Juli 2020 - Radar Militer

30 Juli 2020

Opini : New Normal di Laut China Selatan

radarmiliter.com - Demam yang terus menerus di Laut China Selatan (LCS) sepertinya tidak akan pernah kembali normal suhunya seperti dulu lagi. Demam akan terus menerus terjadi sepanjang tahun dan bertahun-tahun. New normal di LCS adalah demam panas itu sendiri. Virusnya bernama nine dash line bersama semburan api lidah naga.
AS dan Australia sudah resmi membentuk aliansi militer dan akan "merekrut" sejumlah negara. India, Filipina dan Jepang sudah berkomitmen untuk bersatu kita teguh. Inggris dan Kanada yang jauh nun disana sudah berkomitmen bersekutu dengan AS. Untuk Korsel meski sekutu dekat AS namun untuk LCS tidak dilibatkan. Biarkan dia menjaga status quo garis demarkasi Panmunjom. Bisa jadi kalau diikutkan aliansi, lalu China memprovokasi Korut, sangat berbahaya untuk Semenanjung Korea. Demikian juga Taiwan.
Radar Vera-Ng
Radar Vera-Ng 
Natuna Indonesia ada di kawasan konflik skala besar LCS. Maka Natuna harus kita jaga ketat. Marwah teritori kita dipertaruhkan disana. Dan new normal juga sudah berlaku di kepulauan Natuna. Deru dan raungan jet-jet tempur di bumi rantau nan indah (ranai) sudah biasa. Pasukan brigade komposit dan alutsistanya sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Kapal perang kita silih berganti mengawal perairan Laut Natuna Utara (LNU).
Hukum laut internasional memang harus ditegakkan. Meski dengan kekuatan otot militer. Dalam hal ini kita sepakat dengan langkah militer AS dan sekutunya untuk melawan klaim pemilik nine dash line. Tidak lagi atas nama kebebasan navigasi internasional, sekarang AS, Australia dan ASEAN tegas menolak klaim nine dash line China.
Sebagai antisipasi new normal di Natuna, kementerian pertahanan bergerak cepat. Proses pengadaan alutsista strategis dilakukan dengan langkah kilat. Publik kemudian tahu ada alutsista surprise seperti Osprey dan Typhoon yang mau dibeli. Kemudian yang terakhir rencana pengadaan rudal anti kapal Brahmos dari India.
Sebenarnya saat ini banyak paket pengadaan alutsista yang sedang berproses di Kemenhan. Misalnya pengadaan kapal perang Iver dan lanjutan PKR10514. Juga pengadaan jet tempur F16 Viper, pesawat Hercules, pesawat tanker, pesawat pengintai, helikopter Apache, radar, peluru kendali Nassam, tank amfibi, MLRS.
Industri pertahanan dalam negeri baik BUMN maupun swasta juga kebagian proyek. Matra laut dengan berbagai jenis pengadaan kapal perang KCR, KPC, LPD, LST, BCM. Matra darat dengan proyek tank Harimau, Bushmaster, panser Cobra, panser Anoa. Matra udara dengan proyek helikopter Panther, Caracal, UAV.
Semua industri pertahanan sedang mekar-mekarnya. Terutama sepuluh tahun terakhir. Semuanya dalam bingkai program Minimum Essential Force (MEF) selama 15 tahun dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2024. Program MEF yang digagas dan dimulai oleh Presiden SBY sebenarnya sudah mengantisipasi potensi konflik di LNU.
Namun agresivitas China selama semester I tahun ini dengan memprovokasi negara-negara yang bersinggungan dengan nine dash line nya menjadikan LCS demam tinggi. Padahal seluruh dunia sedang dilanda pandemi Covid 19, tiba-tiba China mempertunjukkan otot militernya. Dunia tersentak, kita juga.
Itulah sebabnya Kemenhan disibukkan dengan crash program pengadaan alutsista. Kalau kita melihat dan mengamati kesibukan tak biasa dan terus menerus di ruang komando Kogabwilhan Satu, kita semakin paham akan perlunya penambahan alutsista matra udara dan laut. Sungguh betapa bergunanya radar canggih Vera-Ng, radar Weibel X Band yang sudah terpasang di Natuna. Betapa berharganya skadron 51 UAV di Pontianak yang mengirim sejumlah UAV ke Natuna. Betapa pentingnya 3 skadron F16 dan Hawk yang ada di Pekanbaru dan Pontianak. Tapi itu semua belum cukup.
Jelas belum cukup karena kita masih berjuang di wilayah minimum essential force. Belum mencapai target minimum. Lalu ada hot spot berkepanjangan di Natuna. Jadi kita harus segera mendatangkan alutsista strategis secepatnya. Typhoon Austria salah satu pilihan. Barang sudah ada dan masih sedikit jam terbangnya. Anggap sajalah percepatan pengadaan alutsista Kemenhan sebagai langkah new normal. Biasa saja menyikapinya. Gak usah misuh-misuh soal Typhoon dan Osprey. Masih akan banyak kejutan lain soal pengadaan alutsista. Prediksi anggaran khusus alutsista ke depan ada di kisaran angka US$ 24 milyar.
Lihat saja India yang begitu marah dengan China akibat provokasi di perbatasan kedua negara. Lalu proses pengadaan alutsista jet tempur Rafale yang sudah teken kontrak tiga tahun lalu harus dipercepat kedatangannya, kata India. Dan kemarin 5 Rafale sudah sampai di India dengan publikasi luas untuk menunjukkan kesiapan dan keseriusan India menghadapi konfrontasi dengan China.
Hot spot Natuna adalah pertaruhan marwah teritori kita. Geliat pencapaian MEF dan percepatan pengadaan alutsista adalah new normal, kebiasaan baru, sesuatu yang biasa, wajar-wajar saja. Kita lihat gerakan cepat Menhan berkunjung ke beberapa negara produsen alutsista, terakhir ke Turki dan India. Tujuannya untuk memperoleh alutsista berkualitas dengan harga sepantasnya. Komitmen Prabowo yang patut kita apresiasi adalah meminimalisasi mark up pengadaan alutsista.
Investasi pertahanan setara dengan investasi ekonomi. Karena investasi pertahanan sejatinya untuk menjaga kelangsungan dan kesejahteraan ekonomi sebuah negara. Belanja pertahanan adalah dalam rangka membangun sistem kekuatan pertahanan agar bisa disegani. Dengan itu pertumbuhan ekonomi dan kelangsungannya menuju kesejahteraan menjadi salah satu pijakan kepercayaan diri. Maka kita harus perkuat keduanya.
****
Semarang, 30 Juli 2020
Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
Sumber : FSM

