Pemanasan Bomber Amerika Serikat dan Kapal Induk China di Laut China Selatan

radarmiliter.com - Angkatan Udara Amerika Serikat pada Rabu mengumumkan dua pesawat pembom (bomber) B-1B Lancer yang berbasis di Guam sudah melakukan patroli di atas Laut China Selatan. Pada hari yang sama, dua kapal induk China meninggalkan pelabuhan untuk melakukan latihan perang di kawasan laut yang jadi sengketa tersebut.
Patroli dua pembom Lancer B-1B Amerika berlangsung hari Selasa. Ini adalah manuver terbaru dalam peningkatan jumlah demonstrasi militer AS di wilayah tersebut.
Kapal Induk China
Kapal Induk China 
"Kedua pembom menerbangkan misi untuk mendemonstrasikan kemampuan Angkatan Udara untuk beroperasi di mana pun hukum internasional mengizinkan, pada waktu dan tempo yang kita pilih," kata Pasukan Udara Pasifik AS melalui Twitter, seperti dikutip Star and Stripes, Kamis (28/5/2020).
Sementara itu, Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA-N) China sedang mempersiapkan latihan perang yang melibatkan dua kapal induk di Laut China Selatan. Ini akan menjadi latihan tempur pertama bagi China yang melibatkan dua kapal induk sekaligus.
Menurut laporan South China Morning Post, kapal Liaoning dan kapal Shandong telah melakukan pelatihan kesiapan tempur di Laut Kuning bulan ini menjelang penempatan.
"Kelompok tempur kapal induk akan melewati Kepulauan Pratas dalam perjalanan ke lokasi latihan di tenggara Taiwan di Laut Filipina," bunyi laporan itu, mengutip sumber militer China tanpa merinci tanggal latihan tempur.
Tidak jelas apakah Liaoning atau Shandong atau kedua-keduanya yang melanjutkan latihan di tenggara Taiwan, Laut China Selatan. Tanggal pasti manuver kapal raksasa itu juga tidak diungkap.
Mail Online yang berbasis di Inggris melaporkan pada Selasa lalu bahwa rencana untuk mengerahkan kapal induk menjadi kekhawatiran akan terjadinya invasi Taiwan setelah Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan kepada kekuatan politik di AS mengambil hubungan China-AS sebagai sandera dan mendorong kedua negara ke ambang Perang Dingin baru.
"Penyebaran dua kapal induk oleh China akan lebih simbolis daripada substantif," kata Paul Buchanan, seorang analis keamanan Amerika yang berbasis di Auckland, Selandia Baru, Rabu. Dia mencatat bahwa Beijing tidak memiliki banyak pengalaman dalam operasi kapal induk.
"Mereka melakukan postur yang cukup berat, " katanya, seraya menambahkan bahwa latihan semacam itu akan mengasah pengalaman operasional para awak.
"Saya membayangkan AS akan mencermati. Tentu saja, orang Taiwan juga akan melakukannya. Semua negara yang berbatasan dengan Laut China Selatan akan duduk dan memerhatikan tetapi mereka akan tahu ini lebih merupakan tampilan daripada yang lainnya."
Buchanan mengatakan latihan tempur Beijing merupakan tantangan langsung bagi supremasi AS di Laut China Selatan.
"AS memindahkan kapal induknya ke sana sesuka hati tetapi sekarang memiliki pesaing yang serius untuk naik takhta," katanya.(Muhaimin)

China Usir Kapal Perang Amerika Serikat Bersenjata Rudal dari Laut China Selatan

radarmiliter.com - Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China pada Kamis mengusir sebuah kapal perang Amerika Serikat  yang masuk tanpa izin ke perairan teritorial China di lepas Kepulauan Xisha (Paracel) di Laut China Selatan . Kapal yang diusir adalah USS Mustin yang dilengkapi rudal terpandu.
Kepulauan Paracel merupakan wilayah yang jadi sengketa antara China dan beberapa negara Asia Tenggara.
USS Mustin
USS Mustin 
Juru bicara Komando Teater Selatan PLA, Kolonel Senior Li Huamin, mengatakan operasi Washington di tengah pandemi Covid-19 menunjukkan bahwa Amerika adalah sumber yang menyabotase perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan.
Menurutnya, Komando Teater Selatan PLA mengorganisir pasukan Angkatan Laut dan Angkatan Udara untuk mengikuti kapal USS Mustin ketika secara ilegal masuk ke lepas Kepulauan Xisha pada Kamis.
"Pasukan Komando Teater Selatan PLA mengikuti dan memantau jalurnya, mengidentifikasi kapal, memperingatkan dan mengusirnya," kata Li, yang dikutip dari Global Times, Jumat (29/5/2020).
"Tindakan provokatif ini, tindakan navigasi hegemonik terang-terangan, secara serius melanggar kedaulatan dan kepentingan keamanan China serta hukum dan norma internasional terkait, dan secara serius menyabot perdamaian dan stabilitas di wilayah Laut Cina Selatan," ujarnya.
Ini bukan pertama kalinya PLA mengusir kapal perang AS dari Laut China Selatan tahun ini. Peristiwa serupa terjadi pada akhir Januari yang dialami kapal perang USS Montgomery di dekat Kepulauan Nansha (Spratly). Kemudian pada awal Maret dialami kapal USS McCampbell di dekat Kepulauan Xisha dan pada akhir April dialami kapal USS Barry juga di dekat Kepulauan Xisha.
Sebelumnya, Amerika telah mengerahkan dua pesawat pembom B-1B Lancer di atas kawasan Laut China Selatan. Kedua pesawat pembom yang bermarkas di Guam itu melakukan patroli pada hari Selasa.
"Di masa ketika pandemi Covid-19 masih mengguncang dunia, AS mengabaikan keamanan rakyatnya dan tidak fokus pada kontrol epidemi domestik, juga tidak berkontribusi pada kontrol pandemi global, tetapi mengirimkan kapal perang jarak jauh ke Laut China Selatan, memamerkan kekuatannya dan menyebabkan masalah," papar Li.
Menurutnya, hal itu menunjukkan sifat munafik AS dalam berbicara dengan satu cara dan bertindak dalam cara lain, dan sepenuhnya menunjukkan bahwa militer AS adalah sumber bencana yang menyabot perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan.
Global Times mengutip pakar militer China yang tak disebutkan namanya mengatakan AS berusaha untuk membuat operasi seperti itu menjadi rutin, dan PLA telah menunjukkan siap dan mampu menghentikan aksi-aksi militer AS tersebut.
Militer Washington belum berkomentar atas pengusiran kapal perangnya dari wilayah sengketa di Laut China Selatan. Amerika sejatinya tidak terlibat sengketa di wilayah itu, namun juga tidak menerima klaim Beijing atas mayoritas kawasan Laut China Selatan.(Muhaimin)

