Kapal Induk USS Nimitz (CVN-68) dan USS Ronald Reagan (CVN-76) AL AS Latihan Bersama di Laut Filipina

radarmiliter.com - Dua kapal induk milik Amerika Serikat (AS) mulai latihan bersama di Laut Filipina, Minggu (28/6/2020) waktu setempat. Latihan itu dimulai sehari setelah para pemimpin Asia Tenggara menentang klaim China atas seluruh wilayah Laut China Selatan dengan alasan historis.
ASEAN memaparkan pernyataan yang dikeluarkan oleh Vietnam mewakili 10 negara anggota bahwa Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) tahun 1982 harus menjadi dasar dari hak kedaulatan di wilayah jalur air yang disengketakan.
Kapal Induk Amerika Serikat
Kapal Induk Amerika Serikat 
"Kami menegaskan kembali bahwa UNCLOS 1982 adalah dasar untuk menentukan hak maritim, hak berdaulat, yurisdiksi, dan kepentingan sah atas zona maritim," kata pernyataan ASEAN pada Sabtu (27/6/2020).
Kapal induk USS Nimitz (CVN-68) dan USS Ronald Reagan (CVN-76) Carrier Strike Groups sendiri memulai latihan pada Minggu (28/6/2020) untuk meningkatkan "komitmen responsif, fleksibel, dan abadi" AS sebagai perjanjian pertahanan timbal balik dengan sekutu dan mitra di Indo-Pasifik. Demikian pernyataan Angkatan Laut AS.
Latihan itu dilakukan tepat seminggu setelah operator lain, USS Theodore Roosevelt (CVN-71), melakukan operasi bersama mereka di daerah yang sama. Ini merupakan peristiwa langka. Sebab, sangat jarang tiga kapal induk AS beroperasi pada saat yang sama di wilayah Pasifik Barat.
"Kami secara agresif mencari setiap peluang untuk memajukan dan memperkuat kemampuan dan kecakapan kami dalam melakukan semua operasi perang domain," kata Laksamana Muda George Wikoff selaku komandan Carrier Strike Group 5, dikutip dari Japan Times.
"Angkatan Laut AS tetap siap dengan misi dan dikerahkan secara global. Operasi dual carrier menunjukkan komitmen kami terhadap sekutu regional, kemampuan kami untuk secara cepat memerangi kekuatan di Indo-Pasifik, dan kesiapan kami untuk menghadapi semua pihak yang menentang norma-norma internasional yang mendukung stabilitas regional."
Fokus AS pada sekutu regional akan menambah tekanan pada China dalam misi mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan, meskipun Filipina, Vietnam, Malaysia, Taiwan, dan Brunei memiliki klaim yang sama dan tumpang tindih.
Namun, Kementerian Pertahanan China membantah pihaknya berupaya untuk memperkuat kontrol Laut China Selatan. China malah menuduh AS "meningkatkan ancaman terhadap China yang disebut dalam mengabaikan fakta, mencoba untuk menabur perselisihan di antara negara-negara regional, serta menstigma anti-China" di tengah wabah global Covid-19.
Sebelum latihan bersama, USS Ronald Reagan dan USS John C. Stennis Carrier Strike Groups sempat melakukan operasi gabungan di Laut Filipina pada November 2018. Sementara pada September 2014, kapal USS George Washington dan USS Carl Vinson Carrier Strike Groups dioperasikan di laut China Selatan dan Timur. (Thea Fathanah Arbar)

Tiongkok akan Latihan Militer di Sekitar Kepulauan Paracel yang Disengketakan

radarmiliter.com - Badan Keselamatan Maritim Tiongkok pada hari Minggu (28/06) mengumumkan rencana Tiongkok untuk melakukan latihan militer di sekitar Kepulauan Paracel di Laut Cina Selatan, wilayah di mana Tiongkok dan Vietnam saling mengklaim kedaulatan.
Latihan akan diadakan dari tanggal 1 hingga 5 Juli, dan menurut pengumuman tersebut, semua kapal dilarang berlayar di daerah itu selama periode itu, sebuah langkah yang dapat menyebabkan reaksi besar dari Vietnam.
Latihan Militer
Latihan Militer  
Tiongkok telah melakukan latihan militer di dekat Kepulauan Paracel hampir setiap tahun dalam upaya untuk memperkuat kendali atas wilayah tersebut dan berusaha membuatnya tidak dapat diubah.
Dalam langkah keras yang serupa, Tiongkok pada bulan April lalu mengumumkan pembentukan distrik administratif baru di Laut Cina Selatan - satu berkedudukan di Paracel dan yang lainnya Kepulauan Spratly. Ada juga beberapa langkah agresif oleh kapal-kapal Tiongkok yang tidak hanya memprovokasi Vietnam tetapi juga meningkatkan kewaspadaan negara-negara tetangga lainnya.
Selama KTT ASEAN virtual yang diselenggarakan oleh Vietnam pada hari Jumat lalu (26/06), para pemimpin menyatakan keprihatinan atas cara-cara tidak bersahabat Tiongkok. Pernyataan ketua ASEAN menekankan "pentingnya menjaga dan mengutamakan perdamaian, keamanan, stabilitas, keselamatan dan kebebasan navigasi dan terbang di atas Laut Cina Selatan."
Cina telah mengklaim bahwa Laut Cina Selatan adalah "kepentingan inti" yang penting untuk mempertahankan kontrol politik Partai Komunis Tiongkok dan telah menunjukkan sikap keras kepala dalam melakukan latihan militer di kawasan tersebut.(Angga Saja-TSM)

Natuna Memanas Lagi, Bakamla Boleh Beli Senjata Militer

radarmiliter.com - Anggota Komisi I DPR Bobby Adhityo Rizaldi membeberkan bahwa Badan Keamanan Laut (Bakamla) akan dibolehkan membeli senjata militer mulai Juni tahun ini. Menurutnya, itu akan memperkuat pengawasan atas perairan Indonesia terutama di sekitar Natuna yang dekat dengan Laut China Selatan. Bobby mendukung langkah pemerintah yang membolehkan Bakamla membeli senjata militer. Dia menilai sejauh ini Indonesia masih cenderung lemah dalam pengawasan di perairan Natuna dekat Laut China Selatan.
Bakamla
Bakamla 
"Selama ini hanya memiliki daya dukung senapan ringan dengan jangkauan di bawah 1 km, yang tentu dengan dinamika Laut Natuna Utara, tidak mencukupi," kata Bobby saat dihubungi CNNIndonesia.com, Minggu (28/6).
Bobby menjelaskan bahwa Bakamla hanya memiliki sekitar 10 kapal patroli. Namun, belum dilengkapi senjata standar militer (Naval Gun System).
Keadaan tersebut, menurut Bobby, membuat Indonesia cenderung lemah jika dibandingkan dengan China yang sejauh ini kerap memprovokasi di Laut China Selatan. Bobby mengatakan kapal coast guard China dilengkapi senjata jenis Norinco dengan jarak tembak lebih dari 5 km.
Ketika Bakamla diperbolehkan membeli senjata militer, Bobby melihat postur keamanan laut Indonesia akan menjadi lebih kuat. Oleh karena itu dia mendukung.
"Dengan Permenhan 12 nomor 2020, sangat mendukung supremasi keamanan laut sipil kita disana. Sekarang Bakamla bisa tembak nelayan asing yang masuk ke wilayah Indonesia tanpa izin, dan tidak akan dianggap agresi militer," kata Bobby.
Anggota Komisi I DPR Dave Laksono mengutarakan hal senada. Dia mendukung jika Bakamla dibolehkan membeli senjata. Terlebih, selama ini kapal-kapal Bakamla tidak dilengkapi senjata dalam menjaga perairan.
Akan tetapi, bukan senjata militer untuk berperang, tetapi untuk membela diri atau melakukan pengawasan di wilayah perairan.
"Bukan artileri-artileri yang gede, tetapi untuk membela diri. Kalau untuk perang kan untuk merusak secara masif, tapi kalau membela diri itu untuk menjaga," kata Dave.
Dave juga menilai Bakamla harus diperkuat lagi dengan suatu undang-undang. Diketahui, pembentukan Bakamla dilakukan berdasarkan Peraturan Presiden No. 178 tahun 2014. Dave yakin Bakamla akan menjadi lebih kuat jika diatur dalam suatu UU ketimbang Perpres.
Diketahui, China melakukan provokasi di Laut China Selatan sejak beberapa pekan lalu. Mereka masih mengklaim itu wilayah perairannya.
Gelagat China memancing reaksi Amerika Serikat yang juga turut unjuk kekuatan di sekitar Laut China Selatan. Pihak Indonesia, dalam hal ini Kementerian Luar Negeri, masih menyatakan dengan tegas untuk tidak mengakui klaim China atas perairan di Laut China Selatan.(bmw/gil)

