Punya 650 Armada Kapal, Angkatan Laut Cina Jadi Ancaman Amerika Serikat? - Radar Militer

25 Desember 2019

Punya 650 Armada Kapal, Angkatan Laut Cina Jadi Ancaman Amerika Serikat?


Pakar pertahanan dari US Naval War College, Andrew Erickson, menyatakan bahwa armada yang dimiliki Angkatan Laut Cina lebih besar dari yang dipikirkan banyak orang. Ini yang membuat Amerika Serikat mempertimbangkan strategi maritim Pasifiknya.
Kapal Perang China
Kapal Perang China 
"Angkatan bersenjata Cina terdiri dari tiga organisasi besar, masing-masing dengan subkomponen maritim yang sudah menjadi kekuatan laut terbesar di dunia berdasarkan jumlah kapal," kata Erickson dalam Forum Pertahanan Indo-Pasifik, seperti dikutip National Interest, 22 Desember 2019.
Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat Cina (PLAN) pada 2020 akan memiliki antara 313 dan 342 kapal perang, demikian perkiraan Kantor Intelijen Angkatan Laut AS. Sebagai perbandingan, pada pertengahan 2018 Angkatan Laut AS hanya memiliki 285 kapal perang.
Namun, Erickson melanjutkan, PLAN hanya menyumbang sebagian kecil dari kekuatan maritim Cina. Selain PLAN, organisasi maritim Beijing termasuk Penjaga Pantai Cina dan Milisi Maritim Angkatan Bersenjata Rakyat, atau PAFMM. Kedua organisasi itu membantu Partai Komunis Cina untuk mengejar tujuan kebijakan luar negerinya. Kapal tempur USS Ronald Reagan dan kapal pertahanan Jepang JS Izumo, sedang beroperasi di Laut Cina Selatan. Sumber: JMSDF/US Navy/Handout via Reuters/aljazeera.com
"Tidak mencari perang, tapi bertekad untuk mengubah status quo secara paksa. Beijing mengoperasikan pasukan laut kedua dan ketiga yang sangat besar yang disebut operasi zona abu-abu maritim untuk memajukan klaim kedaulatannya yang disengketakan di laut dekat, Laut Kuning, Timur dan Selatan Cina," ujar Erickson.
Penjaga pantai dan milisi telah tumbuh bersama PLAN. Menurut Erickson angkatan laut kedua Cina, penjaga pantai, adalah yang terbesar di dunia, dengan lambung lebih banyak dari gabungan semua negara tetangga di kawasan itu.
"225 kapal lebih dari 500 ton yang mampu beroperasi di lepas pantai dan 1.050 lainnya di perairan yang lebih dekat, totalnya 1.275," tutur Erickson. "Kapal penjaga pantai baru jauh lebih canggih dari kapal yang diganti. Dalam hal peningkatan kualitatif, Cina kini telah menggantikan kapal-kapal patroli besar yang lebih tua dan kurang mampu."
Sementara milisi maritim juga telah tumbuh dan dimodernisasi. Sejak 2015, dimulai di Kota Sansha, Cina telah mengembangkan pasukan milisi penuh waktu: lebih profesional, militerisasi, unit-unit yang dibayar dengan baik termasuk rekrutan militer, menggunakan 84 kapal besar yang dilengkapi  dengan meriam dan rel eksternal untuk penyemprotan dan serudukan.
"Karena tidak memiliki tanggung jawab menangkap ikan, personel berlatih untuk berbagai macam di masa damai dan kontinjensi masa perang, termasuk dengan senjata ringan, dan menyebarkan secara teratur ke fitur Laut Cina Selatan yang disengketakan bahkan selama moratorium penangkapan ikan," kata Erickson.
Gabungan PLAN, penjaga pantai dan milisi memiliki sekitar 650 kapal besar dengan kemampuan militer. Namun, Cina bukan satu-satunya negara yang memanfaatkan beberapa pasukan maritim. Amerika Serikat juga memiliki penjaga pantai, militer lautan (coast guard), dan Military Sealfift Command (MSC) yang dioperasikan warga sipil.
Coast guard AS mengoperasikan sekitar 240 kapal yang panjangnya lebih dari 20 meter. MSC mengoperasikan 120 kapal logistik, kargo, dan kapal pendukung. Jika ditambahkan dengan 285 kapal perang Angkatan Laut, maka armada gabungan AS berjumlah 645 kapal dengan kemampuan militer.
Artinya, armada AS dan Cina kira-kira berukuran sama, dalam hal lambung. Rata-rata, kapal-kapal Amerika lebih besar dan lebih canggih. Namun, Erickson menjelaskan bahwa angka penting secara signifikan dalam menjaga keberadaan dan pengaruh di lautan vital. Selain itu, kepentingan AS bersifat global sedangkan Cina bersifat regional.
"Bahkan kapal yang paling canggih pun tidak dapat berada di lebih dari satu tempat secara bersamaan," tutur Erickson. "Kapal Penjaga Pantai AS terfokus di dekat perairan Amerika, jauh dari perselisihan internasional, sementara Angkatan Laut AS tersebar secara global, dengan banyak kapal terpisah dari Asia Timur maritim oleh tanggung jawab, geografi, dan waktu."
Sebaliknya, ketiga pasukan laut utama Cina tetap berfokus pada laut dekat yang diperebutkan dan pendekatan langsung mereka, dekat dengan tanah air Cina, cakupan darat dan udara serta jalur pasokan rudal.
Sekutu AS menyumbangkan pasukan mereka, namun itu tidak berarti AS tidak mempertimbangkan kembali strateginya sendiri mengingat keunggulan numerik Cina di laut.
Erickson menyarankan AS menunjukkan kepemimpinan proaktif lebih lanjut di Indo-Pasifik dengan lebih banyak informasi tentang ketiga pasukan laut Cina. "Menekankan sifat kerja sama keamanan kolektif dan mendorong sekutu dan mitra untuk berinvestasi untuk melengkapi kemampuan AS," ujar Erickson.(Moh Khory Alfarizi)

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda

- Berkomentarlah yang sopan dan bijak sesuai isi artikel/ berita;
- Dilarang berkomentar SPAM, SARA, Politik, Provokasi dsb