Jet Tempur Rusia Cegat Bomber Nuklir Amerika Serikat di Atas Laut Hitam

radarmiliter.com - Dua pesawat jet tempur Rusia  mencegat atau mengintersepsi sepasang pesawat pembom (bomber) strategis B-1B Lancer Amerika Serikat(AS) di atas perairan netral Laut Hitam, Jumat. Sepasang pesawat Amerika itu memiliki kemampuan membawa senjata nuklir.
Para pejabat Moskow mengatakan dua pesawat yang dikerahkan untuk intersepsi adalah jet tempur Su-27 dan Su-30. Dalam video yang telah beredar secara online menunjukkan satu dari dua pesawat pembom B-1B didekati sebuah pesawat tempur Moskow.
Jet Tempur Rusia Cegat Bomber Amerika Serikat
Jet Tempur Rusia Cegat Bomber Amerika Serikat 
Pencegatan jet-jet tempur Moskow itu memaksa sepasang pesawat pembom Amerika mengubah jalur penerbangan mereka.
"Jet tempur Su-27P dan Su-30SM dari pasukan pertahanan siaga reaksi cepat udara Distrik Militer Selatan bergegas untuk mencegat target," kata Kementerian Pertahanan Rusia dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari kantor berita TASS, Sabtu (30/5/2020).
"Awak pesawat tempur Rusia mendekati target udara dalam jarak yang aman dan mengidentifikasi mereka sebagai pesawat strategis B-1B, setelah itu pembom AS mengubah jalur penerbangan mereka dan terbang jauh dari perbatasan negara Rusia," lanjut kementerian tersebut.
Menurut kementerian itu, pesawat-pesawat pembom strategis Amerika dilacak oleh radar Rusia pada jarak yang cukup jauh dari perbatasan Rusia. "Penerbangan pesawat tempur Rusia berjalan sesuai dengan aturan internasional tentang penggunaan wilayah udara," imbuh kementerian tersebut.
Setelah menyelesaikan misi intersepsi, kedua jet tempur Moskow kembali ke pangkalan udara mereka.
Militer AS belum menanggapi klaim tersebut. Namun, Angkatan Udara AS di Eropa dan Komando AS-Afrika mengeluarkan pernyataan pada hari yang sama bahwa dua pesawat pembom B-1B Lancer melakukan penerbangan jarak jauh, berdurasi panjang di seluruh Eropa dan wilayah Laut Hitam.
Intersepsi pada Jumat kemarin terjadi hanya dua hari setelah dua jet tempur Rusia dituduh terbang dengan cara yang tidak aman dan tidak profesional saat mencegat sebuah pesawat mata-mata AS di atas Laut Mediterania.
Menurut Angkatan Laut AS, dalam insiden di atas Laut Mediterania, jet-jet tempur Su-35 mengepung sebuah pesawat P-8A Poseidon Amerika."Pesawat-pesawat jet tempur itu menguasai stasiun dekat pesawat mata-mata selama 65 menit," kata Angkatan Laut Amerika.
"Ketika pesawat Rusia beroperasi di wilayah udara internasional, interaksi ini tidak bertanggung jawab. Kami berharap mereka beroperasi dalam standar internasional yang ditetapkan untuk memastikan keamanan," imbuh Angkatan Laut Amerika.(Muhaimin)

Milrem Robotics Luncurkan Ranpur Tanpa Awak Baru Type-X

radarmiliter.com - Perusahaan Estonia, Milrem Robotics sedang mencoba untuk merevolusi industri pertahanan global dengan mengembangkan tipe baru kendaraan tempur tak berawak beroda rantai untuk unit-unit mekanis, yaitu Robotic Combat Vehicle (RCV) yang diberi kode Type-X.
Milrem Robotics selama ini dikenal dengan Unmanned Ground Vehicle (UGV) THeMIS yang dioperasikan oleh beberapa negara, salah satunya angkatan bersenjata Prancis di Mali. Pendiri dan CEO Milrem Robotics Kuldar Väärsi mengatakan bahwa tujuan jangka panjang baru-nya adalah mengganti semua kendaraan tempur infanteri (IFV) gaya lama dengan sistem baru Dia yakin bahwa, seperti di banyak bidang kehidupan lainnya, industri pertahanan akan menjadi semakin tergantung pada robot di masa depan, dan semakin sedikit manusia yang akan terlibat dalam inti operasi tempur.
Milrem Robotics Type-X
Milrem Robotics Type-X 
Apa yang membuat Type-X unik, katanya, adalah kombinasi dari tiga elemen: transmisi hybrid (elektrik dan diesel), kemampuan untuk beroperasi dalam mode otonom sepenuhnya, dan tidak adanya awak kendaraan. Sejauh ini, beberapa kendaraan tempur infanteri yang ada telah dimodifikasi untuk dapat memiliki kemampuan kendali jarak jauh, dan kendaraan berawak opsional juga sedang dibuat. "Saya pikir solusi-solusi ini mirip dengan townhouse, yang memiliki kelemahan baik apartemen dan rumah pada saat yang sama, dengan hampir tidak ada keuntungan," kata Väärsi.
Perusahaan tersebut percaya bahwa Type-X memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan jenis kendaraan tempur infanteri saat ini. Pertama, hampir dua kali lebih murah. Selain itu, dengan bobot 12 ton (26.455 lbs), hampir tiga kali lebih ringan dari IFV , yang berarti bahwa Type-X telah meningkatkan mobilitasnya dan lebih mudah untuk dibawa dan diturunkan dengan pesawat seperti C-130. Dengan berukuran tinggi hanya 2,20 m (87 in.), lebar 2,90m (114 in.) lebar dan panjang 6 m (236 in), Type-X juga memiliki profil yang lebih rendah dan volume yang lebih kecil daripada sebagian besar IFV, membuatnya sulit dilihat di lapangan, keunggulan krusial yang akan lebih disukai adalah jejak panasnya yang rendah. Kendaraan dilengkapi dengan turret berbobot 2 ton yang dipersenjatai dengan kanon otomatis 30mm, dengan opsional 50mm, yang membuat Type-X sama mematikannya dengan sebagian besar IFV lain.
Sistem juga menguntungkan dari biaya perawatan yang rendah karena telah dirancang dengan mempertimbangkan pemeliharaan, menggunakan prinsip line-replaceable unit (LRU, komponen modular yang didesain dapat dengan cepat diganti) .Mesin hybrid dan trek terbuat dari karet juga akan mengurangi biaya secara signifikan.
Type-X mudah untuk diupgrade karena dibangun mengikuti pendekatan modular penuh (sensor dan komponen lainnya dapat ditingkatkan), yang mampu membawa banyak muatan berdasarkan interface yang sama. Seperti halnya THMIS, Type-X mempunyai kemampuan multifungsi. Ini berarti bahwa kanon-nya dapat diganti dengan sistem anti-pesawat terbang, mortir, atau radar jika perlu, dan juga dapat digunakan sebagai platform angkutuntuk peralatan dan pasukan.
Bagaimana Type-X akan digunakan dalam pertempuran sangat tergantung pada struktur angkatan bersenjata, medan dan taktik yang digunakan. Sistem berkemampuan otonom seperti Type-X akan digunakan sebagai pengganda kekuatan (force multiplier) di semua eselon dari peleton hingga tim brigade tempur brigade combat team). Sistem tersebut akan mengurangi waktu reaksi dan mengurangi beban kognitif komandan, memungkinkan seluruh unit untuk dipimpin secara lebih efektif. Juga, platform tak berawak dapat mendukung prinsip mesh networking dengan perencanaan mesh otomatis dan relai komunikasi. Loop OODA (observation-orientation-decision-action) dari komandan dan seluruh unit dapat diproses lebih cepat karena bantuan fungsi otomatis dan kecerdasan buatan (artificial intelligence - AI). Menurut Väärsi, tugas utama robot baru itu adalah untuk mendukung tank tempur utama dan unit mekanis dengan keunggulan jarak jangkauannya yang jauh, 600 km (373 mil) dengan baterai terisi penuh dan tangki bahan bakar JP8 (JP-8 sebenarnya adalah bahan bakar jet, namun kini oleh AS dan sekutu NATO digunakan juga untuk menggantikan bahan bakar diesel) terisi penuh. Baterai diisi ulang saat mesin diesel sedang berjalan. Kemampuan amfibi juga sedang dipertimbangan oleh Milrem untuk masa depan.
Type-X sangat ideal untuk situasi berisiko tinggi di tempat dimana kehadiran pasukan akan terlalu berbahaya. Stasiun kontrol yang mudah dan kemampuan mobilitas yang ditingkatkan akan memungkinkan unit untuk pindah ke area yang sulit dimasuki tanpa membahayakan keamanan kehidupan manusia. Countermeasure khusus juga bisa dipekerjakan secara otomatis, di bawah konsep operasional tertentu.
Siapa yang pertama kali menunjukkan minat pada sistem tempur yang baru itu? Väärsi mengatakan bahwa Milrem Robotics memiliki pelanggan yang sangat penting dalam angkatan bersenjata suatu negara yang telah membayar hampir biaya penuh untuk pengembangannya. Namun hal ini tidak berarti bahwa Milrem Robotic akan kehilangan paten dan hak-haknya atas kendaraan itu. Perusahaan tidak khawatir apakah ada orang yang mau membeli produk yang memasuki pasar. Sebaliknya, negara-negara mengantri untuk bekerja sama dengannya.
Perlu dicatat bahwa Type-X saat ini hanya ada di atas kertas. Komponen untuk prototipe sudah siap, tetapi belum dikirim ke Estonia. Perusahaan berharap untuk merakit prototipe pada akhir musim panas tahun 2020. Produk ini akan memerlukan tiga tahun lagi untuk menjadi produk bersertifikat yang siap dijual. Väärsi mengatakan tidak takut apabila terjadi kegagalan. Sebagian besar pekerjaan telah dilakukan, semua tahapan telah lulus uji software, dan tinggal merakit kendaraan tersebut. "Milrem awalnya merencanakan untuk meluncurkan mockup Type-X di acara Eurosatory 2020," kata Kuldar Väärsi, CEO Milrem pada 27 Mei, tetapi acara pameran pertahanan besar yang dijadwalkan pada Juni ini telah dibatalkan." Kami berencana untuk menyelesaikan prototipe kendaraan pada akhir kuartal ke-3 tahun 2020 dan mulai melakukan pengujian mobilitas pada bulan Oktober."
Apakah awal dari krisis ekonomi besar adalah saat yang tepat untuk meluncurkan proyek baru? Väärsi mengakui bahwa meskipun Milrem Robotics belum mengalami penurunan 90-100% dalam pendapatan seperti yang terjadi pada sektor pariwisata, krisis ini juga mempengaruhinya. Negara-negara melakukan pemotongan pengeluaran pertahanan dan pengembangan militer. Meskipun merupakan hal yang baru dan menarik, solusi robot yang mahal sepertinya tidak dipertimbangkan.
Italia dan Spanyol adalah negara yang paling terkena dampak pandemi Coronavirus di Eropa, mengatakan mereka harus menunda kerja sama mereka dengan Milrem Robotics. Namun, banyak pesanan yang telah diterima perusahaan telah dikonfirmasi oleh kontrak, yang berarti bahwa tahun ini perusahaan seharusnya tidak menghadapi masalah serius. Namun Milrem Robotics juga terpaksa melakukan pemotongan gaji.
Kuldar Vääsi memperkirakan bahwa angkatan bersenjata Estonia akan lebih memilih kontraktor domestik daripada kontraktor asing. Perusahaan-perusahaan Estonia telah memiliki pengetahuan dan fasilitas produksi yang memungkinkan mereka mempertahankan pekerjaan yang ada dan menciptakan yang baru. "Terutama karena industri pertahanan kita telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir," Kata Väärsi. Untuk alasan yang sama, Milrem Robotics baru-baru ini mengatakan kepada Pasukan Pertahanan Estonia bahwa dimungkinkan untuk membangun beberapa ratus perusahaan seperti ini.(Angga Saja-TSM)

