Korsel Berhasil Selesaikan Prototipe Radar AESA untuk KF-X

radarmiliter.com - Badan Pengembangan Pertahanan Korea Selatan (Agency for Defense Development - ADD) and Hanwha Systems berhasil menyelesaikan pengembangan prototipe radar multi fungsi AESA (active electronically scanned array) yang akan digunakan pada pesawat tempur KF-X, sesuatu yang semula dianggap tidak mungkin bahkan oleh kalangan dari Korea Selatan sendiri.
Seorang pejabat dari pemerintah Korea Selatan mengatakan, "Acara peluncuran resmi telah dijadwalkan pada bulan depan, dimana hal ini sangat berarti karena kami akhirnya berhasil menyelesaikan pengembangan radar AESA, yang sebelumnya dianggap tidak mungkin untuk dilakukan."
Prototipe Radar AESA untuk KF-X
Prototipe Radar AESA untuk KF-X 
Menurut narasumber pemerintah Korea Selatan pada tanggal 2 Juli, radar tersebut akan diluncurkan dalam sebuah acara resmi pada tanggal 12 Agustus.
Radar AESA yang dikembangkan Korea Selatan tersebut mampu melacak dan mendeteksi lebih dari 1.000 sasaran dan memiliki kemampuan serang jarak jauh yang presisi yang memainkan peranan penting dalam konsep pertempuran udara modern.
Pengujian dan evaluasi radar AESA Korea Selatan tersebut dilakukan di Israel dengan bantuan Elta Systems yang sudah diakui dunia dalam hal teknologi radar. Dikatakan industri radar Israel tersebut memuji kinerja bagian fungsional radar AESA yang pertama kali dikembangkan oleh Korea Selatan dengan teknologinya sendiri tersebut.
Radar tersebut berhasil lolos dalam Critical Design Review (CDR) pada 26 September tahun laludan kemudian menjalani pengujian udara.
Radar akan menjalani pengujian lebih lanjut pada pesawat prototipe KF-X yang akan roll out pada tahun depan.(Angga Saja-TSM)

Australia Siap Beli Rudal Long Range Anti-Ship Missile (LRASM) dari AS untuk Hadapi Armada Kapal Perang China

radarmiliter.com - Pemerintah Australia memutuskan akan membeli rudal anti-kapal jarak jauh dari Amerika Serikat (AS). Keputusan membeli rudal pembunuh kapal ini diambil setelah berbagai ancaman termasuk dari China dirasa telah meningkat.
Canberra berdalih pembelian Long Range Anti-Ship Missile (LRASM) untuk melindungi pasukan luar negeri, sekutu, dan daratannya dari berbagai ancaman asing. Perdana Menteri (PM) Scott Morrison pada hari Rabu (1/7/2020) tidak menyebut negara yang jadi ancaman bagi Australia, namun media setempat menyebut China dan Korea Utara sebagai ancaman yang dimaksud.
PM Morrison menyampaikan pembaruan besar-besaran terhadap strategi pertahanan negara, termasuk pembelian rudal anti-kapal jarak jauh dari AS untuk melengkapi armada F/A-18 Super Hornet-nya.
Rudal Long Range Anti-Ship Missile (LRASM)
Rudal Long Range Anti-Ship Missile (LRASM)  
Pembaruan strategi ini juga akan melihat prospek kemungkinan untuk memperoleh rudal jarak jauh baru yang dapat diluncurkan dari darat di masa depan, termasuk rudal hipersonik yang dapat melesat setidaknya lima kali kecepatan suara.
Strategi pertahanan Canberra kini fokus pada perlindungan diri dan sekutunya di wilayah Indo-Pasifik. Korea Utara dan China dalam beberapa tahun terakhir telah mempercepat pengembangan rudal balistik jarak jauh mereka, yang dapat menempuh jarak lebih dari 5.500 kilometer.
Pada teks pidato yang akan disampaikan di Australian Defence Force Academy di Canberra hari Rabu, Morrison akan mengatakan; "Australia harus menghadapi kenyataan bahwa kita telah pindah ke era strategis baru dan kurang ramah."
Menurutnya, meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut berarti Australia harus mampu menahan pasukan musuh potensial dari jarak yang lebih jauh.
"Ini termasuk mengembangkan kemampuan di bidang-bidang seperti senjata serangan jarak jauh, kemampuan dunia maya dan area denial systems," bunyi bocoran pidato yang akan disampaikan Morrison sebagaimana dikutip The Sydney Morning Herald.
Strategi pertahanan 10 tahun pemerintah Morrison juga membuka pintu untuk mengejar persenjataan mutakhir, termasuk senjata energi terarah dan kendaraan peluncur hipersonik saat ini masih dalam tahap awal penyebaran di AS dan China.
Australia bermaksud untuk bergabung dengan kekuatan besar dalam mengembangkan kemampuan khusus untuk memasuki ranah perang perang yang pernah futuristik di ruang angkasa dan perang siber dan informasi.
Canberra mengandalkan Washington untuk memasok dan mendukung senjata baru Australia, memperluas ketergantungan yang sudah ada pada AS.
LRASM memiliki jangkauan hingga 370 km, sekitar tiga kali lipat dari rudal-rudal Australia saat ini.
Australia sebelumnya telah menolak tawaran AS membolehkan Darwin menjadi lokasi pengerahan rudal jarak jauh Washington. Namun, Canberra kini mempertimbangkan opsi untuk membeli sekitar 200 rudal buatan Lockheed Martin untuk armada Super Hornet dan mungkin juga pesawat tempur lain. Pembelian LSASM akan menelan biaya sekitar AUSD800 juta.
Rudal-rudal baru nantinya akan menjadi peningkatan signifikan dari rudal anti-kapal ADF Harpoon saat ini, yang diperkenalkan pada awal 1980-an dan hanya memiliki jangkauan 124 kilometer.
PM Morrison mengatakan ketegangan atas klaim teritorial meningkat di kawasan Indo-Pasifik, termasuk bentrok di perbatasan yang disengketakan antara India dan China, sengketa kawasan Laut China Selatan dan juga Laut China Timur.
Sejak Buku Putih Pertahanan 2016 pemerintah dikeluarkan, Morrison mengatakan dunia telah menyaksikan percepatan tren strategis yang sudah berjalan.
"Risiko salah perhitungan dan bahkan konflik semakin tinggi," lanjut bocoran pidato Morrison yang dijadwalkan disampaikan malam ini.
Menurutnya, hubungan antara China dan AS sangat kacau ketika mereka bersaing untuk supremasi politik, ekonomi dan teknologi."Tetapi mereka bukan satu-satunya aktor dari konsekuensi," imbuh bocoran pidato tersebut.
"Jepang, India, Republik Korea, negara-negara Asia Tenggara, dan Pasifik semuanya memiliki agensi pilihan untuk membuat dan bagian untuk dimainkan. Begitu juga Australia."
"Ada dinamika baru persaingan strategis, dan lingkungan keamanan yang sebagian besar jinak telah dinikmati Australia kira-kira dari runtuhnya Tembok Berlin ke Krisis Keuangan Global hilang," sambung bocoran teks pidato Morrison.
Pembaruan baru akan memprioritaskan fokus geografis ADF (Pasukan Pertahanan Australia) pada wilayah langsung wilayah mulai dari Samudra Hindia timur laut, melalui maritim dan daratan Asia Tenggara hingga Papua Nugini dan Pasifik Barat Daya.
Strategi ini memiliki tiga tujuan utama, yakni untuk membentuk lingkungan strategis Australia, mencegah tindakan terhadap kepentingan Australia dan menanggapi dengan kekuatan militer yang kredibel, bila diperlukan.
Alasan dari strategi baru ini adalah bahwa kemampuan global tidak lagi sama pentingnya sebuah tanda bahwa Australia akan terlibat dalam lebih sedikit upaya di Timur Tengah dan memusatkan pertahanannya di kawasan Indo-Pasifik.
Strategi pemerintah menekankan "membentuk" lingkungan strategis dengan mengintensifkan hubungan dengan negara-negara sahabat di kawasan itu, termasuk Asia Tenggara dan Pasifik Selatan.
Ini bertujuan untuk menghentikan negara-negara yang tidak bersahabat membangun pangkalan militer baru dan infrastruktur di wilayah tersebut. Meskipun China tidak disebutkan namanya, negara itu adalah penyebab besar kekhawatiran di antara para ahli strategi pemerintah Australia.
Rencana strategis tersebut menjanjikan AUSD270 miliar selama 10 tahun, komitmen yang dirancang untuk memberikan kepastian perencanaan jauh melampaui siklus anggaran empat tahun yang normal. Ini bukan peningkatan pengeluaran pertahanan Australia secara riil di luar status quo.
Itu juga tidak mengantisipasi platform pengiriman utama baru, yakni kapal selam, kapal perang atau pun pesawat di luar keputusan yang sudah ada sebelumnya.
Pemerintah mengalokasikan AUSD7 miliar untuk perang antariksa, AUSD15 miliar untuk perang siber dan informasi, AUSD55 miliar untuk pertempuran darat, AUSD65 miliar untuk penerbangan dan AUSD75 miliar untuk kemampuan maritim.
Beberapa kontrak pertahanan yang lebih rendah akan dibatalkan untuk menghemat uang untuk persenjataan baru, tetapi para ahli diyakini akan mempertanyakan janji anggaran baru itu.
Anggaran pertahanan untuk tahun depan diperkirakan akan mencapai 2 persen dari PDB Australia pra-pandemi Covid-19, yang memenuhi janji koalisi pimpinan AS. Tetapi strategi baru mengatakan bahwa pemerintah tidak akan lagi menggunakan target yang berhubungan dengan PDB untuk pengeluaran pertahanan.
Tema strategi ini adalah menambahkan kemampuan domestik jika memungkinkan. Sekitar AUSD50 miliar diperuntukkan untuk mengembangkan perusahaan pertahanan dan tenaga kerja dalam negeri.
Dorongan untuk pertahanan muncul setelah rapat virtual antara menteri luar negeri dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) pada Selasa malam.
Menteri Luar Negeri Marise Payne mengumumkan Australia akan membuat komitmen AUSD23 juta untuk membantu negara-negara ASEAN meningkatkan keamanan kesehatan, menjaga stabilitas dan melakukan pemulihan ekonomi segera setelah pandemi virus corona baru (Covid-19).
Rilis strategi pertahanan baru ini dilakukan setelah pemerintah mengumumkan Selasa, di mana kepala badan pertahanan siber Australia akan merekrut 500 staf baru di bawah paket AUSD1,35 miliar. Uang itu akan keluar dari tempat lain dalam anggaran pertahanan.
Pemerintah akan merilis strategi keamanan siber baru empat tahun dalam beberapa bulan mendatang, keputusan sebagai respons atas gelombang serangan siber terhadap pemerintah dan bisnis Australia, yang diyakini dilakukan oleh agen keamanan yang berasal dari China.
Juru bicara urusan dalam negeri Oposisi Kristina Keneally mengatakan dia menyambut pengumuman pendanaan itu, tetapi itu "bukan strategi".
"Kami berharap pemerintah akhirnya memberikan strategi keamanan siber. Kami akan bekerja dengan pemerintah untuk memastikan keamanan nasional kami, termasuk keamanan siber, tidak hanya dipertahankan tetapi diperkuat," katanya. (Muhaimin)