Kementerian Pertahanan Rusia Mengkonfirmasi Pesanan 76 Pesawat Tempur Su-57

radarmiliter.com - Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Selasa lalu (28/07) mengumumkan pembelian 76 pesawat Su-57 terbaru oleh Kementerian Pertahanan Rusia, yang akan mulai beroperasi pada tiga resimen penerbangan pada tahun 2028. Vladimir Putin mengumumkan kesiapan militer untuk membeli sejumlah besar pesawat baru pada pertemuan pengembangan penerbangan militer yang diadakan di Sochi. Dia menyebutkan bahwa pada 2013-2018, pasukan Rusia menerima lebih dari seribu pesawat dan helikopter baru dan modern; sebagai hasilnya, 65% dari armada pesawat Angkatan Udara Rusia telah dimodernisasi.
 Pesawat Tempur Su-57
 Pesawat Tempur Su-57 
Kontrak tersebut diperkirakan mencapai nilai 170 miliar rubel (sekitar $ 2,4 miliar), yang menjadikannya sebagai kontrak yang terbesar dalam sejarah penerbangan Rusia dan menjamin beban kerja yang penuh untuk pabrik pesawat Komsomolsk-on-Amur selama setidaknya satu dekade. Perjanjian tersebut ditandatangani di hadapan Presiden Putin di acara pameran kedirgantaraan MAKS. Pengerjaan pesawat tempur Su-57 telah dimulai pada tahun 2002. Dua tahun kemudian, desain pesawat tersebut disajikan kepada Presiden Putin. Pada 2010, Putin mengatakan bahwa sekitar 30 miliar rubel telah dihabiskan pada tahap pertama pembuatan pesawat itu.
Angkatan Udara Rusia semula dijadwalkan untuk menerima dua prototip Su-57 baru pada akhir 2019 dan dua pesawat lagi pada tahun 2020. Namun, pesawat ini bukan merupakan pesawat konfigurasi produksi serial. Produksi massal belum dimulai sebelum 2020. Industri pesawat militer Rusia mengumumkan awal bulan ini bahwa mereka siap untuk memulai produksi massal Su-57. 10 prototipe Su-57 saat ini sedang menjalani berbagai tahap pengujian dan evaluasi oleh Angkatan Udara Rusia.
Su-57 direncanakan akan diserahkan ke tiga resimen penerbangan. Unit-unit itu, termasuk resimen di tiga wilayah strategis utama di barat laut, barat daya, dan timur jauh. Tujuh puluh enam pesawat tempur ini dipandang memiliki tingkatan yang sangat tinggi bagi militer Rusia, yang kemudian harus memotong pesanan untuk berbagai program lain, seperti tank tempur utama T-14 Armata karena kekurangan dana. Saat ini, Rusia hanya memiliki 10 prototipe Su-57, dan pengembangan pesawat tempur tersebut bergerak jauh lebih lambat dari yang diperkirakan.(Angga Saja-TSM)

Turki Kerahkan Helikopter Serang T129 ke Azerbaijan

radarmiliter.com - Angkatan Bersenjata Turki mengerahkan helikopter serang T129 ke Azerbaijan, menurut Kementerian Pertahanan Azerbaijan.
Menurut rilis berita baru-baru ini,Turki mengerahkan prajurit dan pesawat dari Angkatan Bersenjata Turki untuk berpartisipasi dalam Latihan Live Fire Taktis Berskala Besar Gabungan Azerbaijan-Turki dan Latihan Penerbangan-Taktis dan telah tiba di Nakhchivan, Azerbaijan.
Helikopter Serang T129
Helikopter Serang T129 
ilakukan upacara penyambutan bagi kontingen Turki yang berpartisipasi dalam latihan tersebut, yang berlangsung di lapangan terbang militer Tentara Senjata Gabungan Azerbaijan, dan kemudian diperdengarkan lagu kebangsaan kedua negara.
Helikopter militer Angkatan Bersenjata Turki tiba dengan pesawat angkut militer Airbus A400M Atlas AU Turki, dan kemudian disiapkan untuk latihan di lapangan terbang militer Tentara Senjata Gabungan Azerbaijan.
Helikopter serang T129 dikembangkan bersama oleh AgustaWestland dan Turkish Aerospace Industries (TAI) untuk Komando Pasukan Darat Turki (TLF) di bawah program helikopter serang dan intai taktis ATAK. Helikopter ini didasarkan pada helikopter AW129 dan pendahulunya A129 Mangusta.
Sebelumnya, telah terjadi serangan yang dilakukan oleh Armenia di perbatasan Azerbaijan pada 12 Juli.
Meningkatnya ketegangan baru-baru ini dipicu ketika tentara Armenia berusaha untuk menyerang posisi Azerbaijan dengan tembakan artileri ke arah distrik perbatasan Tovuz barat laut, menarik diri setelah menderita kerugian setelah adanya pembalasan dari militer Azerbaijan.
Dua belas tentara Azerbaijan, termasuk seorang Mayor Jenderal dan seorang Kolonel, terbunuh dan empat lainnya terluka dalam bentrokan perbatasan baru-baru ini.
Azerbaijan menyalahkan Armenia atas tindakan-tindakan "provokatif" tersebut, sementara itu Turki menyatakan mendukung Azerbaijan dan memperingatkan Armenia bahwa mereka tidak akan ragu untuk melawan segala bentuk serangan terhadap tetangga sebelah timurnya itu.(Angga Saja-TSM)

Yonko 465 Paskhas Terima Rantis APC Turangga 4X4

radarmiliter.com - Kendaran Armoured Personnel Carrier (APC) Turangga 4x4 tiba di Markas Batalyon Komando 465 Paskhas untuk kemampuan operasional Batalyon Komando 465 Paskhas yang membutuhkan mobilitas dan kecepatan di medan operasi. Sebelum diterima Batalyon Komando 465 Paskhas Rantis APC Turangga 4x4 menjalani sejumlah uji coba dan pemeriksaan kelengkapan di Mako Korpaskhas Bandung.
 Rantis APC Turangga 4X4
 Rantis APC Turangga 4X4 
Komandan Batalyon Komando 465 Paskhas Letkol Pas Jhoni Imanuel Laimeheriwa pada saat melakukan pemeriksaan dan kelengkapan APC Turangga 4x4 di Yonko 465 Paskhas menyatakan Rantis APC Turangga 4x4 di gunakan operasional Batalyon Komando 465 Paskhas untuk mendukung dalam melaksanakan penyerbuan cepat dan pengawalan konvoi serta patroli pengamanan bandara. 
Dengan adanya Rantis APC Turangga 4x4 diharapkan dapat meningkatkan moril dan kepercayaan diri prajurit dalam melaksanakan tugas operasi. Kepada personel yang akan mengawaki dan merawat Rantis APC Turangga 4X4 agar dalam pengoperasiannya dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan mengaplikasikan segala sesuatu apa yang telah di dapatkan pada saat mengikuti pelatihan operasional Rantis APC Turangga 4X4.(Angga Saja-TSM)
Sumber : paskhas.mil.id

Peluncuran KRI Posepa-870 dan KRI Escolar-871 untuk Perkuat TNI-AL

radarmiliter.com - TNI Angkatan Laut meluncurkan dua kapal perang baru jenis Patroli Cepat (PC-40 M) yakni KRI Posepa-870 dan KRI Escolar-871 yang diresmikan oleh Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono, S.E., M.M., didampingi Ketua Umum Jalasenastri Ny. Vero Yudo Margono, bertempat di Halte Slipway PT Caputra Mitra Sejati, Banten, Senin (27/7/2020).
Kapal PC 40 M ini, memiliki spesifikasi panjang 45,5 meter, lebar 7,9 meter dan bobot 220 ton. Kapal tersebut mampu melaju dengan kecepatan maksimal 24 knot, kecepatan jelajah 17 knot dan kecepatan ekonomis 15 knot, serta memiliki ketahanan (endurance) dalam berlayar selama enam hari. Kapal perang ini juga dilengkapi dengan dua unit radar dan senjata meriam 30 mm serta diawaki 35 Anak Buah Kapal (ABK).
KRI Posepa-870 dan KRI Escolar-871
KRI Posepa-870 dan KRI Escolar-871 
Dalam acara shipnaming dan launching tersebut, Kasal mengatakan bahwa sebagai negara maritim yang memiliki konstelasi perairan yang cukup luas, TNI AL bertanggung jawab terhadap kedaulatan dan stabilitas keamanan maritim di seluruh wilayah yurisdiksi Indonesia. Sebagai konsekuensinya kebutuhan kapal patroli merupakan suatu keharusan bagi negara kepulauan.
“Pembangunan kapal patroli 40 M ini, merupakan bagian integral dari pembanguan kekuatan TNI AL dan wujud dari kemandirian industri pertahanan. Pemenuhan kebutuhan alutsista TNI AL juga turut memberikan kontribusi bagi peningkatan perekonomian bangsa dan kesejahteraan rakyat Indonesia”, ujar Kasal.
Tidak hanya itu, Kasal juga menambahkan bahwa peluncuran KRI Posepa-870 dan KRI Escolar-871 ini, akan memasuki tahap pengabdiannya sebagai bagian dari unsur patroli di bawah Kotama Operasi karena kedua unsur ini memiliki performa yang jauh lebih baik. “Saya berharap seluruh pihak mampu menciptakan inovasi baru dan kita tunjukkan bahwa kita dapat mengejar ketertinggalan yang sudah terjadi selama ini. Bangsa Indonesia harus menjadi bangsa yang kompetitif dan mampu bersaing di tataran Internasional termasuk dalam industri perkapalan”, tambahnya.
Alutsista TNI Angkatan Laut ini, merupakan kapal perang karya anak bangsa yang diproduksi PT Caputra Mitra Sejati Banten. KRI Posepa-870 rencananya akan memperkuat Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) V Surabaya, sedangkan KRI Escolar-871 akan memperkuat Lantamal VII Kupang. Peluncuran Kapal perang tersebut ditandai dengan pemotongan tali dan prosesi pemecahan kendi oleh Ny. Vero Yudo Margono sebagai “Ibu Kandung Kapal” dan dilanjutkan dengan pemberian cinderamata berupa miniatur kapal PC 40 M.
Turut mendampingi Kasal pada kesempatan tersebut para Pejabat Tinggi TNI AL diantaranya, Irjenal, Asops Kasal, Aslog Kasal, Pangkoarmada I, Pangkolinlamil, Kadismatal, Kadislaikmatal, Kadisadal, Kadislitbangal, Danlantamal III Jakarta, Dirut PT CMS Kris Pramono dan jajaran Direksi PT CMS Banten serta Satuan Tugas Yekda Dalam Negeri (Satgas Yekda DN) PC 40 M.(Angga Saja-TSM)
Sumber : tnial.mil.id