Trump Perintahkan Status Khusus Hong Kong Dicabut

radarmiliter.com - Presiden AS Donald Trump mengatakan ia telah memerintahkan pemerintahannya untuk memulai proses penghapusan perlakuan khusus untuk Hong Kong. Kebijakan itu diambil sebagai respon atas rencana China untuk memberlakukan undang-undang keamanan baru di wilayah tersebut.
Ia mengatakan China telah melanggar otonomi Hong Kong dan menyebut langkahnya terhadap Hong Kong adalah sebuah tragedi bagi rakyat Hong Kong, China dan dunia.
Donald Trump
Donald Trump  
"Kami akan mengambil tindakan untuk mencabut perlakuan istimewa Hong Kong," katanya pada konferensi pers di Gedung Putih seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (30/5/2020).
Trump menambahkan bahwa Amerika Serikat juga akan menjatuhkan sanksi pada individu yang dianggap bertanggung jawab atas matinya otonomi di Hong Kong.
Trump mengatakan ia mengarahkan pemerintahannya untuk memulai proses penghapusan perjanjian kebijakan tentang Hong Kong, mulai dari perlakuan ekstradisi hingga kontrol ekspor.
Dia mengatakan dia juga akan mengeluarkan proklamasi pada hari Jumat untuk lebih melindungi penelitian penting universitas dengan menghentikan masuknya warga negara asing dari Cina yang diidentifikasi sebagai risiko keamanan potensial.
Sumber, termasuk pejabat AS saat ini, mengatakan kepada Reuters pada hari Kamis bahwa langkah terakhir, yang telah diharapkan, dapat berdampak 3.000 hingga 5.000 mahasiswa pascasarjana China.
Langkah Trump ini dilakukan seiring rencana China untuk memberlakukan undang-undang keamanan nasional baru di bekas jajahan Inggris itu. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan wilayah itu tidak lagi membutuhkan perlakuan khusus di bawah hukum AS yang memungkinkannya untuk tetap menjadi pusat keuangan global. (Berlianto)

Proyek Drone Gantikan Pesawat R80 dan N245 dari Daftar PSN

radarmiliter.com - Pemerintah melakukan perombakan terhadap daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Ada beberapa proyek baru yang masuk dalam daftar PSN, ada pula yang dikeluarkan seperti proyek pesawat R80 dan N245.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan ada 245 proyek usulan baru untuk masuk ke dalam daftar PSN. Dari usulan itu yang diterima 89 proyek, nilainya mencapai Rp 1.422 triliun.
Proyek N-245
Proyek N-245 
"Dari 245 proyek baru yang memenuhi kriteria sebanyak 89 proyek. Dengan demikian, 156 proyek belum direkomendasikan karena itu masih membutuhkan dukungan kementerian teknis dan perlu kelengkapan dan perlu memenuhi kriteria yang ditetapkan sebagai PSN di mana Presiden harapkan ada dampak kepada masyarakat, terhadap pertumbuhan ekonomi, dan terkait dengan pengembangan sosial ekonomi," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Jumat (29/5/2020).
Sebanyak 89 proyek baru tersebut akan resmi masuk dalam daftar PSN 2020-2024. Proyek baru itu merupakan proyek yang dinilai memiliki dampak terhadap perekonomian secara langsung seperti pembangunan jalan, jembatan, bandara, kawasan industri program lahan sawah dan lain sebagainya.
Selain itu, pemerintah juga memasukkan 3 proyek pengembangan drone. Proyek itu menggantikan proyek pengembangan pesawat R80 dan N245 yang kini dicoret dalam daftar PSN.
"Tiga proyek terkait pengembangan drone itu sebagai pengganti proyek yang dikeluarkan antara lain R80 dan N245. Sehingga dialihkan menjadi teknologi drone yang dianggap lebih cocok dengan situasi saat sekarang dan pengembangannya sudah dimulai oleh PTDI," tuturnya.
R80 sendiri merupakan pesawat besutan almarhum BJ Habibie. Habibie yang meninggal dalam usia 83 tahun mewariskan rancangan pesawat jenis turbo prop R80 yang kini dikembangkan oleh PT Regio Aviasi Industri (RAI) bersama PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Persiapan pembuatan pesawat ini mulai sejak 2013. Pada 2017, R80 akhirnya masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN).

