Rusia Serahkan Batch Kedua Tank T-72 dan Ranpur BRDM-2M kepada Laos


Rusia telah menyerahkan sejumlah tank tempur utama (MBT) T-72 dan kendaraan pengintai lapis baja (ARV) 4x4 BRDM-2M ke Angkatan Bersenjata Rakyat Laos (LPAF).
  Tank T-72 LPAF Laos
Tank T-72 LPAF Laos 
Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan bahwa penyerahan itu berlangsung selama upacara untuk memperingati peringatan 71 tahun berdirinya LPAF.
Batch pertama dikirim antara Desember 2018 dan Januari 2019, dengan narasumber Laos yang dikutip oleh media Jane pada saat itu bahwa LPAF menerima "beberapa lusin" tank T-72B1.
Sebelumnya pada bulan lalu, Rusia dan Laos mengadakan latihan militer bersama "LAROS 2019" yang pertama.(Angga Saja-TSM)
Sumber :  janes.com

Jet Tempur Su-30MKA Angkatan Udara Aljazair Jatuh


Sebuah jet tempur Su-30MKA jatuh di Oum El Bouaghi, sebuah kota di timur laut Aljazair, Senin (27/01) malam, menurut laporan saluran TV An-Nahar.
Jet Tempur Su-30MKA Angkatan Udara Aljazair
Jet Tempur Su-30MKA Angkatan Udara Aljazair 
Pembom tempur Su-30MKA dari Skuadron Tempur ke-121 jatuh pada Senin malam dalam suatu latihan rutin di dekat sebuah desa bernama distrik Mechta Draa Tafza, Ain Zitoun, wilayah Oum El Bouaghi, di timur laut Aljazair.
Menurut data awal, dua pilot yang berada di dalam jet tempur tewas.
Dokter dan aparat keamanan telah dikirim ke lokasi kecelakaan.
Sejak 2006, Aljazair telah menandatangani beberapa kontrak dengan Rusia untuk pengiriman jet tempur Su-30MKA. Pada tahun 2019, Angkatan Udara Aljazair memiliki total 58 pesawat model ini.(Angga Saja-TSM)
Sumber :  tass.com

Amerika Serikat Sebar Drone MQ-4C Triton ke Guam Untuk Pertama Kalinya


Untuk pertama kalinya, Armada Pasifik Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) mengirim dua unmanned aerial vehicle (UAV) atau drone MQ-4C Triton ke Guam. Pesawat nirawak mata-mata ini akan sangat meningkatkan kemampuan pengintaian Pentagon di Pasifik Barat dan Asia Timur.
Drone MQ-4C Triton
Drone MQ-4C Triton 
Dua pesawat nirawak mata-mata jarak jauh telah tiba di Pangkalan Angkatan Udara Andersen di Guam. Menurut siaran pers Armada Ketujuh Angkatan Laut AS, dua drone MQ-4C Triton akan melengkapi aset intelijen Angkatan Laut AS lainnya seperti P-8A Poseidon dan P-3 Orion.
"Pengenalan MQ-4C Triton ke wilayah operasi Armada Ketujuh memperluas jangkauan patroli maritim Angkatan Laut AS, pengawasan dan pasukan pengintaian di Pasifik Barat," kata Kapten Matt Rutherford, yang memimpin pasukan patroli, pengintaian dan pasukan pengintai Armada Ketujuh dalam siaran persnya, yang dikutip Selasa (28/1/2020).
"Menggabungkan kemampuan MQ-4C dengan kinerja P-8, P-3 dan EP-3 yang telah terbukti akan memungkinkan peningkatan kesadaran domain maritim dalam mendukung tujuan keamanan regional dan nasional," ujar Rutherford.
Guam adalah wilayah AS yang terletak di Mikronesia, bagian dari rangkaian pulau yang sama yang membentuk rantai kepulauan Mariana, sekitar 1.900 mil sebelah tenggara pantai China.
Menurut pembuatnya, Northrop Grumman, MQ-4C Triton memiliki jangkauan operasional 8.200 mil dan radius misinya hampir 2.000 mil. Itu artinya, Triton bisa digunakan terutama untuk memantau peristiwa yang bersifat maritim, meski hanya sekitar sepertiga dari Laut China Selatan, di mana China terus berkembang dan memperkuat cengkeramannya di pulau-pulau kecil dan klaimnya atas jalur perairan strategis.
Menurut siaran pers tersebut, dua drone MQ-4C Triton yang tiba pada hari Minggu di Guam adalah yang pertama yang memasuki layanan penuh militer Amerika. Rentang sayap mereka yang besar menjadikan mereka kendaraan udara tak berawak terbesar dalam dinas militer AS dan memungkinkan mereka melambung hingga ketinggian 65.000 kaki hingga 30 jam dalam satu waktu.
Perkiraan tahun 2015 oleh Kantor Akuntabilitas Pemerintah menilai drone mata-mata ini menelan biaya sekitar USD120 juta per unit, menjadikannya potongan peralatan yang berharga.
Laporan tersebut mencatat bahwa Triton pada akhirnya akan beroperasi dari lima situs berbasis darat. Penempatan mereka ke Guam tertunda ketika satu pesawat jatuh di California pada 2018 selama penerbangan pelatihan.
Angkatan Laut Amerika berencana untuk membeli 68 pesawat mata-mata, yang merupakan versi khusus dari RQ-4 Global Hawk yang dioptimalkan untuk kondisi unik yang beroperasi di dekat saluran air, untuk menggantikan armada P-3 yang menua.
Media AS, Stars and Stripes, mencatat beberapa peningkatan termasuk sayap yang lebih kuat yang mampu menahan serangan burung dan perubahan ketinggian yang cepat, serta sistem kelistrikan yang lebih baik dalam menahan lonjakan daya dari sambaran petir.
Washington juga telah menjual enam drone Triton ke Australia, dengan kemungkinan menyediakan 10 lagi dan empat unit ke Jerman. (Muhaimin)

Amerika Serikat Bantah Klaim Taliban yang Sebut Pesawat Militernya Ditembak Jatuh di Afghanistan


Taliban mengklaim sebuah pesawat Amerika Serikat (AS) ditembak jatuh di timur Afghanistan, Senin (27/1/2020). Klaim itu muncul beberapa jam setelah pesawat militer itu jatuh ke wilayah yang dikuasai Taliban.
"Sebuah pesawat penjajah Amerika jatuh di Provinsi Ghazni," kata juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, seperti dilaporkan AFP, Selasa (28/1/2020).
Pesawat Militer Amerika Serikat Jatuh
Pesawat Militer Amerika Serikat Jatuh 
Dia menyebut semua anggota kru di dalam pesawat tewas.
Sebelumnya, sejumlah media menduga pesawat itu merupakan pesawat penumpang Boeing 737-400 yang mengangkut 83 orang. 
Sebagian besar daerah pedesaan di Provinsi Ghazni dikendalikan atau di bawah pengaruh militan Taliban, menyebabkan sulitnya akses bagi para pejabat ke wilayah itu.
Pernyataan Taliban itu muncul beberapa jam setelah media sosial penuh dengan dugaan bahwa pesawat itu berasal dari perusahaan penerbangan Ariana Afghan Airlines milik negara -namun perusahaan menyebut rumor itu tidak benar.
"Semua penerbangan Ariana Afghan Airlines sudah selesai secara normal," demikian pernyataan di halaman Facebook yang terverifikasi milik perusahaan itu.
Otoritas Penerbangan Sipil Afghanistan juga membantah laporan bahwa pesawat itu adalah penerbangan komersial.
"Menurut informasi kami dari Control Tower dan Traffic Regulatory Authority, tidak ada kecelakaan maskapai komersial yang tercatat. Dan Ariana Afghan Airlines telah meyakinkan kami bahwa semua pesawat mereka aman," sebut organisasi itu.
Sementara itu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa jet militer mereka jatuh di Provinsi Ghazni di Afghanistan. Namun mereka menolak klaim Taliban bahwa pesawat itu ditembak jatuh.
Juru bicara Pasukan AS Afghanistan Kolonel Sonny Leggett mengonfirmasi bahwa pesawat itu adalah Bombardier E-11A AS, sejenis jet yang digunakan sebagai alat komunikasi udara di wilayah tersebut.
"Sementara penyebab kecelakaan sedang diselidiki, tidak ada indikasi kecelakaan itu disebabkan oleh tembakan musuh," kata Leggett.
Dia belum memberikan informasi tentang korban dalam kecelakaan itu.(Nathania Riris Michico)