AU Filipina akan Terima Enam UAV Hermes 900 pada Tahun Ini

radarmiliter.com - Angkatan Udara Filipina (PAF) dalam e-buletin triwulanan 'Lead One Today' terbaru mengungkapkan bahwa mereka pada tahun ini akan menerima pengiriman enam UAV (unmanned aerial vehicle) terakhir dari sembilan UAV medium-altitude, long-endurance (MALE) Hermes 900 yang dipesan dari Elbit Systems Israel untuk meningkatkan kemampuan intelligence, surveillance, and reconnaissance (ISR) AU Filipina.
UAV Hermes 900
UAV Hermes 900 
“Untuk kemampuan ISR, AU Filipina akan menerima pengiriman dua unmanned aerial system (UAS) yang terdiri dari [total] enam Hermes 900, stasiun pengendali darat, terminal data darat , dan peralatan pendukung lainnya,” kata pihak AU Filipina dalam buletin tersebut, menunjukkan bahwa pengiriman UAS pertama yang terdiri dari tiga Hermes 900 telah selesai.
Gambar dari dua Hermes 900 pertama AU Filipina muncul di media sosial pada November 2019, dan Elbit mengumumkan pada 7 Mei 2020 bahwa varian patroli maritim Hermes 900 yang menampilkan kemampuan penyelamatan yang baru dikembangkan baru-baru ini telah diserahkan ke negara Asia Tenggara yang dirahasiakan. Pelanggan itu diyakini adalah Filipina.
Pengadaan MALE UAV adalah bagian dari program modernisasi AU Filipina yang sedang berlangsung, yang juga mencakup akuisisi tiga UAV taktis long endurance Hermes, dua di antaranya diserahkan pada Agustus 2019.
Manila juga telah memesan sejumlah UAV Skylark LEX dan Skylark 3 yang tidak diberitahukan jumlahnya- yang juga merupakan buatan Elbit Systems - bersama dengan sistem kontrol darat, peralatan pendukung, pelatihan, dan dukungan logistik yang terintegrasi.(Angga Saja-TSM)
Sumber : janes.com

Opini : ASEAN Menghadapi Tekanan Militer Berkepanjangan

radarmiliter.com - Mulai Ahad kemarin dua kapal induk AS yaitu CVN Nimitz dan CVN Ronald Reagan melakukan latihan perang skala penuh empat dimensi di perairan Spratly barat daya Filipina . Ini bagian dari keteguhan sikap AS untuk melindungi hak-hak maritim dan kebebasan navigasi internasional. Kapal induk yang lain CVN Theodore Roosevelt ditarik sedikit ke atas menjaga Selat Taiwan. Luar biasa dinamika ini.
Dan China tetap show of force. Sebagai jawabannya awal bulan Juli ini armada angkatan lautnya mengadakan latihan militer di perairan Paracel. Persis di depan hidung Vietnam, bersebelahan dengan Spratly. Artinya ada dua kekuatan militer besar sedang berhadapan head to head di Laut China Selatan (LCS). Sementara di selatan LCS, di Natuna sudah bersiaga penuh sejumlah KRI dan Brigade komposit Gardapati Indonesia.
Kapal Induk Amerika Serikat
Kapal Induk Amerika Serikat 
Sepekan ini tiga pesawat anti kapal selam milik AS sedang menguntit pergerakan kapal selam China mulai dari selat Taiwan sampai LCS. Pertempuran intelijen sedang terjadi. Intelijen AS dikenal sangat akurat memantau dan mensuplai informasi. Ruang kendali manajemen pertempuran diliputi suasana ketegangan. Jangan sampai salah pencet.
ASEAN baru saja mengeluarkan statemen bersama, menolak klaim China terhadap LCS. Diprakarsai Vietnam, pernyataan sikap itu berdasarkan Konvensi PBB tentang hukum laut internasional UNCLOS 1982. Perairan ZEE secara ekonomi dikuasai oleh negara pantai yang ada disekitarnya. Jadi jelas tidak mengakui "juluran lidah naga" yang menjulur dari Hainan sampai Natuna dengan alasan historis.
Hari-hari mendatang dan untuk jangka waktu yang panjang ASEAN menghadapi tekanan militer yang terus menerus di perairan ZEE LCS. Vietnam berada di garis depan dan paling tersiksa dengan pamer otot Paman Mao. Instruksi China jelas, tidak boleh ada pergerakan kapal-kapal di perairan Paracel selama latihan militer China mulai 1 Juli ini. Larangan itu tentu membuat Vietnam bereaksi keras.
AS saat ini sudah mempersiapkan penempatan 3 radar mobile intai strategis berskala luas untuk Indonesia dan Malaysia. Menlu AS Mike Pompeo mengatakan pasukan AS ditarik dari Jerman untuk dipindahkan ke wilayah hot spot Asia Tenggara dan Asia Timur. Sudah ada gelar pasukan AS sebanyak 375.000 prajurit di sepanjang Indo Pasifik.
Bagaimana ASEAN melangkah ke depan dengan kondisi ini? Diperlukan kesamaan sikap. Pernyataan sikap terbaru ASEAN yang menolak klaim China adalah kemenangan diplomasi. Bahwa ASEAN masih mampu merapatkan barisan meski pun kita meyakini ada tiga negara ASEAN yaitu Laos, Kamboja dan Myanmar yang berada dalam pengaruh China.
Dinamika persinggungan ekonomi internasional yang terkait dengan kepentingan nasional masing-masing negara ASEAN bisa merubah pernyataan sikap bersama. China adalah negara pengekspor terbesar di dunia dan pengimpor terbesar kedua di dunia. Dan sejujurnya China tidak akan terbendung lagi untuk menjadi kekuatan ekonomi nomor wahid mengalahkan AS.
Bagi ASEAN tidak ada gunanya mengambil opsi memusuhi China secara militer, juga secara ekonomi. Karena kepentingan nasional masing-masing. Indonesia, misalnya persinggungan ZEE dengan China sama juga dengan persinggungan ZEE kita dengan Vietnam. Beda halnya dengan Vietnam, Filipina, Brunai dan Malaysia. Seluruh ZEE nya dicaplok China. Hanya menyisakan teritori nasional 12 mil laut dari pantai.
Kita dengan Vietnam masih berunding soal batas ZEE di Anambas. Tapi kita tidak mungkin berunding dengan China soal persinggungan ZEE di utara Natuna. Kalau kita mau berunding itu sama saja kekalahan dan kesalahan diplomasi. Karena klaim China tidak punya dasar hukum internasional.
Atas nama kepentingan nasional itu pula kita tidak perlu hanyut dalam drama LCS yang sudah menahun. Proporsional saja dan tahu diri. Kita dan ASEAN tidak mungkin bisa mengalahkan kekuatan militer dan ekonomi China. Harus ada kekuatan penyeimbang dan AS adalah jawabannya.
Perkuatan militer jelas perlu. Namun kejelian diplomasi dan melihat peluang sangat perlu. Misalnya kalau memang harus ikut aliansi pertahanan bersama AS, mengapa tidak. Tetapi hubungan ekonomi dengan China tetap berlangsung. Biarlah AS bersama Australia, Jepang dan Korsel berada di garis depan LCS, sebagai payung dan bumper. Drama ini masih panjang jalan ceritanya.
Prediksi kita tidak sampai terjadi konflik terbuka namun jalan menuju perang dingin semakin nyata. Sangat dimungkinkan ada penempatan pasukan aliansi, kapal perang dan jet tempur secara permanen di sepanjang teritori demarkasi LCS. Bisa di Filipina, Malaysia, Vietnam dan juga Indonesia. Semua bisa terjadi.
****
Semarang, 30 Juni 2020
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
Sumber : Forum Studi Militer

