Su-35 Rusia “Bertarung” dengan F-15EX AS di India

Portal daring Amerika Serikat (AS), Military Watch, mengulas pemilihan pesawat tempur yang akan memperkuat Angkatan Udara (AU) India dalam Kompetisi Pesawat Tempur Multiperan Sedang di India, yang juga dikenal sebagai tender MRCA (Multi-Role Combat Aircraft). Beberapa jenis pesawat tempur canggih pabrikan Amerika, Eropa dan Rusia “bertarung” untuk memenangkan tender yang tidak hanya membawa keuntungan finansial, tetapi juga wibawa di mata dunia. Menurut laporan Mars.online, pertarungan utama diperkirakan akan terjadi antara dua jet tempur generasi keempat milik Rusia Su-35 dan milik Amerika F-15EX.
 F-15EX
 F-15EX  
Kedua pesawat mewakili modernisasi mendalam dari jet tempur Su-27 (Su-35) dan F-15C (F-15EX), yang merupakan pesawat tempur terbaik yang dimiliki Uni Soviet dan AS semasa Perang Dingin. Selain itu, kedua pesawat bermesin ganda ini juga mampu melakukan penerbangan tinggi dan menempuh jarak yang jauh. Hal itu memungkinkan pesawat tempur untuk menyerang bagian belakang dari garis depan musuh menggunakan berbagai senjata berpemandu modern. Pesawat-pesawat ini juga memiliki multiperan karena dapat menjalankan tugas sebagai pesawat pemburu dan pengebom.
Military Watch menyoroti keunggulan penting masing-masing pesawat. F-15EX memiliki keunggulan kecepatan, yang mana kecepatan maksimalnya mencapai Mach (kecepatan suara) 2,5, sedangkan Su-35 hanya Mach 2,25 ). Namun, dari keseluruhan perbandingan, itu adalah satu-satunya kelebihan yang dimiliki pesawat tempur AS.
Kedua pesawat memiliki radar yang sama-sama canggih, yaitu Irbis-E pada Su-35 dan AN/APG-82 pada F-15EX, tetapi radar Rusia tetap lebih unggul. Selain lebih besar dan kuat, Irbis-E dapat mendeteksi target pada jarak lebih dari 400 kilometer, mampu melacak 30 target udara dan bisa melancarkan serangan kepada hingga delapan pesawat musuh secara bersamaan.
Radar ini bahkan dapat mendeteksi pesawat tempur siluman dengan penampang radar yang lebih rendah pada jarak lebih dari 80 kilometer.
Su-35 memang mendapat manfaat dari sejumlah keuntungan di luar jangkauan visual, termasuk profil pengurangan penampang radar menjadi di bawah sepertiga dari F-15 sehingga agak lebih sulit terdeteksi.
Keuntungan lain yang dinikmati Su-35 adalah rudal hipersonik udara ke udara R-37M yang memiliki jangkauan 400 kilometer, kemampuan manuver tinggi, kecepatan Mach 6 dan sensor yang sangat kuat. Sedangkan pesaing Amerika-nya saat ini mengandalkan AIM-120C yang sudah usang dengan jangkauan 105 kilometer. Meskipun F-15EX dapat dipasarkan dengan AIM-120D yang jangkauannya 180 kilometer, tetapi itu hanya kurang dari setengah dari jangkauan R-37M. Selain itu, kecepatan rudal AS juga kalah cepat, yaitu Mach 1,5 lebih lambat dibanding rudal Rusia.
Dalam waktu dekat, Su-35 juga akan bisa menggunakan rudal udara ke udara generasi berikutnya, K-77M. Rudal dengan jangkauan 200 kilometer ini akan dilengkapi sistem panduan APAA baru yang revolusioner dan akan membuatnya sangat sulit untuk dihindari. Meski kemampuan rudal udara ke udara-nya kalah unggul, F-15EX dapat membawa 22 rudal, sedangkan Su-35 hanya 14. Namun, dengan dorongan mesin F-15EX yang jauh lebih rendah daripada Su-35, dikombinasikan dengan muatan senjata yang berat, akan secara serius membahayakan kemampuan manuver di semua rentang dan kemampuan pesawat tempur untuk menghindari serangan rudal.
Keunggulan Su-35 bahkan lebih besar dalam pertempuran jarak visual. F-15EX memiliki badan pesawat yang lebih besar, dengan rasio dorong/berat yang jauh lebih rendah. Hal ini memungkinkan Su-35 mengalahkannya dengan mudah, meski pesawat tempur Amerika itu sedang dalam manuver tempur kompleks. Sedangkan desain Su-35 sangat seimbang dan ditenagai oleh motor-motor vektor gaya doring yang memberi kemampuan unggul.
Selain semua keunggulan teknis dan taktis dari pesaing Amerika-nya, Su-35 memiliki keunggulan utama lainnya untuk memenangkan tender di India, yaitu memiliki kesamaan dengan jet tempur Rusia yang sudah lebih dulu memperkuat armada AU India, Su-30MKI. Dengan kesamaan ini pilot India dapat menyesuaikan diri lebih cepat dengan Su-35. India berencana menempatkan hampir 300 unit Su-30MKI, dengan lebih dari 250 unit yang sudah beroperasi. Bersamaan dengan Su-30MKI, India juga menggunakan jet Rusia lainnya seperti MiG-29 dan MiG-21BiS yang menggunakan amunisi Rusia modern seperti R-77 dan R-27 untuk rudal udara ke udaranya, yang semuanya kompatibel dengan Su-35.
Efek sinergi ini memberikan keuntungan yang signifikan yang tak dapat diberikan oleh F-15. Terlebih lagi, India tidak memiliki pesawat tempur, rudal udara ke udara, dan peralatan pemeliharaan AS sama sekali, sehingga akan memberikan mimpi buruk logistik.
Keuntungan lain dari pesawat Rusia adalah dapat diproduksi di bawah lisensi di India.
Pada akhirnya, Military Watch menyimpulkan bahwa Su-35 lebih bersinar daripada F-15EX. Namun, Amerika memiliki cara ampuh untuk memenangkan persaingan dengan memanfaatkan tekanan politik yang kuat. AS bisa mengancam India dengan paket sanksi ekonomi jika menerima tawaran Rusia. Jadi, kemenangan telak pesawat tempur Rusia tidak akan menjamin kemenangan dalam tender ini.(Abu Hafizh-TSM)

Elon Musk: Era Jet Tempur Tamat, F-35 akan Kalah Lawan Drone

CEO Tesla Elon Musk berpendapat era pesawat jet tempur yang mendominasi langit sudah berakhir atau tamat dengan F-35 Lightning II Lockheed Martin berada di puncak. Namun dia memperingatkan bahwa jet tempur siluman generasi kelima Amerika Serikat (AS) itu tidak akan memiliki peluang jika diadu dengan drone tempur yang dikendalikan oleh manusia.
F-35 Joint Strike Fighter
F-35 Joint Strike Fighter 
Musk menjadi bintang daya tarik di Simposium Air Warfare Association Air Force di Florida pekan ini. Dalam simposium tersebut, miliarder Amerika ini mengakui F-35 Joint Strike Fighter (JSF) menjadi puncak dari penerbangan militer Amerika.
Menurutnya, harus ada pesaing untuk program F-35. "Saya pikir kompetisi adalah hal yang baik. Mungkin kadang-kadang kita harus memfokuskan upaya kita pada satu sistem daripada membaginya dan memiliki dua sistem yang bersaing. Seperti, tidak menimbulkan kontroversi, misalnya, menurut pendapat saya, Joint Strike Fighter," kata Musk, seperti dikutip The Drive, Sabtu (29/2/2020).
"Harus ada pesaing untuk JSF...Saya tahu ini adalah subjek yang kontroversial, tetapi, Anda tahu, tidak baik memiliki satu penyedia. Ini bagus untuk memiliki kompetisi di mana kompetisi itu bermakna dan seseorang benar-benar dapat kehilangan...," paparnya.
Dalam balasan tweet untuk jurnalis Aviation Week
Lee Hudson, Musk mengklarifikasi apa yang ia pikir sebagai pesaing dari F-35 Joint Strike Fighter. "Pesaingnya harus pesawat tempur drone yang dikendalikan dari jarak jauh oleh manusia, tetapi dengan manuvernya ditambah dengan otonom, F-35 tidak akan memiliki peluang melawannya," tulis Musk.
F-35, dengan varian yang digunakan oleh Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan Korps Marinir AS, telah memiliki kritik sejak awal. Para pembuat undang-undang telah mencermati beberapa penundaan dalam produksi dan harganya yang mencapai USD 406,5 miliar menjadikannya sebagai program senjata paling mahal dalam sejarah AS.
Departemen Pertahanan Amerika pada Oktober lalu mengumumkan kontrak USD34 miliar yang mencakup pengiriman 478 unit F-35.
Masalah dengan F-35 muncul segera setelah bergabung dengan armada tempur Pentagon. Lebih dari 800 cacat memengaruhi perangkat lunak pada jet tempur tercanggih tersebut. Jumlah item cacat itu berdasarkan laporan yang baru-baru ini dirilis direktur uji dan evaluasi operasional Departemen Pertahanan. Laporan itu juga mengatakan meriam 25 mm pada F-35A Angkatan Udara menunjukkan tingkat akurasi yang "tidak dapat diterima" atau jauh dari akurat.
Dalam simposium itu Musk membuat komentarnya untuk pejabat militer senior dan pilot tempur Amerika. Berbicara dengan Komandan Pusat Sistem Dirgantara dan Rudal Letnan Jenderal John Thompson, Musk mengatakan peperangan drone otonom adalah tempat di mana masa depan akan berada.
"Bukannya saya ingin masa depan seperti itu. Itu hanya masa depan yang akan terjadi," kata Musk. "Era jet tempur telah berlalu. Ya, era jet tempur telah berlalu. Ini drone." (Muhaimin)(Abu Hafizh-TSM)

