Negoisasi Pembelian Sukhoi Su-35 Untuk TNI AU Masih Tetap Berjalan

09:00
Loading...
radarmiliter.com - Indonesia masih menegosiasikan kesepakatan untuk membeli 9 jet tempur Su-35 dengan Rusia dan belum membatalkannya walaupun ada tekanan Amerika Serikat.
Negosiasi tetap dilakukan selama dua tahun terakhir ini. Karena beberapa masalah seperti perhitungan harga untuk barang yang akan dibarter. Dan kedua negara belum mencapai kesepakatan pertukaran mata uang untuk menggantikan dolar Amerika Serikat yang akan digunakan sebagai bagian pembayaran tunai dari kesepakatan tersebut.
Sukhoi Su-35
Sukhoi Su-35 
Beberapa sumber mengatakan kepada defenseword.net, bahwa perjanjian tahun 2018 lalu tentang penjualan Su-35 antara Jakarta dan Moskow menyangkut mekanisme pendanaan penjualan (barter plus uang tunai). Bukan kesepakatan tentang pengiriman. Perjanjian tersebut juga termasuk offset 35% yang dinegosiasikan secara terpisah antara PT Perusahaan Perdagangan dan Rostec Rusia.
Tahun 2019, kedua belah pihak melakukan negosiasi tentang apa saja yang akan dimasukkan dalam perdagangan barter. Indonesia berencana untuk membeli 11 jet tempur Sukhoi Su-35 dengan timbal balik Rusia membeli barang komoditas seperti karet, minyak sawit mentah, kopi, teh, furnitur dan rempah-rempah senilai sekitar 50% dari harga pembelian Su-35. Perjanjian tersebut ditandatangani oleh mantan Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu dan pemerintah Rusia pada Februari 2018.
Perjanjian itu akan ditindaklanjuti dengan "perjanjian pembelian" yang menentukan syarat pembayaran dan pengiriman. Untuk perjanjian pembelian belum ditandatangani, jelas Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Georgievna Vorobieva pada 18 Desember 2018 untuk kantor berita ANTARA.
"Bagian komoditas dari kesepakatan itu bernilai US $ 570 juta (dari total $ 1,14 Miliar) dan di sini adalah tantangan terbesar karena harga tanaman komersial Indonesia yang diidentifikasi berdasarkan barter (karet, minyak kelapa sawit, kopi, furnitur dan rempah-rempah) terus berfluktuasi," Sumber industri senior memberi tahu defenseword.net. “Tantangan semakin diperparah karena komoditas harus dipasok selama beberapa tahun. Sementara Rusia menginginkan harga komoditas pada harga rata-rata terendah, sedangkan Jakarta ingin diharga yang jauh lebih tinggi, ”tambah sumber itu.
Ryamizard Ryacudu mengatakan pada 2 Juni 2019 kepada TASS saat dalam kunjungan ke Moskow, "Kementerian Pertahanan Indonesia telah menandatangani dokumen pembelian 11 jet tempur Su-35 sementara belum mendapat persetujuan dari kementerian Perdagangan dan Kementerian Keuangan. Perlunya persetujuan dari berbagai kementerian lain muncul karena "akan ada berbagai bentuk pembayaran (tunai dan barter)" .
Selain harga yang adil untuk komoditas Indonesia, Rusia ingin menegosiasikan syarat pembayaran dalam mata uang nasional untuk mengalahkan sanksi Amerika Serikat terhadap perusahaan pertahanan Rusia. "Jakarta belum memulai ini karena kekhawatiran akan dampaknya terhadap perdagangan Indonesia - Amerika Serikat yang masih mendapat surplus perdagangan $ 12 miliar," kata sumber itu.
Rusia telah berhasil menegosiasikan perjanjian perdagangan menggunakan mata uang nasional dengan China dan India. Pembayaran untuk impor militer Rusia ke India dilakukan melalui mekanisme pertukaran Rupee-Rubel. Sementara dengan China melalui mekanisme pertukaran Yuan-Rubel yang terbukti bermanfaat bagi semua pihak.
Amerika Serikat sejauh ini tidak mengajukan UU CATSAA terhadap pembeli senjata Rusia (termasuk India dan Turki). Amerika Serikat menyetujui penjualan sistem pertahanan rudal ke India setelah tandatangan pembelian sistem pertahanan udara S-400 Rusia. Alasan resmi yang diberikan Pantagon untuk membatalkan perjanjian jet tempur F-35 dengan Turki adalah bahwa S-400 "tidak kompatibel" dengan sistem NATO. Para pejabat Amerika Serikat telah berulang kali menekankan bahwa pembeli tradisional peralatan Rusia tidak akan dihukum.
Yang menarik, pembelian jet tempur Su-35 tertuang dalam rencana pengadaan anggaran pertahanan Indonesia untuk tahun 2020 hingga 2024. Menurut dokumen anggaran tersebut, "TNI (Tentara Nasional Indonesia) merencanakan pengembangan sistem komunikasi Network-Centric Warfare (NCW) bagi Angkatan Udara untuk mengintegrasikan semua pesawat tempur, radar, intelijen dan pengintaian (ISR) serta rudal ke dalam satu jaringan terpusat. Dan pengadaan pesawat Airborne Warning and Control System (AWACS), pesawat tanker, serta jet tempur F-16 blok 70/72 dari Amerika Serikat untuk dua skuadron dan sebelas jet tempur Sukhoi dari Rusia."
F-16 Viper
F-16 Viper 
Desember 2019 di Jakarta, Wakil Duta Besar Rusia untuk Indonesia Oleg Kopylov mengatakan pengadaan (jet tempur Sukhoi Su-35) akan berjalan terus dan pihak Rusia "tidak terburu-buru" untuk menindaklanjuti kesepakatan tersebut (karena kompleksitas negosiasi).
Faktor lain, diplomasi pertahanan Indonesia di bawah menteri pertahanan baru Prabowo Subianto tampaknya akan mengganggu penutupan perjanjian Su-35. Menteri pertahanan dan mantan jenderal tersebut telah mengunjungi beberapa negara - Perancis, Jepang, Malaysia dan memiliki rencana untuk mengunjungi beberapa negara lagi untuk terlibat dalam latihan militer dan pengadaan pertahanan. Kunjungan ke Perancis menimbulkan kegembiraan bahwa Jakarta tertarik pada paket senjata termasuk jet Rafale.
Pemikiran baru di bawah menteri Prabowo adalah bahwa Jakarta akan menggunakan pengadaan pertahanan untuk meningkatkan kemampuan manufaktur dalam negeri. Dan menginginkan kesepakatan pertahanan bebas dari ancaman sanksi.
Indonesia sangat berhati-hati membeli senjata buatan Amerika Serikat karena sanksi embargo militer yang pernah diberlakukan sejak 1991 hingga 2006 atas tindakannya di Timur Timur. Dan kondisi pengguna akhir yang ketat terkait penggunaan senjata yang dipasok Amerika Serikat.(paijojr)
Loading...

Share this

Berlangganan via email

Related Posts

Previous
Next Post »

- Berkomentarlah yang sopan dan bijak sesuai isi artikel/ berita;
- Dilarang berkomentar SPAM, SARA, Politik, Provokasi dsb
EmoticonEmoticon