Mesir Beli 500 MBT T-90MS Rusia

radarmiliter.com - Kementerian Pertahanan dan Produksi Militer Mesir menyepakati perjanjian dengan perusahaan Rusia Uralvagonzavod (UVZ) dan agen ekspor senjata Rusia Rosoboronexport untuk membuat secara lisensi 500 tank tempur utama T-90MS. Angkatan Darat Mesir bermaksud mengganti semua tank tempur utama T-55/54 dan T-62, serta semua tank yang relatif lama, dan akan menggantinya dengan tank T-90. Perusahaan Uralvagonzavod akan membangun fasilitas untuk merakit tank-tank T-90MS di bawah lisensi di Mesir, menyusul perjanjian yang ditandatangani dengan Moskow. Kemungkinan produksi lokal tank T-90MS di Mesir tidak dilakukan secara penuh, karena sejumlah besar komponen T-90MS akan diimpor dari Rusia.
MBT T-90MS Rusia
MBT T-90MS Rusia 
AD Mesir memiliki banyak tank yang kurang modern. Kairo memiliki 34 tank T-80U dan 1.100 M1A1 Abrams, namun masih memiliki 840 unit tank T-54/55 dan 500 unit T-62, hanya 200 yang beroperasi, sisanya masih dalam penyimpanan. Masih ada 300 tank M60A1 dan 850 M60A3 Amerika yang telah menua. Angkatan Darat Mesir sedang mempersiapkan untuk mengoperasikan hanya dua jenis tank di unit lapis baja masa depannya, yaitu M1A1 Abrams AS dan T-90 Rusia. AD Mesir akan melengkapi divisi lapis baja dengan tank T-90, sementara model M1 Abrams akan berada di divisi mekanis Angkatan Darat Mesir.
T-90MS adalah versi ekspor terbaru dari tank tempur utama T-90. Tank ini dilengkapi dengan mesin 1.130 hp, perangkat penglihatan penembak PNM Sosna-U, RWS UDP T05BV-1 dengan senapan mesin 7,62 mm, GLONASS, sistem navigasi inersial, explosive reactive armour (ERA) Relikt yang melindungi lebih banyak bagian tank, dan steering wheel baru. Turret bustle yang removable juga dipasang, yang menyediakan penyimpanan untuk delapan amunisi tambahan. 4 kamera video memberikan lingkup penglihatan 360° sekitar tank. T-90MS memiliki thermal imager yang ditingkatkan yang dapat mendeteksi tank pada jarak lebih dari 3300 meter.(Angga Saja-TSM)

Lockheed Martin: Jet Tempur Siluman F-35 Tak Bisa Terbang saat Badai Petir

radarmiliter.com - Varian jet tempur siluman F-35A Joint Strike Fighter (JSF) buatan Amerika Serikat (AS) yang populasinya paling banyak digunakan saat ini tidak dapat terbang dalam kondisi badai petir.
Produsennya, Lockheed Martin, mengatakan kondisi itu terungkap setelah ditemukan kerusakan pada salah satu sistem yang digunakannya untuk melindungi diri dari petir.
Untuk terbang dengan aman dalam kondisi badai petir, F-35 bergantung pada Onboard Inert Gas Generation System atau OBIGGS yang memompa udara yang diperkaya nitrogen ke dalam tangki bahan bakar untuk mematikannya. Tanpa sistem ini, jet tempur generasi kelima yang terkenal mahal dan canggih bisa meledak jika disambar petir.
 Jet Tempur Siluman F-35A
 Jet Tempur Siluman F-35A 
Namun, kerusakan pada salah satu tabung yang mendistribusikan gas inert ke tangki bahan bakar ditemukan selama pemeliharaan depot rutin F-35A di Kompleks Logistik Ogden Pangkalan Angkatan Udara Hill di Utah. Demikian dipaparkan Lockheed Martin dalam dalam sebuah pernyataan yang dirilis hari Rabu.
Lockheed untuk sementara menghentikan pengiriman jet tempur F-35 dari 2 hingga 23 Juni karena perusahaan memvalidasi apakah pesawat-pesawat itu benar-benar menginstal sistem OBIGGS atau belum. "Namun, tampaknya anomali ini terjadi di lapangan setelah pengiriman pesawat," lanjut penyataan Lockheed Martin seperti dikutip Defense News, Jumat (26/6/2020).
Juru bicara Lockheed Martin Brett Ashworth mengatakan sejak penghentian sementara itu perusahaan sudah mengirim lagi dua unit F-35.
Karena tidak dapat dipastikan bahwa sistem OBIGGS akan berfungsi dengan baik jika jet itu terkena petir, Kantor Program Gabungan (JPO) F-35 telah memilih untuk melembagakan pembatasan penerbangan.
"Sebagai tindakan pencegahan keselamatan, JPO merekomendasikan kepada komandan unit bahwa mereka menerapkan pembatasan penerbangan petir untuk F-35A, yang membatasi penerbangan dalam jarak 25 mil dari petir atau badai," imbuh Lockheed Martin.
“Kami bekerja sama dengan JPO F-35 pada investigasi akar penyebab tindakan korektif untuk menentukan langkah selanjutnya.”
Menurut laporan Defense News, masalah ini tampaknya hanya memengaruhi varian F-35A yang lepas landas dan mendarat secara konvensional. Varian ini banyak digunakan oleh Angkatan Udara AS dan mayoritas pelanggan internasional.
Desain OBIGGS sedikit berbeda pada varian F-35B yang lepas landas dan mendarat secara vertikal karena ada kipas pengangkat pesawat. Sedangkan masalah pada varian F-35C belum teramati.
F-35 selama ini dijuluki Lightning II atau Petir II dengan klaim memiliki sistem proteksi terhadap petir. Ironisnya, badai petir justru menjadi masalah yang memalukan bagi jet tempur generasi kelima ini di sepanjang perkembangannya.
F-35 dilarang terbang dalam jarak 25 mil dari petir di awal 2010 setelah penguji senjata Pentagon menemukan kekurangan dengan sistem OBIGG asli dalam mendapatkan gas inert yang cukup ke dalam tangki bahan bakar. Pembatasan itu dicabut setelah OBIGGS dirancang ulang pada tahun 2014. (Muhaimin)
Sumber :  sindonews.com

Militer Cina Rekrut Petarung MMA untuk Pasukan Perbatasan

radarmiliter.com - Militer Cina merekrut petarung MMA (Mixed Martial Arts) untuk pasukan perbatasan setelah bentrokan dengan tentara India di Lembah Galwan.
20 petarung MMA berasal dari Enbo Fight Club di provinsi Sichuan di barat daya Cina dan akan membentuk pasukan Plateau Resistance Tibiff Mastiffs yang bermarkas di Lhasa, ibu kota wilayah otonomi Tibet, menurut stasiun televisi CCTV pada 20 Juni, dikutip dari South China Morning Post, 28 Juni 2020.
Militer Cina Rekrut Petarung MMA
Militer Cina Rekrut Petarung MMA  
Klub MMA ini dikenal karena menghasilkan petarung yang terus berkompetisi di turnamen internasional seperti Ultimate Fighting Championship di Amerika Serikat.
Pengumuman itu muncul setelah bentrokan paling mematikan dalam beberapa dasawarsa antara pasukan Cina dan India di sepanjang perbatasan kedua negara yang diperebutkan di Himalaya.
Tentara dari kedua negara dilaporkan terlibat dalam bentrokan fisik berjam-jam, dengan sedikitnya 20 tentara India terbunuh. Cina belum merilis jumlah korban di pihaknya, namun media India melaporkan jumlah korban jiwa di pihak Cina dua kali lipat dari korban India. Cina membantah laporan angka korban jiwa itu.
"Jika negara membutuhkan kita, Enbo Fight Club dengan sepenuh hati akan menyelesaikan tugas yang lebih menantang. Mengenai apakah petarung kami ikut serta dalam konflik beberapa hari yang lalu, jangan tanya saya, saya tidak berwenang menjawab," kata pemilik klub En Bo.
Perekrutan milisi lain termasuk personel sipil yang berspesialisasi dalam teknologi komunikasi, pendakian gunung dan pertambangan, surat kabar militer resmi, The PLA Daily melaporkan. Mereka akan berada di bawah Komando Teater Barat Tentara Pembebasan Rakyat Cina (PLA).
Tidak jelas kenapa militer Cina merekrut petarung MMA ke dalam barisan tentara perbatasan. Tetapi berdasarkan kesepakatan yang diteken 1996, India dan Cina dilarang menembakkan peluru atau bom jenis apapun di wilayah Line of Actual Control (LAC) garis perbatasan dua negara yang menjadi sengketa, sehingga perselisihan kedua tentara biasanya berakhir dengan adu fisik.
Cina dan India, yang keduanya memiliki kekuatan nuklir, telah saling menyalahkan atas bentrokan di Lembah Galwan di Ladakhon pada 15 Juni.
Daerah dengan iklimnya yang keras dan dataran tinggi itu dekat dengan Aksai Chin, daerah yang disengketakan yang diklaim oleh India tetapi dikendalikan oleh Cina, menurut Daily Express.
Kematian selama bentrokan 15 Juni adalah kematian pertama dalam bentrokan antara kedua pihak dalam hampir setengah abad.
Namun, ketegangan yang sudah berlangsung lama antara India dan Cina mengenai LAC telah meningkat lagi dalam minggu-minggu sebelum insiden tersebut.
Tidak jelas apakah pasukan petarung MMA Mastiff Tibet akan dikerahkan ke perbatasan dengan India, tetapi misi utama mereka adalah untuk membantu pasukan patroli perbatasan dan pasukan khusus dalam pelatihan bela diri, menurut laporan Tencent News.

