2020 - Radar Militer

23 Agustus 2020

AL AS Percepat Pengembangan Pesawat Tempur Kapal Induk Next-Generation

radarmiliter.com - Angkatan Laut Amrika Serikat telah mulai berdiskusi dengan para kontraktor tentang pesawat tempur berawak next generation, pesawat tempur berpangkalan kapal induk baru, pertama dalam hampir 20 tahun terakhir. Sekarang ada kantor program untuk inisiatif Next Generation Air Dominance (NGAD), kata pejabat akuisisi tertinggi AL AS, James Geurts, minggu lalu, menurut USNI News.
Pesawat Tempur Kapal Induk Next-Generation
Pesawat Tempur Kapal Induk Next-Generation 
Meski platform F/A-XX merupakan pesawat tempur generasi keenam, pihaknya enggan membicarakan pesawat baru tersebut. Angkatan Laut AS sejak awal dari proses pengembangan Next Generation Air Dominance, atau F/A-XX, telah menyelesaikan analisis alternatif pada Juni 2019, serta persyaratan dan panduan luas untuk konsep operasinya.
Menurut USNI News, untuk pesawat tempur generasi keenamnya, Angkatan Laut AS berencana untuk mencari desain yang sepenuhnya baru, bukan desain turunan dari pesawat yang sudah ada di jalur produksi.
Berbagai teknologi next-generation dapat dieksplorasi untuk pesasat baru tersebut, termasuk konektivitas sensor maksimum, dan "smart skin" yang dikonfigurasi secara elektronik. Konektivitas maksimum mengacu pada teknologi sensor dan komunikasi yang meningkat secara masif, seperti memiliki kemampuan untuk terhubung dengan satelit, pesawat lain, dan apa pun yang memberikan informasi medan perang secara real-time.
AL AS awalnya menginginkan pesawat siap pada tahun 2030-an, tetapi mereka akan mencoba untuk mempercepat timeline untuk menggantikan F/A-18E/F Super Hornet saat pesawat tersebut mencapai batas usia terbang maksimumnya.(Angga Saja-TSM)

22 Agustus 2020

Turki Sewa Pelobi Washington untuk Bantu Selesaikan Penjualan Helikopter ke Pakistan

radarmiliter.com - Turki telah menyewa sebuah firma hukum Washington untuk melobi pemerintah AS untuk mendapatkan izin ekspor yang akan membantu menyelesaikan penjualan helikopter ATAK senilai $ 1,5 miliar ke Pakistan.
“Khawatir dengan berlanjutnya penundaan penjualan ke Pakistan, pengajuan yang sebelumnya tidak dilaporkan yang diwajibkan oleh Foreign Agents Registration Act AS menunjukkan bahwa Turkish Aerospace Industries-TAI (yang memproduksi helikopter ATAK) telah menyewa firma hukum AS, Greenberg Traurig LLP dan sub-kontraktornya Capital Counsel LLC, untuk melobi para pemimpin kongres yang relevan dan pihak Gedung Putih untuk mendapatkan izin ekspor yang diperlukan,” media Turki ahvalnews melaporkan hari Rabu (19/08).
Helikopter ATAK T-129
Helikopter ATAK T-129  
Helikopter ATAK T-129 ditanagai oleh dua mesin T800-4A yang diproduksi oleh LHTEC, perusahaan patungan antara perusahaan Amerika Honeywell dan perusahaan Inggris Rolls-Royce. AS dilaporkan menahan izin ekspor untuk mesin LHTEC.
Menyusul penundaan pengiriman 30 helikopter ATAK, Ismail Demir, Wakil Menteri Industri Pertahanan Turki telah menyatakan pada 6 Januari 2020, “Pakistan telah setuju untuk memberi kami waktu satu tahun lagi (untuk mengirimkan helikopter). Kami berharap kami dapat segera mengembangkan mesin buatan dalam negeri kami untuk menggerakkan T129. Setelah satu tahun, Pakistan mungkin puas dengan tingkat kemajuan dalam program mesin kami, atau AS dapat memberi kami lisensi ekspor.”
Pada Juni tahun ini, TAI menampilkan prototipe mesin buatan lokal untuk helikopter ATAK T-129. Mempekerjakan pelobi seperti itu menjadi indikasi bahwa mesin yang baru mungkin tidak akan mencapai tenggat waktu 1 tahun Pakistan yang kini hanya tinggal 5 bulan lagi.
Pada tahun 2018, TAI menandatangani perjanjian senilai $ 1,5 miliar untuk menjual 30 helikopter T129 yang dianggap sebagai kesepakatan ekspor senjata tunggal terbesar Turki. Pakistan tetap memiliki opsi untuk membeli helikopter Z-10 Tiongkok jika kesepakatan dengan Turki tidak terwujud.
Menurut dokumen kontrak yang diajukan di AS, Greenberg Traurig dan subkontraktornya akan dibayar dengan gaji bulanan sebesar $ 25.000 "untuk mengadakan pertemuan dengan semua Komite terkait di Kongres, termasuk pertemuan dengan Pimpinan, Anggota Pemeringkat dan anggota Komite Hubungan Luar Negeri Senat dan Komite Urusan Luar Negeri Parlemen untuk memastikan kepatuhan hukum pemerintah Amerika Serikat untuk penjualan suku cadang helikopter untuk helikopter T129 ATAK ke Korps Penerbangan Angkatan Darat Pakistan (PAAC) atau ke pihak ketiga lainnya ”.
Selain itu, Greenberg Traurig telah disewa oleh pemerintah Turki untuk menyediakan layanan lobi senilai $ 1,538 juta pada tahun 2020 saja, untuk mengamankan lisensi ekspor kebutuhan Turkish Aerospace dari 15 Juli hingga 15 November, dengan opsi untuk memperpanjang periode tujuh bulan tambahan. Periode awal kontrak mencerminkan waktu pemilihan presiden AS, kata ahvalnews.
Undang-undang Kontrol Ekspor Senjata AS mengharuskan Gedung Putih memberi tahu Kongres tentang penjualan senjata yang melebihi nilai $ 25 juta. Pemberitahuan tersebut memungkinkan anggota Komite Hubungan Luar Negeri Senat (SFRC) dan Komite Urusan Luar Negeri Parlemen (HFRC) berkesempatan untuk memeriksa kesepakatan pertahanan dan menahan penjualan yang merugikan AS.
Minggu lalu, publikasi AS Defensenews melaporkan bahwa anggota SFRC dan HFRC telah menahan penjualan pertahanan ke Turki termasuk penjualan F-35, upgrade F-16 dan kesepakatan mesin T-129 sebagai hukuman bagi Turki yang membeli sistem pertahanan udara S-400 Rusia. (Angga Saja-TSM)

Output Kemenhan Tahun Anggaran 2021

radarmiliter.com - Ada yang menarik dalam anggaran Kementerian Pertahanan (Kemenhan) yang nilainya mencapai Rp 136,9 triliun dalam RUU APBN Tahun Anggaran 2021.
Besaran anggaran Kemenhan ini diungkapkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam penjelasan Nota Keuangan dan RAPBN 2021.
"Itu sesuai dengan prioritas Kemenhan dan melihat tidak deviasi besar (peningkatan anggaran)," ujar Sri Mulyani, dalam konferensi pers, Jumat (14/8/2020).
Kementerian Pertahanan
Kementerian Pertahanan  
Dari jumlah total anggaran bagi kementerian yang dipimpin oleh Prabowo Subianto tersebut, dialokasikan di antaranya untuk belanja pegawai, belanja barang, penyelesaian pekerjaan yang ditunda tahun anggaran 2020, dan anggaran kesehatan.
Selain itu, di tahun 2021, Kemenhan juga akan melanjutkan kegiatan prioritas dan strategis dalam rangka mendukung terwujudnya pemenuhan Minimum Essential Force (MEF) guna menjamin tegaknya kedaulatan, terjaganya keutuhan wilayah NKRI, dan terlindunginya keselamatan bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.
MEF adalah amanat pembangunan nasional bidang pertahanan keamanan sesuai dengan RPJMN 2010-2014 mengacu Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010.
Adapun yang menarik ialah alokasi anggaran ke kesatuan yang ternyata lebih tinggi untuk TNI Angkatan Udara (AU), disusul berikutnya TNI Angkatan Laut (AL) dan terakhir paling rendah TNI Angkatan Darat (AD).
Berikut rincian output yang akan dicapai oleh Kementerian Pertahanan Tahun Anggaran 2021 antara lain:
1. Dukungan pengadaan alutsista (alat utama sistem persenjataan) sebesar Rp 9.305,1 miliar (Rp 9,31 triliun);
2. Modernisasi dan harwat (pemeliharaan dan perawatan) alutsista antara lain sebagai berikut:

  • TNI AD sebesar Rp 2,65 triliun untuk pengadaan material dan alutsista strategis, dan untuk perawatan alutsista Arhanud, overhaul pesawat terbang dan heli angkut sebesar Rp 1,24 triliun, jadi total Rp 3,89 triliun.
  • TNI AL sebesar Rp 3,75 triliun, antara lain pengadaan kapal patroli cepat, dan peningkatan pesawat udara matra laut, serta Rp 4,28 triliun untuk pemeliharaan dan perawatan alutsista dan komponen pendukung alutsista, total Rp 8,03 triliun.
  • TNI AU sebesar Rp 1,19 triliun, antara lain pengadaan Penangkal Serangan Udara (PSU) dan material pendukung, serta pemeliharaan dan perawatan pesawat tempur sebesar Rp 7 triliun, total Rp 8,19 triliun.
Data tersebut mengacu pada dokumen Himpunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga (RKA K/L) Tahun 2021.
Kementerian Pertahanan disebutkan mempunyai tugas menyelenggarakan urusan di bidang pertahanan dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara.
Sebagai perbandingan, sejak tahun 2016 hingga 2019, anggaran Kemenhan mengalami peningkatan setiap tahun, dengan diiringi kinerja penyerapan anggaran secara kumulatif sebesar 93% dari total pagu DIPA (Daftar Isian Pelaksana Anggaran), kinerja penyerapan belanja pegawai hingga 99%, diikuti dengan kinerja penyerapan anggaran belanja barang 97%.
Namun demikian, kinerja penyerapan anggaran belanja modal hanya sekitar 87% akibat dari proses pengadaan barang dan jasa militer yang bersumber dari PHLN (pinjaman/hibah luar negeri) tidak dapat secara optimal dilaksanakan di tahun berjalan akibat dinamika dan kebutuhan riil terhadap alutsista produksi luar negeri.
Tahun 2020, pagu DIPA Kemenhan yang tercantum dalam Perpres 72/2020 yaitu Rp 117,91 triliun yang terdiri atas belanja pegawai sebesar Rp 53 triliun, belanja barang sebesar Rp 30,54 triliun, dan belanja modal sebesar Rp 34,37 triliun.
Dalam rangka percepatan penanganan Covid 19, Kemenhan telah melakukan refocusing kegiatan dan realokasi kegiatan sebesar Rp 383,75 miliar.
Di samping itu, Kemenhan mendapat penambahan pagu berupa pergeseran dari BA BUN untuk pemenuhan alat material kesehatan (almatkes) untuk 110 Rumah Sakit Kemenhan/TNI dan almatkes Lapangan TNI serta penyiapan anggota komponen pendukung bidang kesehatan sebesar Rp 8,09 triliun.

AU India Berhasil Uji Tembak Rudal Udara-Ke-Udara MICA dari Su-30 MKI

radarmiliter.com - Angkatan Udara India telah berhasil menguji tembak rudal udara-ke-udara Beyond Visual Range (BVR) MICA dengan menghancurkan drone target udara, New Indian Express melaporkan.
Uji coba dua putaran ini dilakukan dengan menggunakan jet tempur Sukhoi Su-30 MKI yang menghancurkan drone target udara yang digunakan sebagai simulasi pesawat musuh di ketinggian rendah.
Uji Tembak Rudal Udara-Ke-Udara MICA dari Su-30 MKI
Uji Tembak Rudal Udara-Ke-Udara MICA dari Su-30 MKI 
"Semua parameter misi telah terpenuhi karena target telah dihancurkan untuk memvalidasi parameter peluncuran rudal. Rudal MICA tersebut akan mempersenjatai jet tempur Sukhoi dan Rafale," kata seorang pejabat AU India.
Rudal MICA akan digunakan pada jet tempur Rafale dan Sukhoi Su-30 MKI Angkatan Udara India. Rudal yang diperoleh dari Prancis tersebut berfungsi dalam semua situasi cuaca dan dapat digunakan oleh unit udara dan darat.
Rudal fire-and-forget tersebut dapat mencapai target dalam jarak 500 meter hingga 60 kilometer dan hadir dalam dua varian dengan radar aktif dan homing seeker inframerah.(Angga Saja-TSM)

Foto Kapal Selam Tiongkok Masuki Fasilitas Gua Misterius di Pangkalan Laut China Selatan

radarmiliter.com - Foto satelit yang langka beredar di internet, menunjukkan kapal selam nuklir Tiongkok memasuki sistem gua kapal selam yang misterius di Pangkalan Angkatan Laut Tiongkok Yulin di Pulau Hainan.
Pangkalan Angkatan Laut Yulin yang sangat besar di Pulau Hainan adalah salah satu fasilitas militer strategis terbesar Tiongkok di wilayah tersebut. Ini adalah rumah bagi armada kapal selam rudal balistik nuklir Tiongkok, sebagai tulang punggung deteren serangan keduanya, serta kapal selam lainnya. Pangkalan tersebut terletak di tepi utara Laut Cina Selatan yang sangat kontroversial. Di sebelah timurnya adalah pintu gerbang ke Pasifik dan Taiwan. Fitur paling menarik dari fasilitas ini adalah gua bawah laut misterius yang dibangun di sisi gunung yang mendominasi instalasi ujung selatan.
Foto Kapal Selam Tiongkok
Foto Kapal Selam Tiongkok  
Foto tersebut diambil oleh Planet Labs, tetapi pertama kali muncul di saluran media sosial Radio Free Asia. Yang cukup menarik, tidak ada satu pun kapal selam lain yang terlihat di citra satelit. Dermaga kapal selam-nya benar-benar kosong. hal ini juga tampaknya sangat jarang terjadi.
Tidak jelas persis jenis kapal selam apa yang terlihat pada foto, tapi diperkirakan kapal selam tersebut adalah kapal selam serang nuklir kelas Shang/Type 093.
Adapun di mana semua kapal selam lainnya berada, tidak diketahui. Ketegangan sangat tinggi di wilayah tersebut dan AS secara besar-besaran meningkatkan kehadirannya di sana. Sementara itu, Taiwan telah meningkatkan kewaspadaan saat Tiongkok melakukan latihan perang di dekatnya. Sementara beberapa dari latihan itu bisa dan kemungkinan memang melibatkan kapal selam yang berbasis di Yalin, ada kemungkinan juga bahwa kapal selam lain telah pindah ke dalam gunung juga. Mengapa demikian, juga masih belum jelas.(Angga Saja-TSM)

Hungaria dan Rheinmetall Defense Tandatangani Perjanjian untuk Produksi IFV Lynx

radarmiliter.com - Menurut siaran pers yang diterbitkan oleh Rheinmetall Defense pada 18 Agustus 2020, Angkatan Bersenjata Hungaria telah menandatangani perjanjian dengan Perusahaan Jerman Rheinmetall Defense untuk memproduksi kendaraan tempur infanteri (IFV).
IFV Lynx
 IFV Lynx
Dengan penandatanganan kesepakatan di Unterlüss Jerman pada 17 Agustus 2020, pemerintah Hungaria telah memulai program besar-besaran senilai lebih dari dua miliar euro untuk memodernisasi industri pertahanan dan kemampuan militer negara tersebut. Langkah tersebut diumumkan oleh Sekretariat Kementerian Inovasi dan Teknologi Hungaria dan Komisariat Pengembangan Pertahanan Hungaria. Rheinmetall, pembuat peralatan militer terkemuka di Eropa, akan bekerja sama dengan Hungaria untuk membuat perusahaan patungan dan fasilitas produksi di Hungaria untuk memproduksi kendaraan tempur infanteri modern Lynx.
Hungaria adalah negara anggota NATO dan UE pertama yang memilih IFV baru uang inovatif keluaran grup perusahaan yang bermarkas di Düsseldorf itu. Langkah tersebut sangat penting dalam program pembangunan militer dan industri Hungaria yang sedang berlangsung, yang bertujuan untuk mengubah Angkatan Darat Hungaria secepat mungkin menjadi kekuatan tempur kelas dunia yang mampu secara aktif menangani tantangan keamanan di kawasan Euro-Atlantik.
Perusahaan Jerman Rheinmetall Defense telah mengembangkan jajaran lengkap kendaraan tempur infanteri lapis baja beroda rantai baru Lynx. Keluarga Lynx dibagi menjadi dua kelas kendaraan: Lynx KettenFahrzeug KF31 di kelas 30-40 ton dan Lynx KF41 di kelas 40+ ton. Fitur unik dari keluarga ini adalah bahwa Lynx KF 41 dapat dikonfigurasi untuk membawa delapan prajurit infanteri dan turret dua awak dengan senjata kaliber menengah, sedangkan KF31 dapat menampung enam prajurit infanteri.(Angga Saja-TSM)
Sumber : armyrecognition.com