Angkatan Udara Amerika Serikat Berencana Pensiunkan 17 Pembom B-1B Lancer Selama 2021

Angkatan Udara Amerika Serikat telah mengumumkan rencana untuk menghentikan operasional 17 pesawat pembom jarak jauh B-1B Lancer selama Tahun Anggaran 2021.
The Scramble Magazine melaporkan pada hari Rabu, mengutip Departemen Pertahanan Amerika Serikat perkiraan Tahun Anggaran 2021, bahwa lebih banyak B-1B Lancers akan pensiun pada tahun 2021.
Pembom B-1B Lancer USAF
Pembom B-1B Lancer USAF 
Publikasi penerbangan Belanda juga menambahkan bahwa pada 17 September 2019, Jenderal Goldfein mengatakan bahwa selama beberapa tahun terakhir USAF menerbangkan B-1B dalam konfigurasi yang paling tidak optimal. Hasilnya adalah tekanan pada badan pesawat pesawat yang tidak diantisipasi. Akibatnya, B-1B Lancer terlihat memiliki masalah struktural yang signifikan selama pemeliharaan depot. Armada B-1B memiliki rata-rata 9,701 jam per Januari 2020.
B-1 adalah sistem senjata multi-misi yang sangat serbaguna. Konfigurasi sayap / bodi campuran B-1B, sayap geometri variabel dan engine afterburning turbofan, bergabung untuk memberi kemampuan jarak jauh, kemampuan manuver, dan kecepatan tinggi sambil meningkatkan kemampuan bertahan.
Selama 18 tahun terakhir, B-1B Lancer telah terlibat dalam berbagai pertempuran. Dan juga beberapa tahun dikerahkan selama operasi di Timur Tengah dan Afganistan telah meninggalkan jejak pada keadaan seluruh armada pesawat.
The Military.com mengatakan bahwa jangka waktu pensiun yang telah direncanakan B-1 adalah komponen kunci untuk manajemen armada yang efektif selama transisi ke B-21. Angkatan Udara Amerika Serikat secara bertahap akan pensiunkan B-1, dimulai dengan operasional yang mahal dan kekurangan struktural dari badan pesawat. Dengan mengadopsi pendekatan pensiun bertahap, ini akan memungkinkan tumpang tindih antara pembom lama dan pembom generasi berikutnya.(paijojr)


Al Zubarah, Fincantieri Luncurkan Korvet Kelas Doha Pertama Angkatan Laut Qatar

Galangan kapal Italia Fincantieri telah meluncurkan korvet pertama untuk Angkatan Laut Qatar, Al Zubarah. Peluncuran korvet tersebut di galangan kapal di Muggiano, La Spezia, pada 27 Februari.
Al Zubarah adalah korvet pertama dari empat korvet yang dipesan oleh Kementerian Pertahanan Qatar dalam program akuisisi angkatan laut Qatar.
Korvet Kelas Doha Pertama Angkatan Laut Qatar
Korvet Kelas Doha Pertama Angkatan Laut Qatar 
Kontrak yang diberikan oleh Qatar ke Fincantieri bernilai sekitar 4 miliar euro. Kontrak tersebut mencakup tujuh kapal permukaan dengan rincian empat korvet, satu kapal amfibi (LPD - Platform Pendaratan Dock) dan dua kapal patroli (OPV - Offshore Patrol Vessel) serta layanan dukungan di Qatar selama 10 tahun setelah pengiriman kapal.
Al Zubarah, yang akan dikirim pada tahun 2021, dirancang konsisten dengan aturan RINAMIL. Korvet ini adalah jenis kapal fleksibel yang mampu memenuhi berbagai jenis tugas mulai dari pengawasan dengan kapasitas penyelamatan laut hingga menjadi kapal perang.
Korvet Al Zubarah memiliki panjang sekitar 107 meter dan lebar 14,70 meter serta kecepatan maksimum 28 knot. Unit ini dilengkapi dengan gabungan diesel dan diesel plant (CODAD) dan dapat menampung 112 orang di dalamnya 98 di antaranya awak kapal.
Selanjutnya, kapal akan mampu mengoperasikan kapal berkecepatan tinggi seperti RHIB (Rigid Hull Inflatable Boat) melalui crane lateral atau tanjakan pengangkut yang terletak di buritan. Dek penerbangan dan hanggar mampu menampung satu helikopter NH90.(paijojr)


Uji Coba Pertama Rudal Hipersonik Jarak Jauh Rusia 'Tsirkon' Berjalan Sukses

Ujicoba peluncuran pertama rudal hipersonik serangan darat dan laut Rusia yang ditembakkan dari Admiral Gorshkov telah dinyatakan sukses.
Rudal itu melaju dengan 9 kali kecepatan suara setelah diluncurkan dari fregat di Laut Barents dan mencapai sasaran darat dalam tes yang diadakan pada Januari, TASS mengatakan mengutip dua pejabat yang tidak disebutkan namanya dari Distrik Federal Barat Laut hari ini.
Rudal Hipersonik Jarak Jauh Rusia 'Tsirkon'
Rudal Hipersonik Jarak Jauh Rusia 'Tsirkon' 
"Sesuai dengan program uji coba negara, fregat Admiral Gorshkov menguji-meluncurkan rudal ini dari Laut Barents terhadap target darat di salah satu daerah uji militer Ural Utara pada awal Januari," salah satu sumber seperti dikutip.
Sumber lain mengatakan bahwa "jangkauan penerbangan Tsirkon melebihi 500 km." Rudal itu memiliki jangkauan maksimum 1000 km, menurut perancangnya.
"Setelah program peluncuran ujicoba dari fregat Admiral Gorshkov berakhir, rudal-rudal ini akan diuji coba dari kapal selam bertenaga nuklir," komentar sumber tersebut. Rudal itu kemungkinan akan membentuk kekuatan serangan utama kapal permukaan dan kapal selam Rusia dalam beberapa dekade mendatang.
Pengembang rudal (Asosiasi Riset dan Produksi Pembangunan Mesin) menolak berkomentar, kata TASS.
Presiden Rusia Vladimir Putin telah menyatakan pada tahun 2019 bahwa Tsirkon mampu mencapai kecepatan Mach 9. Kemampuan jangkauannya yang dapat melebihi 1.000 km dan bahwa ada rencana untuk menyebarkan Tsirkon pada kapal perang yang dibangun untuk meluncurkan rudal jelajah Kalibr.
Rudal jelajah Kalibr telah berhasil digunakan oleh Rusia pada awal pertempuran melawan ISIS di Suriah. Tsirkon akan memastikan bahwa ia akan tetap memiliki kemampuan terdepan dalam intersepsi sistem pertahanan udara seperti US Patriot selama bertahun-tahun yang akan datang.(paijojr)

