Desember 2019 - Radar Militer

31 Desember 2019

PTDI Lakukan Roll Out Pesawat Nirawak MALE Elang Hitam


PT Dirgantara Indonesia (PTDI) mengenalkan model Pesawat Udara Nir Awak jenis Medium Altitude Long Endurance (PUNA MALE) untuk menangkal ancaman teritorial seperti penyelundupan, pembajakan, terorisme, serta pencurian sumber daya alam.
Pesawat Nirawak MALE Elang Hitam
Pesawat Nirawak MALE Elang Hitam 
Direktur Utama PTDI Elfien Goentoropada Senin mengatakan PUNA MALE merupakan pesawat efisien yang sangat diperlukan untuk mendukung upaya menjaga kedaulatan NKRI dari udara.
"Tahun depan targetnya bisa terbang perdana. Sekarang masih development manufacturing," kata Elfien di Hangar Rotary Wing PTDI, Jalan Pajajaran, Kota Bandung.
Ia menjelaskan, pesawat itu hanya membutuhkan landasan sepanjang sekitar 700 meter untuk lepas landas maupun mendarat serta mampu terbang hingga setinggi 20 ribu kaki dengan kecepatan maksimum 235 kilometer per jam.
"Pesawat ini dirancang untuk mampu terbang selama 30 jam di udara. Untuk sertifikasinya kita targetkan tahun 2024. Nanti dilengkapi dengan rudal," kata dia.
Elfien mengatakan bahwa pada tahun 2020 akan dibuat dua lagi prototipe pesawat nirawak itu, masing-masing untuk uji terbang dan uji kekuatan struktur di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Pada tahun yang sama, proses sertifikasi produk militer juga akan dimulai. Pesawat nirawak itu diharapkan pada akhir tahun 2021 sudah mendapatkan sertifikat tipe dari Pusat Kelaikan Kementerian Pertahanan RI.
Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan pesawat PUNA MALE juga akan disiapkan untuk mendukung pengawasan hutan dan lahan.
"Karhutla itu setiap tahun terjadi, itu butuh pengawasan yang terus terhadap awan, terhadap cuaca, terhadap titik panas, terhadap tinggi muka air dari lahan gambut," kata Hammam.
Ia menjelaskan, teknologi sintetik aparatur radar yang akan dipasang di PUNA MALE memungkinkan pemeriksaan kandungan air hingga menembus 30 cm di bawah permukaan tanah.
"Jadi kita bisa mengukur seberapa banyak air yang dikandung. Sebelum tanah itu kering, kita bisa sirami itu, sehingga tidak muncul kebakaran hutan dan hotspot (titik panas)," kata dia.

Opini : Akhir Tahun Yang Cerah Bagi Industri Pertahanan Indonesia


"Setelah Harimau Hitam, Datanglah Elang Hitam"
Di penghujung tahun 2019 ini, ada perasaan bangga terhadap industri pertahanan tanah air. Hal tersebut ditandai dengan roll out drone hasil kerjasama konsorsium dalam negeri (PT DI, BPPT, ITB, LAPAN, PT LEN dan lainnya). Drone kebanggaan warga +62 tersebut masuk kelas MALE (Medium Altitude Long Endurance).
Drone Elang Hitam
Drone Elang Hitam 
Walaupun masih dalam tahap Development Manufacturing, drone dengan nama Elang Hitam tersebut sangat menjanjikan dan menyita perhatian pengamat militer negeri +62. Bahkan juga menjadi perhatian bagi forum maupun fanspage militer negeri jiran.
Sesaknya embargo militer yang telah dijatuhkan dahulu kala terhadap tanah air tercinta membuat industri pertahanan menjadi kreatif. Political will pemerintah pun juga mensupport industri pertahanan agar bisa maju. Walaupun untuk pendanaan RnD masih belum maksimal.
Dengan tambahan drone MALE Elang Hitam, menambah daftar produk yang dapat dibuat oleh insinyur Indonesia. Pada alutsista laut, beberapa produk dari PT PAL, PT DRU, PT Lundin, PT Steadfast Marine, PT Palindo Marine dan lainnya telah menghiasi serta menambah armada tempur TNI AL.
PT Pindad pun juga tak mau ketinggalan menyediakan alutsista berkualitas mulai munisi, senapan serbu, kendaraan tempur, medium tank dan lainnya untuk angkatan bersenjata kita.
Jangan lupakan PT Dahana dan PT Sari Bahari spesialis peledak dan pembuat bom untuk ketiga matra. Bahkan untuk bom latih dan bom live armada Sukhoi TNI AU sudah dapat dibuat perusahaan tersebut.
Roket R-HAN 122B hasil kerjasama PT DI, LAPAN, PT Dahana, PT Pindad pun sudah menampakkan hasil. Pada pengujian terakhir sudah terlihat juga wahana peluncurnya.
Tidak lupa, PT LEN juga menyumbang produk alutsista yakni CMS Mandala telah diintegrasikan di KRI TNI AL. Produk radar pertahanan dari PT LEN juga siap memperkuat wilayah udara NKRI di bawah operasi TNI AU.
Tentunya opini ini tidak bisa mencakup semua produk alutsista yang berhasil dibuat industri pertahanan kita. Dengan berbagai produk alutsista tersebut membuat warga +62 bangga dan optimis kita juga mampu.
Walaupun negeri jiran kerap meremehkan kita dengan "mendonia". Hal tersebut tidak membuat kita rendah, malahan bisa menjadi penyemangat untuk lebih maju. Industri pertahanan kita memang belum bisa semaju negara AS, Rusia, China dan lainnya. Tapi setidaknya industri pertahanan kita lebih maju dari negeri jiran tersebut.
Akhir tahun 2019 yang cerah, di tahun depan industri pertahanan akan lebih cerah dan menjanjikan.
Selamat malam, tetap rendah hati, tetap berkarya dan Selamat Tahun Baru 2020
Sumber : Sukidjo - FSM

30 Desember 2019

Rusia Bakal Uji Coba Sistem Pertahanan Rudal S-500 Tahun Depan


Militer Rusia berencana akan melakukan uji coba senjata terbaru mereka sistem pertahanan udara S-500, pada tahun 2020 mendatang.
S-400 Rusia
S-400 Rusia 
Meski spesifikasi teknis S-500 ini masih menjadi rahasia namun sejumlah laporan berspekulasi bahwa senjata terbaru tersebut akan mampu menghancurkan target dari jarak hingga 600 km.
Wakil Menteri Pertahanan Rusia Alexei Krivoruchko mengkonfirmasi tes pendahuluan sistem pertahanan udara S-500 akan dimulai pada tahun 2020, dan pengiriman direncanakan mulai dari tahun 2025.
"Tahun depan, direncanakan untuk memulai uji pendahuluan sistem rudal anti-pesawat S-500, model produksi pertama yang dijadwalkan untuk pengiriman pada tahun 2025," katanya.
Produksi sistem, sebagian besar yang karakteristiknya tetap tertutup rapat, dimulai awal tahun ini, dengan S-500 sekarang menjalani pengujian oleh militer, dan produksi massal saat ini diperkirakan akan dimulai pada paruh kedua tahun 2020.
Sebelumnya, Sergei Chemezov, CEO raksasa industri pertahanan Rusia Rostec mengatakan, bahwa begitu produksi S-500 dimulai, prioritas pertama adalah melengkapi militer Rusia.(Agus Nyomba)