20 Agustus 2020

PT PAL Amankan Kesinambungan Pekerjaan di Tengah Pandemi Covid-19

radarmiliter.com - Pandemi Covid-19 mengakibatkan perlambatan ekonomi global. JP Morgan memprediksi ekonomi dunia akan minus 1,1% pada tahun 2020, sementara itu Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan Produk Domestik Bruto (PDB) RI pada kuartal II tahun 2020 minus hingga 5,32 %. PT PAL Indonesia (Persero) sebagai pemain utama dalam pembangunan kapal dan produk maritim lainnya telah melakukan berbagai upaya mitigasi untuk mengantisipasi dampak tersebut.

Kapal Bantu Rumah Sakit (BRS)
Kapal Bantu Rumah Sakit (BRS)
“Kami menyadari bahwa situasi pandemi ini tidak dapat dihindari, pandemi Covid-19 merupakan tantangan global yang mempengaruhi jalannya global supply chain proyek-proyek PT PAL Indonesia (Persero). Namun kami tetap memastikan kontribusi kami terhadap ketahanan nasional melalui penyelesaian proyek-proyek strategis seperti Kapal Bantu Rumah Sakit (BRS) yang nantinya akan dioperasikan oleh TNI AL,” terang Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero) Budiman Saleh, Senin, (17/8/2020).
Dijelaskan, PT PAL Indonesia (Persero) saat ini sedang mengerjakan pembangunan Kapal BRS pertama TNI AL sekaligus telah mendapatkan kontrak pembangunan Kapal BRS kedua pada 16 Maret 2020 lalu.
“Bagi kami keamanan dan keselamatan seluruh karyawan serta mitra kerja menjadi prioritas. Namun keberlangsungan dan keberlanjutan bisnis PT PAL Indonesia (Persero) merupakan kunci pada saat ini untuk tetap survive di masa pandemi. Situasi pandemi global merupakan tantangan yang sangat signifikan terhadap supply chain perusahaan.”tegasnya.
Selain fungsi asasi mendukung operasi militer, lanjut Budiman Saleh, Kapal BRS juga memiliki kapabilitas operasi non militer seperti humanitarian assistance, tanggap darurat bencana, dan lainnya. Saat ini TNI AL mengoperasikan kapal Landing Platform Dock (LPD) KRI Semarang-594 produksi PT PAL Indonesia (Persero), yang difungsikan sebagai kapal BRS pada masa pandemi Covid-19. KRI Semarang-594 telah menjalankan sejumlah misi kemanusiaan sesuai dengan fungsinya seperti penjemputan 188 WNI Anak Buah Kapal Pesiar World Dream yang selesai menjalani observasi di Pulau Sebaru, Kepulauan Seribu menuju Dermaga Kolinlamil Tanjung Priok, Jakarta pada 14 Maret 2020. Selain itu, KRI Semarang-594 pernah menjalani misi “penjemputan” konsentrat hand sanitizer sebanyak 2.100 liter bantuan Pemerintah Singapura pada 8 April 2020.
Dalam kesempatan tersebut Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero) memaparkan seluruh proyek saat ini dikerjakan secara normal dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.
"Kami juga melakukan kebijakan preventif seperti pembatasan kunjungan fisik eksternal, peniadaan kegiatan yang bersifat pengumpulan massa, serta peningkatan standar kebersihan lingkungan maupun personal.”ungkapnya.
Proyek-proyek yang dikerjakan PT PAL Indonesia (Persero) memiliki multiplier effect ekonomi yang besar. Dalam proyek pembangunan Alutsista maupun non-Alutsista turut melibatkan pekerja (tier 1) serta perusahaan pemasok komponen dan bahan baku kapal (tier 2) dengan kurang lebih terdapat 3000 karyawan yang terdiri dari karyawan organik dan karyawan mitra kerja. Selain itu, dampak positif dan manfaat juga akan dirasakan oleh tier yang lebih luas seperti penyedia jasa indekos serta pelaku UMKM di sekitar perusahaan. Sehingga roda perekonomian dapat tetap berputar.
Dampak positif seperti multiplier effect ekonomi tidak akan tercapai seandainya pelaksanaan proyek berada di luar negeri. PT PAL Indonesia (Persero) mengapreasi kepercayaan yang selalu diberikan oleh Pemerintah, khususnya Kementerian Pertahanan dan TNI AL dalam pembangunan proyek-proyek Alutsista. Hal tersebut sejalan dengan amanat Presiden Joko Widodo ketika melaksanakan Kunjungan Kerja dan Rapat Terbatas Kebijakan Pengembangan Alutsista Dalam Negeri di PT PAL Indonesia (Persero) pada 27 Januari 2020 bahwa bagi Kementerian atau Lembaga seperti Kementerian Pertahanan, Polri, Ditjen Bea Cukai, dan lainnya jika membutuhkan kapal dapat memesan ke PT PAL Indonesia (Persero), sehingga ada kepastian produksi tidak hanya untuk 5 tahun ke depan, namun 15 tahun ke depan.
"Upaya PT PAL Indonesia (Persero) memastikan kesinambungan pekerjaan adalah bagian dari kontribusi nyata dalam kebijakan Komite Pemulihan Ekonomi Nasional, dan turut memastikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan rebound 6,6% di tahun 2021 seperti dilansir oleh Lembaga pemeringkat internasional Fitch." pungkas Budiman Saleh. (Ermina Jaen)

Rusia Kirim Konvoi Kendaraan Militer Tanpa Identitas ke Belarus

radarmiliter.com - Sejumlah saksi mata mengatakan telah melihat konvoi besar truk tanpa tanda identitas dengan personil yang disebut sebagai "little green men" dalam perjalanan dari Moskow dan St. Petersburg ke Belarus.
Dalam konvoi tersebut termasuk truk dan bus besar "Kamaz" dan "Ural" tanpa tanda identitas yang identik dengan Garda Nasional Rusia (Rosgvardiya) dan kendaraan pengangkut polisi anti huru hara. Seorang saksi mata menghitung ada 30 truk dalam konvoi di St. Petersburg, dengan perkiraan terdapat 600 personil berseragam tanpa tanda identitas dan dalam jumlah yang lebih banyak dalam konvoi di Moskow.
Rusia Kirim Konvoi Kendaraan Militer
Rusia Kirim Konvoi Kendaraan Militer  
“Hari ke-9 Revolusi Belarus dan Putin sedang mempersiapkan upaya untuk intervensi ke negara tetangganya, memberontak terhadap diktatornya,” kata jurnalis Julian Röpcke, di akun Twitter-nya.
Alexander Lukashenko, pemimpin Belarus yang mengklaim telah memenangkan pemilihan presiden yang disengketakan, mengatakan pada hari Sabtu (15/08) bahwa Vladimir Putin telah berjanji kepadanya untuk membantu mengamankan keselamatan Belarus jika diperlukan, kantor berita negara Belta melaporkan.
“Sejauh menyangkut masalah militer, kami memiliki kesepakatan dengan Rusia dalam kerangka Negara Persatuan dan CSTO (Collective Security Treaty Organization). . . yang mencakup insiden ini,” kata Lukashenko pada hari Sabtu setelah berbicara dengan Putin, menurut kantor berita negara Belta.
Panggilan telepon itu dilakukan setelah Lukashenko mengatakan dia perlu menghubungi Moskow atas protes yang berkembang terhadap pemerintahannya.(Angga Saja-TSM)