Malaysia Tak Ingin Berperang di Laut China Selatan


Menteri Pertahanan Malaysia Mohamad Sabu mengatakan negara mereka tak menginginkan ada konflik bahkan perang terbuka di Laut China Selatan.
Menurut dia, negara Asia Tenggara termasuk Malaysia dan Indonesia akan menanggung kerugian jika terjadi konflik terbuka dengan negara besar di perairan yang menjadi jalur utama perdagangan internasional itu.
Coast Guard Malaysia
Coast Guard Malaysia 
"Kami ingin pastikan supaya tidak ada peperangan di kawasan ini (Laut China Selatan). Jika berlaku ketegangan di sini (Laut China Selatan), yang akan merugi adalah negara di sekitar perairan itu," kata Mat Sabu, sapaan Mohamad Sabu dalam wawancara eksklusif dengan CNNIndonesia.com di Jakarta, pada Jumat (24/1). "Sedangkan negara besar seperti Amerika Serikat tidak akan terkena karena jauh. Yang akan tanggung dampaknya adalah kita (negara di Asia Tenggara)," tuturnya menambahkan.
Mat Sabu mengatakan sebagai negara maritim, Indonesia perlu memperkuat pertahanan negara terutama angkatan laut.
Selain itu, ia menegaskan bahwa negara di Asia Tenggara harus mengutamakan dialog dengan negara-negara besar seperti China dan AS yang kerap terlibat dalam konflik di Laut China Selatan.
"Seperti negara-negara besar yang sedang cari pengaruh (di Laut China Selatan), kita harus enggage mereka seperti AS, China, dan Rusia, supaya adakan dialog," kata dia.
China mengklaim 90 persen perairan Laut China Selatan sebagai wilayahnya. Sejak itu, perairan yang kaya sumber daya alam itu menjadi rawan konflik.
Malaysia merupakan salah satu negara di Asia Tenggara yang memiliki klaim wilayah yang tumpang tindih dengan China di Laut China Selatan. Selain Malaysia, Filipina, Vietnam, Kamboja, dan Thailand juga bersengketa dengan China di perairan itu.
Meski Pengadilan Permanen Arbitrase Internasional menolak klaim Beijing di Laut China Selatan pada 2016 lalu, pemerintahan Presiden Xi Jinping berkeras membangun sejumlah instalasi militer bahkan pulau buatan di perairan itu. Demi mencegah konflik, negara ASEAN dan China sepakat membentuk kode etik atau code of conduct (CoC) demi mengatur sikap pihak-pihak yang bersengketa di Laut China Selatan.
Sepuluh negara ASEAN dan China akhirnya menyepakati pembacaan tahap pertama atau first reading isu CoC pada Juli 2019 lalu.
Di sisi lain, China terus menunjukkan agresivitas. Yang terbaru, puluhan kapal ikan China sempat beberapa memasuki zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia di Natuna, Kepulauan Riau, sejak Desember lalu hingga Januari ini.
Tak hanya memasuki wilayah, puluhan kapal ikan China itu juga menangkap ikan di ZEE Indonesia dengan kawalan kapal coast guard dan kapal perang fregat pemerintah Tiongkok. Meski sempat menjauhi ZEE Indonesia setelah diusir Badan Keamanan Laut RI (Bakamla), kapal-kapal China itu kembali lagi memasuki ZEE. Indonesia melayangkan protes terhadap China, namun Beijing menolak dengan mengklaim bahwa perairan di sekitar Natuna itu bagian dari Laut China Selatan. Beijing mengatakan nelayannya sudah puluhan tahun mencari ikan di perairan itu sehingga negaranya memiliki hak historis terhadap Laut China Selatan.
Sejumlah pihak khawatir insiden China dan RI ini dapat menghambat negosiasi CoC yang sudah belasan tahun digodok.
Namun, kekhawatiran itu mereda setelah Menteri Koordinator Bidang politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD menyebut pemerintah Indonesia dan China telah bersepakat bahwa tak ada perselisihan lagi mengenai perairan Natuna. (rds/dea)

Taliban Klaim Tembak Jatuh Pesawat Militer Amerika Serikat di Afghanistan


Sebuah pesawat Bombardier Global 6000/E-11A milik Angkatan Udara Amerika Serikat (AS) jatuh di wilayah Provinsi Ghazni, Afghanistan, hari Senin (27/1/2020). Kelompok Taliban mengklaim menembak jatuh pesawat militer Amerika tersebut.
Bombardier Global 6000/E-11A
Bombardier Global 6000/E-11A 
Provinsi Ghazni memang merupakan wilayah yang dikuasasi kelompok gerilyawan tersebut. Belum jelas berapa banyak orang di dalam pesawat. Awalnya, pesawat yang jatuh dikira milik Ariana Afghan Airlines, namun maskapai itu membantahnya.
Juru bicara pemerintah provinsi setempat, Arif Noori, mengatakan kepada CBS News bahwa pesawat itu diduga melakukan penerbangan antara kota Kandahar di selatan dan Kabul, Ibu Kota Afghanistan yang berjarak sekitar 200 mil. Provinsi Ghazni berada di antara kedua lokasi itu.
Noori mengatakan jasad dua pilot ditemukan di lokasi kecelakaan dan pesawat militer AS itu hancur. Dia tidak menyebutkan adanya korban lain. Noori mengatakan pesawat yang jatuh bukan milik militer Afghanistan, tetapi dia tidak dapat memastikan siapa yang mengoperasikan pesawat itu.
Tak lama kemudian, beberapa ahli melaporkan bahwa itu adalah pesawat E-11A yang ditugaskan ke Skuadron Tempur Elektronik Ekspedisi 430 Angkatan Udara AS. Penyebab kecelakaan masih belum jelas, dan tidak ada rincian tentang korban jiwa.
Video yang diunggah di media sosial menunjukkan bangkai pesawat terdapat lambang Angkatan Udara AS.
E-11A adalah varian militer dari Bombardier BD-700 Global Express sipil yang digunakan sebagai platform overhead komunikasi-relai di Asia Tenggara. Pesawat ini membawa Northrop Grumman Battlefield Airborne Communications Node atau BACN, yang memungkinkan sistem komunikasi medan perang yang berbeda untuk berbagi data.
Kepala Staf Angkatan Udara AS Jenderal David Goldfein mengonfirmasi bahwa Amerika telah kehilangan salah satu pesawat jaringan komunikasi Bombardier E-11A di Afghanistan. Dia tidak merinci penyebab kecelakaan itu dan mengatakan tidak ada informasi tentang korban pada saat itu.
"Sebuah Bombardier E-11A AS jatuh hari ini di Provinsi Ghazni, Afghanistan. Sementara penyebab kecelakaan sedang diselidiki, tidak ada indikasi kecelakaan itu disebabkan oleh tembakan musuh. Kami akan memberikan informasi tambahan begitu tersedia," tulis Goldfein di Twitter.
Sementara itu, kelompok Taliban mengklaim telah menembak jatuh pesawat militer Amerika Serikat di Provinsi Ghazni, Afghanistan, yang menewaskan semua personel di dalamnya.
"Pesawat itu, yang berada dalam misi intelijen, dijatuhkan di daerah Sado Khel di distrik Deh Yak di provinsi Ghazni," kata juru bicara Taliban Afghanistan, Zabihullah Mujahid, dalam sebuah pernyataan. Menurutnya, semua orang di dalam pesawat, termasuk perwira tinggi, tewas. (Muhaimin)