Matikan Mesin Di Udara, Boeing Lanjutkan Uji Coba Jet Latih T-7A Red Hawk

Boeing mengumumkan telah melakukan ujicoba menyalakan mesin di udara pada jet latih canggih T-7A Red Hawk sebagai bagian dari program pengujian tipe itu.
Selama ujicoba, mesin GE 404 jet latih T-7A dimatikan selama 48 detik ketika pesawat terbang di ketinggian 20.000 kaki, lanjut Boeing.
Jet Latih T-7A Red Hawk
Jet Latih T-7A Red Hawk 
"Ini adalah tes dari semua subsistem yang dibangun untuk cadangan jika pilot harus mematikan mesin dalam keadaan darurat dan menyalakannya kembali," kata Kepala Pilot T-7A Steve Schmidt.
Pada bulan September 2018, Boeing memenangkan kontrak $ 9,2 miliar untuk memasok pesawat Red-Hawk T-7A dan simulator pelatihan kepada Angkatan Udara Amerika Serikat. Pengiriman pesawat pertama T-7A Red Hawk dijadwalkan pada tahun 2023.
Jet latih ini dirancang oleh Boeing dan Saab. T-7A Red Hawk telah mengakumulasikan lebih dari 175 jam terbang di lebih dari 160 penerbangan saat pengembangan.(paijojr)


Malaysia Konfirmasi Pengiriman Helikopter MD 530G Tahun Ini

Malaysia telah mengkonfirmasi bahwa mereka akan menerima pengiriman enam helikopter pengintai/ serang ringan MD 530G tahun ini yang dipesan dari MD Helicopters Inc (MDHI) pada tahun 2015.
Helikopter MD 530G
 Helikopter MD 530G 
Kepala Angkatan Darat Malaysia Jenderal Ahmad Hasbullah Nawawi mengatakan keenam helikopter itu akan berbasis di pantai timur Sabah, bagian Malaysia di pulau Kalimantan. MD 530G diperkirakan akan dikirim setelah pemeriksaan teknis dan pelatihan awak pesawat serta teknisi.
Jenderal Hasbullah tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang tanggal pengiriman keenam helikopter tersebut. Dia mengatakan kepada wartawan pada 25 Februari bahwa pemerintah Malaysia telah membuat keputusan untuk melanjutkan pengiriman helikopter "beberapa waktu yang lalu".(paijojr)

Pindad Resmikan Lini Baru Fasilitas Produksi Sistem Senjata

PT Pindad (Persero) meresmikan Lini Baru Fasilitas Produksi Sistem Senjata yang ditandai dengan penembakan laser untuk membuka tirai dan penandatanganan prasasti oleh Direktur Utama PT Pindad (Persero), Abraham Mose didampingi oleh General Manager Divisi Senjata, Yayat Ruyat di Pindad, Bandung pada Rabu, 26 Februari 2020. Peresmian juga dihadiri jajaran direksi dan karyawan PT Pindad (Persero) .
Fasilitas Produksi Sistem Senjata Pindad
Fasilitas Produksi Sistem Senjata Pindad 
Dalam sambutannya, Abraham Mose menyampaikan apresiasi atas kinerja divisi senjata karena mampu melampaui target 2019 dan mampu mengembangkan diri dengan menciptakan lini produksi baru. Abraham percaya, dengan target yang semakin tinggi dari tahun ke tahun dan tuntutan teknologi mampu dicapai oleh Pindad. Hadirnya lini produksi baru menjadi salah satu upaya untuk mewujudkan target inovasi pindad sebagai advanced weapon system.
General Manager Divisi Senjata, Yayat Ruyat menyatakan bahwa divisi senjata sudah siap bertransformasi sebagai Advanced Weapon System. Tidak hanya produksi unit senjata genggam, namun siap untuk memproduksi armament kendaraan tempur. Pengembangan juga dilakukan pada lini produksi melalui sistem otomatisasi sehingga sangat efisien dan tidak melakukan input manual.
Lini Produksi Baru Sistem Senjata yang berlokasi di Divisi Senjata Pindad Bandung merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitas produk senjata terutama untuk produk Turret dan RCWS (Remote Controlled Weapon Station).
Terdapat 7 produk utama yang dirancang akan diproduksi pada lini produksi yang baru saja diresmikan, yaitu; Turret Kendaraan Tempur 90mm & 105mm, UAV (Unnmanned Aerial Vehicles), Mekatronika Mortir, Optic & Optronics, UGV (Unmanned Ground Vehicles), Launcher & FCS Rocket / Rudal, serta RCWS (Remote Controlled Weapon Station).
Salah satu produk yang akan diproduksi, yaitu Turret 90mm dan 105mm menjadi produk utama terlebih untuk mendukung pengembangan produksi Pindad terutama untuk produk Medium Tank Harimau. Turret merupakan salah satu bagian utama dari kendaraan tempur yang berfungsi untuk mekanisme penembakan peluru.
Selain Turret, Pindad juga mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan global ke depan dengan produk UAV. UAV merupakan pesawat kendali jarak jauh tanpa awak dengan ukuran kecil dan salah satunya memiliki fungsi untuk dukungan bidang militer sebagai sistem intai dan serang terintegrasi. Produk UAV merupakan pengembangan dan inovasi Pindad serta untuk memenuhi kebutuhan Satuan Kavaleri TNI terkait ranpur kompi intai.(Herru Sustiana-TSM)
Sumber : pindad.com

Pindad Pamerkan Medium Tank Harimau ke Kementerian Pertahanan Filipina

Delegasi Kementerian Pertahanan Filipina mengunjungi PT Pindad untuk melihat langsung sejumlah alutsista produksi Indonesia. “Hari ini kita memperlihatkan Medium Tank Harimau dan berbagai produk pertahanan dan keamanan buatan Pindad lainnya yang telah digunakan TNI,” kata Direktur Utama PT Pindad (Persero), Abraham Mose, dikutip dari keterangan tertulisnya, Jumat, 28 Februari 2020.
Medium Tank Harimau
Medium Tank Harimau  
Kunjungan delegasi Filipina ke kompleks Pindad tersebut dilakukan Jumat, 28 Februari 2020, setelah sehari sebelumnya ditandatangani Memorandum of Understanding (MOU) antara Kementerian Pertahanan Filipina dan Indonesia. MOU tersebut ditandatangani Direktur Jenderal Potensi Pertahanan, Kementerian Pertahanan RI, Bondan Tiara Sofyan dengan Undersecretary for Finance and Material, Department of National Deffense of Philippines, Raymundo Dv Elefante, di Kantor Kementerian Pertahanan di Jakarta, Kamis, 27 Februari 2020.
Dari keterangan tertulis yang dilansir Kementerian Pertahanan, MOU tersebut untuk memperkuat kerja sama industri pertahanan Indonesia dan Filipina. Khususnya pengadaan alutsista dan produk industri pertahanan lainnya. Lingkup kerja-sama meliputi supply, service, maintenance, transportation and facilities, serta research and development. Lewat kerjasama tersebut, PT Pindad akan menjadi salah satu pemasok alutsista Filipina dengan mekanisme kerja-sama antar negara atau G to G.
Abraham mengatakan, Pindad akan mengikuti seluruh regulasi Filipina dengan kerja-sama tersebut. “Dalam implementasinya kita mengacu kepada regulasi industri pertahanan, kemudian melakukan cross- border. Apabila kita melakukan bisnis perdagangan dengan negara lain kita juga meng-adopt bagaimana regulasi mereka sehingga kerja-sama ini bisa value-creating-profit untuk masing-masing perusahaan,” kata dia.
Abraham mengatakan, Pindad akan mengikuti seluruh proses kerja sama tersebut dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik. “Tahun ini Pindad juga mulai mengimplementasikan ISO 37001 manajemen anti suap di seluruh lingkungan kerja,” kata dia.
Undersecretary for Finance and Materiel, Department of National Defense Philipina, Raymundo Dv Elefante memimpin delegasi Filipina yang berkunjung ke kompleks PT Pindad, Bandung, ditemani Direktur Jenderal Potensi Pertahanan, Kementerian Pertahanan RI, Bondan Tiara Sofyan. Rombongan diterima Direktur Utama Pindad Abraham Mose, bersama direksi sejumlah industri pertahanan Indonesia lainnya, diantaranya PT Dirgantara Indonesia, PT LEN, PT PAL, serta PT NTP. Masing-masing juga menampilkan produk unggulannya pada delegasi Filipina.
Pindad misalnya menampilkan Medium Tank Harimau, yang merupakan produk terbarunya. Tank Medium tersebut mengusung senjata utama turret kaliber 105 milimeter dan senapan mesin kaliber 7,62 milimeter. Tank Harimau tersebut dirancang untuk beroperasi di berbagai macam kondisi medan, dengan kelebihan memiliki bobot yang relatif lebih ringan dibandingkan Main Battle Tank, dan kemampuan sistem pertahanan anti-balistik dan anti ranjau.
Produk kendaraan tempur Pindad lainnya juga diperlihatkan. Diantaranya kendaraan tempur Anoa dan Komodo. Anoa misalnya, sudah dipergunakan hingga 360 unit oleh TNI. Anoa juga telah mengikuti berbagai misi pasukan perdamaian PBB di Lebanon, Sudan, Afrika Tengah, serta Kongo. (Ahmad Fikri (Kontributor)(Herru Sustiana-TSM)