Mengenal Micro Loitering Munition WARMATE Buatan Polandia

radarmiliter.com - Warmate adalah micro loitering munition atau sering disebut sebagai "drone kamikaze" yang dikembangkan oleh perusahaan Polandia WB Electronics. Warmate dapat dilengkapi dengan beberapa muatan yang berbeda, termasuk hulu ledak fragmentasi, HEAT (High Explosive Anti-Tank) dan termobarik seberat 1400 gr. Dengan muatan yang berbeda, Warmate dapat menghancurkan kendaraan lapis baja ringan, unit infantri, atau kubu pertahanan musuh.
Micro Loitering Munition WARMATE
Micro Loitering Munition WARMATE 
Warmate mempunyai rentang sayap 1,59 m dan panjang 1,17 m, sehingga dapat dibawa oleh 2 prajurit infantri serta dapat dipasang pada kendaraan. Warmate menggunakan propulsi motor elektrik, sehingga senyap dalam pengoperasiannya. Drone kamikaze tersebut dalam penggelarannya terdiri dari Ground Control Station (GCS) yang portabel dan unit drone beserta peluncurnya. GCS dilengkapi dengan data link dua arah (bidirectional) digital dan terenkripsi, dan antena tracker otomatis. Data link mempunyai jangkauan 12 km.
Warmate diluncurkan dengan perangkat pelontar pneumatic ringan, kemudian terbang diketinggian 100-500m, mampu mencapai ketinggian maksimum 3.000m dan terbang dengan kecepatan maksimum ketika menyerang hingga 150 km/jam. Warmate mampu terbang selama 90 menit dengan jangkauan operasional mencapai 15 km. 
Mode penerbangan yang dapat dilakukan diantaranya; Loiter Flight Mode, Fly to Coordinate, Cruise to Waypoint, dan Automatic Attack. Penerbangan dapat dilakukan secara otomatis sepanjang sebagian besar penerbangannya mengikuti flight plan yang diprogramkan, yang mencakup juga ketinggian dan kecepatannya. Flight plan dapat dengan mudah diubah ketika drone dalam penerbangan.
Warmate juga dipromosikan oleh pembuatnya dapat menjadi alternatif yang baik untuk peluru kendali anti-tank dengan kemampuannya untuk beroperasi dalam radius yang jauh lebih besar, memungkinkan deteksi yang nyaman dan pengamatan sasaran yang potensial dalam rentang waktu yang relatif besar.
Baru-baru ini, National Chung-Shan Institute of Science and Technology (NCSIST) Taiwan menunjukkan minatnya pada Warmate untuk enam drone. NCSIST diketahui telah membuat loitering munition sendiri dan memamerkannya pada Taipei Aerospace & Defence Technology Exhibition pada tahun lalu. Kemungkinan hal tersebut berhubungan dengan rencana NCSIST dalam pengembangan drone kamikaze kecil. 
Warmate juga telah ditawarkan kepada Angkatan Pertahanan Australia dengan menggandeng perusahaan lokal Australia, Cablex Pty Ltd untuk memproduksi Warmate di Australia. Warmate selain digunakan oleh AD Polandia, juga telah digunakan oleh salah satu anggota NATO (kemungkinan Turki), Ukraina dan Uni Emirat Arab.(Angga Saja-TSM)

CMV-22B Osprey, Pesawat Tiltrotor Pertama Perkuat Angkatan Laut AS (US Navy)

radarmiliter.com - Pesawat tiltrotor pertama bergabung ke barisan armada Angkatan Laut Amerika Serikat, Senin 22 Juni 2020. CMV-22B Osprey menggantikan tempat pesawat kargo C-2 Greyhound dalam peran carrier onboard delivery (COD). Osprey akan mengangkut mulai dari surat, suplai makanan, personel, sampai mesin pesawat tempur F-35 dari pangkalan di darat ke kapal-kapal induk yang sedang beroperasi di tengah samudera.
Pesawat Osprey itu touched down di Naval Station North Island di San Diego, California, disambut upacara seremonial kecil. Osprey akan tergabung dalam skuadron VRM-30 bentukan dua tahun lalu. Pesawat itu juga menjadi yang pertama dicat putih dan abu-abu pucat, jenis warna untuk mengidentifikasinya sebagai pesawat tak bersenjata alias nontempur.
CMV-22B Osprey
CMV-22B Osprey 
CMV-22B menawarkan beberapa kelebihan daripada C-2A yang terbatas operasionalnya pada landasan panjang beberapa ribu kaki. Fleksibilitas dari desain tiltrotor memungkinkan CMV-22B bisa mendarat dan lepas landas di hamper setiap permukaan yang rata. Pesawat terbaru bahkan bisa beroperasi dari kapal perang amfibi kelas Wasp dan America dan pangkalan apung ekspedisi Angkatan laut yang baru menyamai kemampuan helikopter Seahawk.
Tapi, satu alasan utama Angkatan Laut Amerika memilihnya menggantikan C-2A adalah karena kemampuannya memuat mesin jet tempur F-35. Ini karena jet-jet tempur F-35 versi Angkatan Laut Amerika, yakni F-35C, akan segera dikerahkan ke kapal induk USS Carl Vinson pada tahun depan. Pesawat Osprey bersama skuadron VRM-30 juga akan ikut berlayar di atas kapal induk itu tahun depan.
Tapi bukan berarti tak ada kelemahan yang dimiliki CMV-22B. Pesawat tiltrotor ini hanya memiliki jangkauan jelajah 1.150 mil--bandingkan dengan kemampuan C-2A yang bisa sampai 1.400 mil. Itu pun jangkauan terjauh dari semua varian Osprey setelah menggunakan tambahan tangki bahan bakar. Tapi sebagian kelemahan ini bisa dimitigasi oleh kemampuan Osprey untuk isi bahan bakar di udara, yang tidak bisa dilakukan C-2A. Selain itu Osprey juga hanya bisa mengangkut 3 ton kargo, ketimbang C-2A yang bisa sampai 5 ton.
CMV-22B Osprey memiliki sebuah sayap besar dengan dua mesin turboshaft Rolls-Royce T406. Pesawat ini bisa merotasikan mesin sayapnya menjadi vertikal untuk lepas landas dan pendaratan gaya helikoper. Begitu mengudara, pesawat ini akan merotasikan kembali sayapnya 90 derajat dan terbang seperti halnya pesawat baling-baling ganda pada umumnya. Konfigurasi ini membuatnya lebih cepat daripada kemampuan terbang helikoper, yakni melaju sampai 280 knot.
Pesawat CMV-22B yang melayani Angkatan Laut Amerika ini adalah yang ketiga setelah satu di Korps Marinir dan yang kedua di Angkatan Udara. Marini Amerika menerbangkan variannya sebagai transport serang dan Angkatan Udara menggunakan untuk operasi khusus jarak jauh dan SAR.
Angkatan Darat Amerika sejauh ini menolak memanfaat jasa CMV-22. Tapi matra yang satu ini dikabarkan sedang menguji jenis tilrotor yang lain, Bell V-280 Valor dan Sikorsky-Boeing SB>1 Defiant sebagai kandidat pengganti UH-60 Blackhawk sebagai helikopter kelas medium.
Secara keseluruhan Angkatan Laut Amerika Serikat menginginkan 39 CMV-22B Osprey senilai $ 4,2 miliar atau lebih dari Rp 60 triliun.

