Latih Interoperability, KRI Diponegoro-365 Jalin Kersamtis Dengan Pesawat Udara TNI AU

radarmiliter.com - KRI Diponegoro-365 yang saat ini melaksanakan operasi di bawah kendali Guspurla Koarmada II bersama dengan tidak Koopsau II adalah pesawat udara Boeing 737-200 mengerjakan Kerja Sama taktis atau Kersamtis di Makassar, pada hari Senin (06/07).
Kersamtis tersebut dilaksanakan dari dua tempat yaitu di atas KRI Diponegoro yang disaksikan langsung oleh Danguspurla Koarmada II, Laksma TNI Rahmat Eko Rahardjo, dan di Makoopsau II yang dihadiri oleh Asops Pangkoopsau II Kolonel Pnb Eko Sujatmiko.
Kerja Sama Taktis TNI AL dan TNI AU
Kerja Sama Taktis TNI AL dan TNI AU 
Pada kesempatan tersebut, Laksma Rahmat Eko mengatakan, jika kegiatan ini sebagai bentuk kerja sama antara TNI AL dan TNI AU dalam operasi guna mencapai hasil yang diharapkan.
Selain itu, Rahmat Eko menambahkan, salah satu aspek yang mendorong dilaksanakannya kerja sama ini adalah belajar dari pengalaman sejarah saat berperan dalam operasi udara, mulai terbukti keampuhannya di bidang penting pada perang Pasifik, pertempuran di Midway, tahun 1942.
"Kerja sama antara KRI dan Pesawat Udara harus selalu terjalin secara optimal, guna mendukung tugas-tugas TNI AL selaku komponen utama garda terdepan dalam pertahanan negara di laut, dan Pesawat Udara TNI AU sebagai garda terdepan dalam komponen pertahanan di udara," tutur Rahmat Eko.(Dispen Koarmada II)

Iran - Suriah Perluas Kerjasama Militer dan Keamanan

radarmiliter.com - Iran dan Suriah dilaporkan menandatangani perjanjian untuk memperluas kerja sama militer dan keamanan komprehensif. Kerjasama ini dimaksudkan untuk melawan tekanan Amerika Serikat (AS).
Perjanjian tersebut diketahui ditandatangani antara Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mohammad Baqeri dan Menteri Pertahanan Suriah, Ali Abdullah Ayyoub di Ibu Kota Suriah, Damaskus.
Iran - Suriah Perluas Kerjasama Militer dan Keamanan
Iran - Suriah Perluas Kerjasama Militer dan Keamanan 
"Sebagai bagian dari perjanjian, Iran akan memperkuat sistem pertahanan udara Suriah. Perjanjian tersebut akan meningkatkan tekad kami untuk kerja sama untuk menghadapi tekanan AS," kata Baqeri.
"Masyarakat dan negara-negara regional tidak menyambut kehadiran AS di wilayah ini," sambung Baqeri dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Xinhua pada Kamis (9/7/2020).
Dia juga mendesak Turki untuk menyelesaikan masalah dengan Suriah melalui dialog. Sementara itu, Ayyoub mengatakan bahwa AS tidak mampu membuat Iran, Suriah, dan perlawanan bertekuk lutut di hadapan mereka.(Victor Maulana)

Apakah Mampu China Tenggelamkan Kapal Induk Amerika Serikat?

radarmiliter.com - Surat kabar pemerintah China, The Global Times, telah sesumbar bahwa rudal pembunuh kapal Beijing dapat dengan mudah menghancurkan kapal induk Amerika Serikat (AS) di Laut China Selatan.
"Kami bisa menenggelamkan Anda...jika kami mau," bunyi laporan media corong Partai Komunis China tersebut.
Itu adalah pesan yang tidak terlalu halus dari China untuk dua kapal induk Amerika; USS Ronald Reagan dan USS Nimitz, yang saat ini sedang melakukan operasi pelatihan di Laut China Selatan.
USS Ronald Reagan
USS Ronald Reagan 
"Kapal induk AS di wilayah tersebut sepenuhnya dalam jangkauan Tentara Pembebasan Rakyat China...yang memiliki berbagai pilihan senjata anti-kapal induk seperti rudal DF-21D dan DF-26," lanjut laporan The Global Times mengutip para pakar Angkatan Laut China.
Namun, klaim China bahwa kapal-kapal induk Amerika sangat rentan adalah pertanyaan yang terbuka untuk diperdebatkan. Rudal-rudal pembunuh kapal itu dilaporkan memiliki jangkauan sejauh 900 mil laut dan telah dianggap sebagai ancaman signifikan bagi kapal induk Washington.
Mengutip laporan analisis majalah National Interest, Jumat (10/7/2020), fakta bahwa begitu cepatnya rudal DF-21D dan DF-26 ini, sehingga kalaupun tidak memiliki hulu ledak, mereka akan melewati kapal, meninggalkannya mati di air.
Lebih jauh lagi, intersepsi senjata hipersonik yang melesat melebihi Mach 5, juga akan sulit. Bukan tidak mungkin, tetapi sulit.
Teknologi di bidang ini berkembang pesat, dan untuk setiap senjata, selalu ada cara untuk membelokkan atau menghentikannya. Sebagian besar, jika tidak semua, dari proyek-proyek ini sangat rahasia.
Untuk mempertahankan kapal induk, latihan militer AS melibatkan upaya untuk mempersiapkan kemungkinan serangan ganda kapal induk yang terkoordinasi. Yang terakhir akan memberikan keuntungan besar bagi opsi serangan maritim dengan, pada dasarnya, melipatgandakan daya tembak, potensi pengawasan dan kemampuan senjata.
Tidak hanya opsi serangan ganda kapal induk dapat memperluas kemampuan Angkatan Laut untuk mencapai target darat ke tingkat yang lebih besar, memperpanjang waktu pencarian target dan memungkinkan serangan multi-platform yang terkoordinasi, opsi itu juga sangat meningkatkan serangan kapal perusak dan penjelajah meluncurkan rudal.
Perlu diingat, lanjut analisis National Interest, masing-masing Kelompok Tempur Kapal Induk AS terdiri dari kapal induk, kapal penjelajah, dan dua kapal perusak, yang membawa kombinasi besar dan terintegrasi dari aset yang diluncurkan melalui laut.
Ada faktor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan untuk menganalisis mampu tidaknya kedua jenis rudal pembunuh kapal China untuk menenggelamkan kapal induk Amerika.
Pertama, kisaran yang dilaporkan dari jenis rudal pembunuh kapal induk China ini tidak dianggap sebagai ancaman serius bagi kapal induk yang lebih dekat kecuali jika ia memiliki sistem panduan presisi dan kemampuan untuk melacak dan mencapai target yang bergerak. Setiap terobosan dalam apa yang disebut "kill-chain" ini akan membuat senjata itu tidak berguna.
Juga, ketika banyak yang secara alami tidak dibahas untuk alasan keamanan yang dapat dimengerti, Angkatan Laut AS terus memajukan teknologi baru meningkatkan sistem pertahanannya yang berlapis-lapis.
Kedua, Angkatan Laut Amerika terus membuat langkah cepat mempersenjatai kapal-kapal permukaannya dengan senjata laser baru dan sistem EW (electronic warfare) canggih yang cenderung "men-jamming" rudal-rudal yang masuk, menghentikan mereka, menghancurkan lintasan mereka atau hanya membuangnya saja.
Selain itu, sistem pertahanan berlapis Angkatan Laut Amerika tidak hanya mencakup sensor berbasis udara, ruang angkasa, dan jarak jauh yang lebih baru, tetapi juga dek-fire interceptor yang terus menerima upgrade peranti lunak untuk akurasi yang lebih baik.
Sebagai contoh, rudal SM-6 Angkatan Laut dan Evolved Sea Sparrow Missile (ESSM) Block II sekarang direkayasa dengan perangkat lunak dan upgrade sensor yang memungkinkan mereka untuk melihat dengan lebih baik dan menghancurkan "target bergerak" yang mendekat.
Upgrade teknis SM-6, misalnya,dilengkapipencari "dual-mode" ke dalam senjata itu sendiri yang memungkinkannya untuk membedakan target bergerak dengan lebih baik dan menyesuaikan penerbangan untuk menghancurkannya.
ESSM Block II, juga memiliki mode penelusuran laut yang memungkinkan misil pencegat untuk menghancurkan rudal-rudal yang mendekat yang terbang paralel ke permukaan pada ketinggian yang lebih rendah.
Sensor udara baru juga, seperti drone canggih dan pesawat tempur siluman F-35C ISR yang berkemampuan besar kemungkinan akan berhasil dalam membuktikan aset pengawasan "aerial node" yang dapat membantu memberi petunjuk kepada komandan kapal permukaan untuk mendekati rudal.
Apa artinya semua ini adalah bahwa, terlepas dari klaim China bahwa rudal pembunuh kapal induknya membuat kapal induk AS usang, tampaknya masuk akal bahwa kelompok-kelompok tempur kapal induk Amerika tetap menjadi ancaman serius, dan, sederhananya, akan melakukan perlawanan besar.
Faktor-faktor tersebut kemungkinan menjadi bagian dari alasan mengapa para pemimpin Angkatan Laut AS terus mengatakan bahwa kapal induknya dapat beroperasi dengan sukses di mana pun mereka membutuhkan.(Muhaimin)

