya. "Inggris memiliki "tanggung jawab khusus dalam membantu menyelesaikan krisis," ujarnya.
Menulis di Forbes, yang dikutip Selasa (19/11/2019), Sir Mark Lyall Grant memperingatkan tentang risiko konflik yang meningkat menjadi konflik militer, yang dapat menelan biaya hingga £20 miliar.
"Setelah pertikaian militer pada 2001-2002, Pemerintah Inggris memperkirakan bahwa konflik nuklir antara India dan Pakistan dapat menelan biaya Inggris hingga £20 miliar, sebagai akibat dari ancaman terhadap warga negara Inggris di kawasan itu, peningkatan tekanan migrasi, kehilangan peluang bisnis dan biaya kemanusiaan dan rekonstruksi," tulis dia.

Airbus Sukses Uji Terbang Perdana Purwarupa Drone Helikopter VSR700


Sebuah purwarupa dari pesawat nirawak berhasil menyelesaikan penerbangan pertamanya. Uji coba dilakukan di sebuah pusat pengujian drone di Aix-en-Provence, Prancis Selatan.
Pengujian terbang ini dilakukan beberapa kali. Tercatat waktu terlama terbang ditempuh dalam waktu 10 menit.
Drone Helikopter VSR700
Drone Helikopter VSR700 
Dengan bentuk yang terinspirasi dari helikopter Guimbal Cabri G2, purwarupa VSR700 Unmanned Aerial System (UAS) ini dirancang sebagai drone berat yang bertugas bersama kapal perang angkatan laut. Perangkat memiliki peran Intelligence, Surveillance Targeting, and Reconnaissance (ISTAR).
Selain itu, mengutip laman New Atlas, Selasa (19/10/2019), pesawat nirawak ini juga akan digunakan untuk Anti-Submarine Warfare (ASW), Anti-Surface Warfare (ASuW), Search and Rescue (SAR), dan keamanan maritim lainnya.
Helikopter otonom berbahan bakar diesel dan jet ini memiliki panjang 6,2 meter (20 kaki). Ukuranya dianggap pas dengan kapal perang seperti ukuran Fregat. Dengan muatan penuh, drone dapat beropersi hingga delapan jam.
Muatan yang ditampungnya mencakup sensor, amunisi, dan peralatan penyelamat. Helikopter ini memiliki kecepatan maksimum 80 km/jam (50 mph) dan dapat terbang hingga ketinggian 6.000 meter (1.700 kaki).
Bruno Even, CEO Airbus Helicopters mengatakan, VSR700 merupakan kendaraan yang sepenuhnya tidak berawak. Perakitannya memanfaatkan pengalaman yang dimiliki Airbus Helicopters mengenai sistem autopilot yang canggih, serta keahlian teknik lain untuk memberikan kemampuan baru kepada militer moderen.
"Penerbangan pertama prototipe VSR700 ini merupakan langkah utama bagi program ini. Kami membuat kemajuan yang signifikan agar Angkatan Laut Perancis dapat mencobanya pada 2021 dalam kemitraan Naval Group" pungkas Even. (Fikri Kurniawan)

TNI AU dan TUDM Gelar Latma Elang Malindo di Butterworth


TNI AU dan TUDM (Tentera Udara Diraja Malaysia) menggelar Latma (Latihan Bersama) dengan sandi Elang Malindo 27/2019. Latihan dibuka secara resmi oleh dalam sebuah upacara oleh Exercise Director Latma Elang Malindo Kolonel Yusri bin Jamari dari TUDM didampingi Paban lll/ Lat Sopsau Kolonel Pnb Danang Setyabudi, dari TNI AU, di Auditorium Skadron Udara 18 Pangkalan Udara Butterworth Pulau Penang Malaysia, Selasa (19/11/2019).
Latma Elang Malindo 27/2019
Latma Elang Malindo 27/2019 
Kolonel Yusri bin Jamari dalam sambutannya mengatakan, latihan kali ini diharapkan dapat mencapai obyektif latihan yang telah direncanakan. Konsep latihan FMX (Full Mission Exercise)/AMX (Actual Mission Exercise) bertema convensional warware dengan melibatkan penerbangan taktikal.
Sementara Kolonel Pnb Danang Setyabudi menyatakan, latihan mempunyai nilai strategis bagi TNI AU dan TUDM.
“Latihan sebagai sarana menjalin kerjasama untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme personel kedua angkatan udara” ukar Paban III/Lat Sopsau.
Kepada peserta latihan, Kolonel Yusri bin Jamari dan Kolonel Pnb. Danang Setyabudi menekankan, latihan tetap memperhatikan keselamatan terbang dan kerja, mematuhi prosedur yang telah disepakati dan selalu memegang teguh tujuan latihan.
Latihan yang melibatkan ratusan personel kedua Angkatan Udara akan berlangsung sampai 27 November 2019. Latihan telah dilaksanakan antara TNI AU dan TUDM sejak tahun 1975.
Untuk latuhan ini melibatkan 10 pesawat Hawk, yang terdiri 5 pesawat Hawk TNI AU dan 5 pesawat Hawk TUDM.
Dari TNI AU melibatkan 3 pesawat Hawk 100/200 Skadron Udara 12 Wing 6 Lanud Rusmin Nurjadin Pekanbaru serta 2 pesaaat Skadron Udara 1 Wing 7 Lanud Supadio Pontianak.
Sementara TUDM melibatkan 3 pesawat Hawk 108 Skadron 15 Pangkalan Udara Butterworth dan 2 pesawat Hawk 208 Skadron Udara 6 Pangkalan Udara Labuan.
TNI AU dan TUDM Gelar Latma Elang Malindo di Butterworth
Hadir dalam upacara pembukaan, Komandan Lanud Butterworth Brigjen Rozaini bin Ahmad Rapiee, Kolat Latihan dan seluruh pelaku dan pendukung latihan.(Dispenau)