Kim Jong Un Panggil Pimpinan Militer Bahas Denuklirisasi


Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, telah menggelar pertemuan lengkap dengan pimpinan militer menjelang tenggat akhir tahun negosiasi denuklirisasi dengan Amerika Serikat.
Korea Utara berharap AS mengubah posisinya terkait pencabutan sanksi sebagai imbalan dari denuklirisasi.
Kim Jong Un
Kim Jong Un 
Rapat pimpinan militer ini dimulai pada Sabtu. Ada spekulasi Pyongyang menyiapkan peluncuran uji coba rudal balistik antar-benua sebagai hadiah Natal bagi Washington.
Kantor berita resmi Korea Utara, KCNA, melansir Kim Jong Un memimpin rapat yang membahas sikap baru anti-imperialistis yang transparan dan independen.
“Rapat ini juga membahas rencana pembangunan pertahanan nasional,” begitu dilansir Channel News Asia, Ahad, 29 Desember 2019.
Pembicaraan untuk denuklirisasi Semenanjung Korea mengalami kebuntuan pasca pertemuan puncak Kim Jong Un dan Presiden Amerika Donald Trump di Hanoi pada Februari 2019.
Korea Utara, seperti dilansir Reuters, menuntut pencabutan sejumlah sanksi ekonomi sebagai imbalan perlucutan senjatan nuklir yang diminta AS. Namun, AS meminta proses denuklirisasi dilakukan secara penuh sebelum dilakukan pencabutan sanksi ekonomi, yang disetujui PBB.
Ini merupakan pertemuan Kim dengan pimpinan militer yang kedua setelah sepekan lalu dia menggelar pertemuan serupa. Saat itu, Kim membahas rencana peningkatan kemampuan militer negaranya.
Pyongyang telah menggelar beberapa uji coba statis di fasilitas roket Sohae pada Desember ini. Korea Selatan dan Jepang menyebut Pyongyang sedang mengetes mesin roket berbasis bahan bakar solid.
Korea Utara sebenarnya terlarang melakukan uji coba rudal itu karena terkena sanksi PBB.(Tempo.co)

Sukhoi Su-57, Jet Tempur Generasi Kelima Rusia


Sukhoi Su-57 adalah jet tempur generasi kelima Rusia yang memiliki kemampuan siluman. Jet tempur tersebut saat ini tengah dalam pengembangan dan diperkirakan dalam waktu dekat akan segera mulai memasuki layanan militer.
Sukhoi Su-57
Sukhoi Su-57 
Jet tempur single-seat, multi-engine yang dikembangkan sejak 2002 direncanakan untuk menggantikan jet tempur Mig-29 Fulcrum dan Su-27 Flanker pada sistem pertahanan udara Rusia. Pesawat ini dirancang untuk menandingi jet tempur siluman F-22 Raptor dan F-35 Lightning II milik Amerika Serikat (AS).
Penerbangan perdana jet tempur yang memiliki nama lain T-50 itu dilakukan pada tanggal 29 Januari 2010. Kemudian disusul dengan penerbangan kedua pada tanggal 12 Februari 2010. Pembuatan jet tempur siluman ini akan dilakukan berdasarkan kerja sama Rusia dengan India. Kedua negara tersebut masing-masing akan memiliki 200 unit Sukhoi T-50, sedangkan 600 unit berikutnya akan dijual kepada negara-negara lain.
Sementara itu, Direktur Rostec Aviation Cluster Industrial, Anatoly Serdyukov menuturkan, pihaknya telah melakukan 16 penerbangan jet tempur Su-57 generasi kelima untuk menguji mesin tahap 2 barunya.
"Saat ini, uji coba dari mesin canggih terus berlangsung dan item sedang diuji di laboratorium terbang. Pada bulan Oktober, penerbangan lain dilakukan untuk memeriksa karakteristik item dalam berbagai mode penerbangan, khususnya, pengoperasian nozzle jet vectoring dan sistem minyak pada kelebihan beban negatif. Secara keseluruhan, 16 penerbangan di laboratorium terbang dilakukan," ucap Serdyukov seperti dilansir Tass.
Su-57 dengan mesin tahap kedua yang dikenal sebagai Item 30 melakukan penerbangan debutnya pada bulan Desember 2017. Mesin akan mendapatkan sistem kontrol otomatis sepenuhnya elektronik dan memastikan kemampuan manuver super tempur, rasio dorong-ke-berat, karakteristik sembunyi dan kemampuan untuk melakukan penerbangan jelajah dengan kecepatan supersonik.
Jet tempur Su-57 generasi kelima ditujukan untuk menghancurkan semua jenis sasaran udara, darat dan laut. Pesawat ini mengembangkan kecepatan jelajah supersonik, membawa persenjataan di dalam pesawatnya, fitur lapisan siluman dan peralatan onboard terbaru. (Victor Maulana)

Iran: Pesawat Mata-mata yang Dekati Lokasi Latgab Akan Dihancurkan


Iran menyatakan, setiap pesawat mata-mata yang yang terlihat di area latihan bersama dengan Rusia dan China akan dihancurkan. Iran, Rusia, dan China melakukan latihan gabungan di Teluk Oman sejak kemarin.
Latihan Gabungan Iran Rusia dan China
Latihan Gabungan Iran Rusia dan China 
"Banyak negara pasti berusaha untuk mengetahui apa masalahnya. Mata-mata juga telah mengambil tindakan. Latihan gabungan bersama bukan lelucon dan ini juga bukan masalah bercanda bagi kita," kata Deputi Koordinator Angkatan Bersenjata Iran, Habibollah Sayyari.
"Kita akan menyerang setiap mata-mata apa pun di zona permainan perang, apakah itu perahu atau pesawat terbang, karena kami telah membuktikan memiliki kemampuan seperti itu di masa lalu," sambungnya, seperti dilansir Sputnik pada Minggu (29/12/2019).
Sayyari kemuian mengatakan, bahwa Iran, Rusia, dan China berniat untuk terus melakukan latihan militer bersama di masa depan. "Latihan gabungan Angkatan Laut Iran, Rusia, dan China di Samudra Hindia utara jelas bukan yang terakhir," katanya.
Latihan gabungan ini sendiri dinamai Sabuk Keamanan Angkatan Laut. Upaya melawan terorisme dan pembajakan, serta memberikan keamanan regional menjadi agenda dalam latihan yang akan berlangsung selama empat hari tersebut.
Ini menjadi latihan trilateral pertama ketika Teheran berusaha meningkatkan kerja sama militer dengan Beijing dan Moskow di tengah sanksi ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Washington. (Victor Maulana)

New START Treaty, Pencegah Perlombaan Senjata Nuklir Amerika Serikat - Rusia


Rusia dan Amerika Serikat (AS) saat ini masih berusaha untuk membahas kelanjutkan dari perjanjian "New START". Perjanjian ini akan berakhir pada tahun 2021 mendatang dan menjadi perjanjian satu-satunya yang menghadang perlombaan senjata nuklir AS dan Rusia.
Bendera Amerika Serikat - Rusia
Bendera Amerika Serikat - Rusia 
Melansir dari berbagai sumber, perjanjian "New Start" adalah traktat pengurangan senjata nuklir antara AS dan Rusia dengan nama resmi Tindakan untuk Pengurangan Lebih Lanjut dan Batasan Senjata Ofensif Strategis. Perjanjian ditandatangani pada 8 April 2010 di Praha, Ceko dan setelah ratifikasi mulai berlaku pada 5 Februari 2011. Perjanjian ini akan berlaku setidaknya hingga awal tahun 2021.
Perjanjian ini menggantikan Perjanjian Moskow (SORT), yang berakhir pada bulan Desember 2012. Namanya adalah tindak lanjut dari perjanjian START I, yang berakhir pada Desember 2009, usulan perjanjian START II, yang tidak pernah diberlakukan, dan perjanjian START III, yang negosiasinya tidak pernah selesai.
Menurut ketentuan perjanjian itu, jumlah peluncur rudal nuklir strategis harus dikurangi setengahnya. Inspeksi dan verifikasi baru akan dibentuk, menggantikan mekanisme SORT. Perjanjian ini menetapkan bahwa tujuh tahun setelah "News Start" berlaku, masing-masing pihak tidak boleh memiliki lebih dari 700 rudal balistik antarbenua (ICBM) yang dikerahkan, rudal balistik yang diluncurkan kapal selam (SLBM) dan pembom strategis.
Selain itu, baik AS ataupun Rusua tidak boleh memiliki lebih dari 1.550 hulu ledak yang dipasang pada ICBM, SLBM dan pembom strategis yang dikerahkan. Perjanjian ini juga mewajibkan para pihak untuk bertukar informasi tentang jumlah hulu ledak dan operator dua kali setahun.
Presiden Rusia, Vladimir Putin telah menegaskan bahwa Moskow siap membahas perpanjangan perjanjian "New Start" sebelum akhir tahun, tanpa prasyarat apapun.
"Izinkan saya menegaskan kembali sikap Rusia. Rusia siap untuk memperpanjang perjanjian tanpa penundaan, sesegera mungkin, sebelum akhir tahun ini tanpa prasyarat apa pun. Saya mengatakan itu secara resmi untuk memastikan bahwa tidak ada interpretasi ganda atau tiga kali lipat dari kebijakan kami," kata Putin.
"Perjanjian itu akan segera berakhir. Semua proposal kami mengenai perpanjangan perjanjian ini ada di atas meja. Kami sejauh ini belum menerima tanggapan dari mitra kami (AS)," tukasnya. (Victor Maulana)

