Tiongkok Desak Prancis untuk Tidak Jual Dagaie Mk2 ke Taiwan - Radar Militer

16 Mei 2020

Tiongkok Desak Prancis untuk Tidak Jual Dagaie Mk2 ke Taiwan

radarmiliter.com - Tiongkok menyerukan Prancis pada hari Selasa (12/05) untuk membatalkan kontrak senjata dengan Taiwan, memperingatkan bahwa kesepakatan dengan negara pulau itu dapat membahayakan hubungan diplomatik antara Paris dan Beijing.
Angkatan Laut Taiwan mengatakan bulan lalu akan mengupgrade sistem pengecoh rudal frigat Lafayette buatan Perancis yang telah berusia 25 tahun dimana hal tersebut telah meningkatkan ketegangan diplomatik kedua negara.
Decoy Dagaie Mk2
Decoy Dagaie Mk2 
Media Taiwan mengatakan kesepakatan itu bernilai lebih dari T $ 800 juta (US $ 26,8 juta) untuk membeli peluncur decoy Dagaie Mk2 dari unit perusahaan Perancis DCI. Seorang narasumber yang mengetahui masalah itu mengatakan kepada AFP bahwa kementerian pertahanan Taiwan memiliki kontrak untuk memodernisasi enam fregat buatan Perancis.
"Tiongkok telah menyatakan keprihatinannya yang mendalam kepada Prancis," kata kementerian luar negeri di Beijing kepada AFP. "Kami menentang semua penjualan senjata atau pertukaran militer dan keamanan dengan wilayah Taiwan," katanya.
"Kami mendesak Prancis untuk membatalkan rencana penjualan senjata ini ke Taiwan untuk menghindari merugikan hubungan Tiongkok-Perancis."
Prancis menjual enam fregat ke Taiwan senilai US $ 2,8 miliar pada tahun 1991, menyebabkan pembekuan hubungan diplomatik antara Paris dan Beijing.
Beijing masih mengklaim pulau yang berdiri sendiri itu sebagai bagian dari wilayahnya dan menunggu penyatuan kembali, dengan kekerasan jika perlu, meskipun kedua pihak telah menjalankan pemerintahan secara terpisah selama lebih dari tujuh dekade.
Sementara itu, Prancis menepis peringatan Tiongkok pada hari Rabu (13/05) tentang penjualan senjata ke Taiwan, dengan mengatakan pihaknya menerapkan kesepakatan yang ada dan mengatakan bahwa Beijing seharusnya fokus pada memerangi pandemi COVID-19.
Tiongkok mengatakan Taiwan adalah bagian dari "satu Tiongkok", dan bahwa prinsip ini harus diterima oleh negara mana pun yang memiliki hubungan diplomatik dengan Tiongkok. Penjualan senjata ke Taiwan selalu sangat sensitif dan secara teratur memicu reaksi keras dari Beijing.
Kementerian luar negeri Prancis menanggapi dengan mengatakan bahwa Prancis mengikuti kebijakan "satu Tiongkok" sebagaimana disepakati dengan Beijing pada tahun 1994 dan terus mendesak kedua belah pihak untuk mengadakan dialog.
"Dalam konteks ini Prancis menghormati komitmen kontraktual yang dibuatnya dengan Taiwan dan tidak mengubah posisinya sejak 1994," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan. "Menghadapi krisis COVID-19, semua perhatian dan upaya kita harus difokuskan pada upaya memerangi pandemi ini."
Perselisihan ini aneh bagi Paris, yang memesan jutaan masker dari Tiongkok karena wabah Coronavirus.(Angga Saja-TSM)

Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda

- Berkomentarlah yang sopan dan bijak sesuai isi artikel/ berita;
- Dilarang berkomentar SPAM, SARA, Politik, Provokasi dsb