Tingkatkan Profesionalisme Dan Kebugaran Prajurit, KRI Nala-363 Adakan Minggu Tempur

radarmiliter.com - Sebagai tindak lanjut dari penekanan Pangkoarmada II Laksda TNI Heru Kusmanto terkait profesionalisme dan kebugaran Prajurit, menginspirasi Komandan KRI Nala-363 Letkol Laut (P) John David Nala Sakti Sondakh menggelar Minggu Tempur bagi prajuritnya.
Kegiatan yang bertujuan untuk mengasah naluri tempur prajurit pengawak KRI Nala ini, dilaksanakan dengan materi latihan meliputi peran tempur di ruang PIT (Pusat Informasi Tempur),latihan PBB dan lari siang.
KRI Nala-363 Adakan Minggu Tempur
KRI Nala-363 Adakan Minggu Tempur 
Di sisi lain, Minggu Tempur ini juga tidak lepas dari arahan Komandan Satkor Koarmada II, Kolonel Laut ( P) Ashari Alamsyah, yang dalam arahannya menekankan kepada prajurit Satkor untuk selalu berlatih dan berlatih agar menjadi prajurit yang tangguh, handal dan profesional.
Senada dengan yang diungkapkan oleh Letkol John David, kepada seluruh prajurit usai latihan. Menurutnya seluruh prajurit harus memiliki potensi diri yang menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi tantangan.
"Prajurit KRI Nala harus bisa menggali potensi yang dimiliki, dan memanfaatkan setiap peluang agar mampu mengatasi segala tantangan. Minggu tempur adalah ajang pembinaan profesi serta pembinaan fisik militer," tegas John David kepada seluruh prajurit.(Dispen Koarmada II)

Deplu Amerika Serikat Setuju Jual 105 Pesawat Tempur F-35 ke Jepang

radarmiliter.com - Departemen Luar Negeri (Deplu) Amerika Serikat  (AS) telah menyetujui penjualan 105 jet tempur F-35 Joint Strike Fighter dan peralatan terkait dengan harga sekitar USD23,1 miliar ke Jepang. Penjualan ini seiring niatan Jepang untuk memperkuat kemampuan tempur angkatan lautnya.
"Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung tujuan kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan sekutu utama yang merupakan kekuatan bagi stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik," kata Badan Kerjasama Keamanan Pertahanan Deplu AS dalam sebuah pernyataan seperti disitir dari Bloomberg, Jumat (10/7/2020).
F-35 Jepang
F-35 Jepang 
Karena pemerintahan Trump bekerja untuk melawan kehadiran militer China yang semakin meluas di kawasan Asia-Pasifik, badan tersebut memberikan sertifikasi yang diperlukan untuk memberi tahu Kongres tentang penjualan yang diusulkan. Jepang mengumumkan niatnya untuk membeli pesawat pada tahun 2018. Mungkin butuh satu tahun sebelum proposal itu menjadi kontrak yang ditandatangani.
Deplu AS juga menyetujui kemungkinan kesepakatan militer asing senilai USD620 juta bagi Taiwan untuk membeli suku cadang untuk memperbarui rudal Patriot Advanced Capability-3 (PAC-3) yang sebelumnya dijual sehingga mereka dapat bertahan selama 30 tahun.
Kemungkinan penjualan militer terjadi di tengah erosi yang cepat dari hubungan AS-China ketika dua negara ekonomi terbesar di dunia itu menukar tudingan siapa yang harus disalahkan atas dampak pandemi virus Corona. AS juga meningkatkan kritik terhadap tindakan keras pemerintah Beijing di Hong Kong dan kebijakan hak asasi manusianya.
AS telah menjatuhkan sanksi terhadap seorang anggota penting Partai Komunis yang berkuasa di China dan tiga pejabat lainnya atas pelanggaran di provinsi Xinjiang, China barat.
Jepang sendiri adalah negara asing yang menjadi pembeli utama F-35 buatan Lockheed Martin Corp.

"Pesawat F-4 Pasukan Bela Diri Jepang sedang dinon-aktifkan karena F-35 ditambahkan ke dalam inventaris. Jepang tidak akan kesulitan menyerap pesawat ini ke dalam angkatan bersenjatanya,” kata Badan pertahanan Jepang.(Berlianto)

Menhan Jepang: Serangan Pre-Emptive ke Basis Rudal Musuh Konstitusional

radarmiliter.com - Tokyo menyatakan serangan pre-emptive terhadap landasan peluncuran atau pangkalan musuh yang digunakan untuk serangan rudal terhadap Jepang tidak akan melanggar konstitusi pasifis. Pernyataan ini disampaikan Menteri Pertahanan (Menhan) Taro Kono di depan Komite Keamanan Parlemen setempat hari Rabu.
Kono membuat pernyataan itu sebagai respons untuk oposisi, anggota parlemen dari Partai Demokrat Konstitusi (CDP) Jepang; Go Shinohara.
Menteri Pertahanan Jepang, Taro Kono
Menteri Pertahanan Jepang, Taro Kono 
Politisi oposisi itu mengajukan pertanyaan; "Satu-satunya waktu ketika serangan (Jepang) terhadap basis musuh diperbolehkan adalah ketika (peluncuran) rudal musuh sedang dalam fase pendorong. Menyerang landasan peluncuran atau pangkalan akan melanggar konstitusi, bukan?"
Kono menjawab bahwa jika tidak ada metode lain yang tersedia untuk bertahan melawan serangan rudal musuh, maka pemerintah percaya bahwa serangan pre-emptive terhadap pangkalan rudal musuh akan jatuh dalam lingkup tindakan ketat yang hanya diizinkan berdasarkan konstitusi.
"Kami akan membuat keputusan konkret, kasus per kasus tentang penggunaan angkatan bersenjata berdasarkan situasi internasional, niat yang disampaikan oleh pihak lawan, dan cara serangan," kata Kono.
"Tidak akan melanggar konstitusi untuk menyerang landasan peluncuran atau pangkalan musuh sebelum peluncuran rudal (musuh), alih-alih menunggu pada fase pendorong rudal," katanya seperti dikutip The Mainichi, Kamis (9/7/2020).
Jepang selama ini menganggap rudal maupun senjata nuklir Korea Utara sebagai ancaman. Uji coba misil Pyongyang selama ini diarahkan ke Laut Jepang.
Selain Korea Utara, militer China dan Rusia yang sedang tumbuh juga dianggap sebagai ancaman. Terlebih, kedua negara itu terlibat sengketa wilayah dengan Jepang.(Muhaimin)