Jaga keamanan laut, KRI Multatuli-561 kunjungi perairan Kota Kendari


Dalam rangka Operasi Perairan Wilayah Timur untuk menjaga stabilitas keamanan di laut, KRI Multatuli-561 kunjungi perairan Sulawesi Tenggara khususnya di wilayah Kota Kendari.
KRI Multatuli-561
KRI Multatuli-561  
Komandan Lanal Kendari Kolonel Laut (P) I Putu Darjatna beserta perwira Staf Lanal Kendari, menyambut kedatangan KRI Multatuli-561 di Dermaga Bungkutoko Kota Kendari dengan Komandan KRI Kolonel Laut (P) Rizky Hariastoto dalam rangka Operasi Perairan Wilayah Timur Pengamanan ALKI II, Selasa.
"Dimana, operasi pengamanan ALKI II bertujuan untuk memelihara dan meningkatkan stabilitas keamanan di laut dan meningkatkan eksistensi serta kewibawaan TNI AL, selaku penegak kedaulatan dan hukum di laut khususnya di jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II" kata Kolonel Laut (P) I Putu Darjatna, di Kendari.
Sehingga Komando Armada II, menggelar Operasi Pam ALKI II tahun 2019 di wilayah perairan Yurisdiksi Nasional, khususnya kawasan Indonesia Timur termasuk Perairan Sulawesi Tenggara.
"Penegakan kedaulatan dan hukum di wilayah perairan yurisdiksi nasional kawasan timur Indonesia, merupakan tanggung jawab Koarmada II bersama komponen aparatur negara lainnya, dalam melaksanakan tugas pokok yang diamanahkan oleh negara dan bangsa" katanya.
Bahkan KRI Multatuli-561, katanya, juga bertugas mendukung logistik Kapal Selam TNI AL, yang sedang melaksanakan tugas operasi di Perairan Sultra dalam memberikan informasi Intelijen, guna menindak tegas segala bentuk pelanggaran di laut, baik secara hukum nasional maupun internasional.
"Pangkalan TNI AL Kendari siap memberikan pelayanan maksimal bagi kelancaran Operasi KRI Multatuli-561 selama berada di Kendari" ujarnya.(Muhammad Harianto)

Iran: Amerika Serikat - Israel Penghambat Timur Tengah Bebas Nuklir


Duta Besar Iran untuk PBB, Majid Takht-Ravanchi mengatakan perlunya untuk memulai pembentukan zona Timur Tengah yang bebas dari senjata nuklir. Dia juga mengatakan, Amerika Serikat (AS) dan Israel adalah hambatan utama untuk pembentukan zona seperti itu.
Majid Takht-Ravanchi
Majid Takht-Ravanchi  
Di Timur Tengah, Takht-Ravanchi mencatat, senjata pemusnah massal rezim Israel yang didukung oleh AS dan keengganan untuk terlibat dalam Konferensi tentang pembentukan Zona Timur Tengah yang Bebas Senjata Nuklir dan Senjata Pemusnah Massal Lainnya, adalah dua kendala utama dalam realisasi gagasan membangun zona seperti itu di Timur Tengah.
"Kebijakan dan tindakan mereka yang tidak bertanggung jawab untuk memperbanyak senjata pemusnah massal seharusnya tidak diterima masyarakat internasional," ucap Ravanchi dalam pertemuan di kantor PBB di New York tersebut, seperti dilansir PressTV pada Selasa (19/11/2019).
Dia lebih jauh menyoroti pentingnya mencapai perdamaian dan keamanan internasional melalui penghapusan ketiga jenis senjata pemusnah massal, yaitu senjata nuklir, kimia, dan biologi.
Namun, ia menyebut, untuk mencapai tujuan mulia ini, negara-negara regional serta negara-negara yang memiliki senjata nuklir harus mau terlibat dalam negosiasi yang bermakna dan menyetujui dan menghormati kewajiban khusus.
Dia juga menegaskan kembali bahwa senjata pemusnah massal tidak memiliki tempat dalam doktrin pertahanan nasional Iran. "Posisi terkenal Iran adalah penghilangan total atas senjata-senjata yang tidak manusiawi ini, tidak dapat dibalikkan dan dapat diverifikasi," katanya.
"Kebijakan ini berasal dari kepercayaan Islam kita, perhitungan rasional kepentingan nasional kita dan wilayah itu serta pengalaman pahit menjadi korban utama dari serangan kimia paling sistematis dalam sejarah kontemporer," tukasnya. (Victor Maulana)

Kontrak Pengadaan Radar Pertahanan Medium Range Ditandatangani di Thailand


PT Len Industri (Persero) dan Leonardo S.p.A. asal Italia menandatangani kontrak pengadaan Radar Pertahanan Medium Range pada hari Selasa (19/11/2019) di Bangkok dalam ajang Defence & Security 2019.
Kontrak Pengadaan Radar Pertahanan Medium Range
Kontrak Pengadaan Radar Pertahanan Medium Range 
Menurut Manajer Komunikasi Korporasi PT Len Industri (Persero) Rastina Anggraeni di Bandung, Selasa (19/11/2019) penandatanganan dilakukan oleh Direktur Operasi II PT Len Industri, Adi Sufiadi Yusuf dan Direktur Pemasaran dan Penjualan Leonardo Electronics, Davide Fazio.
Radar Pertahanan Medium Range RAT 31 DL/M akan memperkuat sistem pertahanan udara wilayah NKRI di bawah operasi TNI AU. Radar ini akan dipasang di Satuan Radar 221 TNI AU, Ngliyep, Malang, Jawa Timur sebanyak 1 unit.
Adi dalam keterangan resminya mengatakan, “Len akan suplai komponen lokal, mengerjakan infrastrukturnya, dan expert training. Tapi untuk program ke depan kita merencanakan untuk joint production radar di Indonesia. Kita sepenuhnya akan di-training pemeliharaan radar atau maintenance sehingga pemeliharaan radar nanti bisa dilaksanakan langsung oleh PT Len Industri selaku industri pertahanan dalam negeri.”
“Len sebenarnya sudah memiliki produk sendiri radar 2D, namun untuk yang 3D kita masih dalam tahap pengembangan. Makanya sekarang kita bekerjasama dengan Leonardo. Pendanaan kontraknya dari pinjaman dalam negeri Kementerian Pertahanan RI sebesar Rp 375 milyar. Dan radar akan mulai beroperasi di awal 2022 nanti di Satuan Radar 221 TNI AU, Ngliyep, Malang,” ujar Adi.
Radar Medium Range ini tergolong Radar 3 Dimensi atau 3D (Range, Azimuth, Height) dengan kemampuan surveillance (pengawasan/penjagaan) dan memiliki jangkauan hingga 400 km serta ketinggian 30.000 kaki.
Lini bisnis elektronika pertahanan sendiri terus tumbuh dari sisi pendapatan perusahaan. Len diperkirakan akan mencatat sales sebesar Rp.1,88 triliun dari lini bisnis ini di tahun 2019, jauh lebih besar dari tahun sebelumnya sebesar Rp.524 milyar. Hal tersebut seiring dengan keinginan Pemerintah RI yang ingin lebih melibatkan para industri pertahanan dalam negeri dalam pengadaan alutsista.
PT Len industri yang tergabung dalam BUMN klaster NDHI (National Defence & Hitech Industry) tengah mengikuti pameran pertahanan Defence & Security 2019 di Thailand. Selain Len, mereka adalah Dirgantara Indonesia, Pindad, Dahanan, dan PAL Indonesia. Ajang tersebut digelar selama empat hari dari tanggal 18 hingga 21 November di Bangkok.
“Kita di Thailand pada ajang Defence & Security 2019 dalam rangka menawarkan produk pertahanan kita juga, antara lain radio taktikal. Ini salah satu langkah kita go global di lini bisnis elektronika pertahanan setelah sebelumnya di bidang transportasi perkeretaapian,” pungkas Adi.*