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Jadi Perhatian Pengembangan Alutsista Angkatan Darat


Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kini tengah menjadi perhatian Markas Besar TNI Angkatan Darat. Sebagai provinsi perbatasan yang berbatasan langsung dengan negara Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) dan Australia, NTT mendapat prioritas perhatian Mabes TNI AD untuk pengembangan kekuatan pertahanan.
Meriam Caesar TNI AD
Meriam Caesar TNI AD 
Selain pengembangan satuan, Mabes TNI juga melakukan pengembangan alutsista pertahanan Angkatan Darat di wilayah NTT.
"Framenya, bahwa di NTT sedang dilaksanakan banyak sekali pengembangan satuan, jadi NTT saat ini menjadi pusat perhatian pimpinan dalam rangka pengembangan kekuatan," ujar Komandan Korem (Danrem) 161/Wirasakti Kupang Brigjen TNI Syaiful Rahman.
Ia mengatakan pengembangan satuan telah mulai dilaksanakan di wilayah Kabupaten Kupang NTT. Pengembangan tersebut antara lain, dibentuknya Batalyon Artileri Medan (Yon Armed) dan Batalyon Artileri Pertahanan Udara (Yon Arhanud) di wilayah Camplong Kabupaten Kupang. Saat ini juga telah dibangun satu Batalyon Kavaleri di wilayah Kabupaten Belu.
Selain itu, diproyeksikan akan dibangun Batalyon Perbekalan dan dan Angkutan (Yonbekang) pada 2021 dan Batalyon Kesehatan Angkatan Darat (Yonkes) pada 2022 di Camplong Kabupaten Kupang.
Dalam waktu lima tahun ini, juga direncanakan akan dibangun satu batalyon di Kabupaten Ende Pulau Flores dan satu batalyon di wilayah Pulau Sumba.
"Masyarakat harus siap terhadap perubahan, baik perubahan ekonomi, perubahan edukasi dan perubahan pertahanan," ujarnya.
Dengan adanya unsur ketahanan semakin banyak, jelasnya, maka secara otomatis akan ada jaminan peningkatan keamanan.
"Ketika aparat makin banyak emang makin rawan? Kan tidak, pastinya makin aman, karena apa? Semakin banyak aparat yang melakukannya pengamanan," jelas Danrem.
Di Yon Armed akan ditempatkan meriam caesar kaliber 155 sementara di Batalyon Kavaleri Atambua ditempatkan 12 unit panser Anoa2 6x6. Setiap Batalyon, jelasnya, akan diperkuat pasukan sejumlah 500 hingga 1000 orang. "Semuanya terpusat di Kupang, itu kayak military base," katanya.
Untuk pembangunan Korem, lanjutnya, saat ini sedang dilaksanakan kajian. Proses pembentukan telah dilaksanakan bertahap dengan pembangunan dan peresmian Kodim Sumba Barat Daya (SBD).
"Ilustrasinya sama saat pengembangan atau pemekaran wilayah. Pengembangan satuan TNI selaras dengan kebutuhan pertahanan," katanya.
Ia menjelaskan, pengembangan satuan selalu dilakukan berdasarkan kajian. Hal tersebut bukanlah sebuah perjalanan yang mutlak tapi terprediksi pasti akan terjadi. "Kita lihat bagaimana ancamannya, bagaimana kebutuhan mendesak dari situasi dan kondisi wilayah kita," pungkasnya. (Ryan Nong)
Sumber : https://kupang.tribunnews.com

29 Desember 2019

Penampilan Pesawat Tempur JF-17 Block 3 Tiongkok-Pakistan


Foto-foto pertama dari pesawat tempur JF-17 Block 3 'generasi 4+' ditampilkan pada tanggal 28 Desember, dimana prototipe yang ditampilkan sedang melakukan taxiing di landasan pacu milik pabrik pembuatnya di Tiongkok dan kemudian melakukan penerbangan pertamanya. Pesawat tempur ini merupakan varian keempat dari JF-17, pesawat tempur yang dikembangkan bersama oleh Tiongkok dan Pakistan dari awal 2000-an yang melakukan penerbangan pertamanya pada Agustus 2003.
Pesawat Tempur JF-17 Block 3
Pesawat Tempur JF-17 Block 3  
JF-17 dirancang khusus untuk tujuan ekspor dan tidak berdinas di Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok, namun lebih dari 100 varian JF-17 Blok 1 dan Blok 2 yang lebih awal saat ini dalam kedinasan pada Angkatan Udara Pakistan dengan sejumlah yang lebih kecil telah dijual ke Myanmar dan Nigeria. 
Ada banyak spekulasi di antara para analis mengenai kemampuan varian Blok 3 ini, dengan desain menyeimbangkan kebutuhan untuk mempertahankan biaya produksi dan operasional yang rendah dan pentingnya memaksimalkan kinerja dengan mengintegrasikan teknologi next generation, yang banyak di antaranya sangat mahal.
Fitur pesawat tempur baru tersebut yang paling menonjol tampaknya adalah hidung yang lebih panjang, yang dimaksudkan untuk menampung radar active electronically scanned array (AESA) yang tidak hanya lebih canggih tetapi juga jauh lebih besar daripada radar pada varian JF-17 sebelumnya. Radar AESA tidak hanya jauh lebih kuat daripada radar pasif pada varian JF-17 yang lebih awal, tetapi juga meninggalkan jejak radar yang lebih rendah dan kurang rentan terhadap jamming.
Pesawat tempur itu diperkirakan akan menggunakan sejumlah jenis persenjataan yang lebih baru termasuk rudal udara-ke-udara PL-15, yang mana radar AESA yang besar dan kuat sangat penting untuk membimbing melawan sasaran yang jauh. PL-15 dikembangkan untuk melengkapi radar AESA milik Tiongkok yang mempersenjatai pesawat tempur next generation Tiongkok, termasuk J-10C, J-16 dan J-20. Rudal tersebut memiliki jangkauan hingga 200 km, memungkinkan rudal itu mengungguli jangkauan rudal seperti R-77 dan MICA yang digunakan oleh pesawat tempur MiG-29 dan Rafale India.
JF-17 Block 3 diperkirakan akan berharga jauh lebih mahal daripada varian sebelumnya, tetapi kemampuan next generation-nya memiliki potensi untuk membuatnya jauh lebih sukses di pasar ekspor. Selain radar baru dan avionik generasi baru dan sistem peperangan elektronik, fitur-fitur lain yang disebut-sebut dari desain JF-17 Block 3 ini antara lain adalah sistem infrared search and track (IRST), mesin baru dan penggunaan bahan composite yang lebih banyak pada airframe. Hal-hal tersebut masih belum terkonfirmasi.
Namun demikian, inlet udara baru dari pesawat tempur itu menunjukkan bahwa mesin baru telah dipasang, kemungkinan turunan yang ditingkatkan dari mesin RD-33MK yang menggerakkan MiG-35 Rusia. 
Pesawat tempur Tiongkok-Pakistan ini diperkirakan akan meningkat jangkauannya dibandingkan dengan pendahulunya yang sudah cukup jauh jangkauannya, dan mungkin juga kompatibel dengan kelas baru rudal jelajah untuk menggantikan YJ-12. Dipasangkan dengan jangkauannya yang cukup besar, rudal ini bisa membuat JF-17 Block 3 menjadi pesawat tempur maritim yang tangguh. Evolusi program JF-17 Block 3, dan tanggal masuknya pesawat ini dalam kedinasan masih belum pasti, seperti halnya skala produksi pesawat tersebut di Tiongkok dan Pakistan.(Angga Saja-TSM)

