Didekati Pesawat Diduga Bomber Rusia, Inggris Kerahkan Jet Tempur

Dua jet tempur Angkatan Udara Kerajaan (RAF) Inggris dikerahkan setelah pesawat misterius yang diduga pengebom (bomber) Tu-95 Rusia terbang di atas wilayah udara Sktolandia dan bergerak menuju Shetland Island, Kamis (27/2/2020).
Jet Tempur Typhoon RAF
Jet Tempur Typhoon RAF 
Selain dua jet tempur Typhoon, RAF juga melesatkan sebuah pesawat voyager untuk misi intersepsi atau pencegatan pesawat misterius tersebut jika diperlukan.
Situs web penerbangan, Air Live, melaporkan bahwa pesawat tempur lain dari Norwegia dan Belanda juga telah dikerahkan.
RAF mengatakan, pesawat tak dikenal itu diduga milik Rusia. Menurut RAF pencegatan sejauh ini tidak diperlukan.
"RAF Quick Reaction Alert Typhoon (Typhoon Peringatan Reaksi Cepat RAF) telah diluncurkan di RAF Lossiemouth setelah pesawat tak dikenal sedang terlacak menuju wilayah udara Inggris," kata pangkalan RAF Lossiemouth melalui seorang juru bicaranya, seperti dikutip BBC.
"Pesawat-pesawat tak dikenal ini tetap berada di luar bidang yang kami minati dan tidak ada intersepsi yang terjadi."
Juru bicara itu mengatakan layanan tidak dapat mengonfirmasi jumlah atau jenis pesawat tak dikenal yang mendekati wilayah udara Inggris. (Muhaimin)(RM)

Erdogan Bantah Turki Minta Sistem Rudal Patriot Amerika Serikat

Amerika Serikat (AS) tidak mungkin menyediakan rudal Patriot untuk sekutu NATO-nya, Turki. Hal itu diungkapkan langsung oleh Presiden Turki Recep Tayyep Erdogan, membantah laporan yang menyebut Ankara meminta sistem rudal Patriot AS.
Sistem Rudal Patriot
 Sistem Rudal Patriot  
"Mengenai masalah Patriot, izinkan saya mengatakan dengan sangat jelas: saat ini tidak ada Patriot yang akan diberikan Amerika kepada kita," kata Erdogan kepada wartawan sekembalinya dari Azerbaijan.
"Kami mengajukan penawaran tetapi saat ini, mereka tidak memiliki hal semacam itu di tangan mereka," akunya seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (27/2/2020).
Pemerintah Turki dilaporkan telah meminta AS untuk menempatkan dua sistem pertahanan rudal Patriot di sepanjang perbatasan selatannya dengan Suriah. Hal itu diungkapkan seorang pejabat Amerika kepada media lokal, tetapi "tidak ada keputusan yang dibuat."
Turki telah lama meminta sistem pertahanan udara buatan Raytheon itu tetapi tidak berhasil, karena banyak negara di dalam NATO, termasuk AS sendiri, tidak tertarik untuk menjual senjata semacam itu.
Akhirnya, militer Turki berpaling ke Rusia dan menandatangani kesepakatan besar untuk mendapatkan beberapa unit sistem rudal S-400 terbaru.
Kesepakatan S-400 akhirnya menjadi polemik bagi sekutu NATO. AS memutuskan hubungan Turki dari program jet tempur F-35, dengan alasan ketidakcocokannya dengan sistem buatan Rusia. Washington memberi tekanan besar pada Ankara, menuntut agar membatalkan kesepakatan dengan Moskow, tetapi, seperti yang sering ditegaskan oleh pejabat Turki, pembelian itu untuk memenuhi kebutuhan keamanan Turki.
Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa anggota NATO menyebarkan sistem rudal Patriot mereka di tanah Turki untuk menangkis ancaman yang masuk di wilayah tersebut. Tetapi penyebaran ini tidak berlangsung lama, meninggalkan Turki dalam posisi berbahaya.
Sementara itu, persiapan untuk membuat S-400 Turki beroperasi berjalan lancar.
"Kami telah menerima S-400, kami membawanya ke Turki, proses instalasi dan pelatihan berlanjut. Operasi kami akan berlanjut sesuai rencana," kata Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar pekan lalu, menambahkan bahwa aktivasi S-400 akan berlangsung di musim semi. (Berlianto)(RM)

BlueBird Aero Systems Amankan Pesanan Lebih dari 150 VTOL UAS untuk Eropa

Perusahaan Israel, BlueBird Aero Systems telah menerima pesanan senilai puluhan juta euro dari pelanggan Eropa untuk pengiriman lebih dari 150 sistem pesawat tak berawak (UAS) dari berbagai kategori. UAS pesanan Eropa tersebut memiliki kemampuan take-off dan landing secara vertikal (VTOL).
UAS ThunderB-VTOL
UAS ThunderB-VTOL 
WanderB-VTOL Mini UAV dan ThunderB-VTOL Tactical UAV akan dioperasikan oleh tentara infanteri, unit lapis baja, pasukan artileri dan pasukan khusus. Kontrak ini menandai penjualan taktis pesawat tak berawak VTOL terbesar yang pernah ada.
BlueBird lebih disukai daripada pemasok lain karena fakta bahwa WanderB-VTOL dan ThunderB-VTOL menawarkan fleksibilitas operasional yang tinggi dan memberikan kinerja terbaik dalam kategori mereka. Di atas semua itu mereka menggabungkan keunggulan UAV sayap tetap (daya tahan lebih lama, kecepatan tinggi, kemandirian angin, cakupan area yang luas, kemampuan untuk meluncur dalam skenario kegagalan engine) dengan keunggulan multi-copter (kemampuan lepas landas dan mendarat di daerah kecil serta terbatas seperti kapal di tengah laut untuk operasi maritim, pembukaan hutan kecil atau di atap gedung daerah perkotaan, kemampuan untuk melayang di atas target, pendaratan yang akurat, aman dan bebas dari kerusakan dan lainnya).
Pelanggan secara khusus mencari UAS yang sangat mobile, yang dapat dibawa dalam koper kecil, dan bahkan dalam ransel prajurit.
“Kami sangat terkesan dengan solusi VTOL BlueBird karena memungkinkan fleksibilitas operasional yang tinggi dan memberikan kecerdasan real time dan kesadaran situasi yang tak ternilai. Kami telah menguji VTOL UAV di lingkungan yang paling keras dan paling berat, dan mereka terbukti handal dan amat penting, ”kata komandan pasukan darat sebagai pengguna.
“Solusi VTOL yang terbukti di medan perang ini akan digunakan sebagai bagian dari doktrin pertempuran modern kami dan akan berfungsi sebagai mata pasukan di langit yang menyediakan kemampuan intelijen, pengawasan, akuisisi target, dan pengintaian [ISTAR] yang maju dan handal untuk mengatasi tantangan utama medan perang modern ini. ," dia menambahkan.
"BlueBird's VTOL memberi kami jangkauan jarak jauh dan daya tahan lama, bersama dengan kemampuan lepas landas dan mendarat di area terbatas," tambah Kolonel G., kepala Komando Brigade Pasukan Khusus. "Keputusan pembelian kami dipengaruhi oleh kemudahan penggunaan dan penyebaran cepat oleh kru kecil beranggotakan dua orang, yang akan menawarkan keunggulan dominasi medan pasukan kami, yang mengarah pada fleksibilitas medan perang yang tak tertandingi siang dan malam."
"Kontrak baru menandai keberhasilan BlueBird dan terdepan dalam mengembangkan dan menyediakan solusi VTOL yang canggih," kata Ronen Nadir, Pendiri dan CEO BlueBird. "Ini menggambarkan kemampuan kami yang telah terbukti untuk memberikan solusi yang hemat biaya, handal, dan berkinerja tinggi yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan medan perang modern."
“Kami senang sebagai terdepan, berada di garis depan teknologi, menerapkan solusi sebagai hasil pembelajaran dari kebutuhan operasional dan menjadi bagian dari akuisisi VTOL UAS pertama dengan skala besar,” tambah Nadir.(paijojr)


AS Tandatangani Perjanjian Penjualan dengan India untuk Helikopter MH-60R Romeo dan AH-64E (I) Apache Guardian