19 Agustus 2020

Ukraina Berminat pada Super Tucano untuk Gantikan L-39 Albatros

radarmiliter.com - Komando Angkatan Udara Angkatan Bersenjata Ukraina telah mengkonfirmasi bahwa negara tersebut sedang mempertimbangkan pesawat latih dan tempur baru, untuk mengganti pesawat latih tempur L-39 Albatros.
Pada tanggal 14 Agustus, AU Ukraina melaporkan bahwa pejabat Angkatan Bersenjata Ukraina sedang mempertimbangkan untuk mengurangi jumlah pesawat L-39 yang sudah tua dan menggantinya dengan pesawat turboprop EMB314 Super Tucano dari Brasil.
Super Tucano
Super Tucano 
“Pesawat Super Tucano telah dipertimbangkan dalam kunjungan delegasi Angkatan Udara Ukraina ke Brasil pada 2019, sebagai pesawat latih tempur, yang menurut karakteristiknya dapat menggantikan pesawat latih tempur L-39 “ kata layanan pers Angkatan Udara Ukraina.
Aero L-39 Albatros adalah pesawat latih jet berperforma tinggi yang dikembangkan di Cekoslowakia oleh Aero Vodochody. Pesawat ini dirancang pada tahun 1960-an untuk pengganti Aero L-29 Delfín sebagai pesawat latih utama. Pesawat ini diekspor ke berbagai negara sebagai pesawat latih militer. Sekitar 2.900 L-39 saat ini dalam kedinasan 30 angkatan udara di seluruh dunia.
Embraer EMB 314/A-29 Super Tucano, adalah pesawat serang ringan turboprop Brasil yang dirancang dan dibangun oleh Embraer sebagai pengembangan dari pesawat latih Embraer EMB 312 Tucano. EMB 314/A-29 Super Tucano membawa berbagai macam senjata, termasuk amunisi
berpemandu presisi, dan dirancang untuk menjadi suatu sistem berbiaya rendah yang dioperasikan di lingkungan dengan ancaman rendah.(Angga Saja-TSM)

Boeing Loyal Wingman Australia Bersiap untuk Taxi Trial

radarmiliter.com - Prototipe pertama dari wahana udara tak berawak sstealth yang dikenal sebagai Loyal Wingman, yang dikembangkan oleh Boeing Defense Australia, terlihat di landasan pacu untuk pertama kalinya.
Airpower Teaming System (ATS) terlihat mempersiapkan taxi trial di lokasi yang dirahasiakan, kemungkinan Pangkalan Royal Australian Air Force (RAAF) Amberley.
Boeing Loyal Wingman
Boeing Loyal Wingman  
"Pesawat ATS pertama saat ini sedang menjalani pengujian darat, yang akan diikuti dengan taxi trial dan penerbangan perdana pada akhir tahun ini," kata juru bicara Boeing kepada
media lokal Australian Defense yang menyampaikan berita tersebut.
Prototipe pertama dari tiga prototipe Loyal Wingman Advanced Development Program Australia ditunjukkan oleh Boeing kepada Royal Australian Air Force pada Mei 2020.
Wahana udara tak berawak sepanjang 11,7 meter (38 kaki) akan mampu memberikan performa seperti layaknya pesawat tempur. Jangkauannya akan lebih dari 3.700 kilometer (2.000 mil laut). Sementara ini persenjataannya masih belum diumumkan, namun diketahui bahwa misinya akan mencakup dukungan intelijen, pengawasan dan pengintaian serta peperangan elektronik.
Berkat kecerdasan buatan, pesawat ini pada akhirnya akan dapat terbang secara mandiri atau mendukung pesawat berawak atau tak berawak lainnya, dalam kawanan empat hingga enam unit. Dengan demikian, jet tempur ini dapat diintegrasikan ke dalam “system of systems”, salah satu fitur yang paling dicari dari generasi jet tempur yang akan datang.
Biaya pasti Loyal Wingman Advanced Development Program Australia ini tidak diketahui. Namun, proyek tersebut merupakan investasi Boeing paling mahal di luar Amerika Serikat.(Angga Saja-TSM)
Sumber : aerotime.aero

Tiongkok Luncurkan Varian Dua Kursi Pertama Pesawat Tempur Stealth J-20

radarmiliter.com - Menurut informasi yang dirilis oleh situs web Kementerian Pertahanan Tiongkok, Tiongkok telah mengembangkan pesawat tempur stealth J-20 dua kursi pertama. J-20 merupakan pesawat stealth bermesin ganda dan pesawat tempur generasi kelima yang dikembangkan oleh perusahaan Chengdu Aerospace Tiongkok. Sebelumnya, pada Januari 2019, tiongkok mengumumkan pengembangan varian dua kursi J-20.
J-20 dirancang sebagai pesawat tempur superioritas udara dengan kemampuan serangan presisi, diturunkan dari program J-XX pada tahun 1990-an. Pesawat ini melakukan penerbangan perdananya pada 11 Januari 2011 dan secara resmi ditampilkan pada China International Aviation & Aerospace Exhibition. 2016.
Varian Dua Kursi Pertama Pesawat Tempur Stealth J-20
Varian Dua Kursi Pertama Pesawat Tempur Stealth J-20 
J-20 mulai memasuki kedinasan Angkatan Udara Tiongkok pada Maret 2017 dan memulai fase pelatihan tempur pada September 2017. Unit tempur J-20 pertama dibentuk pada Februari 2018.
Pesawat tempur siluman J-20 memiliki kecepatan maksimum 2100 km/jam dan sedang dilakukan pengembangan kemampuan super cruise tanpa afterburner. Memiliki panjang 20 m dengan lebar sayap 13 m dan tinggi 4,45 m. Pesawat memiliki berat kosong 19.391 kg dan berat dengan muatan 32.092 kg. Berat lepas landas maksimum adalah 36.288 kg. Pesawat ini ditenagai oleh dua mesin turbofan afterburning Shenyang WS-10G. Mesin dapat menghasilkan daya dorong 76,18 KN dan 122,3 atau 179,9 KN dengan afterburner.
Weapon bay utama mampu menampung rudal udara-ke-udara jarak pendek dan jarak jauh (AAM; PL-9, PL-12C/D & PL-15 - PL-21) sementara dua ruang senjata lateral yang lebih kecil berada di belakang saluran masuk udara ditujukan untuk AAM jarak pendek (PL-10). Side bay ini memungkinkan pintu bay-nya tertutup sebelum menembakkan rudal, sehingga memungkinkan rudal untuk ditembakkan dalam waktu sesingkat mungkin serta meningkatkan kemampuan stealth-nya. J-20 dilaporkan tidak memiliki kanon otomatis internal, menunjukkan bahwa pesawat tersebut tidak dimaksudkan untuk digunakan dalam pertempuran jarak pendek dengan pesawat lain, tetapi untuk menghadapi lawan dari jarak jauh dengan rudal seperti PL-15. dan PL-21.
Sementara pesawat tempur J-20 biasanya membawa senjata secara internal, sayapnya mencakup empat hardpoint untuk memperluas jangkauan feri dengan membawa tangki bahan bakar tambahan. Namun, seperti F-22, J-20 tidak membawa tangki bahan bakar pada misi tempur karena kerentanannya dalam konfigurasi seperti itu, namun konfigurasi ini tetap penting untuk operasi masa damai, seperti transit antar pangkalan udara.(Angga Saja-TSM)

Seorang Jenderal Rusia Tewas Terkena Ledakan Bom di Suriah

radarmiliter.com - Seorang Mayor Jenderal Rusia tewas dan dua tentara lainnya terluka di Suriah pada Selasa (18/8/2020) setelah kendaraan yang mereka tumpangi terkena bom rakitan (IED).
Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan ledakan bom itu terjadi di dekat ladang minyak At-Taim, sekitar 15 km di luar kota Deir ez-Zor, di mana konvoi Rusia diserang saat kembali dari aksi kemanusiaan.
Militer Rusia
Militer Rusia 
"Akibat ledakan itu, tiga tentara Rusia terluka. Selama evakuasi dan saat menerima perawatan medis, seorang penasihat militer senior Rusia dengan pangkat Mayor Jenderal meninggal karena luka serius yang dideritanya," kata Kementerian Pertahanan, seperti dikutip Sputnik, Rabu (19/8/2020).
Militer Moskow mengatakan IED yang meledak ditempatkan di sisi jalan yang dilewati konvoi Rusia.
Menurut Kementerian Pertahanan, keluarga jenderal tersebut akan menerima semua bantuan dan dukungan yang memungkinkan. Sedangkan mendiang mayor jenderal akan diberikan penghargaan atas jasanya.
Hasakah dan Deir ez-Zor mengandung sebagian besar sumber daya energi Suriah, yang dianggap penting oleh pemerintah Presiden Bashar al-Assad dalam upayanya untuk membangun kembali negara itu.
Lebih dari 120 prajurit Rusia telah tewas dalam operasi di Suriah sejak Rusia memulai operasi anti-teroris di negara itu pada September 2015.