Kapal Patroli Kelas POLA ARM Reformador Selesaikan Sea Trial


Damen Shipyards Group bekerjasama dengan Angkatan Laut Meksiko, para subkontraktor dan para pemasok telah menyelesaikan sea trial yang sukses kapal patroli jarak jauh kelas-POLA (Patrulla Oceánica de Largo Alcance) ARM Reformador Angkatan Laut Meksiko. Program sea tial trsebut bersifat komprehensif, termasuk pengujian platform dan sistem tempur di samping pelatihan awak kapal Angkatan Laut Meksiko.
POLA ARM Reformador Meksiko
POLA ARM Reformador Meksiko 
Damen telah membangun hubungan yang kuat dengan Angkatan Laut Meksiko selama dekade terakhir. Kerjasama mereka telah menghasilkan pembangunan dan penyerahan lebih dari sepuluh kapal perang dengan berbagai desain. Damen juga telah bekerja erat dengan galangan kapal lokal Meksiko seperti galangan kapal ASTIMAR 20 di Salina Cruz, Meksiko, di mana ARM Reformador dibangun.
Upaya kolaboratif ini memastikan transfer teknologi dan pengetahuan yang signifikan ke industri pembuatan kapal Meksiko. Misalnya, untuk memaksimalkan dampak lokal dari proyek ini, Damen telah menempatkan kontrak di perusahaan lokal untuk persediaan dan asistensi selama pembangunan ARM Reformador.
Kapal patroli kelas-POLA ARM Reformador ini adalah versi AL Meksiko dari SIGMA Frigate 10514.Kapal tersebut dapat dikerahkan dalam berbagai misi seperti patroli maritim, pengawasan, keamanan maritim, search and rescue (SAR) jarak jauh, dan bantuan kemanusiaan. Kapal ini juga akan memungkinkan Angkatan Laut Meksiko untuk mengamankan dan melindungi kepentingan maritim negara tersebut di luar zona ekonomi eksklusif (ZEE).
Damen dan Angkatan Laut Meksiko menandatangani perjanjian kerjasama teknis untuk membangun dua dari enam bagian modular dari kapal POLA di Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) di Vlissingen, Belanda. Empat modul yang tersisa dibangun di galangan kapal ASTIMAR di Salina Cruz, Meksiko. Upacara peletakan lunas untuk kapal kelas-POLA pertama, ARM Reformador, diadakan pada Agustus 2017. 
Pemerintah Meksiko menerima peluncur rudal RAM dari Raytheon untuk program POLA pada Oktober 2018. ARM Reformador diluncurkan pada November 2018 dan dijadwalkan untuk mulai beroperasi pada tahun 2020. Angkatan Laut Meksiko berencana mengakuisisi hingga delapan kapal kelas POLA. (Angga Saja-TSM)
Spesifikasi:
  • Panjang : 107,50 m
  • Lebar : 14,02 m
  • Displacement : 2.600 ton (Maksimum 2.850 ton)
  • Propulsi : combined diesel or electric (CODOE), 2 x 10MW mesin diesel dan 2 x 1,300kW motor elektrik
  • Kecepatan : 27 knot
  • Endurance : 20 hari
  • Jumlah Awak : 122 orang
  • Sensor utama : Radar 3D Thales SMART-S MK2

Persenjataan :
  • 1 x meriam 57 mm BAE Systems Bofors Mk3
  • 1 x meriam 25 mm BAE Systems Mk38 Mod 3
  • 8 x rudal anti-kapal Boeing RGM-84L Harpoon Block II
  • 8 x rudal pertahanan udara Raytheon RIM-162 Evolved Sea Sparrow (dalam peluncur VLS Mk56 8 sel)
  • 21 x rudal anti-rudal Raytheon RIM-116 RAM II (dalam 1 x peluncur Mk31 21 tabung)
  • 6 x torpedo Raytheon Mk54 Mod 0 (dalam 2 x peluncur triple Mk32 SVTT)
  • 6 x senapan mesin berat 12,7 mm FN Herstal M2HB-QCB

Jet Tempur Su-57 Tetap Dikirim Massal ke Militer Rusia 2020


Jatuhnya pesawat jet tempur siluman generasi kelima Su-57 tidak menghalangi keputusan industri pertahanan untuk mengirim massal pesawat canggih itu kepada militer Rusia tahun 2020.
Jet Tempur Su-57
Jet Tempur Su-57  
"Pekerjaan skala besar menunggu kita pada tahun 2020 untuk menstabilkan industri pesawat terbang," kata Kepala Rostec, Sergei Chemezov, seperti dikutip dari kantor berita TASS, Sabtu (28/12/2019). "Pengiriman skala besar pertama dari pesawat Su-57 generasi kelima akan dimulai," ujarnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, sebuah jet tempur Su-57 jatuh pada 24 Desember di wilayah yang berjarak sekitar 120 kilometer dari pabrik pesawat Komsomolsk-on-Amur di Timur Jauh Rusia selama uji penerbangan. Pesawat itu meledak dan hancur total. Namun, pilotnya selamat setelah berhasil mengeluarkan diri sebelum pesawat jatuh.
Menurut seorang sumber di industri penerbangan, pesawat mengalami kecelakaan itu adalah Su-57 hasil produksi serial pertama.
Awal tahun ini, para pejabat pertahanan Rusia menegaskan bahwa Su-57 pertama dalam konfigurasi serial akan diserahkan kepada Angkatan Udara Rusia pada akhir 2019. Awalnya, Angkatan Udara diharapkan akan menerima pengiriman dua unit Su-57 pada 2019 dan dua lagi pada tahun 2020.
Namun, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Rusia yang juga Wakil Menteri Pertahanan Jenderal Valery Gerasimov menyatakan pada bulan ini bahwa Su-57 masih menjalani tes penerbangan.
Dia juga mengungkapkan bahwa Su-57, yang baru-baru ini diberi nama sandi "Felon" oleh NATO, telah menjalani pengujian pertempuran kedua di Suriah."Semua tugas yang direncanakan berhasil dilakukan," katanya. Pesawat jenis ini pertama kali melakukan misi tempur di Suriah pada awal 2018.
Angkatan Udara Rusia saat ini sedang menguji 10 prototipe Su-57, empat di antaranya dilaporkan telah diterbangkan untuk misi tempur di Suriah. Semua prototipe Su-57 telah dilengkapi dengan turunan dari mesin Saturn AL-41F1S buatan Rusia. (Muhaimin)

Kapal Induk China Beraksi di Selat Taiwan, Amerika Serikat Keluarkan Peringatan


Aksi pamer kekuatan kapal induk Shandong dan beberapa kapal fregat Angkatan Laut China di Selat Taiwan tak hanya menuai reaksi negatif dari Taipei. Washington yang selama ini memihak pulau yang memerintah sendiri itu mengeluarkan peringatan kepada Beijing untuk tidak melakukan pemaksaan.
Shandong CV-17
Shandong CV-17 
Shandong adalah kapal induk pertama yang dibuat di dalam negeri China. Kapal tersebut beserta beberapa kapal fregat berlayar di Selat Taiwan pada hari Kamis, yang oleh pengamat pertahanan dianggap sebagai aksi unjuk kekuatan terhadap Taipei.
Kapal raksasa itu muncul hampir dua minggu menjelang pemilihan presiden Taiwan. "Ancaman militer seperti ini hanya memperkuat tekad Taiwan untuk mempertahankan diri dan menjaga perdamaian dan stabilitas regional," kata Menteri Luar Negeri Taiwan Joseph Wu di Twitter.
Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada hari Jumat mengeluarkan peringatan kepada China untuk menjauhkan diri dari aksi pemaksaan yang akan membahayakan keamanan, atau sistem sosial atau ekonomi, dari orang-orang di Taiwan.
"Amerika Serikat memiliki minat yang dalam dan taat pada perdamaian dan stabilitas lintas selat. Taiwan adalah mitra yang dapat diandalkan, role model yang demokratis, dan kekuatan untuk kebaikan di dunia," bunyi pernyataan departemen tersebut, seperti dikutip dari South China Morning Post, Sabtu (28/12/2019).
"Kami mendorong pihak berwenang di Beijing dan Taipei untuk terlibat dalam dialog konstruktif yang mencari resolusi damai (dari) perbedaan yang dapat diterima oleh orang-orang dari kedua sisi Selat Taiwan," lanjut pernyataan tersebut. Selat itu merupakan jalur perairan yang memisahkan Taiwan dengan daratan China.
Beijing sampai saat ini menganggap Taiwan sebagai wilayah China yang membangkang dan mengklaim berhak untuk menyatukannya kembali dengan daratan China termasuk dengan menggunakan kekuatan militer.
Aksi kapal induk Shandong berlangsung hanya beberapa hari setelah Presiden China Xi Jinping mencaci pernyataan AS baru-baru ini tentang Taiwan, Hong Kong, Xinjiang, dan Tibet. "Kata-kata mereka merupakan gangguan dalam urusan dalam negeri China, merusak kepentingan China dan tidak sejalan dengan saling percaya (dalam hubungan) bilateral dan kerja sama," kata Xi.
Sebelum itu, pada November lalu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang mengeluarkan pernyataan kepada pasukan Angkatan Laut AS dan Jepang terkait pelayaran serupa yang dilakukan oleh Shandong melalui Selat Taiwan.
"Saya ingin mencatat bahwa detasemen kapal perang China melakukan latihan rutin di depan pintu negara, dan tidak perlu membuat keributan tentang hal itu," katanya pada saat itu.
"Kami menuntut agar pihak-pihak terkait sepenuhnya menghentikan segala gangguan dalam kegiatan militer China yang biasa." (Muhaimin)