Jet Tempur F-16CM AU AS Jatuh dan Meledak, Pilot Gugur, Penyebabnya Misterius

radarmiliter.com - Sebuah pesawat jet tempur F-16CM Fighting Falcon Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) jatuh dan meledak di sebuah pangkalan militer di South Carolina, Selasa malam waktu setempat. Seorang pilotnya dinyatakan gugur.
Insiden terjadi di Shaw Air Force Base (AFB) atau Pangkalan Angkatan Udara Shaw sekitar pukul 23.30 malam. Pesawat F-16 yang jatuh tersebut ditugaskan untuk Sayap Tempur ke-20 (20th Fighter Wing).
Jet Tempur F-16CM AU AS
Jet Tempur F-16CM AU AS 
Para pejabat di Shaw AFB mengatakan bahwa pesawat itu sedang dalam misi pelatihan rutin dengan satu pilot di dalamnya ketika kecelakaan itu terjadi.
Tim respons darurat Shaw AFB ada di lokasi kejadian. Petugas Sumter County Fire and Rescue juga ikut membantu menangani kecelakaan.
Pilot dibawa ke Prisma Tuomey Hospital untuk perawatan di mana dia kemudian dinyatakan meninggal.
Penyebab kecelakaan belum diketahui dan identitas pilot belum dirilis. Menurut Shaw AFB, insiden ini sedang diselidiki.
"Karena menghormati dan mempertimbangkan keluarga (pilot), kami meminta kesabaran Anda dan untuk menghindari spekulasi sampai kami merilis lebih banyak informasi," kata para pejabat Shaw AFB, seperti dikutip Stars and Stripes, Rabu (1/7/2020). (Muhaimin)

Serbia Terima Drone Serang CH-92A dari Tiongkok

radarmiliter.com - Drone serang Tiongkok Rainbow CH-92A tiba di Bandara Militer Bataitsa dekat ibu kota Serbia, Belgrade kemarin (01/07).
Sebuah pesawat kargo mendarat di Bataitsa, yang mengangkut CH-92A ke Serbia, menurut laporan media setempat mengutip narasumber militer. Jumlah pasti drone yang dibeli Serbia belum diungkapkan, tetapi pembelian itu menyangkut akuisisi dua sistem, berarti terdiri dari enam drone jenis ini, yang mampu membawa senjata rudal, kata laporan itu.
Drone Serang CH-92A
Drone Serang CH-92A  
Laporan sebelumnya mengatakan bahwa Serbia akan menerima pengiriman 9 drone intai/tempur dengan opsi pemesanan tambahan sebanyak 15 drone. CH-92A memiliki rentang kurang dari 10 meter. Jangkauan penerbangannya mencapai 150 km. Drone dapat terbang pada ketinggian 5 km dengan kecepatan hingga 200 km/jam.
Aleksandar Vulin, menteri pertahanan Republik Serbia, mengatakan dalam sebuah wawancara pada bulan September 2019 lalu dengan Radio-Televisi Serbia bahwa pengadaan drone bersenjata Tiongkok akan memberikan kemampuan baru untuk Angkatan Bersenjata Serbia yang tidak mereka miliki sekarang.
Asisten Menteri Pertahanan Serbia untuk Sumber Daya Material, Nenad Miloradovic telah menyatakan di Dubai Air Show 2019 bahwa tujuan pembelian CH-92A adalah penggunaan komplementer dengan drone buatan Serbia Pegasus yang sedang dikembangkan. Pabrikan drone China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC),juga akan mentransfer teknologi untuk membantu mematangkan drone Pegasus.
Sementara nilai kontrak belum dikonfirmasi, sebuah laporan 2018 mengutip Presiden Serbia mengatakan, "pembelian mencakup 2 hingga 3 baterai pesawat dengan nilai total 30 juta dollar", saat ia menjawab pertanyaan wartawan pada acara kunjungan ke sebuah fasilitas militer.
Sementara beberapa laporan di media Barat sebelumnya menyebutkan bahwa drone yang dibeli Serbia adalah Wing Loong-1 yang lebih populer, kini telah terkonfirmasi bahwa drone yang dimaksud adalah Rainbow CH-92A. Drone akan dilengkapi dengan rudal udara-ke-permukaan FT-8D yang menunjukkan peran bersenjata drone tersebut.(Angga Saja-TSM)