Opini : Osprey adalah Extra Ordinary untuk Indonesia

radarmiliter.com - Release dari Defence Security and Cooperation Agency (DSCA) Departemen Pertahanan AS tanggal 6 Juli 2020 merupakan kejutan dalam percepatan proses pengadaan alutsista Indonesia. DCSA menyetujui rencana Indonesia membeli 8 pesawat tiltrotor canggih Osprey V22.
Hanya saja selama ini program pemerintah Indonesia untuk memperkuat tentaranya dengan pengadaan berbagai jenis alutsista selalu diketahui publik dan netizen. Karena dipublikasikan. Contoh kita mau beli kapal perang Iver Class jauh-jauh hari sudah diketahui publik. Dan semuanya mendukung. Nah Osprey ini surprise dan yang mengumumkannya lembaga bergengsi DSCA Yues'e.
 Osprey V22
 Osprey V22 
Pertahanan teritori kita di Natuna sudah terancam. Jadi kalau ada yang masih bilang tigapuluh tahun ke depan kita tidak punya musuh, ajak dia ke Natuna. Suasana disana benar-benar siaga penuh. Fokus utama barikade pertahanan kita sekarang adalah Natuna. Karena situasinya sudah tidak biasa alias extra ordinary maka percepatan pengadaan alutsista juga harus extra ordinary.
Ingat waktu kita ditunjuk sebagai pasukan peace keeping di perbatasan Lebanon-Israel satu dekade lalu. Alutsista pendukung prajurit milik kita tidak memenuhi standar. Mosok mau ngirim panser Saladin. Ntar diketawain sama Sultan Saladin yang menaklukan Jerusalem. Lalu dipesan cepat puluhan panser dari Perancis. Ini Extra ordinary. Berangkat dari titik inilah kemudian kita membuat ratusan panser Anoa dengan mesin dari Perancis.
Natuna harus diselamatkan dan dipertahankan dari aneksasi China. Tidak ada jaminan bahwa Natuna akan aman-aman saja. Lihat saja perilaku kasar China di Laut China Selatan (LCS). Kapal nelayan Vietnam ditenggelamkan, kapal perang Filipina sudah dikunci dengan rudalnya, kapal survey energi Malaysia dibayang-bayangi di Sabah. Untung saja ada kapal perang AS yang mengawal didekatnya.
Maka kita perlu melakukan terobosan pengadaan alutsista skala "wah". MEF (Minimum Essential Force) jilid tiga sekarang ini adalah memforsir semaksimal mungkin untuk mendapatkan berbagai jenis alutsista canggih. Pengadaan kapal perang terbesar di ASEAN, Iver Class, pengadaan batch kedua kapal perang Martadinata Class. Termasuk lanjutan pembuatan kapal selam Nagapasa Class. Juga pengadaan jet tempur F-16 Viper, pesawat angkut berat C-130J Super Hercules, helikopter AH-64E Apache batch 2, Radar, UAV/UCAV, satbak peluru kendali jarak sedang dan jauh, tank amfibi dan lain-lain.
Lalu mengapa pesawat angkut tiltrotor Osprey V22 yang bisa berubah menjadi pesawat baling-baling, menjadi "bintang kejutan" pengadaan alutsista. Jawabnya karena selama ini tidak pernah terbayangkan di mata publik. Dan tidak mungkinlah membelinya. Bukankah AS sangat ketat menyeleksi alutsista canggih produksi mereka untuk dijual ke negara lain. Untuk Osprey ini baru Jepang pengguna pertama di luar AS. Belum lagi soal anggaran beli dan anggaran rawat nantinya.
Boleh jadi pemikir dan perencana strategis TNI AD dan Kemenhan melihat Osprey dalam perspektif daya jangkau dan kecepatan untuk kelas helikopter. Misalnya deploy dari Skadron Penerbad di Semarang ke Natuna lebih cepat sampai karena non stop. Atau ada bencana alam di medan sulit dan jauh. Osprey jadi solusi.
Kalau melihat peta teritori, Natuna itu sendirian lho. Meski sudah dibangun pangkalan militer disana namun tetaplah diperlukan kekuatan penyambung untuk aliran nadi pertahanan. Suplai prajurit, amunisi, alutsista sekaligus counter attack. Pangkalan aju terdekat adalah Pontianak dan Tanjung Pinang. Osprey salah satu alat penyambung energency jarak jauh untuk TNI AD.
Jujur saja kekuatan pre emptive strike kita belum masuk kategori standar, apalagi disegani. Dalam kondisi ini perkuatan AL dan AU menjadi langkah utama. Ini negara dengan wilayah besar berwajah kepulauan. Mengawal teritori dengan doktrin berani masuk digebuk (pre emptive strike) otomatis harus punya kekuatan pukul menjerakan di matra AL dan AU.
Matra darat punya strategi memperkuat payung skadron Penerbad. Kita ketahui penerbad saat ini sedang memekarkan skadron helikopternya di Kalimantan dan Sulawesi. Maka sah-sah saja jika opsi memilih helikopter Osprey yang wah itu. Toh itu juga baru persetujuan dan lampu hijau dari DSCA. Persetujuan DSCA ini menandakan Indonesia sudah naik peringkat menjadi kawan dekat Paman Sam.
Maka tidak perlu juga ada bantahan seolah-olah pengadaan ini bukan permintaan Kemenhan. Mungkin juga saat pengumuman DSCA itu yang dirasa, kurang tepat waktunya mengingat kita masih konsentrasi memerangi Covid 19. Namanya baru persetujuan bukan berarti kemudian ada kontrak pembelian.
Dan jangan pula dibilang klaim sepihak dari AS. Ntar AS tersinggung lho padahal kita sedang merayu Paman Donald agar kita dikecualikan dari CAATSA supaya bisa mendapatkan Sukhoi Su-35 Rusia. Bilang saja ke publik meski sudah ada lampu hijau dari DSCA, untuk urusan pembelian masih panjang jalan ceritanya. Bisa iya bisa tidak. Publik maklum kok. (Arien Pan/Jagarin) *
*) Penulis adalah pemerhati pertahanan dan alutsista TNI
Sumber : FP TSM/ Grup FSM

Turki Juga Lakukan Tes S-400 Rusia terhadap Jet Tempur F-35 dan F-22 Amerika Serikat

radarmiliter.com - Turki tak hanya menguji sistem pertahanan rudal S-400 yang dibeli dari Rusia terhadap jet tempur F-16 dan F-4 buatan Amerika Serikat (AS) pada November 2019. Laporan lain menyebut senjata pertahanan itu juga dites terhadap jet tempur siluman F-35 dan F-22 buatan Lockheed Martin Amerika.
Sejumlah situs web militer seperti BulgarianMilitary.com, Evening Courier, Fighter Jets World, Army Recognition, AviaPro dan Defense News menerbitkan laporan tersebut.
Jet Tempur F-35 dan F-22 Amerika Serikat
Jet Tempur F-35 dan F-22 Amerika Serikat 
Laporan Defense News, Kamis (9/7/2020), mengatakan dua baterai S-400 diaktifkan di Murted Lanud yang dekat dengan Ankara. Sistem pertahanan itu dites untuk melacak F-22 dan F-35 dalam penerbangan di Mediterania Timur dan Laut Hitam.
Jarak antara Murted Lanud dengan kawasan Laut Hitam berkisar antara 170-200 km, yang berarti lintas dua jet tempur siluman tercanggih buatan Lockheed Martin AS itu berada dalam jangkauan radar dari sistem pertahanan S-400. Sekadar diketahui, radar sistem pertahanan canggih Moskow itu bisa melacak target hingga jarak 600 km.
Hasil tes tidak diungkapkan militer Turki, tetapi dilihat dari kurangnya keluhan, media-media spesialis militer itu mengasumsikan bahwa Ankara sepenuhnya puas dengan sistem buatan Moskow.
Laporan berbagai media itu bahkan menyebut uji coba terhadap jet-jet tempur siluman itu dilakukan tiga kali. Tak disebutkan secara rinci kapan uji coba itu berlangsung.
Senator AS untuk Maryland, Christopher Van Hollen, mengatakan tindakan Ankara tersebut telah melewati "garis merah yang lain" karena nekat menguji sistem deteksi radar dari sistem pertahanan rudal S-400 terhadap jet-jet tempur buatan Amerika.
Amerika Serikat ingin membeli sistem rudal S-400 dari Turki untuk keluar dari kebuntuan mengenai partisipasi Ankara dalam program untuk produksi F-35 Lightning II. Turki sejauh ini menolak gagasan tersebut.(Muhaimin)