Amerika Serikat telah menandatangani kesepakatan dengan India untuk menyediakan helikopter militer senilai lebih dari USD3 miliar kepada negara Asia Selatan itu.
"Hari ini kami memperluas kerjasama pertahanan kami dengan perjanjian untuk India untuk membeli lebih dari USD3 miliar [peralatan] militer canggih Amerika, termasuk helikopter AH-64E Apache Guardian dan MH-60 Romeo," kata Presiden AS Donald Trump dalam konferensi pers bersama yang diadakan bersama dengan Perdana Menteri India Narendra Modi di New Delhi pada 25 Februari.
Helikopter MH-60R Romeo
Helikopter MH-60R Romeo 
"Kesepakatan ini akan meningkatkan kemampuan pertahanan bersama kami karena dua militer kami terus berlatih dan beroperasi berdampingan," tambah Trump, yang telah mengadakan pembicaraan dengan Modi sebelumnya hari itu.
Meskipun tidak ada perincian lebih lanjut, pejabat India mengatakan kepada Jane bahwa kesepakatan itu untuk 24 helikopter serbaguna Lockheed Martin/Sikorsky MH-60R untuk Angkatan Laut India (IN) senilai total USD2,6 miliar, dan untuk enam Boeing 'AH-64E (I) 'Helikopter serang Apache Guardian untuk Army Aviation Corps (AAC) India bernilai total sekitar USD800 juta.
Para pejabat militer mengatakan bahwa India akan memperoleh helikopter MH-60R, yang akan menampilkan kemampuan perang anti-kapal selam dan anti-permukaan, di bawah program Penjualan Militer Asing AS (FMS). Namun, akuisisi keenam Apache akan terjadi sebagai pembelian 'hibrida', menggabungkan penjualan komersial langsung (DCS) dengan Boeing dan FMS dengan pemerintah AS.
Angkatan Udara India (IAF) telah menandatangani kesepakatan 'hibrida' yang serupa untuk 22 Apache pada bulan September 2017 dengan harga sekitar USD2,02 miliar. Pada akhir 2019 layanan ini telah meluncurkan delapan platform ini.
Bagian DCS dari kesepakatan Apache AAC mencakup platform, dukungan logistik, suku cadang, dan layanan purna jual.
Bagian FMS terdiri dari mesin turboshaft General Electric T700-701D helikopter, sensor elektro-optik, radar, sistem senjata - termasuk rudal Hellfire AGM-114 dan roket Hydra-70 serta pelatihan dan sertifikasi platform. (Abu Hafizh - TSM)(RM)
Sumber : janes.com

Amankan Selat Malaka, TNI AL - Tentara Laut Diraja Malaysia Gelar Patroli

TNI AL dan Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM) melaksanakan Patroli Koordinasi Malaysia-Indonesia (Patkor Malindo 147/20) di sepanjang Selat Malaka.
Dalam patroli itu, kedua negara melibatkan kapal perang untuk meningkatkan keamanan dikawasan Selat Malaka.
Patroli Koordinasi Malaysia-Indonesia
Patroli Koordinasi Malaysia-Indonesia 
Panglima Komando Armada I (Pangkoarmada I) Laksamana Muda TNI Muhammad Ali mengatakan, posisi strategis Selat Malaka merupakan salah satu choke point dari 9 choke points di dunia.
"Dimana Selat Malaka merupakan jalur pelayaran, disamping itu juga menjadi jalur perdagangan international yang memiliki lalu lintas terpadat," kata Laksamana Muda TNI Muhammad Ali di Gedung R. Mulyadi Mako Lantamal l Belawan - Sumatera Utara, Rabu (26/02/20)
Dia menyatakan, kerja sama Patroli Koordinasi antara unsur Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dengan Tentara Laut Diraja Malaysia diharapkan dapat menciptakan keamanan di Selat Malaka.
"Kegiatan Patkor Malindo yang selama ini dilaksanakan selalu mampu mencapai sasaran operasi yakni, menjamin keamanan perairan Selat Malaka", ungkap Muhammad Ali.
Menurutnya, seiring dengan perkembangan lingkungan strategis dan kompleksitas permasalahan di laut, serta arti penting Selat Malaka, diperlukan peningkatan kerjasama dan koordinasi serta manajemen penanganan yang harus semakin meningkat dari waktu ke waktu.
Maka itu, unsur laut Patkor Malindo akan tetap berpedoman pada protap dan saling berkoordinasi selama pelaksanaan operasi serta mengutamakan keselamatan di dalam melaksanakan tugas.
Sementara, Panglima Armada Barat TLDM Laksamana Madya Dato' Aris Adi Tan Bin Abdullah mengatakan Patkor Malindo yang sudah dilakukan sejak lama dan melibatkan banyak Kapal Perang antara kedua negara. Maka, dengan kerjasama ini diharapkan mampu menangani segala ancaman di Wilayah Selat Malaka.
"Panglima berharap Patkor Malindo Akan mengakrabkan dan meningkatkan hubungan baik antara kedua Negara serta mengakrabkan seluruh personel Kapal Perang yang terlibat langsung pada Patkor Malindo 147/20," tuturnya.
Dia menjelaskan, pelaksanaan Patkor Malindo 147/20 ini pihak TLDM mengirimkan 2 kapal perang antara lain KD Laksamana Tun Abdul Jamil-135 dan KD Handalan-3511 yang saat tiba didermaga Lantamal l Belawan. Pihaknya disambut oleh Pejabat Lantamal l, Komandan KRI Lepu-861, Mayor Laut (P) Dono Istiarto yang juga menjabat sebagai Dansatgas Patkor Malindo 147/20 dengan Upacara Militer.
Patkor Malindo 147/20 akan dilaksanakan selama 15 hari kedepan dan akan ditutup pada 10 Maret 2020 di Mawilla 3 Malaysia. TNI AL melibatkan 2 Kapal Perangnya yakni, KRI Lepu - 861 dan KRI Bubara - 868.(Sartana Nasution)(RM)

Letkol Pnb Wanda “ Russel “ Surijohansyah Raih 2000 Jam Terbang

Letkol Pnb Wanda “ Russel “ Surijohansyah berhasil raih 2000 jam terbang pesawat Sukhoi SU 27/30. Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Marsma TNI H. Haris Haryanto, S.IP., Rabu (26/2/2020) menyematkan Bagde 2000 jam terbang di Shelter Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin.
Letkol Pnb Wanda “ Russel “ Surijohansyah
Letkol Pnb Wanda “ Russel “ Surijohansyah  
Pada acara tradisi penyematan Badge 2000 jam terbang ini, Komandan Lanud Sultan Hasanuddin Marsma TNI H. Haris Haryanto, S.IP. menyampaikan ucapan “Selamat” serta ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas prestasi yang telah berhasil membukukan total rekor 2000 Jam Terbang dengan Pesawat Tempur Sukhoi. Disampaikan juga pencapaian 2000 jam ini diharapkan dapat meningkatkan skill dan profesionalisme sehingga dapat diaplikasikan untuk menunjang kelancaran tugas-tugas kedinasan, yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
Selain itu, juga diharapkan keberhasilan ini dapat menjadi motivator bagi penerbang lainnya yang belum mencapai 2000 jam terbang. Dikatakan, kelancaran dan prestasi ini tentunya tidak lepas dari dukungan dan kerja keras seluruh personel Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin, untuk itu harapan Danlanud Sultan Hasanuddin agar tugas-tugas yang telah dilaksanakan agar dipertahankan, tingkatkan profesionalisme serta disiplin, sehingga tugas-tugas ke depan dapat dilaksanakan dengan baik dan lancar sesuai harapan kita bersama.
Penyematan Badge 2000 jam terbang, ditandai dengan penyiraman air bunga oleh Komandan Lanud Sultan Hasanuddin dan diikuti para pejabat Lanud Sultan Hasanuddin. Selain itu, kegiatan ini juga merupakan Farewell Flight oleh Letkol Pnb Wanda “Russel“ Surijohansyah yang saat ini menjabat sebagai Komandan Skadron Udara 11 yang beberapa hari lagi akan melaksanakan Serah Terima Jabatan dengan Letkol Pnb I Gusti Ngurah Sorga Laksana sebagai penggantinya.
Acara tersebut dihadiri juga Komandan Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin Kolonel Pnb David Y. Tamboto, Para Kepala Dinas, Komandan Skadron Jajaran Lanud Sultan Hasanuddin serta para pejabat Staf lainnya(Pen Lanud Hnd)(RM)