Rusia: Turki Tidak Boleh Mere-ekspor Sistem S-400 Tanpa Persetujuan Rusia

radarmiliter.com - Turki tidak boleh mentransfer atau mengekspor ulang sistem pertahanan rudal S-400 Rusia ke negara ketiga tanpa persetujuan Rusia, kata unit layanan pers Dinas Federal Rusia untuk Kerja Sama Teknis Militer kepada TASS pada hari Selasa (30/06).
"Untuk kami mengekspor produk militer, pembeli senjata kami harus memberikan deklarasi sebagai pengguna akhir (end-user declaration) kepada pihak Rusia. Itulah sebabnya transfer atau ekspor ulang produk-produk tersebut ke negara ketiga tidak mungkin tanpa izin resmi dari pihak Rusia," katanya menekankan.
 Sistem Hanud S-400
 Sistem Hanud S-400 
Surat kabar Defense News Amerika Serikat mengatakan pada hari Senin bahwa Senate Majority Whip John Thune telah mengusulkan amandemen Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (National Defense Authorization Act - NDAA) 2021 yang akan memungkinkan AS untuk membeli sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia dari Turki menggunakan akun pengadaan rudal Angkatan Darat AS. Menurut surat kabar tersebut, langkah ini akan memungkinkan untuk mengatasi kebuntuan antara Washington dan Ankara atas partisipasi Turki dalam program untuk memproduksi jet tempur generasi kelima F-35 Lightning II.
Pada September 2017 Rusia telah menandatangani kontrak senilai 2,5 miliar dolar AS untuk pengadaan sistem rudal S-400 dengan Turki. Batch pertama berdasarkan kontrak itu dikirim ke Ankara dengan angkutan udara pada Juli 2019.
Gedung Putih mengatakan pada pertengahan Juli tahun lalu bahwa "keputusan Turki untuk membeli sistem pertahanan udara S-400 Rusia membuat keikutsertaannya pada program F-35 tidak mungkin berlanjut."(Angga Saja-TSM)

Kemhan Ajukan Anggaran Rp 129,3 Triliun

radarmiliter.com - Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengajukan anggaran sebesar Rp 129,3 triliun pada anggaran tahun 2021 mendatang. Hal itu berdasarkan dokumen Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEMPPKF) Tahun 2021 yang bertajuk Percepatan Pemulihan Ekonomi dan Penguatan Reformasi.
Alokasi anggaran Kemhan yang mencapai Rp 129,3 triliun itu berasal dari dari rupiah murni Rp 113,1 triliun (87,5 persen), pagu penggunaan PNBP Rp 2,1 triliun (1,6 persen), pagu penggunaan BLU Rp 3,1 triliun (2,4 persen), dan SBSN Rp 0,9 triliun (0,7 persen).
Iver Huitfeldt Class
Iver Huitfeldt Class 
Rencananya, dana ratusan triliun itu akan digunakan untuk mendukung pencapaian target prioritas pembangunan nasional bidang pertahanan. Kemhan sendiri sudah menyusun empat program untuk mencapai target prioritas pembangunan nasional bidang pertahanan, termasuk pengadaan alat tempur.
Rincian empat program itu yakni; Program Penggunaan Kekuatan, Program Modernisasi Alutsista dan Non Alutsista dan Sarana dan Prasarana Pertahanan, Program Pembinaan Sumber Daya Pertahanan, dan Program Profesionalisme dan Kesejahteraan Prajurit.
Anggaran Rp 129,3 triliun juga akan digunakan untuk memenuhi sasaran output strategis Kemhan pada tahun 2021 yakni pengadaan alutsista baru. Hanya saja tidak jelaskan secara rinci jenis alutsista yang akan dibeli oleh Kemhan.
Terkait hal ini, tertulis dalam dokumen itu sebagai berikut:
Adapun beberapa sasaran output strategis Kementerian Pertahanan pada tahun 2021 antara lain:
  1. dukungan pengadaan alutsista sebanyak 5 paket;
  2. dukungan pengadaan munisi kaliber kecil sebanyak 1 kegiatan;
  3. dukungan pengadaan/penggantian kendaraan tempur sebanyak 12 unit;
  4. KRI, KAL, Alpung dan Ranpur/Rantis Matra Laut sebanyak 14 unit;
  5. Dukungan pengadaan/penggantian pesawat udara dan lainnya sebanyak 4 unit.

Alokasi rupiah murni juga ditujukan untuk penyelesaian proyek/kegiatan yang ditunda/terhambat akibat adanya pandemi COVID-19 di tahun anggaran 2020.(Angga Saja-TSM)

Akash Spyder dan Pechora, India Kerahkan Tiga Sistem Rudal Sekaligus

radarmiliter.com - India mengerahkan tiga sistem pertahanan rudal sekaligus wilayahnya yang berbatasan dengan China di Ladakh, pegunungan Himalaya. Langkah militer New Delhi ini mengindikasikan perseteruan dengan Beijing terkait sengketa perbatasan semakin memanas.
Pengerahan sistem misil ini dilakukan akhir pekan lalu. Wilayah sengketa itu telah menjadi medan bentrok mematikan pasukan kedua negara pada 15 Juni lalu, di mana 20 tentara New Delhi tewas.
Sistem Rudal Spyder buatan Israel
Sistem Rudal Spyder buatan Israel  
Tiga senjata pertahanan yang dikerahkan antara lain sistem rudal Akash buatan India, Spyder buatan Israel, dan sistem rudal Pechora dan OSA-AK buatan Uni Soviet negara yang terpecah-pecah dan kini bernama Rusia.
India dan China sama-sama meningkatkan kehadiran pasukan dalam jumlah besar yang mencakup tentara, pesawat tempur, helikopter, tank, dan artileri berat sejak insiden 15 Juni.
Kedua negara bersenjata nuklir itu saling tuding satu sama lain sebagai pelanggar perbatasan.
Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China telah mengaktifkan beberapa pangkalan di dekat Ladakh di Daerah Otonomi Tibet, di mana pesawat-pesawat tempur secara teratur menunjukkan kekuatan.
Sedangkan India, menurut sumber yang dikutip United Press International (UPI), Selasa (30/6/2020), telah memperkuat sisi perbatasannya dengan TANK howitzer M777 buatan Amerika Serikat (AS).
Lembah Galwan di Ladakh, lokasi bentrok pasukan India dan China, adalah tempat Garis Kontrol Aktual (LAC) yang diperebutkan. Itu merupakan garis demarkasi antara wilayah India dan China yang didirikan pada tahun 1962. Kedua negara bersenjata nuklir ini terikat perjanjian tidak boleh menggunakan senjata militer di LAC, sehingga dalam bentrok mematikan 15 Juni lalu tidak melibatkan senjata militer.
"Tidak ada perubahan dalam peraturan seperti itu," kata Letnan Jenderal Vinod Bhatia, mantan direktur jenderal operasi militer India. "Pihak kami hanya akan bereaksi terhadap provokasi dan jika terjadi keadaan luar biasa."(Muhaimin)

Lanud Iswahjudi Gelar Latihan Night Air to Ground dan NVG Training

radarmiliter.com - Lanud Iswahjudi kembali menggelar latihan guna meningkatkan kemampuan para penerbang tempur di jajarannya. Saat ini, para penerbang tempur Skadron Udara 3 dan Skadron Udara 15 mengikuti latihan penembakan udara ke darat di malam hari atau Night Air to Ground dan latihan Night Vision Goggles (NVG).
F-16 TNI AU
F-16 TNI AU 
Latihan yang direncanakan berlangsung selama satu minggu ini dilaksanakan di Pulung AWR (Air Weapon Range) yang berada di Kabupaten Ponorogo.
Latihan Night Air to Ground bertujuan untuk meningkatkan kemampuan para penerbang dalam melaksanakan penembakan dari udara ke sasaran yang ada di daratan pada malam hari. Pada latihan ini, para penerbang dilatihkan beberapa profile penembakan yang nantinya akan digunakan dalam melaksanakan misi-misi operasi TNI Angkatan Udara.
Sementara latihan NVG bertujuan meningkatkan kemampuan para penerbang dalam menggunakan peralatan Night Vision Goggles (NVG). NVG adalah peralatan yang mampu menangkap thermal imaging yaitu objek yang terlihat memancarkan sinar infra red. NVG dapat membantu para penerbang untuk melihat permukaan (surface) pada saat malam hari, sehingga dapat meningkatkan situational awareness bagi penerbang dalam melaksanakan operasi pada malam hari.
Selain bertujuan meningkatkan kemampuan para penerbang, latihan ini juga melatih ground crew dalam menyiapkan pesawat maupun armament yang akan digunakan untuk latihan Night Air to Ground.(Pen Lanud Iwj)