Forbes : China dan Natuna, Alasan Indonesia Beli Osprey V-22 Amerika Serikat

radarmiliter.com - Media Amerika Serikat (AS), Forbes, menyebut China dan masalah perairan Natuna yang menjadi alasan Indonesia membeli delapan helikopter angkut Osprey V-22 Amerika.
"Indonesia Might Buy V-22 The Reason Is China," bunyi judul pemberitaan media tersebut pada 8 Juli 2020.
Departemen Luar Negeri AS pada hari Senin menyetujui pengajuan Indonesia untuk membeli delapan helikopter angkut Osprey V-22 dari Bell-Boeing dengan biaya sekitar USD2 miliar. Harga itu termasuk suku cadang.
Osprey V-22
Osprey V-22 
Menurut laporan Forbes, Indonesia sebenarnya tidak menginginkan Osprey twin-rotor yang terbang cepat tersebut dan mungkin tidak pernah berniat menandatangani kesepakatan pembelian. Tetapi tidak sulit untuk melihat bagaimana angkatan bersenjata Indonesia dapat memperoleh manfaat dari akuisisi itu.
"Itu bermuara pada satu kata: Natuna. Ini adalah kelompok pulau Indonesia di Laut China Selatan. Salah satu yang ingin dianeksasi oleh para pemimpin China. Natuna adalah sumber ketegangan yang sedang berlangsung di kawasan itu," kata kelompok think tank RAND yang berbasis di California.
Kepulauan Natuna adalah kelompok 272 pulau kecil, yang pusatnya terletak 730 mil utara Jakarta. Kurang dari 100.000 orang tinggal di pulau-pulau itu. Hampir semuanya bekerja untuk pemerintah atau sebagai nelayan kecil.
Natuna merupakan perairan yang kaya akan gas alam dan, tentu saja, ikan. Itulah sebabnya China iri dengan pulau-pulau Indonesia ini.
Tidak ada pihak yang secara serius membantah bahwa Natuna adalah milik Indonesia, namun Beijing selama ini menegaskan klaimnya atas "nine-dash line" level terjauh dari klaim tidak resmi China di Laut China selatan meluas jauh ke zona ekonomi eksklusif 200 mil di sekitar kepulauan tersebut.
Itulah sebabnya kapal-kapal penangkap ikan China, yang dikawal oleh kapal penjaga pantai paramiliter, sering berlayar ke perairan di sekitar Natuna dan menggunakan jaring paling bawah untuk menangkap setiap makhluk hidup dari petak samudra yang luas.
Aksi penangkapan ikan telah menjadi krisis geopolitik. Pada bulan Januari lalu, sebuah armada penangkap ikan China dari Natuna setelah Presiden Indonesia Joko Widodo mengunjungi kelompok pulau tersebut. Namun, armada China kembali pada bulan berikutnya.
"Sedikit demi sedikit, saya pikir China akan mengambil laut Indonesia, laut Filipina, laut Vietnam," kata Wandarman, seorang nelayan di Natuna, kepada The New York Times. "Mereka lapar; minyak, gas alam, dan banyak sekali ikan."
Indonesia terkadang menanggapi serbuan China dengan mengerahkan pesawat patroli, jet tempur, dan kapal Angkatan Laut ke Laut China Selatan. Tapi ada masalah. Pangkalan Indonesia di wilayah ini sedikit, kecil dan kurang berkembang.
Ada bandara di Ranai, ibu kota Natuna. Fasilitas itu dengan landasan pacu 8.400 kaki secara teori dapat mengakomodasi jet tempur F-16 dan Su-30 milik Angkatan Udara Indonesia, yang di masa lalu telah dikerahkan di sekitar pinggiran Laut China Selatan.
Ada lapangan terbang yang lebih kecil di Matak, sebelah barat Ranai, yang panjangnya 3.900 kaki mungkin terlalu kecil untuk jet cepat. Ada pangkalan Angkatan Laut di Tanjung Pinang, 300 mil barat daya Ranai, yang dapat mendukung kapal Angkatan Laut hingga 100 kaki panjangnya.
Itu cukup banyak untuk infrastruktur militer utama. Sebagian besar pelabuhan laut dan pangkalan udara terbesar di Indonesia berjarak ratusan mil dari Natuna. Itu berarti setiap kekuatan signifikan yang dikerahkan ke kepulauan harus berfungsi sebagai basisnya sendiri sambil mempertahankan jalur komunikasi jarak jauh.
Kapal amfibi adalah titik awal yang jelas. Bukan tanpa alasan bahwa Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir, telah mengalokasikan miliaran dolar untuk membangun amfibi, termasuk lima kapal designed landing docks (LPD) Korea Selatan.
Setiap LPD kelas Makassar panjangnya 360 kaki, bobot 11.000 ton saat terisi penuh dan dapat mengangkut lebih dari 200 marinir atau pasukan tambahan sekitar 40 kendaraan dan tank Leopard II. Sebanyak 20 dua kapal pendarat, tank, tiga kapal tanker pantai, dua pengangkut pasukan, kapal bahan bakar dan sebuah kapal rumah sakit mendukung LPD.
Dua kapal kelas Banjarmasin—varian Makassar—adalah hal terdekat yang dimiliki Angkatan Laut Indonesia dengan kapal induk. Masing-masing dapat mendukung lima helikopter dan harus dapat mengakomodasi V-22.
Angkatan Laut Indonesia mengoperasikan sekitar dua lusin helikopter ringan. Angkatan Udara memiliki sekitar 20 helikopter angkut Puma dan Super Puma. Angkatan Darat dengan 50 Bell 412s dan 10 Mi-17, memiliki kekuatan putar terbesar.
Tidak satu pun dari helikopter itu yang dapat menandingi kecepatan jelajah 300 mil per jam V-22 dan radius misi 400 mil dengan muatan penuh dua lusin pasukan. Kemampuan itu datang, tentu saja dengan biaya. Tidak hanya V-22 yang mahal dengan USD70 juta per copy, itu tidak dapat diandalkan dan perawatannya intensif dibandingkan dengan helikopter tradisional.
Tapi itu mungkin layak karena Indonesia membangun armada laut yang dapat berfungsi sebagai pangkalan laut untuk mendorong kembali serangan China ke perairan Indonesia.(Muhaimin)

Jepang Produksi Massal Jet Tempur Siluman Sendiri 2031

radarmiliter.com - Jepang berencana untuk memulai produksi massal jet tempur buatan dalam negeri pada tahun fiskal 2031. Pada 2035, pesawat tempur canggih itu akan menggantikan armada pesawat F-2 yang uzur dan dijadwalkan pensiun.
Rencana produksi itu disampaikan Kementerian Pertahanan setempat hari Selasa, yang dilansir Asia Nikkei pada Rabu (8/7/2020).
X-2 Jepang
X-2 Jepang 
Tokyo menjanjikan awal yang cepat pada pengembangan pesawat tempur siluman baru dalam rencana pembangunan pertahanannya yang dibuat pada tahun 2018. Proyek ini membayangkan Jepang memasok komponen-komponen utama jet tempur seperti mesin saat bekerja dengan Amerika Serikat dalam hal teknologi.
Mitsubishi Heavy Industries adalah kontraktor utama yang membangun pesawat eksperimental, X-2, yang menjadi basis pesawat tempur siluman Jepang. Pesawat itu mulai diuji terbang pada tahun 2016, dan menjadikan Jepang sebagai negara keempat setelah AS, Rusia dan China yang telah mengembangkan pesawat siluman.
Produksi prototipe dijadwalkan akan dimulai pada tahun fiskal 2024. Desain dasar untuk bagian-bagian utama dan cetak biru yang lebih rinci akan diselesaikan pada tahun fiskal 2027, dengan penerbangan uji coba dimulai tahun berikutnya.
Kementerian Pertahanan menyiapkan sekitar 11 miliar yen (USD102 juta) dalam anggaran tahun 2020 untuk desain dasar dan biaya lainnya. Jepang bermaksud untuk memilih satu atau lebih kontraktor pertahanan sebagai mitra dan menandatangani kesepakatan tahun ini, membentuk kerangka kerja untuk mengembangkan pesawat tempur dalam persiapan proposal anggaran tahun fiskal 2021.
Jepang akan mengadakan pembicaraan dengan AS tentang cara-cara untuk memastikan interoperabilitas antara sistem pertahanan mereka dan tentang pengenalan teknologi Amerika. Tokyo juga akan membahas kemungkinan kerja sama, termasuk berbagi biaya pengembangan dengan Inggris—yang sedang mengembangkan pesawat tempur generasi berikutnya di bawah kerangka waktu yang sama.(Muhaimin)