Militer Korsel Beli Kanon Hanud Swa-Gerak Buatan Dalam Negeri

radarmiliter.com - Badan Administrasi Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan (DAPA) pada tanggal 27 Juni lalu mengumumkan bahwa mereka telah menandatangani kontrak senilai 250 miliar won ($ 200 juta) dengan Hanwha Defense Co. untuk membeli sistem kendaraan anti-aircraft gun wheeled (AAGW) 30mm untuk militer negara itu.
AAGW yang baru dikembangkan tersebut akan menggantikan artileri pertahanan udara KM167A3 Vulcan Air Defense System mulai tahun depan, Yonhap melaporkan mengutip pejabat DAPA. Vulcan telah beroperasi selama lebih dari 30 tahun pada AD dan AU Korea Selatan.
AAGW
AAGW  
AAGW memiliki jarak tembak 3 kilometer, berarti 1,6 kali lebih jauh dari Vulcan. Dibutuhkan 18 personel untuk operasi tingkat kompi, dibandingkan 48 personel untuk Vulcan.
Sistem kanon hanud swa-gerak ini dilengkapi dengan Electro Optical Targeting System (EOTS) dengan fungsi IRST built-in yang dikembangkan oleh Hanwha Systems Co., salah satu dari sekitar 200 perusahaan, sebagian besar merupakan perusahaan Korea Selatan yang membentuk tim untuk program pengembangannya.
AAGW memungkinkan dukungan lokal dan fungsionalitas penargetan mandiri dimungkinkan melalui sistem penargetan optik elektron dan sistem penargetan visual, menurut informasi Hanwha Defense.
Fitur utamanya adalah: Sistem Air Defense C2A, Radar Pertahanan Udara Lokal, Operasi Sinkronisasi dengan Sistem Kontrol Anti-Pesawat Udara. Kendaraan dilengkapi dengan Electronic Optical Targeting Systems (EOTS) dan Visual Targeting System yang memungkinkan Pelacakan Otomatis (Automatic Tracking)dan Kemampuan Penargetan Mandiri (Self-Targeting Capabilities). Beberapa kendaraan dapat dihubungkan dengan TPS-880K Local Air Defense Radar via ADC2A datalink untuk membentuk sebuah baterai sistem pertahanan udara.(Angga Saja-TSM)

Kapal JS Izumo Sedang Jalani Modifikasi untuk Menjadi Kapal Induk

radarmiliter.com - Menurut gambar yang dipublikasikan di akun Twitter "tokyoincident ( restart )" pada tanggal 27 Juni 2020, kapal induk helikopter kelas Izumo Pasukan Bela Diri Maritim Jepang (JMSDF) sedang menjalani modifikasi untuk menjadi kapal induk. Setelah modifikasi, akan memungkinkan bagi kapal tersebut untuk mengoperasikan pesawat tempur stealth STOVL (Short Take-Off/Vertical Landing) F-35B.
Pada bulan Desember 2018, Kabinet Jepang memberikan persetujuan untuk mengubah kapal tersebut menjadi kapal induk yang mampu mengoperasikan pesawat STOVL F-35B. Pada 30 Desember 2019, Kementerian Pertahanan Jepang menyetujui anggaran Tahun Fiskal 2020 yang akan membiayai modifikasi kapal kelas Izumo untuk pengoperasian F-35B.
Kapal JS Izumo
Kapal JS Izumo  
Saat ini, Pasukan Bela Diri Maritim Jepang memiliki dua kapal induk helikopter kelas Izumo, yaitu DDH-183 Izumo dan DDH-184 Kaga, keduanya akan dikonversi menjadi kapal induk.
Pada bulan Februari 2018, Yomiuri Shimbun melaporkan bahwa Jepang berencana untuk mengakuisisi 40 pesawat F-35B, varian Short Take-off dan Vertical Landing (STOVL) dari Lockheed Martin Lightning II Joint Strike Fighter (JSF), yang dapat dioperasikan dari kelas Izumo dengan beberapa modifikasi pada kapal tersebut. Diperkirakan bahwa setiap kapal induk kelas Izumo dapat mengoperasikan 12 atau lebih pesawat tempur stealth F-35B.
Salah satu modifikasi paling penting untuk mengubah kelas Izumo menjadi kapal induk adalah perkuatan deck untuk mendukung bobot tambahan F-35B, serta panas dan semburan dari jet selama pendaratan vertikal.
Menurut pakar militer kelautan, JS Izumo dapat mengangkut hingga 28 pesawat termasuk 12 F-35B, 8 tiltrotor Osprey 8 V-22 dan 8 helikopter ASW (Anti-Submarine Warfare) atau helikopter SAR (Search And Rescue), atau 14 pesawat yang lebih besar . Hanya tujuh helikopter ASW dan dua helikopter SAR yang direncanakan untuk pelengkap pesawat. Untuk operasi lain, 400 pasukan dan 50 truk 3,5 ton (atau peralatan setara) juga dapat dibawa. Flight deck memiliki lima tempat pendaratan helikopter yang memungkinkan pendaratan dan lepas landas secara simultan.
Kelas Izumo dipersenjatai dengan rudal SeaRAM 2 x 11 sel yang mampu menghancurkan ancaman subsonik dan supersonik termasuk pesawat terbang, rudal jelajah, drone, dan helikopter, serta dilengkapi dengan 2 sistem senjata close-in Phalanx CIWS dan dua tabung torpedo Triple 324mm.(Angga Saja-TSM)

ASEAN Hanya Akui UNCLOS soal Aturan Main Laut China Selatan

radarmiliter.com - Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN) menyatakan tetap berpatokan kepada Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCLOS) yang disahkan pada 1982, sebagai panduan terhadap hak dan kedaulatan negara di sekeliling Laut China Selatan.
Pernyataan itu disampaikan oleh ASEAN pada Sabtu (27/6), sehari setelah menggelar pertemuan melalui konferensi video pada Jumat kemarin. Pernyataan tersebut adalah sebagai bentuk sikap atas klaim kepemilikan sepihak oleh China atas Laut China Selatan.
ASEAN Hanya Akui UNCLOS
ASEAN Hanya Akui UNCLOS  
"Kami tetap berpedoman bahwa UNCLOS 1982 adalah dasar untuk menentukan hak maritim, hak berdaulat, yurisdiksi dan kepentingan sah atas zona maritim," demikian isi pernyataan ASEAN, seperti dilansir Associated Press.
UNCLOS adalah kesepakatan internasional yang mengatur hak dan kewajiban setiap negara soal batas-batas wilayah perairan, termasuk soal zona ekonomi eksklusif, di mana negara-negara dengan garis pantai mempunyai hak untuk mencari hasil laut dan mengadakan eksplorasi sumber energi.
ASEAN menyatakan,"UNCLOS menetapkan kerangka hukum terhadap bagaimana seluruh aktivitas di laut dan samudra dilakukan".
China sampai saat ini belum memberikan tanggapan terkait hal tersebut. Namun, sejumlah diplomat di Asia Tenggara menyatakan bahwa pernyataan sebagai bentuk penguatan sikap ASEAN terhadap aturan main dan hukum di Laut China Selatan yang kini menjadi sengketa.
Dilaporkan pernyataan itu disusun oleh Vietnam sebagai negara anggota ASEAN, dan diedarkan kepada para negara anggota. Vietnam adalah salah satu negara yang paling keras mengkritik klaim China di Laut China Selatan.
China mengklaim seluruh Laut China Selatan adalah milik mereka, berdasarkan Sembilan Garis Khayal di peta, dan klaim sejarah bahwa nelayan mereka sejak lama melaut di sana.
Klaim itu dipersoalkan oleh Vietnam, Malaysia, Filipina dan Brunei Darussalam.
Taiwan juga akhirnya terseret sengketa karena wilayah perairan mereka juga diklaim oleh China.
Pada Juli 2016, mahkamah arbitrase internasional menolak klaim sejarah China berdasarkan UNCLOS. Namun, menolak putusan itu.
China lantas mengambil tindakan dengan mereklamasi pulau-pulau di Laut China Selatan menjadi pangkalan militer. Korps penjaga pantai China juga dilaporkan kerap mengintimidasi nelayan Vietnam dan Filipina yang tengah mencari ikan di perairan tersebut.
Amerika Serikat lantas ikut campur dalam sengketa itu, dengan mengirim sejumlah kapal perang dan mengutus pesawat intai dekat pangkalan militer China.
Dikhawatirkan adalah jika suatu saat terjadi insiden yang melibatkan militer kedua negara, maka dampaknya akan fatal. Sebab, hubungan AS dan China juga sudah memburuk akibat perang dagang hingga saling tuduh soal penyebab pandemi virus corona. (Associated Press/ayp)