Amerika Serikat Menyetujui Penjualan Sistem Rudal Canggih Patriot ke Kuwait

radarmiliter.com - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) telah menyetujui penjualan komponen sistem pertahanan udara dan rudal canggih Patriot. Washington juga setuju meng-upgrade sistem Patriot yang sudah ada di negara Teluk tersebut.
Pengumuman itu disampaikan Pentagon pada Kamis setelah memberi tahu Kongres tentang sertifikasi penjualan tersebut.
Sistem Rudal Patriot
Sistem Rudal Patriot 
Badan Kerjasama Keamanan Pertahanan (DCSA) Pentagon mengatakan Departemen Luar Negeri telah menyetujui penjualan 84 rudal pencegat yang dikenal sebagai Patriot Advanced Capability (PAC-3) Missile Segment Enhancements (MSEs) dan peralatan terkait dengan perkiraan biaya USD800 juta.
Lockheed Martin dan Raytheon Technologies adalah kontraktor utama untuk radar, peluncur dan rudal pencegat dari sistem pertahanan Patriot.
Notifikasi kepada Kongres AS menyatakan bahwa penjualan ke negara asing telah disetujui, tetapi notifikasi itu tidak menunjukkan bahwa kontrak telah ditandatangani atau negosiasi telah selesai.
Permintaan dari Kuwait juga mencakup transportasi, peralatan organisasi, suku cadang dan perbaikan, peralatan pendukung, peralatan dan alat uji, data teknis dan publikasi, pelatihan personel dan peralatan pelatihan, layanan pemeliharaan, rekayasa kontraktor dan elemen terkait lainnya dari dukungan logistik dan program.
"Penjualan yang diusulkan akan mendukung kebijakan luar negeri dan keamanan nasional Amerika Serikat dengan membantu meningkatkan keamanan sekutu non-NATO utama yang merupakan kekuatan penting bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di Timur Tengah," bunyi pengumuman DSCA, yang dikutip dari UPI, Jumat (29/5/2020).(Muhaimin)

AU Pakistan Terima Pesawat AEW&C Saab 2000 ERIEYE Baru

radarmiliter.com - Angkatan Udara Pakistan menerima pengiriman pesawat Airborne Early Warning and Control (AEW&C) Saab 2000 ERIEYE tambahan. Penerbangan ke Pakistan dilakukan dari Bandara Kota Linköping (Swedia) melalui Athena (Yunani) dan Riyadh (Arab Saudi). Pesawat yang dilengkapi sepenuhnya untuk peringatan dini dan kendali udara, juga dapat digunakan untuk misi keamanan nasional, pengawasan perbatasan, komando dan pengendalian udara, koordinasi manajemen bencana dan untuk pengendalian lalu lintas udara darurat. Swedia, Yunani, Brasil, Meksiko, Pakistan, Thailand, dan Uni Emirat Arab juga merupakan pengguna Erieye.
AEW&C Saab 2000 ERIEYE Pakistan
AEW&C Saab 2000 ERIEYE Pakistan 
AU Pakistan sebagai pelanggan pertama untuk pesawat Saab 2000 AEW&C, melakukan pemesanan pada Saab yang berpusat di Stockholm, pada Juni 2006 senilai Skr 6.9 miliar. Pemerintah Pakistan memperbaharui bagian dari kontrak pada Mei 2007 karena krisis keuangan di negara tersebut. Nilai kontrak dikurangi menjadi Skr 1.35 miliar. Pesawat pertama dari empat pesawat diluncurkan pada April 2008 dan mulai beroperasi pada Oktober 2009. Pesawat kedua dikirim ke Pakistan pada April 2010 untuk memantau wilayah udara India. Pada 2017, Angkatan Udara Pakistan memesan tiga sistem Erieye tambahan dari Saab.
Saab 2000 AEW&C adalah varian dari pesawat turboprop transportasi regional Saab 2000 yang dilengkapi dengan side-looking reconnaissance radar Saab Systems Erieye PS-890 yang dipasang punggung pesawat. Saab Microwave Systems (sebelumnya bernama Ericsson) adalah kontraktor utama untuk radar pengawasan Erieye. Erieye adalah radar active phased array pulse Doppler yang beroperasi pada 3.1GHz hingga 3.3GHz. Radar ini beroperasi mulai tiga menit setelah lepas landas dan selama pesawat melakukan climbing dan menyediakan area pengawasan efektif seluas 500.000 km².
Suite peperangan elektronik pesawat menggunakan electronic support measures (ESM) dan self-protection suite Saab Avitronics HES-21. HES-21 juga menyediakan ground-based support system (EGSS), yang menyediakan data misi untuk sistem peperangan elektronik pesawat dan untuk analisis data yang direkam. Electronic support measures (ESM) terdiri dari digital narrow band and wide band receiver dan antenanya, memberikan probability of intercept (POI) hampir 100%. Receiver digital dilengkapi dengan antena array interferometer.(Angga Saja - TSM)

Taiwan Beli Rudal Anti-Permukaan Harpoon Berbasis Darat dari AS

radarmiliter.com  -  Pemerintah Taiwan berencana membeli rudal berbasis darat Harpoon anti-kapal permukaan/perang buatan Boeing sebagai bagian dari modernisasi militer di tengah ketegangan dengan China komunis.
“Deputi Menteri Pertahanan Taiwan, Chang Che-ping, mengonfirmasi rencana Taiwan membeli rudal Harpoon dari AS untuk menjadi rudal pertahanan garis pantai,” begitu dilansir Reuters pada Kamis, 28 Mei 2020.
Rudal Harpoon
Rudal Harpoon 
AS seperti kebanyakan negara tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan. Tapi, pemerintah AS diwajibkan oleh undang-undang menyediakan dukungan dan pertahanan diri jika mendapat serangan dari negara lain seperti China.
Taiwan bakal menerima pengiriman rudal Harpoon ini pada 2023 jika pemerintah AS dan Kongres setuju melakukan penjualan ini. Selama ini, Taiwan telah meningkatkan kekuatan pertahanan di depan ancaman Beijing.
Beijing melakukan sejumlah latihan militer seperti penerbangan jet tempur dan pelayaran kapal perang di sekitar Taiwan. Saat ini, militer Taiwan terbilang cukup moderen dan terlatih dengan baik menggunakan piranti keras buatan AS.
Namun, China memiliki superioritas kekuatan militer jauh di atas Taiwan. Saat ini China miliki skuadron jet tempur siluman buatan sendiri.
Pemerintah AS telah mengabarkan kepada Kongres pada pekan lalu soal rencana penjualan torpedo canggih kepada Taiwan dengan harga sekitar US$180 juta atau sekitar Rp2.7 triliun.
Keputusan ini bisa membuat hubungan Washington dan Beijing semakin menegang. Ini karena China menganggap Taiwan sebagai salah satu provinsi, yang diharapkan kembali menjadi satu.
Soal rencana penjualan senjata canggih ini, pemerintah China mengecam pemerintahan Presiden AS, Donald Trump. Beijing menilai Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen sebagai separatis yang bakal mendeklarasikan kemerdekaan resmi Taiwan.
Soal ini, Tsai mengatakan Taiwan sudah menjadi negara merdeka dengan nama resmi Republik China.

Dua Jet Tempur Su-35 AU Rusia Intimidasi Pesawat P-8A Poseidon AL AS di Laut Mediterania

radarmiliter.com - Dalam sebuah pernyataan, Angkatan Laut Amerika Serikat mengatakan dua jet tempur Su-35 AU Rusia terbang dengan cara tidak aman dan tidak profesional saat mencegat sebuah pesawat patroli maritim Amerika Serikat pada Selasa, 26 Mei 2020, di atas Laut Mediterania.
Pertemuan itu menandai ketiga kalinya dalam dua bulan bahwa pilot Rusia telah mengintimidasi pesawat Amerika Serikat.
P-8A Poseidon AL AS Dibayangi Su-35 Rusia
P-8A Poseidon AL AS Dibayangi Su-35 Rusia 
"Ketika pesawat Rusia beroperasi di wilayah udara internasional, interaksi itu tidak bertanggung jawab," bunyi pernyataan itu, seperti dikutip laman Fox New, Rabu, 27 Mei 2020.
Insiden tersebut melibatkan dua pesawat milik Rusia, Su-35 dan P-8A Poseidon. Pernyataan tersebut menyebutkan, jet tempur itu telah mendekati pesawat patroli milik AS tersebut.
Selain itu pada hari Selasa juga Amerika menuduh Rusia mengirim jet tempur ke Libya untuk mendukung tentara bayaran Rusia membantu pasukan pemberontak melawan pasukan yang didukung PBB di Tripoli. Rusia mendukung pasukan Jenderal Khalifa Haftar di sana. (Moh Khory Alfarizi)