Turki Tes S-400 Rusia dengan Jet Tempur Buatan Amerika Serikat

radarmiliter.com - Turki telah menguji coba sistem pertahanan rudal S-400 yang dibeli dari Rusia terhadap jet-jet tempur buatan Amerika Serikat (AS) pada November 2019.Kepada kantor berita TASS, Rabu (8/7/2020), sumber yang dekat dengan industri pertahanan Turki mengonfirmasi uji coba tersebut.
Tes S-400 Rusia dengan Jet Tempur Buatan Amerika Serikat
Tes S-400 Rusia dengan Jet Tempur Buatan Amerika Serikat 
"Ya, percobaan semacam itu memang telah terjadi November lalu," katanya ketika diminta untuk mengomentari laporan media tentang uji coba November lalu. Washington pernah mengecam tindakan Ankara yang menjadikan jet-jet tempur buatan Amerika sebagai kelinci percobaan senjata pertahanan Moskow.
Pada 25 November 2019, CNN Turk melaporkan bahwa berbagai pesawat, termasuk jet tempur F-16 dikerahkan secara acak di dekat Ankara untuk menguji sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia.
Pada 29 November, rekaman video yang dirilis TRT Turki, menampilkan sistem rudal S-400 Rusia dan pesawat F-16 dan F-4 buatan AS. Video itu telah diunggah ke YouTube.
Rusia mengatakan pada September 2017 bahwa mereka telah menandatangani kontrak senilai USD2,5 miliar untuk memasok sistem pertahanan rudal S-400 kepada Turki. Batch pertama dikirim ke Ankara pada Juli 2019, meskipun ada protes dari NATO bahwa senjata pertahanan itu akan merusak sistem pertahanan NATO, di mana Ankara merupakan anggota dari aliansi tersebut.
Amerika Serikat secara resmi mengusir Turki dari program multinasional jet tempur siluman F-35 karena membeli sistem pertahanan rudal S-400 pada Juli 2019. Namun, pabrikan Turki sejauh ini masih memasok suku cadang untuk jet tempur canggih tersebut.
Laporan kantor berita TASS ini muncul berselang beberapa hari setelah para anggota parlemen bipartisan AS mengirim surat kepada Menteri Pertahanan AS Mark Esper pada hari Senin. Para politisi itu mendesak Pentagon untuk berhenti membeli komponen jet tempur F-35 dari Turki karena mengurangi tekanan AS pada negara tersebut atas pembelian sistem pertahanan rudal S-400 Rusia.(Muhaimin)

KRI Raden Eddy Martadinata-331 Laksanakan Passage Exercise dengan Kapal Perang Australia

radarmiliter.com - Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Raden Eddy Martadinata (REM-331), dengan Komandan Kolonel Laut (P) Lukman Kharish melaksanakan _Passage Exercise_ (Passex) dengan kapal perang Australia atau Royal Australian Navy, yakni HMAS Stuart (FFGHM153) yang di komandani oleh Commander Luke Ryan, di perairan Selat Lombok sampai ke perairan Selat Makassar, Rabu (8/7).
Pelaksanaan Passex ini diisi dengan beberapa serial latihan diantaranya, latihan manuver taktis atau Tacman, latihan Isyarat Bendera atau Flaghoist, dan latihan Pembekalan di Laut atau Replenishment At Sea (RAS).
Passage Exercise
Passage Exercise  
“Seluruh rangkaian latihan dilaksanakan di perairan ALKI 2 dengan memperhatikan faktor keamanan serta peraturan hukum yang berlaku”, ungkap Lukman, sapaan karib Komandan KRI REM-331.
Lukman menambahkan, bila latihan ini juga digelar atas dasar perintah Panglima Koarmada II Laksda TNI Heru Kusmanto dengan tujuan memandu HMAS Stuart melintasi ALKI 2 yang selanjutnya HMAS Stuart akan bergerak menuju Hawaii untuk melaksanakan latihan RIMPAC 2020.
“Kegiatan Passex juga sebagai ajang diplomasi sesuai dengan salah satu peran TNI Angkatan Laut yaitu Military, Diplomacy dan Constabulary”, lanjut Lukman.
Sementara di tempat terpisah Panglima Laksda Heru mengatakan bahwa latihan bilateral seperti ini diharapkan bisa terus dilaksanakan untuk mempererat hubungan diplomasi antar negara, dan meningkatkan Bargaining Power Indonesia di regional Asia Pasifik.
Sebab menurut Laksda Heru, dengan hubungan yang baik antara negara maka diharapkan juga tercipta stabilitas kawasan yang akan sangat berdampak penting untuk kemajuan negara.(Erizal)

Blackshape Promosikan Pesawat Latih Dasar Baru

radarmiliter.com - Pabrikan pesawat Italia Blackshape yang telah meluncurkan pesawat latih dasar bermesin turboprop Gabriel, melihat peluang penjualan di Asia Tenggara.
Perusahaan mengatakan bahwa mereka telah melakukan "beberapa" penerbangan demonstrasi pesawat Gabriel-TP, yang ditenagai mesin Rolls-Royce M250-B17.
Pesawat Gabriel-TP
Pesawat Gabriel-TP 
Blackshape, yang memamerkan Gabriel bertenaga piston dengan kode BK-160 di Singapore air show pada Februari lalu, mengatakan bahwa mesin turboprop lainnya dapat digunakan, tergantung ketersediaan jenis mesin di berbagai negara.
Perusahaan menambahkan bahwa mereka telah mengadakan diskusi awal tentang pesawatnya dengan Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia. Perusahaan juga bersedia untuk mempertimbangkan produksi pesawat secara lokal, yang dapat mencakup penyediaan kit untuk perakitan lokal untuk transfer teknologi secara penuh.
Pesawat tersebut akan menjadi penyegar armada pesawat latih di Asia Tenggara sebagai pasar potensial yang kuat. Selain itu, pesawat dapat membawa muatan senjata secara terbatas, memungkinkan untuk pelatihan pilot pesawat serang.
"Gabriel-TP dapat digunakan untuk penerbangan sipil dan militer," kata Blackshape.
“Pengguna idealnya adalah [mereka] yang ingin pergi ke suatu tempat dengan cepat, ingin menikmati tingkat emosi yang lebih tinggi dalam penerbangan, dan sekolah terbang yang ingin menawarkan pelatihan yang lebih canggih untuk melatih pilot dengan biaya operasi yang layak, dapat dengan yakin mengandalkan bahwa suku cadang mudah dibeli dan memungkinkan untuk manufaktur di dalam negeri.”
Didirikan pada 2010, Blackshape berpusat di Grottaglie di Italia selatan dan dimiliki oleh konglomerat Angel Group. Distributor regionalnya adalah Asia Security Technology yang berbasis di Singapura.(Angga Saja-TSM)

Kemhan Klarifikasi Isu Pembelian Pesawat MV-22 Osprey

radarmiliter.com - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) menyatakan menyetujui kemungkinan penjualan pesawat MV-22 Block C Osprey beserta persenjataan lainnya kepada pemerintah Indonesia. Kementerian Pertahanan (Kemhan) membantah adanya permintaan Indonesia membeli pesawat pabrikan Bell-Boeing itu.
"Belum, kita belum ada untuk merencanakan (pembelian) pesawat yang Osprey," kata Sekjen Kemhan, Donny Ermawan Taufanto, usai rapat kerja dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (8/7/2020).
MV-22 Osprey Jepang
MV-22 Osprey Jepang 
Donny mengatakan Kemhan kini lebih mengutamakan produk buatan dalam negeri dalam pembelian alutsista. Selagi memungkinkan, dia mengatakan akan menggunakan pesawat dalam negeri.
"Kita lebih mengutamakan produk dalam negeri ya, jadi pesawat-pesawat yang kita bisa pergunakan industri dalam negeri, kita pergunakan industri dalam negeri dulu," sebut Donny.
Dia menegaskan belum ada rencana pembelian pesawat MV-22 Osprey ini. Donny menyebut ada kemungkinan itu hanya klaim sepihak dari AS.
"Mungkin bisa seperti itu ya, saya belum tahu, tapi intinya kita belum ada mengarah ke pembelian ke sana," ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengumumkan telah menyetujui kemungkinan penjualan pesawat MV-22 Block C Osprey beserta persenjataan lainnya kepada pemerintah Indonesia. Belanja militer Indonesia itu diperkirakan menelan biaya sebesar USD 2 miliar atau sekitar Rp 28,8 triliun.
Berdasarkan keterangan resmi dari Defense Security Cooperation Agency (DSCA) yang dikutip detikcom, Selasa (7/7/2020), usulan penjualan pesawat MV-22 Block C ini telah disampaikan kepada Kongres AS. Dalam situs itu disebutkan bahwa pemerintah Indonesia mengajukan paket belanja militer, termasuk 24 AE 1107C Rolls Royce Engine, 20 sistem peringatan rudal AN/AAR-47, 20 penerima peringatan radar AN/APX-117, dan alat persenjataan lain.
"Usulan penjualan ini akan mendukung tujuan kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan mitra regional yang penting yang merupakan kekuatan untuk stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik," demikian keterangan tertulis dari DSCA.