Helikopter OH-58D Angkatan Udara Kiowa Kroasia Jatuh


Kementerian Pertahanan Kroasia mengatakan pada hari Senin (27/01) bahwa helikopter militer telah jatuh ke Laut Adriatik pagi itu, menewaskan pilotnya.
Dikatakan, helikopter OH-58 D Kiowa AU Kroasia jatuh antara pulau Zlarin dan kota pesisir Zablace dekat Sibenik. Pilot helikopter itu dipastikan tewas sementara pencarian anggota kru kedua sedang berlangsung.
 OH-58 D Kiowa
 OH-58 D Kiowa  
Menteri Pertahanan Kroasia Damir Krsticevic menyampaikan belasungkawa kepada keluarga pilot pada konferensi pers hari Senin sambil menjelaskan kejadian tersebut.
“Selama aktivitas penerbangan di daerah Zablace dan Zlarin, sebuah helikopter militer dengan dua anggota awak jatuh, sejauh ini, karena penyebab yang belum dapat dipastikan. Semua tindakan segera diambil untuk mengambil dan menyelamatkan mereka. Satu pilot telah ditemukan dan sayangnya dalam keadaan meninggal,” kata Krsticevic.
Kroasia dilaporkan memperoleh 16 helikopter Kiowa Warrior, dibuat antara 2010 dan 2012, sebagai hibah dari Amerika Serikat pada tahun 2016.
Tragedi serupa yang melibatkan helikopter militer telah terjadi di wilayah ini dalam beberapa tahun terakhir.
Pada Juni 2018, helikopter Mi-17 buatan Soviet berusia 30 tahun jatuh di dekat pangkalan angkatan udara Krumovo di Bulgaria, menewaskan kedua pilot, mungkin mengalami masalah teknis.
Pada Juni 2016, seorang wakil komandan angkatan udara Angkatan Laut Montenegro dan co-pilotnya terluka ketika helikopter Gazelle HN-45M mereka jatuh. Helikopter itu "melakukan penerbangan latihan terencana reguler", kata kementerian pertahanan Montenegro saat itu.
Juga di Montenegro, tiga penerbang tewas pada September 2011, ketika sebuah helikopter militer jatuh di daerah Lustica, dekat kota pesisir Herceg Novi, dalam penerbangan pelatihan. Penyelidikan menyimpulkan pada tahun 2014 bahwa tidak seorang pun harus dituntut atas insiden tersebut.
Pada bulan Maret 2015, di Serbia, tujuh orang di dalamnya meninggal ketika helikopter militer mengevakuasi bayi yang sakit jatuh di dekat bandara Beograd. Helikopter keluar dari radar dan menara kontrol kehilangan kontak dengan krunya. Pesawat dilaporkan jatuh karena kabut tebal.(Angga Saja-TSM)

Polandia akan Beli 800 MBT K2 dari Korea Selatan


Menurut berita pada situs web "The Korea Times", Perusahaan Korea Selatan Hyundai Rotem dikabarkan akan menandatangani kesepakatan dengan pemerintah Polandia untuk mengembangkan dan memproduksi 800 tank tempur utama (MBT) K2 Black Panther.
(MBT) K2 Black Panther
MBT K2 Black Panther 
Perusahaan Pertahanan Korea Selatan, Hyundai Rotem berencana untuk bermitra dengan pemerintah Polandia untuk mengembangkan dan memproduksi 800 tank tempur utama K2 Black Panther.
Menurut Hyundai Rotem, proyek resmi mungkin diumumkan pada paruh pertama tahun ini. Total proyek akan dibagi menjadi dua tahap untuk menghasilkan total 800 tank tempur utama.
Menurut laporan sebelumnya, pemerintah Polandia bermitra dengan Hyundai Rotem untuk memproduksi tank next generation dijadwalkan akan dimulai pada tahun 2023. Pada tahun 2016, Polandia telah menandatangani kesepakatan dengan Korea Selatan untuk pembelian 120 howitzer swagerak K-9. Polandia kemungkinan akan menjadi pelanggan asing pertama untuk MBT K2 Black Panther.
K2 Black Panther adalah generasi baru dari tank tempur utama yang dirancang, dikembangkan dan diproduksi di Korea Selatan oleh perusahaan Korea Selatan Hyundai Rotem. K2 diluncurkan untuk pertama kalinya kepada publik selama Pameran Pertahanan ADEX di Bandara Seoul pada Oktober 2009.
Persenjataan utama dari K2 Black Panther terdiri dari meriam smoothbore Rheinmetall 120-mm/L55 buatan Jerman yang diproduksi di bawah lisensi di Korea Selatan. Meriam ini dilengkapi dengan loader otomatis yang memastikan pemuatan proyektil ketika tank bergerak bahkan ketika kendaraan bergerak pada permukaan yang tidak rata. Meriam 120mm tersebut dapat menembakkan sekitar 10 peluru per menit.
MBT K2 Black Panther meiliki layout konvensional, dengan kompartemen pengemudi di depan, kompartemen tempur di tengah dan mesin serta transmisi di belakang. Armor pada Black Panther terdiri dari jenis armor komposit yang tidak diketahui dan Active Defense System serta blok Explosive Reactive Armor.
K2 Black Panther sebelumnya digerakkan oleh mesin diesel MTU MT-833, tetapi versi terbaru tank tersebut sekarang dilengkapi dengan mesin diesel Doosan DV27K buatan Korea Selatan dan sistem transmisi Renk. K2 dapat berjalan pada kecepatan maksimum 70 km/jam di permukaan jalan raya dan kecepatan hingga 48 km/jam pada kondisi off-road. (Angga Saja-TSM)