Lima Jet Tempur Rafale AU India Tiba di Pangkalan Udara Ambala

radarmiliter.com - Perdana Menteri India Narendra Modi menyambut kedatangan batch pertama terdiri dari lima jet Rafale di Pangkalan Udara IAF di Ambala, Rabu (29/07). Kedatangan pesawat-pesawat Rafale tersebut dikawal oleh dua pesawat Su-30 MKI ketika armada Rafale memasuki wilayah udara India. 
Jet Tempur Rafale AU India
Jet Tempur Rafale AU India 
Kepala Staf Angkatan Udara India Air Chief Marshal RKS Bhadauria menerima armada Rafale tersebut di Ambala. Lima pesawat tempur, yang diterbangkan oleh pilot Angkatan Udara India, tiba di Ambala India setelah menempuh jarak 7.000 km dengan pengisian bahan bakar udara ke udara dan satu kali pemberhentian di Uni Emirat Arab. Pesawat akan secara resmi diresmikan masuk kedinasan AU India pada paruh kedua bulan Agustus.
India telah membeli 36 pesawat tempur bermesin ganda Rafale dari Dassault Rafale dengan perkiraan harga Rs 58.000 crore, melalui perjanjian antar pemerintah yang ditandatangani pada 2016. Sebelumnya No. 17 Squadron "Golden Arrows" Angkatan Udara India telah dihidupkan kembali dalam rangka persiapan masuknya Rafale ke kedinasan AU India. 
Golden Arrows dibentuk pada tahun 1951 dan telah terlibat dalam sejumlah operasi penting sepanjang sejarah mereka, termasuk Perang Kargil. Tetapi setelah AU India mulai menghapus pesawat tempur Mig-21 yang dioperasikan oleh Golden Arrows, skuadron tersebut dibubarkan pada tahun 2016.(Angga Saja-TSM)

Detasemen Satkopaska Koarmada II Laksanakan Latihan Renang kompas Atas Air Dan Bawah Air

radarmiliter.com - Detasemen Satkopaska Koarmada II yang di komandani oleh Kolonel Laut (T) Ariyadi melaksanakan Renang kompas atas air dan renang Kompas Bawah air ( RKAA /RKBA) bertempat di Kombasin Dermaga Sea Raider Koarmada II pada Senin (27/07/20200.
Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka K 2 Combat Swimmer Satkopaska Koarmada II. Combat Swimmer merupakan teknik yang dimiliki oleh Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI Angkatan Laut pada saat akan melaksanakan infiltrasi pasukan khusus mendekati sasaran tanpa di ketahui musuh.
Detasemen Satkopaska Koarmada II
Detasemen Satkopaska Koarmada II 
Menurut Ariyadi-sapaan karib Dansatkopaska Koarmada II, "Latihan ini dalam rangka meningkatkan kemampuan Kopaska dalam melakukan inflitrasi dan surveillance ke daerah teritorial musuh untuk mengamankan pantai pendarat dalam operasi amphibi. Dengan kemampuan membawa logistik terbatas dengan jangkauan jelajah perenang hingga 3 – 5 km, " ujarnya.
"Kegiatan latihan yang diikuti oleh Perwira dan anggota Detasemen, Denlat Satkopaska, Kesehatan dan pam Kopaska serta Kolat Koarmada II ini rutin dilaksanakan sesuai dengan perintah Pangkoarmada II Laksda TNI Heru Kusmanto untuk mewujudkan Satkopaska Koarmada II yang handal, profesional dan militan sesuai moto "Tan Hana Wighna Tan Sirna" (Tidak ada rintangan yang tak dapat diatasi), " pungkas Ariyadi.(Dispen Koarmada II)

Iran Latihan Perang dengan Tiruan Kapal Induk Amerika Serikat

radarmiliter.com - Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) melemparkan kritikan tajam atas latihan militer Iran yang terjadi di sepanjang jalur maritim di Teluk Persia dan Selat Hormuz. Angkatan Laut AS mengatakan bahwa mereka sedang memantau latihan itu dengan cermat.
Dalam sebuah pernyataan, Angkatan Laut AS menyebut bahwa latihan perang, yang turut melibatkan tiruan kapal induk AS, sebagai upaya Iran untuk mengintimidasi dan memaksa, tanpa mengklarifikasi siapa atau untuk tujuan apa.
Tiruan Kapal Induk Amerika Serikat
Tiruan Kapal Induk Amerika Serikat 
"Kami menyadari latihan Iran yang melibatkan serangan terhadap tiruan kapal yang mirip dengan kapal induk tak bergerak," ucap juru bicara Armada Kelima AS, Rebecca Rebarich, seperti dilansir Sputnik pada Rabu (29/7/2020).
"Kami selalu waspada terhadap jenis perilaku yang tidak bertanggung jawab dan gegabah oleh Iran di sekitar saluran air internasional yang sibuk," sambungnya.
Dia juga mencatat bahwa meskipun latihan perang dilakukan di dekat jalur maritim utama, termasuk Selat Hormuz, yang bertanggung jawab atas sebagian besar pengiriman minyak global, operasi kapal-kapal komersial belum terganggu. Dia menambahkan bahwa operasi koalisi maritim internasional juga tidak terpengaruh.
Meskipun mengkritik latihan Iran, AS jarang memperhatikan peringatan Teheran bahwa operasi maritim Amerika di Teluk mengancam stabilitas kawasan.(Victor Maulana)

29 Juli 2020

Australia Siap Gabung AS untuk Manuver di Laut China Selatan

radarmiliter.com - Australia sedang bersiap untuk bergabung dengan Amerika Serikat (AS) dalam latihan militer di kawasan Laut China Selatan. Canberra memilih mendukung Washington setelah menyebut klaim maritim Beijing atas perairan yang disengketakan itu ilegal atau melanggar hukum internasional.
Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne dan Menteri Pertahanan Linda Reynolds akan bertemu dengan rekan-rekannya dari AS di Washington pada pekan ini.
Kapal Perang Australia
Kapal Perang Australia 
Amerika, dalam pertemuan itu, diprediksi para pakar akan meminta Australia untuk bergabung dengan misi-misi Angkatan Laut AS yang gencar untuk melawan militerisasi China atas wilayah-wilayah yang disengketakan di Laut China Selatan.
Juru bicara oposisi Australia untuk urusan pertahanan Richard Marles mengatakan dengan 60 persen kapal pengiriman dan perdagangan Australia melewati Laut China Selatan, maka kebebasan navigasi sangat penting.
Namun, dia mengatakan bukan kepentingan Australia untuk terlibat dalam klaim teritorial di perairan yang diperebutkan.
"Kami memiliki kepentingan inti nasional yang dipermasalahkan dalam hal menavigasi Laut China Selatan," kata Marles kepada radio ABC, Selasa (28/7/2020).
"Pada prinsipnya bahwa (kebebasan melakukan navigasi) memang perlu di atas meja," ujarnya.
Sikap Australia yang tegas untuk membela kebebasan navigasi di Laut China Selatan muncul ketika China baru-baru ini melakukan latihan evakuasi di Beijing dan Shanghai, di mana papan iklan juga mempromosikan kesadaran sipil akan operasi pertahanan udara.
Langkah-langkah itu telah memicu desas-desus bahwa China dan AS akan bergerak menuju perang.
Tetapi media pemerintah Global Times mengatakan seorang pejabat telah memberitahu bahwa langkah-langkah tersebut dilakukan setiap tahun sebagai standar dan tidak ada hubungannya dengan situasi internasional saat ini. "Perang tidak akan terjadi lagi!," tulis media tersebut di Twitter.(Muhaimin)

