Rusia Siap Sambut Lawatan Menteri Pertahanan Prabowo - Radar Militer

19 Desember 2019

Rusia Siap Sambut Lawatan Menteri Pertahanan Prabowo


Menteri Pertahanan Prabowo Subianto kini sedang sibuk mengunjungi berbagai negara dengan kekuatan militer dominan. Oktober lalu, Prabowo berkunjung ke Amerika Serikat (AS), dan ia kini sedang bertolak ke China.
AS dan China sama-sama negara dengan militer dominan di wilayah masing-masing. Laporan Global Firepower 2019 menyatakan AS sebagai negara dengan militer terkuat di dunia, sementara China adalah terkuat nomor tiga di dunia sekaligus memimpin di benua Asia.
Menteri Pertahanan Prabowo
Menteri Pertahanan Prabowo 
Pada daftar itu, Federasi Rusia berada di peringkat dua. Ini berarti militer negara itu yang paling kuat di benua Eropa, bahkan lebih kuat dari China.
Kedutaan Besar Rusia pun siap menyambut kedatangan Prabowo ke Moskow untuk bertemu dengan Menteri Pertahanan sekaligus Panglima Tertinggi Rusia: Sergey Shoygu.
"Mengingat kami memiliki perencanaan militer dan persiapan teknis militer yang ekstensif, tentunya kami akan siap dan akan senang untuk menyambut Menteri Prabowo, Jenderal Prabowo, untuk berbincang dengan Menteri Pertahanan kami. Tentunya ini esensial," ujar Oleg V. Kopylov, Deputy Chief of Mission Kedutaan Besar Rusia untuk Republik Indonesia di Jakarta, Rabu (18/12/2019).
Oleg Kopylov mengatakan bahwa Menteri Pertahanan Shoygu juga sudah memberikan ucapan selamat kepada Prabowo Subianto usai terpilih sebagai menteri.
Menurut Global Firepower, kekuatan militer tertinggi Rusia berada di angkatan darat dengan jumlah tank tempur sebanyak 21.932, kendaraan tempur lapis baja sebanyak 50.049, dan artileri self-propelled sebanyak 6.083.
Terkait proses pembelian pesawat Sukhoi SU-35 yang masih terganjal, Oleg mengakui ada pihak-pihak yang tak senang jika Indonesia membeli senjata Rusia. Namun, ia percaya Indonesia tak akan bisa ditekan.
Amerika Serikat (AS) pun dipandang tidak senang jika ada negara yang membeli senjata Rusia. Sebelumnya, ada kasus AS menegur Turki, India, dan China yang membeli senjata Rusia.
Oleg pun bisa paham jika AS tidak senang, sebab AS juga punya bisnis militer yang besar. Ia pun berharap persaingan dagang senjata bisa berjalan secara adil tanpa memberi ancaman dengan sanksi kepada negara yang ingin membeli senjata Rusia.
"Beberapa negara mencoba mengancam Indonesia, tetapi Indonesia tidak terancam, dan itu sangat bagus," ujar Oleg yang turut berkata Indonesia dan Rusia rutin berkomunikasi soal pembelian senjata.(Tommy Kurnia)

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda

- Berkomentarlah yang sopan dan bijak sesuai isi artikel/ berita;
- Dilarang berkomentar SPAM, SARA, Politik, Provokasi dsb