Jepang Singkirkan Sistem Rudal Aegis Ashore AS Senilai Rp59,8 Triliun

radarmiliter.com - Pemerintah Jepang, pada Jumat (26/6/2020), resmi menyingkirkan sistem rudal Aegis Ashore berbasis darat buatan Amerika Serikat (AS) dari penempatannya di prefektur Yamaguchi dan Akita.
Penempatan sistem rudal senilai ¥450 miliar (lebih dari Rp59,8 triliun) untuk intersepsi misil musuh ini batal dengan berbagai pertimbangan, termasuk masalah teknis, pembengkakan biaya dan penentangan dari kubu oposisi lokal.
"Setelah musyawarah di NSC (Dewan Keamanan Nasional), kami mengambil keputusan untuk membatalkan penempatan di prefektur Yamaguchi dan Akita," Menteri Pertahanan Taro Kono mengatakan kepada panel Parlemen, seperti dikutip Kyodo News.
Sistem Rudal Aegis Ashore
Sistem Rudal Aegis Ashore 
Pada Rabu lalu, pertemuan NSC yang diketuai Perdana Menteri Shinzo Abe berlangsung tertutup.
Pembatalan pengerahan sistem rudal ini sebenarnya bukan hal yang mengejutkan karena Kono pernah membuat pengumuman pada 15 Juni bahwa proses penempatan dua baterai sistem rudal buatan AS sedang dihentikan karena masalah teknis dan meningkatnya biaya operasional.
Pada pertemuan Partai Demokrat Liberal "partainya PM Abe" yang sebagian terbuka untuk media, Kono juga mengatakan bahwa Kementerian Pertahanan kesulitan memilih lokasi alternatif untuk penempatan sistem rudal Aegis Ashore berbasis darat.
Jepang saat ini mempertahankan diri dari ancaman rudal balistik Korea Utara melalui kapal perusak Angkatan Laut yang dilengkapi sistem rudal Aegis Ashore. Kono mengatakan langkah itu adalah ide yang buruk untuk hanya mengandalkan kapal perusak.
Mengingat Beijing dan Pyongyang mengembangkan rudal balistik baru, yang lebih sulit untuk dicegat, Menteri Kono mengatakan Jepang harus mempertimbangkan apa yang akan dilakukan untuk menanggapi ancaman semacam itu dalam jangka menengah hingga jangka panjang.
Kono juga mengatakan kapal perusak dan sistem rudal Patriot Advanced Capability-3 (PAC-3) berbasis darat "yang dirancang untuk menembak jatuh rudal yang menghindari sistem pencegat yang ditembakkan dari kapal" akan melindungi Jepang untuk saat ini.
Prefektur Akita dan Yamaguchi, keduanya di dekat pantai Laut Jepang, merupakan lokasi yang dianggap tepat untuk penempatan sistem rudal Aegis Ashore.
Kono mengatakan kepada wartawan bahwa pemerintah Jepang akan terus membahas kebutuhan pertahanan dengan partai-partai yang berkuasa dan Amerika Serikat, di samping pembicaraan di NSC.
Menurut laporan Japan Times, pemerintah Jepang sejauh ini telah menghabiskan atau mengalokasikan dana hampir ¥200 miliar untuk rencana penyebaran sistem rudal tersebut.
Pada bulan Desember 2017, Jepang memutuskan untuk memasang dua baterai sistem rudal Aegis Ashore setelah serangkaian rudal balistik diluncurkan oleh Korea Utara, dan dorongan Presiden AS Donald Trump untuk menjual lebih banyak peralatan militer di bawah kebijakan "Buy American".(Muhaimin)

Service Life Extension Program (SLEP) CN-235 AU Malaysia

radarmiliter.com - Menyusul penandatanganan kontrak antara Angkatan Udara Kerajaan Malaysia (RMAF) dan Dirgantara Indonesia (PTDI / Aerospace Indonesia) dalam pameran Langkawi International Maritime & Aerospace (LIMA) 2017, ketujuh pesawat angkut taktis CN-235-220M dan pesawat angkut VIP CN-235-100M AU Malaysia akan menjalani Service Life Extension Program (SLEP) yang akan memperpanjang umur pesawat buatan Indonesia itu hingga 15 tahun lagi.
CN-235 AU Malaysia
CN-235 AU Malaysia 
Inti dari program life extension tersebut adalah pekerjaan rewiring dari pesawat batch pertama CN-235. Sejak 1999, RMAF memiliki enam CN-235-220M. Varian 220M berbeda sedikit dengan varian 100M terutama pada radome yang berbeda yang dipasangkan pada varian 220M.
Setelah 20 tahun, ada kebutuhan besar dalam hal keselamatan penerbangan untuk mengganti sistem wiring (perkabelan) serta untuk memastikan bahwa sistem kelistrikan pesawat selalu andal. Rewiring juga akan memastikan kesiapan armada yang tinggi karena downtime perbaikan telah dihilangkan.
Pekerjaan rewiring telah dimulai pada 22 Oktober 2018 yang melibatkan pesawat demonstrasi teknologi, sebuah CN-235-220M dari No 1 Skn dengan nomor seri M44-05. Serah terima pesawat selama LIMA 2019 menandai berakhirnya Tahap 1 dari pekerjaan rewiring yang melibatkan tim mobile dari PTDI dan tujuh belas teknisi pesawat On the Job dari No 1 Skn.
Fase 2 telah dimulai dengan M44-03 yang diperbaiki oleh teknisi dari Skn No. 1 di bawah pengawasan ketat oleh tim PTDI. Fase 3 hanya akan melibatkan personil dari No 1 Skn.
Sebagai hasilnya, pekerjaan SLEP di fasilitas PTDI di Bandung hanya akan mencakup Structure Inspection, Rewiring/Harnesses, dan Replacement of Obsolescence Equipment. Pekerjaan ini juga mencakup bahan bakar, mesin, dan sistem avionik pesawat.
Menurut rencana awal, tiga CN-235 akan menjalani SLEP pada 2019 dan empat pesawat lagi pada 2020. Dua pesawat yang direncanakan untuk terbang ke Bandung akhir tahun ini akan dilengkapi dengan sistem pengawasan maritim Merlin yang dikembangkan oleh Integrated Surveillance and Defense, Inc (ISD).
Peralatan misi Merlin mencakup radar pengawasan maritim, turret sensor elektro-optik (EO), dan sistem electronic support measures (ESM).
Namun tidak diketahui apakah wabah coronavirus telah mempengaruhi program SLEP CN-235 AU Malaysia, tetapi foto CN-235 AU Malaysia yang diidentifikasi bernomor register M45-03 telah beredar di Twitter pada 16 Juni lalu, terlihat tengah berada di fasilitas PTDI di Bandung.(Angga Saja-TSM)