Sinergitas TNI Polri Penting untuk Jaga Stabilitas Keamanan

radarmiliter.com - Pengamat militer dan intelijen, Dr Susaningtyas Kertopati, berpendapat optimalisasi sinergitas TNI-Polri merupakan hal penting untuk menjaga stabilitas keamanan nasional.
"Sinergi sangat penting untuk stabilitas keamanan nasional," kata Susaningtyas, saat memberikan pembekalan kepada Perwira Siswa Sekolah Staf dan Komando TNI AU (Pasis Seskoau) Angkatan Ke-57 dalam Program Kegiatan Bersama Kejuangan Tahun 2020 di Graha Widya Dirgantara, Sekolah Staf dan Komando TNI AU, di Lembang, Bandung, Jawa Barat, Selasa (28/7/2020).
Dalam siaran persnya, dia mengatakan, stabilitas keamanan nasional akan mendukung program-program pembangunan nasional, termasuk pembangunan SDM yang unggul.
Sinergitas TNI Polri
Sinergitas TNI Polri 
Bahkan, lanjut dia, Panglima TNI, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, pernah menyebut bahwa dalam membangun bangsa tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, tapi perlu kerja sama dan kolaborasi berbagai komponen bangsa untuk mencapai kemajuan dan keunggulan.
TNI-Polri, kata dia, sangat berkepentingan terhadap kualitas generasi muda di masa depan.
"Dengan kualitas dan nasionalisme yang mumpuni, akan menjadi mudah bagi TNI-Polri bersama komponen bangsa lainnya untuk bekerja sama membangun ketahanan nasional melalui pertahanan militer & nonmiliter," kata dia.
Selain itu, integrasi TNI-Polri harus mendapat dukungan dari masyarakat sipil, di tingkat pusat dan daerah.
"Masyarakat sipil berperan sebagai agen perubahan dan pembangunan, terutama di daerah-daerah di mana kekuatan komponen bangsa lainnya belum memadai," ujarnya.
Peran itu perlu didukung berbagai regulasi dan peraturan perundang-undangan yang bertujuan meningkatkan pembangunan dan perekonomian yang berpengaruh pada stabilitas keamanan nasional.
Pembangunan ekonomi dan stabilitas keamanan nasional sangat mempengaruhi tingkat keamanan suatu wilayah. Oleh karena itu, lanjut Susaningtyas, seluruh kekuatan komponen bangsa perlu membangun kualitas perekonomian dan stabilitas keamanan nasional.
"Jika suatu daerah tertinggal dalam pembangunan, maka rentan menghadapi ancaman yang dapat menganggu kegiatan masyarakat," tuturnya.
Dia menambahkan, ada beberapa upaya untuk mengoptimalisasi integrasi TNI-Polri dan komponen bangsa lainnya, yang terbagi dalam tiga tingkatan.
"Tingkat Strategis: Membahas turunan produk perundang-undangan pertahanan militer & nirmiliter untuk memberikan maupun melengkapi peraturan perundang-undangan yang sudah ada, baik itu di TNI, Polri dan komponen bangsa lainnya," ujarnya.
Kedua, tingkat organisasi menyangkut pengembangan koordinasi, kerja sama serta komunikasi antara TNI-Polri dan komponen bangsa lainnya seperti dengan meningkatkan kembali pemahaman jiwa korsa dan aplikasinya. Sehingga solidaritas yang bersifat fanatisme yang salah dapat ditinggalkan.
"Meningkatkan dan memperbaiki koordinasi inter dan antar institusi. Meningkatkan intensitas latihan bersama dalam menghadapi operasi gabungan untuk bencana alam, Covid-19, ataupun separatism," ucapnya.
Pada level ini, pelibatan Badan Intelijen Negara sebagai representasi organisasi sipil dan koordinator sektor intelijen sangat diperlukan mengingat, intelijen adalah first line of defense dalam kelangsungan hidup suatu negara.
"Untuk itu, penguatan koordinasi antara intelijen TNI (BAIS), intelijen Polri (BIK), serta penyelenggara intelijen lainnya seperti kejaksaan, imigrasi dan bea cukai sangat diperlukan untuk mencegah tumbuhnya paham radikalisme, baik dalam dan luar negeri, yang dapat mengganggu program pembangunan nasional," katanya.
Ketiga, tingkat program yakni, peningkatan kompetensi, kesejahteraan dan pendidikan di entitas masing-masing. Dengan kapasitas TNI-Polri dan komponen bangsa lainnya yang semakin baik, maka akan terwujud kemantapan dalam koordinasi dan kerjasama dalam menjaga stabilitas keamanan nasional.
PKB Juang 2020 yang diikuti Perwira Siswa Sekolah Staf dan Komando TNI AU Angkatan Ke-57, didampingi Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI AU, Marsekal Muda TNI Samsul Rizal, para pejabat Seskoau, dosen dan perwira penuntun.
Berbeda dari tahun sebelumnya dengan dihadapkan kondisi pandemi Covid-19, penyelenggaraan pembekalan ini diikuti secara daring oleh 1.543 orang.
Mereka terdiri dari 267 pejabat lembaga pendidikan TNI dan Kepolisian Indonesia, dan 1.276 perwira siswa, terdiri atas 214 orang dari Sekolah Staf dan Komando TNI, 103 orang dari Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi Polri, 251 orang dari Sespimmen Polri, 499 orang dari Sekolah Staf dan Komando TNI AD, 241 orang dari Sekolah Staf dan Komando TNI AL, dan 235 orang dari Sekolah Staf dan Komando TNI AU.
Kemudian Pasis Sesko TNI, Serdik Sespimti Polri, Pasis Sesko Angkatan dan Serdik Sespimmen Polri yang mengikuti kegiatan pembekalan PKB Juang selama satu hari ini merupakan salah satu program kurikulum Pendidikan di bawah Departemen Kejuangan dengan sejumlah materi pembekalan dari Presiden Joko Widodo, Tjahjanto, dan Kepala Kepolisian Indonesia, Jenderal Polisi Idham Aziz, dengan panelis Rektor Universitas Padjajaran, Rina Indiastuti.
RIzal yang juga ketua Pelaksana Proyek PKB Juang Tahun 2020, mengatakan, pembangunan SDM unggul merupakan tugas bersama.
Melalui SDM unggul, tangguh dan berkualitas baik secara fisik dan mental akan berdampak positif tidak hanya terhadap peningkatan daya saing dan kemandirian bangsa, namun juga dalam mendukung pembangunan nasional dalam rangka terwujudnya kesejahteraan rakyat.
"Di sinilah peran Pasis Sesko TNI/Polri dan Sesko Angkatan meningkatkan peran TNI-Polri beserta komponen bangsa untuk mengantisipasi dan menangani berbagai ancaman serta membangun inisiatif kerja sama yang erat untuk menjaga persatuan kesatuan," katanya.