Personel Lanud Supadio Paksa Pesawat Asing Mendarat

Satu pesawat asing yang memasuki wilayah udara Indonesia tanpa izin, terpaksa di intercept (dicegat) dan dipaksa turun (force down), oleh personel Pangkalan TNI AU (Lanud) Supadio. Informasi keberadaan pesawat asing tersebut, terdeteksi oleh pantauan satuan radar TNI AU.
Latihan Satuan Alap Gesti
Latihan Satuan Alap Gesti 
Adapun posisi pesawat tersebut berada di utara pulau Kalimantan. Atas perintah Komando Atas (Kotas), Lanud Supadio melaksanakan intercept terhadap pesawat asing yang memasuki wilayah udara tersebut. Seketika satu flight pesawat tempur Hawk 100/200, anggota Skadron Udara (Skadud) 1 Wing 7 Lanud Supadio, langsung digerakkan untuk menindak pesawat asing tersebut. Beberapa menit kemudian, satu flight pesawat tempur Hawk tersebut berhasil memaksa pesawat tanpa izin tersebut berhasil didaratkan di Lanud Supadio.
Setelah dipaksa mendarat, pesawat asing yang diawaki oleh satu orang pilot tersebut, langsung diamankan oleh personel Lanud Supadio, yang merupakan gabungan dari prajurit Lanud Supadio, Satuan Polisi Militer (Satpomau), dan dikawal ketat prajurit Yonko 465 Paskhas dengan persenjataan lengkap. Namun pada saat diperintahkan keluar dari cookpit, pilot tersebut berusaha melarikan diri tapi dengan sigap, personel Lanud dapat membengkuk tanpa perlawanan yang berarti. Akhirnya sang pilot asing digelandang ke kantor Inteligen untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sementara pesawatnya langsung diperiksa dan diamankan. Hingga saat ini pesawat tersebut masih berada diapron Lanud Supadio dengan penjagaan ketat dan diberi police line oleh Satpomau.
Peristiwa tersebut adalah salah satu skenario puncak latihan satuan Alap Gesti dengan sandi Mandau Terbang 20 Lanud Supadio Tahun 2020, yang berlangsung selama dua hari, (25-26/2/2020). Skenario ini adalah pelaksanaan force down, yang melibatkan unsur tempur pesawat Hawk dan unsur pendukung yang ada di Lanud Supadio.
Menurut Komandan Lanud (Danlanud) Supadio, Marsekal Pertama (Marsma) TNI Palito Sitorus, S.I.P., M.M latihan puncak ini bertujuan untuk melihat sejauhmana kesiapsiagaan Lanud Supadio dalam menghadapi berbagai tantangan tugas, salah satunya adalah pelaksanaan penindakkan terhadap pesawat asing yang memasuki wilayah udara Indonesia tanpa ijin atau pelaksanaan latihan force down.
“Salah satu tugas Lanud supadio adalah sebagai satuan penindak terhadap setiap pelanggaran wilayah udara Indonesia. Oleh karena itu, kita menguji kesiapsiagaan seluruh unsur yang ada di Lanud supadio ini, baik itu unsur tempurnya maupun unsur pangkalannya. Kesiapsiagaan yang kita harapkan adalah kesiapsigaan alutsista dan kesiapsiagaan personel, sesuai dengan bidang tugas masing-masing,” papar Marsma TNI Palito Sitorus.
Selain force down, puncak latihan satuan Alap Gesit tahun 2020, dilakukan dengan pengujian kesiapan pesawat tempur Hawk dalam melaksanakan Bantuan Tembakan Udara (BTU), yang dilaksanakan melalui latihan pengendalian tempur (Dalpur) dengan melibatkan prajurit Yonko 465 Paskhas dan Denhanud 473 Paskhas.
“Latihan lainnya adalah pelaksanaan combat search and rescue (combat sar), evakuasi medis korban bencana alam yang melibatkan personel rumkit dr. M. Soetomo serta dropping bantuan logistik ke daerah yang terkena bencana alam. Dalam latihan ini didukung pesawat Helikopter Puma dari Skadron Udara 8, Wing Udara 4 Lanud Atang Sendjaya, Bogor,” pungkas Danlanud.(Pen Lanud Spo)(RM)

Karantina Virus Corona, Kapal Perang Amerika Serikat Dilarang Berlabuh

Angkatan Laut Amerika telah memerintahkan seluruh armadanya yang baru saja mengunjungi negara di kawasan pasifik untuk mengkarantina diri di lautan lepas. Durasi yang ditetapkan adalah 14 hari. Hal tersebut adalah bagian dari pengendalian penyebaran virus Corona.
Kapal Perang Amerika Serikat
Kapal Perang Amerika Serikat  
"Ini adalah upaya mitigasi untuk mencegah penularan virus Corona oleh personil kami dan untuk memonitor personil yang baru saja bertugas di kawasan terdampak," ujar juru bicara Angkatan Laut Amerika, Letnan James Adam, sebagaimana dikutip dari CNN, Jumat, 28 Februari 2020.
Meski telah mengaktifkan skema karantina diri, Adam mengatakan bahwa sejauh ini belum ada indikasi personil Angkatan Laut Amerika telah tertular virus Corona. Walau begitu, kata ia, langkah waspada harus dilakukan karena hal tersebut juga untuk keselamatan warga Amerika dan anggota keluarga personil Angkatan Laut.
Skema karantina di lautan lepas adalah satu dari sebagian langkah yang telah diambil Militer Amerika untuk melindungi anggotanya dari virus Corona. Rabu kemarin, misalnya, personil Militer Amerika yang berada di kawasan Indo-Pasifik dilarang untuk berpergian ke negara terdampak virus Corona. Bahkan, latihan gabungan antara Militer Amerika dan Korea Selatan pun ditunda hingga waktu yang belum ditentukan.
Di Timur Tengah, pergerakan personil militer pun juga sudah dibatasi. Kebetulan, belum lama ini, Amerika sudah sepakat untuk mengurangi aktivitas militernya di Timur Tengah, terutama di Afghanistan, setelah menekan perjanjian gencatan senjata dengan Taliban.
Sementara itu, di Italia, semua akses ke sekolah, pusat olahraga, dan penitipan anak yang berada di kompleks Militer Amerika ditutup. Semua anggota diminta untuk berhati-hati dalam beraktivitas karena Italia termasuk negara paling terdampak virus Corona ketiga setelah Cina dan Korea Selatan.
"Pusat Komando Militer Amerika mengambil sejumlah langkah untuk mencegah penularan virus Corona dan memitigasi resiko terhadap operasi-operasi militer Amerika," ujar kapten Angkatan Laut Amerika, William Urban.
Sejauh ini, jumlah kasus virus Corona (COVID-19) di seluruh dunia sudah mencapai 83.269. Sebanyak 60 di antaranya berada di Amerika.(Non Koresponden )(RM)