Israel Pastikan akan Menentang AS Jual Pesawat F-35 ke UEA Walau Sudah Menormalkan Hubungan Diplomatk

radarmiliter.com - Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memastikan akan menentang langkah Amerika apabila mereka berniat menjual alutsista ke Uni Emirat Arab. Hal tersebut menyusul kabar bahwa Amerika akan menjual pesawat tempur F-35 ke Uni Emirat Arab karena sudah memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
"Dalam kesepakatan (normalisasi), Israel tidak mengubah sikap menentang penjualan alutsista ke negara-negara timur tengah yang bisa mengubah peta kekuatan militer," ujar Netanyahu dalam keterangan persnya, dikutip dari kantor berita Reuters, Selasa, 18 Agustus 2020.
 Pesawat F-35
 Pesawat F-35  
Diberitakan sebelumnya, Israel memiliki kebijakan yang pada intinya menentang Amerika untuk menjual persenjataan militer ke negara-negara Arab. Adapun Kebijakan itu sendiri sudah berjalan bertahun-tahun.
Ditekennya kesepakatan normalisasi dengan Uni Emirat Arab membuat kebijakan Israel tersebut disorot. Sebab, di sektor lain, Israel sudah membuka berbagai kemungkinan kerjasama dengan Uni Emirat Arab mulai dari pariwisata hingga bisnis. Berbagai pihak menduga kelonggaran dalam hal militer akan menyusul.
Tak lama setelah kesepakatan normalisasi diteken, mulai beredar kabar bahwa Amerika akan menjual pesawat tempur F-35 ke Uni Emirat Arab. Administrasi Presiden Amerika Donald Trump sendiri sudah mensinyalkan hal tersebut.
Apabila penjualan itu terjadi, maka Israel tak lagi memiliki pesawat tempur tercanggih di Timur Tengah. Saat ini, hanya Israel lah yang memiliki F-35 di kawasan tersebut. Bertahun-tahun lalu, Israel sempat memprotes Amerika ketika ketahuan menjual F-16 ke Uni Emirat Arab dan F-15 ke Arab Saudi karena Israel juga memilikinya.
Pernyataan Netanyahu dipertegas oleh Menteri Intelijen Israel Eli Cohen. Ia menyatakan, sejauh yang ia tahu, tidak ada rencana dari Israel untuk mengubah sikapnya terkait penjualan senjata Amerika ke negara-negara Arab.
"Sejauh yang saya tahu tidak ada perubahan kebijakan di Israel (soal perdagangan senjata ke negara Arab). Saya bisa katakan Israel belum memberikan izin perubahan apapun," ujar Eli Cohen.

Tua-Tua Keladi Pesawat Mata-Mata Amerika Serikat U-2 Dragon Lady

radarmiliter.com - Salah satu pesawat tua yang masih dipertahankan militer Amerika Serikat hingga kini adalah pesawat mata-mata U-2 yang dijuluki Dragon Lady. Jenis pesawat ini pernah ditembak jatuh dua kali oleh Uni Soviet di masa peran dingin lalu: pertama di Uni Soviet pada 1960 dan kedua selang dua tahun di wilayah udara Kuba.
Dua insiden itu pula yang menjadi momentum Amerika mengembangkan teknologi drone yang tak berawak. Tapi toh, meski ada catatan dan perkembangan itu, Dragon Lady masih terus disayang. Usia pakainya bahkan bisa lebih panjang ketimbang saudara mudanya sesama pesawat intai berawak, SR-71 Blackbird, yang lebih canggih dan dengan catatan yang lebih bersih. Pesawat mata-mata yang terakhir itu telah lebih dulu dimuseumkan.
U-2 Dragon Lady
U-2 Dragon Lady 
Pesawat mata-mata atau intai U-2 pertama dibangun pada 1954 oleh Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) dan Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF). Dua tahun kemudian, pesawat dengan mesin tunggal ini mulai terbang melintasi Uni Soviet dan Eropa Timur di atas Terusan Suez, Mesir. Sejak saat itu, U-2 mulai dioperasikan hingga ke Asia.
Insiden ditembak jatuh terjadi pada pesawat U-2 yang dipiloti Gary Powers. Saat itu, 1960, pesawat sedang mengambil foto udara di wilayah Uni Soviet. AS sempat mengelak dengan mengatakan bahwa pesawat tersebut merupakan pesawat penelitian cuaca.
Pernyataan tersebut tidak diterima Uni Soviet yang kemudian merilis foto pilot U-2 beserta peralatan spionase di pesawat tersebut. Tidak sampai disitu, berselang dua tahun kemudian, Uni Soviet kembali menembak jatuh U-2, kali ini di wilayah Kuba.
Sejak insiden tersebut, militer Amerika mulai meragukan kemampuan Lady Dragon dalam melaksanakan misi pengintaian. Mereka juga mulai menyadari U-2 yang dapat terbang lebih dari 70 ribu kaki tidak cukup untuk bertahan dari rudal musuh begitu tertangkap radar.
CIA kemudian mengembangkan teknologi pesawat yang sulit dideteksi radar. Beberapa hasil dari proyek tersebut antara lain Lockheed A-12 dan SR-71 Blackbird yang mampu terbang lebih tinggi dengan kecepatan lebih superior pula.
Meski begitu, militer Amerika Serikat masih mengandalkan pesawat U-2 dalam beberapa misi meskipun hanya di daerah tertentu. Pada 1966, terdapat rekomendasi yang menyebutkan U-2 hanya bisa dikirim ke wilayah yang tidak memiliki rudal kendali udara, itu pun dengan persetujuan bagian pertahanan. Hal ini diperkuat dengan proposal yang dikeluarkan Badan Pengintaian Nasional Amerika (NRO) mengenai rencana pemantauan perbatasan China-Vietnam.
Satu di antara alasan pesawat ini masih dipertahankan ialah biaya operasional yang lebih murah ketimbang Lockheed A-12 maupun Blackbird SR-71. Dalam satu jam penerbangan, U-2 menghabiskan biaya US$ 38 ribu, hampir setengah lebih irit dibandingkan A-12 dan SR-71.
Selain itu, pilot penunggang Dragon Lady bisa membagikan data dan informasi secara langsung ke pangkalan. Ini memberi alasan lain pesawat itu masih diberi kesempatan hidup. Tercatat dalam kurun 2005 sampai 2015, Angkatan Udara AS sudah empat kali membatalkan rencana untuk memensiunkan pesawat ini.
Pilot U-2, Mayor Travis Patterson, juga menyampaikan kalau keberadaan pilot manusia memiliki keunggulan karena lebih cepat dan lebih murah ketimbang drone-drone. “Saya bisa ditempatkan di mana saja di dunia, karena saya tidak perlu memprogram wilayah terbang baru,” ujarnya.
Patterson menambahkan, varian U-2 Dragon Lady yang sekarang masih dipertahankan tidak setua yang mungkin dibayangkan di kepala banyak orang. Menurutnya, sudah banyak bagian-bagian pesawat yang dimodifikasi. “Secara signifikan U-2 yang sekarang lebih kuat daripada yang asli yang anda lihat ketika Gary Powers terbang di atas Uni Soviet,” ujar Patterson.