India dan Indonesia Perluas Kerja Sama Pertahanan dan Bahas Ekspor Rudal BrahMos

radarmiliter.com - India dan Indonesia pada hari Senin (27/07) sepakat untuk memperluas kerja sama strategis di berbagai bidang termasuk, industri dan berbagi teknologi, dimana kedua negara tetangga maritim tersebut berkeinginan menyuntikkan momentum baru untuk kemitraan keamanan mereka.
Kemungkinan bidang perluasan hubungan pertahanan dan militer selanjutnya dibahas selama pembicaraan antara Menteri Pertahanan Rajnath Singh dan mitranya dari Indonesia, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, kata para pejabat.
Rudal BrahMos
Rudal BrahMos 
Mencerminkan pentingnya Indonesia terkait dengan hubungan strategisnya dengan India, Menteri Subianto tiba di India pada hari Minggu (26/07) untuk mengadakan pembicaraan.
Sumber-sumber mengatakan masalah kemungkinan ekspor rudal jelajah BrahMos ke Indonesia oleh India dan cara-cara untuk lebih memperdalam kerja sama keamanan maritim menjadi hal yang menonjol dalam pembicaraan tersebut.
“Kedua menteri sepakat untuk lebih meningkatkan kerja sama pertahanan bilateral di bidang yang disepakati bersama. Potensi bidang kerja sama di bidang industri pertahanan dan teknologi pertahanan juga diidentifikasi oleh kedua negara, "kata kementerian pertahanan India dalam sebuah pernyataan.
Dikatakan Menteri Singh dan Subianto berkomitmen untuk lebih memperkuat kerja sama bilateral di bidang-bidang ini dan membawa ikatan pertahanan ke "tingkat berikutnya."
"Pertemuan berakhir dengan catatan positif dengan komitmen untuk lebih memperkuat dan memperluas ruang lingkup kerja sama bilateral antara kedua negara," kata kementerian pertahanan India, tanpa memberikan rincian.
India dan Indonesia memiliki kerja sama yang kuat di bidang pertahanan dan keamanan.
Kedua negara menandatangani perjanjian kerja sama pertahanan baru pada tahun 2018 selama kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi ke Indonesia. Pakta ini bertujuan untuk mencerminkan peningkatan hubungan antara kedua negara untuk kemitraan strategis yang komprehensif.
Dalam pembicaraan hari Senin lalu, Menteri Pertahanan Singh mengulangi sejarah panjang interaksi yang saling menguntungkan antara kedua negara dengan tradisi dialog politik yang erat, hubungan ekonomi dan perdagangan serta interaksi budaya dan orang-ke-orang.
Para pejabat mengatakan kedua belah pihak mengeksplorasi berbagai bidang untuk lebih memperluas kerja sama strategis termasuk di bidang industri pertahanan dan berbagi teknologi.
Dipahami bahwa sikap agresif Tiongkok di Ladakh timur dan Laut Cina Selatan menjadi perhatian dalam pembicaraan itu, tetapi tidak ada konfirmasi resmi tentang hal itu.(Angga Saja-TSM)
Sumber : theprint.in

Kapal Serbu Amfibi Type-075 Pertama Tiongkok Memulai Sea Trial

radarmiliter.com - Kapal serbu amfibi Type-075 yang dibangun di Shanghai itu, telah melakukan fitting out sejak diapungkan pada tanggal 26 September 2019. Foto-foto yang muncul di internet Tiongkok menunjukkan bahwa kapal tersebut sedang diisi bahan bakar, dan kapal tunda disiapkan.
Kapal Tipe-075 mencerminkan perubahan langkah dalam kemampuan perang amfibi Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLAN).Kapal ini akan memungkinkan kemampuan pendaratan over-the-horizon yang lebih baik dan meningkatkan komponen pendukung udara. Dan sudah ada desas-desus tentang kapal LHD lanjutan Type-076 yang diperkirakan akan dilengkapi dengan EMALS (Electromagnetic Aircraft Launch System - Sistem Peluncuran Pesawat Elektromagnetik) untuk UCAV atau pesawat berawak. Ini memberikan indikasi kemana arah kemampuan amfibi AngkatanLaut Tiongkok.
Kapal Serbu Amfibi Type-075
Kapal Serbu Amfibi Type-075  
Selain well-deck untuk hovercraft Type 726 (secara umum setara dengan LCAC Angkatan Laut AS), LHD akan memiliki komponen wing udara yang besar untuk helikopter. Ini akan termasuk helikopter angkut Z-8 ​​yang didasarkan pada helikopter SA 321 Super Frelon Prancis. Jenis yang lebih modern terlihat di atas kapal, dalam bentuk mock-up, termasuk Harbin Z-20 varian angkatan laut. Menurut sebagian orang, Z-20 adalah salinan dari keluarga helikopter Sikorsky S-70 Black Hawk/Sea Hawk.
Juga ada UAV sayap putar kecil dan bahkan model helikopter anti-kapal selam Ka-27/28 HELIX di atas kapal untuk pengujian dek.
Kapal tersebut mengalami insiden kebakaran pada 11 April 2020. Meskipun api dengan cepat padam dan kerusakan tampak minimal, noda hitam masih terlihat di sisi kiri belakang kapal dekat dengan ramp.
Galangan kapal Hudong–Zhonghua Shipbuilding di Shanghai di mana kapal Type-075 pertama dibangun, juga telah meluncurkan kapal Type-075 kedua. Dan analisis citra satelit komersial menunjukkan bahwa modul untuk kapal ketiga mungkin sedang dalam pengerjaan. Saat ini galangan kapal tersebut sedang membangun fregat Type-054A untuk Angkatan Laut Pakistan dan LPD Type-071 untuk Thailand.(Angga Saja-TSM)

Rostec Demonstrasikan TOS-1A kepada Pelanggan Asing

radarmiliter.com - JSC Rosoboronexport dan JSC Omsktransmash (bagian dari JSC Concern Uralvagonzavod), yang merupakan anak perusahaan dari Rostec State Corporation, mendemonstrasikan sistem flamethrower berat TOS-1A kepada sejumlah pelanggan asing di Nizhny Tagil Institute of Metal Testing's (NTIIM) Staratel Proving Ground di Nizhny Tagil.
"Sistem flamethrower berat TOS-1A adalah senjata unik untuk pasar senjata dunia, satu-satunya senjata pendukung tembakan jarak pendek yang mematikan di dunia. Peralatan semacam itu tidak diproduksi di mana pun di dunia kecuali Rusia, dan kami bangga menunjukkannya kepada mitra asing kami. Sistem ini telah berulang kali menunjukkan kemampuannya yang mengesankan untuk menghancurkan kelompok-kelompok teroris dalam kondisi pertempuran nyata di Timur Tengah. Karena kinerjanya yang tak tertandingi, TOS-1A telah bertahan dalam 5 senjata teratas yang dipasok oleh Rosoboronexport kepada pasukan darat pelanggan," kata Direktur Jenderal Rosoboronexport Alexander Mikheev.
TOS-1A
TOS-1A 
Selama demonstrasi di Staratel Proving Ground, sistem TOS-1A menyelesaikan semua tugasnya dengan baik. Pengamatan visual dan analisis data yang cepat mendukung kinerja dan keandalan dalam membidik sasaran pada jarak yang berbeda. "TOS-1A menunjukkan kinerja terbaik dan efisiensi penembakan yang tinggi di lokasi pengujian. Efektivitas dan daya tembaknya telah lama dikenal di seluruh dunia. Ini adalah produk litbang kami yang unik dalam hal solusi teknis yang diterapkan dan efektivitas tempur," kata Alexander Potapov, Direktur Jenderal JSC Uralvagonzavod Concern.
Sistem flamethrower berat TOS-1A beroperasi tidak hanya dengan Angkatan Darat Rusia tetapi juga dengan angkatan bersenjata dari beberapa negara di dunia. Berbeda dengan kebanyakan peluncur roket multipel (MRL) yang ada saat ini, kendaraan peluncur BM-1 dari sistem TOS-1A memiliki perlindungan setingkat MBT dan jarak tembak minimum 600 m (jangkauan maksimum 6 km), dapat melakukan misi tempur yang diperlukan di depan area pertempuran (forward edge of the battle area - FEBA) dalam waktu yang sangat singkat.
Semua MLRS yang ada memiliki jarak tembak minimum yang lebih jauh dan ditempatkan pada jarak yang cukup jauh dari FEBA. TOS-1A beroperasi dalam formasi tempur pasukan, yang mengurangi waktu pembidikan dan meningkatkan efisiensi fire control. Sistem ini mampu memberikan tembakan tidak langsung dan langsung pada sasaran yang terlihat segera setelah terdeteksi.
Menurut Igor Lobov, Direktur Jenderal Omsktransmash, pengembang dan produsen TOS-1A, “sasis tank menyediakan mobilitas taktis dan perlindungan awak tingkat tinggi, dan juga memungkinkan untuk dengan cepat pindah ke posisi menembak yang diperlukan dan beroperasi di zona kontak tembakan langsung dengan musuh, yang tidak bisa dilakukan oleh sistem artileri. ”
Kendaraan peluncur beroda rantai BM-1 membawa peluncur roket 24 laras 220 mm. Kendaraan ini menembakkan roket tak berpemandu yang dikembangkan oleh Ganichev NPO SPLAV (bagian dari Rostec State Corporation). Roket dilengkapi dengan hulu ledak termobarik yang mampu menghancurkan posisi musuh yang terlindung, termasuk benteng, dengan sarana minimal. Tembakan salvo penuh berlangsung hanya dalam beberapa detik, mampu menghancurkan pasukan musuh di atas area seluas 40.000 meter persegi.(Angga Saja-TSM)