Xi Jinping Peringatkan Keras India Agar Tidak Macam-Macam dengan China

radarmiliter.com - Ketegangan antara China dan India terus memanas. Baru-baru ini, Presiden China, Xi Jinping, dikabarkan melontarkan peringatan keras kepada India untuk tidak macam-macam dengan negaranya.
Konfrontasi militer China dan India kerap terjadi sepanjang Mei 2020, di daerah perbatasan kedua negara. Pakistan Observer melaporkan, pada 5 Mei lalu sekitar 5.000 personel Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) masuk ke wilayah India melalui lembah Sungai Galwan dan melakukan serangan.
Perbatasan India - China
Perbatasan India - China 
Sepekan kemudian, tepatnya pada 12 Mei armada militer China melakukan serangan di dua tempat sekaligus, lembang Sungai Galwan dan sektor Danau Pangong. Setelah itu, tentara China juga terlibat konfrontasi dengan pasukan India di Demchok, Ladakh Selatan, dan Naku La, Sikkim Utara.
Pakistan Observer juga meyebut bahwa saat ini China sudah mengerahkan hampir 10.000 perseonel Tentara Pembebeasan Rakyat China di wilayah perbatasan dengan India.
Tak cuma itu, Tentara Pembebasan Rakyat juga dilaporkan sudah memobilisasi sejumlah artileri ke wilayah tersebut secara besar-besaran, melewati Garis Kontrol (LAC) sejak pekan ketiga April 2020.
Di sisi lain, pemerintah India sebenarnya sudah pernah meminta China untuk berdialog terkait masalah di perbatasan. Akan tetapi, kabarnya China menolak mentah-mentah permintaan dialog India.
Juru bicara Menteri Luar Negeri China yang tak disebutkan namnya, mengungkap bahwa situasi di perbatasan India secara keseluruhan dalam keadaan stabil dan terkendali. Meskipun, tak menyangkal bahwa situasi di wilayah tersebut masih tegang.
Akan tetapi, juru bicara ini menyebut juga penyelesaian persengketaan wilayah ini dilakukan secara diplomatil. Sementara, China menolak dialog yang ditawarkan oleh pemerintah India.

KSAU Marsekal TNI Fadjar Prasetyo Ungkap Strategi TNI AU di Zaman Revolusi Industri 4.0

radarmiliter.com - Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) baru Marsekal TNI Fadjar Prasetyo menegaskan bahwa dirinya akan mewujudkan TNI AU menjadi Angkatan Udara yang disegani di kawasan.
Ia menggelar entry briefing bersama dengan para pejabat TNI AU, Pangkotama TNI AU, dan Komandan Satuan, melalui telekonferensi di Mabesau, Cilangkap, Jakarta Timur.
Marsekal TNI Fadjar Prasetyo
Marsekal TNI Fadjar Prasetyo  
“Di era Revolusi Industri 4.0 yang sangat dinamis seperti saat ini, TNI AU harus mengedepankan cara kerja yang komunikatif, inklusif, dan kolaboratif,” kata Kasau dilansir dari situs resmi TNI AU Kamis 28 Mei 2020.
“Untuk mencapai itu, tentu dibutuhkan dukungan SDM TNI AU yang berkualitas yaitu memiliki jiwa nasionalisme, penguasaan teknis, kepribadian baik, dan kualitas fisik yang tangguh serta didukung kemampuan literasi,” ujarnya.
KSAU juga menambahkan bahwa setidaknya ada dua jenis literasi yang dapat dijadikan modal berharga bagi prajurit TNI Angkatan Udara dalam menghadapi kemajuan teknologi informasi yang semakin cepat, yaitu literasi baca tulis dan literasi digital.
Selaras dengan hal tersebut, KSAU merumuskan sembilan program prioritas, khususnya terkait strategi pembinaan kemampuan dan pembangunan kekuatan TNI AU yaitu : the new normal, di mana berbagai tugas tetap dapat berjalan dan dampak pandemi dapat ditekan serendah mungkin.
Dengan adanya kebijakan baru dari pemerintah mengenai penerapan New Normal, KSAU juga akan merumuskannya sebagai mekanisme dan prosedur kinerja yang baru. Sehingga hal ini dapat membantu pemerintah dalam memerangi penyebaran virus COVID-19. (Febrika Indirawati)

Diskusi Indonesia dengan Senegal untuk CN-235 kedua Ditunda Karena Larangan Perjalanan

radarmiliter.com - Negosiasi antara PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Angkatan Udara Senegal (Armée de l'Air du Senegal) untuk pesawat CN-235 kedua telah ditunda karena larangan perjalanan terkait Covid-19.
Negosiasi yang terakhir kali dijelaskan pada Singapore Airshow 2020 pada bulan Februari disebut telah mencapai tahap akhir, sekarang diperkirakan tidak dilanjutkan lagi sampai tahun 2021, kata seorang perwakilan PTDI yang berbicara kepada Janes pada 26 Mei.
 CN-235 MPA
 CN-235 MPA 
Senegal menandatangani CN-235 pertamanya dengan PTDI pada November 2014 dan pesawat kemudian dikirim pada Januari 2017. Pesawat dikirim dalam konfigurasi quick-change, dan dapat melakukan berbagai misi termasuk evakuasi medis, tugas angkut umum, dan angkut VIP.
Untuk pesawat kedua, AU Senegal sedang mempertimbangkan CN-235 varian pesawat patroli maritim (MPA) yang mirip dengan pesawat milik TNI-AL, kata perwakilan PTDI.
AU Senegal belum menyampaikan pilihan mereka untuk sistem misi yang akan digunakan dalam MPA mereka tetapi pesawat MPA TNI-AL, sensor CN-235 termasuk diantaranya magnetic anomaly detector CAE AN/ASQ-508, dan radar Thales Ocean Master atau Telephonics APS-143C(V)3(Batch 2).(Angga Saja-TSM)

DESAER Brasil dan CEiiA Portugal akan Kembangkan Pesawat Angkut Ringan ATL-100

radarmiliter.com - Perusahaan Brasil Desenvolvimento Aeronáutico (DESAER) bekerja sama dengan Pusat Pengembangan Teknik dan Produk Portugal (Centro de Engenharia e Desenvolvimento de Produto - CEiiA) untuk melanjutkan pengembangan pesawat ringan multi-role twin-truboprop ATL-100. Kesepakatan yang diungkapkan pada pertengahan Mei lalu, akan memungkinkan DESAER dan CEiiA untuk bersama-sama mengembangkan, memproduksi, dan memasarkan ATL-100. Pesawat tersebut akan dibuat dalam varian sipil dan militer. Versi militer akan mampu melakukan peran-peran seperti angkut pasukan, dukungan logistik, search and rescue, penerjunan pasukan, patroli maritim, liaison, pengawasan perbatasan, evakuasi medis, dan operasi pasukan khusus.
Ilustrasi  Pesawat Angkut Ringan ATL-100
Ilustrasi Pesawat Angkut Ringan ATL-100 
ATL-100 akan memiliki berat take-off maksimum 7.500 kg, kecepatan jelajah 380 km/jam, panjang 16 m, tinggi 6 m, rentang sayap 20 m, muatan maksimum 2.500 kg, jangkauan jelajah maksimum 1.500 m, dan ketinggian operasi maksimum 25.000 kaki. Dengan konfigurasi untuk transportasi penumpang (hingga 19 orang) dan untuk kargo (2,5 ton), pesawat ini bertujuan untuk “memenuhi kebutuhan transportasi regional di daerah berpenduduk padat dan di daerah paling terpencil, membutuhkan sedikit dukungan infrastruktur di darat dan kemungkinan mendarat di landasan pendek yang tidak beraspal".
Fase industrialisasi dan komersialisasi akan segera dimulai, dan “dalam semua fase, proyek akan dilakukan oleh para profesional Portugal dan Brasil di bidang infrastruktur yang berlokasi di Portugal dan Brasil. CEiiA dan DESAER menganggap bahwa kemitraan ini akan menambah keterampilan pelengkap untuk sektor dirgantara di Portugal dan Brasil, selain menjadi proyek penting untuk inovasi teknologi dan penciptaan pendapatan dan pekerjaan di kedua negara.
ATL-100 akan berada dalam kelas yang sama dengan pesawat-pesawat seperti de Havilland Canada DHC-6 Twin Otter, Harbin Y-12 dan pesawat-pesawat baru seperti Cessna SkyCourier 408 dan PTDI N-219.(Angga Saja-TSM)