Jepang Kirim Angkatan Laut ke Timur Tengah Amankan Kapal Tanker


Jepang menyetujui rencana untuk mengirim pasukan angkatan lautnya ke Timur Tengah guna memastikan keselamatan kapal-kapal tankernya yang mengangkut minyak. Jepang sangat bergantung pada impor minyak dari wilayah tersebut.
Keputusan Kabinet Jepang mencerminkan ketegangan yang meningkat antara Iran dan Amerika Serikat (AS) sejak Presiden Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir internasional tahun 2015.
Kapal Patroli Jepang
Kapal Patroli Jepang 
"Mempertimbangkan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, perlu untuk memperkuat upaya pengumpulan informasi kami," kata Kepala Sekretaris Kabinet Yoshihide Suga dalam konferensi pers.
"Sangat penting untuk mengamankan navigasi yang aman dari kapal-kapal yang berafiliasi Jepang," imbuh Suga mengutip ketergantungan besar Jepang pada impor minyak dari wilayah tersebut seperti dikutip dari AP, Sabtu (28/12/2019).
Meskipun merupakan sekutu AS, pengiriman pasukan Jepang bukan bagian dari koalisi pimpinan AS yang melindungi saluran air di Timur Tengah. Jepang tampaknya berupaya untuk mempertahankan netralitasnya dalam menunjukkan pertimbangan ke Iran.
Berdasarkan rencana tersebut, Jepang akan mengirim sekitar 260 personel Pasukan Bela Diri Maritim dengan sebuah kapal perusak dan sepasang pesawat pengintai P-3C. Mereka diutamakan untuk pengumpulan intelijen di Teluk Oman, Laut Arab, dan Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden.
Ketua Asosiasi Perminyakan Jepang Takashi Tsukioka menyambut baik pengiriman pasukan dalam sebuah pernyataan: "Situasi Timur Tengah terus tidak menentu dan kami yakin itu akan berkontribusi pada keselamatan navigasi kapal di Timur Tengah."
Sementara itu Menteri Pertahanan Jepang, Taro Kono, mengeluarkan perintah bagi pasukan untuk mulai mempersiapkan operasi, yang direncanakan untuk satu tahun mulai awal tahun depan.
Kono akan mengunjungi Djibouti di pantai timur Afrika dan Oman akhir pekan ini untuk membahas misi Jepang. Pasukan Jepang telah berbasis di Djibouti sebagai bagian dari upaya anti-pembajakan internasional di lepas pantai Somalia, dan unit P-3C yang saat ini dalam operasi itu akan dialihkan ke misi baru pada Januari, katanya.
Jepang akan menjauh dari Selat Hormuz, tempat koalisi yang dipimpin AS beroperasi.
Perdana Menteri Shinzo Abe menjelaskan rencana itu kepada Presiden Iran Hassan Rouhani ketika dia mengunjungi Tokyo pada pekan lalu.
Jepang, yang memiliki hubungan persahabatan dengan Iran dan AS, juga berupaya menjadi penengah antara keduanya dan memainkan peran yang lebih besar dalam memulihkan stabilitas di kawasan itu, kata para pejabat.
Timur Tengah memasok lebih dari 80% kebutuhan minyak Jepang.
Mengirimkan kapal perang ke wilayah-wilayah ketegangan militer adalah masalah yang sangat sensitif di Jepang karena konstitusi negara pasifik itu pasca-Perang Dunia II membatasi penggunaan kekuatan oleh militer semata-mata untuk pertahanan diri.
Meski begitu Abe, bagaimanapun, telah secara bertahap memperluas peran militer Jepang dalam beberapa tahun terakhir.
Pada Juni, sebuah kapal tanker yang dioperasikan Jepang diserang di Teluk Oman. Washington mengatakan Iran bertanggung jawab dan mendesak Jepang untuk bergabung dengan inisiatif militer yang dipimpin AS. (Berlianto)

Avangard, Rudal Hipersonik Antarbenua Rusia


Setelah bertahun-tahun melakukan uji coba, Rusia akhirnya secara resmi mulai mengoperasionalkan rudal hipersonik antarbenua (ICBM) , Avangard, pertama. Senjata ini adalah satu dari sejumlah senjata yang disebutkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pidatonya pada medio 2018 lalu.
Avangard
Avangard 
Avangard adalah sistem rudal strategis dengan rudal balistik, dilengkapi dengan unit tempur bersayap hipersonik. Rudal yang mempunyai panjang 5,4 meter ini mampu terbang dalam lapisan atmosfer dengan kecepatan hipersonik, bermanuver di sepanjang jalur penerbangan dan ketinggian serta mengatasi pertahanan anti rudal.
Berkaca pada kemampuan seperti itu, Avangard dirancang menggunakan bahan komposit baru agar bisa menahan suhu hingga 2.000 Celcius yang dihasilkan dari penerbangan melalui atmosfer dengan kecepatan hipersonik. Militer Rusia menyebut rudal ini mampu terbang 20 kali lebih cepat dari kecepatan suara.
Rudal antarbenua terbaru ini diluncurkan di atas rudal balistik antarbenua. Namun tidak seperti hulu ledak rudal biasa yang mengikuti jalur yang dapat diprediksi setelah pemisahan, Avangard dapat membuat manuver tajaam di atmosfer dalam perjalanan menuju target. Kemampuan ini membuatnya menjadi sulit untuk dicegat.
Mantan Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Ivanov mengatakan, Avangard terus menerus mengubah arah dan ketinggiannya ketika terbang melintasi atmosfer, secara zigzag di jalurnya menuju target, sehingga mustahil untuk memprediksi lokasi senjata itu.
Kemampuan ini pun menuai pujian dari Presiden Rusia Vladimir Putin. Putin mencatat bahwa kemampuannya untuk melakukan manuver tajam dalam perjalanan menuju sasaran akan membuat pertahanan rudal menjadi tidak berguna.
"Itu mengarah ke sasaran seperti meteorit, seperti bola api," kata Putin saat berpidato pada Maret 2018 seperti dikutip dari AP, Sabtu (28/12/2019).
Avangard memiliki jangkauan lebih dari 6.000 km, beratnya sekitar 2.000 kg, dan dapat membawa muatan nuklir atau konvensional. Sebuah laporan kantor berita Rusia, TASS, hulu ledak nuklir Avangard adalah lebih dari 2 megaton.
Laporan media Rusia mengindikasikan Avangard akan dipasang pada rudal balistik antarbenua RS-18B buatan Soviet, yang diberi nama kode SS-19 oleh NATO. Kedepannya, Avangard akan dipasang pada calon rudal balistik antarbenua Sarmat setelah secara resmi dioperasionalkan.
Putin menggambarkan Avangard sebagai terobosan teknologi yang sebanding dengan peluncuran satelit pertama Soviet pada tahun 1957. Ia pun dengan lantang mengklaim bahwa Rusia adalah satu-satunya negara yang dipersenjatai dengan senjata hipersonik.
Putin juga mencatat bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah, Rusia kini memimpin dunia dalam mengembangkan seluruh kelas senjata baru, tidak seperti di masa lalu ketika mengejar AS.
Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan bulan lalu bahwa pihaknya mendemonstrasikan Avangard kepada tim inspektur AS sebagai bagian dari langkah-langkah transparansi di bawah perjanjian senjata nuklir New Start dengan AS.
Militer Rusia sebelumnya juga telah mengoperasionalkan senjata hipersonik lain dengan jarak yang lebih kecil.
Kinzhal (Belati), yang dibawa oleh jet tempur MiG-31, resmi dioperasionalkan oleh angkatan udara Rusia tahun lalu. Putin mengatakan rudal itu terbang 10 kali lebih cepat dari kecepatan suara, memiliki jangkauan lebih dari 2.000 kilometer dan dapat membawa nuklir atau hulu ledak konvensional. Militer Rusia mengatakan rudal itu mampu mengenai target di darat dan kapal laut. (Berlianto)