Angkatan Pertahanan Selandia Baru Mulai Uji Sepeda Elektrik UBCO 2x2

radarmiliter.com - Menurut rilis berita perusahaan UBCO, Angkatan Pertahanan Selandia Baru (NZDF) melakukan tes operasional penggunaan sepeda elektrik UBCO 2 × 2 untuk digunakan dalam pengintaian, pengawasan, dan aplikasi lainnya.
Cabang-cabang Pasukan Pertahanan Selandia Baru akan masing-masing menguji sepeda elektrik UBCO 2 × 2 tersebut dalam berbagai simulasi untuk menilai kendaraan itu. Uji coba ini merupakan bagian dari program Angkatan Pertahanan Selandia Baru menuju operasi yang lebih berkelanjutan, yang juga sesuai dengan tujuan Pemerintah Selandia Baru untuk memiliki 64.000 kendaraan elektrik di jalanan Selandia Baru pada akhir tahun depan. LtCol Brad Gallop, Pimpinan Land Combat Group, Capability Branch, Angkatan Pertahanan Selandia Baru mengatakan, “Telah ada perubahan dramatis dalam teknologi selama beberapa tahun terakhir pada kendaraan elektrik, teknologi kunci yang muncul yang telah dipantau oleh NZDF. Setelah mempelajari berbagai opsi, NZDF memilih UBCO untuk melakukan uji coba pada tahun 2020 ”.
Sepeda Elektrik UBCO 2x2
Sepeda Elektrik UBCO 2x2 
LtCol Brad Gallop berbicara tentang program ini dan bagaimana kesesuaiannya dengan keinginan NZDF. “Kami sedang melakukan evaluasi terperinci terhadap sepeda elektrik. Kami sedang mencari sepeda patroli dengan energi alternatif, terutama untuk pengintaian dan pengawasan tetapi memiliki banyak [potensi] aplikasi lain. Saya pikir ini adalah tentang memahami teknologi yang muncul dan di mana ia cocok dalam teori NZDF.
UBCO mengembangkan Electric Utility Vehicle dan platform daya portabel yang awalnya untuk penggunaan off-road dan telah mensertifikasi untuk penggunaan ganda (on-road) secara global dalam berbagai aplikasi high duty. UBCO 2x2 mampu mencapai kecepatan maksimum 50 km/jam dan mencapai jarak hingga 120 km. “Kolaborasi dengan NZDF memungkinkan UBCO untuk dengan cepat mempelajari bagaimana 2x2 dapat beroperasi di Angkatan Darat, Angkatan Udara dan Angkatan Laut. Secara global, pertahanan adalah industri yang sangat terkontrol, jadi kolaborasi ini sangat berharga untuk dipelajari dengan cepat untuk UBCO, ”kata Timothy Allan, CEO UBCO.
Tujuan evaluasi ini tidak hanya untuk melihat kemampuan sepeda itu sendiri tetapi juga bagaimana kesesuaiannya dalam operasi NZDF. Baik NZDF dan UBCO tertarik untuk memahami potensi sepeda tersebut, baik di dalam maupun di luar medan perang.(Angga Saja-TSM)

India Segera Menerima Pengiriman 5 Unit Jet Tempur Rafale

radarmiliter.com - Lima dari 36 pesawat jet tempur Rafale pertama yang dibeli oleh New Delhi dari Dassault Aviation Prancis sedang diterbangkan dari pabriknya ke India.
Jet-jet tempur Prancis ini akan menjadi lawan tangguh China yang saat ini membanggakan jet tempur siluman generasi kelima J-20.
Prancis telah mempercepat pengiriman jet-jet tempur Rafale setelah pasukan New Delhi dan Beijing terlibat bentrok mematikan di Ladakh 15 Juni 2020. Bentrok di wilayah perbatasan yang disengketakan itu menewaskan puluhan personel militer termasuk 20 tentara India.
Jet Tempur Rafale
Jet Tempur Rafale 
Lima jet tempur Rafale diterbangkan dari Prancis oleh pilot-pilot Angkatan Udara India pada 27 Juli dan dijadwalkan tiba pada Rabu (29/7/2020).
Mengutip laporan Defense News, Selasa (28/7/2020), kelima pesawat tempur itu dijadwalkan untuk melakukan perjalanan dalam dua tahap, dengan pengisian bahan bakar air-to-air selama leg pertama yang disediakan oleh pesawat tanker Angkatan Udara Prancis A330 Phenix MRTT.
Pesawat MRTT kedua juga menyertai penerbangan kelima jat tempur Rafale dengan membawa 70 respirator, 100.000 alat tes dan 10 profesional kesehatan militer untuk membantu India dalam perjuangannya melawan pandemi Covid-19.
Pilot-pilot India lepas landas dari fasilitas Dassault Aviation Mérignac dekat Bordeaux di Prancis barat dan akan mendarat di Stasiun Angkatan Udara Ambala di India utara, sekitar 125 mil utara Delhi, pada 29 Juli. Demikian disampaikan Angkatan Udara India via akun Twitter-nya.
Leg pertama adalah ke pangkalan udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab di mana pesawat-pesawat tempur tersebut mendarat pada Senin sore.(Muhaimin)

28 Juli 2020

Rusia Sukses Tes Tembak Rudal Hipersonik Zircon dari Kapal Perang

radarmiliter.com - Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan tes tembak rudal hipersonik  Zircon dari sebuah kapal perang berhasil menghantam target dengan akurat. Washington merasa khawatir karena tidak memiliki sistem pertahanan yang bisa menghalau senjata hipersonik.
Moskow menyatakan rudal hipersonik Zircon tak hanya mampu manargetkan objek di laut, tapi juga sasaran di darat.
Uji coba misil pembunuh kapal musuh ini berlangsung hari Minggu pagi. Senjata yang mampu melesat dengan kecepatan 6.000 mph ini ditembakkan dari kapal perang Admiral Gorshkov di ujung utara Rusia.
Tes Tembak Rudal Hipersonik Zircon dari Kapal Perang
Tes Tembak Rudal Hipersonik Zircon dari Kapal Perang 
"Tes rudal hipersonik Zircon berhasil diselesaikan," kata Kementerian Pertahanan setempat dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Russia Today.
"Uji peluncuran dari fregat Admiral dari Uni Soviet telah mengonfirmasi karakteristik taktis dan teknis yang unik dari rudal ini dalam hal jangkauan dan akurasi tembakan, serta kecepatan penerbangan hipersoniknya," lanjut kementerian tersebut.
Misil ini telah dikembangkan selama 20 tahun terakhir, namun uji tembak baru dimulai awal tahun ini. Kapal perang Admiral Gorshkov yang digunakan untuk menembakkan misil tersebut telah meninggalkan Pangkalan Angkatan Laut Belomorsky sejak pekan lalu.
Misil Zircon dapat terbang dengan jangkauan hingga 600 mil, yang berarti dapat mencapai targetnya hanya dalam tujuh menit.
Awal tahun ini, senjata itu juga diuji tembak terhadap sasaran darat di pegunungan Ural Utara.
Sementara itu, Wakil Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) untuk Riset dan Rekayasa, Michael D. Griffin, telah menyatakan keprihatinan besar tentang pembukaan celah rudal baru antara Amerika dan Rusia.
"Kami, hari ini, tidak memiliki sistem yang dapat membuat mereka (Rusia dan China) dalam risiko dengan cara yang sesuai, dan kami tidak memiliki pertahanan terhadap sistem-sistem (senjata) itu," katanya, seperti dilansir Daily Star.
“Jika mereka memilih untuk mempekerjakannya, kita akan berada pada posisi yang kurang menguntungkan," paparnya. "Kami bermain mengejar bola."(Muhaimin)