Pesawat Mata-Mata SR-71 Blackbird: Tak Terkejar Rudal, Tergusur Drone

radarmiliter.com - Sebelum era drone saat ini, teknologi pesawat pengintai di Amerika Serikat terus mengalami perkembangan. Pesawat diproduksi dengan kemampuan yang berkejaran dengan teknologi radar dan rudal pertahanan. Salah satunya SR-71 Blackbird, pesawat mata-mata yang dapat melesat tiga kali kecepatan suara.
Menurut situs resmi Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Blackbird memegang posisi penting dalam perkembangan teknologi aeronautika. Pada masanya, seluruh varian Balckird termasuk SR-71 dapat mengungguli pesawat jet lain dalam hal ketinggian dan kecepatan terbang.
SR-71 Blackbird
SR-71 Blackbird 
Pengembangan Blackbird sendiri tidak terlepas dari insiden pesawat intai lainnya milik Amerika, yakni U-2, ditembak jatuh di wilayah Uni Soviet pada 1960-an. Sejak itu, sejarawan dan penulis Design of Development of the Blackbird, Peter Marlin, mengungkapkan kalau Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) merancang pesawat intai yang bisa terbang sekitar 90 ribu kaki dan memiliki kecepatan lebih tinggi.
Sejak itu pula Blackbird terus dikembangkan dan melahirkan varian-varian, termasuk SR-71 yang merupakan generasi terakhir dari Blackbird A-12.
Untuk mewujudkan kemampuan terbang yang superior, Amerika membalut SR-71 Blackbird dengan titanium yang mampu menahan suhu tinggi serta lebih ringan daripada baja. Warna hitam pada tubuh pesawat juga difungsikan untuk meredam dan melepaskan suhu panas. Oleh sebab itu, Blackbird mampu terbang lebih dari 2.000 mil per jam atau 3.200 kilometer per jam tanpa terbakar akibat gesekan atmosfer.
Selain itu, SR-71 Blackbird juga dibuat dengan beberapa bahan lain yang dapat mengelabui radar musuh. Menurut Merlin, SR-71, dengan spesifikasinya itu, sudah mengadopsi istilah siluman. Dengan kemampuan itu pula, burung hitam ini bisa dengan mudah memasuki wilayah musuh. “Saat musuh mendeteksi dan menembakkan rudalnya, SR-71 sudah dalam perjalanan pulang,” ujar Merlin.
Satu pilot Blackbird, KJames Shelton Jr., menceritakan pengalamannya ketika menjalani misi mengintai posisi tentara Israel menjelang akhir perang Yom Kippur. Dalam misi berdurasi 11,5 jam tersebut, Blackbird sempat beberapa kali tertangkap radar ketika melewati wilayah Mesir, namun tidak ada satupun rudal yang mampu mengejarnya.
Dalam sejarahnya, pesawat ini memang mengklaim tidak pernah tertembak rudal musuh. Meski demikian, dari jumlah 32 unit pesawat ini, sebanyak 12 unit mengalami kecelakaan dan hilang.
Meski Blackbird SR-71 memiliki segudang teknologi canggih, pesawat intai ini tetap memiliki kekurangan sehingga kini telah dimuseumkan. Satu yang terutama adalah biaya operasional tinggi. Dilansir dari National Interest, pesawat ini diperkirakan menelan biaya sebesar US$100 ribu atau hampir Rp 1,5 miliar untuk setiap satu jam penerbangan.
Pesawat ini juga membutuhkan perawatan rutin setiap selesai menjalankan misi. Hal tersebut dikarenakan SR-71 selalu terbang dengan kecepatan tinggi pada setiap misinya sehingga banyak komponen pesawat yang rusak. Biaya tinggi itu belum menjamin setiap misi akan sukses karena Angkatan Udara AS khawatir dengan kemampuan rudal SA-5 Uni Soviet yang memiliki kecepatan dan daya jangkau yang bisa menghantam SR-71 Blackbird.
Dan yang terpenting, perkembangan teknologi satelit mata-mata dan pesawat intai tanpa awak atau drone dapat mengerjakan misi-misi yang biasa dilakukan si burung hitam. SR-71 Blackbird sendiri belum dilengkapi datalink untuk bisa mengirimkan data intelijen ke pangkalan dengan cepat, sehingga satelit dan drone semakin menjadi pilihan untuk menggantikannya.
Pesawat mata-mata ini terakhir kali mengudara pada 1999 didampingi dua pesawat tempur lain hanya untuk menguji ketinggian dan kecepatannya. Setelah itu, SR-71 Blackbird benar-benar masuk museum dengnan catatan satu-satunya pesawat jet yang mampu mencapai kecepatan Mach 3 dan terbang sampai ketinggian di atas 80 ribu kaki atau 24 kilometer.

Yang Wei: Jet Tempur Siluman F-22 Raptor AS Tak Kompeten Melawan J-20 China

radarmiliter.com - Kepala perancang jet tempur siluman J-20 China, Yang Wei, mengklaim jet tempur siluman F-22 Raptor Amerika Serikat (AS) tidak kompeten untuk melawan Beijing. Alasannya, sebagian besar persenjataan jet tempur Amerika Serikat itu dirancang untuk melawan Uni Soviet saat ini bernama Rusia di Eropa, bukan China di Pasifik yang luas.
Menurut Yang Wei, jika F-22 Raptor dikerahkan untuk melawan China, maka akan mengalami nasib yang sama seperti F-4 Phantom ketika dikerahkan selama Perang Vietnam.
J-20 China
 J-20 China 
"Lingkungan yang kompleks dan kendala politik di Vietnam menyebabkan F-4 hampir gagal untuk menunjukkan performa kecepatan tinggi dan kemampuan tempurnya yang melampaui batas," kata Yang dalam tulisannya di jurnal Acta Aeronautica et Astronautica Sinica, yang dilansir EurAsianTimes, Senin (17/8/2020).
Tidak seperti F-4, F-22 Raptor adalah jet tempur generasi kelima, berkemampuan siluman (stealth), dan dapat bermanuver super dengan nozel mesin putar untuk vektor dorong. Kemampuan siluman dan sensor Raptor dirancang untuk memungkinkan jet itu mendeteksi pesawat musuh dari jarak jauh dan menggunakan rudal AIM-120 dapat menghancurkan target sejauh 100 mil.
Pakar militer China yang berbasis di Hong Kong, Song Zhongping, mengatakan kepada South China Morning Post (SCMP) bahwa dia mendukung argumen Yang Wei terhadap F-22. Keunggulan siluman J-20 yang paling signifikan adalah bahwa ia dikembangkan lebih lambat, yang berarti bahwa perancangnya dapat mempelajari F-22, termasuk bagaimana memperbaiki kekurangannya, dan jenis teknologi baru apa yang dapat digunakan untuk meng-upgrade jet tempur tersebut.
F-22 awalnya dirancang untuk bertempur dengan Uni Soviet yang saat ini bernama Rusia di Eropa, tetapi sekarang lawan utama Raptor adalah China. J-20 China terinspirasi oleh penyebaran F-22. Desainer China menggunakan Raptor sebagai saingan dan jet tempur siluman F-35 sebagai lawan taktis untuk membantu Beijing membuat jet tempur yang lebih praktis dan mahir.
Para pakar China tersebut mengklaim dengan dikembangkan lebih lambat dari F-22, J-20 memiliki banyak keunggulan dibandingkan Raptor. Mereka percaya bahwa beberapa fitur F-22 lebih cocok untuk Eropa daripada Pasifik.
F-22 hanya memiliki jangkauan tempur sekitar 500 mil, yang mungkin baik-baik saja untuk wilayah terbatas Eropa Timur, tetapi kurang untuk wilayah Pasifik yang sangat luas. Sedangkan J-20 memiliki jangkauan tempur 700 mil yang membuatnya akan menjadi senjata ampuh di atas titik-titik nyala seperti Laut China Selatan. (Muhaimin)

Kemenhan Gandeng Scytalys Bangun Sistem Pertahanan RI

radarmiliter.com - Scytalys, perusahaan raksasa militer asal Yunani bersama pemerintah Indonesia resmi menyepakati kontrak pembangunan sistem pertahanan terintegrasi pertahanan darat, laut, dan udara Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Kesepakatan ini ditandai setelah perusahaan yang dipimpin Dimitris Karantzavelos itu berhasil memenangkan tender kompetitif terbuka untuk memegang hak penuh pembangunan sistem pertahanan Indonesia selama 3 tahun ke depan.
Command, Control, Communication, Computer, Intelligence, Surveilance, and Reonnaisance
Command, Control, Communication, Computer, Intelligence, Surveilance, and Reonnaisance
Mengutip keterangan resmi perusahaan, Minggu (16/8/2020), Scytalys mendapatkan nilai kontrak sebesar US$ 49 juta atau setara Rp 730 miliar dari Kementerian Pertahanan untuk pengadaan sistem pertahanan di Indonesia.
"Scytalys telah melanjutkan ekspansi ke pasar internasional, di mana hari ini kami mengumumkan telah menerima kesepakatan senilai US$ 49 juta dari Kementerian Pertahanan Indonesia," tulis keterangan resmi perusahaan.
Dana tersebut akan digunakan untuk membangun sistem pertahanan terintegrasi milik TNI atau yang disebut dengan Command, Control, Communication, Computer, Intelligence, Surveilance, and Reonnaisance (C4ISR).
Program ini, menurut perusahaan, akan membentuk kerangka kerja untuk angkatan bersenjata Indonesia dan membuka jalan dalam mewujudkan kebutuhan dan tujuan operasi jaringan yang dibutuhkan dalam era perang modern.
"Kami sangat menghargai pemberian kontrak ini, yang kami anggap penting secara strategis karena akan memungkinkan TNI memperoleh data yang tersistematis, teknologi, dan fasilitas C4ISR yang diperlukan membangun sistem pertahanan Indonesia," kata Karantzavelos.
Sementara itu, EFA Group, yang merupakan induk Scytalys menyatakan bahwa Indonesia bukanlah negara pertama di Asia yang membangun sistem C4ISR, ada juga Korea Selatan dan Jepang yang sudah bekerjasama.
"Kami percaya bahwa Scytalys akan mengulangi kesuksesan Theon Sensors, perusahaan pemimpin global kami lainnya dalam sistem penglihatan malam dan pencitraan termal," kata Nick Papatsas, Anggota Dewan Scytalys. (Angga Saja-TSM)