Beli Jet Tempur Su-35 Rusia, Mesir Terancam Sanksi AS


Amerika Serikat mengancam akan menjatuhkan sanksi ke Mesir jika mereka memutuskan membeli jet tempur Su-35 dari Rusia.
Hal itu disampaikan asisten sekretaris Kementerian Pertahanan, R. Clarke Cooper ketika ditemui di acara Dubai Airshow pada Senin (18/11).
Jet Tempur Su-35 Rusia
Jet Tempur Su-35 Rusia 
Dikutip Associated Press, Cooper menuturkan, selain sanksi, rencana pembelian pesawat jet tempur Su-35 produksi Rusia dapat membuat Mesir kehilangan akuisisi di masa depan.
Pejabat militer Mesir mengatakan negaranya ingin membeli Su-35 untuk membantu militer dalam memerangi pemberontakan Islam di Semenanjung Sinai yang sudah terjadi selama bertahun-tahun.
Hal itu diputuskan Mesir setelah Amerika Serikat tidak menanggapi permintaan pembelian 24 jet tempur F-35, satu tahun lalu.
Kesepakatan dengan Rusia tersebut ditujukan untuk memperluas jaringan pemasok senjata bagi Mesir. Sebab, selama beberapa tahun terakhir bantuan militer dari AS dihentikan karena kekhawatiran pelanggaran hak asasi manusia.
Mesir sendiri merupakan salah satu penerima bantuan militer terbesar dari AS di luar Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Akan tetapi, belakangan ini Mesir beralih meminta bantuan militer kepada Rusia.
Pada 2017, Mesir mengizinkan pasukan militer Rusia untuk menggunakan pangkalan udaranya. Terbaru pada bulan ini, pasukan angkatan udara Mesir dan Rusia melakukan latihan bersama. (fls/dea)

Indonesia Tolak Perubahan Kebijakan AS Soal Permukiman Tepi Barat


Indonesia menyatakan menolak perubahan posisi Amerika Serikat (AS) mengenai permukiman Israel di kawasan Tepi Barat. Washington kini menganggap permukiman di tanah Palestina yang diduduki rezim Zionis itu sesuai hukum internasional.
Permukiman Tepi Barat
Permukiman Tepi Barat 
Kementerian Luar Negeri Indonesia, dalam siaran pers yang diterima Sindonews pada Selasa (19/11/2019), menuturkan bahwa perubahan posisi AS tersebut tidak sejalan dengan hukum internasional dan resolusi PBB.
"Indonesia menolak secara tegas pernyataan AS bahwa pembangunan pemukiman Israel di Tepi Barat tidak bertentangan dengan hukum internasional. Pernyataan ini jelas-jelas bertentangan dengan hukum internasional dan resolusi DK PBB terkait," ucapnya.
"Indonesia secara konsisten menentang tindakan Israel membangun pemukiman ilegal di wilayah Palestina. Pembangunan pemukiman ilegal merupakan de facto aneksasi dan menjadi penghalang upaya perdamaian berdasar solusi dua negara," sambungnya.
Dalam pernyataanya, Indonesia kemudian mendesak masyarakat internasional bersatu untuk terus memberikan dukungan bagi perjuangan rakyat Palestina.
Sebelumnya, Kecaman juga disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu dan Liga Arab. Di mana, Cavusoglu menyebut tidak ada negara, termasuk di dalamnya AS yang berada di atas hukum internasional dan pengumuman yang disampaikan Mike Pompeo tidak sah.
"Tidak ada negara di atas hukum internasional. Pernyataan gaya Faitli tidak akan memiliki keabsahan sehubungan dengan hukum internasional," kata Cavusoglu.
Sementara itu, pemimpin Liga Arab, Ahmed Aboul Gheit menyebut bahwa perubahan posisi tersebut adalah perkembangan yang buruk. Dia kemudian menegaskan, bahwa AS bukanlah pihak yang menentukan dan membentuk hukum internasional. (Victor Maulana)

Malaysia akan Segera Luncurkan Pengadaan LCA/FLIT Secara Resmi


Malaysia dalam waktu dekat diperkirakan akan secara resmi meluncurkan upaya pengadaan untuk light combat aircraft/fighter lead-in trainer (LCA/FLIT) untuk mengganti sejumlah jenis platform yang ada saat ini.
Program Light Combat Aircraft Malaysia
Program Light Combat Aircraft Malaysia 
Pada 14 November, seorang pejabat mengatakan bahwa rencana Angkatan Udara Kerajaan Malaysia (RMAF) untuk mendapatkan hingga 36 LCA dengan opsi tambahan 26 telah diijinkan, dan bahwa persetujuan pemerintah sekarang diperkirakan akan turun dalam kuartal pertama tahun 2020.
Sebuah slide briefing yang disajikan oleh pejabat tersebut menunjukkan delapan pesawat kandidat untuk menggantikan armada BAE Systems Hawk, MiG-29, dan Aermacchi MB339 RMAF dan untuk menambah kekuatan Boeing F/A-18 Hornet dan Sukhoi Su-30 sebelum pada akhirnya pesawat-pesawat itu digantikan oleh tipe yang berbeda juga.
Untuk persyaratan LCA, jenis pesawat yang dipertimbangkan adalah Korean Aerospace Industries (KAI) FA-50 Fighting Eagle; Hindustan Aeronautics Limited (HAL) Tejas; Leonardo M-346; Aero Vodochody L-39NG; CAC L-15A/B; CAC/PAC JF-17; Saab Gripen; dan Yakovlev Yak-130.
Dalam hal persyaratan LCA, pejabat tersebut menekankan bahwa platform yang dipilih harus dapat melakukan misi tempur udara-ke-udara dan udara-ke-darat secara efektif, dengan kemampuan serang maritim di masa depan; bahwa ia juga harus mampu melakukan operasi anti pemberontakan; serta "layak secara ekonomi"; dan cukup dibeli untuk dapat melakukan operasi di dua teater secara bersamaan, dan dalam waktu yang sangat singkat.(Gareth Jennings).(Angga Saja-TSM)
Sumber : janes.com