Prajurit KRI Diponegoro-365 Gelar Latihan Peran Tempur dan Peran Penyelamatan Kapal

radarmiliter.com - Guna meningkatkan profesionalisme dan meningkatkan naluri tempur, Prajurit KRI Diponegoro-365 yang di Komandani Letkol Laut (P) Lewis Nainggolan mengelar latihan peran tempur dan peran penyelamatan kapal di Selat Makasar, Minggu, (26/07).
Dalam pelaksanaan latihan tersebut Danguspurla Koarmada II Laksma TNI Rahmat Eko Rahardjo yang on board di KRI DPN-365 menyaksikan secara langsung bagaimana aksi kecepatan dan kesigapan Prajurit saat mendengar sirene dari anjungan.
Prajurit KRI Diponegoro-365 Gelar Latihan Peran Tempur dan Peran Penyelamatan Kapal
Prajurit KRI Diponegoro-365 Gelar Latihan Peran Tempur dan Peran Penyelamatan Kapal  
Adapun latihan yang di laksanakan prajurit KRI DPN-365 antara lain Peran tempur bahaya umum, peran tempur bahaya permukaan, peran kebocoran dan peran kebakaran.
"Latihan ini bertujuan untuk mempertahankan naluri tempur dan melatih kemampuan prajurit KRI Diponegoro-365 dalam melaksanakan tugas Operasi di Perbatasan RI-Malaysia. Serta menguji kemampuan teknis dari segala instrument (Sewaco) yang digunakan saat latihan peran dilaksanakan, " ujar Lewis.
"Latihan ini dilaksanakan sesuai perintah Pangkoarmada II Laksda TNI Heru Kusmanto, agar profesionalisme prajurit terus ditingkatkan sesuai dengan bidang tugas masing-masing demi mewujudkan Koarmada II sebagai Center Of Gravity TNI AL. Artinya Koarmada II menjadi tolak ukur kekuatan, postur dan performa TNI Angkatan Laut, " pungkasnya.(Dispen Koarmada II)

Danlanud Sultan Hasanuddin Tutup Pelatihan Inspektor Teknisi Pesawat Sukhoi 27/30MK Skadron Udara 11

radarmiliter.com - Komandan Pangkalan TNI AU Sultan Hasanuddin Marsma TNI H.Haris Haryanto, S.I.P., menutup Pelatihan Inspektor Teknisi Pesawat Sukhoi 27/30 MK di Hanggar Skadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin, Senin (27/7/2020).
Dalam sambutannya Danlanud menyampaikan, “Baru saja kita saksikan upacara penutupan pelatihan Inspektor Teknisi Pesawat Sukhoi ini dapat di jadikan sebagai momentum untuk lebih meningkatkan motivasi kualitas pengabdian dalam mengemban tugas sesuai spesialisasi yang dimiliki.
Pelatihan Inspektor Teknisi Pesawat Sukhoi 27/30MK Skadron Udara 11
Pelatihan Inspektor Teknisi Pesawat Sukhoi 27/30MK Skadron Udara 11
Sebagai salah satu komponen yang memiliki peran untuk mengawaki dan mengoperasikan alutsista udara, maka di tuntut kesiapan serta kemampuan personel yang sesuai tuntutan bidang tugas masing-masing dengan standart keterampilan yang terukur dan teruji.
Pembinaan personel Skadron Udara 14 antara lain melaksanakan peningkatan pengetahuan di bidang profesi yang ditujukan kepada pengoperasian dalam melaksanakan pemeliharaan pesawat sukhoi untuk menjadi personel teknik yang profesional dan dapat di andalkan, sehingga proses regenerasi akan berlanjut dan berkesinambungan serta menunjang kesiapan dan pemeliharaan pesawat sukhoi secara maksimal dengan mengutamakan keselamatan terbang dan kerja yang tinggi.
Lebih lanjut Danlanud menyampaikan “Selama sekitar tiga bulan kalian telah mengikuti proses pelatihan baik secara teori, praktek maupun kegiatan pendidikan lainnya. Hal ini di lakukan agar ilmu dan keterampilan yang di ajarkan dapat di pahami dan di aplikasikan secara nyata. Adapun maksud dan tujuan kegiatan pelatihan kualifikasi khusus teknisi pemeliharaan pesawat Sukhoi 27 SK dan 30 MK bagi personel Skadron Udara 14 adalah memberikan masukan tentang kegiatan pendidikan yang di laksanakan di skadron udara 11 untuk dapat menjadi bahan masukan dalam pengambilan keputusan selanjutnya.
Turut hadir pada acara tersebut Komandan Wing udara 5, Para Kepala Dinas, Para Komandan Satuan, pejabat staf dan Insub serta di ikuti perwakilan perwira, bintara dan tamtama Lanud Sultan Hasanuddin.(Pen Lanud Hnd)

AD Inggris Terima Enam APC ARES Pertama

radarmiliter.com - Menurut sebuah video yang dirilis oleh Angkatan Darat Inggris pada 27 Juli 2020, minggu lalu AD Inggris telah menerima enam ARES pertama, versi APC (Armored Personel Carrier) yang termasuk dalam keluarga kendaraan lapis baja roda rantai Ajax untuk menggantikan armada kendaraan lapis baja intai ringan CVR-T dalam Angkatan Darat Inggris yang telah berdinas selama beberapa dekade.
APC ARES
APC ARES 
Ajax adalah keluarga kendaraan lapis baja beroda rantai yang dikembangkan oleh General Dynamics untuk Angkatan Darat Inggris. Pada September 2014, General Dynamics memenangkan kontrak senilai £ 3,5 miliar untuk memasok 589 kendaraan AJAX ke Angkatan Darat Inggris. Pada bulan Juli 2015, perusahaan mendapatkan kontrak tambahan senilai £ 390 juta untuk memberikan layanan dukungan untuk armada AJAX hingga tahun 2024.
Pesanan ini meliputi :
  • 245 varian turreted 'Ajax', yang terdiri dari 198 Reconnaissance and Strike (Ajax), 23 Joint Fire Control (Ajax), 24 Ground Based Surveillance (Ajax);
  • 256 varian Protected Mobility Recce Support (PMRS), yang terdiri dari 93 Armoured Personnel Carrier (APC) (Ares), 112 Command and Control (Athena), 34 Formation Reconnaissance Overwatch (Ares), 51 Engineer Reconnaissance (Argus);
  • 88 varian Engineering, yang terdiri dari 38 Recovery vehicle (Atlas), 50 Repair vehicle (Apollo).