Militer Rusia Bantah Pesawat Bomber Tu-95-nya Dekati Inggris

Militer Rusia membantah laporan dugaan pesawat pengebom (bomber) Tu-95 miliknya terbang di atas wilayah udara Skotlandia dan di atas perairan netral Nowegia yang kemudian bergerak menuju Inggris pada hari Rabu.
Pesawat Bomber Tu-95 Rusia
Pesawat Bomber Tu-95 Rusia 
Angkatan Udara Kerajaan (RAF) Inggris telah mengerahkan jet-jet tempur Typhoon setelah pesawat tak dikenal yang diduga Tu-95 Rusia mendekat. Belanda dan Norwegia juga ikut mengerahkan pesawat tempur.
Armada Utara Rusia dalam pengumumannya pada Rabu malam menyatakan tidak ikut serta dalam penerbangan pelatihan patroli di atas perairan netral Norwegia dan Laut Barents.
Selanjutnya, militer Moskow menjelaskan bahwa ada dua pesawat jarak jauh anti-kapal selam Tu-142 Rusia yang melakukan penerbangan rutin di atas wilayah itu dalam misi yang memakan waktu lebih dari 12 jam.
"Para kru berlatih menerbangkan pada jalur medan bebas referensi, dan mengoordinasikan tindakan saat uji coba tanpa adanya alat bantu navigasi radio berbasis darat," kata layanan pers Armada Utara Rusia, seperti dikutip Sputniknews, Kamis (27/2/2020).
Armada tersebut menambahkan bahwa misi sepasang pesawat Tu-142 Rusia sesuai dengan Peraturan Internasional untuk Penggunaan Ruang Udara.
Pengumuman Armada Utara Rusia muncul ketika RAF mengonfirmasi adanya pesawat tak dikenal yang diduga milik Rusia mendekati wilayah udara Inggris. Menurut RAF pencegatan pesawat misterius itu sejauh ini tidak diperlukan.
"RAF Quick Reaction Alert Typhoon (Typhoon Peringatan Reaksi Cepat RAF) telah diluncurkan di RAF Lossiemouth setelah pesawat tak dikenal sedang terlacak menuju wilayah udara Inggris," kata pangkalan RAF Lossiemouth melalui seorang juru bicaranya, seperti dikutip BBC.
"Pesawat-pesawat tak dikenal ini tetap berada di luar bidang yang kami minati dan tidak ada intersepsi yang terjadi."
Pangkalan RAF Lossiemouth tidak dapat mengonfirmasi jumlah atau jenis pesawat tak dikenal yang mendekati wilayah udara Inggris. (Muhaimin)

Kapal Perang China Tembak Pesawat P-8A Poseidon AL Amerika Serikat dengan Laser

Sebuah kapal perang China menargetkan sebuah pesawat patroli Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) dengan tembakan laser di wilayah udara internasional di sebelah barat Guam.
Armada Pasifik AS pada hari Kamis mengatakan insiden itu terjadi awal bulan ini. Pejabat Angkatan Laut di Hawaii mengecam aksi militer China sebagai "tindakan tidak aman dan tidak profesional".
 Pesawat P-8A Poseidon AL Amerika Serikat
 Pesawat P-8A Poseidon AL Amerika Serikat 
Juru bicara Armada Pasifik AS, Rachel McMarr kepada Navy Times, mengatakan pesawat P-8A Poseidon Angkatan Laut AS sedang melakukan operasi rutin pada 17 Februari di wilayah yang berjarak sekitar 380 mil sebelah barat Guam di Laut Filipina ketika insiden itu terjadi.
Tembakan laser tidak terlihat dengan mata telanjang. Namun, menurut McMarr, itu tetapi terdeteksi oleh sensor di pesawat.
Tidak ada anggota awak pesawat yang terluka dan pesawat mendarat dengan selamat di Pangkalan Angkatan Udara Kadena di Okinawa, Jepang, tempat pesawat itu dikerahkan. Pesawat itu bagian dari Skuadron Patroli 45 yang berpusat di Jacksonville, Florida.
"Pesawat saat ini sedang menjalani penilaian kerusakan," katanya, yang dilansir Jumat (28/2/2020). Tembakan laser itu diduga hanya sebagai peringatan dan tidak bermaksud untuk menyebabkan insiden fatal.
Angkatan Laut AS mengatakan tembakan laser oleh kapal perusak 161 Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China telah melanggar Kode untuk Pertemuan yang Tidak Direncanakan di Laut, sebuah perjanjian multilateral yang dicapai pada Simposium Angkatan Laut Pasifik Barat 2014 untuk mengurangi kemungkinan insiden di laut.
Menurut para pejabat Angkatan Laut Amerika tindakan kapal perusak China itu juga bertentangan dengan nota kesepahaman tentang aturan perilaku untuk keselamatan udara dan pertemuan maritim antara Departemen Pertahanan Amerika dan Departemen Pertahanan Republik Rakyat China.
“Pesawat Angkatan Laut AS secara rutin terbang di Laut Filipina dan telah melakukannya selama bertahun-tahun. Pesawat dan kapal Angkatan Laut AS akan terus terbang, berlayar, dan beroperasi di mana pun hukum internasional mengizinkan," kata Angkatan Laut AS dalam sebuah pernyataan.(Muhaimin)

Pembangunan Tiga Korvet Kelas Karakurt Angkatan Laut Rusia Segera Selesai

Pada 18 Februari 2020, rekaman video baru Zaliv Shipyard dirilis di Youtube. Dalam video tersebut terlihat Proyek 22800 korvet Kelas Karakurt saat ini sedang dibangun untuk Angkatan Laut Rusia. Korvet kecil ini dimaksudkan untuk melakukan peperangan anti-permukaan dan anti-udara, serta misi pengawasan pantai di zona pesisir.
Pembangunan Tiga Korvet Kelas Karakurt Angkatan Laut Rusia
Pembangunan Tiga Korvet Kelas Karakurt Angkatan Laut Rusia 
Menurut rekaman video yang dirilis di Youtube, beberapa kapal sedang dibangun di Zaliv Shipyard (Kerch, Republic of Crimea), anak perusahaan dari Zelenodolsk Shipyard. Tiga korvet kecil tersebut akan diberi nama "Tsiklon", "Askold" dan "Amur" (dengan nomor lambung 801, 802 dan 803). Tiga korvet harus memasuki Armada Laut Hitam antara tahun 2020 dan 2021.
Karakurt-Class dirancang oleh Biro Desain Almaz. Korvet ini memiliki superstruktur siluman yang dipasang di tiang terpadu dengan panel radar phased array. Platform ini dirancang untuk menawarkan kemampuan manuver, stabilitas, dan kemampuan menjaga di laut pada ombak yang tinggi.
Desain modular kapal memungkinkan pengembangan berbagai varian untuk memenuhi persyaratan spesifik misi. Ketiga kapal tersebut akan dipasang dengan sistem komando dan kontrol canggih, fasilitas navigasi dan komunikasi, serta senjata canggih.
Project 22800 corvette memiliki panjang 67 meter dan lebar 11 meter. Dengan berat sekitar 860 ton dan draft 2,8 meter. Kapal ini ditenagai oleh dua mesin diesel M-507D-1 dengan output daya masing-masing 7.360 kW dan pembangkit listrik turbin gas M70FRU 8.830-kW. Korvet ini memiliki kecepatan maksimal hingga 35 knot, kecepatan ekonomis 12 knot, jarak jelajah 2.500 mil laut, dan daya tahan 12 hari. (paijojr)

Amerika Serikat Konfirmasi Penjualan 4 Pesawat Serang Ringan Wolverine AT-6 ke Tunisia

Departemen Luar Negeri AS telah menyetujui kemungkinan penjualan empat Pesawat Serang AT-6C Wolverine Light dan peralatan terkait, senilai $ 325,8 juta ke Tunisia di bawah program Penjualan Militer Asing (FMS) Amerika Serikat. Badan Kerjasama Keamanan Pertahanan (DSCA) memberikan sertifikasi yang diperlukan untuk memberi tahu Kongres tentang penjualan ini pada 25 Februari 2020.
Pesawat Serang Ringan Wolverine AT-6 - Beechcraft
Pesawat Serang Ringan Wolverine AT-6 - Beechcraft 
Menurut DSCA, pemerintah Tunisia diminta untuk membeli empat pesawat Wolverine bersama dengan berbagai peralatan pendukung, termasuk tetapi tidak terbatas pada 312 kelompok kontrol komputer MAU-169, bom 468 MK81 250 LB GP dan 3.290 sistem senjata pembunuh presisi canggih - serta komponen bom dan bom latih.
"Penjualan yang diusulkan akan meningkatkan kemampuan Tunisia untuk mengatasi ancaman saat ini dan masa depan. Dengan peningkatan kemampuan dan kapasitas mereka untuk melawan terorisme dan ancaman organisasi ekstremis brutal lainnya," kata pengumuman DSCA.
Penjualan yang diusulkan termasuk gravitasi dan amunisi presisi, termasuk bom 468 Mark 81 250-lb, 48 bom 500-lb Mark 82 bombs, unit panduan laser Paveway II, 3.290 unit unit Advanced Laser Kill Weapon System (APKWS) untuk roket 2,75 inci, enam senapan mesin kaliber .50 dan enam Sistem Penargetan Multi-Spektral L-3 WESCAM MX 15D .
Beechcraft Wolverine adalah sistem pesawat multi-peran multi-misi yang dirancang untuk memenuhi spektrum kebutuhan akan misi serang ringan. Memanfaatkan berbagai kemampuan yang sangat terspesialisasi. Wolverine dilengkapi dengan peralatan canggih seperti mesin Pratt dan Whitney PT6A-68D, CMC Esterline Cockpit 4000 modifikasi misi, Lockheed Martin A- Sistem misi berbasis 10C dan rangkaian sensor MX-15Di L-3 WESCAM.(paijojr)