Dibeli Nepal, Pesawat CN-235-220 Buatan RI Terbang di Langit Himalaya


Pesawat CN-235-220 buatan PT Dirgantara Indonesia resmi terbang di langit Himalaya, Nepal, Selasa (19/11/2019), setelah dilakukan Final Acceptance Flight dari Pemerintah Republik Indonesia (RI) kepada pihak Angkatan Darat Nepal (Nepalese Army).
CN-235-220 Buatan RI Terbang di Langit Himalaya
CN-235-220 Buatan RI Terbang di Langit Himalaya 
Duta Besar (Dubes) RI untuk Bangladesh "yang wilayah akreditasinya juga merangkap Nepal" Rina P Soemarno mewakili Pemerintah Indonesia dalam upacara serah terima tersebut. Sedangkan dari pihak Angkatan Darat Nepal diwakili oleh Brigadir Jenderal Kumar Rayamajhi, Chief of Army Aviation.
Ini adalah kali pertama PT Dirgantara Indonesia mengekspor pesawat ke Nepal setelah penandatanganan kontrak pengadaan satu unit pesawat military transport tersebut pada 16 Juni 2017.
"Ekspor pesawat CN-235-220 ke Nepal ini diharapkan terus berlanjut"€ kata Dubes Rina. "Keberhasilan ekspor pesawat CN-235-220 ini menjadi bukti bahwa potensi pasar non-tradisional Nepal, khususnya untuk industri strategis Indonesia, sangat besar," katanya lagi, dalam keterangan pers KBRI Dhaka yang diterima .
Pesawat CN-235-220 yang akan digunakan oleh Angkatan Darat Nepal ini sangat istimewa karena memiliki lima konfigurasi yang dapat diubah dalam waktu singkat, yaitu konfigurasi untuk pengangkutan pasukan atau penerjun payung, konfigurasi untuk VIP, konfigurasi untuk evakuasi medis, pesawat penumpang, dan kargo.
Pesawat multiguna ini juga sangat cocok untuk digunakan di Nepal yang memiliki kontur geografi pegunungan.
Sebelum serah terima pesawat kepada Angkatan Darat Nepal, terlebih dahulu dilakukan proses flight-training oleh pilot Indonesia kepada pilot Angkatan Darat Nepal yang dipimpin oleh Kapten Esther Gayatri Saleh sebagai test pilot in command dan flight instructor.
Pesawat CN-235-220 yang telah tiba di Nepal sejak 2 November 2019 lalu ini juga telah melalui serangkaian proses post-delivery inspection sebelum diserahterimakan secara resmi kepada pihak Angkatan Darat Nepal.
"Keberhasilan ekspor pesawat CN-235-220 buatan PT Dirgantara Indonesia ini diharapkan dapat mendorong BUMN lain di Indonesia untuk dapat melirik potensi pasar Nepal," ujar Dubes Rina.
Nepal saat ini sedang gencar melakukan pembangunan di berbagai bidang, antara lain infrastruktur jalan, kereta api, pembangunan bandara internasional baru, dan berbagai proyek infrastruktur untuk pariwisata. "Ini adalah kesempatan yang sangat baik untuk dimanfaatkan oleh BUMN Indonesia, karena jika Indonesia terlambat masuk ke pasar Nepal sekarang, maka kompetisi untuk masuk pasar Nepal akan lebih berat di masa yang akan datang," imbuh diplomat senior Indonesia tersebut.
Lebih lanjut, Rina mengatakan bahwa KBRI Dhaka terus mendorong upaya penetrasi produk Indonesia untuk masuk ke pasar Nepal melalui penguatan diplomasi ekonomi.
"Sebelumnya pada awal November 2019 lalu, KBRI Dhaka membawa delegasi dari BUMN untuk bertemu dengan Menteri Perindustrian, Perdagangan, dan Pengadaan Nepal serta Kepala Badan Investasi Nepal guna melihat potensi pasar dan investasi Indonesia di berbagai proyek strategis pembangunan yang tengah dilakukan oleh Pemerintah Nepal," paparnya. (Muhaimin)

DSEI Japan 2019: MHI Tampilkan Demonstrator APC untuk Pengganti Type 96


Perusahaan Jepang Mitsubishi Heavy Industries (MHI) meluncurkan demonstrator kendaraan lapis baja 8x8 pengangkut personel (APC) di pameran pertahanan DSEI Japan 2019 tanggal 18-20 November di Chiba.
APC Mitsubishi Heavy Industries
APC Mitsubishi Heavy Industries 
Kendaraan demonstrator dengan panjang 8 m dan lebar 2,8 m akan digunakan sebagai dasar untuk kendaraan Mitsubishi Armored Vehicle yang akan bersaing dengan Armoured Modular Vehicle Patria (Finlandia) dan Light Armored Vehicle (LAV) 6.0 GDLS (AS) dalam serangkaian uji coba yang bertujuan untuk menemukan pengganti untuk kendaraan APC Type 96 8x8 Pasukan Bela Diri Darat Jepang (JGSDF).
Mitsubishi Armored Vehicle MHI, yang akan memiliki tinggi sekitar 2,2 m dan memiliki berat kotor 28 ton, diperkirakan akan dioperasikan oleh dua awak dan mampu mengangkut setidaknya sembilan pasukan dengan peralatan tempur lengkap, tergantung pada kebutuhan, menurut pihak MHI.
Ditenagai oleh mesin diesel 4MA 4-silinder buatan Mitsubishi yang mampu menghasilkan daya lebih dari 400 kW, platform all-wheel-drive, yang akan menampilkan sistem suspensi independen, diperkirakan akan mencapai kecepatan tertinggi lebih dari 100 km/jam.
Seorang pejabat perusahaan MHI mengatakan kepada Jane bahwa demonstrator Mitsubishi Armored Vehicle, model yang pertama kali ditampilkan di pameran pertahanan Eurosatory 2014 di Paris, dimaksudkan untuk menunjukkan mobilitas dan kemampuan bertahan platform tersebut, dimana daya tahannya dapat ditingkatkan dengan penambahan add-on armour seperti explosive reactive, slat armour, dan/atau armour anti-ranjau. 
Kendaraan tersebut juga dapat dilengkapi dengan kursi perlindungan ranjau untuk awak dan penumpang kendaraan dan remote weapon system, meskipun belum ada rincian yang diberikan mengenai hal ini.
Mitsubishi Armored Vehicle, yang memiliki bobot kosong sekitar 18 ton, juga akan ditawarkan dalam varian lain, termasuk versi medevac (evakuasi medis) dan versi komando-dan-pengandalian.(Angga Saja-TSM)
Sumber : janes.com