Indonesia Sedang Menyiapkan Strategi Kecerdasan Buatan (AI) untuk Pertahanan

Indonesia sedang bersiap untuk memperkenalkan strategi nasional mendukung pengembangan kemampuan dalam teknologi yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI). Pemerintah mengatakan strategi baru akan ditujukan untuk mendukung sektor termasuk industri pertahanan nasional.
Bambang Brodjonegoro
Bambang Brodjonegoro 
Bambang Brodjonegoro, Menteri Riset dan Teknologi Indonesia, mengatakan dalam komentar yang diterbitkan oleh kantor berita Antara milik pemerintah pada 24 Februari bahwa strategi AI akan diluncurkan akhir tahun ini. Strategi tersebut sedang disusun oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), katanya.
Brodjonegoro mengatakan strategi AI juga akan memasukkan kebijakan untuk mendukung integrasi teknologi industri lokal terkait dengan analitik data besar dan ilmu data. (Abu Hafizh -TSM)(RM)
Sumber janes.com

Komisi I DPR RI Bahas Hibah Drone ScanEagle UAV dan Upgrade Helikopter Bell 412 dari AS untuk TNI AL Bersama Kemhan

Kementrian Pertahanan (Kemhan) akan mendapat hibah 14 drone ScanEagle dan upgrade (meningkatkan kemampuan) tiga unit Helikopter Bell 412 dari pemerintah Amerika Serikat (AS) guna memperkuat Alat utama sistem senjata (Alutsista) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL).
Drone ScanEagle UAV
Drone ScanEagle UAV 
“Kami hadir di Komisi I DPR ini untuk menyampaikan permohonan persetujuan penerimaan hibah 14 drone Scan Eagle UAV dan upgrade helikopter Bell 412 dari pemerintah AS,” kata Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Sakti Wahyu Trenggono saat Rapat Kerja dengan Komisi I DPR, Rabu (26/2).
Dijelaskannya, pemerintah AS sejak tahun 2014 sampai 2015 menawarkan program hibah (FMF) kepada TNI, atas dasar itu, maka pada tahun 2017 TNI AL mengambil program FMF Hibah tersebut berupa Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dan upgrade helikopter Bell 412. Sesuai ketentuan dibentuklah tim pengkaji oleh Kemhan untuk melakukan penilaian apakah barang tersebut layak diterima dari aspek teknis, ekonomis, politis, dan strategis. Dari kajian tersebut Kemhan memutuskan untuk menerima program hibah dimaksud.
Drone ScanEagle memiliki nilai US$28,3 juta, dibutuhkan TNI AL utk meningkatkan kemampuan ISR maritim guna memperkuat pertahanan negara.
ScanEagle adalah bagian dari ScanEagle Unmanned Aircraft Systems, yang dikembangkan dan dibangun oleh Insitu Inc., anak perusahaan The Boeing Company. UAV didasarkan pada pesawat miniatur robot SeaScan Insitu yang dikembangkan untuk industri perikanan komersial.
Menurut laman Boeing, drone ScanEagle dapat beroperasi di atas 15.000 kaki (4.572 m) dan berkeliaran di medan perang untuk misi yang diperpanjang hingga 20 jam. Drone dengan bobot maksimum tempat pilot diizinkan untuk lepas landas atau maximum takeoff weight (MTOW) 22 kg ini, digerakkan mesin piston model pusher berdaya 15 hp.
Kecepatan terbang jelajah ScanEagle berada di kisaran 111 km/jam dan kecepatan maksimum 148 km/jam. Batas ketinggian terbang mencapai 5.950 m. ScanEagle sanggup berada di udara dengan lama terbang (endurance) lebih dari 24 jam.
ScanEagle akan digunakan untuk melaksanakan patroli maritim, integrasi ISR (intelijen, pengawasan, dan pengintaian)
Sementara untuk upgrade peralatan Helikopter Bell 412 dengan nilai US$6,3 juta dibutuhkan TNI AL untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas dan meningkatkan kemampuan pertahanan negara.
“Nantinya Drone ScanEagle ini akan digunakan oleh TNI AL untuk kepentingan khusus. Kita hanya keluar dana sekitar Rp10 miliar untuk mengintegrasikan dan memastikan keamanan data dari peralatan ini dengan Alutsista lainnya. Nanti PT LEN yang akan bertugas untuk integrasikan,” katanya.
Di kawasan Asia Tenggara-Pasifik, drone ScanEagle sudah digunakan oleh Angkatan Laut Singapura. Pengguna lainnya adalah AL dan Angkatan Darat Australia. Bahkan, ScanEagle milik Militer Australia telah teruji perang (battle proven) di Irak.
Menanggapi permintaan dari Kemhan, Komisi I DPR secara prinsip menyetujui keinginan dari Kemhan untuk mendapatkan hibah dari pemerintah AS. Namun, Komisi I mengingatkan Kemhan untuk mengedepankan kehati-hatian dan kerahasiaan data, serta tidak membebani APBN dalam setiap penerimaan hibah dari negara asing.(Abu Hafizh-TSM)(RM)

Lockheed Martin Kembangkan Drone Bawah Air Manta Ray

Perusahaan keamanan global dan kedirgantaraan, Lockheed Martin, mendapatkan kontrak dari Pemerintah Amerika Serikat sebesar US$ 12,3 juta atau setara dengan Rp 171 miliar untuk memulai tahap pertama dari program Manta Ray, kendaraan nirawak (drone) bawah air.
Drone Bawah Air Manta Ray
Drone Bawah Air Manta Ray 
Agensi dari Departemen Pertahanan AS, DARPA, yang bertanggung jawab atas pengembangan teknologi baru untuk digunakan oleh militer akan mendanai penelitian, pengembangan dan demonstrasi Manta Ray, demikian dilaporkan Daily Mail, baru-baru ini.
"Kendaraan bawah laut nirawak (UUVs) yang beroperasi untuk jangka waktu lama tanpa perlu dukungan logistik atau pemeliharaan manusia saat ini menawarkan potensi untuk operasi yang berkelanjutan di lingkungan maju," demikian DARPA menjelaskan dalam sebuah pernyataan.
Mesin militer ini akan menjadi yang pertama di kelas baru yang memiliki durasi panjang, jarak jauh, dan kendaraan bawah laut nirawak yang mampu membawa muatan, dan melakukan misi tanpa perlu campur tangan manusia. Tujuannya, memungkinkan tentara untuk melanjutkan misi mereka di darat tanpa terganggu.
Menurut kontrak, 52 persen pekerjaan akan dilakukan di West Palm Beach, Florida, dengan pekerjaan lain berlangsung di Cherry Hill, New Jersey dan berbagai lokasi di seluruh AS. Kontrak ini memiliki target penyelesaian pada Januari 2021.
"Sistem seperti ini memungkinkan kapal-kapal penampung tradisional meningkatkan kebebasan fleksibilitas operasional sambil memberikan pelabuhan-pelabuhan servis tradisional dengan meringankan beban kerja," kata DARPA.
Rencana untuk program Manta Ray diumumkan pada tahun 2019 dengan tujuan pengiriman muatan besar jarak jauh tanpa perlu pemeliharaan atau pengisian bahan bakar. Program ini akan memanfaatkan atau mengembangkan propulsi baru, penginderaan, dan sistem manajemen energi untuk mencapai keandalan yang tinggi dan daya tahan yang diperluas di berbagai lingkungan maritim.
Manta Ray adalah upaya multi-fase yang mencakup demonstrasi teknologi kritis di laut. "Program ini menggunakan pendekatan rekayasa sistem disiplin untuk mendefinisikan tujuan sistem demonstrasi dan mengidentifikasi teknologi yang memungkinkan diperlukan untuk sistem masa depan."
Meskipun DARPA ingin merancang kelas baru drone bawah air, lembaga ini mengungkapkan tahun lalu bahwa mereka sedang menguji teknologi untuk mengawasi medan bawah laut dunia dan meningkatkan kemampuannya untuk mendeteksi kapal-kapal musuh. (Moh Khory Alfarizi)(RM)

Kapal Perang Canggih ITS Surabaya, Bisa Menyelam dan 'Melayang'