Naval Group Kirim Batch Pertama Torpedo Kelas Berat F21 ke Angkatan Laut Brasil dan Perancis

Naval Group telah mengirimkan sejumlah besar torpedo kelas berat F21 ke Angkatan Laut Brasil dan Perancis.
Pada konferensi pers di Paris pada 21 Februari, Naval Group mengatakan batch pertama enam torpedo diserahkan kepada Angkatan Laut Perancis pada November 2019, sedangkan jumlah pengiriman ke Angkatan Laut Brasil tidak diungkapkan.
  Torpedo Kelas Berat F21 Naval Group
Torpedo Kelas Berat F21 Naval Group 
Torpedo kelas berat F21 dikembangkan oleh Naval Group untuk Direction Générale de l'Armement (DGA) di bawah naungan program Artémis, yang diluncurkan pada tahun 2008. Torperdo ini akan menggantikan torpedo kelas berat F17 Mod 2 yang melengkapi inventaris kapal selam Angkatan Laut Perancis saat ini. Torpedo F21 juga akan dioperasikan oleh Angkatan Laut Brasil dengan kapal selam baru diesel-listrik kelas Scorpène.
Naval Group telah dikontrak untuk mengirimkan 93 F21 torpedo ke Angkatan Laut Perancis.
F21 memiliki panjang keseluruhan 6 meter dan berat 1.320 kg. Sistem propulsi ini ditenagai oleh baterai primer perak oksida-aluminium yang memungkinkan kecepatan maksimum lebih dari 50 kt. Jangkauan maksimum torpedo ini lebih dari 50 kilometer.
Uji coba awal dengan prototipe dilakukan di Mediterania pada kuartal pertama 2013. Dari 2013-14, sekitar 10 uji coba peluncuran dilakukan, setelah itu peluncuran terganggu untuk sementara waktu.
Uji coba dimulai kembali pada 2017. Pada bulan Juni tahun 2017, F21 menyelesaikan kualifikasi yang sukses di Mediterania. Dan pada Mei 2018 Naval Group mengumumkan bahwa torpedo F21 telah diluncurkan dari kapal selam serang bertenaga nuklir (SSN) di bawah DGA di lepas pantai selatan Perancis. Menurut Naval Group, F21 yang digunakan untuk uji coba ini identik dengan yang sedang diproduksi untuk Angkatan Laut Perancis.
Peluncuran dari SSN Barracuda pertama Perancis, Suffren , diperkirakan akan berlangsung pada tahun 2020, kata pejabat Naval Group kepada Jane.(paijojr)

ICGS Vajra, L&T Luncurkan OPV Kelas Vikram Ke Enam Untuk Coast Guard India

Larsen & Toubro (L&T) telah meluncurkan kapal patroli lepas pantai (OPV) keenam kelas Vikram ICGS Vajra (37) milik Coast Guard India (ICG), dalam sebuah upacara di Galangan Kapal L&T Kattupalli di dekat Chennai, pada 27 Februari.
OPV  ICGS Vajra (37) Coast Guard India
OPV  ICGS Vajra (37) Coast Guard India  
Kapal ICGS Vajra (37) secara seremonial diluncurkan oleh Smt. Neeta Mandaviya, Istri Menteri Mansukh Mandaviya; Krishnaswamy Natrajan, Direktur Jenderal ICG dan pejabat tinggi lainnya dari Pemerintah Pusat dan Negara.
L&T menerima pesanan senilai USD200 juta untuk desain dan konstruksi tujuh OPV dari Kementerian Pertahanan India pada Maret 2015. L&T adalah galangan kapal swasta India pertama yang membangun dan mengirimkan OPV untuk Penjaga Pantai India dan perusahaan berencana untuk mengirimkan OPR ketujuh pada tahun 2021.
Galangan kapal telah mengirimkan empat OPV pertama yang telah ditugaskan ke armada Penjaga Pantai India. Kapal-kapal ini adalah ICGS Vikram, ICGS Vijaya, ICGS Veera dan ICGS Varaha. Kapal kelima diluncurkan pada 31 Agustus 2019. ICGS Vajra (37) adalah kapal ke-6 yang dibangun dan diluncurkan oleh L&T untuk Kementerian Pertahanan India.
OPV kelas Vikram adalah kapal permukaan jarak jauh, dilengkapi untuk menangani operasi helikopter dan mampu beroperasi di zona maritim India termasuk wilayah kepulauan. Peran OPV adalah untuk melakukan patroli pantai dan lepas pantai, patroli zona maritim, kontrol dan pengawasan, operasi anti-penyelundupan dan anti-pembajakan dengan peran perang yang terbatas.
Kapal ICGS Vajra (37) memiliki berat 2.140 ton, panjang sekitar 97 meter, lebar 15 meter dan memiliki draft 3,6 meter. Kecepatan OPV ini hingga 26 knot dan memiliki jangkauan 5.000 NM.
Kapal dipersenjatai dengan 30mm CRN 91 Naval Gun dan dua senapan mesin berat 12,7mm (HMG) dengan sistem kontrol tembakan (FCS).
OPV dibangun dengan Sistem Manajemen Platform Terpadu (IPMS) untuk memungkinkan kemampuan kontrol khusus yang umumnya diintegrasikan ke dalam kapal perang yang lebih besar seperti fregat dan kapal perusak. Kapal dilengkapi dengan propulsi depanuntuk memberikan kemampuan manuver yang tinggi. Seluruh proses desain dan konstruksi telah disertifikasi oleh American Bureau of Shipping (ABS) serta Registrar of Shipping (IRS) India dan diawasi oleh tim anggota Penjaga Pantai India di Kattupalli.(paijojr)


Untuk Pertama Kalinya Jet Tempur Mirage AU UEA Akan Dilengkapi Sniper Targeting Pods

Angkatan Udara Uni Emirat Arab (AFAD) telah memesan Sniper Advanced Targeting Pods (ATPs) yang akan diintegrasikan pada jet tempur Dassault Mirage 2000 untuk pertama kalinya.
Sniper ATP mampu mendeteksi, mengidentifikasi, secara otomatis melacak dan penunjuk laser pada target taktis kecil jarak jauh. Di samping itu juga mendukung penggunaan semua senjata yang dipandu laser dan GPS terhadap beberapa target tetap dan bergerak. Sniper ATP dapat dioperasikan di beberapa platform jet tempur termasuk F-2, F-15, F-16, F-18, A-10, B-1, B-52, Harrier dan Typhoon.
Sniper Targeting Pods
Sniper Targeting Pods 
“Lockheed Martin menerima kontrak penjualan komersial langsung dari Angkatan Udara Uni Emirat Arab untuk pengiriman Sniper ATP yang dipercepat, suku cadang dan peningkatan. Kontrak ini menandai integrasi pertama Sniper ATP pada pesawat Dassault Mirage 2000, ”kata perusahaan itu dalam sebuah pernyataan, Rabu.
Pengiriman dan suku cadang Sniper ATP akan mendukung persyaratan AFAD UEA untuk memberikan kemampuan penargetan presisi untuk armada Mirage 2000 yang ada. Saat ini, UAE AFAD menggunakan Sniper ATP pada pesawat F-16 Block 60-nya.(paijojr)