Korea Selatan akan Kembangkan ASM Supersonik untuk Pesawat Tempur KF-X

radarmiliter.com - Korea Selatan berencana untuk mengembangkan rudal udara-ke-permukaan (ASM) supersonik baru yang akan dibawa oleh pesawat tempur multirole Korean Fighter eXperimental (KF-X) Angkatan Udara Republik Korea (RoKAF) di masa depan.
Seorang pejabat Kepala Staf Gabungan (JCS) mengatakan kepada Janes pada 30 Juni bahwa senjata itu direncanakan mampu terbang dengan kecepatan melebihi Mach 2.5, beratnya kurang dari 3.000 lb (1,36 ton) dan memiliki jangkauan setidaknya 250 km.
Ilustrasi KFX
Ilustrasi KFX 
Tidak disebutkan rincian lebih lanjut mengenai ASM tersebut.
Pengungkapan itu muncul setelah Janes melaporkan pada 28 Mei bahwa Korea Selatan baru-baru ini menyelesaikan proses pemilihan untuk amunisi berpemandu dan perangkat pemandu (guidance kit) yang rencananya akan diintegrasikan dengan KF-X, yang sedang dikembangkan oleh Korea Aerospace Industries (KAI) dengan PT Dirgantara Indonesia sebagai mitra industri KAI dalam proyek ini.
Para pejabat militer Korea Selatan mengatakan kepada Janes pada 28 Mei bahwa Raytheon GBU-12 Paveway II, Boeing GBU-31/38 Joint Direct Attack Munition (JDAM), GBU-54/56 Laser JDAM, dan GBU-39/B Small Diameter Bomb1 (SDB1), juga Textron Wind Corrected Munitions Dispenser (WCMD) CBU-105 semuanya telah dipilih untuk diintegrasikan dengan KF-X.
Mereka mengatakan proses integrasi untuk bom pintar dan perangkat pemandu, yang semuanya sudah operasional dalam RoKAF, akan dimulai akhir tahun ini, dengan integrasi penuh diharapkan selama enam hingga tujuh tahun mendatang.
Langkah ini dilakukan setelah MBDA Missile Systems mengumumkan pada November 2019 bahwa mereka telah diberikan kontrak untuk integrasi rudal beyond visual range air-to-air missile (BVRAAM) Meteor-nya dengan KF-X.
Juga telah ditetapkan untuk integrasi dengan KF-X adalah rudal udara-ke-udara jarak dekat (SRAAM) IRIS-T oleh Diehl Defense Jerman, dengan kontrak yang diharapkan akan ditandatangani dalam waktu dekat.(Angga Saja-TSM)
Sumber : janes.com

Kapal Selam Nuklir AL China (PLAN) Diprediksi Bakal Lewati Indonesia Menuju Perairan Sekitar India

radarmiliter.com - Pernyataan Sekretaris Negara (Menlu) Amerika Serikat Mike Pompeo dalam konferensi virtual Forum Brussels pada 25 Juni lalu yang menyebutkan Indonesia dan negara-negara lainnya di Asia berada dalam ancaman Partai Komunis China mungkin bukanlah isapan jempol belaka.
Pernyataan itu merupakan warning bagi seluruh negara yang berada di sekitar Laut China Selatan dan Samudera Hindia, khususnya bagi Indonesia. Karena Indonesia yang berada berbatasan langsung dengan Laut China Selatan akan menjadi jalur alternatif bagi Angkatan Laut China untuk mendukung upaya invansi yang dilakukan oleh Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) untuk menghadapi India di Lembah Galwan.
Perkiraan Rute Kapal Selam Nuklir AL China (PLAN)
Perkiraan Rute Kapal Selam Nuklir AL China (PLAN)  
Pergerakan armada tempur China diperkirakan akan melintasi Indonesia untuk merambat masuk ke Samudera Hindia hingga merangsek masuk ke India.
Pengamat intelijen pertahanan laut Open Source Intelligence (OSINT) H.I. Sutton menyatakan, salah satu yang hari ini tengah diperhitungkan oleh dunia adalah arah pergerakan kapal selam (submarine) China yang diprediksi akan melintasi Indonesia melalui Selat Sunda atau Selat Lombok untuk masuk ke wilayah pertahanan India melalui Samudera Hindia.
"Area kunci dari operasi di masa depan mungkin adalah Samudra Hindia. Kapal selam China khususnya dapat memiliki dampak strategis jika mereka menjelajahi perairan itu. Dari sudut pandang China, ini akan melindungi jalur laut vital yang akan rentan dalam perang apa pun," kata HI Sutton dikutip dari Forbes, Rabu, 1 Juli 2020.
Menurut Sutton, saat ini kekuatan militer dunia mungkin fokus di Laut China Selatan, karena Beijing telah membuat klaim teritorial yang cukup luas di wilayah itu. Banyak kalangan tidak memprediksi kemungkinan kekuatan armada laut China masuk ke Teater Samudera Hindia.
Namun bagi India, ancaman itu tampak sangat nyata. Karena kapal selam China tercatat telah melakukan panggilan pelabuhan di Pakistan dan Sri Lanka dalam beberapa tahun terakhir. Sehingga tidak menutup kemungkinan China akan mengerahkan kapal selamnya untuk memperkuat pasukan militer PLA yang saat ini tengah berada di sepanjang Line of Actual Control (LAC), Ladakh, Lembah Galwan.
Hanya saja, Sutton mengatakan, kapal selam China baru dapat melintasi Indonesia menuju Samudera Hindia lewat Selat Malaka jika dalam masa damai. Karena ketika kapal selam China masuk ke perairan Indonesia dia harus muncul ke permukaan perairan Indonesia.
"China mungkin masih melakukannya untuk mengirim pesan, tetapi itu adalah utilitas terbatas dalam pengaturan operasional di mana kapal selam ingin menyembunyikan keberadaan mereka," papar Sutton.
Ia menambahkan, setelah kapal selam China dapat melintasi Selat Sunda atau Selat Lombok menuju Samudera Hindia, mereka akan mendapatkan keuntungan yang sangat signifikan untuk melakukan manuver di kedalaman hingga tidak terdeteksi oleh kekuatan militer India.
"Selat Sunda akan menjadi rute terpendek, tetapi sangat dangkal di ujung timurnya sehingga Selat Lombok yang lebih dalam mungkin lebih disukai. Di sana bagian yang terendam kemungkinan dianggap layak untuk Angkatan Laut China," katanya.
Begitu masuk ke Samudera Hindia, lanjutnya, kapal selam itu bisa dipersenjatai kembali tanpa harus kembali ke China. Sebab, Angkatan Laut China telah memiliki pangkalan militer di Djibouti di Tanduk Afrika. Bahkan jika kapal selam itu sendiri tidak dapat masuk ke pelabuhan, karena diawasi secara ketat, kapal dapat beroperasi dari sana untuk melakukan pengisian ulang di laut.
Selain itu, katanya, China saat ini juga sudah memiliki pelabuhan lain yang sedang dibangun di daerah Gwadar di Pakistan. Dari pelabuhan Gwadar itu, keinginan merubah pelabuhan itu untuk menjadi pangkalan angkatan laut China, tampaknya akan segera terjadi. Gwadar memiliki keuntungan karena terhubung melalui darat ke China sehingga persediaan tidak harus melalui laut.
"Jika China ingin membuat skuadron Samudra Hindia permanen, basis alaminya adalah Gwadar dan Djibouti. Ada juga pulau kecil Feydhoofinolhu di Maladewa, yang sedang dikembangkan China sebagai resor. Perencana akan khawatir bahwa itu dapat bertindak sebagai basis dukungan atau stasiun pemantauan dalam beberapa skenario," kata dia.