Amnesty International Minta Jerman Berhenti Dukung Militer China


"Terkait situasi saat ini di Hong Kong, pemerintah Jerman harus mengirimkan sinyal jelas dan segera menghentikan semua bentuk kerja sama militer, " kata Matthias John, pakar bidang persenjataan dan hak asasi manusia di Amnesty International kepada tabloid Jerman Bild.
Militer China
Militer China 
Mengutip dari dokumen Kementerian Pertahanan Jerman, Bild melaporkan, bahwa 11 tentara Cina akan mendapatkan "pelatihan superior" atau pelatihan logistik. Selain itu seorang anggota angkatan bersenjata akan diberikan pelatihan dalam bidang "pers dan hubungan masyarakat".
Seorang juru bicara kementerian pertahanan Jerman mengatakan, tentara Cina secara berkala ikut serta dalam acara-acara pendidikan yang diselenggarakan oleh militer Jerman. Ini termasuk kursus-kursus yang diadakan di sekolah dan universitas militer, serta akademi-akademi kepemimpinan militer. "Tujuan kami adalah untuk berbagi nilai-nilai demokratis kami dengan warga negara lainnya," ujar juru bicara.
Tentara Cina turun ke jalan di Hong Kong
Tentara Pembebasan Rakyat Cina (PLA) muncul di Hong Kong Sabtu lalu (16/11). Tentara yang mengenakan seragam sederhana ini meninggalkan baraknya di Kowloon untuk membantu membersihkan puing-puing dari fasilitas umum yang rusak pada aksi protes.
Ini adalah aksi simbolis yang jarang terjadi. Terakhir kali tentara PLA meninggalkan baraknya untuk melaksanakan tugas di Hong Kong adalah ketika Hong Kong dilanda bencana alam Taifun Mangkhut pada tahun 2018. Sejak protes pertama kali dimulai, tentara PLA tidak pernah sekalipun ditugaskan keluar dari barak mereka. Aksi Sabtu lalu membuat warga di Hong Kong gelisah.
Aktivis HAM Hong Kong Joshua Wong mengatakan, "ini membuat saya marah, bahwa Bundeswehr membantu melatih tentara Cina. Mengingat kerusuhan yang terjadi di Hong Kong, kementerian pertahanan seharusnya sudah menghentikan program ini dari dulu."
Joshua Wong juga mengatakan, bahwa pasukan keamanan Hong Kong menggunakan "water canon buatan Jerman" dalam menindak demonstran anti pemerintah. "Kapan mereka akhirnya akan menghentikan ekspor ini?" tanya Wong.
Dalam beberapa bulan terakhir Joshua Wong telah mengunjungi sejumlah negara untuk mengumpulkan dukungan luar negeri untuk seruannya. September lalu Wong bertemu dengan menteri luar negeri Jerman Heiko Maas, dan setelahnya pemerintah Cina dengan marah bertemu dengan duta besar Jerman untuk Cina.
Dalam sebuah wawancara dengan koran Jerman Sddeutsche Zeitung, Wong membenarkan penggunaan kekerasan oleh para demonstran anti pemerintah Hong Kong melawan polisi. "Kami tidak akan meraih tujuan kami hanya dengan protes-protes damai, ataupun hanya dengan kekerasan. Kami butuh keduanya," katanya.
Kritik dari dalam Jerman
Politisi dari Partai Hijau Jerman juga mengkritik pelatihan tentara Cina oleh Jerman. "Situasi hak asasi manusia di Cina merupakan bencana besar," kata juru bicara Partai Hijau Margarete Bause dan Tobias Lindner. "Di provinsi Xianjing, jutaan orang menjadi korban pengawasan dan tindak penindasan yang kejam. Ini adalah kejahatan melawan kemanusiaan, kalau bukan genosida"
Kedua juru bicara juga mengacu kepada situasi di Hong Kong, dimana politisi tinggi Carrie Lam menyatakan bahwa kemungkinan intervensi militer oleh Beijing tidak bisa dikesampingkan di tengah-tengah protes pro demokrasi yang berjalan.
"Dalam situasi seperti ini, sangatlah tidak bertanggung jawab jika Bundeswehr terus melatih tentara Cina," kata Partai Hijau Jerman.(ag/vlz)(afp, dpa, KNA)

Wakasad Tinjau Kesiapan AARM-29/2019


Sarana dan fasilitas maupun kesiapan personel pendukung Lomba Tembak Antar Angkatan Darat negara-negara ASEAN atau ASEAN Armies Rifle Meet ke-29 (AARM-29) tahun 2019 diharapkan telah siap seluruhnya pada saat pelaksanaan lomba dimulai.
Wakasad Tinjau Kesiapan AARM-29/2019
Wakasad Tinjau Kesiapan AARM-29/2019 
Hal tersebut disampaikan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen TNI Tatang Sulaiman, Senin (18/11/2019), saat meninjau kesiapan TNI Angkatan Darat sebagai tuan rumah pada penyelenggaraan Lomba Tembak AARM 29/2019 di Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif) Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif), Cipatat, Jawa Barat.
Pada peninjauan kesiapan lomba tembak tersebut, Wakasad didampingi Komandan Pusssenif Mayjen TNI Teguh Pudjo Rumekso beserta para pejabat TNI AD.
Peninjauan dimulai dari lokasi penyelenggaraan, sarana dan fasilitas lapangan tembak Pusdikif, Pussenif yang akan digunakan, termasuk meninjau kesiapan sarana prasarana pendukung lainnya serta kesiapan upacara pembukaan Lomba Tembak.
“Saya berharap seluruh sarana dan fasilitas yang akan digunakan pada lomba tembak AARM 29/2019 ini sudah siap pakai. Cek kembali, jangan sampai terjadi permasalahan saat lomba, pastikan semuanya berjalan sesuai yang direncanakan,” tutur Wakasad.
Lebih lanjut Wakasad menekankan faktor keamanan bagi seluruh atlet yang berlomba termasuk personel yang terlibat dalam mendukung kegiatan ini.
“Utamakan faktor keamanan dan keselamatan bagi seluruh peserta maupun pendukung yang terlibat. Harapan kita bersama, kita dapat menjadi tuan rumah yang baik dan sukses dalam penyelenggaraan lomba tembak ini, berikan kesan positif bagi para delegasi yang hadir,” imbuhnya.
Rencananya, AARM-29 akan dibuka pada Rabu (20/11/2019) dan akan dilaksanakan hingga 26 November mendatang. Lomba yang mengambil tema Together We Can_tahun ini melibatkan Angkatan Darat 10 negara ASEAN, yakni Indonesia, Brunei, Camboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Philiphina, Singapura, Thailand dan Vietnam, serta menurunkan 330 personel, yang terdiri dari atlet dan ofisial.
Sedangkan materi lomba meliputi menembak Pistol Putra dan Putri, Senjata Otomatis (SO), Karaben serta Senapan dengan format baru yang berbeda dari lomba sebelumnya, yakni lebih bersifat eksibisi untuk membangun semangat kerja sama guna mempererat jalinan persaudaraan sesama anggota ASEAN.
Sebagai informasi, para peserta AARM-29 seluruhnya telah tiba di Bandung sejak 14 November lalu. Berbagai aktivitas menjelang pembukaan lomba juga dilakukan sebagai uji coba pengenalan lapangan maupun latihan ringan untuk mempertajam kemampuan para petembak. (Dispenad)

