Kapal Perang RI Penjaga Natuna Pernah Bikin Jengkel Singapura - Radar Militer

10 Januari 2020

Kapal Perang RI Penjaga Natuna Pernah Bikin Jengkel Singapura


TNI Angkatan Laut menerjunkan sejumlah Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) untuk menjaga dan mengamankan perairan Natuna Utara, Kepulauan Riau saat ini. Hal itu tak lepas dari kehadiran kapal-kapal Coast Guard China yang mengawal nelayan-nelayan China menangkap ikan.
Salah satu KRI yang diterjunkan adalah KRI Usman Harun 359. Diketahui KRI Usman Harun ini pernah membuat Singapura dongkol saat hendak membantu proses pencarian dan evakuasi tragedi jatuhnya AirAsia QZ8501 di perairan Karimata, Kalimantan Tengah, Januari 2015 silam.
KRI Usman Harun 359
KRI Usman Harun 359 
Saat itu sejumlah media Singapura menganggap pengiriman KRI Usman Harun 359 untuk membantu pencarian dan evakuasi AirAsia QZ8501 sebagai langkah kontroversi. Salah satunya Channel News Asia (CNA) yang memasang artikel dengan judul 'Indonesia deploys controversial KRI Usman Harun for AirAsia plane search'.
CNA menyinggung soal penamaan KRI buatan BAE Systems Marine tersebut. KRI Usman Harun itu diambil dari dua nama prajurit TNI, Usman Janatin dan Harun Thohir, yang melakukan pengeboman MacDonald House pada 1965 dan menewaskan tiga orang serta melukai 33 orang lainnya. Oleh Singapura, Usman dan Harun kemudian divonis hukuman mati dengan cara digantung.
Menteri Pertahanan Singapura Ng Eng bahkan meradang dengan TNI yang memberi nama Usman Harun pada KRI dimaksud. Eng menyatakan KRI Usman Harun haram berlabuh di Singapura. Termasuk melarang Angkatan Laut Singapura berlayar bersama KRI Usman Harun dalam latihan bersama.
Berbeda dengan versi Singapura, Indonesia menganggap Usman dan Harun sebagai pahlawan. Keduanya merupakan prajurit Korps Komando Operasi (KKO) atau kini dikenal sebagai Korps Marinir TNI Angkatan Laut.
Dikutip dari berbagai sumber, keduanya merupakan bagian dari operasi militer Komando Mandala Siaga. Operasi tersebut bagian dari seruan Presiden Sukarno untuk mengganyang Malaysia yang disebutnya hanya negara boneka Inggris.
Selain Usman dan Harun, satu prajurit lainnya adalah Gani bin Arup. Pada 8 Maret 1965 Mereka kemudian dikirim untuk melakukan sabotase di Singapura yang saat itu masih menjadi bagian dari Federasi Malaysia. Mereka kemudian melakukan pengeboman berbekal bahan peledak 12,5 kilogram di MacDonalds House.
Ketiganya kemudian melarikan diri usai melakukan aksi awal ganyang Malaysia tersebut. Namun tiga hari kemudian Usman dan Harun tertangkap, sementara Gani berhasil lolos.
Diketahui setidaknya ada tiga kapal Coast Guard China di perairan Natuna Utara. Bahkan dua hari lalu dua kapal Coast Guard dikirim lagi ke Natuna.
Indonesia sendiri tak tinggal diam. Bakamla ikut menambah kekuatan armadanya ke sana. Pun demikian dengan TNI AU yang menerbangkan empat jet tempur F-16 untuk mengamankan perairan Natuna Utara dari udara.
Sementara TNI AL mengerahkan lebih dari lima KRI dengan jenis Korvet dan Fregat.
Kapal jenis Korvet yang dikerahkan, yakni KRI Tjiptadi 381, KRI Teuku Umar 385, KRI John Lie 358, KRI Sutendi Senoputra 378, dan KRI Usman-Harun 359. Sedangkan jenis Fregat, TNI AL menurunkan KRI Ahmad Yani 351 dan KRI Karel Satsuit Tubun 356.
Selain itu, kapal jenis tanker, yakni KRI Tarakan 905, dan kapal jenis angkut tank, KRI Teluk Sibolga 536 juga disiapkan TNI AL.
(osc/osc)

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda

- Berkomentarlah yang sopan dan bijak sesuai isi artikel/ berita;
- Dilarang berkomentar SPAM, SARA, Politik, Provokasi dsb