Korea Selatan Pesan 20 Pesawat Latih/Serang Ringan TA-50 Block 2

radarmiliter.com -  Badan Administrasi Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan (DAPA) telah memberikan kontrak senilai KRW688,3 miliar (USD572,8 juta) kepada Korea Aerospace Industries (KAI) untuk pengadaan 20 pesawat lead-in fighter trainer/light attack TA-50 Block 2.
TA-50 Block 2
TA-50 Block 2 
Dalam sebuah pernyataannya tanggal 29 Juni, DAPA mengatakan bahwa pemesanan yang baru-baru ini dilakukan dirancang untuk memenuhi persyaratan pelatihan tempur udara Angkatan Udara Republik Korea (RoKAF). Badan tersebut telah mengungkapkan tiga hari sebelumnya bahwa Komite Proyek Pertahanannya telah menyetujui rencana untuk memperoleh sejumlah pesawat Blok 2 yang tidak disebutkan di bawah proyek yang dianggarkan sekitar KRW1 triliun yang diharapkan akan selesai pada tahun 2024.
Blok 2 adalah varian yang ditingkatkan dari TA-50 Blok 1, 22 unit di antaranya saat ini dalam kedinasan RoKAF.
TA-50 hampir identik dengan pesawat latih jet canggih KAI T-50 Golden Eagle tetapi dilengkapi radar Elta EL/M-2032 dan kompatibel dengan rudal udara-ke-udara AIM-9 Sidewinder dan rudal udara ke permukaan AGM-65 Maverick. TA-50 Block 2 dilaporkan akan menampilkan komponen internal yang sama dengan FA-50 kecuali untuk transponder Link-16.
Kebutuhan pesawat latih RoKAF diperkirakan akan meningkat secara signifikan di masa depan karena akan pensiunnya pesawat latih Northrop F-5F yang sudah tua dan masuknya platform tempur garis depan RoKAF, termasuk Lockheed Martin F-35 Lightning II Joint Strike Fighter (JSF). Pengadaan tambahan TA-50 ini akan mengalihkan peran pesawat F/KF-16D untuk sepenuhnya sebagai peran tempur.(Angga Saja-TSM)
Sumber :  janes.com

Uji Coba Truk Amfibi Buatan Bengpuspal

radarmiliter.com - Truk ampibi, dapat dioperasikan di air dan darat, rancangan Bengkel Pusat Pemeliharaan Direktorat Peralatan Angkatan Darat (Bengpuspal Ditpalad) dan PT Pindad,menjalani uji coba di Pelabuhan Biru Waduk Jatiluhur, Jalan Ir H Djuanda, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jumat (26/6/2020).
Saat uji coba, kendaraan pengangkut pasukan itu, tangguh mengarungi perairan dan gahar di medan darat. Cocok pula digunakan untuk mengarungi perairan selat antarpulau jarak dekat dengan tinggi gelombang minimal.
Uji Coba Truk Amfibi Buatan Bengpuspal
Uji Coba Truk Amfibi Buatan Bengpuspal 
Meski dirancang untuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP), tetapi truk ampibi ini bisa dilengkapi senjata mesin otomatis sehingga dapat dioperasikan di medan tempur.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, generasi awal truk ampibi ini mengadopsi basis truk Unimog U1300L. Selanjutnya, Bengpuspal Ditpalad menyulap Hino Ranger FM260 TI keluaran 2012 menjadi truk ampibi.
Sumber tenaga truk ampibi ini menggunakan mesin diesel empat langkah dengan enam silinder yang bertenaga 260PS/2.500 RPM. Dengan kapasitas mesin 7.684 cc berbahan bakar 280 liter, Hino Ranger FM260 TI ini dapat melaju hingga kecepatan maksimum 80 km per jam di darat dan 5-8 knots per jam di air.
Untuk melaju di air, truk berpengggerak 4×4 ini dilengkapi dua unit propeller dari motor hidrolik. Truk ampibi punya panjang 10,63 meter, lebar 2,63 meter, tinggi 4,16 meter, dan bobot sampai 11,8 ton. Dengan ground clearance sekitar 34 cm, body perahu yang menjadi ‘casing’ truk ini dibuat dari plat dengan tebal 4 mm.
Uji coba truk ampibi tersebut ditinjau oleh Kasdam III/Siliwangi Brigjen TNI Kunto Arief Wibowo, didampingi Dansektor 14 Satgas Citarum Harum Kolonel Czi Raflan, Dandim 0619/Pwk Letkol Arh Yogi Nugroho, Kabekangrah Dam III/Siliwangi Letkol Cpl Yudi, Pabandyamat Renops Sopdam III/Siliwangi Letkol Inf Widi, Kasi Ran Paldam III/Siliwangi, Kabenglap, dan Danramil 1905/Jatiluhur.
Setelah menerima paparan terkait karaktristik truk ampibi, dari Kabengrah Dam III/Siliwangi Letkol Cpl Yudi, selanjutnya Kasdam III/Siliwangi dan rombongan mengikuti uji coba kendaraan militer itudi area Waduk Jatiluhur.

India Meminta Perancis Percepat Pengiriman Jet Tempur Rafale

radarmiliter.com - Angkatan Udara India telah meminta Prancis untuk mempercepat pengiriman jet-jet tempur Rafale yang telah dibeli. Permintaan ini muncul di tengah konflik New Delhi dan Beijing terkait sengketa wilayah perbatasan di Ladakh.
Hindustan Times, yang mengutip sumber pemerintah New Delhi, melaporkan pihak Paris sedang merevisi rencananya untuk memasok jet-jet tempur canggih tersebut dengan lebih cepat.
Jet Tempur Rafale Pesanan India
Jet Tempur Rafale Pesanan India 
Enam jet tempur Rafale kemungkinan akan mendarat di pangkalan mereka di Ambala pada 27 Juli 2020. Jumlah itu direvisi dari sebelumnya, yakni empat unit yang akan dikirim dalam gelombang pertama.
India memesan 36 jet Rafale dari Prancis dalam kesepakatan senilai Rs59.000 crore pada September 2016. Kesepakatan itu merupakan pembelian darurat oleh India yang skuadron jet tempurnya menipis ketika situasi dihadapkan pada kemungkinan pecahnya perang dengan Pakistan dan .

"Kami menyadari bahwa sekitar 10 jet Rafale siap di fasilitas Merignac, pabrikan pesawat Dassault Aviation. Persiapan akan menerbangkan enam jet Rafale ke India pada akhir Juli dengan singgah di pangkalan udara Al Dhafra dekat Abu Dhabi di Uni Emirat Arab. Jet akan diterbangkan oleh pilot India," kata sumber kedua yang dikutip Hindustan Times dengan syarat anonim, Senin (29/6/2020).
Sumber itu mengatakan 10 jet tempur Rafale tidak dikirim sekaligus dalam gelombang pertama karena beberapa unit jet tempur tersebut masih dibutuhkan di Prancis untuk melatih kru Angkatan Udara India (IAF).
Para ahli yang dikutip media India tersebut mengatakan mempercepat pengiriman jet tempur Rafale merupakan perkembangan besar di tengah konflik perbatasan yang sedang berlangsung antara New Delhi dengan Beijing.
Dassault Rafale adalah pesawat tempur bermesin ganda Prancis yang dilengkapi berbagai macam senjata. Rafale dimaksudkan untuk menjadi simbol supremasi udara, yang mencakup interdiction, pengintaian udara, dukungan darat, serangan in-depth, serangan anti-kapal dan misi pencegahan serangan nuklir.
Meskipun bukan benar-benar pesawat siluman, Rafale dirancang untuk menangkis deteksi radar yang direduksi (RCS) dan signature inframerah, yang berarti memiliki beberapa fitur tersembunyi yang tidak dibesar-besarkan dan tidak berlebihan.
Sistem avionik inti Rafale menggunakan avionik modular terintegrasi (IMA), yang disebut MDPU (unit pemrosesan data modular).(Muhaimin)