Kisah Jet Tempur Canggih AS XF-103 Thunderwarrior, yang Layu Sebelum Terbang


Amerika Serikat pernah nyaris memiliki jet tempur canggih XF-103 yang desainnya mirip dengan roket dan rudal penjelajah. Pesawat itu didesain untuk mencegat pesawat supersonik dan menghancurkan pembom nuklir milik Rusia.
XF-103 Thunderwarrior
XF-103 Thunderwarrior 
Sebelumnya, AS memiliki pesawat tempur yang ada seperti F-86 Sabre, tapi dianggap terlalu lambat untuk memenuhi ancaman itu. Sehingga pada 1949, Angkatan Udara AS mengajukan permintaan untuk pesawat terbaru, demikian dilaporkan laman National Interest, beberapa waktu lalu.
Menunjuk proyek Interceptor 1954 untuk menandai masuknya layanan, Angkatan Udara menerima sembilan proposal, di mana tiga dipilih untuk pengembangan pendahuluan. Convair dengan desain yang kemudian menjadi F-102 Delta Dagger, Lockheed dengan pesawat yang kemudian menjadi F-104 Starfighter, dan Republic Aircraft dengan AP-57, kemudian berganti nama menjadi XF-103.
Dari tiga desain, XF-103 adalah yang paling canggih dan diusulkan sebagai pesawat yang bisa terbang 2.600 mil per jam, lebih cepat dari tiga kali kecepatan suara, ke ketinggian 80.000 kaki. Pada awal 1950-an, ketika subsonik F-86 dan MiG-15 terbang di Korea dengan kecepatan beberapa ratus mil per jam, XF-103 tampak lebih mirip roket daripada pesawat terbang.
Bahkan gambar menunjukkan apa yang tampak seperti rudal jelajah. Untuk mencapai kecepatan setinggi itu, pesawat memiliki sistem propulsi ganda. Mesin turbojet Wright XJ-67 akan memberdayakan XF-103 saat lepas landas dan penerbangan normal.
Namun untuk kecepatan ekstra dan menangkap kawanan pembom Rusia seperti Badger, Bear, dan Bison, XF-103 dilengkapi dengan mesin ramjet. Ramjet pada dasarnya menyedot udara dari bagian depan pesawat, mencampurnya dengan bahan bakar, dan kemudian menembakkan campuran.
Ini adalah sistem sederhana, dengan kelemahan bahwa pesawat terbang atau roket harus sudah bergerak lebih cepat daripada Mach 1 agar udara dikompresi cukup untuk ramjet menelannya. Turbojet XF-103 akan mendorong pesawat ke kecepatan yang cukup untuk ramjet menendang.
XF-103 harusnya dipersenjatai radar jarak jauh, enam GAR-3 Falcon infrared atau rudal udara-ke-udara yang dipandu radar, ditambah tiga puluh enam roket udara-ke-udara 2,75 inci yang diarahkan ke udara. XF-103 harus dilengkapi dengan sistem ejeksi yang unik.
Jika kokpit kehilangan tekanan, perisai yang disimpan di bawah kursi akan naik, menutup pilot di pod bertekanan. Pilot bisa menerbangkan pesawat kembali menggunakan kontrol penerbangan dasar dan periskop, atau jika harus meninggalkan pesawat, pod akan diturunkan pada rel keluar dari bagian bawah badan pesawat dan kemudian dilepaskan.
Namun, XF-103 tidak pernah benar-benar berkembang melampaui mock-up. "Sudah jelas bahwa XF-103 terlalu berisiko untuk menjadi pesaing serius bagi proyek Interceptor 1954," kata penulis penerbangan Joe Baugher. Dan membuat Convair F-102 yang bersaing untuk semua tujuan praktis sebagai pemenang kontes, dan Angkatan Udara mulai kehilangan minat pada XF-103.
Penundaan yang terus menerus dan pembengkakan biaya menyebabkan program ini kemudian dikurangi menjadi hanya satu prototipe. Mesin Wright XJ67 mengalami lebih banyak penundaan dan akhirnya tidak pernah terwujud. Angkatan Udara akhirnya menyerah pada 21 Agustus 1957, membatalkan seluruh proyek pesawat tempur XF-103. (Moh Khory Alfarizi)

Ukraina Konfirmasi Tiga Kapal Angkatan Lautnya Dibebaskan Rusia


Militer Ukraina mengonfirmasi bahwa Rusia telah mengembalikan tiga kapal Angkatan Laut (AL) Ukraina yang ditangkap di Selat Kerch pada November 2018.
Pernyataan resmi dari Ukraina itu setelah Rusia mengumumkan langkahnya membebaskan tiga kapal tersebut. Pembebasan kapal itu sangat diinginkan Kiev sebelum konferensi tingkat tinggi (KTT) perdamaian Ukraina timur bulan depan di Paris.
Kapal AL Ukraina Dibebaskan Rusia
Kapal AL Ukraina Dibebaskan Rusia 
Penyerahan kembali kapal itu dilakukan di lepas pantai Crimea, Laut Hitam. Langkah tersebut telah dikonfirmasi oleh Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rusia dan Ukraina.
Rusia menyita tiga kapal itu di wilayah yang sama pada November tahun lalu setelah melepas tembakan ke arah mereka dan melukai beberapa pelaut. Moskow menuduh kapal itu secara ilegal masuk wilayah perairannya. Tiga kapal itu terdiri atas dua kapal artileri Ukraina berukuran kecil dan satu kapal tug.
Rusia memulangkan para pelaut yang telah berada di atas kapal itu ke Ukraina pada September lalu. Pemulangan para pelaut itu bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan.
Beberapa media Rusia melaporkan, kapal-kapal itu akan kembali ke Ukraina pada Senin (18/11) tanpa membawa amunisi dan dokumentasi.
"Moskow akan merespon keras di masa depan untuk provokasi maritim serupa dekat perbatasan," ungkap pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rusia.
Kemlu Ukraina menyatakan tiga kapal itu dalam pelayaran menuju pelabuhan Odessa. Kiev berencana membawa kasus itu ke panel arbitrasi internasional di Belanda karena tujuan awal tiga kapal itu damai dan sah secara hukum.
Meski ketegangan terus terjadi, penyerahan tiga kapal itu dapat membangun kepercayaan menjelang KTT Ukraina. Para pemimpin Prancis, Jerman, Rusia dan Ukraina akan bertemu di Paris pada 9 Desember untuk membuat resolusi damai pada konflik di Ukraina timur.
Lebih dari 13.000 orang telah tewas dalam konflik di Ukraina timur selama lima tahun antara separatis pro-Rusia dan pasukan pemerintah Ukraina. (Syarifudin)