Angkatan Laut Italia Luncurkan Kapal Ke Sepuluh Frigate Kelas FREMM


Seakan mengulang memori Perang Dunia Kedua pada saat itu Regina Marina (AL Kerajaan Italia) mempunyai puluhan kapal perang jenis Battleships yang paling modern bahkan secara kualitas diatas Royal Navy (AL Inggris) namun kelebihan secara kualitas tersebut hancur sekejap saja dalam Battle Of Taranto yang mengakhiri riwayat AL Kerajaan Italia.
Frigate Emilio Bianchi - F-589
Frigate ITS Emilio Bianchi - F-589 
70 tahun berselang Marina Militaire (AL Republik Italia) kembali mencatatkan diri sebagai AL Terkuat di Kawasan Eropa tepatnya di Kawasan Mediterania (laut tengah). Diberitakan oleh Naval News (27/1/2020) Galangan Kapal Fincantieri meluncurkan kapal ke 10 Frigate kelas FREMM atau Kelas Carlo Bergamini yang diberi nama ITS Emilio Bianchi di La Spezia.
Frigate Kelas FREMM ini akan menggantikan Kapal Frigate Kelas Durand de la Penne dan Frigate Kelas Maestrale yang akan pensiun secara bertahap hingga tahun 2024 nanti. Dengan mengoperasikan 10 kapal kelas FREMM (Carlo Bergamini, Virginio Fasan, Carlo Margotini, Carabineri, Alpino, Luigi Rizo, Frederico Martinego, Antonio Marceglia, Emilio Bianchi dan satu kapal yang belum diberi nama) dan dua kapal Destroyer kelas Orizontte ( Andrea Doria dan Caio Dullio) membuat AL Italia satu-satunya negara yang mengoperasikan kapal Frigate dalam jumlah puluhan.
Sebagai informasi Frigate Kelas FREMM ini adalah buah cinta dari Prancis-Italia kapal seberat 6.700 ton ini dibuat oleh dua galangan yang berbeda di Italia dan Prancis. Jika di Italia dibuat di galangan Fincantierri dan diberi nama Kelas Carlo Bergamini maka di Prancis di buat di galangan Naval Group dan diberi nama Kelas Aquitane.
Karena dibuat oleh dua negara maka spesifikasi FREMM untuk kedua negara berbeda sebagai contoh untuk Sensor jika Italia menggunakan Leonardo Kronos AESA maka Prancis menggunakan Herakles PESA, begitu juga dengan senjata utama (main gun) versi italia terlihat lebih banyak membawa main gun yaitu 3 unit Oto Melara 76 mm daripada versi Prancis yang hanya membawa 1 unit Oto Melara 76 mm.
Perbedaan juga terletak pada penggunaan anti kapal Prancis menggunakan MBDA MM 40 Exocet maka Italia menggunakan MBDA Teseo Otomat dan khusus kapal Prancis bisa meluncurkan rudal jelajah SCALP yang mana kemampuan ini tidak ditemukan di kapal Italia.(WDZ)

Angkatan Udara Amerika Serikat Gunakan Heli Mi 24 Hind Sebagai Lawan Latih Tanding


Di kehidupan sehari-hari ada ungkapan “Pratice Make Perfect” yang artinya latihan yang intensif membuat hasil yang sempurna dan ungkapan itu dilaksanakan betul oleh AU AS dalam menjalankan tugasnya. Diberitakan oleh The Avionist (25/1/2020) Skuadron Penyelamat AU AS ke 55 (55th rescue squadron) dari Pelatihan Komando Tempur Udara melakukan latihan Combat SAR dengan heli HH 60 Pave Hawk melawan heli Mi 24 Hind.
Mi 24 Hind
Mi 24 Hind  
Menurut Komandan 55th Rescue Squadron Kapten Kurt Wallin “latihan ini adalah langkah besar yang kami ambil untuk meningkatkan kemampuan operasional kami di lapangan, untuk pertama kalinya kami berlatih dengan heli yang digunakan musuh (Mi 24 Hind). Latihan ini memungkinkan kita melihat kemampuan pesawat musuh terhadap taktik dan prosedur kita”
Sedangkan menurut Sersan Stefen Adams “kami harus memahami misi ini sebagai misi yang penting, karena tugas kami tidak mudah yaitu menyelamatkan prajurit yang terluka di lapangan tidak jarang kami menemui musuh yang dapat mengganggu tugas penyelamatan. Oleh karena itu kami harus mengetahui kelemahan musuh”
Heli serang Mi 24 Hind buatan Rusia diidentifikasi sebagai lawan potensial armada heli penyelamat AU AS dengan Kanon GSh Kaliber 30 mm serta berbagai macam roket seperti S 60 dan rudal anti tank Ataka heli ini dapat dengan mudah membabat Prajurit Kawan yang sedang bertempur/terluka dibawah. Heli ini telah digunakan secara luas di 48 Negara termasuk Indonesia
Sebagai informasi heli Mi 24 yang digunakan oleh AU AS ini sejatinya adalah milik Tacoma VTS Aviation dan System Studies & Simulation (S3) yang berbasis di Alabama. Dua heli ini dibeli oleh Perusahaan Swasta ini dari Bulgaria, heli ini pernah menghuni Museum Udara era perang dingin sebelum ditutup pada tahun 2017.(WDZ)

Roket-roket Astros II MK 6 Disiagakan Prajurit Yonarmed 1


Pasukan Yonarmed 1 Divif 2 Kostrad, tiba-tiba menyiagakan seluruh kekuatan roketnya di halaman markasnya. Mereka bergerak cepat menyiapkan senjata canggih itu.
Para prajurit bersenjata lengkap, bergerak menyiagakan truk-truk berukuran besar, yang mengangkut alat utama sistem senjata (Alutsista) jenis Astros II MK 6.
Yonarmed 1 Divif 2 Kostrad
Yonarmed 1 Divif 2 Kostrad 
Pergerakan pasukan ini, ternyata merupakan bagian dari latihan kesiap siagaan operasional pasukan roket. Mereka bergerak dengan sigap dan cepat, layaknya menghadapi kondisi darurat.
Komandan Yonarmed 1 Divif 2 Kostrad, Letkol Arm. Lukas Meinardo Sormin mengatakan, latihan ini dilakukan untuk meningkatkan kesiapan operasional Yonarmed 1 Divif 2 Kostrad, sesuai prosedur tetap kesiap siagaan satuan.
Selain uji prosedur tetap, kegiatan ini menurutnya juga untuk mengecek kesiapan gerak alutsista Astros II MK 6, dan kesiapan personel dalam menguasai teknis kecabangan arteleri medan (Armed) sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing.
"Latihan kesiap siagaan ini merupakan bagian dari agenda Minggu Militer, yang kami gelar setiap bulan. Dimana kita melatihkan prosedur tetap satuan yang kita miliki secara bergantian," ungkapnya.
Dia juga menegaskan, kesiap siagaan personel dan alutsista canggih ini, merupakan bagian dari penerjemahan visi misi Yonarmed 1 Divif 2 Kostrad, yakni "Profesional dan Siap Operasional".
Kesiap siagaan tersebut, sejalan dengan penekanan Komandan Resimen Armed 1 Divif 2 Kostrad, Kolonel Arm. Didik Harmono, bahwa satuan jajaran Resimen Armed 1 Divif 2 harus memiliki militansi dalam melaksanakan setiap tugas yang dipercayakan.(Yuswantoro)

Industri Srategis Pertahanan Diminta Prioritaskan Kebutuhan Nasional


Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendorong industri strategis pertahanan nasional agar memprioritaskan kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dalam negeri di samping memenuhi permintaan ekspor.
Presiden dan Menteri Pertahanan
Presiden dan Menteri Pertahanan 
"Rapat tadi membahas perusahaan BUMN mana di bidang industri strategis pertahanan kita yang harus maju terlebih dahulu. Lalu harus ada BUMN kedua, ketiga dan seterusnya di bidang industri strategis pertahanan kita yang perlu didorong untuk maju," katanya kepada wartawan usai memimpin rapat terbatas yang dihadiri sejumlah menteri dan pejabat terkait di Surabaya, Senin (27/1/2020).
Intinya, Presiden Jokowi menjelaskan, rapat tersebut mendorong kemandirian industri strategis nasional.
"Agar mandiri, industri strategis pertahanan kita harus diberi prioritas terkait pembelian alutsista di dalam negeri," ucapnya.
Ia menekankan kementerian pertahanan atau kementerian lainnya harus membeli alutsista dari industri strategis pertahanan nasional.
"Kementerian Pertahanan, Polair, misalnya, atau bea cukai dari Kementerian Keuangan, kalau mau membeli kapal selam, berikan saja ke PT PAL," tuturnya.
Begitu pula untuk pembelian peluru, Jokowi menyarankan agar kementerian terkait memesan ke PT Pindad.
Presiden Jokowi berharap seluruh kementerian terkait memesan alutsita kepada industri strategis pertahanan nasional tidak hanya dalam jangka waktu lima tahun.
"Kalau perlu harus ada pemesanan selama 15 tahun sebagai konsistensi perencanaan membesarkan industri strategis pertahanan kita," ujarnya.
Setelah memenuhi pasar dalam negeri, Jokowi berharap selanjutnya industri strategis pertahanan nasional bisa bersaing di luar negeri.
"PT PAL sudah memulainya dengan mengekspor kapal perang ke beberapa negara. Tapi yang terpenting sekarang adalah penuhi dulu kebutuhan alutsista di dalam negeri. Baru setelah itu kita bicara ekspor," katanya menegaskan.(Fiqih Arfani/Hanif Nashrullah)