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya bakal merampungkan pembuatan kapal perang canggih bernama The Croc pada tahun ini. The Croc merupakan kapal perang canggih yang dapat berubah menjadi tiga mode sekaligus.
Tiga mode tersebut adalah kapal selam, kapal hidrofoil, dan kapal biasa pada umumnya. Kapal perang ini sejatinya telah dirancang sejak 2011 lalu.
The Croc ITS
The Croc ITS 
Perancang The Croc, Wisnu Wardhana menyebutkan, proses pembuatan kapal tersebut sudah mencapai 90 persen. Kapal yang dilengkapi dengan dua mesin 350 tenaga kuda itu memiliki ukuran cukup ramping.
"Panjangnya 12 meter dan lebarnya hanya tiga meter," kata Wisnu dikutip dari laman ITS, Kamis, 20 Februari 2020.
Dengan kemampuan berubah dalam tiga mode, kapal ini menjadi spesial. Sebab, kata Wisnu rancangannya merupakan yang tercanggih sepanjang masa.
“Tentu hal tersebut sukses menjadi temuan baru pada dunia perkapalan internasional,” ujar dosen Teknik Kelautan itu.
Untuk mode kapal hidrofoil sendiri, Wisnu menyebut kapal akan memiliki bagian seperti sayap yang dipasangkan pada penyangga di bawah lambung kapal. Ketika kapal meningkatkan kecepatannya, kapal hidrofoil dapat menimbulkan gaya angkat yang menjadikan lambungnya terangkat dan keluar dari air.
“Sehingga kapal terlihat seperti melayang,” imbuhnya.
Berbahan dari aluminium, papar Wisnu, kapal tersebut telah dirancang memiliki bobot yang cukup ringan. Agar kapal bisa melayang.
"Sedangkan sayapnya sendiri terbuat dari baja karbon," tambah Wisnu.
Ketika digunakan sebagai kapal selam, air dimasukkan ke dalam kapal untuk menurunkan posisi kapal tersebut. “Kedalamannya pun bisa mencapai sepuluh meter,” ungkapnya.
Ketika menyelam, lanjut Wisnu, kecepatan kapal bisa mencapai 15 knot. Sedangkan dalam mode hidrofoil, kecepatannya bisa mencapai 35 sampai 45 knot.
Wisnu mengungkapkan, bahwa kapal ini cocok digunakan sebagai kapal pengintai. Kapal model ini bisa dipakai untuk menangkap para pencuri ikan di perairan Indonesia.
Alasannya, kata Wisnu, kapal pencuri ikan tidak akan mengetahui kedatangan dari kapal perang ini ketika dalam mode selam. Sehingga pencuri ikan tersebut tidak akan kabur ketika The Croc ini datang.
Dalam proses pembuatannya, Wisnu juga bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia – Angkatan Laut (TNI-AL), Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), dan beberapa pihak lainnya. Harapannya, kapal perang buatan dalam negeri ini bisa membantu dalam menjaga pertahanan dan keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Seperti adanya penyeludupan atau pencurian yang kerap terjadi di perairan Indonesia," pungkas Wisnu.(Ilham Pratama Putra)

Indonesia Kedatangan Kapal Penjelajah Kharg Berbobot 33 Ribu Ton

Kapal Kharg milik Angkatan Laut (AL) Iran melakukan kunjungan ke Indonesia. Kapal perang berbobot 33 ribu ton lebih itu tiba di Pelabuhan Tanjung Priok pada Selasa hari ini, 25 Februari 2020, setelah sebelumnya berangkat dari Pelabuhan Bandar Abbas dengan membawa 300 mahasiswa Akademi Angkatan Laut Iran.
Kapal Penjelajah Kharg
Kapal Penjelajah Kharg Iran 
Menurut Atase Pertahanan Kedutaan Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Kolonel Mohammaf Behrouz, kunjungan ini dalam rangka memperingati 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Iran, atau memulai hubungan pada 1950. "Kapal Kharg akan berada di Indonesia sampai tanggal 28 Februari 2020," kata dia di Jakarta.
Behrouz mengaku jika kedua negara bekerja sama di berbagai bidang, khususnya pertahanan, sehingga terjadi saling kunjungan antara pejabat militer kedua negara dan terdapat tekad yang baik antara pejabat kedua pihak untuk memperluaskan kerja sama.
"Iran dan Indonesia memiliki peran yang begitu strategis dan penting untuk mejaga keamanan di barat dan timur Asia, khususnya pada perairan kawasan masing-masing antara lain Selat Hormuz dan Selat Malaka," ungkap Behrouz.
Mengutip situs Global Security, Kharg adalah kapal bantu pasok dan pengisian ulang bahan bakar (tanker) AL Iran. Kapal perang ini dibangun di Inggris oleh Swan Hunter selama dua tahun, yakni 1976 hingga 1978, tetapi resmi diluncurkan pada 1977.
Kapal Kharg kemudian dikirim ke Iran pada 1984 dan mengalami pembaruan sembilan tahun kemudian. Kharg adalah desain kelas Olwen yang dimodifikasi. Panjangnya mencapai 207,15 meter, tinggi 25,5 meter, dan kecepatan maksimum 21,5 knots (39,8 km/jam).
Tanker ini dirancang dengan lambung yang diperkuat untuk digunakan di dalam es. Selain itu Kharg memiliki dek pendaratan untuk tiga unit helikopter. Sebagai bagian dari lambang supremasi AL Iran, maka kapal tanker ini diperluas fungsinya menjadi kapal penjelajah untuk berkeliling dunia melewati samudera.(Tim Viva)

Damen Schelde Indonesia Bidik Pesanan Kapal Militer

PT Damen Schelde Indonesia membidik pesanan kapal militer pada 2020 untuk mengerek pendapatan.
Presiden Direktur PT Damen Schelde Indonesia, Gysbert Boersma mengatakan segmen kapal angkatan laut masih menjanjikan di Tanah Air. Beberapa pertimbangannya yakni kebutuhan kapal militer yang masih tinggi seiring dengan naiknya anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) yang dialokasikan untuk Kementerian Pertahanan.
Produk Damen PKR 10514
Produk Damen PKR 10514 
Tercatat, dari data APBN 2020, belanja Kementerian Pertahanan menyentuh Rp131,2 triliun atau naik Rp21,6 triliun dibandingkan dengan APBN 2019. Anggaran tersebut pun menjadi yang paling tinggi bila dibandingkan dengan kementerian lain seperti Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang menyentuh Rp120,2 triliun.
Sementara itu, proyek pembuatan kapal perang bernilai sekira US$300 juta hingga US$400 juta yang tergantung pada fitur dan teknologi yang digunakan.
Di sisi lain, dia menyebut perusahaan telah memiliki rekam jejak pembuatan kapal yang melibatkan mitra lokal, produk dengan sistem pengoperasian efisien serta penyelesaian yang tepat waktu dan sesuai bujet. Dia berharap pada 2020 pemesanan kapal jenis PKR 3 dan 4 serta Omega Destroyer bisa berlanjut tahun ini. Sejak 2003, pihaknya telah menggarap proyek pembuatan kapal seperti Diponegoro, PKR 1 dan 2.
“Pada segmen kapal militer angkatan laut, Damen berharap untuk melanjutkan pengerjaan seri PKR pada 2020. Selain itu, kapal militer angkatan laut yang lebih besar seperti Omega Destroyer yang akan dibuat melalui kerja sama dengan industri lokal,” katanya kepada Bisnis belum lama ini.
Dia menyebutkan kerja sama dengan mitra lokal bakal diperluas sehingga perusahaan mampu menggarap lebih banyak pemesanan baru. Beberapa perusahaan yang saat ini bekerja sama yakni PT PAL, PT Len Industri dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk untuk memproduksi kapal PKR.
Sementara itu, dia menyebut kerja sama dengan pemain industri lokal lainnya masih dijajaki seperti dengan beberapa perusahaan seperti PT Krakatau Steel Tbk. untuk menyuplai baja dan PT Pindad untuk melakukan transfer teknologi.
“Pada pembuatan kapal perang Damen akan melibatkan industri Indonesia seperti Krakatau Steel untuk menyuplai baja dan PT Pindad untuk menerima transfer teknologi,” katanya.
Dari kerja sama tersebut, Gysbert menyebut pesanan kapal yang diselesaikan tak hanya dari dalam negeri melainkan pasar internasional. Model itu telah berlaku di pabrik di Vietnam yang telah memproduksi dan mengirim 300 kapal.
Menurutnya, potensi pada 2020 juga berasal dari pasar segmen lain seperti pelabuhan dan terminal yang mungkin berasal dari PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) dan industri pertambangan. Dia menilai pasar di Tanah Air masih bakal tumbuh karena faktor ekonomi dan geografisnya.
Sebagai gambaran, pada 2019 perusahaan menghasilkan pendapatan sebesar 2 miliar euro dengan 28% di antaranya berasal dari Asia-Pasifik. Adapun, Indonesia menyumbang sekira 25% dari pendapatan yang dikumpulkan area Asia-Pasifik.
Saat ini, dia berujar segmen komersial dan militer cukup imbang. Kendati demikian, dia menilai tantangan pertumbuhan pasar berikutnya sangat mengandalkan regulasi yang harus sejajar dengan negara di kawasan Asia Tenggara.
“Terkait dengan kapal-kapal yang telah terkirim, kami memiliki komposisi yang imbang antara pasar komersial dan militer. Tantangan utama untuk tumbuh yakni regulasi yang sama dengan negara di kawasan Asia Tenggara,” katanya.(Duwi Setiya Ariyanti)