Xi Jinping: China Siap Perang untuk Laut China Selatan dengan Negara Manapun

radarmiliter.com - Presiden China, Xi Jinping memerintahkan militer yang bertanggung jawab memantau Laut China Selatan (LCS) dan Taiwan untuk meningkatkan kompetensinya dengan memperkuat latihan.
Xi mengatakan perkuatan latihan militer bertujuan untuk menyiapkan diri saat menangani segala macam kondisi darurat.
Liaoning Strike Group
Liaoning Strike Group 
Komando Teater Selatan China memiliki tanggung jawab berat dalam beberapa tahun terakhir terkait upaya pengamanan Laut China Selatan.
"Penting untuk memperkuat misi dan memusatkan persiapan berperang. Kita perlu mempertimbangkan semua situasi kompleks dan membuat rencana darurat yang sesuai," ujar Xi dalam pidatonya seperti mengutip lembaga penyiaran negara, CCTV seperti mengutip South China Morning Post.
"Kita harus meningkatkan latihan kesiapan tempur, latihan bersama, dan latihan konfrontasi untuk meningkatkan kemampuan prajurit dan persiapan untuk perang," ujarnya menambahkan.
Rincian pidatonya tidak dirilis ke publik oleh media pemerintah hingga Jumat (22/5) lalu.
Xi melakukan kunjungan ke komando militer sebagai bagian dari agenda empat hari perjalanannya ke Provinsi China Selatan. Kunjungannya kali ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan di tengah hambatan ekonomi dan meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat.
Salah satu misi utama Komando Teater Selatan adalah mengawasi Laut Cina Selatan, sebuah wilayah di mana ketegangan dan aktivitas militer yang melibatkan China, AS, dan kekuatan lain.
Pengamat militer dari Nanyang Technologi University Singapura Collin Koh mengatakan ucapan Xi kali ini menyiratkan sikap modal dan penegasan kembali klaim teritorial Beijing di Laut China Selatan.
"Kemungkinan ini dimaksudkan sebagai sinyal khusus kepada AS dan semua pihak yang Beijing anggap sebagai penyebab provokasi (di perairan yang disengketakan)," ujar Koh, peneliti studi internasional Nanyang University.
Menurut Koh, pidato Xi kepada Komando Teater Selatan juga dinilai sebagai sebuah peringatan yang jelas bagi pasukan pro-kemerdekaan di Taiwan, karena wilayah militer itu berbagi tanggung jawab dengan Komando Teater Timur untuk memantau pulau itu. (ans/evn)

Pembangunan Prototipe Bomber Strategis PAK DA Telah Dimulai

radarmiliter.com - Rusia telah memulai pembangunan prototipe PAK DA pertama, pembom strategis jarak jauh baru Angkatan Dirgantara Rusia.
"Rusia telah memulai pembangunan pembom stealth strategis pertamanya dalam program Perspective Aviation Complex for Long-Range Aviation (Perspektivnyi Aviatsionnyi Kompleks Aal'ney Aviatsii - PAK DA)," kata narasumber dalam industri tersebut sebagaimana dikutip oleh TASS pada tanggal 26 Mei.
Ilustrasi
Ilustrasi 
"United Aircraft Corporation (UAC) akan bertanggung jawab atas produksi elemen badan pesawat. Pengembangan dokumentasi desain kerja selesai, pengiriman bahan telah dimulai," tambah narasumber itu.
Sumber kedua mengatakan kepada TASS bahwa pembangunan kokpit pesawat sudah berlangsung. "Perakitan akhir seluruh mesin akan selesai pada 2021," katanya.
Draft proyek pesawat telah disetujui pada Desember tahun lalu. Biro Desain Tupolev mulai mengembangkan dokumentasi desain kerja, dan mulai membangun bagian dan elemen dari unit uji PAK DA.
Pada awal Februari, kementerian pertahanan Rusia mengumumkan pihaknya menandatangani kontrak dengan pengembang PAK DA untuk memulai produksi untuk kemungkinan pengiriman pada tahun 2027.
"Kementerian Pertahanan Federasi Rusia telah menandatangani semua kontrak yang diperlukan untuk memulai produksi pembom jarak jauh PAK DA. Uji penerbangan pesawat dijadwalkan pada 2027," kata Alexey Krivoruchk, ​​Deputi Menteri Pertahanan Rusia, sebagaimana oleh media Zvezda yang dikelola Kementerian Pertahanan Rusia.
"Karakteristik pesawat telah disepakati, semua dokumen kontrak yang diperlukan untuk produksi prototipe telah ditandatangani, tahap desain persiapan sedang berlangsung," kata Krivoruchko.
Seminggu kemudian, Krivorochko mengatakan prototipe mesin pesawat pembom tersebut akan dikirim untuk pengujian awal pada akhir 2020.
Pesawat PAK DA akan memiliki jangkauan operasional 12.000 km dan kecepatan subsonik. Pesawat akan memiliki kemampuan untuk tetap mengudara hingga 30 jam sambil membawa 30 ton persenjataan nuklir.(Angga Saja-TSM)

Indonesia Belum Bayar Biaya Pengembangan KF-X, COVID-19 Hambat Ekspor Industri Pertahanan Korsel

radarmiliter.com - Proyek jet tempur Korea Selatan KF-X senilai 18 triliun won ($ 14 miliar) menghadapi penundaan pembayaran di tengah pandemi COVID-19, sementara para pejabat yang terlibat didalamnya telah memastikan hal itu tidak berarti proyek ditunda.
Korea Aerospace Industries - satu-satunya pabrikan pesawat di Korea Selatan - saat ini sedang mengembangkan pesawat tempur generasi berikutnya dengan Indonesia.
Mockup KFX
Mockup KFX 
Diluncurkan pada tahun 2016, proyek KF-X bertujuan untuk mengembangkan jet tempur generasi baru dan akan diproduksi massal 180 unit pada tahun 2026. Proyek ini, yang terbesar dalam sejarah Korea, masing-masing membutuhkan 8 triliun dan 10 triliun won untuk pengembangan dan produksi massal. Indonesia bertanggung jawab atas 20 persen biaya pembangunan, atau 1,8 triliun won. Namun, Indonesia telah menunda pembayarannya akhir-akhir ini, dengan sejumlah 500,2 miliar won (sekitar $ 405,35 juta) yang jatuh tempo pada bulan April lalu.
“Biasanya, kontrak pertahanan antara perusahaan pertahanan dan militer melibatkan jaminan. Namun, proyek KF-X tidak melibatkan jaminan karena merupakan proyek pengembangan bersama berdasarkan nota kesepahaman, bukan kontrak pertahanan. Indonesia seharusnya membayar bagiannya setiap tahun,” kata seorang pejabat militer Korea Selatan.
MOU ditandatangani pada tahun 2010 antara Administrasi Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan (DAPA) dan militer Indonesia.
Karena proyek tidak memiliki jaminan, tidak ada pengaruh untuk memaksa Indonesia memenuhi tenggat waktu pembayaran. Berdasarkan kesepakatan itu, Indonesia akan menggunakan 50 jet tempur, dan sisanya dari Korea.
"KAI tidak berada dalam posisi untuk mengomentari status anggaran, tetapi pada jet tempur next generation yang sedang dikembangkan sesuai rencana dan akan diperkenalkan pada tahun 2021," kata seorang pejabat perusahaan.
Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering adalah perusahaan pertahanan lain yang dipengaruhi oleh ketidakpastian dari Indonesia.
Meskipun Indonesia telah memesan pembelian senilai $ 1 miliar kepada DSME untuk memproduksi tiga kapal selam 1.400 ton pada bulan April tahun lalu, pembayaran uang muka masih belum diterima.
“Angkatan Laut Indonesia belum membayar uang muka, tetapi begitu pembayaran selesai, hampir 100 persen Indonesia akan membayar sisa kesepakatan $ 1 miliar karena Bank Mandiri yang dikelola pemerintah negara itu memberikan jaminan,” kata seorang pejabat DSME.
Sementara itu, Hanwha Defense mengatakan wabah COVID-19 menambah kesulitan dalam upaya untuk memenangkan kontrak pertahanan di luar negeri. Saat ini, sistem pertahanan udara jarak pendek hybrid Biho, yang dilengkapi dengan rudal permukaan-ke-udara jarak pendek LIG Nex1 Chiron dan Redback Infantry Fighting Vehicle telah terpilih untuk proyek militer di India dan Australia.
"Ketika negara-negara menyesuaikan anggaran mereka untuk menanggapi wabah COVID-19, ada tantangan dalam rencana kami untuk memenangkan kontrak pertahanan," kata seorang pejabat perusahaan Hanwha.
"Namun, belum ada gangguan terkait kontrak yang telah ditandatangani."
Militer India, yang berencana membelanjakan $ 130 miliar dalam lima hingga tujuh tahun ke depan untuk memodernisasi angkatan bersenjatanya, telah memilih sistem rudal buatan Korea Selatan untuk diakuisisi pada Oktober 2018, meskipun kesepakatan itu belum ditandatangani. Sementara, program Kendaraan Tempur Infantri (IFV) Land 400 Phase 3 Australia, yang bertujuan untuk pengadaan hingga 400 IFV modern, bernilai antara $ 6,3 miliar hingga $ 9,4 miliar.(Kim Byung-wook).(Angga Saja-TSM)