28 Desember 2019

Rusia Selidiki Spekulasi di Balik Jatuhnya Jet Tempur Sukhoi Su-57


Rusia masih menyelidiki jatuhnya jet tempur siluman Sukhoi Su-57 dalam uji terbang terakhir sebelum diserahkan ke Angkatan Udara Rusia, Selasa, 24 Desember 2019.
Pembuat pesawat, United Aircraft Corporation (UAC), mengatakan insiden itu terjadi di Wilayah Khabarovsk dan pilot bisa eject dengan selamat. UAC juga menyatakan tidak ada yang terluka, demikian dikabarkan Reuters.
 Sukhoi Su-57
 Sukhoi Su-57 
Kementerian Pertahanan Rusia akan membentuk komisi untuk menyelidiki kecelakaan itu, yang kelihatannya disebabkan oleh kegagalan sistem kemudi, kata kantor berita TASS mengutip dua sumber militer.
Jet tempur generasi kelima ini telah menjalani uji coba di Syria beberapa waktu lalu. Rusia sedang menyiapkan setidaknya 76 pesawat Su-57, yang digadang-gadang jadi pesaing F-22 Raptor yang mulai mengudara di tahun 2010 atau J-20 China, yang sudah diserahkan ke Angkatan Udara PLAAF.
Penyebab kecelakaan belum diketahui, apakah kesalahan operator atau sebab lain. Sumber kantor berita TASS, menyebutkan kecelakaan itu akibat kegagalan sistem kontrol.
Namun demikian, beberapa laporan terbaru menyatakan kemungkinan penyebab jatuhnya pesawat akibat masalah pada mesin.
Su-57 menggunakan mesin Izdeliye 30 baru, tetapi model pra-produksi diuji dengan mesin Izdeliye 117 (AL-41F1) yang lebih lama karena masalah teknis. RIA News mengonfirmasi bahwa kecelakaan itu terjadi selama pengujian mesin.
Dalam wawancara dengan RIA, pakar militer dan mantan Perwira Angkatan Udara Valeriy Gorbenko mengatakan bahwa Su-57 sedang menjalani uji tekanan mesin ekstrem sebelum diserahkan ke Angkatan Udara Rusia.
Sebelumnya, banyak pihak meragukan mesin Izdeliye 117 dapat mendukung Su-57. Sementara kesiapan Izdeliye 30 masih belum jelas, juga tidak diketahui berapa banyak dari 76 Su-57 yang akan dikirim pada tahun 2028 menggunakan mesin lama.
Pakar militer Rusia dan wakil editor majalah pertahanan Rusia Arsenal of the Fatherland, Dmitry Drozdenko, mengatakan kepada surat kabar Vzglyad bahwa terlalu dini untuk berspekulasi tentang bagaimana hal ini dapat berdampak pada produksi massal Sukhoi Su-57 selama dekade mendatang.

AL Myanmar Resmikan Kapal LPD Pertamanya


Angkatan Laut Myanmar telah meresmikan kapal serbu amfibi landing platform dock (LPD) pertamanya. Diberi nama UMS Moattama (dengan nomor lambung 1501), memasuki kedinasan AL Myanmar dalam suatu upacara kebesaran yang diadakan pada 24 Desember lalu di dermaga AL di Yangon untuk sekaligus menandai peringatan ke-72 berdirinya Angkatan Laut Myanmar. 
UMS Moattama - 1501 Myanmar
UMS Moattama - 1501 Myanmar 
Dipimpin oleh Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar (Tatmadaw), Jenderal Senior Min Aung Hlaing, dan Panglima AL Myanmar Laksamana Tin Aung San, upacara itu juga meresmikan mulai berdinasnya kapal angkut pantai baru, UMS Myitkyina, bersama dengan dua kapal patroli cepat berukuran 27 m, dua kapal tunda seagoing, dan dua kapal patroli sungai ukuran 20 m, menurut pihak Kantor Angkatan Bersenjata Myanmar.
UMS Moattama dibangun di Korea Selatan oleh Daesun Shipbuilding & Engineering Co., Ltd. Kapal tersebut dirancang oleh Daesun berdasarkan desain kelas Makassar sebelumnya yang dijual ke TNI-AL. Kapal memiliki panjang sekitar 122 meter, lebar 22 meter untuk total displacement 11.300 ton. Kapal memiliki daya tahan 30 hari di laut dan jangkauan 8.600 mil laut. 
Desain UMS Moattama didasarkan pada kapal kelas Makassar TNI-AL yang dibangun oleh Korea Selatan tetapi secara visual lebih mirip dengan kelas Tarlak Angkatan Laut Filipina. Sebanyak 10 kapal jenis ini telah dibangun sejauh ini untuk Angkatan Laut Indonesia, Peru, Filipina, dan sekarang Myanmar.
Kontrak untuk Moattama kemungkinan ditandatangani pada awal 2018, tetapi pembangunan kapal untuk Myanmar baru diketahui publik setelah diluncurkan di Busan pada Juli 2019. Kapal itu dikirim pada September tahun ini. Kapal tersebut sempat melakukan port-of-call ini di Rusia pada pelayaran perdananya dari Korea Selatan, sebelum mencapai Myamar. Kunjungan kapal Angkatan Laut Myanmar ke Vladivostok adalah yang pertama.(Angga Saja-TSM)

Rusia Mulai Kerahkan Rudal Hipersonik Antarbenua Avangard


Militer Rusia telah mengerahkan rudal balistik antarbenua (ICBM) Avangard yang pertama. Hal itu dikatakan oleh Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu kepada Presiden Vladimir Putin.
"Sistem rudal strategis Avangard telah bertugas pada pukul 10 pagi (waktu Moskow) hari ini," kata Shoigu seperti dikutip The Moskow Times dari Interfax, Sabtu (28/12/2019).
Avangard
Avangard 
Kepala Pasukan Rudal Strategis Rusia Jenderal Sergei Karakayev mengatakan rudal itu dikerahkan di divisi rudal di wilayah Orenburg, Rusia tengah, 1.500 kilometer tenggara Moskow.
Para pejabat mengatakan rudal ICBM hipersonik itu terbang 27 kali lebih cepat dari kecepatan suara. Selama tes terakhir yang diketahui yang terjadi pada Desember 2018, Avangard mencapai target latihan 6.000 kilometer jauhnya.
"Senjata masa depan ini dapat menembus sistem pertahanan rudal yang ada dan di masa depan," kata Putin pada pertemuan pertahanan tahunan pada Selasa.
Putin mengklaim Rusia adalah satu-satunya negara yang dipersenjatai dengan senjata hipersonik. Dia mencatat bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah, Rusia kini memimpin dunia dalam mengembangkan seluruh kelas senjata baru, tidak seperti di masa lalu ketika mengejar Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan pekan lalu bahwa Rusia siap untuk memasukkan Avangard dan rudal Sarmat dalam perjanjian pengurangan senjata strategis baru dengan AS, seandainya diperpanjang melebihi 2021.
Rudal Avangard dan Sarmat adalah di antara banyak senjata canggih yang diluncurkan oleh Putin selama pidato kenegaraannya di musim semi 2018.
Shoigu sebelumnya mengatakan bahwa angkatan bersenjata Rusia dijadwalkan untuk menerima 22 sistem rudal Avangard dan Yars pada tahun 2020. (Berlianto)

