Jet Generasi 4,5 KF-X Targetkan Pasar Asia Tenggara

KangUsHa 08:52
Loading...
radarmiliter.com - Proyek pengembangan jet tempur bersama antara Korea Selatan dan Indonesia, yang dikenal sebagai proyek Korean Fighter eXperimental atau KF-X, memiliki potensi besar di pasar Asia Tenggara dengan harganya yang murah.
Jet KF-X adalah jet tempur generasi 4,5 yang teknologi "stealth"-nya memang masih di belakang dari pesawat tempur generasi kelima AS seperti F-35 atau F-22. Namun demikian, KF-X, memiliki keunggulan harga yang jauh lebih murah dengan 65 persen dari bagian-bagiannya terlokalisasi dibuat di Korea.
Mock Up KFX
Mock Up KFX 
Proyek ini berjalan dengan lancar, seorang pejabat dari Korea Aerospace Industries (KAI) mengatakan pada hari Selasa (07/07), dalam presentasi project review untuk wartawan yang mengunjungi kantor pusat perusahaan KAI di Sacheon, Provinsi Gyeongsang Selatan. Pemerintah Korea Selatan mengontrak KAI pada Desember 2015 untuk menyelesaikan pengembangan KF-X pada tahun 2028.
Jika selesai dikembangkan, KF-X akan menjadi platform yang menargetkan pasar Asia Tenggara, kata pengamat industri, karena biaya operasi untuk jet KF-X adalah sekitar setengah dari biaya F-35A AS.
Proyek KF-X adalah proyek terbesar sejak pendirian militer Korea Selatan dengan total anggarannya sekitar 8,8 triliun won ($ 7,56 miliar). Pemerintah Korea Selatan dan Indonesia masing-masing mencakup 60 persen dan 20 persen dari anggaran, sementara perusahaan pertahanan Korea Selatan memberikan kontribusi 20 persen.
Proyek 14 tahun yang dimulai pada tahun 2015 dibagi menjadi dua fase, dengan pengembangan sistem untuk basic flight performance dan fase air-to-air combat capability yang akan selesai pada tahun 2026, disusul oleh persenjataan tambahan untuk kemampuan tempur udara-ke-permukaan pada tahun 2028.
Dengan critical design review KF-X yang dilakukan September tahun ini, setelah sebelumnya dilakukan preliminary design review pada Juni 2018, prototipe jet KF-X pertama akan diluncurkan pada paruh pertama 2021. Test flight pertama akan dilakukan dilakukan setahun kemudian. Setelah dilakukan 2.100 test flight yang dijadwalkan selesai pada paruh pertama 2026, KAI akan memproduksi enam pesawat jet KF-X pertama tahun itu.
Pemerintah Korea Selatan meluncurkan mock-up ukuran penuh KF-X selama pameran International Aerospace and Defense Exhibition (ADEX), pameran pertahanan dua tahunan yang diadakan 15-20 Oktober tahun lalu.
Jet KF-X memiliki lebar 11,2 meter dan panjang 16,9 meter, dengan tinggi 4,6 meter. Sebagai pesawat bermesin ganda yang menggunakan teknologi stealth, tampilan pesawat tempur KF-X mirip dengan F-22 Raptor AS.
Setiap mesin KF-X memiliki daya dorong maksimum 22.000 pound, dengan total dorong maksimum pesawat menjadi 44.000 pound. Jet ini memiliki berat lepas landas maksimal 25.600 kilogram dan dapat terbang dengan kecepatan Mach 1.8. Pesawat memiliki jarak jelajah 2.900 kilometer.
Muatan maksimumnya sebesar 7.700 kilogram, memungkinkan membawa banyak senjata pada 10 hardpoint untuk rudal dan bahan bakar.
Untuk rudal yang dimuat dalam jet KF-X, proyek ini juga melibatkan industri Eropa.
Pemerintah Korea Selatan pada awalnya telah bernegosiasi dengan pihak AS untuk menggunakan rudal udara-ke-udara AS seperti misil jarak menengah AIM-120C AMRAAM atau AIM-9X Sidewinder. Tetapi pemerintah AS mengatakan tidak dapat memberikan teknologi persenjataan sebelum Korea Selatan meluncurkan prototipe jet KF-X pertamanya. Oleh karena itu, pemerintah Korea Selatan memutuskan untuk mengintegrasikan rudal yang diproduksi di Eropa.
Rudal itu termasuk rudal udara-ke-udara jarak-pendek IRIS-T Jerman yang akan dipasang pada masing-masing peluncur ujung sayap, rudal udara-ke-udara jarak jauh Meteor Inggris.
Jet KF-X juga akan menggunakan rudal domestik buatan Korea untuk pertempuran udara-ke-permukaan, termasuk BLU-109 LJDAM (laser joint direct attack munition) Korea, KGGB (Korea GPS guided bomb) dan rudal jelajah jarak jauh anti-bunker buatan LIG Nex1 Korea, yang dibuat berdasarkan rudal jelajah jarak jauh Taurus KEPD 350.
Peralatan inti jet KF-X telah dikembangkan dengan teknologi domestik Korea, termasuk radar AESA (active electronically scanned array), IRST (infrared search and track), EO TGP (lectro-optical target tracking) dan perangkat EW (electronic warfare).
Pengembangan radar AESA untuk jet tempur adalah upaya pertama bagi militer Korea Selatan, yang sebelumnya telah menggunakan radar AESA untuk rudal permukaan-ke-udara jarak menengah domestik Chungoong dan search radar untuk fregat next generation Angkatan Laut Korea.(Jung Da-min)(Angga Saja-TSM)
Loading...

Share this

Berlangganan via email

Related Posts

Previous
Next Post »

1 komentar:

Write komentar
13 Juli, 2020 delete

Punya alat perang produksi sendiri,lebih bangga, tentram, aman

Reply
avatar

- Berkomentarlah yang sopan dan bijak sesuai isi artikel/ berita;
- Dilarang berkomentar SPAM, SARA, Politik, Provokasi dsb
EmoticonEmoticon