Kementerian Pertahanan Rusia Tandatangani Kontrak untuk Dua Kapal Induk Helikopter

radarmiliter.com - Kementerian Pertahanan Rusia telah menandatangani kontrak dengan galangan kapal Zaliv di Kerch untuk pembangunan dua kapal pendarat universal (UDC)(универсальных десантных кораблей (УДК)) pertama dengan nilai total sekitar 100 miliar rubel. Informasi dilaporkan oleh narasumber TASS dari kalangan industri militer.
“Kontrak telah ditandatangani, total biayanya sekitar 100 miliar rubel. Peletakan lunas kapal akan dilakukan dalam beberapa minggu mendatang," kata narasumber itu.
Kontrak Kapal Induk Helikopter
Kontrak Kapal Induk Helikopter 
TASS tidak memiliki konfirmasi resmi tentang informasi kontrak tersebut. Layanan humas dari pabrik Zaliv mengatakan kepada TASS bahwa perusahaan itu secara teknis siap untuk membangun kapal induk untuk kepentingan Angkatan Laut Rusia, tetapi mencatat bahwa mereka tidak memiliki informasi tentang kesepakatan dan waktu peletakan lunas kapal.
Seperti narasumber TASS dalam industri pembuatan kapal yang melaporkan sebelumnya, displacement kapal dari kelas baru untuk armada Rusia itu sekitar 25 ribu ton, dengan panjang maksimum sekitar 220 meter. Satu kapal UDC akan membawa lebih dari 20 helikopter berat di atas kapal, akan memiliki ruang docking untuk pendaratan kapal dan akan dapat mengangkut hingga 900 pasukan marinir.
Kapal pendarat universal, yang juga disebut kapal induk helikopter atau secara umum sering disebut sebagai landing helicopter dock (LHD), mampu membawa sejumlah helikopter berat untuk berbagai keperluan, mengangkut beberapa ratus hingga 1.000 pasukan marinir; kapal dilengkapi dengan dock untuk boat atau landing craft, serta mengangkut kendaraan lapis baja.(Angga Saja-TSM)
Sumber : tass.ru

Italia Ungkap Penjualan Helikopter Leonardo ke Mesir

radarmiliter.com - Pemerintah Italia telah mengungkapkan penjualan helikopter militer Leonardo yang belum terkonfirmasi ke Mesir, menurut dokumen yang diungkapkan pada akhir Mei ini.
Menurut Kementerian Luar Negeri dan Kerjasama Internasional Italia, Leonardo telah menjual 24 helikopter AW149 dan delapan helikopter AW189 kepada militer Mesir dengan harga sekitar EUR871 juta (USD 957 juta). Penjualan tersebut dicatat dalam laporan ekspor senjata 2019 kementerian tersebut ke Senat Republik Italia.
Penjualan Helikopter Leonardo ke Mesir
Penjualan Helikopter Leonardo ke Mesir 
Dokumen-dokumen tidak mengungkapkan informasi lebih lanjut mengenai jadwal waktu produksi atau pengiriman, peran pesawat terbang, atau cabang militer Mesir mana yang akan menerimanya.
Sementara laporan pemerintah Italia tidak memberikan rincian tentang peran yang dimaksudkan helikopter tersebut dalam militer Mesir, pemerintah Italia mencatat bahwa AW149 akan dikonfigurasi dengan delapan kursi (biasanya dapat membawa hingga 18 penumpang), sedangkan AW189 yang berukuran relatif sama akan dikonfigurasikan dengan maksimum 19 kursi. Konfigurasi ini menunjukkan bahwa AW149 akan melakukan tugas militer spesialis yang membutuhkan pemasangan perlengkapan misi khusus, sedangkan AW189 akan digunakan untuk angkut penumpang.
Pihak Leonardo belum mengomentari mengenai laporan tersebut atau mengenai penjualan yang disebut dalam laporan itu.(Angga Saja-TSM)

AL Inggris Uji Tembak Sistem Rudal Martlet Baru

radarmiliter.com - Helikopter Wildcat Angkatan laut Inggris baru-baru ini telah melakukan live firing dengan sistem senjata rudal Martlet untuk pertama kalinya, yang dibeli oleh Defence Equipment and Support (DE&S) Kementerian Pertahanan Inggris.
Awak helikopter Wildcat AL Inggris telah membuktikan kemampuan rudal baru tersebut untuk melindungi kapal induk Inggris.
Sistem Rudal Martlet
Sistem Rudal Martlet  
Ditembakkan langsung dari helikopter Wildcat HMA Mk2 untuk pertama kalinya, sistem senjata Martlet yang dibeli oleh DE&S telah berhasil diuji di MOD Aberporth di lepas pantai Welsh.
Diluncurkan dari platform dalam 0,3 detik, rudal telemetri tersebut kemudian mempercepat lajunya hingga mencapai satu setengah kali kecepatan suara (992 mph).
Ini menandai tonggak penting dalam program Future Anti-Surface Guided Weapons (FASGW), yang akan mempersenjatai helikopter yang ditugaskan sebagai bagian dari HMS Queen Elizabeth Strike Group pada pelayaran perdananya ditahun depan.
Captain Mark Langrill, Wildcat Delivery Team leader, DE&S, mengatakan: "Penembakan ini menandai langkah penting ke depan dalam integrasi rudal Martlet yang fleksibel dan unik ke dalam helikopter yang luar biasa (ini) untuk memberikan Angkatan Laut Kerajaan kemampuan kelas dunia.
Dikelola oleh Lightweight & Medium Attack Systems (LMAS) dan Wildcat delivery team, Martlet menggabungkan rudal lightweight multirole missile (LMM), yang dikembangkan oleh Thales di Belfast, untuk segera memasuki kedinasan Angkatan Laut dan Angkatan Darat Inggris dalam peran pertahanan udara jarak pendek .
Rudal Martlet menawarkan kemampuan unik untuk mengalahkan ancaman asimetris dan teroris di lingkungan pesisir, seperti Fast Inshore Attack Craft (FIAC), RIB atau bahkan jet ski. Konsep pemandu sinar laser presisi dari LMM dan stabilisasi peluncur yang akurat telah diperlihatkan untuk pertama kalinya di TDP yang disponsori oleh Kementerian Pertahanan Inggris dengan beberapa penembakan dari T23 Frigate di lepas pantai Pembrokeshire ke target FIAC yang dikendalikan secara operasional dan representatif. Rudal memiliki berat 13kg, melaju pada kecapatan Mach 1,5, memiliki jangkauan melebihi 6 km, dan kemampuan peluncuran dengan segera.
Komandan Wildcat Maritime Force, Matthew Boulind mengatakan: “Tes penembakan yang sukses ini menunjukkan bahwa helikopter Wildcat akan siap untuk membantu mempertahankan kapal induk kelas Queen Elizabeth dan strike group-nya pada tahun-tahun yang akan datang. Angkatan Laut dan Angkatan Darat Inggris telah mengoperasikan helikopter Wildcat ke dalam kedinasan lima tahun lalu. Penembakan Martlet hari ini adalah tonggak yang sangat signifikan dan merupakan kesuksesan besar bagi industri bersama dan tim Kementerian Pertahanan. ”
Martlet sebelumnya telah berhasil diluncurkan dari kapal HMS Sutherland, tetapi peran utamanya adalah untuk digunakan oleh helikopter Wildcat.(Angga Saja-TSM)