Taktik Peperangan Anti Kapal Selam dan Kemajuan Teknologi Kapal Selam Indonesia diantara Negara Kawasan

radarmiliter.com - Dalam acara Diskusi yang bertemakan “Peningkatan Kesiapan, Kemampuan, Dan Profesionalisme Prajurit Melalui Pengembangan Operasi Taktik Tempur Laut” yang diselenggarakan oleh Koarmada I di Gedung O. B. Syaaf Mako Koarmada I, Letkol Laut (P) Ahmad Fahribi, S.E., M.M., M.Tr.Opsla Komandan KRI Teluk Gilimanuk-531 bertindak selaku pemapar, memaparkan makalah yang berjudul operasi dan taktik tempur laut peperangan anti kapal selam.
Dalam acara tersebut hadir selaku narasumber adalah KS Koarmada I Laksamana Pertama Bambang Irwanto, Ir Koarmada I, Para Pejabat Utama dan Kasatker Koarmada I, Komandan Satuan serta diikuti oleh seluruh personel unsur KRI Koarmada I yang ada di Jakarta.
Taktik Peperangan Anti Kapal Selam
Taktik Peperangan Anti Kapal Selam  
Letkol Laut (P) Ahmad Fahribi, S.E., M.M., M.Tr.Opsla yang mewakili Satuan Kapal Amfibi Koarmada I menerangkan dalam paparannya bahwa perlunya peningkatan kuantitas dan kualitas dari kapal selam serta wahana pendukung lainnya yang dimiliki oleh TNI AL, karena semakin berkembangnya militer dan dinamika global seiring dengan perkembangan zaman saat ini, negara-negara di kawasan terus meningkatkan kemampuan dan jumlah kapal selamnya.
Tercatat beberapa negara di Kawasan telah mengembangkan kekuatan armada kapal selam yang dalam decade terakhir menunjukkan perkembangan yang siknifikan dalam jumlah dan kemampuannya. Perkembangan teknologi peperangan kapal selam di kawasan juga tercatat sangat pesat, bahkan beberapa negara telah mengembangkan kapal selam dengan tenaga nuklir, yang sudah barang tentu akan memiliki kemampuan yang lebih unggul dari kapal selam konfensional.
Saat ini kapal selam negara-negara kawasan telah mengembangkan teknologi AIP (Air Independent Propulsion) yaitu suatu teknologi yang memiliki keunggulan lebih senyap dibandingkan dengan kapal selam diesel listrik konfensional dan mampu menyelam dibawah air lebih lama.
Integrasi UAV dan MAD
Selain itu, Fahribi juga menjelaskan mengenai pola taktik tempur seperti apa yang relevan untuk diterapkan di Perairan Kepulauan Indonesia dihadapkan pada area kerawanan dan choke point, konstelasi geografis dan kontur laut. Pengembangan teknologi pesawat tanpa awak UAV (Unmanned Aerial Vehicle) yang diintegrasikan dengan MAD (Magnetic Anomaly Detection) untuk mengoptimalkan kemampuan deteksi bawah air sangat diperlukan dalam menghadapi ancaman kapal selam kedepan.
Diakhir paparannya, Letkol Laut (P) Ahmad Fahribi, S.E., M.M., M.Tr.Opsla menyatakan bahwa saat ini kapal selam adalah senjata paling strategis di dunia yang dapat memberikan efek deterrence yang dampaknya sangat signifikan terhadap kekuatan maritim negara-negara yang mengoperasikannya di era perang generasi 4.0. Berbeda dengan perang dunia ke-I yang mengedepankan tank dan perang dunia ke-II pesawat udara. Kemampuan ketahanan untuk bertahan di bawah permukaan laut membuat kapal selam sangat sulit dideteksi sehingga terjaga kerahasiaannya.
Dari konstelasi geografis, peran, fungsi dan tugas TNI Angkatan Laut serta kemampuan peperangannya, maka TNI Angkatan Laut harus memiliki kesenjataan strategis dan memiliki daya tangkal yang tinggi berupa alutsista, antara lain jenis Kapal Selam dan jenis Kapal Kombatan lainnya. Saat ini Indonesia telah membangun kekuatan armada kapal selam yang akan meningkatkan kemampuan pertahanan Indonesia.(Angga Saja-TSM)

AU Filipina Adakan Latihan Live Fire Rudal Maverick

radarmiliter.com - Angkatan Udara Filipina (PAF) dilaporkan melakukan latihan live fire di lepas pantai Palawan. Menurut MaxDefense Philippines, latihan live fire ini berhubungan dengan Peringatan ke-73 AU Filipina. Live fire rudal udara-ke-darat AGM-65G2 Maverick dilakukan pagi hari tanggal 25 Juni.
Angkatan Udara Filipina akan merayakan ulang tahun pendiriannya yang ke-73 pada tanggal 1 Juli.
AU Filipina
AU Filipina  
"Berdasarkan informasi yang diterima dari para narasumber, pesawat yang terlibat adalah pesawat tempur ringan KAI FA-50PH Fighting Eagle dan pesawat latih jet bersenjaya SIAI Marchetti AS.211 Warrior," kata MaxDefense.
"Sorotan utama dari acara ini adalah live fire pertama dari rudal udara-ke-darat AGM-65G2 Maverick yang ditembakkan dari pesawat PAF FA-50PH terhadap target apung, untuk menunjukkan kemampuan anti-kapalnya," tambahnya.(Angga Saja-TSM)
Sumber : mintfo.com

AU Korea Selatan akan Beli Tambahan Pesawat AEW & C

radarmiliter.com - Korea Selatan pada hari Jumat (26/06) menyetujui rencana untuk membeli tambahan pesawat airborne early warning and control (AEW & C) dari luar negeri sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan pengawasan udara, menurut harian The Korea Herald. 
Berdasarkan rencana yang disetujui oleh pertemuan komite proyek pertahanan Korea Selatan, negara itu akan meluncurkan proyek tersebut pada tahun depan untuk memasukkan tambahan pesawat dari luar negeri pada tahun 2027, ali-alih mengembangkannya di dalam negeri, dengan anggaran 1,59 triliun won ($ 1,32 miliar), menurut Badan Administrasi Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan (DAPA).
Pesawat AEW & C Korea Selatan
Pesawat AEW & C Korea Selatan 
Angkatan Udara Republik Korea (ROKAF) telah meminta untuk membeli dua pesawat peringatan dini. Saat ini, AU Korea Selatan telah mengoperasikan empat pesawat Peace Eye yang dibuat berdasarkan pesawat Boeing 737 sejak 2011. Pesawat AEW & C yang dilengkapi dengan sistem radar canggih tersebut dirancang untuk mendeteksi pesawat dan wahana lain pada jarak jauh dan melakukan komando dan pengendalian medan perang dalam pertempuran udara dengan mengarahkan serangan jet tempur. 
Boeing pada 24 Oktober 2017 menyerahkan pesawat 737 Airborne Early Warning and Control (AEW & C) terakhir ke AU Korea Selatan. Korea Aerospace Industries (KAI) memodifikasi dan mendukung pengujian empat pesawat Peace Eye di fasilitasnya di Sacheon. Proyek ini bertujuan untuk dapat lebih baik menghadapi ancaman keamanan yang semakin meningkat oleh negara-negara tetangga dan untuk meminimalkan kemungkinan kekosongan pengawasan.
Komite juga menyetujui proyek pesawat pengintai canggih Baekdu. Rencananya akan dilaksanakan antara 2021 dan 2026 dengan biaya 870 miliar won, menurut DAPA. Dilengkapi dengan sistem kendali jarak jauh dan pensinyalan, pesawat mata-mata Baekdu akan melakukan misi untuk mengumpulkan sinyal intelijen dari Korea Utara. 
Saat ini, militer mengoperasikan enam unit dan berupaya mengganti empat di antaranya dengan yang lebih canggih, menurut DAPA. Setelah membeli platform dari luar negeri, DAPA akan membekali pesawat-pesawat tersebut dengan sistem buatan dalam negeri Korea untuk meningkatkan kemampuan SIGINT (signal intelligence) Korea Selatan.(Angga Saja-TSM)