Pesawat Angkut Embraer C-390 Millenium Sukses Selesaikan Uji Penerjunan


Pesawat angkut udara medium multi-misi generasi baru C-390 Millennium telah berhasil menyelesaikan kampanye pengujian penerjunan gravity airdrop dan extraction drop beban berat dengan masing-masing menggunakan Container Delivery System (CDS) dan Low Velocity Air Drop (LVAD).
Embraer C-390 Millenium
Embraer C-390 Millenium  
C-390 Millennium memiliki Cargo Handling dan Aerial Delivery System yang full otomatis pada kompartemen kargo, dimana seorang loadmaster dapat melakukan semua kegiatan, sekaligus mengurangi beban kerja dan meningkatkan kewaspadaan. Untuk pilot, sistem yang disebut CCDP (Continuously Computed Drop Point) menghitung titik pelepasan penerjunan yang optimal untuk akurasi yang lebih baik pada pencapaian misi. Kedua Sistem dikembangkan oleh Embraer.
Pengujian dilakukan oleh Embraer bekerja sama dengan Angkatan Udara Brasil dan Angkatan Darat Brasil, dilakukan di fasilitas milik AD Amerika Serikat, Yuma Proving Ground, di Arizona, AS. Pencapaian utama dari kampanye pengujian ini adalah penerjunan platform maksimum tunggal dengan bobot 19 metrik ton (42.000 lb) serta penerjunan udara berurutan dari dua platform dengan total bobot 24 metrik ton. Berdasarkan hasil ini, C-390 Millennium menjadi satu-satunya pesawat angkut menengah yang mampu melakukan operasi ekstrem tersebut.
Selama kampanye penerjunan 2019, C-390 Millennium telah menerjunkan beberapa kontainer secara gravitasi hingga 24 kontainer dalam satu lintasan terbang, dan beberapa platform Type V menggunakan parasut ekstraksi, dengan total muatan gabungan mencapai 330 metrik ton.
Prestasi tambahan dari kampanye pengujian tersebut adalah sebagai berikut:
  • Pengiriman udara secara berurutan (sekuensial) dengan ekstraksi hingga empat platform dalam satu lintasan;
  • Penerjunan secara ekstraksi menggunakan dua parasut ekstraksi 28-feet dengan bantuan autopilot;
  • Sistem Continuously Computed Drop Point (CCDP) berhasil diuji untuk penerjunan gravitasi dan ekstraksi, menunjukkan akurasi yang sangat baik.

Penanganan pesawat dalam semua kondisi penerjunan udara sangat baik dengan kontrol penerbangan full fly-by-wire yang menjadi sangat efektif dalam menangani perubahan sikap pitch pesawat selama dan setelah setiap pelepasan beban. Kondisi penerjunan yang paling sulit dilakukan tanpa intervensi dari pilot (fly-by-wire sidestick dalam posisi netral). Umpan balik yang sangat positif dari pilot Embraer dan Angkatan Udara Brasil menegaskan kinerja pesawat yang unggul selama operasi penerjunan.(Angga Saja-TSM)
Sumber : embraer.com

Pakistan Beli Ratusan Howitzer Swa-Gerak 155mm dari Tiongkok


Menurut berita yang dirilis di situs web News Nation pada 24 Desember 2019, Pakistan akan membeli 236 howitzer swa-gerak beroda ban 6x6 SH-15 155 mm dari Tiongkok.
Howitzer Swa Gerak SH1 155mm Tiongkok
Howitzer Swa Gerak SH1 155mm Tiongkok 
Selama bertahun-tahun, angkatan bersenjata Pakistan sedang dalam proses untuk memperkuat kemampuan artilerinya, terutama dengan solusi artileri baru yang lebih mobile. Menurut Database Transfer SIPRI Arms, Pakistan telah membeli 36 howitzer swa gerak SH1 155mm dari Tiongkok pada 2013-2014.
Pada bulan November 2018, selama Pameran Pertahanan Internasional IDEAS di Karachi, Perusahaan Tiongkok NORINCO China North Industries Group Corporation Limited telah memperkenalkan generasi terbaru howitzer swa-gerak beroda ban 155mm bernama SH15. Kendaraan artileri baru ini diluncurkan pada AirShow China pada November 2018.
Saat ini, Angkatan Darat Pakistan mengoperasikan M109A5, howitzer swa-gerak beroda rantai yang diproduksi oleh Amerika Serikat tetapi Pakistan akan melanjutkan modernisasi pasukan artileri dengan sistem artileri roda ban yang baru. Bagi Angkatan Darat Pakistan, yang ideal mungkin adalah senjata yang lebih ringan, yang bisa dibawa oleh helikopter angkutnya menggunakan sling eksternal.
SH15 adalah howitzer swa-gerak beroda ban buatan Tiongkok baru yang didasarkan pada sasis truk Shaanxi 6x6 dengan kabin berlapis baja di bagian depan dan satu meriam howitzer 155 mm yang dipasang di bagian belakang truk. Howitzer baru ini terlindungi dari tembakan senjata ringan dan serpihan artileri. Awak kabin memiliki dua jendela antipeluru besar di bagian depan dan ada dua pintu di setiap sisi.
SH15 memiliki jarak tembak maksimum 20 km dengan amunisi standar dan 53 km dengan proyektil artileri berpendorong roket. Kendaraan artileri ini dapat dioperasikan oleh lima awak. Menurut beberapa narasumber militer, kendaraan akan memiliki berat maksimum 22 ton.(Angga Saja-TSM)

Angkatan Bersenjata Turkmenistan Dipersenjatai Senapan Bereta ARX160 dan Tavor


Angkatan Bersenjata Turkmenistan telah dipersenjatai dengan senapan serbu ARX160A1/A2 5,56 mm yang dibuat oleh perusahaan Italia Beretta dan karabin keluarga Tavor 5,56 mm yang diproduksi oleh perusahaan Israel, Israel Weapon Industries (IWI), menurut foto yang dirilis oleh majalah Milli Gosun, outlet media resmi dari Kementerian Pertahanan Turkmenistan.
Angkatan Bersenjata Turkmenistan
Angkatan Bersenjata Turkmenistan 
Majalah ini telah menerbitkan galeri foto yang dibuat selama parade militer yang ditujukan untuk peringatan 28 tahun kemerdekaan Turkmenistan. Para prajurit Angkatan Darat Turkmenistan membawa senapan serbu 5,56 mm ARX160A1 dengan pembidik optik yang melekat pada rel Picatinny MIL-STD-1913 diatas senjata api. Namun, senjata itu nampak tidak memiliki aksesoris lain.
Para prajurit Angkatan Udara Turkmenistan, yang juga terlibat dalam parade, dipersenjatai dengan senapan serbu ARX160A1 5,56 mm basic tanpa pembidik optik atau aksesori. Para anggota Pasukan Khusus Turken membawa varian senjata api yang sama. Namun demikian, beberapa unit khusus berpakaian hitam menerima ARX160A1 dengan laras yang lebih panjang dan pembidik optik.
Peserta parade lainnya dipersenjatai dengan senapan serbu ARX160A1/A2 dan karabin dalam berbagai konfigurasi. Beberapa senjata dilengkapi dengan pembidik optik.
Sebelumnya, Angkatan Bersenjata Turkmenistan dipersenjatai dengan keluarga senapan serbu Kalashnikov AK-74 yang menggunakan amunisi 5,45x39 mm Soviet/Rusia. Selain itu, beberapa unit khusus Tukrmen diketahui telah dilengkapi karabin Tavor X95 5,56 mm buatan Israel. Dengan demikian, Turkmenistan telah berpindah kaliber utama senjata infanteri standar Soviet/Rusia ke standar NATO.(Angga Saja-TSM)