Helikopter Militer Rusia Jatuh, Semua Penumpang Meninggal Dunia

radarmiliter.com - Helikopter militer milik Kementerian Pertahanan Rusia dilaporkan jatuh di sebuah bandara di pedalaman wilayah Chukotka pada Selasa (26/5).
Gubernur Chukotka, Roman Kopin, menuturkan insiden itu menewaskan semua penumpang yang berjumlah empat orang.
Helikopter Militer Mi-8 Rusia
Helikopter Militer Mi-8 Rusia 
Kopin memaparkan helikopter itu jatuh di sebuah bandara militer yang kerap digunakan juga untuk keperluan sipil.
"Ada tiga kru helikopter dan satu teknisi yang menaiki helikopter itu. Seluruh empat orang itu meninggal dunia," kata Kopin seperti dilansir AFP.
Mengutip Kementerian Pertahanan Rusia, TASS melaporkan helikopter itu jatuh ketika tengah melakukan uji coba penerbangan usai menjalani perawatan teknis.

Angkatan Laut Korsel Hanya Akan Kirim Dua Kapal Perang ke RIMPAC 2020

radarmiliter.com - Angkatan laut Korea Selatan dilaporkan hanya akan mengirim dua kapal perang ke latihan maritim multinasional yang dipimpin oleh Amerika Serikat (AS), yang akan diadakan pada bulan Agustus mendatang di tengah pandemi COVID-19.
Menurut sebuah sumber militer Korea Selatan pada hari Minggu (24/05/20), angkatan laut Korea Selatan berencana untuk mengirim sebuah kapal induk Aegis berbobot 7.600 ton dan sebuah kapal lain berbobot 4.400 ke latihan Rim of the Pacific (RIMPAC) yang akan diadakan pada tanggal 17-31 Agustus di dekat Hawaii.
Rim of the Pacific (RIMPAC)
Rim of the Pacific (RIMPAC)  
RIMPAC merupakan latihan bersama perang laut internasional terbesar di dunia yang digelar dua tahun sekali dan dirancang untuk meningkatkan kemampuan operasional gabungan Korea Selatan, AS, Jepang, dan negara-negara Pasifik lainnya.
Angkatan laut AS telah memutuskan untuk meminimalkan skala latihan tahun ini karena kekhawatiran atas penularan COVID-19. Latihan ini biasanya diadakan selama lebih dari sebulan, tetapi tahun ini disingkatkan menjadi sekitar dua minggu.
Seiring dengan keputusan tersebut, angkatan laut Korea Selatan juga memutuskan untuk secara signifikan mengurangi pengerahan aset dan pasukannya yang akan berpartisipasi dalam latihan tersebut.

Amerika Serikat Kirim 7 Kapal Selam Dipersenjatai Torpedo dan Rudal Tomahawk ke Indo-Pasifik

radarmiliter.com - Satuan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) mengerahkan kapal selam dalam operasi tanggap darurat di wilayah Pasifik Barat di tengah meningkatnya ketegangan hubungan dengan Tiongkok
Pengerahan kapal selam tersebut untuk mendukung kebijakan bebas dan terbuka di Indo-Pasifik. Tujuannya adalah untuk melawan operasi Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan.
USS Alexandria SSN-757
USS Alexandria SSN-757 
Untuk itu, AS mengerahkan tujuh kapal selam, termasuk enam kapal selam yang berbasis di Guam, USS Alexandria yang berbasis di San Diego dan beberapa kapal berbasis di Hawaii, akan bergerak dalam satu armada perang.
Komandan Sub-Pasukan Pasifik, Laksamana Muda Blake Converse mengatakan, operasi ini merupakan demonstrasi kesediaan mereka untuk membela kepentingan dan kebebasan navigasi di bawah hukum internasional.
Kapal selam serang ini dipersenjatai dengan torpedo dan rudal jelajah Tomahawk dan juga mempu melakukan pengawasan rahasia.
Angkatan Laut AS telah mempertahankan armada kapal perang di Pasifik Barat sebagai untuk kekuatan di kawasan tersebut di tengah meningkatnya ketegangan dengan China di Laut China Selatan dan silang pendapat terkait pandemi virus corona.
AS menuduh China meningkatkan pendudukannya atas pulau-pulau buatan manusia dan menganggu negara-negara lain di tengah upaya mereka menangani krisis covid-19 yang berawal dari Wuhan, China.
Platform intelijen Stratfor mengatakan, AS dan China telah mempertahankan kecepatan operasional yang kuat di Laut Cina Selatan di tengah meningkatnya ketegangan dan covid-19.
Menteri Pertahanan AS, Mark Esper mengatakan: "Ketika militer AS menangani covid-19 di rumah, kami tetap fokus pada misi keamanan nasional kami di seluruh dunia," ujarnya seperti dilansir Express, pekan lalu.
Banyak negara telah beralih ke dalam untuk pulih dari pandemi, dan sementara itu, pesaing strategis kami berusaha untuk mengeksploitasi krisis ini untuk keuntungan mereka dengan mengorbankan negara lain. AFP/P-4

Kim Jong Un Instruksikan Penguatan Sistem Militer Antinuklir

radarmiliter.com - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memerintahkan para pemimpin militer untuk meningkatkan kemapuan militernya guna mengantisipasi adanya perang nuklir.
Berdasarkan laporan Kantor Berita Pusat Korea seperti dikutip Bloomberg Minggu (24/5/2020), pertemuan Komisi Militer Pusat Ketujuh dari Partai Buruh Korea membahas penempatan pasukan bersenjata strategis negara itu dalam siaga tinggi, dan meningkatkan daya tahan tentara.
Kim Jong Un
Kim Jong Un 
Dalam pembahasan tersebut, Kim Jong Un berbicara tentang perlunya memperbaiki peralatan dan perlengkapan militer nasional. Dia menambahkan bahwa masalah itu membuat negara lebih sulit untuk mempertahankan diri dari pasukan asing.
Di sisi lain, media pemerintah juga merilis foto-foto Kim yang hadir di pertemuan itu. Salah satu fotonya adalah ketika Kim berdiri di depan papan presentasi dengan penunjuk putih panjang yang mengarah ke sesuatu yang tampak seperti foto hitam-putih buram.
Laporan itu adalah konfirmasi pertama yang jelas dari kegiatan Kim di Korea Utara sejak dia difoto pada upacara May Day dan pembukaan pabrik pupuk pada tanggal 1 Mei 2020.
Sebelumnya, banyak pihak berspekulasi mengenai kondisi kesehatan dari Kim lantaran dia tidak hadir dalam acara tahunan untuk merayakan ulang tahun Kim Il Sung, kakek Kim Jong-un sekaligus pendiri Korea Utara, pada 15 April lalu.
Para pejabat AS sempat mengklaim mereka diberi tahu jika Kim, 36, berada dalam kondisi kritis setelah menjalani prosedur operasi kardiovaskular. Seorang penasihat kebijakan luar negeri Korea Selatan kemudian mengatakan Kim Jong-un justru dalam kondisi sehat.
Jejak kesehatan Kim Jong-un telah menjadi perhatian umum selama bertahun-tahun. Sebaliknya, kondisi kesehatan pemimpin adalah salah satu rahasia Korea Utara yang paling dijaga ketat.(Asteria Desi Kartika Sari)