India akan Membeli Helikopter Tempur SH-60 Seahawk dan Menambah AH-64E Apache Guardian

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa, 25 Februari 2020, mengumumkan India akan membeli dari negaranya peralatan militer senilai US$ 3 miliar atau Rp 41 triliun. Diantara peralatan yang dibeli adalah beberapa helikopter penyerang.
AH-64E Apache Guardian
AH-64E Apache Guardian 
Dikutip dari reuters, India dan Amerika Serikat sedang memperdalam hubungan kerja sama pertahanan dan perdagangan yang juga bagian dari upaya menyeimbangkan dengan kekuatan China di kawasan. Trump menyebut, kedua negara membuat kemajuan besar dalam kesepakatan dagang.
Presiden Trump mengunjungi India pada Senin dan Selasa, 25 Februari 2020. Pada hari pertama kedatangannya, Trump mendapat sambutan meriah yang dipusatkan di stadion olahraga kriket yang disebut dengan acara Namaste Trump. Lebih dari 100 ribu orang memenuhi stadion itu.
Pada hari kedua, Trump melakukan pembicaraan tatap muka dengan Perdana Menteri Modi yang diikuti pertemuan tingkat delegasi. Pertemuan tersebut mencoba menyelesaikan sejumlah permasalahan yang membelah kedua negara itu, khususnya sengketa dagang.
Presiden Trump menyebut kunjungan bilateralnya ke India telah berjalan produktif dengan dicapainya sejumlah kesepakatan untuk membeli helikopter untuk militer India. Pemerintah India membeli helikopter 24 SH-60 Seahawk dari produsen Lockheed Martin yang dilengkapi dengan rudal Hellfire seharga US$ 2,6 miliar atau Rp 36 triliun. India juga disebut berencana membeli enam helikopter AH-64E Apache Guardian.
India melakukan modernisasi militernya untuk mempersempit kesenjangan dengan China. India juga telah meningkatkan pembelian peralatan militernya ke Amerika Serikat yang sebelumnya membeli ke Rusia. Presiden Trump pun mengklaim kedua negara juga membuat kemajuan dalam bidang perdagangan.
“Tim di kedua negara telah membuat kemajuan yang sangat besar dan komprehensif dibidang kesepakatan dagang. Saya optimis kami dapat mencapai sebuah kesepakatan yang akan sangat baik bagi kedua negara,” kata Trump.
Dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Modi, yang disebutnya sahabat baik, Trump menyebut keduanya membahas pentingnya mengamankan jaringan telekomunikasi 5G di India. Amerika Serikat sebelumnya telah memblokir Huawei atas dugaan bisa dijadikan mata-mata oleh China. Tuduhan itu dibantah oleh Beijing dan Huawei.

Rusia Kembangkan Prototipe Rudal Hipersonik untuk Jet Tempur Su-57

Rusia telah mengembangkan prototipe rudal udara-ke-darat (air-to-surface) hipersonik untuk pesawat jet tempur siluman Sukhoi Su-57. Sistem senjata baru ini dilaporkan dapat dipasang di internal weapon bay jet tempur tersebut.
Su-57 merupakan pesawat jet tempur generasi kelima Rusia. Pesawat ini dibangun sebagai pesaing jet tempur siluman F-22 dan F-35 Amerika Serikat (AS).
Sukhoi Su-57
Sukhoi Su-57 
"Perusahaan-perusahaan dari kompleks industri militer Rusia telah menciptakan prototipe dari rudal hipersonik udara-ke-darat berukuran kecil untuk penyebaran (internal) pada pesawat tempur Su-57," kata seorang sumber militer Rusia kepada kantor berita TASS yang dilansir The Diplomat, Selasa (25/2/2020).
Pada bulan Desember 2018, sumber di industri pertahanan mengungkapkan bahwa Su-57 kemungkinan dipersenjatai dengan rudal udara-ke-darat hipersonik dengan karakteristik yang mirip dengan rudal balistik Kh-47M2 Kinzhal.
Sumber militer tidak memberikan rincian tambahan mengenai prototipe rudal baru untuk Su-57. Namun, mengingat ukuran misil Kinzhal besar, rudal hipersonik baru kemungkinan akan lebih kecil sehingga cocok di internal weapon bay Su-57.
Misil Kinzhal mampu membawa hulu ledak nuklir dan dianggap sebagai varian dari rudal balistik jarak pendek Iskander-M yang diluncurkan di darat. Misil Iskander sendiri memiliki jangkauan sekitar 500 kilometer dan mampu mencapai kecepatan tertinggi hingga Mach 5.9 dalam fase penerbangan terminalnya.
Rudal Kh-47M2 saat ini terintegrasi dengan pesawat interseptor MiG-31K, MIG-31BM yang dimodifikasi.
Angkatan Udara Rusia diperkirakan akan menerima pesawat tempur Sukhoi Su-57 produksi massal pertama tahun ini.
Sebuah jet tempur Su-57 pernah jatuh pada Desember 2019 sekitar 120 kilometer dari pabrik pesawat Komsomolsk-on-Amur di Timur Jauh Rusia selama uji penerbangan. Pesawat yang terlibat dalam insiden itu dianggap sebagai Su-57 yang diproduksi massal pertama. (Muhaimin)

Jepang akan Kerja Sama Industri Pesawat Terbang dengan Malaysia

Jepang akan membentuk kerangka kerja untuk bekerja dengan Malaysia dalam memproduksi suku cadang pesawat terbang dan melatih personil industri penerbangan, hal tersebut merupakan kerja sama pertama di Asia, sumber pemerintah Jepang mengatakan baru-baru ini.
Industri Pesawat Terbang Jepang
Industri Pesawat Terbang Jepang 
Jepang ingin untuk menandatangani perjanjian dengan Malaysia pada musim panas ini, berusaha untuk memperkuat hubungan dengan pasar pesawat komersial Asia yang sedang tumbuh dan membantu pembuat komponen kecil hingga menengah Jepang dalam mengembangkan bisnis mereka.
Inisiatif ini muncul ketika pemerintah Jepang berupaya memperluas nilai produksi industri pesawat terbang negara itu menjadi 3 triliun yen ($ 27 miliar) pada 2030 dari 1,8 triliun yen pada 2018 dengan meningkatkan kerja sama dengan negara-negara Asia Tenggara.
Malaysia telah mempromosikan industri pesawat terbang dan pembuat suku cadang utama AS, Spirit AeroSystems Inc. dan lainnya untuk memiliki tempat produksi di negara tersebut.
Di bawah kerangka tersebut, Jepang berharap untuk memperluas rantai pasokan di mana suku cadang presisi tinggi buatan Jepang dirakit di Malaysia.
Pembuat komponen Jepang yang telah memasuki Malaysia, termasuk diantaranya Imai Aero-Equipment Mfg. Co., Asahi Aero Group Inc. dan Wada Aircraft Technology Co.
Di seluruh dunia, pasar pesawat komersial diperkirakan akan tumbuh selama 20 tahun ke depan, dengan permintaan diharapkan sekitar 40.000 pesawat, sekitar 40 persen di antaranya akan berada di kawasan Asia-Pasifik, menurut kementerian industri Jepang.
Produsen utama AS dan Eropa yang terkait dengan pesawat terbang juga memperluas produksinya di Asia.(Angga Saja-TSM)