Senator Amerika Serikat Usulkan Beli Sistem S-400 yang Dibeli Turki

radarmiliter.com - Seorang senator Amerika Serikat mengusulkan agar AS membeli sistem pertahanan udara S-400 Rusia yang telah dibeli oleh Turki untuk meredam sanksi dan meredakan ketegangan antara kedua negara sekutu tersebut.
Pekan lalu, Senate Majority Whip John Thune yang mewakili South Dakota, mengusulkan amandemen Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (National Defense Authorization Act - NDAA) 2021 yang akan memungkinkan pembelian S-400 dilakukan menggunakan dana pengadaan rudal Angkatan Darat AS, Defense News melaporkan hari ini.
Sistem S-400
Sistem S-400  
"Saya pikir, AS dengan membeli S-400 dari Turki adalah cara yang cerdas untuk mengeluarkan Presiden Turki Reccep Tayyip Erdogan dari kebuntuan yang ia lakukan sendiri. Kami hanya ingin mengeluarkan sistem [rudal hanud tersebut] dari Turki ... dan jika hal itu dapat memungkinkan Turki untuk [kembali] mengambil bagian dalam F-35 maka [hal itu] akan lebih baik,” kata Jim Townsend, mantan pejabat Pentagon untuk kebijakan Eropa dan NATO sebagaimana dikutip oleh laporan itu.
Ketegangan AS-Turki memuncak setelah Turki membeli sistem pertahaan udara S-400 dari Rusia senilai$ 2,5 miliar pada tahun 2017. Upaya Washington untuk membujuk Ankara untuk membatalkan pembelian sistem petahanan udara itu tidak berhasil. Segera setelah Rusia mulai mengirim sistem S-400 ke Turki pada Juli 2019, AS mengeluarkan Turki dari daftar mitra program F-35. Mereka juga menolak untuk menjual jet F-35 ke Turki.
Selain itu, Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Senat Jim Risch telah memperkenalkan amandemen yang lebih keras, yang menampar Turki dengan sanksi berdasarkan CAATSA (Countering America's Adversaries Through Sanctions Act), 30 hari setelah NDAA mulai berlaku.
Meskipun Thune dan Risch keduanya merupakan senator yang berpengaruh, tidak ada jaminan bahwa amandemen mereka akan dipertimbangan untuk dimasukkan dalam NDAA atau, jika disahkan ke dalam RUU Senat, bahwa mereka harus bernegosiasi dengan parlemen, kata laporan itu.(Angga Saja-TSM)

Pesawat Tempur J-15 Mulai Operasional pada Kapal Induk Shandong Tiongkok

radarmiliter.com - Portal berbahasa Inggris terbesar di Tiongkok, "China Daily" telah merilis beberapa foto baru menunjukkan bahwa jet tempur J-15 telah mulai melakukan latihan lepas landas dan dan pendaratan pada kapal induk CNS Shandong.
J-15, yang dijuluki Flying Shark, melakukan misi operasional debutnya pada kapal induk kedua dan kapal pertama yang dirancang dan dibangun sepenuhnya di Tiongkok.
Dengan nomor lambung 17, CNS Shandong adalah kapal angkatan laut AL Tiongkok yang terbesar, terkuat dan paling canggih yang pernah dikembangkan dan dibangun di Tiongkok.
Pesawat Tempur J-15
Pesawat Tempur J-15 
Pembangunannya dimulai pada November 2013 di Dalian Shipbuilding Industry, anak perusahaan dari China State Shipbuilding Corp, pembuat kapal terbesar di dunia. Kapal diluncurkan pada April 2017, melakukan sea trial perdananya pada Mei tahun lalu, dan melakukan delapan sea trial lainnya sebelum ditugaskan.
CNS Shandong memiliki displacement setidaknya 50.000 ton. Kapal ini memiliki sistem propulsi konvensional dan menggunakan ski jump ramp untuk meluncurkan jet tempur J-15, sebagai ujung tombak kapal induk Tiongkok, seperti halnya CNS Liaoning. Kapal tersebut juga dapat mengerahkan beberapa jenis helikopter.
J-15 adalah pesawat jet tempur berpangkalan kapal induk dengan mesin kembar, berkemampuan segala cuaca, yang dikembangkan oleh Shenyang Aircraft Corporation dan Institut 601 untuk kapal induk Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok. Pesawat ini dikembangkan dari J-11B dan juga dari mempelajari prototipe Su-33 Rusia.
Kapal induk kedua Tiongkok ini dapat membawa setidaknya 36 jet tempur J-15, sekitar 50 persen lebih banyak dari kapal induk yang pertama negara itu.
Kapal induk pertama Tiongkok, Liaoning dapat membawa 24 jet tempur J-15, China Central Television (CCTV) melaporkan, mencatat peningkatan jumlah jet baru tersebut akan menambah kemampuannya.(Angga Saja-TSM)

Kapal Induk USS Nimitz (CVN-68) dan USS Ronald Reagan (CVN-76) AL AS Latihan Bersama di Laut Filipina

radarmiliter.com - Dua kapal induk milik Amerika Serikat (AS) mulai latihan bersama di Laut Filipina, Minggu (28/6/2020) waktu setempat. Latihan itu dimulai sehari setelah para pemimpin Asia Tenggara menentang klaim China atas seluruh wilayah Laut China Selatan dengan alasan historis.
ASEAN memaparkan pernyataan yang dikeluarkan oleh Vietnam mewakili 10 negara anggota bahwa Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) tahun 1982 harus menjadi dasar dari hak kedaulatan di wilayah jalur air yang disengketakan.
Kapal Induk Amerika Serikat
Kapal Induk Amerika Serikat 
"Kami menegaskan kembali bahwa UNCLOS 1982 adalah dasar untuk menentukan hak maritim, hak berdaulat, yurisdiksi, dan kepentingan sah atas zona maritim," kata pernyataan ASEAN pada Sabtu (27/6/2020).
Kapal induk USS Nimitz (CVN-68) dan USS Ronald Reagan (CVN-76) Carrier Strike Groups sendiri memulai latihan pada Minggu (28/6/2020) untuk meningkatkan "komitmen responsif, fleksibel, dan abadi" AS sebagai perjanjian pertahanan timbal balik dengan sekutu dan mitra di Indo-Pasifik. Demikian pernyataan Angkatan Laut AS.
Latihan itu dilakukan tepat seminggu setelah operator lain, USS Theodore Roosevelt (CVN-71), melakukan operasi bersama mereka di daerah yang sama. Ini merupakan peristiwa langka. Sebab, sangat jarang tiga kapal induk AS beroperasi pada saat yang sama di wilayah Pasifik Barat.
"Kami secara agresif mencari setiap peluang untuk memajukan dan memperkuat kemampuan dan kecakapan kami dalam melakukan semua operasi perang domain," kata Laksamana Muda George Wikoff selaku komandan Carrier Strike Group 5, dikutip dari Japan Times.
"Angkatan Laut AS tetap siap dengan misi dan dikerahkan secara global. Operasi dual carrier menunjukkan komitmen kami terhadap sekutu regional, kemampuan kami untuk secara cepat memerangi kekuatan di Indo-Pasifik, dan kesiapan kami untuk menghadapi semua pihak yang menentang norma-norma internasional yang mendukung stabilitas regional."
Fokus AS pada sekutu regional akan menambah tekanan pada China dalam misi mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan, meskipun Filipina, Vietnam, Malaysia, Taiwan, dan Brunei memiliki klaim yang sama dan tumpang tindih.
Namun, Kementerian Pertahanan China membantah pihaknya berupaya untuk memperkuat kontrol Laut China Selatan. China malah menuduh AS "meningkatkan ancaman terhadap China yang disebut dalam mengabaikan fakta, mencoba untuk menabur perselisihan di antara negara-negara regional, serta menstigma anti-China" di tengah wabah global Covid-19.
Sebelum latihan bersama, USS Ronald Reagan dan USS John C. Stennis Carrier Strike Groups sempat melakukan operasi gabungan di Laut Filipina pada November 2018. Sementara pada September 2014, kapal USS George Washington dan USS Carl Vinson Carrier Strike Groups dioperasikan di laut China Selatan dan Timur. (Thea Fathanah Arbar)