ARES memiliki awak tiga orang (pengemudi, komandan dan penembak). Bagian belakang kendaraan dapat menampung 6 prajurit infanteri. Kendaraan akan dilengkapi dengan Remote Weapon Station (RWS) Kongsberg Protector yang dipersenjatai dengan senapan mesin 12,7mm. RWS ini dilengkapi dengan Detached Line of Sight (DLOS) yang memungkinkan penembak untuk menjaga pandangannya tepat sasaran. RWS ini juga dilengkapi dengan pencitraan termal (thermal imager) dengan bidang pandang ganda dan kamera color daylight yang memungkinkan bidang pandang luas hingga 45 derajat saat mengamati, dan lebih dari 30 kali pembesaran optik pada area target untuk mengidentifikasi dan menembak sasaran jarak jauh.(Angga Saja-TSM)

Helikopter CH-47F Chinook Baru Milik Singapura

radarmiliter.com - Helikopter CH-47F baru milik Angkatan Udara Republik Singapura (RSAF), dengan nomor serial 88160 dan terdaftar dengan nomor N271GG (construction number M2071) terlihat berada di Wilmington/New Castle (DE). Helikopter Chinook ini sedang menjalani uji-terbang dari fasilitas produksi Boeing Chinook di Ridley Township (PA).
Helikopter CH-47F Chinook
Helikopter CH-47F Chinook 
Diketahui bahwa AU Singapura telah memesan 8 helikopter CH-47F Chinook. Namun, menurut FAA Registry, 16 CH-47F telah terdaftar dalam kisaran daftar ini yaitu N271GG hingga N286GG (construction number M2071 hingga M2086) dan kemungkinan semuanya adalah helikopter pesanan Singapura.
AU Singapura saat ini memiliki 16 helikopter CH-47SD Chinook dalam armadanya. Chinook dioperasikan oleh Skuadron 127 di Sembawang (Singapura), dengan detasemen lima Chinook di Oakey (Queensland, Australia) untuk kegiatan pelatihan.(Angga Saja-TSM)
Sumber : @Scramblemagazine

27 Juli 2020

Hanwha Defense Korsel Kirim Prototipe IFV AS-21 Redback ke Australia

radarmiliter.com - Perusahaan pertahanan Korea Selatan Hanwha Defense, pada hari Minggu (26/07) mengatakan bahwa pihaknya mengirim dua kendaraan tempur AS-21 Redback ke Angkatan Darat Australia untuk pengujian, sebagai bagian dari proyek pengadaan Australia yang bernilai sekitar 5 triliun won ($ 4,1 miliar).
Militer Australia akan memutuskan apakah akan membuat tawaran akhir pada kendaraan buatan Korea tersebut pada akhir 2022, setelah menguji kendaraan itu dari November tahun ini hingga Agustus tahun depan.
Prototipe IFV AS-21 Redback
Prototipe IFV AS-21 Redback 
Redback adalah salah satu dari dua kandidat dalam daftar pendek untuk proyek Land 400 Phase 3 di negara itu untuk pengadaan sekitar 400 kendaraan lapis baja beroda rantai baru. Hanwha menandatangani kontrak mitigasi risiko senilai $ 50 juta dengan Australia pada bulan Oktober untuk menyediakan tiga kendaraan prototipe untuk pengujian dan evaluasi. Pesaing lainnya adalah Rheinmetall Defense dari Jerman yang menawarkan KF41 Lynx.
Jika Hanwha memenangkan kesepakatan itu, itu akan menjadi yang pertama bagi Korea, yang tidak pernah mengekspor peralatan militer penting ke kekuatan militer besar. Korea sebelumnya telah mengekspor kendaraan militer ke Malaysia, tetapi hanya dalam jumlah kecil. Keberhasilan penawaran Korea tersebut juga diharapkan dapat meningkatkan peluang Korea bagi proyek AS untuk menggantikan Bradley Fighting Vehicle, yang penawarannya akan dibuka pada awal tahun depan.
Kedua Redback akan tiba di Melbourne akhir bulan depan, berangkat dari Pelabuhan Pyeongtaek di Provinsi Gyeonggi barat daya. Kendaraan ketiga akan dikirim ke sana pada Januari tahun depan, tergantung pada bagaimana proses penilaian berlangsung di Australia.
Redback, dinamai dari nama laba-laba yang sangat berbisa yang ditemukan di Australia, memiliki keunggulan yang tak tertandingi dalam kemampuan dan mobilitas pertahanan, kata seorang pejabat Hanwha.
"Tidak ada keraguan bahwa Redback akan melampaui tingkat kemampuan yang diminta oleh Angkatan Darat Australia," kata pejabat itu.
Pejabat itu juga mengatakan kendaraan yang dilengkapi dengan mesin dan transmisi yang sama dengan yang ada di K9 Thunder, howitzer self-propelled buatan Korea secara lokal, mampu meningkatkan mobilitas, sedangkan mesin dan transmisi kendaraan saingan buatan Jerman, sebenarnya dirancang untuk penggunaan sipil.
Redback seberat 40 ton ini mampu mengangkut 11 orang - tiga anggota awak dan delapan prajurit infanteri - dengan kecepatan maksimum 65 kilometer per jam. Kendaraan ini juga dilengkapi In-Arm Suspension Unit yang canggih, yang memberikan fleksibilitas lebih besar untuk berkendara disituasi yang berbeda.
Kendaraan buatan Korea tersebut berjalan di atas track karet, bukan track baja biasa, dan disatukan dengan teknologi terbaru untuk mengurangi bobot kendaraan sebanyak mungkin dan untuk pergerakan yang lebih bebas dan lebih cepat, menurut Hanwha.
Seperti halnya IFV K21, AS21 Redback akan dipersenjatai dengan satu meriam otomatis 40mm, senapan mesin koaksial 7,62mm, dan senapan mesin 12,7mm yang dipasang di bagian atas turret. Sisi belakang atap turret dilengkapi dengan peluncur untuk rudal anti-tank. Kendaraan juga akan dilengkapi dengan APS (Active Protection System) generasi baru yang dirancang untuk mencegat rudal/proyektil anti-tank berpemandu agar tidak mengenai sasarannya.(Angga Saja-TSM)

India akan Beli Enam Pesawat P-8I Poseidon Tambahan

radarmiliter.com - India sedang mempertimbangkan pembelian enam pesawat patroli maritim P-8I Poseidon tambahan dari Amerika Serikat senilai $ 1,8 miliar.
“Letter of Request untuk enam P-8I tambahan senilai $ 1,8 miliar kini telah disampaikan ke Amerika Serikat untuk kesepakatan government-to-government di bawah skema program foreign military sales Pentagon. AS akan segera mengirim Letter of Acceptance setelah persetujuan kongres. Kontrak akan ditandatangani pada awal tahun depan,” kata narasumber pertahanan India seperti dikutip Times of India pada 25 Juli.
Pesawat P-8I Poseidon
Pesawat P-8I Poseidon  
P-8I adalah versi Poseidon P-8 Boeing yang disesuaikan untuk India. Pesawat P-8I secara khusus menggunakan beberapa perangkat buatan dalam negeri India, seperti sistem komunikasi Data Link II dan sistem IFF buatan Bharat Electronics Limited (BEL). Angkatan Laut India telah memiliki 8 pesawat P-8I yang dipersenjatai dengan sensor, rudal Harpoon Block-II, torpedo ringan Mk 54, roket, dan depth charge (bom laut) untuk mendeteksi dan menghancurkan kapal selam musuh. Kesepakatan 8 pesawat pertama tersebut senilai $ 2,1 miliar, ditandatangani pada Januari 2009. Pada Juli 2016 India menandatangani kontrak empat pesawat P-8I tambahan senilai $ 1,1 miliar yang dijadwalkan akan dikirimkan ke Angkatan Laut India pada 2021-2022. Bila semua pesanan P-8I India telah datang, India akan memiliki total 18 pesawat P-8I Poseideon.
Pada pertengahan April lalu, Departemen Luar Negeri AS menyetujui permintaan India $ 155 juta untuk membeli rudal anti-kapal luncur pesawat Harpoon Block II dan torpedo ringan Mk 54 untuk mempersenjatai pesawat Poseidon milik Angkatan Laut India. Pesawat P-8I dirancang untuk perang anti-kapal selam jarak jauh; perang anti kapal permukaan; dan misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian. Pesawat itu juga mampu melakukan misi maritim di area luas, operasi pesisir pantai, misi kemanusiaan dan search and rescue.(Angga Saja-TSM)

Ad Placement

TNI AD

TNI AL

TNI AU