Korea Selatan dan Vietnam Negosiasi untuk Pembelian Mesin Turbojet

Menurut majalah Military Review dan pemberitahuan resmi pemerintah, Korea Selatan sedang dalam proses negosiasi ekspor mesin turbojet SSE-750K ke Vietnam untuk program rudal anti-kapal buatan dalam negeri Vietnam.
Rudal Sea Dragon C-Star
Rudal Sea Dragon C-Star 
Vietnam menunjukkan minat untuk membeli mesin roket selama beberapa waktu tetapi belum menemukan pemasok yang bersedia. Tidak diketahui saat ini apakah Vietnam sedang mengejar pengembangan rudal anti-kapal baru atau apakah mereka bermaksud untuk mengembangkan lebih lanjut rudal anti-kapal KCT-15 (lisensi Kh-35).
Mesin turbojet SSE-750K menyelesaikan pengembangannya pada tahun 2015 bersamaan dengan rudal serang darat taktis SSM-750K Sea Dragon.
SSM-750K Sea Dragon didasarkan pada rudal anti-kapal SSM-700K C-Star, yang pada awalnya dilengkapi dengan mesin turbojet SS-760K. Semua rudal C-Star yang baru diproduksi sejak 2017 telah dilengkapi dengan SSE-750K.
Perbedaan utama antara mesin SSE-750K dan SS-760K yang adalah tingkat lokalisasi komponen penting. SS-760K menggunakan beberapa komponen yang berasal dari luar negeri sementara SSE-750K menggunakan komponen buatan mitra dalam negeri Korea Selatan, sehingga menurunkan biaya dan meningkatkan daya saing di pasar ekspor.(Angga Saja-TSM)
Sumber : @ROKArmedForces

AU Amerika Serikat (USAF) Akan Merilis Pesawat Listrik eVTOL

Angkatan Udara AS (USAF) pada tanggal 25 Februari akan merilis permintaan pesawat tenaga listrik yang mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal (eVTOL).
 Pesawat Listrik eVTOL
Contoh  Pesawat Listrik eVTOL 
Ini adalah upaya untuk mempengaruhi teknologi masa depan yang penting dan menghindari pengulangan kesalahan Pentagon sebelumnya. Kesalahan yang memungkinkan China untuk mendominasi pasar pesawat udara tak berawak (UAV).
Will Roper, asisten sekretaris Angkatan Udara Amerika Serikat untuk akuisisi, teknologi dan logistik (AT&L) mengatakan kepada wartawan di Pentagon pada 21 Februari bahwa layanan tersebut akan memiliki beragam tantangan. Perusahaan akan melakukan tugas dari USAF tersebut. Dan jika memenuhi syarat, akan beralih ke peluang lebih lanjut yakni menuju sertifikasi keselamatan oleh USAF dan akhirnya ada kontrak pengadaan. (Abu Hafizh - TSM)
Sumber : janes.com

Angkatan Laut Rusia Akan Tandatangani Kontrak Untuk 2 Kapal Selam Tambahan Kelas Borei

Armada Kapal Selam Rusia dari Proyek 955A kelas Borei akan bertambah menjadi sepuluh unit. Sebab Angkatan Laut Rusia berencana untuk memesan dua kapal selam baru kelas Borei selama Forum Army 2020 Agustus ini.
Kapal Selam Kelas Borei
Kapal Selam Kelas Borei 
"Sebuah keputusan telah dibuat untuk menandatangani kontrak di Forum Army 2020 untuk membangun dua lagi kapal selam pengangkut rudal Borei-A. Dengan persyaratan kontrak, kedua kapal akan diletakkan di Galangan Kapal Sevmash milik United Shipbuilding Corporation pada 2021. Kedua kapal selam akan dibangun di bawah program persenjataan negara yang ada sampai tahun 2027, " kata sumber dalam industri pertahanan seperti dikutip oleh TASS pada hari Jumat.
"Ini akan menjadi kapal selam kelas Borei kesembilan dan kesepuluh," tambahnya.
Angkatan Laut Rusia saat ini mengoperasikan tiga kapal selam Proyek 955 Borei standard: Yuri Dolgoruky, Vladimir Monomakh dan Alexander Nevsky. Sementara salah satu kapal selam Borei-A, Knyaz Vladimir, telah menyelesaikan uji coba dan sedang dipersiapkan untuk pengirimannya ke Angkatan Laut Rusia. Sedangkan kapal selam empat unit sisa nya masih dalam tahap konstruksi.
Kapal selam kelas Borei ini dapat membawa 16 rudal Bulava dan dilengkapi dengan tabung torpedo 533mm. Dibandingkan dengan seri Borei standard, kapal selam Borei-A memiliki kemampuan akustik siluman yang lebih baik, kemampuan manuver dan kemampuan menyelam di laut dalam serta sistem kontrol persenjataan yang ditingkatkan.(paijojr)

USS Ross DDG 71, Kapal Perusak Angkatan Laut Amerika Serikat Berlayar ke Laut Hitam

USS Ross (DDG 71), kapal perusak berpeluru kendali Angkatan Laut Amerika Serikat kelas Arleigh Burke memulai transit selat internasional menuju utara ke Laut Hitam, pada 23 Februari.
Ini adalah pertama kalinya kapal Angkatan Laut AS mengunjungi Laut Hitam tahun 2020 ini. USS Ross adalah kapal terakhir yang mengunjungi di Laut Hitam pada 2019, yang menandai yang ke-8 kalinya oleh kapal Angkatan Laut AS tahun lalu. Kapal perusak berada di kawasan tersebut untuk "melakukan operasi keamanan maritim dan meningkatkan stabilitas maritim regional, kesiapan gabungan serta kemampuan angkatan laut dengan sekutu dan mitra NATO di kawasan itu".
USS Ross DDG 71
USS Ross DDG 71 
"Dengan kunjungan ini, kami secara konsisten memperkuat hubungan kami dengan mitra Laut Hitam kami," kata Cmdr. John D. John, komandan USS Ross. "Operasi tetap di Laut Hitam sangat penting untuk membangun lingkungan maritim yang aman dan memastikan kebebasan navigasi."
USS Ross baru-baru ini beroperasi dengan kapal induk Perancis FS Charles de Gaulle (R 91) dan sebagai bagian dari Gugus Tugas Gabungan 473 di Mediterania selama FOCH, sebuah penyebaran angkatan laut utama Prancis. Ross memberikan kemampuan bertahan dari kelompok serangan. Selain Ross, penempatan pimpinan Prancis ini menyatukan, satu demi satu, pasukan dari Yunani, Belgia, Jerman, Belanda, dan Spanyol. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan pelatihan bagi semua peserta untuk meningkatkan kesiapan tempur.
Operasi kapal di Laut Hitam akan memperkuat interoperabilitas dengan sekutu dan mitra NATO dan menunjukkan tekad bersama untuk keamanan Laut Hitam di bawah Operasi Atlantic Resolve.
Kapal perusak USS Ross, yang dikerahkan ke depan di Naval Station Rota, Spanyol, sedang melakukan operasi angkatan laut di wilayah operasi Armada ke-6 Amerika Serikat untuk mendukung kepentingan keamanan nasional AS di Eropa. Angkatan Laut Amerika Serikat secara rutin beroperasi di Laut Hitam sesuai dengan hukum internasional, termasuk Konvensi Montreux.
Armada ke-6 Amerika Serikat, yang berkantor pusat di Naples, Italia, melakukan spektrum penuh operasi gabungan dan angkatan laut. Operasi gabungan sering kali bersama dengan mitra sekutu, dan antarlembaga, untuk memajukan kepentingan dan keamanan nasional Amerika Serikat serta stabilitas dan di Eropa dan Afrika(paijojr)

ADASI Menangkan Kontrak Untuk Memasok Angkatan Bersenjata UEA dengan Helikopter Tanpa Awak Camcopter S-100