Tiongkok akan Latihan Militer di Sekitar Kepulauan Paracel yang Disengketakan

radarmiliter.com - Badan Keselamatan Maritim Tiongkok pada hari Minggu (28/06) mengumumkan rencana Tiongkok untuk melakukan latihan militer di sekitar Kepulauan Paracel di Laut Cina Selatan, wilayah di mana Tiongkok dan Vietnam saling mengklaim kedaulatan.
Latihan akan diadakan dari tanggal 1 hingga 5 Juli, dan menurut pengumuman tersebut, semua kapal dilarang berlayar di daerah itu selama periode itu, sebuah langkah yang dapat menyebabkan reaksi besar dari Vietnam.
Latihan Militer
Latihan Militer  
Tiongkok telah melakukan latihan militer di dekat Kepulauan Paracel hampir setiap tahun dalam upaya untuk memperkuat kendali atas wilayah tersebut dan berusaha membuatnya tidak dapat diubah.
Dalam langkah keras yang serupa, Tiongkok pada bulan April lalu mengumumkan pembentukan distrik administratif baru di Laut Cina Selatan - satu berkedudukan di Paracel dan yang lainnya Kepulauan Spratly. Ada juga beberapa langkah agresif oleh kapal-kapal Tiongkok yang tidak hanya memprovokasi Vietnam tetapi juga meningkatkan kewaspadaan negara-negara tetangga lainnya.
Selama KTT ASEAN virtual yang diselenggarakan oleh Vietnam pada hari Jumat lalu (26/06), para pemimpin menyatakan keprihatinan atas cara-cara tidak bersahabat Tiongkok. Pernyataan ketua ASEAN menekankan "pentingnya menjaga dan mengutamakan perdamaian, keamanan, stabilitas, keselamatan dan kebebasan navigasi dan terbang di atas Laut Cina Selatan."
Cina telah mengklaim bahwa Laut Cina Selatan adalah "kepentingan inti" yang penting untuk mempertahankan kontrol politik Partai Komunis Tiongkok dan telah menunjukkan sikap keras kepala dalam melakukan latihan militer di kawasan tersebut.(Angga Saja-TSM)

Natuna Memanas Lagi, Bakamla Boleh Beli Senjata Militer

radarmiliter.com - Anggota Komisi I DPR Bobby Adhityo Rizaldi membeberkan bahwa Badan Keamanan Laut (Bakamla) akan dibolehkan membeli senjata militer mulai Juni tahun ini. Menurutnya, itu akan memperkuat pengawasan atas perairan Indonesia terutama di sekitar Natuna yang dekat dengan Laut China Selatan. Bobby mendukung langkah pemerintah yang membolehkan Bakamla membeli senjata militer. Dia menilai sejauh ini Indonesia masih cenderung lemah dalam pengawasan di perairan Natuna dekat Laut China Selatan.
Bakamla
Bakamla 
"Selama ini hanya memiliki daya dukung senapan ringan dengan jangkauan di bawah 1 km, yang tentu dengan dinamika Laut Natuna Utara, tidak mencukupi," kata Bobby saat dihubungi CNNIndonesia.com, Minggu (28/6).
Bobby menjelaskan bahwa Bakamla hanya memiliki sekitar 10 kapal patroli. Namun, belum dilengkapi senjata standar militer (Naval Gun System).
Keadaan tersebut, menurut Bobby, membuat Indonesia cenderung lemah jika dibandingkan dengan China yang sejauh ini kerap memprovokasi di Laut China Selatan. Bobby mengatakan kapal coast guard China dilengkapi senjata jenis Norinco dengan jarak tembak lebih dari 5 km.
Ketika Bakamla diperbolehkan membeli senjata militer, Bobby melihat postur keamanan laut Indonesia akan menjadi lebih kuat. Oleh karena itu dia mendukung.
"Dengan Permenhan 12 nomor 2020, sangat mendukung supremasi keamanan laut sipil kita disana. Sekarang Bakamla bisa tembak nelayan asing yang masuk ke wilayah Indonesia tanpa izin, dan tidak akan dianggap agresi militer," kata Bobby.
Anggota Komisi I DPR Dave Laksono mengutarakan hal senada. Dia mendukung jika Bakamla dibolehkan membeli senjata. Terlebih, selama ini kapal-kapal Bakamla tidak dilengkapi senjata dalam menjaga perairan.
Akan tetapi, bukan senjata militer untuk berperang, tetapi untuk membela diri atau melakukan pengawasan di wilayah perairan.
"Bukan artileri-artileri yang gede, tetapi untuk membela diri. Kalau untuk perang kan untuk merusak secara masif, tapi kalau membela diri itu untuk menjaga," kata Dave.
Dave juga menilai Bakamla harus diperkuat lagi dengan suatu undang-undang. Diketahui, pembentukan Bakamla dilakukan berdasarkan Peraturan Presiden No. 178 tahun 2014. Dave yakin Bakamla akan menjadi lebih kuat jika diatur dalam suatu UU ketimbang Perpres.
Diketahui, China melakukan provokasi di Laut China Selatan sejak beberapa pekan lalu. Mereka masih mengklaim itu wilayah perairannya.
Gelagat China memancing reaksi Amerika Serikat yang juga turut unjuk kekuatan di sekitar Laut China Selatan. Pihak Indonesia, dalam hal ini Kementerian Luar Negeri, masih menyatakan dengan tegas untuk tidak mengakui klaim China atas perairan di Laut China Selatan.(bmw/gil)

AU Filipina akan Terima Enam UAV Hermes 900 pada Tahun Ini

radarmiliter.com - Angkatan Udara Filipina (PAF) dalam e-buletin triwulanan 'Lead One Today' terbaru mengungkapkan bahwa mereka pada tahun ini akan menerima pengiriman enam UAV (unmanned aerial vehicle) terakhir dari sembilan UAV medium-altitude, long-endurance (MALE) Hermes 900 yang dipesan dari Elbit Systems Israel untuk meningkatkan kemampuan intelligence, surveillance, and reconnaissance (ISR) AU Filipina.
UAV Hermes 900
UAV Hermes 900 
“Untuk kemampuan ISR, AU Filipina akan menerima pengiriman dua unmanned aerial system (UAS) yang terdiri dari [total] enam Hermes 900, stasiun pengendali darat, terminal data darat , dan peralatan pendukung lainnya,” kata pihak AU Filipina dalam buletin tersebut, menunjukkan bahwa pengiriman UAS pertama yang terdiri dari tiga Hermes 900 telah selesai.
Gambar dari dua Hermes 900 pertama AU Filipina muncul di media sosial pada November 2019, dan Elbit mengumumkan pada 7 Mei 2020 bahwa varian patroli maritim Hermes 900 yang menampilkan kemampuan penyelamatan yang baru dikembangkan baru-baru ini telah diserahkan ke negara Asia Tenggara yang dirahasiakan. Pelanggan itu diyakini adalah Filipina.
Pengadaan MALE UAV adalah bagian dari program modernisasi AU Filipina yang sedang berlangsung, yang juga mencakup akuisisi tiga UAV taktis long endurance Hermes, dua di antaranya diserahkan pada Agustus 2019.
Manila juga telah memesan sejumlah UAV Skylark LEX dan Skylark 3 yang tidak diberitahukan jumlahnya- yang juga merupakan buatan Elbit Systems - bersama dengan sistem kontrol darat, peralatan pendukung, pelatihan, dan dukungan logistik yang terintegrasi.(Angga Saja-TSM)
Sumber : janes.com