Rusia akan Persenjatai Korvet Gremyashchiy dengan Rudal Hipersonik Tsirkon


Korvet terbaru Angkatan Laut Rusia Gremyashchiy (337) akan dipersenjatai dengan rudal anti-kapal hipersonik 3M22 Tsirkon, TASS melaporkan mengutip ucapan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Menurut laporan itu, Putin mengumumkan saat berada di atas kapal tersebut.
Korvet Gremyashchiy
Korvet Gremyashchiy  
RFS Gremyashchiy adalah kapal pertama Project 20385 kelas Gremyashchiy, korvet terbaru Angkatan Laut Rusia dan diperkirakan akan mulai beroperasi pada Armada Pasifik pada akhir 2019. Kapal ini dilengkapi dengan 8-sel Vertical Launching System (VLS) UKSK yang saat ini membawa rudal jelajah serang darat subsonik Kalibr.
VLS UKSK juga mampu membawa rudal Tsirkon yang canggih, menurut komandan kapal korvet tersebut, Captain 2nd Rank Roman Dovgailov. Roman Dovgailov.
3M22 Tsirkon / 3M22 Zircon (Циркон, nama kode NATO: SS-N-33) adalah rudal jelajah anti-kapal/serang darat berkemampuan manuver hipersonik dengan mesin scramjet yang dikembangkan oleh Rusia.
Rudal ini dikembangkan oleh NPO Mashinostroyeniya sebagai pengembangan lebih lanjut dari konsep HELA (Hypersonic Experimental Flying Vehicle) yang dipamerkan di MAKS Air Show 1995.
Tsirkon diyakini sebagai rudal jelajah bersayap dengan lift-generating center body. Tahap booster dengan mesin berbahan bakar padat mempercepatnya ke kecepatan supersonik, setelah itu motor scramjet pada tahap kedua mempercepatnya ke kecepatan hipersonik.
Tsirkon diklaim memiliki kecepatan terbang maksimum sekitar Mach 9 dan kemampuan jangkauan maksimum lebih dari 1.000 km. Rudal itu dapat mengenai sasaran laut dan darat yang membuatnya menjadi rudal anti-kapal (AShM) serta rudal jelajah serang darat (LACM).
Project 20385 kelas Gremyashchiy adalah pengembangan lanjutan dari korvet kelas Project 20380 Steregushchiy Angkatan Laut Rusia. Proyek lanjutan ini dirancang oleh Almaz Central Marine Design Bureau di Saint Petersburg dan kapal sedang dibangun di galangan kapal Severnaya Verf di St. Petersburg.
Kapal memiliki panjang 106,0 m, lebar 13 m, draft 5 m dan displacement 2.500 ton.
Kapal dilengkapi dengan meriam 100mm А190 multi-purpose naval gun, satu 8-cell UKSK Vertical Launching System (VLS), dua sistem VLS pertahanan udara Redut 8-sel, dua CIWS AK-630M 30mm, dua tabung torpedo quad 330mm dan dua Senapan Mesin Berat (HMG) MTPU pintle-mount 14,5mm. UKSK VLS dapat membawa 3M-54 Kalibr, P-800 Oniks, RPK-9 Medvedka atau rudal jelajah 3M22 Tsirkon.
Korvet serbaguna itu akan digunakan untuk mendeteksi dan melawan kapal selam dan kapal permukaan musuh, mendukung pendaratan pasukan, melindungi zona pantai dan mengawal kapal lain.
Kapal pertama dalam kelasnya, RFS Gremyashchiy dilakukan peletakkan lunasnya pada tanggal 26 Mei 2011, dan upacara peletakan resmi berlangsung pada tanggal 1 Februari 2012. Kapal ini diluncurkan pada tanggal 30 Juni 2017, dan diharapkan akan ditugaskan kedalam Armada Angkatan Laut Rusia pada akhir tahun ini.(Angga Saja-TSM)
Sumber : defpost.com

China Umumkan Kapal Induk Buatan Dalam Negeri Mereka Berlayar ke Selat Taiwan


China mengumumkan, kapal induk buatan dalam negeri pertama mereka sudah berlayar ke Selat Taiwan dalam rangkat "tes" rutin.
Kapal yang belum diberi nama itu bakal menjadi kapal induk kedua yang dimiliki Beijing, dan diyakini bakal semakin menambah dahsyat kekuatan angkatan lautnya.
Kapal Induk China Tipe 001A
Kapal Induk China Tipe 001A 
Kabar itu terjadi di tengah ketegangan yang dihadapi China dengan Taiwan, serta negara yang mengklaim wilayah Laut China Selatan.
Juru bicara AL Cheng Dewei berkata, kapal itu berlayar melewati perairan sensitif sebelum bertolak menuju Laut China Selatan.
Di sana, kapal induk itu melakukan latihan dan "tes penelitian ilmiah". "Itu latihan normal bagi kapal induk yang baru dibangun untuk melakukan perjalanan lintas regional," terangnya.
Cheng menegaskan tanpa mengelaborasi lebih lanjut, uji coba itu tidak menargetkan siapa pun, dan tidak ada hubungannya dengan situasi geopolitik terkini.
Dilaporkan AFP Senin (18/11/2019), uji coba tersebut terjadi di tengah persiapan Taiwan menggelar pemilihan presiden Januari mendatang.
Dalam kicauannya di Twitter Minggu (17/11/2019), Menteri Luar Negeri Taiwan Joeph Wu berujar Beijing hendak mengintervensi pemilu mereka.
"Para pemilih tidak akan terintimidasi," tegasnya. Kementerian pertahanan menyatakan, mereka sudah menyiagakan kapal dan pesawat untuk melakukan pengawasan.
Sementara Amerika Serikat (AS) dan Jepang juga mengerahkan armada laut mereka di sekitar kawasan Selat Taiwan, demikian keterangan Taipei.
China yang masih memandang Taiwan sebagai bagian mereka gencar menerapkan latihan militer sejak Presiden Tsai Ing-wen menjabat pada 2016.
Tsai sudah menyebut pemilu itu merupakan perjuangan kebebasan dan demokrasi Taiwan, dengan lawannya disebut mempunyai hubungan yang cair dengan Beijing.
Di saat bersamaan dengan pengumuman China mengerahkan kapalnya, Tsai mengumumkan bakal menggandeng William Lai, mantan perdana menteri yang menyebut diri "pekerja kemerdekaan".
Eric Hundman, asisten profesor ilmu politik di NYU Shanghai mengatakan, pelayaran kapal baru itu adalah upaya berkelanjutan Beijing menekan Taipei.
"Pilihan jalur pelayaran itu tak diragukan lagi disengaja, dan memberi pesan baik kepada Taiwan dan AS terkait kemampuan AL mereka," papar Hundman.
Kapal induk "Tipe 001A" diluncurkan pada 2017, dengan uji coba perdana kapal buatan dalam negeri itu dilakukan setahun setelahnya. Tetapi belum ada pengumuman kapan bakal ditugaskan.
Global Times yang mengutip sumber pakar militer menerangkan, kemungkinan kapal tersebut akan berlayar ke doknya di Pulau Hainan.
Sebelumnya Negeri "Panda" sudah mempunyai kapal induk pertama bernama Liaoning, kapal bekas Uni Soviet yang dibeli dari Ukraina, dan bertugas sejak 2012.
Lembaga think-tank AS memaparkan, sebuah citra satelit mengungkapkan China tengah membangun kapal induk ketiga dengan prosesnya disebut berjalan lancar.(Ardi Priyatno Utomo)