27 Desember 2019

Kapal Induk Shandong Cina Pamer Kekuatan di Selat Taiwan


Militer Cina mengerahkan kapal induk Shandong yang baru diluncurkan untuk berlayar melewati Selat Taiwan.
Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan ini di tengah proses kampanye Presiden, yang sedang berlangsung di negara pulau itu. Pilpres dan pemilihan legislatif akan digelar pada 11 Januari 2019.
Kapal Induk Shandong CV-17
Kapal Induk Shandong CV-17 
Demokratik Taiwan dianggap sebagai provinsi yang memberontak terhadap kekuasaan Partai Komunis Cina di Beijing, Cina. Ini merupakan isu teritorial sangat sensitif dan penting. Pemerintah Cina telah mengancam akan menyerang jika Taiwan menyatakan kemerdekaan secara formal.
“Kapal induk Shandong berlayar ke utara melewati Selat Taiwan,” begitu pernyataan kemenhan Taiwan seperti dilansir Reuters pada Kamis, 26 Desember 2019.
Kemenhan Taiwan tidak menyebutkan waktu persis kapal induk Shandong melewati perbatasan laut kedua negara.
“Merupakan tanggung jawab dan tugas dari kedua pihak di antara selat untuk mempertahankan perdamaian dan stabilitas dan menjaga kemaslahatan rakyat,” begitu pernyataan kantor Presiden Taiwan.
Kantor Presiden Taiwan juga menegaskan Beijing harus menjaga perdamaian dan stabilitas lintas selat dan wilayah, yang tidak mudah diperoleh.
Soal ini, kemenhan Cina belum memberikan respon.
Seorang pejabat senior Taiwan yang mengetahui isu keamanan mengatakan patroli Angkatan Laut Cina merupakan upaya terbaru Beijing untuk mencampuri pemilu Taiwan.
“Dengan mengencangkan otot militer, Cina berupaya mengintimidasi pemilih mengambang,” kata pejabat ini.
Pejabat yang enggan diungkap identitasnya ini mengatakan,”Tindakan Cina ini bisa menjadi pedang bermata dua. Namun, yang paling mengkhawatirkan CIna adalah kemungkinan terjadinya kekacauan bagi kelompok pro-Cina pada pemilihan umum ini.”
Menurut dia, pemerintah Cina lebih suka melihat kandidat dari partai oposisi utama Kuomintang memenangkan pilpres ini. Ini karena partai itu mendukung hubungan lebih erat dengan Cina.
Sebelumnya, juru bicara pemerintah Cina, Wu Qian, mengatakan proses peluncuran kapal induk buatan domestik berlangsung lancar. Namun, dia tidak menyebut kemana penugasan kapal induk itu.
“Kapal itu akan terus melakukan uji coba dan pelatihan dan membangun kemampuan tempur dari pelatihan,” kata Wu.
Media Taiwan News melansir pengerahan kapal induk Shandong itu terjadi 16 hari menjelang pemilu. Sebelum ini, sejumlah kapal perang AL dan jet tempur AU Cina telah bergerak mendekati Taiwan. Ini ditafsirkan sebagai intimidasi dari Cina jelang pemilu 11 Januari 2020.(Tempo.co)

Key Leader Engagement, Kunci Satgas Konga XXIII-M Menangkan Hati Rakyat Lebanon


Key Leader Engagement (KLE) atau yang dikenal sebagai Komunikasi Sosial (Komsos) dalam Pembinaan Teritorial (Binter) berhasil membawa Satgas Kontingen Garuda (Konga) XXIII-M/UNIFIL memenangkan hati warga Lebanon
Satgas Konga XXIII-M
Satgas Konga XXIII-M 
Hal tersebut disampaikan oleh Komandan Satgas Indobatt XXIII-M/UNIFIL, Letkol Inf Arfa Yudha Prasetya, dalam rilis tertulisnya di Lebanon Selatan, Rabu (25/12/2019).
Dikatakan Dansatgas, memenangkan hati dan pikiran warga Lebanon, merupakan salah satu cara untuk menunjang pencapaian keberhasilan dalam pelaksanaan tugas.
“Seperti KLE yang Satgas lakukan dengan kegiatan antara lain anjangsana, kerja bakti dan kegiatan sosial lainnya yang langsung bersentuhan dengan warga sekitar,” ujarnya.
“KLE merupakan kunci untuk membuka langkah-langkah yang akan diambil selanjutnya dalam menjalin tali silaturahmi dengan warga Lebanon,” terangnya.
Dijelaskan Arfa, kunjungan tersebut dilakukan ke seluruh pimpinan daerah (dikenal dengan sebutan Mayor sebagai Walikota, dan Mukhtar sebagai Kepala Desa) di daerah operasi Satgas.
“Setelah KLE dilaksanakan, kegiatan dilanjutkan oleh staf Satgas pimpinan Mayor Inf Yoel Sri Liga. Ini dilakukan secara rutin, untuk mengetahui langkah-langkah apa yang dapat dilakukan Satgas untuk membantu kesulitan penduduk lokal,” tuturnya.
“Selain itu di bidang olahraga, dimana futsal merupakan salah satu olah raga yang paling digemari warga Lebanon. Hal ini tentu menjadi peluang dalam menjalin komunitas para pemula melalui olahraga futsal,” lanjutnya.
Lanjutnya, hasil hubungan baik tersebut dapat dilihat dengan keberhasilan Satgas menyalurkan bantuan UNIFIL kepada warga Lebanon.
“Beberapa kegiatan tersebut antara lain penyaluran mesin penyulingan minyak zaitun, genset listrik, komputer, pembangunan fasilitas kesehatan, ambulance dan perbaikan jalan,” jelas Arfa.
Menjelang akhir penugasan ini, dirinya kembali mengunjungi para Mayor untuk menyampaikan apresiasi serta mengucapkan terima kasih atas segala dukungan yang diberikan.
“Momen ini sekaligus digunakan untuk berpamitan dan membangun kepercayaan warga dengan Satgas, dimana tentunya akan mempermudah langkah bagi Satgas selanjutnya dalam meneruskan perjuangan pasukan Garuda di Lebanon,” ucap Alumni Akmil 2002 ini.
“Semakin kokoh dan kuatnya hubungan baik antara Satgas dengan penduduk lokal, tentunya akan terwujud kemanunggalan untuk bersama-sama menjaga keamanan dan perdamaian di Lebanon, sehingga pasukan Garuda tetap ada dihati penduduk Lebanon,” tandas Arfa. (Dispenad).

Yasen-M Class, Rusia Luncurkan Kapal Selam Canggih


Rusia meluncurkan kapal selam canggih bertenaga nuklir generasi keempat kelas Yasen-M. Media Barat menulis kapal selam yang mampu membawa rudal jelajah dan senjata mematikan lainnya ini menjadi hadiah Natal mematikan untuk Amerika Serikat (AS).
Yasen-M Class
Yasen-M Class 
Kapal yang diberi nama Novosibirsk ini diperkirakan akan bergabung dengan Angkatan Laut Rusia tahun depan. Upacara peluncuran diadakan di galangan kapal Sevmash di kota Severodvinsk, Rusia barat laut pada hari Rabu.
Peluncuran ini berlangsung hanya beberapa hari setelah galangan kapal itu menandai ulang tahunnya yang ke-80. "Acara seperti ini adalah cara terbaik untuk menandai kesempatan ini," kata Wakil Direktur Jenderal Sevmash, Sergey Voronko.
Rekaman upacara peluncuran kapal selam kelas Yasen-M telah dirilis untuk publik dan itu tidak menunjukkan banyak hal dari kapal itu, karena Rusia tetap menjadikannya rahasia besar. Video yang dirilis hanya menunjukkan buritan kapal selam dan baling-balingnya secara detail, yang memberikan ruang bagi para ahli untuk berspekulasi.
Kapal Novosibirsk adalah kapal selam yang diproduksi massal pertama dari jenisnya. Kapal selam perdana kelas Yasen-M, Kazan, masih menjalani uji coba oleh Angkatan Laut dan diperkirakan juga akan bergabung dengan Angkatan Laut pada tahun 2020. Empat lagi kapal selam jenis ini sedang dibangun, dan setidaknya dua lagi diperkirakan akan diluncurkan tahun depan.
Sementara sedikit yang diketahui tentang kapal selam baru Rusia ini. Kapal-kapal baru kelas Yasen-M ini mampu menggunakan setiap jenis rudal jelajah Kalibr, senjata anti-kapal Onik, dan senjata torpedo berukuran 533 mm yang besar.
Kapal selam Novosibirsk, seperti dikutip Russia Today, Kamis (26/12/2019), juga kemungkinan akan membawa rudal jelajah hipersonik Zircon, karena dapat diluncurkan dari tabung yang sama yang digunakan untuk Kalibr dan Onik. Namun, militer Moskow belum mengonfirmasi secara resmi tentang senjata yang akan dipakai kapal tersebut.
Peluncuran Novosibirsk tidak luput dari perhatian media militer Barat. The National Interest menyebut kapal baru itu sebagai "hadiah Natal untuk Angkatan Laut AS dari Rusia." "Kapal selam paling mematikan di Moskow," tulis media tersebut. (Muhaimin)

Ad Placement

TNI AD

TNI AL

TNI AU