Kapal Selam KRI Alugoro-405 Wujud Kemandirian Alutsista Nasional


Presiden RI Joko Widodo menyatakan kemampuan PT PAL Indonesia (Persero) merakit kapal selam KRI Alugoro-405 menunjukkan bukti kemandirian alat utama sistem persenjataan (alutsista) nasional.
"Saya kira sebuah kerja sama yang bagus, ada transfer teknologi di dalam pembangunan kapal selam Alugoro. Kita harapkan pada suatu titik kita bisa mandiri mengerjakan semuanya oleh anak-anak bangsa sendiri," kata Presiden Jokowi saat mengunjungi PT PAL Indonesia (Persero) di Kota Surabaya, Senin.
Kapal Selam KRI Alugoro-405
Kapal Selam KRI Alugoro-405  
Presiden Jokowi tiba di PT PAL untuk meninjau KRI Alugoro yang merupakan kapal selam ketiga dari batch pertama kerja sama pembangunan kapal selam antara PT PAL Indonesia (Persero) dan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME).
Setibanya di lokasi sekitar pukul 10.30 WIB, Presiden terlebih dahulu meninjau panel dan mendapatkan penjelasan terkait dengan kapal selam Alugoro. Presiden kemudian menuju kapal selam yang tengah bersandar di tepi dermaga.
Keberhasilan pembangunan kapal selam Alugoro menjadikan Indonesia satu-satunya negara di kawasan Asia Tenggara yang mampu membangun kapal selam.
Peluncuran dan pemberian nama kapal dilakukan pada 11 April 2019 di dermaga kapal selam PT PAL Indonesia.
Kapal selam Alugoro sendiri memiliki spesifikasi panjang 61,3 meter, kecepatan maksimal saat menyelam 21 knot, dan kecepatan maksimal di permukaan 12 knot. Kapal selam Alugoro telah menjalani berbagai pengujian, seperti Harbour Acceptance Test (HAT) dan Sea Acceptance Test (SAT).
Turut mendampingi Presiden saat meninjau kapal selam Aluguro, antara lain Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir, dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.
Selain itu, turut pula Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Kapolri Jenderal Pol. Idham Azis, Staf Khusus Presiden M. Fadjroel Rachman dan Putri Tanjung, serta Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. (Desca Lidya Natalia)

Salip Rusia, China Produsen Senjata Terbesar Kedua di Dunia


Industri senjata China telah menjadikan negara Asia ini menjadi produsen amunisi terbesar kedua di dunia. Setelah satu dekade mengandalkan impor, negara itu kini menggeser posisi Rusia.
Laporan Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) pada Senin (27/1/2020) menunjukkan bahwa produksi senjata China yang sebelumnya telah diselimuti misteri karena kurangnya transparansi telah tumbuh karena tiga dari 10 perusahaan senjata top dunia adalah China.
UAV Wing Long buatan China
UAV Wing Long buatan China 
"Kita dapat dengan yakin mengatakan bahwa China adalah produsen senjata terbesar kedua di dunia, di belakang Amerika Serikat dan di depan Rusia," kata Nan Tian, penulis laporan itu, kepada AFP.
Namun laporan SIPRI, kurangnya transparansi tetap menjadi "peringatan penting" ketika mempelajari industri senjata Beijing.
Sebagian besar dari amunisi negeri Tirai Bambu diperkirakan bernilai USD70-USD80 miliar dijual setiap tahun dibeli oleh cabang-cabang Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China yang berbeda.
Data SIPRI juga merupakan perubahan dramatis selama 10 tahun terakhir karena China di masa lalu adalah importir besar senjata dari Rusia dan Ukraina.
"Mereka tidak perlu lagi bergantung pada negara lain untuk senjata mereka," kata Tian.
Perusahaan-perusahaan senjata China juga jauh lebih terspesialisasi daripada rekan-rekan internasional mereka.
Aviation Industry Corporation of China (AVIC), perusahaan persenjataan terbesar di negara itu, misalnya, sebagian besar memproduksi pesawat terbang dan avionik. Sedangkan sebagian besar produsen non-China mencakup berbagai produk militer.
Para peneliti SIPRI sebelumnya telah berjuang untuk mendapatkan data yang dapat diandalkan tentang ukuran industri persenjataan China, karena para produsen semuanya adalah badan usaha milik negara.
"Semuanya terkunci di bawah istilah keamanan nasional," kata Tian.
Dalam laporan tersebut para peneliti telah melihat ke empat perusahaan China tertentu, yang semuanya berada di peringkat 20 besar dunia. "Dengan peningkatan data yang tersedia pada perusahaan-perusahaan ini sekarang mungkin untuk mengembangkan perkiraan skala yang cukup andal dari skala industri senjata China," bunyi laporan tersebut.
Meskipun tidak ada statistik resmi tentang ekspor senjata China, laporan SIPRI mencatat bahwa industri senjata China telah berkembang ke titik di mana ada peningkatan permintaan untuk senjata di luar negeri. SIPRI memperkirakan China sebagai eksportir senjata terbesar kelima di dunia.
Secara khusus Tian mengatakan bahwa salah satu kisah sukses China sebagai pengekspor senjata telah berada di ranah Unmanned Aerial Vehicle (UAV) "biasa dikenal sebagai drone" yang telah digunakan dalam konflik di Libya dan Yaman.
Semakin banyak ekspor senjata meningkatkan risiko proliferasi senjata, tetapi masuknya China ke dunia penjualan senjata menjadi perhatian khusus bagi para peneliti karena Beijing belum menandatangani banyak peraturan pengendalian senjata yang ada, termasuk Perjanjian Perdagangan Senjata yang disetujui oleh Majelis Umum PBB pada tahun 2013.
"Tidak ada sistem mengikat yang dapat meminta pertanggungjawaban China dan para eksportir ini," kata Tian. (Muhaimin)

Mengenal Roket Katyusha yang Bombardir Dubes Amerika Serikat di Irak


Kedutaan besar Amerika Serikat (AS) di Irak dihantam tiga roket pada Minggu (26/1/2020). Salah satu roket menghantam tepat di area kafetaria saat waktu makan malam dilakukan.
Roket Katyusha
Roket Katyusha 
Sebagaimana dikutip Bloomberg dari media Al-Sumaria, roket yang dipakai dalam serangan tersebut adalah katyusha. Katyusha sendiri merupakan roket yang biasa digunakan militer Iran dan milisi di Irak yang berafiliasi dengan Iran.
Roket ini bahkan digunakan saat menyerang pangkalan militer AS di 8 Januari lalu.
Seberapa canggih roket ini? Katyusha merupakan roket artileri buatan Rusia. Peluncur roket ini dirancang oleh Georgy Langemak dan diproduksi oleh Plant Comintern in Voronezh.
Mengutip globalsecurity.org, Katyusha merupakan roket yang dibuat pada perang dunia ke II dan menjadi senjata rahasia Uni Soviet. Peluncuran roket ini menggunakan mobil truk dengan jarak tembak hingga 20,4 kilometer dan bisa ditembakkan dalam jumlah banyak secara bersamaan.
Roket ini berukuran kecil dengan daya ledak tinggi tetapi akurasinya rendah dan butuh waktu lebih lama untuk mengisi ulang. Para tentara Uni Soviet menamai roket ini dengan nama Katie.
Pada perang dingin (cold war) di tahun 70-an Katyusha menjadi roket yang cukup populer dan diekspor ke beberapa negara seperti Romania, Yugoslavia hingga Korea Utara.(Arif Budiansyah)