Rusia Bersiap Bangun Pabrik Senapan Legendaris Kalashnikov di Saudi


Pemimpin Rostec, Sergei Chemezov mengatakan, pembicaraan tentang membangun pabrik untuk memproduksi senapan Kalashnikov di Arab Saudi berada pada tahap akhir. Dia mengatakan, kedua pihak kini membahas rincian proyek ini.
Produk Kalashnikov AK-15
Produk Kalashnikov AK-15 
"Sekarang kami membahas rincian proyek ini. Pembicaraan tentang membangun pabrik pada pembuatan senapan Kalashnikov di Saudi sekarang berada pada tahap akhir," kata Chemezov, seperti dilansir Tass pada Senin (18/11/2019).
Sementara itu, Kepala Dinas Federal Rusia untuk Kerja Sama Teknis Militer, Dmitry Shugayev mengatakan, Rusia sedang dalam pembicaraan dengan Saudi mengenai produksi berlisensi senapan serbu AK-103. Menurutnya, beberapa negara Timur Tengah telah mengajukan permohonan pengiriman senapan AK-12 dan AK-15 canggih.
Sebelumnya, Rusia dan Saudi juga sedang mendiskusikan persyaratan untuk pengiriman sistem pertahanan rudal S-400 Moskow ke Kerajaan. Moskow dan Riyadh telah menandatangani kontrak pembelian senjata pertahanan canggih itu pada tahun 2017, namun pengiriman belum terealisasi.
"Sebuah kontrak ditandatangani dengan Arab Saudi untuk memasok sistem pertahanan udara S-400 Triumph pada 2017. Kami saat ini sedang mendiskusikan persyaratan yang memuaskan kedua belah pihak dengan mitra kami untuk mulai menerapkan kontrak ini," bunyi pernyataan Layanan Pers Kerja Sama Militer-Teknis Rusia.
Pernyataan itu juga menyatakan ada kemungkinan membuat sistem pertahanan udara nasional untuk Saudi menggunakan sistem Rusia lainnya. "Kami sedang mendiskusikan dengan Arab Saudi rencana awal untuk kemungkinan pengembangan sistem pertahanan udara nasional menggunakan sistem Rusia," imbuh pernyataan tersebut. (Victor Maulana)

UAV Orion-E Rusia Jatuh dalam Uji Terbang


Wahana udara tak berawak (UAV) Orion-E Rusia telah jatuh di dekat daerah perumahan sekitar Lapangan Terbang Protasovo di Wilayah Ryazan Rusia.
UAV Orion-E Rusia
UAV Orion-E Rusia 
Kronshtadt Group akan membantu menyelidiki kecelakaan unmanned combat aerial vehicle (UCAV) Orion di dekat daerah perumahan di Wilayah Ryazan Rusia, kata pihak perusahaan yang mengembangkan dan memproduksi drone tersebut, kepada TASS pada hari Sabtu (16/11).
“Penyelidikan atas kecelakaan di Wilayah Ryazan telah dilakukan. Grup Kronshtadt akan membantu dalam penyelidikan, ”kata seorang juru bicara.
Sebelumnya pada hari itu, Sergei Bubenev, seorang detektif kasus utama dari departemen investigasi transportasi Komite Investigasi Rusia, mengatakan kepada TASS bahwa pesawat tak berawak Orion jatuh di dekat daerah perumahan kota Listvyanka di Wilayah Ryazan.
Orion-E adalah kelas Medium Altitude Long Endurance (MALE) yang dikembangkan oleh Grup Kronstadt Rusia. UAV itu pertama kali diperkenalkan di Airshow MAKS 2017.
UAV memiliki rentang sayap 16 m, tinggi 3 m, dan panjang 8 m. Struktur dan cover pembawa beban dilaporkan terbuat dari bahan komposit.
UAV diklaim memiliki kecepatan terbang horizontal 120-200 km/jam, daya tahan maksimum 24 jam (dengan muatan standar), ketinggian terbang 24.600 kaki, dan jangkauan penerbangan 250-300 km. Berat lepas landas maksimum (MTOW) disebutkan sekitar 1 ton, dengan kapasitas muatan standar 200 kg.
Drone Orion dilaporkan memasuki tahapan uji coba oleh Angkatan Dirgantara Rusia.(Angga Saja-TSM)
Sumber : defpost.com

Rusia: Sebelas Jet Su-35 Siap Dikirim, Tunggu Keputusan Indonesia


Pihak Rusia mengaku siap mengirim 11 unit pesawat yang dipesan Indonesia sesuai kontrak yang diteken. Moskow menyatakan masih menunggu keputusan Jakarta soal jadwal pengiriman.
Direktur Jenderal Rosoboronexport Rusia, Alexander Mikheev, mengatakan tak ada yang menghalangi Moskow untuk mulai memenuhi kontraknya dengan Jakarta.
Sukhoi  Su-35
Sukhoi  Su-35  
Berdasarkan kontrak yang ditandatangani pada tahun 2018, Rusia harus mengirimkan 11 unit pesawat jet tempur Su-35 ke Indonesia. Kontrak pembelian jet tempur itu senilai USD1,1 miliar.
"Tidak ada yang menghalangi ini. Perjanjian antarpemerintah telah ditandatangani, semua kondisi untuk kesepakatan telah didokumentasikan, dan kami sedang menunggu kontrak untuk mulai berlaku setelah pihak Indonesia membuat keputusan," kata Mikheev kepada wartawan di sebuah pameran di Dubai, Senin (18/11/2019) seperti dikutip Sputniknews.
Pada Agustus lalu, Moskow mengungkap adanya ancaman Amerika Serikat (AS) terhadap Angkatan Udara Indonesia jika nekat membeli pesawat jet tempur Su-35. Ancaman berupa sanksi itulah yang membuat militer Indonesia berhati-hati untuk mengakuisisi pesawat tempur Rusia.
Pada saat itu, Direktur Kerja sama Internasional dan Kebijakan Regional Rostec Rusia, Victor Kladov, membeberkan ancaman tersebut.
"Kami merasa beberapa negara lebih berhati-hati," kata Kladov."Misalnya, kemarin saya berbicara dengan Kepala Angkatan Udara Indonesia dan dia menyebutkan CAATSA, hukum AS," katanya lagi mengacu pada Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CATSAA), sebuah undang-undang AS yang mengamanatkan penjatuhan sanksi terhadap negara-negara yang membeli senjata Rusia, Korea Utara dan Iran.
"Dari apa yang dia katakan, saya mengerti mereka menerima ancaman. Mereka tergantung tidak hanya pada peralatan Rusia, mereka tergantung pada sebagian besar peralatan buatan AS. Jika sebagai tindakan hukuman, katakanlah, pabrikan Amerika berhenti memasok suku cadang, berhenti mendukung peralatan buatan Amerika, maka akan ada masalah keamanan di pertahanan nasional di Indonesia. Jadi, mereka sangat berhati-hati," papar Kladov.
Angkatan Udara Indonesia baru-baru ini juga mengumumkan rencananya untuk membeli dua skuadron pesawat jet tempur F-16 Viper Block 72. Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna mengatakan pembelian akan dilakukan tahun depan dalam upaya meningkatkan pertahanan udara negara ini.
Jika terealisasi, maka Indonesia akan memiliki total empat skuadron F-16. Meski pembelian akan dimulai tahun depan, namun pengiriman akan berlangsung secara bertahap dari 2020 hingga 2024.
Sutisna mengakui bahwa Indonesia masih mengandalkan pesawat jet tempur F-16 untuk melindungi wilayah udara negara. "Kami akan membeli dua skuadron (F-16) tipe terbaru Viper Block 72," kata pejabat senior militer tersebut di Pangkalan Angkatan Udara Roesmin Nurjadin di Pekanbaru, Riau, 29 Oktober lalu. (Muhaimin)

Radar Acak