Pakistan Pertimbangkan Akuisisi Helikopter Serang Z-10 Buatan China

Pakistan akan membeli helikopter serang Z-10 buatan China jika Turki dan Amerika Serikat gagal memenuhi pesanan masing-masing TAI T-129 (ATAK) dan Bell AH-1Z Viper .
Berbicara pada konferensi Helikopter Militer Internasional IQPC di London, komandan Penerbangan Angkatan Darat Pakistan, Mayor Jenderal Syed Najeeb Ahmed, mengatakan bahwa Changhe Aircraft Industries Corporation (CAIC) pembuat helikopter serang Z-10ME "tetap menjadi pilihan" jika helikopter T-129 buatan Turkish Aerospace Industries dan AH-1Z Viper buatan Bell Helicopter terbukti tidak dapat diperoleh karena berbagai alasan.
Helikopter Serang Z-10 Buatan China
Helikopter Serang Z-10 Buatan China  
Angkatan Darat Pakistan memiliki kebutuhan mendesak untuk menggantikan 32 helikopter Bell AH-1 Cobra yang telah menua yang telah beroperasi lebih dari 30 tahun. Mayor Jenderal Nasir D Shah, mengatakan kepada Jane dan media pertahanan lainnya pada Januari 2018, "Helikopter AH-1 telah memberikan dukungan dekat yang efektif untuk pasukan darat kami yang terlibat dalam operasi kontra-pemberontakan [COIN], tetapi mereka tidak dapat digunakan secara efektif dalam operasi ketinggian tinggi di atas 8.000 kaki."
Helikopter serang Z-10 dikenal juga dengan WZ-10 dirancang terutama untuk misi anti-tank tetapi memiliki kemampuan sekunder peperangan udara-ke-udara. Proyek helikopter ini dirancang bersama oleh Kamov Design Bureau Rusia dan 602nd Aircraft Design Institute di bawah kontrak dengan pemerintah China. Sedangkan untuk produksi oleh Changhe Aircraft Industries Corporation (CAIC). Varian terakhir saat berita ini ditulis yakni Z-10ME yang diluncurkan pada 2018 dan memperoleh berbagai peningkatan. (paijojr)


Hibah Drone dari AS Tidak Ganggu Hubungan Indonesia dengan Negara Lain

Pengamat Pertahanan Khairul Fahmi menilai, ada kepentingan dalam hibah Drone tipe ScanEagle UAV dan Helikopter Bell 412 dari Pemerintah Amerika Serikat (AS) kepada Indonesia. Kepentingan itu setidaknya kedua negara ingin menunjukkan kerja sama yang baik dan berkualitas.
Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid
Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid  
"Apalagi ini di dalam bidang pertahanan dan walaupun dari sekian banyak hibah yang ditawarkan dan yang dipilih adalah drone, saya kira itu bagian dari cara Kemhan dan Mabes TNI dalam menjaga diri juga ya," kata Fahmi saat dihubungi, Kamis (27/2/2020).
Namun demikian, Fahmi menyarakan, ke depan agar Indonesia tidak mudah untuk menerima hibah 'alutsista' dari negara lain. Menurutnya, perlu dipertimbangkan sisi negatif dan positifnya untuk sistem pertahanan dan informasi pertahanan kita.
Fahmi menilai, hibah drone tersebut diyakini tak akan mengganggu hubungan atau kerja sama Indonesia dengan negara lain. Justru, hibah itu menunjukan adanya kerja sama yang erat antara AS dan Indonesia.
"Toh kita tidak hanya terbuka menerima program-program itu dari Amerika saja. Jadi bahwa kemungkinan itu akan dimaknai lebih cenderung ke Amerika daripada negara lain, itu saya kira kemudian bergantung bagaimana kita melakukan, membangun komunikasi yang baik dengan pihak-pihak lain," tandasnya.
Diberitakan sebelumnya, Komisi I DPR RI menyetujui hibah 14 drone ScanEagle dan upgrade (meningkatkan kemampuan) tiga unit Helikopter Bell 412 dari Pemerintah Amerika Serikat (AS) kepada Kementerian Pertahanan (Kemhan). Hibah itu memperkuat alat utama sistem persenjatan (alutsista) Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL).
Keputusan itu diambil dalam Rapat Kerja Komisi I DPR RI dengan Kemhan, hari ini. Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid mengatakan, setiap penerimaan hibah, termasuk hibah alutsista, pemerintah perlu mendapatkan persetujuan dari DPR. (). (Rakhmatulloh)(RM)

S-350 Vityaz, Militer Rusia Diberi Senjata Baru Pembunuh Rudal Jelajah Musuh

Militer Rusia telah menerima sistem pertahanan rudal terbaru dan menguji kemampuannya untuk melenyapkan pesawat dan rudal jelajah musuh yang masuk ke negara tersebut. Senjata baru itu adalah sistem pertahanan rudal S-350 Vityaz yang dijuluki sebagai pembunuh rudal jelajah musuh.
 S-350 Vityaz
 S-350 Vityaz  
Sistem pertahanan rudal surface-to-air S-350 Vityaz resmi ditugas ke layanan militer Moskow pada hari Rabu. Operasional senjata tersebut terjadi di saat persaingan kemampuan perang muatkhir antara Rusia dan Amerika Serikat (AS) berlangsung sengit.
Sistem S-350 dikirim ke Akademi Pertahanan Udara dan Luar Angkasa di wilayah Leningrad dan menjalani pelatihan untuk mendeteksi dan menghancurkan (senjata) udara musuh tiruan," kata Kementerian Pertahanan Rusia dalam siaran pers-nya, yang dikutip Kamis (27/2/2020).
"Para kru tempur S-350 menunjukkan keterampilan mereka, menghantam (senjata) musuh tiruan dengan meluncurkan rudal elektronik, dan berbaris ke area posisi baru," Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan Rabu dalam siaran pers.
"Senjata itu dideskripsikan sebagai (senjata yang) dirancang untuk melindungi negara, administrasi, industri, fasilitas militer dan pengelompokan pasukan paling penting dari serangan udara musuh dengan cara modern. Ini dirancang untuk bertahan melawan pesawat dan rudal (musuh)," lanjut kementerian tersebut, seperti dikutip Newsweek.
Senjata baru Rusia ini dijuluki "pembunuh rudal jelajah" oleh komandan pasukan rudal surface-to-air Kolonel Yuri Muravkin karena kemampuannya yang serbaguna.
S-350 bergabung dengan keluarga sistem pertahanan berumur puluhan tahun yang meliputi S-200, S-300, S-400 dan yang masih dalam pengembangan; S-500. Sistem pertahanan itu dikembangkan oleh Almaz-Antey, perusahaan senjata milik negara Rusia. Pihak perusahaan mengatakan senjata baru ini dapat beroperasi sendiri dan sebagai bagian dari sistem pertahanan berlapis-lapis.
S-350 pertama kali ditransfer ke Kementerian Pertahanan Rusia pada bulan Desember dan diuji bulan lalu di tempat pelatihan Kapustin Yar di wilayah Astrakhan. (Muhaimin)(RM)

Didekati Pesawat Diduga Bomber Rusia, Inggris Kerahkan Jet Tempur

Dua jet tempur Angkatan Udara Kerajaan (RAF) Inggris dikerahkan setelah pesawat misterius yang diduga pengebom (bomber) Tu-95 Rusia terbang di atas wilayah udara Sktolandia dan bergerak menuju Shetland Island, Kamis (27/2/2020).
Jet Tempur Typhoon RAF
Jet Tempur Typhoon RAF 
Selain dua jet tempur Typhoon, RAF juga melesatkan sebuah pesawat voyager untuk misi intersepsi atau pencegatan pesawat misterius tersebut jika diperlukan.
Situs web penerbangan, Air Live, melaporkan bahwa pesawat tempur lain dari Norwegia dan Belanda juga telah dikerahkan.
RAF mengatakan, pesawat tak dikenal itu diduga milik Rusia. Menurut RAF pencegatan sejauh ini tidak diperlukan.
"RAF Quick Reaction Alert Typhoon (Typhoon Peringatan Reaksi Cepat RAF) telah diluncurkan di RAF Lossiemouth setelah pesawat tak dikenal sedang terlacak menuju wilayah udara Inggris," kata pangkalan RAF Lossiemouth melalui seorang juru bicaranya, seperti dikutip BBC.
"Pesawat-pesawat tak dikenal ini tetap berada di luar bidang yang kami minati dan tidak ada intersepsi yang terjadi."
Juru bicara itu mengatakan layanan tidak dapat mengonfirmasi jumlah atau jenis pesawat tak dikenal yang mendekati wilayah udara Inggris. (Muhaimin)(RM)