KRI Alugoro-405, "Senjata Penyelam" Terbaru TNI AL


Setelah melalui proses pembuatan sejak 2018, akhirnya kapal selam Alugoro-405 menjalani uji coba di kawasan perairan utara Pulau Bali.
Uji coba yang dituntaskan yakni tahapan "Penyelaman di Kedalaman Nominal" (NDD) yang merupakan bagian dari 53 jenis Uji Kelautan atau Sea Acceptance Test/SAT. Alugoro pun berhasil menyelam hingga kedalaman 250 meter.
KRI Alugoro-405
KRI Alugoro-405 
Pengetesan akan dilakukan hingga Juni 2020 dan selanjutnya PT PAL akan menyerahkan kepada Kementerian Pertahanan untuk digunakan oleh TNI AL pada Desember 2020.
Nama "Alugoro" diambil dari kisah pewayangan yang merupakan senjata berupa gada berujung runcing milik Prabu Baladewa.
Senjata Alugoro itu diberikan oleh Batara Brama, guru dari Baladewa,setelah dia dinyatakan lulus menuntut ilmu dan dibekali kekuatan pemusnah yang dahsyat.
Penamaannya sendiri memiliki harapan agar Alugoro-405 siap melaksanakan tugas sebagai senjata dengan daya rusak dan penghancur yang besar.
Sebelumnya nama "Alugoro" juga pernah dipakai sebagai nama kapal selam yang dibeli dari Uni Soviet yakni Alugoro-406 kelas Whiskey Class.
Sementara untuk Alugoro-405 yang dibangun bersama oleh PT PAL Indonesia (Persero) dengan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) Korea Selatan adalah kapal selam kelas "Nagapasa" atau "Chang Bogo" KSDE U209.
Menurut data PT PAL Indonesia (Persero), Kapal Selam Alugoro-405 memiliki panjang 61,3 meter dengan bobot 1.460 ton di permukaan, dan 1.596 ton di bawah permukaan air.
Dengan dilengkapi oleh mesin diesel electric, Alugoro-405 mampu melesat dengan kecepatan maksimal saat menyelam yakni 21 knot, sementara kecepatan maksimal permukaan mencapai 12 knot.
Kapal selam berkelir hitam itu dapat memuat 40 kru, dengan kemampuan jelajah selama 50 hari dan masa pakai selama 30 tahun.
Peluncuran Alugoro-405 dilakukan pada 11 April 2019 di Dermaga Kapal Selam PT PAL Indonesia (Persero) di Surabaya, Jawa Timur.
Upaya transfer teknologi
Perakitan Alugoro-405 dilakukan di galangan kapal PT PAL Indonesia dengan kerja sama DSME. Alugoro-405 merupakan kapal selam ketiga dari batch pertama kerja sama tersebut.
Sebelum Alugoro-405, Indonesia telah menerima Nagapasa-403 dan Ardadedali-404 yang dibuat di Korea Selatan.
Kapal selam Nagapasa-403 telah diserahkan kepada Kementerian Pertahanan pada 2017, sementara kapal selam Ardadedali-404 diserahkan pada 2018.
Penamaan dua kapal selam itu pun mengambil nama-nama senjata dari kisah pewayangan. Nagapasa adalah senjata berbentuk panah milik Indrajit. Kemudian Ardadedali merupakan senjata panah milik Arjuna.
Kerja sama pembuatan kapal selam Alugoro-405 itu merupakan hasil kerja sama transfer teknologi dengan Korea Selatan.
Penyerahan Alugodo-405 merampungkan kontrak gelombang pertama Indonesia-Korsel dalam pembuatan kapal selam.
Menurut Kantor Berita Korea, Yonhap, nilai kerja sama antara Kementerian Pertahanan dan DSME dalam pembuatan tiga kapal selam kelas Nagapasa gelombang pertama itu mencapai 1,1 miliar dolar AS atau setara Rp15 triliun (kurs 1 dolar setara Rp13.618).
Kerja sama manis kedua negara pun dilanjutkan pada Jumat (12/4/2019) dengan penandatanganan kontrak pembangunan tiga kapal selam kelas 1.400 ton senilai 1,02 miliar dolar AS atau setara Rp13,9 triliun.
Sebanyak 206 anak bangsa telah mempelajari proses transfer teknologi itu di "Negeri Ginseng" dan mempraktikannya dalam perakitan Alugoro-405 di PT PAL Indonesia.
Saat diluncurkan di galangan Dermaga Kapal Selam PT PAL Indonesia (Persero) Surabaya, Jawa Timur, pada 11 April 2019, Menteri Pertahanan saat itu, Ryamizard Ryacudu, mengatakan kementerian memesan 12 kapal selam kepada PT PAL Indonesia.
Ryamizard mengungkap pada pembuatan kapal selam pertama dan kedua pesanan Kementerian Pertahanan sepenuhnya dibuat di DSME, Korea Selatan.
"Kemudian nanti yang kelima sudah bisa buat sendiri tanpa bantuan Korea Selatan," ucap Ryamizard menjelaskan.
Dengan demikian, Indonesia menjadi negara pertama di kawasan Asia Tenggara yang dapat membangun kapal selam mandiri. Kemampuan itu juga berpotensi menggaet pasar di negara-negara sekitar.
Presiden Joko Widodo saat meninjau langsung kapal selam KRI Alugoro-405 pada Senin (27/1/2020) mengapresiasi kerja sama baik yang dilakukan antara PT PAL Indonesia (Persero) dengan DSME.
​​​​​​​Jokowi berharap proses transfer teknologi tersebut menjadi titik tolak kemandirian bangsa menciptakan alutsista.
Bahkan Presiden pun melakukan rapat terbatas di PT PAL Indonesia (Persero), tepat di depan lambung Alugoro-405.
"Saya ingin mempertegas lagi bahwa kita harus fokus terhadap pembenahan ekosistem industri pertahanan baik yang berkaitan dengan fasilitas pembiayaan bagi BUMN cluster industri pertahanan, maupun ketersambungan dengan industri komponen baik itu komponen pendukung maupun bahan baku. Termasuk di dalamnya adalah reformasi supply chain dan pengembangan industri lokal untuk mengurangi ketergantungan kita kepada barang-barang impor," tutur Presiden.
Mantan gubernur DKI Jakarta dan wali kota Solo itu menilai industri pertahanan harus dikelola dan dijalankan sesuai tata kelola yang baik agar dapat meningkatkan efisiensi operasi.
Industri pertahanan juga perlu berfokus kepada pasar sehingga diharapkan tidak hanya memproduksi keperluan militer, tetapi juga produk non-militer.
"Saya juga perlu menyampaikan mengenai belanja pertahanan dalam APBN kita sebesar Rp127 triliun itu agar diarahkan ke industri pertahanan kita, paling tidak 15 tahun industri strategis pertahanan kita harus memiliki pesanan sehingga bisa dibangun sebuah rencana panjang yang baik dan investasinya bisa menjadi terarah," demikian Presiden.
Diharapkan dengan kemampuan membuat kapal selam mandiri, Indonesia dapat memimpin industri kemaritiman di kawasan.
Keuntungan lain tentu saja ditambah dengan meningkatnya daya gentar Indonesia melalui kemampuan penjagaan kawasan perairan Indonesia melalui "senjata-senjata selam" dalam air. (Bayu Prasetyo)