18 Agustus 2020

Taiwan Rampungkan Pembelian 66 Jet Tempur F-16 Viper dari AS

radarmiliter.com - Taiwan merampungkan pembelian 66 jet tempur F-16 Viper dari Amerika Serikat pada Jumat (14/8).
Menyoal sensitivitas transaksi, Pentagon mengumumkan kontrak tanpa menyebutkan kontrak 10 tahun senilai US$62 miliar (sekitar Rp923 triliun) tersebut.
Pentagon mengatakan kontrak baru ini merupakan bagian dari pengiriman awal 90 jet yang dipesan dari produsen pesawat Lockheed Martin dengan teknologi dan persenjataan terbaru yang lebih canggih.
Namun sumber yang mengetahui transaksi itu mengonfirmasi kepada AFP bahwa pembeli yang dimaksud adalah Taiwan.
 Jet Tempur F-16 Taiwan
 Jet Tempur F-16 Taiwan 
Perampungan transaksi ini dilakukan setelah Parlemen Taiwan meloloskan anggaran khusus sebesar US$250 miliar atau setara Rp.115,3 triliun untuk membeli 66 jet tempur F-16 Viper pada 2019 lalu.
Keputusan pembelian jet tempur dari AS ini memicu amarah China yang megancam akan melakukan apa saja, termasuk menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan Negeri Paman Sam yang terlibat dalam penjualan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang menganggap penjualan itu sebagai sebuah 'intervensi serius dalam urusan internal China'. Ia juga menyebut rencana AS itu menyepelekan kedaulatan dan kepentingan keamanan China.
Penjualan F-16 Viper ini disepakati AS-Taiwan ketika Taipei sedang berupaya memperkuat pertahanan udaranya di saat frekuensi pesawat militer China yang menerobos wilayah udaranya terus meningkat. Tak hanya itu, kesepakatan ini juga terjadi tak lama setelah seorang pejabat tinggi AS untuk pertama kalinya melakukan kunjungan ke Taipei.
China sendiri menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya di bawah prinsip "Satu China." Namun, Taiwan selalu menyerukan kemerdekaan penuh dari China.
Sementara itu, AS memang merupakan negara pemasok senjata utama bagi Taiwan. AS sebenarnya tidak memiliki hubungan resmi dengan Taiwan. (evn)

KRI Pulau Rupat 712 Gelar Pengoperasian Wahana PAP-104 MK-IV

radarmiliter.com - Guna meningkatakan profesionalisme prajurit dalam mengawaki Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista), Komandan Satuan Kapal Ranjau Kolonel Laut (P) Cecep Hidayat memerintahkan prajurit KRI Pulau Rupat-712 untuk menggelar latihan serta pemanasan wahana PAP 104 MK IV kepala Kamera buatan ECA Group Prancis yang dilaksanakan di kolam basin Koarmada II, Selasa (11/8).
Wahana PAP-104 MK-IV
Wahana PAP-104 MK-IV 
PAP 104 MK IV merupakan kendaraan bawah air yang dimiliki KRI PRP-712, berfungsi untuk mengidentifikasi target atau ranjau yang terdeteksi oleh Sonar TSM 2022. Dalam tahap identifikasi, wahana ini dilengkapi dengan kamera bawah air.
Selain berfungsi untuk identifikasi, PAP 104 MK IV juga berfungsi sebagai kendaraan untuk kepentingan netralisasi (Mine Disposal Vehicle). Untuk kepentingan netralisasi, kendaraan ini mampu membawa BOM PAP seberat 126.5 Kg yang selanjutnya akan di release dan didekatkan dengan target sampai dengan kedalaman 300 m.
Pengoperasian PAP 104 MK IV dapat dikontrol dari kapal melalui LCC (Local Control Console) di buritan maupun MCC (Main Control Console) di CIC. Pengendalian dari jarak jauh dengan menggunakan kabel Coaxial sepanjang maksimal 1000 m.
Dansatran menyampaikan “Pelatihan yang dilaksanakan ini sebagai tindak lanjut dari himbauan Pangkoarmada II Laksda TNI Heru Kusmanto dalam upaya mempertahankan kondisi teknis wahana, juga untuk meningkatkan profesionalisme prajurit KRI PRP-712 sehingga mampu menjawab semua
tuntutan tugas yang diberikan kedepan, khususnya dalam operasi peperangan ranjau”, pungkas Cecep – sapaan akrab Dansatran Koarmada II.(Sgt/Pen2)

Turki Kerahkan Sistem Hanud Korkut ke Pangkalan Udara Al-Watiya di Libya

radarmiliter.com - Turki dilaporkan telah mengirim sistem senjata pertahanan udara swa-gerak terbaru, Korkut, ke Lybia.
Citra satelit terbaru yang dirilis oleh akun Twitter safsata14 menunjukkan bahwa sistem pertahanan udara Korkut dikerahkan ke pangkalan udara Al-Watiya di Libya barat.
Pangkalan udara tersebut sekarang dioperasikan oleh Angkatan Bersenjata Turki dan Pasukan Government of National Accord (GNA).
 Sistem Hanud Korkut
 Sistem Hanud Korkut  
Libya telah dilanda perang saudara sejak penggulingan Muammar Gaddafi pada 2011. Pemerintah baru negara itu didirikan pada 2015 di bawah perjanjian yang dipimpin PBB, tetapi upaya penyelesaian politik jangka panjang gagal karena pertikaian dengan pasukan Khalifa Haftar. Perlu dicatat bahwa Turki menyediakan dukungan politik dan militer kepada Government of National Accord.
Korkut dirancang dan dikembangkan untuk pertahanan udara berbasis darat yang efektif melawan ancaman udara modern. Sistem ini terdiri dari satu peleton terdiri dari tiga Kendaraan Sistem senjata (Weapon System Vehicle) 35 mm dan satu kendaraan Komando dan Kendali yang dapat beroperasi penuh secara otonom.
Kendaraan Komando dan Kendali (Command and Control Vehicle) mendeteksi dan melacak sasaran dengan radar pencari 3D-nya dan saat menampilkan gambaran ruang udara setempat, sistem tersebut juga mengevaluasi ancaman dan menetapkan sasaran untuk kemudian dikirimkan ke Kendaraan Sistem Senjata. Sementara itu, Kendaraan Sistem Senjata melacak sasaran dengan fire control radar dan menembak dengan dua senjata 35 mm dengan menggunakan amunisi fragmentasi.
Kendaraan Sistem Senjata dan Kendaraan Komando dan Kendali dibuat pada sasis kendaraan ACV-30, platform pengangkut beroda rantai yang dikembangkan khusus oleh FNSS untuk digunakan pengangkut serbaguna yang mampu membawa diantaranya sistem komando dan kontrol, radar mobile, senjata dukungan tembakan, artileri swa-gerak dan sistem rudal . ACV-30 juga digunakan dalam proyek rudal Low Altitude Air Defense Missile System (HİSAR-A).
Angkatan Bersenjata Turki telah memesan 40 sistem senjata Korkut, dan pengirimannya dijadwalkan akan selesai pada tahun 2022.(Angga Saja-TSM)