Abu Dhabi Autonomous Systems Investments Co LLC (ADASI) dari UEA telah memenangkan kontrak AED 234 juta (US $ 63,70 juta) untuk memasok Angkatan Bersenjata UEA dengan helikopter tak berawak Camcopter S-100 yang baru.
Kesepakatan itu mencakup dukungan logistik terintegrasi, pelatihan, teknik, dukungan teknis dan diumumkan oleh UAE defense conglomerate EDGE, perusahaan induk ADASI.
Camcopter S-100
Camcopter S-100 
“Kami merasa terhormat untuk terus memasok produk dan layanan kami ke Markas Besar Angkatan Bersenjata UEA. Kontrak ini adalah bukti kemampuan kami yang telah terbukti untuk mengonfigurasi sistem yang sesuai dengan tuntutan taktis, memungkinkan kami untuk menghadapi tantangan baru dan membantu mitra kami unggul di lapangan ”, kata Ali Al Yafei, CEO ADASI.
“ADASI telah memantapkan dirinya sebagai pemimpin regional di sektor sistem tak berawak. Produk dan layanannya sangat penting untuk memastikan kesiapan misi dan efektivitas operasional yang optimal. Perjanjian ini semakin memperluas ketentuannya dengan GHQ, dan menggarisbawahi upaya kami memanfaatkan teknologi canggih untuk memungkinkan kami beroperasi di masa depan, ”kata Dr. Fahad Al Yafei, Presiden - Platform & Sistem, EDGE.
Angkatan Bersenjata UEA akan menggunakan drone di berbagai misi militer, seperti pengumpulan intelijen, pengawasan dan pengintaian (ISR), akuisisi target, dukungan angkatan laut dan patroli perbatasan.
Di antara kelebihannya, Camcopter S-100 menawarkan kinerja yang andal, rentang operasional yang panjang, navigasi yang akurat & komunikasi tingkat data tinggi. S-100 multi-fungsi meningkatkan kemampuan militer & memberikan solusi yang cerdas & fleksibel untuk berbagai misi.
Pada 23 Februari, ADASI meluncurkan drone vertical take-off and landing (VTOL) yang serupa bernama Garmousha, di pameran UMEX 2020 di Pusat Pameran Nasional Abu Dhabi. Garmousha diklaim sebagai drone pertama yang dibuat di UAE.
Schiebel Camcopter S-100
Camcopter S-100 adalah kendaraan udara tak berawak (UAV) yang mampu lepas landas dan mendarat (VTOL) menggunakan desain rotorcraft/ helikopter yang dikembangkan oleh perusahaan Austria, Schiebel.
Drone memiliki kecepatan maksimum 220 kilometer per jam (140 mph). Dengan ketinggian terbang 5.500 meter (18.000 kaki). Daya tahan S-100 ini 6 jam, namun dapat diperpanjang hingga lebih dari 10 jam dengan tangki bahan bakar eksternal AVGAS yang dipasang opsional.
S-100 memiliki berat lepas landas (MTOW) maksimum 200 kilogram (440 lb). Ditenagai oleh mesin Diamond berkekuatan 55 tenaga kuda (41 kW) dan dapat membawa berbagai muatan, seperti elektro-optik dan sensor inframerah.
Pelanggan awal untuk Camcopter S-100 ini adalah Angkatan Darat UEA, yang memesan 40 pesawat dengan opsi untuk 40 lainnya. Sejak itu, pesawat dipesan oleh banyak negara, dengan total pesanan lebih dari 200 unit.(paijojr)

Azerbaijan Akan Membeli Pesawat Latih dan Serang Ringan Leonardo M-346 Master

Presiden Azerbaijan pada 20 Februari lalu mengumumkan akan membeli sejumlah pesawat latih dan serang ringan Leonardo M-346 Master.
Menteri Pertahanan Azerbaijan Zakir Hasanov dan Direktur Eksekutif Leonardo Alessandro Profumo bertukar 'declaration by agreement' antara Kementerian Pertahanan Republik Azerbaijan dan Leonardo untuk akuisisi "sistem integrasi untuk pesawat M-346 Master", situs web untuk Presiden Republik Azerbaijan, Ilham Aliyev. Namun tidak ada rincian yang berkaitan dengan nilai kontrak atau jadwal pengiriman yang diungkapkan.
Leonardo M-346 Master
Leonardo M-346 Master 
Pada Mei 2017, Leonardo memamerkan pesawat latih Master Alenia Aermacchi M-346 miliknya kepada para pejabat militer Azerbaijan. Pada Juli 2019 chief executive Leonardo Alessandro Profumo mengatakan bahwa perusahaannya telah menandatangani kesepakatan untuk enam pesawat serang ringan M-346FA dengan "pelanggan internasional" utama.
Belum ada pelanggan untuk kesepakatan itu yang secara resmi diungkapkan, dan Angkatan Udara Azerbaijan (AzAF) dan Angkatan Udara diketahui memiliki persyaratan mendesak untuk menambah dan mengganti MiG-29 'Fulcrum' era-Soviet, Sukhoi Su-25 'Frogfoot' dan Aero Vodochody L-39. Jika kesepakatan yang diumumkan sebelumnya adalah untuk Angkatan Udara Azerbaijan, maka itu kemungkinan merupakan pesanan awal mengingat jumlah yang hanya enam unit. Pesanan berikutnya untuk mencakup sekitar 50 MiG-29, Su-25, dan L-39 dalam operasinal dengan AzAF kemungkinan akan dilanjutkan.
Leonardo M-346 Master adalah jet latih canggih yang dilengkapi dengan sembilan cantelan (empat di bawah setiap sayap dan satu di garis tengah untuk pod meriam opsional). Pesawat latih ini dapat membawa berbagai amunisi bom dan amunisi pintar, seperti bom yang dikendalikan Mk 82/83/84 dan GBU-12/16 dan bom yang dipandu Opher Mk 82.(paijojr)

Marinir Amerika Serikat Umumkan RFI Untuk UAV Jarak Menengah dan Jarak Jauh

Korps Marinir Amerika Serikat (USMC) sedang mencari dua sistem pesawat tak berawak (Unmanned Aircraft Systems - UAS) baru. UAS tersebut akan digunakan untuk misi intelijen, pengawasan, akuisisi target, dan pengintaian (ISTAR). Hal tersebut tertuang dalam permintaan informasi (Requests For Information - RFI) yang dikeluarkan pada 21 Februari 2020.
AeroVironment RQ-11 Raven
UAS AeroVironment RQ-11 Raven 
Dua RFI terpisah yang dipasang oleh Departemen Angkatan Laut menyebutkan untuk UAS Mid-Range/ Medium-Endurance (MR/ ME) dan UAS Long Range/ Long-Endurance (LR/ LE). RFI mensyaratkan kemampuan UAS Mid-Range/ Medium-Endurance dengan jangkauan 10 km dan 2 jam terbang. Sedangkan UAS Long Range/ Long-Endurance dengan jangkauan 20 km dan 4 jam terbang.
Untuk kedua UAV dalam RFI tersebut, Pejabat Angkatan Laut Amerika Serikat mencari sistem UAS yang mampu menyediakan kemampuan misi ISTAR dalam semua kondisi lingkungan baik beroperasi siang maupun malam.
"Sistem UAS harus tangguh dan siap digunakan seperti yang disampaikan dengan persyaratan logistik, pelatihan dan dukungan minimal. Sistem tersebut harus menyediakan video gerakan secara real time melalui sensor elektro-optik [EO] dan / atau inframerah [IR]. Kendaraan udara tanpa awak (UAS) harus mampu diluncurkan secara manual atau aman dengan peralatan pendukung minimum dari area terbatas. Di samping itu harus mampu juga melakukan pemulihan mandiri dalam area yang sama dengan peluncuran. Metode pemulihan harus memadai untuk mencegah kerusakan sistem dan memungkinkan waktu putar-balik pendek antara misi. Stasiun kontrol darat (GCS) harus dapat dibawa secara portable dan terdiri dari peralatan yang diperlukan untuk memantau posisi dan status sensor, mengontrol pergerakannya, dan melihat videonya ", detail RFI.
Baik UAS jarak menengah dan jarak jauh harus mampu operasi lapangan yang pendek dan/ atau mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal (VTOL) serta bertenaga baterai. UAS jarak menengah yang lebih kecil harus memiliki berat lepas landas kurang dari 20 lb atau 9,07 kg. Sedangkan UAS jarak jauh harus kurang dari 55 lb atau 24,95 kg.(paijojr)