Mimpi Jokowi di Industri Militer: Senjata Otonom Hingga Siber


Presiden Joko Widodo (Jokowi) memimpin Rapat Terbatas tentang Kebijakan Pengembangan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista), di PT PAL Indonesia, Surabaya, Jawa Timur, Senin (27/1). Lokasi ratas berada di hanggar Produksi Kapal Selam PT PAL Indonesia.
  Presiden Jokowi Tinjau Kapal Selam buatan PT PAL Indonesia
Presiden Jokowi Tinjau Kapal Selam buatan PT PAL Indonesia 
Jokowi menyampaikan tiga pesan utama dalam mendorong industri alutsista dalam negeri dan penguasaan teknologi militer hingga 50 tahun ke depan.
Pertama, Indonesia harus fokus terhadap pembenahan ekosistem industri pertahanan antara lain yang berkaitan dengan fasilitas pembiayaan untuk kluster industri pertahanan. Pengembangan industri komponen pendukung maupun bahan baku, rantai pasok, dan pengembangan industri lokal demi mengurangi impor.
"Paling tidak 15 tahun itu industri strategis pertahanan kita harus memiliki order atau pesanannya, sehingga arahnya tata kelola bisa direncanakan bisa dibangun sebuah rencana panjang yang baik dan investasinya bisa lebih terarah," pesan Jokowi.
Jokowi juga mendorong perluasan pasar ekspor produk BUMN yang memproduksi alutsista, antara lain PT PAL Indonesia, PT Pindad, dan PT DI. Ia mendesak harus ada lompatan untuk meningkatkan pasar ekspor produk alutsista lebih besar.
Kedua, meningkatkan kerja sama transfer teknologi dengan negara lain dan peningkatan kandungan TKDN dalam memproduksi alutsista. Selain itu, pengembangan rantai produksi antara BUMN dan UMKM dengan perusahaan swasta sangat diperlukan untuk membangun industri militer dalam negeri.
Ketiga, Jokowi ingin pengembangan alutsista dalam negeri mampu menyerap dan adopsi perkembangan teknologi militer terkini yang serba digital, hingga masa depan.
"Ini memerlukan lompatan, tapi saya yakin dengan BUMN kita berpartner dengan perusahaan luar yang sudah memiliki reputasi saya kira ini akan lebih cepat kita adopsi pengembangan teknologi terkini," katanya.
Jokowi menekankan Indonesia harus mampu mengatasi lompatan teknologi militer dalam jangka waktu 20-50 tahun ke depan.
"Mampu memahami menguasai teknologi otomatisasi teknologi sensor yang mengarah pada pengindraan jarak jauh serta teknologi IT seperti 5G, komputasi quantum yang mengarah pada pengarahan sistem senjata yang otonom, serta pertahanan siber," katanya.(Chandra Gian Asmara)

Thailand Siapkan Pesawat C-130 untuk Evakuasi Warga Thailand dari Wuhan


Sebanyak empat pesawat C-130 dengan tim medis telah disiagakan seandainya Thailand memutuskan untuk menerbangkan warganya dari Wuhan saat wabah coronavirus memburuk di Tiongkok.
C-130 Angkatan Udara Thailand
C-130 Angkatan Udara Thailand 
Panglima Angkatan Udara Kerajaan Thailand Maanat Wongwat mengatakan pada hari Minggu (26/01) bahwa pesawat angkut dan tim medis siap untuk berangkat ke kota Tiongkok tersebut segera setelah pemerintah memberikan lampu hijau untuk rencana evakuasi.
"Angkatan udara telah siap," kata ACM Maanat.
Deputi Perdana Menteri Prawit Wongsuwon mengatakan pada hari Minggu bahwa pemerintah sedang mempertimbangkan rencana untuk membantu warga Thailand di Wuhan, pusat penyebaran wabah coronavirus.
Sebanyak 64 warga Thailand - 54 pelajar dan 10 pekerja - berada di ibukota provinsi Hubei, menurut Kementerian Luar Negeri.
Rencana evakuasi itu muncul setelah beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, Prancis dan Jepang, telah mengatur penerbangan untuk memindahkan warganya dari Wuhan, kota pertama yang diisolasi dimana pihak berwenang Tiongkok berusaha menahan wabah itu.
Rencana evakuasi Thailand akan menjadi lebih jelas ketika Rapid Response Center yang terdiri dari pejabat dari beberapa lembaga mengadakan pembicaraan pada hari Senin ahri ini di Kementerian Luar Negeri.
Pengaturan tersebut mencerminkan kekhawatiran yang berkembang setelah lebih banyak orang di Thailand dicurigai telah terinfeksi.
Thailand menempati urutan ke-delapan dalam jumlah orang yang terinfeksi tertinggi setelah Tiongkok.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand Busadee Santipitaks pada hari Minggu menegaskan bahwa rencana evakuasi belum selesai. Semua tindakan untuk membantu orang Thailand di Wuhan akan diajukan dalam pertemuan pusat pada hari Senin, tambahnya.
Jumlah korban virus telah meningkat menjadi 56 dan lebih dari 2.000 orang telah terinfeksi sejauh ini.
Menteri Luar Negeri Thailand Don Pramudwinai telah memerintahkan para diplomat Thailand yang berbasis di Tiongkok untuk memantau situasi dengan seksama, tambahnya.(Angga Saja-TSM)

Uji Coba Jet Tempur F-35B, Kapal Induk HMS Queen Elizabeth Berlayar Di Perairan Inggris


Pada 24 Januari 2020 kapal induk Angkatan Laut Inggris HMS Queen Elizabeth telah berlayar dari pelabuhan asalnya di Portsmouth. Dalam pelayarannya di perairan dalam negeri ini, Angkatan Laut Inggris melakukan ujicoba penerbangan dengan jet tempur F-35B. Kapal induk ini merupakan kapal induk terbesar serta kapal induk paling kuat yang pernah dibangun untuk Angkatan Laut Inggris. Kapal induk HMS Queen Elizabeth memiliki kemampuan untuk mengangkut pesawat hingga 40 unit.
Kapal Induk  HMS Queen Elizabeth
Kapal Induk  HMS Queen Elizabeth  
 Jet tempur Angkatan Udara Inggris telah melakukan penerbangan laut pertama beberapa bulan yang lalu dengan kapal induk HMS Ratu Elizabeth dalam rangka tes operasional. Kapal induk berbobot 65 ribu ton ini juga pernah melakukan uji coba dengan jet tempur di perairan Atlantik selama 2018 dan 2019.
"Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk membawa HMS Ratu Elizabeth berlayar untuk pertama kalinya sebagai Komandan barunya." ucap Kapten Angus Essenhigh.
Skuadron Angkatan Laut dan Angkatan Udara Inggris, Skuadron 207, akan melakukan uji coba terbang ke dan dari geladak kapal induk, siang dan malam dari pangkalan mereka di RAF Marham. Enam pilot, baik angkatan laut dan udara, akan melaksanakan kualifikasi kapal induk mereka pada saat itu.
Uji coba tersebut akan memberikan pelatihan bagi pilot dalam pendaratan di dek seluas 4,5 hektar di berbagai kondisi. Di samping itu, latihan tersebut juga menguji awak kapal dan sistem kapal induk dalam beroperasi dengan jet tempur.
Komandan Letnan Richard Turrell, Flight Deck Officer di HMS Queen Elizabeth, mengatakan "Ini adalah kesempatan fantastis untuk lebih mengintegrasikan dan memenuhi syarat pilot F-35 Britania Raya, kru darat dan pesawat di pesawat HMS Queen Elizabeth di perairan Inggris."
"Tim saya bersemangat untuk pergi berlayar dan melanjutkan pengembangan kapal kami sepanjang tahun 2020 dan seterusnya dengan kemampuan kapal induk penuh pada tahun 2021."
Kapal induk kelas Queen Elizabeth mampu membawa empat puluh pesawat, sebanyak tiga puluh enam jet tempur F-35Bs dan empat helikopter. F-35B dapat melakukan lepas landas pada landasan yang pendek serta pendaratan vertikal (STOVL - Short Take-Off and Vertical Landing). F-35B merupakan varian pesawat stealth STOVL supersonik pertama di dunia. Jet tempur ini dirancang untuk beroperasi dari pangkalan keras dan berbagai kemampuan udara kapal di dekat zona tempur garis depan. Selain itu jet tempur ini juga dapat lepas landas dan mendarat secara konvensional dari landasan pacu yang lebih panjang di pangkalan utama.
Luas dek penerbangan HMS Queen Elizabeth seluas empat hektar dan akan digunakan untuk meluncurkan jet tempur F-35B Joint Strike Fighter baru. Empat jet tempur dapat dipindahkan dari hanggar ke dek penerbangan hanya dalam waktu satu menit.(KangUsHa)