AU Filipina Batalkan Helikopter Serang Buatan Turki

radarmiliter.com - Kelompok Kerja Teknis Angkatan Udara Filipina (Philippine Air Force Technical Working Group - PAF TWG) dalam proyek pengadaan helikopter serang Filipina dilaporkan telah memilih platform baru, yang merupakan helikopter Amerika, untuk proyek akuisisi helikopter serang saat ini setelah evaluasi ulang.
MaxDefense Filipina mengabarkan "mendapat konfirmasi bahwa PAF TWG dalam Proyek Pengadaan Helikopter Serang akhirnya membatalkan memilih helikopter serang TAI T129B ATAK."
TAI T129 ATAK
TAI T129 ATAK 
"Hal ini karena kegagalan Turki untuk mengkonfirmasi kemampuan mereka mengimpor mesin dan avionik dari AS dan Inggris untuk memungkinkan pembuatan dan mendukung helikopter tersebut," tambah MaxDefense.
“PAF TWG telah memilih helikopter Amerika untuk menggantikannya setelah dilakukan evaluasi ulang. Ada 3 model helikopter Amerika yang ditawarkan kepada PAF. Tapi masih belum akan mengungkapkan model yang dipilih," menurut laporan MaxDefense.
Beberapa helikopter Amerika yang ditawarkan kepada PAF adalah AH-1Z Viper, AH-64E Apache, dan S-70i Black Hawk yang dipersenjatai. Meskipun dibangun di Polandia, S-70i Black Hawk dibangun di bawah pengawasan Sikorsky, Lockheed Martin Company.(Angga Saja-TSM)
Sumber : mintfo.com

Rencana Pembuatan 3 Kapal Selam Tambahan Tergantung Menhan

radarmiliter.com - Pembangunan 3 kapal selam baru di Indonesia sudah direncanakan akan dibuat kembali sebagai fase kedua pengadaan kapal selam di bawah pesanan Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Sempat direncanakan pembangunan kapal selam ke-4, 5 dan 6 yang akan dibangun di PT PAL Surabaya.
Kontrak pengadaan kapal selam yang ke 4, 5, dan 6 sempat diteken pada 12 April 2019 oleh menteri pertahanan sebelumnya. Bagaimana dengan kebijakan menteri pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto saat ini?
Kapal Selam TNI AL
Kapal Selam TNI AL 
Sebelumnya dua kapal selam yaitu KRI Nagapasa-403 dan KRI Ardadedali-404 dikirimkan ke Kemenhan pada Agustus 2017 dan Mei 2018. Kedua kapal dibuat di galangan DSME, Geoje, Gyeongsang Selatan, Korea Selatan. Sedangkan kapal selam ketiga Kapal Selam ALugoro-405 yang dibuat di PT PAL Surabaya sudah berhasil dibuat dan lolos tes menyelam, dan rencananya akhir 2020 akan diserahkan ke Kemenhan.
Direktur Utama PT PAL Indonesia Budiman Saleh sempat menyinggung soal nasib kontrak pengadaan kapal selam fase kedua sebanyak 3 unit, termasuk soal permasalahan anggaran.
"Pada 2020 ini kita fokus untuk menyelesaikan unit kapal selam ke 4, 5, dan 6, untuk itu kami berharap adanya kepastian tentang penambahan kekurangan dana PMN Rp 1,7 triliun," kata Budiman Februari 2020 lalu.
Selain akan memproduksi 3 kapal selam tersebut, PT PAL Indonesia masih akan memproduksi sekitar 6 kapal selam lagi, sehingga nantinya Indonesia punya 12 unit kapal selam buatan dalam negeri.
Rencana produksi kapal selam di Indonesia dalam jumlah besar sudah digariskan oleh Kemenhan sebelum era Menhan Prabowo. Dalam laporan tahunan Ditjen Potensi Pertahanan 2018 menunjukkan rencana tersebut
"Program Kapal Selam akan dilanjutkan ke tahap kedua, dengan pembuatan kapal selam ke-4 hingga ke-6. Pada tahap ini, proporsi PT. PAL dalam proses produksi diproyeksikan untuk semakin membesar, di mana Kapal Selam ke-6 sudah dibuat sepenuhnya di PT. PAL," jelas laporan itu.
Dari sisi PT PAL Indonesia selaku perusahaan pembuat, sejak awal sudah bersiap. Mereka menegaskan pengembangan kapal selam bagian dari rencana perusahaan, termasuk kapal-kapal lainnya.
"Perusahaan ke depan akan terus berinovasi mengembangkan berbagai tipe kapal perang, termasuk pengembangan lanjutan dari Kapal KCR 60 M, Kapal PKR, Kapal LPD 124 M, dan Kapal Selam Nagapasa Class," jelas PT PAL dalam laman resminya.(Ferry Sandi)

Mantan Sekjen Hankam: Penjualan MV-22 Osprey Klaim Sepihak AS

radarmiliter.com - Mantan Sekjen Kementerian Pertahanan Laksdya TNI Purn. Agus Setiadji menyebutkan informasi penjualan alat utama sistem persenjataan (alutsista) MV-22 Osprey kepada pemerintah Indonesia merupakan klaim sepihak Amerika Serikat.
Hal itu mengingat, kata Agus Setiadji, pengadaan alutsista membutuhkan proses yang matang, kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan pertahanan Indonesia.
Mantan Sekjen Kementerian Pertahanan
Mantan Sekjen Kementerian Pertahanan 
"Konsep pengadaan perencanaan tidak semata-mata kita ingin, sekarang kita beli. Kita tidak seperti metode pembelanjaan rumah tangga," kata Agus saat peluncuran buku karyanya yang berjudul "Ekonomi Pertahanan: Menghadapi Perang Generasi Keenam" di Jakarta, Selasa (07/07).
Menurut Agus, pembangunan kekuatan alutsista apa pun tipenya sepenuhnya ditentukan oleh Kementerian Pertahanan Indonesia melalui proses yang ketat dan bersifat rahasia.
Informasi tentang persetujuan Departemen Luar Negeri AS atas rencana penjualan delapan pesawat tiltrotor MV-22 Osprey Block C kepada Indonesia, kata dia, merupakan statemen dari pihak AS semata.
Dalam diskusi yang diselenggarakan Jakarta Defence Studies (JDS) yang berjudul "Strategi di Balik Kebijakan Alokasi Anggaran Pertahanan ", Agus menjelaskan bahwa pembelian alutsista merupakan proses bertahap yang panjang. Hal ini pasti ada perencanaan yang berjenjang.
"Apa kepentingan nasional kita. Itu yang jadi pertimbangan utamanya," kata Agus.
Sementara itu, Jubir Menhan Dahnil Anzar Simanjuntak enggan berkomentar tentang rencana pembelian Osprey tersebut.
Sebelumnya, dalam siaran pers Badan Kerja Sama Pertahanan Keamanan AS, disebutkan bahwa Kementerian Luar Negeri AS menyetujui rencana penjualan delapan pesawat tiltrotor MV-22 Osprey Block C kepada Indonesia.
Disebutkan pula bahwa DSCA telah mengirim notifikasi akan kemungkinan penjualan Osprey tersebut ke Kongres AS pada hari yang sama.
Menurut AS, pemerintah Indonesia telah mengajukan pembelian delapan pesawat MV-22.
Osprey Block C kepada pemerintah AS, beberapa waktu lalu. Nilai total pembelian ini mencapai 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp28,9 triliun.(Syaiful Hakim)