Erdogan Bantah Turki Minta Sistem Rudal Patriot Amerika Serikat

Amerika Serikat (AS) tidak mungkin menyediakan rudal Patriot untuk sekutu NATO-nya, Turki. Hal itu diungkapkan langsung oleh Presiden Turki Recep Tayyep Erdogan, membantah laporan yang menyebut Ankara meminta sistem rudal Patriot AS.
Sistem Rudal Patriot
 Sistem Rudal Patriot  
"Mengenai masalah Patriot, izinkan saya mengatakan dengan sangat jelas: saat ini tidak ada Patriot yang akan diberikan Amerika kepada kita," kata Erdogan kepada wartawan sekembalinya dari Azerbaijan.
"Kami mengajukan penawaran tetapi saat ini, mereka tidak memiliki hal semacam itu di tangan mereka," akunya seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (27/2/2020).
Pemerintah Turki dilaporkan telah meminta AS untuk menempatkan dua sistem pertahanan rudal Patriot di sepanjang perbatasan selatannya dengan Suriah. Hal itu diungkapkan seorang pejabat Amerika kepada media lokal, tetapi "tidak ada keputusan yang dibuat."
Turki telah lama meminta sistem pertahanan udara buatan Raytheon itu tetapi tidak berhasil, karena banyak negara di dalam NATO, termasuk AS sendiri, tidak tertarik untuk menjual senjata semacam itu.
Akhirnya, militer Turki berpaling ke Rusia dan menandatangani kesepakatan besar untuk mendapatkan beberapa unit sistem rudal S-400 terbaru.
Kesepakatan S-400 akhirnya menjadi polemik bagi sekutu NATO. AS memutuskan hubungan Turki dari program jet tempur F-35, dengan alasan ketidakcocokannya dengan sistem buatan Rusia. Washington memberi tekanan besar pada Ankara, menuntut agar membatalkan kesepakatan dengan Moskow, tetapi, seperti yang sering ditegaskan oleh pejabat Turki, pembelian itu untuk memenuhi kebutuhan keamanan Turki.
Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa anggota NATO menyebarkan sistem rudal Patriot mereka di tanah Turki untuk menangkis ancaman yang masuk di wilayah tersebut. Tetapi penyebaran ini tidak berlangsung lama, meninggalkan Turki dalam posisi berbahaya.
Sementara itu, persiapan untuk membuat S-400 Turki beroperasi berjalan lancar.
"Kami telah menerima S-400, kami membawanya ke Turki, proses instalasi dan pelatihan berlanjut. Operasi kami akan berlanjut sesuai rencana," kata Menteri Pertahanan Turki Hulusi Akar pekan lalu, menambahkan bahwa aktivasi S-400 akan berlangsung di musim semi. (Berlianto)(RM)

BlueBird Aero Systems Amankan Pesanan Lebih dari 150 VTOL UAS untuk Eropa

Perusahaan Israel, BlueBird Aero Systems telah menerima pesanan senilai puluhan juta euro dari pelanggan Eropa untuk pengiriman lebih dari 150 sistem pesawat tak berawak (UAS) dari berbagai kategori. UAS pesanan Eropa tersebut memiliki kemampuan take-off dan landing secara vertikal (VTOL).
UAS ThunderB-VTOL
UAS ThunderB-VTOL 
WanderB-VTOL Mini UAV dan ThunderB-VTOL Tactical UAV akan dioperasikan oleh tentara infanteri, unit lapis baja, pasukan artileri dan pasukan khusus. Kontrak ini menandai penjualan taktis pesawat tak berawak VTOL terbesar yang pernah ada.
BlueBird lebih disukai daripada pemasok lain karena fakta bahwa WanderB-VTOL dan ThunderB-VTOL menawarkan fleksibilitas operasional yang tinggi dan memberikan kinerja terbaik dalam kategori mereka. Di atas semua itu mereka menggabungkan keunggulan UAV sayap tetap (daya tahan lebih lama, kecepatan tinggi, kemandirian angin, cakupan area yang luas, kemampuan untuk meluncur dalam skenario kegagalan engine) dengan keunggulan multi-copter (kemampuan lepas landas dan mendarat di daerah kecil serta terbatas seperti kapal di tengah laut untuk operasi maritim, pembukaan hutan kecil atau di atap gedung daerah perkotaan, kemampuan untuk melayang di atas target, pendaratan yang akurat, aman dan bebas dari kerusakan dan lainnya).
Pelanggan secara khusus mencari UAS yang sangat mobile, yang dapat dibawa dalam koper kecil, dan bahkan dalam ransel prajurit.
“Kami sangat terkesan dengan solusi VTOL BlueBird karena memungkinkan fleksibilitas operasional yang tinggi dan memberikan kecerdasan real time dan kesadaran situasi yang tak ternilai. Kami telah menguji VTOL UAV di lingkungan yang paling keras dan paling berat, dan mereka terbukti handal dan amat penting, ”kata komandan pasukan darat sebagai pengguna.
“Solusi VTOL yang terbukti di medan perang ini akan digunakan sebagai bagian dari doktrin pertempuran modern kami dan akan berfungsi sebagai mata pasukan di langit yang menyediakan kemampuan intelijen, pengawasan, akuisisi target, dan pengintaian [ISTAR] yang maju dan handal untuk mengatasi tantangan utama medan perang modern ini. ," dia menambahkan.
"BlueBird's VTOL memberi kami jangkauan jarak jauh dan daya tahan lama, bersama dengan kemampuan lepas landas dan mendarat di area terbatas," tambah Kolonel G., kepala Komando Brigade Pasukan Khusus. "Keputusan pembelian kami dipengaruhi oleh kemudahan penggunaan dan penyebaran cepat oleh kru kecil beranggotakan dua orang, yang akan menawarkan keunggulan dominasi medan pasukan kami, yang mengarah pada fleksibilitas medan perang yang tak tertandingi siang dan malam."
"Kontrak baru menandai keberhasilan BlueBird dan terdepan dalam mengembangkan dan menyediakan solusi VTOL yang canggih," kata Ronen Nadir, Pendiri dan CEO BlueBird. "Ini menggambarkan kemampuan kami yang telah terbukti untuk memberikan solusi yang hemat biaya, handal, dan berkinerja tinggi yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan medan perang modern."
“Kami senang sebagai terdepan, berada di garis depan teknologi, menerapkan solusi sebagai hasil pembelajaran dari kebutuhan operasional dan menjadi bagian dari akuisisi VTOL UAS pertama dengan skala besar,” tambah Nadir.(paijojr)


AS Tandatangani Perjanjian Penjualan dengan India untuk Helikopter MH-60R Romeo dan AH-64E (I) Apache Guardian

Amerika Serikat telah menandatangani kesepakatan dengan India untuk menyediakan helikopter militer senilai lebih dari USD3 miliar kepada negara Asia Selatan itu.
"Hari ini kami memperluas kerjasama pertahanan kami dengan perjanjian untuk India untuk membeli lebih dari USD3 miliar [peralatan] militer canggih Amerika, termasuk helikopter AH-64E Apache Guardian dan MH-60 Romeo," kata Presiden AS Donald Trump dalam konferensi pers bersama yang diadakan bersama dengan Perdana Menteri India Narendra Modi di New Delhi pada 25 Februari.
Helikopter MH-60R Romeo
Helikopter MH-60R Romeo 
"Kesepakatan ini akan meningkatkan kemampuan pertahanan bersama kami karena dua militer kami terus berlatih dan beroperasi berdampingan," tambah Trump, yang telah mengadakan pembicaraan dengan Modi sebelumnya hari itu.
Meskipun tidak ada perincian lebih lanjut, pejabat India mengatakan kepada Jane bahwa kesepakatan itu untuk 24 helikopter serbaguna Lockheed Martin/Sikorsky MH-60R untuk Angkatan Laut India (IN) senilai total USD2,6 miliar, dan untuk enam Boeing 'AH-64E (I) 'Helikopter serang Apache Guardian untuk Army Aviation Corps (AAC) India bernilai total sekitar USD800 juta.
Para pejabat militer mengatakan bahwa India akan memperoleh helikopter MH-60R, yang akan menampilkan kemampuan perang anti-kapal selam dan anti-permukaan, di bawah program Penjualan Militer Asing AS (FMS). Namun, akuisisi keenam Apache akan terjadi sebagai pembelian 'hibrida', menggabungkan penjualan komersial langsung (DCS) dengan Boeing dan FMS dengan pemerintah AS.
Angkatan Udara India (IAF) telah menandatangani kesepakatan 'hibrida' yang serupa untuk 22 Apache pada bulan September 2017 dengan harga sekitar USD2,02 miliar. Pada akhir 2019 layanan ini telah meluncurkan delapan platform ini.
Bagian DCS dari kesepakatan Apache AAC mencakup platform, dukungan logistik, suku cadang, dan layanan purna jual.
Bagian FMS terdiri dari mesin turboshaft General Electric T700-701D helikopter, sensor elektro-optik, radar, sistem senjata - termasuk rudal Hellfire AGM-114 dan roket Hydra-70 serta pelatihan dan sertifikasi platform. (Abu Hafizh - TSM)(RM)
Sumber : janes.com