Bangladesh Jatuhkan Pilihan Ke Heli Serang AH 64 Apache Buatan Amerika Serikat


Dahulu heli serang AH 64 Apache sering dianggap sebagai alutsista strategis AS dan tidak semua mampu dan bisa membelinya karena bukan sekutu AS namun dalam perkembangannya semakin kesini semakin banyak Negara non sekutu bisa mengakses heli serang terbaik di dunia ini salah satu contohnya adalah Indonesia dan kini Bangladesh.
AH 64 Apache
AH 64 Apache 
Seperti diberitakan oleh Janes (22/1/2020) Boeing selaku produsen heli serang AH 64 Apache mengkonfimasi bahwa pihaknya telah dipilih oleh Bangladesh sebagai heli serang masa depan Negeri tersebut.
Menurut Terry Jamison Manajer Senior Boeing untuk Penjualan dan Pemasaran mengatakan “program penjualan heli AH 64 Apache akan melalui jalur Foreign Military Sale (FMS), Bangladesh memutuskan untuk memilih produk kami setelah mengalahkan pesaing lain”.
Jika rencana ini sukses maka untuk pertama kalinya Bangladesh akan mengoperasikan heli serang, sebelumnya untuk melakukan bantuan tembakan ke darat AD Bangladesh hanya mengandalkan heli Mi 17 yang dimodifikasi membawa pod roket.
Sebagai informasi Walaupun bukan sekutu AS pihak Bangladesh masih tetap bisa mengakses alutsista AS melalu program Acquisition and Cross-Servicing Agreement (ACSA) and General Security of Military Information Agreement (GSOMIA). Dalam ACSA mengatur mitra AS untuk saling bertukar jenis dukungan yang paling umum seperti bahan makanan, transportasi ataupun persenjataan.(WDZ)

Rusia Kembangkan Radar Frekuensi Terahertz Deteksi Drone Kecil


RTI Joint Stock Company, pengembang dan produsen produk teknologi tinggi Rusia menyatakan akan membuat radar baru yang beroperasi dalam rentang frekuensi terahertz. Radar ini, menurut RTI mampu menentukan drone terkecil.
Ilustrasi
Ilustrasi 
"Teknologi terahertz (yang menampilkan panjang gelombang radio di bawah satu milimeter) akan dikonversi menjadi produk dalam waktu lima tahun. Radar ini dapat mendeteksi drone kecil, dan berfungsi di ruang angkasa," kata CEO RTI, Pavel Laptayev.
Dia mengatakan, radar submillimeter memungkinkan sinar diarahkan pada objek yang relatif kecil dengan presisi luar biasa, tidak mungkin untuk rentang lain, dan mengidentifikasi bentuk, bahan, kecepatan, dan lintasannya.
Laptayev mengakui bahwa RTI berhasil mencapai keberhasilan yang signifikan dalam rentang terahertz hanya pada tahun 2019, dengan perusahaan menguasai komponen untuk teknologi tersebut, dan belajar mengidentifikasi objek dan bahan.
Menurut Laptayev, seperti dilansir Tass, spesialis RTI sekarang tengah mengejarkan perangkat lunak radar yang dapat dengan cepat dan efektif akan mengklasifikasikan target dan menyampaikan informasi ini kepada operator.
"Tugas ini akan memakan waktu lebih lama daripada membuat prototipe, karena ini membutuhkan pengumpulan data dan penerapan metode pembelajaran mesin," ujarnya.
Drone kecil dianggap sebagai ancaman serius karena mereka dapat diketahui oleh radar konvensional, terutama ketika terbang di ketinggian rendah dan kecepatan rendah.
Contohnya adalah pesawat tanpa awak yang dilengkapi dengan bahan peledak, menyerang dua kilang terbesar Saudi Aramco pada 14 September 2019. Ledakan dan kebakaran yang disebabkan oleh serangan tersebut membuat produksi harian Arab saudi turun dari 9,8 juta barel per hari menjadi 4,1 juta barel per hari. (Victor Maulana)

AL Amerika Serikat Latihan Militer, Sinyal GPS Lumpuh Di Enam Negara Bagian


Diberitakan oleh The Avionist (23/1/2020) Administrasi Penerbangan Federal AS/Federal Aviation Administration (FAA) mengeluarkan peringatan kepada seluruh pilot sipil dan komersial bahwa pada tanggal 16-24 Januari sinyal GPS tidak dapat diandalkan atau lumpuh dikarenakan pada tanggal tersebut grup tempur kapal induk Grup 4 (CSG) akan melakukan latihan tempur besar-besaran di lepas pantai timur AS.
 Latihan Militer AL Amerika Serikat
 Latihan Militer AL Amerika Serikat 
“Dalam latihan militer tersebut AL AS akan melumpuhkan sinyal GPS yang mencakup enam negara bagian dengan total luas yang terdampak mencapai 125.000 mil persegi” kata sumber dari The Avionist.
Namun kabar baiknya bagi warga yang berada di enam negara bagian yang terdampak gangguan pembatasan sinyal tidak akan menggangu GPS sipil dan komersial yang berbasis di darat seperti navigasi mobil dan GPS tracking yang banyak digunakan di alat kebugaran, sedangkan untuk GPS lalu lintas udara dan laut baik komersial dan sipil akan dibatasi penggunaanya.
Pembatasan sinyal GPS ini bukan pertama kalinya dilakukan oleh AL AS, tercatat hampir setiap tahun warga di pantai timur AS harus merasakan pembatasan ini. Pada tahun Februari 2019 lalu Grup Tempur Kapal Induk ke 4 juga melakukan latihan di tempat yang sama, pengumuman tentang lumpuhnya GPS dikeluarkan pada 30 Januari oleh Pentagon karena selain AL AS yang melakukan latihan tempur setidaknya ada 4 pangkalan militer AS yang melakukan pengujian jammer GPS yaitu Fort Hood, Texas, Yuma Proving Grounds, Arizona, Pangkalan Angkatan Udara Cannon, New Mexico, dan Fort Bragg, North Carolina.
Kemudian pada tahun 2017 Kontributor the Avionist David Cenciotti mengatakan “militer AS sering berlatih untuk menjamming dan menurunkan sinyal GPS dalam skala besar. Saya pernah merasakan sendiri ketika saya masuk kedalam pangkalan Nellis untuk melihat demonstrasi tentang seberapa cepat dan mudahnya AU AS dapat menjamming sinyal GPS”

Radar Acak