Advance Fighter Tactical Course (AFTC) di Skadron Udara 11 Resmi Dibuka

Kepala Dinas Operasi dan Latihan Marsekal Pertama TNI Kusworo, S.E., M.M secara resmi membuka Advance Fighter Tactical Course II Penerbang Sukhoi 27/30 TA. 2020 yang bertempat di Shelter Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin, Senin (24/2).
Advance Fighter Tactical Course (AFTC)
Advance Fighter Tactical Course (AFTC)  
Advance Fighter Tactical Course dilaksanakan selama 2 bulan dengan tujuan adalah untuk meningkatkan dan mempertajam kemampuan penerbang sukhoi 27/30 dalam Beyond Visual Range (BVR) dan Composite Advanced Combat Scenarios dan menciptakan penerbang yang dapat bertindak sebagai sumber dari pengembangan dan pemeliharaan taktik tempur baru untuk taktik serangan udara masa depan.
Personel Advance Fighter Tactical Course (AFTC) diselenggarakan dalam rangka menyambut kemajuan teknologi guna memberikan bekal, pengalaman, pemahaman dan meningkatkan kemampuan penerbang tempur sukhoi 27/30 Skadron Udara 11.
Lebih lanjut dikatakan bahwa kursus ini menjadi penting artinya sebagai salah satu sarana pertanggungjawaban TNI Angkatan Udara kepada seluruh masyarakat Indonesia, dalam mengelola dan megoperasikan alutsista yang telah diamanahkan oleh negara. Karena dengan diselenggarakannya latihan ini, diharapkan para penerbang tempur sukhoi 27/30 Skadron Udara 11 akan semakin meningkat kemampuannya khususnya taktik tempur pesawat Sukhoi 27/30, sehingga akan selalu siap melaksanakan tugas yang diberikan kepada Skadron Udara 11 kapanpun, dimanapun dan misi apapun.
Bagi segenap Perwira TNI Angkatan Udara yang mendapat kesempatan mengikuti kursus ini, untuk meningkatkan kualitas diri agar kedepan mampu menjawab tantangan tugas yang semakin berat dan kompleks. Dengan demikian maka keberadaan seorang Fighter Tactical yang handal sangatlah menentukan keunggulan diudara dalam menuntun dan mengarahkan pesawat tempur sergap untuk memenangkan pertempuran udara, jelasnya. (penhnd/2020)(Pen Lanud Hnd)

Inggris Beli Hulu Ledak Nuklir Amerika Serikat Tanpa Izin Parlemen

Pemerintah Inggris membeli hulu ledak nuklir dari Amerika Serikat (AS) tanpa persetujuan parlemen di London. Tindakan pemerintah Perdana Menteri Boris Johnson itu memicu kemarahan publik dengan menuduh pemerintah Johnson sebagai "anjing gembala" bagi Washington.
Hulu Ledak Nuklir
Hulu Ledak Nuklir 
Pentagon baru-baru ini mengungkapkan bahwa Inggris telah setuju untuk membeli hulu ledak nuklir baru AS untuk menggantikan Trident, program nuklir buatannya sendiri. Namun, kesepakatan itu mengejutkan para anggota parlemen Inggris, yang dilaporkan "buta" tentang kesepaktan pembelian senjata nuklir tersebut.
Perjanjian itu "yang melibatkan berbagi teknologi AS dalam hulu ledak yang diluncurkan pada W93" diperkirakan akan menelan biaya miliaran poundsterling.
Kementerian Pertahanan Inggris melalui seorang juru bicaranya menolak untuk menjelaskan secara rinci tentang kesepakatan itu. Juru bicara itu hanya menyatakan bahwa Inggris memiliki "hubungan pertahanan yang kuat dengan AS" dan tetap berkomitmen untuk memiliki kemampuan nuklir yang kompatibel dengan teknologi Amerika.
Pemerintah Johnson mengklaim kesepakatan rahasia itu diperlukan untuk memastikan kemampuan pencegahan nuklir NATO. Namun, kubu oposisi tidak terima. Pemimpin Partai Demokrat Liberal, Ed Davey, mengatakan sangat keterlaluan bahwa transfer teknologi yang mahal sedang dilakukan dengan tanpa konsultasi dan tanpa pengawasan parlemen.
Dia mengecam pemerintah Partai Tory. "Johnson semakin terlihat seperti dempul di tangan Trump," katanya, seperti dikutip Russia Today, Senin (24/2/2020).
Anggota Parlemen, Stewart McDonald, yang bertindak sebagai juru bicara Partai Nasional Skotlandia (SNP) di bidang pertahanan, mengatakan bahwa Menteri Pertahanan Ben Wallace harus menghadap Parlemen dan menjawab kerahasiaan di balik kesepakatan itu. Anggota SNP lainnya, Douglas Chapman, memperingatkan AS dan Inggris agar tidak menghabiskan terlalu banyak waktu untuk kesepakatan itu, dan mengklaim Skotlandia akan segera mendapatkan kemerdekaannya.
Inggris menggantikan hulu ledak rudal Trident yang berbasis di Faslane dengan hulu ledak generasi baru. Keputusan itu diungkapkan oleh para pejabat Amerika sebelum pengumuman resmi dibuat oleh pemerintah Inggris tentang kapal selam nuklir yang berbasis di Skotlandia.
Seorang pejabat Partai Hijau (Green Party) mengungkapkan kekecewaan yang sama, dan menggambarkan kesepakatan pembelian senjata nuklir itu sebagai contoh bagaimana rasanya hidup dalam demokrasi yang gagal.
Kemarahan serupa disuarakan para warga Inggris di media sosial. "Kami benar-benar negara bagian ke-51 di Amerika," kesal seorang warga Inggris pengguna Twitter.
Komentar lain berpendapat bahwa, di mata militer AS, Inggris tak lebih dari "budak" untuk Washington. "Dalam istilah militer AS, Inggris selalu digambarkan sebagai kapal induk statis yang ditambatkan di tepi barat Eropa," tulis pengguna akun Twitter @billy74919063. (Muhaimin)

Gibka-S, Sistem Pertahanan Udara Anti-Drone Terbaru Rusia

Rusia terus memperkuat pertahanan mereka. Terbaru, Moskow baru saja sukses menguji coba Gibka-S, sistem pertahanan udara yang bertugas untuk melumpuhkan pesawat nir-awak atau drone.
Melansir RBTH, Gibka-S merupakan integrasi dari sistem pertahanan udara portabel manusia, yang digunakan dalam pertempuran oleh infanteri, dengan kendaraan lapis baja Tiger.
Gibka-S
Gibka-S 
Satu peleton Gibka-S terdiri dari hingga enam kendaraan tempur dengan peluncur rudal bawaan, ditambah kendaraan pengintai dan pengontrol senjata yang ditempatkan di barisan sebagai bagian dari komando kelompok.
Gibka-S mendeteksi musuh di udara dengan kecepatan hingga 700 meter perdetik dalam radius hingga 40 kilometer dan ketinggian hingga 10 kilometer. Deteksi itu ditangani oleh optik elektronik Garmon kompleks, yang terintegrasi ke dalam "otak" sistem tersebut.
Mesin ini berbasis kecerdasan buatan, yang memungkinkannya untuk membedakan target dan nontarget di sekitarnya secara terpisah, melakukan penguncian, dan kemudian menunggu perintah manusia untuk menghancurkannya.
Senjata ini juga dapat menerima koordinat target dari instalasi dan pusat radar yang lebih kuat, dan menyampaikan seluruh situasi taktis di darat kepada operator manusia. Setiap kendaraan lapis baja Tiger dapat dipasangkan hingga empat peluncur rudal Igla dan Verba di atasnya.
Sistem ini dirancang untuk menjatuhkan pesawat, helikopter, dan drone yang terbang rendah dengan pemandu infra merah yang dapat menyasar target hingga jarak enam kilometer.
Victor Murakhovsky, pakar senjata yang juga merupakan Pemimpin Redaksi majalah Arsenal of the Fatherland, mengatakan sistem pertahanan udara seperti Pantsir-S1, S-400, Tor-M2, Buk, dan lainnya dibangun untuk menghancurkan pesawat tempur, pengebom, rudal jelajah, dan sejenisnya. Senjata-senjata ini adalah sistem berbiaya tinggi dengan rudal mahal yang ditujukan untuk melumpuhkan sistem mahal lainnya.
"Oleh karena itu, pasukan yang bergerak membutuhkan senjata efektif yang murah untuk melenyapkan ancaman selusin drone kecil, yang dalam dekade mendatang akan berubah menjadi detasemen yang terkoordinasi," ucapnya.
Menurutnya, saat ini para insinyur tengah berkutat mengerjakan kecerdasan buatan yang akan dapat secara bersamaan mengendalikan dan mengoordinasikan serangan dari puluhan drone. (Victor Maulana)