Opini : ASEAN Menghadapi Tekanan Militer Berkepanjangan

radarmiliter.com - Mulai Ahad kemarin dua kapal induk AS yaitu CVN Nimitz dan CVN Ronald Reagan melakukan latihan perang skala penuh empat dimensi di perairan Spratly barat daya Filipina . Ini bagian dari keteguhan sikap AS untuk melindungi hak-hak maritim dan kebebasan navigasi internasional. Kapal induk yang lain CVN Theodore Roosevelt ditarik sedikit ke atas menjaga Selat Taiwan. Luar biasa dinamika ini.
Dan China tetap show of force. Sebagai jawabannya awal bulan Juli ini armada angkatan lautnya mengadakan latihan militer di perairan Paracel. Persis di depan hidung Vietnam, bersebelahan dengan Spratly. Artinya ada dua kekuatan militer besar sedang berhadapan head to head di Laut China Selatan (LCS). Sementara di selatan LCS, di Natuna sudah bersiaga penuh sejumlah KRI dan Brigade komposit Gardapati Indonesia.
Kapal Induk Amerika Serikat
Kapal Induk Amerika Serikat 
Sepekan ini tiga pesawat anti kapal selam milik AS sedang menguntit pergerakan kapal selam China mulai dari selat Taiwan sampai LCS. Pertempuran intelijen sedang terjadi. Intelijen AS dikenal sangat akurat memantau dan mensuplai informasi. Ruang kendali manajemen pertempuran diliputi suasana ketegangan. Jangan sampai salah pencet.
ASEAN baru saja mengeluarkan statemen bersama, menolak klaim China terhadap LCS. Diprakarsai Vietnam, pernyataan sikap itu berdasarkan Konvensi PBB tentang hukum laut internasional UNCLOS 1982. Perairan ZEE secara ekonomi dikuasai oleh negara pantai yang ada disekitarnya. Jadi jelas tidak mengakui "juluran lidah naga" yang menjulur dari Hainan sampai Natuna dengan alasan historis.
Hari-hari mendatang dan untuk jangka waktu yang panjang ASEAN menghadapi tekanan militer yang terus menerus di perairan ZEE LCS. Vietnam berada di garis depan dan paling tersiksa dengan pamer otot Paman Mao. Instruksi China jelas, tidak boleh ada pergerakan kapal-kapal di perairan Paracel selama latihan militer China mulai 1 Juli ini. Larangan itu tentu membuat Vietnam bereaksi keras.
AS saat ini sudah mempersiapkan penempatan 3 radar mobile intai strategis berskala luas untuk Indonesia dan Malaysia. Menlu AS Mike Pompeo mengatakan pasukan AS ditarik dari Jerman untuk dipindahkan ke wilayah hot spot Asia Tenggara dan Asia Timur. Sudah ada gelar pasukan AS sebanyak 375.000 prajurit di sepanjang Indo Pasifik.
Bagaimana ASEAN melangkah ke depan dengan kondisi ini? Diperlukan kesamaan sikap. Pernyataan sikap terbaru ASEAN yang menolak klaim China adalah kemenangan diplomasi. Bahwa ASEAN masih mampu merapatkan barisan meski pun kita meyakini ada tiga negara ASEAN yaitu Laos, Kamboja dan Myanmar yang berada dalam pengaruh China.
Dinamika persinggungan ekonomi internasional yang terkait dengan kepentingan nasional masing-masing negara ASEAN bisa merubah pernyataan sikap bersama. China adalah negara pengekspor terbesar di dunia dan pengimpor terbesar kedua di dunia. Dan sejujurnya China tidak akan terbendung lagi untuk menjadi kekuatan ekonomi nomor wahid mengalahkan AS.
Bagi ASEAN tidak ada gunanya mengambil opsi memusuhi China secara militer, juga secara ekonomi. Karena kepentingan nasional masing-masing. Indonesia, misalnya persinggungan ZEE dengan China sama juga dengan persinggungan ZEE kita dengan Vietnam. Beda halnya dengan Vietnam, Filipina, Brunai dan Malaysia. Seluruh ZEE nya dicaplok China. Hanya menyisakan teritori nasional 12 mil laut dari pantai.
Kita dengan Vietnam masih berunding soal batas ZEE di Anambas. Tapi kita tidak mungkin berunding dengan China soal persinggungan ZEE di utara Natuna. Kalau kita mau berunding itu sama saja kekalahan dan kesalahan diplomasi. Karena klaim China tidak punya dasar hukum internasional.
Atas nama kepentingan nasional itu pula kita tidak perlu hanyut dalam drama LCS yang sudah menahun. Proporsional saja dan tahu diri. Kita dan ASEAN tidak mungkin bisa mengalahkan kekuatan militer dan ekonomi China. Harus ada kekuatan penyeimbang dan AS adalah jawabannya.
Perkuatan militer jelas perlu. Namun kejelian diplomasi dan melihat peluang sangat perlu. Misalnya kalau memang harus ikut aliansi pertahanan bersama AS, mengapa tidak. Tetapi hubungan ekonomi dengan China tetap berlangsung. Biarlah AS bersama Australia, Jepang dan Korsel berada di garis depan LCS, sebagai payung dan bumper. Drama ini masih panjang jalan ceritanya.
Prediksi kita tidak sampai terjadi konflik terbuka namun jalan menuju perang dingin semakin nyata. Sangat dimungkinkan ada penempatan pasukan aliansi, kapal perang dan jet tempur secara permanen di sepanjang teritori demarkasi LCS. Bisa di Filipina, Malaysia, Vietnam dan juga Indonesia. Semua bisa terjadi.
****
Semarang, 30 Juni 2020
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
Sumber : Forum Studi Militer

Mesir Beli 500 MBT T-90MS Rusia

radarmiliter.com - Kementerian Pertahanan dan Produksi Militer Mesir menyepakati perjanjian dengan perusahaan Rusia Uralvagonzavod (UVZ) dan agen ekspor senjata Rusia Rosoboronexport untuk membuat secara lisensi 500 tank tempur utama T-90MS. Angkatan Darat Mesir bermaksud mengganti semua tank tempur utama T-55/54 dan T-62, serta semua tank yang relatif lama, dan akan menggantinya dengan tank T-90. Perusahaan Uralvagonzavod akan membangun fasilitas untuk merakit tank-tank T-90MS di bawah lisensi di Mesir, menyusul perjanjian yang ditandatangani dengan Moskow. Kemungkinan produksi lokal tank T-90MS di Mesir tidak dilakukan secara penuh, karena sejumlah besar komponen T-90MS akan diimpor dari Rusia.
MBT T-90MS Rusia
MBT T-90MS Rusia 
AD Mesir memiliki banyak tank yang kurang modern. Kairo memiliki 34 tank T-80U dan 1.100 M1A1 Abrams, namun masih memiliki 840 unit tank T-54/55 dan 500 unit T-62, hanya 200 yang beroperasi, sisanya masih dalam penyimpanan. Masih ada 300 tank M60A1 dan 850 M60A3 Amerika yang telah menua. Angkatan Darat Mesir sedang mempersiapkan untuk mengoperasikan hanya dua jenis tank di unit lapis baja masa depannya, yaitu M1A1 Abrams AS dan T-90 Rusia. AD Mesir akan melengkapi divisi lapis baja dengan tank T-90, sementara model M1 Abrams akan berada di divisi mekanis Angkatan Darat Mesir.
T-90MS adalah versi ekspor terbaru dari tank tempur utama T-90. Tank ini dilengkapi dengan mesin 1.130 hp, perangkat penglihatan penembak PNM Sosna-U, RWS UDP T05BV-1 dengan senapan mesin 7,62 mm, GLONASS, sistem navigasi inersial, explosive reactive armour (ERA) Relikt yang melindungi lebih banyak bagian tank, dan steering wheel baru. Turret bustle yang removable juga dipasang, yang menyediakan penyimpanan untuk delapan amunisi tambahan. 4 kamera video memberikan lingkup penglihatan 360° sekitar tank. T-90MS memiliki thermal imager yang ditingkatkan yang dapat mendeteksi tank pada jarak lebih dari 3300 meter.(Angga Saja-TSM)