Hensoldt Dapatkan Kontrak untuk Kembangkan Radar AESA Baru untuk Armada Eurofighter Jerman dan Spanyol

radarmiliter.com - Perusahaan teknologi pertahanan Jerman Hensoldt telah dianugerahi kontrak oleh Airbus Defense and Space untuk mengembangkan dan memproduksi radar AESA (Active Electronic Scanning Array) baru untuk armada Eurofighter Jerman dan Spanyol.
Proyek ini secara gabungan dibiayai oleh negara-negara mitra Eurofighter, Spanyol dan Jerman, yang juga akan menjadi pengguna pertama radar tersebut dalam armada mereka. Setelah persetujuan anggaran oleh pemerintah Spanyol dan yang terbaru oleh Bundestag Jerman pada pertengahan Juni, kontrak senilai lebih dari 1,5 miliar euro kini telah ditandatangani.
Radar AESA
Radar AESA 
"Fakta bahwa Jerman dan Spanyol mengambil peran perintis dalam modernisasi Eurofighter merupakan sinyal kepercayaan dalam kerja sama pertahanan Eropa," kata CEO Hensoldt Thomas Müller. "Keputusan ini memastikan bahwa angkatan bersenjata kita akan terus dapat memenuhi misi mereka di masa depan dan terlindungi dengan cara terbaik."
Kontrak tersebut mencakup pengembangan baru komponen inti radar Eurofighter - termasuk receiver multi-channel digital dan modul transmitter/receiver antena - dan akan memperlengkapi sekitar 130 pesawat Eurofighter tranche dua dan tiga. Pengembangan sedang dilakukan oleh konsorsium industri Spanyol-Jerman di bawah kepemimpinan Jerman dengan dukungan dari negara-negara Eurofighter Inggris dan Italia.
Hensoldt telah terlibat dalam pengembangan dan produksi teknologi sensor Eurofighter yang saat ini digunakan. Di pusat radar di Ulm, Hensoldt saat ini mempekerjakan 2.200 orang, dan di sektor radar Eurofighter saja, perusahaan mengharapkan akan menciptakan 400 pekerjaan yang sangat berkualitas selama seluruh periode program. Perusahaan spesialis sensor itu juga berinvestasi sekitar 15 juta euro dalam perluasan kapasitas yang diperlukan, terutama di situs Ulm.(Angga Saja-TSM)
Sumber : defpost.com

Saab Mulai Produksi Gripen di Brasil

radarmiliter.com - Saab Aeronáutica Montagens (SAM) Brasil, pabrik aerostruktur pertama Saab di luar Swedia untuk pesawat tempur Gripen E/F yang baru, mencatat sejarah penting dengan dimulainya produksi Gripen di Brasil.
Situs ini akan membangun bagian-bagian dari Gripen, yang kemudian akan dikirimkan ke fasilitas perakitan akhir di pabrik Embraer di Gavião Peixoto, São Paulo, Brazil dan ke Linköping, Swedia.
Gripen Brasil
Gripen Brasil 
Pada tahun 2014, Saab menandatangani kontrak dengan pemerintah Brasil untuk pengembangan dan produksi 36 pesawat Gripen E/F. Pada bulan September tahun lalu, pesawat Gripen E Brasil pertama dikirim untuk memulai program uji terbang. Sekarang, tonggak sejarah baru telah tercapai, dimana produksi Gripen dimulai di pabrik SAM, yang terletak di São Bernardo do Campo, sebuah kota di daerah metropolitan São Paulo di Brasil.
Tail cone dan fuselage depan pesawat tempur Gripen E versi kursi tunggal adalah aerostruktur pertama yang masuk ke produksi di SAM. Selanjutnya, aerodynamic brake, fuselage belakang, wing box, dan fuselage depan untuk versi dua tempat duduk juga akan diproduksi di SAM.
“Ini adalah hasil lain dari Transfer Teknologi (T.o.T) program Gripen. Berdasarkan pelatihan teoretis dan praktis di tempat kerja para engineer dan assembler Brasil di Saab di Linköping, kami dapat membangun jalur produksi yang sangat berkualitas di SAM, mengikuti standar yang sama yang kami miliki di pabrik kami di Swedia,” kata Jonas Hjelm, kepala area bisnis Saab Aeronautics.
Saat ini, SAM memiliki lebih dari 70 karyawan yang berkualifikasi tinggi, setengahnya berpartisipasi atau telah berpartisipasi dalam Program T.o.T di Swedia. Sebagian dari karyawan ini telah menyelesaikan pelatihan dan kembali untuk memulai produksi di Brasil.
Brasil telah memesan 28 jet Gripen E kursi tunggal yang akan dikirim ke Brasil mulai dari 2021 dan delapan jet Gripen F kursi ganda, mulai dari 2023. Gripen F juga ditawarkan oleh Saab ke Finlandia untuk program penggantian pesawat tempur mereka.
Pada awal tahun ini, Saab melakukan pemotongan logam pertama untuk pesawat tempur Gripen F, menandai tonggak penting dalam program ini. Bagian pertama dibuat baru-baru ini di fasilitas Saab di Linköping, Swedia dan untuk air duct section, tepat di belakang kokpit pesawat.(Angga Saja-TSM)
Sumber : defpost.com

China Awasi Latihan Militer Kapal Angkatan Laut Amerika Serikat di LCS

radarmiliter.com - Dua kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat yang sedang melakukan latihan di Laut China Selatan, dalam jangkauan pandang kapal-kapal Angkatan Laut China yang sedang mengawasi. Demikian dilaporkan komandan salah satu kapal induk, USS Nimitz, kepada Reuters, Senin (07/07).
"Mereka telah melihat kami dan kami sudah melihat mereka," kata Rear Admiral James Kirk dalam sebuah wawancara telepon dari Nimitz.
Latihan Militer Kapal Angkatan Laut Amerika Serikat
Latihan Militer Kapal Angkatan Laut Amerika Serikat  
Kapal tersebut telah melakukan latihan terbang di perairan tersebut dengan kapal induk dari Armada Ketujuh AL AS, USS Ronald Reagan. Rangkaian latihan dimulai pada saat liburan Hari Kemerdekaan AS 4 Juli.
Sebelumnya, Angkatan Laut AS pernah membawa kapal-kapal induk untuk unjuk kekuatan di Laut China Selatan. Tetapi, latihan tahun ini terjadi di tengah ketegangan yang meningkat ketika AS mengkritik China atas penanganan virus Corona.
AS juga menuduh China mengambil keuntungan dari pandemi untuk memperkuat klaim teritorialnya di perairan tersebut. Kementerian Luar Negeri China mengatakan AS telah sengaja mengirim kapalnya ke Laut China Selatan untuk pamer kekuatan. China juga menuduh AS berusaha memantik kemarahan antarnegara di kawasan itu.
Pentagon, ketika mengumumkan latihan kedua kapal induk, mengatakan ingin "membela hak semua negara untuk terbang, berlayar, dan beroperasi di mana pun hukum internasional mengizinkan".
AS menggambarkan kapal-kapal berbobot 100 ribu ton dan 90 unit pesawat yang mereka angkut itu masing-masing merupakan sebagai "symbol of resolve". Sekitar 12 ribu pelaut berada di kapal dalam kedua carrier strike group tersebut.
China mengklaim 90 persen wilayah di Laut China Selatan, yang kaya sumber daya dan merupakan jalur perdagangan senilai tiga triliun dolar AS (sekitar Rp45 kuadriliun) per tahun.
Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam juga memiliki klaim di wilayah itu. China telah membangun pulau-pulau buatan di kawasan Laut China Selatan tetapi mengatakan bahwa niatnya damai.
"Kontak dengan kapal-kapal China terjadi tanpa ada insiden," kata Kirk.
"Kami berharap bahwa kami akan selalu berinteraksi secara profesional dan aman. Kami beroperasi di perairan yang sangat padat, banyak jenis lalu lintas laut," ujar Kirk menambahkan.(Angga Saja-TSM)

Damai dengan India, China Mulai Tarik Pasukan dari Perbatasan

radarmiliter.com - China mulai menarik mundur pasukannya dari perbatasan pada Senin (6/7/2020), menyusul perjanjian damai dengan India. Laporan yang diberitakan Reuters menunjukkan militer China membongkar kamp dan fasilitas-fasilitas lainnya di Lembah Galwan, yang berdekatan dengan lokasi bentrokan. Keterangan itu disampaikan oleh sumber-sumber pemerintahan di India, yang menolak disebut namanya karena tidak berwenang bicara ke media.
China Mulai Tarik Pasukan dari Perbatasan
China Mulai Tarik Pasukan dari Perbatasan 
Mereka melanjutkan, kendaraan-kendaraan militer juga terlihat mulai ditarik dari daerah itu, serta di Hotsprings dan Gogra - dua zona perbatasan yang diperebutkan. Bentrokan militer India vs China pada 15 Juni terjadi selama berjam-jam, yang dilakukan dengan pentungan dan adu jotos. Beberapa tentara tewas di perairan Sungai Galwan yang beku di Himalaya barat. China belum mengungkap jumlah korban luka-luka atau tewas. Sementara itu jumlah korban tewas di pihak India adalah yang terbanyak dalam lebih dari 50 tahun terakhir.
Insiden ini membuat petinggi militer kedua negara bertemu untuk mencari cara mengurangi ketegangan. Penasihat keamanan nasional India Ajit Doval dan Menteri Luar Negeri Wang Yi dilaporkan "bertukar pandangan secara terbuka dan mendalam" pada Minggu (5/7/2020) mengenai perbatasan, menurut catatan kedua negara yang dirilis pada Senin (6/7/2020). Kedua pihak mengatakan, mereka sudah setuju menarik mundur pasukan secara signifikan. India juga mengatakan, kedua pihak telah sepakat untuk menghormati Garis Kontrol Aktual (LAC) sesuai posisi di sepanjang bagian perbatasan yang diperebutkan itu. Namun, referensi ini tidak masuk dalam catatan Beijing di pertemuan tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian menanggapi pertanyaan tentang apakah China telah memindahkan peralatan-peralatannya di Lembah Galwan. Ia mengatakan, kedua pihak "mengambil langkah-langkah efektif untuk melepaskan dan meredakan situasi di perbatasan." "Kami berharap India akan bertemu China di tengah jalan dan mengambil langkah konkret untuk melaksanakan apa yang disepakati kedua belah pihak, terus berkomunikasi secara erat melalui saluran diplomatik dan militer, serta bekerja sama untuk mendinginkan situasi di perbatasan." Keterangan itu disampaikan Zhao dalam konferensi pers pada Senin (6/7/2020).(Aditya Jaya Iswara)

