Menolak Diusir, Militer Amerika Serikat Lanjutkan Operasi Anti ISIS di Irak

KangUsHa 22:00
Loading...

Militer Amerika Serikat (AS) melanjutkan operasi terhadap gerilyawan Negara Islam (IS dulu ISIS) di Irak dan sedang berupaya untuk segera memulai kembali pelatihan pasukan Irak. Keputusan ini diambil ditengah penolakan keberadaan pasukan Irak pasca serangan drone AS yang menewaskan komandan senior Iran di Baghdad dan berujung pada serangan rudal Teheran terhadap pangkalan-pangkalan Irak.
Tentara Amerika Serikat
Tentara Amerika Serikat 
The New York Times pertama kali yang melaporkan dimulainya kembali operasi militer bersama ini.
Seorang pejabat mengatakan beberapa operasi gabungan antara AS dan pasukan Irak telah dimulai, tetapi jumlahnya belum sebanyak sebelumnya. Pejabat itu mengatakan rincian masih sedang dikerjakan untuk mengembalikan pelatihan pasukan Irak, tetap hal itu relatif segera bisa terjadi.
Pejabat lain mengatakan para pemimpin militer telah membahas dimulainya kembali operasi dengan Irak. Namun tidak diketahui dengan jelas siapa yang terlibat dalam pembicaraan itu atau apakah para pemimpin pemerinta Irak secara terbuka mendukung langkah tersebut seperti dikutip dari AP, Kamis (16/1/2020).
Para pejabat tersebut berbicara dengan syarat anonim untuk membahas keputusan yang belum diumumkan.
Hubungan AS dengan Irak merenggang setelah serangan drone Amerika di dekat bandara internasional Baghdad pada 3 Januari lalu menewaskan Jenderal Iran Qassem Soleimani. Parlemen Irak kemudian mengeluarkan resolusi untuk mengusir pasukan AS dari negara itu.
Langkah parlemen Irak kemudian diteruskan oleh Perdana Menteri Irak Adel Abdul Muhdi yang meminta Washington untuk menyusun road map bagi penarikan pasukan.
Para pemimpin Irak marah terhadap serangan pesawat tak berawak AS dan serangan balasan oleh Iran. Rudal-rudal Iran menghantam Pangkalan Udara Al-Asad pekan lalu, dan menyerang dekat pangkalan lain, tetapi telah memberikan peringatan sebelumnya dan tidak ada yang terbunuh atau terluka.
Namun para pejabat Irak menyebut serangan AS yang menewaskan Soleimani sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Irak yang tidak dapat diterima. Serangan itu juga menewaskan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil komandan milisi yang didukung Iran yang dikenal sebagai Pasukan Mobilisasi Populer. Ribuan pengunjuk rasa anti-pemerintah pun muncul di Baghdad dan Irak selatan, dengan banyak yang meminta AS dan Iran untuk meninggalkan negara mereka.
AS dengan tegas menolak permintaan itu dan belum bergerak untuk menarik lebih dari 5.000 tentara. Pejabat AS, termasuk Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, menolak seruan agar pasukan Amerika pergi. Mereka mengatakan pasukan AS sangat penting untuk memerangi kelompok ISIS.
"Kami senang melanjutkan pembicaraan dengan Irak tentang apa struktur yang tepat," kata Pompeo di Gedung Putih pekan lalu.
Ketegangan di Irak telah meningkat sejak akhir Desember, ketika serangan roket terhadap sebuah pangkalan di Irak utara menewaskan satu kontraktor keamanan AS. AS menyalahkan milisi yang didukung Iran dan dengan cepat membalas. Serangan udara Amerika menargetkan milisi yang didukung Iran di lima lokasi di Irak dan Suriah, termasuk depot senjata dan pangkalan kontrol komando.
Selama Tahun Baru, ratusan milisi yang didukung Iran menyerang kompleks kedutaan AS yang sangat berbenteng di Baghdad. Pentagon mengerahkan ratusan pasukan tambahan ke wilayah itu, dan mengurangi operasi militer serta pelatihan di Irak.
Para pejabat AS mengatakan mereka yakin Irak juga tertarik untuk melanjutkan pelatihan, yang telah berlangsung sejak 2015, setelah ISIS mulai mengendalikan wilayah yang besar di Irak dan Suriah. Rincian lebih lanjut, termasuk peningkatan keamanan untuk AS dan pasukan koalisi, masih dibahas. (Berlianto)
Loading...

Share this

Berlangganan via email

Related Posts

Previous
Next Post »

- Berkomentarlah yang sopan dan bijak sesuai isi artikel/ berita;
- Dilarang berkomentar SPAM, SARA, Politik, Provokasi dsb
EmoticonEmoticon

Radar Acak