Tiga Pesawat Amerika Serikat Buru Kapal Selam China di Laut China Selatan

radarmiliter.com - Angkatan Udara Amerika Serikat  (AS) mengirim tiga pesawat militer ke Selat Bashi dan berkeliaran di atas kawasan Laut China Selatan yang oleh pengamat adalah misi melacak kapal selam China.
Ketiga pesawat terpantau di sekitar kawasan Laut China Selatan pada hari Jumat (26/6/2020) dan itu adalah misi hari keenam secara berturut-turut.
The South China Sea Strategic Situation Probing Initiative, sebuah lembaga think tank China yang bernaung di bawah Universitas Peking, mengatakan tiga pesawat militer yang dikirim AS adalah pesawat pengintai EP-3, pesawat anti-kapal selam P-8A dan sebuah pesawat pengisian bahan bakar udara KC-135. Ketiganya muncul di Selat Bashi antara pukul 10.00 pagi hingga siang hari.
Pesawat Pengintai EP-3
Pesawat Pengintai EP-3 
Dalam bagan yang di-posting online, lembaga think tank itu mengatakan ketiga pesawat militer terbang sebentar ke bagian barat daya Zona Identifikasi Pertahanan Udara (ADIZ) Taiwan menuju Selat Bashi dan kemudian menuju ke Laut China Selatan.
"EP-3E (AE1D91) AS sedang melakukan pengintaian kembali di Laut China Selatan, 26 Juni. P-8A dan KC-135 sedang menindaklanjuti, 26 Juni," tulis lembaga think tank China itu di Twitter, seperti dikutip South China Morning Post.
Kementerian Pertahanan Taiwan menolak mengomentari gerakan militer AS, DAN hanya mengatakan bahwa pihaknya sepenuhnya menyadari kegiatan militer asing di sekitar Taiwan dan Angkatan Bersenjata-nya melakukan pekerjaan mereka untuk memastikan keamanan pulau itu dan keselamatan masyarakat Taiwan.
Namun, sebuah pesawat militer Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) secara singkat mendekati barat daya ADIZ Taiwan pada Jumat sore dan diperingatkan oleh Angkatan Udara Taiwan, yang mengerahkan jet-jet tempur untuk membayangi pesawat Beijing.
Pesawat militer PLA China terbang di dekat ADIZ Taiwan tidak lama setelah pesawat militer AS, dan merupakan "serbuan" kesembilan pesawat militer Beijing ke area sekitar ADIZ Taiwan.
Sebuah sumber keamanan Taiwan yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan Angkatan Udara AS melakukan misi bersama terkait dengan tugas-tugas anti-kapal selam.
"Pesawat-pesawat tempur AS telah secara besar-besaran meninjau kembali antara Selat Bashi dan Laut China Selatan, menunjukkan bahwa USAF (Angkatan Udara AS) harus memiliki intelijen tentang pergerakan kapal selam Angkatan Laut PLA di kawasan itu," kata sumber tersebut.
"Dengan keterlibatan sejumlah jenis pesawat tempur, itu juga menunjukkan bahwa USAF sedang menguji kesiapan dan keandalan misi bersama di wilayah ini."
Su Tzu-yun, seorang peneliti di Institute for National Defence and Security Research, mengatakan pasukan Amerika mungkin bertindak berdasarkan informasi spesifik.
"Pesawat-pesawat tempur AS mungkin memiliki intelijen tentang kapal selam Angkatan Laut PLA dan itu bisa menjadi alasan mengapa pesawat-pesawat tempur AS ditugaskan untuk mencari aktivitas luar biasa dari kapal selam Angkatan Laut PLA di Selat Bashi," kata Su. (Muhaimin)

Menlu AS Mike Pompeo Sebut Indonesia dalam Bahaya Partai Komunis China

radarmiliter.com - Situasi Laut China Selatan diprediksi bakal terus memanas, seiring dengan aksi kampanye militer China di kawasan tersebut. Salah satu yang meradang adalah Amerika Serikat (AS), yang menganggap Partai Komunis China (CPC) adalah ancaman.
Dalam sebuah konferensi virtual Forum Brussels, Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, memastikan bahwa pasukan Angkatan Bersenjata AS akan ditempatkan di sejumlah lokasi baru.
KRI Yos Sudarso-353
KRI Yos Sudarso-353 
Pengerahan ini ditegaskan Pompeo adalah bagian dari perlawanan terhadap ancaman Partai Komunis China. Setelah memastikan bahwa AS bakal melakukan transfer masif pasukan ke India, sejumlah negara Asia Tenggara juga dalam pengawasan militer AS.
Ternyata, salah satu yang disebut Pompeo adalah Indonesia. Selain Indonesia, ancaman Partai Komunis China juga dianggap bakal berakibat buruk untuk sejumlah negara lainnya, Filipina, Malaysia, dan Vietnam.
"Akan Ada tempat lain (alokasi pasukan Amerika). Saya baru saja berbicara tentang ancaman dari Partai Komunis China. (Ada) ancaman untuk India, Vietnam, Indonesia, Laut China Selatan, dan Filipina," ucap Pompeo dikutip dari Hindustan Times.
"Kami berpikir bahwa itu adalah tantangan waktu bagi kami, dan kami memastikan kami punya sumber daya untuk melakukan itu (pengamanan)," katanya.
Akhir pekan lalu, pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI) sudah mengerahkan empat kapal perang ke Perairan Natuna. Panglima Komando Armada I Laksamana Muda TNI Ahmad Heri Purwono, memastikan pengerahan ini adalah respons TNI dari memanasnya tensi konflik di Laut China Selatan.
"Saat ini situasi meningkatnya tensi di Laut China Selatan ditandai dengan hadirnya kekuatan Angkatan Laut negara-negara yang berkepentingan menimbulkan kekhawatiran di negara-negara kawasan," kata Panglima Komando Armada I Laksamana Muda TNI Ahmadi Heri Purwono.
Empat kapal perang yang sudah siaga di Perairan Natuna adalah KRI KRI Bung Tomo-357, KRI Yos Sudarso-353, KRI Wiratno-379 dan KRI Bontang-907. (Radhitya Andriansyah)

FNSS Serahkan 26 Kendaraan Anti-Tank Kaplan ATVS ke AD Turki

radarmiliter.com - Menurut berita yang dipublikasikan oleh situs web Daily Sabah pada tanggal 23 Juni 2020, perusahaan Turki FNSS telah menyerahkan 26 kendaraan penghancur tank Kaplan (Anti-Tank Vehicle System) yang dilengkapi dengan turret ARCT UMTAS kepada Angkatan Darat Turki. Ini adalah kendaraan tempur pertama yang dilengkapi dengan turret rudal anti-tank UMTAS yang dirancang dikembangkan oleh perusahaan lokal Roketsan.
Kendaraan Anti-Tank Kaplan ATVS
Kendaraan Anti-Tank Kaplan ATVS 
Mengutip Daily Sabah, Pimpinan FNSS Nail Kurt mengatakan bahwa 26 kendaraan tersebut telah diserahkan hingga saat ini dalam lingkup proyek kendaraan pengangkut senjata yang sebelumnya telah ditandatangani antara Badan Kepresidenan Industri Pertahanan Turki (SSB) dan FNSS.
Nail Kurt menambahkan, bahwa kendaraan Pars 4x4, yang juga telah dikembangkan di bawah lingkup proyek yang sama, direncanakan juga akan diserahkan dengan rudal UMTAS.
Kaplan adalah kendaraan lapis baja beroda rantai yang sepenuhnya dirancang dan dikembangkan oleh perusahaan Turki FNSS. KAPLAN adalah generasi baru kendaraan tempur lapis baja yang memiliki kemampuan untuk bergerak bersama dengan tank tempur utama, dan memiliki power-to-weight ratio 23 hp/ton, termasuk bobot sistem komunikasi dan transmisi otomatis.
Kaplan digerakkan dengan mesin diesel yang dipasangkan dengan sistem transmisi otomatis penuh. Kendaraan dapat berjalan pada kecepatan jalan maksimum 70 km/jam dengan jarak jelajah maksimum 650 km. Kendaraan ini sepenuhnya berkemampuan amfibi tanpa persiapan dan didorong di dalam air berkat dua sistem propulsi air yang dipasang di belakang.
Kaplan ATVS telah dikembangkan secara khusus untuk digunakan sebagai kendaraan lapis baja anti-tank dan telah berhasil menyelesaikan tes penembakan yang dilakukan menggunakan rudal anti-tank KORNET buatan Rusia dan UMTAS buatan Turki yang diluncurkan dari Anti-Tank Remote Controlled Turret (ARCT) buatan FNSS.
UMTAS adalah rudal anti-tank yang dikembangkan oleh perusahaan Turki Roketsan. Rudal terutama dirancang untuk digunakan pada helikopter serang. UMTAS memiliki ukuran panjang 1,8 m dan diameter 160 mm dan berat 37,5 kg. Seeker imaging infrared rudal memungkinkan penggunaan rudal tersebut di siang atau malam hari, dan dalam kondisi cuaca buruk, dan RF data link-nya memberikan kemampuan operasional yang fleksibel. Rudal dapat digunakan dalam mode fire-and-forget atau fire-and-update dengan kemampuan lock-on before launch atau lock-on after launch. Mode fire-and-forget memungkinkan senjata untuk melakukan perjalanan di jalurnya sendiri setelah dilakukan iluminasi target. Dengan didorong oleh propelan komposit tanpa asap berbasis HTPB, rudal anti-tank UMTAS memiliki jangkauan tembak dari 0,5 km hingga 8 km.
Turret ARCT yang dipasang pada kendaraan lapis baja Kaplan dilengkapi dengan dua kontainer peluncur rudal UMTAS yang siap diluncurkan dan senapan mesin koaksial 7,62 mm sebagai senjata sekunder.(Angga Saja-TSM)