Argentina Beli Kendaraan Pengangkut Infantri Stryker

radarmiliter.com - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah memberi Argentina persetujuan untuk membeli 27 kendaraan pengangkut infanteri M1126 Stryker dan peralatannya senilai $ 100 juta.
Kendaraan Pengangkut Infantri Stryker
Kendaraan Pengangkut Infantri Stryker 
Pemerintah Argentina telah mengajukan untuk membeli dua puluh tujuh (27) M1126 Stryker Infantry Carrier Vehicle dan dua puluh tujuh (27) M2 Flex .50 Cal Machine Gun. Juga termasuk AN/VAS-5 Driver’s Vision Enhancer; AN/VIC-3 Vehicle Intercom Systems; AN/VRC-91E Single Channel Ground and Airborne Radio System (SINCGARS); Basic Issue Items (BIi); Components of End Items (COEI); Additional Authorized List (AAL); Special Tools and Test Equipment (STTE); M6 Smoke Grenade launchers and associated spare; Layanan De-processing Luar Continental Amerika Serikat (OCONUS); Pelatihan yang disediakan Kontraktor OCONUS; Perwakilan Layanan Lapangan (FSR); manual teknis; suku cadang; engineering Pemerintah AS dan kontraktor; layanan dukungan teknis dan logistik dan unsur-unsur terkait lainnya dari dukungan logistik dan program. Total estimasi biaya program adalah sebesar $ 100 juta.
M1126 Stryker adalah keluarga kendaraan tempur delapan roda yang dapat melaju dengan kecepatan hingga 62mph (99,77 km/j) di jalan raya, dengan jangkauan 312 mil (502,11 km). Konfigurasi kendaraan Stryker termasuk kendaraan pengintaian; kendaraan pengangkut misil anti-tank dan evakuasi medis; dan pembawa mortir, regu zeni, regu infanteri, kelompok komando, dan tim pendukung tembakan.(Angga Saja-TSM)

Kapal Selam Type 218SG Pertama AL Singapura akan Diserahkan pada Tahun 2022

radarmiliter.com - Menteri Pertahanan Singapura Dr. Ng Eng Hen mengatakan bahwa kapal selam kelas Invincible pertama buatan Jerman akan dikirimkan pada 2022
Kelas Invincible, yang juga dikenal sebagai Tipe 218SG, adalah kelas kapal selam yang dipesan oleh Angkatan Laut Singapura dari ThyssenKrupp Marine Systems.
Kapal Selam Type 218SG Pertama AL Singapura
Kapal Selam Type 218SG Pertama AL Singapura  
Setelah peluncuran pada Febriuari 2019 lalu, Invincible menjalani serangkaian sea trial sebelum dikirim ke Singapura pada tahun 2022. Tiga kapal selam lainnya sedang dibangun.
Dengan displacement 2.200 ton, kapal selam ini akan memiliki kecepatan lebih dari 15 knot di bawah air. Panjangnya 70 meter dan diameter 6,3 meter. Persenjataan mereka akan diluncurkan dari 8 tabung torpedo 533mm. Kapal selam Type 218SG didasarkan pada desain TKMS Type 214, dengan elemen dari Type 212A (seperti bagian X ruder).
Kapal selam kelas Invincible dilengkapi dengan kemampuan yang ditingkatkan secara signifikan. Kapal selam dilengkapi dengan sistem Air Independent Propulsion (AIP) berdasarkan teknologi Fuel Cell, yang akan memungkinkan kapal selam untuk tetap menyelam sekitar 50% lebih lama dari kapal selam kelas "Archer". Kapal selam juga membawa sistem tempur yang dirancang oleh Atlas Elektronik dan ST Electronics.(Angga Saja-TSM)

AS Setujui Penjualan MV-22 Block C Osprey untuk Indonesia

radarmiliter.com - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat telah memutuskan untuk menyetujui kemungkinan Foreign Military Sale kepada Pemerintah Indonesia untuk delapan (8) pesawat terbang MV-22 Block C Osprey dan peralatan terkait dengan perkiraan biaya sebesar $ 2 miliar. Badan Kerjasama Keamanan Pertahanan AS (DSCA) akan memberikan sertifikasi yang diperlukan untuk memberi tahu Kongres AS tentang kemungkinan penjualan ini.
 MV-22 Block C Osprey
 MV-22 Block C Osprey 
Penjualan tersebut jika dijalankan, akan menandai negara diluar AS kedua yang membeli Osprey, dimana Jepang menjadi negara asing pertama. Hal itu juga akan menjadi kemenangan bagi konsorsium Bell-Boeing yang membuat Osprey. Osprey ke-400 baru saja dikirim dari jalur produksi sebulan yang lalu.
Pemerintah Indonesia telah mengajukan untuk membeli delapan (8) pesawat MV-22 Block C Osprey. Pembelian termasuk dua puluh empat (24) mesin AE 1107C Rolls Royce; dua puluh (20) AN / AAQ-27 Forward Looking InfraRed Radar; dua puluh (20) AN/AAR-47 Missile Warning System; dua puluh (20) AN/APR-39 Radar Warning Receiver; dua puluh (20) AN/ALE-47 Countermeasure Dispenser System; dua puluh (20) AN/APX-117 Identification Friend or Foe System (IFF); dua puluh (20) AN/APN-194 Radar Altimeter; dua puluh (20) AN/ARN-147 VHF Omni­Directional Range (VOR) Instrument Landing System (ILS) Beacon Navigation System; empat puluh (40) ARC-210 629F-23 Multi-Band Radio (Non-COMSEC); dua puluh (20) AN/ASN-163 Miniature Airborne Global Positioning System (GPS) Receiver (MAGR); dua puluh (20) AN/ARN-153 Tactical Airborne Navigation System; dua puluh (20) Traffic Collision Avoidance System (TCAS II); dua puluh (20) M-240-D 7.64mm Machine Gun; dua puluh (20) GAU-21 Machine Gun; Joint Mission Planning System (JMPS) with unique planning component; publikasi dan dokumentasi teknis; suku cadang pesawat terbang dan suku cadang perbaikan; perbaikan dan pengembalian; layanan pengiriman ferry; dukungan tanker; peralatan pendukung dan uji; pelatihan personil dan peralatan pelatihan; perangkat lunak; kontraktor Pemerintah AS dan engineering, logistik, dan layanan dukungan teknis; dan elemen pendukung teknis dan program lainnya. Perkiraan total biaya adalah $ 2,0 miliar.
Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung tujuan kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan mitra regional penting yang merupakan kekuatan bagi stabilitas politik, dan kemajuan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik. Sangat penting bagi kepentingan nasional AS untuk membantu Indonesia dalam mengembangkan dan mempertahankan kemampuan bela diri yang kuat dan efektif.
Usulan penjualan pesawat dan dukungannya akan meningkatkan kemampuan bantuan kemanusiaan dan bencana Indonesia dan mendukung operasi amfibi. Penjualan ini akan meningkatkan pembagian beban dan interoperabilitas dengan Pasukan AS.
Menurut thedrive.com, V-22 meskipun tidak murah, sangat cocok untuk Indonesia, negara yang terdiri dari 17.000 pulau yang membentang ribuan mil. Kemampuan V-22 untuk mengangkut beban yang signifikan pada kecepatan turboprop, dan masih bisa mendarat dan lepas landas secara vertikal akan secara drastis meningkatkan kemampuan logistik militer Indonesia.(Angga Saja-TSM)