Malaysia Tolak Klaim China di Laut China Selatan

radarmiliter.com - Malaysia menegaskan menolak klaim maritim China di Laut China Selatan (LCS).
Dilansir dari Strait Times, Menteri Luar Negeri Malaysia Hishammuddin Hussein mengatakan pemerintah mendaftarkan klaim mereka atas sisa bagian landas kontinen di luar 200 mil laut dari garis pangkal negara ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dua pekan lalu.
Menurut dia, itu diajukan sebagai tindaklanjut atas klaim serupa pada 12 Desember.
Kapal Perang Malaysia
Kapal Perang Malaysia 
"Malaysia menentang klaim China bahwa mereka memiliki hak historis atas perairan itu. Pemerintah Malaysia juga menganggap klaim China atas fitur maritim di Laut China Selatan tidak memiliki dasar apapun di bawah hukum internasional," ucap Hussein di parlemen, Kamis (13/8).
Peringatan itu merupakan tindakan yang tidak biasa bagi Malaysia. Sebelumnya negara itu diketahui menghindari mengkritik China secara terbuka dan memastikan daerah itu tetap terbuka untuk perdagangan.
Pengajuan ke PBB dilakukan setelah Australia dan AS menolak klaim maritim China karena melihat kampanye Tiongkok untuk mendominasi wilayah perairan yang kaya sumber daya itu.
China sampai saat ini mengklaim sekitar 80 persen Laut China Selatan, dengan argumen Sembilan Garis Imajiner. Mereka bahkan membangun pulau reklamasi yang digunakan sebagai pangkalan militer dan lokasi wisata di LCS.
LCS disebut sebagai jalur pelayaran niaga tersibuk ketiga di dunia dengan nilai mencapai triliunan dolar. LCS juga disebut menyimpan cadangan miliaran kubik gas dan minyak bumi.
Akan tetapi, sejumlah proyek pembangunan infrastruktur di Malaysia saat ini disokong dari dana pinjaman China.
China telah membangun pangkalan dan pos terdepan lainnya di beting, terumbu karang, dan singkapan batu untuk memperdalam klaimnya dari jalur air 3,6 kilometer persegi, di mana Vietnam, Filipina, Brunei, Malaysia, dan Taiwan juga memiliki klaim.
Meski demikian Hussein menuturkan Malaysia akan tetap berhati-hati dalam mempertahankan klaimnya untuk menghindari meningkatnya ketegangan.
"Jika kita mengikuti narasi dan tekanan negara adidaya, ada potensi tinggi bagi negara-negara ASEAN untuk condong ke negara-negara tertentu," ujarnya. (ans/dea)

BNPB Datangkan Heli Raksasa Chinook dan Blackhawk untuk Antisipasi Karhutla

radarmiliter.com - Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) mendatangkan helikopter angkut berat Chinook CH-47 dan Blackhawk UH-60 untuk antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhuta).
Helikopter itu kabarnya disewa dari perusahaan di luar negeri, dan kabarnya ditempatkan di Pangkalan Udara Sultan Mahmud Badaruddin, Palembang.
“Benar,” kata Egy Massadiah, staf ahli Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo kepada Tribunjogja.com, saat ditanya kebenaran informasi kedatangan dua heli itu, Jumat (14/8/2020).
BNPB Datangkan Heli Raksasa Chinook
BNPB Datangkan Heli Raksasa Chinook 
Egy Massadiah mengatakan, penjelasan resmi dan selengkapnya sedang disiapkan, dan akan disampaikan pimpinan BNPB.
Terutama terkait kedatangan armada udara kelas berat itu di Indonesia, serta siapa perusahaan yang menyewakan, dan untuk berapa lama akan dioperasikan di Indonesia.
Kabar keberangkatan dan kedatangan kedua helikopter besar itu beredar di media sosial, dan ramai jadi pembicaraan warganet.
Kedua tubuh helikopter ini sudah ditempeli logo BNPB.
Achmad Taufik, seorang warganet di kolom komentar akun ini menginformasikan, seminggu lalu ia melihat pesawat kargo Antonov mendarat.
“Sedang bongkar muat enta apa isinya, bentuk dan warnanya plek sama di foto itu,” tulisnya.
Ia juga melihat beberapa heli Rusia terparkir di landasan AURI di seberang Bandara SMB Palembang.
Dikutip dari Wikipedia.com, Chinook CH-47 adalah helikopter AS bermesin ganda, tandem rotor dan heavy-lift.
Dengan kecepatan tertinggi 170 knot (196 mph, 315 km/h) helikopter itu lebih cepat daripada heli serang era 1960-an.
CH-47 adalah salah satu dari beberapa pesawat masa itu yang masih dioperasikan di berbagai medan.
Lebih kurang ada 1.179 unit yang dimiliki berbagai negara di dunia.
Peran utamanya untuk tugas militer, mobilisasi pasukan, artileri dan memasok perlengkapan medan perang.
Helikopter ini memiliki pintu pemuatan yang lebar di bagian belakang pesawat dan tiga eksternal-kargo kait.
Chinook ini dirancang dan awalnya diproduksi oleh Boeing Vertol di awal 1960-an.
Helikopter ini sekarang diproduksi oleh Boeing Rotorcraft Systems.
Chinooks telah dijual ke 16 negara. Angkatan Darat AS dan Royal Air Force Inggris menjadi pengguna terbesar.
Helikopter CH-47 adalah salah satu helikopter angkat terberat di barat. Sedangkan Blackhawk UH-60 juga jadi tulang punggung militer AS untuk tugas tempur.
Untuk keperluan sipil, seperti pemadaman kebakaran dan penyelamatan, sejumlah instrumen standar militer di heli ini dicopot.
Helikopter ini bisa dilengkapi tanki air untuk pemadaman berkapasitas 3.500 liter. Ada pompa pengisian cepat yang hanya butuh waktu 30 detik untuk mengisi kembali tangki.
Sumber :  tribunnews.com

Rheinmetall Perkenalkan Sistem Hanud Swa-Gerak Baru

radarmiliter.com - Pembuat senjata Jerman Rheinmetall pada hari Jumat lalu (14/08) telah membagikan video sistem pertahanan udara swa-gerak-nya yang baru, yang disebut Oerlikon Skyranger 35.
Oerlikon Skyranger 35 adalah sistem pertahanan udara baru, yang dapat digunakan untuk melawan sasaran udara pada jarak pendek dan sangat pendek serta terhadap sasaran darat.
Oerlikon Skyranger 35
Oerlikon Skyranger 35 
Menurut pihak perusahaan, Skyranger dilengkapi dengan sensor pencarian dan pelacakan yang mutakhir, yang memberikan pengawasan udara dan darat 360° tanpa jeda serta data fire control yang akurat. Oerlikon Revolver Gun 35 mm yang terintegrasi memberikan daya tembak dan presisi tertinggi. Dikombinasikan dengan Oerlikon Ahead Air Burst Technology, penghancuran ancaman udara saat ini dan masa depan akan sangat efektif.
Oerlikon Skyranger didasarkan pada platform Boxer dan dirancang terutama untuk pertahanan udara berbasis darat jarak pendek dan sangat pendek. Skyranger dapat menembak jatuh roket serta mortir yang datang, juga sistem udara tak berawak, termasuk jenis drone berukuran kecil dan terbang di ketinggian rendah, misalnya drone quadrocopter, serta sangat efektif melawan pesawat yang terbang rendah.
Inti dari Oerlikon Skyranger Boxer baru adalah modul pertahanan udara, yang dilengkapi dengan turret Oerlikon Revolver Gun Mk3. Sistem ini memiliki unit sensor terintegrasi dengan radar pelacak X-band dan sensor elektro-optik serta komponen perang elektronik. Dimungkinkan bagi Skyranger untuk engagement yang cepat dan otonom dari sasaran yang diperoleh dan ditandai secara eksternal. Skyranger dapat menerima dan memproses data sasaran dari radar pencari 2D dan 3D.
Selain itu, teknologi sensor pencarian terintegrasi dan Oerlikon Skymaster battle management system memberi Skyranger kemampuan pemantauan sektor dan penghancuran secara otonom. Revolver Gun 35mm x 228 cal. yang telah dicoba dan diuji memberikan daya tembak yang sangat besar dan presisi yang sangat baik. Bekerja dengan amunisi Ahead airburst milik Rheinmetall, Oerlikon Revolver Gun Mk3 sangat efektif melawan sasaran udara dari hampir semua jenis di ketinggian rendah.(Angga Saja-TSM)

Ad Placement

TNI AD

TNI AL

TNI AU